emperors-consort2
Emperors Consort

Emperor’s Consort Part 10-2 : Pedang dan Darah Kaisar bag 2

Bookmark

No account yet? Register

1.490 votes, average: 1,00 out of 1 (1.490 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

emperors-consort2

Malam mulai beranjak semakin larut ketika langit menggelapkan hamparan tubuhnya serta mempersilahkan bintang-bintang untuk mulai berpendar di semua sisi. Jika dilihat dari bumi, langit malam ini layaknya seorang perempuan bangsawan pongah yang sedang asyik memamerkan perhiasannya kepada semua makhluk yang menatap kehadirannya.

Setelah menemui pemimpin desa diam-diam yang kemudian mengantar seluruh pasukan pengiringnya ke penginapan terbaik yang ada, tabib Zhou menunggangi kudanya sendirian, kembali ke rumah ibunda Aiko. Pemimpin pasukan pengiringnya tadi ingin mendampingi, tetapi Tabib Zhou memintanya beristirahat saja dan dia sendiri yang akan mengunjungi ibunda Aiko. Kondisi ibunda Aiko yang sakit membuat Tabib Zhou merasa harus berhati-hati dan tidak memberi kejutan yang ditakutkan bisa berimbas kepada kesehatan beliau.

Lagipula ada sesuatu yang perlu dipastikan olehnya, sesuatu yang mengusik benaknya sejak semula ketika menyadari kecantikan wajah Aiko yang familiar. Orang lain mungkin tidak menyadari, tetapi Tabib Zhou tahu persis bahwa kecantikan semacam itu hanya dimiliki oleh perempuan-perempuan yang ada di dalam garis inti keluarga besarnya.

Keluarga Yangzyi adalah keluarga bangsawan yang terkenal akan kecantikan dan ketampanan parasnya, dirinya adalah salah satu contohnya. Kelebihan itulah yang dimanfaatkan oleh keluarga Yangzyi untuk membangun nama besarnya di bidang negosiasi dan diplomasi dengan negara-negara lain. Keluarga Yangzyi memang tidak memiliki kekuatan senjata serta pasukan perang seperti keluarga-keluarga bangsawan kelas tinggi lainnya, mereka lebih fokus di bidang administrasi, seni, diplomasi dan pengobatan.

Dan kecantikan Aiko membuatnya curiga. Parasnya, struktur bagan-bagian wajahnya, mata, hidung, bibir, bahkan tulang pipinya membuatnya ragu sekaligus yakin. Membuatnya bertanya-tanya… siapakah ayah kandung Aiko?

Sempat tersirat di benaknya bahwa dirinyalah orangnya. Tetapi dia tidak yakin. Dirinya selalu berhati-hati menebar benih, dan lagi kemampuannya sebagai seorang tabib, membuatnya yakin bahwa dia sudah melakukan antisipasi terbaik supaya tidak ada seorang anak yang tidak direncanakan bisa terlahir tanpa sengaja.

Yah, bagaimanapun juga sebentar lagi dia akan menemukan jawaban. Segera setelah dia menemui ibu Aiko, dia akan tahu.

Tabib Zhou mengikat kudanya di tiang pancang yang terletak di bagian depan rumah, dibukanya pagar kayu rumah itu sambil mendongak menatap langit cerah di desa Shiren dan mengerutkan kening ketika sudut matanya menangkap kerjapan kilat nun jauh di sana. Cuaca yang tak menentu menimbulkan perbedaan di beberapa wilayah kerajaan Shasou. Di sini mungkin sedang cerah dan terang benderang, tetapi di tempat lain, tidak menutup kemungkinan hujan badai sedang menghujam tanpa ampun.

Pikiran Tabib Zhou terbang ke arah para pasukan yang dibawa oleh Kaisar Shen, mau tak mau, kecemasan pun merayapi benaknya. Menurut perhitungan waktunya, jika lancar, pasukan Kaisar Shen pasti sudah sampai ke tepian gurun dan bermalam di tepian gurun saat ini. Cuaca di area gurun sangatlah ekstrim. Panas menyakiti di siang hari dan dingin membekukan di malam hari. Tabib Zhou hanya bisa berdoa dalam hati, mudah-mudahan asisten Li dan beberapa pegawainya bisa mengatasi kalau-kalau nanti beberapa prajurit yang tidak kuat fisik tumbang karena tidak kuat menahan kondisi cuaca ekstrim yang merusak daya tahan tubuh.

Sementara untuk Kaisar Shen sendiri, Tabib Zhou yakin Kaisar Shen cukup sehat dan kuat. Sebagai seorang Kaisar, tentu saja sejak kecil beliau mendapatkan penanganan yang berbeda untuk menjaga kondisi tubuhnya.

Makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh Kaisar Shen adalah yang terbaik, pun dengan obat-obatan herbal untuk menjaga kondisi tubuh. Kaisar Shen selalu diberikan buah shansuo, buah berwarna putih berkilauan yang khusus ditanam sebagai hidangan khusus untuk para Kaisar negeri ini.

Buah shansuo dipercaya mengandung semua inti terbaik untuk menjaga stamina dan kesehatan Kaisar. Karena begitu berkhasiatnya buah ini, harga buah shansuo terbilang sangat mahal. Dan karena perawatan tanaman shansuo untuk menghasilkan buah kualitas terbaik sangat sulit, maka menyebabkan sangat sedikit jumlah buah yang bisa dihasilkan setiap tahunnya. Buah shansuo juga tidak umum dibudidayakan masyarakat, karena memang sesuai peraturan, buah hanya diperbolehkan menjadi santapan Kaisar atau isteri Kaisar yang sedang mengandung dan kadang bisa juga untuk hantaran hadiah bagi raja atau pemimpin kerajaan lain.

Buah shansuo, ramuan ginseng, teh herbal racikannya dan beberapa hal lain yang selalu dijaga untuk diberikan kepada Kaisar, membuat Tabib Zhou yakin bahwa Kaisar Shen sudah pasti lebih sehat jika dibandingkan siapapun di kerajaan Shiren.

Lamunan Tabib Zhou tentang Kaisar Shen dan pasukannya terhenti ketika langkah kakinya tanpa sengaja menginjak sisi kayu longgar yang menjadi lantai teras, menimbulkan suara berderit cukup keras yang memecah keheningan malam.

Lelaki itu menunduk, melihat ke arah sumber suara, lalu mengalihkan langkah kakinya supaya berhati-hati dan tidak menginjak bagian-bagian yang longgar lagi.

