Reapers Destiny

Reaper’s Destiny Part 3 : Pertemuan Ke 100 ( bagian 2 )

Bookmark

No account yet? Register

1.658 votes, average: 1,00 out of 1 (1.658 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

4017 words


© copyright 2017 @projectsairaakira seluruh karya di website ini telah didaftarkan dan dilindungi oleh hukum yang berlaku serta mengikat.

Dilarang meniru, menjiplak, mengubah nama tokoh, mengambil ide baik sebagian maupun keseluruhan isi cerita yang berada di dalam website ini. Jika Anda menemukan plagiat karya kami di wattpad, mari bantu dengan melakukan report copyright voiolance pada pihak wattpad. Kami sangat mengapresiasi laporan atau temuan dari vitamins menyangkut usaha plagiat baik keseluruhan maupun sebagian dari karya-karya ProjectSairaAkira yang dipublish di website ini, silahkan hubungi admin kami di [email protected] ^^


Author’s Playlist – ALice Kristiansen – Moon And Back

Baby, to the Moon and back
I still love you more than that
When your skies are grey, and your whole world is shaking
To the Moon and back
I love you more than that


[responsivevoice voice=”Indonesian Female” buttontext=”Dengarkan cerita ini”]

Yazza menggeserkan tubuh, hendak pergi dari bawah pohon tempatnya berdiri dan melangkah pergi ke area lain yang lebih banyak penduduk dan berharap menemukan anak-anak lain berusia sembilan tahun yang memiliki ciri anak ke seratus yang dicarinya, tetapi sebuah suara menahan tubuhnya bergerak lebih lanjut. Suara seorang anak-anak yang polos yang anehnya, sama sekali tidak disadari keberadaannya oleh Yazza padahal posisi mereka begitu dekat.

“Kumohon bantuan Anda. Jangan bergerak sebentar saja. Aku sedang bersembunyi di balik bayangan tubuh Anda supaya anak yang bertugas mencari itu tidak menemukanku.”

Suara itu penuh permohonan seperti kata-kata yang diucapkannya. Yazza mengawasi dengan waspada, masih terkejut akan kenyataan bahwa dia lengah dan tidak menyadari kehadiran anak itu. Matanya menyapu sosok mungil bertubuh kurus dengan rambut dan mata hitam pekat yang menatapnya polos. Anak kecil itu berdiri di sisi belakang pohon tempat Yazza berdiri sejak lama, dan kemudian, aroma lembut bunga ungu langsung menyapa indra penciuman Yazza dengan sapaan yang keras dan bersemangat


Ada yang berbeda.

Entah kenapa itulah yang dipikirkan oleh Yazza ketika dia menyadari sepenuhnya kehadiran anak itu di dekatnya. Mungkin karena sudah begitu lama Yazza tidak pernah sedekat ini dengan sosok anak manusia, kecuali pada sosok anak manusia pembawa kehancuran Dunia Ametyst yang pada akhirnya harus dia bunuh dalam setiap pertemuan yang dilaluinya. Mungkin juga karena anak itu tiba-tiba muncul, membuat Yazza bingung kenapa dirinya bisa lengah dan membiarkan anak manusia ini sedekat itu dengan dirinya.

Yazza mengerjapkan mata ketika nuansa aroma yang khas menyapa indera penciumannya. Aroma ini sangat manis, aroma khas bunga ungu yang tumbuh di musim panen seperti ini. Morea. Itu adalah nama yang disematkan kepada bunga ini, sejenis bunga pelindung yang digunakan kaum manusia untuk melindungi para bayi dan anak-anak dari cuaca dingin malam dan gigitan serangga. Minyak bunga morea dioleskan pada kulit anak-anak tanpa dosa setiap malam menjelang mereka tidur untuk memberikan kehangatan dan perlindungan. Minyak bunga itu juga dipercaya untuk melembutkan kulit bayi dan sama sekali tidak berbahaya bagi kulit mereka yang sensitif.

Yazza sering mencium aroma bunga itu terutama pada anak-anak manusia di pedesaan seperti sekarang ini. Tetapi, baru kali ini dia mencium aroma yang begitu pekat dari satu sosok anak-anak. Aroma bunga ungu morea tercium pekat seolah-olah menguar dari seluruh pori-pori anak itu, dari rambutnya, dari kulitnya, bahkan dari setiap hembusan napasnya.

