Red Prince

The Red Prince | Part 21 : Aura Ungu

Bookmark

No account yet? Register

red prince cover - CopyRed 3

15 votes, average: 1.00 out of 1 (15 votes, average: 1.00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

 

Baca Parts Lainnya Klik Di sini

Perempuan klan merah itu tampak histeris dan memanggil-manggil nama lelaki makhluk ungu itu hingga suaranya serak.

“Carmine! Carmine!”

Suasana ricuh dari ruang terbuka dari para makhluk yang berhamburan dan berusaha terbang untuk menyelamatkan diri dari suara dentuman yang mengerikan itu beku sejenak. Candy dengan ekspresi wajahnya yang shock itu berlari menuruni tangga dengan cepat, menghampiri lelaki yang saat ini tertelungkup di lantai.

Kedua mata Reddish menyipit dengan ekspresi gelap, sebelah lengannya merangkul Azure rapat dengan gerakan posesif yang membuat perempuan itu terkesiap. Aura Reddish menyala pekat dari tubuhnya, siap menyerang, begitu juga dengan Azure yang dipenuhi emosi bergejolak di dadanya. Aura keduanya kembali menguar pekat, bersatu menampakkan warna ungu cerah yang sayangnya tak siapa pun memperhatikannya. Aura ungu itu terbang mengangkasa, berpendar naik semakin tinggi seolah tertarik oleh langit yang saat ini membentang kelabu di atas negeri itu.

Di tengah nuansa tegang penuh penantian mencekam, di sela tangisan Candy yang terdengar parau itu, tiba-tiba saja cahaya putih tampak bersinar terang, menyilaukan mata para makhluk yang sedang berada di sana termasuk Reddish dan Azure. Membuat mereka semua harus menutup kedua mata dengan lengan, tak mampu menahan kuatnya cahaya putih yang amat terang itu. Lalu, tak beberapa lama setelahnya, sinar itu meredup, berganti dengan sorot sinar berwarna-warni dari arah pelangi semesta yang gagah menaungi langit.

Sinar-sinar itu merambat perlahan dari ujung jauh di utara, bergerak perlahan-lahan memenuhi setiap garis warna pelangi semesta tersebut. Dan saat warna-warna cerah itu hampir memenuhi separuh dari setengah bentuk lingkaran pelangi, terkejutlah semuanya ketika warna ungu muncul di sana. Makhluk-makhluk langit itu terpana dengan perasaan tak menentu yang membuat kening mereka mengernyit dalam lantas menoleh lagi ke arah pusat ruangan.

Lelaki klan ungu yang semula tampak anteng itu kini mulai bergerak, tubuhnya gemetar dengan pendar aura ungu yang sangat tipis melingkupi tubuhnya. Crow yang semula hampir putus asa itu turut ternganga melihat semua kejadian itu.

Lelaki ungu itu bangkit! Dia telah membangkitkan pelangi semesta!

Pandangan semua mata lantas tertuju ke arah Reddish yang kala itu tengah merangkul rapat pundak Azure dengan sebelah tangannya.

Tak ada warna ungu yang memendar di antara keduanya!

Tampak ekspresi tak percaya berbalut keterkejutan yang menampar kesadaran semua makhluk di tempat itu.

“Kalian lihat? Makhluk ungu ini telah membangkitkan pelangi semesta.” Crow berseru, mengalihkan perhatian semua makhluk termasuk dewan warna yang saat ini sedang menelaah satu demi satu hal yang saat ini ada di depan mereka.

“Reddish dan Azure tidak mampu mengeluarkan aura ungu mereka karena tentu saja kalah oleh aura makhluk ungu ini,” imbuhnya lagi dengan suara lantang nan penuh keyakinan. Menatap tajam pada Reddish yang saat ini terlihat menahan marah dan hampir kehilangan kendali.

White menoleh ke arah Reddish dan Azure yang saat ini tampak begitu dekat dengan tubuh keduanya yang saling merapat.

Reddish mengeluarkan aura merahnya yang panas, sementara Azure yang tampak shock dan tak tahu harus berbuat apa itu hanya bergeming, diam, dengan aura birunya yang dingin penuh kebingungan. Merah dan biru. Kenapa aura mereka tidak bisa menyatu setelah disucikan? Bukankah tadi sempat muncul warna ungu dari genggaman tangan mereka?

