Warfare Of Anchestry

Warfare Of Ancestry Part 4 : The Mother

Bookmark

No account yet? Register

3.287 votes, average: 1,00 out of 1 (3.287 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

5470 words


© copyright 2017 @projectsairaakira seluruh karya di website ini telah didaftarkan dan dilindungi oleh hukum yang berlaku serta mengikat.

Dilarang meniru, menjiplak, mengubah nama tokoh, mengambil ide baik sebagian maupun keseluruhan isi cerita yang berada di dalam website ini. Jika Anda menemukan plagiat karya kami di wattpad, mari bantu dengan melakukan report copyright voiolance pada pihak wattpad. Kami menyediakan hadiah dan komplimen menarik bagi laporan atau temuan dari vitamins menyangkut usaha plagiat baik keseluruhan maupun sebagian dari karya-karya ProjectSairaAkira yang dipublish di website ini, silahkan hubungi admin kami di [email protected] ^^


Author’s Playlist – Thief – Ansel Elgort

I’ve been living in the darkness
Shadows in my apartment, heartless

Taking love just to spill it on parchment
Next page and I’m out again
I’ve been living in the night life
Lips hit you like a drive by, frost bite
Ice cold, I mean they cut you like a sharp knife

Next page and I’m out again


[responsivevoice voice=”Indonesian Female” buttontext=”Dengarkan cerita ini”]

“Kau akan membunuhnya?” suara Yerev terdengar tidak yakin ketika menyahut.

Arran sendiri melemparkan pandangan mencela ke arah Yerev, seolah-olah saudara angkatnya itu adalah makhluk bodoh.

“Bicara apa kau? Aku tidak akan melanggar peraturan klan dengan membunuh manusia tidak bersalah. Yang akan aku lakukan adalah membuatnya lenyap di mata semua orang yang mengenalnya. Tidak akan ada yang mengingatnya, bahkan keluarganya sendiri. Dia akan menghilang dari ingatan mereka. Bagi mereka, gadis ini tidak pernah ada.”


“Astaga! Apa yang terjadi?” Giza setengah berteriak dan berlari menghampiri ketika melihat sosok Arran yang bertelanjang dada menuruni tangga sampai ke dasar dengan membawa Remi di dalam gendongannya.

Arran memasang wajah beku, “Dia pingsan.” jawabnya singkat, tanpa niat membantu meredakan kepanikan Giza.

Seluruh anak buah Arran  yang tadinya duduk mengelilingi meja dan menikmati kopi serta kue mereka serentak langsung berdiri ketika melihat Arran datang. Mereka langsung menyadari ada yang tidak beres dilihat dari aura gelap yang memancar dan mengelilingi tubuh Arran.

Giza sendiri malahan tidak menyadari ekspresi Arran yang beku, perempuan itu tampak panik dan kebingungan, terkejut karena tidak menyangka Remi bisa sampai pingsan. Remi memang tampak aneh sejak tadi pagi, sering melamun dan selalu terkejut ketika dibangunkan dari lamunan, tetapi anak itu berkata bahwa dia baik-baik saja dan tidak sakit, tidak disangkanya kalau Remi sampai pingsan.

“Saya ada tempat tidur di bagian paling atas cafe ini, maukah Anda membantu membaringkan Remi di sana?” Giza akhirnya berucap dengan nada sedikit takut pada lelaki asing yang masih membeku di sana sambil menggendong Remi. Ketika lebih dekat seperti sekarang ini, barulah Giza menyadari betapa dinginnya ekspresi yang dipasang di wajah lelaki itu, begitu dingin hingga membuatnya setengah menggigil. Tidak tahan dengan interaksi yang menciptakan ketidaknyamanan tersebut, Giza membalikkan badan dan meraih telepon tanpa menunggu persetujuan lelaki tersebut, “Saya.. eh saya akan menelepon dokter.”

“Tidak.”

Hanya satu patah kata yang diucapkan oleh lelaki itu, tetapi nadanya  membekukan dan penuh dengan arogansi hingga membuat tangan Giza yang tengah memegang telepon terpaku sementara kepalanya menoleh, menatap ke arah lelaki tersebut dengan bingung.

“Apa maksud Anda?” Giza bertanya perlahan, tidak bisa menyembunyikan nada takut yang tersimpan pada suaranya.

Arran bergeming, “Tidak. Aku tidak mau membawanya ke lantai atas. Aku hendak membawanya pulang ke rumahnya.” jawabnya kemudian dengan nada dingin.

Giza melebarkan mata karena tidak menyangka mendengar jawaban itu, dia membuka mulut hendak berbicara, tetapi sosok lelaki lain berambut pirang pucat keperakan yang datang dan membawakan kemeja serta mantel tebal milik lelaki yang satunya mengalihkan perhatiannya.

Lelaki berambut pirang itu tersenyum ke arah Giza, “Mohon maafkan keributan yang disebabkan oleh saudara saya, dia hanya ingin membantu, tetapi dia tidak memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik.” Lelaki  itu lalu menepuk pundak lelaki berambut hitam yang sepertinya tidak ditanggapi dengan baik oleh yang berambut hitam.

“Anda akan membawa Remi pulang? Apakah Anda mengenal Remi?” Giza langsung menanyakan apa yang membuatnya bingung, sosok dengan rambut hitam dan mata keemasan tersebut membuatnya ketakutan, tetapi kehadiran yang berambut pirang dan cukup ramah membuat Giza sedikit memiliki keberanian.

Lelaki berambut hitam itu masih bergeming seolah-olah tidak berniat menjawab pertanyaan Giza, tetapi dalam sekejap yang berambut pirang langsung mengambil alih serta menguasai situasi.

“Namaku Yerev dan dia Arran.” Yerev memperkenalkan diri dengan lembut, “Remi memang tidak mengenal kami, tetapi kami mengenal keluarganya…” dengan cepat Yerev berimprovisasi, tidak memedulikan kebingungan bercampur curiga yang muncul di wajah Giza.

