Warfare Of Anchestry

Warfare Of Ancestry Part 12 : Repudiation

Bookmark

No account yet? Register

2.601 votes, average: 1,00 out of 1 (2.601 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

4780 words

Author Playlist – Ed Sheeran – How Would You Feel

You are the one girl
And you know that it’s true
I’m feeling younger
Every time that I’m alone with you

How would you feel, if I told you I loved you?
It’s just something that I want to do
I’ll be taking my time, spending my life
Falling deeper in love with you
So tell me that you love me too


© copyright 2017 @projectsairaakira seluruh karya di website ini telah didaftarkan dan dilindungi oleh hukum yang berlaku serta mengikat.

Dilarang meniru, menjiplak, mengubah nama tokoh, mengambil ide baik sebagian maupun keseluruhan isi cerita yang berada di dalam website ini. Jika Anda menemukan plagiat karya kami di wattpad, mari bantu dengan melakukan report copyright voiolance pada pihak wattpad. Kami menyediakan hadiah dan komplimen menarik bagi laporan atau temuan dari vitamins menyangkut usaha plagiat baik keseluruhan maupun sebagian dari karya-karya ProjectSairaAkira yang dipublish di website ini, silahkan hubungi admin kami di [email protected] ^^


[responsivevoice voice=”Indonesian Female” buttontext=”Dengarkan cerita ini”]

Sudah begitu lama Conrad melayani Sang Kolektor dan dia tahu bahwa atasannya ini bisa bertindak di luar dugaan. Kadang-kadang Sang Kolektor bisa bersikap tenang hingga nyaris menyeramkan, tetapi di lain waktu, reaksinya meledak-ledak dipenuhi kemarahan yang akhirnya membawa korban tak sedikit.

Sosok yang biasa disebut Sang Kolektor itu mematung kaku, seperti biasa berlindung di bawah kegelapan hingga ekspresi wajahnya tidak jelas terlihat. Ketika akhirnya dia berbicara, suaranya terdengar serak dan menyebarkan nuansa tidak nyaman ke seluruh penjuru ruangan.

“Tidak. Anak itu tidak mati. Dia masih ada, aku bisa merasakannya. Mereka, kelompok pengubah wujud yang bodoh itu menyembunyikannya demi kepentingan mereka.” suara napas Sang Kolektor terdengar memburu dipenuhi kemurkaan, “Aku tidak akan membiarkan klan pengubah wujud memanfaatkan anak itu untuk melawanku. Kau harus mendapatkan anak itu, Conrad.”


Ketika Arran menghilang di kamar sana, Remi menghabiskan waktu beberapa lama untuk duduk di tepi ranjang, memandang dengan was-was ke arah pintu penghubung yang terbuka itu.

Tidak ada gerakan atau suara dari sana. Apakah Arran sudah tertidur dengan cepat?

Ada dorongan dari dalam diri Remi untuk mengintip apa yang terjadi di kamar yang berukuran lebih kecil tersebut, tetapi dia terlalu takut untuk melakukannya. Tidak bisa dia bayangkan apa yang terjadi kalau dirinya ketahuan sedang mengintip, mungkin Arran akan menggilasnya tanpa ampun dan Remi tidak berdaya untuk melawan.

Akhirnya Remi tidak bergerak di tepi ranjang selama beberapa lama, dipenuhi perasaan ragu dan was-was. Malam sudah beranjak larut dan Remi tahu bahwa dia harus segera tidur. Karena itulah akhirnya, setelah telinganya memastikan tidak ada suara atau gerakan apapun dari Arran, diberanikannya dirinya untuk melangkah berdiri, bangkit dari tepi ranjang.

Begitu Remi berdiri, matanya langsung menatap bayangan dirinya yang terpantul dicermin besar memanjang dari bagian atas atap hingga menyentuh lantai yang terletak tepat di dinding depannya. Dahi Remi berkerut ketika memandang potongan rambutnya yang baru. Rambutnya dipangkas pendek, tetapi tidak terlalu pendek hingga seperti militer. Masih ada sedikit gelombang di bagian atas dan sisi kepalanya, membuatnya malahan tampak seperti anak laki-laki kecil yang masih polos.

Tiba-tiba saja perkataan Arran tentang lehernya yang jadi terlihat membuat jantung Remi berdebar lebih cepat dari sebelumnya. Bulu kuduknya entah kenapa meremang, membuat Remi harus mengangkat tangan dan menempelkan telapak tangannya yang dingin di lehernya yang panas. Sambil menghela napas panjang dengan mata setengah terpejam, Remi menangkupkan telapak tangannya di belakang leher, berusaha mendinginkan diri dan menenangkan jiwanya.

Dia harus melupakan kata-kata dan sikap aneh Arran sebelumnya. Mulai sekarang Remi harus belajar membuat tameng di permukan hatinya agar kata-kata Arran yang tajam dan kasar tidak menembus sampai ke dalam jiwanya. Dia harus kuat saat ini, jika keberadaannya sekarang masih dipertahankan karena dirinya dianggap penting bagi klan pengubah wujud yang misterius ini, maka Remi akan berusaha menjalankan apa yang diharapkan dari dirinya.

