emperors-consort2
Emperors Consort

Emperor’s Consort Part 9-2 : Dua Sisi Kaisar bag 2

Bookmark

No account yet? Register

1.553 votes, average: 1,00 out of 1 (1.553 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

emperors-consort2

Seperti biasa, suasana di depan peraduan Kaisar begitu hening. Jenderal Youshou berjalan tenang di depan Aiko, lalu mereka berhenti di depan pintu kamar peraduan kaisar yang saat ini tertutup rapat.

Malam ini entah kenapa rembulan bersinar redup, bersembunyi di balik bayangan hitam kabut langit pekat yang membuat cahayanya mengalun samar. Bayang-bayang kegelapan menaungi setiap benda, memunculkan nuansa suram yang tak terbaca. Aiko sendiri merasakannya, entah karena dirinya yang sedang ketakutan atau memang cahaya bulan terkadang bisa mengirimkan pesan ke hati, membangunkan sendu yang menggelayuti.

Jenderal Youshou melemparkan pandangan kasihan kepada Aiko, menyadari bahwa anak perempuan ini mungkin sedang ketakutan, apalagi mengingat kemarahan Shen King tadi siang yang meledak tak terkendali. Sang Jenderal menghela napas panjang, entah kenapa dia merasa seperti mengantarkan kambing polos tanpa dosa ke area penjagalan.

Tetapi perintah adalah perintah. Baginya perintah kaisar adalah hukum yang harus dilaksanakan dengan sepenuh hati. Jika memang Kaisar ingin memanggil Aiko ke dalam peraduannya, Jenderal Youshou hanya bisa percaya bahwa Kaisar memiliki pertimbangan bijaksana. Lagipula seumur hidupnya sebagai Jenderal tertinggi kepercayaan Kaisar Shen, dia selalu menemukan bahwa keputusan apapun yang diambil oleh Kaisar Shen, selalu  diambil dengan pertimbangan yang baik.

Jenderal Youshou menghela napas panjang, lalu dengan sopan mengetuk pintu ruang peraduan Kaisar untuk memberitahukan kedatangan Aiko.

Terdengar suara sahutan Kaisar Shen dari dalam, memerintahkan Aiko masuk. Suaranya datar tanpa emosi, membuat Aiko yang sedang ketakutan menjadi bingung, ingin menebak suasana hati sang Kaisar tetapi tidak bisa menemukan petunjuk. Dihelanya napas pelan mencoba menguatkan hati.

Tadi siang Kaisar Shen nampak benar-benar marah dan mengerikan, beliau bahkan mengatakan akan memenggal Tabib Zhou. Suara teriakan, bentakan dan ekspresi wajahnya bahkan masih diingat oleh Aiko, membuatnya begidik tanpa sadar.

Sekarang sang Kaisar memanggilnya ke dalam ruang peraduannya, berdua saja…

Apakah malam ini Kaisar Shen akan meluapkan kemarahannya kembali?

Jenderal Youshou membukakan pintu untuk Aiko dan kembali menghadiahkan senyum lembut menguatkan. Entah kenapa melihat Aiko yang tampak ketakutan seperti itu memunculkan rasa peduli di benaknya. Aiko masih begitu kecil, membuat siapapun sadar bahwa anak perempuan ini masih membutuhkan perlindungan dari orang-orang dewasa yang lebih bijaksana di sekelilingnya. Tiba-tiba Jenderal Youshou merasa seperti memiliki seorang adik perempuan yang polos dan ingin melindunginya.

Walau begitu, Jenderal Youshou berusaha mempercayai kembali integritas Kaisar Shen. Meskipun kemarin dia sempat meragukan beliau menyangkut kebohongan mengenai ritual bersalaman dengan bibir, dalam hatinya dia tetap percaya bahwa Kaisar Shen tidak akan merusak Aiko sebelum waktunya. Yang Mulia Kaisar sudah menunggu bertahun-tahun lamanya untuk bertemu dengan Aiko, dan menunggu sedikit lebih lama lagi rasanya tidak masalah.

“Masuklah, Kaisar tidak akan marah padamu.” Bisik Jenderal Youshou pelan, mencoba meredakan rasa takut yang nampak nyata di wajah Aiko.

Aiko menelan ludah, lalu mengangguk ke arah Jenderal Youshou. Pelan-pelan dia memasuki ruang peraduan Kaisar Shen, dan membiarkan Jenderal Youshou menutup pintu di belakangnya.

“Hamba datang menghadap, Yang Mulia Kaisar.” Aiko langsung berlutut, memberi hormat.

Kaisar Shen yang berada di balik meja memberi isyarat dengan tangan, supaya Aiko bangun dari berlututnya dan mendekat ke arahnya. Jemarinya menunjuk ke karpet yang ada di seberang meja, dan meminta Aiko duduk di sana.

Hal yang paling mencolok di kamar peraduan Kaisar Shen ini memang bukanlah tempat tidurnya. Tempat tidur Kaisar Shen malah bisa dibilang sederhana, berbentuk kotak berukir dari bahan kayu berkualitas dan berada di bagian sudut ruangan, bagian paling gelap dan paling nyaman. Sepertinya memang disengaja peraduan Kaisar disembunyikan di sudut untuk menciptakan nuansa damai sebelum beristirahat.

Bagian yang paling mencolok di dalam ruangan ini tentu saja karpet berwarna emas menyala yang menghampar di tengah ruangan. Karpet itu besar, tebal dari bahan seringan bulu, sangat nyaman dipakai duduk karena ketebalan dan kelembutannya hampir menyerupai busa lembut yang lentur.

Tepat di bagian tengah karpet itu, terdapat meja rendah berwarna emas dengan ukiran naga yang dibuat dengan detail sempurna melingkari kaki-kaki meja. Meja itu merupakan tempat kaisar menyelesaikan pekerjaannya sebelum beristirahat. Biasanya Kaisar Shen akan duduk bersila di atas karpet, lalu menyelesaikan berkas-berkas yang ditumpuk di mejanya.

Penuhnya berkas-berkas pekerjaan milik Kaisar di meja rendah itu memang menjadi ciri khas lain yang dihapal oleh Aiko setiap memasuki ruang peraduan Kaisar. Tetapi malam ini, ciri khas itu tidak ada. Berkas-berkas itu tersapu bersih entah kemana, menyisakan meja emas berukir polos tanpa apapun di atasnya.

Dengan patuh Aiko melangkah pelan dan duduk berlutut di tempat yang ditunjuk oleh Kaisar Shen, di sisi meja yang satunya. Mereka berdua duduk berhadapan, sementara bagian tengah dipisahkan oleh meja rendah berukir naga.

