emperors-consort2
Emperors Consort

Emperor’s Consort Part 8 : Tanda Milik Kaisar

Bookmark

No account yet? Register

1.638 votes, average: 1,00 out of 1 (1.638 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

emperors-consort2

“Anda tidak mungkin melakukan itu, Yang Mulia.” Jenderal Youshou langsung berseru, berusaha menyadarkan Shen King dari rencananya yang dibuat berdasarkan emosi, “Bukankah anda sudah membuat rencana untuk Aiko? rencana yang sekarang sedang dijalankan hati-hati oleh tabib Zhou?”

Shen King tercenung, tiba-tiba emosinya surut ketika mendengar nasehat Jenderal Youshou itu. Apa yang dikatakan Jenderalnya benar. Aiko masuk ke dalam istana hanya dengan level gadis persembahan yang diperuntukkan sebagai dayang atau selir istana jika beruntung. Jalan Aiko untuk menjadi permaisuri bisa dibilang akan sangat terjal dan berliku

Selama beratus-ratus tahun, permaisuri selalu dipilih dari keluarga bangsawan yang berpengaruh. Istana ini tidak hanya berisi Kaisar saja, di dalam pemerintahannya terdapat banyak sekali keluarga bangsawan berpengaruh yang menyatakan kesetiaannya kepada Kaisar.

Para keluarga bangsawan ini telah berjasa mendukung Kaisar dalam pemerintahannya sejak ratusan tahun yang lalu. Setiap keluarga bangsawan memiliki pasukan pribadi yang setia dalam jumlah tak kalah banyaknya. Mereka selalu siap sedia mengirimkan pasukannya sebagai tambahan amunisi bagi pasukan Kaisar jika kerajaan Shasou hendak berperang melawan musuh-musuhnya.

Sebagai balas budi kepada keluarga bangsawan yang mendukungnya, seorang Kaisar akan mengambil isteri dari salah satu kaum bangsawan yang paling berpengaruh pada masa itu. Pernikahan Kaisar dengan permaisurinya diibaratkan semacam pernikahan politik yang dilakukan demi mendukung  tampuk kekuasaan.

Sepanjang sejarah kerajaan Shasou, belum pernah sekalipun ada Kaisar yang mengambil permaisuri dari rakyat jelata. Kemungkinan seorang selir untuk menjadi permaisuri pun sebenarnya tidak ditutup. Tetapi sepanjang sejarah, selir-selir yang diangkat menjadi permaisuri hanyalah selir yang berasal dari keluarga bangsawan, bukan selir yang berasal dari gadis persembahan.

Bagaimana jika Kaisar bertindak gegabah dan tiba-tiba mengambil permaisuri dari kalangan biasa? Kekacauan pasti akan terjadi, Kaisar akan dianggap menghina keluarga bangsawan. Mereka bisa saja langsung menghapus dukungan atau mungkin menggalang kekuatan untuk melakukan kudeta terhadap Kaisar. Jika nanti Kaisar sibuk melawan bangsawan di kerajaannya sendiri, kesempatan itu akan dipakai oleh kerajaan-kerajaan musuh untuk menyerang Kaisar yang dianggap berada dalam posisi lemah. Dinasti Laiken King bisa runtuh, bahkan kerajaan Shasou bisa hancur berkeping-keping

Rencana Kaisar untuk memuluskan Aiko sebagai permaisuri memang telah dilakukan dengan hati-hati sejak enam tahun lalu, dengan bantuan tabib Zhou. Tabib Zhou, meskipun menyandang julukan tabib kerajaan, sebenarnya adalah penerus dari keluarga bangsawan yang cukup berpengaruh di kerajaan Shasou, dia juga punya kemampuan melobi  yang baik.  Dan hampir semua keluarga bangsawan memiliki hutang budi dan hutang nyawa kepadanya karena dia selalu berhasil menyembuhkan atau menyelamatkan setidaknya satu anggota keluarga mereka.

Ada empat puluh empat keluarga bangsawan yang mendukung Kaisar, dan sepuluh di antaranya adalah keluarga bangsawan terkuat dimana anak perempuan keluarga mereka  secara bergiliran akan diangkat menjadi permaisuri setiap pergantian kaisar. Keluarga Jenderal Youshou dan Tabib Zhou juga termasuk di dalam sepuluh keluarga terkuat itu.

Yang dilakukan oleh Tabib Zhou sekarang adalah melakukan lobi-lobi politik dan meminta pernyataan dukungan dari keluarga-keluarga bangsawan tersebut supaya mereka tetap setia jika nanti Kaisar mengambil permaisuri dari rakyat jelata.

