Warfare Of Anchestry

Warfare Of Ancestry Part 24 : Lose Control

Bookmark

No account yet? Register

1.396 votes, average: 1,00 out of 1 (1.396 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

5471 words


© copyright 2018 @projectsairaakira seluruh karya di website ini telah didaftarkan ISBN dan dilindungi oleh hukum yang berlaku serta mengikat.

Dilarang meniru, menjiplak, mengubah nama tokoh, mengambil ide baik sebagian maupun keseluruhan isi cerita yang berada di dalam website ini. Jika Anda menemukan plagiat karya kami di wattpad, mari bantu dengan melakukan report copyright voiolance pada pihak wattpad. Kami sangat mengapresiasi laporan atau temuan dari vitamins menyangkut usaha plagiat baik keseluruhan maupun sebagian dari karya-karya ProjectSairaAkira yang dipublish di website ini, silahkan hubungi admin kami di [email protected] ^^


sebelumnya

Selama ini Arran selalu mengutuk perbuatan ayahnya yang memaksa ibunya berakhir dengannya tanpa rasa cinta serta menimbulkan kekacauan yang mengikuti di belakang mereka. Meskipun pada akhirnya ayah Arran dan ibu Arran menyerah pada takdir dan bersatu karena memang tidak ada yang bisa dilakukan untuk menentang hukum alam yang mengikat kaum pengubah wujud, munculnya musuh besar yang tak terkalahkan bisa dibilang berawal dari kesalahpahaman dan ketidakmampuan ayah Arran menahan diri. Ayah Arran adalah pria berdarah panas dan sifat itu jelas-jelas diturunkan kepada Arran. Dan sekarang mungkin ayahnya di alam baka sana sedang menertawakan dirinya karena Arran menjalani hal yang sama persis seperti yang dilakukan oleh ayahnya.

Tangan Arran bergerak meremas rambutnya dengan rasa frustasi.

Eleana pernah berkata kepadanya dalam usahanya untuk membela keputusan yang diambil oleh kedua orang tua Arran yang menyebabkan Arran terlahir di dunia ini. Bahwa jika seorang laki-laki sudah mengklaim seorang perempuan sebagai miliknya lalu menyelesaikan ritual itu, maka tubuhnya tidak akan bisa menahan dorongan untuk menyatu dengan pasangan yang dia klaim seketika itu juga. Arran dikatakan terlahir sebagai imbas dari penyelesaian ritual antara kedua orang tuanya yang dahulu dilakukan dengan paksaan. Karena ibu Arran hamil segera setelah penyelesaian ritual itu.

Jemari Arran meraba tengkuknya, mengusapnya kesal. Sebuah usaha yang sia-sia untuk meredakan rasa nyeri parah yang semakin membahana. Gelora aneh menjalar di dadanya ketika dia memejamkan mata dan membayangkan wajah Remi di sana.

Dan saat ini, Arran benar-benar tidak yakin apakah dia memiliki kekuatan untuk berhenti tepat pada waktunya setelah dia menyelesaikan ritual klaimnya terhadap Remi.



Music Instrument Credit

⊗ Edoby – More Love ⊗

postingan ini menggunakan musik background. Silahkan tekan tanda [ || ] pause di pojok kanan atas untuk mematikan musik background. Atau kecilkan volume perangkat elektronik anda untuk mengurangi volume musik latar sesuai toleransi indra pendengaran anda.



“Sudah selesai,”

Haifa tersenyum puas sambil menatap wajah Remi yang diberi riasan tipis tetapi berhasil menonjolkan kecantikan alaminya yang mempesona. Rambut pendek Remi disisir ke belakang dengan gaya feminim, mencoba menghapuskan potongan maskulin yang sedianya digunakan Remi untuk penyamarannya sebagai laki-laki.

Gaun yang dikenakan Remi tampak sederhana, berpotongan lurus dengan pundak sedikit terbuka dan melebar di pinggangnya, jatuh dengan indah di lantai menutupi mata kaki Remi nan mungil. Ukuran gaun itu begitu pas, dan itu cukup melegakan mengingat ibunda Yerevlah yang memesannya secara mendadak dan membawanya tepat di waktu mendesak sebelum pernikahan.

Haifa mengamati Remi dan senyumnya makin melebar ketika melihat tampilan Remi yang tampak seperti malaikat kecil berpakaian putih yang tampak tidak berdosa sekaligus cantik luar biasa. Entah apa yang menutupi mata Arran sehingga tidak menyadari pesona Remi dan memilih memperlakukan Remi dengan kasar dan menyebalkan. Arran akan menyesal ketika dia terlambat menyadarinya nanti, Haifa menyimpulkan dalam hati.

“Seharusnya kau membawa karangan bunga,” Haifa mengerutkan kening ketika menyadari ada yang kurang dari penampilan Remi, “Mungkin aku bisa mencarikannya di sekitar rumah Safed, di sini banyak bunga segar yang bisa dirangkai dengan cepat,” sambil berbicara, Haifa membalikkan badan hendak meninggalkan ruangan.

Tetapi langkahnya terhenti ketika jari Remi mengait pakaiannya, menariknya supaya tidak melangkah menjauh.

“Aku rasa… aku tidak perlu bunga…” Remi berucap cepat dengan nada terbata untuk mencegah Haifa pergi, “Aku bukan pengantin sungguhan dan ini bukan pernikahan sungguhan,” sambungnya lagi dengan nada pahit.

Sejenak Haifa tertegun, matanya mengamati ekspresi Remi yang tersiksa dengan rasa kasihan. Dia membuka mulut, hendak memberikan kata-kata penguatan untuk Remi, tetapi kalimatnya tertahan di tenggorokan ketika matanya yang awas menemukan sosok Yerev di ambang pintu.

Yerev memilih diam dan menggunakan isyarat tangan supaya Remi tidak menyadari kehadirannya. Dia meminta Haifa keluar dari ruangan itu dan pergi bersamanya. Haifa menganggukkan kepala untuk memberikan tanggapan pada Yerev yang perlahan meninggalkan ambang pintu dan menunggu di tempat tak terlihat. Sementara Haifa kembali menatap ke arah Remi.

