Warfare Of Anchestry

Warfare Of Ancestry Part 2 : Do You Remember?

Bookmark

No account yet? Register

3.029 votes, average: 1,00 out of 1 (3.029 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

4374 words


© copyright 2017 @projectsairaakira seluruh karya di website ini telah didaftarkan dan dilindungi oleh hukum yang berlaku serta mengikat.

Dilarang meniru, menjiplak, mengubah nama tokoh, mengambil ide baik sebagian maupun keseluruhan isi cerita yang berada di dalam website ini. Kami menyediakan hadiah dan komplimen menarik bagi laporan atau temuan dari vitamins menyangkut usaha plagiat baik keseluruhan maupun sebagian dari karya-karya ProjectSairaAkira yang dipublish di website ini, silahkan hubungi admin kami di [email protected] ^^


Author’s Playlist – Lauv – Reforget

Lost in the light
And I don’t know what night it is
You’re somewhere else, I’m drinking not to guess
Blurry bodies, but you’re on my mind
We let it go, now I’m full of rum and regret
I go out just so I can reforget


[responsivevoice voice=”Indonesian Female” buttontext=”Dengarkan cerita ini”]

Suara lonceng pintu terdengar lagi, pertanda ada yang masuk. Dan entah kebetulan atau bukan, hawa dingin tiba-tiba menyusup masuk dari luar, menghantarkan angin membeku yang langsung menyapa Remi dan membuat buku kuduknya berdiri.

Lalu tiba-tiba, ada hawa seram yang tidak menyenangkan merayapi diri Remi, membuat tulang punggungnya menggelenyar penuh peringatan seiring dengan keheningan yang entah kenapa menyelimuti seisi cafe itu kemudian. Remi mengerutkan kening bingung dan kali ini tidak bisa menahan diri untuk memutar kursinya dengan penuh rasa ingin tahu untuk mencari sumber rasa tidak nyaman yang tiba-tiba terasa.

Dan mulut Remi ternganga ketika matanya bertemu dengan mata berwarna emas yang balas menatapnya tajam


 

Mata emas itu langsung tertuju ke arahnya, menatap tajam dan menusuk dengan sedikit sinar kebencian yang tak  bisa Remi mengerti di sana.

Seketika itu juga, didorong oleh rasa takut yang merayapi diri dan hasrat alami untuk menyelamatkan jiwa, Remi langsung memutar kembali kursinya supaya kembali menghadap meja dan memunggungi lelaki itu. Tangannya yang sedang mencengkeram pensil mengepal rapat untuk menahan gemetar yang tiba-tiba datang melanda. Debaran jantungnya bahkan berpadu cepat ketika otaknya bergerak untuk memutar seluruh kilasan balik mengenai apa yang terjadi semalam.

Meskipun malam kemarin gelap dan lampu ruang depannya remang, Remi tidak mungkin salah mengenali sosok pria yang bagaikan menerjang langsung ke dalam mimpi buruknya dan sekarang menjelma menjadi sosok di dunia nyata. Remi tidak mungkin salah… sosok itu benar-benar sosok menyeramkan yang semula berwujud sebagai macan kumbang hitam mengerikan lalu tiba-tiba berubah menjadi laki-laki yang tak sadarkan diri di ruang depan rumahnya.

Tangan Remi terasa sakit dan ketika dia menunduk untuk melihat sumber rasa sakitnya, barulah dia menyadari bahwa jarinya mengepal begitu keras padahal ada ujung pensil di dalam genggaman tangannya yang menusuk ke kulit bagian dalam telapaknya. Remi menjatuhkan pinsil itu, menundukkan kepala sambil berpura-pura memusatkan pandangan mata ke buku laporan keuangan yang terhampar di depannya dan menghembuskan napas pelan-pelan dari mulutnya untuk menenangkan diri.

Jika yang semalam itu adalah mimpi, maka kemungkinan besar mimpi itu adalah sebuah isyarat yang mengingatkannya bahwa dia akan bertemu dengan laki-laki itu dan laki-laki itu adalah sosok yang berbahaya, mungkin macan kumbang berwarna hitam di dalam mimpinya menunjukkan sifat jahat, gelap dan buas. Mungkin saja…

Tetapi saat ini, melihat sosok yang dia kira hanya ada di mimpinya itu ada di dunia nyatanya, mau tak mau Remi bertanya-tanya juga apakah sosok yang terakhir memasuki pintu cafe dan sekarang sepertinya telah bergabung dengan teman-temannya serta tidak memedulikan Remi itu adalah sosok nyata pun dengan kejadian semalam yang tentu juga adalah kejadian nyata.

Tentu saja Remi tak bisa membagi pikirannya dengan orang lain karena dia pasti akan dianggap gila karena bagaimana caranya dia menjelaskan mengenai kejadian seorang manusia bisa berubah menjadi seekor macan kumbang tanpa tampak berhalusinasi?

