Warfare Of Anchestry

Warfare Of Ancestry Part 5 : Forgotten

Bookmark

No account yet? Register

3.386 votes, average: 1,00 out of 1 (3.386 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

 5553 words


© copyright 2017 @projectsairaakira seluruh karya di website ini telah didaftarkan dan dilindungi oleh hukum yang berlaku serta mengikat.

Dilarang meniru, menjiplak, mengubah nama tokoh, mengambil ide baik sebagian maupun keseluruhan isi cerita yang berada di dalam website ini. Jika Anda menemukan plagiat karya kami di wattpad, mari bantu dengan melakukan report copyright voiolance pada pihak wattpad. Kami menyediakan hadiah dan komplimen menarik bagi laporan atau temuan dari vitamins menyangkut usaha plagiat baik keseluruhan maupun sebagian dari karya-karya ProjectSairaAkira yang dipublish di website ini, silahkan hubungi admin kami di [email protected] ^^


 Author’s Playlist – Coldplay – Hypnotised

How I’m hyp, hypnotised
Yeah I trip, when I look in your eyes
Oh I’m hyp, hypnotised
Yeah I lift and I’m mesmerized
Oh again and again
Now I’m hyp, hypnotised
Yeah I lift to a permanent high
Oh I’m hyp, hypnotised
It was dark
Now it’s sunrise

[responsivevoice voice=”Indonesian Female” buttontext=”Dengarkan cerita ini”]

Sementara itu Sang Ibu yang terlihat emosi masih bertingkah lupa diri seperti orang gila, terlihat terengah dengan rambut acak-acakan, wajahnya memerah penuh kemarahan sementara tangannya tiada henti terus mengayunkan gagang sapu yang berat dan terus menerus memukuli Remi sekuat tenaga seolah kehilangan akal sehat.

Seketika itu juga Arran meraung, meloncat secepat kilat untuk menjauhkan tubuh perempuan yang  terus memukul dengan menggila itu dari atas tubuh Remi, mencengkeram lehernya dan mengangkatnya ke atas hingga perempuan setengah baya itu megap-megap kehabisan napas dan melepaskan gagang sapu nan berat itu dari tangannya hingga jatuh ke lantai.


Remi membuka mata dengan bingung ketika pukulan-pukulan itu berhenti melukai tubuhnya, rasa sakit yang baru datang tidak tergantikan dengan rasa sakit yang lebih keras seperti biasanya melainkan menghilang, menyisakan denyut-denyut nyeri akibat luka bekas pukulan yang tertinggal dan menyisakan bilur di kulitnya.

Biasanya jika sedang marah seperti ini, ibunya baru akan berhenti memukulinya setelah beberapa lama, kadang-kadang sampai seluruh tubuh Remi penuh bilur dan Remi tidak mampu berdiri lagi hingga harus menyeret tubuhnya merangkak keluar dari kamar. Tetapi sekarang rasanya terlalu cepat ibunya berhenti.

Apakah ibunya sudah tidak marah lagi?

Remi membuka matanya karena bingung dan ketika dia melihat apa yang terpampang di depannya, matanya membelalak dipenuhi oleh teror yang mengerikan ketika melihat bagaimana Arran mencengkeram leher ibunya dan mengangkatnya ke udara dengan satu tangan. Terlihat di mata Remi bagaimana kaki ibunya meronta-ronta sementara tangannya bergerak putus asa mencoba melepaskan cengkeraman Arran dari lehernya.

Pemandangan mengerikan itu mendorong Remi dengan sisa kekuatannya mencoba menyeret dirinya merayap di atas lantai yang dingin mendekati kaki Arran, ditahankannya rasa sakit menyengat di punggungnya yang membuatnya harus menggigit bibir untuk menahan nyeri, digapaikannya tangannya di kaki Arran, sedikit gemetaran tetapi menguatkan diri.

Arran masih dikuasai kemarahan yang membara, cengkeramannya mengeras dan hasrat liar di dalam jiwanya mendorongnya untuk menumpukan kekuatan di telapak tangannya, lalu meremukkan leher perempuan itu dengan keras dan menyakitkan.

Arran telah menyaksikan manusia-manusia yang berarti baginya tewas karena dipukuli oleh kaum penyiksa yang tidak berperasaan. Dia sangat membenci kaum penindas dan akan memusnahkannya dengan dingin jika berhasil menemukannya… Sama seperti perempuan setengah baya ini yang sekarang meregang nyawa di tangannya.

“Jangan! Jangan! Kumohon!” suara rintihan keras putus asa terdegar dari bawah tubuh Arran seiring dengan sesuatu yang memeluk kakinya kuat.

Arran menundukkan kepala dan membelalakkan mata ketika melihat Remi sedang memeluk kakinya, memohon dengan putus asa sementara ekspresi wajahnya sangat menyedihkan.

Sejenak Arran tertegun, lalu dia mengerjapkan mata ketika kesadarannya kembali, menyadari bahwa dia telah kehilangan ketenangannya dan lepas kendali, sesuatu yang sebelumnya hampir mustahil terjadi pada dirinya.

Pemandangan tubuh Remi yang dipukuli membawa nuansa masa lalu yang menyakitkan di dalam jiwa Arran, membuatnya lepas kendali.

Mata Arran beralih kepada perempuan setengah baya yang sudah lunglai di dalam cengkeraman tangannya dan sambil menyipitkan mata, marah kepada dirinya sendiri karena begitu lemah hingga lepas kendali. Arran melemparkan tubuh perempuan itu ke atas kasur yang ada di kamar tersebut sebelum kemudian melirik marah ke arah Remi yang tengah memeluk kakinya,

“Lepas!” teriak Arran memberi perintah, sedikit mendorong Remi hingga perempuan itu melepaskan pegangannya di kaki Arran. Arran lalu berbalik lagi dan melangkah ke ranjang, mendekati ibu Remi yang kehilangan kesadaran di sana dan membuat Remi ketakutan setengah mati.

“Jangan… jangan sakiti ibuku.” mohon Remi dalam tangisan lemah bercampur putus asa.