Kedua tangan Haifa menyentuh pundak rapuh Remi di kiri dan kanannya, mengguncangnya lembut untuk menyalurkan kekuatan.

“Aku akan mengantarmu ke ruang upacara,” ucap Haifa kemudian.

***

Suara ketukan pintu membuat Arran yang sedang menyesap anggur di gelasnya mengerutkan kening.

Siapa yang berani mengganggu waktu sendirinya yang terakhir yang bisa dia nikmati sebelum pernikahan sialan ini?

“Masuk saja, pintu tidak dikunci,” Arran menyenderkan tubuhnya di punggung kursi, gelas anggur masih di tangannya sementar seluruh tubuhnya menegang menanti siapa yang akan datang di balik pintu.

Ketika pintu itu terbuka dan dia melihat bahwa Yerev serta Haifalah yang datang, ekspresi Arran semakin menggelap.

“Apakah kalian datang untuk menyeretku menuju pernikahan?” geramnya, “Tidak bisakah aku menikmati waktu sendiriku dan memberikan penghormatan untuk kebebasanku yang terakhir kalinya?”

Haifa menoleh ke arah Yerev, saling melempar pandang.

“Para tetua sudah berkumpul semua, kecuali tentu Safed dan Khev,” Haifalah yang memulai percakapan.

“Aku sudah melihat itu dari jendela,” Arran menjawab sambil lalu, merujuk pada pemandangan di bawah jendela kamarnya dimana mobil-mobil mewah yang hampir semuanya berwarna hitam tampak terparkir berjajar rapi di halaman rumah Safed yang luas. Ekspresi Arran tampak pahit ketika melanjutkan berbicara, “Mereka datang membawa keluarga mereka, seolah-olah ini adalah pesta pernikahan dengan perayaan besar yang perlu dihadiri keluarga. Tapi aku tahu apa yang tersimpan di dalam jiwa terdalam para tetua. Mereka hanya ingin melihatku jatuh ke lubang yang sama seperti kesalahan yang dilakukan oleh ayahku,”

“Tentu saja mereka tidak berpikir seperti itu, Arran, kau hanya berprasangka.” Yerev menyela dengan nada tidak setuju, “Kedatangan mereka mungkin lebih pada ketertarikan dan rasa ingin tahu terhadap Remi. Perempuan itu merupakan gadis dalam ramalan yang dikatakan akan menjadi penyelamat kaum pengubah wujud, pun dengan kemunculannya yang menandakan akan muncul musuh terkuat dan akan terjadi perang besar yang akan mengancam eksistensi kaum pengubah wujud. Dan sekarang dia terikat denganmu karena ritual ini akan menyatukan kalian. Kau termasuk yang terkuat di antara kami. Sehingga peristiwa pernikahan ini menjadi peristiwa besar yang tentu harus disaksikan,” Yerev menghela napas panjang. “Kau harus belajar untuk berpikiran positif terhadap para tetua, Arran. Tidak semua dari mereka merupakan lawanmu, sebagian besar dari mereka mendoakan kebahagiaanmu,”

Arran mengibaskan tangannya, seolah-olah penjelasan Yerev itu hanyalah angin lalu bagi dirinya.

“Aku tahu persis siapa itu para tetua dan topeng-topeng yang mereka kenakan,” ujarnya dengan nada sinis. “Sekarang pergilah dan sampaikan kepada para tetua bahwa aku tidak akan lari dari tanggung jawabku. Aku akan turun dan menikahi Remi seperti yang semua orang mau segera setelah aku menyelesaikan urusanku di sini,” ujarnya dingin.

Yerev menatap dalam ke arah Arran dan menyadari bahwa tidak ada gunanya beradu argumentasi dengan Arran saat ini. Saudara angkatnya itu tampak begitu getir dan pahit menghadapi pernikahannya yang didorong oleh kepentingan para tetua dan seluruh klan. Yerev akan mengajak Arran berbicara lagi nanti kalau suasana hati Arran sudah lebih membaik.

“Kami akan turun lebih dulu. Kuharap kau masih punya hati untuk berbelas kasihan kepada Remi. Remi … dia sudah menunggumu di sana, di antara para tetua. Sendirian.” Yerev berucap dengan nada tajam sebelum kemudian melangkah pergi meninggalkan ruangan.

Sementara itu, Haifa tampak sedikit ragu dengan langkahnya meninggalkan ruangan. Ketika sampai di ambang pintu, perempuan itu menghela napas panjang sebelum akhirnya menoleh kembali untuk mengutarakan pikirannya kepada Arran.

“Remi… dia… dia masih perawan,” ujarnya terbata.

Alis Arran langsung berkerut dalam sementara kemarahan mulai menghiasi wajahnya.

“Apa maksudmu menyebut itu di depanku, Haifa?” geramnya memberi peringatan.

Haifa mengepalkan tangan, tak gentar.

“Dia sama sekali tidak berpengalaman dengan laki-laki. Dia tidak pernah disentuh laki-laki, Remi berbeda dengan perempuan-perempuan lain dimana kau mengasah pengalamanmu selama ini,” Haifa mendongakkan dagu dan menatap Arran dengan pandangan mencela, “Aku tahu bahwa ritual penyelesaian klaim itu akan menuju pada sesuatu yang tak terhindarkan. Sejarah sudah menuliskan tentang itu semua di antara kaum kita dan aku yakin kau tidak akan menjadi pengecualian…. aku hanya ingin mengingatkan kepadamu, kau… kau harus bersikap lembut pada Remi. Sudah cukup dia menderita karena kata-kata dan sikap kejammu yang memusuhinya tanpa sebab, jangan sampai kau melukai fisiknya juga dan meninggalkan trauma pada laki-laki karena kekasaranmu…. karena bagaimanapun juga, kau menawarkan kompromi untuk membebaskan Remi tiga bulan lagi dan aku sungguh berharap jika Remi terbebas darimu nanti, dia bisa membuka hatinya untuk laki-laki lain yang jauh lebih baik darimu.” Haifa menyelesaikan kalimatnya dengan nada tegas sebelum meninggalkan Arran yang tertegun diam seolah ditampar sehingga tidak bisa membalas kata-katanya.

