emperors-consort2
Emperors Consort

Emperor’s Consort Part 1 : Kaisar Bertopeng Emas

Bookmark

No account yet? Register

1.966 votes, average: 1,00 out of 1 (1.966 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

emperors-consort2

Sang Kaisar menyipitkan matanya. Meskipun hampir seluruh wajahnya tertutup topeng emas yang mengerikan, tetapi semua bisa menebak bahwa saat ini sang Kaisar sedang murka ketika menatap bawahannya yang sangat malang, membungkuk-bungkuk ketakutan dengan kepala hampir menyentuh lantai.

“Apakah kau berhasil mendapatkan yang aku inginkan?” suara sang Kaisar terdengar pelan, lembut dan tanpa emosi, tetapi hal itulah yang menjadi momok menakutkan di kalangan bawahannya.

“Ampun yang mulia.” Perdana Menteri Kenzo menahankan suaranya yang gemetar, kepalanya ditundukkan dalam-dalam, tidak berani menatap junjungannya yang mengerikan, ” Ampun atas ketidak becusan saya.”

Sejenak Sang Kaisar seperti menimbang-nimbang, lalu kalimat berikutnya yang keluar dari bibirnya adalah vonis dingin tanpa perasaan. ” Kalau begitu kau harus mati.”

Sang Kaisar berdiri, memberi isyarat kepada Jenderal Youshou, panglima tertingginya, yang langsung membungkuk dan menyerahkan pedang kerajaaan dengan kedua tangannya.

Sang Kaisar mencabut pedang itu dari sarungnya, pedang emas murni yang tersarung dalam sarung pedang berwarna hitam bertahtakan berlian, lalu menghunuskan pedang itu kepada Perdana Menteri yang telah mengecewakannya.

Perdana Menteri Kenzo memejamkan matanya, pasrah.
Sedetik kemudian, dia telah kehilangan kepalanya.

Mata sang Kaisar menatap dingin ke arah tubuh Perdana Menteri Kenzo yang tumbang tak bernyawa, tak ada ekspresi apapun di wajahnya selain sikap dingin dan kejam.

“Singkirkan itu.” titahnya yang segera dilaksanakan dengan tergopoh-gopoh oleh para pelayan istana.

Perhatian sang Kaisar teralih ke arah dayang-dayang istana yang berjalan membungkuk sambil menyerahkan baskom emas berisi air wewangian dan kain sutera tebal untuknya.

Sang Kaisar mengambil kain sutera tebal itu untuk mengelap pedangnya yang berlumuran darah, dia lalu memberikan pedangnya kepada Jendral kepercayaannya yang langsung siap menerimanya. Setelah menyerahkan kembali kain sutera kotor yang kini penuh darah itu, sang Kaisar mencuci tangannya ke dalam baskom berisi wewangian yang tersedia.

Ketika dia menyelesaikan ritualnya, mayat Perdana menteri yang malang itu sudah disingkirkan, bekas darahnya sudah dibersihkan, seluruh bagian ruang pertemuan itu sudah bersih, megah, indah dan harum, seolah tidak ada pertumpahan darah sebelumnya.

***

Kaisar Bertopeng Emas….

Julukan itu diberikan kepada Kaisar kerajaan Shasou yang saat ini sedang berkuasa. Hal ini dikarenakan sang Kaisar tidak pernah sekalipun melepaskan topeng emasnya dihadapan khalayak.

Dikatakan bahwa jumlah orang yang telah melihat wajah asli sang Kaisar bisa dihitung dengan jari. Menurut kisah yang beredar, hampir semua orang yang telah melihat wajah asli Kaisar telah dibunuh, bahkan para dayang dan pengasuh Kaisar sejak kecil juga harus merelakan kehilangan nyawanya di tangan para algojo. Hanya ada beberapa orang kepercayaan kaisarlah yang diperbolehkan tetap hidup setelah melihat wajah asli Kaisar, itupun mereka harus bersumpah setia untuk menutup mulut rapat-rapat.

Desas desus mengatakan bahwa wajah sang Kaisar sangat buruk rupa sehingga dia harus menggunakan topeng emas untuk menutupinya, sedangkan yang lain mengatakan sebaliknya, bahwa wajah kaisar terlalu tampan dan menawan, sehingga harus ditutup karena pada masa ini, ketampanan dianggap menurunkan kewibawaan.