Posisi ini berbeda dengan posisi duduk mereka biasanya, dimana Kaisar selalu menyuruh Aiko duduk di hadapannya langsung tanpa pembatas meja. Entah kenapa malam ini seolah-olah Kaisar Shen sengaja memisahkan mereka berdua dengan meja itu sebagai pembatasnya.

Suasana kamar begitu hening, dan cahayanya tampak lebih redup dari sebelumnya, seolah mencerminkan suasana gelap di luar kamar, di mana bulan juga memilih bersembunyi di balik kabut langit. Aiko melirik ke sekeliling  mencari penyebab nuansa kamar ini berubah lebih gelap dan menyadari bahwa tidak semua lentera kamar dinyalakan. Beberapa lentera yang berada di dekat peraduan Kaisar Shen dipadamkan, membuat suasana di sudut sana lebih misterius.

Kaisar Shen melepaskan topengnya dan meletakkannya di meja, tersenyum ketika melihat reaksi Aiko yang sekarang biasa saja ketika melihatnya tidak memakai topeng. Sepertinya perempuan itu sudah tidak begitu takut lagi kepadanya, jauh lebih baik dari pertama kali mereka bertemu.

Mata keemasannya mengikuti arah pandangan Aiko yang masih terpaku ke arah peraduannya,  dan tersenyum lembut menyadari apa pertanyaan yang muncul di benak Aiko.

“Aku memerintahkan pelayan memadamkan beberapa lentera, terutama yang di dekat peraduan. Biasanya sebelum pergi berperang aku membutuhkan istirahat yang tenang dalam kegelapan.” Kaisar Shen King memberi penjelasan tanpa diminta. Membuat Aiko hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, senang mendapat jawaban tetapi tidak tahu harus menanggapi bagaimana.

Suasana kamar yang berbeda ini membuat Aiko makin gugup, apalagi penampilan Kaisar Shen malam ini berbeda dengan biasanya. Yang Mulia Kaisar tidak memakai jubah kekaisaran resminya yang megah, melainkan hanya mengenakan pakaian sutera satu lapis yang sederhana, membuat beliau tampak santai sekaligus berbeda.

“Aku memanggilmu ke peraduanku untuk memperbincangkan hal yang serius. ” Kaisar Shen berucap, memecah keheningan di antara mereka berdua.

Aiko sekali lagi hanya menganggukkan kepala, menunduk dan menyatukan kedua jemarinya di pangkuan dengan gugup. Dia tahu, Kaisar akan membicarakan buku itu. Jantungnya berdegup, penuh antisipasi.

Malam ini sepertinya Kaisar Shen tidak sedang marah, menilik ekspresi dan suaranya yang lembut. Tetapi tetap saja Aiko merasa takut, emosi Kaisar Shen tidak bisa ditebak dan Aiko takut kalau tiba-tiba saja kemarahan Kaisar terpancing lagi.

“Buku itu.” Kaisar Shen memulai, suaranya berubah serius, “Seharusnya kau belum boleh membacanya. Aku akan memperingatkan Tabib Zhou karena memberikan buku itu kepadamu.”

Aiko sedikit takut mendengar kata ‘memperingatkan’ yang muncul dari bibir Kaisar Shen. Ya, dia tahu kata ‘memperingatkan’ bisa berupa apa saja, bisa teguran halus, hukuman fisik… atau jika dalam kasus ini, bisa saja berupa hukuman pemenggalan kepala.

Membayangkan hal itu membuat Aiko begidik ketakutan dan tanpa sadar langsung mendongakkan kepalanya, menatap Kaisar Shen dengan cemas, “Anda… anda tidak akan menghukum Tabib Zhou bukan?” mata Aiko bertatapan dengan mata Kaisar Shen yang entah kenapa langsung menyipit tajam, membuatnya tidak mampu menantang dan langsung menundukkan kepalanya kembali mengucapkan pembelaannya lirih dan tak yakin dari bibirnya, “Maksud saya… mungkin Tabib Zhou hanya ingin saya belajar dan beliau tidak punya maksud jahat…”

“Kenapa kau membela Tabib Zhou, Aiko?” Kaisar Shen menyela, suaranya terdengar begitu tajam seolah hampir marah. Ekspresinya tampak seolah-olah Aiko telah menamparnya, “Apakah kau menyukainya? Karena dia tampan dan begitu ramah?”

Aiko menelan ludahnya gugup mendengar pertanyaan Kaisar Shen. Entah kenapa dia merasakan ada kemarahan di sana, sedang menggeliat pelan mencari jalan keluar. Nada suara Kaisar Shen yang tadinya begitu tenang berubah menjadi menusuk dan membuat bel peringatan di dalam benaknya berbunyi. Biasanya kalau sudah seperti ini, sebentar lagi kaisar Shen akan meledak marah….

Entah apa penyebabnya, tetapi suasana hati kaisar tiba-tiba berubah menjadi tidak mengenakkan.

Aiko mengerutkan kening bingung, tidak menemukan jawaban atas pertanyaannya. Dia lalu melirik Kaisar hati-hati, dan menyadari bahwa Kaisar Shen masih menatapnya dengan mata emas yang tajam, menanti jawabannya.

Aiko langsung menggeleng-gelengkan kepalanya. Diingat-ingatnya pertanyaan Kaisar Shen tadi dan entah kenapa dia merasa geli.

Ya Ampun! Bagaimana mungkin Kaisar Shen bertanya apakah dia menyukai Tabib Zhou? Dalam benaknya sama sekali tidak ada pikiran tersebut apalagi kepada lawan jenis. Aiko hanya menganggap Tabib Zhou layaknya seorang guru, dan dia mengagumi pengetahuan Tabib Zhou tentang obat-obatan. Ilmu tentang obat-obatan adalah di bidang yang Aiko sukai dan Tabib Zhou memiliki ilmu yang mumpuni. Sayang sekali bukan seseorang dengan keahlian begitu berharga harus dipenggal hanya karena meminjamkan buku kepada Aiko?

Atau mungkin Kaisar Shen marah bukan karena menganggapnya menyukai Tabib Zhou. Pandangan Yang mulia pasti lebih menyangkut pekerjaannya secara umum, mungkin Yang Mulia Kaisar Shen marah karena menganggap Aiko bermain-main dan tidak serius dengan pekerjaannya.

