Vitamins Blog

Across The Railway – Chapter 6 : Reaksi

Bookmark

No account yet? Register

32 votes, average: 1,00 out of 1 (32 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

 

Mia berdiri dengan sedikit kepayahan karena kakinya itu sampai mati rasa digunakan berjongkok berjam-jam menopang tubuhnya yang sedang memberi pupuk tanaman-tanaman di ladang itu. Kemudian setelah ia berhasil berdiri dengan sempurna, matanya langsung menyusuri tanaman-tanaman sayuran di hadapannya dan ia tersenyum puas. Sekarang jendral besar a.k.a ibunya itu sudah tidak punya alasan untuk menjitak kepalanya karena tugas negara telah dilaksanakan dengan baik.

Mission complete! Yash!

Dengan senyum kebanggaannya, Mia memungut semua peralatannya, memasukkannya ke dalam karung bekas pupuk dan dirinya pun beranjak pergi dengan melompati pagar pembatas lalu menyebrangi rel kereta. Mia tidak langsung masuk ke dalam rumah, ia terlebih dahulu menuju gudang di samping rumahnya untuk menaruh peralatan berkebunnya dan barulah disitu ia teringat kalau dirinya melupakan seorang makhluk…

“Aduh Alexa!!” Ucapnya lirih sambil menepuk jidatnya. Mia pun menaruh alat-alatnya itu dengan serampangan dan dirinya langsung berlari keluar dari gudang untuk melihat Alexa yang satu jam lalu masih terlihat ada di bawah pohon tapi ternyata kakak sepupunya itu sudah tidak ada lagi disana.

Mia tercenung sebentar, menggaruk kepalanya yang tidak gatal sebelum akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam rumah dan mendapati ibunya yang sedang menyulam di kursi tepat di samping pintu ia masuk itu.

“Ibu.. Apa ibu melihat Alexa?” Tanyanya.

Bibi Abe melihat putrinya itu sambil mengerutkan dahi. “Bukannya tadi dia bersamamu? Kukira kalian sedang pergi ke pohon cherry itu.”

“Justru itu bu, aku mencarinya karena aku baru mau mengajaknya kesana.”

“Jadi dari tadi kalian belum pergi?”

Mia berdecak, memutar bola matanya dan menatap ibunya dengan tatapan –apa ibu bercanda?

“For your information mom, aku kan habis berpanas-panasan dengan sekop, pupuk, dan baru saja selesai. Jadi, bagaimana ibu bisa berkata aku sudah pergi ke pohon cherry itu dari tadi?” Mia menghela nafas beberapa kali dan melanjutkan. “Apa mungkin Alexa ada di kamar ibu?”

Bibi Abe menggelengkan kepalanya sambil kembali meneruskan menyulam. “Ibu sudah duduk di sini sedari kalian pergi tadi, dan ibu sama sekali tidak melihat Alexa membuka pintu ini, jadi dia tidak mungkin ada di rumah.”

“Lalu kemana dia?”

“Mungkin ia ke pohon cherry itu bersama Max..”

“Hah ada apa bu?” Sahut Max yang baru saja membuka pintu dan melangkahkan satu kakinya ke dalam rumah. “Aah aku tau pasti ini gara-gara kau. Mia.. mia dua jam ini aku tidak menyentuh satu milipun bagian tubuhmu kan? Jadi, kenapa kau selalu menyangkut pautkan namaku dan mengadukan diriku pada ibu?” Otak Max yang merangkai kesimpulan seperti itu membuat dirinya jadi bersungut-sungut marah kepada Mia. Ia membuka kaosnya dengan sebal dan melemparnya asal ke sofa sebelum akhirnya menyusul untuk menjatuhkan dirinya disana.

Mia yang menyaksikan aksi tengil saudara kembarnya itu juga mulai panas terbakar aura emosi yang diciptakan Max. Ia menatap Max dengan mengernyitkan alisnya tidak suka. “Mana Mia?!”

“Bukannya tadi denganmu?!”

“Tidak usah banyak berkilah.”

“Aku benar-benar tidak tau. Aku tidak bersamanya dan bahkan belum melihat dia lagi selepas sarapan tadi.”

“Aku tidak percaya! Pasti dia bersamamu, kan? Kau yang dari tadi mengajak Alexa supaya cepat-cepat ke pohon cherry tapi Alexa tidak mau karena dia ingin pergi denganku, lalu kau iri, marah, cemburu dan akhirnya mengajak Alexa pergi diam-diam sementara aku sedang memupuk tanaman. HAH! Cara macam apa itu!”

Max melongo. “Ya Tuhan. Ibu lihatlah Mia, oh astaga otaknya sudah penuh dengan dramaaaaa..” jeritnya frustasi.

“Bukannya kau yang mengatakan kalau aku ini memang ratu drama?! Jadi tidak usah sok mengeluh ketika aku berdrama!”

“Oh ya ampun sudah sudah. Jadi, Alexa sama sekali tidak denganmu, Max?” Tanya bibi Abe yang menghela nafas di akhir kalimat. Mengapa anak-anaknya bisa seperti ini? pikirnya miris.

“Tidak bu, aku dari tadi membenarkan kran air di depan yang bocor itu dan aku sama sekali tidak melihat Alexa.” Sahut Max dengan intonasi yang menggebu-gebu membawa kalimat penuh pembelaan.

