emperors-consort2
Emperors Consort

Emperor’s Consort Part 5 : Di Balik Topeng

Bookmark

No account yet? Register

1.868 votes, average: 1,00 out of 1 (1.868 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

emperors-consort2

Lengan yang kuat merengkuh punggung Aiko supaya merapat, jubah megah merah keemasan itu melingkupi Aiko, pun dengan bibir panas yang melumat bibirnya tanpa permisi.

Mata Aiko membelalak refleks. Yang terlihat di depan matanya adalah alis mata tebal nan indah, ujung tulang hidung yang mancung dan bulu mata lentik tebal menaungi mata yang sekarang terpejam, dekat sekali dengannya, bahkan hampir menempel ke wajahnya.

Bibir itu terasa panas, panas dan manis, rasa yang tidak pernah Aiko temukan dimanapun. Dan sekarang bibir itu membuka bibirnya, menyelip disana lalu mencecap bibir Aiko yang ternganga kaget, dengan sentuhan lembut menggoda.

Jantung Aiko mulai memukul-mukul, seakan mencoba memecahkan rongga dadanya. Apa yang dilakukan Kaisar kepada dirinya? Kenapa bibir Kaisar mencecap bibirnya? Kenapa terasa aneh, seakan-akan ada aliran kuat menyesakkan dada dan membuat napasnya tersengal?

Aiko mencoba memberontak kehabisan napas dan terkesiap ketika mata yang tadinya terpejam itu membuka, dekat sekali karena bibir mereka masih saling menempel. Mata itu berwarna kuning terang dengan pupil hitam pekat layaknya harimau. Napas Aiko tercekat ditatap sedekat itu, sedalam itu.

Suara peringatan bergemerincing di otaknya, seketika itu juga Aiko menyadari bahwa dia telah membuat kesalahan besar. Ini mata Kaisar Shen, dan dia menatapnya ketika Kaisar tidak menggunakan topeng.

Kali ini hukuman mati untuknya tidak akan terhindarkan lagi… dia akan mati…. setelah ini pasti Kaisar Shen akan mengeluarkan pedangnya dan memenggal kepalanya…

Dia akan mati bahkan sebelum dia bisa menemukan obat untuk ibunya.

Kepanikan merayapi diri Aiko, membuatnya meronta sekuat tenaga dari pegangan Kaisar Shen, lengannya yang mungil mendorong dada Kaisar keras-keras. Rupanya Kaisar Shen tidak menduga akan pemberontakan Aiko, karena tubuhnya terdorong dengan mudah ke belakang.

Dipenuhi perasaan berkecamuk, antara bingung, panik dan ketakutan, Aiko lupa bahwa yang ada dihadapannya adalah Kaisar Shen, orang dengan kedudukan termulia di kerajaan Shasou. Yang ada di pikirannya hanyalah ingin pergi menjauh lalu menangis keras-keras. Karena itulah dia langsung bangkit, dan tanpa menoleh untuk kedua kalinya, berlari sekencang mungkin dengan isak tangis dan air mata berderai meninggalkan ruang peraduan sang Kaisar.

Shen King yang didorong dan ditinggalkan begitu saja, masih terpana, terduduk di atas karpet, tidak menyangka Aiko akan mendorongnya dan kabur. Matanya menatap nyalang kearah pintu yang terbuka lebar, menampakkan pemandangan langit malam yang gelap di luar peraduannya.

Shen King mengusap bibirnya yang basah dengan punggung tangannya. Masih tertinggal di sana, kemanisan bibir Aiko yang membekas tak mau pergi.

Sang Kaisar berdecak merutuki dirinya, lalu bangkit, melangkah dengan cepat mengejar Aiko, melupakan topengnya yang tergeletak di meja.

***

Tabib Zhou sedang berjalan dengan santai menyusuri lorong istana merah yang redup. Bulan sepertinya sedang tertutup awan karena suasana malam ini sedikit pekat. Hanya nyala lentera-lentera kecil yang tergantung di berjajar di sepanjang dinding istana yang berpendar kekuningan, membantu memudarkan pekatnya gelap yang membayang.

Dia hendak menemui Kaisar Shen sesuai yang diperintahkan kepadanya, ditangannya tergenggam buah tangan berupa kotak kayu mahoni berisi ramuan dari rempah-rempah wewangian yang disukai Kaisar.

Suasana di depan kamar peraduan Shen King terasa senyap, Tabib Zhou mengangkat tangannya hendak mengetuk ketika pintu itu tiba-tiba terbuka, hampir menabrak mukanya dan membuatnya terhuyung mundur beberapa langkah.

Seakan belum cukup keterkejutannya, sosok perempuan tiba-tiba keluar dari dalam ruangan, berlari membabi buta meninggalkan peraduan Shen King menuju ujung lorong yang berlawanan dengan arah Tabib Zhou datang. Tabib Zhou terpana mendengar isak tangis yang berlalu seiring tubuh perempuan yang menjauh itu.

“Aiko!”

Suara teriakan Shen King tiba-tiba membahana dari dalam kamar, diiringi dengan tubuhnya yang menyeruak dari dalam, hampir menabrak Tabib Zhou, lalu tanpa mempedulikan kehadiran Tabib Zhou di sana, Shen King lari mengejar sosok anak perempuan itu.

Tabib Zhou terpana menyadari sesuatu yang sangat fatal, Shen King tidak memakai topengnya!

“Yang Mulia!” Tabib Zhou berteriak panik, menyempatkan diri memasuki peraduan Shen King, meletakkan kotak mahoni berisi wewangian itu dan menyambar topeng yang tergeletak di atas meja. Secepat kilat dia bergegas mengejar Shen King, “Yang Mulia! Topeng Anda!” dia berteriak, berusaha melambatkan langkah Shen King dan berlari menyusul sang Kaisar sambil mengacung-acungkan topeng itu.

Bisa berbahaya kalau orang-orang datang karena terpancing keributan, Shen King sudah dipastikan akan melakukan hukuman mati massal untuk mengeksekusi orang-orang tak bersalah yang sedang sial karena tidak sengaja melihat wajah Sang Kaisar.

Sosok anak perempuan yang dikejar sang Kaisar berlari memasuki kamarnya yang terletak di ujung istana Merah dan berhadapan dengan taman bunga, lalu membanting pintu itu menutup, membuat Shen King yang menyusul beberapa detik di belakangnya menghentikan langkah, tepat didepan pintu yang terbanting di depan wajahnya.

