Red Prince

The Red Prince | Part 28 : Rindu Dan Cinta

Bookmark

No account yet? Register

Cover

20 votes, average: 1.00 out of 1 (20 votes, average: 1.00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

 

Baca Parts Lainnya Klik Di sini

 

“Tidur? Kaubilang tidur, Azure? Aku dan semua makhluk sangat mengkhawatirkanmu dan ternyata kau sedang tidur?”

Reddish berkata dengan menahan-nahan suara sembari mengusap wajahnya dengan frustrasi. Ia mendadak merasa konyol dengan tingkahnya sebagai suami bodoh yang tak mengerti dengan keadaan istrinya.

Oh, jadi karena Azure sedang tidak sakit sehingga kekuatan merahnya hanya terserap di tubuh perempuan biru itu tanpa menghasilkan efek apa-apa?

Reddish kesal bukan main. Lelaki itu berkacak pinggang dengan sesekali mengusap wajahnya dengan kasar. Bersenjang dengan Reddish yang sedang jengkel habis-habisan, Azure tampak damai dengan kedua matanya yang memejam. Kali ini, perempuan itu benar-benar tampak seperti makhluk yang sedang tidur dengan posisinya yang tertidur miring dan memeluk guling yang dengan rapat ia rengkuh dengan kedua tangannya. Tak ada sahutan dari Azure. Tampaknya, perempuan itu lekas kembali terlelap setelah mengubah posisi tidurnya tadi.

Reddish mengembuskan napas panjang lalu membungkuk di peraduannya dan merapatkan kembali selimut tebal berwarna merah itu hingga menutupi leher Azure. Rambutnya yang biru memanjang itu dibiarkan tergerai, tampak cantik seperti riam berwarna biru laut di antara cadas merah di atas bantal merah tua di peraduan itu.

Lelaki itu pada akhirnya mengulas senyum tipis, lantas mengecup pelipis istrinya lembut penuh sayang, sebelum beranjak dari sana dan berniat pergi ke ruang aula di mana para pemimpin klan warna sedang berkumpul di sana untuk membicarakan hal-hal penting terkait pemerintahan negeri dan segala hal yang berhubungan dengan kastil. Namun sebelum itu, ia akan memenuhi janjinya kepada diri sendiri untuk pergi ke ruang tahanan. Kedua tangannya telah gatal untuk mengeluarkan kekuatan merahnya dan meremas habis pelayan kurang ajar yang berani-beraninya memiliki nyali untuk menusuknya dari belakang itu.

Kini hatinya telah benar-benar dipenuhi kelegaan luar biasa karena seperti yang dikatakan okultis itu, Azure betul-betul dalam kondisi yang sehat dan tak perlu dikhawatirkan. Ia hanya cukup memerintahkan para pelayan perempuan untuk terus berjaga di sekitar ruang pribadinya itu untuk menjaga Azure. Perihal istrinya telah tuntas ia tangani dan kini adrenalinnya untuk memburu para makhluk kurang ajar itu kembali membara.

“Crimson.” Reddish berdiri di ambang pintu ruang pribadinya itu, menyakukan sebelah tangannya  di saku celana.

“Saya, Tuan.” Crimson menjura begitu namanya dipanggil.

“Perintahkan beberapa makhluk pelayan dan prajurit perempuan untuk menjaga istriku. Pastikan tidak ada suara apa pun yang dapat membangunkan tidurnya. Aku akan kembali setelah urusanku selesai,” titahnya lantas melangkah kilat, meninggalkan kabut tipis berwarna merah dari aura tubuh Reddish  yang membuat Crimson harus menarik napas panjang karena terkejut, tak diberi kesempatan untuk sekadar menjawab perintah.

Keterkejutan pertama Crimson adalah karena Reddish memerintahkannya untuk menyiapkan perempuan pelayan dan bukan perempuan okultis seperti beberapa waktu lalu dan keterkejutannya yang kedua adalah karena Reddish benar-benar meninggalkan ruang pribadinya dan hendak menyelesaikan pekerjaannya?

Apakah Nona Maharani telah benar-benar pulih sehingga saat ini sedang tertidur pulas dan tak perlu dikhawatirkan?

