Red Prince

The Red Prince | Part 27 : Tidur Panjang

Bookmark

No account yet? Register

red prince cover - Copy

22 votes, average: 1.00 out of 1 (22 votes, average: 1.00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

 

Baca Parts Lainnya Klik Di sini

 

Tak terlihat apa pun di sana selain kegelapan. Ruangan itu didesain tanpa celah, berada di lantai paling bawah di antara ruang tahanan yang bersusun-susun. Satu-satunya sumber cahaya yang muncul di tempat itu adalah lubang berbentuk segi empat berterali selebar  tiga puluh kali tiga puluh sentimeter yang berasal dari ujung lorong. Itupun tak bisa tergapai sebab yang tampak dari sana hanyalah bayangan cahayanya saja, sementara lubang itu berada jauh di pucuk bangunan teratas. Mereka bisa melihat bias cahaya itu jika matahari sedang bersinar terik. Namun jika langit sedang mendung, maka tentu saja tak akan ada cahaya yang bersinar di sana. Ruangan itu sepenuhnya gelap seperti liang kuburan. Di sinilah mereka, para makhluk yang terlibat kasus kelas berat di negeri langit itu dipenjarakan.

Suara batuk-batuk lemah terdengar dari ruangan sebelah tengah kemudian. Suara perempuan.

Sosoknya tak terlihat, tenggelam dalam gelapnya ruang tahanan yang gulita itu. Namun, penjaga dan prajurit yang berdiri di depan gerbang itu tahu benar, siapa yang mengeluarkan suara batuk-batuk khas tersebut. Sebenarnya, mereka lebih memilih berjaga di gerbang utama saja daripada harus terus menerus mendengar suara itu, sebab perempuan itu adalah salah satu perempuan yang mereka junjung tinggi selain pemimpin negeri mereka. Tapi apalah daya, ia sendiri yang memilih di mana ia ingin diletakkan, dan seperti tak peduli, Reddish memenuhinya dengan bahagia.

“Carmine ….” Suara serak tertahannya memanggil entah ke berapa kali. Kedua matanya yang cekung itu menatap lemah pada kegelapan di hadapannya.

Sepertinya, ucapan-ucapan pemimpin klan yang sebelumnya hanya dianggapnya menakut-nakuti itu salah besar. Karena ternyata, ruang penjara paling bawah dengan nuansa paling gelap itu tidak hanya sekadar pemandangan gelap tanpa cahaya. Tapi benar-benar membuat siapa saja yang berada di dalamnya akan merasa tersiksa seolah lebih baik dikubur sekalian lalu mati daripada harus hidup dengan penuh gelap pekat yang menyesakkan tersebut.

Candy beringsut dari posisi tidurnya yang bergelung memeluk tubuh. Beralih menghadap ke arah tembok dingin dengan sebelah tangannya meraba-raba di sana. Perempuan itu tersiksa oleh kepercayaannya sendiri jika lelaki yang ia lihat beberapa waktu lalu dengan tubuhnya yang berwarna ungu itu adalah Carmine, kekasihnya yang dahulu pergi. Penelitiannya berhasil membuktikan jika Heather adalah lelaki klan merah itu, tetapi hal yang lebih menyakitkan dari sekadar membongkar rahasinya sendiri di depan Reddish adalah kenyataan jika ternyata lelaki itu sudah tak mengharapkannya lagi. Lelaki itu terang-terangan menolak kehadirannya dan bahkan sama sekali tak mau barang memberi sepatah dua patah kata untuk mengobati kerinduannya. Jadi lebih baik ia berada di sini. Menyepi dalam kegelapan dan menanti kematian menjemput tubuhnya.