Pemikiran itu membuat Aiko terdorong menjawab dengan panik, dia tidak mau dituduh lalai dalam bekerja padahal selama ini dia menjalankan tugas-tugasnya sepenuh hati dan sebaik mungkin, “Tidak Yang Mulia.” Aiko menggelengkan kepalanya dengan sungguh-sungguh, “Sama sekali tidak pernah ada di benak hamba untuk tertarik kepada lawan jenis manapun seperti Yang Mulia maksud, hamba sungguh menghormati Tabib Zhou sebagai seorang guru yang memiliki banyak pengetahuan.”

Ekspresi wajah Kaisar berubah ketika mendengar jawaban Aiko, entah apa yang ditemukannya di kalimat jawaban Aiko itu,  tampaknya dia sudah tidak tertarik lagi mengenai Tabib Zhou dan lebih tertarik dengan kata-kata yang diucapkan oleh Aiko.

“Kau tadi bilang tidak tertarik kepada lawan jenis manapun?” sela sang Kaisar langsung, menyimpan nada penasaran di sana.

Aiko menatap Kaisar Shen, kali ini bingung karena kemarahan yang tersimpan di dalam ekspresi wajah dan suara Yang Mulia bisa musnah begitu cepat, sekarang ekspresi kaisar  berganti menjadi rasa tertarik dan ingin tahu.

“Benar Yang Mulia.” Aiko menjawab dengan sungguh-sungguh, “Saya sama sekali tidak tertarik dengan lawan jenis manapun.” Suara Aiko terdengar pasti, karena memang dia jujur. Lagipula dia tidak mau dianggap oleh Kaisar tidak bekerja dengan baik karena lebih tertarik  dengan laki-laki daripada melakukan pekerjaan yang sudah menjadi kewajibannya.

Kaisar Shen menyipitkan matanya, menatap Aiko dengan tatapan mata menyelidik,

“Tidak ada satupun? Sama sekali? Kau yakin?” tanyanya lagi.

“Tidak ada sama sekali Yang Mulia.” Kali ini Aiko menjawab tegas, dengan ekspresi yang mantap supaya Kaisar Shen benar-benar yakin, mungkin Kaisar Shen curiga dirinya berbohong, karena itulah beliau bersikap menyelidik seperti itu.

Aiko menatap Kaisar Shen dan menemukan gurat kekecewaan di sana setelah mendengar jawabannya. Hal itu diluar dugaan Aiko, membuatnya semakin kebingungan hingga ingin menggaruk  kepalanya dengan frustrasi.

Aiko benar-benar bingung, jawaban terbaik yang diberikannya sepertinya tidak ada yang bisa membuat Kaisar Shen merasa senang. Dan melihat gurat kekecewaan di wajah Kaisar Shen, kemungkinan besar dia kembali salah memberikan jawaban.

“Hamba mohon maaf jika ada kata-kata hamba yang tidak berkenan Yang Mulia.” Aiko membungkukkan tubuh memberi hormat, tiba-tiba saja merasa takut karena telah mengecewakan Kaisar Shen.

Kaisar Shen menghela napas panjang, dan kemudian ketika berucap, suaranya terdengar lembut.

“Tidak, tidak apa-apa. Angkat kepalamu lagi.” Kaisar Shen memberi perintah, membuat Aiko menurutinya. Mereka berdua saling bertatapan, mata gelap polos dengan mata emas yang sedang berusaha bersikap bijaksana.

Kaisar Shen berdehem, “Kita kembali ke masalah buku itu. Buku mengenai …. hmm apa katamu tadi siang?”

“Buku mengenai cara membuat bayi?” Aiko menjawab polos, mengutarakan apa yang ada di benaknya tanpa menyadari bahwa kata-katanya membuat Kaisar Shen salah tingkah.

“Ah, ya… buku mengenai cara membuat bayi.” Sekali lagi Kaisar Shen berdehem, “Sampai dimana kau membaca buku itu?”

“Semuanya.” Aiko langsung menyahut lugas, tiba-tiba merasa malu dengan jawabannya karena gambar demi gambar buku yang dibacanya itu langsung berkelebat di benaknya. Gambar sosok dua mahluk telanjang berbeda jenis dengan bagian-bagian tubuh yang aneh dan mengerikan…..

Tiba-tiba saja pipi Aiko memerah, terasa panas membuatnya ingin lari saja dan bersembunyi.

Sementara Kaisar Shen sendiri terlalu tercengang untuk menyadari betapa malunya Aiko karena pembahasan buku ini. Dalam hati, Shen King mengutuk berkali-kali nama Tabib Zhou.

Dia tahu buku itu tentu saja. Buku itu dulu dipinjamkan oleh Tabib Zhou kepadanya di usianya yang ke tujuh belas tahun, ketika pertama kali dirinya mengangkat selir untuk perayaan bulan merah.

Memang kejadian itu sudah lama sekali, sepuluh tahun yang lalu. Tetapi Kaisar Shen masih ingat samar-samar akan betapa vulgarnya buku itu, penuh gambar dan detail-detail yang tidak diperhalus sama sekali.

Entah buku ini buku yang sama atau tidak, tetapi Shen King yakin kalau koleksi buku panas Tabib Zhou pasti tidak akan jauh-jauh dari yang seperti itu.

Buku sialan itu….

Shen  King berpikir Tabib Zhou sudah lama membuang atau mungkin sudah kehilangan buku-buku semacam itu. Tidak disangkanya Tabib mesum kurang ajar itu masih menyimpan buku panas tersebut, dan meminjamkannya kepada Aiko pula!

Dan sekarang, disinilah dia, seorang Kaisar kerajaan besar yang sedang mencoba memberikan pelajaran pendidikan seks kepada anak polos di depannya. Dia harus melakukan ini gara-gara perbuatan Tabib Zhou yang tidak  bertanggung jawab, meninggalkannya di sini dengan Aiko yang bingung dan ketakutan.

“Aku ingin kau tidak menelan mentah-mentah buku itu.” Shen King mencoba mengeluarkan suaranya yang paling bijaksana, “Proses membuat bayi, bukanlah sesuatu yang bisa ditulis dan dijabarkan dengan gambar. Itu membutuhkan perasaan, jalinan untuk saling melengkapi satu sama lain.”

Aiko mengerutkan kening, tidak mengerti dengan penjabaran Kaisar Shen yang puitis,

“Maksud Yang Mulia, prosesnya tidak mengerikan seperti di gambar itu?”

Shen King tersenyum lembut mendengar pertanyaan polos itu, “Tidak Aiko. Tidak mengerikan seperti itu. Percayalah, ketika kau sudah siap nanti, kau akan merasa senang dengan prosesnya.”

Jawaban sang Kaisar terdengar seperti janji, dan tanpa sadar membuat Aiko merasakan perasaan aneh, ada debaran kecil di jantungnya, membuatnya tanpa sadar menghela napas pendek-pendek.