Diam-diam lelaki tua klan merah itu menarik napas lega. Maharani pemimpin mereka pada akhirnya  berhasil mengandung calon putra mahkota yang sangat mereka nanti-nantikan. Kelahiran makhluk ungu istimewa karena terlahir langsung dari pemimpin mereka yang istimewa pula.

Cinta memang tak mengenal warna. Sungguh ajaib tuan Reddishnya yang Agung pada akhirnya bisa jatuh hati kepada makhluk berbeda klan warna yang pada awalnya hanyalah untuk memenuhi tanggung jawabnya sebagai pemimpin negeri. Mungkin ini adalah pernikahan langka dan awal mula kejayaan klan ungu di masa depan.

Crimson menarik napas dengan sikap tubuh penuh keyakinan lalu melangkah menuju ruang pelayan lantas memberikan perintahnya dengan tegas kepada makhluk-makhluk perempuan yang senantiasa patuh dan setia menjalankan tugasnya kepada Reddish itu.

***

Reddish melangkah perlahan di dalam ruang tahanan yang temaram. Suara jangkahnya tak terbaca, sehingga siapa saja yang sedang berada di ruangan itu hampir tak menyadari jika pemimpin klan merah mereka  telah datang.

“Kau sudah menyuruh mereka untuk bersiap?” Tatapan Reddish lurus ke depan, mengamati ruang demi ruang yang memanjang di sejauh kedua matanya memandang.

“Sudah, Tuan. Saya menyuruh mereka untuk berdiri di belakang terali besi,” jawab kepala ruang tahanan itu sembari menjura.

“Kau mengumumkan jika aku akan datang?” tanyanya lagi. Kali ini dengan antusiasnya yang semakin besar, terlihat dari aura merah di tubuhnya yang menyala semakin terang, membuatnya tampak seperti iblis yang keseluruhan tubuhnya mengeluarkan api berwarna merah menyala.

“Ti-tidak, Tuan. Saya tidak berani berkata-kata melebihi apa yang Anda perintahkan,” jawabnya gugup dengan ucapannya yang terbata-bata.

Sang kepala prajurit itu menunduk semakin dalam. Tubuhnya mendadak berkeringat dan tanpa terasa kedua tangannya gemetar menahan rasa ngeri. Sudah beberapa kali ia mengetahui bagaimana tuan Reddish mengeksekusi makhluk warna dengan kekuatannya yang mengerikan. Namun, baru kali inilah ia sepertinya akan melihat kesempatan itu secara langsung. Namun, atas dasar apakah pemimpinnya ini berniat melakukan penyaringan ulang dengan tangannya sendiri? Apakah ada makhluk pelayan yang saat ini ditahan di ruangan ini pernah melakukan kesalahan besar yang menyinggung tuan Reddish secara langsung?

Jantung prajurit malang itu bedebar cepat dan penuh pergolakan ketika langkah mereka kian jauh masuk ke dalam ruangan tahanan.

Perlahan tapi pasti, Reddish mengamati satu persatu makhluk yang saat itu sepertinya mulai tahu siapa yang datang. Mereka, para pelayan itu, menunduk dalam, tak berani barang melirik saja melalui ekor matanya tentang apa yang akan mereka hadapi dan seperti mesin pemburu yang siap menghancurkan apa yang diincarnya, Reddish dengan kedua matanya yang tajam itu memindai kepada tahanan itu dengan saksama.

Asap pengaruh kekuatan  jiwa itu memiliki warna abu-abu nan berpilinan yang tertinggal pada benda apa saja yang disentuhnya dan Reddish hanya harus menemukan pelayan yang diliputi oleh asap yang sama seperti sisa-sisa yang terdapat di sisi ruang kerjanya itu saat terlihat melalui matanya yang buta warna. Lalu, seperti memanggil-manggilnya untuk datang dan seolah sisa-sisa ramuan itu mengenali siapa tujuannya, asap abu-abu itu tampak keluar dari salah satu ruang tahanan yang berada di ujung.

Sebelah mata Reddish yang tak mengenakan lensa langsung mengenali asap abu-abu tersebut. Gerahamnya beradu ketat saat seolah kekuatan pengecut itu melambai-lambai kepadanya, tanpa tahu siapa yang sedang ia hadapi.

Napas Reddish mulai memburu, dipacu oleh amarah yang ia lepaskan penuh suka cita saat berhasil mengetahui siapa sasarannya. Kedua tangan lelaki itu mulai menyala, berkobar menciptakan kekuatan merahnya yang membara laksana api paling panas yang pernah ada.