Apakah ibunya memandikan anak itu dengan minyak bunga morea hingga aromanya sebegitu pekatnya?

Yazza mengerutkan kening. Matanya terpaku pada sosok anak perempuan yang duduk meringkuk dan menekuk lutut, menatapnya penuh harap sambil bersembunyi di bawah bayang-bayang tubuhnya tanpa mengenal rasa takut sama sekali.

Seharusnya anak itu takut. Mungkin orang tuanya tidak mendidik anak perempuan ini untuk waspada pada orang asing yang bisa saja membahayakan keselamatannya. Terlebih lagi, jika saja anak itu mengetahui bahwa Yazza adalah dewa kematian yang dengan mudahnya bisa mencabut nyawa siapapun dengan kejam, ketakutan anak itu bisa saja tumbuh berlipat ganda.

Suara anak kecil yang lain yang memanggil-manggil teman-temannya pertanda menyerah mengalihkan perhatian Yazza dari anak itu. Yazza mengalihkan pandangannya ke lapangan, anak yang bertugas sebagai pencari itu rupanya telah berhasil menemukan sebagian besar teman-temannya, hanya tersisa sedikit dan dia menyerah lalu memanggil-manggil.

Yazza menoleh kembali ke anak perempuan berambut hitam di belakangnya, lalu mengedikkan dagunya ke arah lapangan.

“Kurasa kau sudah tidak perlu bersembunyi lagi. Dia menyerah.” ujarnya dengan suara tenang, sedikit mengangkat alis untuk membaca reaksi anak kecil tersebut.

Anak kecil itu menyeringai, lalu bangkit dari posisi berjongkoknya dan mengibaskan debu dari pakaian khas anak-anaknya yang berwarna oranye terang.

“Aku tahu ini adalah tempat persembunyian terbaik,” ucap anak itu dengan nada bersemangat, senyumnya melebar ketika menatap wajah Yazza, seolah sama sekali tidak takut dengan ekspresi Yazza yang datar dan tak terbaca, “Dan makin baik lagi dengan kehadiran Anda di sini. Anda muncul tiba-tiba, berdiri begitu saja dan menutupi saya dengan bayangan Anda.” Anak itu membungkukkan tubuh dengan sopan dan menatap Yazza dengan matanya yang berbinar, “Terima kasih, Tuan.”

Sebelum Yazza sempat berkata-kata, anak itu bergerak melewati tubuhnya, sekali lagi mengantarkan aroma bunga Morea yang pekat hingga terserap habis ke dalam indra penciuman Yazza.

“Siapa namamu?” Tiba-tiba saja Yazza berseru, melepaskan dorongan impulsifnya yang tak terduga serta menanyakan sesuatu yang tidak penting kepada anak itu.

Anak perempuan itu menghentikan langkah kakinya yang tampak ringan seperti peri, lalu menolehkan kepala. Senyum masih tak lepas dari bibirnya dan berpadu dengan matanya yang berkilauan seolah memantulkan cahaya bulan nan misterius di sana.

“Namaku Minerva.” anak itu meneriakkan namanya, lalu secepat kilat membalikkan tubuh kembali dan meninggalkan Yazza untuk menuju ke arah teman-temannya. Suara gelak tawanya terdengar, bahkan dari tempat Yazza berdiri sekarang.

Sejenak Yazza menghabiskan waktunya untuk menatap ke arah anak perempuan berambut serta bermata gelap pekat tersebut. Lalu dia mengerjap seolah tersadar.

Kehadirannya di sini bukan untuk terpaku pada anak perempuan kecil beraroma bunga Morea nan pekat dan menciptakan firasat aneh di dalam jiwanya. Dia harus menemukan anak  ke seratus itu dan menuainya seperti yang sudah ditakdirkan, waktunya sudah semakin sempit dan dia harus bergegas.

Mata Yazza kembali ke arah anak-anak yang berkumpul di lapangan tersebut. Sepertinya hampir seluruh anak-anak cukup umur di desa ini dibebaskan untuk bermain bersama di lapangan tersebut sampai dengan larut malam. Yazza memindai satu persatu, mencoba mengabaikan anak perempuan berambut hitam yang tadi sempat menarik perhatiannya.

Anak-anak ini sesuai perkiraan memiliki umur yang sama seperti anak kecil yang sedang dia kejar. Tetapi tidak ada satupun dari mereka yang menyalakan firasat di dalam jiwanya, berbeda dengan sembilan puluh sembilan kali kesempatan di masa lampau ketika dia dengan mudahnya bisa menemukan mangsanya karena mereka semua memancarkan petunjuk yang sama, menyala-nyala bagaikan lentera yang memanggil-manggil di tengah kegelapan.

