emperors-consort2
Emperors Consort

Emperor’s Consort Part 9-1 : Dua Sisi Kaisar 1

Bookmark

No account yet? Register

1.636 votes, average: 1,00 out of 1 (1.636 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

emperors-consort2

Pintu ruangan pribadi Kaisar Shen tertutup rapat dalam kesunyian ketika Tabib Zhou berjalan menyusuri lorong yang menghubungkan mansionnya dengan ruang pribadi Kaisar. Seperti biasa, suara air bergemericik yang berasal dari kolam-kolam ikan di sepanjang pinggiran taman bunga, mengiringi suara langkahnya yang memecah keheningan malam.

Tabib Zhou yang berjalan dengan senyum dikulum di bibirnya, menyempatkan diri berhenti sejenak, menghirup keharuman aroma bunga malam yang semerbak menyesaki udara, sebelum melangkah lagi menuju kamar peraduan Kaisar Shen.

Suasana kamar peraduan Kaisar Shen memang selalu dijaga agar tetap hening. Hal itu sengaja, karena selain untuk menjaga supaya Kaisar dapat beristirahat sempurna, suasana yang hening akan membuat para penjaga lekas waspada atas timbulnya suara mencurigakan sekecil apapun.

Para penjaga malam yang bertugas memang tidak berjaga secara terlihat di pintu peraduan Kaisar. Hal itu dititahkan langsung oleh Kaisar Shen sendiri karena beliau tidak suka ada orang yang berdiri di depan kamar peraduannya yang bisa saja mencuri dengar apapun yang terjadi di dalam kamar peraduannya.

Karena titahnya itu, maka Jenderal Youshou mengatur pasukan supaya berjaga di area khusus yang membentuk penjagaan melingkar tak tertembus mengelilingi ruang peraduan Kaisar. Mereka tetap bisa menjaga, tetapi dalam jarak tertentu yang tidak melanggar area privasi Kaisar Shen. Ketika Tabib Zhou berpapasan dengan para penjaga itu, dia menganggukkan kepala untuk menyapa, kemudian melangkah melewati mereka.

Tabib Zhou berada di sini karena Kaisar mengirimkan perintah supaya Tabib Zhou datang menemui di ruang pribadinya.

Ketika sampai di depan ruang peraduan Kaisar, Tabib Zhou mengetuk pintu pelan, memberitakukan kehadirannya, lalu membungkuk dengan sikap hormat dan memohon izin untuk masuk,

“Yang Mulia Kaisar, semoga panjang umur. Hamba Tabib Zhou datang menghadap sesuai perintah.” ucapnya khidmat memecah keheningan.

Tak berapa lama, terdengar suara Kaisar Shen dari dalam yang mempersilahkannya masuk. Segera setelah diberi izin, Tabib Zhou membuka pintu dan melangkah memasuki ruangan.

Kaisar sedang duduk di atas karpet bersulam emas di belakang meja kerjanya seperti biasa. Aroma kamar itu tercium harum samar-samar, berasal dari bakaran dupa kayu-kayuan wangi yang segar kesukaan Kaisar. Tabib

Zhou menelengkan kepala dan menyadari kehadiran orang lain di sana, dia melirik sedikit dan melihat Hiro, mata-mata terbaik Kaisar sedang berdiri di dekat pintu tak jauh dari dirinya.

“Kalian sudah datang.”

Shen King yang tampak formal dengan jubah kekaisaran berwarna merah menyala, dan masih mengenakan topeng emasnya, memberikan isyarat tangan yang memerintahkan kedua orang abdinya itu untuk mendekat.

Tabib Zhou dan Hiro bergegas mendekat, lalu berlutut memberi hormat di hadapan Kaisar Shen.

“Aku akan memberikan tugas yang berbeda untuk kalian.” Shen King mengarahkan kepalanya ke arah Tabib Zhou, “Zhou aku memerintahkanmu ke Desa Shiren untuk mengantarkan obat kepada ibunda Aiko. Menurut laporan Hiro, kondisi ibunda Aiko semakin parah dan memerlukan perawatan khusus. Para asistenmu tentu sedang sibuk memeriksa kondisi prajurit sebelum berangkat perang, sehingga tidak ada yang bisa dikirimkan ke sana. Tugasmu adalah menjaga kesehatanku, dan karena kondisi kesehatanku sangat baik, aku rasa kau bisa sedikit tenang untuk mengurus ibunda Aiko terlebih dahulu.”

Jemari Shen King bergerak ke meja kerjanya, mengambil kertas berwarna cokelat muda yang memang dikhususkan untuk surat resmi kerajaan. Sang Kaisar lalu mengulurkan sebuah surat bertulis tangan dengan cap merah lambang kekaisaran yang langsung diterima oleh Tabib Zhou dengan hormat.

“Itu adalah cap kekaisaran dariku, dengan membawa itu kau akan dijamin di dalam perlindunganku. Aku memerintahkanmu untuk mengatur pemindahan Ibunda Aiko ke rumah peristirahatanku di kaki bukit, tidak jauh dari pusat istana kekaisaran, sehingga nantinya kau akan lebih mudah mengurus ibunda Aiko.”

Tabib Zhou mengerutkan keningnya bingung dengan perintah yang tiba-tiba itu. Bukankah mereka akan berangkat ke medan perang? Sudah tugasnya sebagai tabib istana untuk mendampingi Kaisar, terutama di medan perang. Dia pun langsung mengutarakan apa yang ada di benaknya,

“Ampun Yang Mulia, anda akan berangkat perang, seharusnya tugas saya adalah mendampingi anda untuk berjaga jikalau sesuatu yang buruk terjadi kepada anda…. saya tidak bisa begitu saja meninggalkan tugas saya…”

“Diam.” Shen King menggerakan jemarinya, tidak ingin dibantah, “Aku akan membawa Asisten Li sementara untuk menggantikanmu di medan perang, segera setelah kau menyelesaikan pemeriksaanmu kepada ibunda Aiko dan mengatur pemindahannya ke rumah peristirahatanku, kau bisa menyusul ke medan perang di perbatasan utara dan kemudian berganti tugas dengan Asisten Li.”

Sekali lagi Tabib Zhou nampak tidak tahan untuk mengeluarkan pemikirannya, “Yang Mulia, apakah saya perlu memberitahu Aiko perihal ini?”

Shen King menggelengkan kepalanya singkat, “Aiko tidak boleh tahu ibundanya sudah dipindahkan dari desanya ke rumah peristirahatanku. Kau juga harus menjaga rahasia. Aku mengirimkan kabar kepada pengurus rumah peristirahatanku bahwa aku akan mengirim salah satu kerabat jauhku yang sakit untuk dirawat di sana. Asisten Li nanti juga tidak boleh tahu apa-apa.”

