Vitamins Blog

Across The Railway – Chapter 4 : Aroma?

Bookmark

No account yet? Register

36 votes, average: 1,00 out of 1 (36 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading... “Jadi darimana asalmu?”

Alexa melepas tangannya dari muka. Jay ternyata sudah ada di ujung sana, entah sedang memasukkan apa ke dalam stoples yang berjejer rapi di depannya. Tapi kelihatannya seperti semacam cacing besar berlendir.

“Hei.. Aku bertanya padamu.” Panggil Jay tetap dengan membelakangi dirinya.

“Oh-uh. Eh, bisakah kau tidak bermain dengan hewan itu?”

Jay sedikit memiringkan tubuhnya. “Hewan?”

Alexa mengangguk sambil menunjuk apa yang sedang Jay pegang. “Itu… ew sangat menjijikan.”

Jay terkekeh. “Ini bukan hewan, ini tanaman tentakel berlendir. Tadi aku menyuruh dua bocah berisik yang sudah membangunkanmu untuk memeras lendirnya dan memasukkan ke stoples untuk persediaan. Tapi mereka justru pergi entah kemana.” Jay melirik ke arahnya. “Kau tidak mau lihat?”

Alexa mengernyit jijik dan menggelengkan kepala.

“Tidak seburuk kelihatannya. Lendirnya juga berbau wangi.” Jay melepaskan tangannya dari tanaman itu, dan mencucinya di wadah berisi air di sebelah container. “Meski terkesan menjijikan, tetapi lendirnya bisa sangat bermanfaat jika digunakan dengan baik. Misalnya jika dicampur dengan satu tetes violet serba guna, maka bisa dijadikan sebagai penawar racun, atau jika dicampur dengan daun bluetint, maka bisa dijadikan sebagai ramuan yang membuat tubuh kita menghilang.”

“Hah? Apa kau bercanda?” Tanya Alexa tidak mengerti, matanya terus memperhatikan Jay yang mengambil kursi dan menaruhnya di depannya, kemudian orang itu pergi lagi membuka lemari dan mengambil sebotol cairan berwarna kuning serta dua buah gelas kayu.

Jay mengisi gelas itu bergantian, lalu memberikan salah satunya pada Alexa. “Untuk apa aku bercanda? Maaf aku hanya punya minuman madu ini, minumlah, aku bersumpah jika tidak ada racunnya sama sekali.”

Alexa mengangguk ragu-ragu, lalu menerima gelas tersebut tapi hanya untuk dipegang saja, sedangkan Jay duduk di kursi di depannya sambil mulai menyesap minuman itu.

“Mengenai lendir tanaman itu… Mana mungkin bisa membuat kita menghilang? Oh come on, itu sama sekali tidak bisa dijelaskan oleh ilmu fisika, kimia, biologi, kedokteran, atau ilmu lainnya. Apa kau konyol? Lagipula tanaman macam apa itu, aku bahkan belum pernah melihatnya selama 18 tahun lebih aku hidup.”

Jay berhenti minum, bibirnya menganga dan matanya melotot tidak percaya. Ia menurunkan gelas dari bibirnya. “Bagaimana bisa kau belum pernah melihatnya? Memangnya di sekolahmu tidak diajarkan pelajaran kemakhluk hidupan?”

“Biologi maksudmu?” Tanyaku.

“Bio-bio apa? Biologi?”

Alexa mengangguk. “Iya biologi. Di pelajaran biologi kita kan mempelajari tentang makhluk hidup.”

Jay mengerutkan dahinya. Ia menunduk menatap gelas di genggamannya lalu kembali bersuara. “Tadi kau belum menjawab pertanyaanku.. Darimana asalmu?”

“Aku, aku dari Klora tapi aku tinggal di Boston sekarang.”

Kulihat Jay sedikit terkejut dengan keterangan yang aku berikan, karena matanya langsung beralih menatapku. Dahinya mengerut lama sebelum akhirnya satu tangannya yang bebas tidak memegang gelas terangkat seperti meraba udara. Dan kulihat Jay menghirup nafas dalam-dalam.

