Warfare Of Anchestry

Warfare Of Ancestry Part 3 : Still Remember

Bookmark

No account yet? Register

2.875 votes, average: 1,00 out of 1 (2.875 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

4337 words


© copyright 2017 @projectsairaakira seluruh karya di website ini telah didaftarkan dan dilindungi oleh hukum yang berlaku serta mengikat.

Dilarang meniru, menjiplak, mengubah nama tokoh, mengambil ide baik sebagian maupun keseluruhan isi cerita yang berada di dalam website ini. Kami menyediakan hadiah dan komplimen menarik bagi laporan atau temuan dari vitamins menyangkut usaha plagiat baik keseluruhan maupun sebagian dari karya-karya ProjectSairaAkira yang dipublish di website ini, silahkan hubungi admin kami di [email protected] ^^


https://youtu.be/2k4sMs3UFeM

Author’s Playlist – Yuliya Tereshchenko, Guardians ( Zashchitniki  ) OST

Now is on dark is grow, full sleep of sunrise. Every dream we can see is full of sunlight

And When the people dying, you’ve got to fight you’ve got to stand

Until the end tonight surrender


Remi menatap takut-takut ke arah lelaki yang sekarang membungkuk dekat sekali dengan wajahnya. Tangan lelaki itu mencengkeram dengan kuat di lehernya sementara bola matanya tampak aneh, warna emas di sana berubah berkilauan seperti warna mata macan kumbang yang dilihat Remi sebelumnya, lalu tiba-tiba berubah menjadi gelap sebelum kemudian kembali ke warna aslinya. Bibirnya tipis lelaki tampak mengancam ketika menggeramkan kalimat tuduhan yang mengerikan dari sana.

“Kau ingat, ya?”


[responsivevoice voice=”Indonesian Female” buttontext=”Dengarkan cerita ini”]

Remi menelan ludah, mau tak mau harus menatap mata mengerikan yang kini semakin dekat ke wajahnya karena sosok itu membungkuk dengan penuh intimidasi dan menatapnya tajam dengan ekspresi bengis yang mengerikan. Gemetar langsung merayap, menjalari tubuhnya dan membuat Remi kehabisan napas, bukan hanya karena cengkeraman di lehernya begitu keras, tetapi juga karena rasa takut mulai menguasai dadanya, menyelubungi tubuhnya dan membuat semua organ dalamnya seolah terhimpit sesak.

“Jawab aku, anak ceroboh. Kau ingat kejadian semalam?” Laki-laki itu menggeram sambil bertanya kembali, kali ini suaranya dipenuhi ketidaksabaran yang mendesak nyata penuh ancaman.

Mata Remi melebar, dia mengerutkan kening ketika dadanya semakin sesak, karena entah sengaja entah tidak, lelaki itu malahan mengetatkan cengkeraman di leher Remi ketika mengajukan pertanyaan itu.

Apakah dia akan dibunuh?

Pertanyaan mengerikan itu menyeruak di dalam benak Remi dan langsung membawa kelebatan mengerikan di dalam kepalanya. Dia tidak bisa membayangkan nasib adik dan ibunya ketika dia tidak ada untuk membantu, mereka berdua akan menderita dan kesulitan kalau tidak ada Remi. Dan keinginan untuk melindungi keluarga serta orang yang dia cintai membuat Remi mendapatkan kekuatan untuk menggerakkan tangan, menyelip di antara tubuh besar yang mendesaknya ke dinding, lalu merayapkan tangannya meski gemetar untuk menyentuh tangan pencekik lehernya.

Mata keemasan yang kini menggelap itu mengerjap ketika merasakan tangan lembut mungil yang menyentuh permukaan kulitnya tanpa izin. Laki-laki itu lalu melepaskan tatapan tajamnya dari mata Remi dan menunduk untuk melihat tangan Remi yang dengan menyedihkan bergerak putus asa, berusaha melepaskan cengkeraman tangan kuat laki-laki tersebut dari lehernya.

Sekejap ada sinar mata angkuh dan mencemooh di mata laki-laki itu, membuat Remi berpikir bahwa dia telah berbuat salah karena telah menyentuh lelaki tersebut tanpa izin, seolah-olah lelaki itu berasal dari kasta yang terlalu tinggi dan Remi tidak pantas menyentuh serta tidak boleh menyentuh tanpa izin.

Tetapi kemudian lelaki itu tampaknya menatap ke tangannya sendiri yang sedang mencengkeram leher Remi, dan ketika matanya kembali untuk melihat bibir Remi yang terbuka serta wajah perempuan itu yang pucat pasi kehabisan napas, disertai dengan dadanya yang naik turun dan megap-megap, sinar mata lelaki itu memucat, seolah-olah dia baru sadar telah menggunakan kekuatan terlalu banyak kepada gadis kecil yang tidak berdaya.

