Warfare Of Anchestry

Warfare Of Ancestry Part 21 : Fast and Loose

Bookmark

No account yet? Register

1.485 votes, average: 1,00 out of 1 (1.485 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

3005 words


© copyright 2018 @projectsairaakira seluruh karya di website ini telah didaftarkan dan dilindungi oleh hukum yang berlaku serta mengikat.

Dilarang meniru, menjiplak, mengubah nama tokoh, mengambil ide baik sebagian maupun keseluruhan isi cerita yang berada di dalam website ini. Jika Anda menemukan plagiat karya kami di wattpad, mari bantu dengan melakukan report copyright voiolance pada pihak wattpad. Kami sangat mengapresiasi laporan atau temuan dari vitamins menyangkut usaha plagiat baik keseluruhan maupun sebagian dari karya-karya ProjectSairaAkira yang dipublish di website ini, silahkan hubungi admin kami di [email protected] ^^


Alec Benjamin – Let Me Down Slowly

don’t cut me down, throw me out, leave me here to waste

i once was a man with dignity and grace

now i’m slipping through the cracks of your cold embrace

so please, please could you find a way to let me down slowly?

a little sympathy, i hope you can show me

if you wanna go then i’ll be so lonely

if you’re leaving baby let me down slowly


sebelumnya

 

Safed melemparkan tatapan mata tajam ke arah Yerev dan Haifa berganti-ganti.

“Upacara ini adalah suatu hal yang paling tidak kusetujui. Tetapi ini sudah menjadi keputusan para tetua sehingga aku tidak akan membantahnya.” desisnya pelan.

“Karena itukah Anda memutuskan tidak akan menghadirinya?” kali ini Haifa yang bertanya dengan nada berhati-hati.

“Bukan. Bukan karena itu. Aku seharusnya menghadiri upacara brengsek itu meskipun tidak mau. Tetapi ada perubahan rencana mendadak.” Ekspresi Safed berubah gelap. “Aku akan pergi bersama Khev. Sang kolektor mulai bergerak lagi. Kali ini di titik yang mengkhawatirkan.”

Yerev dan Haifa saling melempar pandang dengan tatapan ngeri. Khev adalah salah satu tetua yang paling bijaksana dan paling dihormati di antara para tetua. Secara tidak tertulis, dia adalah pemimpin para tetua klan pengubah wujud dan memiliki kekuatan yang sangat hebat. Jika Khev dan juga Safed yang berangkat sendiri untuk menangani masalah Sang Kolektor, itu berarti permasalahannya benar-benar serius.

“Apa yang terjadi?” akhirnya Yerev yang bertanya untuk memuaskan rasa ingin tahunya.

Safed mengusap wajahnya seolah kelelahan. Ketika menatap Yerev, rasa frustasi tergambar jelas dari wajahnya.

“Sang Kolektor bergerak. . Salah satu pengawas yang kita tugaskan mengirikan pesan bahwa dia mengendus keberadaan Conrad  -orang kepercayaan Sang Kolektor, di kota asal Remi- tempat dimana ibu dan adik Remi tinggal.”


“Bagaimana Conrad bisa tahu keberadaan Remi?” Yerev segera bertanya sebelum Safed benar-benar menjauh. Pikiran Yerev langsung kembali ke insiden yang mempertemukan Arran dan Remi serta memaksa Arran membawa Remi ke tempat ini, memisahkan perempuan malang itu dari rumahnya.

Lokasi tempat tinggal Remi bisa dibilang cukup terpencil. Daerah bersalju yang ada di ujung dunia, yang mungkin hanya merupakan titik kecil di peta. Orang hanya akan mengingat kota tempat tinggal Remi sebagai titik persinggahan sementara sebelum menuju resort mewah tempat sky yang sangat besar. Lokasi tempat tinggal Remi adalah lokasi yang sangat mudah dilupakan oleh orang awam.

Mengingat lokasinya yang terpencil, pertemuan Arran dengan Remi bisa dibilang seperti sebuah kebetulan yang luar biasa…. Yerev tiba-tiba tertegun ketika sebuah pemikiran merasuk ke benaknya, membuat matanya langsung menatap menyelidik ke arah Safed.