“Carmine! Inikah kau Carmine?” Candy yang bersimpuh dan memangku kepala lelaki klan ungu itu terisak histeris dengan suara pilu yang tak dapat dimengerti semua orang.

“Carmine? Apa yang kau maksud jika namanya adalah Carmine, Candy? Carmine adalah warna koloniku. Kenapa kau menyebutnya Carmine?” Reddish tampak menggeram dengan kalimatnya yang sengaja diucapkan lambat-lambat itu.

Crow tergelak melihat bagaimana Reddish bersuara menahan murka. “Ah, rupanya kau tak tahu? Bibimu itu begitu tergila-gila dengan kekasihnya dahulu sehingga menganggap setiap orang asing adalah Carmine, kekasihnya yang telah hilang. Ah, tak kusangka dia benar-benar gila sekarang dengan menganggap lelaki klan ungu ini sebagai kekasihnya,” ucap Crow tanpa perasaan dengan gerak tubuh dan ekspresi berpura-pura iba yang membuat Candy mendongak.

“Lelaki ini bukan anggota klan ungu. Dia bukan klan ungu!” Candy berteriak putus asa.

Lelaki klan ungu itu berusaha untuk terduduk dari pangkuan Candy. Menopang tubuhnya dengan susah payah dibantu lengan-lengan Candy yang membantunya bangkit. Napas lelaki itu terengah, tampak susah payah seolah udara tak mau berbaik hati mengisi rongga paru-parunya yang telah lama tak teraliri udara segar.

Lelaki klan ungu itu menoleh perlahan ke arah Candy dengan kening mengernyit. Bibirnya yang kering dengan napasnya yang tersengal itu terlihat begitu menyakitkan sehingga suaranya tak kunjung keluar dari tenggorokannya.

“Aku … bukan … Carmine.” Lelaki itu terbatuk-batuk kemudian dengan suaranya yang menyedihkan. Dari mulutnya yang kering itu, tepercik darah ungu yang bercecer di sebelah tangannya yang digunakan untuk melap bibirnya.

Candy ternganga. Kedua matanya memindai dari ujung kepala hingga ujung kaki lelaki itu yang saat ini duduk dengan sebelah tangannya yang menopang tubuh membuat air mata tampak tak mau berhenti mengalir ke pipi Candy.

Entah bagaimana, Candy merasa begitu familier dengan lelaki ini. Bentuk rambut, wajah, warna iris, dan posisi duduk lelaki itu yang sedang bersila setelah bangkit dari pangkuannya, membuatnya teringat lagi dengan kenangan-kenangan bahagia yang sekarang ini membuatnya terlihat begitu menyedihkan.

“Kau akan dihukum dengan hukuman paling berat karena telah mempermainkan penguasa langit dengan menangkap dan membuat makhluk langit berada dalam bahaya sekaligus membahayakan semua koloni.” Raven berkata tegas pada saudara sepupunya itu.

Crow seperti telah kebal dengan ancaman-ancaman yang tertuju padanya. Lelaki klan hitam itu justru tertawa kembali. “Kau tak akan bisa menghukumku. Penguasa langit tidak akan menghukum makhluk yang telah menyalakan kembali pelangi semesta. Aku yang telah menghidupkan makhluk ungu ini, jadi aku termasuk yang berjasa dalam pembangkitan warna pelangi semesta kali ini,” ujarnya pongah.

“Dan kau, Azure. Apakah kau telah menjadi bodoh dan kehilangan harga dirimu dengan mau dipermalukan oleh Reddish di pernikahan ini? Lihatlah. Tak ada semakhluk pun dengan aura biru yang saat ini turut merayakan pernikahanmu. Dan lagi ….” Sky bersedekap sembari memajukan langkah dengan gerak tubuhnya yang penuh keangkuhan. “Aku dan segenap koloni klan biru, tak akan rela jika kau, putra pemimpin klan kami, diperistri oleh makhluk tak sempurna yang mengaku-ngaku akan mengabadikan kejayaan negeri langit.” Sky terkekeh mengejek. “Tak sepantasnya kau … Reddish, menyentuhkan tanganmu di tubuh saudariku! Lihatlah wahai makhluk langit! Pemimpin kalian adalah makhluk buta warna! Dia selama ini menggunakan alat bantu di matanya!” Sky mengangkat tangannya saat berbicara, menarik perhatian.

