emperors-consort2
Emperors Consort

Emperor’s Consort Part 3 : Apa Yang Menahanmu Begitu Lama?

Bookmark

No account yet? Register

1.924 votes, average: 1,00 out of 1 (1.924 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

emperors-consort2

Jenderal Youshou sedang melangkah hendak menemui Kaisar ketika dia menemukan Shen King sedang keluar dari ruang makan istana merah, menutup pintu di belakangnya dan bersandar di pintu sambil terkekeh.

Terkekeh?

Alis Jenderal Youshou mengerut, merasa tergoda untuk mengecek indera pendengarannya. Kaisar Shen bisa mengeluarkan berbagai suara yang menakutkan, seperti suara bentakan mengintimidasi, menggeram, mendesis, mengancam, berbisik mengerikan….

Tetapi terkekeh tidak termasuk di dalamnya.

Memang sang Kaisar mengenakan topeng, sehingga orang bahkan tidak akan bisa melihat beliau tersenyum, tetapi Jenderal Youshou yang dibesarkan bersama Kaisar Shen sejak kecil benar-benar meyakini bahwa Shen King tidak pernah tersenyum atau tertawa di balik topengnya … Apalagi terkekeh…

Kaisar Shen telah berhenti tertawa di usianya yang ke tiga belas tahun, ketika dia kehilangan ibundanya karena konspirasi keji permaisuri Yin.

Ibunda Kaisar Shen, Selir Junsuina, adalah selir kesayangan Kaisar Shutei, Kaisar sebelumnya yang merupakan ayahanda Shen King. Selir Junsuina adalah satu-satunya selir yang bisa melahirkan anak laki-laki sebagai penerus kerajaan, sementara permaisuri Yin dan selir-selir kaisar yang lain hanya bisa melahirkan anak perempuan.

Pada jaman dahulu kala. Seorang putera mahkota tunggal selalu dipakaikan topeng sejak kecil, hal ini bertujuan supaya ketika ada upaya-upaya pembunuhan atau penculikan terhadap putera mahkota, topeng itu akan dibuka dan putera mahkota akan berbaur dengan anak-anak seusianya sehingga pembunuh atau penculik yang dikirim tidak bisa mengenali yang mana yang merupakan putera mahkota asli.

Shen King sudah mengenakan topeng emas itu sejak Youshou diperkenalkan dengannya di usia lima tahun. Topeng emas itu selalu diperbaharui secara berkala menyesuaikan dengan pertumbuhan putera mahkota. Sesuai protokol kerajaan, baru nanti ketika upacara penobatan sebagai kaisar, topeng itu dibuka.

Kaisar Shen mempunyai tujuh saudari perempuan, tiga saudarinya berasal dari rahim permaisuri Yin, sementara empat yang lain berasal dari para selir. Ketika kondisi kesehatan Kaisar Shutei semakin buruk, dan usianya sudah semakin tua, kecemasan permaisuri Yin semakin bertambah. Beliau tidak ingin Shen King menjadi Kaisar, karena hal itu berarti kedudukan Selir Junsuina sebagai ibunda Kaisar akan lebih tinggi dari kedudukannya.

Permaisuri Yin mengusahakan segala cara untuk membunuh Shen King dan ibundanya, jika Shen King mati, ayahanda Shen King terpaksa harus memilih orang lain sebagai penerusnya, dan Permaisuri Yin akan memilih adik laki-lakinya sebagai penerus Kaisar sambil menunggu cucu pertama laki-laki Kaisar Shutei dari puterinya dilahirkan.

Shen King masih anak kecil yang ceria, sedikit angkuh dan keras kepala, tetapi dengan kepandaian yang melebihi rata-rata ketika insiden itu terjadi. Insiden keji yang menjungkirbalikkan dunia Shen King dan mengubah jiwanya untuk selamanya.

Permaisuri Yin mengatur perjalanan ke tempat peristirahatan musim panas untuk selir Junsuina dan Shen King, yang ternyata adalah jebakan. Di tengah jalan, mereka dihadang oleh para assassin berpedang yang menyamar sebagai perampok. Pasukan pengaman yang seadanya karena sudah disabotase oleh permaisuri Yin, kocar-kacir dan habis karena pembantaian yang tidak disangka itu.

Beruntung Jenderal Long, ayahanda Youshou yang setia kepada kaisar sudah curiga hingga memutuskan mengikuti rombongan itu secara diam-diam dari belakang. Pada akhirnya, Jenderal Long berhasil menyelamatkan Shen King, yang kala itu bermandikan darah ibundanya karena tercabik pedang ketika melindunginya, dan membawanya melarikan diri kembali memasuki istana.

Ketika memasuki kembali istana, Jenderal Long menyembunyikan Shen King di tempat tinggalnya, mansion terbesar di bagian samping istana merah, beliaupun memeras otak untuk menyelamatkan sang putera mahkota.

Permaisuri Yin berasal dari keluarga kelas atas, bangsawan dengan kedudukan yang tak kalah tinggi dari keluarga Long, almarhum ayahanda permaisuri Yin dahulu adalah Jenderal tertinggi istana sebelum digantikan oleh dirinya, keluarga mereka sangat kaya dan memiliki kekuatan pasukan yang tidak bisa diremehkan, lagipula, tidak diragukan lagi mereka masih memiliki beberapa petinggi prajurit yang setia kepadanya.

Mengkonfrontasi kejadian pembantaian ini secara langsung adalah tindakan yang sangat tidak bijaksana, lebih baik mereka bermain halus di belakang dan kemudian maju ketika permaisuri Yin dan komplotannya tidak bisa berbuat apa-apa.