Seketika cengkeraman di leher Remi terlepas, membuat tubuh Remi melemas begitu saja, dia membuka mulutnya untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya, terbatuk-batuk kemudian karena saluran udaranya yang tadi menyempit dan dicekik tiba-tiba mendapatkan aliran udara bebas yang begitu banyak.

Sayangnya Remi tidak bisa melarikan diri karena ketika lelaki itu melepaskan tangannya, kedua lengan kekar lelaki tersebut langsung mendaratkan telapak tangan ke dinding, menahan Remi di sisi kiri dan kanan tubuhnya, membuat Remi terperangkap di sana.

Remi mendongakkan kepala, jantungnya berdebar keras penuh antisipasi. Lelaki ini menanyakan mengenai kejadian semalam dan bertanya apakah Remi ingat. Tentu saja Remi mengingat semuanya, tetapi sebelumnya dia merasa bahwa itu semua hanyalah mimpi. Sekarang… dia malahan jadi yakin  bahwa kemarin itu benar-benar nyata.

Tetapi bagaimana mungkin? Bagaimana bisa seekor binatang berubah menjadi manusia? Jadi makhluk yang ada di depannya ini apa? Apakah dia manusia? Atau jangan-jangan dia macan kumbang yang menyamar? Sisi yang mana yang merupakan wujud asli lelaki ini?

“Jadi kau ingat semuanya.” kali ini ucapan lelaki itu lebih seperti kesimpulan dan bukan lagi pertanyaan, kepalanya masih menunduk dan wajahnya masih begitu dekat dengan wajah Remi ketika bertanya, “Bagaimana bisa?” geramnya kemudian.

Remi memucat, dan dia langsung menyerukan satu-satunya yang terpikir di dalam benaknya.

“Ba… bagaimana aku tahu? Kau ini siapa? Kenapa kau… kenapa kau bisa berubah wujud?” serunya dengan suara tercekik.

“Bukan urusanmu.” Lelaki itu menjawab dingin dengan nada merendahkan, “Bagaimana mungkin kekuatanku tidak mempan pada manusia lemah seperti kau? Jangan bergerak!” Lelaki tersebut menghardik keras ketika Remi berusaha memalingkan kepala saat telapak tangan besarnya bergerak untuk menyentuh dahi Remi. Hardikan itu cukup membuat tubuh Remi membeku, meskipun gemetarnya terasa begitu kuat, membuatnya menggigil.

“A… apa yang sedang kau lakukan?” Remi berseru dengan napas tersengal, megap-megap karena rasa takut kembali menguasainya.

“Diam dan tutup matamu.” sekarang telapak tangan lelaki tersebut telah sepenuhnya menangkup dahi Remi, menutup sebagian besar matanya dan memaksa Remi untuk terpejam bahkan ketika dia tidak mau melakukannya, “Yang kemarin mungkin sebuah anomali, tetapi kali ini aku tidak akan gagal. Aku akan menghilangkan ingatanmu sekali lagi. Kalau kau mencoba bergerak atau meronta, aku akan meremukkan kepalamu dan membunuhmu dengan cara menyakitkan.” ancamnya dingin, membuat tubuh Remi semakin membeku dan tidak bisa melakukan apa-apa selain menurut.

Tangan lelaki itu terasa panas, semakin lama semakin membakar, dan Remi yang memejamkan mata hanya bisa menahankan kebingungan ketika kegelapan melingkupi pengelihatannya sementara suhu panas di dahinya terasa menyakitkan dan tidak nyaman.

Tepat ketika Remi merasa tidak tahan lagi, tiba-tiba saja telapak tangan lelaki itu terlepas dari dahinya, dan dia melangkah mundur, sementara matanya menatap tajam ke arah Remi, mengawasi dengan seksama.

“Apakah kau tahu siapa aku, gadis ceroboh?” tanya lelaki itu perlahan, pandangannya tampak menilai.

Remi sendiri megerjapkan mata, menyesuaikan matanya yang tadi dipaksa dalam kegelapan untuk beradaptasi dengan cahaya terang yang menanti. Dia mengerutkan kening dan pikiran cerdasnya memaksa dirinya untuk berpikir cepat.

Yang diinginkan lelaki ini adalah agar dia lupa bukan? Dia bilang dia ingin menghilangkan ingatan Remi. Kalau begitu, jika Remi hilang ingatan – meskipun sebenarnya saat ini tidak, karena sudah jelas Remi masih ingat semuanya, bahkan setelah lelaki tersebut memanaskan dahinya dengan kekuatan aneh- tetapi jika Remi hilang ingatan sesuai kemauan lelaki itu, maka dia akan selamat.

Jadi sekarang dia harus berpura-pura hilang ingatan dan membuat lelaki itu lengah, setidaknya sampai dia bisa mencapai cafe dan meminta pertolongan.

