emperors-consort2
Emperors Consort

Emperor’s Consort Part 6 : Milik Kaisar

Bookmark

No account yet? Register

1.825 votes, average: 1,00 out of 1 (1.825 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

emperors-consort2

Sang Kaisar melumat bibirnya lagi, tetapi kali ini lebih lembut dari sebelumnya, bibir itu menyelip dan kemudian mencecap, membujuk di permukaan bibir Aiko perlahan, memaksa Aiko terengah dan membuka bibirnya sedikit, lalu lidah Kaisar Shen memasuki sela bibirnya, menyatukan panas nan nikmat, menggoda lembut di kedalaman sana.

Tiba-tiba saja sang Kaisar mengerang pelan, lumatan itu semakin dalam dan mendesak, mencecap seluruh bagian bibir Aiko, seolah-olah Kaisar Shen ingin mencicipinya pelan-pelan dahulu, sebelum …. Memakan bibirnya?

Aiko memekik pelan karena ketakutan, lengannya yang mungil berusaha mendorong dada Kaisar Shen, napasnya terengah dan dia meronta sekuat tenaga.

Shen King mengerutkan kening ketika lengan mungil Aiko bergerak-gerak panik mencoba mendorongnya. Dirinya sedikit merasa geli, mengetahui betapa percumanya apapun yang sedang dilakukan Aiko saat ini, sebab bagaimanapun juga perbandingan tenaga di antara keduanya sungguh sangat jauh.

Napas Aiko yang mulai terengah karena usaha dan ketakutannya membuat rasa tidak tega sang Kaisar terusik, dengan gerakan cepat Shen King menggenggam jemari kecil Aiko yang masih berusaha mendorong dadanya tanpa hasil, dan mengerutkan kening tidak suka ketika gerakan itu membuat pagutan bibir mereka terpisah,

“Hei…. Tenanglah, kenapa?” Bisik Sang Kaisar menenangkan, dengan lembut dibantunya Aiko untuk duduk berlutut dihadapannya, suaranya masih terdengar serak, masih terpengaruh oleh sisa ciuman sebelumnya.

Aiko merasakan matanya panas, sementara air mata mulai berkerumun di sudut mata, meminta keluar.

“Sa… saya…” napas Aiko terengah, bibirnya merah sedikit bengkak akibat lumatan Shen King, “Jangan makan bibir saya!”

Pada akhirnya Aiko berhasil meneriakkan pembelaan dirinya dengan suara keras, dia berhasil duduk tegak tanpa gemetar di hadapan sang Kaisar, kedua telapak tangannya dikatupkan di depan bibir, seolah melindungi diri.

Shen King sendiri yang setengah berlutut di depan Aiko tampak bingung,

Memakan? Apa maksudmu….?” suara Kaisar tercekat, matanya menyipit menilai ekspresi Aiko, terpaku pada wajahnya yang ketakutan, pada matanya yang penuh air mata, dan pada jemari mungil yang membentengi bibir.

Seketika itu juga Shen King menyadari apa yang menjadi sumber ketakutan Aiko. Sang Kaisar meletakkan jemarinya menutup bibir, mencoba menahan diri, tetapi pada akhirnya dia tidak bisa menahan diri lagi.

Suara tawanya memenuhi ruangan. Tawa lepasnya yang terasa begitu ringan dan menyenangkan.

Astaga! Baru saja beberapa hari Aiko tinggal di istananya, dia sudah bisa tertawa lepas seperti ini lebih dari satu kali.

Seharusnya dia lebih cepat membawa Aiko ke istana. Gadis itu membawa mentari di hatinya yang mendung.

Aiko sendiri menatap bingung ke arah Shen King, bingung dengan tingkah laku Kaisar yang aneh.

Kenapa Kaisar tertawa?

Beberapa lama kemudian, Kaisar menghentikan tawanya, senyum masih terukir di sudut bibirnya ketika berkata,

“Aku tidak akan memakan bibirmu.” Kaisar tampak geli, “Aku tidak suka makan bagian bibir, kalau menurutku bagian jantung rasanya lebih enak….”

Aiko terkesiap, wajahnya pucat pasi, dia benar-benar ketakutan, “Yang Mulia …. Suka makan manusia?” Suara Aiko gemetaran. Ya… Mungkin saja, bukankah Kaisar sangat kejam? apakah Kaisar Shen akan memakannya hidup-hidup?

Shen King mendekatkan wajahnya ke arah Aiko, ekspresi sang Kaisar entah kenapa menjadi begitu dingin dan kejam. membuat Aiko ketakutan setengah mati.

Rupanya sekarang saat kematiannya!

Aiko memejamkan matanya erat-erat. Air mata mengalir di pipinya, pasrah.

Setidaknya dia sekarang bisa mati dengan tenang, Tabib Zhou bilang akan mengurus obat untuk ibundanya….

Gemerisik Jubah sang Kaisar semakin mendekat. Aiko bisa merasakan napas panas di dekatnya, Jantungnya semakin kencang berdetak, napasnya berkejaran membuat dadanya mau pecah.

Lalu sebuah kecupan lembut mendarat di dahinya

“Dasar bodoh.” bisik Kaisar Shen geli, “Mana mungkin aku makan daging manusia?”

Kaisar menangkupkan kedua telapak tangannya di pipi Aiko, rangkuman jemarinya terasa hangat dan menenangkan. Mata mereka berdua bertatapan begitu dekat, dan sekali lagi Aiko terpesona, seolah terhipnotis dengan mata bening indah semurni madu.

Jadi Kaisar hanya bercanda? Yang Mulia bukan pemakan manusia? Kalau begitu kenapa Kaisar Shen melumat bibirnya seakan ingin memakannya?

Pertanyaan yang tersirat di mata Aiko rupanya terbaca oleh Kaisar Shen.

“Aku tidak sedang mencoba memakan bibirmu.” Suara Kaisar terdengar rendah dan serak, “Aku sedang menciummu.”

“Mencium?” Aiko mengerutkan keningnya, lalu tiba-tiba menyadari bahwa dirinya sekarang sedang duduk bertatapan langsung dengan Yang Mulia Kaisar, belum lagi posisi kepala mereka yang hampir sejajar karena Kaisar Shen menunduk ke arahnya. Ya Ampun, betapa kurang ajarnya dirinya, ibundanya akan marah mengetahui bahwa Aiko begitu mudahnya melupakan tata krama di depan manusia paling mulia di kerajaan Shasou!