“Yang Mulia!” Tabib Zhou datang menyusul, terengah-engah, lalu mengangsurkan topeng emas yang tidak dipedulikan oleh pemiliknya, “Topeng anda…”

Shen King masih bergeming menatap pintu di depannya, tetapi tangannya terulur, mengambil topeng itu dari tangan Tabib Zhou dan memasangnya, tepat saat Jenderal Youshou dan beberapa pasukan di belakangnya datang berderap.

“Ada apa?” Jenderal Youshou menatap Kaisar Shen yang berdiri kaku di depan pintu yang tertutup rapat, dia menghentikan langkah dan bertanya pelan kepada Tabib Zhou disebelahnya.

Tabib Zhou sendiri hanya menjawab dengan mengangkat bahu, membuat Jenderal Youshou mengerutkan kening karena sekelebatan dia melihat senyum yang tertahan di bibir Tabib Zhou, seolah-olah sang Tabib sedang menantikan pertunjukan menarik.

Mata Jenderal Youshou lalu beralih kembali kepada Shen King yang anehnya masih berdiri di depan pintu kamar itu, pintu kamar Aiko. Seluruh tubuh sang Kaisar tampak menegang, membuat Jenderal Youshou waspada sekaligus kebingungan.

Sebenarnya apa yang terjadi? Batinnya.

Shen King menoleh sedikit ke arah Jenderal Youshou, suaranya tajam mengerikan ketika memberi perintah, “Singkirkan orang-orang itu.” Sang Kaisar memberi isyarat kepada sekelompok prajurit yang bersiaga di belakangnya.

Jenderal Youshou membungkuk patuh, “Baik Yang Mulia.” Lelaki itu lalu membalikkan badan, memberi instruksi kepada pasukan yang datang bersamanya untuk membubarkan diri dan kembali ke pos masing-masing. Setelah semuanya pergi, dia kembali lagi berdiri di samping Tabib Zhou, antara bingung dan penasaran.

Shen King sendiri tidak mempedulikan kehadiran Tabib Zhou dan Jenderal Youshou dibelakangnya. Sang Kaisar mengangkat jemarinya lalu mengetuk pintu kamar itu,

“Buka pintunya, Aiko.” Suaranya dalam dan mendesak.

Hening.

Tidak ada gerakan dari dalam, hanya terdengar suara isakan ketakutan samar-samar.

Shen King mengetuk lagi, berkali-kali, dan ketika tetap saja tidak ada tanggapan, dia berteriak frustasi, “Aku perintahkan kau untuk membuka pintu!” Shen King memukul tak sabar pintu itu, suaranya meninggi, menyeruak memenuhi udara malam yang sepi dan terdengar mengerikan.

“Pintunya mungkin tidak dikunci Yang Mulia.” Celetuk tabib Zhou, ada nada geli di dalam suaranya seolah sedang menahan tawa, membuat Shen King mengepalkan tangan marah. Tapi tak ayal diturutinya juga saran Tabib Zhou didorongnya pintu itu, dan kemudian terdengar bunyi klik pelan ketika pintu terdorong dengan mudahnya membuka.

Masih ada suara isakan ketakutan yang terdengar semakin jelas dari dalam kamar.

Shen King Menoleh sedikit ke belakang, “Pergi. Kalian berdua pergi.”

“Yang Mulia.” Kasim Rojin yang datang berlari tergopoh-gopoh tiba-tiba berseru seolah kehabisan napas. Tadi Kasim Rojin sudah beristirahat di mansion pelayan ketika salah seorang anak buahnya memberitahukan ada keributan di istana merah. “Anda tidak bisa memasuki kamar perisai anda, protokol kerajaan tidak memperbolehkan, apalagi perisai anda seorang perempuan.” Napas Kasim Rojin terengah-engah ketika kata demi kata berhamburan beruntun dari bibirnya, mencoba menjelaskan protokol kerajaan yang telah dilakukan turun-temurun selama ratusan tahun.

Shen King membeku, lalu membalikkan badan, menatap tiga orang di depannya, sambil mendongakkan dagu penuh kuasa,

“Aku adalah Kaisar. Kata-kataku adalah hukum di sini. Jika aku ingin memasuki kamar perisaiku, maka aku akan melakukannya.” Gumamnya dengan nada suara dingin, membekukan, “Sekarang kalian semua pergi. Menjauh dari pandanganku.”

Tabib Zhou menyenggol Kasim Rojin dengan sikunya, menghentikan kata-kata bantahan yang hendak keluar dari bibir sang Kasim, “Sebaiknya kita pergi.” Bisiknya pelan, “Kalau kau masih sayang dengan nyawamu.” Tambahnya.

Kasim Rojin tertegun, dari sudut matanya dia menangkap Jenderal Youshou menganggukkan kepalanya sedikit, memberi isyarat Kasim Rojin supaya setuju. Shen King sangat mengerikan ketika marah, lebih baik mereka cari aman dan tidak memancing masalah. Akhirnya ketiga orang itu membungkuk rendah diharapan Kaisar.

“Yang Mulia Kaisar Shen, Mohon Ampun, kami izin untuk meninggalkan anda.” Gumam ketiganya. Shen King memberi isyarat dengan tangannya supaya menyingkir, dan merekapun membalikkan badan dan melangkah pergi.

Ketika mereka sudah agak menjauh, Jenderal Youshou melirik dari sudut matanya dan melihat Shen King sudah melangkah memasuki ruang kamar itu,

“Aku tidak mengerti.” Gumamnya pelan, “Apa yang terjadi dengan Yang Mulia Kaisar? Beliau bersikap aneh dan mencurigakan sejak ada perisai baru. Kenapa beliau bersikap seperti itu?”

Tabib Zhou menatap berganti ke arah Jenderal Youshou dan Kasim Rojin, keduanya sama-sama memasang ekspresi bingung, membuat Tabib Zhou terkekeh perlahan,

“Kaisar sudah menunggu bunga itu mekar bertahun-tahun, sekarang bunga itu ada dihadapannya dan siap dipetik. Apa kalian pikir, dengan watak Shen King yang terkenal berdarah panas itu, beliau bisa menahan diri?”

