Red Prince

The Red Prince | Part 25 : Dukungan Maharani

Bookmark

No account yet? Register

red prince cover - CopyRed 3

15 votes, average: 1.00 out of 1 (15 votes, average: 1.00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

 

Baca Parts Lainnya Klik Di sini

Ruang aula kastil putih itu telah dipenuhi dengungan suara para makhluk yang datang memenuhi undangan. Para pemimpin klan dan beberapa anggota koloni warna yang diminta hadir dalam rapat besar pemimpin klan tersebut turut hadir mengisi kursi rapat. Mereka semua duduk berkelompok dengan dahi mengernyit, dilengkapi ekspresi serius yang membuat nuansa ruangan itu menjadi tegang.

Semua perwakilan warna yang ada di sana tampak berkali-kali menengok ke arah pintu utama dengan cemas. Berharap jika Reddish mendadak menganulir keputusannya untuk mengundurkan diri, sehingga mereka tak harus berhadapan langsung dengan pemimpin mereka dalam keadaan sengit seperti ini.

“Kau adalah sahabat Reddish, Ecru. Tidakkah kau ingin membujuknya agar rapat besar ini tak harus terjadi?” Shamrock berseru dari tempat duduknya yang agak jauh dari pemimpin klan kuning itu.

Ecru yang sedari tadi hanya melamun dan sama sekali tak turut  berbincang-bincang dengan anggotanya itu menoleh dengan lesu ke arah Shamrock.

Lelaki klan kuning itu sama sekali tak tahu dengan rencana Reddish kali ini. Apakah Reddish benar-benar ingin mundur dari jabatannya karena alasan pribadi yang tak ia ketahui? Ataukah ini hanya semacam jebakan untuk mengundang anggota koloni klan biru agar datang ke rapat besar ini demi menyelesaikan kesalahpahaman masa lalu? Tapi untuk apa? Bukankah Reddish telah memiliki Azure kali ini?

Terlihat Ecru menghela napas. “Maafkan aku. Kali ini, aku benar-benar tak bisa berbuat apa-apa. Semoga saja ada keajaiban yang datang sehingga Reddish mau mengurungkan niatnya,” sahut Ecru dengan senyum kaku di wajahnya.

Di sudut lain, Mocha terlihat sama resahnya seperti pemimpin-pemimpin klan yang lain. Ia hanya berharap jika Azure paham akan maksudnya memberitahukan rahasia pahit tentang masa lalu ayah perempuan itu. Tempo hari, karena waktu yang sungguh tak memberi banyak kesempatan padanya untuk bercakap-cakap lebih lama dengan Azure, Mocha jadi tak bisa memastikan apa pun untuk hari ini. Memastikan ke mana perempuan itu akan melangkah. Apakah Azure akan bertahan? Ataukah perempuan itu akan melanjutkan niatnya untuk pergi dari sisi Reddish dan menambah runyam rencana para koloni untuk mencegah Reddish pergi?

Suara derit pintu utama terdengar memompa jantung para makhluk di sana menjadi lebih cepat. Sungguhlah kali ini Reddish yang akan menjadi tokoh utama dalam rapat besar kali ini. Reddish yang menjatuhkan dirinya dalam persoalan pelik ini dan keputusan akhir ada di tangan mereka para anggota. Namun, mengapalah harus mereka yang menjadi waswas?

Tampak perlahan dari pintu yang terbuka itu adalah para dewan warna yang memasuki ruangan. Jade memimpin langkah, diikuti White, Raven, dan Alabaster di langkah terakhir. Para pengawal yang mengiringi mereka berhenti di depan pintu, berbaris berjejer di samping kanan dan kiri pintu sebelum kemudian prajurit terakhir menutup pintu tersebut, melegakan sedikit perasaan gelisah di hati para makhluk warna yang menyemogakan ketidakdatangan Reddish.

Para dewan warna itu berjalan tegap menuju tengah ruangan. Masing-masing dari mereka menempati kursi yang telah disediakan sesuai kebiasaan, seiring suara-suara yang semula riuh ramai itu perlahan hening, memberi waktu kepada keempatnya untuk mempersiapkan diri sebelum rapat besar itu dimulai.