Hanya sekilas Remi menatap sosok laki-laki tadi sebelum buru-buru membalikkan badan. Remi menyadari bahwa sosok lelaki itu berpakaian hitam-hitam dari ujung kepala sampai ujung kaki. Sweater tebal berwarna hitam dengan leher tinggi yang dibalut dengan mantel panjang berbahan tebal dengan kerah lebar yang membungkus tubuhnya dengan pas, celananya juga berwarna hitam, pun dengan sepatu boot yang dikenakannya. Mantel hitam itu tampak kontras dengan titik-titik salju yang membasahi mungkin dalam perjalannnya memasuki cafe ini. Rambutnya juga berwarna hitam dan dibiarkan agak panjang melebihi kerah bajunya.

Keseluruhan penampilannya sama seperti yang dilihat oleh Remi semalam dan warna hitam-hitam yang mendominasi itu mau tak mau mengingatkan Remi akan macan kumbang mengerikan yang dilihatnya semalam. Yang berbeda adalah matanya, jika semalam dia menatap mata kumbang yang berwarna emas berkilauan, sekarang mata lelaki itu lebih seperti warna madu yang keemasan tetapi tidak terlalu mencolok, tentu saja Remi tidak bisa membandingkan dengan warna mata lelaki yang dalam mimpinya tak sadarkan diri karena mata lelaki itu terpejam dan tak membuka.

Sebuah gelas diletakkan di meja depan Remi, suaranya membuat Remi terperanjat kaget dan mendongakkan kepala. Tatapannya lalu berubah lega karena menyadari bahwa itu hanyalah Giza yang meletakkan mug putih berisi kopi untuknya, yang menguarkan aroma harum menggoda selera untuk menghirup dan mencicipi nikmatnya kopi tersebut.

Mata Giza terarah kepada wajah Remi dan sedikit mengerutkan keningnya.

“Kau tampak pucat. Apakah kau benar-benar kurang sehat, Remi? Jika ya aku akan memberimu izin untuk pulang lebih awal.” ucapnya kemudian dengan nada prihatin.

Remi langsung menggelengkan kepala kuat-kuat dan sedikit melirik cemas ke belakang, dia tahu bahwa karena cafe saat ini sedang dalam kondisi sepi, suara Giza menguar ke tengah ruangan tempat laki-laki berpakaian layaknya model itu sedang duduk berkumpul menunggu pesanan.

“Aku tidak apa-apa.” ujar Remi cepat, meraih cangkir kopinya dan meniupnya sedikit sebelum kemudian menyesap perlahan dan tersenyum senang ketika aroma rempah kayu manis berpadu dengan vanila berpadu dengan hidungnya dan membuat cairan itu terasa semakin nikmat di dalam mulutnya. Pada akhirnya Remi tidak bisa berhenti membasuh lidahnya dengan kopi tersebut hingga dia menghabiskan hampir separuh dari isi cangkir itu. Setelah itu Remi mendongakkan kepala, menatap ke arah Giza yang masih mengamatinya, “Lihat, aku hanya butuh kopi untuk menyegarkan diri, semalam aku agak kurang tidur karena mimpi buruk itu, tapi akibatnya tidak terlalu parah. Lagipula besok hari libur dan menjelang malam cafe pasti ramai, kau tidak bisa kutinggalkan sendirian.” ketika di kalimat-kalimat terakhir Remi sengaja merendahkan nada suaranya supaya tidak sampai ke tengah ruangan.

Giza tersenyum lembut mendengar jawaban Remi, lalu menganggukkan kepala, tangannya yang satunya menyodorkan piring kue ke depan Remi, kue pastry berlapis yang gurih berbentuk lingkaran kecil dengan isian daging cincang berbumbu dan lada hitam yang menggoda, salah satu dari resep hebat milik Giza yang menggoyang lidah.

“Kalau begitu, habiskan makananmu lalu bantu aku ya untuk melayani tamu-tamu yang itu.” Giza mengedipkan sebelah mata kepada Remi sambil melirik penuh arti ke tengah ruangan, “Kau bisa mencuci mata, Remi. Jarang-jarang kita mendapatkan tamu yang menggoda mata seperti itu.” bisiknya pelan supaya tidak kedengaran, lalu membalikkan badan dengan senyum lebar.

Sayangnya kali ini senyuman Giza tidak menular, ketika Giza menyebut nama kelompok di belakang Remi itu, ketika itulah pikiran Remi langsung terpusat pada sosok misterius yang entah mimpi entah nyata telah berubah menjadi macan kumbang di depan matanya, dan ekspresi ngeri langsung muncul di wajah Remi.

Tetapi dia tidak bisa berbuat banyak, bagaimanapun setelah pesanan datang, Remilah yang harus mengantarkan pesanan makanan untuk mereka.