Kasim Rojinlah yang pertama menangkap isyarat yang diungkapkan oleh Tabib Zhou, dia tercengang dan berseru,

“Apakah maksudmu Aiko adalah…..” Kasim Rojin menghentikan kalimatnya, menatap Tabib Zhou ragu.

Tabib Zhou mengangguk pasti, menyetujui ekspresi Jenderal Youshou dan Kasim Rojin yang nampak terkejut, “Ya, tepat sekali. Aku sempat bertemu dengan Hiro tadi sore dan memastikannya. Kalian tentu masih ingat insiden enam tahun lalu bukan? Hiro sudah memastikan bahwa Aiko adalah anak perempuan itu, penyelamat nyawa Yang Mulia di usaha percobaan pembunuhan pada musim berburu rusa enam tahun lalu.”

***

Shen King mendorong pintu membuka dan melangkah memasuki kamar, matanya memindai kamar kecil sederhana itu secepat kilat, dan menemukan Aiko duduk meringkuk di sudut kecil di antara ranjang dan lemari pakaiannya.

Lutut Aiko ditekuk ke dada, sementara lengan kecilnya melingkari lutut dan memeluknya kuat. Seluruh tubuh Aiko gemetaran dan kepalanya menunduk dalam, seolah-olah bersembunyi dari teror yang menakutkan. Ada isak kecil tertahan dari tenggorokan Aiko, membuat tubuhnya berguncang, anak perempuan itu sedang berusaha keras menyembunyikan isak tangisannya.

Shen King melihat semuanya, menipiskan bibirnya dan menahankan keinginan untuk meneriakkan rasa frustrasi yang menjalar ketika melihat betapa takutnya Aiko kepadanya.

Dia berjongkok sejajar di depan Aiko, mengulurkan tangannya untuk menyentuh perempuan itu, tetapi Aiko langsung terkesiap, berjingkat dan berteriak.

“Tidak! Tidak! Saya mohon, Ampuni saya, Jangan bunuh saya!” Perempuan itu terisak histeris, menaruh ke dua telapak tangannya di depan tubuhnya seolah untuk membentengi dirinya. Shen King bisa melihat wajahnya sekarang, kedua pipinya basah dialiri air mata yang mengucur dari mata indahnya yang sembab.

Shen King semakin mendekat, gemerisik jubahnya terdengar ketika lutut keduanya hampir berbenturan, dia berusaha memegang tangan Aiko, tetapi perempuan itu malahan berusaha menghindar dengan panik.

“Hei Tenang…. Tenang..” Shen King bergumam, mulai kehabisan kesabarannya ketika Aiko masih saja memberontak, “Aku bilang tenang!” dicengkeramnya kedua pergelangan tangan Aiko, ditahannya supaya tidak bergerak, Suaranya meninggi, hampir seperti bentakan, dan kemudian Sang Kaisar langsung menyesal ketika melihat Aiko membeku, menatapnya penuh teror.

Ya Ampun!

Shen King mengernyit frustrasi, baru kali ini dia kebingungan menghadapi perempuan. Dia terbiasa membuat orang-orang takut kepadanya. Baru kali ini dia mencoba membuat seseorang tidak takut kepadanya, dan sepertinya itu tidak terlalu berhasil, malah membuat keadaan semakin buruk.

Apa yang harus dia lakukan kepada Aiko?

***

“Aku tidak akan membunuhmu. Kau dengar itu? Aku tidak akan menghukum mati dirimu.” Shen King menunduk, merendahkan nada suaranya dan berusaha mengusir sinar ketakutan yang melumuri bola mata Aiko. “Kau baik-baik saja, percaya padaku ya? Aku tidak akan menyakitimu.” Sambungnya lagi, kali ini terdengar lebih lembut.

Bujukan Shen King rupanya sedikit mengena. Napas Aiko mulai normal meski masih tercekat oleh isak tangis yang menggumpal di dada. Dia masih ketakutan tentu saja, karena seluruh tubuhnya masih gemetar tak terkendali, Topeng emas Shen King yang sekarang dekat sekali dengan wajahnya itu membuatnya ngeri.

Cengkeraman Shen King di kedua pergelangan Aiko mengendor, sang Kaisar menurunkan tangan Aiko ke atas lutut mungilnya, jemarinya yang besar menangkup jemari kecil itu meremasnya lembut, dan berbisik penuh sayang seperti membujuk anak kecil,

“Kau tidak akan dihukum karena melihat wajahku. Kau boleh melihat wajahku.” Shen King menggerakkan tangannya untuk melepas topengnya, membuat Aiko terkesiap kaget,

“Jangan! Yang Mulia Kaisar!” Aiko memalingkan wajah, rasa takut tiba-tiba menyeruak lagi di dalam benaknya.

Tetapi Shen King bergumam dengan tegas, suaranya begitu dekat, begitu memaksa,

“Angkat kepalamu Aiko, ini perintah. Dan demi kehormatanku sebagai Kaisar, aku bersumpah tidak akan menghukummu karena melihat wajahku.”

Suara titah itu begitu agung, mengusik kesadaran Aiko akan posisinya seorang hamba yang harus selalu menuruti perintah tuannya. Perempuan itu berusaha menepis rasa takutnya dan mendongakkan kepala pelan-pelan, dengan hati-hati,

Matanya lalu menangkap sosok yang berada dekat sekali di depannya, sosok Kaisar yang sudah melepas topengnya.

Dan kemudian bibir Aiko ternganga, tersihir oleh keindahan yang dilahap oleh indera pengelihatannya.

Kaisar Shen King sangat tampan. Bahkan dirinya yang tidak punya banyak kenalan lak-lakipun bisa mengetahuinya hanya dengan sekali sapuan mata. Tulang wajahnya tersusun begitu sempurna membentuk struktur wajah khas aristrokat yang indah, belum lagi mata mempesona berwarna kuning terang mengagumkan …. seluruh bagian wajahnya berpadu membentuk keindahan sempurna yang memanjakan mata.

Aiko terpekur bingung. Kalau wajah Kaisar setampan ini, kenapa dia menutupinya dengan topeng yang mengerikan?

Sudut bibir Shen King melembut mendapati Aiko terpana melihatnya, “Kau lihat, aku tidak begitu menakutkan bukan?”

Kaisar Shen mengulurkan jemarinya untuk menangkup bagian belakang kepala Aiko, menghelanya lembut supaya maju ke depan, lalu tanpa diduga-duga, Sang Kaisar mengecup dahi Aiko dengan kecupan seringan bulu.