Para pemimpin klan yang duduk di barisan terdepan itu saling menoleh saat melihat jika ekspresi para dewan warna itu tak lebih baik dari mereka. Jade terlihat yang paling muram, sementara White yang biasanya menampilkan ekspresi cerah tetapi sinis itu kini melipat dahi dengan ekspresi keruh.

Jade berdeham tipis, lalu memasang ekspresi datar sebisanya dan membuka rapat hari itu.

“Selamat datang kepada seluruh pemimpin koloni dalam rapat besar pemimpin klan kali ini. Terima kasih telah menjadikan agenda ini menjadi kegiatan utama sehingga para pemimpin klan yang terhormat ….” Jade melirik kursi pemimpin klan biru yang kosong seperti biasanya. “Dapat hadir seluruhnya,” lanjutnya dengan tegas kemudian, menafikan dengan terang-terangan keberadaan klan biru pada perkumpulan warna di tempat itu.

“Seperti biasanya, sebelum rapat dimulai, kita akan mengunjukkan persembahan kepada para dewa untuk meminta petunjuk agar hasil dari rapat besar ini benar-benar berakhir menjadi yang terbaik untuk negeri.” Jade menunduk merapal bacaan-bacaan doa, lalu memimpin semua makhluk menguarkan aura warna mereka dari kedua tangan. Membubungkannya ke langit-langit aula, mengudara saling berpilinan satu sama lain menjadi lingkaran warna besar. Dari mulut mereka terucap mantra-mantra dengan bahasa langit yang terdengar sayup-sayup merdu nan menggetarkan jiwa.

Suara mereka serempak, seiring warna-warna yang memendar di seisi ruangan seperti turut menari-nari mengikuti mantra yang diucapkan oleh para makhluk. Perlahan atap ruanga aula putih itu terbuka, membuat aura warna yang saling berpilinan dalam ruangan itu membentuk selingkar warna-warni raksasa yang  terbang melesat ke langit, menembus atmosfer, menghadap dewa-dewa penguasa warna.

Rapat besar dengan suasana magis seperti ini selalu berhasil membuat para makhluk menitikkan air mata. Rapat besar pemimpin klan seperti ini selalu yang paling tidak diinginkan oleh siapa pun di negeri langit. Rapat besar bisa menjadi anugerah atau malapetakan paling buruk bagi kejayaan negeri, karena keputusan-keputusan yang diambil harus benar-benar menguntungkan semua pihak.

Senyap beberapa lama.

Semua makhluk yang berada di aula putih itu memejamkan mata dalam keheningan jiwa yang mendebarkan. Mereka berharap rapat besar ini memiliki akhir seperti keinginan mereka.

Mereka berharap ….

Guntur mendadak terdengar. Semua makhluk yang masih khidmat dalam doa masing-masing seketika membuka mata lebar-lebar dan menoleh ke arah jendela.

Irama jantung berdebaran melatari suara riuh bisik dari anggota koloni yang kian cemas. Ruangan yang semula tampak putih itu kini temaram oleh langit yang tiba-tiba mendung.

“Sembari menunggu kedatangan Reddish, kami akan membacakan aturan pengambilan keputusan dalam rapat besar kali ini. Pertama ; Reddish, sebagai makhluk yang meminta keputusan pengunduran diri, harus mendapatkan dukungan, paling tidak lima puluh persen dari peserta rapat, keputusan tersebut harus didasarkan pada keputusan sendiri dan tidak ada pemaksaan dari makhluk lain. Kedua ; Semua makhluk dipersilakan mengutarakan pendapatnya, menyatakan dukungan atau penolakan atas perkara yang diputuskan oleh Reddish sebagai dasar pengambilan keputusan final. Yang ketiga ; ….” Alabaster membacakan peraturan rapat besar dengan suaranya yang lantang hingga menggema ke seisi aula.

