emperors-consort2
Emperors Consort

Emperor’s Consort Part 7-1 : Perayaan Bulan Merah 1

Bookmark

No account yet? Register

1.692 votes, average: 1,00 out of 1 (1.692 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

emperors-consort2

Suara jeritan Aiko terdengar keras, sayangnya tertelan oleh petir yang menyambar sedetik setelahnya. Aiko memalingkan wajah ketika sang Kaisar membenamkan giginya di lekukan pundaknya, menggigitnya tanpa permisi, meninggalkan jejak merah yang pasti akan membiru esok pagi.

Takut… Sakit….tolong….

Rasa takut yang mengerikan merayapi diri Aiko. Dia tidak pernah setakut ini sebelumnya. Tubuh Kaisar yang besar, kokoh dan melingkupinya menguarkan aroma ancaman yang tajam. Seluruh tubuh Aiko gemetaran, perpaduan rasa takut dan kedinginan karena air hujan yang terbawa angin beriak menimpa gazebo tempat mereka berdua berada.

Bibir Kaisar terasa panas, menelusuri sisi lehernya tanpa kecuali, pun dengan hembusan napasnya yang membakar, menghirup aroma polos Aiko yang memabukkan seakan candu. Tubuh Kaisar Shen merendah, merapat ke tubuhnya, mengirimkan sentuhan aneh yang membuat darah Aiko bergolak kebingungan.

“Apa yang kau lakukan pada diriku hah?” Kaisar Shen bergumam dengan suara parau, menggunakan sebelah jemarinya untuk menangkup dagu Aiko, memaksa Aiko mendongak, berhadapan dengannya.

Ketakutan yang mendera membuat Aiko memejamkan matanya, takut akan nada kemarahan pekat di suara kaisar, takut akan tatapan membunuh dari mata Kaisar, apalagi ditambah dengan suara petir yang menyambar, menambah suasana menjadi makin menyeramkan.

Kaisar Shen menggeram marah, tidak suka karena Aiko memilih untuk menghindari matanya, bibirnya mendekat, lalu tanpa permisi, dilumatnya bibir Aiko.

Ciuman kali ini bukanlah ciuman yang penuh kelembutan, kasih sayang dan kesabaran seperti yang sebelumnya. Ciuman kali ini hanya mengandung satu inti makna : nafsu.

Lumatannya tanpa belas kasihan, menekan, melahap, mencecap penuh gairah, tidak peduli Aiko yang meronta ketakutan, kesulitan bernafas. Lidah sang Kaisar bergerak masuk, menjelajahi dengan kejam, tidak menerima penolakan. Shen King mengerang penuh gairah, menekankan dirinya ke tubuh Aiko, tidak mampu menahan diri lagi.

Dirinya harus memiliki Aiko sekarang juga….

Bibirnya bergerak liar, mengecupi wajah Aiko dengan rakus, dagunya, sudut bibirnya, telinganya, pipinya …

Basah.

Shen King tertegun ketika mendapati pipi itu basah penuh air mata. Tubuhnya langsung membeku meski napasnya masih terengah karena gairah. Shen King mengangkat sedikit tubuhnya dan hatinya seolah tertikam belati melihat pemandangan di bawahnya.

Aiko berbaring telentang di bawahnya dengan penampilan mengenaskan, tubuhnya begitu mungil, rapuh dan tak berdaya. Pakaiannya tertarik turun, berantakan sampai ke bawah lengan, menampilkan bagian atas buah dadanya yang murni, ada bekas merah di sisi pundaknya, tampak menyakitkan dan menodai kemulusan kulitnya. Wajahnya penuh air mata, dan bibirnya yang sekarang pucat, bergetar akibat isakannya, nampak bengkak karena dilumat paksa.

Perempuan itu memalingkan wajah dan memejamkan mata, seolah tidak berani berhadapan langsung dengannya. Air mata masih mengalir deras dan menetes keluar dari sudut matanya, diiringi dengan napas terengah dan tubuh gemetar ketakutan.

Dada Shen King terasa bagaikan diremas kuat oleh rasa bersalah yang pekat, dia mengernyitkan dahinya merasakan sesak yang tiba-tiba menyerangnya, nafsu dan kemarahan yang menguasainya surut dan akhirnya dia berhasil menguasai diri.

Bertahun-tahun dia menunggu anak perempuan ini datang ke dalam kehidupannya, hanya untuk menyakitinya?

Shen King menarik dirinya, duduk dan kemudian melepas jubah kekaisaran megahnya yang berwarna emas, diselimutinya tubuh mungil Aiko dengan jubah itu, lalu direngkuhnya tubuh Aiko ke dalam pelukannya.

Aiko memekik pelan, ketakutan akan sentuhan yang begitu tiba-tiba, gemetarannya makin menjadi ketika Shen King mengangkatnya dengan begitu mudah ke atas pangkuannya, mendorong wajah Aiko ke dadanya, menopang kepala Aiko dengan sebelah lengannya, seumpama menimang bayi. Jemarinya menekan kepala Aiko rapat-rapat di sana, dan menggunakan kedua lengannya untuk melingkupi tubuh Aiko dengan erat.

“Jangan pernah…. merasa takut kepadaku.” Suara Kaisar Shen terdengar dalam dan serak di atas kepala Aiko, lalu sebuah kecupan lembut mendarat di pucuk kepalanya, sang Kaisar menenggelamkan wajahnya di sana dan berbisik parau, memeluknya semakin erat, “Maafkan aku…. maafkan aku…” Gumamnya berulang bagaikan mantra gaib yang bisa mengusir rasa bersalah nan menyiksa di dalam dada.

Perlakuan lembut yang kontras dengan kekasaran sebelumnya membuat tangis Aiko meledak, dia menangis keras-keras meluapkan rasa takut yang mendera di dadanya, air matanya membasahi dada sang Kaisar, meledak lelah dalam lingkupan hangat jubah kekaisaran milik Shen King, dan dibuai oleh aroma tubuh sang Kaisar yang menenangkan.

***

Tabib Zhou tengah membaca berbagai literatur obat-obatan yang merupakan salah satu koleksi buku tentang pengobatan miliknya, ketika suara gedoran di pintu membuatnya mengerutkan kening. Semula dia berniat mengabaikannya karena ini sudah hampir tengah malam, tetapi kemudian dia teringat bahwa gedoran di pintu itu mungkin saja pemberitahuan bahwa Kaisar sedang berada di dalam bahaya dan membutuhkan tabib untuk menolongnya.

Dengan gerakan sigap setengah melompat, tabib Zhou berlari ke pintu dan membukanya terburu-buru, hanya untuk terpana dengan pemandangan di depan matanya.

Shen King, dalam keadaan basah kuyup dan tanpa mengenakan jubah kekaisaran berdiri di sana, menggendong Aiko yang nampaknya pingsan, rupanya jubah kekaisaran Shen King digunakan untuk membungkus tubuh Aiko.