Atau jangan-jangan… pertemuan Remi dan Arran bukanlah sebuah kebetulan belaka?

Safed membalas tatapan mata Yerev dengan dingin. Mata lelaki itu menusuk ke dalam mata Yerev, seolah bisa membaca dengan pasti apa yang sedang berkecamuk di benak Yerev. Sebuah dengusan penuh peringatan keluar dari bibirnya ketika akhirnya dia berbicara.

“Ada hal-hal yang memang sebaiknya tidak diketahui, Yerev. Dan sebaiknya tetap begitu. Demi keselamatanmu sendiri,” setelah mengucapkan kalimat misterius yang tidak menjawab apapun, Safed langsung melangkah pergi. Meninggalkan Yerev dan Haifa yang tercenung bingung.

Pada akhirnya Yerevlah yang mampu melepaskan diri lebih dulu dari kebekuan yang meliputi mereka berdua. Dia menolehkan kepalanya ke arah Haifa dan menatap penuh ingin tahu.

“Apakah yang kau pikirkan sama seperti yang kupikirkan?” bisiknya perlahan.

Haifa menganggukkan kepala.

“Misi terakhirmu bersama Remi memang cukup aneh. Kalian ditugaskan untuk mengejar musuh di daerah terpencil di area yang sangat jauh, di luar wilayah yang biasanya kalian jangkau,” Haifa mengerutkan kening, setengah termenung.

Yerev menganggukkan kepala. “Seolah-olah ada yang direncanakan oleh para tetua, tetapi disembunyikan dari kita semua. Bahkan Arran pun yang merupakan bagian dari para tetua sepertinya tidak tahu,”

“Apakah menurutmu ini berhubungan dengan….” kalimat Haifa terhenti seketika ketika dia menyadari bahwa dia hampir-hampir menyebut topik terlarang mengenai ibu Arran. Beruntung dia berhasil menghentikan kalimatnya sebelum terlontar dari bibirnya.

Yerev menegang, lalu menggelengkan kepala seolah frustasi.

“Aku bahkan tidak tahu apa yang sedang terjadi di sekelilingku saat ini. Yang pasti kita harus memberitahu Arran. Menurutku penawarannya kepada Remi akan berubah setelah mendengar perkembangan tidak terduga ini,”

***

“Kesepakatan apa?”

Remi berusaha tampak tegar, dan dia tidak bisa melakukannya kalau dia dalam posisi berbaring di atas ranjang sementara Arran berdiri menjulang di depannya. Dengan gerakan cepat, Remi berusaha bangkit dari ranjang, menyingkapkan selimutnya dan berdiri.

Kesalahan besar karena kaki lemahnya yang tidak siap langsung terhuyung ke depan. Remi memekik, berusaha menyeimbangkan kakinya, membuat Arran berdecak kesal sebelum kemudian melangkah maju, menggunakan kedua tangannya untuk menahan sisi kiri dan kanan pundak Remi.

“Apakah kau harus selalu bersikap seperti itu? Seperti perempuan lemah yang tidak punya kekuatan apapun?” Arran membungkuk di atas Remi, sedikit mengguncang tubuh perempuan itu sebelum mengucapkan kalimat mengintimidasi yang terasa mengerikan.

Remi mengerutkan keningnya, berusaha menantang Arran meskipun posisinya terjepit.

“Tapi aku memang begitu, bukan? Sebelum bertemu dengan kalian semua, aku seharusnya hidup seperti manusia biasa. Tanpa kekuatan apapun. Bukan aku yang minta untuk dibawa kemari dan ditahan di sini. Kalian yang menahanku karena ramalan kalian mengatakan bahwa aku memegang kekuatan yang istimewa.”

Arran menyipitkan mata, jelas-jelas tidak suka karena Remi berani menyahuti kata-katanya.

“Merasa sombong karena dibutuhkan, Remi?” Arran menggertakkan gigi, “Jangan karena kau tahu bahwa kau memegang kekuatan istimewa lalu kau merasa berhak bersikap pongah di hadapanku!”

Pemikiran Arran yang selalu negatif membuat Remi merasa benci. Lelaki ini selalu memandang rendah dirinya dan selalu mengartikan setiap perkataannya dalam artian yang terburuk. Sebenarnya apa salahnya hingga Arran begitu memusuhi dan membencinya?

