Warfare Of Anchestry

Warfare Of Ancestry Part 1 : The Punisher

Bookmark

No account yet? Register

3.148 votes, average: 1,00 out of 1 (3.148 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

5317 words


© copyright 2017 @projectsairaakira seluruh karya di website ini telah didaftarkan dan dilindungi oleh hukum yang berlaku serta mengikat.

Dilarang meniru, menjiplak, mengubah nama tokoh, mengambil ide baik sebagian maupun keseluruhan isi cerita yang berada di dalam website ini. Kami menyediakan hadiah dan komplimen menarik bagi laporan atau temuan dari vitamins menyangkut usaha plagiat baik keseluruhan maupun sebagian dari karya-karya ProjectSairaAkira yang dipublish di website ini, silahkan hubungi admin kami di [email protected] ^^


Author’s Playlist – Yael Naim – New Soul

I’m a new soul, I came to this strange world, Hoping I could learn a bit bout how to give and take. But since I came here, Felt the joy and the fear, Finding myself making every possible mistake
I’m a young soul in this very strange world, Hoping I could learn a bit bout what is true and fake. But why all this hate? Try to communicate, Finding trust and love is not always easy to make
This is a happy end, Cause’ you don’t understand Everything you have done, Why’s everything so wrong
This is a happy end, Come and give me your hand, I’ll take you far away


[responsivevoice voice=”Indonesian Female” buttontext=”Dengarkan cerita ini”]

Remi hendak membuka mata dengan hati-hati sementara debaran jantungnya makin tak terkendali, memukul-mukul rongga dada hingga terasa nyeri. Darah hangat yang sepertinya masih terus mengucur membasahi Remi, menyisakan cairan hangat dan terasa lengket menembus pakaian dan mengenai kulitnya.

Remi mengerjapkan mata dan ketika menemukan perubahan yang terjadi di depannya, matanya melebar karena terkejut.

Macan kumbang itu sudah tidak ada, digantikan dengan seorang laki-laki berambut hitam sedikit panjang, bertubuh besar yang terbaring lunglai tak sadarkan diri menindih tubuhnya


Baca dulu sinopsis cerita Warfare Of Ancestry dengan klik link ini  :

SINOPSIS CERITA

Tubuh lelaki itu panas, sangat panas, pun dengan darah yang mengalir deras membasahi pakaian dan menetes ke lantai kayu rumahnya yang sederhana, meresap ke sana dan meninggalkan jejak noda cokelat yang menyeramkan. Remi berusaha menarik napas dalam meskipun rongga dadanya terasa sesak karena tertindih oleh tubuh besar yang sangat berat itu. Dengan susah payah, dalam keterbatasan paru-parunya yang kesempitan, Remi berjuang memompa udara ke dalam paru-parunya dan membuatnya megap-megap.

Setelah berhasil menenangkan diri, Remi terdiam dan mempelajari situasi. Dia tidak bisa dalam kondisi seperti ini sampai nanti. Saat ini lelaki ini sepertinya tidak sadarkan diri karena terluka, tetapi bisa saja ketika sadarkan diri nanti lelaki itu jadi sangat berbahaya dan bukan hanya melukai dirinya, tetapi juga adiknya yang tak berdaya, bahkan mungkin juga akan melukai ibunya yang nanti pasti pulang dari tempat kerja.

Lagipula… apakah dia berhalusinasi? Macan kumbang warna hitam tadi tampak jelas di matanya, bahkan suara geramannya pun terasa nyata…

Tetapi kenapa tiba-tiba saja macan kumbang itu hilang dan berubah jadi laki-laki ini? Jelas-jelas sebelum memejamkan mata karena ngeri tadi, macan kumbang itulah yang menubruk dan menindihnya,

Pikiran Remi masih berkutat dengan kebingungan yang menghantui, sementara dirinya berusaha sekuat tenaga mendorong tubuh lelaki itu untuk melepaskan diri dari tindihannya. Lelaki itu sangat berat dan badannya begitu keras karena otot, sangat tidak sebanding dengan tubuh Remi yang kurus kering.

Remi menghela napas panjang dengan susah payah, lalu berusaha menggeser tubuhnya. Tangannya mendorong dada lelaki itu sambil mengerang mengumpulkan kekuatan. Usahanya sedikit berhasil karena dia bisa melepaskan bagian atas tubuhnya, sementara tubuh lelaki yang masih tak sadarkan diri itu menindih bagian bahwa tubuhnya. Napas Remi makin terengah sementara tangannya gemetaran, dia lalu menghela napas panjang sekali lagi. Paru-parunya terasa lega karena beban berat yang menyempitkannya tadi telah terlepas.

Setelah yakin kekuatannya kembali terkumpul, Remi menggeser kembali tubuhnya, menarik pinggulnya sekuat tenaga dari tindihan lelaki itu. Sungguh perjuangan yang berat ketika akhirnya Remi berhasil melepaskan kakinya dan berguling menjauh dari tubuh besar yang berbaring tengkurap tak bergerak sedikitpun.

Seketika Remi bangkit dan setengah terduduk dengan waspada, masih di dekat lelaki misterius tersebut. Cahaya lampu nan remang di ruang tamu sederhana itu menampilkan sesosok tubuh tinggi besar berselimutkan bayang-bayang. Lelaki itu tengkurap, dan meskipun samar… ternyata masih bernapas. Punggungnya naik turun dengan lemah dan Remi mengerjapkan mata ngeri ketika melihat genangan darah menciptakan bayangan basah nan gelap di sekeliling perut lelaki itu, tertindih oleh tubuhnya.

Belum berhasil Remi meredakan kengeriannya, matanya beralih ke bagian tubuh bawah lelaki itu yang telanjang. Seketika itu juga Remi memekik, berjingkat dan menggeser pantatnya mundur semakin menjauh. Dadanya mulai berdebar tak beraturan sementara ketakutan menghantui dirinya.

Bagaimana ini? Bagaimana kalau lelaki ini mati di sini?

Melihat banyaknya darah yang mengucur, kemungkinan besar lelaki itu tidak bisa bertahan dan akan mati kehabisan darah. Kalau sampai hal itu terjadi… bagaimana dia menjelaskannya pada polisi?