Jenderal Long membujuk Shen King untuk bersikap tenang dan mengaku bahwa di hari ibundanya pergi ke peristirahatan, dia sedang tidak enak badan dan memutuskan untuk beristirahat di kediaman keluarga Long karena Youshou teman terbaiknya tinggal di sana. Lalu Jenderal Long menemui Kaisar Shutei dan mendesaknya supaya segera mengangkat Shen King sebagai penerusnya sebelum permaisuri Yin sadar dan melakukan upaya pembunuhan berikutnya.

Kaisar Shutei ketika itu sudah tua serta sakit-sakitan, dan hatinya hancur ketika menemui kenyataan bahwa selir Junsuina, selir kesayangannya telah mati terbunuh. Beliau langsung menyetujui seluruh rencana Jenderal Long.

Malam itu juga, ketika malam bergulir tertepis pagi, Kaisar Shutei mengadakan upacara pengangkatan Shen King sebagai Kaisar secara mendadak di istana emas, dengan dihadiri oleh seluruh anggota istana yang begitu shock dan terkejut karena dibangunkan tengah malam untuk menyaksikan upacara bersejarah ini.

Youshou masih ingat ketika itu, dia mendampingi Shen King yang baru berusia tiga belas tahun, dengan baju kekaisaran dan mahkota dikepalanya, menerima mandat kekuasaan dari ayahandanya.

Shen King berubah sejak ayah Youshou, Sang Jendral Long pulang membawanya dalam kondisi berumuran darah, Dia berteman dengan Shen King dan tahu persis, dulunya putera mahkota seperti anak biasa yang ceria, banyak bercerita dan memandang kehidupan ini sebagai sesuatu yang indah.

Di matanya ketika itu, Shen King yang sudah dinobatkan menjadi Kaisar berubah seperti sosok lain, seperti dilahirkan kembali dari mandi darah ibundanya tercinta…. Sang Kaisar telah berubah menjadi keji, tak punya hati dan haus darah, seakan-akan ingin menumpahkan darah sebanyak mungkin untuk menggantikan darah ibundanya. Bahkan di kala itu, Shen King melakukan keputusan yang membuat keributan karena dia tidak mau melepas topengnya, bahkan ketika dia sudah dinobatkan sebagai Kaisar.

Youshoulah yang tahu persis betapa kejamnya Shen King, dia menjadi saksi dengan mata kepalanya sendiri. Ketika itu, dua tahun kemudian, setelah Shen King menjabat menjadi Kaisar dan menerima kesetiaan penuh Jenderal Long sebagai Jenderal tertingginya, Kaisar yang baru berumur lima belas tahun, berangkat ke medan perang untuk menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil di sekitarnya. Dan kemudian, hanya dalam kurun dua tahun pemerintahannya, diusianya yang masih amat belia, Kaisar Shen telah berhasil menguasai empat negara yang kemudian menyatakan kesetiaannya kepada kerajaan Shisou.

Hal menakjubkan itu membuat semua bangsawan yang memiliki banyak pengaruh dan pasukan dan dulunya meragukan kepemimpinan kaisar kecil itu, berbalik menyatakan dukungan kepada Kaisar Shen King. Kondisi ini berbalik dengan kejayaan keluarga Yin, keluarga permaisuri yang semakin melemah karena setelah insiden penyerangan terselubung itu, Kaisar Shutei yang sakit hati telah mendorong Shen King untuk mengeluarkan berbagai peraturan yang membatasi kekuasaan keluarga Yin, menyangkut pembatasan jumlah pasukan dan pembatasan jumlah suplai senjata.

Lalu malam itu, di tiga tahun Shen King menjadi Kaisar, di bulan musim salju pertama dimana butiran salju yang berjatuhan mulai memeluk bumi, Kaisar Shutei meninggal dunia.

Shen King rupanya telah menunggu saat ini tiba sejak lama, bersabar dengan bertingkah laku baik, bahkan kepada permaisuri Yin, pembunuh ibunya, memendam dendamnya rapat-rapat sehingga tidak tercium sedikitpun oleh musuh-musuhnya.

Upacara pemakaman itu entah kenapa dilaksanakan secara rahasia, hanya dihadiri oleh Shen King, Permaisuri Yin, Selir-selir kaisar Shutei dan puteri-puteri kaisar beserta para dayangnya. Di saat semua sedang berduka dan tak berprasangka, tanpa dinyana, Shen King melakukan pembantaian besar-besaran yang telah direncanakannya sejak lama.

Hari itu, adalah hari yang penuh darah, salju yang putih tidak putih lagi karena menyerap pekatnya darah yang mengalir, tertumpah dari tubuh Permaisuri dan seluruh selir kaisar Shutei. Bahkan Shen King juga membunuh adik-adik perempuannya sendiri tanpa tersisa.

Yoshou melihat ketika dia dibawa ayahnya ke arena pembantaian itu, Shen King sendiri yang menebaskan pedangnya untuk memenggal permaisuri Yin, dia membiarkan tubuhnya terciprat, bermandikan darah segar yang mengucur dari tubuh permaisuri yang telah kehilangan kepalanya…..

Pemandangan itu tak akan pernah terlupakan bagi Youshou, bahkan setelah dia menjadi Jenderal kepercayaan Shen King menggantikan ayahnya. Tidak akan pernah dia lupakan kengerian yang merayapi jiwanya, melihat Shen King di sana, bertopeng emas dan masih berusia enam belas tahun, berdiri dengan pedang terhunus, tampak seperti malaikan pencabut nyawa ditengah salju putih yang kontras dengan warna merah, bermandikan darah keluarganya sendiri.