“Kenapa kau beritahukan nama kita kepadanya?” Arran tiba-tiba berucap, dia masih tidak memedulikan Giza dan malahan menatap marah ke arah Yerev.

Yerev mengangkat bahu, tidak melepaskan senyuman dari bibirnya, “Toh dia akan lupa.” bisiknya dengan nada misterius, membuat Arran terdiam.

Dengan cepat Yerev mengalihkan pandangan ke arah Giza kembali, mata peraknya kali ini terlihat dingin meskipun bibirnya tersenyum, “Arran akan membawa Remi pulang, Anda tidak keberatan, bukan?”

Giza mengerjapkan mata ketika tiba-tiba saja pikirannya terasa kosong, seolah-olah kehendaknya untuk memberontak diambil alih dan dipaksa teredam. Segala kecurigaannya dibunuh begitu saja oleh kekuatan misterius aneh yang menguasai pikirannya tanpa dia mampu melawan.

“Tidak… saya tidak keberatan.” napas Giza sedikit tersendat ketika berucap karena kehabisan sisa-sisa perlawanannya, “Oh ya… roti.. saya selalu memberikan roti untuk Remi jika dia pulang, mereka… Remi dan Lenka biasanya tidak punya makanan sebelum ibu mereka datang.” Giza bergerak otomatis ke arah oven khusus untuk menghangatkan roti dan mengeluarkan sebongkah roti gandum besar yang masih utuh, dibungkusnya roti yang masih hangat dan menguarkan aroma harum itu dengan pembungkus, sebelum kemudian dia masukkan ke dalam kantong kertas dan dia sodorkan ke depan Yerev dan Arran, “Ini, jangan lupa bawa rotinya.” ucap Giza dengan nada polos.

Arran dan Yerev sama-sama membeku sambil menatap kantong kertas berisi bongkahan roti besar itu. Giza sudah pasti telah tenggelam di bawah kekuatan Yerev yang memang mampu menguasai pikiran serta kehendak orang lain hanya dengan tatapan mata, meskipun begitu, pemberian roti ini sungguh tidak disangka.

Yerevlah yang kemudian memecahkan situasi canggung tersebut dengan menerima kantong roti itu dan tersenyum lebar,

“Terima kasih.” Yerev mendekat perlahan, lalu menyentuhkan tangannya ke dahi Giza, “Sekarang pejamkan mata.” perintahnya dengan nada berwibawa yang langsung dipatuhi oleh Giza.

Arran sendiri mengedarkan pandangan ke sekeliling dan  melihat bagaimana anak buahnya yang lain melakukan hal yang sama kepada manusia-manusia biasa yang kebetulan sedang berada di dalam cafe tersebut. Mereka merenggut ingatan untuk sementara dan memanipulasinya dengan ingatan palsu secara efektif dan ketika semuanya selesai, mereka semua akan melanjutkan kegiatannya masing-masing tanpa pernah mengingat kejadian ini kembali.

Xavier yang menerima perintah dari Arran langsung mendekat dan Arran tanpa kata menyerahkan tubuh Remi yang lunglai kepadanya. Arran kemudian memakai kembali pakaiannya yang setengah basah dan diletakkan oleh Yerev di meja, menutup kemejanya dengan mantel tebal dan segera mengambil Remi kembali ke dalam gendongannya.

“Arran.” Yerev memanggil, membuat Arran membeku dan menolehkan kepala hanya untuk bertatapan dengan Yerev yang menyeringai seolah mengejek.

“Ada apa?” tanya Arran dengan marah.

Yerev mengulurkan kantong kertas berisi roti hangat di tangannya yang sebelah sementara tangannya yang satu masih tertangkup di dahi dan mata Giza, “Kau tentu tidak akan melupakan roti hangat ini untuk Remi, bukan? Nanti dia tidak punya makanan.” ujarnya Yerev dengan nada ringan.

Arran membelalakkan mata, hendak membantah dan menolak membawa roti yang konyol itu. Buat apa dia peduli apakah Remi makan atau tidak?

Tetapi mengingat situasi dimana seluruh anak buahnya sedang menghilangkan ingatan manusia-manusia yang tak tahu apa-apa di dalam cafe ini, Arran memutuskan untuk memutus pertikaian dan segera pergi dari sini untuk menyelesaikan perempuan ceroboh yang menjadi masalahnya ini. Disambarnya kantong roti itu dengan sebelah tangannya yang sedang menyangga kepala Remi, lalu dibalikkan badannya dan melangkah menuju pintu.

“Kalian segera kembali lagi ke hotel setelah aku membereskan dia,” Arran mengedikkan dagu ke arah Remi di dalam gendongannya, “Aku akan menyusul setelah semua beres.” perintahnya dengan nada dingin tak terbantahkan, lalu dalam sekejap keluar dari pintu cafe meninggalkan anak buahnya di sana menangani situasi.

Setelah Arran pergi, hanya butuh beberapa waktu sebelum Yerev melepaskan pegangan tangannya dari dahi Giza, membuat Giza mengerjapkan mata dan membelalak ketika melihat Yerev ada di depannya.

“Anda membutuhkan sesuatu?” Giza mengenali Yerev sebagai salah satu pelanggannya, tetapi Yerev telah menghapuskan ingatan Giza tentang Arran dan insiden yang menyusul setelahnya. Bagi Giza, Arran tidak pernah memasuki pintu cafe ini.

“Ah ya… saya tadi meminta izin Anda untuk melihat proses pembuatan kopi ini dari dekat karena saya begitu tertarik dengan rasanya yang sangat nikmat.” Yerev dengan lancar menyentuh cangkir kopi di dekatnya, “Maaf jika saya merepotkan Anda, Anda tadi bilang sedang cukup kerepotan hari ini melayani pelanggan, karena asisten Anda sedang sakit.” sambung Yerev dengan tatapan menilai.