“Beristirahatlah, Kau aman, kau baik-baik saja.” Bisiknya dengan suara rendah, menebarkan nuansa magis ke seluruh penjuru kamar.

Aiko masih membeku, terkejut akan kecupan lembut penuh kasih sayang di dahinya. Dan dia masih terpaku tak berani bergerak ketika matanya mengikuti Kaisar Shen yang memasang kembali topengnya, lalu berdiri, dan membalikkan tubuh, pergi meninggalkan kamar itu tanpa kata.

***

Shen King melangkah dengan muka muram kembali ke peraduannya. Langkahnya terhenti dan ekspresinya semakin gelap ketika melihat Tabib Zhou menunggu di sana.

“Kenapa kau masih ada di sini?” tanyanya tajam

Tetapi Tabib Zhou yang rupanya sudah terbiasa dengan sikap Shen King sama sekali tidak terpengaruh dengan ketajaman nada suara sang Kaisar,

“Yang Mulia Kaisar, anda menitip pesan supaya saya menghadap anda jika saya tiba kembali ke istana.”

Shen King tercenung, lalu suasana hatinya melunak, dibukanya pintu peraduaan dan memberi isyarat kepada Tabib Zhou supaya mengikutinya.

Mereka duduk di karpet merah yang ada di bagian depan peraduannya, posisi duduk Shen King dilantai yang lebih tinggi dengan meja rendah membatasi keduanya.

“Kau pasti sudah melihat anak perempuan itu.”

Tabib Zhou membungkuk, menjawab dengan hormat, “Tentu saja Yang Mulia.”

“Apakah kau berhasil membuat ramuan untuk penyakit ibunya?”

Ekspresi tabib Zhou penuh penyesalan ketika menjawab pertanyaan Kaisar, “Ampun yang mulia, saya sudah mencoba meramu empat macam tanaman obat langka untuk ibunda Aiko, tetapi saya tidak berani menjamin hasilnya, saya tidak bisa memastikan sebelum mengamati langsung efek pemakaian obat oleh yang bersangkutan.”

“Setidaknya ada harapan.” Shen King bergumam, “Aku akan mengirim Aiko kepadamu untuk belajar tentang racun dan obat-obatan. Ketika dia menyinggung tentang ibunya, berikan obat itu kepadanya.” Tiba-tiba nada suara Shen King berubah dingin dan mengancam, “Jangan pernah berpikir untuk mengganggunya, atau menggodanya dengan pesonamu, Zhou. Kalau kau berani melakukannya akan kupenggal kepalamu. Aiko milik Kaisar, milikku. Perlakukan dia dengan hormat.”

Tabib Zhou meringis, merasa ngeri sekaligus geli akan ancaman Shen King kepadanya.

Ya. Shen King merujuk kepada kelakuannya yang suka menggoda wanita. Wajahnya yang tampan membuatnya gampang menaklukkan perempuan. Entah berapa wanita penghuni istana ini dari dayang senior sampai dayang junior muda yang pernah patah hati menjadi korbannya.

Selama ini Shen King selalu membiarkan sepak terjangnya merayu para dayang, karena sang Kaisar sama sekali tidak tertarik pada mereka. Tetapi sekarang Tabib Zhou sangat yakin, Kaisar tidak akan melepaskan Aiko dari pengawasannya, beliau pasti akan mengirim Hiro, yang bisa mengawasi siapapun tanpa kelihatan untuk menjaga Aiko diam-diam.

Sedetik saja dia melayangkan godaannya kepada Aiko, secepat itu pula dia akan kehilangan kepalanya.

“Yang Mulia, kalau boleh saya memberi saran… ” Tabib Zhou melirik ke arah Shen King yang bergeming, “Untuk menghadapi Aiko, Yang Mulia harus sedikit lebih bersabar.”

Tubuh Shen King nampak kaku, “Apa maksudmu?”

“Begini…” Tabib Zhou berdehem, “Yang Mulia memang sudah berpengalaman dengan perempuan, tetapi Aiko sangat jauh di bawah Yang Mulia dalam hal pengalaman, maksud saya…” Tabib Zhou merasa dirinya salah tingkah sendiri, “Maksud saya dia baru berusia enam belas tahun, mungkin Yang Mulia adalah satu-satunya lelaki yang pernah sedekat itu dengannya…., Yang Mulia tidak ingin membuat Aiko ketakutan bukan?”

Shen King berdehem, “Tentu saja tidak, Zhou.” Kaisar berhenti sejenak, tampak ragu, tetapi kemudian bertanya, “Kalau begitu menurutmu, apa yang harus kulakukan?”

Tabib Zhou tak bisa menahan senyum lebarnya, “Saya rasa pertama-tama anda harus menghilangkan rasa takutnya kepada anda. Beri dia waktu, jangan langsung mendesaknya.”

***

Pagi itu, Aiko sudah mandi dan bersiap melakukan tugasnya. Dia harus bersiap untuk menemui Kasim Rojin untuk latihan tata krama dan protokol kerajaan.

Ketika sampai di depan pintu, tiba-tiba seluruh ingatan tentang kejadian semalam membanjiri otaknya, membuatnya ragu. Aiko mengerutkan kening dan merasa sedikit sesak napas. Rasanya ngeri sekali melangkah keluar dari kamar ini.

Kemarin itu sebenarnya apa yang dilakukan Kaisar kepadanya? Kenapa Kaisar menempelkan bibirnya dan seolah ingin memakan bibir Aiko? Belum lagi, apa alasan Kaisar Shen menunjukkan wajah aslinya di balik topeng kepada Aiko?

Aiko mengerutkan kening ketika jantungnya mulai berdebar lagi, dia kemudian memaksa telapak tangannya menangkup di dada, berusaha menenangkan diri. Dicobanya untuk menghempaskan semua pikiran buruk yang berkecamuk di dada.

Kaisar Shen sudah bersumpah untuk tidak menghukumnya,, dia akan baik-baik saja.

Diulangnya kalimat terakhir itu di dalam hati, berulang-ulang seperti merapal mantra.

Setelah merasa cukup tenang, Aiko bergerak hendak membuka pintu, tetapi pada saat yang sama, ketukan terdengar dari sisi luar pintu, membuat Aiko terlonjak kaget.