Bingung sekaligus takut akan apa yang akan dilakukan oleh Reddish, kepala ruang tahanan itu tanpa sadar memundurkan langkah dengan ketakutan yang hampir membuat kesadarannya tumpul.

Reddish menyalakan kekuatan tubuhnya tak tanggung-tanggung hingga lantai ruangan itu turut bergetar, tak kuasa menahan besarnya api merah yang membuat nyaris lantai tempat mereka berpijak itu berhamburan. Dengan sepenuh amarahnya yang menggila, Reddish melemparkan kekuatan merahnya tepat ke sudut ruang tahanan.

Pelayan merah yang sepertinya sudah tahu apa yang akan terjadi pada dirinya itu seketika bersujud, penuh kengerian dan penyesalan tak berguna yang tak akan mampu mengubah pendirian lelaki klan merah itu ketika murka.

Tubuhnya melayang diliputi rasa panas menyengat yang membakar sekujur tubuh, lalu secepat kilat tubuhnya menabrak terali besi dan dipaksa mematahkan besi-besi itu dengan tubuhnya, membuat tulang-tulangnya berderak seperti patah. Seolah itu belum cukup menyiksa, Reddish menyeret tubuh pelayan itu dengan sepenuh kekuatannya, membuat suara teriakan pelayan malang itu menggema sebelum kemudian menghilang saat perlahan-lahan, dengan penuh rasa sakit tak tertahan, tubuhnya musnah ditelan kekuatan merah milik Reddish. Sungguh-sungguh musnah, tanpa abu dan sisa-sisa tubuh yang barangkali bisa dikenang oleh istri serta anaknya yang kini meringkuk dalam tangisan di rumahnya, menanti kabar tak pasti dari suaminya.

Terakhir kali, sebelum Reddish keluar dari ruang tahanan tersebut, ia menyentakkan aura merahnya ke ruangan tempat pelayan merah tadi berada, seolah-olah ia begitu putus asa untuk menghilangkan jejak pengkhianat yang sangat melukai hatinya itu. Suara ledakan meletus keras kemudian, terdengar hingga kastil-kastil dan bangunan rumah makhluk di sekitarnya.

“Pengkhianat harus musnah! Negeri langit tak menerima makhluk-makhluk bangsat yang berkhianat,” teriaknya diikuti raungan-raungan suara ketakutan dan memohon ampun dari para tahanan lain yang saat itu bersimpuh di ruang tahanannya masing-masing. Berharap kebaikan hati pemimpin mereka.

Kepala ruang tahanan yang saat itu terkejut setengah mati dengan apa yang terjadi hanya bisa bersandar di dinding dengan mata terbelalak karena pojok ruang tahanan itu kini sungguh-sungguh runtuh dan terang-benderang, memperlihatkan awan-awan yang bergerak melintasi langit.

Tanpa suara Reddish melenggang pergi, tak peduli pada siapa pun yang memperlihatkan berbagai ekspresi atas perbuatannya tersebut. Dia tahu jika pengelola ruang tahanan di kastil miliknya itu paham harus berbuat apa tanpa diperintah.

***

“Musim hujan benar-benar akan datang sebentar lagi. Kita harus mempersiapkan anggota klan kita yang terbaik untuk mengikuti upacara penyemaian warna.” Ecru berucap serius di sela-sela diskusi mereka di meja rapat itu.

Sandstone berdeham. “Bukankah Maharani sedang dalam kondisi kurang baik dan tidak dapat memimpin upacara penyemaian kali ini?” Lantas … apakah kita masih akan menunda waktu penyemaian hingga waktu yang belum bisa ditentukan? Atau … Ecru, apakah kau mendapat mandat khusus dari tuan Reddish untuk persoalan yang satu ini?” tanyanya dengan nada serius yang sama.

“Kita tunggu sebentar lagi. Maharani masih harus menjalani beberapa pemeriksaan untuk memastikan jika kondisinya benar-benar baik dan siap untuk kita semua.” Ecru menjawab tegas.