***

“Aku sepertinya punya kenangan tentang rumah ini,” Sang Kolektor menolehkan kepala ke arah Conrad dan menatap dengan curiga, “Dan ketika aku merasa familiar dengan sesuatu tetapi kemudian tidak bisa menggali ingatanku untuk menemukan kenangan, aku jadi curiga kau terlibat di dalamnya,”

Conrad menatap Ambrosia atau Sang Kolektor yang saat ini memakai wujud Giza, lalu mengalihkan tatapan dengan ekspresi datar.

“Kenapa Anda merasa curiga pada saya? Saya tidak akan berani mengutak-atik ingatan Anda meskipun saya memiliki kemampuan untuk melakukannya,” jawabnya kemudian dengan nada tak kalah datarnya.

Ambrosia menyeringai, tatapan tajamnya mengarah pada Conrad.

“Sebagai kaum pengubah wujud yang merupakan salah satu yang memiliki darah murni, kau memiliki kekuatan istimewa yang tidak dimiliki oleh kaum pengubah wujud biasa. Dan kekuatanmu itu adalah untuk memanipulasi ingatan seseorang. Kau bisa mengutak-atik ingatan orang semaumu, kau bisa menghapus ingatan lama dan menanamkan ingatan baru sesuai dengan citramu, kau bisa membuat orang beralih pihak dengan mudah tergantung ingatan yang kau tanamkan, dan orang-orang itu…. bahkan tidak menyadari bahwa kau telah memanipulasi ingatan mereka, karena apa yang kau tanamkan tidak pernah meninggalkan jejak,” Ambrosia menyipitkan mata ketika menatap Conrad dengan tatapan serius, “Siapa yang tahu bahwa kau mungkin telah mengutak-atik ingatanku tanpa kusadari?” tanyanya kemudian.

Pertanyaan itu diucapkan sambil lalu seolah bercanda, tetapi Conrad tahu betapa seriusnya Ambrosia. Sang Kolektor tidak pernah berbasa-basi, pun perempuan itu tidak pernah melakukan percakapan tanpa arti. Ketika Ambrosia membicarakan sesuatu, maka pasti ada maksud kompleks yang telah tersusun di dalam otaknya nan rumit.

Conrad memasang ekspresi tersinggung, seolah Ambrosia telah mengusik harga dirinya dengan mencurigainya.

“Saya sudah bilang sebelumnya, saya tidak akan berani.” jawabnya singkat.

Ambrosia terdiam, matanya menatap dalam ke arah mata Conrad. Dan untuk beberapa detik yang menyihir, Conrad menyadari bahwa meskipun saat ini Ambrosia menggunakan wujud fisik Giza, istri manusianya, apa yang ada di dalam jiwa cangkang manusia ini benar-benar berbeda.

Ambrosia telah terlatih untuk menelisik ke dalam hati terdalam, pengalaman dan kepahitan di masa lalu telah menempa dirinya sehingga tidak mudah dibohongi. Dan itu membuat Conrad harus berhati-hati. Jika sampai Ambrosia mengambil kesimpulan bahwa Conrad berada di sisi berlawanan dengannya, maka apa yang dibangun Conrad sampai saat ini demi mencapai tujuan akhir yang direncanakannya secara hati-hati akan sia-sia.

Untuk beberapa detik yang terasa mencekam, kedua makhluk itu terdiam. Hanya suara desau angin yang menggulirkan butiran salju yang terdengar di antara mereka, berpadu dengan remangnya suasana akibat bulan yang tertutup kabut badai salju.

Lalu Ambrosia tersenyum dan menganggukkan kepala.

“Kau masih ada di pihakku. Itu sudah cukup untukku,” ujarnya mengambil kesimpulan dengan nada pasti, sebelum kemudian melangkah mendahului Conrad menuju ambang pintu dan hendak mengetuk pintu itu, “Ayo, sudah waktunya kita bertamu sebelum tuan rumah kita terlelap dalam tidurnya,”

Ketika Ambrosia mengetuk pintu itu untuk memanggil siapapun yang berada di dalam rumah tersebut turun dan membuka pintu bagi mereka, Conrad menghembuskan napas perlahan hingga tak bersuara.

Ambrosia tidak pernah salah dalam menganalisa jiwa seseorang, Sang Kolektor mengembangkan kemampuan khusus sehingga dia bisa membaca seluruh tanda fisik paling detail di tubuh lawan bicaranya untuk membuat penilaian dan menelisik hingga hati terdalam orang tersebut. Dan mengenai kesetiaannya, Conrad memang tidak sedang berbohong. Untuk saat ini dirinya sudah jelas berada di pihak Ambrosia sepenuh hati.

Dan Conrad bersyukur bahwa kesetiaannya sebagai abdi itu sudah cukup bagi Ambrosia hingga membuat Sang Kolektor memutuskan tidak menelisik kebenaran di lapisan kegelapan jiwanya semakin dalam. Karena jika Ambrosia sampai melakukan itu dengan sungguh-sungguh, perempuan itu bukan tidak mungkin akan menyadari kebohongan Conrad. Kebohongan dari ucapan Conrad yang mengatakan bahwa dia sama sekali tidak pernah menyentuh isi ingatan di kepala Ambrosia.

Karena semua ombak yang beriak yang tercipta menuju badai paling ganas ini, sebenarnya diawali dengan sentuhan Conrad terhadap isi kepala Ambrosia…

***

Wajah-wajah yang ada di sekeliling Remi sama sekali tidak dikenalinya. Tidak ada satupun yang familiar. Mereka semua tampak asing dengan tatapan mata aneh yang tidak dapat Repi terjemahkan. Wajah-wajah itu tampak seperti topeng, dengan mata kosong yang terbentengi rapat, seolah menahan siapapun untuk bisa mengintip apa yang sebenarnya ada di benak mereka. Kata orang-orang, mata adalah jendela hati, sayangnya jendela yang dihadapi oleh Remi saat itu tertutup rapat, membuatnya tersesat dalam dugaan dan menciptakan kebingungan yang memeluknya erat.