Sejauh ini Tabib Zhou bahkan belum berhasil mendapatkan separuh dukungan. Keluarga bangsawan itu kebanyakan masih mendukung pola aturan lama dan takut pada perubahan, sebagian lagi terlalu sombong untuk menerima seorang rakyat jelata sebagai permaisuri mereka.

Shen King mnenarik napas panjang, menyadari bahwa emosi yang memenuhi benaknya membuat dirinya hendak mengambil keputusan gegabah, dia lalu menganggukkan kepalanya kepada Jenderal Youshou,

“Terimakasih Youshou telah mengingatkanku.”

Matanya menatap keluar, berusaha menghempaskan rasa frustrasi yang menyesaki dadanya.

Aiko

Dia harus melihat perempuan itu. Segera. Kalau tidak dia bisa gila.

***

Aiko duduk di halaman belakang kompleks mansion pelayan di area dalam istana merah, di depannya terbuka dua buah buku tentang obat-obatan dan racun yang diberikan oleh Tabib Zhou kepadanya. Sang tabib sendiri sekarang sedang duduk di depannya, bersenandung santai sambil sibuk menulisi buku yang tak kalah tebal.

Halaman belakang mansion pelayan merupakan areal luas dengan hamparan rumput hijau yang lembut. Biasanya areal ini digunakan pelayan untuk menjemur penutup tempat tidur, kelambu dan kain-kain berukuran besar lainnya. Di bagian samping ada meja kayu dengan dua buah bangku panjang berhadapan yang sekarang dipakai duduk oleh Aiko dan Tabib Zhou. Cuaca pagi begitu cerah, menyisakan kesejukan embun dini hari yang masih membasahi rerumputan.

Sejak kasim Rojin memutuskan Aiko untuk beristirahat sampai pulih akibat kehujanan semalaman di insiden pemenggalan Selir Xia, Tabib Zhou selalu datang ke area mansion pelayan untuk memberikan pelajaran rutin kepada Aiko tentang racun.

Biasanya beliau datang di pagi hari, membawakan beberapa literatur dan setelah Aiko selesai membaca, mereka akan berdiskusi, tabib Zou akan menjawab semua pertanyaan Aiko dengan sabar, kadang kala beliau juga membawa contoh racun dan penawarnya, meminta Aiko sekedar mengenali warnanya, tekstur atau mencium aromanya.

Aiko yang telah menyelesaikan bacaan buku pertamanya mengangkat kepala dan menatap Tabib Zhou dengan penuh rasa ingin tahu. Lelaki itu selalu menghabiskan waktu menunggui Aiko membaca dengan menulis buku yang cukup tebal, beliau tampak serius dengan kening berkerut ketika menulis goresan demi goresan tinta di atas lembaran kertas.

Tabib Zhou mengangkat kepalanya, seolah sadar bahwa Aiko sedang mengamatinya,

“Kenapa?” dia terkekeh, “Kau bingung aku sedang menulis apa ya?” Lelaki itu dengan ramah memutar bukunya dan mengizinkan Aiko membaca apa yang ditulisnya.

Aiko membaca tulisan itu dan membelalakkan matanya senang,

“Wah…. anda hebat, ini klasifikasi tanaman-tanaman obat?” Aiko memandang tulisan itu dengan kagum, dia membolak-balik halaman demi halaman, menemukan tulisan yang begitu rapi berisi nama tanaman, deskripsi, kegunaan, ciri-ciri dan bahkan dilengkapi dengan gambar lukisan tangan yang lumayan bagus, “Anda menyempatkan diri untuk memberikan ciri-ciri dan bahkan menggambar setiap jenisnya.”

Tabib Zhou tersenyum lembut, “Selain mengobati orang-orang, hanya ini satu-satunya jalan aku bisa merasa sedikit berguna, setidaknya kalau aku mati nanti ada ilmu yang bisa kubagikan.”

Aiko menatap tabib Zhou kagum, “Untuk orang semuda anda, anda sangat bijaksana.”

“Memangnya kau pikir berapa umurku?” tabib Zhou terkekeh, “Wajah ini memang menipu, tapi aku usiaku jauh di atas kalian.” tiba-tiba tabib Zhou seperti mengingat sesuatu, ditutupnya buku yang ditulisnya dan ditatapnya Aiko dengan serius,

“Membicarakan usia aku jadi teringat sesuatu. Usiamu. Kau genap berusia enam belas tahun bukan?”

Aiko menganggukkan kepalanya pelan, sikap Tabib Zhou yang tiba-tiba serius membuat Aiko merasa seperti anak kecil di hadapan ayahnya. Bukannya Aiko tahu bagaimana rasanya memiliki seorang ayah, ketika dia lahir, dia sudah tidak punya ayah. Ibundanya mengatakan bahwa ayahnya meninggal di medan perang ketika ibundanya sedang mengandung. Jadi Aiko sebenarnya sama sekali tidak mengetahui bagaimana rasanya memiliki seorang ayah.