Entah yang mana yang benar, tidak pernah ada yang bisa membuktikannya.

Kaisar bertopeng emas bernama asli Shen Laiken dan sering dipanggil sebagai Shen King, dia dipercaya merupakan titisan langsung dewa. Sang Kaisar dipercaya memiliki kekuatan melebihi manusia biasa, karena itulah di ditakuti oleh musuh-musuhnya.

Shen King memerintah negara ini dengan tangan besi dan tirani. Siapapun yang berani menentang sang Kaisar akan dihancurkan tanpa belas kasihan. Shen King dikenal tidak kenal pandang bulu, anak-anak, perempuan, laki-laki, bahkan keluarganya sendiri, jika mereka semua tidak bisa memuaskan hatinya, maka akan dibunuhnya.

Shen King masih muda, usianya baru dua puluh tujuh tahun, dan dia sudah memerintah kerajaan ini sejak berusia tiga belas tahun. Meskipun begitu, Bagi Shen King, tidak pernah ada teman abadi, pun tidak pernah ada musuh abadi.

***

Desa Shiren, tempat tinggal Aiko tengah mengadakan pesta perayaan. Pesta itu selalu diadakan di tengah musim panen, ketika seluruh bahan makanan melimpah ruah.

Pesta perayaan itu dilakukan sebagai rasa syukur terhadap kemakmuran seluruh penduduk, pun sebagai rasa terimakasih kepada Kaisar Shen pemimpin kerajaan Shasou yang memberikan rasa aman dan tenteram kepada seluruh desa yang berlindung di bawah kekuasaannya.

Bendera-bendera berwarna biru yang melambangkan kerajaan terpasang di depan rumah-rumah kayu beratap rami yang merupakan ciri khas desa, seluruh pepohonanpun dibalut kain berwarna-warni untuk memeriahkan suasana. Aroma masakah khas desa, bubur rempah panas nan gurih yang dipadukan dengan daging panggang memenuhi jalan-jalan, menimbulkan rasa lapar bagi siapapun yang menghirupnya.

Perayaan ini adalah perayaan besar yang dilakukan setahun
sekali, dengan banyak hiburan, pesta api unggun dan makanan yang melimpah ruah gratis untuk seluruh penduduk desa.

Tetapi selain pesta perayaan, ada hal penting yang juga dilaksanakan pada perayaan panen ini, setiap tahun sekali, keempat Jenderal Kaisar akan berkeliling ke seluruh desa, mereka akan melakukan seleksi pada persembahan yang disiapkan oleh seluruh desa kepada sang Kaisar, dan diantara ratusan persembahan itu, hanya akan ada sepuluh saja yang terbaik yang akan terpilih setiap tahunnya.

Desa yang beruntung persembahannya diambil akan menerima hadiah yang berlimpah, berkat dari kaisar dan juga kemakmuran sepanjang tahun melebihi desa lainnya.

Persembahan itu tentu saja bukan persembahan biasa. Para Kaisar memiliki segalanya di istananya, beliau tidak akan mengambil persembahan sembarangan.

Persembahan yang dimaksud berwujud seorang wanita.
Ya. Setiap tahun sekali, masing-masing desa akan memilih perempuan berusia enam belas tahun untuk diajukan sebagai persembahan sang Kaisar.

Perempuan tersebut akan mengisi kerajaan para putri, sebagian besar untuk menjadi dayang istana, tetapi jika bisa menarik perhatian Kaisar, para wanita persembahan tersebut bisa terpilih menjadi selir Kaisar yang memiliki kedudukan tinggi dan diperlakukan selayaknya bangsawan. Belum lagi, keluarga perempuan itu juga akan menerima kemakmuran yang berlimpah.

Hal ini telah berlangsung turun temurun selama ratusan tahun di kerajaan Shasou, dimana setiap kaisar memiliki kriteria tersendiri untuk persembahannya.