“Kau siapa?” Remi mengeluarkan suaranya yang bergetar, berusaha memasang mimik wajah meyakinkan.

Lelaki itu sama sekali tidak berkedip dan masih menilai Remi,

“Jadi kau tidak ingat. Aku adalah pelanggan cafe ini.” ujarnya dengan kalimat menguji.

Mata Remi tertuju ke arah toilet di belakang sosok tinggi besar tersebut dan dia berusaha menyusun kata-kata.

“Anda sedang mencari letak toilet? Saya rasa Anda menemukannya… di belakang Anda.” gumamnya mencoba ramah, lalu berdehem untuk menenangkan diri, “Ka.. kalau begitu, saya permisi dulu, Giza pasti sudah menunggu saya, jam seperti ini biasanya ramai…” Remi menganggukkan kepala dengan sopan, dia menghela napas pendek-pendek untuk menenangkan diri sebelum kemudian membalikkan badan hendak melangkah menuruni tangga.

Kalau dia berhasil menuruni tangga dan menemui Giza serta seluruh pelanggan cafe, kemungkinan dia bisa selamat dari macan kumbang gila ini…

“Kenapa jantungmu berdegup begitu kencang hingga memenuhi ruangan? Kau pikir aku tidak bisa mendengarnya? Sayangnya kau salah, kemampuan mendengarku di atas rata-rata. Bahkan sekarang aku bisa mendengar kau menelan ludahmu dengan susah payah.” suara lelaki itu tiba-tiba terdengar di belakang punggung Remi, membuat Remi tertegun dan membeku, dia menolehkan kepala takut-takut dan melihat ekspresi mengejek di wajahnya,

“Sandiwara yang menyedihkan, gadis ceroboh.” cemooh laki-laki itu dengan nada marah, “Kurang ajar! Berani-beraninya kau masih ingat!” serunya kejam, mengulurkan tangan untuk mencengkeram lengan Remi.

Seketika Remi meronta, dan ketika sosok bertubuh kekar itu mendekat ke arahnya, hendak melumpuhkan dirinya, Remi membalikkan tubuh, mencoba mengingat pelajaran mempertahankan diri yang diperoleh dahulu di bangku sekolah dan memutar tubuh dengan kaki menendang, mengincar selangkangan lelaki itu.

Suara benturan keras terdengar ketika kaki Remi mendarat dengan kekuatan penuh di paha lelaki tersebut, meleset dari selangkangan yang dia incar tetapi setidaknya membuat lelaki itu mengaduh.

Sayangnya sepertinya usaha Remi akan sia-sia belaka karena apa yang dia lakukan malahan membuat lelaki itu semakin murka dan semakin bertekad menangkapnya.

Lelaki tersebut bergerak secepat kilat, meraih pinggang Remi dengan satu tangan sementara tangannya yang lain membekap mulut Remi, membuat Remi tak bisa bersuara. Remi mencoba menjerit, tetapi yang keluar dari mulutnya hanyalah gumaman tak jelas. Remi berusaha meronta, tetapi dia seperti membentur batu yang sama sekali tak terpengaruh dengan usahanya.

Pada akhirnya, tubuh Remi diangkat dengan mudahnya dan dibawa kembali ke dinding, punggungnya membentur tembok dengan keras, membuatnya mengaduh. Lelaki itu melepaskan pinggang Remi dan kembali menahan tubuh mungilnya dengan tubuhnya yang keras dan kekar, lalu tangan yang tadinya membekap mulut Remi bergerak turun dan mencengkeram tenggorokannya.

“Bergerak sedikit saja, aku akan meremukkan lehermu.” ancamnya dengan nada mengerikan.

***

“Arran lama sekali.” Xavier, yang paling muda dalam kelompok mereka tiba-tiba menggumamkan pemikirannya sambil melirik gelisah ke arah tangga tempat Arran diantar oleh gadis pelayan itu naik tadi, “Kau yakin tidak terjadi apa-apa di atas sana? Mengingat apa yang kalian bicarakan tentang gadis pelayan itu sebelumnya…” Xavier menghentikan kata-katanya, menata Yerev dengan pandangan penuh arti.

Yerev sedang asyik melahap kue yang disajikan oleh Giza sampai tandas, lalu meneguk kopi pengganti yang segera diantarkan ke mejanya setelah insiden tadi.  Tidak dinyana, kopi yang disajikan di sini sangat nikmat, biji kopi yang dipanggang menguarkan aroma harum yang khas, dan Giza ternyata cukup berbakat memadu-madankan biji kopi tersebut dengan berbagai rempah-rempah serta bahan lain yang memperkaya rasanya. Rasa kopi yang sedikit getir dengan aroma harum sangat pas digunakan untuk membasuh lidah setelah sebelumnya mencecap jejak kue manis yang lembut di mulutnya.