“Nona Aiko.” Itu suara sopan Jenderal Youshou menyapa, “Apakah anda sudah siap? Saya ditugaskan langsung oleh Kaisar untuk mengantarkan anda ke kediaman Tabib Zhou.”

Tabib Zhou?

Kecemasan dan ketakutan Aiko langsung menguap, berganti dengan rasa gembira dan antisipasi yang dalam mengetahui bahwa dia mendapatkan kesempatan menemui satu-satunya orang yang menjadi alasan baginya untuk memasuki istana.

Dengan tergesa dibukanya pintu, dan mendapati Jenderal Youshou sendiri yang berdiri di depan kamarnya. Lelaki itu tampak begitu tinggi menjulang di atas Aiko hingga Aiko harus mendongakkan kepalanya.

Tiba-tiba Aiko sadar bahwa yang berada di depannya adalah seorang bangsawan kelas atas, Jenderal tertinggi di kerajaan Sashou, dia segera membungkuk, memberi hormat sedalam-dalamnya.

“Hormat saya untuk Jenderal Youshou.” Gumamnya sopan, sesuai protokol jika seorang hamba bertatap dengan bangsawan dengan kedudukan yang lebih tinggi.

Penghormatannya membuat Jenderal Youshou memalingkan wajah, lagi. Seolah lelaki itu tak nyaman menerima penghormatan darinya.

“Sudah. Cukup. Aku akan mengantarmu.” Jenderal Youshou membalikkan badan dan memberi isyarat Aiko supaya mengikutinya.

Dalam diam dan menjaga jarak supaya tidak terlalu dekat dengan sang Jenderal – sesuai protokol – Aiko patuh mengikuti, meskipun dalam benaknya bertanya-tanya, kenapa untuk mengantar seorang hamba sepertinya, harus oleh Jenderal tertinggi kerajaan Sashou?

Jenderal Youshou melirik ke arah Aiko, lalu menghela napas panjang.

“Yang Mulia Kaisar ingin supaya kau belajar mengenai racun kepada Tabib Zhou.” Lelaki itu tampak ragu melanjutkan kata-katanya, “Hati-hati dengan Tabib Zhou, beliau memang mempesona, tetapi kau tidak boleh jatuh ke dalam pesonanya.”

Ini demi kebaikan mereka semua, Batin Jenderal Youshou, merasakan bulu kuduknya meremang, merasa ngeri akan bagaimana murkanya Shen King, kalau sampai Aiko jatuh ke dalam pesona lelaki lain.

Aiko sendiri mengerutkan kening, bingung dengan nasehat yang diberikan oleh Jenderal Youshou kepadanya, tetapi dia tetap menganggukkan kepalanya dengan patuh.

“Baik Jenderal.” Gumamnya penuh hormat.

***

Ketika melihat Tabib Zhou yang berdiri di depan mansion menyambut mereka, barulah Aiko mengerti apa makna dari nasehat Jenderal Youshou tadi. Segala bayangan yang ada di benak Aiko tentang penampilan Tabib Zhou luruh seketika. Dia tadinya membayangkan seorang tabib senior istana kepercayaan Kaisar tentulah sudah berusia tua, dengan jenggot putih panjang menghias dan suara dalam sarat akan kebijaksanaan.

Alih-alih begitu, yang ada di depannya ini adalah lelaki tampan, nyaris cantik dengan senyum lebar dan suara lembut mempesona.

Mansion tabib Zhou terletak berdampingan dengan Istana merah. Ada pintu tembusan khusus yang menghubungkan Mansion tabib Zhou dengan istana merah, untuk menjamin sang Tabib datang tepat waktu jika terjadi sesuatu kepada Kaisar yang memerlukan penanganannya.

Kemarin, ketika pertama kali memasuki area Mansion itu, yang muncul dibenak Aiko adalah warna hijau. Ya, hijau. Untuk menuju ke area mansion, memang harus melalui jalan setapak kecil yang dibuat dari batu-batu sungai mungil berbagai bentuk dan warna. Di sekeliling jalan itu, banyak sekali tanaman-tanaman yang berjajar secara teratur, dari tanaman setinggi pohon, sampai tanaman dengan ukuran serendah daun semanggi, dari tanaman berdaun lebar, sampai tanaman yang lebih menyerupai rerumputan.

Bagi Aiko yang memiliki ibu seorang tabib, dia menyadari bahwa tanaman-tanaman ini bukanlah tanaman hias sembarangan, seluruh tanaman yang tumbuh subur di halaman depan Mansion Tabib Zhou ini adalah tanaman obat yang ditanam dengan seksama dan hati-hati, serta dirawat dengan begitu cermat.

Sekarang ini mereka bertiga sedang berdiri di depan pintu Mansion Tabib Zhou,

“Mari, Aiko masuklah terlebih dahulu ke dalam mansion, kau akan berkenalan dengan asisten-asistenku di dalam, hari ini kita akan mempelajari dasar-dasar pengetahuan tentang racun.” Tabib Zhou begitu ramah, dengan suaranya yang lembut dia membuka jalan, mempersilahkan Aiko masuk.

Aiko menatap kedua lelaki di depannya, sepertinya Tabib Zhou sendiri masih ingin bercakap-cakap dengan Jenderal Youshou, jadi Aiko menuruti permintaan beliau untuk masuk ke dalam mansion.

Area dalam mansion itu harum, penuh dengan aroma rempah-rempah yang berpadu dengan obat-obatan. Aiko mengikuti arah aroma itu datang dan menemukan aula besar di bagian belakang mansion.

Aula itu diisi oleh belasan orang yang sedang beraktifitas. Ada yang mengaduk cairan mendidih di panci-panci tanah liat besar yang bertengger di tungku kayu bakar nan membara, ada yang sedang menumbuk sesuatu di wadah besar yang khusus untuk menghaluskan obat, dan ada pula yang sedang memilah-milah bubuk dedaunan yang telah kering, memasukkannya ke dalam mangkuk-mangkuk tanah liat berbagai ukuran, lalu menutupnya rapat-rapat.

Aroma ini, keharuman ini, tiba-tiba mengingatkan dirinya akan suasana rumah. Dirumahnya dulu, ketika ibundanya masih sehat, beliau juga suka memasak berbagai ramuan obat dalam tungku kayu yang menyala, menciptakan keharuman semerbak yang memenuhi ruangan.

