Reapers Destiny

Reaper’s Destiny Part 1 : Membutakan Sang Penuai

Bookmark

No account yet? Register

2.080 votes, average: 1,00 out of 1 (2.080 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

4380 words

© copyright 2017 @projectsairaakira seluruh karya di website ini telah didaftarkan dan dilindungi oleh hukum yang berlaku serta mengikat.

Dilarang meniru, menjiplak, mengubah nama tokoh, mengambil ide baik sebagian maupun keseluruhan isi cerita yang berada di dalam website ini. Jika Anda menemukan plagiat karya kami di wattpad, mari bantu dengan melakukan report copyright voiolance pada pihak wattpad. Kami menyediakan hadiah dan komplimen menarik bagi laporan atau temuan dari vitamins menyangkut usaha plagiat baik keseluruhan maupun sebagian dari karya-karya ProjectSairaAkira yang dipublish di website ini, silahkan hubungi admin kami di [email protected] ^^


Author’s Playlist – Imagine Dragon – Walking The Wire

Do you feel the same when I’m away from you?
Do you know the line that I’d walk for you?
We could turn around, or we could give it up
But we’ll take what comes, take what comes
Oh the storm is raging against us now
If you’re afraid of falling then don’t look down
But we took the step, and we took the leap
And we’ll take what comes, take what comes

There’s nights we had to just walk away
And there’s tears we’ll cry, but those tears will fade
It’s the price we pay when it comes to love
And we’ll take what comes, take what comes


[responsivevoice voice=”Indonesian Female” buttontext=”Dengarkan cerita ini”]

Anak yang keseratus itu menghilang.

Kegelapan tampak menggantung di kaki langit. Tetapi tidak ada bedanya karena dunia kematian yang terletak di dasar bawah Dunia Ametyst memang selalu diselubungi oleh kabut hitam yang menguasai, karena sinar matahari tidak mampu menjangkaukan sinarnya yang gemerlapan ke tempat ini.

Yazza memang lebih sering menghabiskan waktunya di dunia atas. Tempat dirinya mengabdi kepada Asaka seperti yang telah ditugaskan kepadanya. Tetapi ketika dia ingin merenung dalam ketenangan, maka Yazza lebih memilih menghabiskan waktunya di dunia bawah seperti sekarang ini.

Selain sebagai Dewa Kematian, Yazza mengemban tugas sebagai pelindung Asaka. Meskipun sampai dengan saat ini Yazza masih bertanya-tanya kenapa Asaka merasa perlu dilindungi baik oleh dirinya maupun oleh Kars Ulthor Sang Dewa Perang. Sebab dengan kedudukan Asaka sebagai Sang Alam Semesta yang berayahkan Mahadewa Azhura Kahn, hanya orang bodoh dan tidak sayang nyawa yang berani menentang ataupun menyerang Asaka.

Lagipula Asaka berbeda dengan Evren, kakeknya, yang saking licik dan suka mempermainkan orang serta memiliki keegoisan tiada batas, menjadi sosok yang paling dijauhi serta dibenci di kalangan para dewa dunia atas. Asaka, meskipun usianya baru ratusan tahun, tidak setua dewa-dewa lainnya, telah tumbuh menjadi Sang Alam Semesta dewasa yang bijaksana dan dicintai. Seolah-olah takdir melunakkan ketegasannya kepada anak itu, melonggarkan segala aturan yang seharusnya diemban oleh Sang Alam Semesta.

Semenjak dunia ini ada, Sang Alam Semesta memang selalu memegang kutukan takdir yang tak terelakkan. Dia harus  menjalani hidup sendirian, tanpa cinta dan tanpa pasangan, supaya tidak ada hal-hal yang mengalihkan perhatiannya dari tugas utama untuk menjaga takdir dan mencegah kehancuran dunia Ametyst. Karena itulah dulu Sang Takdir membuang Dewi Azpasya ke dunia manusia sebagai hukuman karena Evren telah melanggar aturan takdir dengan mencintai Sang Dewi. Dan ternyata pelanggaran itu berimbas pada pelanggaran lainnya yang tak terelakkan. Apa yang ditakutkan oleh Sang Takdir terjadi sudah, Evren telah mengabaikan tugasnya sebagai Sang Alam Semesta dan membolak-balikkan takdir demi anak perempuannya, Armenia.

Itu adalah masa lalu yang penuh pergolakan dan Yazza tidak ingin mengingat lagi setiap detailnya. Karena hal itu akan membawa kenangan menyakitkan yang masih terpatri jelas jauh di dalam jiwa, meskipun telah dia tenggelamkan dalam-dalam. Tetapi syukurlah, semua berjalan baik setelah Asaka lahir. Dunia Ametyst dipenuhi oleh kedamaian, setiap dewa, setiap manusia, setiap makhluk di dalamnya menjalankan tugas dan keseharian dalam keteraturan tanpa adanya pergolakan. Seluruh bagain Dunia Ametyst begitu tenang, damai, saling bahu membahu hingga kemakmuran menyentuh setiap titiknya. Bahkan kedamaian itu menjangkau sampai kesini, ke dunia bawah tempat Yazza tinggal.

