emperors-consort2
Emperors Consort

Emperor’s Consort Part 24 : Kisah Masa Lampau

Bookmark

No account yet? Register

1.704 votes, average: 1,00 out of 1 (1.704 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

Author List – Landon Pigg – Falling In Love at Coffee Shop

I think that possibly, maybe I’m falling for you.

No one understands me quite like you do, through all of the shadowy corners of me


emperors-consort2

“Hiro.” Kaisar Shen memanggil ketika langkah Hiro sudah mendekati pintu, membuat Sang mata-mata menghentikan langkah dan langsung membalikkan badan dengan hormat.

“Perihal Lingdao, jangan sebut sekalipun di depan jenderal Yoshou. Dia tidak boleh tahu, kecuali info yang kau dapat sudah lengkap dengan bukti yang kuat,” mata Shen King sedikit menyipit, “Karena hal ini menyangkut nama baik Jenderal Zhōngshí  jadi kau harus berhati-hati.” sambungnya kemudian.

Hiro menganggukkan kepala, memberi hormat sebelum kemudian melangkah kembali ke arah pintu dan keluar. Sementara benak Shen King berpikir keras, mencoba menelaah semua informasi yang diperolehnya dan memikirkan rencana yang harus dilakukan nanti.

Perkataan Hiro mengenai kemungkinan Jenderal Zhōngshí memiliki anak lain selain Jenderal Youshou sedikit banyak telah memukul hatinya. Dia ingat sekali betapa dulu Sang Jenderal menjadi panutannya karena begitu setia kepada ayahandanya dan melindungi Ibunya serta menyelamatkan nyawanya sebagai seorang putera mahkota. Bahkan sikap Jenderal Youshou yang penuh kesetiaan sekarang ini sudah pasti sedikit banyak diturunkan dari pembawaan Jenderal Zhōngshí sendiri.

Jenderal Zhōngshí berpegang lurus pada aturan kerajaan, begitu loyal, disiplin dan setia. Bagaimana mungkin Jenderal Zhōngshí melakukan hal-hal seperti yang dikatakan oleh Hiro itu? Memiliki putera dari seorang wanita budak rendahan bermata biru?

Shen King sendiri mengetahui bagaimana frustasinya seorang laki-laki ketika berada di medan perang selama berbulan-bulan lamanya, setiap hari mereka hanya mengumpulkan kekuatan untuk perang yang melelahkan, beristirahat dengan tubuh remuk di malam hari supaya keesokan paginya bisa bertempur lagi. Belum lagi dengan pemandangan yang mengusik hati ketika terpaksa melihat korban-korban perang yang penuh luka dan lebih buruknya lagi, mereka harus melihat mayat-mayat bergelimpangan yang harus dikubur atau dibakar supaya tidak memancing datangnya hewan buas ke perkemahan tentara.

Semua itu bisa membuat gila, apalagi jika perang itu dipicu oleh dua pihak yang sama kuat sehingga proses untuk mengalahkan satu dengan yang lain membutuhkan waktu yang begitu panjang tanpa tahu kapan akan berakhir.

Jika berada di situasi itu, Shen King biasanya melampiaskan rasa frustasinya dengan membunuh. Semakin banyak korban jiwa dari pihak musuh yang mati di bawah pedangnya, maka semakin lebih baik dia. Tetapi Shen King tahu ada juga yang mencari cara-cara lain untuk meredakan rasa frustasi, dengan bermain perempuan misalnya. Biasanya di perkemahan perang prajurit, berkeliaran budak-budak rendahan yang menjual diri hanya demi sekeping perak kepada para prajurit. Prajurit rendahan mungkin saja melakukannya dengan perempuan-perempuan itu, tetapi Jenderal Zhōngshí melakukannya? Sepertinya itu mustahil. Bayangan antara dua hal itu sama sekali tidak bisa menyatu di benak Shen King.

Shen King menghela napas. Perkara ini bukan perkara sembarangan. Mereka semua harus menemukan bukti yang sangat kuat sebelum Shen King bisa mempercayai itu semua.

Pintu ruangan terbuka kembali, kali ini Hiro masuk dengan Jenderal Youshou berjalan di belakangnya. Kedua laki-laki itu memberi hormat, lalu berdiri tanpa suara untuk menunggu Kaisar Shen berkata-kata.

Sang Kaisar melemparkan pandangannya ke masing-masing anak buahnya. Pada akhirnya dia membuka mulutnya sambil menatap tajam ke arah Jenderal Youhsou.

“Apa yang ada di dalam pikiranmu ketika aku meyebut nama Kuángrè Long?

Wajah Jenderal Youshou langsung memucat, dirinya menatap Kaisar Shen dengan pandangan bingung sebelum kemudian menjawab pertanyaan itu.

“Ampun Yang Mulia. Setahu hamba, paman hamba, Kuángrè Long atau Kuang Long …  sudah diusir dari Kerajaan Sashou dan dipenjara ke sebuah penjara terpencil di sebuah pulau yang terletak di barat dataran rendah milik Kerajaan Biānyuán yang merupakan salah satu koloni Kerajaan Sashou. Dan itu semua karena permintaan Jenderal Zhōngshí ayahanda hamba.”

“Sudah sepuluh tahun berlalu. Pernahkah kau memastikan dia masih ada di sana?”

Jenderal Youshou semakin mengerutkan kening kebingungan, “Hamba mengirimkan petugas untuk meriksa dan memberikan laporan setiap tahunnya, perjalanan dari Kerajaan Sashou menuju Kerajaan Biānyuán yang disambung dengan perahu ke pulau itu membutuhkan waktu kira-kira tiga bulan pulang pergi. Setiap tahun sekali setelah dikirim pergi, petugas itu mengatakan bahwa Kuang Long masih berada di penjara hingga saat ini.”

“Panggil semua petugasmu yang pernah kau kirim untuk mengemban tugas melakukan perjalanan ke sana dan memeriksa Kuang Long, periksa mereka karena aku menduga entah mereka berbohong, entah mereka dimanipulasi, ada yang salah dalam hal ini.” Kaisar Shen memberi titah dengan suara tegas sementara bibirnya menipis ketika berpikir.

Jenderal Youshou membungkuk, “Hamba akan melaksanakan segera, Yang Mulia.” mata Jenderal Youshou menatap ekspresi wajah Shen King yang muram dan memberanikan diri bertanya, “Kalau boleh hamba tahu, adakah masalah yang berhubungan dengan Kuang Long ini?”

