emperors-consort2
Emperors Consort

Emperor’s Consort Part 4 : Kenapa Kau Begitu Takut Kepadaku?

Bookmark

No account yet? Register

1.895 votes, average: 1,00 out of 1 (1.895 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

emperors-consort2

Kaisar Shen menunduk, menatap Aiko yang lunglai di pangkuannya. Diangkatnya tangan mungil Aiko, diperiksanya jemari kecil itu satu persatu, dahinya sedikit berkerut menemukan ada beberapa bekas luka kecil di sana.

Luka terkena duri? Apakah anak perempuan ini masih suka mencari tanaman obat di hutan?

Kerutan di dahi Shen King semakin dalam ketika jemarinya yang menopang tubuh Aiko merasakan kalau tulang Aiko sedikit menonjol di bahunya yang mungil.

Apakah dalam kurun waktu enam tahun Aiko makan dengan baik? Kenapa Aiko begitu kurus? Begitu mungil? Bukankah dia sudah memerintahkan Hiro untuk mengawasi Aiko dan menjaganya?

Shen King memandang kembali wajah Aiko, anak perempuan ini tampak damai, matanya terpejam rapat, bulu matanya yang hitam nampak begitu panjang dan napasnya teratur dengan bibir yang sedikit menganga.

Enam tahun…

Enam tahun yang terasa selamanya dia bersabar, menunggu Aiko agar datang kepadanya.

Apa saja yang sudah dia lalui untuk menunggu saat ini tiba? Menunggu supaya bisa membawa Aiko ke dalam pelukannya?

Kadangkala dia merasa jengkel karena usia Aiko memaksanya menunggu. Ketika itu dia mengirim Hiro untuk menyelidiki ke desa Shiren, desa terdekat dari hutan tempat dia melarikan diri dalam kondisi terluka akibat serangan yang dilakukan menteri Liau, bangsawan berpengaruh yang merupakan salah satu dari tujuh menteri utama kerajaan, yang hendak menyusun kudeta. Rupanya menteri Liau sakit hati karena Shen King menolak mentah-mentah anak gadisnya yang diajukannya untuk menjadi permaisuri.

Kejadian yang membahayakan nyawanya itu terjadi di saat usianya baru 21 tahun, Shen King sedang melakukan perjalanan berburu rusa musiman di hutan barat ketika menyadari bahwa seluruh rombongannya ternyata merupakan orang-orang suruhan menteri Liau yang ditugaskan untuk membunuhnya, dia diserang hampir dua puluh orang sekaligus, dan meskipun kesulitan karena sendirian, pada akhirnya dia berhasil membereskan semuanya dengan ilmu pedangnya yang mahir.

Orang-orang suruhan itu sebenarnya bukan apa-apa baginya, Shen King sudah terlatih menghadapi puluhan orang sejak kecil, ilmu pedangnya tidak tertandingi, bahkan oleh Youshou yang terkenal sebagai ahli pedang paling hebat di kerajaan Sashou.

Sayangnya suasana yang gelap membuatnya lengah, hingga salah seorang berhasil menusukkan pedang ke dadanya. Membuatnya sedikit kepayahan meskipun tetap saja dia menang.

Setelah Shen King berhasil membunuh semua rombongan pengiringnya, dia lalu berjalan menuju sungai terdekat, napasnya mulai tersengal dan darah mengucur deras dari dadanya, sehingga Shen King melempar topengnya begitu saja, mempersiapkan diri untuk kematian yang diyakininya sudah mulai menyongsong.

Saat itulah anak perempuan ini tiba-tiba muncul begitu saja dari balik semak-semak rimbun dan pepohonan. Anak perempuan cantik berambut hitam, bermata gelap berkilauan, dengan kulit keemasan pucat seperti peri hutan. Kejadian selanjutnya samar-samar bagi Shen King, karena dia hampir kehilangan kesadarannya akibat lukanya yang begitu parah. Tetapi Shen King ingat, anak itu menyelamatkan nyawanya dengan memberikan ramuan entah apa di lukanya, membuatnya merasa jauh lebih baik.

Ketika anak itu pergi untuk menemui panggilan ibunya, Shen King memutuskan untuk menghilang, sebab seorang Kaisar tidak boleh ditemukan oleh rakyat jelata dalam kondisi terluka parah. Lukanya harus dirahasiakan. Seorang Kaisar harus selalu tampak baik-baik saja di depan semua orang. Jika sampai ketahuan dia terluka, desas-desus yang tersebar nanti bisa menyebabkan chaos di kerajaan, karena orang-orang akan mulai cemas serta kehilangan pegangan.

Beruntung kala itu Youshou bergerak cepat. Seperti ayahnya di masa lampau, Youshou memiliki intuisi kuat dan mengikuti Shen King diam-diam, di lokasi perburuan rusa dia menemukan banyak mayat tapi tidak ada Shen King di sana. Youshou segera masuk ke dalam hutan untuk mencari kaisarnya, lalu menemukan Shen King di hutan. Youshou segera membawa Shen King masuk kembali ke dalam istana, langsung menemui tabib Zhou.

Tabib Zhou membuka lukanya, merasa takjub atas perawatan yang dilakukan oleh seorang anak kecil kepada Kaisar.

“Yang Mulia beruntung, anak itu menolong anda.” Kata tabib Zhou ketika itu, “Jika terlambat sedikit saja, anda akan kehabisan darah dan kehilangan nyawa. Dia mengunyah daun kusuri untuk anda? Hebat sekali, bahkan murid-murid saya tidak ada satupun yang kuat memasukkan daun kusuri ke mulutnya, apalagi mengunyahnya.