Kaisar Shen yang saat ini memerintah juga memiliki persyaratan spesifik yang ditetapkannya, perempuan itu harus sehat, tidak pernah menderita penyakit berat, tidak memiliki bekas luka apapun ditubuhnya, berambut hitam dan bermata gelap. Semua orang bilang ciri-ciri kriteria perempuan yang diajukan oleh kaisar Shen King ini mengacu pada ibunda sang Kaisar yang sudah meninggal dunia. Selir Junsuina ibunda sang kaisar ini memang dikenal sebagai salah satu perempuan tercantik kerajaan, jadi wajar kalau kaisar menggunakan ibundanya sebagai patokan.

Dan tahun ini, keputusan para tetua desa Shiren sudah dijatuhkan pada Aiko. Semua orang tentu sudah menebak pilihan itu. Penampilan Aiko sudah menjawab semuanya, dia adalah anak perempuan yang cantik, berkulit halus, berambut hitam dan memiliki bola mata jernih berwarna cokelat tua nan pekat.

Hanya tinggal menunggu waktu sampai giliran Aiko terpilih menjadi persembahan, dan sekarang waktunya telah tiba, tepat ketika usia Aiko menginjak enam belas tahun. Desa ini belum pernah terpilih sebelumnya. Dan mereka menaruh harapan besar kepada Aiko.

Aiko sendiri memiliki tujuan lain ketika bersedia dipilih sebagai persembahan, dia tidak membutuhkan harta maupun kedudukan yang dijanjikan sebagai hadiahnya, dia hanya ingin menyelamatkan ibunya.

Dengan sedih dan hati-hati, Aiko memasuki kamar mungil di rumahnya lalu menutup pintu di belakangnya dengan pelan, berusaha tidak membangunkan ibunya yang tertidur lelap karena pengaruh obat, dia lalu duduk di kursi di samping ranjang dan merenung

Sudah dua tahun lamanya ibunya menderita sakit paru-paru yang menggerogoti tubuhnya hingga makin kurus seperti tulang dibalut kulit, Aiko sudah mencoba berbagai ramuan pengobatan untuk menyembuhkan ibunya, tetapi tidak berhasil, malahan kondisinya semakin parah. Begitu ironis karena ibunya adalah seorang tabib yang mendedikasikan hampir seluruh hidupnya untuk mengobati orang lain, tetapi ketika ibunya jatuh sakit, tidak ada obat yang dapat menyembuhkannya.

Akhir-akhir ini ibunya sering batuk dan memuntahkan darah, membuat Aiko dilanda ketakutan yang amat sangat. Tekadnya semakin kuat untuk memasuki istana. Bukan, bukan untuk mengejar status atau harta, tetapi demi bisa memasuki tembok istana dan menemukan obat ibunya. Konon di dalam istana, ada tabib Zhou yang terkenal memiliki tangan ajaib untuk menyembuhkan apapun. Dikatakan bahwa tabib Zhou memiliki koleksi tanaman obat paling lengkap di kerajaaan, bahkan juga tanaman-tanaman langka yang sudah tidak bisa ditemukan, tabib Zhou memilikinya.

Aiko bertekat terpilih dan menjadi dayang istana. Lalu dia akan mencoba berguru kepada tabib Zhou, atau setidaknya meminta resep obat untuk dikirimkan ke desa ibunya. Meskipun begitu, Aiko harus waspada untuk tidak menarik perhatian Kaisar. Terpilih menjadi selir, meskipun akan membawa kemakmuran bagi keluarga dan desanya, juga membawa konsekuensi menakutkan untuk dirinya.

“Aiko…” suara lemah ibundanya menggugahnya dari lamunan.

Aiko beringsut dan menggenggam jemari ibunya, jemari ibunya telah menjadi begitu kurus di hari-hari belakangan ini, dan kondisinya semakin lemah.

“Ibu, bagaimana kondisi ibu?” mata Aiko menelusuri wajah cantik ibunya yang begitu pucat.

Hana berusaha tersenyum, menatap anak perempuannya yang telah tumbuh menjadi remaja yang begitu cantik. Lalu ekspresinya berubah menjadi sedih,

“Apakah kau telah bulat pada keputusanmu?”

Aiko meremas jemari ibunya dan tersenyum menenangkan,

“Utusan dari Kaisar akan datang hari ini untuk menilaiku.”