Satu-satunya yang menjadi tumpuannya sekarang adalah keinginannya untuk bertahan hidup dalam kebebasan dan suatu saat nanti bisa pulang kembali ke rumahnya, ke tempat Lenka adiknya berada.

Remi melangkah mendekat ke arah cermin hingga jarinya menyentuh cermin itu, tepat di permukaan wajahnya. Memandang dirinya dengan penampilan anak laki-laki seperti ini mengingatkannya pada Lenka, adiknya.

Bagaimakah adiknya sekarang? Apakah ibu tetap berjuang untuk mendapatkan obatnya secara teratur? Apakah Lenka masih harus sendirian di siang hari dan mandiri sampai ibu pulang dari bekerja? Dan bagaimana juga dengan ibu? Bagaimana jika ibu pulang dalam kondisi lelah, marah dan tak punya pelampiasan?

Ibu selalu marah dan memukulnya ketika Remi ada di rumah. Semua yang dilakukan oleh Remi selalu salah dan dirinya sudah terbiasa menerima segala jenis pukulan dari Sang Ibu. Jika ada benda yang digunakan untuk memukul, maka Sang Ibu akan mengambilnya tanpa pikir panjang, menghantamkannya ke tubuh Remi, tetapi selalu dengan cerdik mencari bagian-bagian tubuh yang tidak kelihatan agar tiada siapapun yang melihat luka yang telah dia ukirkan di tubuh Remi. Jika tidak ada benda untuk memukul, maka Sang Ibu akan mencakar, mencubit dan melukai kulit Remi hingga merah dan berdarah.

Kadang-kadang, menatap dirinya sendiri seperti ini, Remi jadi bertanya-tanya kenapa ibunya begitu membenci dirinya. Apakah karena perempuan itu? Perempuan yang bahkan bibir Remi menjadi terkunci dengan suara tersekat di tenggorokan karena tidak berani mengucapkan namanya. Apakah karena perempuan yang begitu mirip dengannya? Yang telah meninggalkan luka di keluarga mereka dan membuat Ibu Remi tidak mampu mencintai Remi dan memilih menjadikannya pelampiasan kemarahan serta kebencian yang seharusnya ditujukan kepada orang lain?

Tangan Remi bergerak memeluk dirinya sendiri tanpa sadar sementara matanya nanar berkaca-kaca. Rasa nyeri akibat lebam di punggungnya masih ada meskipun kondisinya saat ini sudah jauh lebih baik. Tetapi masalahnya bukan di luka itu, rasa nyeri di tubuhnya akan selalu ada seolah abadi, terus menerus muncul secara misterius ketika Remi mengenang Sang Ibu dan pukulannya yang penuh kebencian dan mengerikan

Pada akhirnya Remi memejamkan mata, membiarkan setetes bening lolos dari sudut mata, tapi segera mengusapnya cepat. Dia tidak ingin merasa lebih lemah daripada ini. Saat ini, dirinya mengalami keadaan yang berbeda dari sebelumnya. Jika sebelumnya Remi merasa bahwa dirinya tidak berguna, tidak diinginkan dimana-mana, maka sekarang di klan pengubah wujud ini, seperti yang dikatakan oleh Arran, Remi akan menjadi sosok yang cukup berguna.

Entah berguna dalam hal apa. Bahkan penjelasan Arran mengenai penggenapan ramalan masih belum mampu diterima olehnya. Semua ini terlalu mendadak dan bertaburan fantasi layaknya dunia dongeng hingga logika Remi tidak mampu menerima semuanya sekaligus. Tetapi setidaknya Remi akan berjuang, dia tidak ingin lagi mengecewakan orang-orang yang berharap kepadanya.

Remi menghela napas panjang kembali, membuka mata dan menatap dirinya sendiri di cermin. Dia berusaha menumbuhkan tekad untuk jiwanya. Dia harus bertahan sekuat tenaga. Dia harus berguna untuk Arran dan klannya. Jika tidak, maka dia akan dimusnahkan, seperti yang dikatakan Arran dengan gamblang kepadanya.

Perlahan Remi melirik ke arah pintu kamar mandi, lalu menunduk menatap pakaiannya sendiri yang mulai terasa tidak nyaman. Pantalon laki-laki dan kemeja berkancing dengan jaket maskulin yang masih terpasang di tubuhnya tentu tidak baik dipakai tidur, apalagi pantalon dan kemeja ini tampak cukup mahal dari bahan kain yang halus dan indah. Remi tidak mau membuat pakaiannya kusut.

Perlahan Remi bergeser dari cermin, lalu dengan ragu membuka salah satu pintu lemari besar yang terletak di samping cermin, sejajar dengan dinding di hadapannya. Berusaha tanpa suara, Remi membuka pintu lemari itu lebar-lebar dan matanya membelalak ketika melihat pemandangan di depannya.

Lemari itu berisi rak-rak bertingkat berlapis kayu warna putih yang sangat elegan. Dan yang membuat Remi ternganga bukan pada keindahan rancangan lemari itu, tetapi lebih kepadaang tumpukan pakaian yang ada di sana. Semua terlihat penuh, tertata rapi dan tampak baru.

Apakah pakaian ini memang disediakan di sini milik penghuni kamar sebelumnya… atau seperti yang dikatakan oleh Haifa tadi, pakaian ini dibeli khusus untuknya?