Dan sekarang telinganya menangkap Shen King sedang terkekeh?

***

Youshou melangkah mendekat dengan hati-hati, mencoba mencari tahu apakah apa yang didengarnya itu hanyalah halusinasi. Tetapi sayangnya kehadirannya disadari oleh sang Kaisar. Shen King langsung menegakkan tubuhnya, gestur tubuhnya menjadi kaku seperti biasa, begitu angkuh dan menyeramkan.

“Sudah kuduga, keluarga Tian meracuni minumanku, mereka berusaha mengambil kesempatan di hari pertama, karena mendengar aku mengangkat perisai baru yang tak berpengalaman.”

Jenderal Youshou membungkuk, memberi hormat, tahu apa yang diinginkan oleh Kaisarnya, “Hamba akan melaksanakan eksekusi secepatnya.”

“Bagus, malam ini juga lakukan eksekusi, mereka pasti sudah menyadari bahwa rencana mereka gagal, kau juga harus mengeksekusi penanggung jawab bagian dapur, ada penyusup di sana dan aku mau mereka semua dimusnahkan.”

“Baik Yang Mulia.” Jenderal Youshou melirik ke dalam ruang makan Kaisar dengan cemas, tak ada suara di sana. Apakah perisai baru Kaisar begitu sialnya hingga mati keracunan di hari pertamanya bertugas?

“Apakah di dalam sana ada mayat yang harus saya singkirkan?” Jenderal Youshou bertanya, mencari tahu dengan hati-hati.

Hening, Seolah Shen King sedang menahan diri untuk tidak ….. Tertawa?

“Perisai bodoh itu bahkan tidak bisa membedakan air dengan racun yang sangat kentara.” Kaisar Shen King bergumam kepada dirinya sendiri, seperti sedang mengkritik tapi entah kenapa malah terdengar nada gembira yang menyelip di telinga Jenderal Youshou, “Dia masih hidup di dalam sana, hanya sedikit ketakutan. Mungkin kau bisa menyuruh anak buahmu mengantarkannya menemui Tabib Zhou untuk diajari.”

“Baik Yang Mulia.” Jenderal Yoshou menunduk, memberi hormat sampai Kaisar Shen melangkah meninggalkannya. Setelah Kaisar Shen menghilang dari pandangan, Jenderal Youshou melirik ragu ke dalam ruang makan Kaisar.

Perempuan itu masih hidup? Tapi dengan racun yang ketahuan …. Bagaimana bisa? Apakah Shen King mencegah perempuan itu mencicipi racunnya? Tapi kenapa?

Jenderal Youshou berdecak, berusaha mengusir kebingungannya lalu memutuskan untuk menuntaskan rasa penasarannya dengan melihat kondisi si perisai. Dia sebenarnya bisa menyuruh anak buahnya melakukannya, tetapi pertanyaan yang ada di benaknya mendorongnya untuk membuka pintu ruang makan istana merah dengan hati-hati. Ruangan itu tentu saja kosong, kecuali hanya berisi satu mahluk hidup.

Kaisar Shen tidak bercanda, perisai itu memang masih hidup, berlutut kebingungan seolah tidak tahu harus berbuat apa.

“Nona Aiko.” Jenderal Youshou berdehem, berusaha merendahkan suaranya melihat perempuan itu hampir terjengkal karena kagetnya.

Ya Ampun, Jenderal Youshou hampir-hampir menepuk dahinya sendiri. Kalau perempuan ini sebegitu penakutnya, mungkin dalam waktu dekat dia akan kehilangan nyawanya, bukan karena racun tapi karena serangan jantung.

Berada berdekatan dengan Kaisar Shen memerlukan jantung yang kuat, dan perempuan ini sepertinya tidak memilikinya.

***

Untunglah tangan Aiko bisa menahan tubuhnya sehingga dia tidak terjatuh secara memalukan saking kagetnya. Suara sapaan itu begitu mengejutkan, dan setelah berhasil menjaga keseimbangan tubuh, dia mengangkat kepala dan melihat Jenderal Youshou yang begitu tinggi, berdiri di sana dengan pakaian militernya. Aiko langsung sadar kalau dia begitu tidak sopan, dengan segera dia bersujud, memberi hormat.

“Ampun, Jenderal Youshou. Mohon maafkan saya karena…. ”

“Sudahlah, bangun.” Jenderal Youshou menyela, membuat Aiko mengangkat kepala kembali dan mendapati Jenderal Youshou memasang wajah jengah.

Apakah Jenderal Youshou tidak suka ada yang bersujud di depannya?

“Yang Mulia Kaisar Shen sudah pergi ke istana emas, kau lekaslah bersiap, salah satu prajurit akan menjemputmu dan mengantarkanmu ke kediaman Tabib Zhou, Kaisar menitahkan kau belajar di bawah bimbingan tabib Zhou untuk memperdalam ilmumu tentang racun.”

Aiko ternganga, matanya membelalak.

Tabib Zhou? Tabib Zhou yang itu?!

Tiba-tiba Aiko merasakan sengatan kegembiraan yang luar biasa. Ternyata… Ternyata jalan yang membawanya ke sini bukanlah jalan kesialan. Jalan ini malah mengantarkannya dengan mudah untuk menemukan tabib Zhou!

“Baik Jendral Youshou!” Aiko membungkuk bersemangat, tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Hal itu tidak luput dari pengamatan Jenderal Youshou, membuatnya mengerutkan kening.

***

“Sudah?”

