Vitamins Blog

[Chap 6] CRAZY MARRIAGE

Bookmark

No account yet? Register

449 votes, average: 1,00 out of 1 (449 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

 

NAFAS X 6

 

xxx

 

 

Aku duduk malas di sofa kamar dengan selimut yang membalut tubuhku, menatap hujan yang gak bersahabat banget. Masa pagi-pagi hujan? Tambahan dingin saja hawanya. Kalo hujan pagi gini pasti bawaannya males-malesan. Malesan keluar kamar apalagi turun dari tempat tidur, males masak, males mandi, pokoknya serba males.

“Gak mandi?” tanya Ilham yang baru keluar dari kamar mandi dan membuka lemari pakaian untuk mengambil kaos.

“Males.” jawabku.

“Males mulu, aygong.” ucapnya yang sudah memeluk tubuhku dari belakang. “Besok lo udah ngajar dan gua sendirian di rumah.” curhatnya.

“Terus?”

“Lo ngajar barengan ama gua masuk kantor aja.”

“Ya gak bisa gitulah.” tolakku dan mempererat selimut yang membalut tubuhku penuh kehangatan.

“Dingin ya? Ayok olahraga di ranjang!” ajaknya menggoda.

“Males.” tolakku dan menyandarkan kepalaku ke belakang, dada bidangnya.

“Males mulu.” cibirnya.

“Pagi ini. Masih pagi. Sarapan aja belum.”

“Oh, kalo abis sarapan bisa olahraga gitu?’ tanyanya sumringah.

“Engga.” jawabku singkat dan menselonjorkan kakiku. “Gua tadi niatannya pengen jalan-jalan ke pasar nyari sarapan ama gorengan, bo-ke.” ujarku menatap hujan pagi yang makin deras saja dan menambah hawa dingin.

“Tapi ujan.” imbuh Ilham dan terkekeh sendiri. “Besok dah kalo gak hujan.” ucapnya.

“Besok kan gua ngajar.”

“Subuh-subuh kita nyari sarapannya.”

“Kayak abis sholat subuh bangun aja.” cibirku dan dia mempererat pelukannya padaku.

“Ya entar ciumin dong biar bangun.”

“Perasaan dulu lo gak kayak gini deh, Ham. Kenapa abis ijab qobul jadi manja banget?” tanyaku heran dan menatapnya bingung.

“Kan lo istri gua.” ucapnya dan menggecup sekilas bibirku. “Gua mau sarapan. Mau sarapan di sini apa di meja makan?” tawarnya.

“Di luar.” jawabku dan mengikat rambut panjangku menjadi satu. Aku mengikuti Ilham yang lebih dulu keluar kamar menuju meja makan di mana, Mama mertua dan Omah sudah duduk untuk sarapan.

“Selamat pagi.” sapaku dan duduk di samping Ilham yang sudah duduk terlebih dahulu.

“Pagi, Rin. Besok ngajar?” tanya Mama yang baru saja menegak air putihnya.

“Iya, Ma.” jawabku singkat dan mengambilkan nasi untuk Ilham.

“Omah seneng akhirnya kamu yang dinikahi Ilham.” ucap Omah menatapku. “Setidaknya kita semua sudah tahu kamu dan keluargamu terus paling pentingnya, si Ilham juga udah kenal kamu luar dalam dan kamu juga gitu.” lanjut Omah.

Aku hanya tersenyum mendengarnya dan mengambil telur ceplok untuk Ilham. “Iya.” jawabku singkat, sebenarnya kalo si item blangsat gak kabur juga, aku gak bakalan nikah toh sama si Ilham. Ilham juga nikahin aku gara-gara tawaran konyol si ibu.

“Omah harusnya terimakasih ama Ibu, kalo bukan ibu restuin juga mana Ilham nikahin Rin ‘kan?” oceh Ilham yang melirikku nakal. Sumpah deh! Itu mata pengen aku colokin pake ini garpu di tangan. “Ibu mana pernah suka sama Ilham dari dulu. Kalo maen ke sana bawaannya di omelin mulu.” imbuhnya.