Vantablack yang terduduk di sebelah Ecru itu tampak mengernyitkan dahi dengan ekspresinya yang lucu saat berpikir. Lelaki klan hitam kecil itu menyentuh lengan Ecru dan mendekatkan kepalanya untuk berbisik. “Paman, penyemaian warna itu … apakah aku harus ikut?” tanyanya dengan eksresi cemas.

Ecru menoleh dan melembutkan ekspresi wajahnya. Senyum tipis tersungging di bibirnya ketika ia berbicara. “Kenapa ekspresimu seperti itu? Apakah itu adalah wajah gugupmu karena baru akan pertama kali nanti kau mengikuti penyemaian?” tanyanya dengan memiringkan tubuh, memfokuskan perhatiannya untuk sesaat kepada anak lelaki klan hitam tersebut.

Vantablack sedikit menunduk. “Aku ingin menemani kedua orangtuaku saja di kastil merah. Apakah boleh?”

Ecru mengangkat sebelah alis dan tersenyum kembali. “Nanti aku akan membicaraknnya dengan Reddish, oke?” jawabnya mengacungkan ibu jari, lantas disambut oleh Vantablack dengan mengacungkan ibu jari kecilnya dan menyentuhkannya di ibu jari Ecru sebagai tos.

“Oke, Paman.”

“Wine, apakah tidak ada pesan khusus dari tuan Reddish untuk rapat kita kali ini?” Shamrock menoleh, memandang ke arah seorang ajun yang saat ini terduduk di kursi perwakilan klan merah.

“Saya-“

Baru akan berkata, pintu ruangan terbuka dengan Reddish yang segera melangkah cepat ke dalam ruangan. Semua makhluk yang ada di ruang rapat itu berdiri dan menjura serempak. “Tuan Reddish.”

Lelaki klan merah itu menempatkan diri di kepala meja. Seorang ajun mendekat ke arahnya dan berucap lirih, memberi tahu hasil musyawarah para petinggi klan yang telah berlangsung selama satu setengah jam tersebut.

“Baik. Aku akan memberi keputusan dari persoalan pertama dari rapat kalian tadi. Candy, akan digantikan oleh peneliti baru yang akan dipilih setelah melaksanakan seleksi ketat seperti biasanya. Candy memiliki lima orang asisten yang masih bertahan dan tim kelola kastil merah akan memilih kandidat terbaik dari lima orang tersebut. Sementara kalian para pemimpin klan warna, aku persilakan pula untuk mengirimkan kandidat terbaiknya dalam kontes seleksi peneliti dunia langit kali ini.”

Mocha, pemimpin klan cokelat itu seketika bertanya dengan suaranya yang diliputi ketidakpercayaan. “Maksud Anda … Tuan Reddish. Anda akan mengadakan seleksi terbuka untuk peneliti negeri yang baru? Anda … Anda tidak mengkhususkan peneliti ini dari klan merah saja?”

Dengan angkuhnya Reddish menjawab. “Kita lihat dari klan mana yang terbaik,” jawabnya singkat. Memupus harapan klan lainnya termasuk Mocha yang telah antusias.

Tentu saja mereka tahu dari klan mana makhluk-makhluk terbaik itu berasal. Dari mana lagi jika bukan klan merah tentu saja.

Namun meski begitu, mereka menyambut baik keputusan Reddish. Mereka paham bagaimana terlukanya Reddish oleh peristiwa perubahan warna makhluk yang ternyata bersumber dari penelitian Candy yang dibawa pergi oleh Carmine.

Para petinggi klan warna itu saling berbisik dan berdiskusi dengan teman sebelahnya setelah keputusan tersebut. Reddish yang kembali dihampiri oleh ajunnya yang menjelaskan berbagai pertanyaan dan keluhan dari para klan itu mendengarkan dengan saksama sambil  terdiam, sebelum kembali membuka mulut untuk menjawab permasalahan-permasalahan di rapat besar tersebut.

“Mengenai penyemaian warna ….” Reddish menarik napas panjang dan berdeham. Entah bagaimana ia saat ini merasa malu oleh ingatannya sendiri ketika tahu jika istrinya sedang mengalami masa kehamilan yang sepertinya akan terus menguji kesabarannya.

Para pemimpin makhluk tentu saja langsung memasang wajah penuh ketertarikan saat Reddish hendak membahas perihal penyemaian warna yang sangat mereka nantikan. Reddish menyatukan kedua tangannya di meja. Lelaki itu tampak menimbang-nimbang sejenak seakan ia begitu berat memutuskan perkara yang satu ini.