Kenapa yang satu ini begitu sulit? Apakah ada sesuatu yang menghalangi? Sebuah kekuatan yang lebih tinggi dari kekuatan yang dia miliki?

Yazza menyandarkan tubuhnya di pohon besar yang menaungi di belakang tubuhnya. Matanya masih terpaku ke arah anak-anak tersebut. Seluruh petunjuk yang diperolehnya mengarahkannya ke desa ini. Tetapi Yazza telah mencari, memindai setiap titik dan tetap saja tidak menemukan apa-apa.

Apakah firasatnya yang salah? Mungkin saja, bukan? Bahwa anak perempuan itu ternyata tidak dilahirkan di area ini? Atau jangan-jangan, bahkan anak itu belum dilahirkan?

Yazza menghela napas panjang, merasakan keputusasaan yang menyeruak ke dalam jiwanya.

***

“Kau sedikit terlambat.” Armenia memberi isyarat tangan supaya Dadilja bangkit dari posisinya berlutut. Ekspresinya tenang meskipun tidak bisa menyembunyikan kecemasan di wajahnya.

Dadilja langsung memasang ekspresi menyesal di wajahnya.

“Ampun, Dewi Armenia. Saya membutuhkan waktu sedikit lebih lama untuk menyamarkan Minerva supaya ciri fisiknya tidak terlihat. Seiring berjalannya waktu, proses penyamaran itu semakin sulit. Ciri fisiknya semakin pekat dan menyeruak muncul, saya menjadi cemas bahwa suatu saat nanti ketika Minerva semakin beranjak dewasa, ritual itu sudah tidak mungkin lagi menyembunyikannya.”

Armenia menganggukkan kepala perlahan, mengerti apa yang dimaksud oleh Dadilja. Ketika Armenia turun kemari dari istananya yang berada di tempat tinggi untuk menemui Dadilja, dia telah mengetahui konsekuensi dari perbuatannya. Apa yang dia lakukan secara rahasia ini jelas-jelas menentang Sang Alam Semesta, yang berarti menentang anaknya sendiri, Asaka.

Tetapi Armenia sudah memikirkan segalanya ketika mengambil keputusan ini. Asaka mengatakan bahwa hukuman yang diberikan kepada Yazza adalah untuk mencegah kehancuran Dunia Ametyst karena ada ramalan yang mengatakan bahwa anak yang terlahirkan sampai dengan seratus kali kelahiran itu membawa takdir kehancuran bagi seluruh Dunia Ametyst. Karena itulah Asaka mengabaikan kenyataan bahwa anak perempuan dalam ramalan ini adalah pasangan takdir yang dijodohkan untuk Yazza. Asaka bahkan merahasiakan hal penting ini kepada Yazza, dan membiarkan Sang Dewa Kematian melaksanakan tugasnya membunuh di setiap kelahiran yang terus berjalan tanpa tahu bahwa yang dia bunuh adalah pasangan takdirnya sendiri.

Armenia tentu bisa mengerti dengan keputusan Asaka. Anaknya itu mengemban tugas untuk menjaga takdir perdamaian, karena itulah Sang Anak mengabaikan hati nurani dan memilih apa yang menurutnya paling utama. Keselamatan Dunia Ametyst dan segala kehidupan yang tertuang di dalamnya adalah yang terpenting.

Tetapi adilkah itu? Terutama bagi Yazza?

Armenia terus dihantui oleh hati nuraninya yang mempertanyakan keadilan ketika Asaka menangis tersedu-sedu di pelukannya ketika itu, mengatakan bahwa dia telah memberikan hukuman kepada Yazza yang lebih berat daripada yang diketahui oleh Yazza sendiri.

Yazza sudah dibolak balikkan takdirnya oleh ayahnya, oleh Evren Sang Alam Semesta sebelumnya. Jodoh Yazza dengan Armenia telah dibatalkan dengan kejam dan membuat lelaki itu penuh kepahitan hingga melakukan dosa terlarang yang membuatnya harus menanggung hukuman tanpa henti. Tetapi kemudian, ketika keadaan berbalik, tanpa memandang dendam, Yazza sendiri yang rela bergerak mengotori tangannya untuk menyelamatkan Armenia dan Asaka, juga suaminya Sang Mahadewa Azhura Kahn dari skenario takdir yang kejam.