Matanya memindai seluruh sisi, dari lantai, dinding, bahkan sampai bagian atas rumah. Rumah ini secara keseluruhan terbuat dari kayu yang disusun rapi dan berukuran kecil. Tipe rumah yang sama dengan rumah-rumah lain di desa Shiren.

Meskipun kecil dan sederhana, tabib Zhou memperhatikan bahwa halaman dan seluruh bagian rumah ini begitu bersih serta terawat rapi. Syukurlah, sepertinya ada orang yang membantu ibunda Aiko untuk merawat rumah dan membersihkannya secara berkala.

Langkahnya terus mendekati bagian utama pintu, ketika hidungnya mencium aroma wangi rempah-rempah yang sangat familiar. Ada senyum tipis tersungging di sana ketika dia menyadari bahwa hal ini wajar, mengingat ibunda Aiko adalah seorang tabib perempuan. Tabib perempuan keberadaannya sangat langka di kerajaan Shasou, mengingat sistem masyarakat di sini yang sangat mengandalkan laki-laki di semua bidang.

Tabib Zhou tahu bahwa ibunda Aiko menjadi tabib dikarenakan beliau merupakan satu-satunya anak perempuan yang bisa diwariskan ilmu oleh ayahandanya. Dan Aiko juga mendapatkan pendidikan sebagai tabib dikarenakan dia juga merupakan anak perempuan satu-satunya. Tabib Zhou yakin jika ibunda Aiko bukanlah anak perempuan satu-satunya, kakek Aiko pasti akan memilih untuk mewariskan ilmunya kepada anak laki-lakinya yang lain.

Tabib Zhou bukanlah tipe yang memandang rendah perempuan seperti kebanyakan laki-laki lain di kerajaan Shashou. Dia bahkan merasa kagum dengan kemampuan perempuan yang selama ini dipandang sebelah mata dan dianggap tidak mampu.

Baginya, perempuan itu adalah mahluk unik yang luar biasa, perempuan itu rapuh sekaligus kuat. Apalagi jika menyangkut orang-orang yang mereka kasihi, perempuan bisa menjadi induk domba yang penuh kasih untuk anak-anaknya, sekaligus menjadi singa betina yang mengerikan ketika anak-anaknya diganggu.

Aroma ramuan obat yang pasti sedang mendidih dan dimasak di atas tungku itu membuat Tabib Zhou memejamkan mata untuk meningkatkan indera penciumannya, mencoba menebak-nebak apa bahan-bahan yang sedang dimasak di dalam sana.

Aroma gurih ini sudah pasti berasal dari kaldu daging segar berminyak yang diambil sari kentalnya, dan juga tercium aroma khas ginseng yang menyengat berpadu dengan tofu segar yang dimasukkan belakangan, seluruh aroma itu berpadu dengan harumnya rempah-rempah tumbuk yang dicampur dengan hati-hati.

Ini bukan ramuan obat, tabib Zhou tersenyum samar. Ini adalah sup ginseng kesehatan yang sedang panas-panasnya.

Langkah Tabib Zhou terhenti di depan pintu kayu sederhana itu. Dia menarik napas panjang dan kemudian mengetuknya. Jantungnya berdebar penuh antisipasi ketika menunggu reaksi. Sayangnya yang ditunggu tak kunjung datang, tidak ada suara apapun dari balik pintu.

Sambil menghela napas, Tabib Zhou mengetuk kembali dengan lebih keras dan beruntun, berharap kali ini berhasil menarik perhatian siapapun yang ada di dalam rumah.

Usahanya yang kedua ini berhasil. Terdengar suara langkah pelan dari dalam dan suara gerendel pintu dibuka. Dari celah pintu muncul seorang gadis muda yang langsung ternganga melihat wajah rupawan yang berdiri di depan pintu.

Tabib Zhou tersenyum dan membuat mata anak gadis itu melebar, anak gadis ini sepertinya asisten tabib. Seorang tabib desa biasanya mengangkat beberapa anak untuk menjadi asistennya. Kenyataan bahwa ibunda Aiko menjadikan anak perempuan sebagai asisten tabib membuatnya tersenyum sendiri. Ibunda Aiko sudah pasti bukan penganut paham bahwa perempuan seharusnya menjadi nomor dua di bawah laki-laki.

Tabib Zhou tahu bahwa mata belia itu sedang mengamatinya lekat-lekat dengan penuh kekaguman, dirinya sudah terbiasa mendapatkan reaksi seperti ini dari perempuan manapun, sehingga seringkali dia menanggapinya dengan geli dan bercanda.

“Perkenalkan aku Tabib Zhou Yangzyi dari ibu kota, mohon maaf aku bertamu di waktu yang begitu larut, tapi bolehkah aku menemui tuan rumah?”

Anak gadis itu menelan ludah sementara kekaguman masih tersirat di sinar matanya, “Tabib Hana sedang beristirahat di kamar, tapi aku akan menanyakan apakah beliau bersedia menemui anda.” Asisten muda itu otomatis membungkuk memberi hormat sebelum berpamitan dan mundur meninggalkan Tabib Zhou sendirian di pintu. Penampilan Tabib Zhou yang luar biasa dan pakaiannya yang terbuat dari bahan bagus berkualitas membuatnya yakin bahwa tamu yang datang ini bukanlah orang sembarangan.

Tidak perlu waktu lama untuk Tabib Zhou menunggu di depan pintu. Tak berapa lama kemudian, anak perempuan itu datang dengan langkah tergesa menemuinya kembali. Setelah membungkuk hormat sekali lagi, anak perempuan itu berkata,

“Tabib Hana tadinya tidak bersedia menerima tamu, tetapi setelah mendengar nama keluarga anda, beliau mempersilahkan anda menemuinya di ruang tengah, jika tidak keberatan.”

Tabib Zhou memasang kembali senyum manisnya, “Tentu saja aku tidak keberatan.”

Dia kemudian melangkah memasuki rumah sederhana berlantai kayu itu. Melalui ruang depan mungil yang berisi perabotan sederhana, hanya kursi-kursi kayu biasa dan dua buah dipan terpajang di sana. Sepertinya dulu ini adalah tempat Tabib Hana mengobati pasiennya yang datang berkunjung.

Mereka kemudian melangkah memasuki ruangan lain yang berukuran lebih besar. Ruangan ini beraroma rempah-rempah pekat akibat banyaknya toples-toples berjajar di rak-rak yang dipakukan bertumpuk di sepanjang dinding. Setiap toples berisi akar-akaran dan beberapa buah obat yang dikeringkan.