“Lah wong kamu suka bikin gara-gara sama dia.” celetuk Mama. Ilham hanya terbahak mendengarnya dan menatapku geli. Dih nih anak ya!

“Rin, mau ikut omah gak?” ajak Omah setelah meletakkan garpu dan sendoknya.

“Kemana, Omah?”

“Ke rumahnya Budhe Kur.” jawab Omah.

“Jangan! Entar lo disabotase sama mereka.” cegah Ilham.

“Kok kamu gitu sekarang, mas?” tanya Mama kesal.

“Ya… kan si Rin istrinya Ilham, Ma.” jawab Ilham. “Oiya, Ma. Gimana reaksi si Ria pas tau Ilham udah nikah?” kekeh Ilham sendiri.

“Hush! Dia juga udah nikah.” sahut Mama.

“Ria? Ria itu…” tebakku dan dibalas dengan anggukan oleh Ilham.

“Yang dorong lo ke selokan dulu.” sambar Ilham yang menahan tawanya, sontak aku memukul lengannya.

“Kaga lucu.” kesalku.

“Udah lama juga. Dia udah nikah kok Rin. Udah punya satu anak.” ujar Mama menginformasikannya padaku.

“Kok gak ada yang ngasih tau?”

“Iya. Dia nikahnya gak pake rame-rame. Sederhana.” jawab Mama.

“Dia hamil duluan.” ucap Ilham dan meneguk air putihnya. “Malu kali.”

“Mas jangan gitu!” ucap Mama dan dijawab anggukkan kepala oleh Ilham.

“Omah, ini masih ujan. Entaran aja.” ucap Ilham.

“Bawa mobil emang kehujanan?” sindir Omah dan aku tersenyum tipis mendengarnya.

“Males nyetir omah. Masa pengantin baru langsung dijadiin sopir, disayang-sayanglah.” ucap Ilham yang aku yakini alesan dia aja biar gak disuruh-suruh Omah.

“Nunggu sampe reda, Ham?” tanya Omah dan dibalas dengan satu kali anggukan olehnya. “Ya gak terang-terang. Kamu liat itu! Mendungnya item gitu.” ujar Omah yang kemudian meneguk air putihnya. “Gak usah banyak alesan lagi. Siapin mobilnya abis sarapan!” dan satu kalimat perintah yang gak bisa lagi diganggu gugat.

“Abisin sarapannya terus siapin mobilnya.” ucapku menirukan Omah tadi, aku menepuk pelan bahunya dan tersenyum menang.

“Rin ikut?” tanya Omah.

“Engga deh, Omah. Rin mau nyiapin apa aja buat ngajar besok.” tolakku halus.

“Ikut aja! Gua anter ke rumah ibu buat ambil barang-barang kamu.” ucap Ilham. “Abis nganter omah kita ke rumah.” lanjutnya.

“Ikut aja.” ucap omah juga dan aku melirik sebal pada Ilham. Dasar emang ya! Akal bulusnya mana pernah cetek (ilang).

 

 

***

 

 

Ilham berbaring santai di tempat tidurku sambil mendengarkan alunan lagu Yovie and the Nuno yang sengaja aku putar. Aku memasukkan barang-barang untuk mengajar nantinya.

“Ham.” panggilku sambil meletakkan tas ranselku di samping pintu. “Sepeda motor gua gimana? Gua berangkat ngajarnya?”

“Gua anter entar. Pulangnya lo bisa minta anter guru lain ke sini buat ambil motor di sini.” jawabnya.

“Jadi ke salon –Ham…” aku memukul kakinya kesal karena dia berbalik memunggungiku. “Sialan lo!”

“Males gua kalo lo bahas salon.”

“Katanya lo mau potong rambut. Tuh liat rambut udah panjang kayak gerandong.” bujukku sambil memainkan rambutnya yang biasanya dipotong cepak. “Ham…”

“Salon lain aja. Gua gak mau itu.” sahutnya.

