Reapers Destiny

Reaper’s Destiny Part 5 : Kebenaran Tersingkap

Bookmark

No account yet? Register

1.550 votes, average: 1,00 out of 1 (1.550 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

4005 words


© copyright 2017 @projectsairaakira seluruh karya di website ini telah didaftarkan dan dilindungi oleh hukum yang berlaku serta mengikat.

Dilarang meniru, menjiplak, mengubah nama tokoh, mengambil ide baik sebagian maupun keseluruhan isi cerita yang berada di dalam website ini. Jika Anda menemukan plagiat karya kami di wattpad, mari bantu dengan melakukan report copyright voiolance pada pihak wattpad. Kami sangat mengapresiasi laporan atau temuan dari vitamins menyangkut usaha plagiat baik keseluruhan maupun sebagian dari karya-karya ProjectSairaAkira yang dipublish di website ini, silahkan hubungi admin kami di [email protected] ^^


https://youtu.be/dhJxP6L9awY

Author’s Playlist – Max Schneider – I’ll Come Back For You

And the distance could kill us, or make us strong
It ain’t right to be apart from you for so long
And this world is out to get us but,
Baby don’t be jealous
‘Cause I’ll come back for you
Back some day for you


[responsivevoice voice=”Indonesian Female” buttontext=”Dengarkan cerita ini”]

“Lelaki itu tidak mengejar Ibu, Minerva. Lelaki itu mengejarmu, mengejarmu untuk dibunuh dan dicabut nyawanya. Tidakkah kau mencium aroma dupa angro mainu yang samar dari tubuhnya? Tidakkah kau tahu apa artinya itu?”

Dupa Angro Mainu?

Minerva mengerutkan kening mendengar pertanyaan ibunya dan langsung berusaha menggali memorinya. Mungkin memang benar ada aroma dupa angro mainu yang samar dari tubuh lelaki itu, tetapi aroma itu terlalu samar hingga Minerva bahkan tidak memperhatikannya dan menganggapnya sambil lalu. Padahal jika Minerva lebih perhatian, meskipun umurnya baru sembilan tahun, dia pasti mengerti bahwa dupa angro mainu selalu berhubungan dengan kematian.

“Lelaki itu adalah Sang Dewa Kematian, dan kau adalah nyawa yang akan dituainya, Minerva. Kau tercatat dalam buku penebasan nyawa miliknya dan dia tidak akan berhenti sebelum dia berhasil mencabut nyawamu lalu mengirimkan jiwamu ke dalam dunia kegelapan tak berujung. Beruntung sampai detik ini ibu masih memiliki kekuatan untuk melindungimu.” Sang Ibu menghela napas panjang dan menatap Minerva dengan pandangan bersungguh-sungguh, “Lelaki itu sangat berbahaya, Minerva. Ibu tidak bisa menjelaskan secara gamblang, tetapi sederhananya kau pasti mengerti. Dia adalah dewa kematian yang memburumu untuk mengantarkan kematian itu sendiri atas jiwamu, jadi, jika kau bertemu dengannya lagi, sudah dipastikan bahwa kau akan mati.”


Dewa kematian mengincar nyawanya?

Bahkan setelah ibunya menjelaskan dengan begitu gamblang, pikiran polos Minerva masih belum bisa mencerna apa yang sebenarnya terjadi saat ini. Pertanyaan demi pertanyaan masih berkecamuk di dalam benaknya, pun dengan otak kanak-kanaknya yang tak berhenti memeras tanpa henti, berusaha menemukan jawaban yang seolah memilih bersembunyi dan tak ingin ditemukan.

Guncangan sang Ibu di pundak Minerva yang membeku membuat mata Minerva mengerjap, langsung menatap ke arah ibunya yang pucat pasi.

Ibunya selalu tampak tenang selama ini… baru kali inilah Minerva menemukan bagaimana kepanikan menguasai seluruh diri ibunya, membuat sang Ibu menampilkan ekspresi yang tidak pernah dilihat oleh Minerva sebelumnya. Kesadaran akan apa yang terpampang di benaknya membuat Minerva menyadari, bahwa meskipun saat ini dia belum bisa menelaah semua penjelasan ibunya, yang pasti situasi mereka saat ini benar-benar berbahaya.

