Reapers Destiny

Reaper’s Destiny Part 4 : Wajah Sang Dewa Kematian

Bookmark

No account yet? Register

1.654 votes, average: 1,00 out of 1 (1.654 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

4007 words


© copyright 2017 @projectsairaakira seluruh karya di website ini telah didaftarkan dan dilindungi oleh hukum yang berlaku serta mengikat.

Dilarang meniru, menjiplak, mengubah nama tokoh, mengambil ide baik sebagian maupun keseluruhan isi cerita yang berada di dalam website ini. Jika Anda menemukan plagiat karya kami di wattpad, mari bantu dengan melakukan report copyright voiolance pada pihak wattpad. Kami sangat mengapresiasi laporan atau temuan dari vitamins menyangkut usaha plagiat baik keseluruhan maupun sebagian dari karya-karya ProjectSairaAkira yang dipublish di website ini, silahkan hubungi admin kami di [email protected] ^^


Author’s Playlist – Joel Adams – Please Don’t Go

Nobody ever knows. Nobody ever sees
I left my soul. Back then, no I’m too weak
Most nights I pray for you to come home
Praying to the lord. Praying for my soul
Now please don’t go. Most nights I hardly sleep when I’m alone
Now please don’t go, oh no. I think of you whenever I’m alone
So please don’t go
Cause I don’t ever wanna know. Don’t ever want to see things change
Cause when I’m living on my own. I wanna take it back and start again


[responsivevoice voice=”Indonesian Female” buttontext=”Dengarkan cerita ini”]

Asaka membalas pelukan ibunya, lalu ketika tubuh mereka menjauh, mata Asaka tiba-tiba bersinar penuh selirik, seolah-olah berusaha membaca kedalaman hati Armenia.

“Apa yang ibu lakukan sehingga pulang selarut ini?” ekspresi Asaka berubah serius ketika dia menanyakan pertanyaan itu, “Aku bertanya ke seluruh penjuru istana, mereka bilang sejak beberapa tahun terakhir ini, setiap musim panen di dunia manusia, ketika kabut menyelubungi istana para dewa dan aku tidak bisa mengintip melalui bejana takdirku, Ibu selalu pergi berkunjung ke istana bawah, ke tempat istana para dewa dan dewi utama. Ibu sebenarnya sedang mengunjungi siapa?”


“Ibu sebenarnya sedang mengunjungi siapa?

Pertanyaan itu menggaung di udara, membuat Armenia mengerjapkan mata. Sebenarnya nada pertanyaan itu dilontarkan dengan biasa, seolah-olah Asaka sedang menanyakan kegiatan sehari-hari yang tidak penting.

Tetapi, Armenia sangat mengenal anak laki-lakinya ini. Tidak ada hal yang biasa-biasa saja jika Asaka yang menanyakannya.

Armenia menelan kegugupannya dan berusaha menenangkan diri. Mungkin Asaka bahkan tidak akan berpikir sejauh itu mengenai Armenia. Asaka tidak akan menghubungkan antara Armenia dengan pasangan takdir Yazza. Mungkin Asaka hanya mencemaskan ibunya karena tidak bisa melihatnya dari bejana takdir. Asaka sangat menyayangi Armenia, dan dia menunjukkan dengan jelas bahwa dia akan selalu memastikan kondisi Armenia baik-baik saja. Karena itulah, Armenia yakin bahwa alasan Asaka sampai datang ke Dievas Rumai ini adalah untuk memastikan keselamatannya, bukannya mengorek sesuatu yang mencurigakan yang sampai saat ini berhasil disembunyikan dengan baik oleh Armenia.

“Ibu turun untuk mengunjungi istana Dadilja,” setelah berhasil memasang ekspresi tenang, Armenia memilih menjawab pertanyaan anak laki-lakinya itu dengan jujur. Sebab akan lebih mencurigakan lagi kalau dia berbohong.

