File 00000000c17071fb8fc3d237814d8829 5
Vitamins Blog

BAB 1

0
Views:3
Bookmark
Please login to bookmarkClose

Sinar Matahari pagi di pinggiran Louisiana enggan menembus kabut pekat yang meluap dari rawa, membiarkan kota kecil Blackwood diselimuti hawa dingin yang lembap. Pepohonan oak tua yang berjajar di sepanjang jalanan aspal retak tampak lesu, dengan lumut Spanyol yang menggantung panjang seperti untaian benang usang ditiup angin rawa yang pengap. Kota ini terasa lambat, tua, dan seolah menyimpan rahasia di balik setiap dinding kayunya yang mulai membusuk.

Ketika Laura Bennet turun dari sedan hitam mewahnya di kawasan town square, suasana southern gothic yang pekat itu langsung mencekik napasnya. Langkah kakinya di atas trotoar semen mendadak memicu keheningan yang janggal. Pemilik toko kelontong menghentikan sapunya, dan sekelompok pria tua yang duduk di bangku taman kayu langsung menoleh serentak. Tatapan tatapan itu terasa berat, penuh selidik, dan sarat akan penghakiman yang tertahan.

Dada Laura bergemuruh, dan untuk sesaat, jemarinya di dalam saku mantel blazernya bergetar halus. Dinginnya Blackwood seolah mempreteli seluruh rasa percaya diri yang dia bangun dengan susah payah di Seattle. Bagi orang orang ini, dia bukan pengusaha sukses yang mandiri; dia adalah hantu masa lalu, saksi kunci dari tragedi berdarah sebelas tahun lalu yang namanya akan selalu dikaitkan dengan lumpur rawa yang kotor. Namun, Laura menolak untuk terlihat rapuh. Dia menarik napas dalam, menegakkan bahunya, dan berjalan cepat membelah kabut menuju sebuah bangunan bata merah di sudut jalan, di bawah papan besi bertuliskan Vanguard Investigation Services.

Di dalam gedung, aroma kopi Arabika yang pekat sedikit mengurangi rasa sesak di dadanya. Setelah penolakan kepolisian Seattle yang menganggap remeh ancaman yang diterimanya, insting Laura menuntutnya untuk bergerak lebih taktis secara konvensional.

“Tuan Callahan ada di ruang kerjanya di lantai atas, Nona Bennet. Silakan,” ujar resepsionis muda agensi tersebut setelah memeriksa jadwal.

Laura menaiki tangga kayu yang berderit rendah, merasakan setiap detak jantungnya berdentum semakin keras di dalam rongga dada. Begitu pintu ek tebal di ujung koridor dibuka, dia melangkah masuk ke sebuah kantor yang luas namun minim pencahayaan. Di balik meja kerja mahoni yang besar, sesosok pria berdiri membelakanginya, menatap tajam ke luar jendela yang buram oleh sisa hujan. Pria itu berbalik perlahan.

Napas Laura seketika tercekat di tenggorokan, dan telapak tangan di dalam tas desainer miliknya mulai berkeringat dingin. Pria di depan nya adalah Brian Marc, sosok yang dulu hanya bisa dia amati diam diam dari sudut terjauh perpustakaan sekolah, yang kini menggunakan nama Brian Callahan. Garis wajahnya telah matang, menyisakan rahang tegas yang dilapisi bayangan jenggot tipis dan sepasang mata abu abu yang sangat tajam. Postur tubuhnya yang tegap dan bidang bahunya yang lebar di balik kemeja katun abu abu yang digulung seolah menyerap seluruh udara di dalam ruangan tersebut. Namun, tidak ada kilatan pengenalan di mata pria itu. Yang ada murni sorot dingin seorang investigator profesional yang sedang menilai klien baru.

“Nona Bennet,” suara bariton Brian memecah keheningan, dalam dan stabil. Pria itu bergerak lambat mengitari meja kerjanya, lalu memberi isyarat pendek ke arah kursi kulit. “Silakan duduk.”

Laura mengambil tempat, melipat kakinya dengan keanggunan yang natural. Sifatnya yang tertutup membuat setiap kalimat yang keluar dari bibirnya telah tersarian dengan ketat. “Terima kasih, Tuan Callahan. Saya rasa saya tidak perlu membuang waktu Anda dengan basa basi. Saya datang ke Blackwood karena saya membutuhkan investigator yang bisa bekerja dengan cepat dan konvensional.”

Brian melangkah ke balik kursi kerjanya, namun dia memilih untuk tetap berdiri, menumpukan kedua tangan yang kokoh di atas meja mahoni. Sepasang mata abu abunya bergerak konstan, mengunci fokus pada mata Laura, mendeteksi celah kerapuhan di balik wajah dingin sang pengusaha. “Aku sudah membaca ringkasan singkat dari resepsionis di bawah. Penguntitan di Seattle. Apa yang membuat Anda berpikir kasus ini relevan untuk dibawa ke agensi kecil di Louisiana, Nona Bennet?”

“Karena ancaman terakhir yang ditinggalkan di apartemen saya berbunyi, ‘Saksi harus tetap diam,'” jawab Laura tenang, matanya menatap lurus, mencari reaksi di balik tatapan dingin Brian. “Dan saya tahu Anda adalah investigator kepala yang paling memahami anatomi wilayah ini, berikut orang orang di masa lalu yang menginginkan saya tetap bungkam.”