Penemuan mayat pasti akan membuat polisi datang dan Remi tidak mungkin menjelaskan bahwa lelaki itu datang dalam wujud macan kumbang yang legam, lalu berubah wujud menjadi manusia yang telanjang dan sekarat di lantai ruang tamunya…. Astaga… bagaimana pula Remi harus menjelaskan mengenai ketelanjangan lelaki itu kepada pihak berwenang? Mereka semua pasti akan mengiranya sebagai pembunuh gila yang menggoda laki-laki, menelanjanginya dan membunuh korbannya ketika lengah.

“Kakak?”

Suara langkah pelan kaki mungil yang dibungkus kaos kaki berbahan wool tebal nan hangat terdengar mendekat, Remi hendak meneriakkan supaya Lenka tidak datang dan melihat pemandangan mengerikan ini, tetapi rupanya terlambat, Lenka sudah berada di ambang pintu, matanya setengah mengantuk tetapi langsung terbelalak lebar melihat apa yang ada di depan matanya.

Kakak perempuannya, Remi sedang duduk seolah bingung dengan pakaian putih seragam pelayannya penuh noda darah yang basah. Pintu rumah terbuka lebar, membuat deru angin dan hujan salju memasuki ruang tamu dan membekukan udara dengan angin dingin yang tertiup masuh ke dalam rumah dan juga… ada sosok tubuh yang tengkurap di lantai kayu, dekat dengan pintu yang terbuka,

Sosok itu juga berkubang darah..

“Kakak tidak apa-apa?” Lenka berlari mendekat, berjongkok di depan Remi dengan wajah pucat hampir menangis, bau darah menguar di udara, memenuhi ruang tamu itu dan menciptakan kengerian di wajah keduanya.

Remi menganggukkan kepala, hendak mengusap rambut Lenka untuk menenangkannya, tetapi menghentikan gerakan ketika melihat bahwa tangannya berlumuran darah, darah lelaki itu.

“Tidak apa-apa, Lenka. Jangan cemas, ini bukan darahku… ini darah makhluk itu.” Remi melirik ke arah tubuh yang tak berdaya tersebut diikuti oleh Lenka yang melebarkan matanya dengan ngeri.

“Siapa dia? Kenapa kau membiarkannya masuk ke dalam rumah? Dan kenapa dia berdarah?” Lenka memberondongkan pertanyaan itu dalam bisikan, seolah takut membangunkan sosok besar itu.

Remi sendiri langsung menggelengkan kepala, “Aku tidak tahu… dia tiba-tiba menerjang masuk..” Remi memutuskan untuk tidak memberitahukan perihal macan kumbang itu kepada Lenka, dia lalu menghela napas dengan bingung, “Dan laki-laki itu… dia terluka parah.”

Lenka menatap kembali ke arah darah yang membasahi pakaian Remi, lalu matanya tertuju kepada genangan darah di tubuh lelaki itu,

“Apakah dia akan mati?” tanyanya cemas, “Polisi akan datang kemari… kita akan mendapat masalah.” suara Lenka bergetar karena takut.

Dan ketakutan itu menular. Remi tahu apa yang menyebabkan Lenka begitu cemas, hal ini menyangkut hak asuh dirinya yang diragukan oleh dinas sosial. Dinas sosial berkali-kali berkunjung dan mereka menilai bahwa ibunya yang hanyalah seorang buruh pabrik rendahan tidak akan sanggup membiayai kesehatan dan kehidupan Lenka dengan layak. Dinas sosial akan segera mengambil Lenka dan memisahkan dari mereka kalau sampai mereka menemukan satu saja hal yang bisa menjatuhkan nilai ibunya dan membuat mereka memiliki alasan untuk mengambil alih Lenka. Penemuan mayat di rumah ini akan merusak segalanya, polisi akan ikut campur dan dinas sosial akan menemukan alasan untuk mengambil Lenka dengan alasan ibunya tidak bisa menyediakan rumah yang aman.

Remi tidak akan membiarkan itu terjadi. Mereka adalah satu keluarga dan meskipun hidup kekurangan, mereka layak diberi kesempatan untuk saling menguatkan satu-sama lain dan tak boleh dipisahkan.

Yang pertama kali harus dilakukan adalah berusaha supaya tidak ada mayat untuk mencegah semua mimpi buruk di masa depan itu sampai terjadi.

“Kita harus menyelamatkan laki-laki itu, dia tidak boleh mati.” Remi menggigit bibirnya, lalu berusaha bangkit dari posisi duduknya di lantai.

“Dia luka parah… dan kau bukan dokter…” Lenka berucap ragu, sekali lagi melirik ke arah Remi dengan ragu.

“Setidaknya kita lihat dulu lukanya, dan jika itu tidak bisa kita tangani, aku akan mencoba mencari pertolongan.” Remi berbisik putus asa, tahu bahwa pertolongan di malam berhujan salju di antara lingkungan perumahannya yang hanya berisi lansia yang sedang berjuang melawan rematik dan hawa dingin bukanlah ide yang bagus. Remi harus berjalan keluar komplek perumahan di area pinggiran ini, melalui daerah pertokoan yang kosong dan sepi karena malam sudah semakin larut sebelum kemudian bisa mencapai rumah sakit terdekat untuk memanggil dokter. Semua hal itu bisa dicapai dengan mudah jika mereka memiliki telepon, tetapi jangankan memiliki ponsel, bahkan mereka terlalu miskin untuk membayar tagihan telepon hingga sambungan telepon mereka dicabut sudah sejak beberapa bulan yang lalu, dan bagaimana pula mereka akan membayar biaya jasa dokter yang sangat mahal?

Ibunya baru akan pulang delapan jam lagi dan bisa lebih lama jika ternyata ibunya mendapatkan shif lembur tambahan yang cukup panjang. Di musim dingin ini, permintaan terhadap pabrik pemintalan benang tempat ibunya bekerja biasanya cukup tinggi sehingga membuat pabrik mempekerjakan pegawainya dalam masa lembur yang panjang untuk memenuhi jumlah pesanan yang bertambah hampir berkali-kali lipat dari bulan-bulan lainnya. Satu-satunya harapan yang dimiliki oleh Remi jika kondisinya mendesak adalah dengan menemui Giza, atasannya itu pasti akan bersedia menolongnya nanti. Tetapi sekarang Remi harus berusaha keras sendiri untuk menyelamatkan nyawa lelaki ini.

