Sassy Maid

Sassy Maid and Playboy Doctor – 16

Bookmark

No account yet? Register

9 votes, average: 1.00 out of 1 (9 votes, average: 1.00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

2

Baca Parts Lainnya Klik Di sini

Pagi hari, Lizbeth sudah bangun dengan semangat baru untuk melewati hari. Dengan langkah ringan, dia menuju kamar mandi dan bersenandung kecil di bawah shower. Tubuhnya terasa lebih segar ketika bersentuhan dengan air. Saat melihat ke arah bathtub, timbul niatnya untuk berendam. Beberapa hari ini kulitnya tampak kusam. Untung saja dia membawa bath bomb dan mengambilnya dari tas perlengkapan mandinya.

Begitu bola warna warni itu menyentuh air, bunyi letupan dan aroma menenangkan langsung memenuhi seluruh ruangan

Begitu bola warna warni itu menyentuh air, bunyi letupan dan aroma menenangkan langsung memenuhi seluruh ruangan. Lizbeth terkikik senang ketika air yang jernih berubah menjadi warna muda favoritnya. Segera dia melompat kedalam bathtub untuk berendam dan memanjakan diri disana.

Aroma lavender bercampur rempah yang menenangkan membuat sekujur tubuh Lizbeth terasa rileks. Sambil membasuh tubuhnya, sesekali dia memainkan busa dan memejamkan matanya. Setelah puas, dia membilas lagi dengan air hangat dan tersenyum puas ketika kulitnya lebih cerah. Terlalu nyaman dengan kegiatannya, gadis itu sampai lupa waktu dan selesai 45 menit kemudian.

Lizbeth melirik ke arah jam yang menunjukkan hampir pukul 9 pagi. Dia menoleh ke arah John sejenak dan mendapati kakak sepupunya itu masih tertidur pulas. Kelihatannya, acara mandinya tadi tidak menganggunya. Tanpa berniat membangunkannya, Lizbeth melanjutkan kegiatan dengan menyiapkan sarapan roti sendiri.

John tidak tidur seranjang dengannya dan memilih tidur di lantai beralaskan seprai tipis. Menurutnya Lizbeth sekarang sudah dewasa dan tidak boleh sembarangan tidur dengan pria lain. Walaupun dulu sewaktu kecil mereka sering tidur bersama, John tetap memberikan batasan. Dia tidak ingin itu menjadi kebiasaan buruk yang bisa disalah artikan oleh orang lain.

Begitu selesai dengan sarapannya, Lizbeth mengambil selimutnya untuk John agar kakak sepupunya itu tidak kedinginan. Ada raut sedih diwajahnya ketika memandang John meskipun matanya terpejam. Kakak sepupunya itu kelihatan sangat menderita.

Semalam setelah membeli kue, John tertawa seperti biasa dan menemaninya makan sambil bersenda gurau. Namun saat malam ketika Lizbeth berpura-pura tidur, dia menemukan John meneguk beberapa kaleng alkohol. Bahkan, agar tidak menganggunya, John sengaja keluar dan minum di teras.

Butuh beberapa saat sampai John kembali dalam keadaan mabuk. Dia masih bisa mandi dan mengganti pakaiannya sendiri lalu tertidur setelahnya. Meskipun begitu, sesekali dia selalu menggumamkan nama Anna dalam mimpinya. Kakak sepupunya sangat mencintai wanita itu sampai-sampai membuat dirinya mengenaskan.

Lizbeth lalu menoleh pada kue yang kemarin di beli John. Kue itu sangat cantik, tidak kalah dari coklat strawberry pilihannya. Sayang kalau kue itu dibiarkan rusak begitu saja. Kalau melihat dari sikap John kemarin, sepertinya dia ingin memberikannya untuk Anna. Pandangan gadis itu lalu beralih pada kartu ucapan yang diselipkan pada kue itu. Dia tidak bisa menahan keinginan untuk tidak mengitipnya. Lizbeth melirik ke arah John sejenak untuk memastikannya masih tertidur lalu membacanya.