Sang Takdir pun seolah berbaik hati karena kedamaian ini, Asaka sebagai Sang Alam Semesta, masih diberi kesempatan untuk dilingkupi oleh cinta. Bukan cinta pasangan karena sesuai takdirnya Asaka ditakdirkan untuk hidup sendiri, tetapi cinta kedua orang tuanya. Dewi Armenia, ibundanya, memberikan kasih sayang berlimpah yang tiada habisnya, pun dengan Ayahandanya Sang Mahadewa Azhura Kahn dan juga adik perempuannya. Memiliki keluarga yang begitu hangat dan melingkupi dalam pelukan cinta itu sepertinya sudah cukup untuk membuat Asaka menjadi Sang Alam Semesta yang juga penuh cinta, menjalankan tugasnya dengan ketulusan hingga menjadi dewa yang sangat dicintai di usianya yang masih sangat muda.

Bahkan Yazza juga menyimpan rasa hormat yang sangat tinggi pada Asaka. Karena itulah dia menjalankan hukuman yang diberikan oleh Asaka kepadanya tanpa prasangka, tanpa pikir panjang. Tahu bahwa Asaka akan menepati janjinya, membuat Yazza menjadi Dewa yang bebas setelah dia membunuh anak yang keseratus.

Yazza termenung di atas singgasananya di dunia kegelapan yang kelam. Alisnya berkerut sementara ekspresinya begitu serius. Sudah hampir sepuluh tahun Yazza mencari manusia kecil itu, manusia yang seharusnya menjadi penggenapan hukuman yang telah ditanggung ratusan tahun lamanya. Tetapi takdir rupanya masih belum berpihak kepadanya.

Anak itu menghilang begitu saja, seolah lenyap ditelan bumi. Dan Yazza tidak bisa menemukannya.

Yazza telah memastikan bahwa anak itu sudah dilahirkan di dunia manusia, dia bahkan menemui Asaka, Sang Alam semesta untuk memastikan  bahwa anak itu lahir ke dunia ini. Dan Asaka mengatakan bahwa ramalan itu tidak berubah, anak yang ditakdirkan untuk menghancurkan dunia tersebut akan selalu dilahirkan setahun setelah Yazza membunuh yang sebelumnya. Itu berarti jika sekarang sepuluh tahun kemudian, anak itu sudah berusia sembilan tahun.

Tetapi anak itu menghilang. Keberadaannya seolah lenyap dari dunia Ametyst dan tidak bisa ditemukan di mana-mana. Yazza tidak bisa melacak jejaknya sedikitpun, pencarian untuk yang keseratus ini tidak semudah menemukan yang kesembilan puluh sembilan sebelumnya yang berhasil di bunuhnya bahkan sebelum usianya mencapai lima tahun.

Apakah memang ada permainan di balik ini semua? Permainan supaya dirinya tidak bisa menggenapi hukuman dan menyelesaikan tugasnya? Tetapi jika memang ada sesuatu dibalik ini semua, siapa pelakunya dan dengan tujuan apa?

Meskipun sekarang dirinya telah berada di pihak Azhura Kahn, mengabdi kepadanya dan tidak bertentangan lagi, tetap saja kegetiran yang membentuk jiwa Yazza bertahun-tahun selalu menghantui. Kegetiran itu menimbulkan kecurigaan, pemikiran buruk bahwa jauh di luar sana, ada seseorang dengan kekuatan khusus yang memang ingin menggagalkan Yazza dalam menyelesaikan tugas dan menggenapi hukumannya. Seolah-olah sosok itu ingin Yazza tetap berada dalam kutukan seumur hidup yang terus memberati pundaknya.

Tetapi siapakah orang itu? Adakah dendam tersimpan yang tidak Yazza ketahui hingga sosok itu ingin Yazza tetap menderita? Karena untuk melakukan hal seperti ini, sosok itu haruslah sosok yang menyimpan kebencian amat sangat kepada dirinya….

Begitu lama Yazza larut dalam renungannya dan dia bahkan tidak bisa menemukan jawaban apapun atas kebingungannya. Pada akhirnya Yazza menggelengkan kepala perlahan, berusaha mengusir pikiran buruk yang memenuhi benaknya.

Tidak. Dia tidak boleh menaruh prasangka buruk kepada siapapun lebih dahulu. Bagaimanapun juga, masih ada kemungkinan bahwa kesulitannya sekarang sehingga tidak bisa menemukan penggenap hukumannya yang keseratus ini disebabkan karena kesalahannya sendiri. Mungkin Yazza masih kurang berusaha, mungkin dirinya masih kurang mencari dan dia masih tidak bisa menemukan tanda-tanda dengan seksama.

Apa yang salah pada dirinya? Dia sudah mengendus ke seluruh Dunia Ametyst, bahkan ke sudut yang paling tidak mungkin sekalipun. Dicarinya anak dengan aromanya yang khas, yang bahkan bisa terendus oleh Yazza meskipun jarak mereka berdua begitu jauh. Dia sudah mencari anak perempuan dengan mata dan rambut sewarna madu. Selalu anak perempuan yang dia cari karena yang kesembilanpuluhsembilan sebelumnya juga selalu terlahir sebagai anak perempuan. Tidak mungkin yang keseratus ini terlahir berbeda.