Shen King melipat jemarinya di meja, mengamati Aiko yang tampak tersipu dan tiba-tiba merasakan dorongan untuk meraih perempuan itu dan menciumnya. Tetapi dia menyimpan dorongan itu, berusaha menahan diri.

Karena itulah dia menyuruh Aiko duduk di depannya, supaya mereka terhalang meja rendah ini dan membuatnya tidak bisa meraih Aiko begitu saja. Kalau saja meja itu tidak ada, Shen King pasti sudah meraih tubuh Aiko, membawanya ke pelukannya dan menciumnya tanpa ampun.

Shen King sadar bahwa dirinya harus bersabar menghadapi Aiko, lagipula dia masih berhutang penjelasan kepada Aiko mengenai apa yang terjadi sebelumnya di antara mereka.

Buku itu memberikan pengetahuan baru kepada Aiko. Sudah pasti perempuan itu bertanya-tanya apa sebenarnya yang dilakukan Kaisar kepadanya dan kenapa dirinya melakukannya.

“Kau bertanya-tanya bukan karena kemarin aku pernah menciummu sampai beberapa kali?” Shen King kembali membuka percakapan, dan sedikit malu ketika Aiko menatapnya dengan tatapan mata menuduh yang polos.

Ya, Aiko hanya berani melakukan itu, menatapnya dengan tatapan menuduh yang polos, dan tidak berani berkata-kata. Shen King yakin jika dirinya bukanlah Kaisar, pasti Aiko akan langsung memberondongnya dengan berbagai pertanyaan.

“Berciuman Itu memang termasuk salah satu proses membuat bayi.” Shen King menatap Aiko yang malu-malu dengan lembut, “Tetapi tujuanku menciummu bukanlah untuk membuat bayi.” Shen King mengernyit, “Setidaknya bukan sekarang…. maksudku, aku menciummu karena aku menyayangimu.”

Aiko terkesiap, kalimat terakhir kaisar mengusik kedalaman hatinya, membuatnya mendongakkan kepala lalu menatap Kaisar Shen dengan mulut ternganga.

Menyayanginya? Kaisar Shen menyayanginya?

Aiko mengerutkan keningnya, mencoba menelaah arti dari kata-kata sang Kaisar. Hatinya senang, tentu saja dia senang, rakyat jelata mana yang tidak senang ketika seorang kaisar, orang paling mulia di kerajaan Shasou tiba-tiba mengatakan bahwa beliau menyayanginya.

Tapi rasa sayang yang seperti apa yang kaisar maksud?

“Saya tahu maksud Yang Mulia.” Sebuah ide terlintas di kepala Aiko, membuatnya tersenyum, pasti itu jawabannya,  “Maksud Yang Mulia pasti menyayangi saya sebagai ayah dan anak.”

Mata Kaisar Shen membelalak mendengarkan perkataan Aiko, gerahamnya mengetat gusar ketika menyanggah. Ada rasa tersinggung di benaknya, Aiko memang masih sangat muda dan selisih usianya jauh dari dirinya, tetapi bukan berarti pula dia pantas disebut sebagai ayah Aiko bukan?

“Bukan sebagai ayah dan anak, Aiko.” Shen King menyahut dengan jengkel.

Aiko mengerutkan keningnya,  bingung karena ternyata dirinya salah, tanpa sadar mulut mungilnya mempertanyakan pemikiran lain yang tiba-tiba muncul di benaknya, “Kalau begitu, ampun Yang mulia, mungkin menyayangi sebagai seorang paman?”

“Bukan,” Shen king menipiskan bibirnya, menahankan kesabarannya, suaranya kembali terdengar galak, “Bukan itu semua.”

Rasa frustrasi merayapi benak Kaisar Shen. Dan diapun mulai menimbang-nimbang.

Kalau dirinya mengatakan kepada Aiko, bahwa dia mencintai perempuan itu, berhasrat bersamanya, ingin memilikinya dan lain sebagainya, akankah Aiko mengerti?

Shen King menghela napas panjang, menemukan dengan mudah jawaban atas pertanyaannya sendiri.

Sepertinya Aiko tidak akan mengerti.

Shen King menghela napas panjang. Menyerah. Masalah cinta orang dewasa ini, dia akan membahasnya nanti karena sepertinya Aiko juga tidak akan mengerti. Sekarang, dia ingin memberikan penjelasan kepada Aiko, sebuah penjelasan yang masuk akal, sehingga Aiko tidak akan menganggapnya sebagai pria hidung belang yang suka melecehkan anak-anak gadis di bawah umur.

“Apakah kau bisa membantuku?” Shen King tiba-tiba berdiri, melangkah ke bagian sudut kamar yang redup di dekat peraduannya, memberi isyarat supaya Aiko juga mengikutinya berdiri.

Aiko pun mengikuti berdiri dengan ragu-ragu. Bingung ketika jemari Kaisar Shen tiba-tiba bergerak melonggarkan ikat pinggang kain yang mengikat jubah suteranya. Kaisar Shen menoleh sedikit kepada Aiko, melemparkan tatapan tak terbaca,

“Kemari.” Jemarinya terulur dan tatapannya menghipnotis, membuat Aiko mau tak mau melangkah ke depan Kaisar, bingung hendak berbuat apa.

“Bantu aku menurunkan bagian atas jubahku.” Kaisar Shen merentangkan tangannya ke samping, seperti yang biasanya dilakukan olehnya ketika para pelayan membantunya melepaskan pakaian.

Aiko menelan ludahnya gugup. Dia masih belum percaya Kaisar memintanya melakukan tugas mulia ini. Membantu Kaisar melepas dan memakai busananya adalah pekerjaan yang hanya bisa dilakukan oleh pelayan pribadi Kaisar. Untuk menjadi pelayan pribadi Kaisar pun, mereka harus memiliki kualifikasi terbaik dan mampu bersaing dengan ribuan kandidat lainnya.

Mungkin sekarang Kaisar Shen ingin berganti pakaian sebelum beristirahat, Aiko menyimpulkan dan merasa senang karena dirinya ada di sini dan bisa membantu Kaisar. Jemari Aiko pun kemudian gemetar mengikuti perintah,  meraih lengan jubah Kaisar Shen. Tangannya bergerak lemah menurunkan jubah itu dari lengan Kaisar Shen. Prosesnya mudah karena Kaisar Shen sendiri telah melonggarkan ikat pinggang kain yang melingkari pinggangnya.

Salah satu jubah itu, yang di sebelah kiri telah berhasil di lepas, dan lolos melalui lengan Kiri Kaisar Shen. Mata Aiko tanpa sengaja menapak di bagian dada telanjang Kaisar Shen dan terkesiap ketika menemukan pemandangan tak terduga di depannya.