Asaka pasti akan tahu jika dibohongi. Sang Alam Semesta memiliki kecerdasan melebihi makhluk lainnya hingga bisa dibilang sampai batas yang mengerikan, karena itulah sudah menjadi sifat dasar Sang Alam Semesta selalu menjadi sosok yang cerdik, lihai, bahkan bisa dibilang licik dan sangat tidak mudah untuk dibohongi. “Kau tahu, bukan? Dadilja sedang menjalankan tugas untuk melakukan pemeliharaan ke seluruh penjuru dunia manusia. Keadaan dunia manusia yang damai dan tanpa perang memang memudahkan Dadilja, tetapi tidak berarti seluruh tugasnya menjadi benar-benar terlupakan. Dadilja masih sangat sibuk, dan hanya bisa pulang ke istananya setahun sekali.”

Asaka menatap mata ibunya sedikit lebih lama dari yang seharusnya, lalu seulas senyum muncul di bibirnya.

“Aku jadi ingat bahwa sudah lama sekali aku tidak melihat bibi Dadilja.” ujarnya dengan suara tenang dan dalam, “Mungkin kapan-kapan jika ibu hendak berkunjung, aku juga akan ikut.”

Sebagai seorang dewa dengan kedudukan tinggi seperti Sang Alam Semesta sekaligus merupakan putra dari Mahadewa Azhura Kahn, Asaka memang mengenal keseluruhan dewa dan dewi yang ada di dunia Ametyst. Dari ke empat belas dewa utama, sampai dengan dewa-dewi dengan kelas di bawahnya yang menjalankan berbagai tugas yang tak kalah pentingnya. Keseluruhan hidup para dewa dan juga manusia Dunia Ametyst, semuanya tergantung pada kekuatan Asaka untuk menjaga supaya takdir yang ditetapkan demi keselamatan dan keberlangsungan Dunia Ametyst tetap berjalan pada garis yang semestinya. Dewi Dadilja sendiri mengenal Asaka dan sudah beberapa kali bertemu dengannya.

Armenia menelan ludah perlahan, “Tahun depan aku akan mengajakmu,” janjinya dengan suara mengambang, lalu memandang ke sekeliling untuk mengalihkan pembicaraan, “Apakah kau sudah bertemu dengan adikmu?”

Pembicaraan tentang sang Adik perempuan, Sirelis, biasanya sangat berhasil membuat pikiran Asaka teralihkan. Asaka sangat menyayangi adik perempuannya itu, kadang-kadang ketika bersama dengan Sirelis, Asaka tidak lagi terlihat seperti Sang Alam Semesta, melainkan lebih mirip dengan seorang kakak tanpa embel-embel tanggung jawab seorang dewa kelas tinggi pada namanya.

Asaka memiringkan kepala, lalu menipiskan bibir seolah tidak suka sebelum kemudian menatap kembali Armenia dengan penuh perhatian.

“Sirel sudah tidur ketika aku datang. Akhir-akhir ini dia sepertinya sangat suka tidur lebih awal. Apakah kebiasaannya memang berubah, Ibu?”

Armenia tersenyum, “Sirel bisa dibilang sudah mencapai masa remajanya. Apa yang kau harapkan dari seorang gadis remaja yang sedang mencoba menelaah jati dirinya sendiri?” jawab Armenia dengan nada keibuan, “Kurasa Sirel hanya membutuhkan sedikit lebih lama waktu untuk sendiri. Kau juga pernah mengalami masa-masa seperti itu, bukan?” goda Armenia kemudian.

Asaka terkekeh mendengar jawaban ibunya yang jenaka. Terlihat jelas bahwa anak laki-lakinya itu sudah melupakan keingintahuannya yang berbahaya menyangkut keberadaan Armenia sebelumnya yang misterius.

Dan itu membuat Armenia lega luar biasa.

***

 Yazza menoleh ke arah sosok yang ditunjuk oleh Minerva. Sosok itu tentu saja seorang perempuan, mengenakan pakaian berwarna oranye terang yang merupakan pakaian khas wanita pedesaan di dunia manusia. Penampilannya tidak terlihat dengan jelas karena perempuan itu masih jauh dari mereka, ditambah lagi dengan tudung berwarna oranye yang ditutupkan di kepala untuk melindungi dari hawa dingin.

Yazza mengerutkan kening ketika ada desir di dadanya. Seolah-olah ada bisikan peringatan yang mengetuk, mencoba memberikan informasi samar yang tidak bisa diterjemahkan dengan mudah. Sayangnya, informasi itu bahkan terlalu samar hingga benaknya yang waspada tidak mampu mengurainya dengan mudah, meninggalkan jejak rasa aneh dan tak terpuaskan di hatinya.