Shen King duduk di belakang meja datar di dalam kamar peraduannya. Kamar itu terletak di tengah istana merah, dihias dengan nuansa emas, merah dan hitam dan sangat luas. Bagian depan berisi meja datar dan karpet untuk duduk Shen King, disebabkan sang Kaisar masih suka membawa pekerjaannya ke peraduannya. Sedangkan sisi belakang berisi ranjang berukuran besar sebagai tempat tidur kaisar, selain itu banyak terdapat hiasan-hiasan dari emas dan ukiran-ukiran permata di dinding, membuat suasana kamar yang redup menjadi berkilauan.

Shen King bahkan tidak mengangkat kepalanya, masih memandang dokumen dan surat-surat kerajaan yang harus ditanganinya, beberapa surat itu merupakan laporan penting dari kondisi perbatasan kerajaan dan juga laporan mata-mata di negara-negara yang diam-diam diwaspadai oleh kerajaan Shisou.

Jenderal Youshou tertegun di pintu mendengar pertanyaan singkat yang diajukan tanpa dinyana-nyana, malam sudah mulai menjelang, dia hendak melakukan laporan rutin sebelum Yang Mulia beristirahat, sekaligus melaporkan eksekusi keluarga Tian pelaku percobaan peracunan Kaisar dan juga staff dapur yang bertanggung jawab, tetapi baru juga sampai di pintu, dia sudah diberikan pertanyaan itu,

Otaknya berpikir, apanya yang sudah? Apakah ini tentang eksekusi keluarga Tian?

‘Esksekusi sudah dilaksanakan yang Mulia.” Jawabnya cepat.

“Bagus.” Shen King memberi tanggapan singkat, lalu terdiam seolah masih menunggu, membuat Jenderal Youshou bingung.

Tiba-tiba Jenderal Yoshou teringat anak baru yang menjadi perisai Kaisar, Apakah anak itu yang ditanyakan oleh Yang Mulia?

“Kami mengantar Perisai anda ke Tabib Zhou, tetapi ternyata beliau sedang mengadakan perjalanan ke hutan selatan untuk mengisi stock tanaman obat yang habis.”

Shen King meletakkan penanya, “Aku tidak akan melakukan jamuan malam.” gumamnya tiba-tiba, mengucapkan kata-kata yang tidak ada hubungannya dengan laporan Jenderal Youshou sebelumnya.

Jenderal Youshou menganggukkan kepalanya hormat, “Baik, saya akan mengirimkan orang untuk memberitahu ke bagian dapur. Apakah anda ingin minum teh herbal? Saya akan meminta Kasim Rojin menyiapkannya dan memanggil perisai anda.”

Shen King memang jarang makan malam, sang Kaisar lebih suka mengerjakan tugas-tugasnya di malam hari ditemani teh herbal kesukaannya. Teh herbal itu diramu khusus oleh Tabib Zhou, tabib kepercayaan Shen King, dibuat dari rempah-rempah dan bebungaan yang dikeringkan, berpadu dengan daun teh kualitas tinggi, menciptakan minuman berwarna keemasan nan harum dan segar ketika mengaliri tenggorokan.

Di malam-malam seperti ini, ketika Kaisar hanya menginginkan sepoci teh untuk menemaninya bekerja, ritual jamuan di ruang makan tidak akan dilaksanakan, perisai kaisar hanya ditugaskan menunggu di depan pintu peraduan Yang Mulia, lalu mencicipi tehnya, setelah diyakini tidak ada racun di sana, Kasim Rojinlah yang diizinkan untuk masuk dan mengantarkan teh itu ke meja Kaisar lalu meninggalkan Kaisar sendirian.

Kamar peraduan kaisar ini merupakan tempat terlarang yang tidak bisa dijamah sembarang orang, satu-satunya pelayan yang boleh masuk dan mengurus kamar Kaisar adalah Kasim Rojin yang merupakan kepala pelayan sejak jaman ayahanda Shen King berkuasa. Selain Kasim Rojin, Tabib Zhou dan Jenderal Youshou sendiri, tidak ada bawahan lain yang boleh memasuki kamar peraduan Kaisar ini.

“Tidak.” Suara Shen King tampak penuh misteri, “Aku ingin minum arak malam ini.”

Jenderal Youshou mengerutkan keningnya.

Arak? Di malam yang sudah hangat ini? Biasanya Sang Kaisar hanya minum arak di penghujung musim dingin untuk menghangatkan badan…

Jenderal Youshou termenung menyadari jika Yang Mulia menginginkan arak, maka perisai Kaisar harus mencicip arak itu sebelum dihidangkan.

Apakah anak perempuan itu pernah minum arak sebelumnya?

Tiba-tiba Jenderal Youshou teringat wajah Aiko yang masih begitu muda dan lugu. Usia gadis itu baru menginjak enam belas tahun, kemungkinan besar belum pernah mencicipi arak sebelumnya. Meskipun sebagai perisai, Aiko hanya mencicipi sedikit, entah bagaimana reaksinya nanti. Jenderal Youshou pernah melihat prajurit muda yang mabuk berat hanya karena satu gelas kecil arak murahan, apalagi arak yang dihidangkan untuk Kaisar Shen pastilah arak kualitas tinggi yang lebih memabukkan.

Sayangnya, sama seperti makanan dan minuman kaisar yang lain, arak yang hendak diminum kaisar juga harus dicicipi oleh perisainya terlebih dahulu, tidak ada jalan bagi Aiko yang tidak berpengalaman itu untuk menghindar.

Jenderal Youshou menghela napas pelan, entah apa yang ada di benak kaisar ini. Di matanya, Shen King seperti serigala yang menemukan mangsa kesukaannya, seekor domba kecil yang ketakutan, dan serigala itu memutuskan untuk bermain-main dengan mangsanya sebelum dimakan.

