emperors-consort2
Emperors Consort

Emperor’s Consort Part 2 : Perisai Kaisar

Bookmark

No account yet? Register

1.913 votes, average: 1,00 out of 1 (1.913 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

emperors-consort2

Jantung Aiko berdegup kencang, seluruh tubuhnya seakan membeku. Dari sudut  matanya dia bisa melihat ujung jubah yang berkilau keemasan itu tepat di depannya.

Lama terjadi keheningan yang mencekam benak Aiko, sampai kemudian terdengar suara tanpa nada dari Kaisar Shen.

“Apa yang ada di pinggangmu?”

Pertanyaan itu membuat Aiko yang masih dalam posisi bersujud langsung melirik ke arah pinggangnya dan  terkesiap. Ya ampun!  Kantong kulit berisi tumbukan dedaunan obat pemberian ibunya ternyata menggantung begitu saja di ikat pinggang putihnya.

Aiko langsung mengutuk keteledorannya, tadi ketika turun dari tandu, dia terburu-buru hingga lupa sedang berada di mana dirinya sekarang, dia lalu mengikat begitu saja kantong itu di tali pinggangnya, seperti kebiasannya sehari-hari ketika di desa.

Aiko merasakan sengatan ketakutan yang merayap dari jantungnya, mengaliri pembuluh darahnya dan membuat jemarinya gemetar ketika menguatkan diri untuk menjawab pertanyaan Kaisar Shen.

“Ampun Yang Mulia, kantong ini berisi ramuan obat-obatan pemberian ibu saya.” Jawabnya pelan, menyadari dengan pasti, jika Kaisar Shen tidak suka dengan jawabannya, dia akan kehilangan kepalanya.

Terdengar suara terkesiap dari orang-orang yang ada di sekitarnya, membuat Aiko mengerutkan kening bingung, Semua orang tampak ketakutan….. Apa yang salah dengan membawa ramuan obat-obatan?

Kepala Aiko yang menunduk membuatnya tidak menyadari bahwa pasukan kerajaan yang berdiri tak jauh dari mereka sudah bergerak maju untuk meringkus Aiko, bahkan Jenderal Youshou yang sejak tadi ada di belakang Kaisar Shen tampak mengeratkan genggamannya di sarung pedangnya dengan tatapan cemas. Semua gerakan waspada itu berhenti karena Kaisar Shen memberi isyarat dengan tangannya, tanpa suara,  menginstruksikan supaya mereka semua tetap diam di tempat.

“Membawa obat jenis apapun dilarang di Istana ini, kecuali bagi tabib istana.” Kaisar Shen bergumam tajam, “Apakah kau, berniat untuk meracuniku?”

Seketika itu juga Aiko menyadari kenapa orang-orang di sekelilingnya tampak begitu ketakutan dan kenapa suasana begitu mencekam sejak tadi.

Astaga, dia sama sekali tidak memikirkannya….. Kaisar Shen meskipun memegang tampuk pimpinan tertinggi, selalu berada dalam bahaya akibat serangan dari pihak-pihak yang ingin merebut kekuasaannya, diceritakan bahwa Sang Kaisar  selalu mengalami percobaan pembunuhan seumur hidupnya, ada yang menggunakan cara kasar dengan cara mengirimkan pembunuh bayaran, tetapi yang paling banyak lagi adalah menggunakan cara halus nan pengecut, yaitu dengan racun.

Musuh-musuh kaisar Shen selalu berusaha meracuni sang Kaisar lewat makanan dan minumannya, karena itulah selain tabib istana, kegiatan membawa obat jenis apapun, dilarang di istana ini. Jika kedapatan, bisa dikenakan tuduhan percobaan meracuni Shen King.

Aiko teringat sebelum dia berangkat,  ibunya berpesan dengan sangat serius bahwa kantong obat ini harus disembunyikan di balik pakaian dalamnya dan hanya digunakan di saat-saat penting….

Sebenarnya, obat-obatan yang ada di dalam kantong ini tidak berbahaya, hanya berisi obat sakit perut, obat luka, dan tonic kesehatan dari tumbuh-tumbuhan, tidak ada sesuatupun yang bersifat racun, karena itulah Aiko sama sekali tak memandangnya sebagai sesuatu yang berbahaya. Sayangnya dia lupa bahwa bagi orang awam yang tidak mengerti obat, ramuan apapun bisa tampak seperti racun…

“Ampun Yang Mulia.” Aiko menelan ludahnya, sadar bahwa pembelaan dirinya mungkin menjadi satu-satunya kesempatan terakhirnya untuk menyelamatkan jiwanya, “Hamba tidak punya niat sama sekali untuk melukai Yang Mulia, ini adalah obat-obatan biasa untuk pertolongan penyakit ringan.” Aiko berusaha menegarkan suaranya, sang Kaisar terkenal bisa mendeteksi ketakutan dan kebohongan dalam suara orang-orang, sedikit saja dia dicurigai berbohong, nyawanya melayang.