Setidaknya kalau lelaki ini mati nanti, dia tidak mati di rumahnya.

“Aku akan mengatasinya.” Remi berucap kepada dirinya sendiri sambil menguatkan hati. Setelah mengumpulkan tekad, Remi berjalan ke pintu depan, meloncati tubuh laki-laki itu dengan berhati-hati sebelum kemudian menutup pintu depan. Suasana berubah hening ketika pintu tertutup karena deru angin bercampur salju terhalang masuk. Remi memeluk dirinya sendiri dan menggigil, pakaiannya basah oleh darah yang mulai mendingin, membuat tubuhnya hampir membeku.

Lenka masih tertegun dan menatap ke sosok lelaki itu, dia lalu menatap Remi ragu.

“Dia… tidak memakai baju.” ujarnya pelan.

Pipi Remi memerah dan bersyukur karena cahaya lampu ruang tamu ini cukup remang sehingga membuat ketelanjangan lelaki itu tidak terpampang nyata.

“Aku akan mengambil perlengkapan dan berusaha menyelamatkan nyawa lelaki itu.” Remi berucap dengan suara serak lalu melangkah menghampiri Lenka,

“Ayo Lenka, kau harus tidur di kamarmu yang aman, jaga dirimu dan jangan dekat-dekat dengan laki-laki itu, dia mungkin berbahaya dan aku ingin kau selamat.” Remi menghela tubuh Lenka, mendorongnya ke arah tangga, “Masuk ke kamarmu.” Remi memerintah lagi dengan tegas ketika melihat Lenka masih berdiri ragu di ujung tangga.

“Tapi kau akan sendirian…” ujar Lenka pelan.

“Aku akan baik-baik saja, aku akan mengikat lelaki itu sehingga dia tidak bisa melukai kita. Naik ke kamarmu dan kunci dirimu dari dalam, aku akan mengetuk pintu kalau semua sudah baik-baik saja.” perintah Remi tenang meskipun hatinya bergolak tidak yakin.

Sekali lagi Lenka melemparkan tatapan tidak yakin kepada Remi. Tetapi anak itu sudah diajarkan untuk selalu patuh pada orang tua. Dia lalu menghela napas panjang dan mengangguk pelan sebelum kemudian melangkah menaiki tangga menuju kamar kecilnya yang berada di atas loteng.

Remi menunggu sampai pintu kamar Lenka tertutup rapat sebelum kemudian bergegas menuju kamar mandi. Dia langsung melepas pakaiannya yang basah terkena darah, menaruhnya di kantong plastik untuk dibuang ke tempat pembakaran esok pagi. Kemeja putih lengan panjang itu adalah seragam kerjanya satu-satunya yang dibelikan oleh Giza untuknya, Remi mungkin harus memberikan penjelasan kepada Giza karena datang tanpa seragam jika bekerja nanti.

Dengan cekatan Remi membasuh tubuhnya, membersihkan sisa-sisa darah yang berbau anyir sebelum kemudian meraih pakaian seadanya yang tersampir di gantungan baju di dekat kamar mandi. Remi mengambi piyama tebal musim dingin tua miliknya yang berwarna abu-abu dan segera memakainya. Setelah itu dia bergegas ke dapur, mengambil air hangat ke dalam botol kaca, baskom kecil, handuk, seprei, selimut tebal dan segala perlengkapan lainnya dan dimasukkan ke keranjang besar yang tersedia. Dia lalu mendorong keranjang besar itu dengan susah payah dan membawanya ke ruang tamu.

Begitu sampai di ambang ruang tamu, jantung Remi berdebar kencang. Ingatannya akan macan kumbang yang mengerikan itu kembali muncul, membuat bulu kuduknya berdiri.

Bagaimana kalau nanti macan kumbang itu muncul lagi dan menyerangnya?

Dada Remi hampir pecah oleh rasa takut ketika akhirnya dia memberanikan diri melongokkan kepala ke area ruang tamu. Tanpa bisa ditahan dia mendesahkan kelegaannya ketika melihat sosok lelaki itu masih ada di sana, terbaring tengkurap dan masih tak sadarkan diri.

Perlahan Rem menyeret keranjang besar tersebut mendekati sosok lelaki itu, dia lalu berlutut di dekat tubuh telanjang tersebut dan menghela napas panjang.

“Kau datang ke rumah yang salah.” tanpa sadar Remi berbicara pada sosok yang tak sadarkan diri itu, “Sekarang… apa yang harus kulakukan kepadamu?”

Pertanyaan itu mengambang di udara dan Remi tahu bahwa dia sendirilah yang harus menjawab pertanyaan itu. Sambil menghela napas panjang sekali lagi, Remi menguatkan diri dan mengumpulkan tenaga untuk membalikkan badan lelaki itu.

Usahanya sangat keras hingga napasnya yang tersengal memenuhi ruangan, terdengar jelas di telinganya sendiri. Tubuh lelaki itu sangat berat, apalagi dalam kondisi tak sadarkan diri seperti ini dan Remi harus benar-benar mengerahkan kekuatan sebelum pada akhirnya berhasil membalikkan tubuh lelaki itu hingga berguling telentang ke sisi lantai yang kering dan meninggalkan genangan darah di sebelahnya.

Sambil mengalihkan pandang dengan pipi memerah, Remi melemparkan handuk besar di area selangkangan lelaki itu untuk menutupi ketelanjangannya, setelah itu pandangannya teralihkan ke sumber pendarahan yang terus menerus mengucurkan darah segar.

Luka itu berasal dari area perutnya, tepat di bawah dada sebelah kiri yang jika meleset sedikit saja pasti mengenai jantung lelaki itu. Sebuah luka memanjang seperti terkena sayatan… atau cakaran tajam tampak merobek kulit tubuh lelaki itu dan mengucurkan darah yang terus mengalir menyeramkan.

Remi menghela napas panjang, setengah bingung akan apa yang harus dia lakukan. Setelah menguatkan hati, Remi mengambil tali kecil yang tadi sempat diselipkannya ke keranjang dan mengikatkannya ke kedua tangan lelaki itu, menjadikannya satu di atas kepalanya, setelah b beres, dia lalu mencelupkan handuk ke air hangat, memerasnya hingga tidak ada air yang menetes sebelum kemudian mengusapkannya ke luka di depan matanya.