Shen King menganggukkan kepala sedikit, melirik ke arah Hiro sebelum melanjutkan berbicara,

“Aku sudah mengatakan kepadamu kelompok di tengah hutan yang sedang mengumpulkan kekuatan untuk menyerang serta menjadi dalang peristiwa peracunan diriku yang juga melibatkan Asisten Li, bukan?” Kaisar Shen menatap tajam ke arah Jenderal Youshou, “Hiro menyusup ke dalam kelompok itu dan diharuskan menempuh ujian supaya bisa dipercaya oleh mereka. Apakah kau bisa menduga ujian yang diberikan kepada Hiro? Dia diharuskan mengambil cermin berukir Naga, milik keluarga Long, hadiah pernikahan dari Kuang Long untuk Ibuku ketika beliau menikah dengan ayahandaku.”

Jenderal Youshou tenganga, tidak bisa menahan keterkejutannya, tetapi kemudian dia bisa menguasai diri dan melanjutkan.

“Apakah ini berhubungan dengan percobaan pencurian yang sering terjadi di gudang pusaka istana selama ini? Pasukan penjaga berhasil melumpuhkan mereka semua karena memang penjagaan di gudang pusaka istana sangat ketat hingga sulit untuk ditembus… ”

Shen King melirik ke arah Hiro, “Sepertinya begitu, aku berpikir jangan-jangan para pencuri yang berhasil kita lumpuhkan selama ini, mereka tidak mengincar harta pusaka kerajaan, mereka dikirim oleh untuk mencuri cermin itu.”

“Tetapi… saya mendapatkan kepastian bahwa Kuang Long masih dipenjara hingga saat ini.” Mata Jenderal Youshou tampak menajam karena berpikir keras, “Jika memang laporan yang saya terima selama ini adalah kebohongan, berarti kemungkinan besar ada pengkhianatan dari petinggi Kerajaan Biānyuán karena untuk keluar dari penjara di tengah pulau itu sangatlah mustahil kalau bukan dibantu oleh petinggi kerajaan.”

“Aku menduga memang ada pengkhianatan di sana. Kuang Long didesas-desuskan menyimpan banyak harta keluarga Long yang disembunyikannya di suatu tempat rahasia yang hanya dia yang tahu. Mungkin dia benar-benar memiliki semua harta itu dan menyimpannya untuk mengiming-imingi Raja Kerajaan Biānyuán supaya mau bekerjasama dengannya.”

“Hamba akan memastikan semuanya.” ekspresi Jenderal Youshou yang biasanya lembut berubah menjadi keras. Jika memang benar dugaan Kaisar Shen, maka dirinya sebagai jenderal utama kerajaan harus melakukan sesuatu, apalagi ini menyangkut nama keluarga Long dan menyangkut salah satu anggota keluarganya yang meskipun sudah dibuang di luar kerajaan dan dianggap pengkhianat, tetapi tetap saja membawa nama keluarga Long di sana. Jenderal Youshou sendiri belum tahu harus melakukan apa, pikirannya masih sibuk merangkai semua informasi yang diperolehnya supaya bisa menjadi satu kesatuan yang utuh,

“Jadi menurut Yang Mulia, Kuang Long adalah pemimpin misterius yang sekarang memakai nama Master Yuanchou?” Hiro yang sedari tadi berdiam diri dan mendengarkan akhirnya menyahut, ini adalah informasi baru baginya karena dia tidak pernah tahu bahwa keluarga Long memiliki anggota keluarga yang dicap pengkhianat dan dibuang ke luar kerajaan, paman dari Jenderal Youshou pula!

Kaisar Shen menganggukkan kepala, “Kuang Long ini adalah kekasih ibuku, Selir Junsuina adalah nama asli ibuku sebelum memperoleh gelar Selir Qizi dari Kaisar. Kuang  Long menjadi kekasih ibuku sebelum ibuku diangkat menjadi selir oleh Kaisar Shutei, ayahandaku. Sebagai salah satu panglima perang, Kuang Long bertemu dengan ibuku ketika melakukan tugas kunjungan ke desa-desa untuk mencari wanita persembahan bagi Kaisar Shutei. Ibuku, Selir Junsuina adalah perempuan tercantik di desa dan seyogyanya wajib dikirim sebagai persembahan Kaisar. Tetapi, karena Kuang Long jatuh cinta kepada ibuku, dia mengirimkan perempuan lain dan bermaksud menyimpan ibuku untuk dirinya sendiri. Pada akhirnya, karena usaha Kuang Long yang gigih, ibuku mau menerima cinta Kuang Long yang mengejarnya dan menerima lamaran Kuang Long untuk menikahinya.”

Mata Kaisar Shen tampak getir ketika melanjutkan, “Kuang Long menerima tentangan keras dari seluruh keluarga Long ketika mengatakan akan menikahi Selir Junsuina, dia adalah adik dari Jenderal Zhōngshí dan seharusnya menikahi putri bangsawan kelas atas, tetapi demi cintanya yang begitu dalam, dia menentang seluruh keluarganya dan membawa Selir Junsuina ke istana untuk dinikahi.” Kaisar Shen mengalihkan mata menerawang ke sisi lain ruangan, “Lalu takdir menggerakkan nasib ke arah yang tidak diduga,  beberapa hari sebelum pernikahan, Kaisar Shutei datang mengunjungi kediaman keluarga Long, tanpa sengaja melihat Selir Junsuina dan jatuh cinta pada pandangan pertama. Kaisar Shutei lalu mengirim orangnya untuk mengambil Selir Junsuina keesokan harinya dan mengangkatnya sebagai gadis persembahan, kemudian Kaisar tidak menunggu lama untuk mengangkat selir Junsuina sebagai selir dan menganugerahkan gelar Selir Qizi kepada beliau.”

Mata Kaisar Shen beralih ke arah Hiro yang tampak terkejut, lalu bibirnya membentuk senyuman ironi,

“Mencengangkan bukan kisah cinta kedua orang tuaku? Semua orang mengira bahwa ibuku begitu berbahagia karena menjadi selir kesayangan Kaisar sekaligus satu-satunya selir yang bisa memberikan seorang putera bahkan membuat iri selir-selir lain dan bahkan juga permaisuri.” Shen King menghela napas panjang, “Mereka tidak mengira bahwa Ibuku pada awalnya menderita dengan pernikahan itu. Dia mencintai Kuang Long kekasihnya dan dipisahkan paksa dengan kejam oleh Kaisar. Tetapi pada akhirnya, cinta tumbuh karena biasa, entah mungkin karena perhatian yang diberikan oleh ayahandaku, entah memang Selir Junsuina pada akhirnya menyadari tugasnya sebagai seorang istri,. Karena setelah Selir Junsuina melahirkanku, beliau akhirnya bisa menerima ayahandaku di hatinya dan belajar mencintai.” Kaisar Shen mengamati reaksi Hiro dan Jenderal Youshou sebelum melanjutkan,

“Tetapi tidak dengan Kuang Long. Dia menjadi gila karena patah hati sehingga harus dikurung dan dirantai di salah satu rumah keluarga Long. Jenderal Zhōngshí lalu memohonkan ampunan bagi adiknya kepada Kaisar Shutei, dan ayahku memberikan ampunan itu. Sampai dengan ayahandaku meninggal, Kuang Long masih dikurung di tempat rahasia yang hanya diketahui oleh Jenderal Zhōngshí. Sampai  ketika Jenderal Zhōngshí  meninggal dunia, sebelum ajalnya, Jenderal Zhōngshí menemuiku dan memohonkan ampunan untuk adik kandungnya tersebut.” Kaisar Shen menatap Hiro dan mempelajari ekspresi lelaki itu sebelum kemudian melanjutkan.

