emperors-consort2
Emperors Consort

Emperor’s Consort Part 10-1 : Pedang dan Darah Kaisar bag 1

Bookmark

No account yet? Register

1.484 votes, average: 1,00 out of 1 (1.484 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

emperors-consort2

“Aiko.”

Kasim Rojin berbisik pelan, dan mengguncang pundak Aiko sedikit. Dilihatnya tubuh Aiko bergerak, perempuan itu menggeliat pelan lalu membuka mata.

Mata polos itu mengerjap, berusaha mengembalikan orientasi. Lalu ketika dia menyadari dimana dirinya berada, tubuhnya langsung menegang dan duduk tegak dengan punggung kaku. Matanya langsung menelusuri ranjang tempatnya berbaring, makin melebar ketika menyadari selimut dan penutup ranjang sutera berkualitas terbaik yang jelas-jelas terlalu mewah untuk menjadi tempat tidurnya.

Ini adalah peraduan Kaisar Shen…..Dia tidur di peraduan Kaisar Shen!

Aiko terkesiap, menatap Kasim Rojin yang sedang berdiri di pinggir ranjang. Refleks dengan malu Aiko langsung beranjak, berdiri tergesa-gesa dan mencoba  merapikan tempat tidur yang berantakan bekas dia tidur.

Gerakannya langsung dihentikan oleh Kasim Rojin,

“Tidak Aiko, biarkan pelayan Kaisar yang membereskannya. Sekarang ada hal yang lebih penting yang harus kita siapkan sebelum mengikuti Yang Mulia Kaisar Shen berangkat ke medan perang.”

Aiko menghentikan gerakannya dan menatap Kasim Rojin dengan ragu, tetapi kemudian dia menganggukkan kepala, bersiap mengikuti apapun perintah yang diberikan kepadanya.

Kasim Rojin mengawasi postur tubuh Aiko, lalu mengerutkan kening melihat kepolosan yang terpancar di sana.

Aiko terlalu kurus tentu saja untuk menjadi seorang laki-laki. Mungkin lebih baik dia mengumumkan bahwa Aiko adalah saudara jauh Kaisar yang masih remaja berumur empat belas tahun. Yah, kalau sebagai laki-laki, badan Aiko memang lebih cocok untuk anak laki-laki usia empat belas tahun.

Dia juga akan mengikuti arahan Yang Mulia Kaisar tadi, untuk mengatakan bahwa Aiko tidak pernah muncul keluar karena sakit-sakitan. Alibi itu juga sangat cocok dikemukakan jika ada yang membatin kenapa badan dan kulit Aiko begitu halus lembut tidak nampak seperti anak laki-laki.

“Kau akan menyamar sebagai lelaki, Aiko. Kaisar Shen memerintahkan supaya kau ikut ke medan perang sebagai salah satu kerabat jauh Kaisar, salah satu anggota klan bangsawan Laiken.”

Mata Aiko membelalak dan bibirnya menganga, “Menyamar sebagai lelaki? Lelaki bangsawan?” Aiko hampir saja menjeritkan kalimat terakhirnya. Dia bingung tentu saja, sepengetahuannya dia akan dibawa sebagai Aiko, perisai Kaisar.

“Kau tidak bisa berangkat ke medan perang sebagai seorang perempuan.” Kasim Rojin menegaskan, “Lagipula sepanjang sejarah Kerajaan Shasou, tidak pernah ada perempuan yang di bawa ke medan perang. Jadi demi menghindari kehebohan dan mencegah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan atasmu, lebih baik kau menyamar sebagai laki-laki.”

Aiko mengerutkan keningnya bingung, “Lalu….kalau saya menyamar sebagai kerabat Yang Mulia Kaisar, bagaimana dengan posisi saya sebagai perisai kaisar?”

“Ada orang lain yang akan melakukan tugas sebagai perisai kaisar.” Jawab kasim Rojin cepat.

Aiko mengerutkan kening semakin dalam, “Saya bingung….. kalau sudah ada laki-laki yang melakukan tugas sebagai perisai kaisar…. kenapa saya harus dibawa ke medan perang dan menyamar sebagai kerabat Yang Mulia Kaisar? Bukankah fungsi saya sudah tidak diperlukan?”

Kasim Rojin tertegun, bingung harus menjawab apa akan pertanyaan yang memang diajukan oleh Aiko berdasarkan logika. Dia berpikir dan tidak menemukan jawaban, lalu pada akhirnya menggunakan Kaisar Shen sebagai tameng.

“Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu, Aiko. Kaisar Shen yang memerintahkan dan jika itu memang perintah kaisar, maka kita harus patuh.” Kasim Rojin menatap Aiko dan menemukan sinar bingung di sana, tetapi dia mencoba mengabaikannya, “Ayo, aku akan memberikan pelajaran singkat bagaimana bersikap sebagai lelaki bangsawan dan juga bagaimana cara berpakaian serta berperilaku, pelajari baik-baik dan berusahalah supaya penyamaranmu ini tidak terbongkar.”

***

Aiko berkali-kali menatap dirinya di cermin dan terkagum-kagum dengan bayangan yang terpantul di sana. Dia bahkan tidak bisa mengenali diri sendiri dengan dandanannya yang seperti ini.

Rambut panjangnya diikat ke belakang dengan gaya maskulin khas kerajaan Shashou, sementara tubuh kecilnya dibalut dengan pakaian sutera berlapis tiga, berwarna merah terang dengan corak hitam yang sangat indah.

Beruntung sebagian besar pakaian bangsawan yang  disimpan oleh Kasim Rojin sangat pas di badannya ketika dicobakan. Beberapa merupakan pakaian hadiah dari negara-negara tetangga yang ukurannya terlalu kecil. Kasim Rojin menyimpannya dalam peti khusus dan merawatnya sehingga kualitas kainnya tetap terjaga bagus meskipun lama tidak dipakai.

Aiko menunduk menatap sepatu dan celana yang dipakai di balik pakaian suteranya dan terkikik sendiri. Dia tidak menyangka akan kesampaian juga memakai celana seperti laki-laki.

Bagi para perempuan kerajaan Shasou, memakai celana adalah larangan. Kaum perempuan memang dianggap menjadi mahluk nomor dua di kerajaan ini. Mereka dilahirkan untuk menjadi pengurus rumah tangga dan ibu bagi anak-anaknya. Dan diwajibkan untuk berperilaku sebagai perempuan, penunggu rumah dan pengasuh anak.