Remi meronta, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Arran di pundaknya. Tetapi, rupanya Arran sedang tidak ingin berbaik hati. Jika memang Remi ingin mengadu kekuatan, maka dia akan melayaninya. Mungkin Remi perlu ditunjukkan mengenai siapa yang terkuat di antara mereka.

Cengkeraman Arran di pundak Remi semakin menguat untuk menghentikan rontaan perempuan itu, membuat Remi meringis kesakitan.

“Aku bahkan bisa meremukkan pundakmu kalau aku mau,” Arran berucap mengancam dengan nada tidak sabar karena Remi tidak mau juga menyerah dan terus meronta, “Ketika aku ingin mencengkerammu, maka tidak ada sesuatu yang bisa kau lakukan untuk melawannya, dan ketika aku melaskanmu, itu karena aku mau, bukan karena kau yang mau,” sambil berucap kasar Arran secara tiba-tiba melepaskan pundak Remi dengan kasar, setengah mendorongnya hingga tubuh Remi terjerembab ke belakang, jatuh ke atas ranjang.

Dengan panik dan napas terengah, Remi berusaha bangkit, tetapi Arran bergerak lebih cepat. Lelaki itu menaikkan lututnya di atas ranjang, setengah membungkuk di atas tubuh Remi sementara kedua tangannya menjadi tumpuan tepat di sisi kiri dan kanan kepala Remi, memerangkap perempuan itu.

Napas keduanya terengah. Arran merasa tubuhnya terbakar dan dia tahu Remi merasakan hal yang sama. Siksaan karena ritual yang tak terselesaikan itu hampir-hampir tidak bisa ditahan oleh tubuhnya, membuat Arran merasa marah karena saat ini dia tidak bisa memiliki kuasa atas tubuhnya sendiri.

Dan semua itu gara-gara Remi. Gara-gara perempuan naif dari antah berantah yang memporak-porandakan kehidupannya yang damai hanya karena kehadirannya.

Mata Arran menyusuri wajah Remi, perempuan itu ketakutan, wajahnya merona merah sementara bibirnya terbuka, menguarkan napas terengah yang makin lama makin cepat. Rambut perempuan itu berantakan dan sebagian menutupi pipinya.

Arran langsung teringat ketika dia berhadapan dengan Remi di cafe itu sebelum dia tahu bahwa kemampuannya menghilangkan ingatan sama sekali tidak mempan. Saat itu juga seperti ini, matanya terpaku pada gulungan rambut lembut yang menjuntai di sana, bahkan Arran masih ingat benar bagaimana dia tergoda menyelipkan jari jemarinya di helaian rambut itu dan menggulung helaian rambut tersebut di jemarinya.

Lalu tanpa bisa ditahan, seolah-olah tersihir, Arran menggerakkan jemari untuk menyingkirkan helaian rambut berantakan itu ke belakang telinga Remi.

Suara terkesiap yang lepas dari bibir Remi menyadarkannya. Membuat matanya kembali menatap mata Remi. Beberapa detik Arran menatap mata polos yang tampak sangat ketakutan itu sebelum akhirnya dia berucap dengan suara rendah.

“Penawaran,” suara Arran tampak mengambang seolah-olah dia berusaha mengembalikan konsentrasinya. “Aku punya penawaran untukmu.”

Kali ini Remi yang mengerjapkan mata. Dalam posisi seperti ini yang bisa membuat siapapun yang melihatnya salah paham, Arran malahan berbicara dengan nada formal yang bertolak belakang.

“Penawaran apa?” akhirnya Remi berhasil berbicara dengan suara serak nan tersekat.

Mata Arran terpaku di bibir Remi, diliputi suasana magis aneh yang tiba-tiba memenuhi ruangan. Rasa panas merayap di seluruh diri Arran membuatnya menggertakkan gigi untuk menahan diri.

“Pernikahan nanti malam bagaimanapun juga harus terjadi. Tetapi, aku menawarkan kebebasan untukmu.”

“Kebebasan?” mata Remi melebar, penuh kebingungan.

Arran menganggukkan kepala.