“Kalau begitu, ketika kau dikirim kemari untuk menjadi dayang yang kemungkinan besar bisa menjadi seorang selir, apakah ibundamu pernah mengajarimu apa yang dilakukan seorang selir untuk melayani Kaisar?” Tabib Zhou bertanya hati-hati.

Aiko mengangguk, “Ibunda saya mengajarkan bahwa seorang selir harus siap sedia ketika Yang Mulia mengunjunginya dan siap untuk mengandung anak Yang Mulia.”

Mata Tabib Zhou tampak penuh dengan keingintahuan, “Apakah beliau menjelaskan secara rinci bagaimana proses melayani Kaisar dan proses membuat anak?”

Aiko mengerutkan keningnya, Kenapa Tabib Zhou bertanya seperti itu?

“Beliau bilang… prosesnya dengan tidur bersama.” jawabnya

Tabib Zhou tampak menahan senyum, “Hanya tidur bersama?”

Aiko menganggukkan kepalanya ragu. Sebenarnya ibunya mengatakan hal-hal lain, seperti jika ternyata Aiko terpilih menjadi selir dan Kaisar mengunjunginya, maka Aiko harus menurut apapun yang diperintahkan oleh Kaisar dan percaya bahwa Kaisar tidak akan menyakitinya. Aiko tidak mengerti apa maksudnya, tetapi dia menyimpulkan bahwa maksud ibundanya mungkin jika Aiko menjadi selir, maka dia harus mengabdi sepenuh hati dan tidak membantah apapun kata-kata Kaisar.

Tabib Zhou tampak tercenung, lalu menghela napas, lalu tercenung, lalu menghela napas lagi. Entah kenapa beliau tampak bingung, sementara Aiko hanya mengamati tingkah tabib Zhou yang aneh dengan penuh rasa ingin tahu.

Tiba-tiba Tabib Zhou seolah mendapat pencerahan, wajahnya jadi ceria dan dia menatap Aiko dengan senang,

“Aku susah menjelaskan dengan kata-kata kepadamu, tetapi sepertinya aku memiliki sebuah buku di antara koleksiku.” Lelaki itu beranjak dari duduknya, “Aku akan mengambilnya. Kau tunggu di sini.”

Dan kemudian, tanpa menghiraukan Aiko yang kebingungan, Tabib Zhou setengah meloncat ke rerumputan dan berjalan terburu-buru meninggalkan Aiko yang masih menatapnya bingung.

***

“Mereka memberangkatkan pasukan?” Shen King mengetuk-ngetuk topeng emas di wajahnya dengan ujung jari.

Hiro membungkuk hormat, “Dari pengamatan saya, raja kerajaan XingJia sampai sekarang telah memberangkatkan hampir dua ribu pasukan untuk menyerang perbatasan Shashou. Mereka memberangkatkan secara bertahap, setiap hari hanya seratus orang lebih dengan penampilan tidak mencolok. Hamba sudah mengamati selama dua minggu ini, mereka saling susul menyusul dan sepertinya berencana untuk berkumpul di bukit utara yang penuh dengan hutan lebat sebelum mengkoordinasikan penyerangan lebih lanjut.”

Shen King memiringkan kepala sedikit, tampak berpikir,

“Karena kerajaan XingJia berada di sisi utara, bisa ditebak mereka akan menyerang di area utara, sebab jika mereka memutar ke sisi lain, mereka akan membuang banyak waktu, banyak perbekalan dan banyak tenaga.” Ada senyum di suara Shen King ketika berkata, “Tapi mereka bodoh, perbatasan Shasou di bagian utara adalah area yang paling sulit ditembus, untuk menyerang mereka harus menaiki bukit karena posisi perbatasan yang lebih tinggi, sementara pasukan Shasou mengamati di benteng yang berada di atas mereka. Dengan posisi mereka di bawah, pasukanku bisa melihat pergerakan mereka dengan jelas, hal itu sama saja menyerahkan nyawa sendiri ke area pembantaian.”

Hiro membungkuk lagi, menyatakan persetujuannya, “Hamba juga berpikiran  begitu, Yang Mulia.”

Shen King tersenyum di balik topengnya, senyum yang tidak bisa dilihat oleh siapapun.

Akhirnya.

Akhirnya dia menemukan pelampiasan rasa frustrasinya.

Sedikit menghibur diri dengan mengayunkan pedang atau menembakkan anak panah kepada pasukan bodoh yang berniat menyerang kerajaannya, rasanya akan menyenangkan.

“Panggil Jenderal Youshou kemari, aku akan mendiskusikan strategi perang sebelum berangkat menyambut kunjungan pasukan Kerajaan XingJia.”