Ecru menunduk dan memejamkan netranya kembali. Sebagai sahabat baik, dirinya memang menjadi makhluk terdekat dengan pemimpin klan merah itu sebelum upacara penyucian pernikahan dilaksanakan. Namun, ada kalanya sahabatnya itu, termasuk dirinya, memiliki perkara pribadi yang tak ingin diketahui oleh siapa pun dan masing-masing dari mereka menghormati itu.

Lelaki klan kuning itu tak mendengarkan lagi Alabaster mengucapkan apa. Ia sedang berkonsentrasi menembus pikiran Reddish yang sepertinya sedang ditutup oleh lelaki klan merah itu. Entah apa yang sedang Reddish lakukan. Entah apa yang ada dalam pikiran sahabatnya itu.

Ecru mendengus lelah ….

***

Samar-samar dalam keadaan setengah sadar, Azure merasakan jika dahinya diusap lembut, rambutnya yang terurai di atas bantal itu dibelai ringan, sebelum ciuman hangat mendarat di pipinya yang dingin.

“Tidurlah Azure. Berjanjilah kau akan tetap di sini sampai aku kembali.” Suara itu terdengar begitu dekat, bercampur aduk dengan pandangan mimipinya yang datang dan pergi.

Lalu kehangatan itu melingkupinya lagi, membuat Azure tak tahan untuk tak memiringkan tubuhnya dan bergerak memeluk guling yang dekat dengannya di bawah selimut hingga seluruh tubuhnya tertutupi selimut, menyisakan sedikit bagian wajahnya yang terlihat dari samping.

Reddish terkekeh melihat tingkah Azure itu. Seandainya ia memiliki kemampuan seperti Mocha yang bisa menampilkan lagi gambaran masa lalu, ia akan dengan senang hati menunjukkan kepada perempuan itu, bagaimana tingkah menggemaskannya saat tidur.

Lelaki itu menyakukan sebelah tangannya ke saku celana, menghela napas panjangnya untuk meyakinkan diri lantas melangkah tegas meninggalkan ruangan, tak menoleh lagi ke arah Azure.

“Kami akan membawa Azure kembali kepada kami. Dia tak pantas berada di sisi makhluk cacat yang mengaku-ngaku akan meneruskan kejayaan negeri langit.”

Ucapan Sky itu masuk kembali ke dalam mimpi Azure. Lambat-lambat perempuan itu mengernyitkan dahi saat mimpi membawanya kembali ke hari pernikahannya yang berakhir dengan kekacauan. Teriakan-teriakan Candy, pertengkaran demi pertengkaran antara Reddish dan Sky … semuanya seolah terjadi lagi dengan begitu jelas.

Azure seperti sedang memundurkan langkah hendak lari dari mimpi buruk itu. Kedua kakinya tanpa terasa semakin membawanya menjauh dari hari pernikahan itu, membuat sekitar tempatnya berdiri menjadi abu-abu, temaram oleh sinar-sinar kecil yang masih bekerlipan, memperlihatkan wajah Reddish yang terlihat kaku nan kelam.

Lalu, saat kelegaan berhasil melingkupinya karena telah berhasil mundur dari bayangan pernikahan itu, kaki Azure menabrak sesuatu dari arah belakang membuat perempuan itu membalikkan badan cepat, hanya untuk menemukan pohon Auburn di belakangnya.

Pohon Auburn ….

Mimpi itu terbang membawa Azure menuju beberapa waktu lalu tentang kebenaran cerita sesungguhnya perihal si ayah, tentang Candy yang telah menemukan cinta lamanya, kebenaran tentang ayah Reddish dan juga Reddish sendiri yang memiliki ciri khas buta warna sebagai tanda kepemimpinan, tentang … Reddish yang ingin mundur dari pemimpin negeri ….

“Nona Azure, saya harap Anda mengerti maksud saya dan mau membantu kami dalam rapat besar pemimpin klan yang akan diadakan esok hari.” Lelaki klan cokelat yang seingat Azure bernama Mocha itu berucap sembari menunduk hormat. “Kami butuh bantuan Anda, Nona. Kami mengharapkan Anda,” lanjut lelaki itu dengan nada penuh permohonan tulus ….