“Menandaimu adalah kesalahan. Tetapi itu sudah terlanjur. Tidak ada yang bisa kulakukan selain menyelesaikan ritual menandaimu supaya kita sama-sama sembuh dan tidak tersiksa.  Tetapi aku tidak bisa menutupi bahwa aku tidak menyukai kehadiranmu di sini, dan kurasa kau juga sama. Karena itu aku menawarkan kebebasan untukmu.” Arran menatap Remi dengan penuh perhitungan, “Tiga bulan. Aku menawarkan pernikahan tiga bulan untukmu. Hanya itu waktu yang kubutuhkan untuk membereskan semua kekacauan yang berhubungan dengan ramalan dan semua yang mengikutinya. Setelah tiga bulan, kau boleh pergi. Kau bahkan boleh pulang ke rumah asalmu dan kembali kepada kehidupanmu yang dulu,”

“Kau akan memperbolehkanku pulang setelah tiga bulan? Tapi… apakah itu berarti setelah aku pergi, statusku tetap istrimu?” Remi mengerutkan kening, sedikit kebingungan. Lelaki itu mengatakan akan melepaskannya, tetapi di sisi lain Arran memaksa tetap melanjutkan pernikahan. Itu berarti perkataan Arran saling bertolak belakang. Bagaimana mungkin Arran mengatakan akan membebaskannya jika dia mengikat Remi dengan pernikahan?

“Aku akan melakukan sesuatu tentang pernikahan itu, aku akan mencari cara untuk menceraikanmu secara sah. Sampai hal itu terjadi, statusmu tetap istriku. Tetapi, setidaknya setelah tiga bulan, kau tidak perlu hidup di sini bersamaku. Apakah kau bisa menerima penawaranku ini?”

Remi membuka mulut. Pikirannya yang impulsif langsung bersuka cita dengan penawaran itu. Bagaimanapun juga, tiga bulan bersama Arran dan menahan derita jauh lebih baik daripada terikat bersama lelaki itu bersamanya seperti yang dikatakan oleh Haifa. Tentu saja Remi akan menerima penawaran itu. Kapan lagi Arran bisa dengan sukarela melepaskannya jika tidak sekarang?

Sayangnya, sebelum Remi menjawab, sebuah ketukan mendesak terdengar di pintu, mengalihkan perhatian mereka.

“Arran. Ini Penting. Kita harus bicara,”  suara Yerev terdengar tak sabar, dibarengi dengan ketukannya di pintu yang beruntun.

Arran menggeram, sekali lagi menunduk lebih dalam untuk memaku tatapan mata Remi.

“Kau tunggu di sini. Jangan bergerak.” ujung jari telunjuk Arran menyentuh dahi Remi sekilas sebelum lelaki itu bangkit dari posisinya membungkuk di atas ranjang, meninggalkan Remi telentang sendirian di sana. Tidak berani bergerak bahkan setelah Arran pergi.

***

“Yerev dan Khev pergi ke tempat asal Remi?” Arran mengerutkan kening ketika mendengar informasi itu, “Dan bagaimana mungkin ini berhubungan dengan Sang Kolektor?”

Mereka berdua masih berdiri di depan kamar Remi ketika Yerev menyampaikan kepergian Safed dan Khev yang berhubungan dengan Sang Kolektor.

“Aku tidak tahu, Arran. Safed juga bersikap misterius dan tidak mau menjawab pertanyaanku.” Yerev menjawab cepat. “Hanya saja, aku berpikir mungkin pertemuanmu dengan Remi memang bukan suatu kebetulan,”

“Apa maksudmu?” Arran menyambar dengan curiga.

“Yah, Remi tidak mungkin muncul tiba-tiba di sana, bukan? Di sebuah kota terpencil yang dikelilingi salju dengan jumlah penduduk sangat sedikit. Bisa dibilang tempat itu terlupakan dan hampir-hampir tidak diperhatikan orang.” Yerev memiringkan kepala, memastikan Arran mengerti maksudnya. “Seorang perempuan yang ada di dalam ramalan, muncul dari tempat seperti itu. Apakah kau pikir itu bukanlah suatu kesengajaan? Bagaimana jika Remi memang sengaja ditempatkan di sana untuk menyembunyikannya? Supaya kehadirannya tidak ditemukan?”