Suara erangan terdengar dari mulut lelaki itu, membuat Remi berjingkat kaget. Matanya memandang cepat dan sedikit mendesah lega ketika melihat bahwa lelaki itu masih terpejam. Perlahan, mengabaikan erangan kesakitan lelaki itu, Remi mengusap darah yang terus mengalir dari luka tersebut, membersihkannya hingga hanya guratan robek yang menampilkan daging berdarah menganga di kulit perut lelaki itu.

Ini benar-benar seperti luka cakaran… cakaran sesuatu yang sangat besar.

Remi menelan ludah, tidak bisa menahan diri untuk bersyukur karena ternyata luka lelaki itu tidak semengerikan tampilannya ketika masih tergenang darah. Perlahan dia melakukan apa yang harus dia lakukan, dengan cekatan ditempelkannya cairan obat ke perban besar yang sudah dilipat-lipat sebelum kemudian ditempelkannya ke luka lelaki itu. Remi tahu bahwa luka itu butuh dijahit, apalagi dengan sobekan parah begini, tetapi dia tidak punya keahlian itu. Yang bisa Remi lakukan adalah menempelkan obat untuk menghentikan pendarahan dan menutup luka itu dengan perban, sambil berharap lelaki itu bisa bertahan, setidaknya sampai dia bangun dan meninggalkan tempat ini.

Kalaupun lelaki itu harus mati, yang penting jangan mati di rumahnya karena akan sangat merepotkan.

Setelah luka lelaki itu tertutup, Remi memerhatikan dengan cemas balutan perbannya yang rapi. Ada noda merah di sana yang menunjukkan bahwa cairan darah masih mengalir dan memembus perban tebal tersebut, tetapi setidaknya sekarang darah tidak mengalir kemana-mana.

Dengan cekatan Remi lalu mengambil lap basah dan kain pel, dibersihkannya seluruh genangan darah di lantai sampai lucin, setelah itu dia mengambil kain sprei tebal, sedikit ragu sebelum kemudian memutuskan mengerahkan tenaga lagi untuk memberi alas lelaki itu tidur. Dimiringkannya tubuh lelaki itu di satu sisi sebelum kemudian menyelipkan kain seprei di bawah tubuhnya, dimiringkannya juga ke sisi yang lain untuk menarik kain sprei tersebut sehingga terselip sepenuhnya di tubuh lelaki tersebut. Setelah selesai, Remi memandang puas hasil karyanya dengan keringat bercucuran dan napas terengah.

Tanpa sengaja mata Remi tertuju di area selangkangan lelaki itu, tempat handuk yang tadi ditutupkan seadanya di sana sedikit tersingkap. Tanpa bisa ditahan, pipi Remi memerah, dia lalu bergegas melemparkan selimut tebal miliknya menutupi seluruh tubuh lelaki itu, mengaturnya untuk  menutup sampai ke dagu.

Remi menghela napas panjang, menggosok-gosok kedua telapak tangannya sendiri yang kedinginan. Bagaimanapun juga, dia tidak punya tenaga untuk menggeser tubuh lelaki itu lebih jauh, karena itulah dia terpaksa membiarkan lelaki itu terbaring di lantai sampai sadarkan diri nanti.

Remi lalu melangkah mundur ke sudut ruangan, dia lalu duduk bersandar meringkuk di dinding sambil menyelimutkan selimut tebal yang satu lagi menutup seluruh tubuhnya sampai ke bawah leher. Disamping tubuhnya, ada pisau dapur besar yang sengaja dibawanya untuk berjaga-jaga.

Malam yang tidak terduga itu membuat tubuh Remi lelah sekali, sekuat tenaga dia berusaha untuk terjaga, tetapi sayang rasa kantuk tidak bisa begitu saja terusir pergi. Pada akhirnya, setelah usaha yang begitu keras, Remi memejamkan mata dan menyerah pada kantuk yang amat sangat.

***

Cahaya matahari pagi menembus tirai jendela menghamparkan cahaya warna warni yang menembus tepat mengenai mata Arran, membuatnya mengerutkan kening seolah terusik dari kegelapan yang mengungkunginya dan menidurkan kesadarannya.

Arran mengerjapkan mata, mengerang perlahan ketika rasa tidak nyaman meliputi seluruh tubuhnya.

Dimana dia?

Pikiran Arran langsung bekerja, memompa kesadaran membanjiri ingatannya yang sempat tak sadarkan diri. Bayangan-bayangan langsung berkelebat tumpang tindih di dalam otaknya dan memunculkan gambaran terakhir yang dia ingat.

Dia sedang bertarung dengan salah satu pengubah wujud yang mengambil bentuk singa dan melawan sekuat tenaga sebelum dihabisi. Pengubah wujud dalam bentuk singa biasanya merasa kuat sehingga menjadi pongah dan cenderung memberontak. Sudah tugas Arran untuk menyapu bersih makhluk-makhluk pemberontak yang bebal itu supaya tidak mengganggu keseimbangan di dunia rahasia di bawah bayang-bayang yang telah mereka jaga dengan hati-hati.

Ya, apa yang muncul di dunia ini memang kadangkala tidak seperti apa yang dilihat mata. Di balik lapisan gelap dan berdiri di balik bayang-bayang, ada kaum pengubah wujud yang bertebaran di seluruh bumi, mengambil rupa sebagai manusia biasa, bahkan hidup sebagai manusia biasa tanpa ada orang yang tahu.

Kaum pengubah wujud bisa berubah menjadi apapun, tergantung klan mana yang mengaliri darahnya. Ada tiga klan pengubah wujud di bumi ini, klan darat yang hanya bisa berubah menjadi makhluk darat, klan air yang bisa berubah menjadi makhluk air dan juga klan udara yang bisa berubah menjadi makhluk udara. Setiap kaum pengubah wujud tidak hidup secara independen dan semaunya sendiri, sebab ada pemerintahan tak kasat mata dengan kekuasaan luar biasa besar yang mengatur semuanya dan menerapkan peraturan yang harus dipatuhi. Mereka semua dipimpin oleh kaum tetua, kaum pengubah wujud dari golongan aristrokat yang merupakan gabungan dari anggota terkuat dari ketiga klan yang berbeda yang sudah mencapai puncak tertinggi dari kekuatan pengubah wujud yang mereka miliki.