Giza mengerutkan kening, “Sakit? Remi?” Yerev telah memanipulasi ingatan Giza dengan menanamkan kenangan palsu bahwa Remi meminta izin sakit hari ini, hal itu membuat Giza menganggukkan kepala kemudian, “Ya… cuaca sedang tidak baik dan semalam asisten saya pulang malam sekali, mudah-mudahan sakitnya tidak terlalu parah.” ujar Giza kemudian, lalu membalikkan badan dan menghadap ke arah kopi yang hendak dia panggang, “Anda ingin melihat dari dekat? Saya mengambil biji kopi terbaik dan memanggangnya pada suhu khusus untuk memastikan rasanya tidak terlalu asam tetapi tidak hilang sepenuhnya, Kopi ini tetap meninggalkan jejak asam di lidah demi keautentikan rasanya.” Giza sibuk berkutat, mengambil cangkir dan menyiapkan campuran lain untuk semakin memperkaya rasa kopinya, “Seperti ini caranya.”

Yerev tersenyum lebar, lalu mendekat sambil menampilkan rasa tertariknya akan apa yang sedang dilakukan oleh Giza.

***

Arran mengerutkan kening ketika buliran hujan salju berjatuhan semakin deras menimpa mantel hitamnya. Jarak antara cafe menuju rumah Remi memang tidak begitu jauh, tetapi perjalanannya sedikit terhambat karena harus berjalan menembus angin bersalju yang seolah-olah sengaja bergerak melawan arah untuk menahan tubuhnya.

Arran sedikit membungkuk dan berusaha mempercepat laju langkahnya menembus salju, dia ingin segera membebaskan diri dari butiran salju dingin dan tak menyenangkan ini dan menyelesaikan masalah perempuan kecil ceroboh yang sangat mengganggu.

Jalanan yang dilaluinya untuk menuju rumah Remi memang cukup sepi, hanya ada satu dua mobil yang berlalu lalang mencoba menembus derasnya salju dengan ban-ban berantai salju yang khusus dipasang untuk menembus jalanan dengan salju tebal dan es beku nan licin yang pasti akan membuat ban-ban tergelincir. Tidak ada manusia yang cukup bodoh berjalan menembus salju di petang mendingin dengan angin besar yang menandakan badai segera datang seperti yang dilakukan oleh Arran, dan itu cukup menguntungkan, setidaknya Arran tidak harus berurusan dengan saksi mata yang mengganggu perjalananya yang harus menambahkan tenaga untuk melakukan penghilangan ingatan lagi.

Remi mengerang di dadanya, membuat Arran menundukkan kepala dan mengerutkan kening ketika menyadari bahwa perempuan itu sangat kedinginan. Butiran salju hampir memenuhi rambut dan pipinya serta membekukan kulit pucat Remi, tak heran perempuan itu menggigil kedinginan. Sambil mendengus tidak suka, Arran semakin mendekatkan Remi ke dadanya dan mempercepat langkah.

Mereka sampai di kompleks perumahan tua yang sangat sepi dan kemungkinan besar berisi lansia yang tidak kuat menahan hawa dingin sehingga memutuskan tidak keluar dari rumah. Langkah Arran membawanya hingga sampai di depan pagar rumah paling ujung, yang sekarang dibawah cahaya remang petang yang hendak menjelang tampak reyot dan menyedihkan. Semalam di bawah kegelapan remang bulan yang menaungi, dalam kondisi tubuhnya yang terluka pula, rumah ini tidak tampak seburuk ini, bahkan ketika dia meninggalkan rumah ini di pagi harinya pun, Arran tidak mau repot-repot menengokkan kepala ke belakang untuk melihat kondisi rumah ini dengan jelas.

Tetapi sekarang didepan matanya tampak sebuah rumah kecil berlantai dua dari kayu lapuk yang begitu reyot hingga Arran yakin rumah itu akan ambruk setiap saat.  Arran mengerutkan kening ketika memaksa dirinya memasuki pekarangan yang tertutup salju, menjejakkan sepatu bootnya langkah demi langkah hingga sampai di pintu rumah yang tertutup rapat.

Manusia semiskin apa yang tinggal di dalam rumah sebobrok ini di kota yang hampir selalu dipenuhi salju sepanjang tahun?

Arran bahkan yakin bahwa rumah ini tidak memiliki pemanas yang layak dan hanya bergantung pada perapian yang sama reyotnya yang mungkin akan meledak suatu waktu dan membakar seluruh rumah hingga rata dengan tanah.

Ide bagus. Mata Arran bersinar dengan kejam dan dia menyeringai ketika memikirkan tentang rumah yang terbakar. Mungkin jika perempuan ini terus menyulitkannya, dia bisa membuat skenario pembakaran rumah untuk menyingkirkan masalah. Pihak berwenang tidak akan merasa curiga karena mereka semua pasti sepemikiran dengannya, bahwa rumah ini akan ambruk suatu saat nanti entah karena rayap atau karena terbakar api. Tetapi tentu saja Arran tertahan akan peraturan klan yang jelas-jelas melarang para pengubah wujud untuk melukai manusia-manusia yang tidak berdosa.

Jika perempuan ini masih ingat, satu-satunya cara bagi Arran untuk menyelesaikan masalahnya adalah dengan membawa perempuan ini ke hadapan para tetua yang lebih berpengalaman untuk mencari tahu kenapa ingatan perempuan ini tidak bisa dihilangkan.

Tangan Arran bergerak menyentuh pintu, dan dia tidak pernah membutuhkan kunci untuk memasuki rumah siapapun, apalagi rumah reyot seperti ini. Dengan mengerahkan sedikit tenaganya, Arran memutar kenop pintu dengan paksa hingga terdengar bunyi klik seperti sesuatu yang patah, dirinya sedikit kesulitan karena tangannya memegang kantong kertas berisi roti gandum yang sekarang telah mendingin karena dibawa menembus hawa bersalju di luar, tetapi Arran bisa menggunakan kekuatannya dan membuat pintu itu terbuka lebar untuknya.