“Ibu tahu begitu banyak pertanyaan berkecamuk di benakmu, Minerva.” sang Ibu menoleh ke belakang seolah-olah khawatir ada sosok mengerikan yang tiba-tiba muncul dan mengejar mereka. “Tetapi, saat ini prioritas utama kita adalah terus bergerak. Ketika malam tiba, kekuatan Sang Dewa Kematian yang bersinergi dengan kegelapan akan semakin besar… itu berarti kita berada dalam situasi yang penuh bahaya. Karena itulah kita harus berusaha bergerak sejauh mungkin dan baru bisa beristirahat setelah matahari menerangi bumi.” tangan sang Ibu tiba-tiba menyentuh dahi Minerva yang dingin tapi berkeringat, memberikan kehangatan di sana sehingga secara otomatis Minerva memejamkan mata.

“Tidurlah, Ibu akan menggendongmu,” bisik sang Ibu dengan suara lembut.

Minerva membuka mata, memasang ekspresi protes di wajahnya.

“Usiaku sembilan tahun dan aku sudah cukup berat untuk ibu gendong. Aku bisa berlari bersama ibu, kalau ibu menggendongku, bukannya bisa melangkah jauh, ibu akan kelelahan,” ujarnya menyuarakan ketidaksetujuan.

Ada senyum penuh arti yang muncul di bibir ibunya ketika mendengar perkataan Minerva. Telapak tangan lembut yang menangkup di dahi Minerva tiba-tiba saja seolah memancarkan nuansa yang terasa semakin hangat di sana.

“Kau tidak tahu, Minerva. Ibu lebih kuat daripada yang kau kira,” sang Ibu menurunkan tangannya ke mata Minerva, memaksa dengan lembut supaya Minerva memejamkan mata. Lalu, sejenak kemudian, tubuh Minerva seolah diselubungi oleh kekuatan penuh kehangatan yang memberikan sensasi nyaman kepadanya. Begitu nyamannya hingga menyedot kesadaran Minerva dan membaringkannya dalam lelap menyenangkan.

Tubuh Minerva langsung jatuh lunglai dan mungkin terbanting ke tanah jika Dadilja tidak menangkapnya serta melindunginya dalam buaian. Tidak ada waktu untuk berhenti, Dadilja langsung bergerak melesat, menggunakan kekuatan dewinya dan masuk ke dalam hutan dalam pelarian menyangkut hidup dan mati.

***

“Bertemu dengan orang yang sama?” Yazza langsung menyambar. Pikirannya langsung berputar ke saat sebelumnya. Asaka dengan jelas menyebutkan tentang bunga Morea, dan bunga Morea langsung menghubungkannya ke anak kecil di pesta perayaan panen pedesaan yang sedang bermain petak umpet dan tidak sengaja berinteraksi dengannya.

Asaka memang terbiasa berbicara dengan menggunakan teka-teki nan menjengkelkan. Sang Alam Semesta entah bagimana, seolah memang ditakdirkan untuk membawa sifat alami guna mempermainkan pikiran makhluk lain secara menyebalkan. Sang Alam Semesta sudah jelas menganggap itu sebagai kesenangan ketika melihat wajah-wajah kebingungan dari lawan bicaranya yang sedang berusaha menelaah teka-teki yang dia berikan.

Dan Yazza tahu bahwa dia harus memeras otaknya untuk menemukan jawaban. Tetapi, jika dipikirkan lebih dalam, sepertinya mustahil. Asaka mengatakan bahwa dia dan Vejas kemungkinan bertemu dengan orang yang sama. Makhluk yang sama-sama menguarkan aroma bunga Morea nan pekat dari tubuhnya. Vejas tidak mungkin bertemu dengan anak kecil manusia itu, bukan? Bukan hanya karena anak itu adalah anak manusia, tetapi juga kemungkinan Vejas turun ke dunia manusia, khususnya ke desa itu pada malam ini sangatlah kecil.

Malam ini adalah malam perayaan panen. Sebuah pesta pemujaan dan ucapan syukur yang diperuntukkan kepada Sang Mahadewa Azhura Kahn karena berkat dan kebaikan beliau memberikan hasil panen melimpah yang menjamin kemakmuran seluruh negeri. Sementara itu, Vejas adalah dewa perusak dimana apapun yang tidak beruntung terkena berkatnya akan rusak serta hancur. Karena itulah, sudah menjadi peraturan tidak tertulis bahwa Vejas dilarang turun ke area-area dimana sedang dilakukan pesta perayaan atau upacara pemujaan di dunia manusia, karena itu sama saja mengirimkan bencana di sana.

Jadi, siapa yang sama-sama ditemu oleh Vejas dan dirinya? Makhluk yang sama-sama menguarkan aroma bunga Morea nan pekat?

Pertanyaan Yazza tidak menggantung lama, karena Vejas yang sama-sama mengerutkan kening mendengar apa yang dikatakan oleh Asaka langsung bergumam.