Mata Yazza menyipit, mencoba mengamati sosok perempuan yang perlahan-lahan melangkah mendekat tersebut. Tetapi, kemudian Yazza menyadari penyamarannya. Dirinya turun ke dunia manusia bukanlah untuk berinteraksi dengan kaum manusia. Berbicara dengan anak perempuan kecil yang tidak kenal takut ini saja sudah menyalahi tujuannya turun ke duni manusia.

Seharusnya dia fokus mencari buruan yang sampai dengan detik ini masih belum bisa dia temukan jejaknya. Segala petunjuk dan ramalan menunjukkan dengan gamblang bahwa anak yang keseratus, yang menjadi penggenap hukuman sekaligus kunci kebebasannya itu seharusnya dilahirkan di dunia ini. Tetapi, entah kenapa penggenapan yang ke seratus ini lebih sulit dari yang seharusnya. Segenap petunjuk yang meyakinkan itu langsung pupus bagaikan omong kosong yang tak terbukti, menciptakan rasa frustasi.

Yazza langsung menyadari bahwa tidak seharusnya dia berada di sini, bersama seorang anak perempuan kecil yang ibunya beranjak mendekat. Sebentar lagi dia harus berinteraksi dengan ibu anak itu, berinteraksi dengan manusia dewasa dan hal itu berpotensi mengganggu penyamarannya. Anak kecil memiliki jiwa polos tanpa prasangka, tetapi orang dewasa memiliki kecurigaan karena termakan usia. Yazza tidak mau merepotkan dirinya sendiri.

Dengan ekspresi datar, Yazza melirik ke arah Minerva, lalu berucap tenang.

“Aku harus pergi.” Yazza sendiri tidak tahu kenapa dia harus repot-repot berpamitan dengan anak ini.

Mata Minerva melebar. Pandangannya teralihkan dari tatapan penuh harap menanti ibunya mendekat menjadi tatapan penuh rasa ingin tahu ke arah Yazza.

“Anda tidak ingin bertemu dengan Ibu saya?” dengan polos Minerva bertanya, seolah-olah bertemu dengan ibunya merupakan sesuatu yang sangat penting saja bagi orang asing di depannya ini.

Yazza menggelengkan kepala tegas, “Aku harus pergi. Jaga dirimu, anak kecil.” ucapnya tak terbantahkan, lalu sebelum Minerva bisa mengatakan sesuatu apapun, Yazza langsung membalikkan badan dan melangkah pergi tanpa kata.

***

Minerva masih menatap sosok lelaki misterius yang kini menghilang dari pandangannya tersebut ketika ibunya datang mendekat.

Sang Ibu menepuk pundaknya perlahan, membuat Minerva menolehkan kepala dengan senyum lebar.

“Ibu, aku tadi…” suara Minerva langsung terhenti dan dahi kanak-kanaknya berkerut bingung ketika menatap wajah ibunya. Ibunya tidak tampak seperti biasanya. Biasanya ibunya selalu tampil tenang, bersahaja dan penuh senyum lembut keibuan yang menunjukkan kedewasaan pada Minerva. Tetapi, kali ini wajah ibunya pucat pasi seolah-olah habis melihat monster.

Sang Ibu tampak mengendus aroma di udara, lalu seolah mendapatkan kepastian, perempuan itu langsung merangkul Minerva, merapatkannya ke mantel oranyenya yang panjang.

“Apakah kau baik-baik saja, Minerva?” tanya Sang Ibu dengan suara terbata.

Minerva mengerutkan kening karena sikap ibunya yang aneh, lalu buru-buru menjawab.

“Aku baik-baik saja, Ibu.” Minerva merasakan tangan ibunya mengencang di sekelilingnya, memeluknya erat dengan tegang, “Ibu, Ada apa?” tanyanya kemudian.

Sang Ibu menundukkan kepala, menatap Minerva yang mendongak ke arahnya sementara bibirnya tampak bergetar ketika berucap.