***

Jenderal Youshou yang memenuhi panggilan untuk menemui Kaisar di ruang singgasana istana emas mengerutkan kening ketika melihat Tabib Zhou berjalan tergesa-gesa ke arah mansionnya. Dia menyapa untuk menghentikan langkah Tabib Zhou,

“Mau kemana? Kenapa terburu-buru?” sapanya, menghalangi langkah Tabib Zhou dengan tubuhnya.

Tabib Zhou menghentikan langkah, menatap Jenderal Youshou dengan senyum jail di bibirnya,

“Aku hendak mengambilkan Aiko sebuah buku.”

Jenderal Youshou menatap Tabib Zhou dengan penuh penilaian. Jika ini hanya buku biasa, Tabib konyol di depanya ini pasti tidak akan tersenyum-senyum seperti orang bodoh begini. Tabib Zhou pasti sedang merencanakan sesuatu, sesuatu yang jail.

“Buku apa?” Jenderal Youshou menyipitkan matanya menatap curiga dan penuh intimidasi, tatapan yang biasa dilemparkannya jika dia menginterograsi seseorang.

Tabib Zhou melirik ke kanan dan kiri seolah menghindari penguping, lalu dia berbisik pelan,

“Buku tentang pendidikan seks, kau tahu buku yang isinya tentang rincian apa yang dilakukan lelaki dan perempuan di atas ranjang, beserta gambar-gambarnya.”

Jenderal Youshou sampai mundur satu langkah karena terkejut, ada rona merah di pipinya seakan malu,

“Kau hendak memberikan buku semacam itu pada Aiko yang masih sangat polos?? Apakah kau ingin merusak kepolosannya?” tuduhnya dengan ekspresi ngeri.

Tabib Zhou menggelengkan kepala, “Tidak, aku bahkan ingin membuat Aiko bisa melindungi dirinya sendiri. Kepolosannya sudah keterlaluan untuk anak seumur itu. Yah dia memang pernah bercerita bahwa dirinya tidak punya teman sebaya dan hari-harinya selalu dihabiskan untuk membantu ibunya serta merawat ibunya yang jatuh sakit. Tetapi tetap saja pengetahuannya tentang seks nol besar.” Tabib Zhou melemparkan tatapan menuduh kepada Jenderal Youshou, “Dan Kaisar telah memanfaatkan kepolosan Aiko untuk memuaskan nafsunya.”

“Kaisar… apa?” Wajah Jenderal Youshou memucat.

Tabib Zhou memasang wajah prihatin, “Kau tahu tidak, Aiko dengan polosnya bercerita padaku bahwa Kaisar mencium bibirnya dan mengatakan kepada Aiko bahwa hal itu semacam ritual penghormatan kepada Kaisar…. Ritual berciuman adalah ritual bersalaman dengan bibir. Kau bisa bayangkan itu?”

Mulut Jenderal Youshou ternganga, dia lalu mengusap wajahnya dengan tangan seakan tak percaya,

“Kaisar melakukan itu?” Jenderal Youshou dibesarkan di dalam keluarga Long yang memiliki kehandalan di bidang militer, kesehariannya penuh dengan pendidikan militer sehingga dia sendiri tidak mempunyai pengalaman banyak dengan perempuan, meskipun begitu pendidikan militer yang keras telah mengajarkannya untuk selalu memegang integritas.

Dan membayangkan Kaisar memanfaatkan kepolosan Aiko untuk melampiaskan nafsunya telah menodai integritas Kaisar di matanya. Ini tidak bisa dibiarkan, setidaknya Aiko harus diajari untuk menjaga dirinya sendiri, bukan hanya terhadap Kaisar tetapi juga terhadap laki-laki lainnya. Kecantikan seperti itu yang diimbangi dengan kepolosan, merupakan mangsa empuk bagi laki-laki.

Tabib Zhou memasang ekspresi serius, “Jadi kau pasti akan setuju kepadaku bukan kalau aku memberikan buku itu untuk Aiko? Setidaknya dengan pengetahuan Aiko yang bertambah dia bisa menjaga dirinya mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan Kaisar terhadapnya.”

Jenderal Youshou menganggukkan kepalanya dengan sungguh-sungguh, “Kau harus memberikan buku itu untuk Aiko dan meminta dia mempelajarinya.”

Tabib Zhou menelengkan pelan, dan perhatiannya teralih kepada Jenderal Youshou,  “Kau sendiri kenapa kau begitu terburu-buru?”