Gestur tubuh Aiko langsung berubah, dia bergerak cepat untuk membungkukkan badannya ke posisi sujud. Tetapi tangan Kaisar bergerak lebih cepat lagi, beliau mencengkeram kedua sisi pundak Aiko dengan kuat, menahannya.

“Jangan coba-coba.” Ekspresi Shen King berubah serius, sedikit muram dan menakutkan, “Aku sedang tidak ingin kau bersujud di depanku. Duduk seperti biasa dan dengarkan aku bicara.”

Bibir Aiko gemetar mendengar suara penuh kuasa yang begitu mengerikan. Dia menghembuskan napas pendek-pendek, berusaha menenangkan jantungnya yang menggeliat bangkit, siap menggedor tak mau kompromi.

Shen King menegakkan tubuh Aiko kembali pada posisi duduk dengan lembut, lalu sekali lagi memberi perintah,

“Angkat kepalamu dan tatap aku.”

Aiko menurut, mengangkat kepalanya dan membiarkan tatapan matanya terperangkap oleh mata kuning yang indah itu.

“Sampai di mana kita tadi?” Kali ini ekspresi Shen King nampak lebih lembut ketika menyadari mata Aiko yang menyiratkan ketakutan, dilepaskannya pegangan tangannya dari pundak Aiko. “Oh, ya, berciuman. Aku tadi sedang mencoba menciummu. Kau tahu apa itu berciuman, Aiko?”

Aiko hendak menggelengkan kepala gugup, tetapi kemudian menyadari bahwa Kaisar Shen menginginkan jawaban. Dia harus menjawab kalau tidak mau kehilangan kepalanya.

“Berciuman…. eh…. mungkin bersalaman dengan bibir?”

Shen King tampak terpana dengan kepolosan yang meluncur dari bibir Aiko, Sang Kaisar menggeleng-gelengkan kepalanya, sejenak seolah-olah tidak tahu harus berbicara apa,

“Kau…. kau benar-benar masih belum mengerti ya…” Mata sang Kaisar menatap Aiko dengan tajam, “Pernahkah kau dekat dengan lelaki? Lelaki seusiamu ketika di desa?”

Aiko menggelengkan kepalanya, “Tidak… saya diperkirakan akan maju menjadi kandidat gadis persembahan sejak lama, karena itu entah kenapa…. tidak ada lelaki sebaya maupun lebih tua yang berani mendekati saya.”

“Karena kau adalah milik Kaisar.” Shen King menipiskan bibirnya, lalu membatin dalam diam, jika saja Aiko menyebut ada laki-laki yang dekat dengannya di desa, maka saat ini juga dia akan mengirim Hiro untuk membunuh laki-laki itu….

“Milik Kaisar?” Aiko kembali mengulang kata-kata Shen King, entah kenapa percakapan ini membuatnya bingung.

“Rakyat Shasou memiliki anggapan yang telah mengakar bahwa semua gadis persembahan adalah milik Kaisar.” Jelas Shen King datar, “Karena itulah tidak ada yang berani mendekati mereka.”

“Oh begitu.” Aiko membelalakkan matanya kagum, “Anda memiliki banyak sekali kalau begitu.” Serunya polos.

Entah kenapa ada rona merah muncul di tulang pipi Kaisar Shen, beliau tampak malu, “Bukan begitu, aku tidak peduli memiliki seberapa banyak. Aku tidak peduli pada mereka.” Suaranya merendah, berusaha mengembalikan percakapan ke inti permasalahan, “Kalau begitu, adakah lelaki yang pernah menyentuhmu? Seperti ini?” Kaisar Shen meraih jemari Aiko dan menautkan jari-jari mereka menjadi jalinan yang rapat.

Aiko terkesiap, menunduk menatap jalinan jemari mereka berdua, kegugupan kembali menyerangnya.

Kenapa sejak tadi Yang Mulia Kaisar Shen bersikap aneh?

“Tidak Yang Mulia, belum pernah. Saya hampir tidak pernah keluar rumah kecuali untuk mencari tanaman obat. Hanya ibunda saya yang pernah sedekat ini dengan saya.”

“Kalau begitu pantas kau tidak tahu apa itu berciuman.” Kaisar Shen nampak serius, “Begini, kalau kau menyukai seorang laki-laki, maka kau akan membiarkan dirimu dicium oleh laki-laki itu.”

Aiko terpana, bibir mungilnya yang indah ternganga, kalau begitu, tadi dia membiarkan Yang Mulia Kaisar menciumnya….

“Maksud Yang Mulia….? Saya menyukai Yang Mulia? Astaga! Tidak!” Wajah Aiko pucat pasi, “Ampun yang Mulia, hamba tidak akan berani, Yang Mulia Kaisar Shen adalah junjungan Kami, saya… saya menghormati Yang Mulia dengan sepenuh hati, hamba tidak akan berani berbuat lancang untuk memiliki perasaan lebih seperti menyukai Yang Mulia….”

“Diam.” Kaisar Shen menyela menghentikan apapun yang mungkin akan diucapkan oleh Aiko, ekspresinya merupakan perpaduan antara terpukul dan jengkel, “Aku salah, bukan saling menyukai, tetapi menghormati… ya menghormati. Jadi jika kau hormat padaku, maka kau akan membiarkan aku menciummu seperti tadi.”

Jadi seperti itu? Membiarkan dirinya dicium oleh Kaisar Shen…. bersalaman dengan bibir…. seperti tadi adalah salah satu bentuk penghormatannya? Kenapa ibundanya tidak pernah mengajarkan tata krama seperti itu sebelumnya kepadanya? Apakah peraturan ini hanya berlaku di dalam tembok istana?

“Saya mengerti….” Aiko menatap Kaisar Shen dengan tatapan mata polosnya, “Kalau begitu, kalau saya juga merasa hormat kepada Jenderal Youshou, Tabib Zhou dan Kasim…..”

“Tidak!” Tiba-tiba Shen King berteriak, keras dan mengejutkan hingga Aiko hampir terlompat dari posisi duduknya.

Ekspresi Kaisar sangat mengerikan, dipenuhi oleh kemarahan mendalam, matanya begitu tajam, rahangnya mengeras dan bibirnya menipis galak. Jemari Kaisar yang menggenggam jemarinya menguatkan pegangannya hingga hampir terasa sakit,

“Hanya denganku! Kau mengerti? Hanya denganku!” Kaisar Shen menggeram tajam, tetapi nadanya yang mengancam membuat suara geramannya tidak kalah menakutkan dengan teriakannya. Kaisar Shen menunduk, mendekatkan dahinya hingga hampir menempel dengan dahi Aiko, “Kau adalah milik Kaisar, hanya Kaisar yang boleh melakukan itu kepadamu. Kalau kau berani-beraninya membiarkan lelaki lain melakukan itu padamu, maka aku akan memenggal kepala mereka, dan kepalamu. Kau mengerti?