“Aku akan membicarakan hal ini dengan istriku terlebih dahulu,” jawabnya tanpa diduga-duga oleh semua makhluk yang ada di tempat itu tanpa terkecuali Ecru yang turut melebarkan mata dan bersedekap.

Ah, selain menjadi lelaki pencinta yang andal setelah menikah, apakah ternyata Reddish sedang terjebak oleh bui cintanya sendiri di mana justru dia yang terpenjara oleh perasaannya sehingga menjadikan Azure seluruh keputusannya?

Ecru terkekeh kecil saat melihat jika ada selintas rona merah muda yang bersemu di pipi Reddish.

“Apakah Nona Azure telah benar baik-baik saja dan siap melakukan penyemaian, Tuan?” Fuschia dengan wajahnya yang berbunga-bunga itu bertanya. “Kami … kami sungguh ingin mengetahui kabar tentang Nona Azure,” ucapnya sembari menunduk kemudian.

Reddish berdeham lagi. “Istriku baik-baik saja,” jawabnya dengan wajah dinginnya yang kaku, tak tahu jika semua makhluk  warna di ruangan itu sempat melihat senyum tipisnya di sudut bibir.

***

“Hei. Benarkah Azure baik-baik saja?” Ecru menyejajarkan langkah saat dilihatnya Reddish keluar ruangan setelah menutup rapat yang cukup melelahkan itu.

“Ya. Seperti yang kukatakan tadi.” Reddish menjawab tanpa menoleh.

“Kehamilannya dan peristiwa di ruang aula putih waktu itu … sungguh tak membuat perempuan itu terluka? Ajaib sekali karena ternyata dia bisa menyelamatkanmu di saat-saat genting.” Ecru mencegat langkah Reddish cepat ketika keduanya tiba di depan pintu salah satu ruangan di sisi lorong.

“Ayolah, Kawan. Kita harus minum untuk merayakan keberhasilanmu sebagai lelaki sejati.” Ecru membujuk dengan nada menggoda seraya membuka pintu.

Reddish mendecak dan mau tak mau menyetujui permintaan sahabatnya tersebut. “Ya, ya. Baiklah. Sebentar saja. aku tak punya banyak waktu,” keluhnya lalu mendahului memasuki ruangan.

Lelaki klan merah itu mengambil tempat duduk di tengah sofa merah di ruangan tersebut, diikuti Ecru yang melangkah terlebih dahulu menuju lemari penyimpanan minuman, mengambil dua gelas kecil dengan satu tangan dan menghampiri sahabatnya itu yang kini duduk menyilangkan kaki menunggunya.

“Jadi … baik-baik saja seperti apa yang kaumaksud itu?” Ecru mengempaskan duduknya di seberang Reddish, menuang minuman berwarna cokelat bening itu dan menyorongkannya ke sisi meja di depan sang lelaki klan merah.

“Aku tidak yakin.” Reddish menumpukan tubuhnya dengan kedua siku di atas lutut. Tubuhnya melemas. Tampak saat itu Reddish meruntuhkan ekspresi kuatnya dan menampilkan sosok seorang sahabat yang biasa di depan Ecru. “Kekuatan merahku tidak mempan pada tubuh Azure yang sedang hamil. Semua makhluk mengatakan kalimat baik-baik saja pada kondisi Azure sementara perempuan itu tak juga terbangun. Dan tahukah kau? Ternyata perempuan itu sedang tertidur. Tidur,” ujarnya dengan penekanan pada kata tidur sembari menggebrak meja di depannya. Ekspresinya terlihat sebal bukan main.

Dari seberang sofa tampak Ecru melongo beberapa saat sebelum kemudian tampak berusaha keras  menahan tawa hingga wajahnya memerah.

Reddish mendengus keras lantas meneguk minumannya dengan gerakan kasar. Menghabiskannya sekali teguk.

“Berapa lama kau tidur dengannya sehingga kau tak bisa membedakan mana pingsan dan mana tidur?” Ecru tergelak.

Tatapan Reddish menyipit. “Kaupikir untuk apa aku mengeluarkan kekuatan merahku jika bukan karena dia tampak pucat dan terus menerus mengeluhkan kesakitan? Aku hampir gila menunggu kabar tak pasti dari okultisku sementara istriku tak juga membaik,” ucapnya lalu mengetatkan gerahamnya dengan ekspresi lelah.