***

“Apakah menurutmu dia memiliki firasat?” Yerev berbisik pelan, duduk dengan gaya santai dan menjaga supaya suaranya tidak mengudara.

Arran sendiri bersedekap, melirik ke arah punggung kurus yang sedang memunggunginya. Rambut perempuan itu tampak panjang dan mengikal di sana, terlihat lembut dan berkilauan bahkan dari jarak sejauh ini.

Arran mengerutkan kening dan menipiskan bibir tidak suka ketika tersadar bahwa dia sedang membayangkan bagaimana rasanya helaian rambut itu ketika terjalin di antara jari-jarinya.

Kenapa dia malah memikirkan tentang rambut perempuan itu?

“Aku memakai kekuatanku untuk menghilangkan ingatan perempuan itu, dan selama ini aku tidak pernah gagal menghilangkan ingatan seseorang. Apa kau lupa bahwa kekuatanku adalah yang terhebat di antara kalian, bahkan dalam hal remeh seperti menghilangkan ingatan?” Arran berucap malas, mengalihkan mata ke arah Yerev dengan tatapan mengingatkan, “Kau punya maksud khusus ya mengunjungi cafe kecil yang tidak berkelas di pinggiran kota kecil ini? Seharusnya kita sudah pergi ke bandara dan meninggalkan tempat bersalju yang tidak menyenangkan ini, tetapi kau bersikeras kemari terlebih dahulu. Apa kau sengaja mengincar gadis itu?”

Suara desisan Arran terdengar mengancam, hingga anggota kelompok mereka yang lain hanya berdehem salah tingkah sambil memundurkan punggung bersandar di kursinya dan tak mau terlibat dalam adu argumentasi yang biasanya terjadi antara Arran pemimpin mereka dengan Yerev.

Hanya Yerev yang berani melakukan itu pada Arran dan beruntung tidak dibunuh seketika itu juga. Orang-orang tahu bahwa ketika kedua orang tua Arran yang kedua-duanya merupakan tetua, tewas dalam insiden serangan mengerikan bertahun-tahun yang lalu, Arran yang menjadi yatim piatu di usianya yang ke lima tahun kemudian dititipkan dibawah perlindungan orang tua Yerev dan dibesarkan di sana. Arran dan Yerev hidup layaknya saudara dan tumbuh besar bersama sampai sekarang.

Karena mereka seumuran dan kebetulan berasal dari klan yang berbeda, Yerev dari klan udara dan Arran dari klan darat, mereka jarang terlihat akur dan lebih sering berbeda pendapat, tetapi berbeda dengan yang lain yang memilih tunduk, menahan diri dan tidak berani membantah perkataan Arran, Yerev lebih nekat dalam hal memperjuangkan pendapatnya sendiri, kadang-kadang hingga membuat Arran sampai di batas kesabarannya dan berujung mengatakan bahwa hanya karena penghormatan Arran terhadap ibunda Yerevlah maka Arran tidak menggunakan tangannya untuk menghabisi Yerev seketika.

Yerev menyeringai, mata peraknya yang pucat melirik ke arah punggung perempuan itu yang sekarang sedang bangkit untuk kembali bekerja. Matanya bersinar penuh minat sebelum kemudian berbisik pelan.

“Namanya Remi. Aku mendengarnya tadi ketika dia bercakap-cakap dengan bosnya, bosnya memanggilnya dengan nama Remi.”

Arran menyipitkan mata, kali ini benar-benar tampak kehilangan kesabaran, “Aku tidak butuh tahu siapa nama gadis itu. Dia hanya pengganggu kecil yang tak sengaja terlibat dan sudah kusingkirkan.” geramnya seolah merasa terganggu, Arran lalu memandang Yerev dengan pandangan menyelidik, “Katakan padaku apa maksud tersembunyimu, Yerev.”

Yerev mengangkat bahu tanpa rasa bersalah, lalu menyandarkan punggungnya ke sofa dan duduk menyilangkan kaki dengan gaya malas,

“Perempuan itu menarik hati, wajahnya ketika masih tertidur pulas tampak polos, dan aku suka dengan yang polos-polos karena aku merasa lebih tertantang menodainya.” senyum Yerev melebar ketika melihat ekspresi jijik yang tidak disembunyikan dari wajah Arran, “Tapi itu bukan alasanku sesungguhnya datang kemari. Dia… bos perempuan pemilik cafe itu, dia adalah alasanku sesungguhnya.”

“Dia?” Arran melirik ke arah perempuan setengah baya yang sedang menyiapkan minuman untuk mereka, lalu memandang kembali ke arah Yerev sambil membelalakkan mata, “Apakah seleramu sudah berubah dari gadis-gadis polos ke perempuan setengah baya?”