“Kaisar memanggilku.” Jawabnya cepat, “Ada serangan dari kerajaan XiJiang dan beliau meminta berdiskusi mengenai strategi perang, sepertinya beliau akan berangkat untuk berperang dalam beberapa hari.” Jenderal Youshou tampak berpikir, “Kau tahu kupikir berangkat berperang akan cukup bagus untuk Kaisar, beliau butuh pelampiasan rasa fustrasi. Apa kau tidak tahu suasana mengerikan yang beberapa hari ini menghantui istana emas? Semua orang ketakutan.” Ditudingnya Tabib Zhou dengan pandangan penuh tuduhan, “Dan ini semua karena kau dan Kasim Rojin menyembunyikan Aiko serta melarang Kaisar untuk menemuinya.”

Tabib Zhou terkekeh, “Bukan aku yang memiliki rencana. Kasim Rojin mengatakan bahwa Aiko masih memendam rasa takut dan kecewa kepada Kaisar gara-gara peristiwa pemenggalan selir Xia. Dia masih tidak siap untuk bertemu Kaisar. Kami hanya membantu Aiko.”

“Tapi menjauhkan Aiko darinya membuat Yang Mulia frustrasi. Beliau bahkan sempat memutuskan untuk mengangkat Aiko sebagai selirnya, membuyarkan semua rencana yang telah disusun jauh-jauh sebelumnya.”

“Dasar Kaisar.” Tabib Zhou terbahak, “Kerajaan Shasou akan mengalami gempa besar kalau Kaisar tiba-tiba mengangkat selir di luar upacara bulan merah dan tidak membunuhnya.” Ditatapnya Jenderal Youshou dengan geli, “Tapi kuduga kau berhasil meredam emosi Kaisar?”

Jenderal Youshou mendengus, “Tentu saja.” Dia lalu melangkah melewati Tabib Zhou, “Mudah-mudahan Aiko tidak terlalu terkejut dengan buku itu.” gumamnya sambil berlalu ke arah yang berlawanan.

Tabib Zhou hanya mengangkat bahu dan melangkah kembali menuju mansionnya, sampai kemudian Jenderal Youshou tiba-tiba memanggilnya kembali.

“Zhou?” panggilnya setelah mereka agak berjauhan, membuat Tabib Zhou menghentikan langkah dan membalikkan badannya kembali ke arah Jenderal Youshou yang ternyata juga berbalik ke arahnya.

“Ya?” jawabnya, bingung kenapa Jenderal Youshou memanggilnya lagi.

“Buku itu…. eh.” Jenderal Youshou mengusap rambutnya dengan canggung, ekspresinya malu, “Kalau Aiko… sudah…sudah selesai membacanya, bolehkah aku meminjamnya?”

Tabib Zhou menyeringai lebar, tidak peduli akan wajah Jenderal Youshou yang merah padam karena malu,

“Tentu saja boleh kawan.Kau bisa meminjamnya semaumu.” Serunya menahan tawa.

***

Aiko menatap buku di depannya, buku tebal dengan sampul cokelat dari bahan kulit. Tidak ada goresan pena apapun di depan sampul buku itu, seakan-akan isinya memang sesuatu yang misterius.

Dia mengalihkan tatapannya kembali dari buku itu ke wajah Tabib Zhou yang berdiri di depannya. Tadi ketika Tabib Zhou kembali, Aiko memang masih duduk dengan patuh menanti di kursi yang sama di bagian belakang mansion pelayan.

Tanpa mengatakan apapun, Tabib Zhou hanya meletakkan buku itu di depannya, lalu terdiam seolah bingung hendak mengolah kata-kata.

“Saya harus membaca buku ini? Apakah ini buku tentang racun…..” Jemari Aiko bergerak hendak membuka buku itu.

“Jangan!” Tabib Zhou berseru mencegah, membuat tangan Aiko terhenti di udara.

Tabib Zhou langsung berdehem salah tingkah, “Jangan baca buku itu di sini, kau harus membacanya di dalam kamarmu nanti malam dan tidak boleh di depan umum.”

Aiko meletakkan jemarinya di permukaan sampul buku itu setengah bingung,

“Kalau begitu isinya tentang ramuan rahasia?” tanyanya polos, membuat Tabib Zhou menggaruk rambutnya dengan bingung,

“Ya… semacam itulah, mengenai sesuatu yang rahasia, tapi bukan ramuan.” Jelas Tabib Zhou terbata, membuat Aiko makin penasaran.

Ketika Aiko hendak membuka mulut menjawab, tiba-tiba pintu belakang mansion pelayan yang terbuat dari dua kayu besar semacam gerbang, terbuka. Kasim Rojin keluar dari sana, ekspresinya tampak khawatir.

“Ada apa Kasim Rojin?” Tabib Zhou langsung melihat ada yang tidak beres, sementara Aiko hanya memperhatikan keduanya dengan bingung

“Yang Mulia hendak berangkat berperang. Sekarang beliau memanggilmu untuk menghadap.” Kasim Rojin melemparkan pandangan kasihan kepada Aiko, “Aku khawatir karena sepertinya Yang Mulia Kaisar Shen berniat untuk membawamu ke medan perang sebagai perisainya, Aiko.”