Yerev meneguk lagi satu tegukan besar, setelah itu barulah dia meletakkan cangkirnya dengan puas. Kemudian Yerev mengangkat alis dan menggunakan mata peraknya untuk mengamati Xavier. Xavier memiliki penampilan khas seorang bangsawan yang seolah-olah tidak cocok berada di desa antah berantah ini.

Dengan tulang pipi tinggi dan rambut sewarna madu yang selalu disisir rapi ke sebelah sisi dan pakaian rapi yang dikancingkan sampai ke bagian atas lehernya, Xavier lebih cocok berada di kastil tua, duduk di kursi beludru merah bersandaran punggung tinggi di dekat perapian dengan buku di tangan kiri dan anggur di tangan kanan, sambil memberi perintah pada pelayan dengan logat bangsawan kentalnya yang khas. Sayangnya, di balik tampilannya yang elegan, Xavier akan berubah seratus delapan puluh derajat ketika sisi kedua dirinya mengambil alih. Xavier akan berubah menjadi seekor beruang grizzly yang liar dan sama sekali tidak meninggalkan jejak kebangsawanannya di wujudnya yang kedua.

Yerev tidak bisa menahan senyum ketika imajinasinya seolah muncul begitu saja di depan mata. Dia lalu berdehem, berusaha menguasai diri dan memasang wajah serius. Xavier cukup pendiam, dan jika dia sampai berbicara untuk mengutarakan kekhawatirannya, maka biasanya dia benar.

Segera Yerev beranjak dari duduknya dan mengangguk ke arah anggota kelompoknya yang lain.

“Aku akan melihat situasi di atas.”ujarnya sebelum membalikkan badan.

Yerev lalu berjalan tenang ke arah Giza yang sedang sibuk di belakang pantri menyiapkan hidangan untuk tamu-tamu Cafe yang mulai berdatangan. Kehadirannya membuat Giza mendongak dan langsung tersenyum ramah.

“Adakah yang bisa saya bantu?” tanya Giza cepat, menunjukkan betapa cekatannya dia melayani pelanggan.

Yerev langsung menghadiahkan senyumannya yang paling memesona,

“Saya hanya ingin melihat teman saya di atas sana. Dia mungkin butuh ini.” perlahan Yerev menunjukkan sapu tangan berwarna hitam di tangannya, “Ini sapu tangan miliknya.” sambungnya kemudian.

Giza mengangguk cepat dan menunjuk ke arah tangga, “Pegawai saya sedang mengantarnya ke toilet di atas dan saya juga meminta pegawai saya untuk mencuci baju kotor milik teman Anda  di mesin cuci kami hingga kering dan bisa dipakai kembali. Anda tingga menaiki tangga itu dan menemukan toilet tepat di sisi bagian paling atas tangga. Apakah Anda tidak keberatan pergi ke sana sendirian tanpa saya mengantar Anda? Karena tamu mulai berdatangan dan saya tidak bisa meninggalkan mereka.” ujar Giza dengan nada menyesal kental di dalam suaranya.

Yerev menganggukkan kepala, masih memberikan senyuman ramah memesona kepada Giza.

“Tentu saja tidak apa-apa. Saya akan naik ke sana. Terima kasih.” ujarnya lembut, lalu langsung melangkah menaiki tangga, tidak menduga akan pemandangan yang akan ditemukan di depan matanya ketika dia sudah mencapai ujung paling atas tangga.

***

“Astaga! Arran! Apa yang terjadi?”

Yerev melebarkan mata peraknya yang indah sekaligus melemparkan tatapan mata penuh peringatan ke arah Arran. Hanya Yerev yang berani melakukan itu kepada Arran tentu saja, tetapi mau bagaimana lagi, yang dilakukan Arran sekarang sungguh di luar nalar, mencekik manusia biasa  dengan begitu mengancam seolah akan membunuhnya.

Bagaimana kalau yang tadi naik kemari bukan Yerev tapi Giza?

Bisa-bisa perempuan itu histeris, menjerit dan menimbulkan kepanikan kepada semua tamu yang mulai ramai di bawah, yang paling parah kalau sampai Giza memanggil polisi, lalu mereka harus membuang-buang waktu dan tenaga untuk menghilangkan ingatan semua orang supaya bisa melenggang pergi tanpa insiden.

Belum lagi urusan dengan klan, mereka harus menjelaskan kepada para tetua atas kekacauan tak terduga yang terjadi, dan Yerev paling tidak suka harus menghadapi para tetua. Oke, Arran juga termasuk anggota tetua dan dia  juga sama kakunya seperti kaum tetua yang lain, tetapi setidaknya Arran seumuran dengannya dan lelaki itu sudah dia anggap saudaranya sendiri.