Tabib Zhou melirik dan bersyukur bahwa Shen King tidak lupa mengenakan topengnya. Sangat mengerikan kalau ada nyawa yang jadi korban hanya karena sial berpapasan dengan Shen King yang tidak mengenakan topeng. Matanya melirik ke area belakang Shen King dan mengerutkan kening ketika tidak menemukan apa-apa di sana.

“Tidak ada pengawal?” Tabib Zhou menyuarakan kebingungannya, membuat tubuh Shen King membeku.

“Aku mengusir mereka.” Shen King mendongakkan kepala dengan gayanya yang angkuh, “Berlutut Zhou, mana sikap hormatmu di depan Kaisarmu?”

Suara dingin penuh kuasa itu membuat Tabib Zhou sadar akan posisinya, seketika itu dia berlutut memberi hormat, dengan cara formal seperti yang dilakukan bawahan kepada Kaisarnya.

“Ampun atas kelancangan hamba Yang Mulia. Selamat datang di Mansion hamba yang sederhana ini.” Gumam Tabib Zhou formal.

Shen King menganggukkan kepalanya singkat, lalu bergumam, “Berdiri. Biarkan aku masuk.”

Tabib Zhou menurut, berdiri dan memberi jalan supaya Shen King bisa masuk. Sang Kaisar melangkah tanpa permisi, sambil tetap membawa tubuh Aiko dalam gendongannya, sementara Tabib Zhou menutup pintu di belakangnya.

“Dia pingsan.” Shen King berbalik ke arah Tabib Zhou, “Di mana aku bisa meletakkannya?”

Tanpa kata Tabib Zhou mengarahkan mereka ke kamar terdepan yang cukup besar. Kamar itu sederhana dan kosong, meski selalu dibersihkan setiap hari. Sedianya kamar itu digunakan sebagai kamar pasien jika ada bangsawan yang membutuhkan perawatan intensif dan tidak bisa ditinggalkan.

Shen King meletakkan Aiko dengan lembut di atas tempat tidur. Sang Kaisar melepaskan topengnya, meletakkannya di meja sisi ranjang. Mata kuningnya menelusuri tubuh Aiko yang lunglai dan tak berdaya dengan tatapan mata letih.

Tabib Zhou mengamati dua sosok manusia di depannya berganti-ganti, lalu membuka mulutnya,

“Anda basah kuyup Yang Mulia.” Gumamnya memecah keheningan, “Sebaiknya anda berganti pakaian, karena anda bisa sakit kalau seperti ini. Saya punya beberapa pakaian sutera terbaik yang belum pernah dipakai yang mungkin bisa Yang Mulia gunakan.”

Shen King tampak ragu, tetapi kemudian sang Kaisar mengangguk, “Baik, aku akan berganti pakaian.” Sang Kaisar melangkah ke pintu, lalu menoleh kembali ke arah tabib Zhou dengan penuh peringatan, “Kau ikut aku, jangan sentuh dia.”

Tabib Zhou menatap bingung, “Tapi Aiko juga basah kuyup, pakaiannya harus diganti.” Sebenarnya Tabib Zhou tahu perkataannya ini akan memancing kemarahan Shen King, tetapi dia tergoda untuk melakukannya. Melihat Sang Kaisar yang bisanya dingin dan kejam sekarang terbakar api cemburu membabi-buta terasa sangat menghiburnya.

Mata Shen King nampak menyala ketika berkata, “Kalau kau berani-beraninya menyentuhkan tanganmu sedikit saja ke tubuh Aiko, aku akan memenggalmu saat ini juga dan mencincang tubuhmu menjadi bagian-bagian yang tidak dapat dikenali, lalu mengumpankannya kepada harimau peliharaanku.” Shen King mengeluarkan geraman kasar, dan Tabib Zhou yakin bahwa sang Kaisar tidak main-main dengan perkataannya.

Tabib Zhou menyembunyikan senyum jahilnya dalam hati, ketika sekali lagi sang Kaisar memberi isyarat untuk mengikutinya, dia menganggukkan kepalanya dan mengikuti Shen King melangkah keluar kamar,

“Baik Yang Mulia, Jika memang itu kehendak anda.” Gumamnya sambil menahan tawa.

***

“Bagaimana Yang Mulia?” Tabib Zhou mengintip di pintu karena Shen King melarangnya masuk ke dalam kamar.

Di dalam kamar, Shen King tengah menggerutu dalam hati karena dia kesulitan memakaikan pakaian untuk Aiko. Bukan karena itu sulit, tetapi karena sekarang jemarinya gemetaran setiap menyentuh kulit Aiko yang telanjang, melepas pakaian Aiko yang basah membutuhkan disiplin tersendiri yang menyiksa jiwanya, dan sekarang memakaikan gaun Aiko membuatnya ingin mengumpat-umpat karena frustrasi.

“Diam! Jangan ganggu aku, aku belum selesai.” Gumam Shen King dengan nada frustrasi, memancing senyum jahil dari bibir Tabib Zhou yang berdiri di balik pintu.

“Kalau Yang Mulia butuh bantuan, saya bisa….”

“Jangan coba-coba Zhou atau kutebas kepalamu sekarang juga.” Shen King mengikat bagian pinggang gaun dayang tradisional berwarna putih ke tubuh Aiko dan merapikannya. Ditatapnya pakaian Aiko yang berantakan, Sang Kaisar mengerutkan keningnya tidak puas akan hasil kerjanya, tapi mau bagaimana lagi? Tabib Zhou harus segera memeriksa Aiko.

“Masuklah.” Gumam Shen King kemudian. Dirinya sudah berganti mengenakan pakaian sutera warna emas, mungkin salah satu milik Tabib Zhou yang belum dipakai. Beruntung ukuran tubuh mereka berdua hampir sama sehingga pakaian itu bisa dipakainya untuk sementara.

Dengan membawa nampan obat-obatan, tabib Zhou melangkah masuk, meletakkan nampan di meja, lalu menarik kursi ke dekat ranjang, jemarinya bergerak, hendak menarik pergelangan tangan Aiko dan memeriksa denyut nadinya.

“Kau tidak boleh menyentuhnya.” Shen King yang berdiri di samping ranjang di dekat Tabib Zhou langsung menggeram ketika melihat gerakan itu.

Tabib Zhou menghela napas, meletakkan kembali pergelangan tangan Aiko untuk meredam kemarahan Shen King, mencoba menjelaskan dengan lembut, “Saya harus menyentuhnya untuk memeriksanya, Yang Mulia.”

Hening, tampak Shen King berpikir. Matanya menelusuri Aiko yang berbaring tak sadarkan diri dengan pipi pucat dan bibir bengkak sedikit memar akibat lumatan kasarnya. Kemudian dia menarik napas panjang.