Sekolah-sekolah negeri di kerajaan Shasou hanya menerima murid laki-laki. Ada dua macam sekolah untuk laki-laki di Kerajaan Shasou yaitu sekolah negeri dan sekolah militer.

Sekolah negeri biasanya diisi oleh kaum bangsawan atau rakyat yang memiliki kemampuan lebih dalam hal akademis, mereka akan menerima pendidikan ekonomi, administrasi, hukum, pengaturan keuangan dan sebagainya. Kaum laki-laki inilah yang nanti akan masuk ke dalam istana sebagai pegawai negeri. Pegawai negeri istana mencakup berbagai bidang seperti bidang hukum yang mencakup hakim agung kerajaan dan administrasi tahanan. Ada pula bidang ekonomi yang mencakup penasehat ekonomi, dan juga pengatur keuangan kerajaan. Biasanya jabatan-jabatan yang tinggi di kelompok pegawai negeri ini tetap dipegang oleh putra-putra keturunan bangsawan.

Sedangkan sekolah yang lainnya adalah sekolah militer, kebanyakan diisi oleh rakyat jelata yang ingin meniti karir sebagai tentara, mereka akan dilatih dasar-dasar militer untuk kemudian dijadikan pasukan kerajaan, sebagian lain dikirimkan ke pos-pos di setiap wilayah untuk menjaga keamanan seluruh desa yang merupakan bagian kerajaan Shasou.

Para perempuan dilarang bersekolah, apalagi dari kalangan rakyat jelata. Masih beruntung kaum perempuan dari kalangan bangsawan, mereka diperbolehkan menerima pendidikan privat seperti membaca dan menulis dasar, meskipun sebagain besar pendidikan mereka terima adalah pendidikan tata krama, menyulam,menjahit dan hal-hal yang memang perlu dikuasai oleh perempuan bangsawan.

Berbeda dengan perempuan bangsawan, perempuan yang berasal dari rakyat jelata tidak diberi fasilitas pendidikan apapun, mereka biasanya bekerja di rumah dan membantu orang tua mereka menjalankan tugas-tugas rumah tangga, sebelum kemudian menjadi isteri atau seorang ibu.

Aiko masih beruntung, karena dia memiliki seorang ibu yang berpikiran maju. Ibunya adalah seorang tabib yang mendapatkan pendidikan karena keturunan. Kakek mereka dulu adalah tabib dan hanya mempunyai satu puteri tunggal. Karena itulah ibunya dididik dengan ilmu yang lebih maju daripada perempuan-perempuan lainnya. Dan kemampuan itu diturunkan pada Aiko. Aiko diajari membaca, menulis, dan juga ilmu tentang obat-obatan, sebuah ilmu yang sangat berguna baginya nanti.

Ah… Ibunya

Aiko mendadak merasa sedih. Tabib Zhou mengatakan bahwa beliau akan mengirim orangnya untuk mengobati ibunya. Tetapi sampai sekarang Tabib Zhou menghilang. entah karena tugas, entah sedang mencari tanaman obat-obatan, sehingga Aiko tidak bisa menanyakan kembali hal tersebut.

Aiko rindu. Tentu saja dia sangat rindu kepada ibundanya. Tetapi, ketika seorang rakyat jelata memasuki tembok istana sebagai dayang, dia diwajibkan untuk seminim mungkin berhubungan dengan dunia luar. Mengunjungi keluarga dalam waktu terbatas sesuai peraturan yang ditetapkan mungkin diperbolehkan, tetapi itu hanya untuk dayang senior yang telah mengabdi lebih dari satu tahun. Kalau untuk dayang-dayang baru seperti Aiko, mereka harus bersabar dan menunggu.

Karena itulah meskipun rindu dan cemas, Aiko tidak bisa menengok ibundanya, apalagi desa Shiren termasuk desa yang jauh di barat sana. lokasinya yang berada di ujung perbatasan barat membuat Aiko tidak bisa menemukan orang yang bisa diminta bantuan untuk bertukar kabar ke sana.

Dengan sendu, Aiko menangkupkan kedua jemari di dada, memejamkan mata, membayangkan wajah ibundanya yang penuh kasih dan mengucapkan doa di dalam hati.

Semoga ibundanya baik-baik saja dan bisa bertahan sampai pertolongan tiba.

***

Ketika Aiko yang didampingi Kasim Rojin tiba di lapangan raksasa yang terletak di bagian depan Istana Emas, seluruh pasukan yang diberangkatkan sudah siap berbaris rapi di sana, membentuk lautan manusia berseragam perang warna merah yang senada. Mereka tampak begitu banyak dan seragam, seperti kumpulan semut merah yang berbaris rapi memenuhi lapangan.

Panji-panji besar kerajaan Shasou sudah dikibarkan, berpadu dengan panji-panji kecil berbagai warna yang melambangkan banyaknya kaum klan bangsawan pendukung Shen King. Warna-warni bendera bercampur tertiup angin. Begitu juga dengan kuda-kuda gagah yang sudah dibariskan rapi, tampak tangguh dengan pelana besi dan perlengkapan perang yang megah.

Semuanya hal itu menciptakan kemeriahan yang aneh, berbaur dengan suara dengungan dari ribuan manusia yang berkumpul bersama di satu tempat. Suasana memang terasa berlawanan, di satu sisi mereka akan berangkat untuk berperang yang sudah pasti akan menumpahkan darah, tetapi di sisi lain ada rasa bersemangat yang membuncah, membuat suasana keberangkatan ini berpendar layaknya pesta perayaan.

Aiko menghentikan langkahnya, sejenak terpesona melihat begitu banyaknya pasukan di sana, dan begitu rapinya mereka berbaris secara teratur. Keterpesonaannya dipecahkan oleh senggolan pelan Kasim Rojin di lengannya.

“Ayo. Yang Mulia Kaisar memerintahkan kau untuk menemuinya.” Kasim Rojin melangkah mendahului Aiko dan meminta Aiko mengikutinya.

Mereka berdua berjalan melalui bagian samping lapangan di area jalan setapak yang sengaja diberi lapisan bebatuan alam nan cantik. Mereka menyeberangi lapangan melalui jalur panjang itu sampai ke bagian paling depan, tempat tenda megah berwarna emas berdiri di sana. Pintu tenda itu tertutup dan di sekelilingnya dijaga oleh pengawal Kaisar.