Bibir Hana bergetar, “Keputusan memasuki istana sangat beresiko, Aiko…. Kau tahu kan Kaisar Shen berbeda dengan pendahulunya? Entah wajah seperti apa yang ada di balik topeng emasnya yang mengerikan, dan lagi dia sangat kejam, bahkan pada perempuan sekalipun. Perempuan-perempuan yang dia pilih sebagai selirnya, semua tidak bertahan lama …. Semua di bunuhnya, tidak lebih dari tujuh hari, bahkan ibu dengar ada yang langsung dibunuh begitu melewati malam pertama…”

Aiko menggelengkan kepalanya, berusaha menenangkan ibunya, “Tidak ibu, ibu tenang saja. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk tidak menarik perhatian Kaisar. Tujuanku memasuki istana hanya untuk menjadi dayang istana dan berguru kepada master Zhou.”

Mata Hana menelusuri kecantikan anak gadisnya, dan merasa ragu. Tidak menarik perhatian kaisar? Apakah itu mungkin? Aiko memiliki semua yang menjadi kriteria kaisar Shen, berambut hitam, bermata gelap dengan kulit keemasan seumpama minyak zaitun, semua itu berpadu dengan indahnya. Akankah Kaisar Shen mengabaikannya?

Suara ketukan beruntun membuat pandangan Aiko dan ibunya teralihkan,

“Nona Aiko.” itu suara Chiara, salah satu asisten tabib yang bekerja untuk ibunya, “Jenderal utusan kerajaan akan tiba menjelang siang untuk menilai anda. Anda harus bersiap-siap.”

Aiko meremas sekali lagi jemari ibunya lalu berdiri dan mencondongkan tubuhnya untuk mengecup dahi dan pipi ibunya,

“Doakan aku ibu.” bisiknya penuh kasih sebelum beranjak pergi.

***

Suasana menjadi begitu khidmat ketika rombongan pasukan berkuda Jenderal kerajaan datang. Ada empat Jenderal yang disebarkan untuk memeriksa setiap penjuru desa dan menemukan sepuluh gadis terbaik yang bisa memasuki istana. Masing masing Jenderal akan mengunjungi area barat, timur, utara dan selatan.

Desa ini berada di bagian barat, dan ketika Aiko menyelinap ke jendela dan diam-diam mengintip kedatangan pasukan sang Jenderal, dia mengenali panji-panji yang dibawa ratusan pasukan berkuda yang mengiringi sang Jenderal, panji itu bergambar naga emas, lambang keluarga Jenderal Youshou Long, tangan kanan kaisar Shen yang paling dipercaya.

Keluarga Long sudah turun temurun mengabdi sebagai Jenderal bagi kaisar, mereka begitu loyal, ahli dalam bidang militer dan tidak pernah sekalipun memiliki riwayat berkhianat. Diceritakan bahwa penerus utama keluarga Long selalu dibesarkan bersama Kaisar untuk menciptakan keterikatan yang lebih kuat di antara keduanya.

Kepala desa sudah berada di depan, berlutut hormat ketika kuda milik Jenderal Youshou yang begitu gagah dan berwarna hitam legam maju ke depan.

“Hormat kami kepada Jendral Youshou yang sudah berkenan mengunjungi desa kami.”

Jenderal Youshou menganggukkan kepalanya, menatap sekeliling dimana persiapan untuk perayaan sudah dilakukan. Seluruh desa tampak berwarna-warni, siap untuk berpesta.

“Dimanakah kandidat persembahanmu?”

***

Aiko menunggu sambil duduk di sebuah kursi khusus, dimana di sekitarnya dibentuk tirai sutra putih yang berbentuk lingkaran mengelilinginya. Kandidat persembahan, ketika nanti benar-benar terpilih, tidak boleh dilihat oleh sembarang orang. Hal ini dikarenakan ada kemungkinan kandidat tersebut diangkat menjadi selir kaisar. Sesuai peraturan kerajaan, selir kaisar hanya boleh dilihat oleh penghuni istana dalam.