Hening.

Entah apa yang terjadi. Mungkin Kaisar Shen sedang menimbang-nimbang? Atau beliau bahkan sudah menghunus pedangnya?

Aiko memejamkan matanya semakin rapat, dalam hatinya merapal doa, meminta maaf kepada ibundanya jika karena keteledorannya dia menumpulkan harapan mereka berdua hanya dalam waktu sesingkat ini.

Lalu suara Kaisar Shen terdengar, selembut beledu.

“Apa jenis obat-obatan di dalam kantongmu?”

Aiko membuka mata kaget karena dia masih bernafas sampai sekarang, meski tetap tidak berani mengangkat kepalanya, beberapa orang di sebelahnya tampak menghembuskan napas pelan, mungkin lega karena tidak perlu melihat orang dipenggal di hari pertama mereka memasuki istana.

“Ini sebagian besar adalah daun Kusuri, Yang Mulia, untuk menyembuhkan luka. Ada daun reishi untuk gangguan pencernaan dan tonik kesehatan dari tanaman obat buatan ibu saya.” Aiko menahankan rasa takutnya, memberanikan diri untuk mengajukan satu-satunya usul yang mungkin bisa menyelamatkan nyawanya, “Mohon maaf Yang Mulia, saya bersedia memakan daun-daun ini untuk membuktikan bahwa semua yang saya bawa tidak berbahaya.”

Kaisar Shen bergeming, pun dengan semua orang lain di sana, diam seolah menahan napas, menanti keputusan.

“Berlutut, dan makan masing-masing dari tanaman obat itu.” titahnya dengan nada suara tak tertebak.

Aiko menurut, dia berlutut, masih menundukkan kepalanya, tidak berani barang sedikitpun mengangkat pandangannya, meski dari sudut matanya dia bisa melihat Jubah emas Kaisar Shen berada tepat di depannya.

Dengan jemari gemetar, Aiko menuang dedaunan dari kantong obat itu ke atas pangkuannya, diambilnya segenggam daun reishi, rasanya manis ketika dikunyah. Diambilnya kantong cairan dari tumbukan dedaunan,  ramuan tonik kesehatan dari ibunya, dan ditenggaknya dengan cepat.  Meski rasanya pahit asam, Aiko telah terbiasa meminum ramuan itu sejak kecil sehingga tidak ada masalah baginya.

Dan kemudian ketika tiba giliran daun kusuri, jemari Aiko tertahan,  sedikit ragu.

Daun ini pahit sekali rasanya.

Ingatan terakhirnya mengunyah daun ini terasa samar-samar, namun yang pasti, sejak saat itu Aiko tidak pernah mau lagi memasukkan daun itu ke dalam mulutnya. Biarpun kenangannya samar, rasa pahit daun itu membekas begitu dalam di memorinya, tidak terlupakan.

“Makan!” Shen King memberi perintah, suaranya terdengar tajam, gusar.

Aiko memejamkan mata, menguatkan diri, lalu memasukkan daun kusuri itu ke dalam mulutnya.

Hanya dengan menempelkan daun itu di lidahnya saja, rasa pahit langsung menyebar ke indera pengecapnya, seolah melumuri bagian dalam mulutnya dan membilasnya dengan kegetiran tanpa ampun.

Mata Aiko berkaca-kaca ketika melakukan kunyahannya, hampir tak kuat rasanya menahan rasa pahitnya, tapi Aiko menguatkan diri, dibayangkannya ibundanya yang terbaring lemah di atas ranjang, menunggu Aiko mendapatkan obat untuknya.

Dia harus kuat!

Aiko bisa merasakan tatapan tajam Kaisar Shen yang seolah menusuknya. Air matanya mulai menumpuk di sudut matanya, memaksa terjun meski ditahan sekuat tenaga, ingin pingsan rasanya menahankan pahit di seluruh bagian mulutnya.

Dan kemudian, ketika Aiko sudah merasa tak kuat lagi, seorang dayang senior berpakaian merah berlutut di dekatnya dan menyodorkan mangkuk emas di depannya,

“Sapihkan.” gumam dayang senior itu berbisik. Rupanya Kaisar Shenlah yang memberi perintah dengan isyarat tangannya kepada sang dayang senior.

Aiko menurut, menyapihkan hasil kunyahan daun itu yang telah berubah warna menjadi putih. Dayang itu menutup mangkuk emas itu dengan saputangan dan kemudian sambil masih berlutut dan menunduk, dia bergeser mundur.

Aiko menghela napas panjang, meringis karena rasa pahit pekat yang masih menyisa di langit-langit mulutnya.