Mia tertawa sarkastik. “BOHONG!” tudingnya.

“AKU BERKATA JUJUR, MIA!”

“Mia, Max cukup! Kalian tidak ingin ibu mati gara-gara darah tinggi melihat kelakuan kalian ini kan? Sudah sudah. Lalu, jika Alexa tidak dengan kalian berdua, dimana dia?”

Max menatap Mia sinis. “Tadi terakhir kali kau melihatnya dia sedang ada dimana?”

“Di bawah pohon dekat ladang, dia sedang membaca bukumu tadi.”

“Buku apa?”

“Kalau tidak salah Liontin dan Macam-Macam Fungsinya.”

Bibi Abe dan Max sontak tertegun. Mereka berdua saling bertatapan dengan mata melotot sedangkan Mia sendiri melihat saudara dan ibunya itu dengan bingung. Kemudian seakan-akan efek terkejut itu sudah reda Max langsung berlari menuju kamarnya. Ia mencari buku itu di rak buku tuanya dan benar saja buku itu sudah tidak ada disana. Max pun kembali berlari ke arah ibunya secepat mungkin dan menggucang bahu ibunya itu.

“Bukunya bu.. buku itu memang sudah tidak ada di rak. A-apa liontin itu ada di Alexa?”

Bibi Abe mengangguk ia menatap Max dengan ketakutan yang tampak jelas di wajahnya. “Dia selalu memakai liontin itu dan, dan..”

“Dan apa bu?” Tanya Max menuntut.

“Dan liontin itu bereaksi jika ada suatu kejadian yang cepat hingga bisa mengaburkan partikel setempat sehingga membuka ruang dimensi, dan tadi ada suatu kejadian yg mendukung reaksi liontin itu..”

Mata Max melebar, otaknya langsung bekerja dengan cepat dan mendapat satu jawaban yang dimaksud oleh ibunya itu. “Kereta. Tadi ada kereta yang melintas, apa-apa itu mungkin bu?”

Bibi Abe hanya mengangguk dengan pandangan menerawang. Kalung itu sebelumnya memang tidak pernah bereaksi walau ada kejadian cepat yang mendukung kalung itu untuk membuka dimensi lain jika pemiliknya tidak tau akan fungsinya. Namun, dengan hilangnya Alexa yang telah membaca buku fungsi liontin itu, ini sudah dapat dipastikan jika Alexa benar-benar terenggut ke dimensi lain.

“Ada apa ini Ibu? Max? Alexa kenapa?!” Tanya Mia yang sedari tadi diam karena tidak mengerti.

Bbi Abe menghiraukan pertanyaan Mia karena sibuk dengan pikirannya sendiri. Sedangkan Max, ia hanya menggelengkan kepala lambat-lambat dan tubuhnya pun akhirnya merosot jatuh terduduk di lantai. Max menunduk dalam-dalam dan mengusap wajahnya yang mulai dibanjiri keringat dingin itu dengan frustasi.

“Kenapa aku menaruh buku itu sembarangan dan kenapa kekuatan kalung itu bisa langsung bisa digunakan ketika si pemilik mengetahui fungsinya? Bodoh, bodoh, bodoh, bodoh! Sekarang bagaimana? Kita tidak bisa melacaknya. Kita tidak bisa mencarinya. Ini gawat ibu.. ini gawat.”

Perkataan Max yang sarat dengan nada kesedihan itu akhirnya membuat tangis bibi Abe yang sedari tadi ditahan pecah, bahkan Mia yang tidak tau apa yang tengah terjadi pun ikut menangis juga karena ia tau bahwa reaksi Max dan Ibunya yang seperti ini sangat memastikan bahwa Alexa tidak baik-baik saja. Pasti ada hal buruk yang telah terjadi pada Alexa dan ia yakin bahwa sepupunya itu hilang.

Ya, Mia yakin Alexa hilang dan tidak bisa dilacak, dicari, atau bahkan Alexa mungkin tidak dapat ditemukan meski polisi dikerahkan untuk mencarinya keseluruh pelosok penjuru Kota Klora.

11 Komentar

  1. Kereenn .. kalung dari doraemon pasti ?? ajiib

    1. bintarinf menulis:

      bukan.. hadiah dari harry potter kemarin pas ketemuan haha thanks ya udah baca

  2. AriyaYumyum menulis:

    Gk bisa di vote tanda love nya

    1. bintarinf menulis:

      harap bersabar ini ujian.. kuy dicoba lagi ngevote, kamu pasti bisa 😀

  3. Wah kalung nya kayak kantung Doraemon, wkwkwk

    1. bintarinf menulis:

      eitss, tapi kalungnya kan ngga bisa ngeluarin baling-baling bambu

  4. farahzamani5 menulis:

    Ngakak2 bca part ini
    Mia and max sll bikin ribut ehh hihi
    Dan gmn nasib Alexa selanjutny???
    Cuzz ke part berikutnya
    Semangat trs

  5. Kereen yaa kalungnyaaa :PATAHHATI

  6. Cellacecilliya menulis:

    :supershock

  7. fitriartemisia menulis:

    Alexa mungkin maksudnya?

  8. fitriartemisia menulis:

    Mia sama MAx ampuun deh ya haha berantem terus :KETAWAJAHADD

Tinggalkan Balasan