“Anda perisai kaisar yang baru?” salah seorang Asisten Tabib Zhou menghampiri, ” Saya asisten Li, Anda ingin mempelajari tentang racun bukan? Mari, tabib Zhou sudah memerintahkan saya untuk memberikan pelajaran dasar kepada anda.”

Asisten Li lalu melangkah, menuju sudut aula dimana ada meja panjang beserta kursinya, dengan beberapa buku kuno yang menumpuk seperti sudah disiapkan, dan Aiko pun mengikutinya.

***

“Jangan mengganggu Aiko, Zhou.” Jenderal Youshou memanggil Tabib Zhou dengan nama depan karena usia mereka yang hampir sama. Yah, tabib Zhou mungkin lebih tua hampir lima tahun, tetapi karena wajahnya yang cantik seperti perempuan, Tabib Zhou malahan terlihat lebih muda darinya.

Tabib Zhou terkekeh mendengar nada peringatan itu, “Tidak akan, Youshou, aku masih sayang dengan nyawaku.”

“Bagus kalau kau sadar.” Jenderal Youshou mengawasi sekeliling, “Lagipula Hiro ada di sekitar sini, mengawasimu. Kau tidak akan bisa berbuat macam-macam.”

Kali ini tawa Tabib Zhou meledak, “Ya Ampun, Youshou. Tenang saja. Kaisar sendiri sudah memberi peringatan kepadaku, beliau mungkin sekarang sedang menimang pedangnya, menunggu kesempatan untuk memenggalku jika aku berani melanggar peringatannya. Aku tidak akan sebodoh itu mengganggu satu-satunya wanita yang sudah di klaim Kaisar sebagai miliknya.

***

Pelajaran tentang obat-obatan sangat menarik minat Aiko. Mau bagaimana lagi, dia memiliki ibu seorang tabib handal, jadi dia dibesarkan dengan dikelilingi oleh berbagai macam ramuan obat penyembuh.

Dan sekarang dia mempelajari tentang racun. Ibunya sendiri, sebagai seorang tabib hanya mau membuat ramuan untuk menyembuhkan, beliau selalu menolak membuat racun, dalam bentuk apapun. Karena itulah pelajaran yang didapatkan Aiko sekarang terasa sangat menyenangkan untuknya.

Bayangkan, banyak hal-hal baru yang ternyata tidak diketahuinya. Seperti jika misalnya dia mencampur daun kusuri dengan getah pohon karet, maka mereka bisa menciptakan racun ringan yang berimbas pada pencernaan, atau jika kita mengambil bunga sakura dan mencampurkannya dengan biji buah Apiru, buah berwarna hijau sebesar kepalan tangan dengan rasa manis dan berair yang biasa tumbuh di pegunungan, dua bahan itu jika dicampur tenyata bisa menciptakan racun mematikan dengan efek menyumbat pernafasan.

Aiko takjub dengan pengetahuan yang didapatnya, bahwa jika sebuah bahan dengan rasa enak, dan manfaat baik, jika dicampur dengan bahan lain dengan takaran tepat bisa menjadi racun mematikan.

Dan dia sedikit begidik ketika menyadari bahwa begitu banyak variasi racun yang bisa diciptakan, ada yang menyerang pernafasan, pencernaan, darah dan sebagainya, bahkan jenis-jenisnya juga bermacam-macam, ada yang berbau menyengat, ada yang berwarna hijau pekat. Yang mengerikan, ada juga yang tidak berbau dan berasa apapun.

Jadi hal inilah yang harus dihadapi oleh Kaisar Shen setiap akan memasukkan sesuatu, sekecil apapun ke dalam mulutnya. Resiko diracun yang membayangi setiap saat membuat Aiko ngeri sekaligus kasihan kepada sang Kaisar. Benar-benar, ternyata hidup sebagai Kaisar memiliki sisi lain yang melelahkan.

“Sepertinya kau sangat mudah menyerap berbagai pelajaran yang kami berikan.” Suara sapaan itu mengalihkan Aiko dari lamunannya, membuatnya menoleh dan tersenyum sopan. Tabib Zhou sedang berjalan ke arahnya, lelaki itu lalu menarik kursi dan mengambil tempat duduk di depan Aiko yang juga duduk di salah satu kursi sambil membaca buku ensiklopedia lengkap tentang racun.

Buku ini, kata Asisten Li dibuat dan disusun oleh Tabib Zhou sendiri, penuh berisi tulisan tangan yang indah dan lengkap yang mendeskripsikan berbagai jenis racun yang pernah ada.

“Kebetulan ibu saya adalah seorang tabib.” Aiko sedikit ragu, kalau semisal sekarang dia menceritakan kondisi sakit ibundanya kepada Tabib Zhou lalu memohon padanya untuk meminta salah satu koleksi tanaman obat langka untuk ibundanya, apakah sang Tabib akan menganggapnya kurang ajar dan tidak tahu sopan santun?

“Kenapa kau tampak muram? Apakah ibumu baik-baik saja?” Tiba-tiba Tabib Zhou bertanya, membuat mata Aiko melebar karena menemukan kesempatan untuk menceritakan perihal sakit ibundanya kepada sang Tabib.

Mata Aiko bersinar penuh harap ketika menjawab, “Ibunda saya sedang sakit parah. Beliau terkena penyakit di saluran pernafasannya, kadang jika kambuh beliau susah bernafas dan muntah darah, tubuhnya habis dimakan oleh penyakit. Saya sudah berusaha meramu berbagai obat-obatan tetapi tidak ada yang mempan….” Aiko mengumpulkan keberaniannya untuk meminta kepada Tabib Zhou.

Tetapi sebelum dia meminta, tiba-tiba sang Tabib menyela dan berkata,

“Hmm… untuk kasus ibumu ini, aku sepertinya memiliki obat yang cocok, obat itu berasal dari ramuan dan penelitian terbaruku, diramu dari empat tanaman obat langka yang sangat berkhasiat. Aku akan memberikannya untuk ibumu. Kau berasal dari desa Shiren bukan? Kebetulan salah satu asistenku akan melakukan perjalanan ke hutan barat untuk mencari jamur putih yang hanya tumbuh di area hutan barat, aku akan memintanya mampir untuk mengantarkan obat bagi ibumu.”

Mata Aiko membelalak, mulutnya menganga. Tidak menyangka akan mendapatkan jawaban seperti itu dari Tabib Zhou.