“Tapi mampir beli sate kambing ya?” tanyaku sambil menompangkan kepalaku di atas lengannya.

“Sepuluh tusuk aja.”

“Pelit banget.” ucapku melas.

“Lo minta dua puluh tusuk gak pake nasi. Tekor (bangkrut) gua.” sahut Ilham.

“Lo bilang waktu itu, gaji lo lebih gede dari Adit.” komporku padanya.

“Jelas gede gua gajinya, orang gua atasannya.” sahutnya yang mulai kepancing.

“Nah kalo gitu kan, gua minta sate kambing dua tusuk gak bakalan bikin lo bangkrut kan? Dua puluh tusuk aja.” ujarku yang terdengar suara hembusan napas menyerah dari si Ilham. Horeeee…. menang sekarang!

“Oke. Udah beresinnya?” tanyanya yang sudah duduk.

“Udah. Tuh! Bawain tapi ya.” jawabku dan mematikan speaker kecilku. “Ayo!” ucapku dan keluar dari kamarku, ninggalin dia sendirian.

Mulih (pulang) ta?” tanya Ibu yang sedang menata makan siang di atas meja makan. Aku menarik kursi di dekat ibu sambil menuang air putih ke dalam gelas.

“Iya, buk.” jawabku setelah menegak setengah isi air putihku.

“Gak makan dulu? Ilham?”

“Udah makan tadi.”

“Sarapan itu.” sahut Ibu dan meletakkan nasi di tengah-tengah meja makan.

“Iya, sarapan tadi.” ralatku dan menegak habis sisa air putihku. “Gak usah ditawarin makan dia, buk.” cegahku.

“Kenapa?” tanya Ibu heran.

“Nanti Rin gak jadi dibeliin sate kambing.” jawabku setengah berbisik.

“Ngidam ta? Ngiler?” tanya Ibu.

“Ngawur ah ibu iki. Mana ngidam? Belum isi ini. Orang nikahnya baru-baru kemaren.” jawabku setengah geli melihat wajah ibu yang mupeng gitu. “Aduh buk… Sebulan gitu baru ditanyain gitu pasti Rin jawab ‘iya’.” lanjutku.

Wes, ndang diisi iku wetengmu (Udah, cepet-cepet diisi perut kamu).” suruh ibu.

“Diisi sate kambing, bu.” jawabku dan mengambil sempol ayam bumbu kecap.

“Cemot-cemot.” sentak ibu yang sudah memukul lenganku. Panas pukulan ibu ini.

“Sakit, buk.” rintih sambil mengusap lenganku. “Kabur ajalah. Di sini, disiksain mulu.” ucapku dan meninggalkan rumah. “Assalamualaikum. Pulang, buk.” pamitku dan menyusul si Ilham yang lebih dulu ke depan.

 

 

 

 

 

***

 

 

 

“Curang lo!” omel Ilham saat kami baru saja masuk ke dalam rumah. Ngombalin si Ilham dikit aja udah dapet tiga puluh tusuk sate kambing. Kalo cuman ngombalin dia gitu aja bisa dapet gini-gini mah, aku gombalin aja terus entar. Udah dapet titik lemahnya sih ya. Tinggal dikuras aja kantongnya, kan ngakunya tadi gajinya lebih gede dari si Adit. Adit mah karyawan biasa, dia kan bos. Gitu ngakunya. Mumpung suami ‘bos’ kan ya? Buk ‘bos’ bisa nguras kantongnya pak ‘bos’ suka-suka. Bebas kan ya? Kan istri sendiri yang nguras.

“Salah sendiri lemah iman.” sahutku yang kemudian langsung ke dapur. “Loh?” pekikku saat melihat si Ria udah duduk di sofa ruang tengah sambil nangis bawang bombay di depan Mama dan Omah.

“Ngapain lo di sini?” tanyanya judes.