Arran bergeming, melirik sedikit ke arah Remi lalu membalikkan badan seolah tak peduli sebelum kemudian menangkupkan telapak tangannya ke dahi Ibu Remi. Pada saat itulah ketika menyadari gerakan yang sama yang pernah dilakukan Arran kepadanya, Remi menyadari bahwa Arran tengah menghilangkan ingatan ibunya. Kesadaran itu membuat napas Remi sedikit tenang seiring dengan kelegaan yang merasuk jiwanya. Arran tidak sedang melukai ibunya, lelaki itu sedang menghilangkan ingatan ibunya.

Sekejap kemudian Arran menolehkan kepala ke arah Remi, membuat Remi terkesiap menahan takut, tetapi tidak mampu berbuat apapun karena tubuhnya masih lemah menahan sakit akibat dipukuli. Arran melangkah kembali dengan tatapan mata tajam ke arah Remi, membuat Remi berusaha beringsut mundur yang ternyata percuma karena dengan mudah Arran menangkapnya, meraup tubuhnya dan membawa Remi ke dalam gendongan.

***

Arran mendudukkan Remi, setengah membanting tubuh perempuan itu di atas ranjang sambil menggeram. Tubuh Remi jatuh lunglai setengah kehilangan kesadaran hingga Arran terpaksa duduk di atas ranjang dan menopang bahu Remi.

“Minum.” Arran menyodorkan pil berwarna putih, lalu mengambil tangan Remi dengan paksa dan menggenggamkan obat itu di sana, “Tidak perlu pakai air. Telan.” perintahnya lagi dengan nada memaksa.

Remi menatap genggaman tangannya sendiri, lalu beralih ke arah Arran dengan bingung.

“Obat apa ini?” tanyanya dengan waspada, masih meringis menahan sakit.

“Penghilang rasa sakit. Kami selalu membawanya kemana-mana.” Arran menjawab singkat, “Jangan banyak bertanya. Minum!” perintahnya dengan suara keras hingga membuat Remi tidak bisa melakukan hal lain selain menuruti perintah itu. Dengan tangan gemetar, Remi memasukkan obat itu ke dalam mulutnya dan menelannya.

“Buka bajumu.”

Napas Remi terengah menahan sakit, keterkejutan menguasai jiwanya ketika mendengar kata-kata Arran tersebut. Remi menolehkan kepala dan menggigil ketika menyadari betapa gelapnya ekspresi Arran yang dipenuhi dengan kemurkaan. Perlahan Remi memeluk dirinya sendiri, mencoba menguatkan diri sebelum kemudian berhasil mengeluarkan suara meskipun tercekik di tenggorokannya.

“Aku… aku bisa sendiri. Tolong, kumohon, keluarlah dari kamar ini.” bisik Remi serak menahan takut bercampur canggung.

Hal itu membuat Arran menggertakkan bibir dengan marah untuk menahankan kesabarannya.

“Ketika aku bilang kau harus membuka baju, maka kau akan melakukannya, sialan! Jangan pernah mencoba menawar atau melawan instruksiku, apalagi ketika aku sedang marah.” Arran menyipitkan mata ketika melihat Remi hendak membuka mulut dan membantah, “Jangan coba-coba, Remi. Aku sudah mengingatkanmu. Apakah kau tidak sadar bahwa aku bisa saja meremukkan tenggorokan ibu dan adikmu hanya dengan sebelah tangan?”

Ancaman Arran membuat Remi menggigil dan menggigit bibirnya untuk menahankan rasa ngeri yang merayapi jiwanya.

“Apa… apa yang sebenarnya kau inginkan?” bisiknya perlahan, dipenuhi dengan rasa bingung dan frustasi.

Arran masih menyipitkan mata, mengawasi Remi dengan mata emasnya yang tajam.

“Kejelasan. Kejelasan mengenai siapa dirimu.” geramnya perlahan, menjawab seolah tak rela, “Tapi itu bisa kita bicarakan nanti. Sekarang buka bajumu supaya aku bisa melihat seberapa parah kerusakan yang terjadi.” sambungnya dengan nada menuntut dan mencerminkan penolakan atas bantahan seperti apapun yang mungkin akan Remi lontarkan.

Remi  mengerutkan kening, menghembuskan napas pendek-pendek untuk menenangkan diri. Siapa lelaki ini hingga tiba-tiba merangsek masuk ke dalam kehidupannya yang dulunya teratur lalu memporak-porandakan dengan arogan seolah-olah dia yang memiliki kuasa atas kehidupan Remi? Tapi apa yang bisa Remi lakukan? Sekarang dia hanyalah seorang perempuan lemah di sebuah rumah tua dengan ibu dan adiknya yang sama-sama tidak berdaya. Remi tidak bisa berbuat apapun selain mengikuti perintah Arran demi menyelamatkan nyawa ibu dan adiknya.

Perlahan Remi membuka kancing kemeja yang biasanya dia pakai untuk bekerja di cafe, tangannya gemetaran sementara matanya terasa panas. Jantung Remi juga berdebar kencang, dipenuhi rasa takut mengenai ketidakpastian akan apa yang mungkin terjadi pada dirinya. Bahkan saat ini rasa sakitnya tidak terasa lagi, tertutupi oleh debaran dadanya yang menyebarkan nyeri ke seluruh pembuluh darahnya.

Ketika kancing terakhir sudah dilepaskan, Remi menundukkan kepala dengan gugup, dia duduk di sisi ranjang dengan arah berlawanan sementara Arran duduk di sebelahnya. Sengaja Remi membelakangi Arran karena dia terlalu takut menentang mata keemasan yang mengerikan itu.

Sebuah cengkeraman mendarat di bahu Remi, membuat Remi terkesiap dan seluruh tubuhnya gemetaran.

“Buka kemejamu.” Arran menggeram dengan nada tidak sabar, “Aku hanya aku akan melihat lukamu, bukan mau memerkosamu atau apa. Kau sudah jelas jauh di bawah kriteria wanita yang bisa memancing nafsuku, jadi jangan menilai dirimu terlalu tinggi.” Arran mendesiskan rentetan kalimat penghinaan itu dengan nada lambat-lambat untuk memastikan Remi mendengar dan menyerap semua yang dikatakannya, “Apakah kau sudah jelas? Jadi buka pakaianmu sekarang dan tidak perlu bersikap malu-malu seperti perempuan yang akan diajak bercinta. Posisimu sudah jelas sangat jauh dari itu.”