Jantung Aiko berdebar ketika langkah kaki yang tegap itu mendekat. Ibu-Ibu perias desa telah mendadaninya secantik mungkin, dengan gaun sutera terbaik berwarna putih bersih yang melambangkan kesuciannya, dan hiasan bunga putih di kepalanya, sebelum berdandan tubuhnya direndam di air bunga yang bercampur minyak wewangian, membuat kulitnya menguarkan aroma feminim yang menyenangkan.

Lalu tirai itu disingkap, dan Aiko langsung berhadapan dengan mata cokelat muda yang tajam. Dia sedikit terkesiap karena terkejut bercampur terpesona. Jenderal Youshou yang ditakuti ini ternyata sangat muda … dan tampan. Aiko menundukkan kepala malu ketika dia menyadari bahwa pipinya memanas dan memerah. Sementara itu seolah tak peduli, Jenderal Youshou mengamati Aiko lekat-lekat dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Lalu tak berapa lama kemudian, tirai itu ditutup tanpa kata dan Jenderal Youshou melangkah pergi meninggalkan ruangan. Sementara Aiko masih terpaku di sana dengan perasaan penuh tanya.

Apakah dia lulus?

***

Tentu saja perempuan itu lulus. Sudah pasti lulus.

Jenderal Youshou melangkah meninggalkan ruangan dengan alis berkerut. Perempuan itu sudah jelas-jelas mewakili definisi Kaisar Shen King tentang kriteria kandidat yang diinginkannya.

Dirinya sudah hampir sepuluh tahun melaksanakan tugas ini, mengunjungi berbagai penjuru negeri untuk melakukan seleksi terhadap para calon kandidat persembahan bagi Kaisar Shen.

Dan baru kali ini dia menemukan perempuan dengan rambut sehitam itu dan mata bening segelap itu.

Shen King jelas-jelas tidak akan melepaskan perempuan ini.

Ditemuinya kepala desa yang sudah menanti, lalu tanpa basa-basi dia menganggukkan kepalanya,

“Diterima.” gumamnya tegas, “Aku akan mengirimkan pasukan untuk menjemput kandidat persembahan besok.”

***

Ketika tandu yang membawanya mulai memasuki gerbang tembok istana dalam, Aiko menggenggam erat kantong kulit berisi dedaunan obat yang telah dikeringkan, pemberian ibunya. Ada sepuluh tandu yang masuk bersamaan, berisi sepuluh kandidat persembahan terpilih yang berasal dari seluruh penjuru kerajaan.

Perpisahannya dengan ibunya dipenuhi isak tangis, tetapi Aiko telah membuat ibunya berjanji untuk sekuat tenaga bertahan sampai Aiko bisa menemukan obat dan mengirimkannya ke desa.

Sekarang, di dalam tandunya yang tertutup rapat, Aiko berusaha mengintip, mencari celah di antara kain sutera berlapis-lapis yang menudungi jendelanya. Ketika berhasil menemukan celah, mata Aiko membelalak ketika melihat bangunan istana megah di depannya.

Luar biasa. Istana itu benar-benar indah, seluruh bagiannya sampai detail sekecil apapun dilapisi oleh emas, ketika siang hari keindahan istana itu semakin terpancar karena sinar matahari akan terpantulkan kembali oleh kilauan emas, menciptakan fatamorgana yang memanjakan mata.

Ketika tandu berhenti di halaman depan istana, seorang petugas mengetuk pintu tandu dan mempersilahkan Aiko keluar.

Ketika menjejakkan kakinya ke lantai marmer yang berkilat, Aiko langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling, dan mendapati teman-teman kandidat persembahan seperti dirinya sedang berdiri di depan tandu masing-masing. Mereka semuanya seusianya, dan semuanya sangat cantik, semuanya bermata gelap dan berambut hitam.

Mereka semua memakai pakaian yang sama, gaun sutera putih terbaik dan hiasan bunga krisan putih di kepala. Baju seperti ini umum dikenal sebagai pakaian dayang istana kelas awal. Ketika sudah menjadi dayang berpengalaman mereka semua akan berganti memakai sutera hijau, setelah itu di atasnya ada sutera merah sedangkan untuk dayang senior terpilih yang merupakan kelas tertinggi, menggunakan gaun berwarna kuning.