“Baik, pergelangan tangannya saja. Aku yang akan mengoleskan obatnya.”

Tabib Zhou mengangguk dan memeriksa nadi Aiko, lelaki itu agak mengerutkan keningnya, “Denyut nadinya sedikit lemah, tetapi dia akan baik-baik saja.” Mata Tabib Zhou melirik ke arah bibir Aiko yang bengkak dan memar, “Sepertinya… anda sedikit kelepasan, eh?”

“Jaga bicaramu, Zhou.” Shen King bergumam tajam, meski ada sedikit rona yang menyebar di pipinya karena malu dan rasa bersalah. “Ada lagi luka di pundaknya.” Dengan gerakan cepat, Shen King melonggarkan pakaian Aiko, dan menurunkan sedikit bagian gaun di pundak Aiko, “Lihatlah sekilas karena aku akan menutupnya lagi, ini, apakah lukanya tidak apa-apa?”

Tabib Zhou melihat ke arah pundak Aiko yang terbuka, membelalakkan matanya ketika menemukan bekas gigitan yang sekarang hampir berubah warna menjadi keunguan muda, tampak kontras dan mengerikan di pundak Aiko yang pucat.

“Yang Mulia!” Tabib Zhou berseru terkejut, “Apa yang sudah anda lakukan kepada Aiko? Apakah anda sedang berusaha memakannya?” Kali ini Tabib Zhou tidak bisa menahan diri untuk mengeluarkan sindiran bernada tinggi kepada Sang Kaisar. Baginya, tubuh wanita adalah anugrah untuk dipuja, disayangi dan diperlakukan lembut. Menodai keindahan tubuh wanita dengan luka gigitan semacam itu sama sekali tidak dapat dimaafkan.

Shen King sendiri tidak merasa marah mendapati nada tinggi dari suara tabib Zhou. Lelaki itu menutup kembali pundak Aiko yang terbuka, lalu mengusapnya dengan lembut. Ketika tabib Zhou menyebut kata ‘memakan’ ingatannya kembali kepada teriakan polos Aiko yang waktu itu memohon ketakutan agar dia tidak ‘memakan bibirnya’. Ingatan akan kepolosan Aiko yang kontras dengan tingkah lakunya yang seperti orang barbar membuatnya dipenuhi rasa bersalah.

“Aku menggigitnya karena dia membuatku marah.” Shen King tampak malu. Tetapi kemudian mengangkat kepalanya dan memasang wajah galak, “Tapi itu bukan urusanmu. Berikan obatnya dan keluar dari ruangan ini.”

***

Sinar matahari pagi yang merangsek masuk ke dalam kamar lewat sulur-sulur tembus cahaya yang berkilauan itu membangunkan Aiko dari tidur lelapnya. Dia mengernyit merasakan cahaya panas mengenai wajahnya, dan membuka matanya.

Sejenak dia kehilangan orientasi. Lalu yang pertama kali di rasakannya adalah rasa panik yang menyerang. Aiko membelalakkan mata dan menyadari, kalau sinar matahari sudah sepanas ini…. berarti hari sudah siang, dan dia terlambat bangun.

Dengan segera dia bangkit dari duduknya, melemparkan selimutnya hendak berdiri melangkah keluar dari kamar, tetapi kemudian tertegun.

Ini bukan kamarnya.

Ruangan ini sederhana, meski terasa elegan. Lebih bagus dari kamar yang selama ini ditempatinya. Seluruh sisi ruang dibuat dari kayu berkualitas tinggi, menciptakan nuansa cokelat lembut yang menghangatkan.

Isi kamar ini sederhana, sebuah dipan kayu dengan ranjang terbungkus kain linen putih lembut, dan meja kayu sederhana lengkap dengan kursi duduknya. Di atas meja itu terdapat vas bunga kecil berisi beberapa batang dupa beraroma wangi yang dibakar dan mengeluarkan asap samar berbau harum.

Aiko menatap lembut sekeliling, lalu pada akhirnya memutuskan untuk mencari tahu, dengan hati-hati dia membuka pintu, berhenti sejenak di pintu untuk mengintip keluar.

“Ah kau sudah bangun rupanya.”

Suara sapaan itu hampir saja membuat Aiko terlonjak karena kaget. Dia menoleh ke arah asal suara dan terpana ketika melihat Tabib Zhou sedang duduk di sana, di bangku kayu panjang yang menghadap sebuah meja kayu besar yang seolah membelah ruangan. Ada beberapa jenis dedaunan obat yang sudah kering dan siap diracik di depannya, Tabib Zhou rupanya sedang meracik resep obat-obatan dan memisah-misahkannya ke dalam wadah-wadah kecil yang sudah disiapkan.

Aiko masih terpaku di sana, kebingungan. Bukankah semalam dia….

Wajah Aiko menjadi pucat ketika ingatan semalam seolah menghantamnya, kenangan akan Kaisar Shen yang mengerikan, menakutkan dan berbuat kasar kepadanya…. ingatan itu menciptakan rasa pedih dan nyeri di sekujur tubuhnya.

Tabib Zhou rupanya menyadari apa yang ada di benak Aiko, ekspresinya melembut,

“Duduklah.” Gumamnya tak kalah lembut sambil memberi isyarat agar Aiko mengambil tempat duduk di depannya, “Biarkan aku memeriksamu.”

Aiko menurut, melangkah pelan dan hati-hati duduk di depan Tabib Zhou. Lelaki itu memasang wajah tanpa ekspresi ketika meminta Aiko mengulurkan tangan. Aiko menurut dan Tabib Zhou menyentuh pergelangan tangan Aiko dengan lembut, memeriksa nadinya.

“Kau baik-baik saja, hanya sedikit shock.” Gumam Tabib Zhou akhirnya, menatap Aiko dengan hati-hati, “Bekas gigitan di pundakmu akan membiru, tapi akan sembuh, aku…. ah bukan aku, Kaisar sudah mengompresnya dengan dedaunan obat semalam.”

Aiko ternganga, “Kaisar Shen….?”

Tabib Zhou terkekeh dan melepaskan pergelangan tangan Aiko, “Yah, Kaisar yang mana lagi, Aiko? Tentu saja Kaisar Shen. Beliau datang ke mansionku hampir tengah malam dalam keadaan basah kuyup kehujanan dengan membawa dirimu, yang juga basah kuyup. Kau membuatnya panik karena pingsan dan tak bisa disadarkan.”

Ekspresi tabib Zhou tampak kesal, “Tetapi Kaisar Shen tidak mengizinkan aku mengobatimu, Kaisar tidak mau kau disentuh siapapun selain dirinya. Jadi beliau sendirilah yang mengompres lukamu.” …. Dan menggantikan pakaian Aiko. Tabib Zhou menelan pengetahuan itu di dalam hatinya, tidak mau membuat Aiko jadi panik dan malu.