Lagi-lagi, para makhluk aneka warna itu menatap ke arah Reddish. Namun, seketika menunduk, tak berani menatap pemimpin mereka meski ucapan makhluk klan biru itu terdengar mengejutkan hati dan membuat siapa saja begitu ingin tahu.

Azure mendongak, menatap Reddish yang saat itu begitu dekat dengannya dan sedang menatap ke depan. Kedua mata perempuan itu berkaca-kaca, bibirnya bergetar, kelu, penuh ketidakpercayaan.

“Kemari, Azure.” Sky memusatkan perhatiannya kepada perempuan biru itu. “Kau tak pantas berada di sana,” lanjutnya dengan tatapan tajam.

Reddish mencengkeram bahu Azure menahan kemarahannya, membuat Azure menitikkan air mata.

“Apa maksud semua ini, Reddish?”

“Reddish tak sempat mencari tahu keberadaan anggota klan ungu ini karena dia tentu saja terobsesi untuk menguasai klan biru, meneruskan dendam ayahnya dan ingin membuktikan bahwa tak ada klan mana pun yang bisa menandingi klan merah. Kalian lihat? Masih ada makhluk klan ungu di sini sementara Reddish membutakan diri dan mengharuskan dirinya menikahi perempuan kami.” Sky berkata lantang.

Azure meronta, ingin melepaskan diri dari rengkuhan lengan Reddis di pundaknya.

“Lepaskan aku.” Azure berucap lemah, membuat dewan warna yang ada di kiri dan kanan mereka menoleh.

Kali ini Reddish membiarkan perempuan itu terlepas dari lengannya. Lelaki itu tampak memejam sejenak sebelum kembali membuka matanya dengan tatapan tajam ke arah Sky.

“Rupanya kau begitu pengertian dengan mengumumkan hal itu dan mendahuluiku berbicara.” Reddish menyipitkan mata penuh perhitungan ke arah Sky, Crow, dan lelaki klan ungu yang saat ini masih terduduk di lantai dengan Candy yang masih tergugu-gugu di sampingnya.

Sky mengangkat alis, tak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Reddish.

Reddish memajukan tubuhnya satu jangkahan. “Aku memang hendak memberitahukan hal ini kepada semua klanku dan kepada dewan warna yang ada di sini,” ucapnya dingin membuat semua makhluk terangkat pandangannya dan menatapnya dengan penuh ingin tahu.

“Aku, Reddish, putra mahkota dari Mahogany, pemimpin klan merah sekaligus pemimpin negeri langit terdahulu, telah melaksanakan tugas terakhirku untuk menjalani pernikahan campuran dengan Azure, putri Yale dari klan biru sebagai wujud pengabdianku untuk membangkitkan kembali pelangi semesta.” Reddish menengadahkan pandangannya, menatap ke arah pelangi semesta yang kini menyala terang dengan warna-warninya yang indah, diikuti semua makhluk yang turut menengadah, dengan perasaan mereka yang berdebar penuh antisipasi, menanti ucapan Reddish sambil menelan ludah.

“Aku dilahirkan dengan kedua mataku yang buta, tapi berkat pemilihan yang terkuat dari semua klan, akhirnya akulah yang berdiri di sini, memimpin kalian semua selama ini. Oleh karena itu, sebagai pemimpin dengan kekuasaan mutlak yang tak mampu dianulir bahkan oleh dewan warna sekalipun, mulai detik ini, aku memutuskan untuk mengubah peraturan pemilihan pemimpin negeri.”

Suara riuh ramai terdengar. Semua berbisik-bisik dengan rasa tak percaya dan penuh debar kengerian akan apa yang akan diucapkan oleh Reddish selanjutnya. Reddish mengangkat tangannya untuk membungkam dengungan suara para makhluk itu, hingga semuanya diam tak berani berkata-kata lagi.

“Perubahan peraturan itu adalah … pemimpin negeri langit yang akan terpilih adalah dari dia yang paling kuat … dan paling sempurna,” lanjutnya menatap tajam lagi pada Sky yang seketika itu menoleh ke arah Crow yang juga mengangkat sebelah alisnya begitu mendengar ucapan Reddish itu.

Suara shock tak tertahan terlontar dari semua mulut para makhluk.

“Dan aku memintamu … anggota klan biru, untuk kembali menempati kastil biru bersama dengan seluruh kolonimu-“

“Tidak bisa, Reddish.”

Perkataan Reddish terinterupsi oleh Sky yang tentu saja menolak.