Koleksi obat di sini sangat lengkap hingga hampir membuat Tabib Zhou merasa kagum. Untuk ukuran seorang tabib desa terpencil di pinggiran kerajaan, Tabib Hana rupanya cukup ahli di bidangnya.

“Silahkan menunggu di sini, Tabib Hana akan datang menemui anda.” Gumam anak gadis itu yang disambut anggukan pelan Tabib Zhou.

Sepeninggal anak gadis itu, Tabib Zhou memusatkan perhatiannya ke toples-toples yang terpajang di sana, berjalan pelan dengan tangan bertautan di belakang punggungnya. Dia mengamati setiap isi toples dan tersenyum senang ketika berhasil menebak apa isinya.

“Anda sepertinya sangat tertarik dengan obat-obatan.” Suara lemah itu menyapa pelan dari balik punggungnya, membuat Tabib Zhou menoleh kaget.

Matanya menangkap sosok kurus yang begitu pucat dan sakit. Tabib Hana tampak kepayahan, dirinya berjalan susah payah dengan bantuan tongkat dengan dipapah oleh asisten mudanya. Sang asisten membantunya duduk di salah satu kursi besar dan kemudian ibunda Aiko membisikkan perintah kepada asistennya dengan suara pelan,

“Sajikan sup ginseng yang segar untuk tamu kita begitu sudah matang, dan minuman.”

Asisten muda itu menganggukkan kepalanya lalu melangkah pergi, tak lupa sebelumnya matanya melirik ke arah Tabib Zhou, melemparkan pandangan kagum yang tak bertepi.

Mata Tabib Zhou masih mengamati ibunda Aiko, menyadari bahwa gurat kecantikan masih tersisa di sana meskipun tertelan oleh penyakit yang melemahkan.

“Anda tampak familiar.” Tabib Zhou menunduk sopan sebelum kemudian mengambil tempat duduk di depan ibunda Aiko. Pikiran Tabib Zhou berusaha mencari tahu, apakah Hana pernah menjadi salah satu kekasihnya di masa lampau.

Mata Hana menatap ke arah Tabib Zhou lalu tersenyum, “Dan anda juga tampak familiar.,” perempuan itu terkekeh lemah di balik napasnya yang sedikit tersengal ketika melihat Tabib Zhou ternganga kaget, rupanya dia bisa membaca apa yang ada di dalam pikiran Tabib Zhou, “Seorang bangsawan kelas atas Yangzyi yang terhormat berkunjung ke rumah saya yang sederhana…..pasti berhubungan dengan masa lalu kami.” Hana tersenyum lembut bercampur kesedihan, “Saya sempat mengira anda adalah orang lain, ternyata saya salah duga.”

“Anda mengira saya adalah orang lain?” Tabib Zhou mengulang pertanyaan Hana, merasa sedikit tidak yakin.

Hana menganggukkan kepalanya, “Ketika mendengar keluarga Yangzyi datang bertamu, saya mengira ayah kandung Aiko yang datang……. Tabib Zhang Yangzyi, apakah anda mengenalnya?”

Tabib Zhou ternganga, keterkejutan menggurati wajahnya, membuat bibirnya kaku dan tidak mampu mengeluarkan kata-kata.

Tabib Zhang Yangzyi adalah kakak sepupunya, gurunya. Seorang tabib terhebat dari keluarga Yangzyi yang sayangnya menghilang enam tahun lalu. Beliau menghilang begitu saja, tanpa pesan, tanpa berpamitan. Dan sampai sekarang tetap tidak ditemukan rimbanya.

Apakah benar yang dikatakan oleh ibunda Aiko? Bahwa Tabib Zhang Yangzyi adalah ayah kandung Aiko? Kenyataan ini mungkin dirahasiakan dari Aiko, gadis polos itu bahkan tampak tidak menyadari bahwa ada darah bangsawan mengaliri tubuhnya. Tetapi bagi Tabib Zhou perkataan Tabib Hana sudah menjawab kecurigaannya, ada darah Yangzyi di tubuh Aiko, dan syukurlah, Aiko bukanlah anak gadisnya.

Tidak terbayangkan jika Aiko adalah anak kandungnya, tidak terbayangkan dirinya yang menjadi mertua Kaisar Shen. Kaisar pasti akan marah besar kalau sampai itu terjadi dan menghukumnya karena menebar benih di mana-mana.

“Tabib Zhang adalah mentor saya, kakak sepupu saya.” Tabib Zhou bergumam hati-hati, “Dan mengingat gurat wajah khas Aiko, saya percaya bahwa ada darah Yangzyi mengalir ditubuhnya.” Tabib Zhou merendahkan nada suaranya dan berucap pelan, “Anda pasti tahu bukan bahwa Tabib Zhang menghilang sejak lama tanpa jejak? Apakah anda tahu di mana dia?”

Ekspresi di wajah kurus dan pucat itu tampak sedih, “Kalau saya tahu, tentu saya tidak akan mengira bahwa beliau yang datang bukan? Beliau meninggalkan saya sejak lama, lama sekali, bahkan ketika saya mengandung Aiko. Hubungan kami…. murni kecelakaan. Saya dulu mengikuti ayahanda saya bekerja sebagai asisten tabib untuk Tabib Zhang, beliau begitu mempesona.” Ada senyum mengenang di mata Hana ketika berkata, “Anda pasti menyadari betapa pesona keluarga Yangzyi sangat sulit ditolak oleh perempuan manapun. Lalu saya jatuh ke dalam pelukannya. Seorang perempuan bodoh berusia belia dengan mimpi akan cinta. Ketika saya hamil, saya menyadari bahwa kenyataan tidak seindah mimpi saya. Tabib Zhang tentu saja tidak akan menikahi rakyat jelata seperti saya. Beliau menjamin saya tentu saja ketika ayahanda saya mengasingkan saya sampai Aiko dilahirkan. Setelah itu saya tidak pernah menerima kabar apapun darinya.” Hana mengernyitkan dahinya, “Sampai akhir-akhir ini…”

Tubuh Tabib Zhou menegang, “Akhir-akhir ini?” Informasi tentang Tabib Zhang sesedikit apapun tentu saja sangat menarik baginya, bagaimanapun Tabib Zhang adalah keluarganya, hilangnya beliau meninggalkan luka mendalam di dada seluruh keluarga.