Aiko menundukkan wajahnya, bekas gigitan kasar di pundaknya terasa nyeri dan berdenyut, “Saya…. saya tidak mengerti kenapa Kaisar begitu marah kepada saya…?”

Tabib Zhou mengerutkan kening ingin tahu, “Memangnya apa yang kau lakukan?”

“Saya…. menawarkan diri menjadi selir menggantikan Mayumi, selir terpilih… Kaisar mengatakan akan memenggal Mayumi setelah perayaan bulan merah… saya menawarkan nyawa saya untuk menggantikannya.” Pipi Aiko memerah, penuh rasa malu dan penyesalan atas kelancangannya.

“Ah… pantas saja.” Tabib Zhou tersenyum dalam hati, Tentu saja Shen King naik darah karena permohonan Aiko ini. Setelah penantian bertahun-tahun dan perencanaan matang begitu lama supaya Aiko bisa berada di sisi Shen King dalam posisi kuat, lalu tiba-tiba perempuan polos di depannya ini malah menawarkan nyawanya begitu saja untuk menggantikan nyawa temannya.

“Saya pantas dihukum mati karena telah berbuat lancang kepada Yang Mulia Kaisar. Tetapi… tetapi Mayumi teman saya… dan saya…”

“Aiko.” Tabib Zhou mengibaskan tangannya, “Tidak ada yang bisa kau lakukan. Percayalah, ketika Kaisar Shen ingin memenggal seseorang, maka dia akan melakukannya. Aku sarankan kau untuk diam dan berhenti, jangan memancing kemarahan Kaisar lagi atau dia akan menghukummu lebih buruk dari ini.”

***

“Bagaimana keadaannya.?”

Kaisar Shen menggoreskan penanya di beberapa dokumen kerajaan yang terletak di meja rendah di depannya, dia duduk di atas singgasananya dengan tubuh kaku, tidak mengangkat kepala sama sekali ketika berbicara. Kali ini ada Jenderal Youshou yang berdiri di sisi lain ruangan, dia baru kembali dari patroli rutinnya ke seluruh perbatasan ibukota, memastikan area terdekat istana dalam kondisi aman menjelang perayaan bulan merah yang akan segera berlangsung.

Tabib Zhou yang berlutut di bawahnya memasang wajah datar. “Aiko baik-baik saja, Yang Mulia. Secara fisik dia akan sembuh, tetapi secara psikis….” Tabib Zhou mengangkat kepalanya, menatap Shen King mencela, “Sepertinya seluruh saran saya hanya Yang Mulia anggap sebagai angin lalu.”

Jemari Shen King yang sedang menggoreskan penanya membeku.

“Lebih baik begini. Kalau dia membenciku dan takut kepadaku, aku akan bisa menahan diri.”

Tabib Zhou mengangkat sebelah alisnya mendengar jawaban Shen King, “Anda tetap akan melanjutkan rencana anda, mengeksekusi calon selir Mayumi setelah perayaan bulan merah?”

Suara Shen King nampak dingin di balik topengnya ketika menjawab, “Aku tidak akan mengubah keputusanku, Zhou.”

“Meskipun Aiko memohon kepada anda? Dia akan membenci anda setelahnya kalau anda melakukan ini.”

“Aku sudah biasa dibenci.” Sang Kaisar menjawab dengan nada kejam dan tak punya hati, meski sebenarnya ada nada pedih yang tergores dibalik suaranya.

***

“Sebenarnya ada apa?” Jenderal Youshou yang berjalan keluar dari Istana Emas melangkah menjajari Tabib Zhou yang berjalan di depannya. “Kau membahas Aiko ini dan Aiko itu, sedang aku tidak tahu apa-apa.”

Dua manusia itu berjalan di tengah hiruk pikuknya seluruh dayang istana yang sedang sibuk berlalu lalang melakukan persiapan, perayaan bulan merah akan dilangsungkan esok hari dan kesibukan untuk persiapannya memuncak hari ini. Meskipun begitu, ketampanan dua orang kepercayaan Kaisar Shen ini membuat para dayang tidak mampu mengalihkan tatapan mata. Beberapa nampak berbisik-bisik genit, dan beberapa nampak menatap kagum tanpa bisa menyembunyikannya.

Tabib Zhou dan Jenderal Youshou mempunyai ketampanan yang berbeda tentu saja, yang satu memiliki wajah nyaris cantik, murah senyum dan pandai merayu, dan yang lain gagah, tampak kaku dan misterius. Keduanya memiliki pesona sendiri yang bisa membuat para dayang istana terkagum-kagum dengan pipi bersemu merah.

Tabib Zhou sendiri menyadari perhatian para dayang yang diarahkan kepada mereka, lalu mengangkat bahunya,

“Lebih baik kita tidak membahasnya di sini.” Dia memberi isyarat Jenderal Youshou supaya mengikutinya berjalan ke arah Mansion pribadinya.

***

 

“Menjadikan Aiko permaisuri?”

Ekspresi Jenderal Youshou terkejut luar biasa. Lelaki itu menatap tajam ke arah Tabib Zhou untuk memastikan bahwa Tabib di depannya – yang memang terkenal suka bercanda ini – tidak sedang bercanda. Ketika dia menemukan keseriusan di sana, wajahnya berubah kalut.

“Tapi apakah Kaisar Shen bercanda? Selama turun-temurun, permaisuri Kaisar hanya bisa diambil dari keluarga bangsawan terkemuka, ini diperlukan untuk menciptakan dukungan di belakang Kaisar. Jika Kaisar mengambil permaisuri dari orang biasa, hal itu akan membuat bangsawan-bangsawan kelas atas terutama yang memiliki putri yang memenuhi syarat, merasa tersinggung. Semua ini bisa memicu pemberontakan. Setiap keluarga bangsawan memiliki pasukan tersendiri, saat ini mereka mengucapkan sumpah setia kepada kita, tetapi jika seluruh bangsawan memberontak, kekuatan pasukan mereka bisa saja menggulingkan pasukan kita…. dan membahayakan kedudukan Kaisar.”

“Aku tahu semua itu Youshou, tidak perlu kau jelaskan. Kaisar juga mengetahui itu semua.” Tabib Zhou duduk, ekspresinya tampak santai meskipun pembicaraan mereka begitu serius.

“Lalu kenapa Yang Mulia Kaisar bersikeras merencanakan ini? Bukankah lebih mudah jika beliau mengangkat Aiko sebagai selir kesayangannya lalu mengangkat permaisuri dari kalangan bangsawan sebagai tradisi? Tidak ada yang akan menyalahkan beliau jika nanti lebih menyayangi selirnya daripada permaisuri. Ketika tradisi dijalankan dengan patuh, orang akan cenderung memaklumi sedikit penyimpangan.”