Jenderal Youshou membungkuk dan memberi hormat lagi, “Saya akan meminta kakek Rojin menyiapkan semuanya. Perisai anda akan mencicipi arak itu di depan pintu peraduan.”

“Tidak.” sekali lagi Shen King menolak, melipat kedua tangannya sambil tetap memusatkan diri pada dokumen kerajaan di depannya, “Atur acara minum arakku seperti jamuan makan malam, biarkan perisaiku mencicipi arakku di kamar ini.”

Kali ini Jenderal Youshou tidak bisa menahan ekspresi tercengang di wajahnya. Mencicip arak di dalam kamar? Di dalam kamar??

***

Ketika bulan semakin menyala, memantulkan cahaya keperakan membelah gelapnya malam, kasim Rojin sekali lagi berjalan di depan Aiko, sementara Aiko mengikuti di belakangnya pelan. Kali ini langkah kasim Rojin tidak seterburu-buru tadi siang, lelaki tua itu tampak menikmati perjalanan mereka menembus lorong di tengah taman menuju peraduan Yang Mulia.

Taman bunga itu dipenuhi oleh pepohonan sakura berwarna merah jambu pucat hingga hampir memutih, di bagian bawahnya ada rerumputan dan bebungaan pendek yang mekar di malam hari menebarkan aroma semerbak. Di sudut-sudut taman, bertebaran kolam-kolam ikan kecil dengan air mancur yang bergemericik penuh dengan ikan koi besar berwarna orange dan merah cerah. Suasana malam ini begitu damai, sempurna dengan aroma dan hawa menyenangkan, pun dengan langit cerah di atas sana yang dipenuhi bintang berkilauan.

“Malam ini Yang Mulia tidak melakukan jamuan makan malam, beliau hanya akan meminum arak sebelum beristirahat.” Kasim Rojin melirik sedikit ke arah Aiko yang nampak gugup. Dia langsung mengurungkan niatnya untuk memberi tahu Aiko bahwa ini adalah kali pertama Sang Kaisar mengizinkan orang lain selain dirinya, Jenderal Youshou dan Tabib Zhou memasuki peraduan pribadinya, informasi itu mungkin akan membuat Aiko lebih gugup dari sebelumnya.

Perisai ini pasti telah mengalami kejadian paling traumatis seumur hidupnya tadi siang. Kasim Rojin yang hanya mengawasi ketika pelayan istana membersihkan dan mengganti karpet yang gosong terkena racun saja merasa ngeri, apalagi sang perisai yang hampir meminumnya.

Lagipula, mengingat perisai ini sampai sekarang masih hidup, satu-satunya kemungkinan besar hal itu bisa terjadi adalah karena sang perisai diselamatkan sendiri oleh Yang Mulia. Membuat kasim Rojin merasa yakin bahwa anak perempuan ini adalah anak yang istimewa.

Kasim Rojin tahu bahwa sebenarnya Shen King bisa bertahan tanpa perisai untuk mencicipi makanannya, tetapi protokol kerajaan sejak beratus tahun lalu memang mengharuskan sang Kaisar memiliki Perisai, sehingga mau tidak mau Shen King selalu mengangkat perisai untuknya.

Shen King sudah memiliki intuisi kuat hasil pengalamannya diserang racun berkali-kali, sehingga beliau bisa mengenali racun di dalam makanannya hanya dengan melihat atau mencium sekilas. Sayangnya Shen King juga sangat kejam, tidak pernah sekalipun beliau mencegah perisainya yang teledor menelan makanan atau minuman beracun, padahal beliau mengetahui ada racun di sana dan bisa mencegahnya jika mau. Shen King biasanya hanya diam, melihat perisainya begitu ceroboh lalu mati meregang nyawa di hadapannya.

Tapi kejadian tadi siang berbeda, Shen King menyelamatkan nyawa anak gadis ini, entah dengan alasan apa.

Kasim Rojin mengerutkan keningnya, lebih mencurigakan lagi sekarang sang Kaisar meminta arak di malam yang begitu hangat, dan alih-alih seperti biasanya membiarkan Sang perisai mencicip minumannya di depan kamar dan menyuruh Kasim Rojin mengantarkannya ke dalam lalu meninggalkannya sendirian untuk bekerja, Shen King malahan meminta kegiatan minum arak itu diadakan seperti jamuan makan malam, di kamar pribadinya.

Belum lagi permintaan Shen King yang di luar kebiasaan. Beliau meminta empat macam arak kualitas terbaik yang berbeda. Apakah Yang Mulia sedang ingin mabuk-mabukan? Atau… Mengingat perisai kaisar harus mencicip empat macam arak itu sekaligus…. Apakah Yang Mulia sedang berusaha membuat Aiko mabuk?

Apakah Shen King sedang mengincar anak perempuan ini?

Jika dilihat-lihat, Aiko memang begitu cantik, berambut hitam, bermata gelap lebar berkilauan dengan kulit keemasan pucat nan lembut dan bibir semerah kelopak mawar yang baru mekar. Aiko jelas-jelas memenuhi selera-selera Kaisar Shen sebelumnya.

Tetapi jika Shen King mengincar Aiko dengan cara seksual, kenapa beliau tidak langsung menjadikan Aiko sebagai selir? Dengan menjadikan Aiko selirnya, Shen King bisa melakukan apapun yang dia mau. Kenapa beliau malahan mengangkatnya menjadi perisai yang notabene merupakan pekerjaan yang penuh bahaya? Kenapa juga Yang Mulia harus repot-repot membuat Aiko mabuk?