“Astaga kenapa aroma manusiamu sampai tidak tercium olehku?” Kata Jay hampir bersamaan dengan bunyi pop pelan, berasal dari dua orang remaja yang muncul di kanan kiri Jay –yang di kanan perempuan dan yang di kiri laki-laki- membuatku terkejut dan tambah tidak mengerti kenapa hal-hal aneh terjadi di sini.

“Jay, atmosfer berubah. Ada yang tidak beres..” Kata si perempuan.

“Sepertinya pihak kementrian sedang menuju ke sini. Ada apa?” Tanya remaja yang lelaki.

Jay mengedikkan dagunya ke arahku. “Dia bukan dari kaum kita.”

“APA??”

“Jadi dia manusia? Tapi aromanya…”

Jay menggeleng pelan. “Aku juga tidak mengerti kenapa aromanya tidak begitu terindra oleh kita. Tapi dia punya aroma itu. Aku membuka zonanya tadi, dan kurasa itulah penyebab kementrian datang ke sini. Mereka juga mencium aromanya.”

“Tapi aku tidak mencium aromanya meski kau membuka zonanya?” Tanya remaja perempuan.

“Itu karena level kita belum setinggi itu untuk mengindra aroma dengan tingkat rendah.” Jawab remaja yang laki-laki.

Alexa menatap orang-orang itu bergantian. “Ada apa ini? Apa maksudnya aroma? Manusia? Bukankah kita sama-sama manusia? Aku sebenarnya ada di mana?” Tanyanya bingung.

Tapi belum sempat ada yang menjawab pertanyaannya, ruangan tiba-tiba menjadi gelap gulita. Angin yang berhembus kencang menabrak jendela kaca di ruangan ini, membuat suara getaran seperti kaca pada bangunan yang tengah dilanda gempa. Jay menempelkan jari telunjuknya ke bibir, memberi isyarat supaya diam.

Jay memejamkan matanya seperti tadi dan melambaikan kedua tangannya sambil berbisik ‘come’, lalu berbagai stoples yang ada di ujung sana terbang ke arah kami, di susul sebuah meja besar dan stoples itu langsung menata sendiri di atas meja secara rapi.

“Kla, racik ramuan pengecil.” Perintah Jay pada remaja perempuan yang ternyata bernama Kla. Kla langsung sigap mengambil mangkuk dan berbagai tanaman lalu membawanya ke sisi meja yang kosong.

“Kevin, ambil teko di dalam almari, lindungi teko itu dengan mantra penyamar bau dan perupa kondisi.” Remaja yang laki-laki juga langsung sigap memenuhi perintah Jay.

Sedangkan Jay sendiri beranjak dari kursi, gelas yang ia pegang tadi tiba-tiba menghilang begitu saja dari genggamannya. Ia kemudian mengambil salah satu stoples di atas meja, membukanya, dan dirinya melambaikan satu tangannya lagi di udara. “Mess.” Desisnya, membuat segala sesuatu yang ada di atas meja berantakkan layaknya sudah dipakai untuk bereksperimen sejak tadi.

Alexa hanya berdiri bingung menatap apa-apa yang mereka lakukan, hingga akhirnya Kla menghampirinya dan memberikan segelas cairan. “Minumlah, itu akan membuat tubuhmu mengecil.”

“Tap-tapi..”

“Ayo, kita tidak punya banyak waktu.” Sela Kla membuat Alexa tidak bisa menyangkal lagi. Ia menerima gelas itu dan meneguknya dengan cepat. Rasanya pahit dan memberikan efek dingin ke kerongkonganku meski cairan itu sama sekali tidak diberi es. Dan setelah beberapa detik, tubuhnya mulai terasa aneh terasa seperti ada makhluk yang sedang berlarian di bawah permukaan kulitnya.