Pertanyaan Arran menimbulkan senyum tertahan di bibir semua anggotanya yang lain yang ikut duduk bersama melingkari meja besar cafe itu, Mereka semua memang tampak menahan diri karena bersama dengan Arran, mereka harus berusaha kuat untuk tetap tenang dan tak bersuara, Arran tidak menyukai anak buah yang berisik, dia akan menendang mereka dari kelompok Kaum Penghukum yang dipimpinnya secara mutlak. Tetapi tentu saja Yerev tidak peduli dengan aturan tak tertulis tersebut, lelaki itu langsung tertawa terbahak-bahak, membahana ke seluruh ruangan hingga membuat sedikit manusia yang ada di cafe itu menoleh ke arah mereka.

Ketika selesai tertawa, Yerev menerima pandangan mencela dari Arran yang tentu saja tidak dia pedulikan, lelaki itu masih menyeringai, menampilkan deretan giginya yang rapi dan sempurna,

“Tentu saja seleraku tetap tidak berubah.” ucap Yerev kemudian, “Aku hanya sedang melakukan apa yang diminta oleh ibuku.”

“Oleh ibumu?” kali ini Arran tampak tertarik, memajukan punggungnya hingga mendekat ke arah Yerev, “Apa maksudmu?”

“Kau sudah lihat perempuan setengah baya yang menjadi bos di sana kan? Dia memiliki suami yang sudah meninggal dan suaminya seorang pengubah wujud, sama seperti kita. Ibuku bersahabat dengan suaminya, dia hanya ingin melihat serta memastikan bahwa perempuan yang menjadi istri sahabatnya itu baik-baik saja.” Yerev melirik ke arah Arran dengan hati-hati, “Perempuan itu benama Giza, dan dia adalah manusia biasa. Dia juga tidak tahu bahwa suaminya adalah seorang pengubah wujud.”

Ekspresi Arran menggelap, “Seorang pengubah wujud yang menikah dengan manusia biasa melanggar peraturan para tetua dan harus menerima konsekuensi untuk diasingkan keluar dari klan. Ibumu tentu tahu mengenai peraturan ketat itu, kenapa dia mendukung?”

“Entahlah.” Yerev mengangkat bahu sekali lagi, “Mungkin karena persahabatan. Yang pasti suami Giza menitipkan harta untuk menjaga supaya istrinya bisa hidup mandiri setelah dia meninggal. Dan ibuku mengatur supaya Giza memperoleh warisan yang cukup sehingga apa yang diinginkan oleh sahabatnya terwujud.” Yerev mengedipkan mata ke arah Arran, “”Aku selalu suka dengan konsep seseorang yang rela meninggalkan segalanya demi cinta. Seperti suami Giza, dia rela dikeluarkan dari klan demi cintanya kepada manusia. Sebuah kisah cinta yang sangat indah, bukan?”

“Sebuah kisah cinta yang tragis.” Arran menyahut dengan nada sinis, “Mereka yang dikeluarkan dari klan akan hidup liar seorang diri tanpa peraturan dan tanpa perlindungan. Pada akhirnya mereka hanya akan berakhir pada dua pilihan, mati karena dibunuh ketika memberontak terhadap perburuan, atau menjadi sosok monster selamanya dalam tawanan Sang Kolektor.”

Mendengar nama Sang Kolektor disebut, mereka semua terdiam, beberapa memasang ekspresi geram. Sang Kolektor adalah musuh mereka yang sampai dengan saat ini terlalu sulit untuk dikalahkan. Kekuatannya sangat besar karena Sang Kolektor bekerjasama dengan pemerintah yang sangat kuat, belum lagi dengan pasukan pengawalnya yang tidak terkalahkan, terdiri dari mutan buatan militer yang diciptakan untuk berani mati melindungi majikannya. Sang Kolektor hidup dalam persembunyian, dalam bayang-bayang hingga namanya hampir bisa disebut mitos belaka kalau saja bukti kejahatannya tidak muncul ke permukaan dan menjadi saksi bisu kekejamannya.

Sang Kolektor adalah seorang pengubah wujud yang memiliki keinginan gila, dia mengambil sampel kaum pengubah wujud lalu memberikan racun sedemikian rupa sehingga mereka menjadi monster, menjadi sosok yang kehilangan kemanusiaannya karena ingatannya sebagai manusia telah ditekan sedemikian rupa oleh racun tersebut, dan efek paling mengerikan dari racun tersebut adalah ketika kaum pengubah wujud tidak bisa berubah menjadi manusia lagi, mereka menjadi monster tanpa jiwa yang kemudian dikurung dalam kandang-kandang khusus yang dibangun di tempat tersembunyi, berisi sampel dari berbagai wujud kaum pengubah wujud yang menjadi korban. Dan yang menjadi korbannya adalah sosok-sosok yang diasingkan karena melanggar peraturan, hidup sendiri tanpa perlindungan seluruh klan sehingga lebih mudah diburu.