Mereka semua berjumlah banyak, Remi bahkan terlalu takut untuk memfokuskan pandangan dan menghitung mereka satu-persatu. Dan mereka memperkenalkan diri sebagai para tetua kaum pengubah wujud. Penampilan orang-orang itu seperti bangsawan, begitu elegan dan terbalut sikap dingin tak tersentuh. Satu-satunya interaksi yang mereka izinkan terjadi secara langsung pada Remi hanyalah tatapan menilai penuh pengukuran dan ingin tahu yang mereka lakukan tanpa rasa malu terhadap Remi. Mereka semua menilai Remi, seolah-olah ingin memutuskan apakah Remi cukup pantas masuk ke dalam golongan mereka.

Remi berdiri dalam diam, di ruang remang berukuran luas yang disiapkan untuk menjadi ruang upacara pernikahannya. Posisinya saat ini sungguh aneh, berdiri di depan sebuah meja besar yang kosong sementara mereka – para tetua yang tidak dikenalnya – berdiri di belakang punggung dan mengamatinya. Remi bisa merasakan tatapan tajam menusuk yang membuat bulu kuduknya meremang tidak nyaman.

Tiba-tiba saja matanya mencari-cari, berusaha menemukan sosok yang dikenalnya. Entah itu Haifa, atau Yerev, atau bahkan Arranpun tidak apa-apa. Remi merasa seperti domba lemah yang ditinggalkan di antara kumpulan serigala yang sedang menilai dan mengamati apakah dirinya cukup enak untuk dimakan. Lagipula sungguh aneh, Haifa meninggalkannya sendirian di sini, mengatakan bahwa ada yang harus diurus sebelum upacara pernikahan benar-benar dimulai.

Remi menundukkan kepala, tangannya yang kurus saling meremas untuk menjaga supaya dirinya kuat berdiri sampai saatnya tiba. Sekuat tenaga Remi menahan keinginan untuk membalikkan badan, menembus kerumuman para tetua di belakangnya lalu melarikan diri sejauh mungkin. Karena dia tahu bahwa hal itu hanya akan berujung pada kesia-siaan. Tidak ada pilihan untuk Remi, karena itulah percuma baginya berusaha melarikan diri.

Sekali lagi Remi menghela napas panjang. Tanpa sadar tatapan mata mengarah ke gaunnya. Sebuah gaun putih yang sederhana tetapi begitu indah dari bahan sutera terbaik yang membungkus tubuhnya hingga menciptakan sensasi nyaman, seperti pelukan seorang sahabat. Remi sadar bahwa gaun yang sangat feminim itu tampak tidak cocok dengan rambutnya yang dipotong pendek dalam usaha penyamarannya sebagai seorang lelaki.

Seandainya saja Remi berkesempatan untuk menatap cermin dan melihat wajahnya…. sayangnya Haifa tadi begitu terburu-buru mempersiapkannya mengingat tengah malam hampir tiba dan seluruh tetua yang sedianya menghadiri upacara pernikahan ini sudah lengkap. Remi mengerjapkan mata, lalu tersenyum miris ketika menyadari betapa ironis ketika dirinya malahan mencemaskan penampilan, padahal tidak ada yang akan peduli. Ini bukan saatnya dia mencemaskan penampilannya. Tidak peduli dia tampil cantik ataupun berantakan, Arran tidak akan pernah memperhatikan penampilan calon pengantinnya. Pernikahan ini hanyalah sebuah kewajiban yang menyiksa bagi Arran, pun dengan dirinya. Arran tetap akan membenci dan merendahkannya bahkan ketika Remi tampil cantik dengan gaun terbaik dan riasan lengkap sekalipun.

Ini bukan pernikahan. Ini adalah sebentuk perjanjian yang mengikatnya dengan Arran dalam rantai menyakitkan yang dia tahu membelitnya hingga susah bernapas.

Untuk saat ini, harapan Remi hanyalah kompromi yang dijanjikan oleh Arran. Tiga bulan bekerjasama sebelum dia menyongsong kebebasannya.

Tiga bulan mungkin terasa lama jika dibayangkan saat ini… tetapi jika Remi bersabar, waktu akan berlalu sekerjapan mata, dan tiba waktunya bagi Remi untuk kembali kepada kehidupannya semula.

Suara gumaman di belakang punggungnya membuat Remi mau tak mau membalikkan badan penuh rasa ingin tahu. Dia bersyukur karena kerumunan para tetua di belakangnya saat ini sama sekali tidak sedang memfokuskan pandangan pada dirinya. Mereka mengamati pintu yang terbuka dan sosok yang melangkah masuk ke dalam ruangan.

Arran. Lelaki itu berpakaian hitam-hitam, menambah kelam aura yang melingkupinya. Kemejanya dikancing rapih, berwarna hitam legam tanpa jeda, pun dengan celananya. Penampilannya cukup formal meskipun lelaki itu tampaknya memilih untuk tidak mengenakan jas dan dasi seperti pengantin pria pada umumnya. Pilihan yang diambil oleh Arran menunjukkan dengan jelas pandangannya terhadap pernikahan ini. Bagi Arran ini hanyalah sebuah siksaan yang harus dilalui dengan segera.

Mata Arran tampak berkilau keemasan, seperti mata macan kumbang yang mengintip dan mengancam di kegelapan. Remi seketika menyadari, meskipun dia tidak menyukai sikap Arran, tidak mungkin sebagai wanita dia menampik, bahwa penampilan fisik dan wajah Arran luar biasa mempesona. Seolah-olah lelaki itu dilahirkan di dunia dalam bentuk pahatan mahakarya Sang Pencipta yang sedang tersenyum.

Remi merasa pipinya memanas ketika tatapan Arran ke arahnya semakin intens. Lalu lelaki itu melangkah melewati ambang pintu menuju arahnya. Posisinya benar-benar terbalik, biasanya pengantin perempuan yang akan berjalan menuju ke arah pengantin pria yang menunggu dengan gugup, yang terjadi pada pernikahan mereka adalah sebaliknya. Pengantin lelakilah yang datang menghampiri dengan sikap berbahaya seperti seorang pemenang perang yang bersiap mengklaim hadiah dan rampasan perang miliknya.

Ketika Arran semakin dekat, Remi berusaha keras memutus jalinan tatapan mereka yang entah kenapa saling memaku, dia lalu memalingkan mata, membalikkan tubuh supaya Arran tidak bisa membaca pergolakan di dalam jiwanya. Lalu Arran berdiri di sebelahnya, begitu tinggi menjulang dan begitu dekat hingga Remi bisa merasakan hawa panas dari lengan Arran yang menyentuh pundaknya.

