Red Prince

The Red Prince | Part 4 : Sosok Misterius

Bookmark
ClosePlease loginn

No account yet? Register

red prince cover - CopyBlack Line Art Butterflies Woman Phone Wallpaper(15)

11 votes, average: 1.00 out of 1 (11 votes, average: 1.00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

 

Baca Parts Lainnya Klik Di sini

“Azure …,” sapanya dengan nada pengenalan penuh arti.

Mendengar lelaki itu mengetahui nama aslinya, Carissa tertegun. Ini adalah kali pertama setelah sekian lama ia mendengar namanya disebut. Beberapa waktu ini ia terlalu sering hingga akrab dan melakat di benaknya jika ia adalah Carissa, sehingga saat lelaki itu menyapa dengan namanya, ia merasa hatinya senang sekaligus sakit. Senang karena ternyata masih ada makhluk langit yang mengenalinya dan sakit sebab lelaki klan merah itulah yang menyebabkannya hidup terpencil di dunia manusia ini, jauh dari negeri langit tempatnya tinggal, sekaligus terlunta-lunta karena terpisah dari koloninya.

Tunggu.

Lelaki klan merah itu … apakah ia adalah pemimpin klan merah? Pemimpin negeri langit saat ini yang bernama Reddish?

Azure memang belum pernah bersitatap secara langsung dengan putra klan merah itu, tetapi jika ia melihat dari ciri fisik sosok yang ada di depannya ini, dengan penampilan mewah dan tubuh tinggi besar …

Benarkah jika ia menyimpulkan jika dia adalah Reddish?

Lelaki itu tersenyum melihat Azure terdiam. Dengan penuh kemenangan, ia lantas memajukan langkahnya setapak demi setapak, senang bukan kepalang saat melihat wanita pujaannya tak bisa membaca aura warnanya yang sebenarnya.

“Jadi benar, kau adalah Azure.”

Azure menampilkan wajah dingin, tak mengacuhkan ucapan lelaki itu dan hendak mengakhiri pertemuan tersebut dengan kepergiannya.

“Aku harus pergi.” Perempuan itu tanpa ragu melangkah ke depan, seperti rencanya semula untuk kembali ke tempat tinggalnya, hendak berjalan melewati lelaki itu yang dengan angkuhnya berdiri di tengah jalan. Namun, saat tubuh keduanya bersisian dengan posisi tubuh berlawanan arah, lelaki itu menyentuh pundaknya dan memasang ekspresi serius.

“Hei. Tapi aku belum menginginkan kau pergi. Ada hal besar yang sepertinya kaulewatkan, ya? Jadi, kau benar-benar tak tahu?” tanyanya memancing dengan sengaja.

Azure menoleh, menatap tajam pada lelaki itu dan berkata dengan nada menyebalkan. “Maaf, Tuan Klan Merah, saya telah banyak membuang-buang waktu saya dengan mengikuti Anda sampai ke tempat ini. Dan sekarang Anda bertanya tentang sesuatu hal yang saya tak tahu? Maaf, sepertinya saya tidak ingin tahu. Tadinya, saya pikir Anda adalah hewan peliharaan saya yang dulu sempat saya tinggal di negeri langit dan sekarang datang menemui saya untuk kembali kepada saya. Ternyata ….” Azure sengaja memindai penampilan lelaki itu dari atas hingga ke bawah sebelum melanjutkan ejekannya. “Ternyata Anda hanyalah seorang klan merah,” sambungnya dengan nada meremehkan.

Lelaki itu menyeringai mendengar ucapan panjang lebar Azure yang berniat mengata-ngatainya. Namun, entah kenapa meskipun ucapan itu tak enak didengar, tetapi ia senang. Senang karena perempuan itu mau berbicara padanya.

“Ah, aku belum memperkenalkan namaku, ya. Pantas saja kau menyebutku dengan tuan klan merah, seorang klan merah,” tirunya dengan terkekeh. “Aku Brick. Panggil aku Brick,” perintahnya dengan angkuh kemudian.

Sekali lagi Azure bersikap tak acuh, tak menanggapi sama sekali ucapan itu dan melangkahkan kaki hendak melenggang pergi.

“Astaga, perempuan.” Brick mencekal lengan Azure, sedikit melemparkan tubuh perempuan itu ke arahnya dan memegangi kedua bahu Azure kemudian.