Aiko tergeragap, gemetaran. Semua orang pasti takut pada Kaisar Shen King yang kejam, apalagi Aiko yang diancam langsung oleh Kaisar yang memiliki reputasi buruk dalam hal kekejaman, secara langsung, dengan jarak sedekat ini.

“Saya mengerti Yang Mulia.” Gumamnya pelan, ketakutan.

Mata tajam itu terus menatap Aiko, menemukan betapa takutnya perempuan itu dan tiba-tiba kemarahannyapun surut.

Astaga. Shen King mengerang dalam hati, merasa frustrasi. Kenapa dia terus menerus membuat anak perempuan ini takut kepadanya?

Dilepaskannya tautan jemarinya dari jemari Aiko,

“Aku hendak beristirahat.’ Gumam Shen King muram, “Kau kuizinkan untuk kembali ke kamarmu.”

Aiko menatap jemarinya yang pucat kekurangan darah karena genggaman Kaisar Shen yang begitu kuat tadi, dia menarik napas panjang, mencoba menahankan rasa takutnya.

“Baik, yang Mulia. Hamba mohon izin untuk meninggalkan ruangan.” Aiko bersujud penuh hormat, dan setelah menerima isyarat tangan dari Kaisar Shen yang menyuruhnya pergi, Aiko langsung mundur dan meninggalkan ruangan.

***

Pagi harinya, seperti biasa Aiko berjalan melalui lorong penghubung istana merah dengan mansion Tabib Zhou. Kemarin Tabib Zhou menyuruhnya datang lagi karena hari ini mereka akan belajar membuat penawar racun. Aiko sedikit tidak sabar, dia senang sekali mempelajari obat-obatan, apalagi pengetahuan tentang racun dan penawarnya ini adalah pengetahuan yang sama sekali baru.

Senyumnya mengembang ketika mendapati burung-burung kecil yang bercicit di pepohonan yang menaungi mansion Tabib Zhou, pemandangan menghijau serta suasana sejuk di sekeliling area mansion benar-benar menenangkan hati.

“Aiko?”

Suara sapaan itu membuat Aiko menunduk mencari asal suara. Dia terkejut ketika menemukan Tabib Zhou sedang berlutut di tanah tak jauh dari dirinya. Pakaian indahnya yang berwarna putih tampak kotor belepotan tanah, pun dengan tangannya yang semuanya berwarna cokelat berlumur tanah.

Tabib Zhou rupanya sedang menggali sesuatu di tanah dengan tangannya.

Karena rasa ingin tahu, Aiko mendekat, menuju ke areal perkebunan tanaman obat yang memenuhi lahan itu dengan berbagai jenis tanaman yang subur dan indah.

“Hormat saya untuk tabib Zhou, saya datang menghadap lagi untuk belajar.” Aiko membungkukkan tubuhnya dengan nada formal dan penuh hormat.

Hal itu malahan membuat tabib Zhou tertawa, lelaki itu melambaikan tangannya seolah tidak peduli dengan sikap hormat Aiko,

“Tidak perlu menghormat kepadaku.” Kali ini lambaiannya berubah menjadi ajakan untuk mendekat, “Ke sini, lihat ke sini.” Gumamnya, lalu kepala sang tabib menunduk lagi, sibuk berkutat dengan sesuatu yang sedang digalinya di tanah.

Mau tak mau, Aiko mendekat, lalu terdorong rasa penasaran, dia ikut berjongkok di dekat sang Tabib.

Matanya membelalak ketika tahu apa yang sedang digali oleh Tabib Zhou. Benda itu berupa bulatan seukuran telur, tetapi bentuknya agak tidak teratur dan berwarna hitam pekat sepekat arang, dia memekik gembira tidak bisa menahan diri,

“Ubi hitam Wuzei!” pekiknya senang.

Ubi hitam Wuzei adalah tanaman obat langka yang sangat sulit dibudidayakan, tanaman ubi ini baru siap dipanen lima belas tahun sekali di saat ukurannya sudah mencapai ukuran tepat sebesar butiran telur ayam. Jika dipanen kurang dari itu, maka kandungan yang ada di dalamnya malahan menjadi racun dengan efek mengerikan. Ubi hitam wuzei bagaikan buah simalakama, butuh setengah butir penuh ubi hitam wuzei matang untuk mengobati penyakit, tetapi hanya butuh satu gigitan ubi hitam wuzei yang tidak matang untuk membuatnya menjadi racun. Lagipula, hanya tabib berpengalamanlah yang bisa menentukan apakah ubi ini sudah siap dipanen menjadi obat atau belum.

Ubi hitam wuzei hanya bisa tumbuh di dataran tinggi yang dingin dan kaya air. Rasa ubi ini manis getir dan penggunaannya dapat dimakan langsung atau bagi yang tidak tahan dengan rasa getirnya bisa dicampurkan pada makanan yang terbukti sangat berkhasiat untuk berbagai keluhan penyakit dalam. Dan karena jumlahnya sangat sedikit, harga Ubi hitam wuzei yang sudah matang sangat mahal. Belum lagi rakyat biasa dilarang menanam ubi hitam Wuzei ini, disebabkan potensinya menjadi tanaman berbahaya yang bisa digunakan sebagai racun.

Aiko tidak menyangka mendapatkan kesempatan melihat sendiri panen ubi hitam Wuzei ini secara langsung, wajahnya berseri-seri gembira ketika menatap Tabib Zhou mengangkat ubi hitam Wuzei yang matang sempurna ke langit, membuat cahaya matahari menampilkan ukurannya yang sebesar telur dan warnanya yang hitam legam sempurna.

“Ini adalah obat paling berkhasiat dan yang paling sulit didapatkan.” Tabib Zhou mengambil cawan air dari tanah liat yang ada di tanah di sebelah kakinya, lalu mencuci tangannya, dilanjutkan dengan mencuci ubi itu sampai bersih, setelahnya dia membelah ubi hitam itu dengan pisau kecil yang diselipkan di ikat pinggang bajunya, diangsurkannya setengah ubi hitam itu kepada Aiko, “Cicipilah.”

Aiko menatap ragu berganti-ganti ke arah ubi hitam wuzei yang menggoda dan ke arah Tabib Zhou yang tersenyum lebar. “Apakah tidak apa-apa?” dia masih tidak percaya mendapatkan kesempatan langka untuk mencicipi ubi hitam wuzei segar yang baru dipanen.