“Jenderal Zhōngshí  memintaku bersumpah untuk tidak membunuh Kuang Long dan aku menurutinya dengan pertimbangan jasa dan pengabdian keluarga Long kepada Kaisar sepanjang sejarah Kerajaan Sashou. Aku lalu membiarkan Kuang Long tetap dikurung dalam penjara rumah dalam pengawalan ketat. Sampai kemudian, tanpa disangka, penyelidik kerajaan menemukan bahwa Kuang Long ternyata berpura-pura gila dan memengaruhi salah satu menteriku untuk melakukan percobaan pembunuhan terhadapku pada musim berburu di tengah hutan ketika itu.” Kaisar Shen melirik ke arah Jenderal Youshou, “Seharusnya dia dihukum mati seperti yang kulakukan pada seluruh keluarga menteri yang mengkhianatiku. Tetapi aku teringat sumpahku pada Jenderal Zhōngshí untuk mengampuni adiknya. Pada akhirnya, untuk mencegah dia memengaruhi pihak-pihak lain di Kerajaan Shasou untuk bersekutu dengannya, aku membuangnya ke sebuah pulau terpencil yang masih menjadi wilayah kerajaan Biānyuán  yang merupakan koloni Kerajaan Sashou.”

“Jika memang Kuang Long yang menjadi dalang atas semua peristiwa ini, maka saya sendiri yang akan mengambil alih tanggung jawab dan mengejarnya.” Jenderal Youshou berkata tegas dengan ekspresi penuh tekad.

Kaisar Shen hanya menganggukkan kepala, “Aku tahu kau akan melakukannya. Saat ini aku menduga Kuang Long memperoleh bantuan dari pihak lain yang memang ingin menggulingkan kekuasaanku. Dia membenciku karena menganggap akulah yang menyebabkan Selir Junsuina berpaling hati dan menerima Kaisar Shutei sebagai suaminya.” mata Shen King menyipit, “Tetapi Kuang Long selalu memiliki memiliki kelemahan, kelemahannya adalah ibuku. Dia masih memendam cinta dan nyaris gila karena ibuku. Cermin berukir naga yang dihadiahkannya ketika pernikahan ibuku dengan Kaisar Shutei sebagai formalitas  sebenarnya adalah salah satu hadiah pernikahannya sendiri yang rencananya akan diberikan kepada Selir Junsuina jika selir Junsuina menjadi istrinya. Hanya dia dan anggota keluarga Long yang tahu mengenai hadiah cermin itu, karena itulah aku langsung mempunyai dugaan besar bahwa Kuang Long memiliki andil dalam pergerakan kelompok misterius di tengah hutan tersebut.”

“Hal ini juga sedikit menenangkan karena dengan menyuruh Hiro melakukan tugas ini, itu berarti Kuang Long tidak mengetahui bahwa Hiro memiliki hubungan dengan Kaisar ataupun keluarga Long. Sebab jika dia membuka tentang cermin itu kepada orang yang dekat dengan istana, identitasnya akan langsung ketahuan seperti sekarang.” Jenderal Youshou menyambung ucapan Kaisar Shen dan mengambil kesimpulan, “Jika Hiro mendapatkan tugas mengambil cermin itu dari gudang pusaka kerajaan, kita tidak bisa membiarkan Hiro mendapatkan cermin itu begitu saja meskipun itu bertujuan untuk mendapatkan kepercayaan Kuang Long.” Jenderal Youshou berucap, ekspresinya semakin serius, “Kuang Long sudah mengirimkan puluhan orang sebelumnya untuk mengambil cermin itu dan kesemuanya gagal, mereka semua menutup mulut dengan setia dan pada akhirnya dieksekusi mati…. Kalau tiba-tiba kita membiarkan Hiro berhasil mengambil cermin itu, hal itu akan menimbulkan kecurigaan karena Hiro mengaku sebagai pemburu biasa dan sebagai seorang pemburu tidak mungkin dia lebih berhasil dari orang-orang lain yang sudah terlatih yang dikirim oleh Kuang Long sebelumnya. Ini sebenarnya adalah misi bunuh diri untuk Hiro karena Kuang Long sudah putus asa menggunakan berbagai cara untuk mengambil cermin itu.”

“Tidak. Kita tidak akan membiarkan Hiro mengambil cermin itu.” Kaisar Shen menyela cepat sambil menoleh ke arah Hiro, “Hiro tetap akan melakukan percobaan pengambilan cermin itu dan kita akan menangkap Hiro sebagai pengkhianat.”

Jenderal Youshou menatap Kaisar Shen dengan wajah tidak setuju,

“Yang Mulia, jika kita menangkap Hiro, itu akan mengekspos wajah Hiro kepada khalayak. Selama ini Hiro bertindak di balik bayang-bayang sebagai mata-mata, dia akan mudah dikenali jika itu kita lakukan.”

“Kita akan menciptakan sebuah skenario dimana Hiro berhasil melarikan diri dan kita akan memastikan berita bahwa Hiro ditangkap akan sampai kepada kelompok itu,” Kaisar Shen memberi isyarat kepada Hiro dan membuat Hiro langsung sadar bahwa mereka akan memanfaatkan peran Dayang Lise di rencana ini,  “Jika dia dikenali sebagai seorang pencuri yang berusaha mencuri harta Kaisar, maka itu akan semakin bagus untuk penyamarannya, dia akan lebih mudah masuk ke dalam kelompok musuhku karena musuh Kaisar adalah teman mereka.” sambung Kaisar kemudian.

Hiro menganggukkan kepala, “Hamba akan melaksanakannya, Yang Mulia.”

Kaisar Shen melirik sedikit ke arah Hiro.

“Penjara kerajaan Sashou bisa sangat kejam, apalagi mereka semua tidak tahu tentang siapa dirimu yang sebenarnya, kau akan dipandang sebagai pencuri dan mungkin mengalami siksaan dari petugas penjara, apakah kau siap?”

Hiro sekali lagi menganggukkan kepala kali ini tatapan matanya berbinar penuh keyakinan.

“Hamba sudah pernah mengalami berada di bawah siksaan yang lebih kejam dan tidak berperikemanusiaan sebelumnya, Yang Mulia.” jawabnya kemudian, mengingat masa-masa di ketika dirinya masih menderita dibawah perbudakan suku barbar yang kejam.