Tanpa pernah Candy tahu, di sudut yang lain di dalam lantai terbawah ruang tahanan itu, meringkuk Carmine dengan tubuhnya yang hancur. Warna merahnya telah kembali ke dalam rupa seperti bercak-bercak darah di seluruh permukaan kulitnya sebagai akibat ia tak pernah lagi meminum ramuan ungu yang dulu sering diminumkan oleh Navy saat lelaki biru itu mengira jika dirinya adalah lelaki klan ungu lemah yang membutuhkan asupan warna untuk bertahan hidup.

Lelaki itu tak tahu dan tak bisa menghitung lagi. Telah berapa lama ia berada dalam tidur matinya sampai ia terbangun dengan penuh terkejut saat mendapati jika tubuhnya berubah seluruhnya menjadi berwarna ungu. Keterkejutan semakin membunuhnya tatkala ia berada di tengah-tengah lapang saat upacara pernikahan Reddish dan Azure itu digelar. Ia melihat bagaimana Candy dengan penuh semangat memanggil-manggil namanya.

Sungguh di dalam hatinya, Carmine sangat ingin menyambut panggilan itu dalam pelukan hangat penuh kerinduan yang telah ia nanti selama bertahun-tahun lamanya. Namun ia urung. Ia tahu jika dirinya telah menumpuk kesalahan yang tak sedikitpun perempuan itu tahu. Ia merasa tak layak mendapatkan cinta perempuan itu lagi. Dia adalah pengkhianat yang pantasnya berada di tempat gelap ini. Menanggung konsekuensi yang memang seharusnya ia jalani sejak bertahun lampau.

***

Reddish belum beranjak dari sisi ranjang menanti okultis perempuan yang menjanjikan padanya jika hari ini hasil pemeriksaan Azure telah bisa dilihat. Begitu banyak hal yang sebenarnya harus Reddish tangani di ruang kerjanya, tetapi lelaki itu meminta izin kepada ajun-ajunnya untuk meminta waktu lebih hingga istrinya selesai ditangani.

Lelaki klan merah itu berkata tegas seperti biasanya kepada para prajuritnya yang akan menyampaikan pesan itu kepada para pemimpin klan yang lain. Meskipun sesungguhnya Reddish sedang dibuat malas untuk pergi karena harapannya yang mulai pupus. Azure tak juga menampakkan kondisinya yang semakin baik. Justru pagi ini, saat Reddish terbangun dari memaksa tidurnya yang sama sekali tak nyenyak, ia melihat wajah perempuan biru itu yang semakin pucat. Ramuan yang beberapa waktu lalu diberikan oleh okultis perempuan itu sama sekali tak membantu, sama seperti kekuatan merahnya yang seolah menolak memberi kesembuhan pada tubuh istrinya.

Reddish sungguh sulit menerima ini semua. Lelaki itu berdiri dengan ekspresi jengkel yang berusaha ia tahan sekuat tenaga. Ia kecolongan sekali lagi dan hampir membuat semua makhluk celaka seandainya Azure tak datang waktu itu dan melemahkan semua kekuatan lawan yang sekiranya akan menghabisi nyawanya.

Kekuatan tak kasatmata itu tak bisa dianggap remeh. Bagaimana bisa kekuatannya yang tak terkalahkan itu bisa diluluhkan begitu saja oleh kekuatan tak jelas semacam itu?

Reddish berdiri dengan pandangan menerawang jauh sembari berpikir keras. Jika saja kastil dan terutama ruangan-ruangan pribadinya ini telah terlindung oleh kekuatan besarnya yang sulit dimasuki oleh sembarang makhluk, maka, satu-satunya alasan kekuatan itu bisa menembus dirinya adalah karena ada pengkhianat yang berada di dekatnya.

Lelaki itu mengingat-ingat betul setiap jengkal peristiwa yang ia alami dan memikirkan sekecil mungkin kemungkinan yang barangkali terlewat oleh matanya yang awas.