“Bunga morea?” hidung Vejas seolah menghirup sesuatu dan mengenang, “Maksudmu Dadilja? Aku memang berkunjung ke istana Dadilja dan ya, setelah Sang Alam Semesta menyebutkannya, baru aku teringat bahwa aroma Dadilja sangat pekat oleh bunga morea.”

Mata Yazza langsung menajam mendengar apa yang dikatakan oleh Vejas. Kepalanya menoleh ke arah Asaka yang memasang wajah datar tanpa ekspresi.

“Apakah maksudmu, ada Dadilja di dunia manusia ketika aku berkunjung tadi?” tanya Yazza dengan nada tak kalah tajam.

“Dadilja?” Vejas menyela bahkan sebelum Asaka bisa menjawab, “Kau bertemu Dadilja di dunia manusia?” tanyanya penuh rasa ingin tahu, malahan melemparkan pertanyaan kembali ke arah Yazza.

Yazza mengalihkan pandangannya ke arah Vejas, lalu menggelengkan kepala dengan muram.

“Bukan. Mungkin benar bahwa Dadilja ada di dunia manusia, di tengah perayaan pesta panen mengingat tugasnya sebagai Dewi Pemelihara. Tetapi, aku ingat pasti bahwa aku tidak bertemu dengan Dadilja di bawah sana. Kalau aku bertemu dengannya, aku pasti menyadarinya.” Yazza menyipitkan mata kembali ke arah Asaka. “Kau bilang aku dan Vejas bertemu dengan orang yang sama? Hanya anak kecil yang kutemui di sana yang penuh aroma bunga Morea, dan hanya Dadilja yang ditemu oleh Vejas yang menguarkan aroma bunga nan sama. Apakah maksudmu, dua makhluk itu adalah orang yang sama? Itu tidak mungkin karena jika Dadilja menyamar sebagai anak kecil, aku pasti langsung tahu.” Yazza berucap dengan nada yakin karena dia tahu pasti bahwa Minerva sudah pasti bukanlah Dadilja.

Asaka yang tadi hanya terdiam memandang dua sosok di depannya tiba-tiba menyeringai misterius.

“Kau hanya perlu berpikir lebih dalam, Paman Yazza,” ujarnya singkat, menatap Yazza dan Vejas berganti-ganti dengan ekspresi penuh arti.

Yazza melakukan itu. Berpikir dan berusaha menyambungkan potongan-potongan petunjuk misterius yang diberikan oleh Asaka tanpa belas kasihan.

Jika anak kecil itu dengan Dadilja bukanlah makhluk yang sama, tetapi mereka sama-sama menguarkan aroma bunga Morea, maka satu-satunya kemungkinan yang ada adalah bahwa Dadilja memiliki hubungan dengan anak kecil bernama Minerva itu.

Asaka tiba-tiba membalikkan badan, melangkah tanpa peduli memasuki salah satu area sempit di ujung tamannya. Tubuhnya menghilang di balik rerimbunan semak, membuat Yazza maupun Vejas bertanya-tanya tentang apa yang dia lakukan. Tak lama kemudian, Asaka muncul lagi. Kali ini dengan serumpun bunga Morea yang mekar sempurna di tangannya. Ekspresi Sang Alam Semesta tampak damai, begitu kontras dengan ekspresi kebingungan lawan bicaranya. Bahkan, dengan sikap santai Asaka masih sempat menghirup keharuman bunga Morea yang menguar perlahan ke udara.

“Tahukah kalian, bahwa bunga Morea sedianya digunakan untuk menyamarkan sesuatu?” ucap Asaka lagi dengan nada tenang.

“Apakah maksudmu Dadilja sedang menyembunyikan sesuatu?” Vejas menyela kembali dengan nada tidak senang. Ada ketidaksetujuan di dalam benaknya ketika membicarakan Dadilja, perempuan yang diam-diam dicintainya itu dalam konteks negatif.

Asaka mengangkat wajahnya dari keharuman bunga Morea di tangannya.

“Mungkin Dadilja sedang berusaha menyembunyikan seseorang.” ucapnya lugas, memberikan petunjuk terakhir.

Seketika itu juga ekspresi wajah Yazza memucat ketika akhirnya dia berhasil menyatukan keseluruhan keping terakhir dari petunjuk yang diberikan oleh Asaka.

“Maksudmu… Dadilja menyembunyikan… anak yang ke seratus?” serunya seolah tak percaya. Gambaran-gambaran yang kali ini terlihat masuk akal mulai bermunculan di pikirannya, menyatu dan menciptakan kepingan logika yang bisa diterima oleh akal.