Astaga… bahkan sebelum meminta dia sudah diberikan.

Hati Aiko dipenuhi rasa syukur, hingga matanya berkaca-kaca. Dia langsung bangkit, dan bersujud penuh rasa terimakasih kepada Tabib Zhou yang juga langsung berdiri kaget karena Aiko bersujud di kakinya,

“Terimakasih tabib.” Aiko meneteskan air mata penuh kebahagiaan, “Terimakasih karena kebaikan hati anda….”

Lengan Tabib Zhou memegang pundaknya dan menariknya berdiri, “Hei,hei tak perlu menyembah seperti itu. Dengar, obat ini masih baru, dan belum pernah diuji cobakan. Aku tidak tahu apakah hasilnya akan baik atau malah tidak bermanfaat sama sekali. Jadi, jangan berterimakasih kepadaku dulu, kita coba dan lihat dulu hasilnya nanti, Oke?”

Aiko menganggukkan kepalanya, mengusap air matanya dengan punggung tangan.

Meskipun obat ini belum dipastikan khasiatnya, setidaknya ada harapan untuk ibundanya, dan itu membuat jiwanya dipenuhi rasa syukur yang amat sangat.

***

Malam menjelang lagi, dan hari ini Shen King sengaja melewatkan kesempatan untuk memakai Aiko sebagai perisainya. Untuk makan siangnya tadi, kasim Rojin sendirilah yang mencicipinya.

Meskipun tanpa perisai, Shen King sebenarnya memiliki keahlian untuk menilai ada tidaknya racun di makanannya, dia bahkan lebih ahli dari semua perisai yang pernah dipakainya, tetapi kasim Rojin bersikeras untuk mencicipi makanannya menggantikan Aiko yang sedang belajar di Mansion Tabib Zhou. Menurut kasim Rojin, sesuai protokol kerajaan, Kaisar tidak boleh memakan makanan apapun yang belum di cicip untuk pengetesan kandungan racun.

Shen King tersenyum masam di balik topengnya, mengingat betapa kolotnya Kasim Rojin jika menyangkut protokol kerajaan. Saat ini, lelaki tua itu sedang berlutut di depannya, menanti instruksi.

Malam sudah menjelang kembali, dan Shen King berada di peraduannya, mengerjakan berbagai berkas kerajaan yang harus ditanganinya. Ya, jika sedang tidak berperang, seorang Kaisar ternyata memiliki tugas adminsitrasi menumpuk yang menyangkut berbagai kebijakan kenegaraan dan militer, tugas-tugas membosankan ini yang kadangkala dibawa oleh Shen King menjelang malam di peraduannya.

“Yang Mulia, apakah anda ingin ditemani sepoci teh herbal untuk menemani malam anda?”

Shen King mengangguk, matanya masih terpaku pada berkas di depannya. “Ya, siapkan untukku.” Jawabnya sambil lalu.

Ketika kasim Rojin membalikkan badan, hendak keluar dari ruang peraduannya untuk melaksanakan perintah menyiapkan teh herbal khusus bagi kaisar, tiba-tiba Shen King memanggilnya kembali.

“Aku ingin memanggil Perisaiku untuk bertugas malam ini, dia akan mencicipi teh di dalam ruangan ini, bukan di depan pintu.”

Kasim Rojin tertegun, sejenak menatap ragu ke arah Shen King, tetapi kemudian sang Kasim memutuskan untuk tidak mengatakan bantahan apapun, dia membungkukkan badannya lagi, memberi hormat sebelum meninggalkan ruangan, “Baik Yang Mulia, akan saya laksanakan.”

Sepeninggal Kasim Rojin, Shen King merenung. Tabib Zhou bilang kepadanya untuk bersabar dan tidak mendesak, memberi waktu bagi Aiko supaya bisa beradaptasi dengan keadaan. Yah, dia sudah memberi waktu kepada Aiko dengan tidak memanggilnya bertugas seharian ini bukan?

Malam ini dia ingin melihat Aiko.

Shen King menipiskan bibirnya. Malam ini dia harus menahan diri.

***

Kondisi yang sama, di kamar yang sama dan suasana menyesakkan yang sama.

Pada mulanya ketika memasuki peraduan Yang Mulia Kaisar Shen, Aiko gemetaran dan ketakutan. Tetapi ternyata Kaisar Shen bersikap seolah tidak pernah terjadi insidenapapun sebelumnya. Sang Kaisar hanya mengangguk singkat, lalu menyibukkan diri dengan berkas-berkas menumpuk yang ada di mejanya.

Aiko membungkuk sejajar lantai di samping meja di dekat Kaisar Shen, melakukan protokol yang sudah mulai terasa familiar baginya.

“Mohon maaf Yang Mulia, Saya memohon izin untuk melakukan tugas saya.” Gumam Aiko penuh hormat, lalu mulai mengambil cangkir porselen kecil dan menuang Poci besar panas hingga memuntahkan teh berwarna keemasan terang sampai mengisi seperempat cangkir.

Aroma harum teh herbal itu memenuhi ruangan, berpadu lembut dengan aroma dupa dan bebungaan wangi yang sudah lebih dulu mendominasi keharuman peraduan Kaisar.

Dengan hati-hati, Aiko meminum teh beraroma harum itu, sedikit terkejut karena rasa teh itu nikmat sekali, memanjakan lidah sekaligus memenuhi indera penciumannya.

Aiko mengikuti protokol, menunggu sepuluh menit dalam diam, sementara Kaisar Shen sendiri menenggelamkan diri dalam pekerjaannya, seolah tidak mempedulikan kehadiran Aiko.

Ketika hitungan Aiko sudah mencapai batas waktu reaksi racun, dia bersujud lagi memberi hormat, “Ampun Yang Mulia, waktu kritis sudah terlewati, jikalau tugas hamba memang sudah selesai, hamba mohon diri untu…”

“Tidak.” Suara Kaisar Shen terdengar tegas di balik topeng emasnya yang masih terpasang, “Kau disini sampai aku selesai bekerja.”

Aiko tertegun. Tiba-tiba merasa ngeri. Tetapi dengan segera dia menghapus rasa itu kuat-kuat, sekali lagi dia bersujud. “Baik yang Mulia.”

***

Lama kemudian, sampai batas malam bergulir menyingkir dan memberikan tempat kepada pagi yang menyongsong, Aiko masih duduk di dekat sang Kaisar, menahan kantuknya sekuat tenaga, sementara Sang Kaisar sendiri masih nampak begitu segar, mengabaikannya, dan menyelesaikan pekerjaannya.