“Kalau memang pemikiranmu itu benar, siapa yang menurutmu menyembunyikan kehadiran Remi?”

“Entahlah. Sang Kolektor, mungkin? Karena menurut ramalan Remi adalah penyelamat klan kita jadi dia berusaha supaya kaum pengubah wujud tidak pernah menemukan Remi.”

“Kalau tujuan Sang Kolektor supaya kita tidak menemukan Remi yang di dalam ramalan disebut sebagai penyelamat kaum pengubah wujud, maka lebih mudah bagi Sang Kolektor untuk membunuh Remi, bukan? Kau tahu bagaimana kejamnya Sang Kolektor, dia membantai banyak kaum pengubah wujud dalam perburuannya yang kejam hanya demi menjadikan kaum kita bahan percobaan atas obsesinya menguasai dan mengkoleksi seluruh kekuatan pengubah wujud. Seorang perempuan lemah seperti Remi yang akan menjadi duri dalam daging di jalannya, tidak akan mungkin dia biarkan hidup jika dia tahu keberadaan Remi,” Arran menyahut dengan logikanya, membuat Yerev termenung.

“Kau benar juga. Kalau begitu teoriku salah. Kalau begitu, mungkinkah salah satu dari tetua yang menyembunyikan keberadaan Remi? Aku tadi sempat membicarakannya dengan Haifa dan kami mencurigai Safed dan mungkin satu atau dua tetua lain yang setuju untuk berkomplot dengannya,”

Arran mengerutkan kening. “Kalau memang itu yang terjadi, nanti malam ketika para tetua selain Safed dan Khev berkumpul, aku akan menanyakan semuanya di hadapan mereka. Bagaimanapun juga, aku merupakan salah satu dari tetua. Dan kebijakan para tetua selalu dibicarakan bersama. Jika ada yang berkomplot untuk mencapai tujuan sendiri, hal itu merupakan masalah serius dalam lingkup para tetua,”

“Menurutku tidak semua tetua bersalah dan tidak semua tetua tahu masalah ini. Tadinya aku berpikir bahwa pertemuanmu dengan Remi bukanlah kebetulan, tetapi dipikir-pikir, pertemuanmu dengan Remi mungkin memang kebetulan yang sayangnya menjadi kesialan pihak lain,”

“Maksudmu?” Arran menyambar lagi.

“Yah, kalau teori kita benar. Ada yang sudah mengetahui keberadaan Remi tetapi malah menyembunyikannya di kota terpencil itu. Entah dengan tujuan apa. Untuk saat ini aku berasumsi bahwa tujuannya adalah untuk melindungi Remi. Tempat itu sepertinya aman dan tidak terjangkau. Tetapi, tidak diduga kita mendapat tugas ke sana atas perintah ibuku. Itu berarti ibuku tidak terlibat di sini. Beliau tidak mengetahui keberadaan Remi di sana. Dan secara kebetulan karena bertugas di sana, kau bertemu dengan Remi,” Yerev tampak berpikir keras, “Kau ingat bahwa tujuanku ke tempat itu adalah karena ibuku ingin aku menengok perempuan bernama Giza yang memiliki cafe tempat Remi bekerja? Perempuan manusia yang suaminya adalah seorang pengubah wujud yang mati karena menjadi korban peburuan Sang Kolektor?

“Giza apa?”

Suara terkejut Remi terlepas begitu saja, terdengar di belakang mereka. Arran dan Yerev menoleh serentak dan mereka menemukan Remi berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat pasi. Entah sejak kapan perempuan itu berdiri di sana dan mendengar percakapan mereka.

***

Tubuh Giza terbanting jatuh di lantai ketika Conrad selesai menguras seluruh ingatan yang ada di kepala perempuan setengah baya itu. Giza terlihat tanpa daya, wajahnya pucat pasi dan matanya terpejam rapat setelah apa yang dilakukan oleh Conrad kepadanya. Bisa dikatakan Conrad membaca seluruh ingatan Giza dan menyerapnya, metode paksaan yang dilakukan oleh Conrad ini terkadang bisa membuat ingatan korbannya tidak bisa kembali utuh. Kenangan-kenangan akan saling bertumpuk dan tertukar, ingatan-ingatan penting akan menghilang dan berganti dengan ingatan palsu yang ditanamkan oleh Conrad ke kepalanya.