Ekspresi Azure terlihat kesal. Meski begitu, ia menyimpan informasi itu dalam-dalam jika ia saat ini tidaklah sedang berhadapan dengan Reddish, si putra pemimpin klan merah yang telah menuruni darah pembunuh ayahnya itu. Karena jika iya, Azure tak akan segan-segan untuk menampar lelaki itu dengan aura birunya sebagai balasan pertama.

Ekspresi Brick tampak sungguh-sungguh saat ia berucap, mengunci tatapan perempuan itu yang kini menantang ke arahnya. “Pelangi semesta padam. Tepat setahun yang lalu,” ujarnya. “Hingga saat ini.”

Azure membeku. Dadanya berdebar. Pertanyaannya terjawab sudah.

Setahun yang lalu? Sudah setahun? Bagaimana mungkin?

“Mengapa setahun? Apakah kalian tak bisa menyalakan cahayanya kembali karena tak ada kami, klan biru?” Azure bertanya dengan menggeram. Merasa di atas angin tiba-tiba karena kabar buruk yang menggembirakan untuknya itu.

“Ya. Karena tak ada kau.” Brick berucap parau. Ada nada suara berbeda saat lelaki itu mengucapkan kalimatnya. Nada suara yang … ah, Azure tak bisa menebak apa arti kalimat yang terdengar penuh kesedihan sekaligus pengharapan itu.

Azure tertawa. Tertawa dalam suasana hatinya yang terluka mendengar ucapan itu.

“Tak ada aku.” Azure mengulang kalimat itu dengan senyuman serta mata berkaca-kaca yang berusaha keras ia sembunyikan. Kekehan keluar dari mulutnya. “Karena kalianlah ….” Perempuan  itu menunjuk dada lelaki itu dengan ekspresi penuh kebencian. “Karena kalianlah yang menginginkan kami tak ada. Klan merahlah yang memukul mundur kami hingga seperti ini. Karena klanmu!” serunya dengan nada menghardik.

Brick menatap perempuan itu dengan ekspresi tak terbaca.

Tak ada yang tahu, tak ada yang tahu jika hatinya menangis. Teriris-iris melihat betapa terlukanya Azure akibat keangkuhan klan merah itu. Dirinya yang kini mengubah wujud dan menyamar menjadi lelaki klan merah itu pun merasakan kemarahan yang mulai membakar dadanya. Ia tak rela. Ia tak rela perempuan yang dicintainya itu menangis dan hidup sebatang kara di dunia manusia ini.

Dalam wujud aslinya, lelaki itu sungguhlah ingin merengkuh Azure dalam pelukannya. Menenangkannya dan mengusap air mata yang saat itu hampir tumpah dari kedua bola mata Azure yang indah. Menjadi satu-satunya sandaran dan menguatkan perempuan itu bahwa dirinya begitu berharga, bahwa ada dirinya yang mencintai perempuan itu sepenuh hati.

Tapi ia harus bersabar. Dirinya tak mungkin memperlihatkan sosok asli dirinya di hadapan Azure jika ingin seluruh rencananya berhasil.

Tanpa diduga oleh Azure, bukannya melawan kata-katanya, lelaki yang mengaku bernama Brick dengan corak mata dan rambut berwarna marun itu melemaskan tubuh. Menatap Azure dengan pandangan sendu penuh rasa bersalah.

“Maafkan aku,” ucapnya. “Aku kemari untuk menebus kesalahanku dan menawarkan sesuatu hal penting untukmu, Azure,” sambungnya.

Azure kembali terkekeh. “Tepat sekali dugaanku. Kau tak malu dengan klanmu yang berwibawa dan berhasil membuangku ke dunia ini lalu hendak mengemis maafku? Jangan harap,” desisnya dengan penuh perlawanan.

Brick tersenyum penuh kesakitan saat menjawab kemudian. “Tak tahukah kau, Azure? Akulah orang yang menyembunyikan dirimu dan klanmu dari kejaran Reddish serta seluruh klan warna. Aku tahu setelah kepergian kalian yang terpecah belah itu, akan ada badai besar yang menghantam negeri langit dan itu melibatkkan kau. Dirimu saat ini telah diburu oleh mereka untuk menjadi pengantin Reddish. Klan ungu telah kehilangan anggota terakhirnya dan mereka membutuhkanmu untuk membangkitkan kembali warna ungu,” jelasnya tanpa diminta.