Apa yang dituliskan sebagai kehancuran Dunia Ametyst yang datang dengan kelahiran Asaka, berhasil dibatalkan dengan perbuatan Yazza, sebuah perbuatan yang membawa konsekuensi dimana Sang Dewa Kematian diharuskan rela menanggung hukuman yang tidak sepadan dengan pengorbanan yang diberikannya.

Karena itulah Armenia terus menerus berpikir. Jika ramalan kehancuran Dunia Ametyst yang dibawa oleh Asaka bisa dibatalkan dengan campur tangan Yazza yang tidak diduga, bukannya masih ada kesempatan bagi pasangan takdir Yazza yang juga diramalkan akan menghancurkan Dunia Ametyst?

Armenia percaya bahwa takdir ataupun ramalan masih bisa diubah. Armenia percaya bahwa jika kali ini dia yang campur tangan dan mengotori tangannya seperti yang Yazza lakukan di masa lampau, dia bisa menyelamatkan Yazza dan pasangan takdirnya dari ramalan takdir nan menyeramkan.

Armenia tahu bahwa dia harus merahasiakan hal ini dari Asaka, karena Asaka sedang menjalankan misi yang bertentangan dengannya. Pun dia juga harus merahasiakannya dari suaminya, Sang Mahadewa Azhura Kahn, karena suaminya pasti tidak akan setuju dengan tindakan Armenia. Bagi Sang Mahadewa Azhura Kahn, bermain-main dengan Sang Takdir sama saja dengan bermain-main dengan bahaya, mungkin kita bisa selamat dan mencapai keberhasilan yang tidak diduga, tetapi mungkin juga Sang Takdir akan balas menggigit dan menimbulkan kerusakan lebih daripada yang sebelumnya.

Armenia telah bermain api, menyembunyikan hal ini dari orang-orang yang dikasihinya dan siap terbakar karenanya. Tetapi Armenia sadar bahwa harus ada seseorang yang bergerak, harus ada yang mau mengotori tangannya dalam usaha untuk mengubah ramalan takdir.

Masih ada kesempatan bagi Yazza untuk bisa bersatu dengan pasangan takdirnya. Masih ada kesempatan bagi Yazza untuk menemukan kebahagiaan yang seharusnya menjadi miliknya.

Armenia melakukan ini semua bukan karena dia merasa bersalah, tetapi karena dorongan hati nuraninya yang terus mengingatkan bahwa Yazza, Sang Dewa Kematian, juga berhak untuk merasakan takdir bahagia.

Armenia tentu saja berusaha menyelamatkan ke sembilan puluh sembilan anak yang dibunuh oleh Yazza sebelumnya. Tetapi dia selalu gagal, entah kenapa Asaka seolah mengawasinya, dan membuatnya tidak bisa bergerak untuk mencari cara. Dahulu Armenia begitu naif, berusaha sendiri untuk menyelamatkan anak perempuan itu dan akhirnya menemui kegagalan demi kegagalan sampai dengan sembilan puluh sembilan kali jumlahnya.

Butuh sembilan puluh sembilan nyawa yang dikorbankan sampai Armenia menyadari bahwa dia tidak bisa melakukan semua sendiri. Pergerakan Armenia terbatas, dia akan selalu diketahui bukan hanya oleh Asaka, tetapi oleh Azhura Kahn suaminya. Armenia butuh bantuan dari pihak lain, dan itu adalah salah satu dari empat belas dewa utama.

Ketika Yazza berhasil mencabut nyawa anak yang ke sembilan puluh sembilan, Armenia menyadari bahwa waktunya sudah semakin sempit. Tinggal satu kesempatan lagi, kalau dia tidak berhasil menyelamatkan yang satu ini, maka dia tidak akan bisa menyelamatkan pasangan takdir Yazza dari kematian yang disebabkan oleh Yazza sendiri.

Karena itulah Armenia mulai memindai satu persatu dari keempat belas dewa utama yang mungkin bisa membantunya. Dia mencoret nama Kars Ulthor dan Dewi Slimiba karena kompleksitas hubungan mereka di masa lampau yang akan membuat segalanya menjadi canggung. Lagipula, Sang Dewa Perang sangat setia kepada suaminya dan itu berarti besar kemungkinan bahwa baik Kars Ulthor maupun Dewi Slimiba akan segera memberitahukan kepada suaminya mengenai rencana yang telah disusun oleh Armenia.