Seolah Azure baru saja teringat satu hal penting itu, mimpi yang semula begitu keras kepala memenjarakan perempuan itu dalam ketidaknyamanan di sepanjang tidurnya … perlahan pudar, menyeret kembali kesadaran Azure ke alam nyata dan membuatnya terloncat duduk dengan mata terbuka lebar.

Napas Azure tersengal. Perempuan itu memandangi sekeliling dan nuansa familier seketika menyergap benaknya. Entah sudah berapa kali ia terbangun dalam keadaan seperti ini, hanyut di dalam mimpi buruk di tempat yang dipenuhi aura merah … dan memimpikan Reddish.

Mengundurkan diri? Apakah lelaki itu sungguh-sungguh dengan ucapannya? Bukankah itu tampak konyol dan kekanak-kanakan? Sama sekali bukan Reddish jika menyerah pada kelemahannya dan memilih mundur, bukan?

Azure memang ingin sekali pergi dari kastil merah ini. Tapi, itu untuk dirinya sendiri. Dia ingin pergi karena memang sudah sepantasnya ia pergi. Sepertinya, kata-kata Sky dan lelaki klan hitam yang merendahkan Reddish karena bersanding dengannya itu, semua ini menjadi terbalik sekarang.

Perempuan itu tersenyum kecut. Dirinyalah yang sesungguhnya tak ada pantas-pantasnya berada di tempat ini. Dia adalah anak seorang pembelot yang tak tahu diri karena ketidaktahuan dan kebodohannya. Dia telah salah paham terhadap Reddish selama ini. Dia telah salah menilai.

Azure bangkit dari duduknya di ranjang, menyibak selimut dan berlari ke arah pintu kamar. Biasanya akan ada pelayan atau Crimson sendiri yang mengawalnya saat Reddish sedang pergi. Perempuan itu sungguh berharap jika perkiraannya benar.

Dari sisi luar ruangan, seorang pelayan perempuan yang melihat jika Azure sedang berjalan cepat ke arahnya itu bersiaga di depan pintu, menampilkan senyum lebar menyambut kedatangan nona maharaninya seperti biasanya. Namun, belum sepatah kata jua keluar dari mulut pelayan itu, Azure terlebih dahulu memberondong pelayan itu dengan pertanyaan-pertanyaannya yang mendesak.

“Ke mana Reddish?” Azure memindai sekeliling lorong untuk menemukan dengan mata kepalanya sendiri, sekelebat saja jejak lelaki klan merah itu. “Apakah rapat besar pemimpin klan dilaksanakan hari ini? Reddish pergi ke sana?”

Keningnya mengernyit saat mengingat-ingat jika sepertinya ada makhluk yang berkata padanya untuk berjanji jika dirinya akan tetap berada di tempat ini sampai makhluk itu kembali? Apakah makhluk itu adalah Reddish? Ataukah itu hanya mimpi?

“Tuan Reddish sedang berada di kastil putih, Nona. Saya diperintah oleh tuan Reddish agar melayani Anda seperti biasanya-“

“Aku akan ke sana.” Azure menukas cepat.

Tentu saja itu bukan mimpi. Azure ingat jika pada hari pernikahannya, Alabaster, salah seorang anggota dewan warna itu berkata jika Reddish harus menghadiri rapat besar pemimpin klan untuk menentukan keputusan final atas permohonan pengunduran dirinya itu. Dan saat ini Reddish sedang berada di kastil putih? Apakah rapat besar itu dilaksanakan hari ini?

“Tapi, Nona-“ Pelayan itu tergopoh-gopoh mengikuti Azure yang masuk kembali ke dalam ruangan dan mendekat ke arah lemari utama.

“Berapa lama Reddish pergi sejak keluar dari ruangan ini?” Azure bertanya sembari tangannya mencari-cari pakaian yang hendak dikenakannya dalam lemari itu.