“Mari. Kalian akan menghadap sang Kaisar untuk diperkenalkan. Ingat, kalian tidak boleh menatap mata Kaisar. Bersujud, kepala rata dengan lantai. Mata menatap ke bawah.” Seorang dayang senior setengah baya berpakaian merah segera memberi bimbingan dan mengarahkan, dia memberi isyarat semua untuk mengikutinya yang langsung dipatuhi.

“Huh, tidak boleh menatap ya, padahal aku benar-benar penasaran.” sebuah suara ramah berbisik menyapa di sebelah Aiko, membuat Aiko menoleh, dia langsung berhadapan dengan wajah mungil yang teramat cantik, kulit putih semurni susu dan bibir merah gelap yang merona alami, perempuan itu tersenyum ramah kepadanya, “Hai, kita belum berkenalan, aku Mayumi, wakil persembahan dari desa Pahn di utara kerajaan.”

“Aku Aiko dari desa Shiren di ujung barat.” balas Aiko dalam senyum, terpesona oleh keramahan perempuan itu, “Kau penasaran dengan sang Kaisar? Tetapi tidak ada yang perlu dilihat kan? Bukankah beliau memakai topeng yang menutupi seluruh wajahnya?”

“Itulah yang makin membuatku penasaran ” Mayumi berbisik pelan, menatap sekeliling untuk memastikan tidak ada yang memperhatikan mereka berdua, “Kakak perempuanku lolos menjadi kandidat dua tahun yang lalu, sekarang dia menjadi dayang di bagian taman istana, dia bercerita bahwa sangat jarang Yang Mulia memilih selir, sekalinya beliau memilih selir, semuanya berakhir mengenaskan. Yang terakhir adalah salah satu kandidat seangkatan kakakku, dia sangat cantik dan sang Kaisar memilihnya sebagai selir, tetapi hanya di pagi harinya selir itu sudah tewas dipenggal oleh sang Kaisar. Sejak saat itu, Kaisar belum memilih selir lagi. Beliau tidak punya selir, tidak punya permaisuri, sehingga gosip beredar kalau beliau tidak begitu menyukai perempuan.”

Bulu kuduk Aiko meremang mendengarnya, “Kalau begitu sudah pasti semua kandidat persembahan ketakutan jika menjadi selir.”

“Siapa bilang?” suara Mayumi agak meninggi, dia segera menunduk ketika dayang pembimbing mereka menoleh dan memberi tatapan peringatan, lalu berbisik lagi di samping Aiko,”Kata kakakku, persaingan di istana putri sangat sengit, semuanya berlomba-lomba menarik perhatian kaisar, mereka percaya bahwa selir-selir pendahulu yang tewas itu disebabkan ketidakmampuan selir itu untuk memuaskan kaisar. Saat ini banyak dayang-dayang dengan kepercayaan diri tinggi untuk memuaskan kaisar yang berlomba-lomba mengincar posisi selir. Dan kata kakakku persaingannya tidak sehat, mereka saling menjegal, saling menjatuhkan dan menusuk dari belakang. Pokoknya di sini kita harus berhati-hati.”

Aiko hendak memberi tahu bahwa dia tidak termasuk salah satu dayang yang mengincar posisi selir, tetapi bibirnya terkatup ketika sebuah pintu gerbang besar yang amat tinggi dengan ukiran emas dan batu safir biru dibuka oleh dua orang prajurit yang berjaga.

“Ini adalah taman barat istana, tempat Yang Mulia Kaisar Shen beristirahat minum teh di pagi hari. Ingat, ketika menjejak lantai marmer hitam, kalian semua harus berbaris berdampingan dan bersujud, kepala rata dengan lantai, mata memandang ke bawah. Jangan pernah sekalipun mengangkat kepala dan mencoba mengintip atau nyawa kalian taruhannya.” Sekali lagi dayang senior berbaju merah memberi peringatan, suaranya tegas tak terbantahkan.

Aiko sendiri sama sekali tidak punya niat mengintip, keberadaan Sang Kaisar bukan prioritasnya, yang ada di dalam benaknya malahan segera mencari cara untuk menemukan tabib Zhou. Semakin cepat dia bisa menemukan tabib Zhou semakin cepat dia bisa menyelamatkan nyawa ibunya.