Shen King tanpa sadar menyentuh topengnya, kebiasannya jika sedang berpikir serius, “Jika Aiko mengetahui bahwa ibundanya berada di rumah peristirahatan tak jauh dari istana, dia pasti akan meminta izin untuk menjenguk ibundanya, dan jika Aiko ke sana, akan ketahuan bahwa yang sedang di rawat di rumah peristirahatanku bukanlah kerabatku, melainkan ibunda dari perisaiku. Gosip akan tersebar cepat dan membahayakan rencana kita.”

Suara Shen King terdengar tajam ketika berbicara, “Jadi pastikan baik-baik bahwa Aiko tidak mengetahui tentang hal ini. Katakan saja pada Aiko bahwa kau mengirimkan salah satu asisten terbaikmu untuk mengantarkan obat dan merawat ibunya.”

Tabib Zhou pada akhirnya menganggukkan kepalanya, menyadari bahwa seluruh perintah Kaisar sudah ditentukan berdasarkan pertimbangan terbaik, dia lalu membungkuk dan memberi hormat menyatakan persetujuannya,

“Baik Yang Mulia, hamba akan melaksanakan perintah Yang Mulia.” Gumamnya.

Shen King menganggukkan kepalanya, “Bagus. Youshou akan membantumu untuk mempersiapkan kuda, pasukan pengiring dan perbekalan. Kau bisa berangkat besok.”

Sang Kaisar lalu mengalihkan perhatiannya kepada Hiro, “Dan kau Hiro, aku menugaskanmu untuk menjaga Aiko selama di medan perang nanti.”

“Yang Mulia.” Tabib Zhou tiba-tiba berseru, berusaha menarik perhatian Kaisar, “Apakah Anda yakin melaksanakan niat Anda untuk membawa Aiko ke medan perang? Anda tentunya tahu, bagi prajurit laki-laki saja, berada di kamp selama masa perang akan terasa berat, apalagi bagi seorang perempuan yang belum berpengalaman seperti Aiko. Dia akan berada di antara laki-laki tanpa ada satupun perempuan nantinya. Kondisi ini akan membahayakannya.”

Suara Shen King ketika menjawab pendapat Tabib Zhou terdengar tajam kemudian, “Aku akan tetap membawa Aiko. Dia akan bersamaku kemanapun aku pergi.” Gumamnya tegas, tak terbantahkan, “Dan mengenai kecemasanmu itu, karena itulah aku menugaskan Hiro untuk mengawal Aiko.”

Tabib Zhou tampak ragu, tetapi kemudian dia menyampaikan usulnya,

“Hamba mohon Yang Mulia mendengarkan usulan hamba.” Lelaki itu membungkukkan badannya sekali lagi, “Ampun Yang Mulia, hamba mengusulkan supaya Aiko diperkenankan mengenakan pakaian laki-laki untuk mengurangi gangguan yang mungkin akan dia terima.”

Sikap tubuh Shen King langsung berubah, tubuhnya berubah kaku dan ketika berbicara, suaranya terdengar seperti geraman marah.

“Kau menyuruh calon permaisuriku berpakaian seperti laki-laki?”

Aura di dalam kamar peraduan Kaisar langsung berubah menegangkan, seolah-olah ada senar yang terentang kencang dan siap putus tiba-tiba.

Beruntung Hiro yang sejak tadi diam langsung memberikan suara dengan tenang, “Ampun Yang Mulia. Hamba berpikir bahwa ide Tabib Zhou benar. Aiko akan lebih nyaman jika menyamar menjadi laki-laki selama di medan perang. Sebagai satu-satunya perempuan di antara ribuan laki-laki, dengan statusnya yang hanya perisai Kaisar, dia bisa menjadi sasaran empuk bagi para prajurit atau pelayan yang tak tahu apa-apa.”

Sanggahan Hiro membuat Shen King mematung. Terdiam dalam hening dan nampak berpikir.

Keselamatan Aiko adalah yang utama tentu saja. Karena keegoisannya, dia harus membawa Aiko ke medan perang, tempatnya kaum laki-laki, dan sangat tidak cocok untuk perempuan.

Dia harus memastikan bahwa Aiko aman dan tidak dilukai. Kalau dipikir-pikir, Tabib Zhou dan Hiro benar adanya, kehadiran Aiko sebagai satu-satunya perempuan di medan perang tentunya akan menarik perhatian, juga akan menyebarkan gosip.

Shen King tidak mau Aiko menarik perhatian. Nanti kalau sudah datang saatnya, dia sendiri yang akan menunjukkan Aiko kepada dunia.

Sekarang, Aiko harus dihindarkan dari segala macam bahaya.

Pada Akhirnya sang Kaisar menghela napas panjang, lalu menganggukkan kepala menyatakan persetujuannya.

“Baiklah, koordinasikan semuanya dengan Kasim Rojim.”

***

“Kaisar terlihat begitu tegang akhir-akhir ini.” Hiro berucap pelan setelah memastikan langkah mereka telah jauh dari peraduan Kaisar, dia merapikan posisi busur dan anak panah di punggungnya dan berjalan bersama Tabib Zhou melalui taman yang sama tempat mereka tadi datang.

Rupanya hujan memutuskan untuk mengguyur bumi malam itu, tetesan air mengucur dari genting istana, menciptakan tirai berkilauan yang memantulkan cahaya lentera. Langkah kaki mereka menginjak basahnya genangan air yang membuat lantai batu di bawahnya sedikit lembab. Hujan yang turun malam ini, menciptakan suara percikan di seluruh penjuru taman dan menebarkan aroma tanah basah nan menenangkan.

Malam itu begitu gelap, tanpa bulan, tanpa bintang karena semuanya terserap oleh derasnya hujan.

Ekspresi Tabib Zhou sendiri tampak penuh senyum ketika menjawab,

“Kaisar kan sudah lama tidak….” Lelaki itu berdehem, tidak melanjutkan perkataannya dan malah melemparkan tatapan mata penuh arti kepada Hiro, “Kau tahulah…. lelaki yang sudah lama tidak begituan biasanya menjadi tegang dan pemarah.”

Hiro terpaku, membelalakkan matanya, mencoba memahami isyarat Tabib Zhou. Dan ketika dia akhirnya memahami apa yang tersirat dari kata-kata Tabib Zhou, senyum tersungging di bibirnya.

“Oh… jadi karena sudah lama Kaisar tidak begituan.” Senyumnya melebar, hampir saja berubah menjadi tawa, tetapi dia menahan diri, tidak ada yang berani menertawakan Kaisar Shen, kecuali tentu saja, Tabib di depannya ini.

