Shapeshifters
Warfare Of Anchestry

Warfare Of Ancestry Prolog

Bookmark

No account yet? Register

3.337 votes, average: 1,00 out of 1 (3.337 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

Baca sinopsis cerita baru ini  dengan klik link ini  :

SINOPSIS CERITA


[responsivevoice voice=”Indonesian Female” buttontext=”Dengarkan cerita ini”]

“Kau ingin minum sesuatu sebelum pulang, Remi?” Giza memasukkan gelas terakhir yang telah kering ke dalam rak yang tersedia, lalu melempar lap basah ke keranjang.

Malam telah semakin larut  dan ruangan itu remang karena sebagian besar lampu telah dimatikan dan pintu-pintu telah dikunci. Kursi-kursi makan telah dinaikkan ke atas meja, sedang lantai cafe kecil di pinggiran kota itu telah dipel hingga berkilat. Aroma kopi masih menguar di udara, memenuhi ruangan dan menenangkan bagi manusia-manusia yang senang menghirup harumnya kopi yang baru keluar dari panggangan. Remi adalah salah satu dari manusia itu, dia tidak banyak minum kopi, tetapi dia mencintai aromanya, karena itulah bekerja di cafe kecil ini selalu menyenangkan hatinya.

Giza tersenyum tipis melihat Remi menganggukkan kepala untuk menjawab pertanyaannya. Giza adalah pemilik cafe kecil yang dia beri nama secara sentimentil yang berhubungan dengan kenangan ketika pertama kali Giza bertemu dengan suaminya yang sekarang telah berada di surga, Merlion Cafe, sebuah nama yang sedikit membuat orang mengerutkan dahi, tetapi entah kenapa berhasil menempel di ingatan. Cafe ini adalah hadiah terakhir dari suaminya sebelum kemudian harus meninggalkan dunia ini karena kanker pankreas yang menyerang tanpa ampun, membuat lelaki yang dicintainya itu meregang nyawa hingga saat-saat terakhir. Pada akhirnya setelah melalui saat-saat sulit membangun cafe ini dari awal, Giza berhasil menciptakan suasana kondusif di cafe ini dengan keberhasilannya menggaet pelanggan tetap serta menciptakan suasana menyenangkan sesuai dengan impiannya akan sebuah cafe yang menjadi miliknya.

Giza telah berganti-ganti pegawai hingga akhirnya dia menemukan Remi dan menemukan kecocokan yang menghangatkan hati. Remi adalah pegawai idaman, dia gesit, jujur, periang dan tidak pernah mengeluh ataupun membantah bahkan jika diharuskan lembur sampai malam atau melakukan pekerjaan diluar apa yang menjadi tugasnya. Dan selain itu semua, yang membuat Giza menyayangi Remi adalah karena anak itu menciptakan nuansa kekeluargaan yang hangat di tempat ini, Remi seolah datang ke cafe ini bukan untuk bekerja, tetapi untuk berjumpa dengan keluarga. Sebagai seorang perempuan setengah baya yang mengelola cafe seorang diri, kehangatan keluarga tentu saja membuatnya memiliki semangat hidup dari hari ke hari.

Remi telah menyelesaikan pencatatan pembukuan keuangan mereka hari ini, dipelototinya angka-angka yang ada di sana, dan setelah memastikan bahwa semuanya rapi, Remi menandatangani laporan harian tersebut sebelum kemudian menutup bukunya, tepat bersamaan dengan tangan Giza yang meletakkan secangkir kopi berwarna krem muda di depannya.

Mata Remi melebar senang dan langsung tersenyum ke arah Giza.

“Terima kasih.” ucapnya riang sambil menyimpan buku-buku catatan keuangan di laci, dia lalu mengedikkan dagunya ke arah laci, “Kau bisa memeriksa laporan keuangan itu, semua sudah kucatat dan kurapikan, tetapi mungkin ada beberapa transaksi pembelian yang belum tercatat di sana dan harus disusulkan segera setelah aku mendapatkan bon pembelian aslinya.” Giza memang meminta Remi menggunakan bahasa informal dengannya dan menganggapnya sebagai teman meskipun usia Giza jauh lebih tua. Hubungan persahabatan yang mereka jalin terasa lebih menyenangkan daripada hubungan Bos dengan anak buahnya, lagipula, Giza telah menganggap Remi seperti anak gadisnya sendiri.