Remi menelusurkan tangannya di bahan pakaian yang halus itu, masih ragu bahwa pakaian indah dan tampak mahal ini disediakan untuknya. Lalu matanya tertuju pada tumpukan di rak yang lain, dimana terdapat pakaian dalam dengan warna pastel yang feminim, sungguh kontras dengan pakaian luar yang kesemuanya didominasi oleh warna maskulin.

Jadi benar kata Haifa, pakaian ini untuknya. Dan semoga memang benar Haifa yang memilihkan pakaian-pakaian dalam ini, bukan Arran… terutama untuk pakaian dalamnya yang feminim. Remi membatin tanpa bisa dicegah, dan pipinya memerah karenanya.

Mata Remi lalu tertuju pada rak yang paling bawah, tempat pakaian dari bahan lembut dengan corak polos ataupun bergaris berbagai warna tertumpuk rapi.

Pakaian tidur. Piyama

Dengan senang Remi mengambil pakaian itu. Tidak peduli bahwa itu adalah model piyama laki-laki dan memeluknya sekaligus pakaian dalamnya sebelum kemudian berlari-lari kecil ke kamar mandi.

***

Anak itu berisik.

Arran berbaring dengan tidak nyaman di ranjang sempit dengan kedua tangan menyilang di belakang kepala, menjadi bantalnya. Saat ini dia masih mengenakan celana pantalon, sementara ikat pinggang, kemeja dan jasnya telah dibuka dan disampirkan dengan serampangan di sebuah kursi, membuatnya terbaring telanjang dada dengan mata nyalang.

Ranjang ini terlalu kecil dan terlalu sempit untuk kakinya yang panjang hingga Arran harus menggantung ujung kakinya dengan tidak nyaman. Dan sialan Safed, karena lelaki itu sepertinya memerintahkan pelayan membawa pakaian Arran untuk diletakkan di kamar paling ujung di lantai dua hingga Arran saat ini tidak bisa berganti pakaian untuk tidur dengan yang lebih nyaman.

Arran memang sudah terbiasa berbaring tanpa bergerak sedikitpun, tanpa suara hingga bahkan  dia bisa mengatur  suara napasnya hingga menyatu dalam keheningan. Itu semua mungkin dibantu oleh si macan kumbang hitam yang ada di dalam tubuhnya, menajamkan telinganya dan membuatnya dalam posisi siap untuk mengintai. Tetapi saat ini macan kumbang di dalam jiwanya sedang tidak dalam kondisi manis dan bisa diperintahkan untuk tenang. Malam di pertengahan musim panas ini adalah malam terburuk bagi Arran untuk menguji ketahanan dirinya sendiri…

Setiap gerakan Remi di kamar sebelah terdengar jelas olehnya dan terasa mengganggu. Ketika Remi masuk ke kamar mandi, gemerisik suaranya berganti pakaian bahkan ketika perempuan itu menarik selimut tempat tidur dan menggerak-gerakkan tubuhnya dengan gelisah di balik selimut sebelum terhantar ke alam mimpi. Semua suara itu menjelma menjadi bayangan nyata yang muncul dengan begitu jelas di dalam imajinasi Arran, membuatnya tersiksa sekaligus murka.

Anak itu hanyalah anak kecil yang diselipkan dalam kesialannya, membuat Arran harus terlibat dengannya. Arran tidak akan pernah membiarkan makhluk lemah dan bodoh itu memengaruhi dirinya.

Telinga Arran masih terpasang untuk mengintai dengan tajam dan setelah didengarnya napas teratur Remi pertanda dia sudah terlelap di alam mimpi, barulah Arran bisa menghembuskan napas dengan lega.

Sekarang dia juga harus tidur. Besok adalah masa pelatihan dan meskipun Arran akan mengajari Remi hal-hal mendasar yang mudah, mereka membutuhkan energi untuk disimpan di hari-hari berikutnya yang sudah pasti berat.

Arran memiringkan tubuh menghadap dinding, gerakannya terasa tidak nyaman sekaligus canggung, secanggung yang bisa ditunjukkan tubuh tinggi besar di atas ranjang mungil yang tak sepadan dengan ukuran tubuhnya.

Perlahan Arran memejamkan mata, mulai terlelap ke alam mimpi sebelum kemudian suara ketukan di pintu kamar Remi terdengar samar-samar.

Mata Arran langsung terbuka dengan waspada. Lelaki itu bahkan terloncat dari tidurnya, menjejakkan kaki secepat kilat ke lantai dan melangkah seolah ingin menerjang ke arah pintu.

Sekilas Arran masih melirik Remi yang tidur meringkuk membelakangi pintu dengan selimut menutup sampai ke bahu tetapi dia menahan diri, tidak ingin tergoda dengan menatap lebih jauh.

Kemudian Arran membuka pintu, memasang wajah garang nan kesal dan langsung menyembur kasar.

“Berani-beraninya kau mengetuk pintu kamar ini dengan alasan membawakan makanan penutup….” Arran mulai menggeramkan suara ancaman mengerikan dari mulutnya yang sedianya ditujukan untuk Safed.