Perlahan Arran melangkah masuk ke ruang tamu untuk kemudian menutup pintu di belakangnya perlahan.

Arran berdiri di tengah ruangan, menatap ke lantai atas dan dia tahu ada satu penghuni rumah yang saat ini sedang berada di kamar lantai dua. Tanpa bersuara Arran melalui ruang tamu tempat dia terbaring menahan sakit semalam dan mencari ruangan lain untuk meletakkan perempuan dalam gendongannya ini. Ketika melewati meja dapur, dengan sambil lalu Arran meletakkan kantong kertas berisi roti gandum itu untuk kemudian berjalan kembali mencari tempat.

Langkahnya terhenti ketika menemukan satu kamar kecil dengan satu tempat tidur yang hampir memenuhi seluruh ruangan padahal tempat tidur itu berukuran kecil dan hanya untuk satu orang. Kamar itu sangat dingin hingga Arran mengerutkan kening sekali lagi, tidak memahami kenapa ada manusia yang bisa bertahan di dalam rumah yang sangat tidak nyaman seperti ini. Tanpa ragu Arran melangkah memasuki ruang kamar itu, memandang sekeliling hanya untuk menemukan bahwa kamar itu hampir-hampir tidak berperabot. Yah, seluruh isi kamar kecil ini sudah terserobot oleh satu tempat tidur tunggal di sisi dinding, sisanya hanya cukup untuk diisi keranjang tinggi yang sepertinya digunakan untuk pakaian bersih yang telah dicuci dan dilipat rapi.

Bahkan penghuni rumah ini tidak memiliki lemari untuk menyimpan pakaiannya dan hanya menyimpannya di keranjang…

Arran meletakkan Remi di atas ranjang dan perempuan itu langsung bergelung meringkuk, setengah memeluk lututnya sendiri. Arran berdiri sambil menatap kaku ke arah tubuh Remi, lalu setelah menggertakkan gigi tidak suka, dia meraih selimut tebal dan menyelimutkannya ke tubuh Remi hingga di bawah dagu perempuan itu.

Arran lalu melangkah keluar dari kamar, matanya memindai seluruh ruangan dan dengan segera bisa memastikan bahwa penghuni rumah jelek ini hanya tiga orang, dua orang perempuan yaitu Remi dan Ibunya, serta satu anak kecil yang adalah adik Remi. Tidak ada laki-laki dewasa di rumah ini melihat dari tatanan rumah serta beberapa perbaikan perabotan yang ala kadarnya dan kurang ahli. Jika informasi yang diberikan oleh Giza benar adanya, maka ibu Remi baru akan pulang kerja ketika malam menjelang. Itu berarti Arran memiliki waktu cukup untuk membereskan masalah ini.

Kepala Arran mendongak ke lantai dua, dia tahu bahwa dia harus memastikan bahwa adik Remi tidak mengganggunya saat ini. Dengan perlahan Arran melangkah menaiki tangga yang berujung pada sebuah pintu tunggal di lantai atas. Bagian lantai atas rumah ini sedikit lebih hangat jika dibandingkan dengan hawa dingin membekukan di lantai bawah, menunjukkan bahwa penghuni rumah ini lebih memprioritaskan kenyamanan dan kehangatan adik Remi yang sepertinya menghabiskan sebagian besar waktunya di lantai atas rumah ini.

Mungkin karena anak itu sakit.

Sebagai seorang pengubah wujud yang memiliki insting kuat macan kumbang di dalam dirinya, Arran memiliki kemampuan untuk mendeteksi manusia-manusia yang sedang digerogoti penyakit di dalam tubuhnya ataupun manusia-manusia yang sedang sekarat, dan adik Remi adalah salah satunya.

Perlahan Arran membuka pintu kamar itu dan matanya menemukan sosok anak kecil yang sedang tidur pulas tengkurap dengan mulut sedikit membuka di balik selimut tebal yang membungkus hampir keseluruhan dirinya dan hanya menyisakan kepalanya saja.

Ruangan kamar itu sedikit remang dengan lampu kekuningan yang memenuhi pengelihatan, menciptakan suasana hangat yang terbantu dengan pemanas khusus yang ternyata berada di dalam kamar. Kamar ini memiliki atap segitiga yang menurun, seharusnya diperuntukkan menjadi loteng tetapi dialihfungsikan menjadi tempat tidur. Mangkuk-mangkuk makanan yang sudah kosong terletak di meja berbarengan dengan gelas yang juga kosong. Isi ruangan ini menunjukkan bahwa seluruh kebutuhan anak itu sudah disiapkan sebelum ditinggalkan sendirian di rumah. Beberapa buku berserakan di karpet, pun dengan mainan berbentuk robot yang saling tumpang tindih di sana setelah sepertinya habis dimainkan untuk beberapa lama.

Anak ini rupanya sudah terbiasa mandiri dan ditinggalkan sendirian ketika orang-orang dewasa di rumah ini pergi bekerja.

Arran melangkah tanpa suara menginjak karpet tebal hingga berdiri di samping tempat tidur, dia lalu menyentuhkan tangannya di dahi adik Remi. Tubuh kurus itu menggeliat pelan sementara Arran membisikkan kalimat singkat yang menyuruh anak itu tetap tertidur. Seketika tubuh anak kecil itu melemas dan tenggelam ke dalam lelap yang lebih pekat.

Arran menatap ke arah anak kecil tersebut sambil mengawasi pergerakannya. Setelah yakin bahwa anak itu tidak akan bangun dan mengganggu untuk beberapa lama, Arran membalikkan badan, melangkah keluar kamar dan menutup rapat pintu kamar tersebut.