“Ya … ya, aku tahu. Aku tahu. Aku hanya bercanda, Kawan. Jangan terlalu sering mengerutkan kening seperti itu terlalu lama, nanti kau cepat tua.” Ecru berkata dengan gerakan tangannya yang menunjuk-nunjuk.

Perhatian Reddish teralihkan atas ucapan Ecru tersebut, lelaki itu tiba-tiba saja menegakkan punggung dan mengusap-usap pipinya dengan gerakan canggung.

Cepat tua? Bagaimana bisa dia baru saja menikah dan ia sudah tampak tua?

Ecru pura-pura berkonsentrasi menuang minumannya, padahal ia hampir tak kuasa menahan mulutnya untuk tak terbahak melihat tingkah Reddish itu.

“Kau harus lebih sabar. Makhluk perempuan yang sedang mengandung biasanya memiliki pola hidup yang berubah dari sebelumnya. Dan tidur panjang yang dialami Azure mungkin adalah salah satunya.” Ecru berdeham untuk mengalihkan perhatiannya pada tingkah lucu sahabatnya yang saat itu entah sedang memikirkan apa.

Reddish menghela napas. “Ya. Aku siap untuk apa pun. Aku siap jika bahkan aku harus mati untuk hidup Azure,” tukasnya dengan nada yakin.

Ecru mengangguk sembari meneguk minumannya. Dia tahu keyakinan itu pasti muncul di sisi hati Reddish. Sisi seorang suami sejati yang begitu mencintai dan melindungi keluarganya seperti makhluk-makhluk langit yang lainnya. Hanya saja, Reddish tentu saja memikirkan keluarga nya tidak hanya sekadar untuk dirinya sendiri. Reddish sangat tahu jika seluruh tanggung jawab sedang ada di pundaknya, keberhasilan kepemimpinannya dalam menyalakan pelangi semesta bergantung pada dirinya dalam merawat sang istri yang tengah mengandung.

Lelaki klan kuning itu meletakkan gelasnya.“ Vantablack ada permintaan kepadamu.” Ecru memundurkan tubuh, menempelkan punggungnya pada sandaran sofa.

“Vantablack?”

“Ya. Dia meminta izinmu agar tetap bisa berada di kastil merah menemai kedua orangtuanya dan menunda penyemaiannya pertama kali di hari esok kau memimpin penyemaian. Apa rencanamu?”

Sudut bibir Reddish berkedut. “Anak yang sungguh berbakti,” komentarnya kemudian. “Tapi sayang sekali aku tak akan mewujudkan keinginannya yang satu itu,” tambahnya dengan tatapan kaku ke arah Ecru.

Ecru yang sudah sangat paham dengan watak Reddish yang tak bisa dimengerti keinginannya itu hanya mengiyakan sembari mengangguk-angguk dengan ekspresi terpaksa. “Ya. Ya. Aku mengerti. Aku akan bilang padanya nanti.”

“Ya. Bilang padanya bahwa ini adalah kesempatan pertamanya melakukan penyemaian warna ke dunia manusia. Aku akan melepaskan kedua orangtuanya untuk kesempatan itu sebelum mereka benar-benar dibebaskan sesuai waktu yang telah kutentukan.”

Ecru yang tengah sibuk berpikir keras tentang bagaimana ia akan menyampaikan kabar buruk itu kepada Vantablack tak sempat memperhatikan ucapan Reddish benar-benar sehingga ketika telinganya berhasil mengirimkan arti kalimat sahabatnya itu ke otaknya, Ecru tersentak sejenak. Lelaki klan kuning itu menatap Reddish tanpa berkedip atas ketidakpercayaannya.

“Ap-apa? Kau akan membebaskan satu keluarga itu? Kau serius?”

Reddish mengangkat bahunya dengan ekspresi santai. “Ya. Dia masih bocah dan kesalahan-kesalahannya di masa lampau adalah karena dia belum mengerti. Sebagai imbalan atas ampunanku, dia harus mengabdi sepenuhnya secara langsung kepadaku hingga masa depan nanti. Keputusanku yang ini tak berubah, Ecru. Sampaikan kepada Vantablack dan orangtuanya jika pilihan bocah hitam itu adalah hidup dalam perintahku atau mati di tanganku,” ancamnya di akhir kalimat yang membuat Ecru menahan napas tegang.