“Tidakkah kau ingin pergi bersamaku saja yang telah menyelamatkanmu untuk menghindari kejaran Reddish? Kau pasti tahu seperti apa seorang Reddish. Kau akan dijadikan tawanan hanya untuk menciptakan bayi bagi keberlangsungan klan ungu. Sementara aku, aku tidak begitu. Aku menyembunyikanmu karena aku menyayangimu. Kita akan bersama-sama menciptakan kehidupan bahagia tanpa kekangan. Dan aku bisa membantumu untuk kembali membangkitkan kejayaan klan biru serta membangkitkan klan ungu dengan kekuatan kita sendiri,” ucapnya dengan ekspresi memohon.

Azure terpaku mendengar kalimat itu. Patah demi patah katanya ia ulang-ulang di kepala, seolah ucapan itu begitu rumit dan tak bisa ia terima. Kedua matanya memandang berganti-ganti pada Brick yang memandanginya dengan ekspresi sendu.

“Bagaimana Azure? Maukah kau pergi denganku?” tanyanya sekali lagi.

***

Ecru terduduk dalam diam. Memberi waktu dan menjamin keamanan kepada Reddish yang tengah bersila di atas peraduan, memejamkan mata, berkomunikasi dengan anggota-anggota rahasianya untuk memulai misi penyelidikan.

Saat ini mereka berada di salah satu hotel yang terletak tak jauh dari bar tempat keduanya menghabiskan waktu singkat untuk minum bir tadi.

Sesuai dengan keinginan Reddish bahwa segala sesuatunya harus dilakukan dengan berhati-hati, maka di sinilah mereka, melakukan komunikasi diam-diam melalui perantara pikiran yang tentu saja tak ada siapa pun tahu.

“Tuan Reddish, pemimpin kami.” Suara Vermilion, kepala penyelidik rahasia yang saat ini tengah melakukan meditasi yang sama dengan Reddish itu menyapa. Lelaki tua dengan penampilan merah pekat hampir mendekati warna cokelat saking tuanya usianya itu tengah berada di ruangannya yang berada di kastil merah.

“Vermilion. Aku perintahkan kau menjalankan tugas,” Reddish memulai perintah.

“Baik, Tuan. Penyelidikan apa yang sedang dibutuhkan oleh Anda? Saya akan menjalankannya dengan senang hati,” jawabnya dengan suara tuanya yang patuh.

“Aku ingin kau membantuku menyelidiki tentang sebuah kekuatan tersembunyi.”

Vermilion mengerutkan kening. Pikirannya yang semula meraba-raba tentang jenis tugas penyelidikan apakah yang akan ia laksanakan saat ini itu, merasa asing dengan perintah yang diberikan kepadanya saat ini.

Biasanya ia ditugaskan untuk menyelidiki suatu kasus yang berkaitan dengan makhluk langit. Misalnya saja untuk mengungkap tentang kasus pembunuhan, kekerasan, suap, atau politik yang melibatkan makhluk kasatmata secara langsung. Namun kali ini, ia mendapatkan tugas untuk menyelidiki tentang kekuatan tersembunyi?

“Kekuatan tersembunyi? Kekuatan seperti apa yang dimaksud oleh Tuanku?” Merasa tak bisa menelaah kebingungannya sendiri, Vermilion memutuskan  untuk bertanya.

“Aku menemukan kejanggalan dalam pencarian perempuan klan biru. Semua klan bahkan dewan warna sudah turun tangan untuk melakukan pencarian. Tapi kau tahu sendiri, bahkan aku yang sekarang berada di dunia manusia, mengawasi dengan mataku sendiri, tak bisa menemukan barang setitik kekuatan biru yang saat ini entah di mana. Aku curiga jika ada kekuatan tersembunyi yang sengaja menyembunyikan klan biru untuk tujuan tertentu. Oleh karenanya, aku membutuhkan bantuan mata jelimu.” Reddish memaparkan perintahnya dengan suara dinginnya.

Vermilion tersenyum tipis.

Ah, kekuatan tersembunyi. Jadi itu berkaitan dengan jenis-jenis kekuatan makhluk langit yang harus ia pelajari. Sepertinya ini akan menjadi tugas pertama baginya setelah sekian lama hanya menyelidiki tentang kasus makhluk langit yang membosankan.