Mata Conrad tampak dingin ketika menelusuri tubuh Giza, menciptakan keheningan yang tak mengenakkan.

“Apakah kau baik-baik saja, Conrad?”

Pertanyaan yang menggema itu membuat Conrad mengerjapkan mata dan menolehkan kepala, menatap sosok wanita yang sejak tadi mendampinginya.

Gestur tubuhnya langsung berubah, sikapnya tunduk penuh hormat dan niat melayani.

“Maksud, Anda?” pertanyaan itu lolos dari bibir Conrad, dan sebelum perempuan yang dihormatinya itu menjawab, mata Conrad menyambar ke arah Giza yang tak berdaya, membuat otaknya langsung mengambil kesimpulan.

“Jika yang Anda maksud apakah saya baik-baik saja setelah menyerap ingatan Giza, maka ya, saya baik-baik saja. Saya sama sekali tidak terpengaruh,” Conrad menjawab dengan dingin dan tenang.

Perempuan misterius yang mendampingi Conrad tampak menatap ke arah lelaki itu, berganti-ganti ke arah perempuan yang berbaring tak berdaya di lantai.

“Dia tidak mengenalimu,” perempuan itu bergumam pelan.

Conrad langsung menganggukkan kepala.

“Dia tidak perlu mengenali saya. Fungsi keberadaannya di sini hanyalah sebagai pengawas yang tak terlacak. Dan setiap saya mengambil ingatannya, maka saya akan menanamkan ingatan baru di kepalanya. Itu berarti dia akan melupakan bahwa kita pernah kemari, seperti yang terjadi sebelum-sebelumnya,”

“Aku tidak membahas tentang kita berdua. Tetapi tentang kau. Kalian pernah memiliki sejarah bersama. Bagaimana rasanya ketika dia tidak mengenalimu?”

Pertanyaan perempuan itu terdengar tenang, tetapi Conrad bisa mengenali nada menyelidik penuh jebakan di sana. Ya, dia sedang diuji. Kesetiannya kepada tuannya sedang diuji.

“Apapun yang terjadi di masa lalu, itu terjadi di masa lalu. Mungkin aku pernah menikah dengan Giza. Tetapi, saat ini kesetianku hanya ada pada satu nama. Pada Anda wahai Sang Kolektor,”

Sikap Conrad menunduk hormat, penuh keyakinan yang terpatri jelas pada nada suaranya. Dan perempuan di depannya mengamati dengan tatapan mata yang tajam dan dalam. Lalu bibirnya menyeringai dan seketika, aura gelap tampak menyelimuti sosok perempuan cantik itu. Kabut seolah menghalangi pandangan, membuat perempuan itu tampak samar.

Dan ketika kabut yang membalut sosok perempuan itu menyingkir, munculah sosok asli di balik tampilan perempuan cantik yang misterius. Ya, dia adalah Sang Kolektor, seorang perempuan dengan wajah jelita di satu sisi dan wajah rusak mengerikan di sisi lainnya. Perubahan wujud dari satu sosok manusia menjadi sosok manusia lainnya merupakan salah satu keistimewaan Sang Kolektor yang tidak dimiliki oleh pengubah wujud lainnya.

Dia telah melakukan berbagai macam eksperimen, menggunakan berbagai macam percobaan yang telah memakan begitu banyak korban, hanya untuk memenuhi obsesinya untuk menguasai seluruh kemampuan perubahan wujud yang ada di dunia ini. Hasil penelitiannya telah membuatnya memiliki kemampuan yang luar biasa, dia bisa berubah menjadi apapun, menjadi seluruh hewan baik dari klan darat, air maupun udara, dan yang teristimewa, Sang Kolektor bisa berubah menjadi wujud manusia lain. Dia bisa berubah menjadi siapapun yang dia mau.

Seringaian Sang Kolektor tampak makin mengerikan ketika ditampilkan di wajahnya yang setengah rusak.