“Ada beberapa orang suruhan yang datang ke rumah beberapa waktu lalu, mereka bilang bahwa mereka disuruh oleh Tabib Zhang… semula saya tidak percaya, tetapi beliau menunjukkan ini,” Tabib Hana mengeluarkan sesuatu dari saku pakaiannya, sesuatu yang dibungkus hati-hati dengan sapu tangan putih bersih. Dibukanya bungusan sapu tangan itu dan ditunjukkannya kepada Tabib Zhou. “Ini adalah lambang keluarga kerajaan Yangzyi…. bunga teratai merah, dan di baliknya ada nama Zhang.” Tabib Hana membalikkan lambang kerajaan yang diukir di atas batu giok merah itu dan menunjukkan apa yang dimaksud.

Tabib Zhou memajukan tubuhnya, mengamati lambang keluarga itu dan dengan sekilas pandang langsung meyakini keasliannya, dia juga memiliki satu yang seperti itu, dengan namanya sendiri di ukir di balik batu yang sama.

“Kalau boleh saya tahu, apa yang diinginkan orang suruhan Tabib Zhang tersebut?”

“Itulah yang membuat saya cemas…” Tabib Hana menghela napas panjang, lalu terbatuk-batuk pelan. Suara batuknya kering dan mengerikan, membuat dahi Tabib Zhou mengernyit cemas. Ibunda Aiko benar-benar sakit dan harus mendapatkan penanganan segera. “Orang suruhan itu meminta akar Youdu… salah satu akar langka yang dikoleksi oleh ayahanda saya. Akar itu adalah pemberian Tabib Zhang di masa lampau dan sekarang beliau memintanya lagi… yang membuat saya cemas, akar itu adalah salah satu bahan pembuat racun, saya cemas karena berpikir bahwa Tabib Zhang sedang membuat racun.”

“Tabib Zhang sedang membuat racun?” Tabib Zhou membelalakkan matanya, “Untuk apa? Astaga, mengetahui beliau masih hidup saja membuat saya terkejut, tetapi sekarang beliau sedang membuat racun? Untuk apa?”

Tabib Hana menggelengkan kepala lemah, “Saya juga tidak tahu…” Mata Tabib Hana mengamati Tabib Zhou dan penampilannya yang mewah, “Apakah anda benar-benar Tabib Zhou yang terkenal itu? Tabib kepercayaan Kaisar? Aiko… puteriku… dia masuk ke dalam istana untuk mencari anda.” Tabib Hana menghela napas panjang, “Saya sudah memperingatkannya bahwa kehidupan di dalam istana sangat keras, sebagai seorang dayang, akan sulit baginya untuk mencari anda, tetapi sekarang anda ada di sini dan itu berarti Aiko berhasil. Saya menduga anda kemari karena permintaan Aiko?”

Tabib Zhou mengangguk, “Alasan utama saya datang kemari adalah karena Aiko, karena saya ingin mencari jawaban atas kecurigaan saya, dan juga karena Kaisar Shen King.” Jawab Tabib Zhou, akhirnya memutuskan untuk jujur.

“Kaisar Shen King? Apa hubungannya Aiko dengan Kaisar Shen King?” Hana mengerutkan kening, lalu terbatuk-batuk lagi.

“Kaisar Shen King ingin menjadikan Aiko permaisurinya. Karena itu beliau mengutus saya untuk menjemput anda, sebagai calon ibu mertua kaisar. Kami ingin membawa anda ke salah satu rumah peristirahatan kaisar untuk menerima perawatan terbaik di sana.”

Kata-kata yang diucapkan Tabib Zhou dengan tenang itu membuat Hana ternganga dan membelalakkan matanya kaget.

“Astaga,” Suaranya serak, tertelan di tenggorokan, ekspresi ngeri tiba-tiba muncul di wajahnya “Kaisar Shen King dengan Aiko? Kaisar Shen selalu memenggal selir-selirnya bukan? Apakah ini berarti Aiko juga akan di penggal? Astaga, tidak… tidak… apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Aiko sampai menarik perhatian Kaisar?”

“Tenang dulu.” Tabib Zhou menyela pelan, berusaha menyalurkan ketengan di suaranya untuk meredakan kepanikan yang melanda Tabib Hana, “Bukan seperti itu, ceritanya panjang. Saya akan menceritakan nanti. Tetapi yang pasti anda harus tenang dulu. Kaisar Shen King mencintai Aiko, saya bisa menjamin itu. Dan saya yakin bahwa memenggal kepala Aiko adalah hal terakhir yang ada di pikiran Kaisar Shen.”

Tabib Hana meredakan napasnya yang tersengal, memegang dadanya yang berdebar kencang karena kabar mengejutkan ini. Dia sama sekali tidak habis pikir bahwa jalan Aiko akan serumit ini. Segala sesuatu yang berhubungan dengan Kaisar Shen akan menjadi rumit.

Menarik perhatian Kaisar Shen King. Kaisar kejam yang mengerikan itu… astaga… mudah-mudahahan Aiko baik-baik saja. Tabib Hana menghela napas panjang, berusaha meredakan hantaman menyakitkan yang tiba-tiba menyerang kepalanya, membuatnya sedikit limbung.

“Anda tidak apa-apa?” Tabib Zhou bergumam cemas ketika melihat tubuh kurus lemah di depannya itu mulai lunglai.

Mata Tabib Hana terbuka segera ketika dia teringat sesuatu, ada teror ketakutan di matanya ketika berucap,

“Saya pikir semula tidak ada hubungannya. Tetapi saya memiliki firasat… berhubungan dengan Kaisar.” Tabib Hana bergumam terpatah-patah, “Ayahanda saya pernah bilang bahwa Tabib Zhang sangat membenci Kaisar Shen King… ada dendam di masa lalu tidak tahu apa, yang saya tahu, cinta sejati Tabib Zhang tewas dipenggal oleh tebasan pedang Kaisar Shen.”

“Apa?” Tabib Zhou langsung berdiri duduknya, “Apakah kata-kata ayahanda anda bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya? Kenapa kami sebagai keluarga terdekat tabib Zhang bahkan tidak mengetahui hal ini?”

“Hubungan itu hubungan rahasia, saya tidak tahu siapa yang mengetahui hal ini. Menurut saya, ini juga alasan kenapa Tabib Zhang menghilang… dan jika dihubungkan dengan racun yang dibuat Tabib Zhang, adakah kemungkinan jika beliau sedang membuat racun untuk kaisar?”