Selama bertahun-tahun ia melatih prajuritnya sebagai pelayan di kastil merahnya ini, Reddish selalu menerapkan sistem kedisiplinan super ketat dan tak menoleransi kesalahan. Pelayan yang tinggal di kastilnya adalah para pelayan yang memiliki keahlian di atas rata-rata dalam bidangnya, baik itu dalam melakukan pengawalan, penyajian minuman, dan peraturan lainnya yang harus mereka penuhi. Jumlah mereka sangat banyak dan Crimson, sebagai pengawalnya langsung, telah memastikan semua halnya berjalan sesuai yang Reddish inginkan. Satu saja kesalahan pelayan lakukan, maka sebagai proses kehati-hatian, ia akan memasukkannya ke dalam tahanan dan diinterogasi sebagai proses penjaringan ulang.

Sebelah alis Reddish terangkat saat otaknya memutar ingatan tentang seorang pelayan yang dimasukkannya ke dalam ruang tahanan setelah memecahkan botol minuman di depan ruang kerja miliknya.

Didorong oleh pemikirannya yang serba berhati-hati, Reddish menghubungi kepala prajurit yang menjaga ruang tahanan miliknya untuk mengecek satu persatu tahanan yang menghuni ruang tahanan di kastil miliknya itu.

“Ada lima belas tahanan yang kesemuanya adalah bekas pelayan di lantai ruangan utama milik Anda, Tuan.” Pemimpin prajurit itu menyahut kemudian dari tempatnya berjaga. Tubuhnya tampak diam mematung dengan mata memejam saat mendapati Reddish memanggilnya melalui kekuatan pikiran.

“Aku akan pergi ke sana siang nanti sebelum kembali ke meja kerja. Persiapkan mereka semua agar berada di depan terali besi sehingga aku mudah untuk bertemu mereka,” titahnya kemudian.

“Anda … eh, akan datang kemari mengecek sendiri? Tidakkah kami bisa membantu, Tuan?” tawarnya dalam kebimbangan penuh keraguan. Tidak biasanya pemimpinnya itu datang ke ruang tahanan yang penuh kotor dan gelap ini. Dalam proses penghakiman, biasanya kepala prajurit dan prajurit-prajurit tangguh lainna yang akan memberi keputusan, apakah pelayan tersebut layak dihapus hukumannya atau akan tetap ditahan sampai waktu yang telah ditentukan sesuai jenis kesalahan yang dilakukan oleh pelayan tersebut.

Reddish menghela napas panjang. “Ada sesuatu yang harus kulakukan. Dan itu hanya bisa kulakukan seorang diri,” jawabnya penuh misteri  sebelum segera memutus percakapan begitu saja.

Lelaki itu membalikkan badan, menatap kembali sosok sang istri yang begitu keras kepala, belum juga mau membuka mata. Waktu terasa sangat lama untuk menunggu okultis itu datang. Reddish dengan auranya yang sudah tak sabar itu berjalan mendekat ke arah ranjang, membungkuk, dan menciumi wajah Azure, menggodanya dengan putus asa.

“Tuan. Tuan Reddish!” seruan panggilan dari arah pintu ruang peraduannya itu cukup mengejutkan hingga hampir-hampir lelaki klan merah itu membuang energinya dengan melempar kekuatan merahnya ke sembarang arah.

Reddish beranjak dan melangkah hingga suaranya bisa dijangkau oleh telinga okultis perempuan yang cukup kurang ajar untuk meneriakinya itu.

“Masuklah tanpa berteriak. Atau aku akan membunuhmu!” Reddish memasang ekspresi geramnya ketika berucap.

Mendengar teguran seperti itu, ekspresi sang okultis yang semula cerah ceria dan penuh semangat tersebut menggigil seketika. Dia tak bisa menahan suka cita seorang diri begitu mengetahui kabar baik yang ia bawa dan ingin segera membaginya bersama pemimpinnya itu.