“Oh ya? Kalau begitu, coba buktikan kesetiaanmu padaku, Conrad. Kita sudah tidak membutuhkan Giza lagi. Bunuh perempuan itu. Aku ingin kau mematahkan lehernya di hadapanku,”

***

Bersambung ke Part berikutnya


Follow instagram 
@projectsairaakira 

untuk  mendapatkan 
pengumuman/pemberitahuan 

 jika kebetulan web sedang eror 

atau tidak bisa diakses. 

192 Komentar

  1. Ya ampun Giza ?

  2. Cookies_kiss menulis:

    Oh my God Conrad ternyata…

  3. Sumpahh aku kagett :habiskata :habiskata :habiskata

  4. Karina aristy menulis:

    Giza mantan istri conrad?! Jadi abis cerai ketemu sama suaminya yg meninggal itu 😱 makin penasaraaannn

    1. famelovenda menulis:

      OMG, Conrad!!! Apakah semua yg dilalui dan dirasakan Giza semuanya palsu? :kumenangismelepasmu :kumenangismelepasmu :kumenangismelepasmu

  5. Dhian Sarahwati menulis:

    Oh..oke?jadi Conrad mantan suami Giza
    Pertemuan arran dan Remi ada yg ngatur???

  6. Gotcha, tebakanku benarr :””))

  7. Terkejut 😱

  8. Lely Damayanti menulis:

    OMG :aw..aw gak nyangka klo sang kolektor adalah perempuan

  9. inenurhidayati menulis:

    aduhhh jadii si conrad nggk mati
    malah jadi budaknya si ratu buruk rupa wkwk

  10. Njir sang kolektornya ternyata cewek wkwk ku kira selama ini cowok wkwk

  11. Kolektor perempuan?? Wkkwk plot twist :sembursemburbyur

  12. Arran ini sebenarnya sudah tertarik dengan Remi saat pertemuan kedua mereka di cafe Giza. Mungkin sikap Arran yang kasar ke Remi selama ini hanya untuk menutupi ketertarikannya ke Remi. :kutungguapesmu

  13. LauraOlivia00 menulis:

    Wah jangan jangan ibu nya arran si kolektor lagi

  14. Oh, ya ampun ya ampun nasibmu Giza sungguh :banjirairmatahuhuhu

  15. SERAFINA MOON LIGT🌙❤💡 menulis:

    Sungguh diluar dugaan!!!!!sang kolektor itu ternyata perempuan :sungguhmenakutkan :sungguhmenakutkan :sungguhmenakutkan :sungguhmenakutkan
    Hmmm apa jagan2 sang kolektor itu ibu kandung Arran???

    Lanjut :sebarcinta :sebarcinta

  16. Nadia Putri Rosanti menulis:

    Pengen berkata kasar :bantingkursi

  17. faridaamalia menulis:

    bagus

  18. adegan deket tbc nya mengerikan…

  19. Maraton baca cerita ini karna udh lupa dulu udh baca sampe mana 😂
    Yg jelas ini udh. Jadi inget di next2 chap baca tentang si conrad. Sebnrnya dia baik atau jahat ya 😂

  20. ha? demi ternyat conrad? :berkacakaca

  21. alingdarma menulis:

    Jika :luculuculucuih

  22. nadine_anathasia menulis:

    :sebarcinta

  23. Nirwa Nanda menulis:

    :DUKDUKDUK

  24. Wow plot twist 🙌🙌

  25. Jd conrad suami giza yg di asumsikan selama ini dibunuh oleh sang kolektor msh hidup, dan dia berkhianat. :wowtakkusangka :wowtakkusangka

  26. Cookies_kiss menulis:

    Demi apa conrad dan giza ternyata suami istri 🥺

  27. Yuni Widaningsih menulis:

    Lah katanya suaminya udah mati ??? Kumaha ieu teh :otakkugakkuat

  28. Wow plot twits

  29. Oalahhh.. si Conrad tuh suami nya Giza.. suaminya jahat banget, ngambil ingatan Giza truz bikin ingatan baru.. bukan suami idaman ini mahhh…

  30. Semoga itu bukan Ibu Arran

  31. astaga. ternyata conrad suami giza. kolektor ternyata seorang wanita. :lapar

  32. isnaeninurhidayah menulis:

    Diluar dugaan sekali

  33. sang kolektor ternyata perempuan…

Tinggalkan Balasan