Kalimat Arran yang tak berperasaan itu membuat pipi Remi merah padam seolah ditampar oleh rasa malu dan penghinaan yang menusuk sampai ke dalam hatinya. Dengan mata panas berkaca-kaca dan menahan tangis, Remi menurut, menarik kemejanya dengan gemetar dan menurunkannya hingga dia hanya memakai bra memunggungi Arran.

Arran menajamkan pengelihatannya dan menyumpah ketika melihat betapa parahnya bilur-bilur bekas pukulan sapu di punggung Remi yang pucat. Bilur-bilur itu menciptakan garis-garis merah yang bersilangan, beberapa lebih merah dan lebih gelap dari yang lain, membuat pemandangan punggung Remi sekarang tampak sangat mengerikan.

“Seorang ibu macam apa yang memukuli anaknya sendiri sampai seperti ini?” Arran masih belum melepaskan pandangannya dari punggung Remi dan ekspresinya semakin gelap ketika dia melihat beberapa garis putih bekas luka di punggung Remi, menunjukkan ada banyak luka lama yang tertumpuk oleh bilur-bilur baru berwarna kemerahan.

Remi mengambil kemejanya dan memelukknya untuk menutupi bagian depan tubuhnya, dia tidak tahan untuk membisikkan kalimat pembelaan meskipun tahu bahwa itu percuma.

“Ibuku mencintaiku dengan caranya sendiri. Kau… kau tidak dalam posisi untuk menghakimi beliau.” bisik Remi lemah, menyisakan satu tekad untuk membela orang yang dia cintai.

Arran menggeram kesal, “Ibumu adalah seorang sadistik gila yang memerlukan penanganan khusus dari psikiater untuk mengontrol kemarahannya. Seorang ibu yang normal tidak akan memukuli anaknya apalagi dengan cara seperti yang dia lakukan kepadamu.” ejek Arran sekali lagi dengan nada menghina, dia lalu menggeramkan sekali lagi nada ancaman untuk membuat Remi menelan kalimat apapun yang hendak dikeluarkannya dan kembali menyentuh pundak Remi, membuat perempuan itu seketika begidik karena ngeri, “Buka bramu.” desisnya lagi.

“Apa… apa yang akan kau lakukan?” Remi memekik kembali dengan nada ketakutan, “Aku… aku bisa mengobati lukaku sendiri dan itu kulakukan sebelum-sebelumnya… aku tidak butuh bantuan…” bisiknya pelan, menyambung kalimatnya dengan nada tak yakin.

“Jangan salah, perempuan bodoh. Apa yang kulakukan ini bukanlah bentuk bantuan. Aku melakukannya untuk diriku sendiri, dan bukan untukmu. Semakin cepat lukamu ditangani, semakin cepat pula aku bisa membereskan permasalahan ini.”

“Membereskan?” Remi menyambar, bertanya dengan nada takut. Begitu mendengar kata-kata ‘membereskan’, Remi langsung berpikir bahwa Arran berniat membereskannya dengan cara membunuhnya.

“Kalau aku berniat membunuhmu kau pasti sudah kubunuh sekarang tanpa aku repot-repot mengobatimu.” Arran berucap seolah bisa membaca pikiran Remi, dia menyambar punggung kurus Remi dengan matanya sekali lagi, dahinya semakin berkerut ketika menelusuri bilur-bilur yang tampak menyedihkan tersebut. Arran lalu berdehem, mencoba melunakkan nada suaranya, “Buka bramu, aku akan mengambil apa yang bisa kugunakan untuk mengobatimu di luar.” ujarnya kemudian hendak melangkah pergi.

“Kotak obat-obatan ada di laci dapur nomor dua dari kanan atas….” Remi berucap perlahan, membuat langkah Arran yang sudah di ambang pintu terhenti. Sekali lagi tatapan Arran membuat bulu kuduk Remi berdiri dan mau tak mau dia berucap dengan canggung, “Tolong… dan te… terima kasih sebelumnya atas bantuanmu.” ujarnya perlahan, tidak bisa menyembunyikan nada takut di dalam suaranya.

“Kau sudah menyiapkan kotak obat lengkap rupanya.” Arran dengan cepat menarik kesimpulan dari perkataan Remi, “Itu berarti hal ini sering terjadi hingga menjadi kebiasaan.” sambungnya lagi, menatap ke arah Remi dan menunggu perempuan itu menanggapi.

Ketika Remi hanya diam saja dan tidak menyanggah atau menyetujui pernyataaannya, Arran menyambung lagi kalimatnya, kali ini dipenuhi oleh rasa ingin tahu, “Selama ini bagaimana kau menngobati dirimu?” tanyanya kemudian.

Remi mengangkat kepala, baru kali inilah perempuan itu berani menantang mata Arran dengan matanya yang berkaca-kaca menyimpan kepedihan mendalam seolah Arran telah mengorek-ngorek luka tersembunyi di dalam jiwanya.

“Lenka, adikku… dia selalu membantuku mengoleskan obat ke punggung.” bisiknya serak, “Kami mungkin tampak menyedihkan, tapi setidaknya kami saling mendukung dan menguatkan untuk bertahan hidup.” sambungnya lagi dengan nada rapuh.

Arran mengerutkan kening, ekspresinya tampak begitu dingin.

“Kalian semuanya memang menyedihkan.” ucapnya dengan nada geram, “Tapi kau yang paling menyedihkan di antara semuanya.” sambungnya mencela dan langsung meninggalkan ruangan, tidak memberi kesempatan bagi Remi untuk menyanggahnya.

***

Arran menemukan kotak obat itu persis di tempat yang telah ditunjukkan Remi kepadanya, dibukanya kotak itu dan Arran tertegun karenanya.

Sesuai dengan dugaannya, Remi telah menyiapkan segala sesuatu untuk menyembuhkan diri dalam sebuah kotak khusus, menandakan bahwa penyiksaan ini telah sering terjadi. Arran mengamati seluruh benda di kotak itu, dari obat luka sampai perban putih yang bergulung tebal dan bibirnya menipis karena geram.