“Aku akan memeriksanya nanti.” Giza menjawab sambil lalu karena dirinya memang tidak pernah tertarik dengan berbagai laporan keuangan. Hasratnya adalah membuka cafe yang menjual berbagai macam kopi dan kue-kue rumahan buatan sendiri yang hangat, dia tidak suka dengan angka-angka dan selama ini selalu berpikir bahwa selama ada sisa uang untuk makan dan membayar tagihan serta untuk berbelanja bahan pokok, dia akan baik-baik saja. Beruntung kemudian dia bertemu Remi yang bukan hanya melakukan tugas sebagai seorang pelayan dengan rajin, tetapi juga menawarkan untuk merapikan laporan keuangannya yang acak-acakan.

Giza kemudian menarik kursi ke depan meja Remi, memerhatikan perempuan muda di depannya yang sedang menyesap kopi buatannya dengan senang.

“Kopi buatanmu selalu enak.” Remi tersenyum lebar setelah satu tegukan besar, “Yang ini benar-benar enak. Apa rahasianya?” pujinya kemudian.

Giza mengangkat sebelah alisnya dengan jahil, “Kacang tanah.” bisiknya pelan, membuat Remi ternganga seolah tak percaya. Remi pernah mendengar kopi dicampur dengan kacang-kacangan seperti hazelnut atau almond, tetapi dia belum pernah mendengar kacang tanah dicampurkan dengan kopi.

“Kau… mencampurkan kacang tanah ke dalam minuman ini?” setelah meneguk sekali lagi, barulah Remi menyadari aroma gurih manis yang khas dari kacang tanah di dalam minumannya itu.

“Aku sedang mencoba resep minuman rumahan yang baru, sejenis minuman yang membuat seseorang merindukan kampung halaman. Aku mencampurkan kacang tanah dan butter di sana, enak ya?”

“Enak sekali, kau bisa memasukkannya ke dalam menu musim dingin, orang-orang pasti akan menyukainya.” Remi menghabiskan sisa minumannya dalam satu tegukan besar, lalu langsung bangkit dan mencuci cangkir putih itu di wastafel sebelum kemudian meletakkannya di rak pengering yang telah tersedia, dia lalu mengelap tangannya yang basah di handuk kecil sebelum kemudian melepaskan celemek pelayan hitam yang dia gunakan, “Aku harus segera pulang sebelum malam semakin larut.”

“Ini sudah larut sekali.” Giza melirik ke arah jam dinding dan menatap ke jendela luar yang menampilkan jalan setapak bersalju dengan cahaya lampu jalan nan redup karena terhalang hujan salju yang mulai berjatuhan, “Dan sangat dingin di luar, kau yakin tidak ingin menginap saja?” tawarnya lembut. Cafe ini memang terdiri dari dua lantai, lantai duanya merupakan apartemen kecil tempat Giza tinggal dan beristirahat di malam hari, Remi memang beberapa kali menginap ketika dia kemalaman, tetapi malam ini sepertinya Remi tidak bisa melakukannya.

“Aku harus pulang malam ini, ibuku tidak bisa pulang karena mendapatkan shif ketiga di tempat kerjanya dan aku harus menjaga adikku.” jawab Remi dengan nada sedih.

Ya, memikirkan ibunya selalu membuatnya merasa sedih, ibunya sudah cukup tua, tetapi masih harus bekerja untuk membantu keuangan mereka, dan ibunya bekerja di sebuah pabrik yang menjalankan tiga shif, delapan jam setiap kalinya yang berarti perputaran pabrik tersebut berlangsung selama dua puluh empat jam penuh, itu berarti ada saat-saat dimana Sang Ibu harus bekerja di larut malam sampai pagi hari sehingga tidak bisa pulang.

Adik Remi masih kecil, baru delapan tahun, dan dia menderita sakit kronis yang berhubungan dengan kegagalan sistem imun tubuh atau sering disebut dengan autoimun, hingga membutuhkan biaya yang cukup banyak terutama untuk obat-obatan yang harus diminum secara konstan dan berkala setiap harinya tanpa boleh terlewatkan waktu sedikitpun karena akan berakibat fatal.

Semua hal itu membuat Remi dan ibunya harus berjuang mengumpulkan uang demi pengobatan. Remi bahkan harus melupakan impiannya melanjutkan sekolah dan harus bekerja untuk menambah penghasilan, meskipun dia tidak terlalu sedih karenanya, Remi mencintai adiknya dan kesehatan adiknya adalah yang utama.

“Kalau begitu berhati-hatilah.” Giza mengambil kantong kertas yang telah disediakannya dan memberikannya kepada Remi, “Ini kue untuk adikmu. Aku tidak menggunakan susu dan hanya menggunakan krim nabati, sedikit gula dan banyak madu, kurasa ini baik untuk kesehatannya.”