“Apakah kau lupa akan nasib ibunda Kaisar Shen?” Tabib Zhou mengingatkan pelan, membuat Jenderal Youshou tertegun, “Kaisar Shen menginginkan posisi yang absolut untuk Aiko. Posisi yang membuatnya tidak bisa diganggu-gugat. Posisi yang membuatnya aman.”

Lama Jenderal Youshou tertegun mendengar perkataan Tabib Zhou, lalu dia menarik napas panjang.

“Sebenarnya…. ya aku tahu Aiko gadis yang cantik dan sangat mirip dengan Yang Mulia Selir Junsuina, ibunda sang Kaisar. Tetapi apa yang mendorong Kaisar Shen untuk melakukan ini semua? Mempertaruhkan semuanya hanya untuk seorang perempuan?”

Tabib Zhou mengangkat bahunya, “Aku tidak tahu. Mungkin itulah yang disebut dengan kekuatan cinta.”

***

Aiko berjalan menyusuri lorong istana merah dengan ragu, dia membawa sapu besar dengan gagang hampir setinggi tubuhnya, baru saja menyelesaikan tugas untuk menyapu taman.

Sudah dua hari ini sejak insiden di gazebo taman pribadi Kaisar, dirinya tidak dipanggil untuk bertugas sebagai perisai. Alih-alih dia malah mengerjakan pekerjaan pelayan dengan dibimbing oleh Kasim Rojin.

Di luar istana merah, terutama di area kuil kesuburan sudah mulai ramai untuk perayaan bulan merah yang akan berlangsung nanti malam. Para seniman yang disiapkan sudah mulai memainkan musik dengan nada lembut yang menyenangkan, alunannya terdengar sayup lembut tertiup angin ke area bagian dalam Istana merah karena memang lokasi kuil kesuburan dekat dengan istana merah.

Kata kakek Rojim, seluruh area kuil kesuburan sudah dihias dengan hiasan bunga Shengyu nan indah dan lantainya sudah ditutup dengan karpet merah. Para bangsawan yang mengikuti perayaan pastilah sudah menyiapkan pakaian resmi terbaik mereka yang juga bernuansa merah untuk mengikuti perayaan yang hanya diadakan setiap dua tahun sekali ini.

Aiko mengerjakan perkerjaan sebagai pelayan ini dengan senang hati tentu saja, karena ini adalah pekerjaannya sehari-hari. Mengganti sarung tempat tidur, menyapu taman, merapikan bunga-bunga, mengelap jendela dan sela-sela kusen berukir, semuanya dilakukan dengan senang hati.

Meksipun begitu, masih saja ada yang mengganjal di benaknya. Kaisar Shen jelas-jelas marah besar kepadanya waktu itu, mungkin itu pula yang membuat beliau tidak sudi lagi memakainya sebagai perisai. Tetapi kalau begitu, kenapa dia masih ada di istana merah? Dan kenapa sampai saat ini tidak ada perintah untuk memenggal kepalanya?

“Aiko.”

Suara Kasim Rojin di belakangnya membuat Aiko menghentikan langkahnya. Dilihatnya Kasim Rojin melangkah mendekatinya sambil membawa sesuatu yang dibungkus kain putih di tangannya. Tanpa basa-basi, Kasim Rojin mengangsurkan bungkusan itu ke tangan Aiko yang langsung menerimanya dengan bingung.

“Ganti pakaianmu. Kaisar memerintahkanmu bertugas sebagai perisai untuk acara siang ini dan nanti malam.” Kasim Rojin menatap Aiko tanpa ekspresi, “Siang ini Kaisar akan mengangkat calon Selir Mayumi Hime sebagai selirnya. Dan nanti malam beliau memintamu mendampinginya di jamuan setelah perayaan bulan merah.”

***

Bungkusan putih itu ternyata berisi pakaian, dibuat dari sutera halus berwarna merah dengan hiasan corak bunga shengyu putih yang indah. Jemari Aiko menelusuri halusnya kain yang melingkupi tubuhnya, menatap dirinya di cermin dan merasa ragu.

Pakaian ini terlalu indah untuk dikenakan olehnya….

Tetapi dia akan mendampingi Kaisar sebagai perisai untuk dua perayaan penting. Semua orang pasti akan memakai pakaian resmi yang luar biasa indah. Mungkin memang perisai kerajaan harus memakai pakaian yang istimewa juga.

Aiko menarik napas panjang, sudah hampir dua hari dia sama sekali tidak bertemu dengan Kaisar, bahkan berpapasanpun tidak. Kaisar Shen sudah pergi pagi-pagi sekali ke istana emas dan pulang ketika hari beranjak tengah malam.

Jantung Aiko berdebar mengingat insiden malam itu ketika Sang Kaisar berubah menjadi begitu menakutkan…. Aiko menghela napas panjang.

Dia harus kuat….

***

Mereka sekarang berjalan menuju istana emas, di sana semua bangsawan sudah berkumpul dan menunggu. Ketika Kaisar datang, semua orang langsung berdiri, bersujud hormat ketika Kaisar melangkah melalui karpet merah menuju ke arah singgasananya.

Aiko yang berada di dalam rombongan yang dibawa Kaisar hanya bisa mengamati dari Jauh, dia sekarang berdiri bersama rombongan pengawal dan pelayan lain di sisi ujung ruang singgasana istana emas yang indah.

“Yang Mulia Calon Selir Mayumi Hime akan memasuki ruangan.” Sang penjaga pintu bergumam memberitahukan. Dan kemudian dua pengawal membuka pintu istana lebar-lebar.

 

Rombongan calon selir Mayumi Hime melangkah masuk, Aiko terpana melihat betapa indahnya gaun yang dikenakan oleh Mayumi, temannya itu telah berubah mengenakan gaun sutera indah yang ditenun dengan tangan, berwarna merah berhiaskan sulaman emas yang dibuat berlapis tiga, menciptakan renda-renda tebal yang luar biasa indah. Ujung gaunnya sangat panjang hingga terseret di belakangnya ketika dia melangkah. Sementara rambutnya ditata dengan begitu indah di atas kepalanya, dengan hiasan mahkota tradisional bertahtakan permata yang sangat indah berkilauan.

Calon Selir Mayumi Hime langsung bersujud di depan Shen King yang duduk di singgasananya dalam posisi yang lebih tinggi, pun dengan dua puluh dayang selir pilihan yang bergaun indah ikut berlutut di belakangnya.

Shen King bergeming, lalu memberi isyarat dengan tangannya. Jenderal Youshou menyerahkan sebuah pedang bertahtakan batu safir biru yang megah sambil menunduk hormat.

Shen King mengambil pedang itu, lalu tanpa melepas sarungnya, mencondongkan pedang itu ke arah kepala calon selir Mayumi Hime.