Tiba-tiba saja Remi merasakan jemari Arran merayap ke pergelangan tangannya, sebelum kemudian menyusup tanpa izin di sela jari-jarinya dan menggenggam berjalinan di sana.

Remi mendongakkan kepala, menatap Arran dengan bingung. Ekspresi Arran tampak dingin, mata lelaki itu menatap ke arah meja besar yang sepi, menunggu hakim yang akan menikahkan mereka secara resmi sesuai hukum negara dan perwakilan tetua yang akan menikahkan mereka sesuai adat kaum pengubah wujud.

“Jangan terlalu banyak berpikir. Proses pernikahan ini akan berlangsung sesuai adat di dalam klan pengubah wujud. Dan selama adat itu berlangsung, aku harus menggenggam tanganmu dengan jemari berjalinan seperti saat ini,” Arran mendesis pelan di atas kepala Remi, memastikan hanya Remi yang bisa mendengar suaranya. “Dan sesuai kompromi kita sebelumnya, jalinan ini akan terlepaskan setelah tiga bulan,” sambungnya kemudian dengan nada menusuk, memberikan ultimatum tegas dan tak terbantahkan.

***

Upacara pernikahan itu berlangsung cepat seperti di dalam dunia mimpi. Seolah-olah ada kisah dongeng di dalam sebuah buku dan Remi tiba-tiba didapuk menjadi pemeran utamanya, melakukan apa yang diperintahkan kepadanya dengan sedikit linglung dan pikiran melayang.

Tidak biasanya dia kehilangan konsentrasi seperti ini. Mungkin karena dia begitu tegang, atau mungkin aroma bebungaan yang tiba-tiba disadarinya memenuhi ruangan ini yang mempengaruhi pikiran sadarnya.

Tetua yang menikahkan mereka masih tampak berbicara, dengan kata-kata yang hampir tidak bisa dicerna oleh otak Remi yang sibuk dengan pikirannya sendiri, berkubang dalam kabut yang memisahkannya dari dunia nyata.

Lalu tangan Arran yang berjalinan dengan jemarinya tiba-tiba meremas tangannya, membuat Remi terkesiap dan seketika mendongakkan kepala hanya untuk bertemu dengan tatapan tajam Arran yang menelisik ke dalam jiwanya.

“Kau tampak sakit,” Arran berucap dengan nada dingin, “Apakah kau kepanasan?”

Remi mengerjapkan mata, berusaha mencerna pertanyaan Arran dan ketika dia berhasil menerjemahkan pertanyaan itu, secercah jawaban langsung membanjiri dirinya. Pantas saja dia merasa seperti kehilangan kesadaran dan susah berkonsentrasi, bukan karena tegang, bukan karena aroma bunga yang memenuhi ruangan, tetapi karena rasa panas yang luar biasa membakar di tengkuknya.

Sejak Arran menggigit tengkuknya dalam ritual yang tak terterselesaikan itu, Remi dipaksa menerima rasa panas menyiksa itu sebagai bagian tak terputus dari dirinya. Dan tubuh manusia memang sangat hebat, bagian otaknya memaksa dirinya untuk menghiraukan rasa panas itu untuk mengurangi sakitnya hingga Remi tidak tersiksa karenanya. Sayangnya, meskipun rasa panas tersebut tidak menguras kondisi fisiknya, akibat psikisnya tetap ada, hal itulah yang membuat Remi seolah kehilangan kesadarannya.

Dan begitu Arran menyebutkan rasa panas itu serta menyadarkannya, maka rasa sakit yang diakibatkan oleh panas membakar di tengkuknya tersebut kembali dengan kesadaran penuh, kali ini seolah bergolak tanpa ampun dan luar biasa, membuat Remi meringis karena nyeri.

Tanpa disadarinya, Remi membalas remasan tangan Arran dan menatap lelaki itu dengan panik karena saat ini, sepertinya hanya Arranlah yang bisa menyelamatkannya.

“Aku… sepertinya aku akan pingsan,” Remi menggenggam tangan Arran seolah nyawanya hanya bergantung pada hal itu. Kakinya gemetaran sementara napasnya terengah, “Panas sekali….” tangan Remi menyentuh tengkuknya yang terbakar dan napasnya mulai sesak, “Panas sekali…”

“Aku tahu, aku juga merasakan hal yang sama.” Arran membalas dengan getir dalam bisikan, “Itu karena upacara pernikahan ini sudah hampir selesai,” Arran menunduk menatap ke arah Remi sementara dalam pandangan mata Remi yang berkunang-kunang, lelaki itu tampak buram di hadapannya.

“Mereka memintaku menciummu. Setelah itu semuanya selesai, upacara pernikahan ini selesai,” Arran mencengkeram pundak Remi dan menghadapkan ke arahnya. Kedua tangannya menjadi penopang tubuh Remi yang sedikit demi sedikit mulai kehilangan kesadarannya. Dan ketika Arran mendekatkan bibirnya yang panas untuk melumat bibir Remi, kegelapan mulai meliputi diri Remi sebelum kemudian tubuhnya kehilangan daya di dalam pelukan Arran.

***

“Bangun, Remi. Aku harus menyelesaikan ritual ini dan kau harus dalam keadaan sadar,”

Remi merasa tubuhnya diguncang sedikit kasar. Ketika kesadaran kembali menyapanya, mulutnya langsung mengeluarkan keluhan karena rasa panas itu menyerang lagi, membakar dirinya. Sekejap Remi didorong keinginan untuk kembali pada ketidaksadaran yang nyaman dalam kegelapan dimana rasa sakit terbakar itu tidak bisa menyentuhnya. Dia meringkuk, bergelung dan menolak dibangunkan.

“Tidak! Bangun. Kau harus membuka matamu. Ayo, bantu aku Remi, kalau tidak kita berdua akan sama-sama tersiksa,” kali ini Arran mengguncang setengah memaksa, membuat Remi sekali lagi mengeluh dan mau tak mau menerima kesadaran kembali pada dirinya.