Tetapi suaranya terhenti ketika dia melihat sosok yang berada di depannya bukanlah sosok yang dia duga.

Yerev dan Haifa berdiri di sana. Mereka berdua ternganga melihat sosok Arran yang memenuhi ambang pintu dengan garang, bertelanjang dada dengan rambut acak-acakan yang serampangan. Mata Yerev melirik ke balik punggung Arran dan mengintip ke arah Remi yang tertidur di balik selimut, pun dengan mata Haifa yang melihat ke arah yang sama.

Ketika dua pasang mata itu kembali ke arah Arran, tatapan mata mereka tampak curiga dan menduga-duga.

“Kenapa kau ada di sini… dengan pakaian seperti itu?” Haifalah yang pertama kali mengeluarkan suara, ada kecurigaan yang kental di suaranya, apalagi melihat penampilan Arran yang berantakan.

Arran menggertakkan gigi, menggeramkan amarah yang nyata di suaranya.

“Ini tidak seperti yang kau duga.” dengan setengah membentak, Arran mendesis penuh peringatan, “Aku hanya menjaga anak itu dari Safed.”

“Bukankah kamarmu ada di ujung sana?  Apakah kau bermaksud menghabiskan malammu di kamar ini?” Yerev kali ini menyahut, suaranya perlahan dan hati-hati, tahu kalau dia salah bicara Arran bisa meledak marah, “Safed ada di bawah, di ruang perpustakaan, dia bilang kau meminta perpindahan pengaturan kamar dan meminta ditempatkan di kamar atas. Kami mencarimu di kamar ujung yang seharusnya kau tiduri, tetapi tidak menemukanmu di sana.”

“Safed masih berada di bawah?” Kalimat Yerev itu menarik perhatian Arran, membuat Arran mengerutkan kening tidak percaya, “Apa yang dia lakukan di sana?”

“Dia sedang di perpustakaan, mungkin dia sedang membaca. Itu yang dilakukan orang-orang di perpustakaan, bukan? Yang pasti dia mengunci dirinya di dalam sana.” Yerev berucap dengan nada penuh arti sambil mengangkat bahu, “Kami masih bertanya-tanya apa yang kau lakukan di dalam kamar ini, Arran. Bukankah kau bilang kau tidak tertarik pada Remi karena dia jauh di bawah standarmu?” kali ini Yerev terdengar sedikit menggoda.

Sayangnya Arran tidak sedang dalam suasana hati untuk bercanda. Mata emasnya menyipit berkilat penuh kemarahan ke arah Yerev.

“Hati-hati, Yerev. Aku bisa menghajarmu sekarang juga kalau kau tidak bisa menjaga mulutmu.” desis Arran dengan nada mengancam.

Tahu bahwa Yerev mungkin telah melanggar batas kesabaran Arran dan membahayakan dirinya sendiri, Haifa langsung mengambil alih. Perempuan itu melangkah setapak ke depan Yerev, seolah melindunginya.

“Yerev hanya mengungkapkan apa yang menjadi pertanyaan kami semua.” Haifa menatap Arran dengan hati-hati, “Kau pasti tahu bahwa dengan mencapai kemampuan tertinggi sebagai klan pengubah wujud darat, berubah sebagai macan kumbang… kau memiliki macan kumbang itu di dalam tubuhmu.” mata Haifa memandang ke atas langit dengan cemas, “Dan malam ini semakin mendekati malam paling kritis untukmu. Musim kawin kaum tertinggi dari klan pengubah wujud… jika kau tidak bisa menahan dorongan musim kawin yang mendesak dalam dirimu, kau akan menyerang Remi tanpa ampun.”

“Aku memiliki pertahanan diri yang kuat.” Arran menggeram lagi dengan mata berkilat marah karena kebenaran yang dilemparkan di depan wajahnya.

Haifa telah salah menempatkan posisi untuk melindungi Yerev. Bagaimanapun juga di mata Arran yang membenci kaum wanita, kedudukan Haifa lebih rendah daripada Yerev. Arran tidak akan terima Haifa menamparnya dengan kebenaran, perempuan itu dan perempuan manapun tidak layak dan tidak sepadan untuk melakukan itu.

“Dan kau tidak dalam kapasitas untuk meragukan pertahanan diriku.” sambung Arran sambil menyipitkan mata, kehabisan kesabaran.

“Arran. Bukannya kami meragukan pertahanan dirimu. Mungkin kau tinggal di kamar Remi dengan tujuan baik demi melindungi Remi dari Safed. Tapi Safed sudah mengurung dirinya di perpustakaan. Kau mungkin lebih baik mengkhawatirkan bagaimana melindungi Remi dari dirimu sendiri.”

“Pergi.” Arran menggertakkan gigi dengan marah, “Urus urusan kalian sendiri.” tanpa menunggu reaksi Yerev dan Haifa, Arran membanting pintu kamar itu tepat di depan wajah mereka. Menciptakan suara berdebam keras yang menggema di lorong-lorong rumah

***

Mengetahui bahwa malam ini sangat penting dan dirinya harus menjaga supaya tidak menjamah perempuan manapun yang bisa ditemukannya hanya karena dorongan dari dalam jiwa yang seperti sebuah kutukan pada masa-masa seperti ini, Safed sengaja mengunci dirinya di perpustakaan. Meminta kepala pelayannya untuk mengunci pintu itu dari luar dan tidak membukanya sampai dengan pagi menjelang.