Beribu pertanyaan yang berkecamuk membuat kerutan di dahi kasim Rojin semakin dalam, Rencana misterius apa yang sebenarnya sedang bergulir di dalam benak Kaisar?

***

Aiko menyelipkan beberapa helai rambut ke belakang telinganya, tangannya terasa dingin dan dia meremas-remasnya dengan gugup. Perasaannya tadi siang masih campur aduk antara kecewa dan ketakutan.

Ya, kegembiraannya tadi siang langsung menyurut ketika dia diantar ke kediaman tabib Zhou dan menerima kabar bahwa sang Tabib sedang melakukan perjalanan ke hutan selatan untuk mengisi stock tamanan obatnya yang telah habis. Asisten Tabib mengatakan bahwa Tabib Zhou mungkin akan kembali dalam waktu kurang dari seminggu, tetapi tetap saja, menunggu tanpa kepastiaan adalah kegiatan yang paling tidak menyenangkan.

Dan dia juga ketakutan. Dia diberitahu bahwa Yang Mulia Kaisar Shen ingin meminum arak malam ini. Tugasnya sebagai perisai tentu saja mencicip arak itu untuk memastikan tidak ada racun.

Berhadapan langsung dengan Kaisar bertopeng emas mengerikan itu saja sudah bisa membuat jantungnya hampir pecah karena berdebar begitu keras, apalagi ketika membayangkan kemungkinan ada racun lagi di dalam arak yang akan dicicipinya.

Bagaimana jika kali ini Kaisar Shen tidak mau berbaik hati mencegahnya jika ada racun di araknya? Bagaimana jika kali ini Kaisar Shen memang tidak tahu ada racun di sana? Bagaimana jika Aiko meminumnya, lalu karena keteledorannya, Kaisar Shen juga meminumnya? Beban tanggung jawab di pundaknya terasa begitu berat, karena keselamatan orang nomor satu di kerajaan ini seolah-olah tergantung padanya.

Aiko tidak pernah meminum arak sebelumnya, ibunya melarangnya tentu saja. Kata ibunya, itu adalah minuman laki-laki, dan perempuan tidak boleh meminumnya. Tetapi sekarang Aiko tidak punya pilihan lain. Yang membuatnya cemas adalah karena dia tidak tahu bagaimana warna arak, bagaimana bau arak dan bagaimana rasa arak, jadi seperti apa caranya membedakan arak itu beracun atau tidak?

Lamunan Aiko pecah ketika langkah kakek Rojin berhenti di depan pintu besar berwarna merah dan berukir naga yang mengerikan.

“Pergilah masuk ke dalam, kali ini kau melakukannya sendiri. Nampan arak sudah disiapkan di dalam, Yang Mulia Kaisar Shen ada di sana, lakukan ritual seperti tadi siang. Setelah proses pengicipan selesai, kau harus menunggu sekitar sepuluh menit, karena biasanya dalam kurun waktu itulah jika ada racun maka racunnya akan bereaksi. Jika ternyata setelah sepuluh menit kau tidak apa-apa, berpamitanlah kepada Yang Mulia.” Mata Kakek Rojin bersinar teduh seolah kasihan, “Berhati-hatilah.” pesannya dengan tulus.

Aiko mengangguk, jantungnya makin berdebar ketika Kakek Rojin mengetuk pintu peraduan pribadi sang Kaisar.

“Yang Mulia Kaisar, Semoga selalu diberi umur panjang.” gumamnya penuh hormat, “Hamba datang mengantarkan perisai anda.”

Detak jantung Aiko berpacu mendengar suara lembut tetapi penuh intimidasi dari dalam ruangan,

“Masuk.”

Kakek Rojin menepuk pundaknya pelan, “Ayo.” dorongnya sambil membuka sedikit pintu kamar pribadi sang Kaisar dan menyuruh Aiko masuk,

***

Kamar itu harum.

Itulah yang pertama terbersit di benak Aiko ketika dia berlutut dan bergerak maju ke arah Shen King yang duduk di balik meja rendah di bagian depan kamar peraduannya. Kamar ini dipenuhi aroma wangi yang menenangkan, seperti campuran dupa dipadu dengan bunga-bungaan dan rempah-rempah nan memanjakan indera penciuman.

Di setiap gerakannya Aiko menghembuskan napas pelan-pelan dari bibirnya, lalu menarik napas dalam-dalam dan dihembuskan lagi pelan-pelan. Cara itu cukup membantu meredakan rasa gugupnya meski tidak mampu menetralkan debar jantung yang seakan ingin meloncat dari rongga dadanya

Ketika sampai di samping meja rendah Kaisar di dekat nampan-nampan berisi poci-poci keramik dan cangkir-cangkir kecil nan indah, Aiko bersujud dalam dan bersuara dengan gemetar,

“Hormat untuk Kaisar, Hamba memohon izin untuk melakukan tugas hamba.”

Kali ini Aiko bertekad untuk lebih waspada. Ketika nanti Kaisar Shen membuka topengnya, dia harus benar-benar melihat apakah seluruh topengnya sudah dibuka atau hanya satu seperti tadi siang. Aiko tidak ingin peristiwa memalukan seperti tadi siang terulang kembali.

“Lakukan.” Suara Kaisar Shen terdengar datar. Aiko mencoba melirik dari sudut matanya, dan memastikan bahwa kali ini Kaisar Shen belum melepas topengnya. Dia mengangkat pandangannya dan menatap ke meja rendah di depannya, ke arah nampan berisi poci-poci dan gelas arak kecil keramik di depannya.

Tidak ada sendok untuk mencicip?