Matanya menelusuri penampilan Tabib Zhou yang tampak selalu santai dan penuh senyum, lalu berkomentar miring,

“Pantas kau selalu kelihatan santai dan penuh senyum, kau pasti tidak pernah lupa begituan untuk menjaga moodmu.” Hiro tertawa keras karena geli dan miris, “Aku menduga kau sudah melebarkan jaringan korban yang terpesona dengan wajah polos menipu milikmu hingga kemana-mana.”

Kata-kata Hiro membuat Tabib Zhou tersenyum, “Bukan aku yang mengejar mereka, Hiro. Mereka yang mengejarku. Entahlah, mungkin karena wajahku yang terlalu tampan.”

Hiro terkekeh mendengar kalimat pongah Tabib Zhou. Meskipun begitu, nada suaranya ketika menasehati kemudian, terdengar serius,

“Jangan suka mempermainkan wanita, Zhou. Bagaimanapun juga mereka mahluk yang mengandalkan perasaan dalam bertindak. Jika kau menghancurkan perasaan wanita, mereka akan terluka dan luka itu akan meninggalkan bekas selamanya. Kau akan menanggung dosa itu seumur hidupmu.”

Tabib Zhou mengangkat alis mendengar nasehat Hiro, seorang pemuda dengan pengalaman percintaan minim dan usia jauh di bawahnya. Dia lalu mengangkat bahunya tak peduli, “Sudah kubilang, perempuan-perempuan itu yang mengejarku karena terpesona dengan ketampananku, aku hanya berusaha menyenangkan mereka. Merekalah yang menyerahkan hati mereka untuk kupatahkan. Jadi bukan aku yang harus menanggung dosa di sini.”

Kata-kata Tabib Zhou membuat Hiro menghela napas panjang, antara geli dan tidak setuju. Ya, Tabib Zhou memang sudah dikenal sebagai pemain perempuan di seluruh penjuru kerajaan. Reputasinya buruk karena dikenal selalu mematahkan hati perempuan tanpa ampun. Anehnya reputasi buruknya bukannya membuat para wanita berlarian dan kabur, malah seolah menarik mereka berbondong-bondong datang mengerumuni seperti tertarik dengan magnet.

“Jangan bahas lagi tentang diriku.” Tabib Zhou mengibaskan tangannya, menyadari bahwa Hiro masih ingin menasehatinya, “Kau tahu aku bersyukur karena Kaisar Shen menugaskanku ke Desa Shiren besok.”

“Kenapa?” Nada suara Tabib Zhou membuat Hiro menoleh ingin tahu.

Tabib Zhou tersenyum, “Aku memberikan buku itu untuk dipelajari Aiko. Kau tahu… buku itu, yang pernah kupinjamkan kepadamu. Buku Panas.” Senyumnya melebar berubah menjadi kekehan, “Kalau besok Kaisar menyadari bahwa Aiko mendapatkan buku itu dariku, beliau akan marah besar dan mungkin memutuskan memenggalku. Beruntung aku sudah tidak ada di sini besok.”

Mata Hiro langsung melotot mendengar perkataan Tabib Zhou, “Buku itu?” Tentu saja Hiro ingat buku apa itu. Dulu Tabib Zhou memang pernah meminjamkan buku itu kepadanya, “Kau gila Zhou, Aiko belum cukup umur!”, Hiro memekik memperingatkan.

Peringatan yang sudah terlambat karena tampaknya Tabib Zhou sama sekali tidak tampak menyesali perbuatannya.

“Aiko harus bisa menjaga dirinya. Kau pasti tahu di desanya dulu dia kurang bergaul dengan anak sebayanya dan tidak mendapatkan pendidikan mengenai seksualitas yang semestinya.” Tabib Zhou menyela, suaranya berubah serius. “Aku pikir Aiko harus belajar, sebab bagaimana mungkin Aiko bisa menjaga dirinya kalau dia tidak tahu harus menjaga diri dari apa?”

***

Pagi itu, suasana hiruk pikuk nampak memenuhi hampir seluruh penjuru istana. Suasana ini dimulai sejak sang Kaisar memutuskan untuk berangkat berperang ke area perbatasan utara. Dari ujung ke ujung istana, semuanya bergerak untuk menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk berperang.

Bagian logistik sudah mulai memindai dan menyiapkan perlengkapan perbekalan untuk perang. Bahan-bahan makanan yang awet dan mudah disimpan sudah dimasukkan ke peti-peti khusus untuk diolah oleh koki mereka di medan perang nanti, menjadi makanan bernutrisi bagi seluruh prajurit. Bagian khusus dapur kekaisaran juga sudah menyiapan berbagai bahan makanan kualitas terbaik untuk jamuan makan Kaisar yang seluruhnya disimpan di peti khusus berwarna emas.

Di area luar istana emas, prajurit-prajurit baik prajurit inti kekaisaran yang ada di bawah kepemimpinan Jenderal Youshou maupun prajurit yang dikirimkan oleh kaum bangsawan, sudah mulai mempersiapkan diri.

Senjata-senjata diasah sehingga berada dalam kondisi terbaik, kuda-kuda diperiksa kondisinya supaya siap membawa pasukan berkuda maju ke medan tempur dan pakaian-pakaian perang disiapkan sebaik mungkin untuk melindungi diri jika nanti terjadi kontak senjata dengan musuh.

Semuanya berkumpul di lapangan, Prajurit-prajurit inti kekaisaran tampak berbaur dengan prajurit-prajurit khusus yang dikirim oleh para bangsawan untuk membantu pasukan kekaisaran.

Di sana nampak pula tabib Zhou yang sedang berkeliling bersama para asistennya. Mereka melakukan tugas untuk memeriksa kondisi kesehatan para prajurit yang akan berangkat perang. Masing-masing prajurit yang telah didata memang wajib diperiksa untuk memastikan bahwa mereka berada dalam kondisi terbaik. Hal itu wajib dikarenakan jika ada prajurit yang jatuh sakit di medan perang hanya akan menambah beban karena harus ada yang meluangkan tenaga dan waktu untuk merawatnya.

Besok Kaisar akan berangkat membawa tiga ribu pasukan, langsung menuju ke area perbatasan utara. Area perbatasan utara merupakan area yang cukup jauh dari istana pusat kekaisaran. Diperlukan waktu tiga hari menunggang kuda untuk sampai ke tujuan. Dan karena mereka membawa ribuan pasukan yang terdiri dari pasukan berkuda, pasukan yang berjalan kaki, para pelayan yang membawa logistik, bagian dapur, serta Kaisar sendiri, mungkin diperlukan waktu lima sampai tujuh hari untuk mencapai perbatasan utara.