“Aku sedang memerintahmu. Kau tak bisa menolak perintah dari pemimpinmu.” Reddish berkata dingin, mengabaikan tatapan tak terbaca dari Azure yang sejak tadi memandanginya.

Sky mendengus dan hanya bisa menampakkan ekspresi geramnya tanpa bisa berucap lagi.

Reddish kembali mengedarkan pandangan ke arah semua makhluk warna yang membentang tumpah ruah di hadapannya.

“Aku ingin semua makhluk berada di negeri ini, karena aku, mulai detik ini, menyatakan untuk mundur dari kepemimpinan negeri langit dan menyerahkan jabatan pemimpin sementara kepada dewan warna sebelum ada pemilihan ulang pemimpin negeri langit yang selanjutnya.” Reddish berucap menyulut kehebohan.

“Reddish!” Jade yang terlebih dahulu membuka suara setelah beberapa lama para dewan warna itu hanya terdiam menilai situasi.

“Hei. Kau gila?” Ecru yang berada di barisan paling depan itu hendak menyerbu ke arah Reddish, tetapi ditahan oleh para pengawal yang berusaha menenangkan dirinya.

“Tuan Reddish. Perkara pemimpin negeri ini bukan hal yang main-main. Anda tak bisa seenaknya mengubah kebijakan mentang-mentang Anda adalah pengesah peraturan mutlak.” Shamrock mendadak berucap lantang dari tempatnya berdiri. Ekspresinya tampak tak habis pikir dengan keterkejutan nyata yang membuatnya ternganga.

“Kami menolak Anda mundur, Tuan.” Fuschia dengan sikap menjuranya berkata tegas.

“Klan kami juga menolak.” Mocha, pemimpin klan cokelat, turut memajukan langkah dan menyatakan dukungannya.

“Kami yang paling tahu, siapa yang pantas menjadi pemimpin kami,” Sandstone, mewakili makhluk oranye, berseru pula memberi sumbangan suara, menatap tajam pada Sky.

“Kau tak bisa mengambil keputusan seenaknya, Reddish. Kita harus membicarakannya dalam rapat besar pemimpin klan.” Alabaster berkata menengahi, memandangi Reddish sejenak, kemudian memandang ke lautan makhluk warna yang ada di sana.

“Kalian masih belum menyelesaikan prosesi penyucian pernikahan kali ini.” Lelaki klan putih itu memiringkan tubuhnya menghadap Azure. “Nona Azure, Anda belum mengucapkan ikrar Anda. Mungkin itu yang membuat warna kalian berdua tiba-tiba tak bisa menyatu-“

“Tidak perlu.” Reddish menukas, lantas menoleh perlahan ke arah Azure. Menatap bagaimana perempuan itu kini memandangnya dengan tatapan skeptis. “Mengucapkan atau tidak mengucapkan ikrar, Azure tetaplah istriku karena telah ada prosesi penyucian warna oleh dewan warna. Dia adalah maharaniku dan itu tak bisa disangkal,” ucapnya dingin menatap Azure yang saat ini berusaha melangkah menjauh darinya.

Azure menggeleng tipis. Hatinya terasa hancur sekian kali hingga perasaannya kini remuk redam. Air mata berlinang menderas di pipinya dan itu masih tak bisa meredakan kepedihan mendalam di dadanya yang terasa kejam menusuk hati.

Bagaimana mungkin lelaki pemimpin klan merah ini menipunya? Bagaimana bisa masih ada makhluk ungu yang bertahan di tengah kekeraskepalaan Reddish yang berusaha menikahinya? Bagaimana bisa ini semua terjadi setelah hati Azure … terikat dengan Reddish?

Azure membalas tatapan dingin Reddish yang menghunuskan kemarahan diiringi langkah kakinya yang penuh intimidasi ke arahnya.

“Aku … aku tidak-“

Reddish menyambar cepat tubuh Azure, membawa perempuan itu dalam gendongan lantas menerbangkan tubuhnya.

“Aku akan datang pada rapat besar pemimpin klan esok pagi.” Reddish memandangi lagi orang-orang yang tadi bersikukuh mendukungnya. “Kuharap kalian memikirkan matang-matang apa yang akan kalian putuskan sebelum menyesal,” imbuhnya lagi dengan nada penuh penekanan berbalut ancaman lantas menatap tajam pada Sky, Crow, dan makhluk klan ungu itu.