Akhirnya Armenia menjatuhkan pilihannya kepada Dewi Dadilja, Sang Dewi Pemelihara yang mengemban tugas setelah Dewi Calamara yang menjadi saudari kembar Yazza meninggalkan dunia ini. Segala pertimbangan mengarah kepada Dewi Dadilja karena Armenia merasa bahwa hanya Dewi Dadilja yang bisa mengerti alasannya untuk mempertahankan anak yang diramalkan akan menjadi kehancuran Dunia Ametyst ini tetap hidup.

Dan pilihan Armenia tidak salah.

Beruntung Dadilja, Sang Dewi Pemelihara mau menjadi sekutunya. Bahu membahu mereka bekerjasama untuk menyelamatkan anak yang keseratus dari perburuan yang dilakukan oleh Yazza. Dadilja tentu saja memiliki alasan sendiri, dia adalah Dewi Pemelihara, sudah tertanam jauh di dalam jiwanya bahwa segala sesuatu yang ada di Dunia Ametyst ini harus dijaga dan dipelihara dengan baik sesuai dengan takdirnya masing-masing.

Pembunuhan terhadap sembilan puluh sembilan nyawa anak kecil yang tak berdaya tentu saja bertentangan dengan prinsip Dadilja. Karena itulah Dewi Dadilja langsung setuju untuk mengemban tugas turun ke bumi demi melindungi serta menyamarkan anak yang keseratus dari kejaran Yazza.

Mereka telah mengatur seluruh rencana ini dengan sangat hati-hati, karena yang mereka hadapi adalah Sang Alam Semesta yang bisa mengintip segalanya dengan bejana takdir miliknya. Armenia hanya bisa menemui Dadilja satu kali setiap tahunnya, setiap perayaan panen desa dimana awan biasanya menyelubungi istana-istana para dewa sehingga Asaka tidak bisa mengintip dari bejana takdirnya. Tentu saja Asaka tidak memiliki keinginan untuk mengintip para dewa di istananya masing-masing, tetapi Armenia tetap harus berjaga-jaga. Anaknya itu sangat cerdas, bukannya tidak mungkin ketika Asaka menyadari ada sesuatu yang tidak beres, dia akan mencari tahu dengan kekuatannya.

Sekarang saja Asaka sudah mulai menaruh curiga. Dia bingung kenapa Yazza sangat lambat mengerjakan tugasnya untuk mengejar yang keseratus ini dan mulai bertanya-tanya adakah campur tangan pihak lain dalam hal ini. Asaka bahkan mengatakan hal ini tanpa prasangka kepada Armenia, membuat Armenia harus berjuang sekuat tenaga untuk menjaga ekspresi wajah dan tubuhnya supaya tidak membangunkan kecurigaan Asaka kepada dirinya.

Untuk saat ini mereka berhasil. Tetapi masih butuh waktu beberapa tahun lagi sampai Minerva mencapai usia empat belas tahun dan Yazza tidak bisa membunuh Minerva karena takdir sudah ditetapkan. Pada saat ini, Armenia sudah menyusun rencana lain, sebuah rencana yang perlu dimatangkan untuk membebaskan Yazza dari takdir hukuman sekaligus membebaskan Minerva dari ramalan takdir nan menyeramkan.

Mereka harus bertahan, meskipun sekarang seiring dengan bertambahnya waktu, segala sesuatu tampak semakin sulit.

Seperti yang dikatakan oleh Dadilja tadi, ciri fisik Minerva ditakdirkan selalu memanggil Yazza, karena dia adalah pasangan takdirnya, karena itulah Minerva akan selalu memanggil Yazza untuk mendekatinya. Tetapi bagi Yazza yang tidak mengetahui hal itu, dia salah mengartikannya. Yazza mengartikan ciri fisik anak yang dituainya itu selalu memanggilnya sebagai sebuah firasat bahwa Yazza harus menemukan anak itu untuk dibunuh.

“Kita harus melakukan sesuatu supaya Minerva tetap tersembunyi sampai dengan usianya empat belas tahun.” Armenia tampak berpikir keras, “Aku akan mencari cara, mungkin dengan mencari mantra baru di buku pengetahuan para dewa. Kuharap ada sesuatu yang terlewatkan di sana yang bisa kutemukan untuk membantu,” ujarnya kemudian memecah keheningan.