Menangkap umpan tersebut, tangan kanan Brian yang berada di atas meja sempat mengetat selama setengah ketukan. Guratan urat di pergelangan tangannya menegang, sebuah reaksi mikro yang tidak luput dari pandangan tajam Laura. Pria itu perlahan menarik laci mejanya, mengambil selembar dokumen tebal tanpa membuka atau memperlihatkannya. Namun, Laura menyadari bagaimana jemari kokoh Brian sempat bergerak ragu sebelum pria itu buru buru memalingkan wajah sejenak ke arah jendela, seolah kedatangan Laura telah meretakkan kalkulasi taktis yang dia bangun selama sebelas tahun ini. Ketika Brian kembali menatapnya, matanya telah kembali sedingin es, tanpa emosi pribadi.

“Aku tidak bisa menerima kontrak ini, Nona Bennet. Dan sebagai sesama orang yang memahami kota ini, saranku… kembalilah ke Seattle malam ini juga,” ujar Brian, mengembalikan dokumen itu ke dalam laci dengan ketukan yang tegas. “Kasus lama itu sudah ditarik oleh otoritas yang lebih tinggi. Berada di Blackwood saat ini hanya akan membuat posisimu semakin terbuka dan berbahaya. Cari perlindungan di kota besar, jangan di sini.”

Laura tidak langsung mendebat atau bersikap keras kepala. Dia terdiam sejenak, menatap meja kayu di depannya sementara helaan napas berat lolos dari bibirnya. Perlahan, dia menyandarkan punggung, membiarkan ketegangan di bahunya terlihat runtuh secara alami di depan Brian. Ada gurat lelah dan ketakutan yang jujur di wajahnya saat dia kembali menatap pria itu.

“Saya sudah menyewa agensi terbaik di Seattle, Tuan Callahan, dan mereka tetap kecolongan,” kata Laura, suaranya merendah, terdengar tulus tanpa kepura puraan. “Saya pulang ke Blackwood bukan karena ingin memancing masalah. Saya pulang karena saya lelah terus menerus merasa waswas di rumah saya sendiri. Saya tidak tahu siapa yang meneror saya, saya tidak tahu kenapa masa lalu ini mengejar saya lagi sekarang. Saya benar benar buntu.”

Laura menjeda kalimatnya, menatap lurus ke sepasang mata abu abu Brian dengan pandangan membujuk yang sunyi namun intens. “Agensi Anda adalah satu satunya tempat yang saya percayai memiliki kapabilitas untuk menyelesaikan ini secara bersih di Blackwood. Saya tidak meminta Anda mengasihani saya. Saya hanya meminta Anda profesional dan menerima kontrak kerja ini. Saya bersedia membayar berapa pun untuk jaminan keamanan yang bisa Anda berikan.”

Keheningan yang tercipta di antara mereka mendadak terasa begitu padat. Brian tidak memundurkan tubuhnya yang masif. Pria yang biasanya selalu memiliki jawaban logis itu kini tampak mengunci rahangnya rapat rapat. Sepasang mata abu abunya berfluktuasi halus, memperlihatkan benturan batin yang dalam antara kedisiplinan taktisnya dan dorongan protektif yang tertahan di balik wajah tampannya. Melalui keheningan itu, Brian Callahan tetap pada posisinya. Dia menarik napas pendek, mengubur kembali emosinya ke dasar paling dalam sebelum kembali memasang ekspresi formal yang kaku.

“Keputusanku tetap tidak berubah, Nona Bennet,” jawab Brian, suaranya terdengar sedikit lebih berat, namun tetap tidak terbantahkan. “Vanguard tidak bisa mengambil kasus ini. Marcus di bawah akan membantu Anda mencari rekomendasi agensi lain jika Anda membutuhkannya.”

Laura menatap pria itu selama beberapa detik, membaca bahwa dinding pembatas yang dipasang Brian sudah tidak mungkin lagi ditembus dengan kata kata. Tidak ada gunanya mendesak lebih jauh. Laura perlahan berdiri, merapikan blazernya dengan gerakan yang tenang dan anggun. “Baiklah. Terima kasih atas waktunya, Tuan Callahan.”

Laura meraih tas tangannya, berbalik, dan melangkah keluar dari kantor tersebut dengan kepala tegak. Dia kecewa secara profesional, namun di balik itu, instingnya justru menangkap sinyal lain, penolakan Brian yang begitu keras dan peringatannya tentang ‘posisi yang berbahaya’ membuktikan bahwa pria itu tahu persis seberapa besar ancaman yang sedang mengintainya.

***

Begitu pintu ek tebal itu tertutup rapat, bahu tegap Brian mendadak merosot beberapa milimeter. Kontrol mutlak yang sedari tadi dia pamerkan di depan Laura runtuh seketika. Dia tidak bergerak dari posisinya, menatap lurus pada kursi kosong yang beberapa saat lalu diduduki wanita itu. Jemari kokohnya terkepal kuat di atas meja hingga buku buku jarinya memutih.

Sialan.

Sebuah umpatan pendek dan kasar lolos dari celah bibirnya. Brian berbalik dengan gerakan cepat, menyambar jaket kulit hitamnya yang tergantung di dekat pintu, dan meraih kunci mobil. Wajah tampannya mengeras oleh kedisipilinan dingin yang menuntutnya untuk bergerak sekarang juga sebelum badai Louisiana benar benar melumpuhkan kota, dan sebelum wanita keras kepala itu melakukan kebodohan yang membahayakan nyawanya sendiri.