Arran kemudian menutup kotak obat itu, lalu matanya beralih dengan waspada menatap ke pintu tertutup tempat ibu Remi berada. Tidak ada suara di sana, menandakan kesadaran Ibu Remi belumlah kembali. Arran lalu semakin menajamkan indra pendengarannya untuk mendeteksi gerakan-gerakan yang mungkin terdengar dari lantai atas, dan dia tidak mendengar apa-apa.

Untuk saat ini situasi cukup aman, seperti yang diinginkannya.

Perlahan Arran melangkah kembali ke kamar tempat Remi berada dengan membawa kotak obat di tangannya, lalu langkah kakinya tertegun di ambang pintu ketika matanya menemukan bahwa Remi telah terbaring tengkurap dengan punggung telanjang secara serampangan di atas ranjang dengan mata terpejam.

Rupanya obat penghilang sakit yang diberikannya untuk Remi mulai bereaksi, membuat perempuan itu tenggelam dalam lelapnya.

Arran berlum memutuskan melangkah masuk ketika dia merasakan kehadiran sosok lain di depan pintu rumah ini. Dengan sigap Arran meletakkan kotak obat yang dibawanya ke meja yang tersedia di dalam kamar untuk kemudian melesat menuju pintu depan.

***

“Kenapa kau kemari?” Arran mengerutkan kening ketika melihat Yerevlah yang muncul di depan pintu depan yang telah dibukanya. Yerev mengenakan jaket salju berwarna hitam, tampak kontras dengan rambut pirang pucat dan warna matanya yang terang.

Mata Arran melirik ke arah belakang Yerev dan menyadari bahwa anak buahnya itu datang sendirian dan meninggalkan yang lainnya di hotel.

“Kau lama sekali, boss.” Yerev berucap dengan tenang sementara sama seperti yang dilakukan oleh Arran, lelaki itu melemparkan pandangan ke belakang Arran, mencoba mengintip area dalam rumah Remi, “Aku mencemaskanmu.” sambungnya lagi dengan nada sengaja.

Kalimat terakhir Yerev membuat Arran mengerucutkan bibir penuh ironi sementara matanya menatap tajam,

“Kau tahu bahwa aku tidak perlu dikhawatirkan dalam hal apapun.” Ujar Arran dengan sinis, lalu membuka pintu lebar-lebar dan memberi isyarat supaya Yerev melangkah masuk.

Setengah menurut Yerev melangkah masuk sambil tetap melirik ke arah Arran dengan penuh ingin tahu.

“Kau bersikap seperti di rumahmu sendiri.” ujar Yerev sambil mengangkat sebelah alis, “Dimana pemilik rumah yang sebenarnya?” tanyanya kemudian.

Arran menutup pintu setelah Yerev masuk dan mengedikkan bahu ke arah ruang dalam, “Aku menidurkan mereka semua.” jawabnya singkat lalu melangkah menuju dapur, memberi isyarat supaya Yerev duduk di sebuah kursi yang ada di depan meja dapur

“Apakah kau mau kopi?” Arran bertanya dengan nada sarkatis, matanya melirik ke arah sebuah toples di atas meja dapur dan mengendusnya. Topes itu rupanya berisi biji kopi yang telah dipanggang hingga menjadi bubuk. Mata Arran mencari-cari dimana mesin pembuat kopi dan tidak menemukannya, membuat Arran menatap bubuk kopi di depannya itu dengan curiga.

Jangan-jangan ini bukan kopi berkualitas tapi bubuk kopi instan yang cara pembuatannya hanya tinggal diseduh dengan air. Sambil mengangkat bahu Arran menyalakan api dan mengisi poci dengan sedikit air. Tak butuh waktu lama hingga air itu mendidih dan Arran menuangkannya ke dalam poci yang telah diisinya dengan bubuk kopi sebelumnya. Setelah itu Arran dan menuangkan kopi panas yang tadi dibuatnya ke sebuah cangkir yang langsung disodorkannya ke meja depan Yerev yang sejak tadi hanya terdiam dan mengamati tingkah lakunya dengan pandangan tertarik.

“Wow. Kau bahkan membuat kopi di dapur rumah ini, meskipun hanya kopi instan, tapi kau benar-benar seperti di rumah sendiri, eh?” tanya Yerev menahan senyum.

Arran mengerutkan kening, “Kau tahu terjadi sedikit insiden tadi yang menahanku sedikit lebih lama untuk menyelesaikan masalah.” Arran melirik ke arah kamar tempat Remi berada dan Yerev mengikuti arah pandangannya.

“Mengenai Remi? Perempuan itu? Aku menebak bahwa dia masih ingat. Kekuatan kita tidak mempan kepadanya, betul bukan?” Yerev menebak cepat, diangkatnya gelas kopi itu ke dekat mulutnya, dihirupnya aromanya dan mengerutkan kening karenanya, sedikit ragu Yerev meneguk kopi itu dan mendesah lega karena meskipun rasanya tidak enak, ternyata tak seburuk aromanya.

“Kopi murahan.” Arran menyeringai, “Seperti segala sesuatu yang ada di rumah ini. Semuanya begitu bobrok dan rumah ini nyaris ambruk.” Arran mengucap dengan nada dingin, “Ya. Anak perempuan  itu, dia membuka mata dan masih mengenaliku.” jawabnya cepat dan ekspresinya berubah serius ketika bertanya, “Menurutmu apa yang harus aku lakukan kepadanya?”

Yerev menyesap kembali kopinya dan mengangkat bahu, “Kau tahu apa yang harus kau lakukan, Arran. Bawa dia kepada para tetua dan biarkan para tetua mengidentifikasi masalah untuk kita. Mungkin ini menjadi masalah serius karena sepanjang sejarah klan pengubah wujud, belum pernah ditemukan manusia yang kebal terhadap ilmu penghilang ingatan yang kita lakukan.” tatapan Yerev berubah tajam, “Kecuali Remi bukan manusia.”