Setelah menuruni tangga, Arran memutuskan untuk menyalakan perapian supaya hawa membekukan di lantai bawah sedikit terbantu untuk menghangat. Dia memasukkan kayu yang ditumpuk rapi di samping perapian usang yang telah tua, lalu menyalakan api. Setelah memasang pelindung perapian, Arran membalikkan badan dan kembali ke kamar tempat Remi berada. Diseretnya kursi dari ruang makan memasuki kamar tersebut dan Arran meletakkannya di samping tempat tidur sebelum kemudian duduk di sana, mematung sambil menunggu Remi membuka mata.

***

Tidak perlu waktu terlalu lama bagi Remi untuk memperoleh kesadarannya kembali. Mungkin setelah tiga puluh menit Arran menunggu, Remi mulai merasakan tubuhnya menghangat karena selimut tebal dan udara hangat yang mulai melingkupi seisi rumah yang berasal dari nyala perapian. Dia menggeliat perlahan lalu mulai membuka matanya.

Remi mengerjapkan mata ketika menyadari bahwa kamarnya setengah gelap, cahaya yang masuk hanya berasal dari lampu dapur yang mengintip sedikit dari pintu yang terbuka di ujung sana.

Sekali lagi Remi mengerjap ketika merasakan rasa tidak nyaman yang tidak enak, membuat punggungnya merinding ngeri secara tiba-tiba.

Di mana dirinya?

Remi membuka mata, menunduk untuk melihat selimut tebal yang membungkus tubuhnya dan menyadari bahwa dia berada di dalam kamarnya sendiri, sedang terbaring di atas ranjang. Dahi Remi mengerut ketika ingatannya langsung kembali dan memukulnya bertubi-tubi, membuatnya melebarkan mata penuh ingin tahu dan kebingungan ketika otaknya tidak mampu menjangkau kenapa dirinya bisa berakhir di dalam rumahnya sendiri padahal sebelumnya dia tengah dikeroyok dua lelaki asing yang mengerikan.

Remi menolehkan kepala ke samping dan terkesiap ketika matanya menemukan sosok yang paling dia takuti ternyata ada di sana, duduk di sebuah kursi, bersedekap beku seperti batu dan menatapnya dengan dingin. Tatapan matanya begitu membekukan, mengirimkan sinyal sedingin es hingga Remi menggigil karenanya.

Arran cukup menatap mata Remi dalam untuk menilai semuanya, dan ketika dia mengambil kesimpulan, sebuah umpatan terlontar dari bibirnya.

“Sial!” Arran bergerak membungkuk mendekat hingga Remi terloncat dari tempat tidur, duduk dengan ketakutan di sisi lain dinding dan berusaha sejauh mungkin dari sana. Tubuh Remi terperangkap di sana, tidak bisa lari karena dia tahu bahwa dirinya harus melalui Arran terlebih dahulu untuk melakukannya.

Arran seolah-olah sama sekali tidak memedulikan ketakutan Remi. Lelaki itu masih duduk di kursinya, tetapi tubuhnya membungkuk ke depan sementara kedua sikunya bertumpu di lutut dan jari jemarinya terangkai di dekat mulutnya. Mata Arran berkilauan kembali dengan warna keemasan menyala, membuat gemetar di tubuh Remi semakin nyata.

Manusia normal tidak memiliki warna mata emas menyala. Manusia normal juga tidak akan bisa berubah-ubah warna mata seperti itu. Dan kenyataan bahwa Arran bisa mengubah warna mata sesuai dengan emosinya sudah jelas menunjukkan bahwa lelaki itu bukanlah manusia.

“Kenapa kau masih ingat?” Arran menggertak dengan geraman dingin yang lolos dari bibirnya, “Jelaskan padaku, sebenarnya kau ini apa?”

Pertanyaan yang diucapkan dengan nada mengancam itu membuat Remi semakin mencengkeram selimut tebal yang dia anggap sebagai satu-satunya pelindung untuk tubuhnya, dia mengerutkan kening, bingung harus menjawab apa. Dan ketika dia menjawab, suara yang keluar dari tenggorokannya terdengar tercekik menahan takut.

“Bu… bukankah aku yang seharusnya bertanya… kau… ini… apa?” suara Remi hilang tertelan di tenggorokan seiring dengan Remi menelan ludah untuk membasuh ketakutannya supaya luntur dan menghilang. Sayangnya aura mengerikan yang dibawa oleh Arran terlalu kuat, hingga ketakutan itu bercokol dengan keras kepala dan terus menghantui di dalam dirinya.

Arran menipiskan bibir, menatap Remi dengan pandangan mencemooh.

“Kau tidak dalam kapasitas untuk menanyakan hal itu kepadaku. Levelmu terlalu rendah.” suara Arran terdengar tidak kalah menghina dari tatapannya, “Dan seharusnya kau melupakan semuanya supaya hidupmu tenang dan baik-baik saja. Sayangnya kau tidak lupa.”

Remi menggigit bibirnya dengan frustasi, “Bagaimana aku harus lupa? Aku tidak tahu caranya. Kau… seharusnya kau yang membuatku lupa, bukan?”

Arran menelusuri seluruh diri Remi tanpa menyiratkan belas kasihan sedikitpun sebelum berkata, “Entah kenapa sepertinya kau diciptakan untuk tidak bisa lupa.” Arran menyahut dingin, sedingin tatapannya yang dilemparkan dengan penuh penilaian ke arah Remi, “Dan jika kau tidak bisa lupa, maka hanya ada satu cara.”

Nada suara Arran melemparkan kembali ketakutan yang menghantui jiwa Remi. Lelaki itu berkata seolah-olah dia telah memutuskan untuk menghabisi Remi supaya tidak berbicara tentang apa yang diketahuinya kepada orang lain.