Yerev mendapatkan pesan dari ibunya bahwa dia harus menjaga Arran dari masalah. Arran memang sangat hebat dalam bertarung, tetapi saudara angkatnya itu tidak pandai bersosialisasi, memiliki mulut tajam yang selalu menyakiti dan sangat angkuh hingga kadang membuat kepala orang lain meledak karena emosi. Ibunya berpesan bahwa Yerev harus bisa menjadi penyeimbang bagi Arran, menjaga supaya kekurangan Arran tertutup oleh kelebihan Yerrev yang memiliki sifat sangat bertolak belakang dari saudara angkatnya itu.

Dan sekarang kenapa lagi? Kenapa Arran kehilangan kendali dan mencekik gadis pelayan yang malang tersebut dengan ekspresi garang seolah ingin memakannya?

“Lepaskan tanganmu darinya, Arran.” Yerev berucap lembut, tahu bahwa api tidak bisa dilawan dengan api.

Arran melirik sedikit ke arah Yerev, lalu mendesis kasar, “Makhluk licik ini… kalau kulepas dia akan menjerit. Bagaimana kalau kuhancurkan saja tenggorokannya hingga dia tidak bisa bersuara lagi?” desisnya dengan nada mengerikan, membuat Remi mengeluarkan suara tercekik ketakutan mendengar ancaman itu.

Yerev menghembuskan napas panjang, melirik ke arah si gadis pelayan yang semakin lama semakin pucat, entah karena takut, atau karena kehabisan udara, itu bisa dipikirkan nanti, yang jelas, Yerev harus segera menetralisir situasi ini.

“Gadis itu tidak akan menjerit, Arran.” sekali lagi Yerev berucap dengan nada suara tenang, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Remi, “Kau tidak akan menjerit, bukan?” bisiknya lembut, seperti berbicara pada anak-anak yang ketakutan.

Yerev mengerutkan kening ketika melihat ekspresi ketakutan yang nyata di mata gadis malang tersebut, dia lalu menganggukkan kepala sedikit, memberi isyarat supaya gadis itu menjawab pertanyaannya dengan benar.

Dan gadis itu tampaknya cerdas karena dia segera menganggukkan kepala kuat-kuat meskipun tampak susah payah karena lehernya masih ada dalam cengkeraman Arran.

Arran mengerutkan kening melihat anggukan Remi, seolah-olah tidak percaya.

“Tadi tikus kecil ini berbohong, Yerev. Bagaimana kau yakin kalau dia tidak berbohong lagi?” cengkeraman Arran di leher Remi mengendor, tetapi tangan kuat itu masih bercokol di sana, tidak mau melepaskan.

Yerev mengangkat bahu, “Kali ini dia akan menurut. Satu lawan dua. Kalau dia berbohong lagi, tidak ada kesempatan untuknya. Dia bahkan sudah akan mati sebelum bisa mengeluarkan jeritan dari tenggorokannya. Bukan begitu, gadis kecil?” tanyanya kemudian ke arah Remi.

Remi membelalakkan mata ketika menyadari bahwa kedua lelaki ini sama-sama mengerikan. Mereka membicarakan pembunuhan seolah-olah sedang membicarakan menu makan siang sehari-hari.

Manusia macam apa yang bisa membicarakan mengenai pembunuhan dengan begitu ringannya? Atau jangan-jangan mereka bukan manusia? Mengingat peristiwa semalam yang mengerikan itu sudah pasti bukanlah mimpi

Tetapi pada detik nyang sama, Remi menyadari bahwa ketika dia terjepit di antara dua makhluk buas yang mengerikan, satu-satunya hal yang bisa dia lakukan untuk menyelamatkan nyawanya adalah dengan menuruti perintah.

Sekali lagi Remi mengangguk kuat-kuat, menunjukkan dengan gamblang bahwa dia mengerti isyarat ancaman yang diberikan oleh lelaki berambut pirang pucat itu kepadanya.

“Lihat, dia mengangguk,” Yerev berucap kembali ke arah Arran, “Mari kita berbicara baik-baik dengan cara beradab dan manusiawi, oke?”

Arran masih memaku mata emasnya ke arah Remi, dia lalu melemparkan pandangan ‘kalau aku habis kesabaran aku akan membunuhmu‘, sebelum kemudian melepaskan cengkeraman tangannya dari leher Remi dan melangkah mundur, hanya sedikit untuk memberikan ruang tetapi tidak cukup banyak untuk Remi berlari.

Sekali lagi, seperti deja vu, Remi kembali memegang lehernya yang terasa sakit karena dicekik dua kali, kali ini dia  langsung terbatuk-batuk dan menyandarkan tubuhnya yang lemas di dinding sebagai penopang diri.