“Penjarakan mereka di kastil putih, Jade,” perintahnya lagi sebelum kemudian terbang menuju kastil miliknya dengan membawa Azure.

Jade dan dewan warna lainnya hanya mengembuskan napas panjang atas keputusan Reddish itu. Sungguh tak disangka jika prosesi penyucian pernikahan itu akan berujung seperti ini. Langit negeri berubah cerah, pelangi semesta menyala terang, tetapi malahan nuansa tegang yang menyelubungi hati mereka saat ini.

“Upacara penyucian pernikahan telah selesai. Semua anggota warna diperbolehkan meninggalkan tempat.” Raven berseru kemudian, diikuti pegerakan para makhuk yang mengangkasa meninggalkan ruang terbuka itu, terkecuali Sky, Crow, dan makhluk ungu tersebut yang langsung dicekal oleh prajurit hitam dan putih yang mencengkeram lengan mereka di kiri dan kanan.

Ruang terbuka itu perlahan sepi, ditinggal pergi oleh para makhluk warna yang melenggang pergi dengan nuansa kelabu itu. Candy tak bergerak. Perempuan klan merah itu masih bersimpuh dengan kepala menunduk. Ekspresinya tampak terluka hingga wajahnya pias.

Ecru menatap pemandangan Candy yang terduduk lemas itu dengan kening mengernyit penuh rasa kasihan. Namun, belum sempat ia melangkah mendekat, dari tempat Sky dan Crow tadi berdiri, ia melihat bayangan makhluk gelap yang tak asing di matanya.

Mata Ecru menyipit saat berusaha mengenali penampakan bayangan itu. Lalu, saat pengetahuan tentang siapa makhluk tersebut masuk ke dalam benaknya, sontak Ecru ternganga dengan ekspresi terkejutnya.

“Vantablack!” Ecru berseru memanggil.

***

Reddish membawa Azure ke dalam ruang peraduannya. Azure yang berusaha turun dan meronta terus menerus dari gendongan Reddish itu pada akhirnya mendapat kesempatan untuk bebas setelah lelaki klan merah itu menurunkannya dari gendongan.

Mereka berdiri berhadapan dengan ekspresi yang saling bertolak belakang. Reddish yang begitu membara dengan aura merahnya yang panas, sementara Azure dengan ekspresi rapuhnya yang mendinginkan ruangan.

Azure seakan kehilangan kekuatannya untuk melawan dan justru kian menangis saat melihat lelaki klan merah itu di depannya. Hatinya terlalu sakit dan tubuhnya terasa lemas mengingat bagaimana dia tertipu oleh makhluk laki-laki itu untuk kesekian kali.

“Kaubilang aku boleh menyentuhmu setelah menikah.” Reddish masih memasang ekspresi dingin di wajahnya saat berucap.

Azure memundurkan langkah membuat Reddish menyipitkan matanya dengan tatapan menilai. “Aku … aku belum mengucapkan ikrarku. Kau … kau tak berhak menyentuhku,” ucap perempuan itu dengan ekspresi terluka. Kedua lengannya erat memeluk tubuh, menyatakan usahanya untuk melindungi diri yang tentu saja sia-sia.

Reddish melangkah cepat dan mendesak Azure hingga perempuan itu menabrak dinding merah di belakangnya. Kedua tangan Reddish memerangkap Azure di sisi kiri dan kanannya, menatap perempuan itu lekat.

Ada ekspresi tersinggung yang pekat ditampilkan Reddish dalam ekspresinya. Dari semua kemungkinan yang dipikirkannya di hari-hari lalu, dia tak menyangka jika serangan yang datang di hari pernikahannya adalah kemunculan makhluk ungu yang tentu saja mengejutkannya berikut pernyataan lelaki klan biru tadi yang entah bagaimana bisa tahu rahasia besar menyangkut kedua matanya. Namun, pikiran Reddish yang cerdas itu tentu saja masih bergumul dengan sejuta tanya dan antisipasi tentang semua hal yang datang bertubi-tubi itu. Dan itu akan diurusnya nanti. Sekarang, Reddish benar-benar tak bisa mengalihkan perhatiannya lagi selain kepada perempuan biru di hadapannya ini.

Reddish mendekatkan wajahnya, mengembuskan napas panasnya ke sisi wajah Azure yang penuh air mata.