Dadilja menganggukkan kepala.

“Sampai dengan saat ini, Minerva masih tersembunyi rapat. Ramuan dan mantra bunga Morea menyembunyikannya dengan baik. Saya akan menunggu sampai dengan ritual tahun depan dan tetap berharap semoga Minerva terus tersembunyi dengan baik,” jawabnya cepat.

Ekspresi Armenia melembut ketika mereka membicarakan Minerva. Dirinya telah mengikuti perkembangan kelahiran Minerva hingga yang keseratus, dirinya juga menangis pilu setiap Yazza mencabut nyawa anak kecil tak berdosa itu bahkan sebelum anak itu bisa berjalan dan berdiri dengan kokoh. Minerva layaknya anaknya sendiri, yang dibesarkan dengan perlindungannya meski tanpa sentuhan dan kasih sayangnya. Ada ikatan yang terjalin dalam haru dari hati Armenia terhadap Minerva, dan Armenia sungguh berharap seluruh rencananya bisa berhasil dan dia bisa menyelamatkan baik Minerva maupun Yazza di kemudian hari.

“Bagaimana keadaan Minerva? Apakah dia tumbuh dengan baik?” Armenia sebenarnya sudah tahu jawabannya, tetapi terasa melegakan baginya jika dia bisa mendengar dari Dadilja sendiri.

Sementara itu, Dadilja berbagi senyuman yang sama dengannya. Selama bertahun-tahun dia menggantikan peran ibunda Minerva dan menyayangi anak itu seperti anak gadisnya sendiri. Dia juga memegang harapan yang sama bahwa Minerva akan selamat dari takdirnya.

“Minerva tumbuh dengan baik, sehat dan ceria.” Dadilja menghela napas panjang ketika hendak mengutarakan kecemasannya, “Saya hanya mencemaskan tahun-tahun ke depan. Minerva sudah jelas akan tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik. Dan seperti seluruh pasangan takdir yang tertuliskan, dia akan memanggil pasangannya… memanggil Yazza semakin mendekat tanpa bisa terelakkan. Saya khawatir jika saat itu tiba, mantra penyamar kita sudah tidak begitu kuat dan Yazza menyadari bahwa Minerva adalah anak keseratus yang harus dia bunuh….” ekspresi Dadilja berubah sedih, “Atau bagaimana jika Minerva bertemu dengan Yazza, saling jatuh cinta dan mereka menyadari bahwa mereka pasangan takdir? Akan sangat menyedihkan bagi Yazza jika dia tahu kenyataan bahwa dia harus membunuh Minerva?”

“Aku juga memikirkan itu. Percayalah ketakutan itulah yang terus menghantuiku…” Armenia menghela napas panjang, “Aku hanya berharap ketika waktunya Yazza menyadari kenyataan, dia akan mengerti keputusan Asaka yang memberinya hukuman mengerikan ini. Aku juga berharap baik Minerva maupun Yazza sama-sama selamat, bahwa aku akan memiliki kekuatan untuk membalikkan takdir mengerikan yang mengikat Minerva dan Yazza.” Armenia meremas kedua tangannya yang terjalin menjadi satu, menunjukkan kegelisahan hatinya nan pekat, “Hutang budiku kepada Yazza tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, tidak bisa dihitung dengan segala hal di dunia ini, tak terbatas dan mungkin tak terbalaskan. Satu-satunya jalan yang bisa kulakukan untuk membalas budi adalah melakukan ini dan berharap yang terbaik bagi Yazza.” Armenia menatap ke arah Dewi Dadilja dengan tulus, “Dan aku sangat berterima kasih kepadamu karena kau mau membantuku.”

Dewi Dadilja langsung menganggukkan kepala, membalas tatapan Armenia dengan ketulusan yang sama.

“Saya akan selalu mendukung Anda, Wahai Dewi Armenia. Karena saya tahu, menyelamatkan nyawa manusia akan membawa takdir yang lebih baik daripada melenyapkan nyawa manusia.”

Armenia menganggukkan kepala, menebarkan berkatnya dengan senyuman sebelum kemudian mengingatkan Dewi Dadilja,

“Ini sudah hampir tengah malam, bukankah kau harus menjemput Minerva?”

