Vitamins Blog

Dark Circle : Bab 3

Bookmark

No account yet? Register

336 votes, average: 1,00 out of 1 (336 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

“Ingat, kalau terjadi apa-apa denganmu, kamu harus menekan tombol itu. Aku akan segera datang menolongmu.” Ucap Reza sebelum melepas kepergian Bella ke sekolah. “Iya-iya. Aku akan selalu mengingatnya. Kakak ini seperti papa dan mama saja. Terlalu mencemaskanku. Lebih baik cemaskan diri kak Reza sendiri. Kenapa sampai sekarang belum punya pacar?”

“Bella. Aku ini….”

“Iya aku tahu. Kak Reza tenang saja. Lagipula, kalaupun terjadi sesuatu yang buruk padaku dan aku menekan tombol itu, apa kakak akan segera datang secepat kilat untuk menolongku? Kak Reza kan berada jauh dariku.” Reza tersenyum.

“Lihat saja nanti. Aku akan berada di dekatmu.” Bella mengernyit bingung.

“Hari ini kak Reza harus bekerja kan? Masa kak Reza mau menguntit dan mengawasiku terus di sekolahan?” Reza hanya tersenyum misterius.

==

Ana berjalan riang memasuki pintu gerbang sekolah. “Ah, hari yang indah. Tidak ku sangka aku bisa bersekolah disini.” Ucap Ana dengan penuh senyum.

“Hai Frans! Kenapa wajahmu itu? Sedang ada masalah?” Tanya Ana yang melihat Frans sedang cemberut.

“Bukan urusanmu. Bukankah aku ini bukan siapa-siapamu. Untuk apa mengurusiku? Urusi saja pacarmu itu!” Tukas Frans sambil berbalik badan dan melangkah pergi.

“Kamu ini kenapa sih? Pagi-pagi sudah marah-marah.” Bella kesal juga dengan sikap Frans. Dengan segera Ana meninggalkan tempat itu dan berjalan memasuki kelasnya.

“Ada apa sih? Kok cemberut gitu? Lagi bertengkar dengan Frans ya?” Celetuk Sandra sambil tersenyum. “Ya. Frans marah denganku. Benar-benar aneh! Memangnya apa salahku? Aku punya pacar atau tidak, tidak seharusnya dia marah-marah seperti itu.” Ungkap Ana sambil duduk di kursinya. “Pacar? Kamu sudah punya pacar?” Tanya Diandra yang duduk disamping Sandra.

“Siapa namanya? Seperti apa orangnya?” Ujar Sandra. Temannya itu memandang wajah Ana menanti jawaban.

“Sebenarnya sih bukan pacar. Aku belum punya pacar kok. Mungkin salah paham saja.” Jawab Ana pelan.

“Oh jadi Frans cemburu karena dia kira, kamu sudah memiliki pacar?” Tanya Diandra memperjelas.

“Cemburu? Cemburu apanya?” Tawa Ana. Sandra dan Diandra tersenyum.

“Dari ceritamu tadi. Sudah terbukti kalau Frans pasti jatuh cinta padamu. Makanya dia marah-marah, begitu tahu kamu sudah memiliki pacar. Padahal sebenarnya, kamu belum memiliki pacar.” Jelas Diandra.

“Belum tentu juga kan? Sudahlah jangan beranggapan konyol begitu.” Ujar Ana. Sandra dan Diandra saling berpandangan.

“Sepertinya, kita harus mempersatukan mereka lagi. Kamu tidak mau jadi musuh Frans kan? Lagipula, kita tidak boleh membiarkan kesalahpahaman ini membuat perpecahan terjadi.” Ucap Sandra lalu mengambil sesuatu dari dalam tasnya.

“Ini! Kamu harus datang bersama dengan Frans.” Sandra menyodorkan sebuah undangan yang cukup elegan pada Ana. “Apa ini?” Ana membacanya. “Kamu berulang tahun hari ini?” Ana terkejut. Sandra mengangguk sambil tersenyum. “Maaf. Aku benar-benar tidak tahu. Aku malah belum mengucapkan selamat. Selamat ulang tahun ya?”

“Ya. Tidak apa-apa. Kamu kan baru mengenalku jadi kamu juga belum tahu tanggal ulang tahunku. Tapi kalau kamu merasa bersalah, kamu harus mengabulkan permintaanku.” Ucap Sandra dengan mata berbinar.

“Iya-iya. Aku pasti akan datang tapi jangan bersama Frans. Frans kan masih marah denganku.” Sandra melirik Diandra.

“Aku akan memberitahu Frans.” Ucap Diandra kemudian berlari pergi mencari Frans. Sandra tersenyum puas.

“Tenang saja. Frans itu cowok yang baik. Dia tidak akan marah lagi denganmu. Aku jamin itu.” Ucap Sandra sambil menepuk pundak Ana.