Minerva… anak itu… memiliki penampilan fisik yang begitu berbeda dengan sembilan puluh sembilan anak yang diburu dan berhasil dimusnahkan oleh Yazza sebelumnya. Dan aroma bunga Morea yang pekat mengaburkan segalanya, bahkan Yazza yang berhadapan langsung dengan anak itu, sama sekali tidak menemukan petunjuk nyata yang sebenarnya terpampang jelas di depannya.

Bahwa Minerva adalah anak ke seratus. Bahwa anak itulah yang menjadi penggenapan kutukan serta hukuman yang dibebankan kepadanya. Bahwa dengan melenyapkan Minerva, maka tugasnya akan selesai dan Yazza bisa beristirahat dengan tenang setelahnya.

Vejas yang juga telah berhasil menelaah segalanya segamblang apa yang ada di pikiran Yazza langsung melangkah maju dengan tidak setuju.

“Tuduhanmu bisa berakibat fatal jika ternyata kau salah, wahai Asaka sang Alam Semesta. Apa hubungan Dadilja sang Dewi Pemelihara dengan anak ke seratus yang menjadi penggenapan dari hukuman Yazza? Tidak ada alasan bagi Dadilja untuk menyembunyikan anak itu. Dadilja bukan musuh Yazza, dan aku tahu bahwa jiwanya yang lembut, apalagi dia adalah penerus dari Dewi Calamara, tidak mungkin mendorongnya untuk mengacaukan apa yang menjadi takdir Yazza.”

Asaka mengangkat sebelah alisnya, lalu tersenyum lebar seolah memberikan apresiasi pada pemikiran Vejas yang kritis.

“Bagaimana jika aku  bilang bahwa Dadilja hanya melakukan tugas? Melaksanakan perintah dari otoritas yang lebih tinggi?” ujarnya kembali memasang nada suara penuh misteri.

“Kekuatan yang lebih tinggi? Siapa yang bisa memerintah Dadilja kecuali…” Vejas yang semula menggebu-gebu untuk membantah tiba-tiba memucat, pun dengan Yazza. “Astaga. Kau tadi bertanya apakah aku bertemu dengan Dewi Armenia di kediaman Dadilja… apakah maksudmu…”

Asaka menatap wajah-wajah terkejut di depannya berganti-ganti, lalu menganggukkan kepala.

“Ya. Ibundaku, Dewi Armenia terlibat dalam hal ini. Tetapi, kau tahu sendiri bagaimana ibuku. Apapun yang dilakukannya, semua itu bertujuan untuk kebaikan yang dia yakini sendiri.” Asaka menatap ke arah Yazza dengan pandangan menyesal. “Ibuku tidak akan pernah mencelakaimu, Paman Yazza. Beliau hanya berpikir bahwa jalan yang ditempuhnya ini akan menyelamatkanmu, dan beliau mempercayai itu sepenuh hatinya.”

“Menyelamatkanku?” Yazza bertanya dengan suara lirih. Ekspresi terluka dan terkhianati tampak jelas di wajahnya. “Bagaimana mungkin Dewi Armenia menyelamatkanku dengan menugaskan Dadilja menyembunyikan anak yang menjadi penggenap kutukanku?” Yazza seolah teringat sesuatu dan ekspresinya berubah makin getir. “Ibu anak itu… ibu Minerva, pantas aku merasakan firasat buruk yang membuatku langsung menjauh ketika anak itu berusaha mempertemukanku dengan ibunya. Sebuah keputusan yang salah karena jika aku mau menunggu, aku akan menguak segalanya menyangkut keterlibatan Dadilja tanpa bantuanmu, Asaka. Dadilja menyamar menjadi ibu Minerva, bahkan anak itu tidak tahu bahwa Dadilja bukan ibunya… dan itu semua atas perintah Dewi Armenia?”

Asaka tampak begitu menyesal, ekspresinya bersungguh-sungguh ketika berbicara kepada Yazza.

“Paman. Kau sendiri yang tahu bagaimana ibuku sangat menyayangimu. Semua ada alasannya. Janganlah kau berprasangka buruk kepada ibuku,” Asaka tiba-tiba memasang wajah serius, mengalihkan pembicaraan. “Mengenai ibuku, biarlah aku yang menyelesaikan. Saat ini, jika kalian tidak ingin kehilangan anak itu, turunlah ke dunia manusia dan temukan mereka dengan segera. Jika tidak, entah cara apa yang akan digunakan oleh Dadilja untuk menyembunyikan anak itu hingga kita tidak bisa menemukannya lagi. Ingatlah bahwa Dewi Dadilja adalah Dewi Pemelihara. Seluruh makhluk di dunia manusia, baik itu tumbuhan, binatang bahkan manusia lainnya, secara alami akan mencintai dan berusaha melindunginya. Bahkan aku sebagai sang Alam Semesta akan kehilangan pengelihatan jika bumi sudah bertekad menyembunyikan sang Dewi Pemelihara.”