***

Malam beranjak semakin larut, seiring dengan semakin memudarnya suara alunan musik yang tadinya hingar bingar mengiringi pesta. Yazza sendiri telah menghabiskan waktunya berkeliling ke seluruh area desa itu tanpa hasil, dan tanpa sengaja langkah kakinya yang putus asa membawanya kembali ke tepi lapangan luas tempat anak-anak desa bermain.

Para pemain musik akhirnya menghentikan permainannya dan mulai memasukkan alat-alat mereka ke dalam wadah-wadah penyimpanan khusus yang telah disiapkan. Api unggun mulai dipadamkan oleh beberapa penduduk yang menyiramkan air dari ember-ember kayu yang mereka isi dari sungai besar yang tak jauh dari situ. Pesta dansa telah dibubarkan, manusia-manusia dewasa yang tadinya asyik bersenda gurau, berdansa, minum dan menikmati hidangan di sekeliling api unggun telah mulai bangkit dan bergerak untuk membereskan sisa makanan dan sisa pesta. Ketika matahari datang menyapa esok pagi nanti, lapangan ini harus sudah benar-benar bersih tanpa ada sedikitpun sisa pesta semalam.

Para orangtua yang tidak bertugas dalam pembersihan mulai sibuk memanggil anak-anak mereka untuk diantarkan pulang kembali ke rumah karena waktu tidur telah benar-benar tiba.

Mata Yazza terpaku pada anak kecil bernama Minerva itu. Keningnya berkerut ketika menyadari bahwa anak-anak lain telah berlarian mendatangi orang tuanya masing-masing yang memanggil, tetapi Minerva tampak sendirian di tengah lapangan dengan ekspresi kebingungan.

Dimana orang tua anak itu?

Lama Yazza menunggu, tetapi tiada jua orang tua yang memanggil Minerva. Anak itu berdiri di tengah lapangan, memandang sekeliling dengan mata mencari-cari, dan itu membuat Yazza tidak bisa menahan diri untuk bergerak mendekat.

“Malam sudah begitu larut. Seharusnya kau pulang.”

Yazza akhirnya berucap, membuat anak itu menoleh ke arahnya yang telah berdiri di samping Minerva tanpa suara. Entah kenapa ada sesuatu yang aneh pada anak itu, biasanya manusia, baik anak-anak maupun orang dewasa akan menyimpan firasat buruk dengan kehadiran Yazza di dekat mereka. Yazza adalah dewa kematian, dan kematian adalalah sesuatu yang ditakuti oleh manusia. Karena  itulah secara alami, manusia akan ketakutan kepadanya.

Tetapi berbeda dengan Minerva. Anak perempuan ini sama sekali tidak takut kepadanya. Yazza bisa memastikannya karena instingnya yang tajam tidak bisa mengendus jejak ketakutan sedikitpun yang muncul dalam jiwa Minerva.

Apakah karena anak ini terlalu polos? Sehingga tidak menyadari bahwa Sang Kematian sendiri yang sedang berbicara kepadanya?

“Ah, Anda lagi, Tuan.” Minerva menyapa dengan ramah, lalu kembali mengalihkan pandangan matanya ke sekeliling seolah mencari, “Aku sedang menunggu Ibuku, beliau bilang akan menjemputku untuk pulang jika aku menunggu di dekat meja untuk hidangan makanan ini.” Minerva menunjuk meja yang dimaksud yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri, hanya sepersekian langkah saja jauhnya.

“Dan dimanakah ibumu itu?” Yazza mengerutkan kening, ikut memandang ke sekeliling sementara perasaan ironi muncul di hatinya.

Ibu macam apa yang memilih larut dalam pesta dan meninggalkan anak perempuannya menunggu di lapangan seperti ini padahal pesta telah usai?

Lalu tiba-tiba Minerva tampak bersemangat, tangannya menunjuk ke satu arah sementara kepalanya menoleh ke arah Yazza sambil memamerkan senyuman lebarnya,

“Itu dia! Ibuku sudah datang!” serunya keras, membuat Yazza langsung menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Minerva.

 ***

Udara sejuk nan menyenangkan dari Dievas Rumai langsung menyambut Armenia ketika dia menjejakkan kakinya ke sana. Armenia melepaskan tudung jubah merahnya yang bertaburkan permata dan melangkahkan kaki ke aula utama. Suaminya, Sang Mahadewa Azhura Kahn mungkin sedang dalam perjalanan pulang setelah menjalankan tugasnya sebagai Dewa Tertinggi di istananya yang lain dan mereka akan segera bertemu di malam hari untuk memadu rindu.

