wooden-cottage-forest-lit-lanterns-night-62173845
The Girl Who Tamed The King

The Girl Who Tamed The King Part 2: Hot Chocolate with Butter

Bookmark

No account yet? Register

1.565 votes, average: 1,00 out of 1 (1.565 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

 

The Girl Who Tamed The King Part 2: Hot Chocolate with Butter

“Di mana Freya? Kenapa dia belum pulang juga?”

Kenzo bertanya, mengerutkan kening dengan cemas dan menatap ke jendela dapur yang tidak bertirai. Hujan telah turun begitu deras hingga pemandangan di jendela mereka berubah serupa tirai air yang menghalangi pandangan, langitpun telah menggelap, pertanda malam sudah mulai mengarungi permukaannya.

Semua yang ada di dalam ruangan itu mengikuti arah pandangan Kenzo dan ikut cemas. Tidak biasanya Freya belum sampai di rumah ketika gelap sudah datang. Memang tadi Freya berpamitan akan ke makam Bibi Corma sebentar, tetapi dia bilang akan cepat pulang dan membantu sang ibu untuk menyiapkan makan malam.

Sekarang makan malam sudah siap, dan mereka bahkan sudah menyelesaikan santap malamnya, tetapi Freya masih belum menampakkan batang hidungnya.

Apakah Freya sedang terjebak hujan dan memilih berteduh?

Kenzo menghela napas panjang, dan tiba-tiba setengah meloncat dia mengambil mantel hujannya,

“Aku akan menyusul Freya ke pemakaman dan mencarinya.” Serunya tergesa sambil melangkah ke pintu.

Dobra yang sedari tadi duduk diam sambil menyantap makanannya langsung ikut berdiri dan juga mengambil mantel hujannya,

“Aku ikut.” Serunya sambil menyusul Kenzo ke pintu depan, disempatkannya menolehkan kepala ke sang Ibu, lalu memberi pesan dengan lembut, “Ibu tidurlah, jangan lupa kunci pintunya.”

***

Freya menatap sosok mengerikan di depannya itu dengan pandangan ngeri tak terperi. Lelaki itu begitu tinggi, bahkan ketika sosoknya hampir serupa siluet yang diselubungi oleh bayang kegelapan.

Hanya mata birunya yang menyala, seolah menentang bulan yang tak mau menyinari. Rintik hujan semakin menderas, pun dengan guntur yang seakan ingin ikut meramaikan kengerian yang semakin mencekam.

Air hujan berebutan menimpa ladang gandum itu, sekaligus menimpa keduanya. Freya sendiri masih setengah duduk di sana, beralaskan ilalang gandum kasar di bawah tubuhnya, dengan tubuh tergores dan rasa perih menyengat karena lukanya terkena timpaan air.

Lelaki itu melangkah meninggalkan kudanya dan mendekat ke arah Freya dengan aura penuh intimidasi yang mengerikan, langkahnya kemudian berhenti dan dia berdiri tepat di depan Freya lalu menunduk menatapnya.

Lama mereka berdua berdiri bertatapan, hanya diselingi oleh derasnya hujan yang menghalangi pandangan mereka. Mata Freya berkaca-kaca, antara dingin dan ketakutan, sementara mata lelaki itu tidak berkedip, menatap tajam seolah tak peduli akan sekeliling.

Lalu dengan gerakan tiba-tiba lelaki itu berlutut di dekat kaki Freya, membuat Freya tersentak dan beringsut mundur dengan kaget.

“Katya. Kau sama sekali tidak berubah.” Lelaki itu menyeringai, “Kenapa kau melarikan diri dariku? Setelah semua cinta yang kuberikan kepadamu?”

Freya menggelengkan kepala, mencoba beringsut kembali ketika lelaki itu makin mendekat, air mata mulai tumpah dari sudut matanya sementara bibirnya gemetaran menahan ngeri,

“Aku Freya… aku bukan Katya…” Freya berseru serak, lemah dan terkalahkan oleh derasnya air hujan.

Lelaki itu membuka tudung misterius yang menutupi kepalanya. Kali ini cahaya rembulan tidak lagi enggan menyinari, sinar keperakannya turun menembus air dan menampilkan kerlip cahaya dari air yang membasahi wajah itu. Rambut hitam lelaki itu basah kuyup, begitupun wajahnya, tetapi dia nampaknya tak peduli. Tatapan matanya tetap lurus ke arah Freya, sampai kemudian, dengan gerakan cepat, lelaki itu tiba-tiba saja sudah berada di atas Freya, mendorong Freya telentang di tanah dengan dirinya membungkuk di atasnya.

Freya meronta, berusaha melarikan diri. Tetapi salah satu tangan lelaki itu bergerak cepat, mencengkeram kedua pergelangan tangan Freya dan menyatukannya di atas kepalanya, menahannya di sana. Freya sendiri, meski didera ketakutan yang amat sangat tidak mau menyerah, dia berusaha meronta dan menendang, tapi tubuh nan kuat itu menyelip di antara kedua kakinya, menekannya di sana dan membuatnya tidak mampu bergerak.

Napas Freya terengah, menatap ke atas, ke arah mata biru menyala yang sekarang semakin dekat. Punggung lebar lelaki itu seolah menjadi penahan air hujan yang deras mengguyur. Kedekatan mereka berdua yang dipaksakan menciptakan kepanikan yang melanda benak Freya, dia menggigil karena udara dingin yang menyiksa serta ketakutan yang merayapi hatinya semakin dalam, air matanya mengalir, menyatu dengan air hujan.