Bella asyik mengobrol dengan Diandra dan Sandra, ketika tiba-tiba seorang lelaki paruh baya memasuki kelas. “Anak-anak, tenang sebentar. Pelajaran akan dimulai.” Ucap Pak Doni, lelaki paruh baya itu. Ana segera memfokuskan pandangannya ke depan. “Kita kedatangan guru baru. Dia hanya sementara mengajar disini sebagai guru sosiologi sampai Bu Riska selesai menjalani proses persalinannya. Kalian berbaik hatilah padanya. Hormati guru barumu ini. Silakan Pak, saya persilahkan.” Pak Doni mempersilahkan masuk. Dan seorang pria yang sudah sangat dikenal oleh Ana masuk ke dalam kelas, membuat Ana terkejut. Kak Reza muncul dan membuat Ana benar-benar terkejut. “Nama saya Reynald. Kalian panggil saja saya, Pak Reynald. Saya adalah guru sosiologi baru kalian. Mohon kerjasamanya. Terimakasih.” Ucap Reza tanpa senyuman sedikitpun. Saat itu juga Frans menoleh ke arah Ana dan melihat reaksi Ana. Namun sepertinya Ana juga sama terkejutnya seperti dirinya. Sandra dan Diandra menoleh ke arah Ana.

“Dia guru termuda disini. Dia juga lumayan.” Bisik Diandra. Ana melongo. “Lumayan?”

“Ya. Kau tidak melihatnya? Dia sangat tampan dan keren.” Bisik Diandra. Sandra tersenyum menggeleng-gelengkan kepalanya.

Jadi ini yang dimaksud Kak Reza. Dia menjadi guruku agar lebih mudah dan dekat mengawasi dan menjagaku.

Diam- diam Bella merasa takut jika pengalaman buruk yang pernah terjadi padanya akan terulang lagi. Saat kakaknya yang tampan itu menjadi idola teman- teman ceweknya. Saat seorang cewek yang tergila-gila pada kakaknya menghancurkan hidupnya.

—————–

Flashback

Bella merasa pipinya memerah. Ia memegang pipinya sambil berusaha untuk tidak meneteskan air mata. “Cewek jelek sepertimu tidak akan bisa bersama dengan kak Reza! Kak Reza hanya milikku seorang. Jadi, jangan dekat- dekat dengannya lagi atau aku akan melakukan hal yang lebih parah dari ini!” Ancam Melia dengan tatapan tajam. Bella benar-benar tidak menyangka dengan sikap Melia yang seperti ini. Ia pikir, Melia adalah sahabatnya tapi ternyata Melia mengkhianati persahabatan itu hanya karena cemburu padanya. Padahal dia bukan pacar Reza. Dia adalah adik Reza. Semua ini hanya salah paham.

“Aku bukan pacarnya, Melia. Aku hanya__”

“Cukup! Jangan berbohong lagi padaku! Kak Reza sendiri yang bilang kalau kalian berpacaran, Bella. Aku mendengarnya sendiri. Dia mengatakan hal itu pada Crista, cewek genit itu. Kau kira, aku bisa dibodohi olehmu! Kau pembohong yang buruk!” Melia menjambak rambut Bella dengan keras. Bella meringis kesakitan. Rambutnya rontok seketika. Perih. Rasanya begitu perih. Bukan hanya hatinya yang terasa perih tapi tubuhnya juga.

“Bagaimana bisa aku menjauhi kakak kandungku sendiri? Aku ini adiknya. Kak Reza adalah kakak kandungku. Kak Reza mengatakan hal itu pada Kak Crista karena kakakku tidak menyukai Crista jadi dia berbohong dengan mengatakan hal itu agar Kak Crista tidak lagi mengejar-ngejar kak Reza. Percayalah padaku, Melia.” Kata-kata Bella rupanya membuat Melia sedikit bimbang.

“Aku akan mencari tahu hal ini. Kalau kamu berbohong, aku akan memberi pelajaran padamu!” Setelah mengatakan hal itu, Melia meninggalkan Bella begitu saja.

Bella merapikan rambutnya yang berantakan. Kemudian ia melangkah keluar kelas. Matanya melihat kakaknya sedang menunggunya di depan pagar sekolahnya. Terlihat beberapa gadis memperhatikan wajah tampan kakaknya. Beberapa gadis juga mencoba mencuri perhatian Reza dengan senyuman dan kedipan mata. Bella merasa muak dengan gadis- gadis itu. Mereka berusaha menarik perhatian Reza dengan cara yang tidak baik. Mereka juga sangat cemburu pada Bella. Kemarin saja, Crista datang menemuinya lalu menyiramnya dengan air mineral yang ada di botol minumnya hingga seragamnya basah kuyup. Belum puas, Crista juga mendorong tubuhnya dengan keras hingga ia terjungkal. Crista mengancamnya seperti Melia. Namun Bella tidak memberitahukan hal ini pada Reza. Ia tidak mau kakaknya merasa bersalah padanya karena menyebabkan semua hal buruk ini.

==

 

8 Komentar

  1. :LARIDEMIHIDUP :dragonbaper

  2. itu Bella di bully Rezanya tau gak??

  3. Duh duh kasian Bella di bully

  4. :PATAHHATI

  5. fitriartemisia menulis:

    Crista :ASAHPISAU2 :ASAHPISAU2 :ASAHPISAU2

  6. Kasiaaannn

  7. ???

  8. Ditunggu kelanjutannyaa

Tinggalkan Balasan