Arran telah mengejar Sang Kolektor tersebut, tetapi mereka selalu tertinggal selangkah dari Sang Kolektor. Setiap mereka datang, Sang Kolektor telah berhasil melarikan diri seolah-olah ada mata-mata di antara mereka yang memberitahukan pergerakan mereka terlebih dahulu dan membuyarkan semua rencana.

“Suami dari Giza juga dibunuh oleh Sang Kolektor karena dia melarikan diri dari perburuan.” Yerev berucap dengan nada sedih, membuat lamuran Arran terpecahkan.

Arran menyipitkan mata, menatap Yerev dengan tidak sabar, “Kau sudah melihat perempuan itu. Sudah cukup, bukan? Dia baik-baik saja sepeninggal suaminya dan berhasil menjalankan cafe kecil ini dengan baik, dia juga tersenyum lebar dan terlihat bahagia.” Arran hendak beranjak dari duduknya, “Tidak ada lagi yang bisa kita lakukan di sini, lebih baik kita pergi segera karena banyak tugas lain yang menunggu.”

***

“Mereka sangat aneh.”

Remi yang telah menyelesaikan makan siangnya bergabung dengan Giza untuk menyiapkan cangkir-cangkir kopi bagi tamu mereka, dia berada pada sisi tersembunyi yang tidak tampak dari arah para pengunjung cafe, tapi bisa mengintip dari sudut tertentu ke arah para pengunjung tanpa ketahuan.

Giza yang menuangkan kopi dengan aroma harum untuk memenuhi cangkir-cangkir, sementara itu kue-kue yang dipilih telah dimasukkan ke pemanas makanan di belakang mereka, menunggu waktu sampai hangat dan siap untuk disajikan.

Perlahan setelah menyelesaikan tugasnya, Giza menolehkan kepala ke arah Remi dengan penuh rasa ingin tahu.

“Aneh kenapa? Mereka tampan dan seperti model perkotaan yang kemari untuk melakukan pemotretan majalah fashion di tengah salju, itu sedikit tidak biasa tetapi bukan berarti aneh.” ujarnya tenang, lalu tiba-tiba senyumnya berubah lembut menerawang, “Mereka bahkan sedikit mengingatkanku pada suamiku… kau tahu suamiku juga setampan itu, lelaki misterius yang tiba-tiba muncul di tengah kehidupanku dan mengambil cintaku untuk selamanya, aku tidak akan pernah bisa mencintai lelaki lain lagi setelah aku merasakan cinta dari lelaki sempurnaku.”

Remi tersenyum sedih mendengar perkataan Giza. Sudah bertahun-tahun sejak suami Giza meninggal dan Remi tahu bahwa Giza masih menyimpan kepedihan karena ditinggalkan. Remi juga tidak membantah bahwa suami Giza sangat tampan, perempuan itu telah menunjukkan foto-foto kenangan pernikahan mereka dan suami Giza di waktu mudanya benar-benar setampan malaikat, berambut pirang pucat dengan senyum lembut dan mata teduh yang pasti akan membuat semua wanita tergila-gila.

“Lelaki berambut perak yang sangat tampan itu tadi mengedip padamu, bukan? Mungkin saja kau akan berakhir sepertiku, Remi. Mendapat jodoh lelaki sangat tampan yang misterius.” goda Giza kemudian.

Remi membelalakkan mata sementara pipinya memerah, mau tak mau dia melirik ke arah tamu misterius mereka dan entah kenapa, bukannya kekaguman seperti yang ditunjukkan oleh Giza yang dia rasakan, tetapi malahan perasaan was-was yang mengganggu, seolah-olah hati kecilnya menunjukkan bahwa mereka semua adalah sosok berbahaya  yang harus dijauhi.

“Apakah kau tidak memerhatikan, Giza?” Remi berbisik untuk menyalurkan rasa was-wasnya, “Mereka semua berbicara berbisik-bisik seolah-olah membicarakan rencana jahat… dan anehnya, hanya dua orang yang bercakap-cakap sementara yang lain hanya diam seperti patung.”

Giza melirik ke arah tamu-tamu tampan itu lalu menatap Remi seolah geli.

“Aku selalu menduga-duga reaksimu ketika bertemu lelaki tampan, Remi. Karena kau… yah sangat polos dan tidak pernah menunjukkan ketertarikan sedikitpun pada kaum lelaki sebelumnya, tetapi aku tidak menyangka reaksimu akan mengarah pada paranoid.” ujarnya kemudian.

Remi menghembuskan napas, tahu bahwa Giza tidak akan mengerti yang dirasakannya.