“Diam di situ.” Yerev mengucapkan kalimat lembut ke arah Remi dengan penuh peringatan tersirat, dan Remi tidak punya pilihan lain selain menurut. Kali ini dia sudah jelas tidak punya kesempatan untuk lari seperti yang sebelumnya. Arran masih berada di dekat tubuhnya di area lorong dekat toilet, sementara Yerev berdiri di ujung anak tangga, menghalangi jalannya untuk turun atau meminta pertolongan. Lagipula ancaman yang didengarnya tadi sudah cukup mengerikan untuk menahan langkah Remi, mereka mengatakan bisa membunuhnya dengan cepat, bahkan sebelum Remi bisa menjerit.

“Siapa namamu?” Yerev kembali bertanya, membuat Remi terkesiap, dia membuka mulut , tetapi sayang  pita suaranya yang masih trauma hanya berhasil mengeluarkan suara mencicit yang aneh, membuat Remi harus berdehem dengan penuh rasa malu.

“Re…mi.” Remi akhirnya bisa menjawab lemah meskipun suaranya begitu pelan nyaris tak terdengar.

Yerev memiringkan kepala, berusaha memastikan, “Siapa?” tanyanya mengulang.

“Namanya Remi, memangnya kau tidak bisa dengar ya?” Arran menyela dengan tidak sabar, matanya sama sekali belum lepas dari Remi, mengintimidasinya dengan menyesakkan hanya dengan tatapan mata.

Sekarang mari kita berbicara baik-baik.” Yerev mengabaikan suara kemarahan Arran sebelumnya, dahinya berkerut ketika menoleh ke arah Arran, “Kenapa kau mencekik gadis malang ini?” Yerev meletakkan kedua telapak tangannya di depan untuk membela diri ketika Arran membelalakkan mata dengan tajam ke arahnya, “Oke, aku tahu. Dia gadis yang semalam. Tetapi dia sudah lupa semuanya, kenapa juga kau masih mengincarnya?”

Ekspresi Arran yang getir kemudian sedetik setelah Yerev mengucapkan kalimat terakhirnya membuat Yerev tidak perlu berpikir lama sebelum dia memperoleh kesimpulan. Dan kesimpulan itu membuat mulut Yerev ternganga, karena apa yang terjadi di depannya itu belum pernah terjadi sebelumnya.

“Jangan bilang kalau dia…” bahkan setelah Yerev mencapai kesimpulan, di masih belum yakin sehingga harus meminta kepastian dari Arran.

Dan kepastian itu diperolehnya dengan cepat, “Dia masih ingat.” Arran tampak sangat marah. Lelaki itu terbiasa dengan kesempurnaan dan dia selalu berhasil melakukannya, baik dari tugas yang teremeh sekalipun sampai ke tugas tersulit yang orang lain tidak mampu. Sekarang seorang gadis lemah telah membuat Arran tak berkutik dan gagal melakukan tugas. Dan yang paling menyedihkan, tugas menghilangkan ingatan seseorang adalah kekuatan paling remeh dari kaum pengubah wujud.

Bisa dibilang setiap pengubah wujud terlahirkan dengan membawa kekuatan alami untuk menghilangkan ingatan manusia biasa, itu bukan sejenis ilmu atau kekuatan yang harus dipelajari, itu adalah sejenis kemampuan untuk mempertahankan diri yang sudah dimiliki dari lahir. Bahkan kaum pengubah wujud dengan kasta terendah yang hanya mampu berubah menjadi serangga kecil atau tikus tanah pun mampu melakukannya tanpa cela.

“Apakah kau sudah mencoba lagi? Maksudku… daripada kau mencekiknya lebih baik kau menghilangkan ingatannya, bukan?” Yerev mencoba memberi nasehat bijaksana, tetapi suaranya tertelan ketika menerima tatapan membunuh yang lebih tajam daripada sebelumnya.

“Aku sudah mencobanya tadi. Barusan. Dan tidak mempan.” Arran mengucapkan kalimatnya dalam geraman tertahan, sambil menggertakkan giginya, menahankan emosi. Auranya begitu mengerikan hingga membuat Remi beringsut ke belakang, membuat punggungnya menekan dinding hingga tulang belakangnya terasa sakit. Lorong itu begitu sempit untuk mereka berdua berhadap-hadapan, dan aura Arran terasa menyesakkan hingga membuat Remi tak nyaman. Hal itu mendorong Remi untuk berusaha sejauh mungkin dari laki-laki itu demi melindungi dirinya.

Yerev memandang dua sosok di depannya berganti-ganti. Butuh waktu lama baginya untuk menerima kejutan bahwa kekuatan Arran untuk menghilangkan ingatan gadis manusia ini kali ini benar-benar tidak mempan.

Tidak heran Arran sangat marah. Gagal sekali mungkin membuatnya terusik, tetapi gagal dua kali akan membuat murka seseorang seperti Arran yang hampir tidak pernah gagal sebelumnya.