Beruntung, sebelum Reddish melanjutkan ultimatumnya yang angkuh lebih lanjut, salah seorang pelayan yang Reddish tahu sebagai salah satu pelayan yang ia tempatkan di ruang pribadinya itu datang mengetuk pintu.

Nuansa tegang kini beralih ke tubuh Reddish. Lelaki itu memajukan tubuh dengan sikap tubuhnya yang waspada begitu pelayan itu dipersilakan masuk, tetapi hanya berani berdiri di ambang pintu.

“Saya membawa kabar, Tuan. Nona Azure terbangun dan mencari Anda,” ucap pelayan itu sembari menjura.

Tanpa berpikir dua kali, begitu mendengar kata Azure terbangun, Reddish segera berlari kilat keluar ruangan, membuat makhluk-makhluk yang berada di ruangan itu harus memejamkan mata dan menutup wajahnya dengan lengan karena aura merah Reddish yang memendar dan bergerak secepat angin itu menyambar tak kenal ampun pada apa saja yang dilewatinya.

***

Azure terduduk di atas peraduan itu dengan pandangan melamun. Kepalanya terasa pening karena sepertinya ia tertidur terlalu lama. Namun anehnya, ia juga merasa jika rasa kantuk tak mau berhenti mengajaknya terpejam.

Setelah meneguk setengah gelas minuman yang disediakan oleh pelayan kepadanya, pada akhirnya perempuan itu terduduk dengan pikirannya yang bingung. Hal terakhir kali yang ia ingat adalah ketika dirinya tanpa menahan-nahan lagi, mengeluarkan kekuatan birunya sebesar yang ia bisa untuk melingkupi Reddish.

Apakah kekuatan itu yang menyedot energi tubuhnya sehingga ia merasakan tubuhnya lemas seperti ini?

Suara ribut terdengar dari arah luar kamar dan seketika Azure menoleh. Tak berapa lama, muncullah Reddish seolah sedang melakukan sihir sehingga dalam sekejap mata, lelaki itu telah tiba di sisi peraduannya.

Azure melebarkan mata ketika menatap suaminya yang terengah. Tatapannya berubah cemas kemudian. “Apakah semuanya baik-baik saja?” tanyanya dengan tatapannya yang lekat ke arah Reddish.

Reddish terpaku sejenak. Pandangannya merambat perlahan dari ujung kepala Azure hingga kaki perempuan itu yang tertutup selimut. Lelaki itu kemudian berjalan perlahan mendekati ranjang. Tatapannya lekat ke perut istrinya.

“Reddish,” tegur Azure saat melihat jika lelaki itu hanya diam dan melihatnya seperti sedang memandangi makhluk aneh.

Reddish mengulas senyum tipis lalu mendudukkan dirinya di ranjang. “Semuanya baik-baik saja. Apakah kau masih mengantuk?” tanyanya lalu merengkuh Azure dan mendekapnya dalam pelukan, mengubah posisi mereka berdua yang semula terduduk menjadi berbaring miring saling berhadapan dan memeluk.

Lelaki itu mengusap-usap punggung Azure dan mengecup perempuan itu di semua sisi wajah dengan gemas. Sentuhannya lantas mulai merambat ke sisi tubuh Azure, lalu mengelus perutnya perlahan. Reddish mendekap kepala perempuan itu rapat, sehingga kali ini, perempuan itu tak bisa melihat dengan pasti, apa ekspresi yang sedang ditunjukkan suaminya.

Astaga. Apakah Reddish akan mengajaknya bercinta?

Lelaki itu memejamkan mata sembari mengerutkan kening. Perasaannya meluap tak terperi saat memeluk Azure seperti ini. Jiwa kepahlawanan di dalam dirinya begitu menyala seolah ia sedang merengkuh dan melindungi dua makhluk sekaligus yang saat ini begitu dicintainya. Azure dan putranya yang telah ia nantikan kehadirannya.

“Bagaimana dengan yang di dalam sini?” tanyanya perlahan, lalu mengendurkan dekapannya sehingga kini mereka bisa saling bertatapan. Jantungnya bedebar ketika sebelah matanya yang tak mengenakan lensa itu bisa melihat dengan jelas bagaimana warna biru istrinya itu tampak menghibur sisi matanya yang cacat.