Berpikir bahwa dirinya akan dibunuh membuat Remi diterpa ketakutan bercampur cemas yang amat sangat. Dia tidak memikirkan dirinya sendiri tetapi dia memikirkan keluarganya, terutama adiknya yang sedang sakit. Ibunya telah bekerja terlalu keras untuk menanggung biaya pengobatan Lenka, seluruh uang yang dihasilkan oleh Ibunya habis untuk itu karena obat untuk Lenka merupakan obat khusus yang harus diminum secara berkala pada waktu tertentu serta tidak boleh terlewat satu kalipun karena akan berakibat fatal.

Obat itu cukup mahal dan tidak selalu tersedia, apalagi di kota kecil tempat mereka tinggal yang terletak di ujung bumi dimana membutuhkan usaha cukup keras untuk mendistribusikan barang termasuk obat-obatan kemari. Karena itulah setiap pasokan obat tersebut datang ke fasilitas kesehatan yang ada di kota ini, salah seorang pegawai langsung menghubungi ke rumah dan Ibu mereka harus membeli obat dalam jumlah besar untuk persediaan sebelum obat itu habis diborong oleh pasien yang lain yang membutuhkan obat yang sama. Ibunya menabung seluruh penghasilannya untuk membeli obat itu karena jika obat itu tidak tersedia, Lenka akan menurun kondisinya dan terancam nyawanya.

Sementara Sang Ibu menggunakan seluruh uangnya untuk membeli obat dan cadangan biaya perawatan serta kontrol berkala ke dokter, Remi bertugas memenuhi seluruh kebutuhan keluarga itu dari pendapatan yang diperolehnya dengan bekerja ke cafe. Dialah yang membeli seluruh perlengkapan kebutuhan rumah mulai dari sabun  untuk mencuci pakaian, susu, telur, gula dan juga kebutuhan-kebutuhan lainnya. Prioritas utama Remi adalah makanan dan dia hampir-hampir tidak memiliki dana lebih untuk membeli pakaian atau kebutuhan lain seperti yang dilakukan perempuan-perumpuan seumurannya. Tetapi meskipun begitu, Remi tidak pernah mengeluh karena setidaknya di tengah kota kecil dengan udara membekukan ini, mereka masih memiliki atap untuk bernaung, rumah yang cukup hangat dan juga yang paling penting : makanan untuk dimakan.

Jika Arran membunuh Remi, bagaimana dengan ibunya? Bagaimana dengan Lenka?

Kepanikan memenuhi benak Remi membuat matanya berkaca-kaca dan air mata menetes dari sana, bibirnya bergetar ketika mengucapkan permohonan untuk menyelamatkan nyawanya demi keluarganya.

“Kumohon… jangan bunuh aku.” Remi mulai terisak ketika berhasil mengeluarkan suaranya yang gemetaran, “Aku… aku akan menutup mulut dan tidak berbicara kepada siapapun. Kumohon… aku punya ibu dan adik yang harus kubantu…”

Arran menyipitkan mata, ekspresinya begitu dingin seolah-olah tak tersentuh melihat Remi yang mengiba-iba kepadanya.

“Aku tidak akan membunuhmu. Tetapi bukan berarti aku akan melepaskanmu.” Arran akhirnya berbicara dengan desisan mengerikan, “Kau ikut denganku dan aku akan menghilangkan seluruh ingatan orang-orang yang mengenal dirimu, mereka tidak akan pernah ingat bahwa kau ada di dunia ini.”

Kata-kata Arran begitu mengerikannya hingga Remi membelalakkan mata dipenuhi oleh teror yang menakutkan.

Apakah lelaki ini sudah gila? Dia berbicara mengenai mencabut seseorang dari kehidupannya dengan tanpa hati. Remi mencintai keluarganya bahkan dengan segala kekurangan yang ada, dan dia tidak mau keluarganya tidak pernah menganggapnya ada.

Bibir Remi terbuka, hendak menjeritkan perlawanan ketika suara dari pintu mengalihkan perhatian mereka berdua.

“Remi? Kau sudah di rumah? Kenapa pintunya tidak terkunci?”

Mata Remi melebar ketakutan dan dia melirik ke arah Arran yang waspada. Itu adalah suara ibunya. Rupanya ibunya tidak bekerja lembur malam ini dan memilih waktu yang salah untuk pulang ke rumah di saat genting yang membahayakan seperti saat ini.

Tubuh Arran sendiri membeku, dia begitu lupa waktu hingga tidak menyadari akan datangnya interupsi yang tidak diduganya tersebut.

Langkah-langkah kaki terdengar mendekat tanpa bisa ditahan sementara Arran beranjak berdiri menghadap ke arah pintu. Remi sendiri berjuang untuk bangkit dari tempat tidur guna mencegah ibunya memasuki kamar dan melihat Arran yang bergitu berbahaya di dalam kamarnya.

Remi meloncat dengan sisa tenaga hendak menuju pintu, sayangnya kakinya yang masih lemah serta gemetar tidak mampu menahan tubuhnya yang menjejak tiba-tiba hingga dia sempoyongan dan menimpa tubuh Arran yang berdiri di depannya. Dalam sekejap Arran membalikkan badan, membungkuk untuk menopang tubuh Remi hingga perempuan itu tidak terjerembab jatuh ke lantai. Pada saat yang bersamaan, langkah kaki ibu Remi telah melewati ambang pintu dan perempuan itu menyalakan lampu yang berada di dinding dekat pintu hingga kamar yang tadinya gelap itu berubah terang, memunculkan segalanya dengan jelas di depan mata.

Ibu Remi terperangah akan pemandangan tak diduga yang terpampang di depannya, perempuan setengah baya itu membelalakkan mata lebar dipenuhi keterkejutan ketika melihat anak gadisnya berada di pelukan lelaki dewasa asing yang sama sekali tidak dikenalnya, mereka berdua berada di dalam kamar dan posisi mereka saling berpelukan dengan mencurigakan.