***

“Rumah ini kosong, Mereka sudah melarikan diri.”

Yazza menggertakkan gigi ketika memandang ke sekeliling rumah sederhana yang dipenuhi oleh aroma bunga Morea nan pekat tersebut. Jelas-jelas rumah ini sudah ditinggalkan, mungkin tidak lama berselang, tetapi hal itu menunjukkan dengan pasti bahwa mereka sudah terlambat dalam pengejaran ini.

Dadilja mungkin sudah membawa Minerva dengan kekuatannya sejauh mungkin, lalu melingkupinya dalam perlindungan yang tak tertembus. Dini hari sudah hampir menjelang, pertanda kekuatan kegelapan yang dimilikinya semakin memudar, sementara cahaya matahari akan memasok kekuatan tambahan kepada Dadilja. Mereka benar-benar ketinggalan jauh dan membutuhkan waktu lama untuk mengejar.

Yazza bahkan masih tidak habis pikir kenapa Armenia tega melakukan ini kepadanya. Kenapa Armenia menghalang-halanginya untuk menyelesaikan penggenapan hukuman yang hanya tinggal menyisakan satu anak saja?

“Kuharap kau memaafkan Dadilja,” Vejas yang baru saja keluar setelah memeriksa ruangan demi ruangan yang ada di rumah mungil itu datang mendekati Yazza yang masih termenung di ruang keluarga rumah itu, satu-satunya ruangan yang cukup luas di dalam rumah itu. “Aku yakin tidak ada masalah pribadi dalam hal ini. Dadilja hanya melaksanakan tugas,”

Yazza menatap ke arah Vejas. Desas-desus sudah begitu jelas tersebar di kalangan para dewa bahwa Vejas menaruh hati pada Dewi Dadilja. Sebuah kisah percintaan yang menyedihkan karena seorang Dewa Perusak dan Dewi Pemelihara sangatlah bertolak belakang dan hampir tidak mungkin bisa menyatu. Tetapi, melihat bagaimana Vejas begitu membela Dadilja sekarang mau tak mau menyentuh perasaan Yazza.

“Aku tidak akan menyerang atau menyakiti Dadilja jika itu yang kau takutkan,” ujar Yazza lugas, menyadari kecemasan Vejas yang tersirat.

Vejas bersedekap, menatap Yazza dengan nada serius.

“Aku berharap aku bisa memegang kata-katamu, Yazza. Lagipula, mengingat situasi ini, aku memutuskan untuk terus mendampingimu dalam pencarianmu. Bukan hanya demi menemukan anak itu, tetapi memastikan janjimu bahwa kau tidak akan melukai Dadilja.”

Yazza mengangkat sebelah alis.

“Bagaimana jika dalam upayanya melindungi anak itu, Dadilja yang melukaiku terlebih dahulu? Apakah kau memintaku tetap diam dan mati sia-sia?” ujarnya tanpa bisa menyembunyikan nada penuh ironi di sana.

Vejas bersedekap, ekspresinya ketika menjawab terdengar bersungguh-sungguh.

“Aku akan menjadi tamengmu jika itu terjadi, Yazza. Dadilja tidak akan menyerangku,” jawabnya dengan nada yakin.

Yazza langsung mendengus.

“Kau begitu percaya diri,” cemoohnya pelan.

Hal itu membuat Vejas menyeringai. Tangannya bergerak mengacak rambutnya sendiri dengan gelisah.

“Apa yang ada di antara aku dan Dadilja, hanya kami berdua yang tahu. Tapi kau bisa memegang perkataanku, Yazza. Kau akan merasa beruntung dan berterima kasih nanti karena aku memilih mendampingimu dalam pencarian anak itu,”

“Apakah kau hendak mengatakan kepadaku bahwa kau cukup berguna?” Yazza memandang ke sekeliling rumah dengan skeptis.

Vejas menyeringai. “Jangan meremehkanku, Yazza. Aku sangat ahli jika itu menyangkut menemukan Dadilja. Asal aku yakin bahwa kau memegang perkataanmu untuk tidak melukai Dadilja sedikit pun, aku akan membantumu.”

“Kalau begitu lebih baik kita memulai pencarian. Tidak ada yang bisa kita temukan di rumah yang ditinggalkan ini. Ayo kita pergi,” Yazza tidak menunggu jawaban Vejas dan langsung melesat melakukan pengejaran.

