Pagi ini hujan sedikit riak, tak lebat tapi membasahi. Hiruk pikuk jalan masih belum ramai, embun masih menetes membasahi dedaunan. Pagi yang bagi sebagian orang sangat cocok untuk menarik selimut dan berguling dalam hangatnya kasur.
Rintik-rintik hujan yang awalnya kecil kian membesar, seseorang berlari membelah jalan, sepatu abu-abu yang dia kenakan ikut basah. Larinya cukup kencang, sesekali dia mengusap wajahnya karena air hujan mulai menggangu pandangannya tapi hal itu tidak membuatnya surut untuk tetap berlalu membelah hujan yang kian deras.
Akhirnya dia sampai di tujuan, sebuah gedung rumah sakit yang tingginya menjulang. Dia tetap berlari tanpa perduli badannya sudah basah kuyup, napasnya mulai tersengal, langkahnya berhenti pada sebuah pintu yang bertuliskan ruangan zambrut. Dia menimbang-nimbang apakah tetap membuka pintu itu atau menunggu sampai ada orang yang membuka untuknya.
Aryasena Hamba, dialah yang sejak tadi berdiri memandangi pintu yang bertuliskan zambrut, di dalam sana ada seseorang yang yang baru saja menyelamatkan nyawanya, seseorang yang begitu dia kasihi sekaligus dia benci. Disisi hatinya yang paling ujung dia ingin orang itu mati saja, tapi disebagian hati yang lain ingin orang itu baik-baik saja. Mengumpulkan keberanian yang hampir habis dia mengulurkan tangan untuk membuka pintu itu. Dercitan pintu yang terbuka membelah keheningan yang sejak tadi mencekat diruangan itu, mata Aryasena Hamba menemuka sosok yang sedang terbujur kaku diatas ranjang berselimutkan kain putih, disampingnya berdiri seorang perempuan paruh baya yang dengan senangis, dia sekan sangat terpukul karena berkali-kali menghapus air mata dengan tangannya. Sementara yang lain berusaha untuk menenangkannya.
“Ibu” suara Aryasena tercekat memanggil ibunya, semua mata tertuju padanya. Tapa suara dan peringatan Bu Arta berjalan cepat dan melayangkan tamparan yang cukup kencang ke wajah Aryasena.
“Apa sekarang sudah puas? ”
“Ibu,aku…”
“Pergi kamu!” usir Bu Arta pada putranya sendiri itu. Semua orang yang ada di ruangan itu terdiam. Tidak ada yang berani mencegah pengusiran itu. ” Pergi kamu!” Teriak bu Arta histeris. Dia mendorong Aryasena tapi bahu kokoh itu tak bergeming, Bu Arta memukul mendorong sekuat yang dia bisa.
Suasana di ruangan itu terlihat tidak kondusif lagi, Bu Arta berteriak memaki putra keduanya itu.
“Kau yang menyebabkan semua ini, dia selalu berkorban untukmu tapi apa yang dia dapatkan, tidak ada… Harusnya yang mati kau saja jangan dia, dia anakku yang ku cintai” tangisnya pecah, Bu Arta begitu pilu ketika berhadapan dengan tubuh kaku putranya. Mengapa harus Arhan mengapa bukan Arya saja. Kalimat itu terus berulang-ulang hingga terdengar pilu.
Hati Arya begitu pilu mendengar kalimat yang begitu menyakitkan dari ibunya sendiri. Dia membenci Arhan, karena cinta ibunya seperti habis untuk abangnya itu. Dia berusaha untuk meminta perhatian dari ibunya tapi tidak pernah dia dapatkan, Arhan.. semuanya untuk Arhan.
” Mengapa selalu Arhan Bu? Aku juga anak ibu apa bedanya aku dengan dia. Kami sama-sama lahir dari rahim ibu” kata Arya pilu.
” Karena dia segalanya”
“Ibu…” Teriak Arya, tubuhnya bergetar hebat ketika kalimat segalanya itu terlontar tanpa perduli ada hati yang akan terluka. ” Jika dia segalanya mengapa aku kau lahirkan, kenapa tidak kau buat mati saja aku ini” air mata Bu Arta semakin menderas dia pilu, hatinya terluka.
“Dia sakit…” Teriak bu Arta lagi “dia sakit, dia hidup bertahun-tahun hanya satu ginjal, demi dirimu. Kamu terlahir tidak sempurna, bahkan transpusi darahmu dari dia semua, dia bahkan menyerahkan nyawanya untukmu. Dia hidup seolah-olah hanya untukmu. Dia selalu mengutamakan kamu”
Kenyataan pilu yang dia dengar, satu kata yang cocok untuknya sekarang parasit, dia adalah parasit untuk saudaranya sendiri. Tanpa kata, Arya meninggalkan ruang itu, berlari sekencang yang dia bisa meninggalkan rumah sakit itu.
Langit masih saja menyeburkan airnya, seolah tak mau diam barang sebentar, di tengah guyuran hujan yang cukup lebat Arya berlari menyeberang jalan tanpa memperdulikan laju kendaraan hingga sebuah mobil box putih melaju cukup kencang tabrakan tidak terhindarkan, tubuh Arya terpental cukup jauh, darah segar membasahi jalan bercampur air hujan. Matanya cukup lama memandang langit, sebelum semuanya memudar dia sempat menyebutkan satu nama “Arhan”
***
Tanah Laut


Batas cinta dan benci itu setipis benang. Si ibu dengan penuh energi ngatain anak kedua bla-bla-bla.
Tapi percayalah, setelah si ibu mengetahui kabar yang menimpa anak keduanya. Sang ibu pasti menyesali perkataannya.
Memang, penyesalan selalu datang belakangan, kalau diawal namanya pendaftaran.😭