***

Kasim Rojin tidak mengantar Aiko ke ruang jamuan Yang Mulia Kaisar, melainkan ke ruang peraduan pribadinya.

Aiko menoleh ke arah Kasim Rojin dengan bingung, “Apakah Yang Mulia hendak bersantap di ruang peraduan?” tanyanya.

Kasim Rojin menggelengkan kepalanya, “Yang Mulia tidak sedang ingin bersantap, beliau hanya menitahkan untuk memanggilmu.”

“Oh.” Aiko bergumam pelan, lalu menundukkan kepalanya dan berusaha menarik napas dalam dengan diam untuk menenangkan diri.

Sebenarnya Aiko hanya berpura-pura bersikap tenang, di dalam jiwanya bergolak berbagai perasaan yang campur aduk dan menimbulkan sesak di dada. Dia masih merasa marah kepada Yang Mulia atas kekejamannya dan sikap tidak berbelas kasihan kepada selir Xia.

Tetapi dibalik itu, perasaan sebagai rakyat biasa di benaknya juga mengatakan bahwa dirinya tidak seharusnya mempertanyakan kebijaksanaan Kaisar.

Bahkan seharusnya Kaisarlah yang marah kepadanya, karena dirinya yang rakyat biasa ini berani-beraninya mencoba membuat Yang Mulia Kaisar merubah keputusannya.

Aiko takut, ngeri, sedih, dan benci. Semua perasaan ini mendorongnya untuk membalikkan badan dan berlari sekencang-kencangnya, sejauh mungkin dari Kaisar Shen.

Tetapi kali ini dia tidak bisa menghindar, Kaisar memanggilnya, dan titah Kaisar adalah hukum, apalagi bagi rakyat jelata sepertinya.

Kasim Rojin mengetuk pintu itu pelan, bergumam penuh hormat.

“Yang Mulia Kaisar, Hamba datang sesuai titah untuk mengantarkan perisai anda.”

Lama kemudian, terdengar jawaban dari Kaisar supaya Aiko memasuki ruangan.

Kasim Rojin membuka pintu untuk Aiko, lalu berbisik pelan.

“Hati-hati.” bisiknya cemas. Kaisar telah menahan rasa frustrasinya gara-gara Aiko, beliau bahkan bersikap seperti binatang buas yang haus darah beberapa hari terakhir ini.  Dan sekarang, sumber frustrasinya dihantarkan ke hadapannya langsung, Kasim Rojin takut membayangkan apa yang akan dilakukan Kaisar kalau-kalau beliau tidak bisa menahan diri.

Aiko menganggukkan kepalanya, ada ketakutan di matanya dan jemarinya sedikit gemetar, membuat Kasim Rojin makin kasihan kepadanya.

Tubuh mungil itu lalu melangkah memasuki ruang dalam peraduan Kaisar, dan pintu ruangan itu tertutup rapat.

Kasim Rojin hanya berdiri di sana, merasa ragu sekaligus cemas. Sebagai Kasim dia memang tidak pernah menikah dan tidak bisa memiliki keturunan. Tetapi sekarang ini, rasanya seperti menghantarkan anak perempuannya ke ladang pembantaian.

***

Aiko bersujud, merendahkan kepalanya dalam hormat, tidak berani melihat wajah Sang Kaisar. Kaisar Shen telah melepas topeng emasnya bahkan sebelum Aiko masuk ke ruangan, mengingat dua topeng emasnya diletakkan bersebelahan di atas meja rendah di dekat karpet tempat mereka berdua sekarang duduk berhadapan.

“Angkat kepalamu, aku sedang ingin bercakap-cakap denganmu.” titah Sang Kaisar dengan suara dingin.

Aiko mengangkat kepalanya takut-takut, dan terkesiap ketika melihat apa yang sedang dilakukan oleh Kaisar Shen. Yang Mulia Kaisar sedang membersihkan pedangnya dengan kain putih. Pedang itu besar, berkilauan dan nampak sangat tajam, ketajamannya itu membuat Sang Kaisar memegang pedang tersebut dengan hati-hati, gagang pedang itu panjang, terlihat berat, dihiasi oleh batu Safir biru berikut hiasan emas yang rumit.

Jantung Aiko langsung berdebar kencang dan wajahnya pucat pasi.

Kaisar Shen membersihkan pedang di depannya…. apakah… apakah setelah ini Kaisar akan memenggal kepalanya?

Shen King sendiri melirik ke arah AIko dan tampak geli melihat ekspresi ketakutan di sana. Geli sekaligus sedih. Kenapa Aiko begitu takut dan selalu berprasangka buruk kepadanya?