Shen King lalu merahasiakan lukanya, dan pulih dalam diam. Tentu saja dia menghabisi seluruh keluarga Liau tanpa ampun dengan tuduhan pengkhianatan dan percobaan pembunuhan kaisar, kejadian itu sempat menimbulkan kegemparan enam tahun yang lalu, ketika Kaisar mengeksekusi mati seluruh keluarga Liau, keluarga bangsawan yang paling berpengaruh di kerajaan Shisou.

Lalu Shen King menyuruh Hiro untuk mencari anak perempuan kecil itu. Hiro adalah mata-mata rahasianya yang paling hebat, bisa menemukan informasi apapun, ahli menyamar dan sangat setia pada Shen King.

Hanya butuh waktu beberapa hari bagi Hiro untuk berhasil menemukan Aiko, anak berusia sepuluh tahun, puteri seorang tabib di desa Shiren. Seharusnya Shen King cukup mengirimkan hadiah emas atau uang untuk Aiko, tetapi entah kenapa dia tidak melakukannya. Dia memilih untuk menunggu.

Hiro mengatakan bahwa mengingat ciri fisik Aiko yang sesuai kriterianya, sudah pasti anak perempuan itu akan terpilih menjadi kandidat gadis persembahan ketika usianya sudah enam belas tahun.

Tradisi memilih gadis persembahan tahunan sudah dijalankan sejak ratusan tahun lalu, dimana ketika seorang Kaisar ataupun calon Kaisar sudah menginjak usia tujuh belas, dia akan mengumumkan kriteria yang diinginkannya untuk memilih gadis persembahan, lalu jenderal-jenderal kepercayaannya akan berkeliling ke seluruh penjuru kerajaan, dan memilih kandidat terbaik yang diajukan oleh desa-desa yang saling berlomba untuk meloloskan kandidat gadis persembahan mereka.

Jika gadis persembahan itu terpilih, dia akan memasuki istana sebagai dayang, dan seluruh desa akan menerima hadiah kemakmuran dari Kaisar, apalagi jika gadis itu cukup beruntung bisa menarik hati Kaisar dan menjadi selir, kemakmuran akan lebih melimpah bagi penduduk desa dan keluarga gadis itu.

Sepuluh tahun lalu, ketika berusia tujuh belas tahun, Shen King menentukan kriteria kandidatnya berdasarkan ciri fisik ibundanya. Ibundanya adalah perempuan tercantik di kerajaan, dan dulunya juga berasal dari gadis persembahan yang terpilih memasuki istana sebagai dayang kerajaan. Kecantikan ibunya menarik hati ayahandanya yang kemudian menjadikannya selir. Sayangnya kecantikan itu pula yang membunuhnya …

Sesuai nasehat Hiro, Shen King menunggu, sampai Aiko cukup usia untuk memasuki istana, dan kata-kata Hiro memang terbukti, Aiko yang memiliki ciri fisik mirip ibundanya, langsung lolos sebagai kandidat gadis persembahan ke istana.

Obsesinya pada Aiko mungkin tak terjelaskan, bahkan oleh dirinya sendiri. Mungkin karena perempuan ini yang menyelamatkan nyawanya, mungkin juga karena wajah Aiko sangat mirip ibundanya, dan mungkin juga karena di dunia ini hanya ada dua perempuan yang pernah merawat lukanya, ibundanya … Dan Aiko.

“Sekarang apa yang harus kulakukan padamu untuk membalas hutang nyawaku?” Shen King bergumam pelan, menggerakkan jemarinya untuk mengusap pipi Aiko lembut, gerakannya itu membuat Aiko mengerang, perempuan itu mengerutkan keningnya, lalu bergumam lemah, antara sadar dan tidak.

“Panas…” gumamnya hampir tak terdengar, lalu meringkuk tak nyaman di dada Shen King.

Dengan sebelah tangannya, Shen King menuang air ke dalam cangkir, “Kau ingin minum?”

Aiko mengerang lagi, perempuan itu tampak berusaha keras membuka matanya,

“Jangan bangun kalau pusing, aku akan membantumu minum.” Shen King menggeser sedikit Aiko dari pangkuannya hingga setengah duduk, menahan punggung Aiko dengan sebelah lengannya, lalu tangannya yang satu lagi mendekatkan cangkir itu ke bibir Aiko. “Ini minumlah.”

Aiko menurut, meski matanya masih terpejam, dia meneguk air itu, lalu mengerang seolah kesakitan, dan kemudian tanpa disangka-sangka, perempuan itu membuka matanya.

Aiko langsung bertatapan dengan Shen King, menatap langsung kedalaman mata yang kekuningan seperti harimau. Mata Aiko membelalak kaget, bibirnya membuka, tampak tercengang dan kebingungan dengan pemandangan di depannya.

“Anda sangat tampan.” gumam Aiko lemah, menyimpulkan dari hasil pengamatannya, Dalam kondisi sadar tidak mungkin Aiko mengucapkan kata-kata seperti itu pada lelaki asing, tetapi sekarang entah kenapa mulutnya seperti terhubung langsung dengan otaknya. Apa yang dipikirkannya, itulah yang langsung diucapkan oleh mulutnya.

Sepertinya kesadaran Aiko mulai surut, perempuan itu menutup mata lagi seolah tak kuat membuka mata lama-lama.

Shen King menipiskan bibirnya, merasa bodoh karena dia mempedulikan racauan Aiko yang jelas-jelas dalam kondisi mabuk berat,

“Kenapa kau berpikir seperti itu?”

“Karena mata anda sangat indah.” Aiko memberikan jawaban yang tidak disangka-sangka, bibirnya tersenyum tanpa dosa dengan mata terpejam, sementara kedua tangan mungilnya bergerak menggapai ke atas, lalu menangkup pipi Shen King, membuat sang Kaisar tertegun. “Mata paling indah yang pernah saya lihat… “, gumamnya polos, suaranya melemah. Gadis itu kehilangan kesadaran lagi, tangannya terkulai jatuh dari pipi Shen King dan tubuhnya lunglai di dalam pelukan lengan sang Kaisar.