“Terima kasih.” Remi telah memakai mantel tebalnya, lalu menerima kantong kertas itu dan menganggukkan kepala, dia lalu berpamitan pelan sebelum kemudian melangkah ke pintu.

“Hati-hati.”

Suara Giza masih terdengar ketika Remi melangkah keluar dari cafe mungil itu dan menutup pintu di belakangnya.

Remi kemudian membalikkan badan, matanya menatap ke arah salju yang semakin deras menghujam bumi. Sambil menghembuskan napas panjang yang langsung menghasilkan uap asap di wajahnya, Remi mengangkat tudung mantel tebalnya dan melangkah cepat menembus hujan salju.

Rumah Remi berjarak lumayan dari Merlion Cafe, membutuhkan waktu kira-kira setengah jam berjalan untuk mencapai rumah. Jika malam hari seperti ini, perjalanan panjang itu tidak terasa karena Remi sibuk melamun.

Ya, melamun adalah hobinya, dia senang membayangkan kisah-kisah indah di dalam otaknya sebagai penghiburan yang menyenangkan dan ketika sedang berjalan seperti ini, Remi sibuk membayangkan kisah-kisah romantis di dalam otaknya sendiri, membuat setiap langkah yang ditempuhnya jadi tidak terasa.

Pada akhirnya Remi sampai di depan rumahnya, sebuah rumah mungil yang sedikit tersembunyi di sudut pemukiman penduduk, berpagarkan kayu dengan tanaman-tanaman menjalar yang menghijaukan di sekeliling rumah.

Ada cahaya hangat nan temaram dari dalam rumah, menunjukkan bahwa meskipun sudah selarut ini, adiknya belumlah tidur, sementara ibunya pasti sudah berangkat ke tempat kerja beberapa waktu yang lalu. Adiknya meskipun baru berusia delapan tahun tetapi sudah cukup mandiri untuk ditinggalkan sendirian di rumah dan menunggu sampai Remi pulang dari tempat kerjanya. Adiknya sudah belajar untuk mengunci pintu dari dalam dan mencabut kuncinya sehingga ketika Remi pulang, dia bisa masuk dengan kuncinya sendiri.

Remi membuka pintu pagar perlahan, menimbulkan suara berderit keras di sekelilingnya yang sunyi. Sebagian besar penghuni pemukiman ini adalah para orang tua yang telah pensiun dan kompleks perumahan ini adalah kompleks perumahan tua yang hampir-hampir terlupakan keberadaannya di pinggiran kota, karena itulah kebanyakan dari mereka sudah beranjak untuk beristirahat di peraduan pada malam larut seperti saat ini.

Suara geraman keras dari taman kecil di depan rumahnya membuat langkah Remi yang sudah mencapai pintu rumah terhenti.

Suara geraman?

Jantung Remi langsung berdebar dengan waspada, dia menolehkan kepala dan entah kenapa rasa takut langsung menyerang, membuat tangannya yang sedang membuka kunci pintu gemetaran hingga tidak berhasil melakukan maksudnya.

Tidak ada apa-apa di belakang Remi sejauh mata memandang, hanya kegelapan pekat yang membentang dan tak bisa terlawan oleh lampu nan remang, berikut buliran salju yang berjatuhan membasahi tanah.

Remi masih menyempatkan diri memandang sekeliling dengan curiga, dan ketika tidak menemukan apapun, dia menghela napas panjang untuk menenangkan diri, lalu membalikkan badan lagi dan fokus membuka kunci pintu.

Suara klik pelan terdengar seiring dengan pintu yang terbuka lebar dan pada saat yang sama, suara gemerisik terdengar keras di belakangnya, membuat langkah Remi yang hendak melewati ambang pintu rumahnya yang terbuka terhenti dan perempuan itu kembali membalikkan badan dengan waspada.

Mata Remi langsung membelalak seiring dengan pekikan terkejut yang lolos dari bibirnya. Ketidakpercayaan berlumur ketakutan langsung menyelubungi dirinya ketika matanya menatap pemandangan mengerikan yang tak bisa diterima oleh nalar di depannya.

Seekor macan kumbang berwarna hitam legam dan bertubuh besar berdiri di sana, tubuhnya menyaru dengan kegelapan, dan makhluk mengerikan itu mengeluarkan suara geraman yang menggema keras dari balik taring-taring besarnya yang mengancam, mengirimkan sinyal mengerikan yang membuat bulu kuduk berdiri, dan seolah memaku kaki Remi sehingga terasa membeku dan tak bisa bergerak.