“Apakah kau tahu tadi kau habis berbicara dengan siapa?” Sang Ibu bertanya dengan nada aneh, matanya menerawang ke arah hutan yang segera diikuti oleh Minerva. Ibunya menatap ke arah hutan tempat laki-laki baik hati yang tadi berbicara dengan Minerva menghilang dalam kegelapan.

Minerva mengerutkan kening. Apakah ibunya sedang membicarakan laki-laki itu?

“Maksud ibu, laki-laki yang tadi terlihat bersamaku sebelum ibu datang? Aku tidak mengenalnya, kebetulan aku bersembunyi di belakang pohon dan lelaki itu tiba-tiba berdiri di sana, menyendiri dan menjauh dari pesta. Tetapi, meskipun begitu, dia lelaki yang baik. Dia membantuku menutup tubuhku dengan bayang-bayangnya sehingga aku tidak tertangkap ketika bermain petak umpet.” Minerva langsung menjawab dengan suara bersemangat yang jujur, “Tadi dia berdiri di sini dan aku memintanya untuk bertemu ibu, tetapi dia menolak.”

Sang Ibu mengerutkan kening sehingga tercipta garis dalam di dahinya. Garis yang tidak pernah Minerva lihat sebelumnya. Seolah-olah kali ini, ibunya dilanda oleh kecemasan yang luar biasa.

“Kau… kau baru saja bertemu dengan laki-laki yang berbahaya, Minerva. Sekarang kita harus pulang dan menyelamatkan diri!”

***

“Anak yang keseratus itu seolah-olah menghilang ditelan bumi.”

Yazza berdiri di belakang Asaka dan langsung berbicara tanpa mengucap salam sebelumnya meskipun dia telah memasuki kediaman Sang Alam Semesta yang sakral.

Setelah secara resmi memegang kedudukan sebagai Sang Alam Semesta di usianya yang dianggap dewasa bagi kalangan para dewa, Asaka langsung berpindah ke istana Sang Alam Semesta yang dulu ditinggali oleh kakeknya. Yazza sudah beberapa kali menginjakkan kakinya di istana ini sejak Asaka tinggal di sini, sebagian besar kedatangannya adalah untuk melaporkan keberhasilannya menuai jiwa-jiwa suci tak berdosa yang sudah menjadi tugas sekaligus hukumannya. Belum pernah sekalipun Yazza datang dengan kegagalan dari ke sembilan puluh sembilan tugasnya di masa lampau. Tetapi untuk yang kali ini, Yazza seolah kehilangan kepercayaan dirinya dan mulai merasa ragu.

Asaka sedang berdiri membelakangi Yazza, Sang Alam Semesta tampak menatap ke arah bejana takdir yang mengepulkan kabut putih dengan kerlipan khas yang menjadi ciri khasnya.

“Aku tidak bisa melihatnya dengan bejana takdir.” Asaka tidak menoleh untuk menatap Yazza, seolah-olah sedang sibuk dengan apa yang ada di depannya, “Aku sudah mengatakan kepadamu bahwa melenyapkan nyawa anak itu hingga seratus kali adalah sebuah tugas yang dimaksudkan untuk mematahkan takdir kehancuran Dunia Ametyst, dan bejana takdir tidak bisa melacak anak itu karena bejana takdir tidak bisa meramalkan hal-hal yang dilakukan untuk mematahkan jalannya takdir.”

Asaka tiba-tiba membalikkan badan dan tersenyum dengan ramah ke arah Yazza, meskipun tatapan matanya tampak serius, “Kau pasti tahu hal itu. Sama seperti halnya kakekku, Evren yang tidak bisa meramalkan dengan bejana takdir bahwa kau akan membunuhnya. Sebab, apa yang kau lakukan itu adalah tindakan tak terduga untuk mematahkan jalinan takdir. Itu jugalah yang terjadi pada pencarianmu saat ini, paman Yazza. Aku tidak bisa membantumu untuk menemukan anak itu, jika itu tujuanmu datang kemari.”

Yazza menyipitkan mata. Entah kenapa, semakin lama Asaka semakin mirip dengan kakeknya yang telah tiada, Sang Alam Semesta yang dahulu terkenal dengan kelicikannya. Dan itu membuat Yazza curiga.

“Apakah kau yakin bahwa tidak ada campur tanganmu dalam hal ini, Asaka?” tanyanya lugas untuk memastikan.