Perlahan-lahan dengan kepala menunduk, perempuan klan merah itu berjalan mendekati ruang kamar, ke arah Reddish berdiri di ambang ruang peraduannya seolah tak mengizinkannya untuk mendekat ke tepi ranjang tempat perempuan klan biru itu berada.

“Apa yang kau bawa?” Reddish bertanya setelah okultis itu berhenti beberapa jarak darinya.

“Sa-saya … membawa kabar yang sangat baik, Tuan. Dari hasil pemeriksaan saya-“

“Katakan intinya saja, jangan berputar-putar ke penjelasan yang tak perlu. Aku tidak sesabar itu menunggumu berbicara!” sergahnya dengan ketus. Seolah Reddish baru saja diminta menunggu okultis itu datang selama seratus tahun lamanya hingga lelaki itu kehilangan kesabaran.

Perempuan okultis itu menunduk kian dalam dengan tubuhnya yang lemas oleh ketakutan.

“Nona Azure hamil, Tuan,” ucapnya lantang kemudian dalam satu tarikan napas.

Reddish yang semula dipenuhi emosi itu membeku seketika. Perasaannya yang semula hancur karena kondisi Azure yang tak bisa dipastikan itu berubah menjadi perasaan berdesir yang membuatnya ternganga.

Dengan berat dalam gerakan kaku, Reddish menoleh ke arah peraduan di mana Azure terbaring di sana. Pandangannya lantas tertuju ke arah perut sang istri yang saat ini tentu saja belum berubah, tetapi kini membuatnya begitu ingin menyentuh dan memujanya dengan penuh cinta seperti makhluk laki-laki yang gila oleh cinta kepada kekasihnya.

“Hamil …,” ucapnya lirih, memastikan kepada dirinya sendiri dengan ekspresi terkejutnya yang tak bisa ditahan.

***

Kastil merah dilanda keriuhan setelah kabar kehamilan Azure tersebar luas. Para pelayan bahkan prajurit turut berbisik-bisik dengan ekspresi penuh suka cita yang  sulit diungkapkan dengan kata-kata. Setelah sebelumnya kastil merah dilingkupi nuansa mencekam karena Reddish yang terus menerus murka dan tak bisa menahan gejolak hatinya karena keadaan Azure yang tak menentu, kini semua makhluk turut merasakan betapa lega dan bahagianya mendengar berita tersebut.

“Tapi kenapa istriku belum juga terbangun?” Reddish berdiri dengan bersedekap, menatap dengan mata sendu dan ekspresi wajahnya yang keras ke arah Azure yang masih saja anteng di atas peraduan, tak peduli keadaan apa pun yang ada di sekitarnya. Tak peduli jika Reddish seperti tengah kesetanan karena perempuan itu tak juga sadarkan diri.

Reddish tentu saja tahu seperti apa keadaan makhluk-makhluk perempuan yang sedang mengandung di dunia langit ini. Lelaki merah itu telah berulang kali menyaksikan sendiri bagaimana para perempuan harus menahan rasa tak nyaman dan terus menerus meminum ramuan kesehatan untuk menjaga agar dirinya dan makhluk bayi yang sedang dikandungnya itu terus berada dalam kondisi sehat hingga waktunya kelahiran nanti. Namun, belum sekalipun Reddish mengetahui kondisi kehamilan makhluk seperti Azure saat ini.

Okultis itu berkata jika kondisi aura biru Azure dalam keadaan baik-baik saja bahkan meningkat pesat seiring usia kehamilannya yang terus bertambah dari waktu ke waktu. Lalu, seolah baru teringat sesuatu hal yang penting, Reddish memundurkan langkahnya dan segera memasang  sikap bermeditasi. Kedua tangannya terangkat dan kedua matanya memejam.

Hanya satu makhluk yang sepertinya akan bisa menjawab pertanyaannya tentang keadaan Azure  ini. Vermilion.