Lalu sebuah jemari kokoh menarik dagunya, memaksanya mendongak, Aiko terkesap, terbelalak kaget ketika matanya berhadapan langsung dengan topeng emas berukir serupa tengkorak yang mengerikan itu. Kaisar Shen telah membungkuk di depannya dan menundukkan kepala hingga wajah Aiko langsung berhadapan dengan dirinya.

Sang Kaisar menggunakan dua buah topeng. Aiko ternganga, menyadari kenyataan dari hasil pandangannya. Topeng yang pertama polos, berwarna emas yang menyelubungi seluruh bagian wajah, menyisakan lubang kecil di mata dan lubang untuk bernafas. Topeng kedua yang dipakai di atas topeng pertama juga terbuat dari emas, tetapi dibuat dengan ukiran-ukiran yang indah dan berhias berlian, membentuk serupa tengkorak nan megah.

Tubuh Aiko makin gemetar, makin ketakutan. Mengerikan sekali. Jadi ini yang membuat semua orang begitu takut kepada Kaisar Shen. Dengan topeng yang menutupi wajahnya dan membayangi matanya, tidak ada yang bisa menebak apa yang ada dibaliknya, bagaimana ekspresinya, bagaimana suasana hatinya, bagaimana pancaran wajahnya…. Dan hal itu membuat siapapun seakan kehilangan pegangan, dipenuhi keraguan dan tanpa petunjuk.

Lama Kaisar Shen terdiam, Aiko bisa merasakan matanya yang tersapu oleh bayangan gelap topengnya itu menelusuri wajahnya dengan tajam.

Keheningan seperti ini terasa begitu menyiksa, membuat bulu kuduk berdiri dan urat nadi seakan direngangkan di batas kekuatannya.

“Mulai sekarang, kau menjadi perisaiku.” Sang kaisar melepaskan pegangannya dari dagu Aiko, lalu berdiri dan melangkah pergi meninggalkan ruangan, diikuti oleh Jenderal Youshou dan beberapa pengawalnya.

Aiko yang langsung menunduk hanya bisa merasakan hembusan angin akibat kibasan jubah emas panjang sang Kaisar yang bergerak menjauh meninggalkan taman.

Setelah pintu besar itu tertutup di belakang Kaisar, beberapa dayang tampak tidak bisa menahan desahannya, bahkan beberapa dayang yang lain mulai menghembuskan napas lega dengan terang-terangan, seolah sejak tadi mereka dipaksa menahan napas.

Para dayang senior langsung menyuruh mereka berdiri dan memberikan beberapa instruksi, mereka semua harus berbaris menuju kompleks istana bunga, tempat tinggal para dayang dan mulai pembelajaran dasar sebagai dayang istana.

Aiko pun mengikuti mereka semua, berada dalam barisan hendak meninggalkan area taman, ketika salah satu dayang senior menahannya.

“Kau tetap di sini.” gumamnya tegas, “Salah seorang dayang akan mengantarmu ke area Istana merah.”

Kata-kata dang dayang senior menciptakan keributan baru, suasana langsung riuh rendah, ada yang terkesiap, ada pula yang saling berbisik, bahkan ada yang menatap Aiko dengan pandangan mengasihani.

Aiko bingung, mengerutkan keningnya dan menatap dayang senior itu meminta penjelasan,

“Istana merah?” tanyanya gugup.

Dayang senior itu mengangkat alisnya, mengamati Aiko dari ujung kepala sampai ujung kaki, ekspresinya nampak tegang,

“Yang mulia memerintahkanmu untuk menjadi perisainya, itu berarti kau harus tinggal di istana merah, kediaman pribadi Kaisar.

Aiko langsung pucat pasi, istana merah? Kalau begitu bagaimana mungkin dia bisa menemukan tabib Zhou?

” Mohon maafkan hamba bertanya, apakah yang dimaksud dengan menjadi perisai kaisar?”

Dayang Senior itu menipiskan bibirnya,

“Menjadi perisai kaisar berarti….. Menjadi pencicip makanan bagi Yang Mulia Kaisar Shen, tugasmu adalah mencicipi lebih dulu  seluruh makanan yang dihidangkan  untuk kaisar, untuk memastikan tidak ada racun di dalamnya.” matanya menatap Aiko dengan pandangan kasihan, “Yang mulia berganti perisai seperti berganti baju, semua perisainya tidak ada yang bertahan lama, semua mati karena keracunan.”

***

“Yang Mulia.” Jenderal Youshou bergumam di belakang,  berusaha menarik perhatian Shen King yang berjalan cepat menuju istana pribadinya.

Didalam tembok benteng istana ini, memang ada beberapa istana kecil lagi di dalamnya, masing-masing dipisahkan berdasarkan fungsinya.

Yang pertama, istana Utama, atau Golden Palace adalah bagian termegah dari semuanya, terletak di bagian depan, berkilauan karena dipenuhi ukiran emas murni yang dikerjakan dengan tangan. Istana ini adalah tempat sang Kaisar menjalankan tugas kenegaraannya. Di ruang utama ada tempat Kaisar duduk di singgasananya untuk bertemu, membahas masalah negara dan membuat keputusan kenegaraan dengan para jenderal serta menterinya.