“Tenang.” Shen King berucap tanpa nada, “Aku hanya sedang mempersiapkan senjataku untuk kubawa ke medan perang.” Diletakkannya pedang itu di meja, bersebelahan dengan busur emas dengan hiasan batu safir yang sama dan anak panah yang diletakkan dalam satu wadah.

Pedang kerajaan dengan hiasan Safir biru adalah salah satu dari pedang terbaiknya. Dibuat khusus untuk dirinya dengan menyesuaikan genggaman dan postur tubuhnya. Pedang ini telah menelan banyak korban dan basah kuyup oleh darah musuh-musuhnya. Pedang ini pulalah yang selalu dibawanya ketika berangkat ke medan perang.

“Kau pasti tahu bahwa aku akan berangkat berperang dalam beberapa hari.” Shen King bertanya, menatap Aiko dengan pandangan tajam yang dalam, menelusuri tubuh Aiko dengan matanya dan memuaskan kerinduannya setelah sekian lama tidak melihat sosok perempuan yang dicintainya itu.

Aiko membungkuk memberikan persetujuan, “Ampun Yang Mulia, hamba mendengar dari Kasim Rojin tadi.” jawabnya jujur memberitahu.

Kaisar Shen menganggukkan kepalanya, “Dan kau pasti juga tahu bahwa aku berencana membawamu sebagai perisaiku?”

Aiko membungkukkan badannya lagi, “Ampun Yang Mulia, hamba tahu.”

Kaisar Shen  menganggukkan kepalanya memberitahu dengan tenang, “Seorang perempuan tidak pernah dibawa ke medan perang sebelumnya. Di sana bisa sangat berat dan membuat frustrasi bahkan bagi laki-laki sekalipun.”
Tatapan Kaisar Shen melembut, “Seharusnya aku mempertimbangkan kembali keputusanku untuk membawamu ke medan perang. Tetapi egoku mengalahkan pikiran sehatku…” Suara Kaisar Shen seakan tertelan di tenggorokannya, membuat Aiko mengangkat kepalanya bingung lalu menemukan Kaisar yang menunduk menatapnya dalam senyum yang getir.

“Perang bisa berlangsung hanya beberapa minggu, beberapa bulan atau bahkan bertahun-tahun. Dan aku tidak bisa membayangkan berjauhan denganmu begitu lama.” Jemari Kaisar Shen yang kuat menangkup sebelah pipi Aiko, menelusuri kelembutannya.

“Aku tidak akan tahan kalau berjauhan denganmu.” Kaisar menundukan kepalanya dan memberikan kecupan lembut di bibir Aiko.

Tetapi kecupan lembut itu seperti menyulut api, membuat kerinduan Shen King yang bergolak seakan menggelegak tanpa bisa ditahan. Shen King mengerang, lalu mulai melumat bibir Aiko dengan penuh nafsu, menelusuri setiap rasanya dalam kerinduan yang teramat sangat.

Kedua lengannya berpindah ke belakang, mendekap punggung Aiko dan mendekatkan ke dirinya. Ciuman itu berlangsung sangat lama, seolah Shen King berusaha melampiaskan rasa frustrasi yang menderanya ke dalam pertautan bibir mereka.

Aiko sendiri hanya memejamkan mata, pasrah, merasakan gelenyar yang  menjalari punggungnya, menciptakan perasaan aneh yang sedikit menelan dirinya, membuatnya tanpa sadar memejamkan mata.

Kaisar lalu melepaskan pertautan bibir mereka, dan menunduk dekat, menanti ketika mata Aiko yang terpejam membuka.  Mata indah nan lebar itu pun kemudian membuka, menyiratkan kebingungan pekat  yang tiba-tiba menohok rasa bersalah di benak Shen King.

“Ah…. aku membuatmu kebingungan.” bisiknya serak. “Gadis sepolos dirimu…. maafkan aku, Aiko.” Telapak tangan Kaisar mendorong Aiko supaya menempel ke dadanya, Aiko terdiam tidak berani bergerak sementara debar jantung Kaisar Shen terdengar jelas menguar dari dadanya yang bidang.

Tiba-tiba sebelah tangannya diangkat, dan sesuatu dipasangkan ke pergelangan tangannya.

Aiko menolehkan kepala ke arah tangannya, dan terkesiap melihat apa yang dipasangkan oleh Kaisar Shen di sana,

Sebuah gelang yang terbuat dari untaian batu safir berwarna biru tua nan indah, terdiri dari bebatuan safir biru bulat yang dihubungkan dengan rantai emas berkilauan. Gelang itu terasa begitu berat, dan batu-batuan yang  menghiasinya nampak begitu murni. Bahkan Aiko yang melihat dari kejauhan dengan matanya yang tidak berpengalaman pun menyadari bahwa kilau bening dan tajam dari batu-batu di gelang itu merupakan kilau terbaik yang hanya bisa di dapatkan dari perhiasan-perhiasan milik kerajaan.