Tepat ketika remaja lelaki, yaitu Kevin datang membawa teko, tubuhnya mulai menyusut dan entah mimpi atau bukan tubuh Alexa kini jadi hanya sekitar 5cm. Oh God..

Jay menaruh telapak tangannya. “Kemari.” Katanya. Alexa menurut, ia berjalan naik ke atas telapak tangan Jay dan Jay menaruhnya ke dalam teko. “Tolong jangan berbicara apa-apa. Usahakan tetap diam dan bernafas sepelan mungkin. Jangan bergerak. Duduk saja, sampai aku membuka teko ini lagi. Mengerti?”

Alexa mengangguk.

“Kau mengerti atau tidak? Aku tidak bisa melihatmu kalau kau hanya mengangguk untuk menjawab.”

“Ya ya aku mengerti.” Kataku. Jay kemudian menutup teko tersebut. “Letakkan kembali teko ini di tempat semula Kev.”

Karena dibawa berjalan oleh Kevin, teko itu terasa bergoyang beberapa kali, hingga akhirnya berhenti. Semuanya menjadi terasa senyap sunyi, dan Alexa mengartikan jika berarti dirinya sudah berada di dalam lemari di mana teko ini tadi diletakkan.

Alexa memejamkan mata sambil menghela nafas pelan-pelan, berusaha untuk tidak panik dan menangis karena rasanya dua hal itulah yang sangat ingin ia lakukan saat ini.
*****

20 Komentar

  1. Waahh keren .. :owlkasihbunga

  2. Wajihah syarifah menulis:

    Ngeri,deh ?! Emangnya kementerian itu jahat ya,kak ?! Oh,ya kak,kk post berapa hari sekali,trus kalo mau ngasih vote gimana caranya ya,kak ?!

  3. Wajihah syarifah menulis:

    Oh,ya kk mereka yang menolong alexa itu penyihir,ya ?

    1. post kalo ada waktu luang ya, lagi sibuk ujian nih. Hmm penyihir bukan ya? 😀
      oh ya untuk vote klik aja itu simbol love di bawah judul terus tunggu sebentar. thanks ya udah mau baca❤️

  4. thx udah mau nyempetin mampir buat baca ^^

  5. Oh, bukan Jay toh, tapi orang lain,,

  6. Berasa baca harry potter lho…thanks yaa

    1. thanks juga ^_^

  7. Wewe, bagus nih

    1. bintarinf menulis:

      wewew terimakasih ??

  8. farahzamani5 menulis:

    Aduhhh kok deg2an ya baca ny
    Keren ihhh
    Bru baca masa tau2 dah tbc aja hihi
    Cuzz ke part berikutnya
    Semangat trs
    Oia untuk part ini ga ada lope-lope nya, kelupaan kah hihi
    Yuks di edit dikit biar lope-lope nya ada hehe

    1. bintarinf menulis:

      lope lopenya nanti yaa.. ini masih awal, love at first sight terlalu mainstream ???

    2. farahzamani5 menulis:

      Haha
      Okayy ka

  9. :inlovebabe :inlovebabe :inlovebabe

  10. Ini repost ya perasaan mimin dah baca, oh iya tulisan [ratings] nya sebaiknya diketik jangan copy paste dari cerita sebelumnya.
    Tetap semangat!
    Good story

    1. Yg cerita ini ratings nya sdh mimin perbaiki ya

    2. okay minn.. iya ini repost soalnya ratings udah diketik tapi tetep ngga muncul dan terimakasih sudah diperbaiki ^,^

  11. fitriartemisia menulis:

    AH! ternyata bukan liontin mesin waktu, haha
    padahal udah dijelasin ya di awal kalo bisa bawa ke dimensi lain haha akunya baru mudeng

  12. fitriartemisia menulis:

    hahaha ini bahasanya rapi lho aku berasa baca harpott hihi

  13. :TERHARUBIRU :TERHARUBIRU

Tinggalkan Balasan