Rasa panas itu begitu menyiksa begitu Remi membuka mata, ditambah lagi dia seperti terkena serangan jantung ketika menyadari bahwa saat itu dirinya berada di atas ranjang bersama Arran.

“A..apa yang terjadi? Ke… kenapa kita ada di sini?” dengan napas tersengal Remi masih berhasil bertanya, berusaha menjauh dari Arran tetapi percuma karena punggungnya sudah menyentuh dinding berjendela tempat ranjang tempat tidurnya menepi.

Arran tampak berantakan, berbeda dari biasanya. Rambut lelaki itu yang biasanya disisir rapi ke belakang acak-acakan, membuatnya tampak lebih muda. Lelaki itu berlutut di atas ranjang, tampak menjulang di depan Remi yang duduk di ranjang dengan sikap defensif. Arran masih mengenakan kemeja yang sama seperti yang dipakainya di upacara pernikahan tadi, tetapi kali ini kemeja itu tampak kusut dan tidak dikancingkan sepenuhnya. Rona merah tampak menjalar di tulang pipi Arran yang tinggi, dan lelaki itu mengerutkan kening seolah menahan sakit.

Seketika itu juga Remi menyadari perkataan Arran. Bukan hanya Remi yang sakit karena rasa panas di sini. Arran juga merasakan hal yang sama.

“Kau pingsan begitu upacara pernikahan selesai,” Arran menjawab dengan suara setengah menggeram, “Mereka semua mempersilahkanku membawamu masuk kemari untuk menyelesaikan ritual pribadi kita,” mata Arran menelusuri diri Remi, membuat perempuan itu semakin mengkerut ketakutan. “Aku sudah sampai di batasku,” Arran menggerakkan tangan untuk mengusap tengkuknya yang tersiksa, berbeda dengan sikap kuat dan kejam yang ditunjukkannya selama ini, kali ini suara Arran menyisipkan sehelai getaran berwujud kelemahan.

“Kau tahu seperti apa caranya,” Arran menyipitkan mata dan berucap lagi ketika Remi hanya membeku dalam teror menghadapinya, “Balikkan badanmu,” perintahnya dengan nada kejam.

Mata Remi melebar. Tentu saja masih terpatri jelas di dalam ingatannya ketika Arran memaksa menandainya dengan kejam dan dalam kondisi mabuk. Lelaki itu menggigit tengkuknya dan ingatan akan rasa sakit yang tertus menghujam hingga kini bahkan masih membuatnya trauma.

Dan sekarang… mereka akan melakukannya lagi? Dia akan merasa sakit lagi? Remi menggigit bibir ketika tubuhnya mulai gemetaran ketakutan. Tetapi… tetapi tidak ada jalan lain, bukan? Rasa sakit sekejap itu akan menghilangkan rasa terbakar menyiksa yang entah kenapa menjadi semakin intens setelah upacara pernikahan berakhir. Remi sudah menguatkan hati, dan dia harus menjalani ini mau tak mau.

“Remi,” Arran menggeram lagi, kali ini ada nada ketidaksabaran penuh amarah di dalam suaranya. “Balikkan badanmu atau aku yang akan melakukannya untukmu,” ancamnya tanpa belas kasihan.

Remi menghela napas panjang. Dan meskipun sekujur tubuhnya terasa sakit, dia berhasil memaksa dirinya untuk berbalik, berbaring tengkurap dengan tubuh tegang dan menanti.

Suara gemerisik sprei sutra itu seperti lonceng kematian bagi Remi, Arran mendekat bagaikan macan kumbang lapar yang siap memangsa korbannya yang lemah. Lalu dalam sekejap, Arran sudah berada di atas Remi dan menindihnya.

Kedua tangan Arran menjaga supaya tubuhnya yang tegap dan kuat tidak jatuh menindih Remi, kaki Arran terbuka dan lututnya berada tepat di antara kedua sisi pinggul Remi. Arran lalu membungkukkan tubuh supaya kepalanya berada sejajar dengan tengkuk Remi. Remi langsung terkesiap ketika merasakan panas napas Arran di permukaan kulit belakang lehernya. Secara reflek tubuhnya menegang, bersiap untuk lari. Tetapi lengan Arran menahannya. Lengan Arran memerangkapnya hingga Remi tidak bisa bergerak kemana-mana.

“Nanti tidak akan sakit lagi,” suara Arran terdengar berat dan parau. Dari napasnya yang terasa semakin panas di kulitnya, Remi tahu bahwa bibir Arran semakin dekat ke tengkuknya.

Remi memejamkan mata, menarik napas sekuatnya dengan mulut terbuka dan bersiap menahan rasa sakit ketika dia merasakan panasnya sentuhan bibir Arran di tengkuknya. Lalu Arran menggigit tengkuknya tanpa ampun, menghujamkan rasa sakit menggigit yang mengejutkan dan tidak siap diantisipasi oleh Remi.

Remi menjerit, tubuhnya meronta sebagai upaya untuk membebaskan diri dari rasa sakit yang diberikan oleh Arran kepadanya. Sekuat tenaga dia berusaha melepaskan diri dari perangkap tubuh Arran yang begitu kuat seperti batu.

“Tidak… tidak…” napas Remi tersengal ketika gigi Arran menghujam semakin dalam ke kulitnya, menyebarkan rasa sakit nan dalam seperti luka tersayat silet, “Sakit… lepaskan aku! Kumohon… lepaskan aku!”

Remi berteriak, merintih, memohon, meronta sekuat tenaga dalam kesia-siaan. Arran tidak melepaskan gigitannya dan tindihannya di tubuh Remi semakin kuat, membuat perempuan itu tak berdaya. Arran kali ini benar-benar berniat menyelesaikan ritual kepemilikannya terhadap Remi.

Dan ketika rasa sakit tak berujung itu hampir mencapai batasnya dan sekali lagi hendak merenggut kesadaran Remi, tiba-tiba saja rasa sakit itu menghilang, pun dengan panas membakar yang tadinya menyiksa tubuhnya. Secara ajaib, tubuhnya terasa begitu sehat, terasa begitu sempurna tanpa rasa sakit sama sekali.

Remi membuka matanya yang bersimbah air mata, menyadari bahwa di belakangnya, Arran telah melepaskan gigitan dari tengkuknya.