“Racun untuk kaisar?” Kali ini Tabib Zhou benar-benar tampak cemas, “Saya akan mengkoordinasikan penjemputan anda, mohon mengikuti perintah Kaisar, besok kereta penjemput dan pimpinan pasukan pendamping saya akan mendatangi anda dan memastikan anda nyaman di perjalanan.” Tabib Zhou melirik ke arah pintu belakang yang terbuka, asisten muda itu datang membawa nampan besar berisi mangkuk sup yang mengepul panas dan air minum, “Mohon maafkan ketidaksopanan saya, saya harus segera berpamitan.”

Tabib Zhou membungkuk memberi hormat, dan bergegas berlari meninggalkan rumah itu. Tidak dipedulikannya tatapan bingung si asisten muda, dia terus berlari sampai ke kudanya yang masih merumput tenang di depan pagar. Dilepaskannya ikatan kuda itu di tiang pancang, lalu dia naik ke punggung kuda dengan tergesa-gesa.

Dengan hentakan kencang, dia memacu kudanya secepat mungkin untuk menyusul pasukan Kaisar di area perbatasan utara kerajaan.

***

Mereka akhirnya berhasil tiba di benteng perbatasan bagian utara sesuai waktu yang ditentukan. Ada beberapa kendala tentu saja, beberapa prajurit yang kelelahan jatuh sakit dan memerlukan perawatan, beberapa kuda ada yang tumbang karena tidak mampu menahan beratnya perjalanan menyeberangi gurun pasir. Tetapi hal itu bukanlah masalah yang mengganggu. Asisten Li bersama beberapa asisten lain yang dikirim oleh Tabib Zhou berhasil menangani dan merawat para prajurit itu dengan baik.

Tenda-tenda para prajurit sudah didirikan, senjata-senjata sudah disiapkan dan pagi ini mereka akan berangkat menyerang pasukan kerajaan XiJiang yang sudah nampak berkemah di bawah bukit. Penyerangan utama dengan pasukan panah yang akan melindungi dari atas benteng, sementara para prajurit dan dibantu oleh pasukan berkuda akan menyerang keluar dengan bersenjatakan pedang.

Hari itu dini hari, serangan pertama akan dimulai ketika sinar matahari pertama mulai merayapi bumi. Mereka semua sudah siap tentu saja. Kuda-kuda sudah disisir dan diberi makan, pedang-oedang di asah, busur dan anak panah dibagikan, pun dengan para prajurit yang mulai mempersiapkan diri dengan baju perlindungan mereka. Suasana hiruk pikuk sendiri mulai terdengar ramai di luar tenda, bahkan ketika langit masih gelap, menanti fajar memeluk dan membangunkannya dalam terang.

Shen King sendiri sedang mempersiapkan diri. Dirinya akan memimpin sendiri pasukan berkuda di baris depan. Sepertinya pertarungan ini akan bisa diselesaikan cukup mudah, melihat bahwa tenda-tenda pasukan Xing Jiang yang hendak menginvansi bahkan tidak sampai separuh dari tenda-tenda yang didirikan Shen King untuk pasukannya.

Mungkin butuh dua atau tiga hari saja jika mereka bertempur dengan kekuatan penuh. Kecuali kalau nanti pasukan musuh punya strategi tersembunyi, atau mendatangkan bala bantuan tambahan, perang mungkin bisa berlangsung lebih lama.

Shen king mengerutkan kening tidak suka ketika memikirkan kemungkinan itu, dia ingin segera mengakhiri perang ini dan kembali ke dalam istana yang aman. Aman untuk Aiko.

Tidak pernah dia begini sebelumnya. Dulu dia sangat menyukai perang, merindukan darah, puas ketika berhasil menghabisi lawan-lawannya. Sekarang setelah Aiko benar-benar ada di dalam kehidupannya, yang ada di dalam benaknya hanya satu : menjaga Aiko.

Mata Shen King terpaku pada pakaian perangnya dan melirik ke arah Aiko yang berdiri di sana menatapnya dengan pandangan ketakutan yang tertahan. Shen King menghela napas panjang. Suasana sebelum berperang selalu membuat auranya berubah, mengerikan, karena penuh antisipasi akan kekejaman yang akan dia lakukan setelahnya. Dan dia tidak bisa menahannya.

“Kemarilah, pasangkan perisai ini.” Shen King mengulurkan tangannya ke arah Aiko, menunjukkan pelindung besi yang seharusnya di pasang di lengan dan sikunya.

Aiko melangkah pelan, dirinya berdiri dan meragu ketika berdiri di depan Kaisar Shen. Mata Kaisar Shen memberi isyarat supaya Aiko mengambil pelindung besi yang tergeletak di atas meja itu. Aiko menurut dan mendekat, dia mengambil pelindung besi itu pelan-pelan, sedikit gemetar. Matanya melirik ke arah Kaisar Shen yang menunduk dengan ekspresi dingin ke arahnya, Yang Mulia Kaisar Shen sedang mengulurkan sebelah lengan kepadanya.
Dengan hati-hati dipasangkannya pelindung besi itu ke lengan Kaisar Shen, jemarinya yang gugup sedikit salah langkah ketika menalikan pelindung besi itu kuat-kuat. Shen King menunduk, menatap pucuk kepala Aiko lalu tersenyum miris,

“Sudah sejauh ini, dan kau masih merasa takut kepadaku?”

Aiko mendongak mendengar perkataan Kaisar Shen, matanya langsung bertemu dengan warna emas indah yang membalas dengan tatapan sedih.

“Bukan begitu Yang Mulia… hamba hanya…” Aiko memejamkan mata sedikit sambil menghela napas panjang, “Perang terasa menakutkan, hamba sudah sering melihat dan mengobati korban perang, mereka… mereka semua terluka parah bahkan ada yang sampai meregang nyawa. Hamba hanya tak habis pikir, kenapa manusia memilih berperang dan bukannya berdamai.”

Mata Shen King melembut ketika berkata, “Karena kadangkala manusia tidak bisa menahan dorongan dasarnya, rasa benci, iri, ingin memiliki apa yang menjadi milik orang lain, ingin menunjukkan bahwa dirinya lebih hebat dari orang lain, ingin tertawa di atas penderitaan orang lain… hal itu menimbulkan gejolak. Yang ingin mempertahankan diri harus melakukan sesuatu, yang tadinya berdiam diri pun terpaksa melawan. Ketika hal-hal semacam itu terjadi, perang merupakan satu-satunya penyelesaian.”

“Tidak bisakah mereka saling berkompromi?” Aiko membulatkan kedua bola matanya, menatap penuh harap.