Asaka mengangkat sebelah alis sementara ekspresinya seolah-olah tersinggung dengan pertanyaan yang diajukan oleh Yazza kepadanya.

“Paman, meskipun aku adalah Sang Alam Semesta yang memiliki pikiran berliku, bukan berarti aku dengan mudah akan menodai janji yang telah kuucapkan sendiri. Aku sudah memberikan penggenapan hukuman untukmu, dimana persyaratannya adalah kau berhasil menuai nyawa sampai dengan seratus kali. Setiap kali kau datang dan berhasil menuai nyawa itu, aku sangat bersyukur dan ikut berhitung denganmu menanti pembebasanmu. Pembebasanmu juga akan menjadi kelegaan yang amat sangat bagiku, Paman. Tegakah kau berpikir bahwa aku mengharapkan yang sebaliknya?”

Yazza tertegun, lalu berdehem seolah malu telah merasa curiga kepada Asaka. Ya, dia lupa bahwa Asaka bukanlah Evren. Asaka lebih memiliki integritas dibandingkan Evren. Lagipula, dosa yang dilakukan oleh Yazza adalah untuk menyelamatkan Asaka serta Armenia. Yazza yakin bahwa Asaka tidak akan melupakan budi itu. Jika memang ada kekuatan lain yang menghalanginya menemukan anak ke seratus ini, sudah pasti bukan Asakalah pelakunya.

“Maafkan aku,” Yazza langsung meminta maaf dengan lugas, “Mungkin karena anak yang keseratus ini berbeda. Seolah-olah ada sesuatu yang menutupnya dan membuatnya tidak mudah ditemukan. Ini sudah sembilan tahun dan tinggal sebentar lagi usia anak itu mencapai empat belas tahun. Jika aku sampai gagal menemukan anak itu di batas usianya untuk dibunuh, bukan hanya penggenapan hukumanku yang gagal, bukan hanya kebebasanku yang dipertaruhkan, tetapi juga kehancuran Dunia Ametyst seperti ramalanmu.”

Asaka mengamati ekspresi Yazza, lalu menghela napas panjang.

“Karena itulah aku memintakan tambahan bantuan untukmu, paman,” Asaka akhirnya berucap memberitahu, membuat Yazza mengerutkan keningnya.

“Tambahan bantuan?” tanyanya bingung.

Asaka menganggukkan kepala.

“Ya, aku meminta bantuan Paman Vejas. Dia akan datang sebentar lagi.” Asaka melirik ke arah bejana takdirnya, lalu tersenyum lebar, “Oh, aku salah, Paman Vejas bahkan sudah tiba di sini.”

Seakan memberikan persetujuan pada perkataan Asaka, Vejas langsung melangkah memasuki kediaman Sang Alam Semesta, membungkuk sopan untuk menyapa, lalu mengangguk ke arah Yazza yang membalas anggukannya dengan sopan.

“Apakah paman telah bertemu dengan bibi Dadilja?” Asaka tersenyum menggoda, tahu bahwa Vejas menyimpan perasaan lebih kepada Sang Dewi Pemelihara meskipun rasanya takdir cinta mereka jika berbalas pun akan sangat sulit mengingat tugas mereka yang saling bertolak belakang, yang satu adalah Dewa Perusak dan yang lain adalah Dewi Pemelihara.

Vejas tersenyum lebar, “Aku sudah bertemu Dadilja, sayang hanya pertemuan singkat karena dia harus buru-buru untuk melaksanakan tugasnya. Tetapi setidaknya hal itu bisa mengurai rindu,” mata Vejas tampak berbinar seperti lelaki kasmaran ketika berucap.

Senyum Asaka semakin melebar, tetapi matanya tampak menyipit penuh perhatian.

“Apakah paman berpapasan dengan ibuku di Istana Dewi Dadilja?” tanyanya tiba-tiba.

Pertanyaan Asaka itu membuat Vejas mengerutkan kening, bertukar pandang dengan Yazza yang mengangkat bahu, lalu menggelengkan kepala dengan lugas.

“Tidak. Aku tidak bertemu dengan Dewi Armenia. Apakah seharusnya aku bertemu dengan beliau di sana?” ujarnya balik bertanya.