“Dia manusia murni, aku sama sekali tidak bisa mengendus jejak pengubah wujud di dalam dirinya.” Arran menjawab cepat dengan nada yakin, “Aku bisa mengendus jika sedikit saja ada kekuatan pengubah wujud di tubuh klan kita, bahkan ketika kaum kita masih bayi sekalipun. Jika makhluk itu bisa berubah menjadi wujud makhluk hidup lain, aku pasti bisa mengendusnya. Dan tidak ada sesuatu yang berbeda dari gadis itu. Dia sepenuhnya manusia. Aku yakin.” sambung Arran dengan nada menjelaskan.

Sejenak keheningan terbentang di antara mereka ketika Yerev terdiam dan berpikir, dia lalu meletakkan cangkir kopinya dan menatap Arran dengan pandangan serius.

“Kalau begitu kau harus membawa perempuan itu, Arran. Mungkin saja kasus ini pernah terjadi sebelumnya dan para tetua memasukkannya ke dalam kasus rahasia hingga kita yang muda-muda ini tidak pernah mendengarnya. Bagaimanapun juga, kita tidak bisa meninggalkan perempuan itu di sini dengan seluruh ingatannya tentang dirimu.” Yerev menghela napas panjang, “Manusia adalah makhluk sosial dan mereka selalu merasa ingin berbagi, terutama menyangkut hal-hal yang terasa mustahil dan tak bisa ditangkap dengan nalar yang mereka saksikan. Karena itulah manusia tidak akan pernah bisa menjaga rahasia sekuat apapun dia berjanji. Itu jugalah yang terjadi pada Remi, suatu saat nanti meskipun tidak sekarang, dia akan menceritakan pengalamannya ini kepada orang lain, entah kepada suaminya di masa depan, atau mungkin kepada anakknya nanti ketika dia menceritakan dongeng pengantar tidur. Sementara itu keberadaan klan kita harus sangat dirahasiakan, tidak boleh ada satupun cerita mengenai kita. Manusia-manusia itu menganggap bahwa kaum pengubah wujud itu hanyalah werewolf, kaum manusia serigala, dan kita harus menjaganya supaya tetap begitu.”

Arran membeku mendengarkan nasehat Yerev yang panjang lebar, lalu akhirnya menganggukkan kepala.

“Aku akan membawa perempuan itu. Tetapi aku harus lebih dulu membereskan segala sesuatunya. Dia sedang terluka dan harus diobati terlebih dahulu.” ucapnya kemudian yang segera dipahami oleh Yerev.

“Apakah kau melukainya?” Yerev tampak ngeri, “Atau jangan-jangan aku yang melukainya? Ketika aku mencoba menghapus ingatan Remi tadi, dia megap-megap seolah menahan kesakitan dan juga kehabisan napas. Tidak pernah aku menemukan manusia yang bereaksi seperti itu ketika aku menghilangkan ingatannya.” desisnya tak yakin.

Arran mengamati Yerev lalu menggelengkan kepala, “Bukan aku yang melukai perempuan itu, dan juga dia terluka bukan karena kau meskipun sama sepertimu, reaksi perempuan itu terhadap kekuatan penghilang ingatan kita memang tidak pernah kutemui sebelumnya, bahkan juga kekebalannya.” Arran memandang Yerev dengan penuh tekad, “Kita harus menemukan jawaban atas masalah ini ketika membawa perempuan itu menemui para tetua nanti.”

“Kau akan menggunakan seluruh kekuatanmu atas kota ini? Menghilangkan ingatan siapapun yang pernah berkontak dengan Remi akan keberadaan perempuan itu dengan telepati jarak jauh?”

“Ya.” Arran menjawab dingin sementara matanya menggelap, “Aku akan mencabut perempuan itu dari dunianya dan memindahkannya ke dunia baru. Dunia kita.” sejenak Arran tampak berpikir, lalu lelaki itu memutuskan dan memberikan perintahnya pada Yerev, “Aku ingin kau menggunakan pengaruh klan kita untuk membuat suatu rekening khusus bagi ibu dan adik Remi.”

Kata-kata Arran tersebut membuat Yerev membelalakkan mata menahan bingung, “Kau apa? Kau memberikan uang pada keluarga Remi? Kenapa? Biasanya kau tidak peduli dengan keluarga kaum manusia baik yang bersinggungan denganmu atau tidak.”

“Karena aku ingin sedikitnya merasa lebih tenang. Kau pasti bisa mengendus aroma kematian di sini.” Arran melirik ke arah lantai atas, “Anak itu… adik Remi, dia sekarat. Saat ini malaikat maut mungkin sudah mulai mengitari langit-langit ruangan, tidak sabar untuk menjemput. Setidaknya aku ingin bersikap adil kepada mereka, manusia-manusia ini. Toh memberikan uang tidak akan mengganggu keuanganku.” ujarnya kemudian dengan nada sedikit angkuh.

Yerev mengangkat sebelah alis kembali, menatap Arran sedikit menahan senyum, “Karena kau punya banyak uang, hingga pengeluaran sebesar apapun tidak akan berimbas signifikan kepada hartamu?” ejeknya terkekeh, “Ya.. ya… ya. Aku akan melaksanakan perintahmu. Sebuah dana yang cukup di rekening khusus yang akan keluarga ini terima untuk pengobatan sampai anak kecil di atas itu meninggal.” ujarnya kemudian dengan tanpa hati.

“Kirimkan juga anak buah kita untuk tinggal dan mengawasi serta memastikan nanti setelah Remi meninggalkan tempat ini, bahwa mereka benar-benar lupa.” perintah Arran tegas, “Kirimkan pasukan pembersih untuk mengapus seluruh jejak fisik Remi yang pernah ada. Catatan kesehatannya, catatan kelahirannya, jejak pendidikannya, barang-barangnya di rumah ini dan segala bukti fisik yang pernah menunjukkan bahwa perempuan itu ada di dunia ini. Sapu bersih semuanya seperti yang biasa kalian lakukan.” sambung Arran lagi, tidak lupa menyelipkan nada arogan dalam suaranya.

Yerev mengangguk, “Siap laksanakan, bos.” candanya yang ditanggapi oleh pelototan mata Arran.