Kasta dari kaum pengubah wujud ditentukan oleh seberapa kuat wujud apa yang berhasil diambil. Semakin besar, semakin kuat perwujudan yang diambil ketika berubah, semakin tinggi kastanya. Dan untuk mencapai kekuatan yang bisa mengubah hingga berubah sekuat itu, membutuhkan pelatihan bertahun-tahun dan bahkan sampai seumur hidup karena ada beberapa kaum pengubah wujud yang hanya bisa mencapai level tertentu dan bahkan tidak bisa naik lagi sampai akhir hidupnya.

Wujud tertinggi yang bisa dicapai oleh Klan udara adalah burung elang, klan air adalah ikan hiu dan untuk klan darat adalah wujud macan kumbang hitam, dan Arran sudah berhasil mencapai wujud macan kumbang hitam di usia yang terbilang masih muda, membuatnya cukup dihormati karena memiliki kekuatan selevel para tetua yang membutuhkan waktu cukup lama untuk mencapai level tersebut. Mungkin itu semua terjadi akibat darah aristrokat murni yang mengalir di tubuhnya, kedua orang tuanya yang kini telah tiada sama-sama seorang tetua dan sama-sama memiliki kemampuan berubah wujud menjadi macan kumbang hitam.

Bisa berubah menjadi macan kumbang membuat Arran otomatis menjadi salah satu dari para tetua yang sedikit jumlahnya tetapi ditakuti dan memiliki kuasa. Tetapi karena usia Arran masih muda, dua puluh tujuh tahun, maka dia memegang tugas yang lebih membutuhkan kekuatan fisik, yaitu sebagai pemimpin dari Kaum yang disebut sebagai Kaum Penghukum, mereka adalah gabungan dari kaum pengubah wujud dari ketiga klan yang dipilih secara khusus karena memiliki kekuatan istimewa dengan tugas istimewa pula. Mereka bertugas memberi hukuman mati serta sapu bersih kepada para kaum pengubah wujud yang membelot atau melanggar peraturan yang telah diterapkan oleh para tetua.

Si Singa telah berhasil dihabisinya, lelaki itu mengambil rupa  manusia sebagai  Leonidas, seorang  lelaki yang memiliki impian tamak untuk menguasai kota ini sebelum kemudian menguasai lingkup yang lebih besar. Leonidas dan kelompoknya merampok orang-orang tak bersalah dan menakut-nakuti para manusia itu dengan wujud singa dan hewan-hewan lain yang mengerikan. Leonidas juga mengumpulkan beberapa pengubah wujud lain yang memiliki satu tujuan dengannya untuk menimbulkan kericuhan di kota ini. Sudah beberapa korban manusia tak berdosa yang berjatuhan dan tercatat dalam kasus kematian misterius di mata manusia. Jumlah korban itu masih akan terus bertambah, sementara pihak berwenang tidak tahu apa yang terjadi karena saksi mata yang tersisa dibunuh atau dihilangkan ingatannya. Pada akhirnya, karena masalah ini semakin membesar dan mengusik yang lainnya, Arran dan anak buahnya dikirim dari belahan benua lain oleh para tetua untuk menyelesaikan masalah.

Leonidas cukup sulit dihabisi, karena dia sudah memiliki kemampuan lebih hingga bisa berubah menjadi singa yang sangat kuat, karena itu Arran sebagai yang terkuatlah yang harus menghabisinya. Anak buah Leonidas yang lain yang mengambil wujud lemah seperti serigala dan hyena dan rubah sudah disapu bersih oleh anak buah Arran tanpa tersisa. Segala masalah seharusnya beres kalau saja Leonidas tidak melarikan diri sampai ke tengah hujan dan membuat Arran harus mengejarnya seorang diri, terpisah dari pasukannya dan kemudian lengah karena membiarkan Leonidas sampai melukainya.

Pada akhirnya Arran berhasil membunuh Leonidas, membiarkan mayat lelaki itu berubah wujud kembali menjadi manusia di tengah hutan, sebelum kemudian dia berbalik meninggalkan hutan dengan tubuh terluka, hendak kembali kepada kelompoknya.

Sayangnya luka itu mengenai bagian vital tubuhnya yang terus menerus mengucurkan darah hingga membuatnya kehilangan kesadaran.

Arran sekuat tenaga berjuang untuk sadar karena kenyataan bahwa ketika seorang pengubah wujud kehilangan kesadaran, dia akan kembali ke wujud manusianya yang lemah, dan itu tidak boleh terjadi kepadanya. Sekuat tenaga Arran berusaha berlari dalam wujud macan kumbang, menembus kegelapan dan hujan salju yang membekukan, lalu entah kenapa berakhir di sebuah pemukiman sunyi.

Seketika Arran mengerjapkan mata kembali dan kemudian membuka matanya lebar-lebar.

Anak perempuan itu….

Terakhir kali yang diingat Arran adalah ketika dia bertatapan dengan anak perempuan kurus yang sedang memasuki salah satu rumah, setelah itu dia tidak ingat apa-apa lagi.

Dengan waspada Aran terbangun duduk, lalu memindai ke sekeliling tempat dirinya berada. Dia berada di sebuah ruangan kecil, sepertinya di ruang depan, berbaring di lantai kayu dengan beralaskan sprei dan ada dalam wujud manusianya. Tubuhnya telanjang dan terbungkus selimut tebal, dan tangannya terikat…

Arran  tersenyum masam, lalu menarik kedua tangannya dengan tenaga tak berlebih dan seketika tali menyedihkan yang mengikat kedua tangannya langsung terputus cepat. Aran membuang tali itu dari pergelangan tangan, lalu membuka selimutnya untuk memeriksa luka bekas cakaran Leonidas di tubuhnya. Kening Arran berkerut ketika melihat perban tebal yang membungkus lukanya itu.

Seseorang telah merawat lukanya…

Tangan Arran bergerak perlahan menarik perban yang menempel erat di luka itu. Perban itu sudah berubah menjadi warna cokelat tua, penuh dengan darah yang mengering, tetapi tidak ada darah baru yang membasahi.