Ibunya pernah memiliki dua butir ubi hitam wuzei yang dikeringkan untuk mengawetkannya di dalam toples kaca, obat itu hanya dikeluarkan di saat-saat penting karena sangat langka, setelah beberapa tahun, persediaan ubi hitam wuzei milik ibunya habis dan mereka tidak bisa mengisi lagi karena memang ubi itu sangat sulit ditemukan. Bahkan ibunya sendiri sepertinya belum pernah memakan ubi hitam wuzei itu.

“Tidak apa-apa. Yang ini sudah matang.” Tabib Zhou mengangguk, meyakinkan. “Seluruh lahan ini berisi tanaman ubi hitam wuzei yang sudah siap panen, begitu Asisten Li dan asisten-asisten yang lain memanennya, kita akan panen sekeranjang penuh untuk persediaan obat. Aku akan memeriksa hasil panen untuk menentukan mana yang benar-benar sudah menjadi obat, dan aku juga akan mengirimkannya untuk ibumu di rumah, lusa salah seorang asistenku akan berkunjung ke desamu.”

“Terimakasih Tabib Zhou.” Aiko membungkukkan badan lagi memberi hormat, merasa benar-benar bahagia dan lega karena sebentar lagi ibundanya akan menerima obat. Lalu karena tabib Zhou terus mengangsurkan setengah potongan ubi hitam Wuzei itu, Aiko akhirnya menerimanya.

Dilihatnya Tabib Zhou menggigit setengah bagiannya. Sang tabib tampak santai, duduk berselonjor di tanah, tidak peduli pakaian indah dan mewahnya yang hampir berubah warna menjadi cokelat di bagian bawah. Pada gigitan pertama, Tabib Zhou tampak mengerutkan keningnya, lalu tersenyum lebar, “Pahit tapi setelahnya manis.” Gumamnya dalam senyum, “Tapi sepertinya kau tahan rasa pahit, cobalah.” Tawarnya ramah.

Aiko mau-tak mau ikut tersenyum, dia lalu menggigit kecil ubi hitam wuzei di tangannya, ikut mengernyit ketika merasakan rasa pahit yang pekat di mulutnya, meskipun rasa pahit itu kemudian tidak bertahan lama, berganti dengan rasa manis yang meledak di mulutnya.

“Enak bukan?” Tanya tabib Zhou sambil mengunyah dengan bersemangat, dia sudah memasukkan gigitan terakhir ubi itu ke dalam mulutnya, “Aku dengar semalam kau menemani Kaisar bekerja sampai larut malam sambil menikmati teh herbal, kau pasti sudah mencicipi resep teh herbal buatanku. Rasanya enak bukan?” tanya Tabib Zhou sambil lalu.

Aiko menganggukkan kepala dan tersenyum merasa sedikit aneh dengan posisi percakapan mereka sekarang, tabib Zhou duduk berselonjor di tanah, sementara Aiko setengah berlutut dengan bertumpu pada lututnya, “Rasanya sangat enak.” Pujinya jujur, meski hanya mencicip sedikit, tapi kesan yang ditimbulkan oleh kelezatan teh herbal itu sungguh luar biasa, wangi, manis, harum dan sensasi rasa yang sempurna berkumpul menjadi satu di setiap tegukannya, pantas saja Yang Mulia Kaisar Shen sangat menyukainya.

Pemikiran tentang Kaisar Shen yang mendadak terlintas di benaknya membuat senyuman Aiko membeku, ingatan tentang rasa takutnya kemarin ketika menghadapi kemarahan sang Kaisar yang tiba-tiba, membuatnya tanpa sengaja begidik. Hal itu ternyata tertangkap oleh mata awas Tabib Zhou.

Ekspresi Tabib Zhou tiba-tiba berubah serius, “Menghabiskan waktu berdua bersama Kaisar Shen memang mengerikan, tapi kau tidak perlu takut pada beliau, Yang Mulia Kaisar Shen tidak akan menyakitimu.”

Aiko menganggukkan kepalanya, “Ya… beliau sebenarnya baik, beliau juga mengajari saya tata cara baru yang sepertinya hanya dilakukan di dalam istana.” Gumamnya bersemangat.

Tabib Zhou mengerutkan kening curiga, “Tata cara baru? Tata cara apa?” Tanyanya penasaran.

Aiko tersenyum polos, “Tata cara yang namanya … berciuman…. seperti bersalaman dengan bibir, untuk menunjukkan penghormatan saya kepada Kaisar, kata Yang Mulia hanya beliau yang diizinkan untuk melakukan itu kepada saya…”

Sisa ubi hitam wuzei yang masih dikunyah di dalam mulut Tabib Zhou langsung tersemprot keluar ketika lelaki itu tersedak. Tabib Zhou terbatuk-batuk dengan suara tercekat di tenggorokan.

Aiko dengan cemas mengulurkan cawan tanah liat berisi air kepadanya yang langsung disambar dan diteguk sampai habis oleh Tabib Zhou.

“Kau bilang tadi apa?” tanya Tabib Zhou tampak ngeri, “Yang Mulia mengajarimu berciuman?”

Aiko menganggukkan kepala, merasa bingung kenapa Tabib Zhou tampak begitu tercengang.

“Apakah…apakah saya berbuat salah?” tanya Aiko takut-takut.

Tabib Zhou memandang anak perempuan di depannya, menyadari bahwa Aiko masih begitu polos dan tidak tahu apa-apa. Dasar Kaisar! Gumamnya dalam hati antara geli dan jengkel. Rupanya nasehatnya kemarin hanya dianggap angin lalu oleh Shen King.

“Tidak apa-apa Aiko.” Tabib Zhou bergumam lembut, “Kau tidak salah apa-apa. Hanya saja tata cara berciuman itu adalah tata cara rahasia. Kau tidak boleh mengatakannya kepada siapapun. Hanya Kaisar yang boleh tahu.”

“Astaga.” Aiko menutup mulutnya dengan tangannya yang mungil, mulai ketakutan, “Tetapi saya terlanjur mengatakannya kepada anda…. Yang Mulia akan menghukum saya…”

“Aku akan menyimpan rahasiamu.” Tabib Zhou mengedipkan sebelah mata, tiba-tiba laki-laki itu tampak begitu cantik bermandikan cahaya matahari yang mulai terik.

***

“Tabib Zhou datang menghadap.”

Penjaga pintu ruang kerja Kaisar di istana emas bergumam lantang sambil membungkuk hormat di ambang pintu.