Seluruh kandidat persembahan berjalan dalam diam, kepala menunduk, senyap tak bersuara. Sampai kemudian mereka mencapai lantai marmer hitam, dan kemudian diatur berlurut secara berjajar berdampingan.

Aiko berada di tengah-tengah, dia menundukkan kepalanya serendah mungkin hingga hanya ada hitamnya marmer yang melumuri pengelihatannya. Tetapi meski indra pengelihatannya terpenjara, indra yang lainnya tetap aktif. Dia bisa mendengar gemericik air di dekatnya, taman barat istana ini pasti memiliki kolam ikan yang indah, dan pasti banyak bebungaan di sini, karena hidungnya menangkap aroma wangi berbagai macam bunga yang memanjakannya.

Suara kaki berderap lewat di depan kepala mereka, Aiko menebak itu adalah langkah kaki Jenderal Youshou karena dia pernah mendengar derap yang sama ketika sang Jenderal menilainya di waktu lalu.

“Kandidat persembahan tahun ini?” sayup-sayup terdengar suara di kejauhan, suara itu lembut dan mengalun tenang tetapi aksen kebangsawanannya tak terbantahkan. Itu sudah pasti adalah suara Kaisar Shen.

Tak berapa lama kemudian, terdengar suara langkah, langkah yang ini berbeda dari langkah sebelumnya, langkah ini tenang, diikuti oleh suara gemerisik jubah sutera emas yang menyapu lantai. Sang Kaisar rupanya sedang berjalan di depan para kandidat persembahan. Aiko membayangkan Kaisar Shen dengan topeng emasnya dan jubah sutera emas mewah yang menyapu lantai berjalan dengan mata menilai ke arah dayang-dayang baru yang bersujud dan menunduk dalam.

Apa yang ada di benak Kaisar ketika melihat kami?

Aiko membatin, dan sedetik kemudian, dia terkesiap ketika menyadari bahwa gemerisik kain sutera itu berhenti. Tepat di depannya. Sang Kaisar menghentikan langkah tepat di depannya!

344 Komentar

  1. baca ulang

  2. Bacaa lagii karena lupa alur :NGAKAKGILAA

  3. 🎵🎶Jangan memilih aku!
    🎼🎶🎶Bila kau penggal kepalaku!
    :bantingkursi

  4. Ulang lgi

  5. Amanda Natasya menulis:

    Deg degan parah

  6. Baca ulang, selalu greget 💃💃💃💃 :lovely

  7. Ummu Azzahra menulis:

    Iikutan baca ulang :larikarenamalu

  8. baca ulang karena seru bangeud
    :bantingkursi

  9. Baca ulang lg Thor…😁

  10. Antika Hadinata menulis:

    :lovely

  11. Kiki Miski menulis:

    Ikut deg deg an baca nya :mimisankarnamu :mimisankarnamu

  12. rina rahmi menulis:

    Baca kembali

  13. Septiani 09 menulis:

    Masih inget sama alur nya, tapi emang gak bosen

  14. Wey aku yg deg deg an🤣

  15. Baca ulang :backstab :backstab

  16. 🥰🥰🥰

  17. Kia Luthfia menulis:

    baca ulang

  18. Kia Luthfia menulis:

    re-read

  19. irmayohana menulis:

    :sebarcinta :DUKDUKDUK

  20. yasmin cavelli menulis:

    :DUKDUKDUK

  21. DeeraSlythNeel menulis:

    O ou, sang predator sudah menemukan mangsanya. Ibaratnya sih gitu, kalau aku baca manhwa, Aiko nih diibaratin herbivora trus Shen King karnivoranya :luculuculucuih :sebarcinta :sebarcinta :sebarcinta

  22. Diah Wardani menulis:

    :sebarcinta

  23. ClaireNAs07 menulis:

    Yaa ampunnn ya ampunnnn :akugakngerti :akugakngerti

  24. Mamita Fatih menulis:

    :luculuculucuih

  25. Putri Ratnasari menulis:

    Hayoo aikooo

  26. Putri Ratnasari menulis:

    Xixixiixixix Shen king sudah tertarik padamuuuu

Tinggalkan Balasan