Azure menatap Reddish kemudian, memindai berulang kali kedua bola mata merah milik suaminya yang kini tampak teduh menatap ke arahnya. Saat tangan Reddish kembali mengusap perutnya dengan lembut, perempuan itu menunduk. Jantungnya terpacu cepat saat kata hatinya tiba-tiba membisikkan kabar mengejutkan ke dalam pikirannya sendiri.

Perempuan itu kembali menengadah dan menemukan jika Reddish sedang memejamkan matanya dengan khidmat. Dan seolah tahu jika Azure sedang menatapnya, lelaki itu kembali mencium dahinya. Tanpa sadar, Azure meletakkan telapak tangannya di atas punggung tangan Reddish yang masih mengusap perutnya. Pandangannya berkaca-kaca dalam komunikasi tanpa kata dengan Reddish yang terdiam, menyampaikan maksudnya dengan sentuhan di perut perempuan itu penuh arti.

“Dia sedang berusaha untuk tumbuh besar di perutmu.” Reddish berucap lirih seperti berbisik, lantas membuka matanya lembut. “Kau sempurna, Azure. Kaulah satu-satunya makhluk yang sempurna untukku,” lanjutnya lagi lantas tak kuasa menahan diri untuk segera mendaratkan ciumannya di bibir Azure yang kali ini disambut oleh perempuan itu dengan ciuman yang sama berartinya, seolah telah begitu lama mereka tak melakukannya.

Kedua jemari mereka bertaut dengan ciuman yang semakin dalam, saling meresapi perasaan masing-masing. “Terima kasih telah mengandung anakku. Terima kasih.” Reddish berucap di sela-sela ciumannya. Suaranya terdengar serak, penuh perasaan.

“Aku ingin memastikan sendiri apakah dia benar baik-baik saja atau tidak.” Reddish mengangkat kepalanya dan dengan sengaja membisikkan kalimat menggoda itu di telinga Azure, membuat seluruh sisi wajah Azure merona. Senyuman lelaki itu tak bisa terbaca lagi, antara begitu menginginkan Azure dalam kuasanya yang buas atau mencumbunya penuh kelembutan yang memabukkan. Keduanya sama-sama membuat Azure kehilangan akal sehatnya sehingga ia tak bisa mengontrol dirinya lagi saat tanpa diperintah, sebelah tangannya menyentuh rambut merah itu lantas mulai merambat ke bagian kepala Reddish yang sensitif.

Reddish dengan lembut menggulingkan tubuhnya menguasai Azure, memegangi kedua lengan istrinya dan menautkan jari jemari mereka dengan gerakan sensual, lalu mulai mencumbui Azure dengan mengecup setiap jengkal permukaan kulit lembut istrinya itu dengan hasrat yang berkobar. Memulai percintaan mereka dalam balutan kerinduan serta cinta yang membuat aura ungu berpendar kuat di ruangan itu, menyatukan cinta keduanya di dalam penyatuan dua warna yang magis nan tak tertolak.

Suasana kali ini terasa lain karena baik Reddish maupun Azure sama-sama merasakan jika mereka memang menginginkan satu sama lain. Saling menerima dan memberi cinta dengan sama besarnya. Reddish memutuskan untuk membicarakan perihal upacara penyemaian warna itu nanti, karena saat ini, tak ada yang bisa ia lakukan selain menikmati kedekatannya dengan sang istri yang begitu kuat membangkitkan aura merah di tubuhnya, melingkupi dan terlingkupi dengan hati yang sama-sama mencintai.

 

Bersambung ….

Baca Parts Lainnya Klik Di sini

10 Komentar

  1. Queen_Urvilla menulis:

    :lalayeye

  2. rhafatimatuzzahra menulis:

    :lovelove

  3. Dian Sarah Wati menulis:

    :lovelove :lovelove

  4. Jayaning Sila Astuti menulis:

    sabar bang, ya gitulah bawaan bumil kadang ya.

  5. Bidadari Jelita menulis:

    Kapan updateeeee??? Pinisiriiiiinnnn lah bang

  6. Tks ya kak udh update.

  7. Sabar2in dah mood nya bumil naek turun