Setelah itu Yerev beranjak dari duduknya dan melangkah ke ambang pintu keluar sementara Arran mengikuti di belakangnya. Ketika melewati ambang pintu, Yerev menolehkan kepala kembali untuk menatap Arran yang masih terpaku di ambang pintu rumah.

“Apakah aku perlu mengirimkan mobil kemari?” tanyanya perlahan.

“Kirimkan yang tidak mencolok dan pastikan tidak ada yang mengintip dari jendela rumah mereka.” jawab Arran cepat.

Yerev tersenyum lebar, “Kurasa kompleks rumah yang sepi ini hanya dipenuhi para lansia yang saat ini sudah pasti sedang bersembunyi di balik selimut untuk menahan hawa dingin yang menyebabkan penyakit radang sendi mereka datang melanda. Tidak akan ada yang sempat dan repot-repot mengintip ke jendela luar di tengah badai salju yang semakin parah seiring beranjaknya malam semakin larut,” Yerev menyeringai, “Aku akan mengirimkan mobil yang sangat gelap dan tidak bersuara untuk menyesuaikan dengan gelapnya malam, meskipun sebenarnya badai dan hujan salju sudah cukup untuk menyamarkan suara. Apakah itu cukup?” tanyanya lagi.

Arran menganggukkan kepala, “Itu cukup. Pergilah.” ujar Arran dengan nada tak sabar sementara Yerrev seolah tak menyadari pengusiran yang terpatri kental di dalam kalimat Arran itu.

“Seberapa cepat kau ingin mobil itu datang kemari?” tanya Yerev lagi, tak segera beranjak pergi.

Arran menyipitkan mata, “Secepat mungkin.” ujarnya dengan nada pasti, lalu membanting pintu menutup tepat di muka Yerev dengan tidak sopan,  membuat Yerren mengangkat bahu dan melangkah tanpa kata meninggalkan rumah itu kembali.

***

Sepeninggal Yerev, Arran melangkah kembali ke ranjang tempat Remi berada dan menatap sosok perempuan yang masih meringkuk kehilangan kesadarannya.

Yerev benar. Untuk apa dia repot-repot mengurusi keluarga Remi?

Mungkin bagi Yerev dan semua orang Arran terlihat tak punya hati. Tetapi sebagai sosok yang adil, Arran tahu persis bahwa insiden ini semua terjadi bukan murni kesalahan Remi. Dialah yang datang merangsek ke kediaman Remi dalam kondisi terluka dan kehilangan kesadaran hingga memaksa Remi menjadi saksi perubahan wujudnya yang seharusnya rahasia. Dialah yang menyeret Remi ke dalam pusaran permasalahan ini, karena itulah untuk sedikit menebus dosa, Arran akan menanggung keluarga Remi yang ditinggalkan supaya hatinya tenang dan tak terbebani rasa bersalah.

Perlahan Arran mengambil kotak obat yang tersedia di atas meja dan membawanya duduk di ranjang, dekat ke Remi yang berbaring tengkurap dengan punggung telanjang.

Arran membukaa kotak obat itu, lalu mengeluarkan cairan antiseptik dengan nuansa dingin untuk kemudian membasahi kapas dengan cairan itu dan mengoleskannya ke luka-luka Remi.

Seketika itu juga Remi mengerang kesakitan, menggeliat untuk menahan pedih dan kesadarannya langsung kembali. Remi membuka mata dan ketakutan langsung menyelimuti dirinya ketika menyadari bahwa sosok tinggi besar Arran tengah membungkuk di atas punggungnya, tubuh lelaki itu menutupi cahaya rampu remang, membuat bayang-bayang gelap jatuh ke atas mereka dan menciptakan nuansa yang amat sangat mengerikan.

Seluruh tubuh Remi bergetar, dan didorong oleh insting menyelamatkan diri seorang mangsa yang terperangkap di dalam cengkereman predator, Remi berusaha meronta untuk melepaskan diri, yang membuat Arran tampak semakin murka.

“Diam! Jangan bergerak!” hardik Arran dengan nada marah, menggunakan sebelah tangannya untuk menekan bahu Remi yang tidak terluka dan mendorong kembali tubuh Remi yang telah setengah bangkit untuk kembali tengkurap dan tenggelap ke ranjangnya. Tubuh Arran membungkuk semakin dalam, dekat sekali hingga Remi bisa merasakan napas panas lelaki itu mengenai kulit punggungnya.

Ketakutan dalam kedekatan yang dipaksakan itu membuat seluruh tubuh Remi bergetar ketika dia mengucapkan permohonan penuh rasa takut.

“Jangan… jangan sakiti aku….” bisiknya serak penuh permohonan.

“Aku tidak sedang menyakitimu, aku sedang mengoleskan obat, kau pikir apa yang sedang kulakukan, hah?” bentak Arran dengan nada tidak sabar, tangannya ikut terbawa emosi, mengusap kasar ke punggung Remi higga membuat Remi tidak bisa menahan erangan kesakitan yang terlepas dari mulutnya. Erangan itu membuat Arran membeku, kemudian sentuhannya melembut, mengusap punggung Remi dengan penuh kehati-hatian, “Diam. Jangan bergerak dan jangan bersuara.” geram Arran dengan nada lebih lunak, tetapi tidak meninggalkan ancaman yang tersirat di sana.

Tubuh Remi kaku mendengarkan perintah tersebut, dia lalu memejamkan mata untuk menahan ngeri ketika jemari yang terasa sangat panas itu mengusap punggung telanjangnya yang kedinginan. Remi menjaga seluruh tubuhnya supaya tidak bergerak sama sekali, takut akan ancaman Arran dan ngeri jika lelaki itu melukainya karena marah.

Arran kemudian mengoleskan salep luka di punggung Remi, perlahan-lahan tutupnya bilur itu dengan salep,  menggunakan jari ke seluruh bilur-bilur berbentuk garis yang memenuhi punggung Remi. Salep itu bening dan dingin, membuat punggung Remi berkilauan ketika Arran telah selesai memoles semuanya.