Tabib Zhou mengusap keringat di dahinya, memandang ke sekeliling, syukurlah sudah hampir semua prajurit selesai diperiksa kesehatannya. Seharusnya hari ini dia tidak perlu turun untuk memeriksa langsung para prajurit yang akan berangkat berperang. Tetapi, mengingat para asistennya nampak mulai kewalahan menangani ribuan prajurit dengan berbagai kondisi, akhirnya Tabib Zhou memutuskan untuk turun tangan langsung.

Toh ketika dia memeriksa Kaisar tadi, kondisi Yang Mulia dalam keadaan sangat sehat. Tabib Zhou hanya perlu menyiapkan beberapa penawar racun dan ramuan khusus penambah stamina serta ramuan penyembuh luka untuk dibawa oleh asisten Li terlebih dahulu selama mewakilinya sampai dia bisa menyusul pasukan perang ke perbatasan utara.

Tabib Zhou sendiri sudah menyiapkan dirinya untuk mengunjungi desa Shiren tempat ibunda Aiko berada. Karena desa Shiren berada di area hutan barat kerajaan Shasou yang memerlukan waktu dua hari berkuda, maka Tabib Zhou akan berangkat siang ini juga. Kuda terbaik, perbekalan lengkap dan pengawalan untuknya sudah disiapkan sehingga dia hanya tinggal berangkat saja.

Pandangan Tabib Zhou menyapu ke langit biru dengan sinar matahari terik yang menimpa mereka tanpa malu-malu. Lelaki itu mengernyitkan dahinya cemas.

Cuaca cukup ekstrim akhir-akhir ini.

Di siang hari suasananya bisa menjadi panas mencekik, tetapi di malam hari hujan yang membawa hawa dingin menusuk bisa saja datang tiba-tiba tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Hasil pemeriksaan sejauh ini, sebagian besar kondisi prajurit memang cukup memuaskan, hanya beberapa yang dibatalkan keberangkatannya karena ditemukan sedang menderita penyakit serius atau penyakit menular yang dianggap membahayakan.

Tetapi cuaca yang ekstrim bisa menjadi masalah serius jika tidak ditangani dengan baik. Pasukan mereka memang kuat saat ini, tetapi pasukan yang terdiri dari prajurit yang terserang bibit penyakit akan membawa mereka semua pada kehancuran. Dan mudah-mudahan apa yang ditakutkannya tidak akan terjadi, atau dia akan sangat kerepotan di medan perang nanti.

Ditatapnya Asisten Li yang tampak menghampiri, mereka berdua sama-sama lelah. Tetapi setidaknya pemeriksaan ini adalah pemeriksaan terakhir. Seluruh prajurit sudah diperiksa dan sudah kembali ke unit masing-masing untuk menerima pembagian tugas dari komandannya sendiri-sendiri.

“Jangan lupa membawa semua ramuan yang sudah aku catat. Juga ramuan khusus di peti emas untuk perlengkapan obat-obatan Kaisar.” ucap Tabib Zhou setelah yakin suaranya berada dalam jarak pendengaran Asisten Li.

Asisten Li menganggukkan kepala, mengeluarkan catatan dari sakunya dan memeriksa lagi,

“Semua sudah siap, tetapi saya akan memeriksa ulang untuk memastikan tidak ada yang terlewat.” Asisten Li mengikuti ketika Tabib Zhou berjalan meninggalkan area pemeriksaan prajurit dan melangkah menuju Istana Merah untuk kembali ke Mansionnya.

“Anda akan berangkat siang ini?” Tanya Asisten Li ketika memperhatikan langkah terburu-buru Tabib Zhou.

Tabib Zhou mengangguk, “Aku harus berangkat siang ini juga supaya berhasil melewati gurun di area barat yang harus diseberangi untuk mencapai desa Shiren. Setidaknya tengah malam aku bisa sampai di penginapan pertama yang aku temukan di seberang gurun.” Tabib Zhou melirik ke arah Asisten Li, “Kau harus menjaga Kaisar selama aku tidak ada. Aku akan langsung menyusul ke perbatasan utara begitu tugasku di Desa Shiren selesai.”

Asisten Li mengangguk dengan hormat, “Baik Tabib, saya akan melaksanakan.” jawabnya patuh.

***

Aiko meremas jemarinya dengan cemas. Dia duduk di tepi ranjang, sudah memakai pakaian dayangnya untuk bertugas. Dia harus keluar dari kamarnya. Sebab meskipun Kaisar belum memanggilnya sebagai perisai di jamuan makan, setidaknya dia harus membantu para pelayan untuk melakukan tugas-tugasnya.

Tetapi dia takut.

Matanya melirik ke arah buku bungkusan kain putih tebal berbentuk kotak yang diikat rapi di atas meja. Isi bungkusan itu adalah buku. Buku mengerikan yang dipinjamkan Tabib Zhou kepadanya.

Semalam setelah selesai membaca, Aiko langsung membungkus buku itu dengan kain penutup ranjang, berlapis-lapis hingga membentuk bungkusan tebal yang menggelikan. Tetapi mau bagaimana lagi? Isi buku itu mengerikan. Aiko tidak mau kulitnya tersentuh oleh buku itu.

Semalam ketika dia membaca buku itu, matanya melotot melihat gambar-gambar dan deskripsi gamblang dari buku yang dipinjamkan oleh Tabib Zhou kepadanya.

Isi buku-buku itu adalah hal-hal yang bahkan tidak pernah muncul di dalam benaknya sebelumnya. Adegan-adegan itu…. antara perempuan dan lelaki dengan berbagai posisi yang terlihat sangat mengerikan. Belum lagi penjelasan-penjelasan di dalamnya yang penuh dengan kalimat-kalimat gamblang tanpa diperhalus sama sekali.

Yang lebih membuatnya ketakutan, ada beberapa gambar yang menggambarkan apa yang telah dilakukan sang Kaisar kepadanya.

Bersalaman dengan bibir…..itu sepertinya bukanlah salah satu bentuk penghormatan kepada Kaisar!

Di buku itu dijelaskan bahwa itu merupakan salah satu bentuk cumbuan yang dilakukan suami isteri sebelum melangkah ke hal-hal lebih lanjut di tempat tidur. Dua bibir menyatu, saling melumat dan kemudian berlanjut ke kegiatan-kegiatan lainnya.