“Sudah selesai,” suara Arran terdengar gemetar, membuat Remi tidak bisa menahan diri untuk membalikkan tubuh.

Sebuah kesalahan yang fatal karena sekarang dirinya berbaring telentang dan menghadap langsung ke arah Arran yang masih berlutut di atas tubuhnya. Arran sudah menegakkan punggung sehingga tidak lagi menindihnya, tetapi lelaki itu masih berada di atasnya. Kedua kaki Arran terbuka sementara lututnya memaku di sisi kiri dan kanan pinggul Remi, sementara kaki Remi terjepit di antara kedua kaki Arran yang terbuka.

Kedua mata itu bertatapan lama seolah ada kekuatan magis yang memaksa mereka saling terikat. Napas Arran tersengal, pun dengan Remi. Seharusnya sudah selesai, seharusnya mereka berpisah sekarang karena ritual itu sudah terselesaikan. Tetapi entah kenapa baik Remi dan Arran sama-sama terpaku seolah ada tali kuat yang mengikat tubuh mereka hingga tak bisa bergerak.

Lalu Arran tiba-tiba membungkuk kembali sementara tangannya menyentuh pipi Remi sekilas.

“Sialan….sialan…” geramnya dengan nada mengutuk, membuat Remi kembali mengerut ketakutan. Mata Arran menghujam mata Remi, memakunya di sana begitu dekat hingga Remi tak mampu menghindar. Wajah Arran terasa begitu dekat hingga Remi bisa merasakan panasnya ketika Arran berbicara.

“Aku tidak bisa berhenti,” Arran sekali lagi menggeram sebelum kemudian sepenuhnya menindih Remi sementara mulutnya bertemu dengan mulut Remi yang setengah terbuka. Dengan rakus Arran melumat bibir Remi, mencecapnya seperti kelaparan, menciptakan sensasi yang tak pernah dirasakan oleh Remi sebelumnya.

Remi tidak pernah sedekat ini dengan lelaki manapun. Dia tidak pernah dicium. Arran adalah pria pertamanya. Dan kenyataan bahwa keintiman itu dilakukan dengan tiba-tiba membuat Remi bahkan tidak mampu meronta atau menolak. Dia hanya terpaku di sana, sepenuhnya bingung.

Arran melepaskan bibirnya dari bibir Remi, matanya menyala dengan warna emas yang tegas, mirip ketika dirinya berubah wujud menjadi macan kumbang. Bibirnya tidak melepaskan wajah Remi dari kecupannya, mencecap di sana sini seolah tak puas mencicipi pengantinnya.

“Aku memilikimu,” Arran mengklaim dengan nada arogan parau, “Setidaknya untuk tiga bulan ke depan. Kau milikku dan aku akan memilikimu dengan caraku,” jemari Arran menyingkirkan gaun pengantin Remi hingga turun di lengannya dan menampilkan pundaknya nan telanjang, bibirnya menyusul kemudian, memberikan jejak-jejak panas nan basah di sana.

Arran menyusupkan kepalanya di sisi leher Remi, lalu memiringkan kepala Remi sedikit untuk menemukan kembali bekas gigitan tanda kepemilikannya di tengkuk Remi. Lelaki itu mendaratkan kecupan sensual di tanda kepemilikan itu, memudarkan segala kesadaran Remi untuk menolak. Dirinya seolah disadarkan pada ikatan nyata bahwa Arran telah mengklaim kepemilikan atas tubuhnya.

Dan tidak ada yang bisa dilakukan Remi untuk menolak Arran. Kedua makhluk itu menyerah pada ikatan yang telah menyatukan tubuh dan jiwa mereka, berusaha meraih satu sama lain untuk saling berjalinan dan memiliki.

***

Remi membuka mata ketika menyadari cahaya pagi menerpa wajahnya. Tirai jendela kamarnya yang lebar hampir satu dinding dan dekat dengan tempat tidurnya rupanya telah dibuka, mempersilahkan cahaya matahari menelusup dengan sulur cahayanya nan hangat dan merayapi tubuh Remi.

Remi menggeliatkan tubuhnya secara reflek dan tiba-tiba mengerutkan kening tidak nyaman sambil membuka matanya yang sebelumnya tertutup lelap ketika dia merasakan ketidaknyamanan yang mengganggu di tubuhnya.

“Apakah kau baik-baik saja?”

Suara dalam sedikit parau yang tiba-tiba terucap dekat sekali dengan dirinya membuat Remi terperanjat. Dia memekik dan sedikit terloncat dari tempat tidur menuju sisi terjauh dari ranjang itu, menjauhi sumber suara lembut yang membuat bulu kuduknya berdiri.

Arran duduk di sebuah kursi yang sengaja ditarik tak jauh dari ranjang. Lelaki itu ternyata sudah berpakaian lengkap… mengingat sebelumnya…

Bayangan akan tubuh kuat Arran yang telanjang semalam langsung muncul tanpa ampun di dalam ingatan Remi. Remi langsung menggelengkan kepala dengan histeris untuk menyingkirkan bayangan itu, dia mengerjapkan mata dan kedua tangannya menangkup pipinya yang terasa panas membara.

Arran sepertinya habis mandi, lelaki itu tampak segar dan rambutnya basah. Sangat berkebalikan dengan dirinya, Remi merasa tidak nyaman di sekujur tubuhnya. Remi menunduk dan suara tercekat keluar dari tenggorokannya ketika menyadari bahwa hanya selimut tebal berwarna putih yang membungkus tubuhnyalah satu-satunya pelindung dirinya dari ketelanjangan, karena di balik selimut itu, dia tidak mengenakan apa-apa lagi.

“Apakah kau baik-baik saja?” Arran mengulang kembali pertanyaannya, kali ini segurat ketengangan tampak muncul di bibirnya yang menipis ketika matanya yang tajam menatap Remi dengan pandangan menusuk seolah ingin menggali jauh ke dalam jiwanya.

Sekali lagi Remi mengerjap. Bangun di pagi hari dan langsung dihadapkan dengan Arran yang mendominasi membuat otaknya seolah membeku dan membutuhkan waktu lebih lama untuk memroses segala sesuatu. Terlebih lagi, posisi mereka saat ini sungguh tidak adil. Arran sudah mandi, sudah segar dan sudah berpakaian lengkap dalam posisi siap untuk beradu argumentasi, sementara Remi seolah diserang dalam kondisi tidak siap, tanpa pertahanan diri dan dalam kondisi telanjang di balik selimutnya pula.