Dahi Arran berkerut ketika melihat salep itu masih basah, sementara dia tahu bahwa dirinya tidak bisa menutup perban di sana karena salep itu harus kering dengan sendirinya. Dengan gerakan impulsif, Arran membungkukkan punggung semakin dekat hingga wajahnya dekat dengan kulit punggung Remi, lalu dia meniup punggung Remi yang tertutup salep, memastikannya lekas kering.

Seketika Remi menegang, terkesiap karena tiupan panas di kulitnya membuat seluruh bulu kuduk dan tulang belakangnya berdiri tanpa bisa ditahan.

Arran sendiri tertegun ketika tiba-tiba saja dia menyadari posisi mereka yang begitu dekat, dan hal itu entah kenapa memancing sesuatu yang bergolak di dalam jiwa Arran, menyalakan api dan membuatnya ingin menindih tubuh perempuan itu dengan kasar di atas ranjang sebelum kemudian menyatukan dirinya dengan cara yang tak kalah kasar pula, tanpa menahan-nahan lagi, dipenuhi gairah tak terkendali.

Arran mengerjapkan mata ketika dia berhasil menguasai pikiran liarnya yang penuh hasrat. Sungguh pikiran gila. Bagaimana mungkin dia tertarik pada manusia rendahan yang bahkan sebelum kemarin tidak memiliki arti apa-apa di dalam kehidupannya?

Ekspresi Arran menggelap dan dipenuhi oleh kemarahan bercampur benci ke arah Remi. Arran lalu menegakkan punggung dan memberi istruksi dengan suara dingin.

“Pakai bajumu, lalu kita pergi.” geramnya marah dengan nada tak sabar.

Remi melirik ke arah Arran dan ketika tahu bahwa lelaki itu sengaja memalingkan kepala, dengan cepat Remi memakai kembali pakaiannya dan mendongak menatap Arran dengan bingung,

“Pergi kemana?” bisiknya perlahan dnegan suara gemetar, dengan susah payah menahan sakit yang masih terasa, Remi berjuang untuk bangun dan duduk dan dia berhasil duduk di pinggir ranjang dengan ditopang kedua tangannya yang masih gemetar.

Pertanyaan Remi tersebut membuat Arran menolehkan kepala dan menatap Remi kembali dengan tatapan tajam yang menyeramkan.

“Kau ikut denganku dan akan kutemukan penyebab kenapa kau tidak bisa lupa.” geramnya marah.

Remi membelalakkan mata, “Ikut denganmu? Bagaimana dengan keluargaku? Bagaimana dengan…”

“Dengar!” Arran tiba-tiba membungkuk dan mencengkeram leher Remi dan mendongakkan kepala perempuan itu sehingga wajahnya hampir menempel dengan wajah Remi, mengirimkan ancaman panas nan mengerikan di sana, “Seluruh keluargamu dan orang-orang yang mengenalmu sudah lupa akan dirimu. Tidak akan bedanya bagi mereka jika kau pergi. Jadi sekarang angkat dirimu yang menyedihkan itu dari rumah ini dan ikuti aku dengan patuh!”

“Keluargaku… lupa?” bibir Remi bergetar ketika dia bertanya, “Kau membuat mereka lupa?”

“Ya. Aku membuat mereka lupa. Dan aku juga membuat semua orang di dunia ini yang kebetulan sial karena pernah berkontak denganmu juga melupakan segalanya tentang dirimu. Bagi mereka kau tidak pernah ada, Remi.” perhatian Arran teralihkan ketika indra pendengarannya yang tajam mendengar suara deru mobil terparkir di halaman depan rumah. Yerev telah melaksanakan tugasnya untuk mengirim mobil ke rumah ini.

Tanpa kata Arran mencekal lengan Remi, memaksanya berdiri untuk kemudian setengah menyeret perempuan itu keluar dari kamar.

“Tunggu… tunggu!” Remi berseru setengah menangis di dalam seretan Arran, “Aku tidak bisa meninggalkan keluargaku begitu saja! Aku tidak bisa!” jerit Remi dengan nada histeris.

Seketika itu juga Arran berhenti, membalikkan badan dan mencengkeram pundak Remi dengan kedua tangannya yang kuat, begitu keras cengkeraman itu hingga Remi meringis nyeri.

“Akan lebih baik bagi mereka jika kau pergi.” Arran berucap dengan nada dingin, “Aku memberikan mereka dana pengobatan yang akan cair setiap bulan sekali. Ibu dan adikmu bisa menggunakan sisanya untuk bertahan hidup. Mereka akan menerima informasi bahwa dana tersebut dikirimkan oleh donatur khusus dari pihak rumah sakit. Aku menjamin mereka akan baik-baik saja tanpamu.”

Mata Remi mengerjap mendengar informasi yang tidak diduga-duganya itu,

“Kau… apa?” serunya tak percaya, “Kau memberikan dana untuk keluargaku?” ulangnya lagi.

Arran mengerutkan kening dalam.

“Jangan salah dan jangan menganggap dirimu terlalu tinggi hingga berpikir aku menaruh perhatian lebih kepadamu sehingga mau menanggung keluargamu.” Arran menyipitkan mata dan kembali tatapan menghina dilemparkannya ke arah Remi, “Ibumu adalah seorang sadistik setengah gila dan adikmu sekarat, aku hanya ingin sedikit berderma kepada manusia-manusia menyedihkan seperti kalian.” ujarnya sinis, membuat mata Remi melebar seolah tertohok untuk kemudian berkaca-kaca disebabkan oleh sakit hati.

Air mata mengalir di pipi Remi seketika, membuat Arran menyipitkan mata tidak suka.

“Hapus air matamu. Menangis tidak akan membantu menyelamatkan nyawamu.” desis Arran dengan nada dingin tak berperasaan, “Sekarang kau hanya punya satu pilihan yaitu ikut denganku. Jika kau menolak atau melawan, aku akan membunuh ibu dan adikmu sekarang juga.” ancamnya dengan nada mengerikan, “Sekarang diam dan biarkan aku menghapus ingatan semua orang yang pernah berhubungan denganmu.”