Arran melemparkan perban itu dan menatap permukaan kulitnya sendiri. Seorang pengubah wujud, apalagi yang berada di kasta lebih tinggi memiliki kemampuan regenerasi dan menyembuhkan diri yang cukup cepat, yang pasti lebih cepat dibandingkan manusia kebanyakan. Saat ini lukanya yang semalam tampak parah dan menganga penuh darah telah berubah menjadi gurat garis tipis menyatu berwarna merah muda yang kontras di kulitnya yang cokelat keemasan seperti perunggu.

Sebuah gerakan di ujung ruangan membuat Arran membeku dan waspada. Mata emasnya langsung tertuju ke sumber suara dan dirinya langsung tertegun.

Ada seorang perempuan di sana, dan jika dia tidak salah ingat, perempuan itu adalah sosok yang ditemuinya semalam.

Apakah perempuan itu yang merawat serta memberikan perban di lukanya?

Arran menipiskan bibir dengan sombong ketika meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia tidak perlu merasa berterima kasih kepada perempuan itu. Arran tidak berhutang nyawa kepada perempuan itu, entah dia ditolong atau tidak, Arran sudah pasti akan sembuh dengan sendirinya tanpa bantuan.

Interaksi dengan manusia memang selalu merepotkan dan kadang membuat Arran terpaksa menggunakan kekuatannya menghilangkan ingatan untuk melenyapkan saksi mata. Dan sepertinya sekarang dia harus melakukan yang satu ini kepada perempuan itu.

Dengan tenang dan tanpa suara, seperti gerakan seekor macan kumbang yang mengincar mangsa, Arran bangkit berdiri, melepaskan diri dari sprei dan selimut yang membungkus tubuhnya. Dia telanjang tetapi tak peduli, tubuhnya yang indah memang tidak perlu ditutupi selain untuk kepentingan normatif sementara, otot-otot memenuhi seluruh dirinya, membuat permukaan kulitnya terlihat keras dan menampilkan kekuatannya.

Arran berjalan perlahan mendekat ke arah perempuan yang masih berbaring meringkuk terbungkus selimut dan tampak sangat terlelap, rambut hitamnya yang sedikit panjang sampai ke pundak berkilauan terkena matahari ketika Arran berhenti tepat di depan jendela yang terbuka di depan perempuan  itu.

Mata emas Arran mengawasi sosok perempuan di depannya, menghidu baunya untuk memindai seluruh identitas fisiknya hingga Arran pasti akan mengenali perempuan itu ketika mereka bertemu lagi. Setelah itu Arran membungkuk, meletakkan jemarinya untuk menangkup dahi perempuan itu.

Perempuan itu ternyata bukan anak-anak…. Arran menyimpulkan dalam hati ketika melihat lebih dekat. Tubuhnya memang mungil dan kurus hingga seperti anak remaja, tetapi ini adalah perempuan yang sudah cukup matang… sepertinya baru berumur awal dua puluhan. Penampilannya biasa saja, tetapi entah kenapa proposi bagian-bagian wajahnya tampak begitu sempurna, berpadu dalam tangkupan wajah berbentuk hati dengan dagu lancip yang juga mungil.

Sejenak Arran terpesona, tetapi dia mengerjapkan mata untuk mengembalikan kesadaran. Ditekannya tangannya ke dahi perempuan itu, lalu mengucapkan mantra sambil menyalurkan energi untuk menyerap ingatan dari kepala perempuan itu.

Setelah selesai, Arran melangkah mundur sementara matanya masih mengawasi tubuh perempuan muda itu. Selimutnya tampak sedikit tersingkap, memunculkan pundak rapuh yang terbungkus piyama lusuh kedodoran dan Arran, di luar kebiasaannya, tidak bisa menahan diri lalu menarikkan selimut supaya membungkus kembali tubuh perempuan itu, membuat desah nyaman keluar dari bibir lembut yang sedikit ternganga dalam lelap, bersamaan dengan suara ketukan pelan di pintu.

Arran menoleh ke pintu dan mengerutkan kening.

“Masuklah.” perintahnya tenang setelah mengetahui siapa yang berada di depan pintu.

Pintu itu terbuka, dan sosok lelaki bertubuh ramping dengan rambut pendek berwarna pirang pucat nyaris putih dan warna mata keperakan melangkah masuk.

“Apakah kau membawa pakaianku, Yerev?” Arran tidak mau repot-repot menoleh, pandangannya masih tertuju pada sosok perempuan yang tak sadarkan diri di depannya.

“Tentu saja, boss.” Yerev menjawab tenang, melangkah mendekat sambil menunjukkan tas berisi pakaian yang di bawanya, “Kami tidak bisa menemukanmu semalam, badai salju telah mengahapus semua jejak dan membuat kami kesulitan melacak. Baru ketika matahari bersinar dan mencairkan salju, kami bisa menemukanmu di sini.”

Arran hanya menganggukkan kepala tenang, lalu menerima tas berisi pakaian itu dari tangan Yerev. Dia membuka tas itu dan memakai pakaiannya dengan efisien, celana hitam dan kemeja hitam yang menempel pas di tubuhnya.

Yerev sendiri memandang ke sekeliling ketika Arran yang sedang berganti pakaian. Mata peraknya menemukan sprei dan selimut yang acak-acakan di lantai, pun dengan perban berwarna cokelat bekas darah kering yang dilemparkan begitu saja di lantai. Pandangannya kemudian berakhir ke sosok perempuan yang kehilangan kesadaran yang sudah memaku tatapan Arran terlebih dulu.

“Dia menyelamatkanmu?” Yerev berdiri di sebelah Arran yang terpaku, merendahkan suaranya seolah takut membangunkan sosok di depan mereka.

Arran melemparkan pandangan sinis ke arah Yerev, lalu menggelengkan kepala.

“Kau pikir aku membutuhkan perempuan lemah untuk menyelamatkan nyawaku? Tidak. Perempuan ini hanya tidak sengaja mengganggu jalanku. Dengan atau tanpa dirinya aku akan tetap selamat.”

Ada kesombongan mencuat dari suara Arran dan Yerev memakluminya. Di kalangan pengubah wujud, Arran termasuk golongan aristrokat murni dari kaum pengubah wujud. Mereka berada dalam kasta tertinggi sehingga tidak perlu membungkuk memberi hormat pada orang lain, apalagi pada manusia biasa.