Yazza bangkit dari kursinya. Matanya bersinar penuh tekad ketika dia memutuskan untuk melakukan hal-hal yang selalu diulang setiap saat tanpa menyerah dalam menjalani kutukannya.

Mengitari dunia manusia, memindai setiap sudutnya  tanpa terlewat untuk menemukan anak itu…

***

Sembilan tahun berlalu semenjak musim panen terakhir dimana seorang ibu muda yang sendirian melahirkan anak perempuannya dan meregang nyawa dalam usahanya menghantarkan nyawa seorang anak yang sangat penting ke dunia manusia.

Sekarang musim panen telah kembali datang. Ditandai dengan hiruk pikuk penduduk yang bersiap untuk pesta. Sama seperti yang terjadi berabad-abad lalu, kemakmuran desa yang ditandai dengan panen melimpah setiap tahunnya, disyukuri dengan upacara persembahan ke kuil Sang Mahadewa Azhura Kahn yang disambung dengan pesta rakyat pada malam harinya.

Pihak kuil sudah mulai mengumpulkan hasil persembahan yang melimpah itu dan mengelompokkan sesuai jenisnya. Ada berbagai macam sayuran, buah-buahan dengan kualitas terbaik, dan di sisi lain, ada hewan-hewan ternak dalam kondisi paling prima. Ya, seluruh penduduk desa memang selalu berusaha memberikan hasil panen terbaiknya sebagai persembahan. Mereka percaya jika mereka memberikan persembahan yang terbaik, maka Sang Mahadewa Azhura Kahn akan mengembalikannya dengan berkat melimpah yang berkali-kali lipat banyaknya.

Setelah pihak kuil memilah-milah persembahan tersebut sesuai jenisnya, mereka biasanya akan mendoakan hasil persembahan itu dengan ritual khusus untuk menyampaikan ucapan syukur serta terima kasih kepada Sang Mahadewa Azhura Kahn. Kemudian, setelah hasil persembahan tersebut selesai didoakan, pihak kuil akan mendistribusikan seluruh hasil persembahan kepada masyarakat yang telah ditunjuk berdasarkan tugasnya masing-masing guna mempersiapkan pesta rakyat di malam harinya.

Masyarakat akan mengolah hasil persembahan itu, hewan-hewan ternak akan disembelih untuk dibakar dan dimasak dengan bumbu yang lezat, sayur-sayuran akan diolah dengan bumbu khusus yang menggoda lidah dan buah-buahan akan dipersiapkan untuk sajian pesta dengan warna-warni memikat. Semakin melimpah hasil panen, semakin banyak yang dipersembahkan ke kuil, itu berarti akan semakin melimpah pula hidangan yang dinikmati sebebas-bebasnya oleh masyarakan untuk pesta panen malam ini

Sosok seorang anak tampak berlari penuh semangat, menyelinap di sela hiruk pikuk orang-orang yang sedang menyiapkan pesta. Anak perempuan yang berpakaian sederhana, gaun satu potong sepanjang bawah lutut tanpa lengan dan dibalut selendang mini tersampir di kedua pundaknya tampak berlari-lari melewati lalu lalang manusia-manusia yang terlalu sibuk untuk peduli.

Rambut anak itu hitam legam, dipotong pendek sebahu sehingga membebaskannya berlari-lari tanpa harus menyingkirkan anak-anak rambut yang mengganggu, pun dengan matanya yang berwarna hitam legam yang berbinar penuh kepolosan bercampur bahagia. Di sebelah tangannya ada keranjang kecil berisi bebungaan warna ungu yang telah dia panen dari semak-semak tepi hutan. Ibunya sangat menyukai bunga warna ungu itu untuk menghias rumah mereka yang sederhana dan anak itu sengaja mengumpulkan bunga-bunga ini atas perintah Sang Ibu.

Kata ibunya, hari ini dirinya berulang tahun yang kesembilan, dan mereka akan merayakan dengan cara yang biasa, menghias setiap sudut rumah hingga penuh bunga, menyantap manisan buah yang menyegarkan lidah, sebelum kemudian bersama-sama berangkat mengikuti pesta rakyat yang menyenangkan. Bahkan tahun ini, dirinya diperbolehkan tidur lebih larut dari biasanya supaya bisa menikmati pesta sampai malam.

Ya, ulang tahunnya selalu bersamaan dengan pesta rakyat untuk kelengkapan ungkapan syukur atas hasil panen yang melimpah yang diselenggarakan setahun sekali, karena itulah sudah menjadi kebiasaan bagi dia dan ibunya merayakan ulang tahun dengan larut dalam kegembiraan pesta rakyat ini.

Suara seseorang memanggil namanya membuat dirinya menoleh, senyumnya melebar melihat siapa di belakangnya. Dua anak perempuan dari desa datang berlari-lari mendekat. Mereka semua adalah teman-temannya. Dua anak itu berambut panjang sepinggang, hampir seumuran dan mengenakan pakaian khas yang sama, pakaian dari kain khusus berwarna oranye yang seragam.