Di sana, di dada kiri Kaisar Shen yang telanjang, ada bekas luka besar yang mengerikan. Memanjang dari dekat jantung ke arah tulang rusuknya.

Memang bekas luka itu sudah sembuh sepenuhnya, tetapi tetap saja, karena Aiko memiliki pengalaman sebagai tabib yang menyembuhkan luka, dia tahu bahwa luka ini dulunya adalah luka besar serius yang bisa menyebabkan kematian.

Aiko mendongakkan kepala, menatap Kaisar tanpa bisa menyembunyikan keterkejutannya, hanya untuk menemui bahwa Shen King sedang menatapnya dengan lembut.

“Kau tidak ingat?” bisikan itu diucapkan pelan, terasa mistik dan mengalirkan nuansa berat yang tiba-tiba memenuhi ruangan.

Aiko mengedipkan mata bingung, merasa susah berkonsentrasi, entah karena suasana kamar yang redup, atau entah karena aroma tubuh Kaisar yang berada begitu dekat dengannya. Aroma tubuh Kaisar tercium harum, bagaikan rempah-rempah manis yang berpadu dengan segarnya aroma kayu cendana yang menenangkan.

“Ampun Yang Mulia? Ingat tentang apa?” tanyanya bingung, tidak mampu berpikir.

Kaisar Shen mengambil jemari Aiko pelan, dan merasa senang menemukan bahwa gelang batu safir pemberiannya, tanda bahwa Aiko miliknya, masih terpasang di pergelangan tangan mungil itu.

Dibawanya pergelangan tangan Aiko ke bibirnya, dan dikecupnya dengan lembut. Setelah itu dia meletakkan jemari Aiko ke dadanya, di atas bekas lukanya, dan menangkupkan telapak tangannya sendiri membungkus tangan Aiko yang mungil.

“Mungkin kau lupa, tetapi aku tidak akan pernah lupa.” Senyum Kaisar Shen tampak lembut ketika melanjutkan, “Kau adalah penyelamat nyawaku.”

Mata Aiko melebar mendengar kalimat itu, “Saya….. apa?” ulangnya, tak mampu menahan rasa bingung.

Kaisar tersenyum sabar, “Enam tahun lalu, di usiamu sepuluh tahun, kau tersesat di dalam hutan dan menemukanku yang terluka di tepi sungai. Kau menyelamatkan nyawaku dengan memberikan kunyahan daun Kusuri ke lukaku, menghentikan pendarahan fatal yang mungkin akan berakibat lebih parah.”

Aiko mengerjapkan matanya, ingatannya memang samar, tetapi ketika Kaisar Shen menyebutkan dirinya mengunyah daun kusuri, daun kusuri yang luar biasa pahit itu, semua kenangan langsung membanjirinya, berawal dari kenangan rasa pahit pekat mengerikan yang membilas rongga mulutnya, menuju ingatan akan seorang bangsawan terluka di tepi sungai yang diobatinya.

Aiko mengangkat kepalanya, terkesiap, “Yang Mulia tidak mengenakan topeng waktu itu….” gumamnya pelan, masih merasa tidak yakin.

Kaisar Shen tersenyum, “Aku membawanya, tetapi melepasnya karena aku kesusahan bernapas dengan luka menganga seperti itu.”

Kaisar Shen melepaskan pegangannya dari Aiko, dan membalikkan badan, jemarinya membuka sebuah kotak emas berhiaskan berlian yang tersimpan di dalam kotak penyimpanan  yang berada di lemari samping ranjang sang Kaisar. Shen King mengeluarkan sesuatu di dalamnya, sesuatu yang berwarna merah muda dan kecil, terlipat rapi dan dijaga baik-baik.

“Ini saputanganmu, aku membawa dan menyimpannya selama ini, untuk mengingatkan pada diriku sendiri, bahwa napasku ini kuperoleh dengan berhutang pada pertolonganmu.”

Shen King mengangsurkan sapu tangan itu ke telapak tangan Aiko sementara Aiko menatap apa yang ada di dalam genggamannya dengan terpana.

Tidak salah lagi, ini adalah saputangan hadiah dari ibunya yang hilang setelah kejadian itu.

Aiko menatap  kembali dada Kaisar Shen tempat bekas luka itu berada, lalu menatap mata Kaisar dengan takjub,

“Yang Mulia pada akhirnya bertahan…. Yang Mulia selamat.” serunya tak percaya, senyumnya melebar, “Ah… Ya ampun. Saya… saya masih tidak percaya…” Aiko sedikit terhuyung mundur ke belakang, masih tidak bisa membercayai informasi tiba-tiba yang didapatkannya ini, “Hamba senang sekali ternyata pertolongan yang hamba berikan itu berguna.”

Lelaki bangsawan itu ternyata adalah seorang Kaisar. Ternyata Shen King sendiri yang diselamatkan olehnya malam itu….

“Sangat berguna. Kau menyelamatkan nyawaku, tanpa pertolonganmu aku pasti sudah mati. Karena itulah aku berhutang nyawa kepadamu.” Shen King melangkah mendekat, mengangsurkan jemarinya ke pipi Aiko, “Sebagai balasannya, aku berjanji akan melindungimu dengan nyawaku dan akan melakukan apapun untuk membuatmu bahagia, Aiko.”

Aiko mengerjapkan matanya, bingung. Dia tidak butuh diberikan apapun. Untuk rakyat jelata sepertinya, bisa memperoleh kesempatan menyelamatkan nyawa Kaisar saja sudah luar biasa. Kisah ini akan diceritakannnya pada anak cucunya nanti, supaya menjadi cerita turun temurun yang mengisahkan dirinya pernah berjasa menyelamatkan Sang Kaisar yang begitu mulia.

Mata Kaisar Shen meredup, dia menangkup pipi Aiko, menundukkan kepala hendak mencium bibir ranum itu. Tetapi lagi-lagi tangan Aiko menahan dadanya, membuat gerakannya terhenti.

“Y..Yang Mulia… buku… ” Aiko mengingatkan tentang buku itu, membuat Kaisar Shen tersenyum masam. Buku sialan itu membuatnya tidak bisa menyentuh Aiko sesuka hati.

“Kita akan membahas tentang buku itu nanti. Kau bisa menanyakan apapun yang ingin kau tanyakan mengenai buku itu kepadaku nanti dan aku akan berusaha menjawabnya.” Shen King memejamkan matanya, nampak lelah, “Yang pasti aku ingin kau mengerti bahwa apa yang tertulis di buku itu tidak semuanya benar.”