Sekejap, hanya sekejap Asaka tampak mengedipkan mata, lalu Sang Alam Semesta menggelengkan kepala.

“Tidak paman. Kau tidak seharusnya bertemu dengan ibuku. Lupakan saja, aku hanya sekedar bertanya.” Asaka melangkah mendekat ke arah Vejas dan Yazza, lalu membuat gerakan menghirup aroma yang kentara sebelum kemudian bertanya penuh arti, “Sungguh unik, kalian berdua sama-sama menguarkan aroma bunga Morea nan identik, bunga ungu nan harum dari dunia manusia. Kalau saja aku tidak bisa melihat dari bejana takdir, aku pasti sudah menduga bahwa kalian baru saja bertemu dengan orang yang sama.” ujarnya dengan nada ringan tapi menyimpan arti yang dalam.

***

“Ada apa, Ibu?” Minerva akhirnya memberanikan diri bertanya. Sejak mereka pulang tadi, ibunya bersikap aneh. Setelah memberinya peringatan bahwa lelaki baik hati yang mengajak Minerva berbicara tadi adalah sosok yang berbahaya dan Minerva harus menghindarinya kalau ingin mempertahankan nyawanya, Sang ibu langsung menyeretnya untuk kembali pulang ke rumah dengan segera.

Mereka sampai di rumah ketika hari sudah larut. Sayup-sayup masih terdengar alunn musik samar dari lapangan, sisa-sisa dari pesta yang sudah dibereskan. Mungkin masih ada beberapa orang yang bertugas di lapangan sana untuk membereskan pesta, selebihnya, seluruh penduduk, terutama yang tadi membawa anak-anak ke pesta pasti sudah berpulang untuk kemudian beristirahat dengan hati puas dan perut kenyang. Esok pagi ketika mereka semua terbangun, mereka semua akan menyambut mentari dengan keriangan dan rasa syukur yang masih membuncah karena hasil panen yang melimpah, membawa doa dan senyum untuk kehidupan mereka setahun ke depan.

Tetapi, berbeda dengan keadaan di rumah Minerva saat ini. Ibundanya langsung menyeretnya masuk, mengunci pintu dan dengan segera berkeliling ruangan, memastikan bunga-bunga ungu morea masih mekar dengan segar di setiap sudut jendela dan dimanapun tempat angin bisa beranjak keluar serta masuk dengan membawa aroma dari rumah ini. Lalu, bukannya membawa Minerva ke tempat tidur dan memberikan dongeng pengantar tidur yang mendamaikan seperti biasanya, Sang Ibu malahan menarik tangan Minerva kembali, membawanya ke kamar Minerva, tetapi bukan untuk mengantarnya tidur.

Pertanyaan Minerva bahkan tidak didengarkan apalagi dijawab oleh Sang Ibu, dan itu membuatnya kebingungan karena ibunya tidak pernah mengabaikan dirinya sebelumnya.

Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah benar lelaki yang terlihat begitu baik tadi ternyata adalah orang jahat?

Minerva berdiri bingung sambil meremas kedua tangannya di tengah kamar, sementara ibunya malahan membuka laci-laci dan memasukkan pakaian Minerva ke dalam kantong dari jalinan rami besar yang disambarnya ketika melalui dapur tadi.

“Kita akan kemana, Ibu?” Minerva bertanya kembali, mengucapkan kebingungannya kembali. Seumur hidupnya, Minerva dibesarkan di rumah ini, tidak pernah sekalipun mereka meninggalkan rumah ini. Tetapi, di usianya yang ke sembilan tahun, Minerva sudah cukup tahu bahwa memasukkan baju ke dalam kantong rami besar, berarti mereka akan pergi meninggalkan rumah.

Sang Ibu menghela napas panjang, sementara tangannya yang cekatan tidak berhenti bergerak untuk memasukkan pakaian Minerva sebanyak yang dia bisa.

“Kita tidak bisa pergi dengan kekuatanku. Tidak bisa menggunakan kekuatanku karena Sang Alam Semesta pasti akan bisa melacaknya jika aku menggunakan kekuatanku. Satu-satunya cara adalah dengan menggunakan cara manusia biasa, itu adalah satu-satunya cara kita tidak bisa terlacak…” sekali lagi Sang Ibu mendesah, sambil mengucapkan rentetan kalimat yang sepertinya dia ucapkan kepada dirinya sendiri, membuat Minerva makin bingung karena ibunya mengucapkan sesuatu yang sama sekali tidak dia pahami.