For you, the women i love – Johnathan Lewis

Dari tulisan singkat itu, Lizbeth mengetahui kalau John sangat mencintai Anna. Karena itulah dia sangat tersiksa ketika wanita itu tidak mau bertemu dengannya. Hubungan mereka menjadi rumit seperti ini karena kesalahannya. Untuk meluruskan kesalahpahaman ini, Lizbeth akan turun tangan sendiri untuk membantu kakak sepupunya itu.

Lizbeth kembali membungkus kue itu dengan rapi dan menutup pintu apartement dengan hati-hati. Saat bertemu dengannya nanti, dia akan menjelaskan semua yang terjadi dan mengatakan betapa terpuruknya John tanpa dirinya. Anna pasti akan luluh dan iba dengan kondisi John sekarang dan mau berbaikan dengannya.

Lizbeth tersenyum senang karena rencananya pasti akan berhasil. Kalau hubungan keduanya telah membaik, maka Anna akan menjadi kakak iparnya. Tidak masalah jika dia tidak bisa melakukan photo shoot bertema pernikahan dengan John. Setidaknya, saat mereka menikah nanti, dia bisa memuaskan diri dengan mendadani Anna secantik yang mungkin.

Agar rencananya berjalan lancar, ada satu wanita yang bisa membantunya yaitu dokter Julie Wood. Saat di toko kue, Lizbeth menyadari kalau wanita itu sedang bersama Anna dan dia jugalah yang menyuruh John agar tidak mengejar. Atas dugaan itu, Lizbeth menyimpulkan kalau Julie mengetahui rumah Anna apalagi saat itu mereka sedang mengenakan pakaian santai. Julie pasti menggunakan sejuta cara untuk mengajak Anna berjalan-jalan. Kalau tidak, mana mungkin John kesusahan untuk menemui wanita itu.

Mudah saja mengorek informasi dari Julie. Wanita itu sangat lemah dengan hal yang imut apalagi terhadap sesama perempuan. Lizbeth bisa menggunakan senjatanya dengan efektif dan membuat Julie tidak berdaya. Kalau keadaan memburuk, dia bisa melemparkan kesalahan pada dokter cantik itu dan menyelamatkan dirinya sendiri.

***

Begitu sampai didepan pintu apartement, Julie berdiri dibelakang Lizbeth seperti anak kucing yang ketakutan. Padahal awalnya dia begitu bersemangat sampai-sampai menawarkan diri untuk mengantar. Bahkan Julie mengatakan kalau dia yang akan menghadapi amukan Anna nanti dan melindunginya. Tetapi melihatnya seperti ini, Lizbeth menjadi tidak yakin.

“Lizbeth sayang, bagaimana kalau kita datang besok saja? Aku yakin, suasana hati Anna masih belum membaik. Besok, aku akan membeli kue baru yang sama persis jadi yang ini kita makan dulu ya.” Julie berusaha membujuk Lizbeth agar tidak menemui Anna sekarang. Pasalnya semalam setelah berhasil mengejarnya, wanita itu terlihat sangat terluka. Malahan sesampai dirumah, dia langsung mengurung diri dikamar tanpa menutup pintu. Julie hanya tidak ingin Anna semakin salah paham dengan kedatangan Lizbeth.

“Tidak. Kue ini dibelikan John untuk Anna. Aku tidak mau kue ini disia-siakan begitu saja.” Lizbeth langsung menekan tombol bel, mengabaikan Julie yang sudah bersembunyi sudut ruangan. Pokoknya hari ini dia harus bisa bertemu dengan Anna. Dia rela kalau sampai harus menunggu seharian atau berlutut padanya. Yang penting dia harus meluruskan semua yang terjadi dan membuat mereka berdua berbaikan.

Ketika Lizbeth ingin menekan bel lagi, pintu terbuka dan memunculkan sosok yang dinantinya. Tidak ada tatapan bermusuhan darinya tapi wanita itu juga tidak mempersilahkannya masuk. Anna hanya berdiri di ambang pintu dan mengamatinya dengan raut datar.

“Ada apa?”

Pertanyaan Anna berhasil membuat Lizbeth sadar dari lamunannya. Sejak tadi, dia terus memperhatikan wajah Anna yang sembab. Wanita itu mungkin habis menangis semalaman karena merasa dikhianati. Tetapi, penampilannya tetap terlihat fresh dengan pakaian bersih dan rambut yang tertata rapi. Tidak seperti kebanyakan orang lainnya yang kalau sedang patah hati terus mengurung diri di kamar dan menangis tersedu-sedu serta berpenampilan acak-acakkan.