Dengan penuh keyakinan dan percaya diri bahwa ia bisa menjalankan perintah tersebut dengan baik, Vermilion menjawab dengan suara tegas. “Baik, Tuan Reddish. Saya akan memulai penyelidikan tentang kekuatan itu dini hari ini juga dan akan melaporkannya jika ada perkembangan terkait. Adakah perintah tambahan atau batasan-batasan yang harus saya lakukan dan tidak lakukan?”

Reddish menghela napas. “Kerahkan anggotamu yang betul-betul ahli untuk mempercepat proses penyelidikan. Aku ingin menemukan jawaban dengan segera,” titahnya kemudian.

“Baik. Baik Tuan. Saya akan melakukannya,” jawabnya lagi sebelum pada akhirnya Reddish membuka mata dan memutus komunikasi di antara keduanya.

Mata biru Reddish menatap lurus ke depan. Memandangi pintu kaca yang saat ini lamat-lamat memperlihatkan pemandangan kota yang gelap dengan lampu-lampu kecil yang bekerlipan menyala hingga ujung penglihatannya. Lalu, kepalanya menoleh ke arah Ecru yang tengah mengawasinya.

“Kau, kembalilah dahulu ke negeri langit, Ecru,” ucapnya memerintah.

Ecru mengangkat sebelah alis. “Aku? Sendiri? Kau masih ingin di sini?”

Reddish menghela napas panjang. “Ya. Aku akan memulai perjalanan penyelidikanku dari arah yang berlawanan dari Vermilion. Dia dan anak buahnya akan memindai makhluk langit di negeri kita, dan aku akan memulainya dari benua ini. Kau tahu? Penyelidikan dan pemindaian di dunia manusia ini lebih sulit daripada di atas sana,” ujarnya dengan ekspresi serius.

Ecru mengembuskan napas kasar. “Ya, ya. Aku juga akan meminta anggotaku yang ahli di perpustakaan untuk membantumu mencari informasi,” ujarnya dengan nada serius yang sama kemudian.

“Bagaimana dengan dewan warna? Mereka masih melakukan pencarian juga sampai saat ini? Kau tak memperhatikan mereka?” Ecru bertanya ingin tahu.

“Biarkan mereka. Mari kita lihat siapa yang sebenarnya betul-betul berniat untuk segera menyelesaikan masalah ini dan siapa yang sedang mencari keuntungan dari persoalan ini. Aku yakin, cepat atau lambat, kita akan tahu yang sebenarnya,” tuturnya dengan dingin.

Ecru mengangguk-angguk menyetujui.

“Baiklah.” Lelaki itu beranjak berdiri. Lalu, sebelum ia melangkah ke pintu, kepalanya tertoleh lagi ke arah Reddish, seolah ada hal penting yang terlupa untuk diucapkannya.

“Apakah aku perlu mengirim salah seorang anggotamu untuk datang kemari mengawalmu? Barangkali kau akan membutuhkan bantuan dengan cepat nantinya?” tawarnya.

“Tak usah. Aku akan melihat situasi terlebih dahulu dan akan kuberitahu selanjutnya jika aku membutuhkan kalian. Lagipula, untuk apa aku dikawal jika kekuatanku lebih besar dari kalian? Aku bukan pengecut yang suka mengumpankan pengawal lemah dan duduk manis melihat pertarungan. Aku akan maju dengan tanganku sendiri. Tugas kalian hanyalah melaksanakan apa yang kuperintahkan,” ujarnya angkuh dengan menyipitkan mata.

“Ya, ya. Baiklah. Baiklah, Tuanku. Aku pergi dulu.” Ecru pada akhirnya melangkah menyeberangi ruang kamar yang begitu luas itu sebelum akhirnya membuka pintu balkon, membuat angin malam yang berembus kencang itu meniup-niupkan udara dinginnya dengan bebas ke dalam ruangan.

Ecru memantapkan langkah, menutup pintu di belakangnya dan segera melesat ke udara, meninggalkan jejak warna kuning yang memendar dan perlahan menghilang.

Reddish memutuskan untuk mulai mencari jejak saat itu juga. Oleh karenanya, ia segera bergegas bangkit dari atas peraduan. Ketika baru saja menapakkan kakinya di lantai berkarpet tebal itu, tiba-tiba saja ia dikagetkan oleh suara kelontang yang begitu keras dari luar ruangan.