Pikiran Reddish berkelana memanggil nama Vermilion yang saat ini pastilah sedang berada dalam konsentrasi tingkat tingginya dalam bermeditasi. Hanya Reddishlah satu-satunya yang makhluk yang akan disambut dengan bahagia jika lelaki itu datang menemuinya dengan kekuatan pikiran meski Vermilion tengah bermeditasi. Selain pemimpin klan merah itu, Vermilion melarang keras dan tak segan-segan menyerang siapa pun yang berani menghampirinya ketika tengah semadi.

Namun kali ini, berkali-kali Reddish memanggil nama lelaki klan merah itu di dalam pikirannya, tak juga ada suara Vermilion yang menyahut. Lelaki klan merah itu entah sedang disibukkan dengan apa sehingga tak bisa menerima panggilan kekuatan pikiran dari Reddish.

“Crimson.” Reddish memanggil beriringan dengan kedua matanya yang terbuka.

Lelaki klan merah yang selalu siap sedia di depan pintu kamarnya itu seketika menyahut. Menghadapkan tubuhnya ke dalam ruangan dan menjura ke arah Reddish.

“Bawa Vermilion ke ruang kerjaku,” titahnya dengan gerahamnya yang berkedut menahan marah, melirik sebentar ke arah Azure dengan ekspresi sendu lantas melangkah cepat keluar ruangan. Tak peduli pada sang okultis yang kebingungan ditinggalkan berdua bersama sang maharani.

Aura Reddish menyala tipis memendar di ruangan, membuat okultis perempuan itu seketika menunduk dengan bulu roma berdiri menahan takut. Sejenak, Crimson menyempatkan diri untuk masih menghadapkan tubuhnya ke dalam ruangan sehingga sang okultis itu melebarkan mata saat pengawal pemimpin besar klan merah itu berbicara dengan isyarat telapak tangannya yang menghadap ke depan sembari mengangguk, memerintah perempuan okultis itu agar tetap di dalam ruangan, berjaga jika terjadi sesuatu kepada Azure.

Dengan senyum kaku dan balas mengangguk, perempuan itu pada akhirnya menghela napas dan menyetujui perintah tersebut lantas kembali duduk di tempatnya seperti patung, tak berani bergerak tanpa diperintah.

***

Di tengah-tengah perjalanan singkat menuju ruang kerja miliknya, Reddish yang tengah diburu oleh ketidaksabaran itu seolah diberi petunjuk oleh semesta sehingga meskipun dalam keadaan kesal luar biasa, perhatian sebelah matanya yang buta warna itu melihat seberkas asap abu-abu yang menguap dari lantai di sisi dinding.

Reddish seketika menghentikan langkah dan berjongkok. Tidak salah. Asap ini berasal dari bekas cairan yang sepertinya tumpah.

Tumpah.

Lelaki klan merah itu mengernyitkan dahi. Telah menjadi peraturan baku bagi pelayan kastil merah jika mereka dilarang melakukan kesalahan sekecil apa pun untuk menghindari kekacauan. Para pelayan harus bekerja dalam kondisi tubuh yang prima. Mereka terlatih untuk bekerja dengan sempurna tanpa mengenal kesalahan.

Jika dilihat-lihat, untuk apalah Reddish membuat persyaratan sesulit itu di dalam pekerjaan mereka yang hanya melayani jamuan minum para makhluk? Ternyata, inilah salah satu alasannya sehingga Reddish membuat hal tersebut sebagai aturan.

Lelaki klan merah itu telah banyak mengamati bahwa pelayan yang betul-betul bekerja dengan kondisi siap serta pikiran yang fokus, mereka akan benar-benar menjadi pelayan yang sempurna dan tuntas menjalankan tugas. Sedangkan jika salah satu saja faktor tersebut tak terpenuhi, maka …

Pandangan Reddish menatap ke depan. Teringat sebuah peristiwa kecil yang menghubungkannya dengan asap mencurigakan ini.

Pelayan merah!