Yang kedua, Istana Merah atau Red Palace yang berada tepat di belakang Golden Palace adalah istana pribadi Kaisar, berisi area utama kamar peraduan kaisar yang dikelilingi taman dan juga rumah-rumah tempat tinggal para prajurit istana yang selalu berjaga. Disebut istana merah karena bagian istana ini dikelilingi benteng tinggi dua lapis, dan menara di keempat ujungnya yang berwarna merah, tempat para penjaga berpatroli dengan keamanan tingkat tinggi, memastikan tidak ada satu orangpun yang memiliki niat buruk pada Kaisar bisa menembus barikade mereka dan mengganggu istirahat sang Kaisar.

Yang ketiga, Istana Ibu Suri yang terletak di sebelah kanan Golden Palace adalah istana khusus untuk ibunda sang Kaisar, bagian istana ini hampir mirip dengan Golden Palace, keseluruhannya bernuansa emas, hanya saja ukurannya lebih kecil. Dan karena ibunda sang Kaisar sudah meninggal, maka istana tersebut sudah lama kosong, hanya dayang-dayang khusus ibu Suri saja yang mengisi asrama-asrama dayang di bagian dalamnya, serta mengurus istana Ibu Suri hingga kondisinya tetap indah dan terawat. Di istana ibu Suri ini juga terdapat mansion untuk permaisuri. Ya, di kerajaan ini seorang permaisuri diwajibkan tinggal dan berbakti kepada ibu Suri. Permaisuri  tidak tinggal bersama kaisar, karena dianggap bisa mengalihkan perhatian Kaisar dari pekerjaannya memimpin negara. Kaisar yang sekarang memang belum mempunyai permaisuri, tetapi jika Kaisar terdahulu ingin mengunjungi permaisurinya, maka sang Permaisuri akan diantarkan ke mansion khusus di istana bunga untuk melayani Kaisar.

Yang terakhir adalah Istana Bunga, terletak di belakang istana merah dan merupakan bagian paling ujung di balik tembok istana. Istana ini merupakan yang paling besar dari kompleks istana yang ada, disebabkan besarnya jumlah penghuninya. Disinilah tempat tinggal seluruh dayang istana yang jumlahnya begitu banyak, mereka tinggal di kamar-kamar asrama dayang yang dipisah-pisah berdasarkan tingkatannya. Dayang pemula yang baru datang, tidur asrama paling belakang, dimana satu kamarnya berupa ruangan besar yang masing- masing berisi delapan ranjang, mereka akan tinggal di sana sampai nanti dinyatakan naik tingkat dan bisa pindah ke asrama yang lebih bagus.  Dayang-dayang yang paling senior, dimana kebanyakan usia mereka sudah setengah baya, menempati sisi asrama yang paling depan dan paling bagus dengan kamar personal yang cukup luas dan nyaman.

Di bagian paling depan istana bunga ini, ada dua mansion besar, yang satu merupakan istana tempat tinggal para selir, yang sekarang kosong karena semua selir Shen King mati mengenaskan, dan yang satu lagi adalah mansion khusus yang digunakan kaisar jika ingin ditemani oleh selir ataupun permaisurinya.

Sekarang Shen King sedang berjalan menuju istana merah, para penjaga pintu sudah membukakan pintu gerbang istana sambil membungkukkan badan dalam-dalam,

“Yang Mulia.” Jenderal Yoshou mengulangi lagi kata-katanya untuk menarik perhatian Shen King begitu mereka memasuki gerbang istana merah, “Mohon dengarkan saya, menjadikan dayang junior itu sebagai perisai anda akan sangat berbahaya, dia tidak berpengalaman dan kemungkinan besar akan menelan begitu saja makanan dan minuman beracun tanpa waspada.”

Shen king menghentikan langkahnya, suaranya sinis ketika berbicara,

“Lalu apa bedanya Youshou. Selama ini perisaiku selalu orang berpengalaman yang dididik oleh tabib Zhou, tetapi mereka selalu saja berakhir dengan menelan racun lalu mati. Setidaknya gadis ini tahu tentang obat-obatan.”

“Tapi dia seorang perempuan, sepanjang sejarah belum pernah ada perempuan yang menjadi perisai anda. Anda tahu kan harus selalu membawa perisai itu kemanapun anda pergi? Bagaimana jika  anda sedang mengunjungi selir anda di istana bunga dan memutuskan untuk bersantap di sana? Atau bagaimana jika kita sedang berada di medan perang? Kita tidak mungkin membawa perempuan ke sana.  Tempat perempuan itu bukan sebagai perisai Kaisar, seharusnya dia berada di istana bunga.”