Shen King yang sedang sibuk membaca peta perbatasan kerajaan Shasou dan koloninya yang baru saja diserahkan kepadanya, mengangkat kepala dan mengerutkan kening.

Kenapa Zhou repot-repot menemuinya di sini? Bukankah Tabib pribadinya itu paling benci berada di istana emas? Terlalu formal dan menyesakkan katanya.

“Suruh dia masuk.” Gumam Shen King datar, menyibukkan diri kembali ke hamparan peta besar di depannya.

Suara gemerisik jubah terdengar begitu Tabib Zhou memasuki ruangan. Tabib Zhou mengenakan baju resmi kerajaan berwarna emas, karena siapapun yang memasuki istana emas diwajibkan mengenakan pakaian resmi.

“Hormat saya untuk Kaisar.” Tabib Zhou bersujud di depan Shen King dengan hormat.

Shen King meletakkan tangannya di atas meja, “Ada apa?” tanyanya langsung, tiba-tiba penasaran melihat kedatangan tabib Zhou yang tidak biasa.

Tabib Zhou duduk berlutut, memandang ke sekeliling, ke arah pasukan prajurit yang berdiri diam di kiri kanan ruangan, menjaga kaisar.

“Hamba ingin berbicara empat mata dengan Yang Mulia.” Gumamnya kemudian.

Shen King mengerutkan kening, tetapi kemudian sadar. Jika Tabib Zhou ingin berbicara empat mata, ini berarti tentang Aiko. Segera dia memberi isyarat tangan kepada semua prajurit yang ada di dalam ruangan untuk meninggalkan tempat, mereka semua bergerak satu persatu dengan teratur meninggalkan ruangan dan menutup rapat pintu emas raksasa di belakangnya. Meninggalkan Shen King hanya berdua saja dengan Tabib Zhou.

“Ada apa?” Shen King mengulang pertanyaannya lagi dan menunggu.

“Saya rasa Yang Mulia sudah tahu, ini mengenai Aiko.” Tabib Zhou menatap kaisar bertopeng emas di depannya, “Perayaan bulan merah sudah dekat. Yang Mulia harus segera memilih selir untuk acara itu.”

Setiap dua tahun sekali, kerajaan Shasou mengadakan perayaan bulan merah. Perayaan itu adalah perayaan turun temurun istana untuk memuja dewi kesuburan. Sebagai doa semoga kaisar dikaruniai umur panjang dan keturunan yang sehat dan bisa meneruskan tampuk kerajaan dengan baik. Pada perayaan itu, Kaisar dan seluruh bangsawan akan berkumpul dan melakukan prosesi doa di kuil kesuburan yang terletak di tengah area tembok istana.

Perayaan bulan merah membutuhkan isteri kaisar, biasanya dilakukan oleh permaisuri, tetapi jika kaisar belum memiliki permaisuri, maka akan digantikan oleh selir kaisar. Karena puncak dari acara itu adalah datangnya selir kerajaan yang akan membawa rangkaian bunga Shengyu atau sering disebut bunga kesuburan. Bunga Shengyu memiliki kelopak bulat berjumlah lima, berwarna putih bersih dengan percikan warna merah di sudut-sudutnya. Isteri Kaisar akan datang dengan ditandu kereta emas yang ditarik enam kuda ke area kuil kesuburan, kemudian dia akan berjalan menelusuri jalan yang sudah dilapisi karpet merah, menuju ke singgasana Kaisar. Proses itu diakhiri dengan isteri Kaisar yang mengalungkan rangkaian bunga Shengyu kepada Kaisar dan kemudian pendeta kerajaan akan melakukan doa-doa demi kesuburan dan kemakmuran istana.

Malam harinya, setelah perayaan berakhir. Kaisar wajib mengunjungi isterinya, dan diharuskan menghabiskan malam dan melakukan ritual suami isteri bersama selirnya di istana bunga.

Karena perayaan wajib inilah Shen King selalu memilih selir setiap dua tahun sekali. Selir yang kemudian dipenggalnya keesokan harinya.

“Kalau begitu Kasim istana bunga akan memilihkan salah satu gadis persembahan yang baru datang untuk menjadi selirku.” Shen King menjawab dingin, “Itu sudah berlangsung sepuluh tahun terakhir seperti biasanya, apa hubungan hal ini dengan Aiko?”

“Apakah Yang Mulia tidak mencemaskan pandangan dari Aiko kepada anda setelah perayaan bulan merah? Selama ini dia memang mendengar bahwa Yang Mulia selalu menghukum mati selir Yang Mulia, tetapi dia mendengar dari jauh. Sekarang, dengan dia yang berada di dekat Yang Mulia, mengalami dan melihat langsung… saya cemas dia akan semakin takut kepada Yang Mulia.” Tabib Zhou bergumam, mengungkapkan kecemasannya.

Bibir Shen King langsung menipis dengan marah di balik topengnya, ingatannya melayang kepada betapa takut dan gemetarannya Aiko ketika menghadapinya semalam.

“Aiko belum siap untuk berada di sampingku. Kalau pada upacara sekarang aku memilihnya sebagai selir, dan tidak membunuhnya keesokan harinya, semua orang akan bertanya-tanya. Seluruh keluarga bangsawan akan menduga-duga, dan mereka akan menjadikan Aiko sebagai sasaran empuk. Dengan keadaannya sekarang, dia akan mudah dihancurkan hanya karena aku memperlakukannya berbeda dan mereka menganggap dia istimewa bagiku. Aku harus tetap memilih selir dari istana bunga seperti biasanya, dan membiarkan Aiko tetap aman di dalam istana merah sebagai perisaiku.”

Tabib Zhou menghela napas panjang, “Saya mengerti Yang Mulia. Ada baiknya Yang Mulia memberikan penjelasan kepada Aiko, jika nanti Yang Mulia….. menghukum selir lagi, supaya Aiko tidak memandang negatif hal ini.” Tabib Zhou menghela napas, nampak berpikir, “Saya sedang mengusahakan supaya persiapan kita untuk mengangkat Aiko nanti berjalan sempurna. Ketika waktunya nanti tiba, tidak akan ada yang bisa menggoyahkan posisi Aiko di samping anda.”

“Bagus. Aku percaya kepadamu, Zhou. Karena itulah aku memilihmu untuk menjalankan rencanaku.” Shen King menganggap pembahasan mereka sudah selesai, tetapi kemudian mengangkat alisnya ketika Tabib Zhou tidak beranjak pergi dari depannya, “Jadi, ada apa lagi?”