“Kau sudah menghilangkan ingatannya?” Yerev bertanya lagi untuk memastikan.

“Sudah.” Arran menghidu dengan indra penciumannya yang tajam, lalu melirik ke arah tangga, “Bereskan kekacauan di sini supaya keberadaanku sebelumnya tidak terendus, dan ada satu lagi yang sedang tidur di atas, kau pergilah ke sana untuk menghilangkan ingatannya, setelah itu kita pergi dari sini.

***

Ketika Remi membuka mata, dia benar-benar terkesiap, sangat terkejut karena seketika itu juga kesadarannya kembali membawa ingatan malam sebelumnya.

Dengan penuh kewaspadaan, Remi meraih pisau di samping tubuhnya, lalu mengacungkannya ke depan dan melemparkan pandangan was-was ke tengah ruang depan untuk berjaga-jaga.

Tapi apa yang ditemukan oleh matanya membuat Remi tertegun bingung.

Sosok laki-laki itu sudah tidak ada. Lantai tempat lelaki itu berbaring di malam sebelumnya benar-benar bersih seolah tidak pernah ada yang berbaring di sana.

Remi bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati lantai itu, kakinya menginjak di sana sementara matanya memindai dengan penuh kehati-hatian tetapi tetap saja dia tidak menemukan apa-apa.

Dimana sprei dan selimut yang dia gunakan untuk membungkus lelaki itu?

Remi memandang sekeliling rumah dengan bingung karena tidak menemukan jawaban. Dahinya berkerut dalam karena pertanyaan-pertanyaan yang bergulir di dalam jiwanya.

Apakah semalam cuma mimpi?

“Aku lapar.”

Suara Lenka yang tiba-tiba muncul mengejutkan Remi hingga memuatnya terloncat dari posisinya berdiri. Lenka berada di ambang pintu, masih mengenakan piyama tidur dengan kondisi rambut acak-acakan dan mata mengantuk.

Mata Lenka menemukan selimut yang teronggok di ujung ruangan bekas tidur Remi, lalu beralih ke arah Remi dengan penuh tanda tanya.

“Kenapa kau tidur di ruang tamu? Dan kenapa kau membawa pisau di tanganmu?” tanyanya kemudian.

Remi menatap Lenka bingung, lalu menelengkan kepala sebelum balas bertanya dengan hati-hati.

“Kau tidak ingat lelaki yang semalam? Yang terluka dan berdarah-darah di sini?” tangan Remi menunjuk ke lantai yang dia injak, mencoba mencari kepastian.

Pertanyaannya itu membuat Lenka memandang Remi seperti orang aneh, lalu menggelengkan kepala pelan.

“Apakah kau semalam terlalu lelah hingga setengah mimpi? Tidak ada apa-apa semalam.” ucapnya polos, “Aku lapar… maukah kau membuatkan sarapan untukku?” Lenka mengulang lagi pernyataannya seolah-olah apa yang dikatakan oleh Remi itu bukanlah sesuatu yang penting, adiknya itu kemudian membalikkan badan tanpa menunggu jawaban dari Remi, menuju dapur sambil menanti sarapannya disiapkan.

Sementara itu Remi masih terperangah memandang kepergian adiknya dengan mata nanar. Setelah lama, Remi menunduk kembali dan menatap lantai bersih di bawah kakinya, lalu menggaruk kepalanya dengan bingung.

Apakah semalam memang benar-benar mimpi?

***

“Remi.”

Suara panggilan itu membuat Remi tersentak dari kegiatannya mengeringkan gelas-gelas kotor yang sudah dicuci. Sebuah gelas besar tergelincir dari tangannya, hampir jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping. Beruntung Giza yang telah berpengalaman langsung bergerak gesit, membungkuk dan menangkap gelas itu sebelum jatuh ke lantai.

“Kau sepertinya banyak pikiran. Kenapa? Apakah Lenka sakit lagi?” Giza meletakkan gelas itu perlahan pada rak gelas di samping wastafel sebelum kemudian menatap Remi penuh perhatian.

Remi sendiri segera menggelengkan kepala, menatap penuh rasa bersalah ke arah Giza. Dia tidak mungkin menceritakan tentang mimpi anehnya semalam, bukan? Giza mungkin akan menganggapnya sedang frustasi hingga pikirannya terganggu.

“Tidak.. aku hanya mengalami mimpi buruk semalam… mimpi yang cukup mengganggu.” Remi akhirnya menjawab pelan untuk meredakan kecemasan di mata Giza.

“Mimpi buruk?” Giza mengangkat sebelah alis, “Secangkir kopi vanila dengan paduan kayu manis segar mungkin membantu. Kau mau kubuatkan? Kebetulan aku sedang senggang.”

Remi tersenyum mendengar tawaran itu, lalu tidak bisa menahan diri untuk menganggukkan kepala. Kesenangan bekerja di Merlion Cafe salah satunya adalah karena Giza sangat murah hati, sering memberikan kopi atau minuman gratis dan juga kue-kue buatannya yang sangat lezat dan pantas disyukuri.

Kopi buatan Giza selalu menenangkan hati, diracik khusus dengan tangan-tangannya yang ahli dan perpaduan berbagai macam bahan sesuai takaran, menonjolkan rasa kopinya nan nikmat tetapi juga berteman dengan pendampingnya yang memperindah rasa. Remi menyukai, bahkan memuja seluruh kopi buatan Giza untuknya.

“Duduklah dan beristirahatlah sebentar. Lagipula kau belum mengambil waktu istirahatmu sejak tadi” Giza melirik ke sebuah kursi dan bergerak ke belakang pantry, “Aku akan membuatkan kopi untukmu.”

Remi hanya menganggukkan kepala, memandang ke sekeliling dimana hanya ada dua orang pelanggan di sudut ruangan sedang menikmati minuman mereka sambil membaca koran. Kedai ini ramai di pagi hari hingga menjelang makan siang, ketika sore hari suasana cukup sepi dengan satu dua pelanggan yang datang sehingga Remi bisa beristirahat sejenak sebelum kemudian kembali bertugas ketika kedai mulai ramai kembali setelah malam datang.