“Apakah maksudmu, karena dia perempuan, lebih baik aku menjadikannya selir daripada menjadikannya perisaiku?” suara Shen King menegang, “Kau tahu bahwa semua selirku mati di bawah pedangku bukan? Apa lebih baik kupenggal saja kepala perempuan itu sekarang?” Suara Kaisar Shen King begitu dingin, sedingin tubuhnya yang menegang.

Yoshou langsung membungkuk, seluruh gestur tubuhnya menunjukkan permohonan maaf. Dia dan Kaisar Shen memang dibesarkan bersama sejak kecil, tetapi bukan berarti jarak antara Kaisar dan hambanya menjadi terhapuskan karena mereka berteman dari kecil, seorang kaisar tetaplah seorang kaisar, dan seorang hamba tetaplah seorang hamba. Yoshou mengenali nada suara sang Kaisar, beliau sedang tidak suka dibantah, jika dia bijaksana, dia sebaiknya berhenti mendesak dan mundur.

“Ampun Yang Mulia, bukan maksud saya menentang kehendak Yang Mulia, mohon hukum saya jika saya bersalah.”

Shen King bergeming, lalu seolah tak peduli, sang Kaisar membalikkan tubuhnya tanpa mengucapkan sepatah katapun dan berjalan kembali memasuki istana pribadinya.

***

“Ini adalah kamarmu.” seorang dayang senior membuka pintu kayu yang ada di area dekat taman. Mereka tadi berjalan memasuki istana merah, berbeda dengan kekaguman ketika Aiko diajak memasuki gerbang istana lalu langsung disambut kemegahan istana emas, alih-alih disini dia malah merasa ngeri ketika memasuki istana merah.

Istana ini dikelilingi oleh tembok berwarna semerah darah, tujuannya mungkin untuk mengintimidasi siapapun yang mencoba masuk tanpa izin, mengingatkan bahwa  hal itu akan mengakibatkan darahnya tertumpah di sini. Bagian dalamnya pun dipenuhi ukiran merah dan hitam membuat ukiran naga yang biasanya indah jadi tampak garang dan tak  menyenangkan.

Kamar yang disiapkan untuk tempat tinggal Aiko adalah kamar dengan nuansa kayu yang tampak maskulin, untungnya ada jendela besar menghadap taman bunga yang membawa aroma harum dan melembutkan nuansanya.

Dayang senior yang ditugaskan mengantarnya itu menatapnya dengan pandangan menyesal,

“Kamar ini sedianya digunakan untuk laki-laki, semua perisai kaisar sebelumnya adalah laki-laki. Kau adalah perempuan pertama yang menjadi perisai kaisar.” Dayang senior itu mengerutkan keningnya, “Kalau dipikir-pikir, kau adalah perempuan pertama yang boleh tinggal di istana merah. Kami para dayang hanya mengunjungi istana merah untuk kegiatan tertentu seperti menghias istana untuk upacara-upacara khusus. Seluruh pelayan istana merah adalah pelayan laki-laki, bahkan tukang masak khusus kaisar adalah laki-laki…” suara dayang senior itu merendah, berbisik, “Di sini semuanya laki-laki, jadi aku sarankan kau untuk menjaga diri, jangan berhias, gulung rambutmu  tutupi mukamu ketika kau keluar, disini semua pegawai istana selalu makan bersama di ruang makan besar dan sekali lagi, mereka semua laki-laki, jadi kau, mintalah ke bagian dapur supaya  makananmu diantarkan ke kamar…….. Kaisar Shen dikatakan tidak menyukai perempuan, ada larangan-larangan bagi perempuan untuk memasuki area tertentu di istana ini, kau harus berhati-hati karena sudah ada banyak yang menjadi korban karena salah masuk  ruangan.”

Setelah mengucapkan kalimat itu, dayang Senior itupun berpamitan, meninggalkan Aiko yang berdiri di sana dengan jantung berdebar.

Aiko sejenak hanya berdiri sambil meremas tangannya bingung, matanya memandang ke sekeliling ruangan, ada satu meja kayu yang berada di bawah jendela ke taman, satu lemari besar untuk menyimpan barang-barangnya, dan satu dipan dengan kasur yang dibungkus kain putih bersih.

Pada akhirnya Aiko memutuskan untuk membongkar barang-barangnya, beberapa pakaian pribadi dan seragam putih dayang yang tadi diberikan oleh dayang senior. Diambilnya seragam dayang itu, dielusnya bahannya yang berkualitas tinggi, lalu dia memutuskan berganti pakaian dengan seragam itu, menggulung rambutnya seperti yang dipesankan oleh dayang senior itu, dan berusaha tampil sesederhana mungkin.

Setelah itu dia duduk di tepi ranjang dan termangu.