“Gua? Pulanglah.” jawabku dan menghampiri Mama juga Omah untuk mencium tangan mereka. Kemudian ngancir ke dapur untuk makan sate kambingku. Dari pada dengerin nangis bombay si Ria sambil ngatai-ngatai gak jelas ke sapa, ya lebih enak makan sate kambinglah ya.

“Mama…” panggilku saam melihat Mama masuk ke dapur dan menuangkan air putih dingin ke dalam gelas.

“Ria kayaknya nginep di sini, Rin.” ucap Mama.

“Ada masalah sama suaminya, Ma?” tanyaku dan meneguk air putihku. “Kok sampe nangis-nangis gitu?”

“Iya. Katanya sih, suaminya selingkuh. Ya namanya nikah muda.” jawab Mama. “Mama anter minuman ini dulu ya.” pamitnya dan aku menganggukkan kepala sebagai jawaban.

“Selingkuh ya? Gimana kalo Ilham selingkuh ya? Ilham masih muda, doyannya juga kencur-kencur cilik.” ucapku sendiri. “Bodo amat.” ucapku dan melanjutkan kembali makan sate kambingku.

“Minta satu.” Entah dari mana ini orang udah duduk aja di sampingku dan ikut nimbrung ngabisin sate kambingku.

“Engga.” cegahku dan memukul tangannya agar melepas tusuk sate kambingku.

“Tiga puluh tusuk masa lo makan semua sih?” tanya Ilham kesal.

“Iyalah. Gua kan kepengen.” jawabku sewot.

“Lo gak isi kan?”

“Ngaco. Nikah juga belum sebulan udah isi aja.” jawabku dan memakan tusukan terakhir.

“Ini bini tega bener gua gak dikasih.” gerutunya dan meminum air putihku.

“Lo kan bilang gak doyan tadi.” sahutku dan merebut gelas air putihku. “Ngomong-ngomong, kata Mama si Ria nginep di sini. Acara kabur.” ujarku.

“Iya.” jawab Ilham singkat.

“Widiihhh… tiap pagi entar dapet tontonan bahenol nih.” godaku.

“Enak nontonin lo, aygong.” ucap Ilham ang sudah merangkul bahuku dengan kedua lainya yang naik turun. Nih nih… gelagat kalo udah kayak gini ini. Aku tahu mau ke arah mana ini. “Demennya nontonin lo, aygong.”

“Semok juga semok Ria loh, bo-ke.” ucapku.

“Tapi seksian lo, kok.” Aku memukul dadanya sambil tertawa keras mendengar. Ya allah, seksi dari tusuk sate ini kali ya aku? Dibandingin badannya si Ria yang semok berisi itu, aku mah gak ada apa-apanya. Badanku ini kurus, body sexy yang kayak apa coba liatnya si Ilham?

“Ngaco lo. Ngombal kaga usah kegombalan gitu, Ham.” ucapku yang masih tertawa. “Ada-ada aja lo.” ucapku dan berdiri untuk mencuci piring kotorku. “Pasti gua dimusuhin ama dia.”

“Tau lo istri gua?” tebak Ilham.

“Iyalah. Dia kan dari dulu ngebet pengen dapetin lo.” sahutku dan mencuci piring dan gelas sehabis makanku. “Dia juga musuhin gua sampe bebuyutan gara-gara lo lebih deket ama gua dari dulu, sampe nikah gini.” ujarku dan mengelap piringku dan menyimpannya ke dalam lemari.

“Masa bodoh. Gua kan udah nikah ama lo. Urusan apa coba dia ngelarang gua?” ucap Ilham yang sudah berdiri di depanku, mepetin badanku pada counter dapur.

“Dih. Kayak lagi scene drama korea masa.” geliku dan memukul dadanya lagi. “Pengen ketawa masa.”

“Tawa aja. Ini romantis kan?”

“Engga. Malah pengen ketawa. Terus ciuman gak ini scenenya?” godaku.

“Mau ciuman biasa apa ciuman hot sampe bikin dedek bayi di sini?” tawar Ilham.