Keringat dingin langsung mengalir di pelipis Aiko. Bagaimana ini? Apakah bagian dapur lupa menaruh sendok untuknya? Kalau tidak ada sendok apa yang harus dia lakukan? Aiko berpikir dengan kalut. Bingung, panik, ketakutan dan dorongan untuk menangis campur aduk di benaknya.

Dan dia terkesiap kaget ketika tanpa disangka jemari Kaisar Shen bergerak lembut, mengambil satu cangkir arak yang tertelungkup dan membaliknya.

“Gunakan ini.” Perintahnya tajam.

Sejenak Aiko terpaku dengan bibir ternganga, lalu dia berdehem, berusaha menenangkan diri dan meraih cangkir arak itu. Matanya menatap ke arah nampan, lalu sekali lagi dia terpaku ketika menemukan ada empat poci arak di atas nampan dengan warna keramik corak bunga yang berbeda-beda, emas, merah, hijau dan biru.

“Ada empat macam arak yang ingin kuminum.” Sekali lagi Kaisar Shen bersuara dengan nada masih dengan nada tajam, “Kau harus mencicipinya satu-persatu.”

Aiko mengangguk, menunduk memberi hormat, “Ampun yang mulia, maafkan kekurang pengalaman hamba.” gumamnya dengan gestur meminta maaf, lalu jemari mungilnya bergerak meraih teko arak yang pertama, yang berwarna emas.

Tiba-tiba tangan Shen King mencengkeram pergelangan tangannya, membuat Aiko terpekik pelan, tanpa sadar dia mengangkat kepala dan langsung berhadapan dengan topeng emas bercorak tengkorak yang mengerikan itu. Seketika itu juga Aiko langsung menundukkan kepala. Jantungnya yang tadi sempat berhasil ditenteramkan, kembali menggeliat bangun, menggedor-gedor rongga dadanya sampai terasa sakit.

Jari-jari lentik sang Kaisar melepaskan cengkeramannya,tetapi belum melepaskan pegangannya. Kaisar memutar tangan Aiko sehingga telapak tangann Aiko tertengadah,

“Kau memar.” Kaisar Shen bergumam.

Aiko menunduk menatap pergelangan tangannya, melihat memar di sana yang berwarna orange kebiruan, memang terasa sedikit nyeri, tetapi sekarang rasa sakit itu terkalahkan oleh rasa malu karena sekarang tangan Kaisar Shen sedang menangkup pergelangan tangannya.

“Hanya memar kecil Yang Mulia, hamba sudah mengompresnya dengan ramuan.” Aiko menjawab terbata-bata.

Kenapa Kaisar Shen memperhatikan pergelangan tangannya? Apakah Yang Mulia merasa bersalah karena memar itu ditimbulkan oleh tamparan tangannya yang begitu keras tadi siang? Tetapi sesakit apapun tamparan itu, Aiko tetap harus tahu terimakasih, tamparan di tangannya itulah yang menyelamatkan nyawanya. “Hamba ucapkan terimakasih kepada Yang Mulia karena sampai sekarang hamba masih bisa hidup.” sambungnya kemudian, mengucapkan rasa terimakasih dengan tulus.

Shen King berdecak, seolah ucapan terimakasih Aiko tidak menyenangkan hatinya,

“Mulai mencicipi arak itu.” Perintahnya lagi dan melepaskan pergelangan tangan Aiko begitu saja.

Aiko menurut, melanjutkan apa yang sempat terputus tadi. Diangkatnya dengan hati-hati poci keramik yang cukup berat dengan corak bebungaan emas, dituangkannya isinya di cangkir kecil yang tadi dibalikkan oleh Kaisar Shen untuknya, cairan yang mengalir di sana berwarna putih bening dan beraroma keras, aroma alkohol yang tajam, membuat Aiko mengerutkan keningnya.

Jemari Aiko berhenti menuang ketika arak itu mencapai seperempat cangkir, tapi kemudian terdengar gumaman dari Kaisar Shen.

“Penuhi cangkir itu. Arak sangat kuat dan racun yang dimasukkan ke dalam arakpun adalah racun khusus yang juga kuat, racunnya tidak akan terdeteksi jika kau meminum kurang dari satu cangkir penuh.”

Jadi karena itulah tak ada sendok perak khusus untuk perisai Kaisar di ritual pencicipan arak ini, hal itu karena takaran pencicipan bukan menggunakan sendok, tetapi menggunakan cangkir. Aiko baru mengerti setelah mendengar penjelasan Kaisar Shen.

Tangan Aiko yang semula berhenti, bergerak kembali. Dia menurut, meskipun mulai merasa ketakutan, dituangkannya isi poci itu hingga cairan putih beraroma keras memenuhi cangkir. Sejenak Aiko merasa ragu, tetapi dia tahu Yang Mulia sedang menunggu.

Dia menguatkan tekad, kedua telapak tangannya menangkup cangkir mungil itu, mengangkatnya kemulutnya dan kemudian menumpahkannya ke dalam tenggorokan dalam sekali teguk. Efek yang dirasakannya kemudian membuat Aiko setengah membanting cangkir itu ke nampan, dia terbatuk-batuk, cairan itu terasa sangat panas, keras, dan membakar tenggorokannya. Rasa panasnya bahkan memenuhi hidung dan memancing air mata keluar dari sudut kelopaknya.

“Bodoh.” Kali ini Aiko Yakin mendengar nada geli di suara Kaisar Shen, “Pelan-pelan, dasar bodoh. Arak ini sangat kuat, kau harus menyesapnya pelan-pelan, menikmati nuansanya yang menghangatkan lidah dan rasa manis yang menyusul melapisi seluruh indera perasamu. Setelah itu baru kau biarkan cairan itu mengaliri tenggorokanmu.” Kaisar Shen menggerakkan jemarinya, menunjuk poci arak yang kedua, “Lanjutkan.”

