SENDIRI

  Aku sendiri Hanya sendiri Hidup sendiri Mereka sibuk sendiri Mengabaikanku   Katanya…. Mereka menyayangiku Mereka mencintaiku Mereka peduli padaku Semuanya bohong ….   Tak ada yang sayang padaku Tak ada yang mencintaiku Tak ada yang peduli padaku Semuanya membohongiku   Faktanya …. Aku sendiri Menangis sendiri Terpuruk sendiri    

Langit untuk Jingga (Enam-B)

“Ontyyyyy,” teriak dua orang gadis kecil berambut ikal dari arah Ontyyyyy ruang tengah. Mereka berlari menuju ke arahku dengan antusias. Aku menundukkan badan dan menangkap kedua tubuh mungil itu dalam pelukanku. “Baby KeyMoz!” kukecup pipi kedua ponakan kembarku secara bergantian, mereka langsung tertawa renyah. Asli, kangen banget sama kedua bocah ini. “Uncle dimana Onty J?” …

Langit untuk Jingga (Enam-A)

“Riana minta break,” gumam Ozi. Kami akhirnya berhenti di sebuah coffe bar pinggiran kota sambil dan menikmati hangatnya kopi di pagi hari. Masih jam 7. Setengah jam lagi mungkin nggak masalah, sehingga kami nggak terlalu terlambat sampai ke Bandung nanti. “Just ‘break’?” tanyaku sambil mengangkat alis. “Iya, tapi tetep aja dia ada niat buat akhiri …

The Dark Mission ( Part 1 )

happy reading :* ******* Drtt..drtt..drtt.. Terdengar bunyi getaran handphone dibalik saku jas seorang pria. Pria itu lalu meronggohkan tangannya kedalam saku jasnya dan mengambil handphone canggih miliknya. Matanya terbelalak kaget saat melihat nama panggilan yang terpampang di layar handphone. Tanpa menunggu lama lagi ia lalu menekan tombol answer pada layar handphonenya. “Haloo swett-” “KAKKKK DANIELLL …

The Dark Mission

Prolog 2 Pulau Sisilia Parlemo City Italy “Amm-mmpun tuu-aan uhuk..uhuk..” jerit laki-laki saat dirasakan wajahnya ditendang kembali. Tampak darah segar yang keluar dari mulutnya saat ia menerima pukulan itu. Bugh… Uhukk… “Kumo-hon..” Laki-laki itu kembali mengeluarkan darah-nya saat merasakan seluruh tubuhnya dipukul untuk yang kesekian kalinya. Sungguh ia ingin mati sekarang juga, tapi dia tahu …

The Dark Mission

Prolog 1 [Alexa Particia Smith] ‘Sepuluh tahun’ yang lalu aku tahu telah terjadi sesuatu, tetapi tidak ada yang ingin memberi tahu apa yang terjadi pada saat itu. Dan sekarang aku bersumpah akan membongkar rahasia itu dengan caraku sendiri. [Daniel Hayworth Smith] ‘Sepuluh tahun’ yang lalu dimana aku harus mengambil keputusan tersulit dan menyakitkan dalam hidupku …

Langit untuk Jingga (Lima-B)

Ck! Aku berdecak sebal mendengar ucapan Ozi. Kami terus berbincang hingga lupa akan keterdiaman kita beberapa waktu lalu. Hingga tak sengaja aku membahas tentang omongan mama tempo hari kepadaku, tentang Ozi yang mau melamar Riana yang jujur saja sedikit mengusikku. Bukan apa-apa, aku tidak ingin membuat anggota keluargaku semakin mendesakku jika mengetahui aku dilangkahi oleh …

Langit untuk Jingga (Lima-A)

Aku segera turun ke bawah setelah mengangkat telepon dari Ozi karena dia sudah menungguku di parkiran apartemen. Aku dan Ozi memang sama-sama di Jakarta, tapi dia punya apartemen sendiri yang dekat dengan kantornya. Aku memang selalu pulang ke Bandung dengan Ozi, kecuali kalau dia sedang ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan baru aku ke Bandung …

Langit untuk Jingga (Empat)

Kecanggungan sungguh terasa diantara kami. Akhirnya tadi aku mempersilahkan Langit ikut masuk ke ruang tunggu, dan sekarang dia hanya menatapku yang sedang berpura-pura bermain dengan Varo. “Oty boceen.” Tiba-tiba meletakkan mobil-mobilannya begitu saja di karpet. “Mau maen apa lagi sayang?” aku membongkar isi tas yang diberikan Alya tadi, kulihat sebuah puzzle bergambar induk bebek dan …

Langit untuk Jingga (Tiga-A)

Alya: lo lagi sibuk nggak? Gue minta tolong dong. *Read* Aku baru membaca chat dari Alya yang ternyata sudah sejak setengah jam yang lalu. Aku tadi sedang melayani pelanggan yang mau konsultasi masalah pernikahan dan segala macam tete bengek gaun dan perlengkapan lainnya. Sebenarnya ini pekerjaan Nada sebagai Bridal consultant, berhubung dia masih di Bali, …

Langit untuk Jingga

Blurb [teaser] “Sudah.” Aku menyerahkan sebuah berkas yang baru saja kububuhi tanda tangan diatas materai kepada seseorang di depanku dengan tangan yang sedikit bergetar. Dia menerima surat itu lalu menyimpannya dalam map yang sudah ia sediakan. Kulihat dia masih saja menampakkan ekspresi datarnya seperti biasa. Seolah apa yang barusan kami lakukan adalah bukan hal penting …