“Ngebet banget pengen punya dedek bayi? Kalo udah punya bisa-bisa lo nyesel loh.” ujarku.

“Kenapa?”

“Gua gak mau malem-malem bangun gara-gara mesti nidurin, entar lo aja yang nidurin dia.” jawabku.

“Ya, kalo gitu sih oke-oke aja. Nidurin Mamanya juga oke oke aja gua.” ujarnya yang sudah memeluk pinggangku posesif.

“Pengen ketawa.” ucapku sambil menyembunyikan wajahku pada dadanya.

“Pengen nyium lo masa.”

“Gua malah pengen ketawa.” sahutku.

“Sini gua cium aja.” ucap Ilham yang sudah mendekatkan wajahnya ke wajahku.

“ALLAHU AKBAR!”

 

 

BYUUUURRRRR…

 

 

 

 

 

 

Hayo hayooo tebakk…

Sapa yang nyiram tuh? Kwkwkw…

Scene romantis malah ancur …

Hahahaha…

Buat yang kangen Bang Ilham …

Peace ….

 

 

 

 

 

 

25 Komentar

  1. Yesss pertamaaaaaa haha

    1. yessss… pertama terus ya

  2. Siapa itu ria??????
    ‘pasang muka Kesel, mata melotot haha’
    Udah mulai mau konflik nih ya ka?
    Ga bosen deh baca cerita mereka berdua, lucuuu
    Kangen bang ilham ngomong aygong masa haha
    Omah itu apa?nenek kah mksdny?
    Pokokny okehh dah
    Ketawa2 trs aq drtd haha
    Ditunggu kelanjutanny ya ka
    Semangat ka

    1. iya. omah itu nenek

  3. elvira naina13 menulis:

    Itu spa sih? ganggu aja scene romantis.y rin sma ilham!

  4. duuhh gagal deh adegan romantis,, ria kah yg nyiram

  5. waduhh gagal romantis2annya…

  6. Ngakak sumpah,, :NGAKAK
    Yang nyiram kurang kerjaan banget,,

  7. astaga disiram :dragonngakak tapi kurang ajar banget tuh yang nyiram :ASAHPISAU2 kira-kira siapa ya :ragunih jangan-jangan si ria-ria itu lagi :CURIGAH aaaaa jangan sampe ada orang ketiga diantara mbak rin dan mas ilham :AKUGAKTERIMA

  8. Huwanjirrr ngakak sumpah :dragonngakak itu siapa itu yg nyiram kurang ajar banget :NGAKAK

  9. Hahahaha duh lucunya….

  10. huaaa baru tauu kalau ternyata cerita ini dilanjutinn, :gulung2 :gulung2

  11. kak ditunggui kelanjutannya yaaa

    muna yakin bangettt itu pasti yang nyiram pasti ria kan? aduhh mulai ada antagonisnya nihh,dia malah tidur dirumah ilham lagii, mbak ririn yang kuat yaaa, juga mas ilham jan sampe kesemsem sama si riaaa :CURIGAH

  12. oh jd aygong itu panggilan kesayangan ilham y ma rin, kirain typo. Hehe soalny lgsun baca chap 6 ni gegara kuota dikit lg.. Hiks
    Di tunggu ka lanjutannya..

  13. itu siapa pula yang siram??
    mengganggu saja,,

  14. Kapan dilanjut kak

  15. scene drama romantis korea berubah jadi trailler/? *eh bner ga sih tulisannya bgitu :v :v

  16. yuukikanamekuran menulis:

    gokil,
    kapan lanjutnya?
    nungguin sampe harap2 cemas

  17. Kereennn

  18. dita setiani menulis:

    gak di lanjut lagi apa…

  19. fitriartemisia menulis:

    wkwkwk lanjutannya ditunggu ya

  20. :KECEWAHATI

  21. yuukikanamekuran menulis:

    gakil,
    kapan dilanjutnya, Kak?

  22. Ditunggu kelanjutannyaa

  23. Ditunggu kelanjutannya

Tinggalkan Balasan