Tiba-tiba, Sang Ibu menghentikan gerakan tangannya dan menoleh ke arah Minerva. Mata Sang ibu mengerjap, lalu melebar seolah-olah saking sibuknya dengan pikirannya, dia baru menyadari keberadaan Minerva di kamar ini.

“Kita harus pergi, Minerva.” Sang Ibu memberikan penjelasan singkat, “Ibu sudah bilang kita berada dalam kondisi yang berbahaya, dan pergi dari sini adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri.”

“Menyelamatkan diri?” Minerva mengulang. Pikiran polos kanak-kanaknya langsung menyimpulkan, “Menyelamatkan diri dari laki-laki yang tadi?” tanyanya cepat.

Sang Ibu langsung menganggukkan kepala.

“Cepat, kenakan mantel tebalmu dan tudung untuk menutupi kepala. Kita akan berjalan kaki menempuh hutan selatan. Di sana penuh dengan bunga morea untuk menyamarkan aromamu, setelah itu kita akan melewati area barat dan meninggalkan garis batas Kerajaan Garaya. Mungkin ibu akan membawamu bersembunyi di ceruk lembah di dekat perbatasan untuk beberapa lama sambil menunggu situasi aman. Segera setelah ibu memastikan situasi, barulah kita mencari tempat tinggal baru, sebuah tempat yang benar-benar tidak terlacak.”

“Apakah kita sedang dikejar?” entah kenapa, meskipun masih tidak yakin bahwa laki-laki yang ditemui Minerva tanpa sengaja tadi adalah orang jahat, Minerva merasakan ketakutan mulai merayapi jiwanya. Tetapi, berbagai pertanyaan masih berkecamuk di benaknya, terlebih lagi, Ibunya jadi berubah sikap seperti orang lain, bukan seperti sosok ibu yang begitu tenang yang membesarkan Minerva selama ini. Seolah-olah, ketakutan untuk ditangkap membuat Sang Ibu hilang akal, “Tetapi kenapa, Ibu? Kenapa kita dikejar? Kalau laki-laki tadi yang ibu maksud, dia sama sekali tidak berbuat apa-apa kepadaku…. jika dia ingin melukaiku, dia pasti sudah melakukannya sejak tadi…”

Perkataan Minerva terhenti ketik Sang Ibu beranjak secepat kilat dari kegiatannya memasukkan pakaian Minerva ke kantong di tangannya, secepat kilat Sang Ibu meraih kedua punda Minerva, meminta Minerva mendongak dan menatap wajahnya.

“Lelaki tadi tidak berbuat apapun kepadamu karena dia tidak tahu. Dia tidak tahu bahwa kau adalah calon korbannya. Jika dia tahu, percayalah padaku, Minerva, detik ini kau pasti sudah kehilangan nyawamu, tidak bisa lagi menghirup udara dunia Ametyst, dan seluruh penjagaan yang kulakukan selama ini dengan sepenuh hati akan sia-sia, dan aku akan mengecewakan dewi…” Sang Ibu menahan kalimatnya seolah-olah tersadar bahwa dia tidak boleh mengucapkan kalimat yang hendak diucapkannya. Tatapannya kemudian melembut ketika dia menunduk untuk mendekatkan wajah ke arah Minerva, memastikan anak kecil di depannya ini mengerti betapa gentingnya situasi yang sedang mereka hadapi saat ini, “Kau tidak boleh terbunuh, kau harus selamat, dan sudah menjadi tugasku untuk menjagamu. Percayalah kepada ibu, ibu menginginkan keselamatanmu dan kau akan selalu aman jika menuruti ibu, apakah kau mengerti, Minerva?”

Minerva mengerjapkan matanya yang indah, masih bingung dengan rentetan informasi yang terpatah-patah dan tak terangkai bagaikan jalinan benang kusut yang tak terurai itu, tetapi dia bisa memastikan satu hal: Minerva mempercayai ibunya. Ibunya yang telah merawat dan melindunginya sampai dengan detik ini, Ibunya jugalah yang telah memberikan kasih sayang berlimpah dan membesarkan Minerva hingga dia bisa tumbuh seperti sekarang ini, dan Minerva sangat percaya bahwa bersama dengan ibunya, dia akan aman.