Mata Ibu Remi menyipit ketika menelusuri wajah lelaki asing itu yang bahkan sama sekali tidak memiliki kesopanan untuk melepaskan Remi dari pelukannya saat mereka terpergok oleh Ibu Remi.

Ibu Remi menelusuri penampilan Arran dengan penuh penilaian dan tahulah dia bahwa lelaki dewasa ini adalah lelaki kaya yang berasal dari luar kota, bukan dari sekitaran kota kecil ini. Tidak mungkin penduduk kota ini bisa berpenampilan seperti artis kenamaan dengan pakaian yang terlihat mahal dari ujung kepala sampai ujung kaki seperti ini.

Penduduk kota kecil tempat mereka berada, baik laki-laki setengah baya maupun yang seumuran lelaki asing di kamar Remi ini biasanya bekerja mencari nafkah sebagai pemburu atau menjadi pegawai di toko-toko kecil yang ada di seluruh kota, kadang-kadang mereka menjadi pemandu wisata untuk turis-turis yang datang untuk menikmati suasana bersalju sambil bermain ski di lokasi khusus untuk wisata orang-orang kaya.

Tidak ada orang yang kaya berlebih di daerah ini, yang ada adalah orang yang berkecukupan dan orang yang kekurangan seperti mereka. Dari seluruh manusia tersebut, meskipun sangat berkecukupan, tentu tidak ada yang bisa memiliki uang cukup untuk dihambur-hamburkan demi membeli pakaian mahal yang tidak ada gunanya dipakai di kota kecil seperti ini, semuanya tentu lebih memilih menimbun bahan makanan untuk berjaga-jaga jika cuaca bersalju semakin ekstrim dan distribusi bahan makanan ke kota kecil mereka terhambat untuk beberapa lama serta memaksa mereka menghemat untuk bertahan hidup.

Lelaki yang memeluk anak gadisnya itu mungkin salah satu dari turis kaya yang datang ke kota ini untuk menghabiskan uang dengan cara tak biasa dan dia bertemu dengan Remi ketika mengunjungi kedai kopi milik Giza tempat Remi bekerja.

“Ibu.” Remi meronta, berusaha melepaskan diri dengan panik dari pegangan Arran dan saat itu barulah Arran melepaskan cengkeraman tangannya dari tubuh Remi, “Aku pikir ibu lembur malam ini…” suara Remi tertelan di tenggorokan, kepalanya mendongak menatap Arran yang tinggi, lalu kembali lagi ke ibunya, bingung mencari cara untuk memecahkan suasana canggung yang begitu kental.

Remi berdehem ketika ibunya tidak menjawab, malah melemparkan pandangan bertanya meminta penjelasan kepadanya. Ibu jelas-jelas ingin tahu siapa Arran dan apa yang dilakukan lelaki itu di dalam kamar Remi.

“Ini Arran.” Remi memperkenalkan nama Arran kepada ibunya, tidak memedulikan tatapan tajam Arran yang dilemparkan kepadanya ketika mendengar Remi memberitahukan namanya kepada ibunya, “Dia… dia eh pelanggan di cafe Giza, dia mengantarku pulang karena aku sakit.”

Ibunya mengerjapkan mata, lalu menatap Remi dengan tatapan menyelidik, “Kau sakit?” Sang Ibu bertanya perlahan untuk memastikan, tetapi tidak menunggu jawaban karena langsung bertanya yang lain lagi, “Di mana Lenka, apakah dia sudah makan?”

Remi menelan ludah dengan bingung karena tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan ibunya. Kemungkinan besar Lenka masih berada di kamarnya. Tentu begitu, bukan? Arran tidak akan mencelakai adiknya ketika Remi sedang tidak sadarkan diri, bukan?

Remi menatap gelisah ke arah Arran sementara lelaki itu memasang ekspresi datar seolah tidak peduli. Lalu Remi menelan ludah dan akhirnya menjawab dengan jujur kepada ibunya,

“Kurasa… Lenka sedang tidur di kamarnya.” ucapnya perlahan.

Ibunya langsung membelalakkan mata mendengar jawaban Remi,

Kurasa? kau bilang kurasa? Kau bahkan tidak mengecek kondisi adikmu ketika kau sampai di rumah? Apakah kau terlalu sibuknya sehingga… sehingga tidak melihat Lenka? Bagaimana kalau Lenka kenapa-kenapa? Dia sudah cukup menderita karena ditinggalkan di rumah sendirian seharian, bagaimana mungkin kau tidak memprioritaskan Lenka dan melihatnya dulu begitu kau sampai di rumah?” suara Ibu Remi meninggi, membuat Remi menundukkan kepala penuh rasa bersalah.

“Lenka baik-baik saja.” tanpa diduga Arran memecahkan keheningan dengan suaranya yang tenang dan berwibawa, membuat Ibu Remi dan Remi langsung menatap ke arahnya. Arran tidak sedang melihat ke arah Remi melainkan melemparkan tatapan mata tajamnya ke arah Ibu Remi, “Anda tahu sendiri bukan bahwa anak gadis Anda pingsan di tempat kerjanya karena sakit dan saya kebetulan yang bersedia mengantarnya? Remi bahkan baru sadarkan diri ketika Anda tiba. Tetapi saya sempat menengok kondisi Lenka di lantai atas dan memastikan bahwa anak itu baik-baik saja, sedang tidur dengan nyenyak.”

Jawaban Arran yang menenangkan itu membuat Remi melebarkan mata, menatap Arran dengan mulut ternganga karena tidak menyangka bahwa lelaki itu mau repot-repot membelanya di hadapan ibunya.

Sementara itu, ibu Remi melemparkan pandangan berganti-ganti kepada sosok lelaki kaya yang tampak begitu tenang tanpa rasa bersalah dan beralih kepada Remi yang sedang mendongak dan menatap lelaki yang diperkenalkan dengan nama Arran tersebut dengan tatapan terpesona.