“Aku. Kaisar Shen Laiken, Kaisar Kerajaan Shasou generasi ke empat ratus empat puluh satu, mengangkatmu menjadi selirku untuk mendampingiku pada perayaan bulan merah. Kau akan menyandang gelar bangsawan Xia di belakang namamu. Dan kau akan dipanggil dengan nama Selir Xia.”

***

“Aiko.” Seorang dayang berpakaian indah menghampiri Aiko dengan hati-hati. Ketika itu Aiko tengah berdiri di bagian samping Istana Emas, Kaisar Shen tengah mengadakan pertemuan penting dengan para Jenderal dan menterinya sehingga kehadiran Aiko sebagai perisai tidak diperlukan.

Kakek Rojin yang ikut mendampingi Aiko mengatakan supaya Aiko menunggu di sampaing ruang singgasana, sehingga bisa segera siap sedia jika dibutuhkan. Dan disitulah Aiko menunggu hampir satu jam lamanya berdiri dalam kesendirian.

Dayang senior itu tampak menoleh ke kiri dan ke kanan, seolah memastikan tidak ada siapapun yang melihat, lalu berbisik pelan,

“Kemarilah, ikuti aku. Yang Mulia Selir Xia ingin bertemu denganmu.”

Aiko mengerutkan keningnya bingung.

Selir Xia…. Mayumi ingin bertemu dengannya?

***

“Hamba datang membawa Aiko, yang Mulia selir.” Dayang senior itu berlutut bersama Aiko di sampingnya ke sebuah ruangan kecil nan indah yang terletak di bagian samping ruang singgasana istana emas.

Terdengar suara deheman feminim dari balik tirai, lalu suara Selir Xia terdengar,

“Kau boleh meninggalkan kami, dayang Lu.” Gumam selir Xia yang segera dipatuhi. Dayang Lu langsung membungkuk, mengucapkan kata pamit dan meninggalkan ruangan.

Setelah pintu tertutup, tirai itu terbuka dan terdengar suara gemerisik gaun mendekat. Aiko sendiri masih berlutut dan tidak mengangkat kepalanya,

“Jangan berlutut seperti itu Aiko, mari duduklah denganku di dalam.”

Sapaan itu membuat Aiko mengangkat kepalanya dan terpana dengan kecantikan Mayumi yang semakin nyata setelah mengenakan riasan dan pakaian mewah yang menyelubungi dirinya dari ujung kepala sampai ujung kaki.

“Hamba tidak berani Yang Mulia Selir.” Aiko membungkuk lagi dengan hormat, merasa tidak enak. Bagaimana mungkin dirinya yang pelayan biasa diajak duduk dan berbicara dengan Selir Kaisar?

“Aiko.” Suara selir Xia tampak sedih, “Jangan seperti itu dan panggil aku dengan Mayumi saja, ayo duduklah di dalam.” Mayumi rupanya tidak menunggu jawaban Aiko, dia melangkah masuk kembali ke dalam tirai dan mendahului Aiko.

Akhirnya mau tak mau Aiko beranjak, melangkah pelan dengan hati-hati dan menyibak tirai itu.

Di balik tirai itu adalah sebuah kamar yang sangat feminim dan harum, dengan tempat tidur yang berbungkus sutera lembut kualitas terbaik berwarna merah, lambang kesuburan. Bagian sisi-sisi ruangan dihias dengan vas yang penuh berisi bunga Shengyu yang indah dan harum.

Setelah melihat sekeliling ruangan yang didominasi oleh warna emas, merah dan putih sebagai lambang kesuburan, barulah Aiko menyadari bahwa ini adalah kamar pengantin Kaisar Shen King dan Selir Xia.

“Duduklah.” Mayumi, yang entah kenapa berwajah sedih mempersilahkan Aiko duduk di kursi yang berada di sisi seberang meja bulat berukir indah yang ada di tengah ruangan kamar.

Sejenak Aiko ragu, tetapi kemudian Mayumi menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan menangis tersedu-sedu.

Aiko merasa bingung dan panik, lalu dia bergerak hati-hati berlutut di depan Mayumi yang menangis sampai pundaknya berguncang-guncang.

“Yang Mulia Selir Xia?” panggilnya hati-hati, menyentuh lembut pangkuan Mayumi, bingung dengan apa yang terjadi di depannya.

Mayumi mengangkat tangannya yang basah oleh air mata, dan Aiko menyadari bahwa perempuan itu nampak pucat pasi, ada ekspresi ketakutan di matanya,

“Jangan panggil aku dengan nama itu, itu menakutkan sekali….” Mayumi terisak pelan, “Maafkan aku Aiko…. aku.. aku membutuhkan teman bicara, hanya kau temanku yang ada di istana emas ini, teman-teman kita yang masuk bersama-sama, semuanya ada di istana bunga, tidak diperbolehkan masuk kemari….” Mayumi menangis lagi, begitu pilu dan ketakutan, “Aku takut sekali Aiko…. aku akan mati… aku akan mati besok..”

Aiko menyentuh jemari Mayumi, menyentuhnya untuk menenangkan. Yang ada dihadapannya sekarang bukanlah Yang Mulia Selir Xia, melainkan mayumi, temannya, gadis belia usia enam belas tahun yang didera ketakutan.

“Mayumi… tenanglah, ada apa?”

Mayumi mengusap air matanya dengan bibir bergetar. “Tadi malam sebelum malam penobatan, Kaisar mengirimkan jenderalnya kepadaku. Beliau, Yang Mulia Kaisar…” suara Mayumi gemetaran, “Beliau mengirimkan daftar permintaan…”

“Daftar permintaan?” Aiko mengerutkan kening bingung, “Daftar permintaan untuk hadiah pernikahan?”

Pertanyaannya membuat Mayumi tertawa getir, “Bukan….” perempuan itu menggelengkan kepalanya kuat-kuat, “Daftar permintaan terakhir, aku boleh meminta sebanyak harta apapun untuk menjamin keluargaku… karena besok pagi, setelah perayaan bulan merah malam ini…. kepalaku… akan …. dipenggal.”

Suara Mayumi bergetar tertelan oleh isakannya, perempuan itu menangis lagi, kali ini sedikit histeris, “Aku takut Aiko, takut sekali…. aku tidak mau mati, aku masih muda, seharusnya aku tidak mati secepat ini….”

***

Aiko berdiri dengan mata sembab, mengusap air mata dengan lengan bajunya ketika dia kembali berdiri di posisinya sebagai perisai Kaisar, di samping ruang singgasana. Dia harus memohonkan pengampunan untuk nyawa Mayumi, bagaimanapun caranya. Masih belum terlambat, masih ada kesempatan untuknya memohon kepada Kaisar.

Tetapi bagaimana kalau Kaisar Shen marah lagi?