Aiko menganggukkan kepala. Meski sebenarnya ada beberapa pertanyaan yang ingin dia suarakan tetapi tidak berani, seperti kenapa waktu itu Kaisar menggigitnya dan lain sebagainya. Aiko mengurungkan niatnya bertanya karena dilihatnya Kaisar Shen yang nampak lelah.

Aiko pun menawarkan diri untuk meninggalkan ruangan, “Yang Mulia, hamba mohon diizinkan untuk meninggalkan ruangan, supaya Yang Mulia bisa beristirahat.” gumamnya pelan.

Kaisar Shen membuka matanya kembali, lalu menggelengkan kepalanya,

“Tidak.” gumamnya tegas, membuat Aiko mengerutkan keningnya bingung.

Shen King menghela napas panjang, “Aku masih ingin bersamamu. Bercakap-cakap denganmu.” Shen King berucap lelah, menarik kembali jubahnya yang diturunkan dan memakainya di lengannya kembali, lalu merapikan kain yang mengikat pinggangnya.

Sang Kaisar melangkah ke karpet emas, duduk di belakang meja dan memberi isyarat supaya Aiko kembali ke tempatnya. Dia memastikan bahwa niatnya malam ini memang hanya ingin ditemani oleh Aiko tanpa berbuat hal-hal yang diluar semestinya.

Shen King sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk menahan diri, tidak akan mencium atau mencumbu Aiko dengan cara curang lagi supaya Aiko tidak kebingungan.

Dia akan mencoba bersabar. Bersabar sampai Aiko siap menerimanya. Untuk sekarang, dirinya akan memuaskan diri mencuri waktu sebanyak-banyaknya supaya bisa selalu berdekatan dengan Aiko.

“Besok kita akan berangkat ke area perbatasan utara, ke medan perang, dan setiap aku akan berangkat, aku selalu merasa tegang di malam sebelumnya, sehingga tidak bisa tidur.” Mata Kaisar Shen menatap mata Aiko dalam-dalam, “Jadi aku ingin ditemani untuk bercakap-cakap.”

Aiko langsung membungkukkan tubuh menghormat mendengar titah itu, “Baik Yang Mulia. Hamba akan melaksanakan kehendak Yang Mulia.”

***

Aiko mengantuk.

Dengan sekuat tenaga dia menahan matanya yang mulai berkunang-kunang, mencoba membelalakkan matanya lagi, tetapi secara otomatis matanya langsung menutup. Begitu terus berkali-kali. Seolah matanya memprotes ingin diistirahatkan dan ingin bebas untuk terpejam dalam damai.

Tetapi tentu saja dia tidak bisa.

Kaisar Shen tampak masih segar bugar, seolah-olah Yang Mulia memang terbiasa tidak tidur. Beliau juga ternyata menahan Aiko di kamar ini bukannya untuk bercakap-cakap. Yang dilakukan Yang Mulia Kaisar Shen adalah mengeluarkan peta kerajaan Shasaou, menggelarnya di meja, lalu merenung dalam diam, seolah-olah memikirkan strategi pertahanan kerajaan Shasou dalam menghadapi musuhnya nanti, di dalam hatinya.

Sementara itu Aiko dibiarkan berlutut sendirian di situ tanpa suara sambil menahan rasa kantuk luar  biasa yang sedang merayapinya.

Bulan sepertinya sudah bergulir meski masih enggan turun dari peraduannya. Dini hari sudah hampir terlampaui menit demi menit, sementara Aiko masih berlutut di sana, menahan rasa kantuknya yang luar  biasa. Kepalanya tertunduk, makin lama makin dalam, dan tubuhnya terasa melayang, oleng ke depan makin kehilangan kesadarannya.

Shen King duduk di sana, di seberang meja, menatap dalam diam tubuh Aiko yang semakin lama semakin lunglai. Dia sengaja tidak bergerak dan tidak bersuara karena tidak ingin mengganggu proses Aiko merasuk ke alam mimpi.

Lama-lama tubuh Aiko benar-benar rubuh, kepalanya jatuh miring di atas meja dengan posisi masih berlutut. Anak perempuan itu pun tertidur dengan pulasnya.

Ada senyum geli muncul dari bibir Shen King ketika menyadari bahwa Aiko, meskipun bertubuh seperti perempuan yang sudah siap, kadangkala benar-benar tampak seperti anak kecil.

Dengan gerakan pelan, Kaisar bangkit dari duduknya, lalu memutari meja ke arah Aiko yang sedang tertidur. Dengan hati-hati ditariknya tubuh Aiko yang lunglai dalam nyenyaknya, dan dibawanya ke dalam gendongan.

Shen King lalu membawa Aiko ke peraduan dan membaringkan Aiko di sana. Dirinya masih berdiri di tepi ranjang sambil mengamati Aiko yang bergerak sedikit dengan mata terpejam rapat, mencari posisi nyaman. Setelah menemukan posisi nyaman, Aiko nampak bergelung dan kembali dalam lelapnya.

Shen King ragu sejenak, tetapi pada akhirnya dia ikut membaringkan tubuhnya di ranjang, berdua dengan Aiko. Menggeser tubuh Aiko sedikit lalu berbaring di sisi ranjang yang lain.

Dan entah karena malam ini begitu dingin atau apa, Aiko malah bergerak mendesaknya, mencari kehangatan, lalu melingkarkan tangan dan kakinya serampangan di tubuh Shen King seolah-olah menganggap tubuh Shen King sebagai guling.

Shen King tersenyum ironi melihat tubuh Aiko yang menempel pada dirinya. Tentu saja dia menikmati kehangatan polos yang mencari perlindungan dari kehangatan tubuhnya. Shen King memiringkan tubuhnya, membalas pelukan Aiko kuat-kuat, menenggelamkan tubuh mungil itu ke dalam dekapannya.

“Aku mencintaimu Aiko.”

Sang Kaisar berbisik pelan sambil menunduk di dekat telinga Aiko, sambil mencium pipi dan telinga Aiko lembut. Aiko menggeliat sedikit, mungkin merasa geli, tetapi pada akhirnya perempuan itu malahan semakin mendesak masuk ke dadanya dan memeluknya semakin erat.

Shen King memejamkan matanya, mengeratkan pegangannya di tubuh Aiko, merasakan damai yang membanjiri relung jiwanya.

Tidur seperti ini sambil memeluk Aiko yang terasa begitu mungil dan rapuh dalam dekapannya membuatnya merasa sangat nyaman. Nyaman dan puas.