“Larimu cepat sekali, Minerva!” Lyra yang akhirnya bisa mencapai posisi Minerva terlebih dahulu sedikit terengah dan membutuhkan waktu untuk menetralkan napasnya.

Tak lama kemudian, teman-temannya yang lain datang menyusul, mereka semua mengerubungi Minerva, tampak tertarik dengan bebungaan segar yang terkumpul di keranjang yang dibawanya.

“Bunga-bunganya indah sekali.” Nimedes berseru dengan mata berbinar, lalu menatap Minerva sambil tersenyum lebar, “Apakah kau akan merayakan ulang tahunmu bersama ibumu terlebih dahulu sebelum bergabung dengan kami di pesta rakyat?”

Teman-temannya memang telah bersama Minerva sejak mereka kecil dan masih merangkak, karena itulah mereka saling mengenal dengan begitu dekat dan mengetahui kebiasaan keluarga masing-masing. Sama seperti Minerva yang tahu bahwa Lyra masih suka mengompol di malam hari, atau Nimedes sering mendapat jatah manisan tambahan dari ibundanya karena dia adalah anak bungsu kesayangan yang telah dinantikan oleh orang tuanya setelah empat kakak lelaki yang sekarang telah beranjak besar.

Minerva mengangguk dengan bersemangat, “Aku akan menyusul kalian nanti bersama ibu. Karena itu aku harus pulang cepat untuk mengantar bunga ini bagi Ibu. Ibu akan menghias rumah dengan bunga ungu hingga seluruh bagian rumah begitu harum, lalu barulah kami pergi ke pesta rakyat.” jelasnya dengan senyum lebar.

“Kami akan menunggu di sana sambil menikmati hidangan.” Lyra menyahut sambil tersenyum lebar, “Kurasa, seperti biasanya, kau dan ibumu baru akan datang setelah semua selesai bersantap dan orang-orang  dewasa mulai berdansa mengitari api unggun, eh?”

Minerva menganggukkan kepala. Memang sebelum memasang bunga dan memakan manisan pada hari ulang tahunnya, ibunya akan melakukan ritual khusus untuk Minerva yang membutuhkan waktu sehingga mereka datang ke pesta sedikit terlambat, ketika puncak pesta telah hampir dilalui separuh jalan.

“Kalau begitu cepatlah pulang. Kami akan menunggumu di pesta. Ketika orang-orang dewasa mulai berdansa, kita bisa melakukan permainan petak umpet bersama anak-anak lain di area sekeliling api unggun.” Nimedes berseru dengan penuh semangat, lalu menganggukkan kepala ke arah Lyra yang membalas anggukkannya pelan.

Kedua anak itu lalu melambaikan tangan pada Minerva, berlari-lari menjauh menerobos hiruk pikuk manusia yang berlalu lalang mempersiapkan pesta malam nanti.

Minerva tersenyum menatap sampai kedua teman baiknya itu menghilang dan tertutupi oleh tubuh-tubuh manusia lain, dia lalu membalikkan tubuh, berlari-lari kecil menuju rumahnya. Dirinya tidak boleh terlambat. Ibunya harus mempersiapkan bunga-bunga ungu ini sebelum matahari tenggelam lalu memulai ritual ulang tahunnya.

Semakin cepat ritual itu dimulai, maka semakin cepat selesainya. Setelah itu, Minerva bisa bergegas datang ke pesta, menikmati dan bermain dengan anak-anak lainnya sampai kelelahan.

***

Yazza menghentikan langkah ketika aroma pekat yang sangat dia kenal menghalangi jalannya untuk menuju dunia manusia. Dia menolehkan kepala dan melihat Kars Ulthor tengah bersandar di sebuah pohon besar penuh dengan dedaunan warna oranye terang. Sang Dewa Perang sepertinya tidak sedang menantinya, melainkan tengah merenung dengan pandangan mata lurus ke depan, menerawang.

“Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah waktu-waktu seperti ini adalah giliranmu berjaga di sekeliling Sang Alam Semesta?”

Yazza langsung menyapa tanpa basa-basi. Mereka berdua telah ditugaskan sebagai pelindung Sang Alam Semesta dan memiliki pengaturan yang telah ditetapkan untuk menentukan siapa yang bertugas. Yazza dan Kars Ulthor memang tidak pernah bertugas bersama-sama, mereka selalu bergantian sambil mengatur waktu untuk melakukan tugas-tugas mereka yang lain.

Tetapi bisa dibilang, tugas-tugas mereka yang lain telah jauh berkurang karena kedamaian yang tercipta hampir sempurna di seluruh lapisan Dunia Ametyst ini. Dengan meluasnya kedamaian, maka perang hampir tidak ada. Dan dengan hampir tidak adanya perang, maka tugas Yazza sebagai Sang Dewa Kematian bisa sedikit lebih ringan. Sebab kematian terbanyak manusia sebagian besar disebabkan oleh perang. Usia lanjut, penyakit, dan segala hal normal lainnya yang menyebabkan manusia meninggal tidak pernah sebanding dengan kematian yang disebabkan oleh angkara manusia yang saling bertarung dan berperang demi mempertahankan kehausan akan kuasa dan ego mereka masing-masing. Beruntung kedamaian di Dunia Ametyst ini mengurangi itu semua dan secara tidak langsung mengurangi baik tugas Yazza maupun Kars Ulthor.