Shen King mengerutkan keningnya menatap Aiko yang begitu damai dan nyaman, sama sekali tidak sadar kalau dia berada di pelukan seseorang yang bisa saja berbuat tidak senonoh kepadanya kalau mau.

Jadi apa yang sebenarnya dia lakukan sekarang? Membuat mabuk anak kecil ini hanya demi bisa memeluknya?

Tidak ada bantahan dari Shen King terntang pertanyaan yang ditujukan kepada dirinya sendiri itu. Shen King malahan mengambil jemari Aiko yang tadi menyentuh pipinya, membawanya ke mulutnya, mengecupnya pelan.

Lalu dia menenggelamkan kepala Aiko yang lunglai makin dalam ke dadanya, melingkarkan kedua lengannya di tubuh Aiko, memeluknya erat-erat, dan menenggelamkan wajahnya di keharuman rambut Aiko sambil memejamkan mata.

***

Sentuhan di bahunya membuat Aiko meringis dan mengerang. Kepalanya terasa berat, perutnya apalagi, rasanya tidak nyaman dan ingin muntah..

“Bangun nak.”

itu suara Kakek Rojin?

Aiko berusaha memusatkan pikirannya yang berkabut dan mencari-cari kesadarannya yang terselip entah di mana. Rasa pusing di kepalanya semakin menjadi ketika dia mencoba membuka mata.

Kenapa bulu matanya terasa begitu berat untuk diangkat?

Aiko setengah menggerutu dalam hati, merasa kesal dengan tubuhnya yang tak mau menuruti kehendaknya.

Pada akhirnya setelah berusaha cukup keras, Aiko berhasil membuka mata, mengerjap sedikit karena silau terkena cahaya matahari pagi yang mengirimkan sulurnya untuk mengintip malu-malu dari balik tirai.

“Ini, minumlah obat. Ini akan menghilangkan pusingmu karena pengaruh arak tadi malam.” Kakek Rojin mengulurkan secangkir ramuan pekat berwarna cokelat di sebuah mangkuk kecil ke depan wajah Aiko.

Aiko menatap mangkuk itu bingung, tetapi kemudian menerimanya tanpa kata, dan menurut meminum ramuan di dalamnya dalam sekali teguk, untunglah rasa ramuan itu manis, sedikit getir memang, tapi setidaknya tidak sepahit arak yang semalam…

Arak yang semalam….?

Kesadaran dan ingatan Aiko tentang kejadian tadi malam sebelum dia tak sadarkan diri langsung kembali. Dia membuka mata lebar-lebar dan ternganga ketika menemukan dirinya masih ada di kamar peraduan Kaisar Shen.

Dirinya dalam posisi setengah terduduk di atas karpert di dekat meja kerja Kaisar, di bawah tubuhnya terselip selimut tebal sulaman tangan nan indah berwarna merah dengan corak emas megah.

Astaga, apakah kemarin dia pingsan? Karena arak itu? Apakah arak itu beracun? Lalu bagaimana dengan Kaisar?

“Kakek Rojin! Saya kemarin keracunan, arak itu diracun…!” Aiko menatap panik ke arah kakek Rojin yang berlutut di depannya, hampir-hampir dia menangis, “Bagaimana dengan Yang Mulia Kaisar? Apakah beliau baik-baik saja?”

Kakek Rojin tersenyum lembut, seolah-olah merasa lucu dengan keluguan Aiko,

“Yang Mulia Kaisar Shen baik-baik saja. Dan arak itu tidak mengandung racun, kau hanya …. Mabuk.”

“Mabuk?” Aiko membelalakkan matnya, “Ya Ampun, saya pingsan karena mabuk ketika sedang menjalankan tugas? Apakah… Apakah Kaisar akan menghukum saya?” Aiko kembali panik, tetapi kakek Rojin menenangkannya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Kau tidak akan dihukum. Kaisar mengerti bahwa ini adalah pertama kalinya kau mencicip arak.”

Napas Aiko yang tadinya tercekat karena panik langsung menemukan jalannya untuk terhembus lega ketika mendengar jawaban kakek Rojin, dia memegang dadanya, berusaha menetralkan pernafasannya.

Syukurlah…. Syukurlah nyawanya masih terampuni..

“Sudah baikan? Ramuan yang kau minum itu menghilangkan sisa-sisa pengaruh arak di tubuhmu, seharusnya reaksinya cepat.” tanya kakek Rojin kemudian,

Aiko menganggukkan kepalanya cepat, “Kepala saya tidak terasa sakit lagi, dan rasa mual itu menghilang.” jawabnya dalam kegembiraan yang polos, membuat kakek Rojin mau tak mau tersenyum.

“Bagus, sekarang pergilah ke kamarmu dan menyiapkan diri kalau-kalau Yang Mulia memerlukanmu untuk menjadi perisai.”

Aiko mengangguk, lalu berdiri, lepas dari belitan selimut tebal berwarna merah itu. Ketika berdiri, barulah dia menyadari ada di mana dirinya sekarang.

Ini adalah kamar peraduan pribadi Yang Mulia Kaisar Shen….

“Ka… Kakek Rojin… Apakah, apakah semalaman saya di sini?” tanyanya bingung dan takut.

Kakek Rojin menganggukkan kepalanya, “Sepertinya begitu. Ketika kemari tadi pagi, Yang Mulia Kaisar Shen sudah tidak ada, kemungkinan semalam kau pingsan dan Yang Mulia membiarkanmu, mungkin beliau sudah lelah dan ingin beristirahat sehingga tidak mau repot-repot menyuruh orang untuk membawamu.”

“Tapi beliau… Tidak marah kan?” Aiko berdiri di sana, ragu-ragu.