“Saya tidak tahu apakah sejak keluar ruangan ini beliau seketika pergi ke kastil putih atau tidak. Namun, saya bisa memperkirakan jika tuan Reddish telah hampir setengah jam yang lalu meninggalkan Nona di dalam kamar.” Pelayan itu tak tahu harus berbuat apa dan hanya bisa mengikuti Azure ke sana kemari di  kamar itu.

“Sebenarnya … apa yang sedang nona Azure cari?” Pelayan itu mengernyitkan kening dan memberanikan diri untuk bertanya pada akhirnya.

Azure masih memindai sekeliling ruangan saat langkahny terhenti di sisi meja. “Aku mencari jubah. Jubah maharani. Di mana kalian meletakkannya?”

Si pelayan mengerutkan keningnya semakin dalam. “Jubah maharani dan mahkotanya disimpan di ruangan khusus, Nona. Tuan Reddish meletakkannya di sana karena mengira jika Anda … pasti tidak akan akan pernah berkenan mengenakannya,” ucapnya dengan kepala menunduk.

Azure terpaku sejenak mendengar penjelasan pelayan itu. Dadanya terasa perih saat mendengar kalimat yang dikemukakan oleh pelayan itu. Perempuan itu tahu benar jika alasan yang sebenarnya Reddish mengembalikan jubah dan mahkota itu ke tempat khusus adalah karena Reddish telah membulatkan tekad untuk pergi dari kastil ini, dengan keras kepala meyakini diri sendiri jika dirinya pasti mau menghabiskan waktu bersama dengan lelaki itu.

Pada mulanya, Azure berniat pergi karena dia begitu membenci lelaki klan merah itu, dia begitu teguh oleh rasa sakit yang terpendam dalam di hatinya, membuatnya buta. Namun, setelah mengetahui semua hal tersembunyi yang ditunjukkan oleh Mocha, Azure kini tahu satu hal yang entah disadari oleh para dewan warna dan pemimpin klan atau tidak, jika pemimpin klan terpilih yang dilantik menjadi raja negeri memanglah dari makhluk terkuat yang ternyata memiliki ciri khas yang tak dimiliki oleh makhluk lain.

Ciri khas atau kemampuan khusus yang sering dianggap sebagai kutukan itu justru adalah perlambang peristiwa yang akan terjadi pada masa kejayaan mendatang. Seperti Mahogany yang  memiliki buta warna dan hanya mampu melihat warna merah dari kedua matanya, Reddish yang ternyata juga memiliki kemampuan khusus itu pada akhirnya harus menikahi dirinya sesuai petunjuk dari pelangi semesta untuk penggenapan warna.

Namun, sebagai pemimpin tertinggi, tidakkah Reddish seharusnya hanya memanfaatkan kehadirannya untuk kepentingan negeri? Mengapa lelaki itu mendadak berubah menjadi lelaki melankolis yang menyebalkan?

“Sepertinya, Reddish salah kali ini.” Azure menipiskan bibirnya dengan senyum kaku dan menghela napas panjang. “Karena sekarang aku ingin mengenakannya,” imbuhnya dengan ekspresi serius ke arah si pelayan.

Makhluk perempuan merah itu mendongak begitu mendengar ucapan Azure yang  mungkin saja tak akan pernah ia sangka. Pelayan itu masih teringat insiden nona Azure yang memukul-mukulkan tangannya ke pembatas magis di ambang pintu ruang kamar tuannya saat memaksa diri untuk keluar, seolah memberi penegasan jika perempuan biru ini lebih baik mati daripada harus hidup bersama tuan Reddishnya. Namun sekarang ….

“Apalagi yang kautunggu? Cepat ambilkan untukku.” Azure memerintah sekali lagi saat melihat jika pelayan itu hanya bergeming dan menatapnya dengan ragu.

“Ba-baik, Nona. Saya akan segera kembali,” sahutnya sembari bergegas membalikkan badan dan keluar ruangan untuk memenuhi perintah.

Azure mengembuskan napas panjang.