Ratusan tahun tanpa terasa sudah berlalu sejak Armenia menyerahkan hatinya dalam cinta kepada Sang Mahadewa Azhura Kahn, dan cinta itu tidak pernah pudar sampai sekarang, tetap membara dalam kerinduan bercampur penghormatan yang tiada batas.

Armenia meletakkan beberapa tangkai bunga aro yang sengaja dipetiknya dalam perjalan sebelum kemudian menatanya di vas bunga emas yang ada di ruang aula utama tersebut.

Setelah itu, Armenia hendak berjalan menuju ruang peraduannya. Bibirnya mengulas senyum, tidak sabar menantikan saat ketika suaminya pulang dan memeluknya sepanjang malam dengan penuh cinta.

“Darimana saja, Ibu?”

Suara sapaan yang khas itu membuat Armenia terkesiap, langkahnya terhenti mendadak dan kepalanya menoleh ke arah sumber suara dengan waspada.

Keterkejutan muncul di wajah Armenia ketika melihat siapa yang menyapanya. Asaka. Anak lelakinya itu sedang duduk di atas bangku di sisi lain aula besar yang menjadi ruang utama Dievas Rumai.

Asaka memang sering berkunjung ke Dievas Rumai untuk menemui orang tua dan adik perempuan yang sangat disayanginya, tetapi biasanya anaknya itu datang dengan pemberitahuan terlebih dahulu. Baru kali ini Asaka datang tanpa pemberitahuan, dan mengejutkan Armenia dengan kemunculannya yang tiba-tiba.

Armenia mengangkat alisnya, menatap ke arah Asaka dengan penuh rasa ingin tahu. Dia telah berhasil menguasai diri dan menyembunyikan rasa terkejut dan was-was di dalam jiwanya serta memasang ekspresi tak terbaca di depan Asaka.

“Apakah kau sudah lama berada di sini, Asaka?” tanya Armenia lembut, “Kenapa kau datang tanpa pemberitahuan? Kau membuat Ibu tidak bisa mempersiapkan apa-apa untuk menyambut kedatanganmu.”

Asaka membalas senyuman lembut ibunya dengan senyuman yang sama. Anak laki-lakinya itu telah tumbuh menjadi sosok lelaki dewasa yang sangat tampan. Asaka sangat mirip dengan Azhura Kahn, hanya saja, matanya lebih bercahaya dengan sinar yang mirip dengan mata Armenia. Tubuh Asaka juga tinggi dan tegap, saat ini terbalut dengan pakaian putih yang menjadi ciri khas Sang Alam Semesta.

“Aku sengaja datang sebagai kejutan, Ibu. Apakah kau terkejut?” tanya Asaka dengan suara penuh misteri.

Armenia mendekat ke arah anak lelakinya itu, dan Asaka juga melakukan hal yang sama. Ketika mereka telah begitu dekat, Asaka berlutut dan mengambil tangan ibundanya untuk kemudian menciumnya dengan penuh hormat.

“Tentu saja ibu terkejut. Kalau tahu kau akan datang, Ibu tidak akan pulang selarut ini.” Armenia setengah menggerutu. Memberi isyarat supaya Asaka bangkit dari posisinya berdiri lalu memeluk anak lelakinya yang saat ini sudah lebih tinggi darinya itu dengan sayang.

Asaka membalas pelukan ibunya, lalu ketika tubuh mereka menjauh, mata Asaka tiba-tiba bersinar penuh selidik, seolah-olah berusaha membaca kedalaman hati Armenia.

“Apa yang ibu lakukan sehingga pulang selarut ini?” ekspresi Asaka berubah serius ketika dia menanyakan pertanyaan itu, “Aku bertanya ke seluruh penjuru istana, mereka bilang sejak beberapa tahun terakhir ini, setiap musim panen di dunia manusia, ketika kabut menyelubungi istana para dewa dan aku tidak bisa mengintip melalui bejana takdirku, Ibu selalu pergi berkunjung ke istana bawah, ke tempat istana para dewa dan dewi utama. Ibu sebenarnya sedang mengunjungi siapa?”

Bersambung ke Part Berikutnya

[/responsivevoice]


Follow instagram @projectsairaakira untuk mendapatkan pengumuman/pemberitahuan jika kebetulan web sedang eror atau tidak bisa diakses.

261 Komentar

  1. FuntasticSentences01 menulis:

    Woow

Tinggalkan Balasan