***

Pagi sudah menjelang ketika Dadilja menghentikan gerakannya. Dia telah bergerak terbang dengan kecepatan luar biasa sambil membawa Minerva yang tidak sadarkan diri di gendongannya.

Napasnya terhembus lega ketika menyadari bahwa sinar matahari yang keemasan sudah bergerak menyapa tanah, memberikan rasa aman nan hangat kepada dirinya.

Dadilja mengucapkan mantra, menciptakan perlindungan kuat yang langsung menyelubungi dirinya dengan selubung tak kasat mata nan tak terlacak. Beruntung saat ini dirinya berada di dunia manusia, keberadaannya sebagai Dewi Pemelihara membuatnya dicintai di sini dan seluruh makhluk yang ada di dunia manusia ini akan bekerjasama dengan sepenuh hati untuk melindunginya. Saat ini, Dadilja meminta perlindungan supaya selubung tak kasat mata itu melindunginya dari pengelihatan bejana takdir yang dimiliki oleh Asaka, sang Alam Semesta.

Tetapi, hal itu tidak akan bertahan lama. Dia harus mengatur strategi untuk menyembunyikan Minerva semakin dalam hingga tak terendus. Penyamaran sebagai penduduk biasa dengan menggunakan mantra dan bunga Morea berikut mengubah ciri fisik Minerva mungkin tidak akan efektif lagi.

Entah kenapa insting Dadilja yang kuat membuatnya menyadari bahwa saat ini dia sudah ketahuan. Ada sebuah peringatan yang mengalir lembut dari alam bawah sadarnya…. sesuatu yang didapatnya dari keterikatan jiwanya dengan Vejas.

Mereka sudah ketahuan…

Dadilka menunduk dan menatap wajah Minerva yang lunglai dalam tidurnya yang damai, dan entah kenapa saat ini dirinya merasa begitu cemas.

Mungkin dalam kondisi mendesak seperti ini, dirinya harus meminta  bantuan Dewi Armenia…. Tetapi, bagaimana caranya menemui Dewi Armenia ketika mereka sudah ketahuan?

***

“Ibu,”

Asaka tiba-tiba bersuara, mengejutkan Armenia yang tengah merenung di bangku panjang yang ada di tengah taman indah nan terbentang di Dievas Rumai. Suasana pagi itu begitu damai seperti biasa. Angin meniup lembut menyapa kulit dalam semilirnya yang nikmat, pun dengan suara binatang-binatang hutan yang mengalun lembut bagaikan sebuah simponi indah untuk menyambut pagi.

Tetapi, ekspresi Armenia ketika menolehkan kepala ke arah Asaka berkebalikan dari kedamaian itu. Armenia tahu kenapa saat ini Asaka mendatanginya.

“Kau sudah tahu,” ujar Armenia tanpa basa-basi, mengamati anak lelakinya yang telah tumbuh dewasa dengan tatapan mata penuh ironi.

Asaka menghentikan langkahnya yang semula hendak mendekati sang Ibu. Mereka berhadap-hadapan. Dengan Armenia yang duduk di bangku taman dan Asaka yang berdiri tak jauh darinya.

Asaka lalu menganggukkan kepala, tidak membantah perkataan ibunya.

“Aku sudah tahu, ibu. Dan aku juga tahu alasan ibu melakukan itu,”

Armenia tersenyum penuh ironi.

“Kalau begitu aku tidak perlu menjelaskannya lagi,” ucap Armenia dengan nada lembut. “Aku hanya ingin Yazza mendapatkan cinta sejatinya, pasangan takdirnya.”

“Meskipun aku bilang bahwa aku mengerti, bukan berarti aku setuju dengan apa yang ibu lakukan,” Asaka langsung menyambung dengan nada penuh penyesalan. “Ibu, Ibu harus tahu bahwa Yazza harus menggenapi apa yang sudah digariskan untuknya. Jika dia tidak membunuh anak yang ke seratus dan melenyapkannya, bukan hanya dia tidak bisa lepas dari kutukan hukuman yang mengikatnya, tetapi ramalan mengerikan itu akan terjadi. Jika anak itu mencapai usia sembilan belas tahun, dia akan membawa kehancuran bagi Dunia Ametyst.”

“Bagaimana kau bisa begitu yakin bahwa ramalan itu akan terwujud, Asaka?” Armenia menyela dengan nada tidak setuju. “Apakah kau lupa bagaimana ramalan yang mengikat kakekmu dan membuatnya bersikap membabi buta serta ingin membunuhmu bahkan sebelum kau dilahirkan ke dunia ini? Ramalan itu mengatakan hal yang nyaris sama, bahwa kau adalah penghancur dunia Ametyst. Tetapi, Yazza bisa membalikkan ramalan itu dengan tindakannya yang tidak diduga dan tidak terbaca oleh bejana takdir Evren sekalipun. Bejana takdir hanya menggambarkan apa yang mungkin terjadi di masa depan. Ketika makhluk dunia Ametyst mengubah keputusannya tanpa pertanda sebelumnya, bahkan bejana takdir pun tidak bisa menebak itu. Apakah kau lupa itu semua hingga kau memutuskan kepastian masa depan tanpa membuka kesempatan untuk mengubahnya?”