Apa pertanyaan Arran tadi? Remi berusaha memutar otak, seolah menjawab pertanyaan sederhana itu terlalu sulit bagi dirinya. Remi menghela napas panjang, menahan diri ketika dirinya dibanjiri ingatan samar tapi terasa dari adegan adegan yang terjadi antara dirinya dan Arran semalam. Arran bertanya apakah dirinya baik-baik saja. Tentu hal itu berhubungan dengan apa yang terjadi semalam.

Apakah Arran benar mencemaskan kondisinya? Ataukah lelaki itu hanya tidak mau disalahkan jika terjadi sesuatu dengan fisik Remi akibat perlakuannya semalam yang lepas kontrol?

Tetapi, melihat sikap dan tatapan mata Arran yang tak bersahabat kepadanya saat ini, menunjukkan bahwa kejadian semalam tidak akan mengubah kegetiran hubungan mereka berdua. Arran masih tetap memandang rendah pada dirinya dan Remi akan selalu bersikap defensif di depan Arran. Bisa dibilang mereka masih akan tetap bermusuhan setelah ini.

Remi menggigit bibir, membisikkan mantra kepada dirinya sendiri supaya tenang, lalu menguatkan diri untuk membalas tatapan mata Arran.

“Aku baik-baik saja,” jawabnya dengan suara tegar. berusaha menampilkan citra dirinya sekuat mungkin.

Sejenak keheningan membentang di antara mereka. Arran membisu, tetapi matanya tak lepas terpaku dari Remi, seolah dia tidak percaya dengan jawaban lisan Remi dan memilih menyimpulkan sendiri dari hasil pengamatannya.

Tak lama kemudian, Arran tampak menghela napas panjang dan mengangguk sedikit, lelaki itu lalu bangkit dari duduknya, hendak melangkah mendekati ranjang dan langkahnya langsung terhenti ketika menyadari bahwa tubuh Remi beringsut kembali menjauh, kali ini dengan gemetaran.

Arran menipiskan bibir, gerahamnya mengeras.

“Kau bisa bangun?” tanya Arran lagi dengan nada kasar.

Remi mengerutkan kening. Tentu saja dia bisa bangun, memangnya yang dilakukan Arran kepadanya semalam membuat dia seharusnya tidak bisa bangun?

Perlahan Remi menganggukkan kepala untuk menjawab pertanyaan Arran, memilih tidak bersuara dan berharap dengan jawabannya itu Arran akan melangkah pergi dan meninggalkan ruangan hingga suasana canggung nan mengganggu di antara mereka bisa segera tertepiskan.

“Bagus,” Arran membalikkan badan dengan sikap canggung, dan sesuai harapan Remi, lelaki itu lalu melangkah meninggalkan ruangan. Sayangnya, ketika mencapai ambang pintu kamar, lelaki itu menghentikan langkah dan menoleh kembali ke arah Remi.

“Kalau kau bisa bangun, maka segeralah mandi dan bersiap-siap. Ini masih jam tujuh, tetapi jam sepuluh nanti kita akan naik jet pribadi menuju kampung halamanmu untuk memastikan semua di sana baik-baik saja. Aku sudah memerintahkan pelayan untuk mengepak keperluanmu selama perjalanan.” Arran menatap Remi dengan ragu sebelum melanjutkan kalimatnya,

“Safed tidak bisa dihubungi sampai dengan pagi ini dan aku berharap di sana semua baik-baik saja,” Arran tidak menyebut tentang Giza, tetapi dia tahu bahwa Remi mengerti isyaratnya. Lelaki itu menghentikan kalimatnya ketika menyadari kecemasan mulai merambati bola mata Remi. “Kita akan bicarakan itu nanti,” putusnya dengan suara tegas. “Segera setelah mandi, turunlah ke bawah untuk sarapan,” perintahnya kemudian dengan nada menolak bantahan sebelum melangkah pergi meninggalkan ruangan.

 

Bersambung ke Part berikutnya


Follow instagram 
@projectsairaakira 

untuk  mendapatkan 
pengumuman/pemberitahuan 

 jika kebetulan web sedang eror 

atau tidak bisa diakses. 

226 Komentar

  1. Nadia Putri Rosanti menulis:

    WAW :mimisankarnamu

  2. ayooo bikin bucin Arran..

  3. ritualnya berlanjut ke hal hal lain huahahahah

  4. famelovenda menulis:

    “Aku sepwrtinya punya kenangan tentang rumah ini.”

    Heol, sepertinya kisah Ambrosia ini bakal menarik simpati krn kasihan dan feeling-ku para tetua punya andil besar dengan kemalangamnya entah karena aikap superior para tetua atau lainnya tapi aku sudah merasa sedikit kasihan ma Ambrosia. :kumenangismelepasmu :kumenangismelepasmu :kumenangismelepasmu

  5. plis kepikiran sebenernya alat disini si conrad atau ambrosia 🥲🤌

  6. Husna Fanany menulis:

    Arran menjilat ludah sendiri blg tdk mau menyentuh remi krn ikatan mlh nyosor dluan wk

  7. Sthefaany91 menulis:

    AKHIRNYAAAAAAAAAAAAA

  8. alingdarma menulis:

    :backstab

  9. Cookies_kiss menulis:

    Remi ini anaknya ambrosia bukan ya 🤔

  10. Yuni Widaningsih menulis:

    Haisss…. :awaskubalasnanti

  11. G sabar liat arran bucin sm remi :awaskubalasnanti :awaskubalasnanti :awaskubalasnanti :happy

  12. astaga, jadi conrad pernah memodifikasi ingatan ambrosia? berdasarkan ingatan ambrosia akan rumah remi, kemungkinan besar ambrosia benar adalah ibu remi.

  13. isnaeninurhidayah menulis:

    :menantiadeganmesra :menantiadeganmesra :menantiadeganmesra

  14. Musuh terbesar kyknya malah conrad ini….

Tinggalkan Balasan