“Bukan paranoid…” Remi mencoba merangkai kata hendak menjelaskan maksudnya, tetapi kata-katanya hilang di tenggorokan, “Ah sudahlah, mungkin karena mereka orang asing dan manusia terbiasa untuk selalu waspada pada orang-orang asing.” sambung Remi cepat pada akhirnya menyerah untuk menjelaskan.

“Mungkin juga begitu, di pinggiran kota kecil yang bersalju ini kita hanya melihat orang-orang tua dan penghuni tetap yang sedikit jumlahnya, tentu saja mereka tampak mencolok dan membuat waspada.” suara Giza terhenti oleh denting mesin pemanas yang menandakan bahwa kue-kue yang disiapkan untuk pelanggan telah cukup hangat untuk disajikan, “Bisa kau siapkan kuenya, Remi? Kopi telah siap, kau bisa mengantarkannya kepada mereka.” ujar Giza lembut.

Remi menganggukkan kepala, mengusap tangan pada celemeknya, lalu memakai sarung tangan khusus dan membuka kotak pemanas makanan tersebut, dikeluarkannya kue-kue yang telah hangat dan diletakkan di piring-piring kecil yang sudah disiapkan. Remi memindahkan kue-kue itu ke nampan dan menyusunnya, lalu membawanya ke pantri saji untuk disiapkan.

“Aku akan membawakan kuenya.” Giza berujar pelan sambil mengambil nampan berisi kue itu. Tangan Giza pernah mengalami kecelakaan sehingga tidak bisa mengangkat beban berat, tetapi untuk mengangkat nampan kue yang cukup ringan, dirinya masih mampu.

Remi menganggukkan kepala, lalu mengambil nampan berisi cangkir-cangkir kopi yang telah disiapkan dan mengangkatnya, tubuhnya memang kecil, tetapi tenaganya kuat. Remi lalu memimpin langkah Giza, mendahuluinya untuk mendekati kelompok tamu pria-pria tampan yang mendebarkan hati tersebut. Wanita lain mungkin akan berdebar karena ketampanannya, tetapi debaran Remi lebih karena rasa takut dan waspada. Dia akan berada dekat dengan sosok berambut hitam bermata emas yang datang di mimpi buruknya… hal itu membuatnya gelisah dan malahan mempercepat langkah, ingin agar tugasnya ini segera berakhir sehingga dia bisa menjauh dari laki-laki itu,

Remi setengah melompat dengan membawa nampan denan cangkir-cangkir kopi yang terisi penuh di tangannya, dia sudah berdiri dekat dengan tamu-tamunya itu, lalu tiba-tiba sosok berambut hitam yang menakutkan itu berdiri mendadak dan dengan gerakan secepat kilat yang terlalu gesit untuk manusia biasa, membalikkan badan tanpa Remi siap dan langsung menabrak Remi keras hingga nampan yang ada di tangannya jatuh berguling tepat di dada lelaki itu. Gelas-gelas kopi langsung menumpahkan isinya, jatuh pecah berserakan di lantai, dan cairan kopi panas itu malangnya terlanjur membasahi pakaiannya yang tampak mahal.

***

Sosok laki-laki itu membeku sementara Remi membelalakkan mata seolah tak percaya dengan kejadian sial yang barusan terjadi.

“Astaga. Maafkan kami, kami akan segera membereskannya.” suara Giza di belakangnya membuat Remi mengerjapkan mata dari keterpakuannya atas tatapan mata emas nan tajam tersebut, Remi menoleh ke belakang dan melihat Giza membungkuk untuk memohon maaf kepada tamu-tamunya, lalu meletakkan nampan kuenya lalu bergegas berbalik arah untuk mencari lap pembersih.

Lelaki itu terus menatap tajam ke arah Remi seolah menyimpan kemarahan membara yang siap meledak, dan dari suasana mencekam yang tiba-tiba tercipta dimana sosok lain yang berada di belakang laki-laki itu tampak membeku seluruhnya, yakinlah Remi bahwa dia telah berbuat kesalahan fatal.

Remi mencoba membuka bibir, tetapi kata-kata yang keluar hanyalah suara tertahan dengan bibir bergetar,

“Maafkan… saya.” seketika Remi membungkuk dan jantungnya berdebar ketakutan ketika dia menegakkan punggung kembali dan lelaki itu masih terpaku di sana, bergeming dan menatapnya tajam.

Lelaki itu bahkan tidak membalas permohonan maafnya!

Bingung harus berbuat apa di bawah tatapan mata tajam tersebut, Remi akhirnya buru-buru berjongkok, mulai mengambil nampan dan cangkir-cangkir gelas yang berserakan dan meletakkannya di atas nampan tersebut. Bersamaan dengan itu Giza datang dengan membawa lap kain basah dan keranjang dengan roda untuk piring-piring kotor lalu ikut berjongkok bersama Remi dan membantunya membersihkan cairan kopi yang membasahi lantai kayu cafe tersebut.