Perkataan Armenia membuat Asaka tertegun. Sejenak, sang Alam Semesta yang dikenal sangat pandai memainkan pikiran dan bermain kata itu seolah kehilangan kekuatannya untuk berkata-kata. Bahkan, ketika berucap kemudian, suara Asaka sedikit terbata.

“Jadi, apa sebenarnya yang ibu inginkan?”

Armena melangkah berdiri dari posisi duduknya, membuatnya sejajar dengan Asaka yang berada di depannya.

“Aku ingin Yazza memiliki hak untuk memutuskan. Dia harus mengetahui segalanya. Sama seperti dahulu ketika dia mengetahui kebenaran tentangmu, tentangku dan tentang ramalan kakekmu. Biarkan Yazza yang akan memutuskan apakah dia akan mengubah jalannya takdir atau mengikutinya.”

Asaka mengerjapkan mata. Lelaki itu menatap tekad yang menyala kuat di mata ibunya, dan dia tahu, ketika sang Ibu sudah menunjukkan ketegasan hati, tidak ada yang bisa dia lakukan untuk melunakkannya.

Pada akhirnya Asaka setengah membungkuk, memberikan penghormatan kepada ibunya.

“Baiklah, ibu. Biarkan Yazza yang memutuskan,” ujarnya dengan nada menyerah.

***

Tentu saja Yazza pulang dengan tangan kosong, seperti yang sudah diduganya. Matahari yang turun menyinari langit menjelang pagi yang menyapa dalam pencarian mereka ke tengah hutan sudah menunjukkan siapa yang menang dan siapa yang kalah dalam pengejaran ini.

Tidak ada yang bisa dilakukan ketika terang sudah menjelang. Kekuatan Yazza tidak akan ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kekuatan Dadilja yang didukung sepenuhnya oleh selubung matahari. Dan seperti yang dikatakan oleh Asaka sebelumnya, Dadilja sangat dicintai di dunia manusia. Jika seluruh makhluk dunia manusia bersinergi untuk melindungi Dadilja, maka akan sangat sulit untuk menemukan sang Dewi Pemelihara, terutama ketika matahari masih menyinari.

Satu-satunya jalan adalah menunggu malam tiba, saat kekuatannya terisi penuh dan kemungkinan dia bisa menembus benteng perlindungan Dadilja. Sama seperti Vejas yang merupakan dewa dengan pembawa sifat gelap, mereka memiliki energi yang berkebalikan dengan dewa dewi yang membawa sifat terang. Kekuatan kegelapan yang direfleksikan dengan datangnya malam akan membuat mereka lebih maksimal.

Karena itulah Yazza memutuskan untuk pulang ke istananya yang gelap dengan penuh kekecewaan. Berusaha bersabar menunggu malam tiba sebelum dia melanjutkan pencariannya kembali.

Sebuah pencarian yang dia tahu akan semakin sulit, karena saat ini dia harus melawan sesama makhluk serupa dewa.

Sebuah suara mengejutkan Yazza yang sedang merenung di singgasana istananya nan menyeramkan, begitu gelap dan dipenuhi aroma dupa angro mainu yang menebarkan ketidaknyamanan ke seluruh penjuru ruangan.

Yazza langsung menemukan kehadiran tamu asing yang tidak diundangnya, dan ketika dia menyadari siapa tamu itu, senyum sinis langsung muncul di bibirnya.

“Sungguh suatu kehormatan karena Dewi Armenia sendiri berkenan hadir ke dunia kematian di lokasi paling bawah untuk menemuiku,” ujarnya tanpa bisa menyembunyikan kesinisan di dalam suaranya.

Armenia memasang ekspresi bersalah, tetapi tak urung bekata juga dengan nada suara lembut.

“Setiap perbuatan pasti ada alasannya, Yazza.” bisiknya perlahan. “Aku melakukan ini, melindungi anak itu, karena aku memikirkan kebahagiaanmu,” sambungnya.

Yazza langsung berdiri dari posisinya, tetapi menahan diri untuk tidak mendekati Armenia.