Crimson memberitahunya jika ada salah satu makhluk pelayan yang menumpahkan minuman tepat di depan ruang kerjanya ini dan dengan cepat seperti biasa ia langsung memenjarakannya di ruang tahanan.

Sebelah tangan Reddish menjangkau asap yang masih mengepul kecil itu dan mengamatinya benar-benar. Sungguh anugerah karena sebelah matanya yang tak tertutup lensa itu bisa melihat sesuatu yang tak bisa tampak di mata makhluk biasa. Geraham Reddish mengetat dengan aura merah yang mulai memendar dari tubuhnya.

Seharusnya ia bisa menyelesaikan urusan ini sedari awal jika saja ia melihat keanehan ini lebih teliti. Berani-beraninya makhluk-makhluk bedebah itu menyerangnya dari belakang.

“Tuan Reddish.” Suara Vermilion yang berat menyapanya dari arah belakang. Lelaki tua klan merah itu menjura hingga Reddish berdiri serta mengangguk menerima penghormatannya.

“Dari mana saja kau?” tegur Reddish kemudian.

“Ampun, Tuan. Saya baru saja selesai membersihkan rak-rak buku di ruang perpustakaan dan meninggalkan semadi,” jawabnya seraya menunduk. “Apa … apa yang Tuan lakukan di sini?” Vermilion mengangkat sebelah alisnya ketika kepalanya yang menunduk itu melihat sebelah tangan Reddish yang diliputi sesuatu seperti kabut yang muncul hilang mengelilingi kepalan tangannya.

Pandangan Reddish merendah seiring sebelah tangannya yang terangkat. “Aku baru saja menemukan kekuatan ini di sini,” ujarnya mengedikkan kepala, menunjuk ke arah lantai yang dipijaknya.

Vermilion seketika berjongkok dan turut pula menyentuhkan sebelah tangannya pada kabut tipis itu dan mengernyit. “Ini adalah sisa-sisa kekuatan jiwa yang tertinggal karena menyentuh permukaan benda.” Lelaki klan merah itu mendongak dan menatap Reddish dengan teliti. “Bagaimana ini bisa ada di sini, Tuan?” tanyanya lantas berdiri.

“Seseorang membawanya kemari,” jawabnya sembari mengepalkan tangannya rapat, membuat asap hitam itu berkumpul dalam genggaman tangannya lantas meledak kecil, bekerlipan menjadi kristal-kristal merah yang beterbangan di udara dan memendar hilang bersama angin yang berembus di ruangan itu.

“Ah, aku punya hal lain yang harus kubicarakan denganmu.” Reddish berdeham dan membalikkan badan, melanjutkan perjalanan menuju ruang kerjanya yang tinggal beberapa langkah. Lupa akan kemarahannya pada lelaki klan merah itu yang tak bisa dihubungi olehnya tadi. Dia teringat Azure dan segala hal selain itu lenyap seketika dari pikirannya, termasuk urusan kekuatan dari pelayan merah itu.

“Baik, Tuan.” Vermilion menjawab sembari megembuskan napas perlahan. Keberuntungan sepertinya sedang bersamanya kali ini karena ia tak harus menerima kemurkaan pemimpinnya itu dulu sebelum menerima tugasnya yang lain.

Reddish berdiri menghadap dinding kaca besar di ruangannya, membelakangi Vermilion. Kedua mata merahnya menatap awan-awan yang bergerak di kejauhan, tubuhnya tampak kaku ketika mulutnya mulai mengurai apa yang kini sedang mengganggu pikirannya. Tarikan napasnya terdengar panjang, sebelum ia mulai berucap,

“Apa yang sebenarnya terjadi pada istriku? Apakah ada yang salah dengan kehamilannya?” Reddish membalikkan badan seketika, membuat Vermilion hampir terloncat karena terkejut.