Mata Remi bertemu dengan mata emas nan tajam dari macan kumbang itu dan tubuhnya gemetaran tak terkendali, ketakutan kembali menyelimuti jantungnya, membuat dada Remi seolah mau pecah ketika macan kumbang itu melangkah mendekat dan semakin mendekat di depannya.

Geraman macan kumbang itu tidak mengancam, tetapi lebih seperti kesakitan. Mata Remi beralih ke arah jejak mencolok yang ditinggalkan oleh macan kumbang itu di atas salju, jejak itu berupa genangan merah darah yang menyeramkan, begitu kontras di atas salju nan putih dan bergurat mengikuti setiap langkah sang macan.

Hewan itu terluka parah dan darah menetes-netes dari tubuhnya….

Belum sempat Remi berhasil menelaah apa yang sebenarnya terjadi di depan matanya, macan kumbang itu tiba-tiba melompat ke arah Remi, menerjang tubuhnya dan membuat keseimbangan Remi oleng.

Remi menjerit keras ketika tubuhnya terbanting di tanah dan macan kumbang itu menimpanya. Dengan sekuat tenaga Remi mencoba mendorong untuk menyelamatkan jiwanya, sadar bahwa kematiannya sudah semakin dekat, dia menduga bahwa macan kumbang itu akan menyantapnya sebagai makan malam.

Aroma anyir memenuhi penciuman Remi yang memejamkan mata karena tidak kuat menghadapi kematian yang menjelang, tetapi kemudian, ketika Remi merasa tubuhnya akan dicabik-cabik dengan rasa sakit yang luar biasa, ternyata tidak terjadi apa-apa.

Hening… tubuh macan kumbang yang hangat itu masih menimpa tubuhnya dan membuatnya sesak napas, tetapi tidak terjadi apa-apa…

Remi hendak membuka mata dengan hati-hati sementara debaran jantungnya makin tak terkendali, memukul-mukul rongga dada hingga terasa nyeri, darah hangat yang sepertinya masih terus mengucur membasahi pakaian Remi, menyisakan cairan hangat dan terasa lengket menembus pakaian dan mengenai kulitnya.

Remi mengerjapkan mata dan ketika menemukan perubahan yang terjadi di depannya, matanya melebar karena terkejut.

Macan kumbang itu sudah tidak ada, digantikan dengan seorang laki-laki berambut hitam sedikit panjang, bertubuh besar yang terbaring lunglai tak sadarkan diri menindih tubuhnya.

[/responsivevoice]

Bersambung ke Part berikutnya

955 Komentar

  1. Dewi Susanty menulis:

    :kisskiss :kisskiss

  2. devikristianti59 menulis:

    udah lama banget gak baca cerita di psa terus sekarang pas buka bingung karna banyak perubahan 😅

  3. Bella Miacara menulis:

    Wow..

  4. Annisa Nurul menulis:

    :sebarcinta

  5. Mari membaca ulang 💗

  6. Awal perjumpaannyang tidak menyenangkan…. :nangiskeras :nangiskeras :nangiskeras

  7. Macan kumbang ganteng

  8. Norma El-bulan menulis:

    :wowakuterkejoet h :cintakumembarapadamuh

  9. Waww

  10. Mystery dimulai..

  11. DeeraSlythNeel menulis:

    :panikshow :panikshow

  12. selinokt18 menulis:

    Baca ulang :DUKDUKDUK

  13. Baca ulang :sebarcinta

  14. Mau baca ini tp blm kesampaian :DUKDUKDUK :DUKDUKDUK

  15. Yuni Widaningsih menulis:

    Mulai baca,,,,Jirrr langsung kaget pas liat macan item bermata tajam hampir gua lompat dari kasur :kaubikinemosijiwaka

  16. Mulai dari 0 yaa.. :NGAKAKGILAA

  17. Baca ulang lagi :NGAKAKGILAA

  18. 14 sept 2021 baca awal.. pict nya gadis n macan kumbang.. sekarang ngulang lagi sambil baca update an.. pict nya udah ganti kalung cantik perumpamaan Arran n Remi… jadi pengen punya kalung kaya gtu… :NGAKAKGILAA

  19. Mari baca ulang biar feel nya dapat, krn udah lama banget baru muncul lagi disini

  20. Otw baca ulang :semangatsemangat!!!!

  21. Mamita Fatih menulis:

    :habisakal

Tinggalkan Balasan