“Kebahagiaanku? Apakah dengan menghalangiku menyelesaikan penggenapan hukumanku bisa membuatku bahagia? Logika darimana sehingga kau bisa menyimpulkan seperti itu?”

Kemarahan yang menguasai membuat Yazza lupa untuk bersopan santun kepada perempuan yang menjadi istri Dewa tertinggi Dunia Ametyst, junjungan mereka semua. Tetapi, sikap Yazza itu sama sekali tidak menyinggung perasaan Armenia. Armenia tahu bahwa Yazza merasa terluka dan dikhianati, dan sudah menjadi tugasnya untuk membuat Yazza mengerti.

“Aku tahu dimatamu saat ini perbuatanku sangat salah,” Armenia menghela napas panjang. “Tetapi, aku memutuskan untuk memberikan kebenaran kepadamu. Sebuah kebenaran yang akan membuatmu mengerti alasan di balik semua tindakanku,”

Mata Yazza menyipit ketika menyadari misteri yang ada di balik perkataan Aremnia. Asaka secara tersirat juga mengatakan hal yang hampir sama, bahwa ada alasan di balik semua tindakan Armenia.

“Dan kebenaran apakah itu?” desis Yazza kemudian dengan nada tidak sabar ketika Armenia hanya terdiam mengamati reaksinya.

Pertanyaan itu membuat Armenia menghela napas panjang. Perempuan itu seolah mengumpulkan kekuatan untuk merangkai kata-kata, menyampaikan kebenaran besar yang selama ini tersembunyi dari pengetahuan Yazza.

“Minerva, anak gadis itu adalah penggenapan dari hukumanmu. Ramalan memang mengatakan bahwa dia akan membawa kehancuran bagi dunia Ametyst. Sebuah ramalan yang sama yang dulu pernah dijatuhkan kepada Asaka yang bahkan saat itu masih ada di dalam kandunganku,” Armenia menghentikan kalimatnya untuk menatap wajah Yazza dan mengamati apa yang ada di dalam benaknya. “Tetapi, yang tidak kau tahu, Yazza. Perempuan itu, perempuan yang harus kau bunuh dalam reinkarnasinya hingga yang keseratus kali, adalah perempuan yang digariskan menjadi pasangan takdirmu. Aku mungkin tidak bisa menyelamatkan sembilan puluh sembilan yang lain karena mereka bukanlah kunci dari pasangan takdirmu. Tetapi, aku harus menyelamatkan yang keseratus ini demi dirimu. Aku tidak mungkin membiarkan kau membunuh pasangan takdirmu sendiri Yazza, tidak setelah semua pengorbananmu di masa lampau,”

Bersambung ke Part Berikutnya

[/responsivevoice]


Follow instagram @projectsairaakira untuk mendapatkan pengumuman/pemberitahuan jika kebetulan web sedang eror atau tidak bisa diakses.

272 Komentar

  1. Kenapa takdir dan keberuntungan seolah gk pernah berpihak pada yazza? Poor yazza

  2. Isma nurul menulis:

    :berkacakaca

  3. Fatimahst. menulis:

    :bantingkursi :bantingkursi

  4. Diah Wardani menulis:

    :sebarcinta

  5. Kapan update lg :berkacakaca

  6. puk..puk..puk.. yazza.. melas bener

  7. Kasiannn yazzaaa semoga dapet happy endingg

  8. PutriPrimasari menulis:

    :habisakal

  9. DeeraSlythNeel menulis:

    Sad banget bang, di cerita kemaren Sad boy, di kisah sendiri juga jalannya kelihatan sad boy. Semoga HE ya ntar ama dedek Minerva :banjirairmatahuhuhu

  10. Kembali ke awal mula

  11. Kinanti_Latupary menulis:

    Keberadaan Minerva yang disembunyikan udah terungkap, dan Yazza juga udah tau kebenarannya, kalo Minerva adalah pasangan takdirnya, sekarang keputusannya ada di Yazza, semoga keputusan yang diambil Yazza, bisa membawa kebaikan buat Yazza :DUKDUKDUK :NGAKAKGILAA

  12. FuntasticSentences01 menulis:

    Uwaa. Salah gak sih aku baca RD sekarang wkkwkw

  13. :habisakal Yazza bisa jadi pemegang gelar sad boy of the years :berkacakaca
    Gimana gak dlu harusny berjodoh sama Armenia, ditelikung sama ashura khan :grrr , tp ad campur tangan evren bpkny Armenia sang alam semesta..
    Skrg yg jd jodony harus dibunuh sebanyak 100x :habisakal … Dan itu takdir yg harus ditanggung yazza akibat perbuatanny…
    :haisalamkenal :habisakal :NGAKAKGILAA

Tinggalkan Balasan