Masa-masa di malam hari pada pertengahan bulan musim panas ini adalah masa yang sangat krusial bagi kaum pengubah wujud dengan level tertinggi baik dari klan darat, udara maupun air. khususnya bagi kaum laki-lakinya. Jika mereka tidak bisa menahan diri, mereka akan mempermalukan diri dan martabatnya. Masa ini disebut sebagai musim kawin, berlangsung selama beberapa hari yang menyiksa. Memang belum banyak kaum pengubah wujud yang berhasil mencapai level tertinggi, jikapun ada, mereka adalah kaum tetua yang sudah memiliki pasangan, isteri mereka masing-masing yang bisa menangani permasalahan ini dengan baik.

Sementara itu Safed dan Arran berdua, mereka berdua memiliki watak yang sama, bagian dari kaum tertua penyendiri yang lebih memilih mengurung diri dalam ruang terkunci untuk menjaga martabat diri. Biasanya Safed memang memilih melampiaskan nafsunya, tidak mengurung dan menyiksa dirinya seperti ini. Banyak perempuan-perempuan muda yang bersedia melayani dirinya dengan sukarela maupun dengan bayaran mahal. Safed cukup kaya untuk menghadiahi wanita-wanita yang berhasil memuaskannya dan itu bukan masalah baginya. Tetapi malam ini, Safed mengalahkan semua ego dan memilih mengurung diri di ruang perpustakaan dengan malam-malam yang pasti penuh siksaan.

Seharusnya Safed memperingatkan Arran supaya menjauhkan tangannya dari Remi. Tetapi berbicara kepada Arran sama saja berbicara kepada batu panas membara yang siap untuk melemparkan diri kepadanya dan melukai dengan lebih menyakitkan. Kebencian Arran kepadanya sungguh besar sehingga lelaki itu lebih memilih menutup telinga dan terjun pada kehancuran daripada mendengarkan nasehat Safed.

Beruntung Yerev dan Haifa lekas datang. Safed mendengar kedatangan mereka tadi dari suara halus mobil pengantar yang terparkir di depan pintu besar rumah. Dia yakin bahwa baik Yeref maupun Haifa akan melakukan yang terbaik untuk mencegah Arran lepas kendali.

Saat ini yang harus dicemaskan adalah Remi.

Safed membuka buku tua nan rapuh di tangannya. Halaman buku itu telah menguning, menunjukkan usianya yang sudah ratusan tahun. Buku itu bahkan lebih tua dari usia Safed sendiri sebagai Sang Tetua klan pengubah wujud yang selama ini bertahan  di balik bayang-bayang.

Ini adalah buku penting. Satu dari tiga buku kuno yang menyebut tentang ramalan sang penyelamat yang akan datang untuk menyelamatkan mereka dari serangan musuh yang sangat hebat.

Remi sudah pasti adalah perwujudan ramalan itu. Itu adalah sesuatu yang tak terbantahkan. Meskipun sekarang mereka masih tidak tahu bagaimana cara membuat Remi berguna sebagai pelindung mereka. Walaupun begitu, Safed mempercayai segala sesuatu yang dituliskan di buku kuno ini menyangkut Remi. Anak perempuan itu akan menjadi makhluk yang sangat penting bagi kelangsungan klan.

Sebenarnya ada satu hal lagi yang belum diungkapkan oleh Safed menyangkut catatan rahasia di buku ini, tetapi dia masih menahan informasi itu sambil melihat situasi dan menanti saat yang tepat untuk mengungkapkannya. Mungkin juga setelah mengamati Arran dan segala sikapnya yang mengganggu, Safed memutuskan untuk menyimpan informasi penting itu bagi dirinya sendiri.

Yang paling utama untuk saat ini adalah mereka harus mempertahankan Remi supaya terus berada dalam lingkaran kekuasaan mereka dan tidak mungkin melarikan diri.

***

Langkah Arran berderap, hendak menuju ke kamar kecil di ruangan itu dan membaringkan tubuhnya di ranjang kecil yang tidak nyaman tersebut dan melewatkan malam menyiksa ini tanpa gangguan.

Tetapi ketika langkahnya hendak menyeberangi ruangan melewati tempat dimana Remi berbaring. Langkah Arran terhenti.

Tubuhnya kaku, berdiri di tengah ruangan sementara matanya tak lepas dari tubuh kurus yang berbaring itu.

Sial bagi Arran karena Remi saat ini memilih berbaring telungkup. Kepalanya miring di atas bantal besar bulu angsa yang melingkupi wajahnya. Selimutnya turun ke bawah pinggang, memunculkan punggung kurus terbalut piyama bergaris yang agak longgar di tubuhnya.

Sayangnya piyama yang agak longgar itu menciptakan pemandangan yang tidak ingin dilihat oleh Arran. Pemandangan yang membuat Arran harus mengepalkan tangan untuk menahan makhluk buas di dalam dirinya supaya tidak menjebol tembok pertahanannya sampai runtuh berhamburan.