Kakek Rojin menatap sabar, “Aiko, jika yang Mulia Kaisar Shen marah, pagi ini kau pasti sudah kehilangan kepalamu. Sekarang kembalilah ke kamarmu dan segera menyiapkan diri.”

Aiko langsung membungkuk, “Baik Kakek Rojin. Mohon izin pamit meninggalkan ruangan.” gumamnya sopan, dan setelah mendapatkan anggukan dari Kakek Rojin, Aiko langsung berlari-lari kecil meninggalkan kamar itu.

Kasim Rojin yang ditinggalkan sendirian menatap ke arah ranjang peraduan sang Kaisar, lalu mengerutkan keningnya.

Ranjang itu rapi dan licin, sudah pasti tidak ditiduri semalam.

Ketika dia masuk tadi, dia menemukan Aiko masih tertidur pulas di karpet dekat meja kerja Kaisar, tubuhnya dialasi selimut tebal milik Kaisar dan dibungkus oleh selimut yang sama.

Kaisar tidak ‘menyentuh’ Aiko, karena berdasarkan matanya yang berpengalaman, dia bisa melihat bahwa tidak ada perubahan pada diri Aiko pagi ini.

Lalu jika bukan untuk menyentuh Aiko, untuk apa Kaisar membuat Aiko mabuk hingga pingsan semalaman di peraduannya?

Kasim Rojin menghela napas bingung. Matanya berpindah-pindah dari ranjang kaisar yang rapi ke selimut merah di atas karpet, bekas tidur Aiko yang acak-acakan.

Bahkan yang Mulia Kaisar Shen repot-repot memberikan alas tidur dan menyelimuti Aiko.

Kebingungan Kasim Rojin semakin menjadi karena dia tidak bisa menemukan petunjuk lagi dari hasil pengamatannya.

Jadi … semalam Kaisar Shen tidur di mana?

***

“Hiro.”

Shen King bergumam dalam salah satu ruang di sudut istana emas begitu menyadari kehadiran informan kepercayaannya.

Ruangan tempat sang kaisar berada sedianya digunakan sebagai perpustakaan, cahayanya redup karena jendela dan ventilasi udara hampir ditutupi oleh rak-rak tinggi yang penuh dengan ribuan buku-buku literatur kerajaan masa lampau yang sangat berharga, juga buku-buku hadiah dari negara-negara luar.

Hiro, pemuda seumuran Shen King, yang mengenakan baju semacam pemburu dari kulit berwarna cokelat gelap. Busur dan panah yang disangkutkan di punggungnya membuat penampilannya makin menarik, perawakannya ramping dan lincah, dengan wajah tampan yang pasti akan digilai oleh gadis-gadis.

Hiro langsung membungkukkan tubuh dan berlutut memberi hormat, “Hamba datang menghadap Kaisar.”

Shen King yang duduk di kursi besar di ujung ruangan menyandarkan badannya dengan santai, sebelah lengannya menopang kepalanya,

“Apa laporanmu?”

“Kerajaan Xiang sudah mulai bergerak, saya mendengar desas desus kalau pemimpin mereka yang baru memiliki ambisi untuk menaklukkan kerajaan Sashou, tetapi perdana menteri mereka yang cukup berpengaruh sampai dengan sekarang masih bisa meredam ambisi pemimpin muda itu. Saya sarankan kita untuk selalu waspada dan mengawasi pergerakan kerajaan Xiang sebab jika terjadi sesuatu dengan perdana menteri, sudah dipastikan mereka akan menyerang.”

Shen King menganggukkan kepalanya sedikit, “Aku akan meminta Youshou memperkuat pasukan di perbatasan Xiang. Kalau memang mereka cukup mengganggu, aku akan mempertimbangkan untuk menyerang mereka terlebih dahulu.” Ada nada mengerikan di balik suara Kaisar. Seolah-olah lelaki itu sedang merindukan pertumpahan darah.

Shen King memang dikenal suka berperang. Tahun-tahun pertama kepemimpinannya dihabiskan dengan berperang tiada henti, Yang Mulia Kaisar selalu maju di baris depan, menghabisi lawan-lawannya dengan mengerikan. Tidak ada yang bisa menyelamatkan diri jika beliau sudah menghunuskan pedangnya.

Kaisar Shen berhasil menaklukkan kerajaan-kerajaan di sekitar Sashou yang kemudian menyatakan kesetiaan kepada Kaisar. Dalam kepemimpinannya, kerajaan Sashou telah berkembang menjadi kerajaan besar dan makmur di puncak kejayaan.

“Kenapa anak perempuan itu kurus? Apa dia tidak makan dengan baik selama ini?”

Tiba-tiba Shen King berucap tajam, mengalihkan pembicaraan dan membuat Hiro tertegun sejenak, sampai kemudian dia sadar bahwa Shen King sedang membicarakan tentang Aiko.

“Sepertinya dia memang tidak banyak makan.” Hiro mengerutkan keningnya, “Tetapi dari pengawasan saya dia sehat dan baik-baik saja Yang Mulia… mungkin dia kelelahan karena merawat ibundanya.”

“Ibunya masih sakit?”

Hiro menganggukkan kepalanya prihatin, “Saya amati penyakitnya makin parah. Tetapi seperti yang anda minta saya sudah mengkonsultasikan kepada tabib Zhou, dan tabib Zhou bilang penyakit seperti itu tidak ada obatnya, tanaman langka yang tabib Zhou miliki hanya bisa meredakan sedikit, tetapi tidak bisa mengobati sumber penyakitnya..” Hiro merenung, “Saya yakin nona Aiko masuk ke istana ini dengan tujuan mencarikan obat ibundanya.”

“Dia akan kecewa kalau begitu.” Shen King memalingkan muka, tampak dingin dan jauh.