Kata-kata para dayang senior tadi masih terngiang di benaknya, bahwa seluruh perisai kaisar pendahulunya meninggal keracunan, bahwa di balik gerbang istana merah ini semuanya laki-laki, bahwa tugasnya ini sama saja dengan mempertaruhkan nyawanya kepada malaikat kematian. Dia baru menyadari betapa berbahayanya kehidupan di balik tembok istana ini, padahal ketika memutuskan memasuki istana, Aiko hanya membayangkan kehidupan biasa sebagai dayang istana, lalu bisa mengirimkan ramuan obat untuk ibunya.

Tiba-tiba suara ketukan terdengar di pintu kamarnya, membuat Aiko yang sedang melamun sedikit terloncat kaget.

“Siapa?”

“Sebentar lagi jadwal jamuan siang untuk Yang Mulia Kaisar.” sebuah suara yang berat terdengar dari balik pintu, “Apakah kau sudah siap?”

Dia baru datang dan langsung bertugas?

Aiko langsung turun dari ranjang, berdiri dan menepuk-nepuk pakaiannya memastikannya tidak kusut, beruntung tadi dia sudah mengenakan pakaian dayang berwarna putih sehingga tidak perlu panik.

Setelah menarik napas panjang dan mengucap doa singkat, Aiko membuka pintu.

Seorang lelaki berpakaian kasim tampak berdiri di sana, usianya sudah setengah baya dengan kerutan di sana-sini, tetapi ekspresi wajahnya nampak lembut.

“Aku Rojin, kepala pelayan di istana merah, kau boleh memanggilku kakek Rojin, kemarilah aku akan membimbingmu melakukan tugas pertamamu.” Lelaki itu memutar tubuhnya, memberi isyarat Aiko untuk mengikutinya.

Mereka berjalan melalui koridor istana dengan ruang-ruang berpintu emas di satu sisi dan taman bunga di sisi yang lain, kakek Rojin berjalan di depan dengan langkah cepat sambil berbicara, sementara  Aiko terbirit-birit mengikuti di belakang,

“Kau harus ada dimanapun Yang Mulia melaksanakan jamuan makan, entah itu di dalam istana merah ataupun di istana-istana yang lain, bahkan jika Yang mulia memutuskan untuk bersantap di istana selir sebelum mengunjungi selirnya, meskipun itu jarang terjadi.” kakek Rojin langsung berhenti untuk berdehem seolah ingin menelan kata-katanya kembali , “Makanan dan minuman apapun yang hendak disantap Yang Mulia harus kau cicipi dulu. Di hadapan Yang Mulia akan dihidangkan sepinggan menu lengkap hidangan makanan dan minuman, kau akan berlutut di sana, dan mencicipi hidangan itu di hadapan Yang Mulia.” kakek Rojin melirik Aiko, lalu menghela napas panjang seolah menyadari betapa tidak berpengalamannya perempuan muda di belakangnya ini, “Ingat, selalu berhati-hati, selalu waspada. Amati dengan sungguh-sungguh makanan yang ada di depanmu, cium aromanya, jika ada yang kau rasa aneh di warna dan baunya, teteskan sedikit di lidahmu, jangan telan. Kau hanya boleh mencoba sesendok penuh setelah kau yakin itu aman.”

Aiko mengerutkan keningnya, tidak bisa menahan dirinya untuk bertanya,  “Jika metodenya begitu berhati-hati, kenapa…. Kenapa semua perisai kaisar yang sebelumnya meninggal?”

Kakek Rojin menghela napas panjang, “Mereka lengah dan kurang waspada, karena itu nyawa mereka jadi korban.” ekspresi kakek Rojin menunjukkan bahwa dia tidak mau membahas masalah itu lagi,  karena itulah Aiko sadar diri dan menutup mulutnya.

Tiba-tiba kakek Rojin menghentikan langkahnya, dan memutar tubuhnya, menatap Aiko dengan sungguh-sungguh,

“Ketika Kaisar Shen makan, dia akan melepas topengnya. Karena itulah sang perisai akan ditinggalkan hanya berdua saja dengan Kaisar Shen. Kau harus berhati-hati, seingin tahu apapun dirimu tentang wajah asli Kaisar, jangan pernah mencoba mengintip, melirik, mencuri pandang, apalagi mengangkat kepalamu, kalau kau lakukan itu, Kaisar Shen tidak akan segan memenggal kepalamu, sudah pernah ada beberapa perisai Kaisar Shen yang dipenggal karena tidak bisa menahan rasa penasarannya.”

Aiko gemetar, dia mengerjapkan matanya dan mengangguk sungguh-sungguh. Dia masih ingin hidup. Nyawanya tidak sepadan dengan keingintahuannya untuk melihat wajah asli sang Kaisar.

Kakek Rojin menyipitkan mata, mengamatinya dalam-dalam. Lelaki setengah baya itu nampak puas dengan apa yang ditemukannya, karena ketegangannya memudar,

” Bagus, berusahalah untuk tidak mati di hari pertamamu bertugas.”