Kasim Rojin berbicara dengan salah satu pengawal, dan merekapun membukakan pintu tenda.

Dengan membungkuk memberi hormat sambil menyatukan kedua telapak tangan di depan dada, Kasim Rojin pun mengucapkan salam kepada Kaisar,

“Hormat saya kepada Yang Mulia Kaisar, hamba mengantarkan Aoki Laiken kepada anda,” ucap Kasim Rojin penuh hormat. Ya, nama Aiko telah diubah sedikit menjadi Aoki selama masa penyamaran. Hal ini dilakukan karena di kerajaan Shasou, nama Aiko memang hanya dipakai oleh kaum perempuan, Kasim Rojin sendiri yang mengusulkan nama Aoki sebagai nama lelaki untuk Aiko, mengingat pengucapan nama itu cukup mirip dengan nama Aiko sehingga tidak sulit bagi Aiko menghapalnya.

Kaisar Shen yang sudah mengenakan topengnya dan sedang bercakap-cakap serius bersama Jenderal Youshou, menolehkan kepalanya.  Tidak ada yang bisa membaca reaksi Kaisar Shen di balik topengnya, tetapi mata Jenderal Youshou jelas-jelas melebar melihat penampilan Aiko.

Sebagai seorang perempuan, Aiko memang tampak berbeda dibandingkan perempuan rakyat jelata lainnya. Dia sangat cantik, tentu saja. Bahkan dengan pakaian pelayan atau gaun dayang yang sederhana, kecantikannya tetap memancar tidak bisa disembunyikan. Apalagi sekarang ketika Aiko didandani mengenakan pakaian sutera kualitas tinggi dan ikatan rambut ala bangsawan. Meskipun dandanannya bergaya laki-laki, ternyata Aiko jadi tampak begitu mempesona.

Semua orang pasti akan langsung percaya bahwa Aiko adalah kerabat Kaisar Shen ketika melihat penampilannya sekarang. Batin Jenderal Youshou sambil mengamati Aiko dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ada rasa lega terselip di hatinya. Setidaknya dirinya tidak perlu terlalu cemas bahwa penyamaran Aiko akan terbongkar dengan mudah.

Shen King sendiri juga mengamati Aiko dengan seksama dari balik topeng. Dia sedikit merasa tidak suka karena penampilan Aiko yang begitu menawan ketika memakai pakaian indah seperti ini. Aiko sudah pasti akan menarik perhatian. Seandainya bisa, dia ingin memakaikan topeng ke wajah Aiko supaya kecantikan itu hanya bisa dinikmati olehnya seorang diri. Mata Shen King beralih ke arah Jenderal Youshou yang masih terpaku, menatap Aiko dengan terpesona, hal ini mengusik rasa tidak suka di dalam dirinya.

Hanya dirinya yang boleh mengagumi kecantikan Aiko, tidak boleh ada yang lain.

“Kau bisa keluar Youshou.” Shen King menegur, merasa terusik melihat Jenderal Youshou yang mengamati Aiko dengan intens. Suara Shen King sendiri mengeluarkan isyarat “dia milikku”  dengan gamblang yang langsung bisa dimengerti oleh jiwa Jenderal Youshou yang peka.

Kecemburuan Kaisar Shen yang kekanakan membuatnya menahan senyum, lalu membungkuk dan memberi hormat kepada Sang Kaisar.

“Hamba Mohon izin untuk menyiapkan pasukan di luar, Yang Mulia,” ucap Jenderal Youshou penuh hormat lalu berbalik dan melangkah meninggalkan ruangan.

Sepeninggal Jenderal Youshou, Shen King mengalihkan tatapan ke arah Kasim Rojin dan Aiko.

“Apakah kau sudah menyiapkan semuanya?” Shen King mengalihkan perhatiannya dari Aiko ke arah Kasim Rojin.

Kasim Rojin menganggukkan kepalanya memberi hormat, “Semuanya sudah siap Yang Mulia.”

“Kalau begitu kau boleh keluar.” Shen King memerintahkan, lalu memberi anggukan singkat ketika Kasim Rojin memohon izin untuk meninggalkan ruangan.

Sang Kaisar lalu memberi isyarat tangan kepada Aiko untuk mendekat, “Kemari.” perintahnya.

Aiko melangkah dengan hormat dan refleks hendak berlutut di depan Kaisar Shen, tetapi lelaki itu langsung mencegahnya,

“Dalam misi penyamaran ini kau adalah kerabatku, Aiko. Jadi kau tidak boleh berlutut di depanku seperti seorang hamba. Yang perlu kau lakukan adalah membungkuk sedikit, menyatukan kedua tangan di dada dan mengucap salam.” gumam Kaisar datar.

Aiko langsung menurut, membungkuk sedikit dan memberi hormat kepada Kaisar seperti yang telah diajarkan Kasim Rojin kepadanya, “Ampun yang Mulia, hamba akan berusaha supaya penyamaran ini berhasil.”

Aiko melirik ke arah Kaisar Shen dan tiba-tiba merasa sedikit takut. Penampilan Kaisar Shen yang sekarang siap berperang nampak berbeda. Beliau mengenakan baju zirah khusus dengan rangkaian besi pelindung yang melapisi pakaiannya. Jubahnya juga berbeda, bukan jubah mewah biasa yang selalu dipakainya, melainkan jubah sederhana yang dipakai atas dasar kepraktisan di perjalanan nanti.

Yang Mulia Kaisar Shen nampak seperti petarung ahli daripada seorang Kaisar yang mengenakan pakaian mewah berlapis-lapis. Belum lagi dengan sarung pedang besar yang tersampir di punggungnya, membuat penampilannya semakin menakutkan.

Aiko melirik ke arah pedang itu dengan pandangan ngeri dan bergidik. Hal itu tidak luput dari tatapan Kaisar Shen, membuat tatapan Sang Kaisar sedikit geli.

“Bolehkah aku memelukmu?”

Aiko tertegun. Menatap Kaisar Shen dengan bingung, mencoba meyakinkan bahwa telinganya tidak salah mendengar, sementara tatapan matanya semakin melebar melihat Sang Kaisar membuka kedua lengannya.