***

Aiko sudah selesai membersihkan diri dan berganti pakaian. Kasim Rojin tadi memanggilnya dan memintanya datang ke area belakang istana merah, hari ini di sela waktu sebelum dia bertugas kembali menjadi perisai, kasim Rojin berniat memberikan pelajaran dasar menjadi perisai, seperti tatacara melakukan ritual pengicipan berbagai hidangan makanan dan minuman.

Dengan langkah cepat, Aiko menyusuri lorong di tepi taman, menuju ke bagian belakang istana merah, perhatian Aiko teralihkan ke arah suara gemericik air nan menggoda, dia menolehkan kepalanya, matanya tertahan oleh pemandangan aliran kolam yang indah dan jernih. Kolam itu terletak di sisi kanan taman, bagian pinggirnya tertutup oleh lapisan bebatuan alam yang cantik warna-warni dan diselingi dengan bunga-bunga berwarna cerah. Ada jalan setapak besar dari marmer kasar yang disusun cantik menuju pinggiran kolam. Dan yang lebih indah lagi, kolam itu diteduhi oleh air terjun kecil nan cantik, menciptakan riak-riak putih yang menggoda.

Aiko menoleh ke kiri dan ke kanan, suasana pagi hari itu masih sepi, hanya ada beberapa pengawal dan pelayan kerajaan yang lalu lalang, sebagian berjaga di pintu, sibuk dengan kegiatan masing-masing. Mereka semua bekerja dalam hening, hingga tidak ada suara manusia terdengar. Yang ada hanyalah suara alam, suara kicauan burung, gemericik air dan desauan angin pagi yang dingin menyapa pipinya.

Mungkin kalau dia merasakan sedikit kesegaran air itu tidak apa-apa….

Aiko bingung antara ragu dan bersemangat, kolam air itu mengingatkannya dengan sungai di dekat rumahnya, sama-sama ada air terjunnya, sama-sama indah dan bening. Dulu di waktu kecil, ibunya suka menemaninya bermain di sungai. Dan ketika menginjak usia remajapun, ketika ibunya sudah tidak bisa menemaninya lagi,  Aiko masih suka menghabiskan waktu di tepi sungai, duduk di bawah pohon besar dan membaca buku-buku tentang pengobatan milik ibunya, kadangkala dia mencelupkan kakinya ke dalam kesegaran air sungai nan jernih, menikmati damai sederhana yang terasa memuaskan.

Godaan itu terlalu besar hingga Aiko tidak bisa menahannya. Dengan hati-hati, sambil tersenyum penuh antisipasi, Aiko melangkah menuju kolam, dia berlutut di tepinya dan senyumnya melebar melihat betapa beningnya air di sana, memantulkan cahaya pagi berkilauan yang memanjakan mata.

Dengan hati-hati Aiko mencelupkan sedikit jemarinya ke dalam air, sedikit begidik senang karena kesegarannya. Tanpa pikir panjang, Aiko mengubah posisi berlututnya supaya nyaman, membungkuk dalam dan memasukkan kedua tangannya ke dalam air, mendesah bahagia karena air itu menghantarkan nostalgia akan kedamaian di kampung halamannya.

“Kau sedang apa?”

Suara itu berasal dari atasnya, membuat Aiko refleks mendongak ke belakang.

Matanya langsung tertumbuk pada topeng berwarna emas dengan corak tengkorak yang berkilauan tertimpa cahaya mentari, tepat di atasnya.

Kaisar Shen sedang berdiri tepat di belakangnya, dalam jubah kebesarannya yang berwarna merah bercampur nuansa emas yang megah. Menunduk ke arahnya.

Aiko memekik menyadari bahwa dia telah melakukan kesalahan besar karena dia telah berani-beraninya – meskipun tidak sengaja – menatap langsung ke topeng kaisar. Begitu terkejutnya dirinya, sehingga yang langsung muncul di pikirannya adalah bahwa dia harus bersujud kepada Kaisar.

Aiko memutar tubuhnya menghadap sang Kaisar, mencoba bersujud untuk memberi hormat, gerakannya panik dan terburu-buru, hingga Aiko terpeleset ke belakang, jatuh tercebur ke dalam kolam dengan suara keras.

Kolam itu dangkal, hanya setinggi betis jika berdiri, tapi Aiko jatuh terduduk sehingga hampir seluruh bagian tubuhnya terendam air, wajahnya pucat pasi, antara malu, bingung, panik dan ketakutan yang amat sangat, apalagi ketika dia menatap lagi ke tepi kolam dan menemukan Yang Mulia Kaisar masih bergeming di sana, menatap ke arahnya.

Matanya dengan gugup menelusuri jubah Kaisar Shen dan membelalak ketakutan ketika melihat bagian depan jubah Kaisar Shen basah kuyup karena terciprat air ketika Aiko jatuh ke kolam,

Seluruh tubuh Aiko gemetaran ketika dia mencoba bergerak, dia harus bersujud, dia harus memohon pengampunan! Kali ini… kali ini apakah dia akan diampuni?

“Astaga!” Itu suara Kasim Rojin yang datang diikuti oleh Jenderal Youshou dan beberapa pengawal di belakangnya. Mereka tadi berlari tergopoh-gopoh datang ketika mendengar suara keras yang memecah keheningan istana merah.

Kasim Rojin melihat Aiko yang terjatuh ke dalam kolam, matanya beralih ke arah Kaisar Shen yang masih bergeming di tepi kolam dengan jubah basah…. Astaga! Jantungnya yang sudah menua ini hampir saja tidak kuat menahan debaran yang langsung menghentak ketika menyimpulkan apa yang telah terjadi.