“Aku tak pernah menerima pembatalan kata-kata, Azure.” Reddish menggesekkan bibirnya ke bibir Azure, senyumnya tampak menyeringai kejam, menampakkan ekspresi gelap yang belum ditunjukkannya kepada perempuan itu. “Aku tak peduli kau mengucapkan ikrar atau tidak, Perempuan. Kau telah sah menjadi milikku dan tak akan pernah bisa lepas lagi.”

Reddish melumat bibir Azure tanpa ampun. Tak memberi kesempatan pada perempuan itu untuk menghindar. Sebelah tangan Reddish menelusup ke sisi leher Azure dan menekan kepalanya semakin mendekat ke arahnya, membuat lelaki itu semakin menggila dengan ciumannya yang dalam dan sensual, menyesap, menggigit dan menguasai ciuman panas itu tanpa ampun. Sebelah tangan Reddish yang lain memeluk erat tubuh Azure dengan usapan tangannya yang ahli menelusuri punggung dalam gerakan ringan nan menggoda.

Di tengah kedua matanya yang berkabut, dimabuk oleh sensasi panas berkat kedekatan intimnya dengan Azure itu, Reddish melebarkan mata dan tanpa sadar melepaskan ciumannya demi melihat selubung warna yang melingkupi mereka berdua.

Azure yang hampir limbung memanfaatkan kesempatan itu untuk menarik napas dalam-dalam dan mencengkeram trench coat milik Reddish untuk berpegangan.

“Kau melihatnya?” Reddish mengangkat tangannya ke udara dan menguarkan aura merah miliknya hingga makin pekatlah warna ungu yang melingkupi mereka berdua. Azure yang saat itu masih mengatur napas seketika mendongak dan melihat jika wajah Reddish kini tampak bekerlipan oleh warna ungu yang cerah nan indah.

Sontak Azure menunduk dan melihat dirinya sendiri, lantas terkejut pula saat warna ungu itu juga melingkupi dirinya.

“Aura kita … menyatu?” Azure turut mengangkat tangannya dengan wajah merona. “Tapi … tapi kenapa makkhluk-makhluk lainnya tak dapat melihat warna ini? Apakah … apakah hanya kita berdua yang bisa melihatnya?”

Melepas ketegangan serta kebencian yang sempat merecoki hatinya, Azure melebarkan mata dengan kelegaan yang entah bagaimana begitu kurang ajar masuk ke hatinya.

Apakah ini artinya pernikahan itu benar-benar berhasil? Apa yang sebenarnya terjadi ?

Reddish mengetatkan gerahamnya melihat ekspresi Azure yang ternganga dengan wajah merona itu. Tanpa menunggu lagi, lelaki itu mengangkat dengan entengnya tubuh Azure ke dalam gendongan lantas berkata dengan kalimatnya yang penuh godaan.

“Kalau begitu … kita tak punya banyak waktu untuk menunda lagi. Kita harus segera menciptakan makhluk ungu itu untuk menjaga agar pelangi semesta tetap menyala, bukan? Bukankah bekerja berdua akan lebih memberikan hasil yang maksimal ketimbang mengandalkan makhluk ungu sialan yang lemah itu?”

Reddish melangkah cepat membuat tubuh Azure terayun di dalam rengkuhan tubuh Reddish yang memeluknya rapat.

“Kau … mau apa?” Azure bertanya dengan wajahnya yang memucat saat melihat jika langkah lelaki itu semakin dekat ke arah ranjang.

Reddish tak menjawab pertanyaan retorik itu dan hanya mengangkat sebelah bibir dalam senyuman yang memperlihatkan lesung pipitnya yang manis. Diletakkannya perlahan-lahan Azure ke peraduan. Saat perempuan itu hendak meloncat dengan bersegera untuk duduk, Reddish memasang tubuhnya cepat, membungkuk di atas Azure hingga mau tak mau perempuan itu berbaring kembali.

Reddish menumpukan tubuhnya dengan kedua tangan, mendekatkan wajahnya ke wajah Azure hingga napas mereka saling beradu satu sama lain.

“Aku mau kau, Azure. Aku mau kau menjadi milikku seutuhnya,” bisiknya dengan sedikit menempelkan bibirnya ke sisi telinga perempuan biru itu.

Azure memejam merasakan dadanya bedebar kencang beriringan dengan tubuhnya yang mendingin diterpa kegugupan yang turut mengalirkan nuansa panas ke seluruh tubuh.