Arran menyentuhkan kedua telapak tangannya di sisi pelipis Remi, lalu lelaki itu memejamkan mata, mengirimkan getaran di tubuh Remi dan membuat kepalanya panas. Pada detik itulah Remi sadar bahwa Arran sedang membaca otaknya untuk menemukan siapa saja manusia-manusia yang pernah berinteraksi dengannya. Setelah selesai, Arran seolah sedang mengirimkan sinyal kepada yang lain dan memberi tugas kepada mereka untuk serentak mengumpulkan kekuatan untuk menghilangkan ingatan orang-orang itu supaya melupakan Remi.

Proses itu memakan waktu beberapa lama, dan ketika Arran membuka mata, ekspresinya tampak puas.

“Sudah selesai. Kau sama saja tidak pernah ada di dunia ini, Remi.” ujarnya dengan nada kejam.

***

Mobil gelap itu berjalan menembus salju dan kemudian melewati tempat yang sudah Remi kenal sebelumya. Itu adalah cafe tempatnya bekerja dan Giza ada di sana.

Arran yang sejak tadi duduk membeku di sebelah Remi melirik perlahan dan menipiskan bibir dengan nada mengancam ketika melihat tubuh Remi menegang dan seolah-olah perempuan itu sedang menimbang-nimbang untuk memberontak dan mencoba melompat dari mobil.

“Jangan coba-coba.” nada suara Arran terdegar sedingin es, membaur dengan nuansa dingin yang tercipta dari salju di luar sana, “Lagipula sekarang Giza sudah melupakanmu, begitupun dengan yang lain-lainnya.” geram Arran tanpa perasaan, tidak peduli bahwa kata-katanya itu menohok perasaan Remi sampai ke dalam.

Siapa yang tidak merasa sedih ketika keberadaan dirinya dicabut dari orang-orang yang mengenalnya? Seolah-olah dia tidak pernah ada dan tidak pernah dikenang? Perasaan itu menimbulkan luka lebar yang menganga dalam di benak Remi, membuatnya hanya bisa terdiam.

Mungkin memang seumur hidupnya Remi tidak mengenal banyak orang, dia tidak pernah keluar dari kota kecil bersalju yang terletak di ujung bumi ini, dia bahkan tidak banyak bersosialisasi, hanya dengan keluarganya dan dengan Giza dirinya dekat. Bahkan dia tidak punya teman dari masa lalu ketika dia bersekolah di waktu muda. Remi selalu dikenal sebagai anak miskin dengan ibu yang aneh, karena itu tidak ada yang mau berteman dengannya, tidak ada yang mau mengenalnya lebih dekat dan bersahabat dengannya, karena itulah ketika dia lulus sekolah, tidak ada satupun kontak teman-temannya yang tersimpan olehnya. Lagipula mereka semua sudah pasti mencoba kehidupan yang lebih baik, keluar dari kota kecil ini dan mengadu nasib di tempat lain. Hal itulah yang menyebabkan kota ini hanya dihuni oleh orang-orang tua sementara anak mudanya tidak mau tinggal di sini. Hanya Remi yang tertinggal di sini.

Ya… selama ini Remi selalu menyendiri dan bahkan tidak dianggap oleh orang-orang disekelilingnya. Dia mendapatkan kehangatan dan persahabatan hanya dari Giza dan juga dari Lenka adiknya, dan itu sangat berharga baginya, satu-satunya harta tergenggam yang menghangatkan jiwanya. Dan itupun sekarang harus direnggut darinya.

Remi merasakan matanya panas dan dia menahan diri sekuat tenaga supaya tak bersuara. Ditolehkannya kepala ke sisi jendela, berusaha supaya Arran tidak bisa melihat ekspresinya dan melihat dirinya menangis. Di depan Arran yang memiliki sifat penindas alami, Remi tidak akan pernah mau terlihat lemah karena dia akan digilas.

Remi sendiri merasakan bulu kuduknya berdiri, pertanda bahwa Arran saat ini sedang mengamati dirinya secara terang-terangan dengan tatapan mata tajam yang tak ditutup-tutupi. Tetapi Remi memilih mengabaikan dan bersikap seolah tak menganggap Arran ada di dalam mobil ini bersamanya.

Saat ini dia ingin mengucapkan salam perpisahan kepada kehidupannya dalam hening.

Mata Remi menyusuri jalanan bersalju dan kemudian bersinar sedih ketika dia melihat palang perbatasan berucap selamat jalan kepada siapapun yang meninggalkan kota ini. Mereka sudah melalui perbatasan kota dan Remi tahu bahwa mobil itu akan melaju lebih jauh lagi ke bandara di mana sebuah pesawat sudah menunggu untuk membawanya ke tempat asing yang jauh, seperti yang dikatakan Arran kepadanya. Remi akan menuju ke tempat yang sama sekali tidak dikenalnya dan mungkin akan membuatnya kehilangan nyawa…

Remi memejamkan mata dan bayangan tentang orang-orang yang dia kasihi, ibunya, adiknya dan juga Giza berkelebat di dalam benaknya, membuat setetes air mata bergulir tak tertahankan di pipi, mewakili ucapan selamat tinggal yang mungkin untuk selamanya.

Bersambung ke Part berikutnya

[/responsivevoice]

486 Komentar

  1. faridaamalia menulis:

    yuhu

  2. arran jangan jahat jahat dong ah :panikshow

    1. Safliza Murdani menulis:

      :luculuculucuih :luculuculucuih

  3. 🤣🤣🤣🤣

  4. Arran Remi menulis:

    Arran disini jahat banget ya

  5. Paris India menulis:

    :penuhsemangat

  6. Akira Asia menulis:

    :sebarcinta

  7. Arran egois :bantinglaptop :bantinglaptop

  8. Yuni Widaningsih menulis:

    Kejam banged si arran :kukutukkaujadibau bakalan bucin ga nih :awaskaunanti awas aja :evilmode

  9. Gak kebayang kalau misal dilupakan oleh keluarga sendiri seolah gak prnh ada di dunia ini 😬

  10. arran galak banget. :happy

  11. 😭😭…seperti Sera yg hanya punya Aaron waktu disiksa oleh keluarga Dawn…sedihnya sama😭

Tinggalkan Balasan