Kening lelaki itu mengernyit. Lalu dengan penuh ingin tahu, ia melangkah menuju pintu, perlahan-lahan membukanya dan mengintip dari celahnya yang terbuka sedikit dengan penuh kehati-hatian. Pikirannya yang penuh antisipasi lalu mulai membuka pintunya lebar-lebar, kepalanya tertoleh ke kanan dan kiri secara penuh untuk memindai. Namun, tak ada siapa-siapa.

Apakah dirinya tanpa sadar telah diikuti?

Reddish memutuskan untuk memandang dengan penglihatan mata merahnya. Saat kedua matanya mulai menyala, saat itulah suara berdebum terdengar dari arah kiri. Memperlihatkan sesosok manusia yang terjatuh tak sadarkan diri di lantai lorong, dekat dengan tempatnya berdiri saat ini.

Manusia.

Reddish berkata dalam hati dengan penuh dilema, antara rasa ingin tahunya yang meluap dengan rasa tak acuhnya yang menganggap bahwa urusan manusia itu tak penting baginya. Namun, demi menjaga lokasi bersembunyinya saat ini benar-benar aman, Reddish mengalahkan rasa tak pedulinya dan melangkah mendekat untuk mengetahui secara pasti.

Kedua alisnya terangkat saat tahu jika sosok itu ternyata adalah seorang perempuan. Perempuan itu terluka, wajahnya tampak sedikit lebam dengan beberapa luka di tangan. Didorong oleh insting alaminya, Reddish mengambil tangan perempuan itu dan memeriksa tanda kehidupannya.

Perempuan ini masih hidup

Reddish menyimpulkan setelah merasakan ada detak lemah dari nadi di tangannya. Dengan tak peduli pada pertimbangan apa pun lagi, lelaki itu akhirnya membungkuk dan meraup perempuan dengan tubuh tinggi tetapi cukup ringan dalam gendongan lengan-lengannya itu.

Suara rintihan dan mengaduh pelan terdengar dari mulut mungil si perempuan, membuat Reddish mengernyit dan dengan cepat membawanya ke dalam kamar yang tadi ditempatinya.

Dibaringkannya perempuan itu perlahan di atas peraduan. Di saat itulah, Reddish melihat dengan jelas bagaimana raut wajah manis perempuan itu. Wajahnya pias dengan bibir gemetar, sementara luka lebam di pelipis tampaknya membuat perempuan itu mengalami sakit kepala hebat dan kesulitan membuka mata serta kesadarannya hampir tercabut.

Astaga. Apa yang dilakukan manusia perempuan malam-malam seperti ini dalam keadaan terluka?

Perempuan itu seolah kesakitan dengan amat sangat dan tanpa sadar mencengkeram tangan Reddish seakan membutuhkan bantuan kekuatan untuk melawan rasa sakitnya.

Reddish menggenggamkan tangannya pada tangan perempuan itu yang mencengkeram kuat di sebelah tangannya. Menangkupnya di sana, mengalirkan kekuatan cahaya api hangat miliknya dengan intensitas kekuatan kecil sehingga nyaman diterima oleh si perempuan.

Pasrah pada tubuhnya yang lemah, perempuan itu menerima dengan senang hati kehangatan menyembuhkan yang mengaliri tubuhnya. Nyaman dan membuat tubuhnya rileks dengan rasa sakit yang perlahan pergi dari tubuhnya. Rasa nyaman itu tanpa terasa menggodanya untuk jatuh tertidur dalam lelah yang kini menagih jatah istirahatnya yang tertunda.

Reddish mengangkat sudut bibirnya melihat bagaimana perempuan itu mulai tertidur dalam buaian kesembuhan yang perlahan menyelubungi tubuhnya.

Sebelum benar-benar terlelap, perempuan itu membuka matanya sedikit dengan kelopak matanya yang indah dipenuhi bulu mata tebal yang menghias di sana. Tampak di matanya, sosok seorang laki-laki berambut hitam dengan mata birunya yang memesona.

Astaga, dia tampan sekali. Ia seperti bertemu malaikat penolong baik hati yang baru saja menyelamatkan hidupnya.