Semoga saja rapat besar itu belum dimulai. Semoga saja masih ada kesempatan untuknya bisa datang di aula itu dan memberikan suaranya untuk Reddish. Perempuan itu melangkah perlahan menuju jendela besar di sana. Kedua matanya kembali melebar saat melihat jika tak ada sesuatu pun yang bisa ditangkap oleh kedua matanya selain pemandangan awan yang bergumpal-gumpal membentuk mendung.

Azure mengernyitkan kening saat mengingat jika dirinya juga melihat pemandangan yang sama saat ia berada di taman raksasa itu.

Suara sapaan pelayan yang datang membawa jubah dan mahkota itu membuat Azure segera membalikkan badan. “Apa yang terjadi?” Azure bertanya murung sembari menoleh kembali ke arah jendela.

Si pelayan tergeragap dengan ekspresi bingung. Perempuan biru itu sedikit menyeret tangan si pelayan. “Apakah kastil ini telah berpindah lokasi? Mengapa aku tak bisa melihat apa pun selain awan mendung?” tanyanya cemas.

“Apa maksud Nona?” Pelayan itu balik bertanya, pandangannya memindai ke arah luar jendela. “Kastil ini tidak berpindah, Nona. Tuan meminta saya menjaga Anda agar tetap berada di kamar ini sampai beliau selesai dengan urusannya,” ucapnya takzim.

Mendengar ucapan pelayan yang menirukan ucapan Reddish itu, Azure justru beringas mengenakan jubahnya lalu mengambil mahkota dari nampan yang dibawa si pelayan dengan gerakan serampangan. Sesaat setelahnya, sesudah memastikan jika kesemuanya telah terpasang sempurna, Azure tak memperhatikan pelayan itu lagi yang berusaha memanggil dan menghalang-halanginya pergi.

Tiba di pintu ruangan utama, Crimson yang terkesiap melihat penampilan Azure itu berdiri di ambang pintu.

“Nona. Anda harus tetap tinggal. Itu perintah tuan Reddish.” Crimson bersikap keras kepala dengan bersikukuh berdiri di tempatnya.

Mendengar suara Crimson itu, para prajurit serentak mendekat, para penjaga pintu yang berjaga juga turut datang.

“Nona, dengarkan saya-” Crimson berusaha membujuk.

“Aku maharani di sini. Adakah yang lebih tinggi daripada kedudukanku di sini saat ini?” Azure menggertak, menatap satu persatu makhluk warna yang mengelilinginya di ambang ruangan utama milik Reddish itu.

Semua makhluk menunduk.

“Biarkan aku lewat,” titahnya sembari berdiri di depan Crimson, memaksa lelaki klan merah itu untuk meminggirkan tubuhnya.

Tuan Reddish dan Nona Azure sama penting di hati dan kesetiannya. Ia tadi begitu percaya diri menganggap tugas ini sebagai tugas ringan yang tak membutuhkan tenaga karena Crimson hanya harus berjaga di pintu utama ini seperti biasanya. Reddish pasti tak akan pernah mengira jika istrinya itu akan berpenampilan seperti ini saat ini. Menyampirkan jubah maharani di pundaknya serta mengenakan mahkota merah di rambut birunya. Terlebih, Azure saat ini membuang sifat aslinya dan bersikap begitu arogan dengan mengatasnamakan ucapannya sebagai perintah seorang maharani.

Apa yang bisa Crimson lakukan?

Dengan berat hati, Crimson akhirnya bersibak dengan ekspresi kecut. Ia tak bisa menolak perintah Reddish, pun juga tak bisa menolak perintah Azure sebagai istri Reddish. Apalah mereka berdua ini, mempersoalkan perkara yang sama dengan perintah yang saling bertentangan satu sama lain?

Crimson menyeka keringat yang berbulir di pelipis. “Apakah Anda hendak menyusul tuan Reddish di kastil putih, Nona? Situasi di sana sedang tidak kondusif,” beritahunya dengan kening mengernyit.

“Aku harus melakukan sesuatu. Tidakkah kau tahu jika Reddish ingin mundur dari kepemimpinannya? Tidakkah kalian ingin mendukungnya agar tetap berada di sisi kalian?” tanyanya masih dengan tatapan tajam ke arah semua makhluk di tempat itu.