Aiko ragu. Di satu sisi, Kaisar Shen yang mengenakan baju berperang dan topeng emas tampak mengerikan baginya.  Di sisi lain, tentu saja dia tidak akan berani menolak perintah Kaisar.

Pada akhirnya, Aiko memberanikan diri melangkah maju sedikit lebih dekat dan Kaisar Shen langsung merengkuhnya ke dalam pelukan. Tubuhnya yang mungil tenggelam begitu saja di dalam pelukan lengan Kaisar Shen yang memeluknya erat.

“Apakah kau masih ingat janjiku kemarin?” Kaisar Shen mengubur wajahnya di kelembutan rambut Aiko yang harum.

Aiko memiringkan kepalanya yang tenggelam di dada Kaisar Shen, “Maksud Yang Mulia?”

Kaisar Shen sedikit menjauhkan wajah, lalu melepaskan topengnya yang menghalangi dan meletakkannya di meja. Kemudian dia memeluk Aiko kembali, kali ini memuaskan diri menghirup aroma Aiko yang menyenangkan tanpa halangan. Tanpa sadar seulas senyum muncul di bibirnya.

“Aku akan menjagamu, apapun yang akan terjadi, kau akan aman dalam perlindunganku meski di medan perang sekalipun.” Kaisar Shen menumpangkan kedua lengannya di pundak Aiko dan menariknya sedikit menjauh. Lelaki itu lalu menundukkan kepala lagi dan menghadiahkan kecupan lembut di dahi Aiko, “Ayo kita berangkat. Pasukan sudah menunggu.”

***

Kuda yang dinaiki Tabib Zhou berhenti ketika mereka tiba di depan rumah mungil sederhana yang terletak di ujung desa, hari sudah beranjak malam sehingga kawasan desa Shiren yang memang berada di pinggiran hutan tampak sepi. Para penduduk sepertinya sudah beristirahat di peraduan masing-masing, menata raga untuk mengawali hari esok yang lebih baik.

Rombongan Tabib Zhou memang datang dalam diam dan sengaja menunggu waktu malam untuk tiba di desa supaya tidak menebar gosip dan keributan. Tabib Zhou sendiri datang bersama tujuh orang pengawal berkuda dan sebuah kereta yang ditarik oleh empat ekor kuda untuk membawa ibunda Aiko ke rumah peristirahatan Shen King sesuai perintah.

Desa Shiren merupakan desa kecil dengan penduduk yang sebagian besar mengandalkan bercocok tanam untuk penghidupan. Sebagian besar landscape desa terdiri dari rumah-rumah kayu mungil berjajar dan diselingi oleh lahan-lahan yang penuh dengan tanaman pangan.

Wilayah bagian barat memang memiliki struktur tanah yang subur dengan air yang berlimpah. Wilayah ini berbatasan dengan hutan barat kerajaan Shasou, hutan terbesar yang melingkupi perbatasan daerah barat Kerajaan Shasou.  Di area hutan barat ini, Kaisar Shen memang memiliki pondok berburu khusus dikarenakan hutan barat dipenuhi oleh hewan-hewan yang bisa digunakan untuk olahraga berburu seperti rusa dan kambing hutan. Biasanya di musim berburu, Kaisar Shen akan berkunjung ke pondok itu dengan didampingi oleh sekelompok bangsawan untuk melakukan olahraga berburu tahunan.

Karena kegiatan berburu itulah insiden enam tahun yang lalu terjadi, dimana Kaisar Shen diserang oleh kelompok bangsawan yang berkomplot untuk melakukan kudeta ketika mereka dalam perjalanan ke pondok berburu. Sejak insiden itu, Sang Kaisar selalu membawa orang-orang kepercayaannya untuk mengawal ketika hendak melakukan olahraga berburu dengan tujuan menjaga supaya tidak terjadi lagi serangan-serangan pengkhianatan yang direncanakan dengan licik.

Tabib Zhou menatap ke arah langit pekat yang berhiaskan bulan perak, bulan itu memantulkan cahaya matahari dengan bersemangat. Bentuknya sedang penuh-penuhnya, laksana koin perak yang memancar di tengah kegelapan.

Perpaduan antara kegelapan dengan cahaya perak itu sungguh indah, menciptakan kekontrasan yang melumuri pandangan dengan rasa syahdu bagi siapapun yang menatapnya.

Dan tiba-tiba Tabib Zhou merasa romantis.

Takdir anak manusia, siapa yang akan tahu jalannya? Alam sudah mengatur keberadaan Aiko di hutan waktu itu untuk menyelamatkan Sang Kaisar. Dan jodoh mereka pun bertemu enam tahun kemudian. Tabib Zhou selalu percaya bahwa jika dua anak manusia sudah berjodoh, tidak akan ada yang bisa memisahkan lagi kecuali kematian.

Mengingat akan Kaisar Shen membuat Tabib Zhou bergidik ngeri sekaligus geli.

Yang Mulia pasti sudah mengetahui perihal buku panas itu dan sudah pasti marah besar kepadanya. Beruntung dia cepat-cepat kabur dan menyelamatkan diri sebelum titah hukuman mati dijatuhkan kepadanya.

Senyum Tabib Zhou melebar ketika membayangkan betapa frustrasinya Shen King karena sekarang tidak bisa menyentuh Aiko sesukanya. Dan lelaki itu terkekeh geli membayangkan bagaimana ekspresi Sang Kaisar karena tidak bisa melampiaskan kemarahan kepada dirinya.

***

Perjalanan sudah berlangsung seharian dan rombongan pasukan memutuskan untuk bermalam di tepi perbatasan gurun utara. Mereka semua masih harus melalui gurun yang luas sejauh satu hari perjalanan esok nanti dan itu akan menguras banyak energi.

Karena itu malam ini digunakan untuk beristirahat dan menyimpan tenaga esok hari. Besok mereka harus sudah berhasil menyeberangi gurun sebelum malam tiba, karena gurun di kerajaan Sashou memiliki cuaca yang ekstrim, panas membakar di siang hari dan dingin membeku di malam hari, belum lagi badai pasir yang biasanya datang menyapa ketika matahari telah beranjak ke peraduannya.