“Apakah aku boleh mencoba?” Yerev memberanikan diri bertanya, “Maksudku, jika kau gagal mungkin aku tidak.” ujarnya dengan nada penuh kehati-hatian.

Seketika itu juga, ketika mendengar kata-kata Yerev, tubuh Arran langsung bergerak, sedikit menutupi tubuh Remi dari pandangan Yerev seolah menghalangi, ekspresi Arran yang angkuh berubah gelap ketika mata emasnya kembali bersinar, pertanda bahwa laki-laki itu sedang murka.

“Apakah kau ingin bilang secara tidak langsung bahwa aku tidak becus dan kau bisa melakukan yang lebih baik?” Arran mendesis penuh ancaman, nada suaranya sedingin es, membuat siapapun yang sedang sial mendengarnya pasti langsung merinding.

“Bukan begitu maksudku, Arran,” Yerev menjawab dengan sabar, tahu bahwa jika dia salah kalimat sedikit saja, Arran akan benar-benar marah dan mungkin kehilangan akal sehat, “Aku hanya ingin melihat, apakah gadis ini hanya kebal terhadapmu, atau ternyata dia kebal terhadap kita semua.”

Perkataan Yerev yang masuk akal membuat Arran termangu, tetapi kemudian akal sehatnya mengambil alih dan dia menganggukkan kepala, meminggirkan tubuh untuk menunjukkan lagi tubuh Remi yang ketakutan di dinding.

“Cepat lakukan.” perintah Arran dengan suara arogan, melangkah mundur untuk memberi ruang pada Yerev.

Yerev melangkah maju, lalu berdiri tepat di depan Remi yang mulai gemetaran, ditatapnya mata Remi dengan lembut, lalu berbisik perlahan menenangkan.

“Menurutlah dan kau akan baik-baik saja. Namaku Yerev, mungkin setelah ini kau akan melupakan namaku, tetapi aku tetap saja merasa tidak sopan menyentuh seorang gadis tanpa memperkenalkan diri terlebih dahulu.” Yerev mengedipkan sebelah mata, tersenyum ramah kepada Remi, lalu tanpa menunggu lagi, lelaki itu meletakkan telapak tangannya yang hangat dengan posisi miring untuk menangkup kedua mata Remi supaya terpejam, sebelum kemudian menyambung kalimatnya, “Berdoalah semoga aku berhasil, segalanya akan lebih mudah jika kau melupakan semuanya.”

Lalu telapak tangan itu tiba-tiba terasa meningkat suhunya tertangkup di mata Remi yang terpejam, semakin lama semakin panas hingga nyaris menyengat, sama seperti yang dilakukan oleh Arran kepadanya tadi. Remi tiba-tiba merasa kepalanya menjadi pening, entah karena rasa takut dan traumanya telah begitu memuncak, atau karena cekikan di leher sebelumnya yang hampir memutus napas akhirnya menimbulkan efek terlambat di tubuhnya.

Remi berusaha meronta ketika rasa sakit menyerangnya, dia menggerakkan tangan, mencoba menyentuh tangan Yerev yang panas untuk menyingkirkannya, sayangnya dia tidak berhasil. Tangan itu menempel kuat, semakin lama semakin panas hingga menyiksa.

Remi mengerang, ketika dia membuka mulut, napasnya terdengar memburu begitu keras dari mulutnya, sebuah usaha terakhir untuk mengisi paru-parunya dengan udara.

“Aku… tidak bisa bernafas…” rintih Remi susah payah dengan suara serak sebelum akhirnya kegelapan mengambil alih kesadarannya, membuatnya tak berdaya dan jatuh ke lantai.

***

“Apakah kau membunuhnya?” Arran berkacak pinggang, menatap ke arah Yerev yang sedang menopang tubuh Remi nan lunglai dengan lengan-lengannya.

Yerev sendiri tampak tertegun dan menatap wajah Remi dalam keterkejutan yang ada di matanya, hal itu menciptakan keheningan sejenak yang memenuhi udara, membuat Arran mendengus tidak sabar.

“Yerev.” Arran menggeram kasar untuk memanggil kesadaran lelaki tersebut, membuat Yerev mengerjap dan menoleh ke arah Arran seolah linglung.

“Apa?” ujarnya parau kemudian.

Arran mengerutkan kening, “Jangan bermain-main, Yerev.” dengan dingin Arran mengedikkan dagunya ke arah Remi, “Lihat dia. Apakah kau membunuhnya?”

“Tentu saja tidak!” Yerev berseru cepat, menunduk untuk menatap wajah Remi dengan bingung, lalu melirik cepat ke arah Arran, “Aku bahkan tidak tahu kenapa dia pingsan. Kekuatan menghilangkan ingatan hanya membuat manusia linglung beberapa detik sebelum kemudian tersadar lagi. Gadis ini… dia kehabisan napas… apakah ini juga yang terjadi kepadamu tadi ketika kau mencoba menghilangkan ingatannya untuk kedua kalinya?”