“Kami semua sangat setia kepada Tuan Reddish, Nona. Kami akan mengikuti perintah apa pun yang beliau tugaskan karena kami selalu meyakini jika keputusan tuan Reddish adalah keputusan terbaik untuk kami semua. Dan kami … tak berani berbuat sesuatu sekecil apa pun tanpa diperintah.” Pemimpin prajurit yang berdiri di barisan paling depan itu memberanikan diri bersuara.

Azure mengembuskan napas panjang. “Kau kawal aku sampai kastil putih,” ucapnya pada Crimson yang seketika mengangguk patuh.

Perempuan biru itu melangkah lebar kemudian, berjalan dengan penuh keyakinan menuju ujung lorong dari ruangan utama itu, meninggalkan kerumunan pelayan dan prajurit yang menatapnya dengan penuh kekhawatiran.

Langkah Azure berhenti di sebuah balkon. Kepalanya tertengadah saat melihat jika cuaca begitu gelap dengan angin yang berembus kencang tak bersahabat.

“Aku sedang tak bisa melihat apa pun saat ini. Bawalah aku ke kastil putih itu, Crimson.” Azure mengangkat sebelah tangannya yang menguarkan aura biru.

Lelaki klan merah itu tak bisa berbuat apa-apa selain menurut dan membiarkan Azure mengikuti terbang di belakangnya, menembus angin kencang yang terasa kian menampar-nampar wajah.

***

“Tidakkah kau ingin berbuat sesuatu agar kita bisa terlepas dari tempat menyebalkan ini?” Sky menendang-nendang tembok berwarna gelap di ruang penjara itu.

“Kita masih memiliki Navy. Dia akan menolong kita.” Crow berkata datar tanpa ekspresi, seolah yakin jika apa yang diucapkannya itu akan benar-benar akan menjadi kenyataan.

“Kau yakin jika Navy bisa kita andalkan?” Sky menggeram dengan dadanya yang kembang kempis menahan marah.

Crow menoleh dengan sebelah alisnya yang terangkat. “Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu. Kenapa jadi kau yang bertanya? Kau mulai meragukan kemampuan saudaramu sendiri, heh?” tanyanya dengan ekspresi heran.

“Bukan begitu. Kau tahu sendiri. Navy adalah salah satu makhluk eksentrik yang kadang tak bisa dimengerti jalan pikirannya.” Lelaki klan biru itu mendengus.

Ada senyum samar di wajah Crow yang tak sempat diperhatikan oleh Sky. Bocah itu tak tahu saja jika ia telah meminta Jade untuk menegosiasikan persyaratan agar Reddish pasti mundur dari jabatannya itu. Dia telah menyiapkan pula anggota koloni yang siap mendukungnya dari belakang.

“Aku tak menyangka jika Reddish bisa semudah itu menyerah dengan keadaannya. Bukankah ini jalan mulus bagi kita?” Crow berucap sembari mengusap-usap jenggotnya yang panjang.

“Vantablack? Bagaimana dengan anak itu? Bukankah dia berada di bawah kendali pemimpin klan kuning itu saat ini?” Sky mondar-mandir menggigit ujung jemarinya dengan ekspresi gusar membuat Crow mendecak.

“Sepertinya aku memang benar-benar ingin keluar dari tempat ini sekarang juga. Bukan karena ingin lari, tapi karena aku muak mendengar keluh kesahmu itu, Sky! Bisakah kau tak usah panik seperti itu?” decaknya sambil lalu bangkit dari duduknya, menunjuk-nunjuk Sky dengan jemarinya.

“Bisakah kalian tenang? Suara kalian sangat berisik dan mengganggu ketenangan para tahanan yang lain. Bersikaplah baik jika tak ingin dipindah ke ruang tahanan yang lebih gelap dari ini.” Seorang penjaga berklan merah berdiri dengan ekspresi garangnya di luar terali.

Crow yang masih memandang marah ke arah Sky itu hanya mendengus sebelum kemudian kembali mengempaskan tubuhnya di ranjang kecil ruang tahanan itu, diikuti Sky yang turut duduk dengan gelisah.