Aiko jadi teringat kejadian mengerikan di gazebo istana pribadi Kaisar, dimana Kaisar Shen menurunkan gaunnya dengan paksa dan kemudian menggigit pundaknya hingga meninggalkan lebam…. di buku itu dikatakan bahwa lelaki bisa menggigit perempuan karena nafsu. Gigitan karena nafsu biasanya tidak menimbulkan luka. Gigitan itu berbeda dengan gigitan yang diberikan binatang buas kepada mangsanya, tetapi lebih kepada gigitan lembut untuk menandai perempuannya.

Buku itu juga membahas yang lain-lain…. proses membuat bayi yang mengerikan!

Astaga, kenapa Yang Mulia Kaisar Shen melakukan itu kepadanya? Apakah beliau ingin membuat bayi? Tetapi kenapa beliau tidak melakukannya dengan selir yang dimilikinya? Kenapa beliau melakukannya kepada Aiko? Apa karena hanya Aiko satu-satunya perempuan yang ada di dekatnya ketika itu? Kenapa Yang Mulia Kaisar berbohong kepadanya dan mengatakan bahwa berciuman adalah salah satu bentuk penghormatan kepada kaisar?

Berbagai pertanyaan itu membuat kepala Aiko pening. Dia merasa pipinya panas dan terbakar, tidak mampu lagi memikirkan bayangan-bayangan yang mengotori pikirannya, bayangan-bayangan yang muncul dari memorinya akan gambar di buku-buku itu.

Semalam, ketika membaca buku itu, tubuhnya panas dingin seolah terbakar, dan sekarang membayangkan isi dari buku kotor yang telah dibacanya ternyata memberikan efek sama.

Ditangkupkannya kedua tangannya di wajah, berusaha mendinginkan wajah panasnya dengan telapak tangannya yang sejuk.

Bagaimana ini? Bagaimana mungkin setelah ini dia bisa menemui Yang Mulia Kaisar Shen?

***

Shen King berjalan memasuki area Istana Merah setelah seharian berada di Istana Emas. Tadi bersama Jenderal Youshou dia memeriksa kondisi dan kesiapan prajurit untuk berangkat besok.

Semua sudah siap. Logistik sudah dikemas dengan sempurna, perlengkapan dan senjata prajurit sudah siap, kuda-kuda perang sudah diurus, dan hanya prajurit-prajurit dengan kondisi terbaik yang akan diberangkatkan.

Shen King hendak menuju ruang peraduannya ketika keningnya berkerut dan teringat sesuatu.

Dia belum menemui Aiko hari ini.

Kesibukannya untuk memeriksa persiapan perang sedikit banyak mengalihkan perhatiannya dari Aiko. Sekarang Shen King ingat bahwa dia harus memeriksa persiapan Kasim Rojim untuk Aiko. Kemarin dirinya memanggil Kasim Rojim dan memintanya untuk mempersiapkan pakaian yang akan dikenakan Aiko.

Aiko akan berangkat ke medan perang, sebagai pelayan pribadi dan perisainya, dengan menyamar sebagai laki-laki. Tentu saja Aiko akan selalu berada di sekitarnya, dan aman di dalam perlindungannya.

Setelah memasuki gerbang Istana Merah yang aman, Shen King langsung memberi isyarat kepada pasukan pengawal yang mengikuti di belakang untuk menyingkir. Memang, hanya di dalam Istana Merahlah Shen King bisa berkeliaran kesana kemari tanpa terganggu oleh pasukan pengawal yang selalu mengikutinya.

Langkah Shen King langsung berbalik, memunggungi arah kamar pribadinya dan malah menuju ke area mansion pelayan. Dia tahu di sela-sela waktu ketika Aiko tidak menjadi perisai, Aiko selalu mengerjakan tugas-tugas pelayan.

Shen King mengerutkan kening membayangkan tangan mungil Aiko membawa kain penutup ranjang yang berat dan basah, lalu menjemurnya.

Hatinya tidak rela.

Dia tidak rela calon permaisurinya mengerjakan tugas pelayan. Kalau saja semua ini sudah berdasarkan maunya, mungkin sekarang dia sudah menyimpan Aiko di kamar pribadinya, memberikan perhiasan terbaik kerajaan yang bisa diberikannya, dan memanjakan Aiko habis-habisan dengan memenuhi segala permintaannya.

Sayangnya Shen King kini harus bersabar.

Dan bersabar, bagi seorang Kaisar sepertinya yang terbiasa mendapatkan apa yang dia mau dengan cepat, terasa begitu menyiksa.

Langkah Shen King semakin cepat ketika mendekati area mansion pelayan. Mansion itu cukup sepi karena sebagian besar pelayan sedang berada di istana emas untuk mengatur logistik persiapan perang. Persiapan perang memang cukup menyita waktu dan tenaga karena memerlukan banyak orang dan banyak perencanaan yang sempurna.

Mencoba keberuntungannya, Shen King memutari mansion pelayan dan langsung menuju ke bagian belakang, bagian belakang mansion itu berupa padang rumput nan luas dan hijau dan sering digunakan oleh para pelayan sebagai tempat menjemur kain-kain penutup tempat tidur yang berukuran besar.

Ketika Shen King melangkah ke area belakang mansion, aroma semerbak harum bebungaan yang berasal dari wewangian yang dipakai untuk mencuci penutup tempat tidur, menyentuh hidungnya. Rupanya para pelayan sudah selesai melakukan tugas mencuci mengingat banyaknya jemuran berwarna putih berukuran besar yang melambai-lambai ditiup angin, menguarkan bebauan menyesaki udara yang menyenangkan hati.

Shen King memelankan langkah ketika menemukan sosok yang dicarinya. Di sana sedang duduk Aiko di bangku panjang yang menghadap langsung ke meja kayu besar di tengah halaman rumput. Aiko memunggunginya, sepertinya sedang sibuk membaca buku.

Ketika Shen King sudah berdiri di belakang Aiko, dia memutuskan untuk diam dan menunduk mengamati. Sedikit merasa geli karena bahkan dalam jarak sedekat ini, anak perempuan mungil ini sama sekali tidak menyadari kehadirannya.

Aiko benar-benar polos, percaya kepada dunia dan berjalan kesana kemari tanpa pertahanan diri sama sekali.

Akan jadi apa anak perempuan ini di tengah ganasnya persaingan di istana yang bahkan rela saling membunuh hanya demi mendapatkan kekuasaan?

Ada senyum di bibir Shen King ketika dia memutuskan untuk menyentuh pundak Aiko, dan menyadarkan perempuan itu akan kehadirannya.

***

Sentuhan lembut di pundak kirinya, benar-benar membuat Aiko terkejut, dia memekik kaget, tubuhnya terlonjak seperti tersengat listrik, dan mulai gemetaran.

Aiko lalu menoleh pelan-pelan dengan ngeri ke atas jemari yang ada di pundaknya, Matanya membelalak ketika mengenali jemari bercincin Kaisar dengan emblem naga emas di sana.