Seketika kemarahan menyelimuti hati Ibu Remi, membuatnya menggertakkan gigi dan memberikan isyarat tangan ke arah Remi.

“Ikut ibu. Sekarang!” perintah Ibu Remi dengan suara tegas lalu melangkah pergi meninggalkan kamar itu tanpa menunggu jawaban Remi.

Remi menelan ludah, ketakutan terpancar di wajahnya ketika dia berjalan hendak mengikuti ibunya meninggalkan Arran. Ketika sampai di ambang pintu, tiba-tiba Remi membalikkan badan dan menatap Arran dengan pandangan mengiba.

“Kumohon… jangan sakiti ibu dan adikku. Kumohon, aku akan melakukan apa saja asal jangan sakiti mereka.” bisiknya dengan suara gemetaran, lalu tanpa menunggu jawaban Arran, perempuan itu setengah meloncat meninggalkan Arran yang masih terpaku di dalam kamar tersebut.

Telinga Arran yang tajam bisa mendengar langkah kaki Remi yang tergesa mengikuti langkah Ibunya yang memasuki kamar di samping kamar ini. Terdengar suara pintu  berdebam ditutup dengan kasar, tetapi itu tidak masalah bagi Arran, sebagai seorang pengubah wujud, indranya berkembang sama seperti macan kumbang yang menjadi wujud keduanya dan itu berarti dia bisa mendengarkan percakapan dari jarak jauh meski berbatas tembok dan pintu tertutup sekalipun.

Lagipula, Arran tidak memerlukan telinga dengan indra luar biasa untuk menguping, jika Ibu Remi berteriak-teriak penuh emosi seperti itu.

Arran melangkah keluar kamar, berdiri di ambang pintu dan telinganya mendengar teriakan-teriakan ibu Remi yang dipenuhi kemarahan sementara tidak ada suara apapun yang keluar dari mulut Remi untuk melawan.

“Kau sedang melacurkan dirimu ya? Menjual dirimu pada lelaki-lelaki kaya yang kau temukan di cafe?” terdengar suara ibu Remi berteriak menuduh dengan keras, lalu suara berdebam mengerikan yang memenuhi ruangan, membuat Arran mengerutkan kening karena menduga-duga apa yang terjadi di dalam.

Suara teriakan-teriakan ibu Remi lalu terdengar kembali, bahkan kali ini lebih histeris daripada sebelumnya.

“Aku sudah menduga bahwa kau tidak tahan hidup dalam kemiskinan dan mulai berpikir memanfaatkan tubuhmu untuk mendapat uang! Kau seperti perempuan itu! Aku sudah menduga bahwa kau akan berakhir menjadi pelacur seperti dia! Perempuan murahan! Berani-beraninya kau menjual diri di rumah ini ketika Lenka yang tidak berdosa sedang tidur di atas! Berani-beraninya kau!” Teriakan-teriakan itu semakin keras disusul dengan suara lain yang mencurigakan.

Dan ketika akhirnya Arran mendengar Remi mengaduh dipenuhi kesakitan, sadarlah Arran bahwa suara berdebam yang terdengar beruntun dan mengerikan itu adalah suara Remi yang sedang dipukuli oleh ibunya.

Seketika itu juga, entah karena apa, Arran tidak bisa menahan diri dan mencoba membuka pintu itu dan merangsek masuk untuk menghentikan apa yang sedang terjadi di dalam. Pintu itu dikunci dari dalam, tetapi Arran tidak memerlukan kekuatan lebih untuk mendorongnya dan memaksanya pintu itu membuka.

Yang ada di depan Arran membuatnya terpana, pemandangan memilukan yang bahkan tidak bisa ditahan oleh sisi manusiawi yang masih tersisa di dalam jiwanya.

Remi sedang terbaring tak berdaya menahan sakit, meringkuk seperti bola di lantai dengan lutut tertekuk mencapai perut sementara lengannya melingkar ke atas untuk melindungi kepalanya dari pukulan. Posisinya sangat mengenaskan di atas lantai sementara bilur-bilur berbentuk garis memanjang kemerahan memenuhi kulit lengannya dan entah di bagian mana lagi yang tak kelihatan, dari bibir Remi keluar erangan erangan yang memancing rasa iba karena dipenuhi permohonan supaya ibunya berhenti bercampur rasa sakit nan menggayuti.

Sementara itu Sang Ibu yang terlihat emosi masih bertingkah lupa diri seperti orang gila, terlihat terengah dengan rambut acak-acakan, wajahnya memerah penuh kemarahan sementara tangannya tiada henti terus mengayunkan gagang sapu yang berat dan terus menerus memukuli Remi sekuat tenaga seolah kehilangan akal sehat.

Seketika itu juga Arran meraung, meloncat secepat kilat untuk menjauhkan tubuh perempuan yang  terus memukul dengan menggila itu dari atas tubuh Remi, mencengkeram lehernya dan mengangkatnya ke atas hingga perempuan setengah baya itu megap-megap kehabisan napas dan melepaskan gagang sapu nan berat itu dari tangannya hingga jatuh ke lantai.

Bersambung ke Part Berikutnya

[/responsivevoice]

584 Komentar

  1. What an unpredictable story!

    1. Echie Armadani menulis:

      Liat arran kaya liat aslan ya ke mischa memandang rendah manusia kwkwkwk

  2. Kejam bngt ibu remi :bantingkursi :gakterima :gakterima

  3. Yuni Widaningsih menulis:

    Kasian Remi, apa jangan -jangan Remi itu bukan anak kandungnya kali :REBAHANKEBABLASAN

  4. Sedihhhhh.. :habisakal

  5. Kejamnyaaaa

  6. kejam banget ibunya Remi. Jangan-jangan bukan ibu kandungnya. :NGAKAKGILAA

Tinggalkan Balasan