Tanpa sadar Aiko memeluk dirinya sendiri ketakutan. Kaisar Shen sangat mengerikan kalau marah, beliau juga menggigit, mengerikan seperti hewan buas….. Aiko entah kenapa sudah berkali-kali selamat dari kemarahan Kaisar Shen, bagaimana kalau kali ini Kaisar Shen tidak berniat mengampuninya?

Ketika Aiko sedang sibuk berpikir, tiba-tiba pintu ruang singgasana terbuka dan Kasim Rojin keluar dari sana.

“Ayo, ke ruang jamuan di istana emas. Yang Mulia Kaisar Shen hendak bersantap siang.” Gumamnya sambil memberi isyarat Aiko untuk mengikutinya.

Tanpa menunggu jawaban Aiko, Kasim Rojin melangkah cepat menuju ke area taman bunga di istana emas, taman bunga itu sangat indah, diisi oleh bunga warna warni yang ditanam rendah sampai ke batas paha manusia dewasa, memagari kiri dan kanan jalan yang mengarahkan menuju ruangan megah berwarna emas yang sepertinya merupakan ruangan jamuan Kaisar.

***
Seperti biasa mereka berdua ditinggalkan sendirian di dalam ruang jamuan, Aiko yang telah selesai melakukan proses pencicipan hendak berpamitan sesuai protokol. Tapi sebelum dia bersujud dan melakukan itu, Kaisar Shen mencegahnya.

“Tidak, kau tetap di sini. Kemarilah. Dan seperti perintahku dulu, jangan menundukkan kepalamu, kau diperbolehkan melihat wajahku.” Kaisar Shen yang telah melepas topengnya mengulurkan tangan, memberi isyarat Aiko untuk mendekat.

Aiko menelan ludahnya, merasa ketakutan.

Sekarang adalah waktu yang tepat untuk memohonkan ampun bagi nyawa Mayumi. Sepertinya suasana hati Kaisar Shen sedang baik… tapi berdasarkan pengalaman Aiko, suasana hati Kaisar Shen tidak bisa ditebak dan bisa berubah dengan cepat.

Bagaimana kalau dia membuat Kaisar marah lagi? Yang lebih menakutkan lagi, bagaimana kalau dia digigit lagi?

Bekas gigitan Kaisar yang sebelumnya saja masih belum menghilang dari kulitnya, meninggalkan jejak gelap yang masih terasa nyeri ketika disentuh…

“Jangan takut, Aiko, kemarilah.”

Kaisar Shen memasang ekspresi tidak suka, mungkin beliau melihat ketakutan yang tersirat di mata Aiko, “Aku tidak akan menggigitmu.” Gumamnya kemudian, membuat pipi Aiko memerah karena malu.

Akhirnya dengan hati-hati, Aiko menggeser lututnya pelan, mendekat ke arah Kaisar Shen. Sang Kaisar sekarang duduk di depannya, menatapnya dalam,

“Apakah masih terasa sakit?” mata Kaisar Shen bersinar lembut, membuat Aiko kebingungan, bukankah seharusnya Kaisar marah kepadanya? Kenapa beliau bersikap begitu lembut?

Aiko menunduk, menggelengkan kepala.

“Ampun yang Mulia, tidak terasa sakit lagi.” Jawabnya pelan sedikit takut.

Jemari Kaisar terulur dan menyentuh dagunya, mendongakkan wajah Aiko, mengerut tidak suka ketika melihat masih ada bayangan gelap di sudut bibir Aiko, bekas ciuman kasarnya. Sang Kaisar mendekatkan wajahnya, hendak mengecup bibir itu, tetapi Aiko memekik menghentikannya.

“Yang Mulia.” Pekiknya pelan, bingung karena jantungnya berdebar begitu kencang.

Tubuh Kaisar Shen membeku, matanya menatap tajam, lalu bergumam datar,

“Kau menghormatiku bukan Aiko? Sekarang kita akan melakukan tata cara berciuman. Pejamkan matamu, tidak akan sakit, aku akan lembut.”

Aiko terengah, merasakan debar di dadanya yang semakin pekat. Kenapa begini? Dia diharuskan melakukan ini untuk memberikan penghormatan kepada Kaisar bukan? Tetapi kenapa ritual ini membuat dadanya berdebar seakan mau pecah?

“Pejamkan matamu.” Kaisar Shen memberi perintah lagi, kali ini ada nada memerintah penuh kuasa di sana. Membuat Aiko mau tak mau memejamkan matanya.

Bibir itu mendekat, napas Kaisar panas di sana, lalu kelembutan bibir Kaisar melingkupi bibirnya, menghadiahi sudut-sudut bibir Aiko dengan kecupan lembut penuh kasih sayang.

“Aku menyakitimu di sini.” Kaisar mengecup bibir Aiko dengan penuh perasaan di sana sini sambil menggumam, “di sini juga….maafkan aku…maafkan aku,” ucapan itu dibisikkan berkali-kali di sela-sela kecupannya, bagaikan sebuah mantra.

Kaisar mengecupi seluruh bagian bibir Aiko lama dan penuh perasaan. Kemudian tanpa permisi, jemari Kaisar Shen bergerak hendak menurunkan gaunnya. Seketika itu juga, ingatan insiden mengerikan di gazebo taman pribadi Kaisar membuat tubuh Aiko gemetar kembali, ketakutan.

“Ja… jangan Yang Mulia…. jangan gigit saya..” mohonnya lemah, ketakutan.

Permohonan itu membuat Shen King tersenyum masam, “Aku tidak akan menggigitmu, dasar bodoh. Kau pikir aku hewan buas yang suka menggigit di sana sini? Aku cuma ingin melihat bekas lukamu.”

Jemari Kaisar bergerak kembali, menyentuh bagian kerah pakaian dayang Aiko, membuat tubuh Aiko membeku kaku, takut untuk bergerak. Kaisar Shen menurunkan gaun itu ke bawah sebelah pundak Aiko, membuat pundak mungil dan rapuh Aiko terpampang bebas, pun dengan bekas gigitan yang sekarang berwarna ungu gelap, mencolok di kulitnya yang putih.

Shen King mengernyit, jemarinya menyentuh bekas gigitan yang menciptakan memar itu dengan hati-hati,

“Maafkan aku.”

Permintaan maaf yang diucapkan dengan gamblang itu membuat Aiko membelalakkan mata bingung,

“Ampun Yang Mulia Kaisar, Yang Mulia tidak boleh mengucapkan permintaan maaf kepada hamba….”

“Diam,” Kaisar Shen menyela, tampak tidak suka dengan perkataan Aiko yang merendahkan dirinya sendiri. Ditariknya tubuh Aiko mendekat ke dalam pelukannya, lalu kepala Kaisar Shen menunduk dan mengecup bekas luka itu dengan kecupan lembut seringan bulu, membuat erangan tanpa sadar lolos dari mulut Aiko.