Lizbeth lalu mengangkat kotak yang dibawanya dan memberikannya pada Anna. “Ini kue yang dibelikan John untukmu. Karena dia tidak bisa datang, aku yang mengantarnya,” ucapnya sopan dengan senyum ramah khasnya.

Anna memandang kotak itu sejenak sebelum beralih padanya. “Aku tidak butuh. Kalian boleh pergi sekarang.” Pengusiran Anna begitu dingin. Dia bahkan mengabaikan Julie yang sengaja mencuri-curi pandang untuk menggodanya.

Sebelum pintu tertutup, Lizbeth terlebih dulu menjulurkan kakinya sehingga memberi celah disana. Dia mengabaikan rasa sakit dari terhimpit dan tetap tersenyum. “Kumohon, apa kau mendengarkan penjelasanku dulu? John sama sekali tidak bersalah disini. Perkataanku membuatmu salah paham. Tolong, beri aku kesempatan untuk menjelaskan.”

“Tidak ada yang perlu dijelaskan. Pergi dari sini atau kakimu akan membiru!” Anna sengaja mendorong pintu lebih kuat dan membiarkan kaki Lizbeth terjepit disana. Kalau gadis itu tidak bisa menahannya lagi, dia pasti akan pergi.

Lizbeth tidak kehabisan akal. Ditengah-tengah keadaannya yang terdesak itu, dia berhasil menemukan cara agar Anna mau mendengarkannya. “Kalau begitu kau adalah wanita egois dan pengecut! Kau hanya memikirkan perasaanmu sendiri dan tidak berani menghadapi kenyataan. Kenapa? Kau takut kalau aku akan merebut John darimu? Baiklah, aku akan membuat John terpikat padaku sehingga dia tidak punya waktu untuk memikirkanmu!”

Ucapan Lizbeth begitu menohok perasaan Anna. Belum pernah dia merasa kalah seperti ini apalagi oleh gadis kecil yang jauh dibawahnya. Memang benar kalau dia hanya menjaga perasaannya. Itu karena, jika dia terluka lagi, tidak ada orang lain yang bisa menjadi sandarannya.

Untuk mencegah itu terjadi, Anna mendirikan pertahanan yang kuat. Namun, benteng itu runtuh begitu saja ketika melihat John dan gadis ini bermesraan. Dan kali ini, harga dirinya yang jatuh karena merasa lebih rendah dari gadis dihadapannya.

Agar dirinya tidak lebih malu dari ini, Anna membuka pintu lebar-lebar dan menatap gadis itu dengan tatapan menantang secara terang-terangan. “Apa kau pikir John akan menyukai anak kecil sepertimu? Sebaiknya kau berkaca lagi untuk melihat dirimu sendiri!”

Melihat Anna yang termakan provokasinya, Lizbeth membusungkan dadanya untuk menunjukkan bahwa dirinya tidak takut dengan kemarahannya. “Setiap hari aku bercermin dan tidak ada yang salah padaku. Aku memang menyukai pakaian lolita dan John sama sekali tidak ada masalah dengan itu. Malah dia membelikan beberapa baju lolita baru seperti yang kukenakan ini.”

Lizbeth lalu memutar tubuhnya hingga rok ungu yang dikenakannya mengembang

Lizbeth lalu memutar tubuhnya hingga rok ungu yang dikenakannya mengembang. Selanjutnya, dia memperhatikan Anna dari atas sampai kebawah dan sengaja memberikan tatapan mencemooh. “Aku lebih muda darimu bahkan lebih cantik. Aku memang lebih pendek darimu tapi aku mempunyai badan yang langsing, tidak gemuk sepertimu. Aku yakin tidak membutuhkan waktu lama sampai John jatuh cinta padaku,” sambungnya bangga.

Telinga Anna panas mendengar hinaan fisik yang ditujukan padanya. Enak saja kalau dia dikatakan gemuk. Walaupun seperti ini, banyak pria yang memujanya diluar sana dan dia hanya perlu menujuk salah satu dari mereka untuk menjadi kekasihnya. Lagipula Anna sangat paham dengan selera John yang tidak menyukai garis kurus sepertinya.