Selama ini, Shen King selalu bersikap layaknya seorang Kaisar, dididik di usia dini, kemudian menjabat sebagai seorang kaisar di usianya yang masih sangat belia benar-benar membuatnya menjadi pria yang tak berperasaan.

Dia memang suka mengayunkan pedangnya sesukanya jika orang-orang mengecewakannya. Dirinya tak segan berbuat kejam dan mencabut nyawa manusia lain tanpa ampun.

Shen King yang haus darah. Shen King si pencabut nyawa.

Itulah sebutan-sebutan yang diberikan kepadanya, menyangkut kekejamannya.

Ingatannya melayang ke masa itu, ketika dirinya mengayunkan pedang di tengah salju, membantai permaisuri ayahnya, para selir ayahnya dan juga adik-adiknya sendiri.

Ketika itu dirinya mati rasa, membunuh demi balas dendam, balas dendam atas kematian ibundanya yang tak bersalah. Dia pikir dengan menghabisi nyawa mereka semua, dirinya akan terpuaskan.

Sayangnya membunuh bukanlah jalan terbaik untuk membalas dendam. Ketika nyawa terakhir sudah dicabutnya ditengah salju yang berubah menjadi kubangan darah berwarna merah yang menodai putihnya itu, dia tidak mendapatkan kepuasan apa-apa.

Sama sekali tidak bahagia, sama sekali tidak ada rasa puas.

Rasanya hampa, dan dia mati rasa.

Setelah itu Shen King tetap mati rasa, bertahun-tahun kemudian. Hidup tanpa hati dan menjalani hari demi hari menjalankan kewajiban demi kewajibannya sebagai seorang kaisar, layaknya mayat hidup.

 Sampai Aiko muncul dalam kehidupannya.

Aiko telah membuat sisi lain dirinya terbangun. Sisi lain yang telah dimatikannya sejak dia berada di bawah tubuh sang ibunda yang memeluk dan melindunginya, bermandikan darah ibundanya sendiri.

Sisi yang satu mati rasa, sedang sisi yang lain menggeliat ingin menikmati rasa.

Dia ingin memuaskan dirinya bersama Aiko. Dia ingin berbahagia bersama Aiko. Dan dia ingin membuat Aiko menjadi perempuan paling bahagia di dunia.

Shen King berjanji dalam hati, ketika nanti Aiko sudah menjadi permaisurinya, dia akan mengunjungi Aiko setiap malam, bukan hanya untuk bercinta, tetapi juga untuk sekedar berpelukan semalaman.

***

Pagi itu masih gelap, bahkan masih bisa disebut setengah malam ketika Kasim Rojin yang sudah berpakaian rapi untuk berpergian, melalui lorong kecil yang menghubungkan mansion pelayan dengan area peraduan pribadi Kaisar. Tadi pagi Kaisar mengirimkan salah seorang pelayannya untuk memanggil Kasim Rojin supaya datang menghadap

Hari ini adalah hari keberangkatan pasukan perang kerajaan Shasou menuju ke perbatasan utara. Suasana hiruk pikuk penuh antusiasme dari tiga ribu prajurit terdengar riuh rendah di lapangan besar istana emas. Begitu ramainya hingga suaranya masih bergaung, terdengar sampai ke istana  merah.

Kasim Rojin sendiri sudah menyiapkan diri, dia akan mengikuti Yang Mulia Kaisar Shen ke medan perang. Sudah tugasnya sebagai seorang kepala pelayan untuk memastikan kebutuhan Yang Mulia Kaisar Shen terpenuhi meskipun mereka sedang berada di medan perang. Usianya yang sudah tua sama sekali tidak menjadi penghalang, dirinya masih sehat, kuat dan tangkas, mampu melakukan tugas berat seperti apapun.

Kasim Rojin melalui lorong-lorong yang biasanya dilaluinya ketika hendak menuju ruang peraduan Kaisar. Matanya menangkap penjaga yang berjaga semalaman dalam jarak aman dari peraduan Kaisar nampak berdiri tak jauh darinya, dan menganggukkan kepala kepada para penjaga itu, lalu melangkah melalui mereka  menuju ke area utama peraduan Kaisar. Dahinya mengerut ketika melihat pintu ruang peraduan kaisar Shen yang biasanya selalu tertutup rapat sekarang sedikit terbuka.

Dengan penuh rasa ingin tahu, dirinya melangkah ke pintu dan mengintip sedikit, lalu berlutut memberi hormat untuk melaporkan keberadaannya kepada Kaisar Shen yang ternyata sudah berdiri di sana, sudah memakai topeng dan sudah mengenakan jubah berpergian.

Jubah berpergian Kaisar Shen memang nampak lebih sederhana jika dibandingkan dengan jubah kebesaran yang biasa dipakainya di singgasana. Jubah berpergian ini membuatnya tampak elegan dan mewah selayaknya kaisar, sekaligus praktis karena tidak seberat jubah kekaisarannya.

Kaisar Shen memang mengenakan jubah ini dan bukannya mengenakan bajunya sehari-hari karena beliau akan berangkat ke perbatasan utara dengan menaiki kuda. Kaisar Shen tidak pernah mau menaiki tandu. Beliau akan memilih kuda terbaik, lalu ikut dalam iring-iringan pasukannya untuk bersama-sama dengannya maju ke garis depan.

“Yang Mulia Kaisar, saya datang menghadap.” Kasim Rojin buru-buru melaporkan kehadirannya ketika menyadari bahwa dirinya sudah berdiri di situ lama dan melamun.

“Kasim Rojin.” Shen King sedang memasang sepatu berkudanya, dibantu oleh beberapa pelayan ketika dia melihat sang Kasim mengetuk pintu dan berlutut memberi hormat. “Apakah seluruh pasukan sudah siap di lapangan?”

Kasim Rojim memberi hormat dan mengangguk, “Jenderal Youshou saya lihat sudah mulai mengatur pasukan ke dalam bagiannya masing-masing.”

“Begitu.” Shen King rupanya telah selesai berpakaian, dia memberi isyarat kepada kedua pengawalnya untuk meninggalkan ruangan.

“Aku ingin membicarakan tentang Aiko, kau tentu sudah tahu instruksiku kemarin bukan?”

Kasim Rojim membungkuk memberi hormat, “Hamba sudah tahu yang mulia, hamba akan membawa Aiko ke medan perang sebagai salah seorang pelayan laki-laki. Hamba sudah menyiapkan perbekalan dan baju penyamaran sebagai pelayan, untuk Aiko…”

“Aku berubah pikiran.” Kaisar Shen menyela, membuat Kasim Rojin menghentikan kata-katanya dan menatap Shen King dengan bingung.