Tidak mungkin……

Jantung Aiko mulai berdebar ketakutan.

Perlahan, dengan sangat perlahan, Aiko mendongakkan kepala ke atas. Posisinya hampir sama dengan insiden di kolam ikan. Matanya membelalak ketika dia benar-benar menemukan Kaisar Shen, berdiri di belakangnya, mengenakan topeng emas mengerikan dan jubah kekaisaran dengan warna serupa dan bersulam naga merah. Kaisar sedang menunduk ke arahnya…..

“Yang Mulia Kaisar!”

Aiko menjerit, berusaha bangun dari duduknya, lupa bahwa dia sedang berada di bangku kayu yang berbatasan sempit dengan meja. Kakinya tersangkut kaki meja, dan gerakan gugupnya membuat tumitnya terbentur dengan keras hingga menimbulkan bunyi kencang mengerikan.

Aiko meringis, rasa sakit membuat air mata muncul di sudut matanya, dan tubuhnya jatuh oleng ke belakang.

Tangan Kaisar yang kuat langsung menahan, membuat tubuh Aiko miring ke belakang, bersandar di dada Kaisar dengan kaki masih tersangkut di bawah meja.

Astaga, Aiko!” Kaisar mengeluarkan suara jengkel yang mengerikan, membuat Aiko ketakutan. Yang Mulia pasti marah karena Aiko bertindak bodoh dan bukannya menghormat malah jatuh ke arahnya.

“Bodoh.” Alih-alih marah, Kaisar malah mengucapkan kata bernada mengolok dengan lembut. Tangannya yang kuat dengan mudah mengangkat Aiko, mengeluarkan kakinya yang tersangkut dengan lembut, lalu mendudukkan Aiko kembali di bangku kayu, kali ini menghadap ke arahnya.

Aiko berusaha bangkit dan mencoba berlutut, tetapi kedua jemari Shen King menahan pundaknya,

“Diam.” Shen King bergumam tegas dengan ekspresi tidak terbaca, tersembunyi di balik topengnya, “Aku ingin melihat kakimu. Sepertinya benturannya cukup keras.”

Lalu tanpa diduga-duga, Sang Kaisar berlutut di Kaki Aiko, membuat Aiko menjerit kaget,

“Yang Mulia!” teriaknya, berusaha bangkit dari posisinya. Astaga! Dirinya hanyalah seorang rakyat jelata, pelayan yang tidak berharga dan sekarang Kaisar Shen King, Orang paling Mulia di Kerajaan Shasou, pemimpin mereka yang kejam dan menakutkan, berlutut di kakinya!

Dia sungguh tidak sopan. Dia pantas dihukum mati!

Aiko berusaha berdiri, tetapi jemari kuat Shen King menahan pangkuannya, Sang Kaisar melepaskan topeng emas yang menutup wajahnya, dan meletakkannya di bangku kayu di samping Aiko, lelaki itu lalu mendongak, menatap Aiko dengan mata emasnya nan tajam, berkilauan tertimpa matahari, membuat Aiko terpaku.

“Biarkan aku melihat kondisi kakimu, Aiko.” Shen King berucap dengan nada tak terbantahkan, membuat Aiko tidak bisa berbuat apa-apa, hanya terpaku menunduk menatap Kaisar yang berlutut di bawahnya dengan pasrah.

Jemari Kaisar dengan hati-hati mengangkat kaki Aiko yang tadi terbentur, sedikit menarik gaun Aiko ke atas. Dengan lembut sang Kaisar melepas penutup kaki Aiko dan membiarkan kaki telanjang itu berada dalam genggamannya.

“Kakimu begitu mungil.” Shen King meletakkan kaki mungil itu di telapak tangannya, memeriksanya, dan menemukan ada sedikit warna merah bekas benturan di sana, dielusnya warna merah itu dengan ibu jari, gerakannya lembut, tidak menyakiti. “Ini pasti akan memar, kau harus mengompresnya.” Gumam sang Kaisar, masih dengan menundukkan kepala.

Dan kemudian, tanpa diduga, tiba-tiba Kaisar mengangkat kaki Aiko, menundukkan kepalanya, lalu menghadiahkan kecupan lembut dari bibir panasnya di kaki Aiko.

“Tak kusangka, aku akan bertekuk lutut di pemilik kaki mungil ini.” Bisik Kaisar dengan penuh ironi. Ironi yang menyenangkan.

Aiko menunduk di sana, masih terpaku bingung dengan kata-kata Kaisar.

Kemudian, Kaisar bangkit dari posisi berlutut, lalu berdiri membungkuk di depan Aiko yang masih duduk terpaku.

Jemari Kaisar menyentuh dagu Aiko, menghadapkan bibir ranum menggoda itu ke arahnya, dan mendekatkan bibirnya sendiri untuk melumatnya,

“Tidak!” Tiba-tiba Aiko menjerit keras, kedua lengan mungilnya mendorong kencang supaya tubuh Kaisar menjauh.

Kaisar yang terkejut ditolak seperti itu langsung mundur satu langkah, menatap Aiko dengan ekspresi bingung,

“Kau menolakku?” Tiba-tiba kemarahan menjalari tubuh Shen King, “Kau menolak untuk menghormatiku?” Suara lembutnya hilang, berganti dengan nada pongah penuh kemarahan yang mengerikan.

Aiko mendongak, kedua tangannya memeluk dirinya sendiri dengan bingung, matanya berkaca-kaca dan tubuhnya gemetar. Mata Shen King yang sekarang menatapnya penuh kemurkaan tampak begitu mengerikan.

Mungkin sekarang dia sudah kehabisan keberuntungan. Yang Mulia Kaisar tidak akan mengampuninya.

“Am…ampun Yang Mulia… anda tidak boleh melakukan itu kepada saya!” Aiko bergumam, membela diri dengan suara bergetar.

Mata Shen King membara, “Jelaskan kepadaku kenapa aku tidak boleh menciummu.” Geramnya tak sabar, “Aku Kaisarmu, kau milikku dan aku ingin menciummu. Kau harus ingat bahwa kau milikku, Aiko. Jadi apapun yang kuperintahkan kepadamu, kau harus menerimanya.”

Aiko menggeleng-gelengkan kepala, berusaha membantah perkataan Kaisar Shen, meskipun ketakutan menyesaki pikirannya,

“Tidak! Ampun Yang Mulia! Berciuman itu berbahaya! Kata buku itu, kalau kita berciuman, akan berlanjut ke hal lain-lain yang mengerikan dan kemudian akan tercipta bayi….” suara Aiko bergetar, air mata mulai tumpah dari sudut matanya, apalagi ketika Shen King menyipitkan mata dan menatapnya menyelidik.