Dengan mata yang menatap tajam dan kepercayaan diri yang telah kembali, Anna berbalik membalas perkataan Lizbeth. “Itu tidak mungkin terjadi! John tidak akan menyukai anak kecil sepertimu!” seru Anna yakin. Karena kalau John memang mencintainya, hal itu tidak akan terjadi. Bahkan kalau iya, dia sendiri yang akan merebutnya dari gadis kecil itu.

“Oh, kenapa tidak mungkin? Tidak ada larangan kalau aku tidak boleh merebut John darimu. Lagipula kau siapanya John berani melarangku seperti itu?” Lizbeth sama sekali tidak mundur meskipun Anna tengah menatapnya galak. Dia justru senang karena pancingannya sudah termakan.

Dengan suara lantang, Anna menjawab tanpa berpikir, “I’m his girlfriend! Don’t you dare touch him!” Setelah mengatakan itu, Anna terdiam sesaat kemudian matanya melebar. Rona merah langsung menghiasi pipinya dengan rasa malu luar biasa.

Disisi lain, Lizbeth tesenyum cerah ditempatnya dan menatap penuh arti. “Jadi kau kekasihnya? Tenang saja, aku tidak mungkin merebut John darimu. Toh, kakak sepupuku itu sangat tergila-gila padamu.”

Anna mengagakan mulutnya, tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya. “A – apa katamu tadi?”

“Aku bilang, kakak sepupuku tergila-gila padamu,” jawab Lizbeth santai dengan pose imut.

Anna langsung merasa kakinya lemas dan jatuh terduduk. Bisa-bisanya dia cemburu pada gadis Lizbeth yang ternyata adalah sepupu John. Padahal saat itu, Anna menamparnya sekuat tenaga karena mengira lelaki itu telah mempermainkannya. Dalam keadaan ini, bisa dilihat kalau dirinyalah salah karena sembarangan menyimpulkan dan tidak memberi pria itu kesempatan untuk menjelaskan.

Ditengah-tengah kebingungan, Anna melihat Julie sedang merekamnya dengan ponsel. Karena sudah ketahuan, Julie membalikkan layar ponselnya yang ternyata sedang melakukan panggilan video call. Anna langsung melotot melihat wajah yang muncul disana.

“Hai Anna. Bagaimana kalau kita bertemu nanti?” tanya suara pria diseberang. Suaranya serak dan rambutnya berantakan. Nampak sekali kalau John baru saja bangun.

Anna menundukkan kepala malu sejenak sebelum menoleh ke arah kue yang dibawa Lizbeth. “Ditempatmu sambil makan kue?” balasnya berbalik bertanya yang langsung membuat wajahnya semerah tomat. Karena pertanyaan itu secara tak langsung menerima ajakan John. Dada Anna langsung berdebar kencang ketika melihat senyum John disana. Kelihatannya, pria itu memang telah berhasil memikat hatinya.

“Selama kau tidak ada, apartementku kembali berantakan. Bagaimana kalau ditempat lain? Aku yang akan menjemputmu.”

Suara malu-malu dari John membuat Anna tertawa. Pria itu memang tahu cara membuatnya terhibur. “Satu jam. Berikan aku waktu untuk bersiap-siap dan kurasa kau juga membutuhkannya.”

John menggusap-usap dagunya yang kasar lalu menatap Anna sama malunya. “Baik, sayangku.”

Baca Parts Lainnya Klik Di sini

10 Komentar

  1. :kisskiss :kisskiss :kisskiss tapi kok yang episode 15 ga muncul ya

  2. Livia Aprilia menulis:

    :lovely

  3. Dhian Sarahwati menulis:

    :kisskiss :kisskiss :kisskiss

  4. ainun_farihah menulis:

    Chapter 15 gak ada apa aku yg kelewatan y..?

  5. Aaaaaaaaa…. Maluuuu… :ngetawain

  6. Mukti Sriwulandari menulis:

    Owgh…so sweet….

  7. Unchhhh :haisalamkenal

  8. Tks ya kak udh update.