***

“Bukankah tuan Reddish dipastikan akan mendapatkan seluruh dukungan dari anggota koloni klan? Bagaimana jika kita menaikkan syarat pengambilan keputusan itu menjadi delapan puluh persen suara?” Makhluk berjubah abu-abu yang duduk di barisn paling atas itu bersuara dengan wajahnya yang tertutup tudung jubahnya yang besar, menghalangi siapa pun untuk dapat melihat dengan jelas warna tubuhnya.

Semua makhluk menengok dengan rasa penasaran ke arah makhluk berjubah abu-abu itu, mencerna kalimatnya dengan kening mengernyit.

“Ah, kau rupanya sepihak denganku.” Suara Reddish tiba-tiba saja terdengar dari arah pintu, membuat semua makhluk terkesiap dan seketika mengalihkan pandangan ke suara khas yang sangat mereka kenal tersebut.

“Aku bahkan tak ingin hanya delapan puluh persen. Aku ingin seratus persen anggota koloni mendukungku jika menginginkanku bertahan.” Dengan nada dinginnya Reddish membungkam seluruh kericuhan di ruang aula itu.

Para makhluk yang masih dalam posisi berdiri dan menjura itu sontak menegakkan badan.

Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin tuan Reddish meminta hal seperti itu sementara tentu saja anggota koloni klan biru tak ada yang mau menghadiri rapat besar ini?

Navy tersenyum dengan sebelah bibirnya yang terangkat. Ekspresinya tampak puas dalam bayang-bayang warna abu-abu yang menaungi wajahnya.

“Reddish. Kami tak membutuhkan pemimpin sempurna karena yang kami butuhkan adalah kau! Tak ada yang bisa mewakili kami selain kau! Peduli setan dengan kutukan dan segala hal tentang ketidaksempurnaan fisik yang dimiliki olehmu.” Ecru berseru, mewakili seluruh pemimpin klan yang seketika mengangguk setuju dengan ucapan pemimpin klan kuning itu.

Reddish mengangkat sebelah tangan. “Sekarang tinggal berhitung saja dan keputusan akhir itu tercipta sudah,” ucapnya keras kepala dengan senyum puas di wajah manisnya. “Jade, pimpinlah para makhluk untuk melakukan pemungutan suara,” perintahnya tanpa menoleh.

Jade mengangguk tipis, membuat suara gaduh kembali mengisi ruangan itu. Saat Jade mulai berhitung, serentak semua pemimpin klan dan beberapa perwakilan koloni mengacungkan tangan. Debaran jantung terpompa cepat pada diri semua makhluk. Mereka menanti-nanti dengan cemas karena tentu saja suara mereka yang kompak itu tak cukup mewakili apa yang diinginkan oleh Reddish.

Sampai suara itu datang. Pintu ruang aula itu terbuka dengan keras kembali, membuat rasa penasaran sekaligus keterkejutan kembali melanda semua makhluk di rapat besar itu.

Reddish yang tak mampu menebak siapa makhluk yang berani-beraninya menginterupsi jalannya rapat besar itu kemudian membalikkan badan.

“Aku mewakili klan biru memberikan suaraku. Aku datang mendukung suamiku.” Azure berucap sembari mengangkat sebelah tangannya. Tatapannya lurus ke arah Reddish yang sepertinya sedang terkejut atas kedatangannya.

Sebelah alis Reddish terangkat dengan pandangannya yang dingin. “Azure. Sedang apa kau di sini?”

 

Bersambung ….

Baca Parts Lainnya Klik Di sini

6 Komentar

  1. rhafatimatuzzahra menulis:

    :lovelove

  2. Dona Nurhayati menulis:

    Terima kasih update nya :muach :KUMENANGISMEMBAYANGKAN :lalayeye

  3. Tks ya kak udh update.

  4. Tks kk kuuu :lovelove :lovelove

  5. Jayaning Sila Astuti menulis:

    cinta berawal dari peduli.

  6. Azure lakukan tugasmu :lovelove