Sekali lagi Aiko mengangguk, mendengarkan dengan patuh sambil mengikuti langkah kakek Rojin yang memimpinnya sambil menjelaskan tatacara pengicipan hidangan dengan terperinci kepadanya.

Mereka sampai di depan sebuah pintu besar kayu berwarna hitam dengan ukiran naga merah di sana, dua orang pengawal langsung membukakan pintu, Kakek Rojin mendahului masuk, diikuti oleh Aiko.

“Berlutut.” Kakek Rojin memberi instruksi sambil berbisik, Aiko patuh dan berlutut dengan posisi bersujud serta kepala direndahkan sejajar tanah, mengikuti kakek Rojin di depannya. Dari sudut matanya, Aiko sempat melihat Kaisar Shen sedang duduk di singgasananya, serupa tatami berkarpet emas yang posisinya lebih tinggi dari lantai tempat Aiko bersujud, dengan meja rendah di depannya untuk menghidangkan jamuan makan. Topeng emasnya, meskipun sekelebatan, tetap saja menimbulkan rasa ngeri yang membuat bulu kuduk berdiri.

“Panjang umur untuk Kaisar Shen, hamba datang mengantarkan perisai  Kaisar.” ucap kakek Rojin dengan suara penuh hormat.

Kaisar Shen hanya memberi isyarat dengan anggukan pelan, pertanda bahwa sang perisai harus memulai tugasnya.

Dua nampan makanan dibawa masuk ke dalam ruangan oleh pelayan pribadi Kaisar, dan diletakkan di meja di depan Kaisar.

Sejenak Aiko bergeming, bingung harus berbuat apa, sampai kakek Rojin menegurnya pelan,

“Jalan sambil berlutut ke atas. Berlututlah di samping meja Kaisar, lalu tunggulah kami semua meninggalkan ruangan ini. Setelah pintu tertutup, mintalah izinlah kepada Kaisar untuk memulai tugasmu, ingat semua pesanku tadi, berusahalah jangan mati di hari pertamamu.”

Debaran jantung Aiko berdentum mengikuti gerakannya berjalan sambil berlutut ke samping meja Kaisar yang berada di lantai yang kebih tinggi, napasnya mulai tercekat ketika mendengar semua orang yang berada di ruangan itu mulai melangkah pergi, dan ketika dia mendengar pintunya ditutup, debaran jantungnya terasa begitu memuncak sehingga memukul-mukul rongga dadanya.

Hening.

Tidak ada gerakan apapun dari sang Kaisar, seolah menunggu. Membuat Aiko sadar akan tugasnya. Dengan terbata-bata dia meminta izin, masih dengan posisi bersujud dan kepala merendah,

“Mohon izin Yang Mulia, hamba akan memulai tugas hamba.”

Ada jeda sejenak sebelum kemudian terdengar suara Kaisar Shen,

“Lakukan.” lalu ada beberapa gerakan dari Kaisar, dan kemudian, samar dari sudut matanya,  Aiko melihat jemari Kaisar Shen meletakkan topeng emasnya di meja, di samping nampan makanan.

Aiko, yang masih menundukkan kepalanya terkesiap, dia mulai gemetar, Demi Dewa yang Agung! Kaisar Shen melepas topengnya! Sekarang dia harus benar-benar berhati-hati, apapun yang terjadi, matanya tidak boleh melihat wajah asli sang kaisar.

Matanya melirik satu set sendok perak di nampan sedang yang diletakkan di depannya, Aiko yakin sendok sederhana itu disiapkan untuknya, karena peralatan makan sang Kaisar tersedia di sana, satu set lengkap berlapis emas dan bertahtakan berlian.

Jemari mungil Aiko memgambil sendok itu, menarik napas perlahan, merapalkan doa. Mengikuti nasehat kakek Rojin tadi, dia mengamati semua menu makanan di atas meja, tidak ada yang aneh, semua makanan tampak lezat dan menggugah selera, aromanya pun harum seakan merayu indera penciuman supaya tunduk ke dalam mantranya.

Lalu Aiko memulai ritual pencicipan, satu sendok kecil makanan untuk satu hidangan, dan berganti sendok setiap berganti mencicipi menu. Semua terasa baik-baik saja, sampai yang terakhir adalah air putih yang terletak di cawan emas. Air putih itu nampak bening dan tidak berbau, tanpa pikir panjang, Aiko mengambil sesendok dan hendak memasukkan ke dalam mulutnya.

Tapi tiba-tiba Kaisar Shen menampar tangannya, begitu keras hingga sendok itu terlempar jauh dari pegangannya, dan sikunya menyenggol gelas itu hingga isinya tumpah di karpet emas.