Tabib Zhou tampak salah tingkah. “Saya hanya ingin memastikan Yang Mulia mengikuti nasehat saya dalam menghadapi Aiko, dia masih begitu polos dan tidak memiliki pengetahuan sama sekali tentang laki-laki. Saya rasa Yang Mulia sedikit…. terburu-buru.” Tabib Zhou mengangkat kepalanya dan menatap Shen King yang bergeming di singgasanannya dengan topeng emasnya. “Aiko mengatakan kepada saya dengan polosnya bahwa anda mengajarinya tata cara baru, yang disebut berciuman.” Gumamnya kemudian.

Tubuh Shen King tampak membeku. Ketika berbicara kemudian, suaranya terdengar begitu tajam.

“Dia mengatakannya kepadamu?” Ada nada marah di sana, seolah-olah Shen King tidak rela saat-saat bersamanya dengan Aiko dibagi kepada orang lain.

“Ampun Yang Mulia.” Tabib Zhou berucap dengan hati-hati, “Jangan salahkan Aiko, dia begitu polos dan benar-benar menganggap bahwa apa yang anda ajarkan kepadanya adalah bagian dari tata cara istana. Saya sudah mengatakan kepada Aiko bahwa itu adalah tata cara rahasia yang tidak boleh dikatakan kepada siapapun.” Tatapan yang dilemparkan Tabib Zhou kemudian tampak menuduh, “Tapi saya tidak menyangka Yang Mulia tega membohongi anak perempuan berusia enam belas tahun yang masih begitu lugu demi memuaskan keinginan Yang Mulia.”

Shen King tampak kehabisan kata-kata. Tabib Zhou adalah satu-satunya manusia di dalam istana ini yang bisa memarahi Shen King, tanpa memancing kemarahannya. Lagipula rasa bersalah memang merayapi benaknya, apalagi ketika mengingat mata bulat besar Aiko yang menatapnya dengan penuh kepercayaan, apapun yang dia katakan.

“Aku memang bersalah.” Shen King bergumam enggan, “Kesabaranku habis, Aku hanya ingin menciumnya sebagai laki-laki dan perempuan, tetapi dia masih saja mencoba bersujud dan menyembahku sebagai Kaisar.”

Tabib Zhou tersenyum, “Anda mungkin bisa sedikit bersikap romantis kepada Aiko, sehingga dia menyadari bahwa anda memberikan perhatian lebih kepadanya, dan itu juga akan membantu memudarkan ketakutannya kepada anda.”

“Apa saranmu?” Sekali lagi Shen King tidak bisa menahan diri bertanya kepada Tabib Zhou yang sudah dikenal sebagai penakluk wanita.

“Hadiah.” Gumam Tabib Zhou mantap, “Saya rasa semua perempuan senang mendapatkan hadiah bagi dirinya.”

***

Jamuan makan malam telah selesai disiapkan, kali ini sang Kaisar menikmati hidangan di ruang jamuan makan, bukan di kamar pribadinya. Aiko seperti biasa melakukan ritual pencicipan makanan untuk Yang Mulia Kaisar Shen. Ketika selesai, dia hendak berpamitan, tetapi sang Kaisar menahannya. Yang Mulia sudah melepas topengnya seperti biasa ketika hendak makan. Kali ini Aiko juga sudah mulai terbiasa hingga tidak lagi merasa ketakutan ketika Kaisar Shen melepas topeng.

“Kau tetap di sini. Ada yang ingin kuberikan kepadamu.” Gumamnya kemudian misterius.

Aiko bersujud patuh, duduk dalam diam dan menatap cemas ke arah Shen King yang hendak menyantap hidangannya. Dia menghembuskan napas lega sembunyi-sembunyi setelah menyimpukan bahwa Kaisar tidak berniat memaksanya makan di bawah ancaman seperti waktu itu.

Tiba-tiba terdengar ketukan dari luar pintu, membuat Kaisar meletakkan kembali makanannya dan menatap ke pintu dengan rasa tidak suka.

“Ada apa?”

“Ampun yang Mulia, hamba Kasim Dao dari istana bunga datang menghadap.” Gumam hormat sebuah suara dari luar.

Aiko bisa merasakan kalau Shen King meliriknya, entah kenapa. Jemari Kaisar Shen kemudian meraih topengnya kembali dan memasangnya.

“Masuk.” Perintahnya kemudian datar.

Seorang lelaki setengah baya, seumuran Kasim Rojin melangkah masuk. Kasim Dao adalah kasim pengurus istana bunga, yang berhubungan dengan selir dan permaisuri Kaisar. Karena Kaisar yang sekarang selalu membunuh selirnya dan belum mau memilih permaisuri, maka tugas Kasim Dao hanyalah memilihkan kandidat persembahan terbaik untuk diangkat menjadi selir dan menjalankan tugasnya di Perayaan Bulan Merah setiap dua tahun sekali.

Kasim Dao bersujud dan memberi hormat, “Ampun Yang Mulia, saya datang untuk memberikan laporan.”

Shen King memberi isyarat Kasim Dao untuk melanjutkan dan lelaki itu melanjutkan.

“Kandidat selir Kaisar untuk perayaan bulan merah sudah dipilih, nama selir baru anda adalah Mayumi. Kami akan membawanya ke Istana emas dua hari lagi untuk persiapan pengangkatan.”

Aiko mengangkat kepalanya ketika mendengar nama Mayumi disebut, dia tersenyum lebar. Mayumi? Mayumi yang ramah dan baik yang menyapanya ketika mereka sama-sama memasuki istana? Aiko tiba-tiba teringat perkataan Mayumi waktu itu dan merasa ikut berbahagia mendengar apa yang dikatakan oleh Kasim Dao. Mayumi memasuki istana karena ingin menjadi selir Kaisar, dan sekarang keinginannya terkabul.

Tetapi Kaisar Shen dikenal selalu membunuh selir-selirnya…..

Ada rasa takut yang merayapi benak Aiko ketika pikiran itu sampai ke benaknya. Apakah Kaisar Shen akan membunuh Mayumi juga?

***

Setelah Kasim Dao berpamitan, Shen King menyelesaikan makannya dengan cepat lalu tiba-tiba berdiri. Jubah megahnya bergemerisik seiring dengan langkahnya menuju pintu

“Ikut aku.” Gumam Sang Kaisar sambil memasang kembali topengnya. Lalu membuka pintu ruang jamuan dan melangkah keluar.