“Buku apa?” Telinga Shen King yang tajam tentu menangkap petunjuk aneh dari kalimat rancu Aiko, “Katakan padaku, buku apa Aiko?”

“Buku…..” Aiko menelan ludahnya, “Buku tentang cara membuat bayi… Tabib Zhou meminjamkannya kepada saya, buku itu berisi gambar dan keterangan mengerikan tentang proses membuat bayi….”

“Tabib Zhou meminjamkannya kepadamu?” Shen King berteriak, tidak bisa menahan keterkejutan bercampur kemurkaan yang dirasakannya.

“Y..ya Tabib Zhou mengatakan isi buku itu rahasia dan saya harus mempelajarinya…..” Aiko menatap Shen King dengan gugup, “Ampun Yang Mulia….”

Suara Aiko terhenti ketika melihat Shen King mengepalkan kedua tangannya dengan marah. Sang Kaisar tampak seperti akan meledak, di bibirnya, mendesis keluar nama Tabib Zhou yang diucapkan seperti kutukan.

“Aku akan memenggal Tabib sialan itu….” Shen King menggeram, lalu meraih topeng emas yang tadi diletakkannya di bangku.

Sang Kaisar kemudian berdiri tegak di depan Aiko, jemarinya tiba-tiba menuding Aiko penuh kuasa, “Kau. Nanti malam. Ke Kamar Peraduanku. Sendirian!” Titahnya terputus-putus menahan geram.

Sang Kaisar menatap Aiko yang ketakutan dengan jengkel, lalu membalikkan badan tanpa kata sambil mengenakan kembali topengnya, meninggalkan Aiko yang masih duduk ketakutan di sana.

Sampai tubuh Kaisar sudah hilang dari pandangan dan tertelan tembok mansion pelayan yang tinggi. Aiko masih bisa mendengar teriakan Kaisar yang diserukan dengan murka.

“Jenderal Youshou! Kemari!”

***

Jenderal Youshou langsung datang tentu saja ketika mendengar Kaisar Shen mengamuk di istana merah dan meneriakkan namanya untuk datang segera dengan murka.

Napasnya terangah ketika mendapati Kaisar Shen sedang berdiri di depan mansion tabib Zhou yang kosong. Dia mengerutkan kening ketika melihat tubuh Kaisar Shen gemetar karena murka.

“Ampun Yang Mulia Kaisar Shen. Hamba datang menghadap. Mohon maafkan keterlambatan hamba karena tadi hamba bertugas di Istana Emas untuk memantau….”

“Apakah Zhou sudah berangkat?” Kaisar Shen menggeram dengan suara tertahan, menyela penjelasan Jenderal Youshou.

Jenderal Youshou mengerutkan keningnya bingung.

Jadi ini ada hubungannya dengan Tabib Zhou?

Apakah Kaisar marah kepada Tabib Zhou? Tetapi kenapa? Kejailan apa yang dilakukan oleh Tabib Zhou sehingga mengusik batas kesabaran Kaisar?

Jenderal Youshou sibuk berpikir dan kemudian jantungnya berdebar ketika menyadari penyebabnya.

Buku panas itu….

Pasti sekarang Kaisar Shen sudah menyadari bahwa Tabib Zhou meminjamkan buku panas itu kepada Aiko.

Jenderal Youshou langsung mengambil sikap hormat. Dia harus membuat Kaisar berpikir jernih dan membuatnya menghilangkan niatnya untuk memenggal kepala Tabib Zhou.

“Ampun Yang Mulia, Tabib Zhou sudah berangkat sejak matahari bergulir siang tadi untuk melaksanakan tugas yang anda berikan.” Jenderal Youshou melanjutkan dengan hati-hati, “Tabib Zhou harus merawat ibunda Aiko. Anda membutuhkannya untuk merawat ibunda Aiko..” Jenderal Youshou berusaha menekankan kata-kata terakhirnya, berusaha membuat Shen King kembali kepada logikanya.

Untuk sejenak tatapan mata Shen King masih nyalang, dipenuhi kemarahan. Tetapi kemudian, nama Aiko yang disebut sekan berhasil mengembalikan pikiran sadarnya.

Dia tidak bisa memenggal Tabib Zhou. Dia membutuhkan Tabib Zhou untuk mengobati ibunda Aiko. Dibalik sikapnya yang serampangan, Tabib Zhou adalah tabib terbaik dengan kemampuan meracik obat yang tak pernah gagal sejauh ini. Lagipula dia berutang nyawa kepada Tabib sialan itu.

Kurang ajar.

Makinya dalam hati. Mengutuk Tabib Zhou sepenuh hati dimanapun lelaki itu berada.

***

Malam kembali bergulir dan hujan kembali turun ketika Aiko berdiri dengan gelisah di kamarnya. Kedua jemarinya bergerak tanpa sadar saling meremas, begitu gelisah hingga telapak tangannya basah kuyup.

Kata-kata Kaisar yang dipenuhi kemurkaan tadi terngiang di benaknya.

Kau. Nanti malam. Ke Kamar Peraduanku. Sendirian!

Aiko luar biasa takut. Dia ingin berlari dan menghindar tetapi tidak tahu bagaimana caranya. Ini adalah titah Kaisar, dan titah Kaisar tidak bisa dibantah.

Apa yang harus dia lakukan?

Aiko mengerutkan kening bingung. Bisakah dia pura-pura sakit? Atau pura-pura pingsan? Bukankah apapun yang dia lakukan nanti, Kaisar sepertinya tetap akan memenggalnya?

Suara ketukan di pintu membuat Aiko terlonjak dari posisinya berdiri. Aiko melirik pintu itu dengan gelisah. Itu pasti orang yang dikirim Kaisar untuk menjemputnya malam ini…

Apa yang harus dia lakukan?

Keringat dingin mengalir di dahi Aiko, sementara perasaan yang bergolak membuatnya ingin menangis. Pada akhirnya setelah menghela napas panjang. Aiko membutuskan untuk membuka pintu itu.

Dia tidak bisa terus-terusan bersembunyi di kamar bukan? Toh apapun yang dia lakukan kemungkinan besar dia akan dipenggal esok pagi.

Ketika Aiko membuka pintu, dia langsung berhadapan dengan Jenderal Youshou yang menatapnya dengan tatapan mata menyesal.

“Yang Mulia Kaisar menunggumu, Aiko.” ucap Jenderal Youshou tanpa basa-basi.

Aiko meringis, menahankan rasa takut yang merangsek bersamaan dengan debar jantungnya yang mulai berpacu.