Aiko mengaduh, menggenggam tangannya yang kesakitan, dia terkejut karena Kaisar Shen menampar tangannya tanpa peringatan, tetapi kemudian matanya menatap karpet emas yang tertumpah air minuman  itu, tadinya karpet itu tampak baik-baik saja, tetapi sejenak kemudian, karpet emas itu tampak gosong, meleleh dan akhirnya berlubang dengan asap yang berdesis mengerikan. Astaga, seandainya saja air itu dia telan dan masuk ke dalam perutnya, entah apa yang akan terjadi pada ususnya.

“Bodoh! Teledor!” Kaisar Shen menggeram tampak jengkel , “Kau ingin mati hah? Apa kau tidak sadar air itu beracun?”

Tiba-tiba jemari sang Kaisar meraih dagunya. Aiko terkesiap dan langsung memejamkan matanya rapat-rapat. Dia bisa merasakan bahwa mereka berada begitu dekat, aroma harum yang misterius serupa bebungaan bercampur rempah-rempah merayapi indera penciumannya, membuat Aiko makin gemetaran. Untunglah… Untunglah sebelum terlambat dia menutup matanya….

“Kenapa kau menutup matamu?” suara Kaisar Shen terdengar begitu dekat di wajahnya,”Apakah kau tidak ingin tahu bagaimana  wajah asliku?”

Aiko memejamkan matanya semakin rapat bibirnya gemetar ketika menjawab, pun dengan suaranya,

“Ampun Yang Mulia…” suara Aiko hilang di tenggorokannya, “Ampun…Hamba sungguh-sungguh tidak berani.”

Kaisar Shen mengencangkan pegangannya di dagu Aiko, “Buka matamu.”

“Ampun Yang mulia…” air mata Aiko mulai menggulir dari sudut matanya, apakah Kaisar Shen sebenarnya sedang mencari alasan untuk membunuhnya?, “Hamba tidak bera…”

Kau berani melawan perintah Kaisar? Buka matamu!”, Kaisar Shen menggeram, terdengar tidak sabar.

Aiko mulai menangis, maafkan aku ibu… kata-kata itulah yang langsung muncul di benaknya. Dibayangkannya ibunya yang terbaring lemah di atas ranjang, hatinya hancur menyadari bahwa dia gagal menyelamatkan nyawa ibundanya. Dia yakin setelah ini Kaisar Shen akan membunuhnya, tetapi apalah dayanya? Dia hanya seorang hamba, jika Kaisar memerintahkannya untuk menjemput kematiannya, maka dia harus menyongsong kematian itu dengan patuh,

Perlahan Aiko membuka matanya, menyadari jantungnya yang memukul kencang, diselimuti oleh ketakutan yang amat sangat. Dan kemudian, dia menatap ke depan, lalu terkesiap melihat pemandangan di depannya,

Kaisar Shen ternyata masih mengenakan topengnya… Topeng polos lapisan pertama yang menutupi wajah itu masih bertengger di sana, di dekat wajah Aiko, mata Aiko melirik ke arah meja, dan melihat topeng satunya lagi yang berukir serupa tengkorak  tergeletak di meja, rupanya Kaisar Shen tadi hanya melepas satu topengnya.

Aiko masih ternganga ketika jemari Kaisar yang tadinya mencengkeram dagunya, bergerak ke atas dan dengan lembut mengusap air matanya,

” Bodoh.” Kaisar Shen bergumam, sekilas Aiko mendengar nada geli di sana, Kaisar pasti sedang menertawakan kekonyolannya yang memaksakan diri menutup mata karena mengira Kaisar Shen sudah melepas topengnya.

Aiko merasakan pipinya memanas,merah karena malu. Dia masih bergeming di sana, berusaha menetralkan perasaannya, ketika tanpa kata Kaisar Shen berdiri dan beranjak meninggalkannya sendirian di ruangan itu….

325 Komentar

  1. Septiani 09 menulis:

    :aw..aw :aw..aw maeumi aduh ne simjang

  2. Memulai kembali :kumenangismelepasmu

  3. Linda Siswanti menulis:

    Syerammm jg hidup zaman kerajaan, jd raja yg selalu terancam d racun, dan para perisai raja yg kl salah langkah nyawa melayang…

  4. Kia Luthfia menulis:

    :lovely

  5. irmayohana menulis:

    :larikarenamalu :larikarenamalu hmmm

  6. yasmin cavelli menulis:

    :kumenangismelepasmu

  7. kena prank dia

  8. Diah Wardani menulis:

    :sebarcinta

  9. ClaireNAs07 menulis:

    Kok aku yang degdegannn :wowakuterkejoet :lovelove

  10. Mamita Fatih menulis:

    :luculuculucuih

  11. Putri Ratnasari menulis:

    Mohon maaf kaisar ..
    Saya baper :”)

  12. Nyari sesuatu sampe sini dpt daun obat ,

  13. Yuhuu

  14. Cenayang gadungan menulis:

    wajarlah aiko takut orang kaisar zhen medeni😂😂

Tinggalkan Balasan