“Asaka tengah beristirahat dan dia membebaskanku dari tugas sampai esok pagi.” Kars Ulthor mendongakkan kepala, menatap ke arah Yazza setengah meringis, “Aku sedang bertengkar dengan Slimiba, dia mengamuk karena kemarin aku telah melupakan hari ulang tahun anak kami. Jadi dia mengusirku dari rumah sampai kemarahannya mereda.”

Perkataan Kars Ulthor membuat Yazza menyeringai penuh ironi. Rasanya terdengar lucu mengetahui bahwa seorang Dewa Perang dengan tubuh tinggi besar dan kekuatan nan mengerikan, tunduk dan patuh pada kemarahan istrinya yang bertubuh mungil dan jauh lebih lemah dari dirinya.

Tetapi mungkin itulah yang disebut dengan kekuatan cinta. Seorang lelaki, bahkan dewa sekalipun akan bersedia berlutut di kaki kesayangannya atas nama cinta.

“Kau pikir butuh berapa lama sampai kemarahannya mereda?” tanya Yazza kemudian, berusaha menyembunyikan sikap ironi di hati dan menanamkan nada prihatin dalam suaranya.

Kars Ulthor menatap ke arah matahari yang berwarna kemerahan, “Slimiba tidak pernah marah terlalu lama kepadaku. Dia tidak bisa.” Ada seringai kepuasan yang langsung muncul di bibir Sang Dewa Perang, “Aku berani bertaruh, sebelum matahari genap tenggelam, dia sudah memanggilku untuk pulang.”

“Jadi kau akan tetap berdiri di sini seperti orang bodoh sampai Slimiba memanggilmu pulang?” Yazza mengangkat sebelah alisnya seolah tidak percaya, lalu mendengus dan hendak berlalu, “Lakukan sesukamu, aku harus pergi ke dunia manusia.” Yazza bergerak seiring dengan perkataannya, menciptakan suara gemerisik jubah panjang yang dia kenakan.

“Kau hendak mencarinya lagi?” suara Kars Ulthor yang berubah serius membuat langkah Yazza yang telah berlalu menjadi terhenti. Sang Dewa Kematian menolehkan kepala, menatap Kars Ulthor dengan tatapan tajam sebelum kemudian menganggukkan kepala.

“Ya, sudah menjadi tugasku, bukan? Jika benar perhitunganku, anak itu akan berusia sembilan tahun pada masa-masa ini. Itu berarti waktuku untuk menemukannya akan semakin tipis seiring dengan berlalunya waktu. Anak itu tidak boleh mencapai usia empat belas tahun, atau kutukan hukuman untukku akan gagal dipatahkan.”

Kars Ulthor membalas tatapan Yazza, tidak bisa menyembunyikan keprihatinan yang sangat kental di sana. Pada akhirnya Sang Dewa Perang menganggukkan kepala, lalu menepuk pundak Yazza dengan bersahabat,

“Semoga berhasil, kawan.” ujarnya dengan nada tulus. Setulus persahabatan yang telah mereka jalin dengan melupakan segala kisruh masa lalu dan bersepakat untuk sama-sama menjadi pelindung Sang Alam Semesta.

***

Minerva berlari-lari kecil melalui jalan setapak untuk menuju rumahnya. Langkahnya semakin cepat seiring dengan tampaknya pondok mungil dari batu beratap kayu dan rumbia yang sudah sangat dikenalinya. Telah seumur hidup Minerva hidup di rumah itu, dirinya tidak berayah dan hanya memiliki seorang ibu yang sangat mencintainya. Ibunya bilang bahwa ayahnya meninggal ketika Minerva belum dilahirkan karena kecelakaan ketika berladang.

Sampai dengan saat ini Minerva tidak bisa membayangkan seperti apa sosok ayahnya. Itu semua karena ibunya sangat minim bercerita tentang Sang Ayah, bahkan seolah-olah mengindari percakapan apapun yang menyangkut ayahnya itu.

Dulu ketika masih kecil. Minerva selalu bertanya terus-menerus tentang ayahnya, menguji kesabaran ibunya hingga kadang-kadang marah dan memintanya untuk berhenti. Tetapi sekarang, semakin bertambahnya umur Minerva, dia mengerti dan mulai menduga bahwa Ibunya menghindari membicarakan tentang ayahnya kemungkinan disebabkan bahwa kenangan tentang Sang Ayah menyebabkan ibunya sedih.

Minerva tidak ingin ibunya sedih, karena itu, meskipun dipenuhi oleh rasa ingin tahu yang amat sangat, Minerva selalu menahan diri dan berusaha tidak bertanya tentang ayahnya.

Langkah Minerva sampai ke pintu dan dia membukanya pelan-pelan.