“Hamba akan datang menghadap.” Gumamnya kemudian, membungkuk hormat dengan lemah kepada Jenderal Youshou.

Jenderal Youshou hanya menatap kasihan pada tubuh mungil di depannya yang gemetar ketakutan, “Aku akan mengantarkanmu sampai ke pintu.” Lanjutnya lembut.

Sebelum Aiko menjawab, sesuatu rupanya menarik perhatian Jenderal Youshou, mata lelaki itu terpaku pada sesuatu di belakang Aiko.

“Apa yang kau bungkus dengan penutup ranjang di atas meja itu?” Tanya Jenderal Youshou dengan penuh ingin tahu.

Aiko menoleh ke belakang, mengikuti arah pandangan Jenderal Youshou, dan pipinya langsung merah padam menyadari apa yang dilihat oleh Sang Jenderal.

Buku mengerikan itu…. Astaga! Seharusnya dia menyembunyikannya di bawah tempat tidur..

“Itu… itu buku yang dipinjamkan oleh Tabib Zhou…” Suara Aiko gemetar dan wajahnya merah karena malu, “Saya berniat mengembalikannya…”

“Titipkan saja kepadaku.” Jenderal Youshou menyela dengan cepat, “Zhou sedang mengemban tugas ke luar istana, titipkan padaku dan aku akan menyampaikan kepadanya.”

Aiko membungkuk hormat, dan menganggukkan kepala lalu membalikkan badan untuk mengambil buku itu. Dia sedikit banyak merasa lega karena buku itu tidak ada lagi di kamarnya. Setiap melirik ke buku itu dan menyadari apa isinya, Aiko selalu merasa kepanasan tanpa sebab. Bahkan penutup tebal yang membungkus buku bahkan sama sekali tidak berfungsi.

Dengan hati-hati diambilnya buku yang terbungkus tebal itu dari atas meja, dia lalu melangkah kembali ke arah Jenderal Youshou dan menyerahkan bungkusan tebal itu ke tangan sang Jenderal.

Sang Jenderal berdehem tidak nyaman ketika menerima buku itu, membuat Aiko mendongak bingung, lalu semakin bingung melihat wajah Jenderal Youshou yang merona.

Kenapa wajah Jenderal Youshou memerah? Apakah beliau sedang kepanasan?

Aiko melirik ke arah hujan yang turun dengan derasnya di balik punggung Jenderal Youshou, dan semakin tidak menemukan jawaban. Udara di luar begitu dingin, tidak mungkin Jenderal Youshou kepanasan.

Kalau begitu apakah sang Jenderal sedang demam?

Analisa Aiko pada akhirnya tidak berlanjut karena Jenderal Youshou tiba-tiba membalikkan badannya dengan canggung. Bungkusan buku itu masih ada di sebelah tangannya, dan langkahnya agak terburu-buru hingga Aiko harus berlari-lari kecil mengikutinya.

“Ayo. Yang Mulia Kaisar Shen menunggumu.” Ucap Jenderal Youshou sambil lalu, membuat Aiko tersadar dan kembali pada ketakutannya.

Masih terngiang jelas titah Kaisar Shen kepadanya tadi siang,

Kau. Nanti malam. Ke Kamar Peraduanku. Sendirian!

Ucapan penuh kemarahan yang terlempar dari bibir Kaisar Shen Membuat Aiko menggigil ketakutan.

Berduaan dengan Kaisar Shen di dalam kamar peraduannya….

Apakah yang akan terjadi kepada dirinya nanti?

192 Komentar

  1. Helga Veronica menulis:

    penasaran kalo ktemu tabib zhou apa yang bakalan di lakukan shenking yg uda keki abis wkwkwk

  2. Kaikou Nezumi menulis:

    Tabib Zhou pibter banget kaburnya, Aissshhh gua malu sendiri lihat Kaisar Shen ketahuan modusnya dan Jendral Youshou gemesin bangettttttt

  3. :ngetawain :aw..aw :pfffhehehe

  4. Ya telorrr ngakak BUAHAHAHHAHAHAHAHHAHAHAH

  5. Dhian Sarahwati menulis:

    Pikiran Aiko udh kmn2..parah emg tabib Zhou,gantian yg baca jendral youshou

  6. Gemes banget ampun sama aiko :kisskiss

  7. metawulandarikarina menulis:

    :mimisankarnamu

  8. SERAFINA MOON LIGTπŸŒ™β€πŸ’‘ menulis:

    Awas jendral mimisan loh pas baca :wkwkwkwk :wkwkwkwk :wkwkwkwk

  9. gemes banget sumpah ish aiko

  10. aikoooo :lovely

  11. Kasian Aiko tp lucu juga :lovely

  12. LauraOlivia00 menulis:

    Hahahaha kasian kaisar :kutungguapesmu

  13. Lusy Fitriyani menulis:

    Aduuh aiko polos banget sih ga bisa nyimpen rahasia,jadi marahkan shen king nya.ada gitu seusia aiko begitu polosnya,hadeeh :bantingkursi :bantingkursi :bantingkursi

  14. Hahha jendral youshou pingin bljr dr buku surga dunia πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

  15. Woww

  16. Akhirnya masalah Aiko Terpecahkan hah

  17. oviana safitri menulis:

    semua ini gara2 buku panas punya tabib Zhou :mimisankarnamu :berikamiadegankiss!

  18. Yaaampun wkwkwkπŸ˜‚πŸ˜‚

  19. DeeraSlythNeel menulis:

    :lovely

  20. listianaaaaa menulis:

    :DUKDUKDUK

  21. Kira Yamato menulis:

  22. Biasanya buku petunjuk itu dibaca agar tidak tersesat,,tetapi ini
    ….ya ampun justru buku ini menyesatkan kepolosan aiko…
    Oh.. Aiko yg malang xixixii
    Dasar tabib zhou,,tabib mesum ihh.. :kukutukkaujadibau

  23. Diah Wardani menulis:

    :lovelove

  24. Diah Wardani menulis:

    :penuhsemangat

  25. Mamita Fatih menulis:

    :DUKDUKDUK

  26. Mamita Fatih menulis:

    :hatikuberbungakarnamu

  27. Lucu banget aikoo :happy

  28. Febrina Prabarani menulis:

    Ngakakkkk :wkwkwkwk

  29. tabib zhou selamat dari amukan kaisar. :happy
    gantian jendral youshou yang baca buku panas itu. :happy

  30. Ngakakkkk bangetttt… Aiko polos nya akuttt.. habis baca juga bukannya pinter malah tambah pikirannya kemana2… :happy

  31. Baca ulang lagi

Tinggalkan Balasan