Jenderal Youshou membungkukkan tubuh dan memberi hormat, “Hamba akan memastikan bahwa Hiro tidak akan menerima siksaan lebih dari pada seharusnya. Hiro akan menerima siksaan untuk semakin meyakinkan penyamarannya, jika dia berhasil melarikan diri tanpa luka sedikitpun, itu akan mencurigakan.” Jenderal Youshou menoleh ke arah Hiro dengan tatapan mata serius, “Aku sendiri yang akan membantumu melarikan diri dari penjara, Hiro.” ucapnya kemudian penuh janji.

***

“Apakah kau mengenal pamanmu dengan baik?”

Hiro memberanikan diri bertanya ketika muncul untuk berjalan bersama dengan Jenderal Youshou setelah Jenderal Youshou dan pasukannya diperintahkan Kaisar untuk melakukan penyelidikan menyangkut Kerajaan Biānyuán. Kaisar sendiri bertemu dengan beberapa menteri dalam perjalanannya pulang ke Istana Merah sehingga terpaksa melakukan pertemuan untuk membahas beberapa masalah di ruang singgasana.

Jenderal Youshou melirik sedikit, tidak terkejut dengan Hiro yang muncul tiba-tiba karena sudah kebiasaan lelaki itu bisa muncul di mana saja tanpa menimbulkan suara sebelumnya.

“Aku tidak begitu mengenalnya. Seumur hidupku, aku hanya tahu bahwa ayahandaku memiliki seorang adik yang gila dan dikurung di rumah peristirahatan milik Keluarga Long di kaki gunung yang dijaga ketat.” ekspresi Jenderal Youshou tampak sedih, “Tidak ada yang berani membicarakan Kuang Long di keluarga kami. Dia adalah aib yang merusak ratusan tahun penuh pengabdian yang diberikan keluarga Long kepada Kaisar.”

“Kaisar mengambil kekasih yang sangat dicintainya beberapa hari sebelum pernikahannya. Aku sebenarnya tidak bisa menyalahkannya.” Hiro bergumam pelan entah kenapa merasa empati.

Jenderal Youshou menolehkan kepala dan menatap Hiro dengan tajam.

“Jika kau ingin mengabdi sepenuh hati kepada Kaisar, maka kau harus siap menyerahkan segalanya kepada Kaisar, bahkan jika itu nyawamu sendiri. Itu adalah prinsip yang dipegang teguh oleh keluarga Long. Kuang Long sudah mencurangi Kaisar dengan mengubah takdir selir Junsuina yang seharusnya dikirimkan sebagai gadis persembahan bagi kaisar, dia mencurangi hak Kaisar dan hendak mengambilnya sebagai milik sendiri. Pada akhirnya Kaisar akan selalu mendapatkan haknya, dan bukan salah Kaisar jika mengambil selir Junsuina dari tangan Kuang Long, karena sedari awal selir Junsuina  memang diperuntukkan untuk Kaisar.”

Hiro sendiri terdiam, menyadari kebenaran kata-kata Jenderal Youshou.

“Aku mengerti,” ucapnya kemudian, “Aku hanya memikirkanmu yang sekarang harus melawan pamanmu sendiri.”

“Aku berbeda dengan ayahku. Jenderal Zhōngshí beliau, meski begitu setia kepada kaisar tetapi masih mengemban beban sebagai kepala keluarga. Beliau masih berusaha melindungi Kuang Long dan bahkan meminta Kaisar Shen bersumpah untuk tidak memenggal kepala pamanku itu apapun yang terjadi. Aku maklum mungkin karena Kuang Long adalah adik satu-satunya ayahku dan mereka dibesarkan bersama sehingga ikatan kasih sayang mereka sangat kuat,” mata Jenderal Youshou meredup, “Seumur hidup batin ayahku mungkin tersiksa antara pengabdiannya kepada kaisar dengan cintanya kepada adik kandungnya. Sebelum ayahku meninggal dunia, beliau memanggilku dan barulah ketika itu aku mengetahui kisah tentang Kuang Long seutuhnya… Jenderal Zhōngshí adalah Jenderal terbaik, seorang ayah dan kepala keluarga yang sempurna, juga seorang kakak yang mencintai adiknya. Aku mengagumi ayahku dan menjadikannya panutanku, tetapi bukan berarti aku akan mengambil jalan yang sama dengannya. Jika memang pamanku adalah pengkhianat kaisar, maka akulah yang akan menghukumnya dengan tanganku sendiri.

Jenderal Youshou sangat memuja ayahandanya…. Hiro membatin dan rasa sedih memenuhi benaknya, dirinya tanpa sadar  mengangkat bahu ketika berpikir, siapa yang tidak mengagumi Jenderal Zhōngshí? Bahkan Hiro yang tidak pernah bertemu langsung dengan Sang Jenderal saja mengagumi Jenderal Zhōngshí karena kisah-kisah yang didengarnya tentang kesetiaan Jenderal Zhōngshí kepada Kaisar.

Pikiran tentang Lingdao dan pengakuannya tiba-tiba menelusup masuk, membuat Hiro tanpa sadar menghela napas panjang karena sesak yang memenuhi dada.

***

Aiko mendengarkan suara ketukan yang tiba-tiba terdengar di pintu dengan waspada. Kaisar Shen mengatakan akan meninggalkannya sebentar karena ada permasalahan menyangkut Kerajaan Sashou yang perlu dibicarakan di Istana Emas dan meminta Aiko tidak kemana-mana.

Tetapi setelah beberapa lama berdiam di dalam ruang peraduan Kaisar dan selesai mempelajari buku-buku yang diberikan Tabib Zhou untuk dipelajari olehnya, Aiko merasa bingung harus melakukan apa. Ketika Aiko sedang sibuk berpikir, tiba-tiba saja ketukan di pintu terdengar, membuat Aiko tiba-tiba diserang rasa cemas karena takut keberadaaanya di kamar peraduan Kaisar Shen menimbulkan banyak pertanyaan dari pihak lainnya.

“Kasim Rojin hendak menghadap.” Suara yang sangat familiar di telinga Aiko tiba-tiba terdengar, membuat senyuman langsung muncul di bibir Aiko dan tanpa sadar dirinya menghambur ke arah pintu.

Aiko membuka pintu dengan bersemangat dan menemukan Kasim Rojin berdiri di sana, membungkuk hormat kepadanya.

“Hamba mendengar bahwa Kaisar Shen sedang ke Istana Emas, pasti Yang Mulia merasa bosan.” ucap Kasim Rojin kemudian. Matanya menelusuri Aiko dan senyuman muncul di bibirnya, Aiko tampak sehat dan bahagia dan kecemasannya selama ini bahwa dengan menjadi selir kaisar akan membuat Aiko tertekan rupanya tidak terjadi.