Mengingat cahaya petir yang mulai berkilat di ujung langit pertanda hujan akan turun, para pasukan langsung bergerak mendirikan tenda-tenda, ada empat macam tenda yang didirikan, yang pertama adalah tenda tentara, Tenda tentara ini ada dua macam, yang satu berbentuk kotak dan sangat besar, satu tenda bisa menampung lima puluh prajurit yang tidur berjajar, yang satunya lagi adalah beberapa tenda kecil  personal yang masing-masing diisi oleh para Jenderal dan panglima perang.

Tenda yang kedua adalah tenda tukang masak, di sini semua masakan dihidangkan, ada sisi kecil di sudut tenda ini yang dijaga oleh pengawal kaisar dan merupakan tenda khusus untuk menyiapkan hidangan bagi kaisar. Tenda yang ke tiga adalah tenda pelayan, merupakan tempat tidur semua koki dan pelayan yang dibawa ke medan perang. Yang terakhir, terbuat dari bahan sutera tebal berwarna emas dan terletak di tengah, dikelilingi oleh perlindungan tenda para tentara, adalah tenda Sang Kaisar.

Beruntung alam masih berbaik hati menunggu sampai seluruh tenda selesai dibangun. Begitu mereka menyelesaikan pembangunan tenda, hujan langsung turun dengan derasnya menggunyur tanah dan menciptaan hawa dingin menusuk tulang. Sebagian besar tentara langsung beristirahat di dalam tenda, koki-koki langsung memasak hidangan sup hangat yang menyehatkan untuk santap malam, dan beberapa petugas patroli berjaga di sekeliling perkemahan, mengenakan pakaian khusus yang tahan hujan. Seluruh suara terkalahkan oleh derasnya air yang memancar dari langit.

Shen King sendiri berada di dalam tenda kaisar, sedang duduk di depan meja rendah yang mirip dengan meja yang berada di kamar peraduannya di Istana Merah. Di depannya duduk Jenderal Youshou beserta beberapa panglima perang lainnya. Mereka semua sedang berbincang serius untu mematangkan kembali strategi perang yang sudah di depan mata.

Tenda itu cukup besar, berbentuk lingkaran dan ukurannya hampir selebar kamar peraduan Yang Mulia Kaisar di Istana Merah. Di dalamnya ada tempat tidur lipat berkualitas bagus yang diletakkan di atas papan berukir emas yang elegan. Karpet raksasa bulat berwarna senada juga dihamparkan di tengah-tengah ruangan, menutup tanah gurun yang menjadi alasnya. Tidak ada perabotan di sana, hanya meja rendah di tengah ruangan, tempat tidur Yang Mulia Kaisar, dan rak senjata tempat Kaisar Shen meletakkan berbagai senjata yang dibawanya.

Aiko juga berada di dalam tenda itu, menunggu lama dan tidak tahu harus berbuat apa. Dirinya hanya duduk dalam diam, mengintip dari balik tirai gorden yang tak terlihat.

Ya, dirinya dibuatkan ruang tidur sendiri di dalam tenda kaisar, disebuah sudut tersembunyi berbatas tirai yang ada di samping peraduan Kaisar Shen. Kasim Rojin yang menyiapkan tempat tidur ini untuknya. Kata beliau karena dirinya sekarang menyamar sebagai kerabat sang Kaisar, maka wajar jika dirinya tidur bersama Kaisar di dalam tenda yang sama.

Dia mengintip sedikit lewat tirai dan melihat betapa seriusnya semua orang yang ada di sana berbicara. Suana terasa tegang dan semua nampak memasang ekspresi wajah serius selain Shen King yang ekspresinya tidak terbaca karena memakai topeng. Aiko menghela napas panjang, lalu menutup kembali tirai itu dan mundur kembali. Duduk di ranjang kecil yang disediakan untuknya tanpa tahu harus berbuat apa.

Matanya menatap sekeliling dan menemukan celah kecil yang tidak dipaku di bagian bawah tenda. Tubuh mungilnya mungkin bisa menyelip ke bawah sana. Hujan masih mengguyur deras di luar, tetapi Aiko memang tidak berniat berjalan-jalan di bawah hujan. Dia hanya ingin keluar dari tenda yang menyesakkan dada ini dan menghirup udara luas di luar sana. Perjalanan hari ini melelahkan tentu saja, karena Kaisar Shen menolak menggunakan tandu atau kereta kuda, maka mau tak mau Aiko harus berkuda juga bersama Kasim Rojin mengikuti di belakang Kaisar.

Mengendari kuda membuat punggungnya pegal dan tulang pahanya sakit, karena itu dia ingin sedikit meluruskan kaki serta punggung dan berjalan-jalan.

Kalau dia menerobos lewat celah itu dan berdiri saja di tepi tenda Kaisar sambil menatap hujan, mungkin Kaisar tidak akan memarahinya.

Aiko ragu. Tetapi kemudian rasa penasarannya yang muncul. Dia lalu bangkit berdiri, mendekati sisi tenda yang bagian bawahnya tidak dipaku itu, kemudian tiarap, mencoba menggeser tubuhnya untuk lewat. Bagian kepalanya berhasil menerobos, pun dengan kakinya. Setelah berada di luar, Aiko langsung bangkit, tersenyum ketika merasakan percikan hujan menyentuh wajah dan lengannya.

“Sudah kuduga kau akan keluar lewat  situ.”

Suara itu menyapa, mengejutkan Aiko hingga dia terkesiap kaget. Aiko menoleh dan mendapati sosok berpakaian pemburu, berambut pendek – yang menunjukkan bahwa lelaki itu bukan bangsawan – dan membawa busur serta panah yang nampak besar di punggungnya.

Dia tidak pernah melihat orang itu sama sekali. Apakah lelai ini orang jahat atau orang baik? 

Tapi hanya orang kerajaan Shasou yang bisa ada di area perkemahan ini bukan? Apakah dia orang kerajaan Shasou? ataukah dia pembunuh yang berhasil menyusup masuk ke area perkemahan untuk membunuh Kaisar?

Berbagai kecemasan yang melintas sepertinya terbaca jelas di mata Aiko, membuat sosok lelaki itu tersenyum ketika memperkenalkan diri.

“Jangan takut. Aku adalah mata-mata kepercayaan Kaisar Shen, namaku Hiro.” Hiro memperkenalkan diri, melirik sedikit ke arah Aiko dengan penuh pengertian, “Sepertinya kau bosan di dalam sana. Kaisar sedang sibuk ya?”