Shen King mengulurkan jemarinya, mengusap lembut rambut legam Aiko yang terasa sehalus sutera di telapak tangannya. Rambut itu pasti lembut dan harum, menumbuhkan keinginan Shen King untuk menenggelamkan kepalanya di sana dan menghirup aroma yang memuaskan hati.

“Tergantung. Ketika manusia mau menurunkan kesombongan masing-masing dan sedikit menundukkan kepala, mereka akan bersedia berkompromi. Aku sendiri tidak pernah menutup diriku dari kompromi. Tapi kali ini beda,” mata Shen King menggelap, “Mereka mencoba mengganggu apa yang menjadi milik kerajaan Shashou, dan sebagai seorang kaisar, aku harus membela rakyatku.”

Aiko menatap mata Shen King, dan menyadari kebenaran di balik kata-kata Sang Kaisar. Kaisar Shen berperang demi membela apa yang sudah menjadi miliknya. Perang inipun, bukan dimulai dari pihak kerajaan Shashou.

Tiba-tiba mata emas itu menyipit, menatap Aiko dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, tetapi membuat jantung Aiko berkejaran kencang. Kaisar Shen sedikit menunduk, kedua jemarinya tiba-tiba diletakkan di sisi kiri dan kanan pundak Aiko, menarik tubuh Aiko sedikit mendekat.

“Aku akan berangkat berperang,” bisiknya dengan nada berbisik penuh misteri, “Bisakah kau memberikan jimat untukku supaya aku bisa pulang dengan selamat?”

“Jimat?” Aiko membeo kebingungan, dan semakin bingung ketika salah satu jemari Kaisar Shen melonggarkan pakaian Aiko dan menurunkan kerah bajunya ke lengan sehingga salah satu sisi pundaknya terlihat, telanjang.

“Yang Mulia?” Aiko mulai gemetaran, ngeri ketika melihat tatapan tajam yang dilemparkan Kaisar Shen ke pundaknya.

“Bekasnya sudah memudar.” Dengan ibu jarinya, Kaisar Shen mengusap pundak Aiko, “Aku harus memberikannya lagi, tanda kepemilikan dariku. Kau milikku, Aiko.”

Dan kemudian, tanpa peringatan sama sekali, Kaisar Shen menunduk, lalu setengah menggigit pundak Aiko, di tempat yang sama di mana dia meninggalkan bekas sebelumnya. Gigitannya kali ini berbeda dengan sebelumnya, lembut, menggoda dan diselingi sesapan lidah yang menghantarkan hawa panas ke seluruh tubuh Aiko.

Kaki Aiko melemas dan tanpa sengaja berpegangan ke pundak Kaisar Shen, sementara Kaisar Shen dengan sigap langsung merangkul tubuh Aiko ke dalam pelukannya, mengangkatnya sambil merapatkan tubuh Aiko ke dirinya. Mata sang Kaisar terpejam, menikmati keharuman aroma tubuh Aiko dan manisnya cecapan rasa kulit Aiko yang membuainya.

“Yang Mulia.”

Mata emas itu terbuka mendengar panggilan yang diucapkan dengan terpaksa. Kaisar Shen membuka matanya dan melemparkan tatapan membunuh pada Jenderal Youshou yang berdiri di depan tenda kaisar, tampak salah tingkah dan tidak enak hati.

Begitu menyadari bahwa Kaisar Shen tidak mengenakan topengnya, Jenderal Youshou langsung menundukkan kepalanya dan mengalihkan pandangan matanya. Kalau Kaisar Shen sampai marah karena dia masuk begitu saja dan melihat beliau sedang tidak mengenakan topengnya, dalam keadaan seperti ini pula, bisa saja kepalanya langsung dipenggal seketika itu juga.

Kaisar Shen langsung mengangkat kepalanya, dan buru-buru menaikkan kembali pakaian Aiko menutupi pundak. Dipeluknya tubuh Aiko yang masih lunglai ke tubuhnya dan dengan sebelah tangan dirinya mengambil topeng emasnya yang tergeletak di atas meja, lalu memakainya.

“Pasukan sudah siap untuk berangkat.” Jenderal Youshou memberi hormat sambil membungkkan tubuhnya.

“Tunggu di depan.” Perintah Kaisar Shen dengan suara tajam yang segera dituruti oleh Jenderal Youshou. Sang Jenderal langsung memberi hormat dan memohon izin pergi, lalu setelah mendapatkan izin, dia melangkah ke luar tenda.

Kaisar Shen mendorong lembut tubuh Aiko yang lunglai, berjongkok dan mendudukkan Aiko di karpet bulu nan empuk,

“Aku akan kembali. Tunggulah di sini. Hiro akan berjaga di luar untukmu.” Tanpa bisa menahan diri, Kaisar Shen mengangkat dagu Aiko, lalu melumat bibirnya hati-hati.

Ketika tautan bibir itu terlepas, tatapan mata Kaisar Shen tampak berkabut. Lelaki itu menghela napas seolah sulit meninggalkan Aiko, tetapi kemudian menganggukkan kepalanya sedikit dan langsung membalikkan badan, melangkah tegap meninggalkan tenda, meninggalkan Aiko sendirian.

***

Tabib Zhou mengusap keringat yang mengalir di dahinya. Dia lelah, lelah sekali dan kudanya juga kelelahan akibat dipacu tanpa henti seharian. Lelaki itu menatap ke sekeliling, dan mendapati padang tandus dengan sedikit pohon di sana. Dicarinya pohon yang terbesar, lalu dia menuntun kudanya berjalan pelan ke sana untuk berlindung di bawah naungan dari teriknya matahari.

Ditambatkannya kudanya ke salah satu cabang pohon terendah, lalu duduk di samping kudanya di bawah pohon. Dengan hati-hati Tabib Zhou mengeluarkan botol persediaan air minum dari kantong pelana kuda, lalu mengambil tonik ramuannya dari kantong baju. Tonik ini akan membantu memperkuat stamina mereka berdua.

Perjalanan masih panjang. Tetapi harus dilakukan untuk menyelamatkan Kaisar.

Tabib Zhou menenggak air yang bercampur ramuan itu dari botolnya untuk memuaskan dahaga, lalu dia mengambil mangkuk lebar yang selalu dibawanya, dan menuang setengah isi botol itu ke mangkuk. Diberikannya mangkuk itu ke mulut kudanya, yang langsung dilahap dengan haus.

“Kau harus bertahan. Kita akan menuju kota dan setelah aku menukarmu dengan kuda lain, kau bisa beristirahat sejenak. Sebentar lagi. Kau harus kuat sebentar lagi.”