Kaisar Shen mengangkat kepalanya, lalu mendekatkan dahinya ke dahi Aiko, menatapnya tajam. Gairahnya terpancing tiba-tiba ketika mendengar erangan feminim yang keluar tanpa sengaja dari bibir Aiko akibat kecupannya.

“Pejamkan matamu.” Perintahnya penuh kuasa, “Aku ingin berciuman denganmu lagi.”

Aiko menurut, meski ada kebingungan yang menyeruak di dalam batinnya. Dirasakannya kedua lengan Shen King merengkuhnya dan memeluknya erat,

“Pada saatnya nanti….” Shen King bergumam lembut dengan bibir hampir menempel dengan bibir Aiko, “Aku akan mengambil kepolosanmu itu dan membuatmu sepenuhnya menjadi milikku…. ” Shen King mengecup bibir Aiko dengan kecupan lembut yang tipis, “Dan ketika saat itu tiba, aku berjanji padamu Aiko, kau akan… sangat…. menyukainya.”

Shen King menghentikan kalimatnya, melumat bibir Aiko, berusaha tetap lembut meski nafsu memiliki mulai menggelegak di dalam jiwanya.

***

Di depan jendela yang terbuka, di balik tirai yang bergetar tertiup angin, Mayumi berdiri sambil menatap pemandangan di depannya dengan rasa terkejut yang menghantam.

Dia hendak menemui Yang Mulia Kaisar Shen diam-diam dan memohonkan pengampunan untuk dirinya sendiri. Tetapi dia mendengar suara-suara dari ruang jamuan Sang Kaisar, rasa penasarannya membuatnya berhenti di jendela kecil yang terletak di bagian belakang ruang jamuan, jendela ini seyogyanya tidak bisa disebut sebagai jendela, hanya ventilasi udara kecil tertutup tirai berukuran mungil untuk mengalirkan udara sejuk ke dalam ruang jamuan.

Tetapi pemandangan di depannya membuat jantung Mayumi bagaikan diremas lalu dicabut paksa dari rongga dadanya, menyisakan luka nyeri yang menetes dan mengeluarkan darah.

Meskipun hanya melihat bagian punggung dan tidak bisa melihat wajahnya, Mayumi bisa melihat Jelas bahwa itu adalah Kaisar Shen King. Beliau sudah melepas topengnya karena topeng emas Kaisar nampak tergeletak di meja jamuan.

Di depan Kaisar ada Aiko….

Mayumi mengusap kedua matanya yang mulai terasa panas, seolah tak percaya dengan pemandangan yang ada di depannya. Air mata mulai bercucuran di sana, penuh dengan rasa dikhianati

Kaisar Shen, suaminya….. saat ini sedang duduk di sana dan mencumbu Aiko dengan penuh nafsu!

201 Komentar

  1. Apa mayumi bakal jd peran antagonis disini gara2 salah paham??

  2. Rizky Sofi ni menulis:

    Haduhhh deg degan nihh

  3. Wkwk kaisar emang ngga pernah bisa nahan buat nyosor aiko

  4. Wuah Mayumi tau, kesian bener nasibmu

  5. Lely Damayanti menulis:

    Istri mana yg gk patah hati liat suaminya bersama wanita lain :DORONG

  6. mustika lisa amalia menulis:

    mayumi, kasihan betul nasib kamu :'(

  7. Sakit hati adek bang,,,adek tuh ngak bisa diginiin :ngambeknih

  8. Mudah2an mayumi bukan pemeran ketiga antagonis, yang kerjaannya cuma bikin pemeran utama merana gundah gulana :bengongaja

  9. Jgn sampai mayumi jadi manusia penuh dendam :matamemohon :matamemohon

  10. Siti Zulaikah menulis:

    apeluapelu ???
    kata kaisar, senggol bacok

  11. Dera Puspita menulis:

    Apakah mayumi akan matii :nangiskeras
    Kaisar shenn nyosor terus ya ke aiko :kisskiss :kisskiss :habiskata :iloveyou

  12. Airaqyoung1215 menulis:

    :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss AiShen Couple

  13. Mayumi :huhuhu :huhuhu

  14. Helga Veronica menulis:

    entah knp kok aku ngerasa mayumi bakal jd pihak antagonisnnya ya

  15. Kaikou Nezumi menulis:

    Ahhhh gemesh sama Kaisar

  16. hai thor maaf ya baru aktif lagi nih …..sudah lama sekali ga baca cerita mu…makin sukses ya dan bertambah karya” mu……..

  17. Selamat datang bibit sakit hati untuk mayumi …. the next selir jahat ??.
    Tapi seandainya dia tahu dari awal, bukan aiko yang jadi pelakor, dirinyalah yang jadi pelakor diantara shen dan aiko??

  18. Dhian Sarahwati menulis:

    Mayumi kena sial padahal yg d pengen Aiko..kaisar kaisar…..Aiko polosnya…

  19. Takut nanti mayumi berubah jadi jahat kalo ga jadi di bunuh :hueekk

  20. SERAFINA MOON LIGT🌙❤💡 menulis:

    Apakah mayumi bakal jd selir jahat ? :mimisankarnamu

  21. hhhjoooo mayumi

  22. :mimisankarnam :mimisankarnamu u

  23. Yang sabar Mayumi :lovely

  24. Gedeg sih tapi cara Kaisar juga buat ngelindungin aiko, kalo Mayumi masih bertahan dia bakalan jadi ancaman buat posisi Aiko nanti :lovely

  25. 🤭

  26. Masalah : cabut sampai keakarnya!

    Baca ulang check!

  27. lemonpinkskyyy menulis:

    Baca lagi :ayojadian

  28. oviana safitri menulis:

    keren ya ceritanya, meski agak gemesh juga sih sama cara nya kaisar :bantingkursi

  29. Amanda Natasya menulis:

    Yah kl liat gini berabe

  30. Dewi Susanty menulis:

    :lovely :lovely

  31. :kebosananhaqique :kebosananhaqique
    Oh no…

  32. ArinaSaadah menulis:

    :hatikuberbungakarnamu

  33. Alfa centauri menulis:

    kasian mayumi 🙁

    1. Diah Wardani menulis:

      :kumenangismelepasmu

  34. Mamita Fatih menulis:

    :luculuculucuih

  35. Putri Ratnasari menulis:

    Mayumi kamu siapin mental aja udahhh

  36. Bibirnya mulai terasa panas ,menelusuri sisi leher gadis itu tanpa terkecuali, hembusan nafasnya yang membakar menghirup aroma polos gadis itu.
    Oh sungguh candu dan memanukkan . Dia mulai merendah merapatkan tubuhnya mengirimkan sentuhan aneh ke tubuh gadis itu .
    Tubuh gadis itu bergejolak dia muali merasa kebingungan .lalu dia berkata
    ” Woy kamu mo ngapain ?””🤣🤣🤣

Tinggalkan Balasan