Arran menyeringai penuh ironi ketika menjawab pertanyaan Yerev, “Ya, gadis itu memang mengerjap dan membuka mata dengan tatapan kosong, tapi dia hanya bersandiwara karena dia masih ingat semuanya, dia mencoba menipuku, berusaha membuatku lengah dan bahkan bertekad menendang selangkanganku.” jawab Arran dengan nada pahit.

Sekali lagi Arran membuat Yerev ternganga, “”Kau… apa?” serunya tak percaya, lalu menutup mulut seolah menahan tawa, membuat ekspresi Arran semakin gelap.

“Hentikan sikap tidak seriusmu, Yerev!” Arran berseru, membuat Yerev berusaha mengubah ekspresinya menjadi lebih serius. Lelaki itu lalu melangkah maju dan berdiri di dekat Yerev yang masih menopang tubuh Remi, “Jadi dia masih hidup?” tanyanya kemudian.

“Kenapa nada suaramu begitu kecewa? Aku tidak akan membunuh manusia tidak bersalah. Tentu saja dia masih hidup.” Yerev menjawab cepat, membuat Arran menipiskan bibir.

“Jika kita meninggalkannya seperti tadi pagi, apakah kau yakin kekuatan menghilangkan ingatanmu akan berfungsi kepadanya?” tanya Arran lagi, mencoba memastikan.

Yerev mengangkat bahu, menunjukkan keraguannya, “Sejujurnya aku tidak yakin. Maksudku… yah, kau yang paling hebat di antara kami, tetapi kau tidak berhasil menghilangkan ingatannya… apalagi aku?” jawabnya malahan balik bertanya.

Arran terdiam sejenak sementara matanya menyusuri tubuh Remi.

“Sial.”

Arran mengumpat tidak suka, menggertakkan gigi sambil masih memaku pandangannya ke arah Remi. Kemudian tanpa dinyana, Arran bergerak cepat dan mengambil tubuh mungil Remi yang lunglai dari lengan Yerev, menaikkannya ke dalam gendongan.

Tubuh Remi terasa begitu ringan, dan kepala perempuan itu langsung terkulai di dadanya ketika Arran mengetatkan pegangannya dan menatap Yerev memberi perintah,

“Kalau begitu kita harus membawanya dan menunggunya sadar sampai benar-benar pasti. Siapkan seluruh anggota kelompok kita di bawah.” Arran berucap tenang, lalu melangkah mendahului Yerev hendak menuruni tangga.

“Hei!” Yerev berteriak , “Kau tidak mungkin turun dan membawanya pergi begitu saja, bukan? Apa yang akan kau jelaskan pada Giza dan juga seluruh pelanggan yang kebetulan ada di cafe ini?” serunya untuk mencegah Arran menuju area cafe yang saat ini sedang cukup ramai.

Arran menghentikan langkah, menoleh untuk menatap Yerev, “Sudah tugasmu, untuk menangani mereka,bukan? Kau dan seluruh anggota kelompok harus menghilangkan ingatan dan memanipulasi ingatan mereka sehingga mereka tidak tahu apa-apa.” ujarnya tanpa perasaan, membuat Yerev tertegun sejenak.

“Dan kemana kau akan membawa gadis itu?” tanya Yerev kemudian dengan nada penasaran setelah akhirnya mampu berkata-kata.

Arran mengangkat bahu seolah tak peduli,

“Ke rumahnya. Jika dia terbangun dengan kehilangan ingatan, aku akan berpura-pura sebagai orang asing yang menolongnya pingsan di tengah jalan. Jika dia terbangun dan masih saja ingat, aku mungkin akan kehabisan kesabaran dan membuatnya lenyap dari muka bumi ini.”

“Kau akan membunuhnya?” suara Yerev terdengar tidak yakin ketika menyahut.

Arran sendiri melemparkan pandangan mencela ke arah Yerev, seolah-olah saudara angkatnya itu adalah makhluk bodoh.

“Bicara apa kau? Aku tidak akan melanggar peraturan klan dengan membunuh manusia tidak bersalah. Yang akan aku lakukan adalah membuatnya lenyap di mata semua orang yang mengenalnya. Tidak akan ada yang mengingatnya, bahkan keluarganya sendiri. Dia akan menghilang dari ingatan mereka. Bagi mereka, gadis ini tidak pernah ada.”

Bersambung ke Part Berikutnya

[/responsivevoice]

526 Komentar

  1. Udah mule seru yaaa… awal2 aja udah banyak pertikaian…

  2. Dasar songong 🤣🤣

  3. Anastasya Wahyu menulis:

    :grrr

Tinggalkan Balasan