Aiko menganggukkan kepalanya, tidak berani bersuara. Dia takut salah bicara. Kasim Rojin memang telah mengajarinya tata cara berbicara ala bangsawan laki-laki. Aiko mempelajari semuanya dengan baik, tetapi tetap saja dia takut salah bicara dan merusak penyamarannya. Belum lagi Kasim Rojin mengatakan kalau dia merasa tidak yakin, lebih baik dia menutup mulut dan memberikan bahasa isyarat saja.

“Pengawal Kaisar Shen ada di mana-mana, nanti jangan pernah lagi menerobos tenda seperti itu. Kalau kau ketahuan oleh mereka kau akan dituduh penyusup.” Hiro melanjutkan lagi, tampak geli melihat Aiko yang lebih memilih menutup mulutnya dan tidak berani berbicara.

Sekali lagi Aiko menganggukkan kepala. Tetapi kemudian dia merasa tidak sopan dan membuka mulutnya, “Maafkan saya,” ucapnya pelan dan hati-hati.

Hiro mengangkat bahu, “Kenapa harus meminta maaf? Tidak seharusnya kau meminta maaf untuk kesalahan yang kau lakukan karena ketidaktahuan.” Hiro menjawab sambil mengintip sedikit ke pintu tenda Kaisar di sebelah kanannya, terlihat Jenderal Youshou dan beberapa panglima melangkah meninggalkan tenda itu. Hiro langsung memberi isyarat kepada Aiko untuk mengikuti,

“Ayo, sepertinya pertemuan sudah selesai, aku akan mengantarkanmu masuk, tetapi tentu saja bukan lewat celah itu. Celah itu akan dipaku rapat-rapat nanti. Aku bertugas untuk memantau perimeter keamanan kaisar setiap jengkalnya, jadi terimakasih sudah menemukan celah tersebut serta membantu pekerjaanku,” ajak Hiro setengah bercanda.

Mau tak mau Aiko melangah mengikuti Hiro, mereka berdua melangkah sambil tetap menempel pada tenda supaya terhindar dari hujan yang menerpa.

Mereka lalu sampai di pintu utama tenda Kaisar Shen. Pintu itu dijaga beberapa pengawal di semua sisi, tetapi mereka rupanya mengenal Hiro dan langsung memberikan jalan.

Di depan pintu Hiro memohon izin untuk masuk, dan kemudian membuka pintu tenda setelah ada jawaban dari Kaisar supaya dia masuk.

Hiro langsung memberi hormat begitu memasuki tenda, diikuti Aiko di belalangnya. Kaisar Shen menegakkan tubuhnya begitu melihat Aiko ada di belakang Hiro, sang Kaisar bahkan mengabaikan Hiro dan langsung bertanya lurus kepada Aiko,

“Apa yang kau lakukan di luar sana? Bagaimana kau bisa keluar? Bukankah sudah kukatakan kepadamu supaya duduk menunggu di tempat tidurmu?” suaranya tajam, sedikit menusuk, membuat Aiko merasakan rasa takut mulai merayapi benaknya.

Aiko langsung membungkuk dan memberi hormat, “Ampun yang mulia.” Suara Aiko bergetar, “Hamba… hamba menemukan celah di samping tenda dan berpikir untuk keluar dan merasakan hujan…” Aiko melirik ke arah Kaisar Shen, menyadari bahwa Sang Kaisar bergeming mendengar perkataannya, “Mohon ampun atas keteledoran hamba tidak memenuhi perintah, Yang Mulia.”

Hening. Tidak ada tanggapan dari Kaisar Shen. Lalu lelaki itu mengalihkan perhatiannya ke arah Hiro.

“Kau boleh pergi, Hiro.” Kaisar Shen memberi perintah dalam ucapan dingin tak bernada.

Hiro menoleh ke arah Aiko, tiba-tiba merasa kasihan. Dia tidak menyangka Kaisar Shen akan marah hanya karena perbuatan iseng Aiko yang menerobos tenda keluar,

“Yang Mulia… Aiko hanya….”

“Diam. Aku tidak membutuhkanmu untuk membela Aiko.” Shen King menyela dingin lalu memberi isyarat dengan tangannya, “Keluar.” perintahnya lagi.

Perintah itu sudah diucapkan untuk kedua kalinya, dan tidak boleh dibantah. Hiro langsung membungkuk memberi hormat dan kemudian memohon izin untuk meninggalkan ruangan, sebelum pergi dia sempat melemparkan pandangan kasihan kepada Aiko yang masih membungkuk dalam posisi memberi hormat, gemetaran penuh dengan rasa bersalah.

Setelah Hiro keluar dan mereka berdua hanya ada di dalam tenda, Kaisar Shen berdiam di sana, mengamati Aiko. Hawa ruangan menjadi menegangkan, membuat napas Aiko tiba-tiba terasa sesak akibat menanggung rasa ngeri di dada.

Shen King melepaskan topengnya pelan dan meletakkannya di meja. Tatapannya begitu tajam ketika berkata dan bibirnya mengatup ketika berbicara,

“Aku tidak ingin kau mengulangi lagi perbuatanmu ini Aiko, keluar tenda seenaknya. Tidakkah kau tahu bertapa berbahayanya di luar sana? Sadarkah bahwa kau sekarang adalah wanita di antara ribuan lelaki?”

Aiko menundukkan kepalanya, merasa seperti seorang anak yang dimarahi oleh orang tuanya,

“Maafkan saya Yang Mulia…. ” tiba-tiba Aiko ingin menangis seperti seorang anak kecil. Kata-kata Kaisar Shen yang tajam membuatnya ketakutan.

Shen King mengepalkan jemarinya, sebenarnya dia sangat marah. Dia marah dan cemas ketika melihat Aiko keluar begitu saja dari tenda tanpa perlindungan.

Benaknya dipenuhi pikiran-pikiran menakutkan. Meski dia membawa ribuan pasukan yang mengawalnya, posisi seorang kaisar selalu berada di dalam bahaya.

Siapa yang bisa menjamin tidak ada pengkhianat, pembunuh atau mata-mata yang menyamar di dalam rombongannya? Musuh-musuhnya sangat licik dan mereka bisa menyusupkan siapa saja dengan posisi apa saja untuk mengincar nyawanya.