“Aku mengerti, ibu.” jawab Minerva kemudian, memberikan kelegaan nyata yang langsung muncul di mata Sang Ibu.

“Bagus.” Sang Ibu menghela napas panjang, lalu berbalik untuk mengambil kantong pakaian Minerva yang tadi diletakkannya, “Sekarang bantulah ibu, persiapkan dirimu untuk perjalanan panjang, kenakan sepatu rami dengan lapisan yang paling tebal untuk berjalan menembus hutan dan kenakan dua lapis mantel serta tudung panjang. Ibu akan pergi untuk menyiapkan pakaian ibu sendiri, lalu kita langsung berangkat.”

Minerva menganggukkan kepala hingga Sang Ibu tersenyum, membungkuk sebentar untuk mengecup pucuk kepala Minerva sebelum kemudian berjalan melewati Minerva hendak melangkah pergi.

“Ibu?”

Minerva memanggil ketika Sang Ibu sudah sampai di ambang pintu, membuat perempuan itu menghentikan langkah dan menolehkan kepala.

“Ada apa, Minerva?” tanyanya kemudian ketika Minerva tak kunjung memberikan pertanyaan.

Minerva menelan ludah, lalu menoleh untuk menatap ibunya hati-hati.

“Bolehkah aku tahu? Kenapa… kenapa ibu bilang lelaki itu berbahaya? Dan kenapa dia mengejar kita?”

Pertanyaan Minerva yang polos itu membuat Sang Ibu tertegun, tetapi sejenak kemudian, setelah berpikir, Sang Ibu memutuskan untuk memberikan jawaban jujur.

“Lelaki itu tidak mengejar Ibu, Minerva. Lelaki itu mengejarmu, mengejarmu untuk dibunuh dan dicabut nyawanya. Tidakkah kau mencium aroma dupa angro mainu yang samar dari tubuhnya? Tidakkah kau tahu apa artinya itu?”

Dupa Angro Mainu?

Minerva mengerutkan kening mendengar pertanyaan ibunya dan langsung berusaha menggali memorinya. Mungkin memang benar ada aroma dupa angro mainu yang samar dari tubuh lelaki itu, tetapi aroma itu terlalu samar hingga Minerva bahkan tidak memperhatikannya dan menganggapnya sambil lalu. Padahal jika Minerva lebih perhatian, meskipun umurnya baru sembilan tahun, dia pasti mengerti bahwa dupa angro mainu selalu berhubungan dengan kematian.

“Lelaki itu adalah Sang Dewa Kematian, dan kau adalah nyawa yang akan dituainya, Minerva. Kau tercatat dalam buku penebasan nyawa miliknya dan dia tidak akan berhenti sebelum dia berhasil mencabut nyawamu lalu mengirimkan jiwamu ke dalam dunia kegelapan tak berujung. Beruntung sampai detik ini ibu masih memiliki kekuatan untuk melindungimu.” Sang Ibu menghela napas panjang dan menatap Minerva dengan pandangan bersungguh-sungguh, “Lelaki itu sangat berbahaya. Ibu tidak bisa menjelaskan secara gamblang, tetapi sederhananya kau pasti mengerti. Dia adalah dewa kematian yang memburumu untuk mengantarkan kematian itu sendiri atas jiwamu, jadi, jika kau bertemu dengannya lagi, sudah dipastikan bahwa kau akan mati.”

Bersambung ke Part Berikutnya

[/responsivevoice]


Follow instagram @projectsairaakira untuk mendapatkan pengumuman/pemberitahuan jika kebetulan web sedang eror atau tidak bisa diakses.

210 Komentar

  1. Puas2 deh bacanya… :haisalamkenal

  2. Kinanti_Latupary menulis:

    Wah, Asaka cerdas, udah mulai curiga nih :DUKDUKDUK :haisalamkenal , hmm, Asaka minta bantuan Vejas, bantuan apa itu ya?

  3. Asaka dilawan… dia udah tau kayaknya… :DUKDUKDUK

Tinggalkan Balasan