Merasakan jika tubuh Azure sedikit gemetar dan menyambut sentuhannya, Reddish mulai menggeserkan bibirnya dan menciumi pipi Azure dengan lembut, mengecupi rahang, dan mencium mesra bibir perempuan itu sebelum melumatnya dengan penuh perasaan selama beberapa waktu.

Azure tak tahu apa yang sedang terjadi dengan dirinya, karena seolah anggota tubuhnya begerak sendiri, kedua tangan Azure secara alami merangkul leher Reddish hingga semakin pekatlah aura merah yang memendar dari tubuh lelaki itu. Kedua kaki Azure bergerak, memberi keleluasaan kepada Reddish dan Reddish tak membuang-buang waktu lagi untuk segera menempatkan diri.

“Azure ….” Reddish berbisik dengan suaranya yang serak saat merasakan hasratnya yang berkobar berkat sentuhan tangan dingin Azure di leher dan bagian belakang kepalanya.

Reddish tahu perempuan itu telah hanyut dalam sentuhannya yang sangat intim. Kedua mata Azure memejam, keningnya tampak mengernyit dalam gerakan bibir dan lidahnya yang polos saat menyambut Reddish yang semakin memperdalam gerakan-gerakan bibir dan lidahnya yang lihai di mulut Azure.

Sebelah tangan Reddish mulai bergerak melepas jas dan seluruh pakaian berwarna merah ketat yang menempel erat pada tubuhnya dalam sekali sentuhan, membuat Azure membuka tipis kedua matanya yang terlingkupi aura biru nan penuh hasrat dengan wajahnya yang merona melihat bagaimana kekar dan kokohnya tubuh Reddish.

Lelaki merah ini …

Azure sungguh tak tahu lagi dengan perasaan tak karuan yang saat ini mengembang di dadanya. Dia yakin jika Reddish saat ini hanya sedang terbakar oleh hasrat kelelakiannya yang tak terbendung begitu mereka berdua disahkan oleh ikatan pernikahan. Azure sungguh tak ingin tertipu lagi oleh keadaan yang memberinya harapan. Hatinya yang telah lama ia tata dan telah sempurna mengabaikan perasaan itu tak ingin kecewa karena kebodohannya sendiri. Karena bahkan di saat Azure mulai berpasrah pada apa yang harus dihadapinya dan menyerahkan hatinya, dia harus kembali ditampar oleh kenyataan jika ternyata tidak seharusnya pernikahan ini terjadi karena masih ada makhluk ungu di luar sana yang masih bertahan?

Di tengah-tengah pemikiran yang bertubi-tubi membebani jiwanya, Azure terkesiap saat merasakan jika saat ini gaun yang tadi ia kenakan telah terambil dari tubuhnya hingga sekarang tak ada lagi sebenang kain pun yang menghalangi tubuh Reddish yang telah berada di posisinya. Kedua mata Azure mengatup kembali saat melihat jika Reddish sedang memandanginya begitu dekat dengan tatapan matanya yang dalam. Di sisi lain, lelaki itu seolah tak perlu meminta izin lagi saat berusaha memenuhi tubuh Azure dengan dirinya.

“Aku … tak akan meminta maaf … untuk ini.” Reddish berucap serak saat tubuhnya mulai bergerak. Bibirnya kembali mencecap bibir Azure dalam ciumannya yang panas, melingkupi tubuh Azure dengan kenikmatan tak tertolak yang memberi perempuan itu pengalaman luar biasa saat seluruh dirinya penuh sesak oleh Reddish yang tak mau berhenti mencumbu dan menyatukan diri mereka dalam kehangatan penuh aura ungu yang tak disadari oleh keduanya.

Aura ungu itu berpendaran kuat di sekitar peraduan, bekerlipan memenuhi ruangan, lantas menyebar dan bergerak mencari celah-celah kecil dari ruangan itu, terbang mengangkasa menuju pelangi semesta, membuat cahaya warna ungunya menyala semakin kuat, kian terang, seiring Reddish dan Azure yang tak berhenti saling memuaskan hasrat.

 

bersambung….

Baca Parts Lainnya Klik Di sini

7 Komentar

  1. rhafatimatuzzahra menulis:

    :lovelove

  2. Jayaning Sila Astuti menulis:

    yang ditunggu-tunggu akhirnya update..

  3. :babeinicintaku yeayyy

  4. Wooww :lovely

  5. Tks ya kak udh update.

  6. Akhirnyaaaa