Bagian belakang leher Remi terekspos di mata Arran karena rambutnya yang dipotong pendek serupa laki-laki. Tengkuknya tampak penuh rayuan, membuat bisikan liar bergelora di dalam indera pendengaran Arran, berusaha merasuk ke dalam otak dan menguasai jiwanya.

Bayangan itu berkelebat di dalam otak Arran dengan begitu jelas dan menggoda. Membawa langkahnya tanpa sadar mendekati tepi ranjang. Arran terpaku sejenak di sana, matanya nanar menatap ke arah tengkuk terbuka Remi yang seolah menghipnotisnya.

Bahkan pada detik ini ketika dirinya belum menyentuh perempuan itu, sudah terpatri jelas di dalam bayangannya bagimana dirinya membungkuk dan menempelkan bibirnya ke tengkuk Remi, membuka mulutnya perlahan, membiarkan lidahnya mencecap kelembutan kulit Remi sebelum kemudian menggigitnya untuk memberinya tanda kepemilikan permanen atas tubuh Remi. Remi mungkin akan meronta, perempuan itu mungkin akan menjerit ketakutan dan memberontak ketika menyadari apa yang sedang dilakukan oleh Arran kepadanya. Tetapi sekali dimulai, ritual harus diselesaikan. Dan ketika Arran melepaskan kendali dirinya untuk memulai, dia tidak akan bisa berhenti.

Dengan memberikan gigitan ke tengkuk Remi, Arran akan menandai perempuan itu. Menjadi miliknya.

Dalam sedetik Arran mengerjapkan mata. Dirinya seperti disambar oleh halilitar berkekuatan dahsyat yang menembus sampai ke dalam jiwanya. Tubuh Arran terloncat, melangkah mundur menjauh dari tubuh Remi seolah perempuan itu membawa wabah penyakit yang mengerikan.

Tidak! Arran tidak akan membiarkan kendali dirinya lepas begitu saja. Perempuan rendahan ini bahkan tidak layak mendapatkan perhatiannya. Dia tidak akan merendahkan diri dengan kalah oleh nafsu dan melakukan apa yang tidak seharusnya dia lakukan.

Langkah Arran begitu cepat ketika dirinya berbalik, setengah menerjang ke arah kamar kecil yang disatukan oleh pintu penghubung tersebut. Dia membanting pintu ruang penghubung tersebut dan mengunci slotnya dengan gerakan tergesa, melupakan ultimatumnya sendiri yang tadi mengatakan bahwa pintu penghubung ini seharusnya tidak pernah ditutup.

Pintu itu ditutup bukan untuk melindungi Remi. Tetapi untuk melindungi dirinya dari sisi buas yang menggeliat dan memaksa bangun dengan meruntuhkan tembok pelindung di sekeliling jiwanya.

***

Tidur Remi semalam sangat menyenangkan. Entah karena dia terlalu lelah setelah berbagai kejadian yang susul menyusul belakangan ini, atau entah karena tempat tidurnya begitu nyaman. Remi membuka mata ketika suara burung-burung bernyanyi menyelinap masuk melalui kisi-kisi jendela, bagaikan alunan musik yang mengiringi sinar matahari yang mulai menyapa malu-malu di sana.

Remi menggeliat, menyingkirkan selimutnya dan melangkah menuju jendela bernuansa pagi cerah yang menyenangkan tersebut. Disingkapkannya tirai tebal berwarna cokelat susu dengan hiasan bunga sewarna di jendela tersebut hingga pemandangan di depannya menampilkan suasana pagi yang sangat memanjakan mata.

Dirinya berada di lantai dua, dan jendela kamarnya menghadap ke pemandangan terbentang luas dari lapangan besar yang berselimutkan rumput hijau segar nan basah oleh embun pagi yang berkilauan tertimpa matahari. Pepohonan tampak melingkupi di beberapa tempat, dengan daunnya yang berwarna lebih tua, rindang dan membayangi beberapa bagian dari lapangan rumput luas tersebut. Di dekat jendela Remi, terdapat pohon yang cukup besar yang rantingnya memanjang, menjulur hingga hampir menyentuh jendela Remi. Ranting itu subur, penuh dengan daun dan beberapa burung yang melompat kesana kemari dengan lincahnya. Rupanya dari situlah suara merdu alunan burung yang mengiringi datangnya sinar mentari untuk menyapa Remi pagi ini.

Remi membuka slot jendela tersebut, dan mendorong jendela kaca besar itu terbuka. Dihirupnya kesegaran udara pagi nan dingin yang langsung mengelus pipinya dengan genit, bercampur dengan hangatnya cahaya matahari yang tidak mau ketinggalan meninggalkan jejak di wajahnya. Perlahan Remi menghembuskan napas dan tersenyum lebar, menatap segalanya dengan mata berbinar-binar.

Keindahan pagi yang penuh dengan warna dan nuansa menghangatkan hati ini mungkin akan menjadi satu-satunya penghiburan bagi batinnya yang sepi, terpisah jauh dari kampung halaman. Mungkin dengan mensyukuri segala kebaikan, sekecil apapun yang didapatnya setiap harinya, Remi bisa semakin kuat dan bertahan.