Aiko mengerutkan keningnya, diam-diam mencubit tangannya sendiri, supaya rasa kantuk gagal menyerangnya. Ternyata Kaisar Shen selalu bekerja sampai larut malam seperti ini…..

Aiko menguap, merasakan matanya semakin berat. Kantuk yang menyerangnya begitu kuat, tidak bisa ditahan lagi.

Mungkin kalau dia memejamkan matanya beberapa detik, menuruti permintaan tubuhnya yang sudah tak tahan, rasa kantuk itu akan reda dengan sendirinya…..

Aiko memejamkan matanya, hampir tenggelam ke dalam mimpi dalam posisi terduduk, sampai tubuhnya oleng kedepan, membuatnya terkesiap dan membuka matanya kembali.

Kaisar Shen sedang menoleh ke arahnya, topeng emas itu masih terpasang di sana. Rupanya sang Kaisar menyadari tubuh Aiko yang oleng karena kantuk, membuat Aiko merasa malu dan mengutuki dirinya karena tidak kuat menahan dirinya. Sang Kaisar yang bekerja begitu keras saja masih begitu segar, sedang dirinya yang hanya duduk diam tidak melakukan apa-apa malahan tidak mampu menahan rasa kantuk yang mendera.

Pikiran yang berkecamuk di benak Aiko buyar seketika ketika tanpa diduga, Shen King meletakkan penanya, lalu menarik Aiko sampai jatuh terbaring miring dengan kepala di pangkuan sang Kaisar.

Aiko terpekik kaget, tidak menyangka Kaisar akan menarik tangannya dan mendorong Aiko ke pangkuannya. Kepalanya yang berada di pangkuan Kaisar Shen langsung tenggelam di jubah merah sang Kaisar nan harum, dilanda kepanikan, Aiko mencoba bangun secepat mungkin, hanya untuk ditahan dengan jemari dan lengan Kaisar yang kokoh.

“Tidak, jangan bangun. Tidurlah dulu. Masih ada beberapa hal yang harus kuselesaikan.”

Sebelah telapak tangan Kaisar Shen yang hangat berlabuh sambil lalu di sisi kepalanya yang berbaring miring meringkuk di pangkuan sang Kaisar, jemari itu mengusap rambutnya lembut seolah ingin menina bobokan. Sementara itu, jemarinya yang lain masih memegang pena dengan tubuh condong ke depan, begitu fokus pada kertas pekerjaan di depannya.

Seluruh rasa kantuk yang tadi menyerang Aiko langsung menguap entah kemana. Mata Aiko membelalak, tenggelam dalam pemandangan kain jubah merah lembut yang membungkus tubuh sang Kaisar. Usapan lembut jemari Kaisar Shen di sisi rambutnya bukannya membantunya ke alam mimpi, malahan membuat jantungnya berdebar liar.

Bagaimana mungkin dia, seorang hamba, berada dalam posisi yang begitu tidak sopan? Berbaring miring dengan kepala tenggelam di pangkuan Kaisar!

Ya Ampun, jika Kasim Rojin melihat pemandangan ini mungkin beliau akan pingsan karena kaget.

Lama kemudian, mereka masih berada dalam posisi yang sama, Aiko bahkan mulai merasa tubuhnya kaku, karena dia sama sekali tidak berani bergerak, bahkan bernafaspun dia pelan-pelan, membuat dadanya sedikit sesak.

“Bagaimana pelajaranmu dengan Tabib Zhou?” tiba-tiba Kaisar Shen memecah keheningan. Membuat Aiko sedikit kaget pada awalnya.

“Ampun Yang Mulia, Semua berjalan lancar. Tabib Zhou mengajari saya dengan baik, beliau sangat hebat dan memiliki pengetahuan yang begitu luas.” Aiko tidak bisa menahan nada kagum yang melumuri suaranya, tidak menyadari jemari Kaisar Shen yang membeku ketika dia mengucapkan kata-kata pujiannya kepada Tabib Zhou.

Aiko sendiri malahan disibukkan oleh perasaan canggung karena sekarang dirinya menjawab pertanyaan Kaisar, tetapi tidak dengan berlutut, melainkan dengan menggunakan pangkuan Kaisar sebagai bantal.

Tetapi bagaimana lagi? Aiko tidak berani bergerak sama sekali.

“Bagus. Tabib Zhou memang hebat dan bisa mengajarimu ya.” Suara Sang Kaisar terdengar dingin, seolah-olah marah, Shen King lalu meletakkan penanya, menyingkirkan kertas terakhir dari tumpukan kertas tinggi yang ada di mejanya. “Aku sudah selesai. Dan sekarang aku akan mengajarimu hal lain.”

Aiko mulai gemetar ketika melihat Kaisar Shen melepaskan kedua topengnya hingga wajah rupawannya tidak tertutup lagi. Ketakutan membuat Aiko memalingkan matanya, melawan dorongan kuat untuk mengagumi keindahan di depan matanya.

“Yang Mulia… mohon ampun… saya tidak boleh begini, saya harus bangun….” Aiko berusaha bergerak, melepaskan diri dari posisi tidak nyamannya, tetapi Sang Kaisar tertap menahannya dengan lembut sekaligus kuat.

“Kau tetap di situ.” Jemari Sang Kaisar menarik dagu Aiko supaya tertengadah menatap ke arahnya, “Posisimu sangat pas untukku mengajarimu.” Kaisar Shen menggeser Aiko sedikit supaya posisinya lebih naik, lelaki itu lalu membungkuk, mendekatkan wajahnya ke wajah Aiko. “Aku akan mengajarimu bagaimana cara berciuman.”

Berciuman?

Aiko mengerutkan keningnya bingung, tidak bisa menghindar ketika lagi-lagi, Kaisar Shen menempelkan bibirnya di bibir Aiko dan mulai melumatnya.

 

306 Komentar

  1. Febrina Prabarani menulis:

    Kaisar ini…
    Modusnya gini amat ya :awaskubalasnanti

  2. ellysabrina2015 menulis:

    Ya ampun…

  3. Nisaul Badriyah menulis:

    akhir part yg bikin mesem2….uch baru gitu aja udh cemburu sang king shen….

Tinggalkan Balasan