“Ibu?” Minerva menyapa seperti kebiasaannya ketika memasuki rumah, memanggil nama ibunya. Dan tak lama kemudian, sebuah suara lembut menyahut dari dalam.

” Di dapur, Minerva. Apakah kau sudah membawa bunganya?”

Ucapan itu membuat Minerva mempercepat langkah kaki mungilnya menuju dapur, keranjang bunga di tangannya terpegang erat sementara ekspresinya penuh semangat.

“Aku membawa banyak bunga berwarna ungu seperti biasanya untuk menghias rumah, ibu.” ujarnya dengan nada senang, melalui ambang pintu dapur untuk menemui ibunya.

Sosok perempuan muda bertubuh ramping dan berambut hitam legam tampak duduk menunggu di kursi dapur. Sebuah bejana dari kayu dengan cairan beraroma khas tampak telah siap di atas meja kecil di depannya. Ibu Minerva tersenyum hangat menyambut anaknya, membuka kedua lengan supaya Minerva bisa menghambur ke pelukannya.

Disambutnya pelukan anaknya yang mungil itu lalu diusapnya pucuk kepalanya dengan penuh kasih.

“Makanlah manisan yang telah ibu buat untukmu.” tangan Sang Ibu menyentuh mangkuk berisi manisan lezat berwarna keemasan yang sangat disukai oleh Minerva. Tanpa diperintah dua kali, Minerva mengambil manisan itu dengan sebelah tangan sementara tangannya yang lain masih memegang keranjang,  dia lalu menjejali mulutnya sampai penuh, membuat Sang Ibu terkekeh melihat tingkah anaknya yang menggemaskan.

“Ayo kita mulai ritualnya supaya kita bisa segera pergi ke pesta dan bersenang-senang di hari ulang tahunmu.” ujar Sang Ibu dengan lembut kemudian setelah Minerva selesai menikmati manisannya.

Minerva menurut, menyerahkan keranjang bunga ungu tersebut kepada ibunya dan menatap ibunya sambil menunggu ritual itu dimulai.

Sang Ibu menerima keranjang bunga dari Minerva, menyisihkan setengah untuk dipakai menghias seluruh sudut rumah, sementara sisanya dipotong dan diremas dengan tangan sebelum kemudian dimasukkan ke dalam bejana yang telah disiapkan.

Bejana itu tadinya berisi cairan keemasan sewarna madu nan harum, dan ajaibnya, ketika potongan bebungaan ungu itu dimasukkan, warna cairannya perlahan menggelap, menjadi ungu, iuntuk kemudian semakin lama warnanya semakin gelap sebelum akhirnya berubah menjadi hitam legam yang sangat pekat.

“Apakah kau sudah siap?” Sang Ibu bertanya lembut kepada Minerva. Dan Minerva menarik napas dalam-dalam sebelum kemudian menganggukkan kepala. Mereka tidak pernah melewatkan ritual ini setiap tahunnya, tetapi entah kenapa Minerva selalu merasa gugup.

Sang Ibu membawa Minerva ke area tempat mencuci dan menyuruh Minerva berlutut sambil menundukkan kepala, membungkuk ke arah depan. Perlahan Sang Ibu membawa bejana itu ke dekat Minerva sementara bibirnya bergumam menghitung mundur waktu.

Beberapa detik lagi, ketika matahari mulai tenggelam semakin pekat dan pesta musim panen dimulai dengan iringan musik serta hiruk pikuk manusia, ketika itulah Minerva dilahirkan ke dunia ini sembilan tahun lamanya.

Dan seolah ada keajaiban, di detik yang sama ketika Minerva dilahirkan sembilan tahun yang lalu, warna rambut hitam Minerva yang semula berwarna hitam pekat, berangsur berubah seperti warna madu yang berkilauan. Warna madu itu begitu cerah, bersinar indah dan melahap habis warna hitamnya sampai tidak bersisa, menyisakan rambut berkilau yang sangat memukau.

Sayangnya warna itu harus dimusnahkan dengan segera, sebelum keberadaan Minerva terendus oleh Sang Penuai yang akan membahayakan nyawa Minerva.

Tanpa membuang waktu lagi, Ibu Minerva mengambil air hitam dalam bejana dengan gayung kayu yang telah disiapkannya lalu mengguyurkan air itu ke keseluruhan rambut Minerva yang dipotong pendek sebahu. Dengan alasan inilah rambut Minerva dipotong pendek, supaya ritual mereka bisa dilakukan dengan lebih singkat. Rambut panjang akan membutuhkan banyak ramuan dalam bejana untuk membasuh dan menghilangkan warna, pun dengan waktu yang lebih lama untuk menyelesaikan ritual.

Cairan itu seolah terserap ke dalam rambut yang tadinya berwarna madu berkilauan. Mengalahkan kilau indah tersebut dan memadamkan cahayanya serta merubahnya menjadi hitam kembali, sampai ke akar, setiap helainya begitu legam tanpa tersisa.

Ibu Minerva menatap puas hasil kerjanya, ada sedikit senyum di sudut bibir ketika berkata.