Suara pintu kamar yang terbuka membuat Remi menolehkan kepala, dan dirinya hampir terloncat dari posisinya, terkejut malu melihat Arranlah yang memasuki kamarnya. Mata Remi melirik ke arah pintu kamar penghubung yang terbuka. Tetapi Arran tidak masuk dari sana, lelaki itu masuk dari pintu utama kamar, pertanda bahwa lelaki itu telah keluar sebelumnya.

Remi mengamati Arran dan merasa malu melihat lelaki itu sudah rapi, sudah mandi dan tampaknya sudah siap menjalani hari. Rambut Arran tampak basah, tetapi dibiarkan acak-acakan di atas kepalanya, membuat penampilannya yang biasanya rapi tampak berbeda, sedikit lebih serampangan. Arran mengenakan kemeja berwarna abu-abu yang seolah dibuat khusus untuk dirinya dan celana gelap yang pas membungkus kakinya. Mata lelaki itu menelusuri diri Remi dengan tatapan mencemooh.

“Ini sudah siang. Tidak seharusnya kau memuaskan nafsu tidurmu dan membuat kami menunggu,” desisnya dengan nada kasar, “Kau berada di sini bukan untuk bermalas-malasan dan menghabiskan waktu sia-sia. Ada tugas-tugas yang telah menanti. Cepat mandi, berpakaian rapi dan temui aku di perpustakaan.”

Suara Arran terdengar dingin, menghujam penuh penghinaan sebelum kemudian lelaki itu membalikkan badan, melangkah ke pintu tanpa menatap Remi lagi dan keluar dari ruangan itu dengan membiarkan diri Remi terdera malu.

***

Remi menatap dirinya di cermin dan menghela napas panjang. Penampilannya kali ini benar-benar tampak seperti seorang anak laki-laki remaja yang canggung. Rambutnya basah, dan Remi menyisirnya dengan rapi ke belakang. Di dalam lemarinya, meskipun pakaian dalam yang tersedia untuknya adalah pakaian perempuan, semua pakaian luarnya adalah pakaian laki-laki. Kebanyakan adalah kemeja dan t-shirt berkerah yang rapi dengan ditambah beberapa setelan jas yang tampak mahal.

Remi memilih kemeja berwarna merah gelap dan memadukannya dengan celana cokelat tua yang terletak paling atas di tumpukan. Dia tidak pernah punya banyak pakaian sebelumnya. Pada masa kehidupannya dulu, kotanya adalah sebuah kota yang tak pernah berhenti terhujani oleh salju, sehingga bukan warna pakaian atau perkembangan mode terbaru yang diperhatikan, melainkan fungsi dari pakaian itu sendiri, apakah bisa menghangatkan tubuh dengan baik ataupun tidak.

Karena itu ketika memadu padankan warna pakaiannya, Remi menutup mata atas segala pilihan warna dan memutuskan mengambil serta memakai apa yang berada di tumpukan paling atas.

Arran menunggunya di perpustakaan.

Memikirkan hal itu langsung mengingatkan Remi pada sikap Arran yang tidak bersahabat. Sebenarnya, kalau boleh memilih, Remi pasti akan memilih berada sejauh mungkin dari Arran. Tetapi tentu saja tidak bisa. Lelaki itu mengatakan bahwa dirinya telah dipilih menjadi mentor Remi untuk melatihnya berubah wujud. Sesuatu yang bahkan sampai saat ini tidak mampu dibayangkan oleh Remi sebelumnya.

Dia tidak bisa lari.

Pada akhirnya Remi menarik napas panjang, menguatkan dirinya dan melangkah keluar dari kamar untuk mencari ruang perpustakaan.

***

“Kau tampak kacau.” Safed mengalihkan perhatian Arran dari tumpukan buku-buku kuno tentang sejarah kaum pengubah wujud yang telah disiapkannya untuk dipelajari oleh Remi hari ini. Arran memutuskan bahwa Remi tidak perlu mempelajari latihan fisik pada hari pertamanya belajar.

Perempuan itu harus diajari tentang sejarah kaum pengubah wujud terlebih dahulu sehingga dia akan lebih mengerti bagaimana kaum ini ada, untuk apa kaum ini ada serta pentingnya menjaga kelangsungan dan kerahasiaan kaum yang telah ada sejak bertahun-tahun lamanya. Dengan memahami itu semua, Remi akan lebih memahami kenapa posisinya sebagai penggenap ramalan sangat penting bagi kaum pengubah wujud. Arran juga ingin Remi paham bahwa perempuan itu adalah bagian dari mereka, yang meskipun merupakan satu-satunya yang bisa berubah menjadi benda-benda, Remi tetaplah kaum pengubah wujud juga. Dengan perasaan memiliki dan menjadi satu bagian yang sama, Arran berharap lebih mudah untuk menanamkan pemikiran kepada Remi bahwa dia harus berjuang untuk kebaikan kaum pengubah wujud yang adalah bangsanya juga.

Mata Arran yang sewarna madu memandang wajah Safed dengan ekspresi sinis. Safed tampak kelelahan. Ada lingkaran hitam di bawah matanya berikut gurat-gurat dalam di sekeliling wajahnya. Seolah lelaki itu terjaga semalaman dengan pikiran nyalang dan tak bisa mengistirahatkan diri karena dorongan buas di dalam jiwa yang menyiksanya.