Kenapa Kaisar Shen diam saja di tepi kolam? Apakah Kaisar sedang menahan kemurkaannya? Bisakah dirinya memohonkan pengampunan untuk Aiko? Entah bagaimana kejadiannya tadi, tapi yang pasti Aiko hanyalah dayang baru yang tidak berpengalaman yang kebetulan terkena sial karena berkali-kali terkena masalah di hadapan Shen King. Kalau sudah begini, apakah Kaisar mau mengerti dan berbelas kasihan kepada Aiko?

“Yang Mulia! Anda tidak apa-apa?” Jenderal Youshou mendekat, sedikit cemas melihat jubah Shen King yang basah, dia menoleh ke arah Aiko, ingin menolong tapi tak berani, begitupun dengan Kasim Rojin yang berdiri cemas, menunggu di sana dan menanti perintah apapun yang akan diucapkan Kaisar.

Aiko sendiri tetap pada posisinya, terpaku di sana. Dia ingin bergerak, ingin berlutut dan memohon ampun. Tapi karena Kaisar Shen hanya bergeming menatapnya, Aiko seolah jadi ikut membeku di tempat, napasnya tercekat, paru-parunya seolah tidak berani memompa udara melalui pernafasannya.

Lalu Shen King memberi isyarat kepada Kasim Rojin, “Tolong dia.” Gumamnya tanpa nada, kemudian membalikkan badan melangkah menjauh, diikuti oleh Jenderal Youshou yang tergopoh-gopoh mengikutinya.

Kasim Rojin langsung bergerak melangkah ke dalam kolam dan membantu Aiko berdiri, kaki Aiko terasa lemas, dan dia merasa sangat berterima kasih atas bantuan Kasim Rojin. Mereka melangkah ke tepi kolam, dua-duanya sama-sama memandang bingung ke arah punggung Kaisar Shen yang melangkah menjauh.

***

“Yang Mulia, jubah anda basah kuyup, saya akan meminta pelayan untuk menyiapkan jubah pengganti.” Youshou mengikuti Shen King, merasa bingung karena Kaisar melangkah begitu cepat meninggalkan lokasi insiden itu. Sementara itu Shen King hanya memberikan tanggapan berupa anggukan kepala singkat sambil terus berjalan, seolah tak peduli akan jubahnya yang basah.

Tiba-tiba ketika sudah cukup jauh, sang Kaisar menghentikan langkahnya, lelaki itu meletakkan jemarinya di topengnya dan kemudian …. tertawa.

Membuat Jenderal Youshou berdiri tercengang dengan mulut ternganga, tak percaya akan apa yang ditampilkan oleh indera pendengaran dan pengelihatannya.

***

“Kau benar-benar beruntung.”

Kasim Rojin mengangsurkan handuk untuk mengeringkan rambut Aiko yang basah kuyup, dia sudah berganti pakaian mengenakan pakaian ganti kering, “Sepertinya suasana hati Kaisar sedang baik, sehingga beliau menganggap insiden tadi bagaikan angin lalu.” Kasim Rojin menggeleng-gelengkan kepala seolah masih tak percaya akan kejadian tadi. Baru kali ini seorang abdi melakukan kecerobohan sebegitu besarnya, membuat jubah Kaisar basah…. Kakek Rojin berdecak, kalau ini dilakukan oleh orang lain, sudah pasti orang itu akan kehilangan kepalanya. Shen King tidak punya belas kasihan, jika kali ini dia tidak menghukum Aiko, sudah pasti ada hal lain entah apa yang sedang direncanakan oleh benak Kaisar yang penuh misteri.

Aiko menghela napas panjang, bibirnya masih pucat dan gemetaran, campuran antara kedinginan dengan rasa takut yang masih menyisa.

Membayangkan tadi Kaisar Shen berdiri bergeming di tepi kolam sambil menatapnya dari balik topeng emas sungguh merupakan momen paling menakutkan. Apa yang ada di benak Kaisar tadi? Ekspresi apa yang ada di balik topeng emasnya yang mengerikan itu? Apakah Kaisar sedang menahan kemarahannya?

Aiko bergidik… satu demi satu kebodohan yang dia lakukan, padahal baru juga dua hari dia berada di dalam istana merah. Ya ampun, dia harus lebih berhati-hati ke depannya, jika dia tidak waspada, umurnya sudah dipastikan tidak akan panjang.

“Lain kali selalu waspada. Di dalam istana merah ini, Yang Mulia Kaisar memang sering berjalan-jalan tanpa pengawalan, karena istana merah adalah istana yang paling aman di sini. Mungkin kau akan sering berpapasan dengan beliau, dan kau harus selalu siap. Jangan sampai kejadian ini terulang kembali. Siapa tahu lain kali kau tidak seberuntung ini.”

Aiko menganggukkan kepalanya dengan sungguh-sungguh mendengar nasehat kakek Rojin. Dia juga bertekad dalam hati. Jangan... jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi. Jangan sampai dia melakukan kesalahan lagi di depan Kaisar Shen yang mengerikan.

***

Lelaki itu melangkah dengan santai memasuki mansion pribadinya, beberapa orang menyapanya dengan hormat dan dia membalas dengan santun, memberikan senyum khasnya yang luar biasa menarik. Ya, orang-orang bilang wajahnya begitu menariknya hingga dia lebih pantas disebut cantik daripada tampan – pujian itu tidak membuatnya senang tentu saja – karena sebagai lelaki tulen, dia senang disebut tampan daripada cantik.

Dia tersenyum puas akan bawaan yang berhasil dikumpulkannya. Beberapa tanaman obat langka telah mekar dengan pas di hutan selatan, siap dipanen, dan dia berhasil membawa persediaan yang cukup untuk beberapa bulan ke depan

Para asistennya sedang memasak ramuan di panci-panci besar berisi air mendidih bercampur tanaman obat-obatan yang menebarkan aroma wangi semerbak di ruangan khusus yang terletak di bagian belakang mansion itu.