“Angkat kepalamu, Minerva,” ujarnya lembut.

Minerva menurut, mengangkat kepala dan menatap ibunya dengan mata lebarnya yang polos. Serupa dengan warna rambutnya, warna mata Minerva pun telah berubah menjadi cerah berkilauan dan bening serupa madu yang diambil dari lebah pemanen nektar bunga berwarna emas.

Ibu Minerva mengambil beberapa tetes cairan hitam di bejana dengan tangannya, lalu berbisik dengan suara menenangkan.

“Tahan,” ucapnya dengan nada keibuan. Minerva menurut, tidak seperti ketika pertama kali menerima ritual ini di usianya yang satu tahun, ketika itu Ibunya bercerita bahwa Minerva menangis tanpa henti. Sekarang, setelah dia cukup besar dan terbiasa, Minerva bersikap tenang dan menunggu.

Ibunya mengatakan bahwa ritual ini harus selalu dilakukan setiap tahunnya pada hari ulang tahunnya untuk melindungi Minerva dari bahaya. Ibunya bilang ada monster jahat berjiwa iblis yang datang dari kegelapan untuk mengincar Minerva dan hal itu menyebabkan Minerva harus selalu dibasuh dengan cairan hitam ini dan berselubung wangi bunga ungu untuk mengecoh Sang Monster hingga tidak bisa menemukannya.

Meskipun Minerva tidak tahu jelas mengenai apa yang dikatakan oleh Ibunya dan Sang Ibu juga tampaknya tidak ingin memberikan penjelasan lebih lanjut, hanya meminta supaya Minerva percaya kepadanya, pada akhirnya Minerva memutuskan untuk memercayai apa yang dikatakan oleh Ibunya. Toh dia tahu bahwa Sang Ibu sangat mencintai dan menyayanginya, jika Ibunya mengatakan ingin melindungi Minerva, maka sudah pasti demikianlah adanya. Jadi Minerva tidak membantah dan menurut untuk melakukan ritual ulang tahun dari ibunya.

Dia bahkan berhasil tidak berkedip ketika Sang Ibu meneteskan cairan hitam itu ke bola matanya. Tidak terasa sakit, hanya ada hawa dingin seperti es yang melingkupi bola matanya, dan setelah itu tidak terasa apapun. Hanya Ibu Minerva yang menyadari dan menatap dengan mata kepalanya, bahwa warna mata Minerva telah berubah kembali menjadi hitam legam, menyembunyikan warna aslinya yang seperti madu.

Sang Ibu tersenyum, lalu mengusap rambut Minerva dengan sayang.

“Ritual telah selesai, sekarang mandilah dan bersiap. Jangan lupa mencampurkan kelopak bunga ungu ke air mandimu. Setelah itu berpakaianlah dengan pakaian pesta dan kita berangkat ke pesta rakyat.”

Minerva menganggukkan kepala dengan bersemangat, sekali lagi memeluk ibunya dengan sayang sebelum kemudian berlari ke arah meja dapur, mengambil beberapa tangkai bunga untuk dicampur ke air mandinya dan meninggalkan ruangan dengan langkah-langkah tak sabar menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

Sang Ibu berdiri sejenak sampai Minerva menghilang dari pandangan, lalu melangkah kembali ke meja dapur untuk mengambil bunga-bunga yang tersisa. Dibawanya bunga itu mendekat ke indra penciuman dan dihirupnya dalam. Aroma bunga itu begitu wangi dan menyegarkan, tetapi yang paling penting, aroma bunga ini, dengan mantra khusus bisa menyerap aroma asli Minerva dan melindunginya sehingga tidak terendus oleh penciuman tajam Sang Penuai.

Sang Ibu memasang bunga-bunga tersebut di sudut ruangan, dekat dengan jendela serta tempat-tempat lain dimana udara bergerak keluar masuk untuk mengirimkan sinyal wewangian berbalut semilir angin. Mulutnya kembali merapal mantra, mantra perlindungan untuk menyerap wangi asli Minerva yang khas.

Didengarnya suara dari kamar mandi, memastikan bahwa anak gadisnya telah menyiramkan air bercampur bunga untuk membasuh tubuh, pertanda bahwa ritual perlindungan ini telah diselesaikan. Senyum tersungging di bibir Sang Ibu penuh kepuasan karena pada hari ini, dia telah memastikan keselamatan Minerva sampai dengan ulang tahunnya yang berikut.

Selama ini, tahun demi tahun berlalu, dirinya telah memasang perlindungan ini bagi Minerva,  membuat anak gadis itu lolos dari kejaran Sang Penuai yang tiada habisnya. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi di masa depan, tetapi sekarang waktunya telah dekat pada batas penghabisan Sang Penuai. Dirinya harus bisa menjaga serta melindungi Minerva hingga lima tahun kemudian, ketika usia Minerva telah menginjak empat belas tahun. Ya, setelah itu pengejaran Sang Penuai akan terpatahkan dan tidak ada yang bisa dilakukan lagi olehnya karena batas waktu telah dilanggar. Pada saat usia Minerva telah mencapai empat belas tahun, pada saat itulah keselamatan Minerva terjamin.