Ya, Arran tahu apa yang dirasakan oleh Safed. Karena dia juga merasakannya. Semalam suntuk berbaring nyalang dengan tubuh memberontak dan menyiksa jiwanya.

“Kau bahkan lebih kacau dariku.” Arran berucap singkat, lalu kembali mengatur buku-buku sejarah kuno di mejanya, menolak untuk memperpanjang percakapan.

Tetapi Safed tidak membiarkan itu terjadi. Lelaki itu tidak memedulikan sikap sinis Arran dan malahan menarik kursi untuk duduk.

“Kudengar kau bermalam di kamar sambungan dengan kamar Remi. Kau sangat hebat bisa menahan diri seperti itu. Aku bahkan meminta kepala pelayanku untuk mengunci diriku semalaman dan tidak membiarkan diriku keluar hingga fajar menyingsing.”

Arran melirik sinis.

“Bukankah kau biasanya memesan wanita-wanita untuk menemanimu pada malam-malam seperti ini? Wanita-wanita muda yang lebih pantas menjadi anakmu? Kenapa kau tidak melakukannya? Apakah karena kau sedang mengincar Remi?” tanyanya langsung.

Pipi Safed tampak merona, menciptakan segaris merah sepanjang tulang pipinya yang tinggi, menunjukkan ciri aristrokat di wajahnya.

“Kau tahu aku tidak akan melakukan itu kepada Remi. Aku menghormatinya. Dan mengenai wanita-wanita penghiburku, aku tidak memesannya karena aku menghormati kalian, para tamuku.”

Arran berdecak, sengaja menunjukkan ekspresi menghina.

“Aku tersentuh, kau begitu mengormati kami para tamumu sehingga mengorbankan kesenangan pribadimu,” ketika menatap ke mata Safed, mata Arran tampak berkilat penuh ancaman, “Jika kau berani meletakkan tanganmu pada Remi, aku akan menghabisimu, Safed.” geramnya penuh peringatan.

Safed hanya bergeming menatap Arran, ekspresinya datar sementara bibirnya menipis.

“Kau bahkan tidak lebih kuat daripada diriku. Kekuatanmu sama sepertiku. Itu berarti kita bisa saja saling membunuh dan mati bersamaan.” Safed tersenyum tipis, “Dan yang membuatku bertanya-tanya adalah kenapa kau memperlakukan Remi seperti itu? Seolah-olah dia adalah hak milikmu. Kau tidak sedang tergoda untuk mengklaim kepemilikan atasnya, bukan?”

“Lebih baik kau menutup mulutmu dari segala komentar tentang diriku. Kau tidak berhak mengatakan apapun tentang itu.” Arran mendesis penuh permusuhan, “Tetapi jika aku tahu bahwa kau mengincar Remi, dengan senang hati aku akan merebut anak itu darimu, hanya demi kesenangan melihat kau gagal. Aku akan menggigit tengkuk Remi, menyatakan kepemilikanku kepadanya, tetapi bukan karena aku menginginkannya. Aku akan memiliki Remi, hanya supaya kau terpuruk dalam kegagalan karena kau tidak bisa mendapatkan perempuan yang kau incar.” Arran memandang Safed setengah mengejek, “Perempuan seperti Remi sangat mudah didapatkan, anak miskin yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang seumur hidupnya. Dengan perempuan murahan seperti itu, aku hanya tinggal menjentikkan jari tanpa usaha supaya dia jatuh berlutut dan mencium kakiku.”

Suara terkesiap terdengar di belakang mereka. Arran mengalihkan pandangan dengan waspada ke arah sumber suara, sementara Safed menolehkan kepala dengan penuh rasa ingin tahu.

Pandangan mereka tertuju pada arah yang sama. Remi. Perempuan itu ternganga, tampak gemetaran hingga tangannya yang kurus berpegangan di ambang pintu perpustakaan yang terbuka. Sementara wajahnya tampak pucat pasi dan matanya berkaca-kaca, jelas-jelas menunjukkan bahwa perempuan itu mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Arran tentang dirinya.

[/responsivevoice]

Bersambung ke Part berikutnya.


Follow instagram @projectsairaakira untuk mendapatkan pengumuman/pemberitahuan jika kebetulan web sedang eror atau tidak bisa diakses.

578 Komentar

  1. ihhhh :panikshow

  2. Arrann,…
    Arran mau kardus?
    Sini ku kardusin, biasanya kucing kan suka kardus :grrr :grrr

  3. Kata-kata arran sangat pedes :gakterima :gakterima
    Nanti bucin baru tau rasa :week :week

  4. Yuni Widaningsih menulis:

    Ih Arran…ada yang mau bantu bakar dia hidup hidup :evilmode

  5. Mulutnya minta dicabein :grrr

  6. Aku udah bawa uleg an buat nguleg Arran.. dijamin, B*n Cabe kalah pedesssssss… :grrr

  7. Mulutmu harimaumu dasarrr

  8. pedas banget mulutnya arran. :lovely :evilmode

  9. Arran minta dipites :grrr

  10. Nah loh arran remi tau kan

Tinggalkan Balasan