Aiko sendiri merasa serba salah karena Kasim Rojin menghormat kepadanya, dirinya  meremas kedua tangan, tanpa sadar menatap tubuhnya yang dibalut pakaian pelayan laki-laki yang telah disiapkan Kasim Rojin tadi pagi untuknya.

“Apakah… apakah saya boleh meninggalkan peraduan Kaisar Shen?” tanyanya kemudian dengan nada takut-takut.

Kasim Rojin mengangkat sebelah alisnya, “Kalau Anda tidak ingin  membuat keributan, sebaiknya jangan lakukan. Kalau nanti Yang Mulia Kaisar Shen kembali dan tidak menemukan Anda di peraduannya, beliau akan mengamuk dan mengobrak-abrik seisi istana untuk menemukan Anda.” Kasim Rojin mengulurkan keranjang berisi benang dan kain serta peralatan yang dibawanya, “Saya datang mengantarkan peralatan menyulam untuk mengusir kebosanan Anda selama menunggu Kaisar Shen kembali.”

Aiko menatap peralatan menyulam itu dengan ngeri. Dirinya menghabiskan waktu di dalam kamar selir sebagian besar untuk menyulam karena Dayang Ruan memaksanya untuk belajar menyulam hingga menghasilkan sulaman bunga yang paling sempurna yang pantas dihasilkan oleh seorang selir. Baru kemarin dia berhasil memenuhi standar Dayang Ruam akan sulaman yang sempurrna setelah sebelumnya berlatih keras tanpa henti, dan sekarang memikirkan menyulam lagi masih membuat Aiko merasa tidak enak.

“Tidak bisakah saya pergi ke Mansion Tabib Zhou di dekat sini? Saya rasa saya bisa membuang waktu saya dengan membaca dan mempelajari tanaman obat-obatan di sana.” Aiko melanjutkan lagi dengan suara ragu, dia tahu bahwa Kasim Rojin sangat taat pada peraturan dan tidak mungkin membiarkan Aiko melanggar peraturan yang telah ditetapkan Kaisar sebelum pergi.

“Tidak bisa, Yang Mulia. Anda akan membahayakan Tabib Zhou kalau anda ke sana tanpa izin dari Kaisar Shen.”

“Aku tidak keberatan dibahayakan.”

Sebuah suara terdengar dari samping, membuat Aiko melongokkan kepala karena sedari tadi mereka bercakap-cakap dengan kondisi Kasim Rojin di depan pintu kamar bagian luar dan Aiko di dalam kamar. Mata Aiko melebar kali ini bersamaan dengan senyumnya ketika melihat Tabib Zhou berada di sana, berdiri santai sambil melipat kedua tangan di dada.

Kasim Rojin juga sedang menoleh ke arah Aiko dan menatap Tabib Zhou dengan ekspresi tidak yakin,

“Kaisar Shen bisa saja menghukum anda karena anda membawa pergi Aiko tanpa izin ke mansion anda.” ucap Kasim Rojin dengan nada memperingatkan.

Tabib Zhou sendiri mengangkat bahu, seolah tak peduli.

“Yang Mulia tidak akan melihatnya. Beliau masih membutuhkan aku, setidaknya sampai empat hari lagi.”

“Empat hari lagi?” Aiko dan Kasim Rojin langsung bertanya bersamaan dengan perkataan Tabib Zhou itu.

Sang Tabib  mengedipkan sebelah mata dan menatap Aiko dengan tatapan mata menggoda,

“Empat hari lagi sebelum kau harus memanggilku dengan panggilan ayah.” ucapnya sambil tertawa terbahak seolah-kata-kata itu lucu.

Tetapi Aiko dan Kasim Rojin tidak tertawa. Kasim Rojin memandang Tabib Zhou dengan tatapan mata mencemooh sementara Aiko memandang Tabib Zhou dengan tatapan tidak percaya.

Pada akhirnya Tabib Zhou hanya menggaruk kepala, lalu tersenyum malu,

“Tidak lucu ya?” ucapnya sambil meringis, “Aku datang kemari untuk menghadap Kaisar dan memberitahukan tanggal pernikahan pastiku dengan Tabib Hana. Aku datang untuk mengundang Kaisar Shen dan Selir Qizi untuk hadir di pesta pernikahanku.” senyum Tabib Zhou melebar dan lelaki itu sedikit membungkukkan tubuh ke arah Aiko, membuat wajah Aiko memerah karena malu.

“Saya… saya senang sekali mendengarnya.” Aiko masih tidak percaya bahwa ibundanya akan menikah lagi. Kebahagiaanya ketika bertemu dengan ibunya kembali di waktu itu saja masih tersisa sampai sekarang, apalagi ketika dia melihat bahwa ibundanya tampak lebih sehat daripada sebelumnya, “Apakah… apakah setelah menikah nanti Ibunda saya akan tinggal bersama Anda?” Aiko tiba-tiba merasa ingin tahu dan bertanya.

Tabib Zhou menganggukkan kepala dengan mantap,

“Pernikahan akan dilaksanakan di Rumah keluarga besar Yangzyi, kami memiliki istana keluarga sendiri di ibukota. Tetapi setelahnya, Tabib Hana akan tinggal di dalam istana ini bersamaku.”

Mata Aiko melebar karena bahagia, “Jadi saya bisa menemui ibu saya lebih sering daripada yang sebelumnya?” tanyanya dengan polos.

Tabib Zhou melempar pandang ke arah Kasim Rojin yang menggeleng pelan. Sesuai protokol kerajaan, siapapun yang ditemui oleh Selir Kaisar harus atas seizin Kaisar dan juga seorang selir tidak boleh terlalu sering menemui anggota keluarganya. Selir-selir yang bukan berasal dari keluarga bangsawan dan berasal dari gadis persembahan biasanya malahan hampir tidak pernah bisa bertemu dengan anggota keluarganya lagi karena tidak semua orang bisa memasuki istana dalam.

“Mungkin kau tidak bisa menemui Tabib Hana sebagai ibumu, tetapi kau bisa menemui Tabib Hana sebagai seorang tabib.” Tabib Zhou akhirnya berucap, mengabaikan kembali tatapan penuh peringatan yang dilemparkan oleh Kasim Rojin kepadanya, “Kalau kondisi Tabib Hana memungkinkan, aku akan menjadikan Tabib Hana asistenku dan mengirimkannya ke istana selir untuk mengecek dan memelihara kondisi kesehatan Selir Kaisar.”

Peryataan itu benar-benar membuat Aiko senang hingga dia melompati ambang pintu dan berdiri di depan Tabib Zhou,

“Saya… saya sangat berharap ibunda saya semakin membaik sehingga saya bisa berjumpa dengan ibunda saya setiap saat.” ucapnya kemudian sementara matanya berbinar penuh harapan.