Sang Ibu melangkah ke kamarnya sendiri untuk berganti pakaian dengan pakaian pesta. Langkahnya berhenti ketika menatap dirinya sendiri di cermin besar yang terpasang di dinding kamar.

Lalu seolah ada keajaiban, cahaya terang seorang dewi melingkupi tubuh Sang Ibu, warna rambutnya berubah berkilauan dan wajahnya yang juga berubah menjadi sangat cantik dengan kecantikan seorang dewi yang terpatri jelas di wajahnya.

Ya, dia bukanlah ibu kandung Minerva. Ibu Kandung Minerva telah meninggal ketika melahirkan anak itu ke dunia ini.

Dirinya adalah seorang dewi yang terpanggil untuk melindungi Minerva karena suatu alasan yang sangat penting berhubungan dengan prinsipnya sebagai sosok yang menaungi cinta. Pada hari kelahiran Minerva, dirinya turun ke bumi, menyamar sebagai seorang Dayana atau bidan desa dalam wujud perempuan tua yang membantu Ibu kandung Minerva melahirkan anaknya. Dan ketika Sang Ibu kandung meninggal karena tubuhnya yang lemah tidak mampu menanggung beban melahirkan, Sang Dewi mengambil alih tugas untuk melindungi Minerva, merubah wujudnya menjadi manusia, menjadi sosok serupa Ibu Minerva yang selalu mendampingi dan menyembunyikan anak itu dari pengelihatan Sang Penuai.

Bersambung ke Part berikutnya

[/responsivevoice]


Follow instagram @projectsairaakira untuk mendapatkan pengumuman/pemberitahuan jika kebetulan web sedang eror atau tidak bisa diakses.

408 Komentar

  1. Kasian Yazza takdir msh blm berpihak sama dia :berkacakaca :aw..aw

    1. Kapan kah dia akan bahagia

  2. Sinta Setiawati menulis:

    Pantesan, yazza ga bisa menemukan anak yang ke-100..aduh, ni dewi, ga sadar apa ulahnya berusaha merubah takdir akan merubah yang lainnya juga?

  3. Airaqyoung1215 menulis:

    Huuuhhhh kok kesel…
    Kasihan yazza dong….. :bantingkursi :bantingkursi :bantingkursi :bantingkursi
    Kutukannya nggak selesai2

  4. faridahnoor menulis:

    Kapan yazza bahagia :nangiskeras :nangiskeras :nangiskeras

    1. Pasti dia akan bahagia juga

  5. AimeeCho838 menulis:

    Ini yg jadi ibunya Minerva Dewi apa ya?

  6. Dan dewi siapakah ini? Membuat aku lpnasaran

  7. Dhian Sarahwati menulis:

    Taqdir seolah mempermainkankan yazza..seorang Dewi???hmm…siapa ya??apa yg d lakukan Dewi semoga tidak berimbas k kehancuran ametyst

  8. Rahayu Astri menulis:

    :bantingkursi :bantingkursi :bantingkursi :bantingkursi kasian yazzanya…

  9. Kisa Tazza next

  10. :bantingkursi :bantingkursi :bantingkursi yang yang :lovely

  11. petak umpet versi para dewa

  12. ohhh takdirrr

    1. Akhirnya yazza ketemu takdirnya

  13. Dewi siapa?
    Dewi cintakah?
    Tp dewix hbt membuat ramuan ya.
    Jd mkin penasaran

  14. inenurhidayati menulis:

    penasaran ini dewi siapa :lovely

  15. Ayo cepad dimulaiiii

  16. Hampir aja ngira klo disini ada soft lens yg nutup warna mata. Ternyata dr kekuatan dewi :NGAKAKGILAA

    1. Zaman dulu gak ada soft len

  17. Masi hiatus juga yazza :lovely

    1. Udah comback

  18. Antika Hadinata menulis:

    :lovely

  19. Aku masih nunggu cerita ini

    1. Kucing Cantik menulis:

      Cerita ini keren ya

  20. Fatimahst. menulis:

    :sebarcinta :sebarcinta

  21. Dewi.. O.. O.. O.. Siapa dia?

  22. PutriPrimasari menulis:

    :grrr

  23. Oh takdir

    1. Kalau udah takdir ya

  24. Jayaning Sila Astuti menulis:

    awal kisah yazza dan minerva..

  25. FuntasticSentences01 menulis:

    Manseee

  26. Jejak

  27. dewantilaraswaty menulis:

    :habisakal :habisakal :habisakal :habisakal :habisakal :habisakal

  28. Senang yazza kembali

  29. Love sama cerita ini

  30. Minerva

  31. Siapakah dewi itu?

  32. Kayak permainan petak umpet… :happy

  33. Kinanti_Latupary menulis:

    Yazza juga nanti bakalan ngerasain yang namanya kekuatan cinta itu, kalo nanti udah ketemu sama pasangannya :haisalamkenal :awaskubalasnanti :NGAKAKGILAA :gaksabar , hmm, dewi siapa itu ya? :NGAKAKGILAA :NGAKAKGILAA

Tinggalkan Balasan