Mulutnya bersikukuh ingin mengucapkan terima kasih, tetapi entah bagaimana, kantuk yang begitu kuat tiba-tiba menutup seluruh kesadarannya hingga kini ia benar-benar jatuh tertidur, pulas, dalam kehangatan yang nyaman di sekujur tubuh.

Reddish mengusap wajahnya kasar dan mendecak.

Astaga. Apa yang telah dia lakukan?

***

“Kau menemui perempuan itu?”

Suara tanya itu terdengar dengan nada penuh kemarahan. Matanya yang tajam memindai penampilan laki-laki di depannya itu dengan tatapan menilai.

“Dan kenapa penampilanmu berantakan seperti ini!” hardiknya lagi. “Siapa yang menghajarmu?”

Lelaki itu mengusap sudut bibirnya yang dialiri darah berwarna merah pekat akibat tamparan keras yang ditinjukan kepadanya oleh lelaki di depannya ini.

“Kami berduel,” jawabnya singkat.

“Apa? Kau berduel? Dengan perempuan itu? Dan kau kalah? Betapa memalukannya kau!” Tak habis-habis ia mengucapkan kata-kata menyakitkan untuk menyerang.

“Aku hanya ingin memastikan bahwa dia baik-baik saja dan membujuknya untuk ikut denganku. Bukankah itu yang kau inginkan? Bukankah kau ingin perempuan itu tak sampai ditemukan oleh Reddish? Sebab ia adalah satu-satunya yang tersisa?” ucapnya dengan menunduk. Meski begitu, ada keteguhan dalam nada suaranya yang tak bisa dibantah.

Dengusan keras terdengar kemudian. Ya. Benar. Dirinya memang ingin menghancurkan Reddish dengan segala cara.

Rencana yang begitu rapi telah ia susun sedemikian rupa dan menunggu waktu yang tepat untuk melaksanakannya. Tapi apa, anggota laki-laki yang begitu dibutakan oleh cinta ini rupa-rupanya tak bisa ia remehkan. Ia selalu bertindak gegabah menuruti perasaan tanpa memperhatikan risiko yang bisa saja datang dan menghancurkan semua rencana.

“Tahan omong kosong perasaan cintamu itu,” ucapnya dengan terengah kemudian menahan kesal. “Apa kau tak berpikir seandainya saja Reddish tengah turun ke bumi waktu itu dan melihat aura kekuatanmu yang aneh lalu menangkapmu? Akan jadi apa kau?” celanya.

Lelaki itu kian menunduk.

Ia hanya rindu. Begitu rindu pada Azure sehingga tanpa sadar terus mengikutinya dan tergoda untuk berinteraksi dengannya.

“Maafkan aku,” tuturnya lirih.

“Ah, sudahlah. Pergi dari ruanganku!” usir sosok misterius itu dengan pongah.

Lelaki itu sedikit membungkuk untuk menghormat, walau atasannya itu membalikkan badan tak melihat, lalu berjalan mundur beberapa langkah sebelum pergi menuju pintu dan keluar dari tempat itu.

Reddish.

Lelaki tua itu mengelus jenggot tebalnya dan menyebut nama itu beberapa kali. Apa yang sedang anak laki-laki itu lakukan sebenarnya? Mengapa ia seolah tak bertindak apa-apa?

***

Lelaki muda itu duduk di tepian taman. Taman itu tampak kelam dengan keseluruhan dedaunannya berwarna hijau tua pekat hingga nyaris hitam dengan bunga-bunganya yang kecil berwarna putih.

Sekali lagi ia mengusap sudut bibirnya yang terasa ngilu karena mendapat serangan dua kali dari orang berbeda yang sama-sama kuat. Napasnya terembus panjang saat mengingat bagaimana perempuan itu menyerangnya alih-alih memikirkan tawarannya.

Kedua matanya yang kelam itu menatap air mancur di tengah taman. Terpaku di sana, sementara pikirannya memutar kembali adegan panjangnya dengan Azure tadi.

“Bagaimana Azure? Maukah kau pergi denganku?” tanyanya sekali lagi.

Tanpa diduganya, perempuan itu mengeluarkan kekuatan birunya dari kedua telapak tangan dan menyerangnya dengan kekuatan penuh yang mematikan karena jarak mereka saat ini begitu dekat.

Lelaki itu seketika terlempar ke belakang dengan rasa dingin yang menyakitkan di area depan tubuhnya. Dingin yang sangat menusuk hingga membuatnya kesulitan untuk berdiri.