“Aku juga berharap begitu.” Tabib Zhou tersenyum dengan tulus, lalu membalikkan badan, “Ayo, ikut. Ada tanaman obat yang baru kupanen hari ini, kau pasti belum pernah melihatnya.” ucapnya kemudian dan berjalan tanpa menunggu jawaban Aiko seolah yakin bahwa Aiko akan mengikutinya.

Aiko menoleh ke arah Kasim Rojin yang memasang ekspresi tidak setuju lalu membungkuk untuk berpamitan, ekspresinya ragu, tetapi kemudian dia memutuskan untuk berbalik dan mengikuti langkah Tabib Zhou. Saat ini dia mengenakan pakaian pelayan laki-laki dengan penutup kepala yang menutup rapat rambutnya, jadi posisinya aman sekarang untuk berjalan-jalan sepanjang lorong tanpa dicurigai.

“Tabib Zhou.” Kasim Rojin tiba-tiba berucap ketika langkah mereka sudah semakin menjauh, membuat Tabib Zhou dan Aiko menoleh bersamaan dan melihat Kasim Rojin masih berdiri di tempatnya semula. Wajahnya yang penuh kerut berubah dari menampilkan ekspresi tidak setuju menjadi cemas.

“Kaisar Shen akan sangat marah.” ucap Kasim Rojin kemudian, sekali lagi  mencoba memperingatkan Kaisar Shen, “Anda pasti tahu bagaimana marahnya Kaisar Shen ketika titahnya tidak dilaksanakan. Sebelum pergi tadi, beliau menitahkan Aiko untuk tetap berada di dalam ruang kamar peraduannya.”

Perkataan itu membuat Aiko ragu. Kaisar Shen memang tidak pernah meluapkan kemarahan kepadanya, tetapi tetap saja bayangan akan membuat Sang Kaisar marah besar membuatnya takut. Aiko langsung berpikir hendak kembali ke dalam kamar peraduan Kaisar Shen dan menunggu sampai beliau kembali dari Istana Emas sesuai titah Kaisar, tetapi dengan segera Tabib Zhou mencegahnya.

“Jika Kaisar Shen marah, maka biarkan beliau meluapkannya. Aku sudah bilang tadi bahwa Kaisar Shen masih membutuhkanku selama empat hari ke depan.” Tabib Zhou tersenyum lebar, berusaha menenangkan Aiko yang tampak kebingungan bercampur takut, “Ayo, Aiko. Selagi kau disini dan mempunyai waktu, lebih baik kau belajar obat-obatan sesuai dengan panggilan hati yang selalu ada di dalam benak keluarga Yangzyi.”

Aiko sekali lagi menoleh ke arah Kasim Rojin, masih merasa bingung. Tetapi perkataan tentang mempelajari obat-obatan sangat menarik hatinya sehingga dirinya tanpa pikir panjang berbalik mengikuti langkah Tabib Zhou setelah sebelumnya membungkuk untuk meminta maaf kepada Kasim Rojin.

***

Lorong dengan tembok tinggi di kedua sisinya itu penuh dengan aroma pengap yang menyesakkan. Tidak ada pencahayaan sedikitpun karena lampu-lampu memang sengaja dimatikan. Malam sendiri sudah menjelang dan mentari mememilih berpulang segera untuk kembali lagi esok pagi.

Sosok tinggi Master Yuanchou berjalan menyusuri lorong yang berada di sayap paling belakang istananya dalam lokasi tertutup dan tersembunyi itu sementara beberapa pengawal tampak mengikuti di belakang sambil membawa lentera kecil yang merupakan satu-satunya sumber cahaya yang menerangi jalan mereka.

Ketika sampai di ujung lorong, Master Yuanchou berhenti, mengeluarkan sebuah kunci untuk membuka gerendel yang mengikat pintu kayu besar yang tertutup rapat. Pintu itu pun terbuka sedikit dan Master Yuanchou memberi isyarat kepada para penjaganya untuk menunggu di luar sebelum dirinya melangkah memasuki ruangan.

Udara di dalam kamar itu cukup pengap karena hanya ada satu kotak ventilasi udara yang terletak di sisi dinding paling tinggi. Seluruh jendela ditutup dengan papan yang dipaku rapat dan tidak bisa dibuka, seolah mencegah tahanan untuk bersembunyi.

Tetapi Sang Tahanan sepertinya juga tidak akan bisa melarikan diri meski jendela dibuka sekalipun, karena sekarang sosok yang ditahan itu sedang duduk meringkuk di lantai, dengan sebelah kaki dirantai pada pasak besi yang terpancang kuat.

“Tidak memakan makananmu lagi.” Master Yuanchou berucap dengan nada marah sambil melirik piring-piring makanan tahanan yang tampak utuh, “Apakah kau sedang mencoba bunuh diri?”

Master Yuanchou bergerak cepat dan meraih rambut sosok tahanan yang terjuntai panjang acak-acakan menutup wajahnya, lalu sebelah tangannya menjambak rambut itu untuk memaksa tahanan yang sedari tadi menunduk dalam itu untuk mendongak dan memperlihatkan wajahnya,

“Sudahkah kubilang kepadamu bahwa kau tidak boleh mati? Masih ada rencana-rencanaku yang membutuhkan keahlianmu sebagai seorang Tabib, dan kau pasti tidak ingin aku mengejar anak harammu untuk kujadikan sandera bukan? Aku tahu kau memiliki seorang anak haram karena desas desus yang tersebar tentangmu di dalam lingkup istana ketika itu. Sekarang aku memang belum menemukan anak harammu itu, tetapi jika nanti aku menemukannya, aku akan membunuhnya, sama seperti aku membunuh anak laki-lakimu karena dia begitu bodoh dan tidak bisa melaksanakan tugas mudah yang kuberikan kepadanya.”

Sosok itu membuka mata dalam kegelapan begitu nama anaknya disebut, bibirnya yang lebam kebiruan menyisakan darah dan tampak bengkak ketika dia mencoba berbicara,

“Kau tidak akan berani….” desisnya pelan dengan suara tercekik penuh siksa.

“Kau tidak tahu apa yang berani kulakukan, wahai Tabib Zhang yang melegenda…. Kisah cintamu dengan Puteri Yangzyi begitu melegenda hingga mereka melupakan gosip yang sempat tersebar bahwa kau menghamili rakyat jelata anak seorang tabib yang pernah menjadi asistenmu.” Master Yuanchou tertawa melihat ekspresi Tabib Zhang yang terkejut karena Master Yuanchou mengetahui kisah tersembunyi tentangnya, “Ya, aku tahu. Aku selalu menjadi pendengar yang baik di dalam istana, mencari dan memilah mana yang bisa kumanfaatkan untuk mencapai tujuanku selanjutnya.” sambungnya.