Lelaki tua klan merah itu berdeham. “Hampir sama seperti ibunda Anda saat mengandung Anda, Tuan Reddish,” jelasnya dengan senyum tipis menghiasi bibir.

Kening Reddish berkerut, penuh tanya dengan ekspresi yang mulai tersulut kemarahan. Dia teringat benar bagaimana makhluk-makhluk terdekatnya membicarakan ibunya yang sakit-sakitan ketika mengandungnya sebelum pada akhirnya harus menyerah pada kehendak semesta yang mengharuskannya pudar. Reddish tak mengenal ibunya dengan baik, tetapi kebaikan sang ibu selalu melingkupinya meskipun ia tumbuh menjadi sosok lelaki kuat yang penuh dengan amarah. Ia dikatakan lahir sebagai pelindung dunia langit karena berkat kehadirannya, kemunculan awan merah yang akan melahap habis pelangi semesta itu berhasil dimusnahkan. Kekuatan besar awan merah itu lenyap di tangan Reddish yang masih bayi, memperbesar tanda lahir api di pergelangan tangannya, membuatnya kuat seperti sekarang.

“Apa maksudmu, Vermilion?” Reddish bertanya bersamaan dengan sebelah tangannya yang mencengkeram leher Vermilion, membuat lelaki tua itu terkesiap.Kedua mata merahnya menatap tajam sang lelaki tua.

Jauh di dalam hati Reddish, sungguh ia tidak sedang marah. Lelaki klan merah itu sedang takut. Takut jika apa yang terjadi pada ibunya harus terjadi pula pada Azure karena kehamilan itu.

Reddish melepaskannya dengan kasar kemudian. Napasnya terengah.

“Ampun, Tuan. Kenapa Anda marah? Bukankah Anda seharusnya bahagia karena keturunan yang kuat seperti Anda akan segera lahir?” tanyanya seraya mengusap lehernya dengan gemetar.

Reddish bergeming di tempatnya. Membuat suasana sepi itu menjadi tegang, seolah Vermilion sedang diperhitungkan, akan seperti apa caranya lelaki itu mati.

“Sa-saya merasakan kekuatan unik dari makhluk yang dikandung oleh yang mulia Maharani. Hal itu tentu saja karena aura merah yang sangat besaar milik Anda menyatu dengan kekuatan air milik Nona Azure. Anda tahu? Aura ungu adalah aura tertinggi di dunia langit dan dunia manusia. Makhluk-makhluk pemiliknya pastilah memiliki sesuatu yang besar yang tidak kita sangka-sangka,” paparnya dengan lantang, menghapus suara gugupnya agar Reddish tak semakin murka.

“Saya … bisa memastikan sama seperti okultis itu, Tuan. Nona Azure dalam kondisi baik. Hanya  saja, kami masih belum bisa memberi kabar yang niscaya untuk Anda tentang apa yang sebenarnya menimpa Nona Azure, tentang kekuatan macam apa yang dimiliki oleh calon putra Anda,” jelasnya kembali dengan nada pasti.

Tubuh Reddish sedikit melunak mendengar penjelasan yang menghibur itu. “Jadi, istriku tidak akan menjadi sakit-sakitan karena mengandung anakku, bukan?” Reddish menodong kepastian dengan nadanya yang menyeramkan.

Vermilion berdeham. “Tentu saja tidak, Tuan. Anda hanya harus mematuhi jadwal ramuan yang harus dikonsumsi oleh Nona agar kehamilannya berjalan baik hingga waktunya putra Anda lahir nanti.” Lelaki itu tersenyum tipis, berharap Reddish bisa luluh oleh kata-katanya dan menghilangkan segala kecemasan yang tak perlu.

Reddish kembali membalikkan badan, memandangi apa saja yang bisa ia lihat di balik kaca. Kali ini, pelangi semesta tampak bercahaya di atas langit, awan-awan seakan menyingkir, memberi waktu pada Reddish untuk bisa menikmati warna-warnanya yang indah.