Aiko menurut, berdiri terbirit-birit mengikuti langkah Kaisar yang begitu cepat. Suasana terdengar hening, hanya gemerisik jubah panjang Kaisar berikut langkah kaki mereka yang terdengar memecah kesunyian. Mereka berjalan menyusuri lorong-lorong istana merah yang bersinar redup kekuningan akibat lentera-lentera kecil yang diletakkan di sepanjang dinding, dan kemudian sampai di taman bunga pribadi yang terletak menempel pada kamar pribadi Kaisar.

Taman ini adalah taman pribadi Kaisar yang menerapkan peraturan sama seperti kamar pribadinya, tidak boleh ada yang memasuki taman  ini selain Kaisar sendiri dan hamba kepercayaannya yaitu Jenderal Youshou, Tabib Zhou dan Kasim Rojin.

Dua orang penjaga pintu bergegas membuka pintu besar taman yang terbuat dari kayu berukir dan di cat merah. Ketika Aiko mengikuti Yang Mulia Kaisar melangkah masuk ke dalam taman, dia bisa menemukan ekspresi kaget di mata kedua penjaga pintu itu karena Kaisar Shen mengizinkan perisainya untuk memasuki taman pribadinya. Pintu taman kemudian ditutup kembali, meninggalkan Kaisar Shen bersama Aiko menghadap ke arah taman indah yang menghampar.

Taman itu bahkan lebih indah dari semua taman di istana yang pernah Aiko lihat. Seluruh pohonnya adalah sakura pink pucat hingga hampir putih yang sedang penuh-penuhnya berbunga, dibagian bawah juga dihampari oleh bebungaan berwarna putih, menyisakan jalan setapak kecil dari batu yang disusun rapi, menghantarkan menuju sebuah jembatan lengkung dari kayu berwarna merah yang menyeberangi sungai bening bergemericik penuh ikan Koi nan indah. Di ujung jembatan itu ada sebuah gazebo kecil berbentuk segi enam dengan pagar kayu yang mengelilingi, sebuah meja datar kecil di tengah dan karpet menghampar di bagian bawah.

Shen King melangkah menyeberangi jembatan menuju gazebo itu, dan Aiko mengikuti dengan hati-hati di belakangnya,

Setelah Shen King duduk di hamparan karpet, Aiko langsung berlutut di depannya dengan tubuh direndahkan dan kepala menunduk penuh hormat. Suasana terdengar hening beberapa lama, hanya terdengar gemericik air yang memecah senyap, mendamaikan telinga siapapun yang mendengarnya.

“Aku memilih selir setiap dua tahun sekali untuk perayaan bulan merah.” Shen King melepas topengnya, dan ditengah gazebo yang gelap tanpa pencahayaan hanya bergantung pada sinar bulan, ekspresi wajahnya yang ditimpa bayangan perak bercampur gelap tampak begitu muram.

Aiko melirik sedikit, tiba-tiba merasa tidak enak. “Mohon maaf karena saya lancang mendengarkan percakapan anda dengan Kasim Dao tentang pemilihan selir tadi.”

Shen King menatapnya tajam, “Bagaimana perasaanmu?” tanyanya tiba-tiba.

Aiko mendongak, menatap ekspresi Kaisar Shen yang misterius, dia kebingungan.

“Ampun yang mulia atas kekurang pengertian hamba. Apa yang mulia maksud dengan perasaan saya?”

“Bagaimana perasaanmu mendengar aku memilih Selir?” Kali ini Shen King menekankan setiap kalimatnya dengan nada ingin tahu.

Aiko mengerutkan kening. Apa hubungannya Kaisar memilih selir dengan perasaannya? Kenapa Yang Mulia menanyakan itu kepadanya?

“Kenapa kau tidak menjawabku?” Shen King bergumam lagi, seolah tidak sabar dengan kediaman Aiko.

Aiko menghela napas gugup, “Ampun Yang Mulia, saya Ikut berbahagia untuk Yang Mulia. Semoga Yang Mulia Kaisar dan Yang Mulia Selir diberi kesehatan dan kebahagiaan untuk selama-lamanya.”

“Begitu.” Kaisar Shen memalingkan wajahnya, Aiko melirik sedikit dari sudut matanya dan menyadari bahwa ada kekecewaan di wajah Kaisar Shen. Kenapa Kaisar Shen merasa kecewa? Apakah dia salah memberikan jawaban?

“Hamba…. hamba mengenal Yang Mulia Calon Selir paduka, beliau… beliau datang bersama saya ke istana.” Aiko bergumam lagi gugup, berusaha memperbaiki suasana dengan menambah jawabannya, “Beliau sangat cantik dan ramah, dan berhati baik. Hamba yakin Yang Mulia akan berbahagia.”

Tiba-tiba langit malam berpendar, diikuti suara petir yang bergemuruh di kejauhan. Air hujan tiba-tiba turun, semula rintik-rintik, kemudian semakin deras, menciptakan suara keras dari tumbukannya dengan air sungai yang beriak. Suasana di gazebo itu menjadi semakin gelap karena bulan bersembunyi di balik awan hitam, pun dengan hujan deras yang melingkupi sekeliling gazebo menciptakan tirai pekat dari guyuran air.

Kegelapan yang menaungi setengah wajah Shen King tampak mengerikan ketika sang Kaisar memberikan jawaban dengan nada kejam, “Aku tidak peduli. Bagaimanapun juga aku akan membunuhnya.” Suara Kaisar Shen pelan, tetapi mampu menembus derasnya suara hujan.

Aiko terkesiap, “Kenapa?” pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibirnya, membuatnya kaget sendiri dan menutup mulutnya dengan jemari, merutuki dirinya sendiri.

Shen King merendahkan mata dan menatapnya, “Karena aku tidak suka dipaksa melewatkan malam dengan selir hanya demi sebuah perayaan tradisi. Aku menikmati memenggal kepala mereka semua keesokan harinya.”

Wajah Aiko pucat pasi mendengar jawaban kejam dan mengerikan itu. Ditambah lagi dengan suara petir yang kemudian menyambar-nyambar, membuat jantungnya berdebar ketakutan…. ketakutan memikirkan nasib Mayumi di kemudian hari.

Yang Mulia Kaisar Shen mengangkat Mayumi menjadi selir dengan tujuan untuk membunuhnya setelah perayaan bulan merah….

Ingatan Aiko berkelebat lagi, mengembalikan memori tentang Mayumi yang ramah, lincah dan begitu polos berusaha mencapai mimpinya….

Tiba-tiba Aiko bersujud, mengeluarkan sebuah keputusan nekat untuk melindungi Mayumi.

“Ampun yang Mulia. Jika yang Mulia memilih selir hanya untuk dibunuh keesokan harinya, maka pilihlah saya.” Aiko yakin dia akan menyesali permohonan nekatnya ini keesokan harinya. Tetapi sekarang, keputusan itu sepertinya sangat tepat.