Aiko mengerutkan keningnya dengan bingung, dia mendongakkan kepalanya, berusaha bertanya,

“Yang Mulia…..”

“Diam,” Kaisar Shen menghentikan apapun yang ingin di katakan oleh Aiko. Jemarinya meraih tangan Aiko, lalu menekuk lengan Aiko lembut hingga pergelangan tangan Aiko ada di dekat mata sang Kaisar.

“Ini adalah gelang milik ibuku, hadiah dari Ayahandaku ketika beliau melahirkanku, satu-satunya anak lelaki dalam keluarga kerajaan.” Kaisar Shen mengecup pergelangan tangan Aiko lembut, di bagian pangkal nadi di atas gelang itu, mengirimkan gelenyar panas yang mengaliri pembuluh darah Aiko menuju ke jantungnya yang tiba-tiba meronta dan memukul-mukul rongga dadanya.

“Arti dari gelang ini sangat jelas. Gelang ini menandai milik Kaisar.” Kaisar Shen tiba-tiba menundukkan kepalanya dan menatap Aiko tajam, “Siapapun yang memakai gelang ini, adalah milik Kaisar yang paling berharga, tidak boleh ada yang menyentuh, atau hukuman mati akan menanti.”

Kalimat itu diucapkan dengan tatapan mata yang tajam, penuh bernada ancaman, membuat Aiko merasa ngeri.

***

Malam telah larut dan Aiko yang telah mengganti pakaian dayangnya duduk merenung di tepi ranjang, dia kebingungan.

Tangannya terangkat dan mendekatkan gelang itu ke indra pengelihatannya. Mengamati indahnya gelang itu dan kemudian merasa ragu.

Kenapa Yang Mulia Kaisar Shen memberikan gelang ini kepadanya?

Gelang ini adalah perhiasan yang sangat berharga. Milik ibunda yang Mulia Kaisar. Bahkan tadi Yang Mulia Kaisar mengatakan bahwa gelang ini menandai milik Kaisar yang paling berharga.

Dirinya? Milik Kaisar yang paling berharga? Apa maksudnya?

Aiko menghela napas panjang, berusaha menyingkirkan kebingungan yang meliputi dirinya. Pandangannya tiba-tiba menemukan buku bersampul kulit cokelat tua yang ditaruh begitu saja di atas meja di dalam kamarnya. Tadi dia begitu terburu-buru berganti pakaian dayang untuk memenuhi panggilan Kaisar sehingga buku yang dipinjamkan oleh tabib Zhou terlupakan olehnya.

Diraihnya buku itu, lalu menghela napas kembali.

Mungkin dengan membaca bisa mengalihkan perhatiannya dari rasa bingung yang menyelimuti hatinya.

Aiko membaringkan dirinya di atas ranjang, lalu mencari posisi nyaman untuk kepalanya, lalu dibukanya buku itu.

Alisnya langsung berkerut.

Halaman pertama saja sudah membuatnya mengernyit dalam. Dengan penasaran dibaliknya halaman demi halaman buku itu dan dibacanya dengan cepat tetapi teliti.

Dia baru menyelesaikan sekitar lima belas halaman ketika jantungnya berdebar kencang dan napasnya tersengal. Ditutupnya buku itu dan dipejamkannya mata dengan pipi merah padam.

Ingatannya melayang pada apa yang Kaisar Shen lakukan padanya di masa lampau.

Ya ampun…….. Aiko menjerit dalam hati.

Dia malu sekali.

Aiko meringis, merasa ingin menangis.

217 Komentar

  1. oviana safitri menulis:

    tabib zhou saranghae :menor gemes deh sama grup cogan2 ini :wkwkwkwk

  2. Amanda Natasya menulis:

    OMG

  3. Untung msh ada yg perduli akan kepolosan aiko,,,ok tabib ma jendral keknya masih waras,,tp tetep aja ,,mereka semua mencemari kepolosan otak aiko😕😕
    Ya ampun kasian banget sih sang kaisar yg frustasi sangat menghadapi kepolosan kaisar..hohoho

  4. ClaireNAs07 menulis:

    Dia sadar akhirnyaa :luculuculucuih :luculuculucuih

  5. Diah Wardani menulis:

    :luculuculucuih

  6. Mamita Fatih menulis:

    :sebarcinta

  7. Putri Ratnasari menulis:

    Aikooooo :kumenangismelepasmu

  8. suka banget kalau tabib zhou sama jendral youzhou bertemu. pasti ada aja yang lucu. :happy

Tinggalkan Balasan