Mungkin Aiko dengan kepolosannya memang tidak memahami betapa rentannya posisi mereka. Aiko masih harus banyak belajar memahami seluk beluk kerajaan beserta intriknya. Ya, hal itu tidak bisa dipelajari secara singkat.

Shen King sadar, tidak seharusnya dia melimpahkan kemarahannya kepada Aiko, perempuan ini benar-benar polos dan memandang dunia sebagai sesuatu yang bersahabat. Belum sadar kalau di dunia ini ada banyak orang jahat.

Shen King berusaha meredakan amarahnya, menarik napas panjang beberapa kali. Matanya yang menatap Aiko berubah melembut, dan lama-lama dia merasa kasihan melihat Aiko menunduk di depannya dengan tubuh gemetaran seperti itu.

Diulurkannya jemari tangannya ke arah Aiko,

“Kemari.” gumam Shen King dengan nada memerintah yang tak terbantahkan.

Aiko mendongakkan kepalanya, menatap ragu uluran jemari tangan sang Kaisar. Tetapi kemudian ketika diliriknya ekspresi kaisar sudah melembut dan tidak marah lagi, dia memberanikan diri melangkah pelan-pelan dan mendekat.

Shen King langsung meraih Aiko dan memeluknya erat-erat ke dalam rengkuhan lengannya.

“Berjanjilah kau tidak akan kemana-mana Aiko, jika sesuatu terjadi kepadamu, aku…” suara Shen KIng tertelan di tenggorokan, “Aku akan mati.” bisiknya penuh perasaan.

Aiko mendongakkan kepalanya yang disandarkan pada dada hangat Kaisar Shen, dia mencoba melihat ekspresi Kaisar Shen dengan bingung, bingung karena mendengar nada kesakitan dan putus asa di sana. Benaknya bergetar.

Benarkah kaisar mencemaskan dirinya yang hanyalah rakyat jelata ini?

Kaisar Shen sedikit menjauhkan tubuhnya, lalu menunduk sambil menangkupkan kedua jemari di kedua sisi pipi Aiko yang dingin. Dahinya mengerut merasakan betapa dinginnya kulit permukaan pipi Aiko, pun dengan ujung hidungnya yang memerah karena dingin berikut uap napasnya yang terhembus serupa kabut putih tipis ketika Aiko bernapas.

Mata Kaisar Shen melirik sekeliling dengan cemas. Tenda untuknya ini sudah dibangun sebaik mungkin untuk mencegah udara dingin masuk dan menjaga supaya udara di dalam tenda tetap hangat. Tetapi rupanya, cuaca gurun yang mendingin ekstrim di malam hari ditambah hujan deras menyebabkan hawa dingin memiliki kekuatan penuh untuk menerobos masuk.

“Kau kedinginan.” Kaisar Shen menunduk begitu dekat sehingga uap napas mereka yang kedinginan menyatu. Ekkspresinya penuh ironi ketika dia mengecup ujung hidung Aiko yang memerah, “Aku sebenarnya punya cara, sebuah cara yang akan membuat kau dan aku tetap hangat semalaman.” Suara Shen King terdengar pekat penuh gairah, “Dan aku tergoda untuk melakukannya.”

Aiko membelalakkan matanya, antara bingung dan takut akan perubahan nada suara serta ekspresi Kaisar Shen, alisnya berkerut ketika melihat Kaisar Shen menunduk dan hendak….. menciumnya.

“Yang Mulia.” Aiko berbisik, memberi peringatan pelan akan janji yang diucapkan oleh Kaisar Shen sebelumnya, bahwa lelaki itu akan memberikan penjelasan mengenai apa yang benar dan apa yang salah dari buku yang dipinjamkan oleh Tabib Zhou sebelum menciumnya lagi.

Suara Aiko pelan, bukan berupa jeritan atau penolakan, tetapi itu cukup membuat gerakan Shen King terhenti. Tubuhnya membeku, dan dia menatap bola mata polos Aiko yang balas menatapnya dengan kebingungan. Bibirnya menipis, dan ekspresi wajah Shen King tampak frustrasi.

Sang Kaisar menegakkan punggungnya lagi dan mengusap wajahnya sambil menghela napas panjang.

“Ya.. ya aku tahu aku tidak boleh menciummu sembarangan.” Kaisar Shen bergumam seolah kepada dirinya sendiri. Lelaki itu menghela napas berkali-kali sebelum kemudian menoleh dan menatap wajah Aiko lagi, kali ini ekspresi wajahnya nampak lebih tenang.

“Kalau begitu kita akan saling menghangatkan dengan cara lain. “Ada nada putus asa penuh ironi di suara Sang Kaisar, Aiko tidak mampu menelaah apa artinya karena dalam sekejap tubuhnya diangkat ke dalam gendongan Kaisar Shen, membuat Aiko memekik kaget karena tubuhnya berayun dan sekejap sudah dibawa berjalan menuju ranjang,

“Tidur… kita akan tidur.” Kaisar Shen membawa Aiko ke ranjang membaringkannya di sana dan menyelimutinya, Jemarinya mendorong lembut tubuh Aiko supaya berbaring miring memunggunginya, lalu tubuh Kaisar Shen sendiri menyusup ke balik selimut, berbaring di atas ranjang bersama Aiko. Shen King berbaring miring, memeluk tubuh Aiko dari belakang erat-erat.

“Yang Mulia.” Aiko menolehkan kepalanya, merasa canggung dan tidak nyaman akan posisi tubuh mereka yang seperti ini. Aroma tubuh Kaisar Shen seumpama sitrus dan rempah-rempah yang memabukkan membuai indera penciumannya, membuat jantungnya berdebar entah kenapa,  “Hamba punya tempat tidur sendiri, tidak seharusnya hamba tidur di atas peraduan milik kaisar…..”

“Diam.” Shen King bergumam berat di belakang Aiko, lelaki itu sedang menenggelamkan wajahnya di keharuman rambut lembut Aiko, “Peraturan kerajaan Shasou, jika cuaca dingin, maka dua orang yang berdekatan diharuskan tidur bersama berpelukan untuk menjaga suhu tubuh.” jawab Kaisar Shen asal-asalan.

Aiko membelalakkan matanya, “Benarkah? saya baru tahu peraturan itu.” Tanyanya ingin tahu sebab seumur-umur dia tidak pernah mendengar tentang itu.