“Antarkan tamu kita untuk membersihkan diri ke toilet, Remi. Biarkan aku yang membereskan ini.” ujar Giza cepat dan mengelap genangan di depannya dengan cekatan.

Remi hendak membantah, ingin dia yang membersihkan genangan air ini dan Giza yang mengantar laki-laki menyeramkan itu saja karena dia tidak ingin dekat-dekat dengan lelaki itu, tetapi tatapan mata tegas Giza yang dilemparkan kepadanya membuat Remi menelan kembali bantahannya, dia lalu menurut, bangkit dari posisinya berjongkok dan mengangguk ke arah laki-laki itu.

“A… anda ingin di antar ke toilet? Mari, saya akan mengantar Anda.” mata Remi menangkap tidak ada reaksi dari lelaki tersebut atas pertanyaannya, tetapi Remi memilih mengabaikan dan membalikkan badan untuk menunjukkan jalan, terserah lelaki itu mau mengikutinya atau tidak, yang penting Remi telah berusaha bersikap sopan. Lagipula kejadian tadi bukan murni kesalahannya, laki-laki itu juga bersalah karena tiba-tiba berdiri lalu dengan kegesitan tak normal membalikkan badan dan menubruknya.

Di luar dugaan, laki-laki itu melangkah pelan dengan langkah yang anehnya tak bersuara padahal dia menggunakan sepatu boot dengan sol tebal di atas lantai kayu nan keras,dan kemudian melangkah mengikuti di belakang Remi tanpa sepatah kata pun terucap dari bibirnya.

Remi melirik ke belakang, merasakan bulu-bulu di sepanjang tulang belakang dan kuduknya merinding karena merasakan tatapan tajam laki-laki itu yang seolah menusuk punggungnya. Tanpa sadar dia menggigit bibir untuk meredakan kegelisahan yang merayapinya.

“Lewat sini.” Remi berucap dengan suara bergetar sambil melangkah menaiki tangga, memastikan bahwa lelaki itu mengikutinya. Sayangnya, kamar mandi cafe ini terletak di lantai dua dan itu berarti untuk beberapa saat, Remi akan terpisah sendirian di lantai atas dengan lelaki beraura mengerikan ini.

Sosok itu terus mengikutinya ketika Remi mencapai pintu toilet di lantai dua, dia membukakan pintu dan menggerakkan tangannya dengan sopan.

“Silahkan.” ujarnya perlahan sambil menatap lelaki itu was-was.

Sosok itu terdiam sejenak di depan Remi, membuat debar jantung Remi berdebar begitu kencang memukul rongga dada hingga seolah mau pecah. Beruntung kemudian, dengan masih tidak berkata apa-apa, lelaki itu melangkah masuk ke dalam toilet.

Dengan cepat Remi menutup pintu toilet tersebut dari luar sebelum kemudian meloncat menahan perasaan ngeri dan setengah berlari hingga hampir terjungkal menuruni tangga.

Dorongan di dalam dirinya seolah-olah memperingatkan bahwa dia harus berada sejauh mungkin dari lelaki itu.

Ketika sampai di anak tangga terbawah, napas Remi terengah-engah karena berlari, dia menggunakan sebelah tangan untuk bertumpu di dinding dan mencoba menetralkan napasnya. Di saat bersamaan, Giza datang sambil membawa setumpuk handuk kering dan jubah mandi nan lembut, lalu menatap Remi sambil mengangkat alis.

“Kenapa kau terengah-engah? Apa kau berlari?” tanyanya bingung.

Remi tersenyum malu, “Aku… aku hanya ingin segera membantumu.” ujarnya cepat, menyembunyikan ketakutannya supaya tak terbaca oleh Giza.

“Tidak apa-apa, Remi, kejadian tadi wajar terjadi di sebuah cafe, jangan merasa bersalah.” Giza berucap lembut lalu tiba-tiba meletakkan tumpukan handuk yang dibawanya ke tangan Remi, “Ini, bawa handuk dan jubah mandi ini kepada tamu kita di atas, lalu minta pakaian kotornya, kita akan menggunakan mesin pencuci dan pengering dengan cepat sehingga dia bisa memakai pakaiannya kembali dalam kondisi bersih. Aku akan menyiapkan kopi pengganti untuk para tamu.” tanpa menunggu jawaban Remi, Giza membalikkan badan, bergegas kembali ke belakang pantry untuk menyiapkan sajian bagi tamunya.

Sementara itu Remi termenung, mulutnya ternganga atas kata-kata yang tak terucap, tetapi matanya hanya menatap udara kosong karena Giza telah pergi.

Dengan panik dilanda ketakutan, Remi melirik ke lantai atas dan menghembuskan napas panjang. Berkali-kali dia berusaha menenangkan ketakutannya, mengucapkan kepada dirinya sendiri bahwa segala yang dirasakannya hanyalah paranoid akibat mimpi buruk aneh yang tak bisa dijelaskan dengan nalar.