“Warna ungu telah menyala, Tuan. Saya yakin akan semakin cerah seiring kehamilan Nona yang mendekati waktu persalinan setahun ke depan.”

“Tidak bisakah dipercepat?”

Vermilion mendongak dan menatap Reddish yang memunggunginya. “Eh, apanya yang dipercepat, Tuan?”

“Kelahiran anakku.” Reddish menjawab cepat.

Vermilion berdeham lagi. Dari sekian banyak persoalan di negeri langit yang pernah dihadapinya, baru kali inilah dirinya mendengar permintaan seaneh itu dan tentu saja ia bingung harus berkata apa sebab  mana mungkin kelahiran makhluk bisa dimanipulasi sesuai keinginan sendiri?

“Aku tidak ingin istriku menderita terlalu lama dengan kehamilan itu,” ucapnya tegas. “Ah, sudahlah. Kau tak mengerti. Kembalilah ke tempatmu dan selalu bersiaplah saat aku memanggil.” Reddish menukas ucapannya sendiri tanpa memberi kesempatan Vermilion menyahut. Lelaki merah itu melangkah keluar ruangan dan kembali ke ruang peraduannya dengan tergesa-gesa.

***

Masih sepeti ketika Reddish pergi, okultis perempuan itu masih mematung di tempatnya duduk. Reddish hampir-hampir melupakan keberadaannya ketika lelaki itu masuk ke ruang kamarnya.

“Kau, pergilah. Datanglah cepat saat aku membutuhkanmu,” perintahnya lantang.

“Baik. Baik, Tuan,” sahutnya cepat dengan bahagia lantas begegas meninggalkan ruangan dengan penuh suka cita.

Reddish sempat mengamati bagaimana perempuan itu pergi, lantas mengangkat sebelas alis dengan ekspresi heran oleh sikapnya yang aneh tersebut.

“Tidakkah kau bisa mengecilkan suaramu ketika berbicara?”

“Tentu saja tidak. Aku-“ Reddish menjawab spontan dan menghentikan ucapannya ketika menyadari dari arah mana suara itu berasal. Lelaki itu menoleh cepat.

Suara Azure!

“Azure?” Reddish melangkah lintang pukang mendekati peraduan. Ia seketika membungkuk dan mengusap dahi istrinya lembut dengan alis bertaut. “Bagaimana keadaanmu? Bagian tubuhmu mana yang  tak nyaman?” tanyanya penuh kecemasan.

Azure terlihat begitu berat membuka kelopak matanya. Sebelah tangannya tampak terangkat dan mulai mengusap-usap kelopak matanya hingga membuka, memperlihatkan warna biru di kedua pupil matanya nan indah, tatapan mata yang begitu Reddish rindukan.

“Aku masih mengantuk dan kau berisik sekali. Aku ingin tidur sebentar lagi.” Azure berkata ringan sembari memiringkan tubuhnya membelakangi Reddish, membuat lelaki klan merah itu membelalak dan ternganga saking terkejutnya.

“Tidur? Kaubilang tidur, Azure? Aku dan semua makhluk sangat mengkhawatirkanmu dan ternyata kau sedang tidur?”

 

Bersambung ….

Baca Parts Lainnya Klik Di sini

6 Komentar

  1. rhafatimatuzzahra menulis:

    :ohyeaaaaaaaaah! :ohyeaaaaaaaaah!

  2. Jayaning Sila Astuti menulis:

    w :ohyeaaaaaaaaah! :ohyeaaaaaaaaah! :ohyeaaaaaaaaah! :ohyeaaaaaaaaah!

  3. Reddish kena prank…😅

  4. Kirain teh sakit apa gitu ternyata tidur.

  5. selinokt18 menulis:

    Wkwkwkwk tidur :ohyeaaaaaaaaah!

  6. Kenak deehh :ohyeaaaaaaaaah!