“Aku tidak akan membawanya ke medan perang sebagai pelayan. Kalau dia kubawa sebagai pelayan, dia akan kelelahan melakukan tugas-tugas yang seharusnya dilakukan oleh kaum lelaki dalam penyamarannya.” Suara Shen King berubah serius, “Lagipula, hanya laki-laki kaum bangsawan yang diperbolehkan memanjangkan rambut di kerajaan ini. Aku tidak mau sampai Aiko harus memotong rambutnya hanya demi penyamaran ini. Karena itu aku memutuskan akan membawa Aiko ke medan perang sebagai kerabatku.”

Shen King tiba-tiba tersenyum masam di balik topengnya karena ingatannya berkelebat pada kata-kata Aiko semalam bahwa dirinya masih pantas disebut sebagai paman Aiko, “Bilang saja pada khalayak bahwa Aiko adalah keponakan jauhku dari salah satu keluarga bangsawan, yang selama ini tidak pernah muncul karena sakit-sakitan, dan sekarang aku membawanya ke medan perang untuk mengajarinya. Dia akan tidur di dalam satu tenda yang sama denganku di medan perang nanti.”

Kasim Rojim membungkuk memberi hormat, “Baik Yang Mulia, kebetulan kami memiliki pakaian-pakaian sutera kualitas terbaik untuk laki-laki berukuran kecil yang merupakan hadiah dari negara-negara tetangga. Perkiraan hamba, pakaian tersebut ada satu peti banyaknya, saya akan memerintahkan para pelayan untuk menyiapkannya.

Shen King mengangguk, “Siapkan juga Aiko, dia mungkin belum mengetahui perubahan rencana ini.”

Kasim Rojin mengangguk memberikan persetujuan, “Saya belum memberitahukan kewajiban menyamar ini kepada Aiko, Yang Mulia. Aiko hanya tahu bahwa dirinya akan dibawa ke medan perang sebagai perisai perempuan.” Kasim Rojin mengerutkan kening, “Tadi ketika lewat saya mengetuk pintu kamar Aiko tetapi belum ada jawaban, mungkin dia masih tidur pulas, nanti begitu saya kembali saya akan…”

“Dia ada di sini.” Shen King menyela dengan tenang, ekspresinya tentu saja tidak terbaca ketika berkata karena tersembunyi di balik topeng, membuat Kasim Rojim kebingungan.

“Ampun Yang Mulia, apa maksud Yang Mulia?” Kasim Rojin memberanikan diri mengajukan pertanyaan, karena begitu Kaisar Shen mengatakan bahwa Aiko ada di sini, dia langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling, dan tidak menemukan sosok Aiko di sana.

“Di peraduanku.” Kaisar Shen bergumam santai, membuat wajah Kasim Rojin pucat pasi, seperti seorang ayah yang anaknya dinodai oleh orang lain tanpa sepengetahuannya.

Matanya langsung menyambar ke arah peraduan Kaisar dan memperhatikan dengan seksama, lalu menemukan lengan mungil itu, terlihat samar-samar tertutup selimut.

Rupanya Kaisar Shen sengaja menutupi tubuh Aiko dengan selimut ketika para pelayan laki-laki datang untuk membantu Kaisar Shen berpakaian.

Kasim Rojin menatap sang Kaisar dengan cemas, mencoba untuk memastikan kembali,

“Apakah anda yakin kedua pelayan pribadi  anda tadi tidak menyadari kehadiran Aiko di atas peraduan anda?”

Shen King yang sedang menyiapkan pedangnya sama sekali tidak menoleh, tidak mempedulikan kecemasan yang muncul di wajah Kasim Rojim

“Tidak. Aku menyembunyikannya di bawah selimut.” Jawabnya tenang, mengambil pedang bermata safir miliknya dan mengayunkannya tenang sambil melemaskan lengannya, lalu menyimpan pedang itu di pinggangnya, “Jangan bangunkan dia kasim Rojin. Aku pikir Aiko butuh istirahat yang cukup sebelum nanti kita berangkat melakukan perjalanan berat dan panjang.”

Kasim Rojin mengangguk. Dirinya menatap ragu ke arah Kaisar Shen yang bergerak ke pintu, hendak meninggalkan kamar peraduannya.

“Yang Mulia.” kata-kata itu akhirnya diberanikannya untuk muncul dari bibirnya, “Apakah  anda semalam….” suaranya tercekat di tenggorokan, tidak berani melanjutkan.

Pertanyaanya membuat langkah kaki Shen King berhenti, tanpa perlu dilanjutkanpun Kaisar Shen pasti tahu apa yang ingin ditanyakan oleh Kasim Rojin.

“Tidak, kasim, aku tidak menidurinya kalau itu yang kau maksud. Aku sudah bertekad hanya akan melakukan itu ketika Aiko sudah menjadi permaisuriku.” Jawabnya Shen King terdengar tenang.

Dan meskipun wajahnya tertutup topeng, Kasim Rojin bisa mendengar ada senyum di dalam suara Sang Kaisar.

186 Komentar

  1. Emang sanggup melakukan “itu” setelah Aiko jd permaisuri??? ??

  2. Airaqyoung1215 menulis:

    :kisskiss :kisskiss :kisskiss cennnkingggg :kisskiss :kisskiss :kisskiss

  3. Termantull sihh kaisarrr :kisskiss :kisskiss

  4. Helga Veronica menulis:

    ini aiko bnr deh polosnya buat greget

  5. Kaikou Nezumi menulis:

    Kaisarrr bener kuat nahan ya??

  6. mithaprtwi menulis:

    kasian kasim rojin wkwkwk

    1. LauraOlivia00 menulis:

      :blehblehbluhbluh :blehblehbluhbluh

  7. Mangnya bisa tahan kaisar …….

  8. Dhian Sarahwati menulis:

    Kira2 sampe kpn kaisar bs tahan??..

  9. So sweet banget dehh kaisarrr :kisskiss

  10. :bantingkursi :bantingkursi :bantingkursi :gakterima :gakterima :gakterima greget 😳

  11. SERAFINA MOON LIGT🌙❤💡 menulis:

    :sembursemburbyur :sembursemburbyur

  12. sweet parah

  13. Sukak bgt, makin penasaran

  14. Sipp

  15. Janji Sang Kaisar!

  16. Kiki Miski menulis:

    :ayojadian :ayojadian

  17. RefaArdhania menulis:

    So sweet

  18. :DUKDUKDUK Akira

  19. Diah Wardani menulis:

    :penuhsemangat

  20. Mamita Fatih menulis:

    :luculuculucuih

Tinggalkan Balasan