Rasa panas yang membakar itu bahkan masih begitu menyiksa, membuat Aiko menyipitkan mata dan sedikit berkunang-kunang. Tetapi dia harus melaksanakan tugasnya, diraihnya teko yang kedua, dengan keramik corak bebungaan bernuansa merah, kali ini cairan yang mengalir putih keruh, hampir serupa susu, aromanya bahkan lebih keras lagi dari yang pertama.

Aiko mengerutkan keningnya. Kenapa kaum laki-laki terutama bangsawan sangat suka menikmati arak? Rasa minuman ini tidak enak, panas membakar, dan aromanya begitu tajam menyengat. Dan sekarang dia harus menahankan siksaan lagi karena harus meminum lagi cangkir penuh yang kedua.

Dihelanya napas panjang, sekali lagi kedua tangannya melakukan hal yang sama, menangkup cangkir itu dan mengangkatnya ke mulutnya.

Pelan-pelan… Itu nasehat Kaisar Shen Kepadanya tadi. Dengan meringis, Aiko menyesap minuman itu pelan-pelan, hanya untuk terpukul karena rasa getir yang menyelimuti lidahnya dan panas membakar yang menyusul kemudian.

Jemari Aiko gemetaran. Minuman ini sangat tidak enak, tetapi dia harus menghabiskannya. Dipaksakannya dirinya untuk menelan minuman itu seteguk demi seteguk sampai habis, sadar bahwa Kaisar Shen sedang mengamatinya,

Ketika cangkir keduanya kosong, Aiko merasakan selubung awan mulai menguasai dirinya, seolah-olah ada lapisan kabut tipis yang membungkus, membuat pendengarannya berkurang dan matanya sedikit buram. Ada rasa tidak enak menyeruak di sana, seolah-olah kesadarannya sedang dicabut paksa, pelan-pelan ditarik dari ujung kaki sampai ke ujung kepala.

Sedikit pikiran sadar Aiko tiba-tiba menyadari sesuatu, dia menatap panik ke arah Kaisar Shen, mencoba bersuara meski mulutnya terasa kaku,

“Yang Mulia…. Sepertinya arak ini diracuni….” Kebingungannya bertambah ketika melihat Kaisar Shen hanya bergeming, seolah mengamatinya, “Yang … Mu … lia ?” Suaranya melemah, rasa panas membakar di sekujur tubuh Aiko membuat kegelapan menyelimuti benaknya dan mencuri kesadaran Aiko, membawanya pergi melayang jauh.

***

Cangkir yang ada di genggaman Aiko terlepas seiring dengan jemarinya yang melemah, pecah berkeping-keping di lantai. Tubuh mungil Aiko rubuh, jatuh ke depan, dan Shen King menerimanya dalam pangkuannya.

Shen King mengangkat kembali tubuh Aiko dan menyandarkan kepala Aiko yang tergolek lemah di salah satu lengannya, posisinya seperti sedang menimang anak kecil. Jemarinya yang lain menyentuh dagu Aiko, dan mengangkatnya, seolah mencari sesuatu di wajahnya, dimiringkannya wajah Aiko ke kiri, diamati, lalu ke kanan dan diamati lagi.

Jari itu lalu bergerak lembut menelusuri permukaan wajah Aiko, garis rambutnya yang hitam pekat, dahinya, alis matanya, hidungnya, dan bibirnya, lalu berhenti di sana.

Tangan Shen King kemudian bergerak melepas topengnya, kedua-duanya sekaligus.

Sang Kaisar lalu menundukkan kepalanya yang tidak bertopeng, dan mendekatkan wajahnya ke wajah Aiko. Ditempelkannya dahinya ke dahi Aiko, dipejamkannya matanya rapat-rapat.

“Apa yang menahanmu begitu lama?” bisiknya pelan, seolah-olah menahan kesakitan yang amat sangat.

333 Komentar

  1. Amanda Natasya menulis:

    Aishh kaisarrr

  2. Ya ampun, ga bosen2nya aq baca cerita ini. Dari sekian banyak cerita, menurutku ini yg paling berkesan, pengen ngulang2 trs bacanya. Jadi ga sabar pengen tau kelanjutan ceritanya smp akhir. Bravo thor, km sukses buat aq termehek-mehek :lovely

  3. Baper gusti :lovely :lovely

  4. Makasih team PSA

  5. :kumenangismelepasmu buaperrr

  6. sorayablue menulis:

    :DUKDUKDUK :DUKDUKDUK

  7. dasar modus

  8. Diah Wardani menulis:

    :sebarcinta

    1. Baperr bangettt🤍🤍

  9. ClaireNAs07 menulis:

    Setelah sekian lamaa yaaa akhurnya ketemuuu :lovelove :lovelove

  10. Putri Ratnasari menulis:

    Kaisar kamu emang dari awal mau pdkt sam Aiko kan.. hmm

  11. Sri wahyuni menulis:

    Cinta sejati… rela nunggu smpi 6 th :lovelove :lovelove

  12. Mengeram , mendesis , mengancam tpi kok aku ngekek , jaman kerajaan protokolnya ketat ternyata . Hi Thor aku mampir lagi tapi aku mo sehari baca hiji bab tak , suwun Thor , khamsa Hamida

  13. Febrina Prabarani menulis:

    Modusnya gitu amat ya :wkwkwkwk aku kan ngakak

  14. Nisaul Badriyah menulis:

    akal akalan shen king aja pingin lebih dekat sama aiko….yakin dah

Tinggalkan Balasan