“Kau memang gila… seperti yang dikatakan orang-orang…” Tabib Zhang mengernyitkan kening ketika jambakan di rambutnya semakin kencang seolah ingin mencabut rambutnya yang panjang dari kepalanya.

Sementara tawa Master Yuanchou terdengar semakin kencang.

“Aku sudah dicap gila selama bertahun-tahun dan aku tidak keberatan karenanya. Mereka takut pada orang gila karena orang gila bisa melakukan hal-hal gila yang tidak berani dilakukan oleh orang waras.” Master Yuanchou mendekatkan wajahnya ke arah Tabib Zhang, menatapnya dengan tatapan penuh ancaman yang mengerikan, “Disiksa sampai setengah mati pun kau tetap tidak mau membuka mulut dan memberikan informasi tentang anak harammu… seharusnya aku membunuhmu, tetapi aku tidak bisa karena seperti yang kubilang, aku masih membutuhkan keahliannmu,” Master Yuanchou mendengus kasar, “Tetapi itu bukan masalah karena aku bisa menyuruh anak  buahku untuk melakukan segala cara demi melacak dimana anak harammu itu berada. Aku tinggal melacak satu-persatu seluruh tabib yang pernah menjadi asistenmu dan mencari tahu apakah mereka memiliki seorang anak perempuan yang hamil dan melahirkan anakmu… saat ini anak buahku sedang bergerak mencari, dan pasti kami akan menemukannya. Jadi kau tidak ingin kalau aku mengejar anak harammu dan membunuhnya, bukan? Karena itu kau harus melakukan perintahku.”

Tabib Zhang tidak berkata apapun, malahan berusaha memalingkan wajahnya untuk menantang ancaman itu. Hal itu membuat Master Yuanchou marah, didorongnya tubuh Tabib Zhang yang lemah ke lantai, lalu kakinya bergerak dan menendangi tubuh Tabib Zhang yang meringkuk tanpa daya.

Dari luar, hanya terdengar suara kaki yang beradu dengan tubuh manusia. Berkali-kali dan begitu keras, hingga membuat para penjaga yang menunggu di luar pintu meringis dengan ngeri.

***

Aiko lupa waktu.

Tanaman obat berbentuk biji-bijian berwarna emas mengkilat itu telah memikat hatinya. Tabib Zhou memanen biji berwarna emas yang sering disebut sebagai biji Chìjīn itu tadi pagi dan menunjukkan hasil panennya kepada Aiko dengan senang hati.

Biji-biji berwarna emas itu dikumpulkan dalam sebuah wadah tembus pandang dan tampak menarik sekali dilihat dari luar. Tabib Zhou memperbolehkan Aiko memegang dan mengambilnya dan dengan senang Aiko meletakkan biji-bijian itu di telapak tangannya, menghidu aromanya yang khas serta mempelajari teksturnya di kulit.

Mereka lalu menghabiskan waktu dengan berdiskusi dan mempelajari tentang biji Chijin dari buku-buku pengobatan milik Tabib Zhou. Diketahui bahwa biji Chijin berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit kulit dan juga bisa mempercantik kulit perempuan jika minyak yang disaring dalam pemrosesan biji Chijin itu digunakan sebagai olesan mandi secara teratur.

Keponakan dan paman itu sama-sama lupa waktu jika menyangkut obat-obatan hingga mereka berdua begitu terkejut ketika pintu dibuka dengan keras dan Kaisar Shen muncul di ambang pintu dengan ekspresi gelap penuh kemarahan.

Tadi Kaisar Shen terpaksa tertahan lama di Istana Emas hingga menjelang malam, itulah yang selalu terjadi jika dirinya muncul di Istana Emas. Banyak sekali urusan-urusan kerajaan yang membutuhkan persetujuan ataupun penolakannya, hingga dirinya yang sedianya hanya ingin mengunjungi Istana Emas untuk membahas strategi bersama Hiro dan Jenderal Youshou terpaksa melonggarkan keinginannya demi kepentingan kerajaan Sashou.

Tetapi ketika kembali ke Istana Merah, Shen King langsung melupakan rasa lelahnya karena berpikir bahwa Aiko akan berada di dalam peraduannya, menantinya dengan penuh cinta.

Sayangnya harapannya itu tidak terwujud, Shen King masuk ke peraduan yang kosong dan setelah dirinya memanggil Kasim Rojin, baru dia menemukan jawabannya.

Tabib Zhou dengan lancang telah membawa Aiko ke mansionnya untuk belajar obat-obatan dan Aiko telah berani melawan perintahnya dengan mengikuti ajakan Tabib Zhou kemari.

Berani-beraninya!

Ekspresi Kaisar Shen rupanya berubah semakin gelap karena Aiko yang menyadari kemarahan Kaisar Shen yang menguar dari aura tubuh Sang Kaisar langsung menciut, menundukkan kepala dalam-dalam dengan wajah pucat pasi dan tangan gemetar.

Tabib Zhou yang menyadari itu semua langsung berdiri dari duduknya, membungkuk hormat dan mengucapkan salam.

“Hormat untuk Kaisar.” ucapnya tenang sambil mempelajari ekspresi wajah Sang Kaisar, “Yang Mulia, Aiko berada di sini untuk belajar tentang obat-obatan, saya mempunyai obat jenis baru yang hendak saya tunjukkan kepada Aiko dan…”

“Aiko bisa belajar obat-obatan denganku, dia tidak membutuhkanmu. Dan tidak seharusnya dia melanggar titahku lalu keluar dari kamar peraduanku tanpa izin.” Kaisar Shen menyela dengan geraman kasar, membuat Tabib Zhou terdiam.

Mata Kaisar Shen beralih ke arah Aiko dan menyadari bahwa perempuan itu gemetaran karena takut.

Kaisar Shen mengulurkan sebelah tangannya,

“Aiko.” ucapnya dingin, membuat Aiko mendongak dan menatap tangan Kaisar Shen yang terulur dengan ragu, “Kemari.” perintah Kaisar kemudian.

Aiko ragu, melemparkan pandangan penuh ketakutan pada Tabib Zhou yang memberi isyarat dengan menganggukkan kepala sedikit. Kaisar Shen rupanya sedang sangat marah, dan kemarahan yang begitu besar ini sama sekali tidak diduga oleh Tabib Zhou. Tadinya dia berpikir Kaisar Shen hanya akan marah seperti biasa dan akan reda setelah melihat Aiko, bukannya menebarkan aura gelap penuh kemurkaan seperti ini.