Tabib Zhou menunggu kudanya selesai minum sambil menatap cemas ke arah area padang tandus yang membentang di kejauhan. Cuaca begini panasnya hingga rumput-rumput yang hanya sedikit bertumbuhan di atas padang itu mengering, menebarkan aroma khas matahari bercampur layu yang menusuk hidung.

Dia harus berhasil melewati padang ini sebelum malam tiba karena tidak ada yang bisa menebak cuaca seperti apa yang akan dihadapinya ketika malam tiba.

Dihelanya napas panjang dan ditepuk-tepuknya punggung kudanya untuk memberi semangat, kuda itu meringkik seolah mengerti. Dengan sigap Tabib Zhou naik kembali ke atas kudanya dan memacunya sekencang mungkin menyeberangi padang tandus yang membentang.

***

Ketika pintu tenda terbuka di malam hari, Aiko yang seharian menunggu dengan cemas langsung terkesiap dan berdiri dari duduknya.

Matanya menatap ke arah pintu tenda, dan melihat Kaisar Shen masuk, diikuti oleh Jenderal Youshou dan beberapa panglimanya. Mereka berbicara dengan cepat menyangkut strategi perang yang tidak dimengerti oleh Aiko. Setelah itu, Kaisar Shen menyuruh semua orang keluar.

Ketika pintu tenda itu tertutup dan mereka hanya tinggal berdua, Kaisar Shen yang berdiri di tengah ruangan langsung mengarahkan kepalanya ke arah Aiko.

“Bagaimana keadaanmu?” Suara Kaisar Shen terdengar membelah batas tenda yang lebar sampai ke telinga Aiko.

Aiko mengerutkan kening. Seharusnya dia yang menanyakan pertanyaan itu kepada sang Kaisar, bukannya sebaliknya. Aiko begitu cemas, menanti seharian ini seperti seorang anak manusia yang digantung tanpa kepastian. Matahari terasa bergulir begitu lama, lebih lama dari biasanya, sementara dadanya dipenuhi oleh perasaan sesak dan pikiran-pikiran buruk yang mengganggu.

Menunggu memang terasa menyesakkan.

Tetapi sekarang, kelegaan memenuhi benaknya entah kenapa. Melihat Kaisar Shen berdiri di sini, tampak lelah tetapi tidak kurang suatu apapun membuat hatinya dipenuhi perasaan syukur yang membuncah.

“Hamba baik-baik saja yang mulia.” Aiko langsung menjawab cepat ketika menyadari tatapan mata Kaisar Shen yang menyipit karena dia tidak segera menjawab pertanyaannya.

“Bagus.” Kaisar Shen memberikan isyarat dengan gerakan kepalanya, “Kemari, bantu aku melepaskan pelindung besiku, aku akan mandi.”

Bersamaan dengan kata-kata sang Kaisar, ada suara di pintu memohon izin untuk mengantarkan air. Kaisar Shen memberi isyarat izin dan tenda itu terbuka, dua orang pelayan datang membawa ember-ember berisi air panas, dan menuangkannya di bak besar tempat berendam Kaisar Shen yang diletakkan di ujung sisi tenda, hanya dibatasi dengan tirai tipis untuk memisahkan dari pandangan ketika Kaisar Shen sedang membersihkan diri.

Selama ini Kaisar Shen selalu membersihkan diri di dalam tenda, dengan dilayani oleh beberapa pelayannya di balik tirai, sementara Aiko duduk di atas ranjang kecilnya dengan perasaan malu dan menahan diri tidak keluar dari sana sampai Kaisar Shen selesai berpakaian rapi.

Aiko mendekat, menuruti perintah Kaisar dan mulai membantu melepaskan masing-masing pelindung besi yang melapisi pakaian Kaisar di seluruh bagian, lengan, dada, pundak.

Aiko melepaskan pelindung lengan dan dada besi itu dari badan Kaisar Shen, ketika dia hendak melepaskan penutup besi di bagian dada, dirinya terkesiap ketika melihat ada banyak cipratan darah di sana. Jemarinya bergetar dan dia mendongak antara takut dan cemas ke arah Kaisar Shen yang sedang menunduk ke arahnya dengan aura dingin yang terpancar dari tubuhnya. Beliau masih mengenakan topeng sehingga Aiko tidak bisa membaca ekspresinya.

“Itu bukan darahku, aku baik-baik saja.” Gumam sang Kaisar tenang.

Aiko memejamkan matanya sedikit dan tanpa sadar menghela napas lega. Entah kenapa dia merasa lega ketika mengetahui bahwa itu bukanlah darah Kaisar Shen. Mungkin dia jahat, karena dia tahu bahwa itu bukan darah Kaisar Shen, berarti itu darah orang lain yang dibunuh oleh beliau, tetapi dia tidak bisa menahan diri untuk merasa lega.

Pelindung besi terakhir sudah dilepaskan, menampakkan baju sutera Kaisar yang berwarna merah dan emas. Ada noda darah yang menembus sampai ke dalam sana. Kaisar Shen memberi isyarat dengan tangan kepada dua pelayannya untuk datang mendekat, dan menatap Aiko kembali

“Aku akan mandi lalu mengadakan perjamuan di sini. Kau ikut makan bersamaku.” Titahnya tegas.

Aiko menganggukkan kepalanya, lalu melangkah mundur sambil memberikan penghormatan kepada Kaisar. Aiko tahu ketika waktunya Kaisar mandi, dirinya harus menunggu di atas tempat tidur yang ditutup tirai.

***

Aiko menunggu lama sampai dirinya dipanggil. Seorang pelayan membungkuk di depan tirai dan memintanya untuk keluar karena Yang Mulia Kaisar Shen sudah menunggu untuk perjamuan makan.

Di depan meja rendah yang besar itu, Kaisar Shen sudah duduk di atas karpet, di sisi meja. Hidangan sudah tersedia di atas meja, dan seorang laki-laki, seorang perisai Kaisar sudah berlutut di sana. Kaisar Shen memberikan isyarat kepada Aiko untuk duduk di depannya dan dengan pelan Aiko melangkah, berlutut, lalu menggeser tubuhnya untuk berlutut di depan meja perjamuan Kaisar, dirinya langsung meletakkan kedua tangan di depan dan menunduk untuk memberi hormat kepada Kaisar.

Kaisar Shen hanya menganggukkan kepalanya sedikit lalu memerintahkan perisainya untuk memulai ritual. Perisai itu memulai ritual pencicipan, persis seperti yang Aiko lakukan, mereka lalu menunggu sepuluh menit lamanya dan ketika tidak terjadi apapun, Kaisar Shen memerintahkan perisai itu untuk keluar.