Kaisar Shen menatapnya tercengang, kilatan petir yang memberkaskan cahaya sekelebatan di wajahnya menampilkan keterkejutan di mata kuningnya yang pekat.

“Kau menawarkan nyawamu untuk menggantikan temanmu?” Tiba-tiba suara Shen King terdengar getir, “Kau menawarkan dirimu untuk menjadi selirku hanya karena ingin melindungi temanmu? Kau tidak tahu apa yang kulakukan supaya kau….” Suara Kaisar tertelan ditenggorokan, Shen King tampak menghela napas berusaha meredakan emosi yang bergolak, entah kenapa ada nada getir pekat di dalam suaranya, seolah-olah Aiko telah menyakiti perasaannya.

Aiko merasakan napasnya terengah dan jantungnya berdebar karena takut,

“Hamba…. hamba siap mati jika memang Yang Mulia menghendaki.” Gumamnya pelan, tiba-tiba ingin menangis dan berlari meminta perlindungan ke pelukan ibundanya. Ya ampun, kenapa dia mengeluarkan penawaran seperti ini? Bagaimana jika Yang Mulia Kaisar menerimanya? Bagaimana jika Aiko berakhir dengan dipenggal kepalanya? Bagaimana dengan nasib ibundanya? Tetapi…. tetapi memikirkan Mayumi hati Aiko bergolak dengan rasa bingung yang bercampur aduk.

Tiba-tiba Shen King bergerak cepat, mendorong Aiko dengan kasar hingga berbaring terlentang, Lelaki itu lalu membungkuk di atasnya, membuat Aiko membelalak ketakutan, ekspresi Kaisar Shen tampak begitu marah menatapnya, ditambah dengan bayangan gelap dan hujan petir yang melingkupi mereka, membuatnya semakin mengerikan.

“Kau penyihir kecil yang datang dan memporak-porandakan diriku.” Shen King mendesis marah, ekspresinya tampak getir, segetir suaranya, “Tidak menyukaiku, selalu menolakku, memuji pria lain dihadapanku dan tidak menyadari hatiku, lalu tanpa perasaan memberikan selamat ketika aku memilih Selir…..” Mata Shen King Menajam ketika dia merendahkan tubuhnya, hampir menindih rapat Aiko, kedua telapak tangannya menjadi tumpuan di kiri dan kanan kepala Aiko, “Dan sekarang, menawarkan diri menjadi selirku bukan karena ingin, tetapi hanya untuk melindungi temanmu…..”

Aiko mengerutkan keningnya takut. Tubuhnya mulai gemetaran, apalagi ketika dia mendengar suara geraman marah Kaisar Shen kemudian, tepat di depan bibirnya.

“Mari kita lihat seberapa bagus kau bisa memuaskanku kalau kau menjadi selirku.”

Jemari Kaisar Shen bergerak kasar menurunkan pakaian dayang Aiko dari pundaknya, membuat pundak mungil dan lembut milik Aiko terpampang bebas di antara remang kegelapan gazebo. Shen King mendekatkan wajahnya, napasnya terasa panas dipundak Aiko yang mulai terengah panik dan ketakutan.

Lalu Shen King menenggelamkan kepalanya di sana, menggigit pundak Aiko, membuat Aiko menjerit keras.

Jeritannya langsung hilang, tertelan oleh derasnya hujan yang semakin pekat.

242 Komentar

  1. Dera Puspita menulis:

    Polossnya aikoo :kisskiss :kisskiss

  2. Hariyati Natsir menulis:

    Sedihh gak bsa buka … Hrus pke poin dlu

  3. Ai Erlinawati menulis:

    Polosnya kelewatan nih Aiko.

  4. Polosnya Aiko ???

  5. Sinta Setiawati menulis:

    Kaisar sabar atuh, Aiko baru berapa haro berada di istana, ga mungkin langsung suka..apalagi dari kecil imejnya tentang Kaisar adalah sosok yang kejam..bener kata Tabib Zhou, harus perlahan, jangan mendesak..secara Aikonya juga polos banget..

  6. Haha.. udh ngulang2 cerita ini.. ini part terkekeh dan terseru.. mulai dari kaisar yang frustasi waktu aiko nanya tentang ciuman dgn laki2 lain sebagai tanda hormat,sampai frustasinya kaisar krn aiko ngk peka kalo kaisar ngarep banget k dia..

  7. Airaqyoung1215 menulis:

    :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss

  8. Satunya polos minta ampun
    Satunya ngebet minta ampun
    :week :week

  9. Kaikou Nezumi menulis:

    Aiko polos banget dih, Kaisar bisa Blushing ternyata?

  10. mithaprtwi menulis:

    mau juga diajariin ??

  11. mithaprtwi menulis:

    Hayoloh siabang marah ?

  12. Acyuuuu syukaaaa “kekerasan” inihhhhhh …. WAKKAKAKKAKAKAKKAKAKKAKA

  13. Dhian Sarahwati menulis:

    Kaisar lepas kendali… :kisskiss i:kisskiss

  14. Polos bangett sihh jadi gemes kan kaisarnyaa :kisskiss

  15. SERAFINA MOON LIGT🌙❤💡 menulis:

    Tidakkkkk :sembursemburbyur :sembursemburbyur
    Kau kau jahat ulang mulia :larikarenamalu

  16. LauraOlivia00 menulis:

    :khu..khu…

  17. Q takuttt :bantingkursi :bantingkursi :bantingkursi :bantingkursi :ayojadian :Jambakantagonis

  18. Ckckck tambahan sifat kaisar. Temperamen.
    Begitulh resiko didikan sang penerus kerajaan. Serba egois tdk mementingka n perasaan org lain.
    Poor Aiko 😯

  19. Tere Alison Swift menulis:

    :mimisankarnamu

  20. Milik kaisar..

  21. Shen kingg, kan aiko masih polos di sini:( ga sabaran ya kamu

  22. Yeeee

  23. 1001 cara modus Kaisar Shen!
    No 1. Salam bibir

    Hahaha

  24. dewantilaraswaty menulis:

    :bantingkursi :bantingkursi

  25. ArinaSaadah menulis:

    :larikarenamalu

  26. Diah Wardani menulis:

    :sebarcinta

  27. Mamita Fatih menulis:

    :luculuculucuih

  28. Putri Ratnasari menulis:

    Kok main kasar kaisarr..
    Aiko masih polosss

  29. Kangen aiko,, polos amat si nak :happy

Tinggalkan Balasan