Salah seorang asistennya, yang bernama Li mendongakkan kepala ketika menyadari kehadirannya, dan tersenyum senang ketika menyapanya.

“Tabib Zhou! Anda sudah datang?” sapanya senang, “Kebetulan sekali, Jenderal Youshou menitip pesan untuk anda supaya menemui Yang Mulia Kaisar di ruang pribadinya kalau anda sudah datang.”

Tabib Zhou mengerutkan dahinya, “Apakah kondisi kesehatan Yang Mulia bermasalah?”

“Tidak.” Asisten Li menjawab cepat, “Kata Jenderal Youshou, Yang Mulia memanggil anda untuk membicarakan sesuatu menyangkut ramuan obat-obatan langka.” Asisten Li tercenung seolah teringat sesuatu, “Tapi anda mungkin bisa sekalian memeriksa Yang Mulia untuk berjaga-jaga, saya dengar ada insiden tadi pagi yang menyebabkan Yang Mulia basah kuyup.”

Tabib Zhou mengangkat alisnya yang tebal indah, “Basah kuyup? Apa maksudmu?”

“Perisai Kaisar yang baru melakukan kecerobohan, jatuh tercebur ke kolam, dan airnya membasahi Yang Mulia Kaisar… Yang membuat kami semua terkejut, katanya Yang Mulia tidak menghukum perisainya itu… yah mungkin karena Yang Mulia membutuhkan perisai baru setelah perisai-perisai sebelumnya menjadi korban racun…”

“Jadi Yang Mulia mengangkat perisai baru ketika aku pergi?” Tabib Zhou tercenung, agak bingung karena biasanya sebelum Shen King mengangkat perisai, beliau selalu mengirimkan kandidat perisai ke dirinya untuk diberi pendidikan dasar mengenai racun.

“Ya, dan lebih mengejutkan lagi, perisai Kaisar kali ini seorang perempuan. Dia adalah salah satu dari sepuluh dayang persembahan yang terpilih tahun ini.”

Kali ini Tabib Zhou berhasil menyambung-nyambungkan semua informasi yang didapatnya,

“Jadi ….. anak perempuan itu sudah datang ke istana.” Gumamnya pada dirinya sendiri, senyumnya melebar, membayangkan entah apa yang dilakukan Shen King pada anak perempuan itu sekarang.

***

Aiko sedang berlutut,  sekali lagi harus menguatkan dirinya karena ditinggalkan berdua saja dengan Kaisar Shen di ruang makan.

Ini adalah jamuan makan malam Kaisar Shen, siang tadi Kaisar Shen sibuk di istana emas sehingga tidak sempat melakukan jamuan makan siang. Hal itu sedikit banyak menyelamatkan Aiko karena dia tidak perlu langsung bertemu Kaisar setelah insiden memalukan tadi pagi.

Tapi bagaimanapun juga, sebagai perisai Kaisar, dia tidak seberuntung itu bisa menghindar dari Kaisar. Yang Mulia harus makan, dan itu berarti AIko harus bertemu dengan Kaisar serta menghadapi rasa takutnya.

Suasana begitu hening dan menyesakkan di ruang makan. Sejak tadi sang Kaisar tidak mengeluarkan suara apapun, menciptakan suasana intens yang menyesakkan dada.

Apakah beliau masih menyimpan kemarahan kepadanya akibat insiden tadi pagi? Bagaimana jika beliau berubah pikiran dan memutuskan memenggal kepalanya sekarang?

Aiko menelan ludahnya dan mengintip dari sudut matanya ke arah Kaisar Shen yang sedang meletakkan kedua topengnya di meja. Aiko memastikan kembali bahwa ada dua topeng di atas meja.

Kaisar benar-benar sudah melepaskan topengnya, kali ini Aiko harus berusaha supaya apapun yang terjadi, dia tidak boleh mengangkat kepala atau ketika keadaan terdesak seperti kemarin, Aiko harus menguatkan diri untuk memejamkan mata.

Dia bersujud dan memulai ritual pencicipan. “Ampun Yang Mulia, hamba memohon izin untuk melakukan tugas hamba.”

Ketika Kaisar menjawab permohonannya dengan perintah melanjutkan, Aiko mulai mengambil set sendok perak itu. Memeriksa aroma dan penampilan hidangan itu, dan setelah yakin semuanya baik-baik saja, dia mulai mencicip satu demi satu makanan, berganti sendok setiap berganti menu. Ketika dia hendak mencicip air minum Kaisar, dirinya tertegun.

Masih terbayang kejadian kemarin ketika dia hampir saja memasukkan cairan racun mengerikan itu ke dalam perutnya…. sekarang …. bagaimana kalau hal itu terjadi lagi?

Jantung Aiko mulai berdebar, dia menghela napas pendek-pendek, mengambil minuman itu satu sendok, dan memejamkan matanya rapat-rapat ketika memasukkan cairan itu ke dalam mulutnya, lalu menelannya.

…. Tidak ada rasa yang aneh di minuman itu.

Aiko menunggu. Lalu menghembuskan napas lega ketika tidak terjadi apapun padanya. Sepertinya kali ini semua baik-baik saja. Tetapi sesuai peraturan, dia harus menunggu selama sepuluh menit, karena biasanya racun itu baru bereaksi di sepuluh menit pertama.

Suasana hening ketika Aiko menunggu menit demi menit berlalu, menghitung dalam hati dan berharap waktu segera terlampaui supaya dia bisa segera meninggalkan ruangan yang menyesakkan dada ini. Suasana di ruangan ini tidak menyenangkan, dan keheningan Kaisar yang misterius malahan semakin membuat suasana semakin mengerikan.

Aiko menghitung dengan hati-hati dan sekali lagi menghembuskan napas lega ketika waktu yang dia tunggu sudah terlampaui, dia segera bersujud kembali kepada Kaisar.