Shen King tersenyum masam, “Peraturan itu baru kuciptakan. Kata-kataku adalah hukum, jadi jika aku bilang peraturannya begitu, maka terjadilah.” jawabnya sombong.

Bagi Shen King, hal itu memang seperti candaan ironi, hasil dari pemikiran putus asanya mencoba menanamkan di otak Aiko, bahwa berbaring berpelukan setiap malam bersamanya ini adalah kewajaran. Tetapi bagi otak Aiko yang polos, hal itu tentu saja membuat jiwa lugunya berpikir keras. Gadis mungil itu malahan sibuk memutar otak sambil mengerutkan kening,

“Yang Mulia….. hamba bertanya-tanya…”

Kaisar Shen yang sudah mulai memejamkan matanya dalam damai menjawab enggan, “Ya?”

“Begini yang mulia.” suara Aiko nampak penuh tanya, “Kalau misal Yang Mulia terjebak bersama Jenderal Youshou atau Kasim Rojin di cuaca dingin…. apakah Yang Mulia juga akan melaksanakan peraturan berpelukan ini?”

Mata Kaisar Shen yang tadinya terpejam langsung membelalak, bayangan akan perkataan Aiko tanpa bisa ditahan langsung berkelebat di benaknya hingga tanpa sadar dia meringis miris, merasa jengkel dengan kepolosan Aiko yang tiada duanya.

“Itu hanya berlaku untuk laki-laki dan perempuan.” Jelasnya cepat, berusaha menyingkirkan bayangan mengerikan yang bercokol di benaknya, “Tidurlah.” bujuknya, meminta supaya Aiko memejamkan mata dan tidur supaya pembahasan ini tidak berlanjut.

“Kalau begitu…. Yang Mulia akan dengan perempuan manapun yang….” Aiko tampak berpikir, masih tidak puas karena belum menemukan jawaban akan pertanyaannya.

Kalimatnya terhenti ketika Kaisar Shen memeluknya erat-erat dan sedikit menggoncang tubuhnya supaya dia diam.

“Diam. Peraturan ini hanya berlaku antara kau dan aku. Bukan untuk orang lain.” Suaranya terdengar tegas dan tidak sabar, “Sekarang tidur Aiko. Kita harus beristirahat, perjalanan besok akan lebih berat dari hari ini.”

Nada terakhir perintahnya terdengar tegas dan tak terbantahkan hingga mau tak mau Aiko memejamkan mata, mencoba membawa dirinya ke alam mimpi, sesuai titah sang Kaisar

Dua tubuh anak manusia itupun berbaring berpelukan dalam damai, saling menghangatkan satu dengan yang lainnya.

***

Malam itu sepi dan gelap, hujan yang mengguyur tak juga reda, menutup udara yang mengambang dengan tirai air yang menghujam dari langit dan terjun ke bumi.

Udara malam terasa sangat dingin dan membuat tubuh-tubuh yang beristirahat di balik selimut menggigil kedinginan. Hari telah begitu larut sehingga sebagian besar pasukan memilih untuk tidur dan beristirahat guna mengumpulkan tenaga untuk esok hari. Perjalanan mereka masih panjang,apalagi perjalanan melalui gurun esok nanti adalah perjalanan yang paling berat.

Tapi di malam itu, ada sosok yang tidak tidur.

Sosok itu berdiri di pinggir tenda, berada di sudut, tertutup bayangan sehingga tampilannya hanya berupa bayangan hitam nan misterius. Jika diamati baik-baik, sosok itu terlihat sedang mengamati bungkusan kecil di tangannya. Bungkusan kantong kain berwarna hitam berukuran mungil sehingga bisa digenggam dengan sebelah telapak tangan tanpa kelihatan.

Jantung sosok itu berdebar ketika matanya mengamati bungkusan kain hitam itu, menimang-nimangnya di telapak tangan sambil merenung,

Dia harus menemukan saat yang tepat.

Sekarang di tangannya sudah tergenggam racun racikan terbaru yang baru akan terdeteksi setelah satu jam.

Ya, Jika Yang Mulia Kaisar memakai perisainya untuk mencicip makanan, efek racun itu baru akan membunuh satu jam kemudian. Itu berarti Yang Mulia Kaisar juga sudah terlanjur memakan makanan yang mengandung racun. Karena sesuai protokol kerajaan, jika sampai lima belas menit sang perisai tidak bereaksi apapun, maka makanannya dianggap aman dan bisa dikonsumsi oleh Kaisar.

Efek racun ini baru akan terasa satu jam setelah dikonsumsi, dan efeknya mengerikan. Racun ini menghancurkan darah, membuatnya menggelegak keluar tanpa bisa ditahan. Kaisar akan muntah darah, mengeluarkan darah dari seluruh rongga tubuhnya. Telinga, hidung, mata, mulut semuanya akan berlomba-lomba mengeluarkan darah. Bisa dipastikan bahwa Kaisar nantinya akan tewas dalam kondisi mengenaskan.

Sosok misterius dalam kegelapan itu kemudian memasukkan kantong racun di tangannya ke dalam saku, tubuhnya menegak dan tiba-tiba dia menyeringai. Giginya yang putih nampak kontras dengan kegelapan di sekelilingnya, membuatnya seringaiannya tampak mengerikan di kegelapan.

Nanti. Bukan sekarang. Dia akan menunggu saat yang tepat untuk meracuni Kaisar. Kaisar akan mati keracunan dan dia tak sabar untuk menanti hal itu terjadi.

214 Komentar

  1. RefaArdhania menulis:

    Aikoooo :NGAKAKGILAA

  2. Diah Wardani menulis:

    :sebarcinta

  3. Mamita Fatih menulis:

    :sebarcinta

  4. Putri Ratnasari menulis:

    :kumenangismelepasmu :backstab :backstab :kumenangismelepasmu

  5. Putri Ratnasari menulis:

    :backstab :kumenangismelepasmu

  6. Kiki Aptisa menulis:

    😄😄😄…gak kebayang bagaimana kalau Kaisar Shen dan Jenderal Youshou berpelukan…Aiko polos sekali😂😂😂

  7. Polosnya Aikoooo… bikin gemes plus greget…wakakakakakakakak

    Wahhhh.. itu pengkhianat ato penyusup ya??

Tinggalkan Balasan