Azure menatap sinis. “Hanya begitu saja?” tanyanya mengangkat sebelah alis. “Di mana letak kekuatan klan merah yang katanya adalah yang terkuat dari klan lainnya? Apakah itu hanya omong kosong?”

Si lelaki masih memegangi dadanya yang terasa perih. Ekspresinya berubah gelap.

Tentu saja ia kalah. Ia bukanlah klan merah. Sementara Azure adalah perempuan klan biru yang kekuatannya berada di urutan persis di bawah klan merah, sama dengan kekuatan klan kuning yang saat ini berdiri di samping klan pemimpin itu.

Untunglah saat menerima serangan itu, penyamarannya sebagai lelaki klan merah tidaklah hilang.

Dengan tertatih, lelaki itu akhirnya mampu berdiri. “Tentu saja aku tak menyerangmu karena aku tak ingin melukaimu,” ucapnya serak kemudian.

“Oh ya? Bagaimana jika aku tak percaya? Bagaimana mungkin aku akan ikut denganmu sementara justru aku yang harus melindungimu?” ejeknya dengan keras kepala.

Satu hantaman kekuatan mengenai dengan tepat pundak Azure begitu ia menyelesaikan kalimatnya. Pukulan kekuatan itu begitu gesit dan cepat sehingga ia tak sempat mengantisipasi. Azure terjatuh menyamping dengan pelipisnya terantuk batu. Serangan itu hendak mengancamnya lagi tapi dengan cepat Azure menahan dengan sebelah tangan.

“Aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku tadi, Azure. Tidakkah kauingin memikirkannya?” desahnya dengan suara sengau.

Azure merasakan sebelah pundaknya seperti patah. Dengan sisa-sisa kekuatan tubuhnya, ia putus asa mengucapkan pengusiran kepada lelaki itu. “Pergilah! Aku ingin kau pergi dari hadapanku sekarang juga!” pintanya dengan ketus diiringi kekuatan birunya yang dengan sekuat tenaga ia lemparkan kepada lelaki klan merah itu.

Lelaki itu mengerjap saat gerimis menyentuh permukaan kulitnya. Ia tutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Menahan perasaan yang berkecamuk di dada.

 

Baca Parts Lainnya Klik Di sini

 

KONTEN PREMIUM PSA


 

Semua E-book bisa dibaca OFFLINE via Google Playbook juga memiliki tambahan parts bonus khusus yang tidak diterbitkan di web. Support web dan Authors PSA dengan membeli E-book resmi hanya di Google Play. Silakan tap/klik cover E-book di bawah ini.

Download dan install PSA App terbaru di Google PlayWelcome To PSAFolow instagram PSA di @projectsairaakira

Baca Novel Bagus Gratis Sampai Tamat – Project Sairaakira

9 Komentar

  1. famelovenda menulis:

    Azure, ucapanmu seakan2 menganggap bumi sebagai tempat buangan. Bagaimana dengan planet lainnya? Kenapa gak jadiin planet lain sebagai tempat pembuangan? Sery kalik yaaa kalo Azure dan makhluk langit lainnya interaksi ma para alien. :ohyeaaaaaaaaah!

    Ditunggu kelanjutannya, Bang. Makasih untuk update-nya. :lovelove

  2. Indah Narty menulis:

    Makasih update tannya :lovelove

  3. Yeayyy updatee!!

  4. Thanks dah update kak bin, ditunggu lanjutannya :lovelove

  5. Uwooo kekuatan biru beraksi..
    .brick..oh brick sape lu mau maen2 sm dede azure.. main tipu2 abang hot prince eh Red prince ati2 aja lu di dimasukin botol :backstab :backstab
    Brick ini klan apa ya 🤔🤔🤔
    Semangat kak bintang timurrr….

    1. Bintang Timur menulis:

      brick itu warna merah cerah mendekati merah bata, jadi doi nyamar jadi laki klan merah :kusetujuajah makasih Emi :lovely Emi pun :lovely

  6. Dian Sarah Wati menulis:

    Nyamar jadi Klan merah???pengecut…
    Ternyata ada rencana besar buat reddist

  7. Oh azzure hatimu benar2 terlukaaaa

  8. selinokt18 menulis:

    :lovelove :lovelove :lovelove