“Ampun Yang Mulia, tugas hamba sudah selesai. Hamba mohon izin pamit ….”

“Tetap di sini.”

Kaisar Shen bergumam dingin, membuat Aiko tertegun, matanya terbelalak kaget dan tubuhnya membeku. Tetapi kemudian yang bisa dilakukannya tentu saja mematuhi perintah Kaisar. Dia diam di sana, duduk berlutut dengan kepala menunduk dalam.

Jemari Kaisar Shen bergerak, mengambil mangkuk makanan, mengisinya dengan hidangan yang sudah disiapkan. Tetapi kemudian beliau tidak menyantap hidangannya,

“Kau yang habiskan.” Kaisar Shen malahan meletakkan mangkuk berisi hidangan itu di depan Aiko yang terkesiap kaget.

Mata Aiko terbelalak menatap mangkuk kerajaan dari emas yang indah itu, beserta sumpit berukir naga yang juga terbuat dari emas dengan hiasan permata biru di ujungnya. Mangkuk itu diisi penuh dengan berbagai macam hidangan yang menggiurkan.

Aiko menahan keinginannya sekuat tenaga untuk mengangkat kepala dan mempertanyakan perintah Kaisar, dia benar-benar bingung, tidak mungkin dia makan menggunakan mangkuk dan peralatan makan kaisar bukan?

“Makan.” Terdengar lagi perintah dari Kaisar Shen.

“Tapi Yang Mulia … ” Aiko pada akhirnya berani mengeluarkan suaranya yang semula tercekat di tenggorokan.

“Apakah kau ingin membantah perintahku?” Kali ini suara Kaisar terdengar tajam, seolah tidak senang akan keraguan Aiko.

Kata-kata Kaisar Shen bagaikan lecutan tajam yang memaksa jemari Aiko bergerak. Dengan gemetaran dia mengambil mangkuk dan sumpit yang diletakkan di depannya, peralatan makan itu terasa berat, membuat Aiko ingin menangis didera rasa bingung dan takut.

Dia memasukkan makanan itu ke dalam bibirnya yang bergetar, menelannya paksa. Matanya mulai berkaca-kaca. Dalam ketakutan yang menyiksa, rasa makanan yang seharusnya nikmat itu seolah kehilangan pesona, alih-alih malahan terasa seperti sebongkah batu yang dijejalkan ke dalam tenggorokan.

Aiko memaksakan dirinya memakan hidangan itu, dan dia yakin bahwa dalam diamnya, Kaisar Shen sedang mengamatinya tajam, menderanya dengan pandangan yang menakutkan.

“Habiskan.” Suara Kaisar Shen terdengar lagi, penuh nada mengintimidasi ketika dia melihat Aiko melambatkan suapannya.

Aiko meringis, dan menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya.

Suap, kunyah, telan, suap, kunyah, telan. Seperti itu terus, Aiko memasukkan perintah beruntun ke otaknya supaya bisa menghabiskan makanan itu secara sistematis.

Ketika mangkuk itu telah kosong, Jemari Kaisar menyorongkan gelasnya ke depan Aiko.

“Minum. Habiskan.”

Sejenak Aiko ragu, menatap gelas yang sedianya hanya dipergunakan oleh Kaisar. Tetapi karena takut dimarahi, diapun menurut, meminum air dari gelas itu sampai habis.

“Bagus.” Terdengar nada puas dari sang Kaisar.

Lalu tiba-tiba jemari Kaisar menyentuh dagunya dan mendongak kepalanya, entah bagaimana, Kaisar sudah dekat sekali dengannya.

Aiko langsung merasakan jantungnya berdebar keras, refleks dia memejamkan mata.

Ini terjadi lagi! Jeritnya dalam hati, putus asa karena mengingat kejadian yang hampir sama kemarin.

Tapi kali ini berbeda, Kaisar Shen kali ini benar-benar telah melepas kedua topengnya. Kalau Aiko membuka matanya, dia akan melihat wajah asli sang Kaisar. Dan siapapun yang melihat… jangankan melihat, mencoba melihat wajah asli sang Kaisar saja akan dihukum mati…

Kalau kali ini sang Kaisar memerintahkannya membuka mata, itu berarti sama saja dengan menghukum mati dirinya.

Apakah memang sejak semula Kaisar Shen Memang ingin membunuhnya?

Mungkin saja hukuman mati untuknya sudah ditetapkan sejak insiden di taman bunga Sakura, ketika dia kedapatan membawa kantong obat yang sedianya terlarang ke dalam area Istana. Mungkin saja karena begitu kejamnya, Kaisar Shen memutuskan untuk mempermainkan rasa takutnya dulu sebelum membunuhnya…

Aiko memejamkan mata semakin rapat, menunggu. Didera rasa takut akan berbagai pikiran gelap yang berkecamuk di dalam kepalanya.

Tetapi yang terdengar kemudian, bukanlah perintah kejam dan mengintimidasi. Yang terdengar kemudian adalah suara lembut penuh kesedihan, begitu sedihnya sampai membuat hati Aiko seakan teriris ketika mendengarnya.

“Kenapa kau begitu takut kepadaku?”

Dan sebelum Aiko bisa mencerna maksud yang terkandung di dalam nada suara dan pertanyaan yang menyayat hati itu, Aiko merasakan napas Kaisar begitu dekat dengannya, panas dan harum oleh aroma rempah-rempah nan maskulin…

Lalu kemudian, bibir Kaisar Shen yang panas dan lembut, mencium bibirnya.

309 Komentar

  1. Febrina Prabarani menulis:

    Astaga :habisakal

  2. Norma El-bulan menulis:

    :kudukungkau :duuh :otakkugaknyampe

  3. Nisaul Badriyah menulis:

    main sosor aja….kaget pasti ni aiko :happy :happy :happy

Tinggalkan Balasan