Pada akhirnya setelah merasa benar-benar siap, Remi membalikkan badan dan kembali menaiki tangga.

***

Ketika berdiri di depan pintu toilet itu, Remi berhenti dengan ragu. Dia lalu mengerjapkan mata, memindahkan tumpukan handuk dan jubah mandi yang tadi dibawanya dengan dua tangan ke sebelah tangannya dengan hati-hati, setelah itu dia mengetuk pintu toilet tersebut dengan tangannya yang bebas.

“Permisi…” suara Remi bergetar sehingga dia berdehem pelan, “Saya hendak mengantarkan handuk kering dan jubah mandi serta meminta pakaian basah Anda untuk dicuci.” sambung Remi perlahan.

Hening.

Sebuah jeda keheningan yang panjang sehingga Remi mengerutkan kening. Dia hendak mengetuk lagi dan sudah mengangkat sebelah tangannya dan sayangnya hal itu bersamaan dengan pintu tersebut terbuka secara tiba-tiba di depan matanya.

Tangan Remi masih terangkat untuk mengetuk udara kosong sementara bibirnya terbuka karena terkejut.

Laki-laki macam apa dia? Karena bahkan langkahnya mendekati pintu kamar mandi sama sekali tidak terdengar?

Remi bahkan tidak sempat memikirkan jawaban atas pertanyaannya sendiri, karena ketika menyadari penampilan lelaki itu saat ini, matanya semakin melebar sementara rasa panas menjalari wajahnya hingga membuat pipinya merah padam.

Lelaki itu masih mengenakan celana panjang dan sepatu bootnya, tetapi dia tidak mengenakan baju bagian atas, telanjang dada dan menampilan otot-otot kekar terbentuk karena tempaan olah fisik yang begitu keras dan kuat. Kulitnya tampak kecokelatan, berwarna perunggu dan begitu jantan menguarkan nuansa maskulin yang melemaskan kaki. Mata Remi menelusuri tubuh telanjang lelaki itu sementara rasa panas di pipinya semakin menjadi-jadi.

Lalu Remi mengingat kejadian misterius yang diduganya sebagai mimpi semalam.

Wujud perubahan dari macan kumbang semalam, terluka parah di sisi dadanya tepat di bawah jantung, sebuah luka robekan mengerikan di dada bagian bawah laki-laki itu yang terus mengucurkan darah. Pemikiran itu membuat Remi memusatkan perhatian dengan penuh rasa ingin tahu ke bagian bawah dada lelaki itu yang telanjang dan dia terkesiap menemukan garis putih yang telah memudar, melintang tepat dari bagian bawah jantungnya hingga ke sisi perut.

Sayangnya keterkejutan Remi teramati dengan jelas oleh mata emas di depannya. Dan lelaki itu langsung menyadari sesuatu.

Tanpa diduga, tangan lelaki itu terulur, mencengkeram leher Remi dan mendorongnya dengan keras ke dinding. Dan sebelum Remi bisa memberontak untuk lari, lelaki itu menggunakan tubuhnya yang kuat serta keras untuk mendesak tubuh Remi ke dinding, membuatnya tidak bisa bergerak karena tertahan oleh tubuh kuat yang memerangkapnya.

Remi menatap takut-takut ke arah lelaki yang sekarang membungkuk dekat sekali dengan wajahnya. Tangan lelaki itu mencengkeram dengan kuat di lehernya sementara bola matanya tampak aneh, warna emas di sana berubah berkilauan seperti warna mata macan kumbang yang dilihat Remi sebelumnya, lalu tiba-tiba berubah menjadi gelap sebelum kemudian kembali ke warna aslinya. Bibirnya tipis lelaki tampak mengancam ketika menggeramkan kalimat tuduhan yang mengerikan dari sana.

“Kau ingat, ya?”

 

Bersambung ke Part Berikutnya

 


636 Komentar

  1. masih aja takjub.. bisa bikin cerita macem gini… salut sama penulisnya

  2. Jangankan remi, aku aja degdegan liat arran nih wkwk

  3. Dewi Susanty menulis:

    :wkwkwkwk

  4. Isma nurul menulis:

    Gue jd remi udah pingsan mungkin hahaha

  5. Deg deg deg deg

  6. Re-read 🙄

  7. ArinaSaadah menulis:

    :duhpusingpusing

  8. Si arran serem juga ya… :ayojadian :ayojadian

  9. Yuni Widaningsih menulis:

    Remi yg di cekek gua yang deg degan :sembursemburbyur

  10. Deg2an nii :haisalamkenal :haisalamkenal

  11. Aku ikut deg deg an…

  12. Kereeen

Tinggalkan Balasan