Remi melepaskan celemeknya dan menggantungkannya di gantungan yang tersedia, dirinya kemudian melangkah ke tempat duduk satu meja yang terletak di depan etalase di dekat pintu dan mengambil buku catatan keuangan dari laci, dia akan mencicil membuat catatan keuangan sore ini supaya malam nanti hanya sedikit yang dikerjakannya.

Ketika Remi membuka buku catatan keuangannya, suara lonceng terdengar dari pintu, pertanda ada yang membuka pintu kaca cafe mungil itu dan masuk ke dalam. Dengan penuh rasa ingin tahu Remi mengangkat kepala dan memandang ke pintu, ingin melihat siapa pelanggan yang datang di waktu tak biasa di kala senja seperti ini.

Mata Remi melebar ketika menemukan ada banyak laki-laki dengan penampilan tak biasa melangkah memasuki cafe. Dia menghitung dalam hati dan melihat ada lima orang yang melangkah masuk dan memenuhi ruangan ini dengan aromanya.

Mereka semua bertubuh tinggi dan besar dan masih muda, berbeda dengan pelanggan cafe ini yang biasanya merupakan kaum setengah baya yang mencari kehangatan di tengah salju dingin yang melingkupi kota ini sepanjang tahun. Dan yang membuat Remi tak bisa mengalihkan pandangan adalah karena pakaian mereka yang tampak sangat mahal, seperti diambil langsung dari buku katalog mode dan dipakai oleh model laki-laki bertubuh indah yang terefleksikan di depan matanya.

Apakah laki-laki ini para model yang kebetulan terdampar di pinggiran kota bersalju ini? Atau mereka sedang melakukan syuting film dan sejenisnya?

Mata Remi menelusuri sekelompok laki-laki yang mengambil tempat duduk di meja besar di tengah cafe, memerhatikan penampilan glamor mereka dengan seksama. Salah seorang dari mereka, yang berambut pirang pucat tiba-tiba berjalan menuju meja tempat Giza sedang membuat kopi dan hendak memesan. Mata perak lelaki itu lalu terarah kepada Remi seolah sadar sedang diamati, dan kemudian tanpa disangka-sangka, si rambut pirang mengedipkan sebelah mata dengan menggoda ke arah Remi, membuat Remi langsung menunduk dengan pipi memerah karena malu.

Lelaki itu memesan beberapa kopi dan kue untuk teman-temannya, lalu melangkah kembali kepada mereka, sementara Remi berusaha sekuat tenaga menahan diri untuk tidak mencuri-curi pandang ke arah kelompok itu. Dia berusaha berkonsentrasi dan menenggelamkan diri ke dalam buku catatan keuangan di depannya sampai lehernya kaku.

Di kota kecil dengan kehidupan monoton seperti ini, sesuatu yang baru terasa sangat menarik dan mencerahkan mata. Remi melirik ke arah Giza dan menahan senyum, bahkan Giza sekalipun yang pernah hidup di kota besar ketika suaminya masih hidup juga tampak mencuri-curi pandang ke arah kelompok itu.

Suara lonceng pintu terdengar lagi, pertanda ada yang masuk. Dan entah kebetulan atau bukan, hawa dingin tiba-tiba menyusup masuk dari luar, menghantarkan angin membeku yang langsung menyapa Remi dan membuat buku kuduknya berdiri.

Lalu tiba-tiba, ada hawa seram yang tidak menyenangkan merayapi diri Remi, membuat tulang punggungnya menggelenyar penuh peringatan seiring dengan keheningan yang entah kenapa menyelimuti seisi cafe itu kemudian. Remi mengerutkan kening bingung dan kali ini tidak bisa menahan diri untuk memutar kursinya dengan penuh rasa ingin tahu untuk mencari sumber rasa tidak nyaman yang tiba-tiba terasa.

Dan mulut Remi ternganga ketika matanya bertemu dengan mata berwarna emas yang balas menatapnya tajam

Bersambung ke Part Berikutnya

[/responsivevoice]

760 Komentar

    1. Arran Remi menulis:

      Ikutan ah :ihircihuy

  1. loh Lenka lupa ingatan, Remi masih inget pas bangun. kenapa ya

  2. Nadia Putri Rosanti menulis:

    Nggak lupa tuh remi, ran :NGAKAKGILAA

  3. Ivena Almira menulis:

    Tinggalkan jejak dulu

  4. yuhu.. baca ulang dari awal soalnya udh lupa kmrn terakhir baca sampe part brp

  5. Antika Hadinata menulis:

    :lovely

  6. Reminya kok bisa nggak lupa yaa?

  7. Cenayang gadungan menulis:

    :kumenangismelepasmu :DUKDUKDUK

  8. Dewi Susanty menulis:

    :lovely :lovely :lovely

  9. faridaamalia menulis:

    bagus

  10. balik lagi ke part part awal hehehe

  11. Isma nurul menulis:

    :lovely

  12. Annisa Nurul menulis:

    :sebarcinta

  13. Wkwkkw. Terkejut dah si Remi

  14. Keren bgt

  15. Baca lagi

  16. Suka ceritanya

  17. Mamita Fatih menulis:

    :sebarcinta

  18. Tinggalkan jejak

  19. Siapakah yang datang? Jawabnya Aran..

  20. Aloo mau numpang komenn duluuu

  21. awal baca lumayan lah :backstab

  22. ArinaSaadah menulis:

    Baca lagii :DUKDUKDUK

  23. Kia Luthfia menulis:

    baca ulang wkkwk
    Ga sabar liat keangkuhan Arran bakal terkalahkan 😆

  24. Mulai baca,,,
    Kayaknya seru :akugakngerti :akugakngerti

    1. Kok remi g hilang ingatan ya??
      Kan udh dihapus ingatannya sm aran :tandatanya? :tandatanya?

  25. Yuni Widaningsih menulis:

    :gaksabar :berkacakaca

  26. Asek udah langsung ketemu lagi… :NGAKAKGILAA

  27. 🤩🤩🤩

  28. remi masih ingat. nggak mempan? :happy

  29. Mengulang baca dr awal karena, kenapa tidak? :givelove

  30. Kerennnn :kaget

  31. Keren thor

Tinggalkan Balasan