“Makanlah, kau terlalu kurus.” Kaisar Shen melepaskan topengnya, meminum arak sedikit untuk membasuh lidahnya, lalu mengambil makanan dan menyodorkan semangkuk penuh nasi kepada Aiko. Setelah itu, Kaisar Shen menuangkan arak lagi untuk dirinya sendiri dan air putih untuk Aiko.

Mereka makan dalam keheningan, seperti biasa. Aiko sendiri makan dengan hati-hati dan sedikit malu. Matanya sebentar-sebentar melirik ke arah Kaisar Shen yang sedang menyantap hidangannya dengan cara yang sangat elegan, membuatnya malu sendiri karena dia tidak pernah mendapatkan pendidikan tatacara makan seperti itu sebelumnya. Pelajaran yang diperolehnya hanyalah dari Kasim Rojin, itupun secara singkat dan terburu-buru.

Ketika perjamuan sudah selesai dan Kaisar sedang menikmati araknya, Aiko menyesap air putihnya dengan hati-hati. Tinggal bersama dengan Kaisar Shen selama beberapa hari ini membuat dirinya hapal akan berbagai ritual yang mereka lakukan. Kaisar Shen akan mandi, lalu menyantap perjamuan bersamanya, mereka akan bercakap-cakap sejenak dan setelah itu mereka akan tidur, di ranjang yang sama dan berpelukan karena kata Kaisar itu diperlukan untuk saling menghangatkan badan mereka masing-masing.

“Perang ini akan berakhir dengan kemenangan, musuh sudah dipukul mundur di hari pertama dan mereka pasti akan mendatangkan bala bantuan. Beberapa hari ke depan kita tinggal membereskan sisa-sisanya sampai mereka menyerah dan kehabisan kekuatan,” Shen King menjelaskan dengan dingin sambil menyesap araknya, mata emasnya menatap tajam ke arah Aiko. “Setelah perang ini selesai, aku akan menjadikanmu permaisuriku.”

Aiko yang sedang minum sampai tersedak dan terbatuk-batuk, dirinya meringis, meminta maaf dan mengusap mulutnya yang basah. Matanya membelalak kebingungan, tidak yakin dengan apa yang dikatakan oleh Kaisar Shen tadi.

“Aku tidak sedang bercanda.” Kaisar Shen menjawab tenang atas pertanyaan yang dilemparkan Aiko dari tatapan matanya yang polos. “Semua ini sudah kurencanakan sejak lama, begitu semua siap, kau akan….”

Suara Kaisar Shen terhenti ketika darah mengalir dari hidungnya tanpa disadarinya. Aiko terbelalak, dan menjerit, lalu melompat memutari meja ke arah Kaisar Shen.

“Yang Mulia!”

Shen King mengernyit, lalu terbatuk pelan, seketika muncrat darah dari mulutnya, membasahi tangannya dan tangan Aiko yang sedang berlutut di depannya. Mata keduanya bertatapan, yang satu kesakitan dan yang lainnya panik. Dan kemudian tubuh Kaisar Shen ambruk menimpa tubuh Aiko, membuat Aiko rubuh dengan tubuh Kaisar Shen menimpanya.

“Yang Mulia!” Aiko menjerit sekeluat tenaga, “Tolong! Tolong yang Mulia! Tolong.” Dia menjerit kuat-kuat, berurai air mata dan tidak bisa bergerak karena tubuh kuat yang menindihnya.

456 Komentar

  1. Siti Zulaikah menulis:

    part ini bikin degdegan :bantingkursi :bantingkursi

  2. Ngebayangin perlakuan kaisar ke aiko bikin senyum2 gaje ?

  3. So sweet omaigatt??

  4. Asyik akhirnya jd vitamin juga setelah gelisah menunggu 11 hari akhirnya bisa jumpa kaisar lg meskipun kmrn dah beli bukunya tapi te2p pgn baca yg di sini…?

  5. Airaqyoung1215 menulis:

    :huhuhu :huhuhu :huhuhu

  6. :huhuhu :huhuhu :bantingkursi :bantingkursi

  7. jessicaclarab menulis:

    ???

  8. Kaikou Nezumi menulis:

    Kaisarrrrrrrrr semoga ada penawarnya, ngakak waktu Zhou mikir Menebar benih dimana mana

  9. kang mas tydaaacc

  10. suka bangett ceriita inii…..

  11. pengenn lanjut bacanyaa seru pls confrm ka [email protected]

  12. Bikin jantungan…..

  13. Yaaa ampunn aku g bisa berhenti bacanya…

  14. penasaran bgt,,tp tetap setia menanti confirm?

  15. Nursakinah menulis:

    Aduh kak ceritanya masih kebayang di kepala,ga sabar buat ke part selanjutnya,,,di verifikasi dong kak udah ga sabar banget

  16. Shefin Ashembi Prettysia menulis:

    tolong jadiin vitamins dung, lagi jatuh cinta sama shen king nih :huhuhu

  17. Verifikasi kak suka sama crita ini knpa baru nemu skrng sih :’)

  18. Seru juga ternyata baca ulang :kisskiss

  19. Dhian Sarahwati menulis:

    Deg2an…semoga tabib Zhou dtg d waktu yg tepat

  20. Karina aristy menulis:

    Terus aiko gmn? Dia makan juga kan

  21. Aduh aku tegang neh membayangkan sang kaisar :huhuhu

  22. Oh tidak ternyata Kaisar yg terkena racunnya.
    Prediksi meleset semua…
    Jangan sampai Aiko disalahkan atas kejadian ini.

    Tabib zhou mana??? :lovely

  23. Love this story

  24. 😉😁

  25. Lusy Fitriyani menulis:

    Kenapa dengan kaisar shen? Apa diracun : :bantingkursi :bantingkursi :bantingkursi

  26. Lusy Fitriyani menulis:

    :panikshow :panikshow :panikshow

  27. gapernah bosan baca terus jsjzjs

  28. Ivena Almira menulis:

    :lovely :lovely

  29. Kiki Miski menulis:

    Kira-kira siapa pengkhianatnya yah :lovely

  30. Diah Wardani menulis:

    :sebarcinta

  31. Mamita Fatih menulis:

    :panikshow

  32. Putri Ratnasari menulis:

    Ohh tidakk kaisaarr :kumenangismelepasmu :kumenangismelepasmu :kumenangismelepasmu

  33. Omg :grrr :grrr

Tinggalkan Balasan