Entah karena urusan di Istana Emas membuat suasana hatinya kurang baik, entah memang beliau benar-benar tidak suka Aiko meninggalkan kamar peraduannya dan melanggar titahnya…. tetapi saat ini yang terbaik adalah bersikap patuh untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Tabib Zhou sebenarnya yakin bahwa Kaisar Shen tidak akan melukai Aiko, tetapi dirinya tetap saja harus mencegah kemungkinan kemarahan Kaisar Shen yang semakin besar membuat beliau menakuti dan melukai Aiko tanpa sengaja.

Aiko memahami isyarat yang diberikan oleh Tabib Zhou, dengan langkah pelan menahan takut, Aiko mendekat ke arah Kaisar Shen dan mengulurkan tangannya yang langsung digenggam oleh Kaisar Shen dengan keras.

Kaisar Shen membalikkan badan, membawa Aiko bersamanya, tetapi ketika hendak meninggalkan ambang pintu, Sang Kaisar menoleh ke arah Tabib Zhou sambil menatap penuh ancaman,

“Kau akan menghadapku untuk membahas ini nanti.” ancamnya dengan suara dingin sebelum kemudian membawa Aiko pergi bersamanya sambil memasang topeng emasnya.

***

Aiko setengah berlari sementara tangannya masih dibawa dalam genggaman Kaisar Shen melalui lorong yang menghubungkan mansion Tabib Zhou dengan Istana Merah. Jubah panjang Kaisar Shen berkibar dengan langkahnya yang tidak berhenti menyeret Aiko bersamanya.

Beberapa pengawal yang berjaga langsung merebahkan diri ke lantai dan bersujud di depan Kaisar hingga mereka bahkan tidak sempat melihat Aiko yang terseret-seret dalam genggaman Kaisar Shen yang marah.

Mereka berdua terus melangkah dan Kaisar Shen tidak mengucapkan sepatah kata pun dan Aiko sendiri juga tidak berani mengusik kemarahan Kaisar dengan berkata-kata. Aiko mengerutkan kening ketika mereka seharusnya melangkah ke kiri jika hendak menuju peraduan Kaisar Shen, tetapi mereka malahan melangkah ke kanan.

“Ampun Yang Mulia…” Aiko hanya mampu mengeluarkan suara lirih yang tercekat di tenggorokan, “Ki.. kita hendak kemana?”

Kaisar Shen melirik dengan mata emasnya ke arah Aiko dari balik topengnya, dan lirikan itu yang berpadu dengan topeng emas berukir mengerikan yang terpasang di wajah Sang Kaisar membuat jantung Aiko berdegup kencang karena rasa takut yang amat sangat.

Genggaman Kaisar Shen di tangan Aiko semakin erat seolah takut Aiko kabur atau melarikan diri,

“Mandi. Tubuhku butuh mandi air hangat,” suara Kaisar Shen terdengar serak sementara matanya menelusuri tubuh Aiko, “Dan kau, istriku…. akan mandi bersamaku.” ucapnya tegas memutuskan sebelum kemudian membawa Aiko kembali melalui lorong yang berakhir pada sebuah taman indah yang mengelilingi bangunan bertembok raksasa berbentuk lingkaran dengan atap serupa kubah yang melingkupi ruang kolam permandian Kaisar.

Beberapa penjaga seperti yang lainnya langsung bersujud dan memberi hormat sementara Kaisar Shen dengan tidak peduli langsung memasuki ruang permandian dan membawa Aiko bersamanya. Kaisar Shen memang tidak perlu memikirkan pikiran para prajuritnya kenapa dia membawa Aiko masuk bersamanya, seorang Kaisar biasanya membawa pelayan pribadi untuk membantunya mandi, dan karena Aiko mengenakan pakaian pelayan laki-laki, maka cukup wajar baginya membawa Aiko masuk bersamanya.

Ruang mandi itu harum, berbentuk lingkaran dengan dinding yang berhias ornamen indah dan kolam mandi berlapis yang dipenuhi air hangat yang menguarkan asap dari sana. Aromanya harum karena minyak mandi yang wangi dan bebungaan tampaknya sudah dicampurkan di dalam air permandian sebagai persiapan Kaisar mandi.

Pada Akhirnya, Kaisar Shen melepaskan genggaman tangannya dari Aiko, membuat Aiko mendesah lega pelan sambil meremas kedua tangannya yang terasa sakit.

Kaisar Shen berdiri, menatap tajam ke arah Aiko dan membuat Aiko semakin menunduk dalam,

“Buka pakaianku.” perintahnya kemudian, masih dengan suara dingin.

Bersambung ke Part berikutnya

636 Komentar

  1. Padahal udah mau ngeship tabib Zhou sama tabib Hana, tapi tabib Zhang ternyata masih hidup :’

  2. Airaqyoung1215 menulis:

    Joujou :bantingkursi :bantingkursi :bantingkursi :bantingkursi :bantingkursi :bantingkursi :bantingkursi :bantingkursi

  3. Tabib zhang woyyy

  4. Ronaronaroo menulis:

    Ulala~ (๑•́ ₃ •̀๑)

  5. Kaikou Nezumi menulis:

    Ehhh si bapak masih hidup ternyata

  6. Fajeriatul Zah Ra menulis:

    Aiko pun diincar juga ???

  7. konflik nya bikin greget yg baca…..

  8. Dhian Sarahwati menulis:

    Tabib zhang ternyata msh berusaha nyembunyiin Aiko..hayo lho kaisar marah..gara2 Zhou nihh

  9. SERAFINA MOON LIGT🌙❤💡 menulis:

    emang ya si tabib bikin jengkel kaisar aja nih :kamukokbikinemosi :kamukokbikinemosi :kamukokbikinemosi

  10. Lusy Fitriyani menulis:

    Cinta penuh konflik :bantingkursi :bantingkursi :bantingkursi ,aiko,aiko mestinya ga ikut tabib zhou,kan kan kaisarnya jadi marah :DUKDUKDUK :DUKDUKDUK :DUKDUKDUK

  11. 🙂🙂

  12. Cenayang gadungan menulis:

    :kumenangismelepasmu :kumenangismelepasmu uwu uwuuu

  13. Cenayang gadungan menulis:

    sebenernya kuanglong kasihan tp sekarang jd kurang ajar :panikshow :panikshow :panikshow

  14. pikhachuuu menulis:

    :syalalalasyalili :duuh

  15. Plot wist : Tabib Zhang is still life :panikshow

    Kangen Trio Gibah Kaisar nih :luculuculucuih

  16. rina rahmi menulis:

    :sebarcinta :sebarcinta

  17. Mamita Fatih menulis:

    :luculuculucuih

  18. Diah Wardani menulis:

    :luculuculucuih :awaskaunanti

  19. ZMufaidah20 menulis:

    Tabib Zhang 🥲🥲🥲🥲

  20. Nisaul Badriyah menulis:

    ini bukan karena lelah…cm cemburu aja king shen.

    tabib zhou tetep no 1 pilihan q

Tinggalkan Balasan