“Kenapa kau lakukan ini kepadaku? Kumohon… kumohon… aku tidak mengenalmu, aku bukan Katya… kumohon lepaskan aku..”

Seruan permohonan Freya rupanya sama sekali tidak mengusik rasa belas kasihan di hati lelaki itu, dia malah semakin membungkukkan tubuh dengan mata bersinar penuh amarah,

“Dulu selalu berhasil Katya, ketika kau memohon seperti ini aku selalu menjadi lemah. Sayangnya hal itu kau manfaatkan untuk melarikan diri dan menipuku. Sekarang tidak akan lagi, sekeras apapun kau memohon, aku tidak akan pernah menjadi luluh oleh permohonanmu itu.” Desis lelaki itu dengan nada kejam tak terbantahkan, matanya menyapu Freya yang terbaring tak berdaya di bawahnya, lalu ada senyum sinis mengembang di sana, “Kafija dan Katyana. Kita adalah pasangan yang diberkati oleh alam semesta. Aku dan kau saling melengkapi, dan begitulah adanya seharusnya…” mata lelaki itu menyipit, “Sampai kemudian kau mengkhianatiku…”

Dan kemudian, tanpa peringatan, lelaki itu menundukkan kepala, lalu melumat bibir Freya.

Freya tidak pernah dicium sebelumnya, pun dia tidak pernah membayangkan  dirinya dicium dalam waktu dekat. Ibundanya selalu memintanya supaya menjaga diri ketika berdekatan dengan lelaki manapun. Ketika dia tumbuh remaja sampai usianya sekarang, memang banyak lelaki lajang di desa mereka yang mencoba mendekatinya, mereka tertarik akan kecantikan Freya yang unik. Tetapi Freya  sendiri terlalu sibuk mengurus keluarganya, berkutat dengan segala urusan dapur serta rumah tangga, sehingga para lelaki yang dulunya tertarik kepadanya menyerah dan memilih mengejar perempuan lain yang lebih menyenangkan.

Karena itulah Freya belum pernah dicium sebelumnya.

Dan dia tidak menyangka bahwa ciuman pertamanya akan diberikan oleh lelaki mengerikan, dengan cara paksaan kasar, di atas ladang gandum dengan diguyur air hujan yang mengucur deras dari langit.

Ini bukanlah jenis ciuman lembut yang diberikan seorang lelaki kepada perempuannya. Ini adalah jenis ciuman penuh dendam, pengungkapan segala kebencian, kerinduan dan semua emosi yang telah terpendam, tertumpuk begitu lama. Bibir lelaki itu, yang terasa begitu dingin, memaksa bibirnya membuka, sementara mulut dan lidahnya terus menjelajah tanpa permisi, mencecap seluruh kehangatan yang ada di bibir Freya dengan kasar, seolah mencoba merenggut kehangatan itu dan menodainya.

Freya mengerang, mencoba melepaskan diri ketika dirasakannya ciuman itu semakin dalam, dan hal itu menyebabkan tubuh lelaki itu semakin menekan penuh gairah. Freya berusaha meronta sekuat tenaga, mengerahkan semua kekuatan yang tersisa di tubuh mungilnya hanya untuk mendapatkan hasil percuma. Dengan putus asa Freya memejamkan mata, lalu mencoba cara terakhir yang terlintas di pikirannya.

Digigitnya bibir lelaki itu sekuat tenaga. Digigitnya untuk menyakiti sampai berdarah.

Lelaki itu langsung menghentikan ciumannya dan mengangkat kepala. Ada darah di sana, di sudut bibirnya akibat gigitan Freya.

Kemarahan tampak menguar dari tubuh lelaki itu, pun dengan matanya yang menyala penuh kemarahan. Sebelah jemarinya naik dan menyentuh bibir yang memar dan terluka, lalu ada seringai mengerikan di sana,

“Apakah kau sedang ingin mencicipi darahku, Katya? Kenapa kau tidak memintanya? Akan kuberikan dengan senang hati.”

Tanpa dinyana, lelaki itu menundukkan kepala, dan melumat bibir Freya lagi, membiarkan rasa darah dibibirnya yang terluka menyatu dengan rasa ciuman itu, membuat Freya merasa pening.

Pandangan Freya langsung berkunang-kunang, seolah kepalanya dihantam dengan tekanan cukup keras, membuat telinganya berdengung. Freya mengerang menahan rasa sakit, mencoba untuk tidak kalah dengan kelemahannya. Tetapi pada akhirnya dia hanyalah seorang perempuan biasa.

Dan dia pun menyerah. Tenggelam dalam ketidaksadaran penuh kegelapan yang menelannya.

***

King Kafi mengerutkan kening ketika menyadari bahwa tubuh yang terbaring di bawahnya lunglai dan kehilangan kesadaran.

Napasnya yang terengah terbawa oleh gairah dan kemarahan yang bercampur menjadi satu langsung mereda begitu saja. Kepalanya menunduk dan mata birunya menatap ke arah Katyana, isteri pembangkangnya yang sekarang tak sadarkan diri di bawahnya.

Jemari kuatnya yang tadinya menahan kedua pergelangan tangan Katya supaya tidak memberontak langsung bergerak melepaskan, dan King Kafi pun menggeser tubuhnya supaya duduk, dengan tak lupa membawa tubuh lunglai Katya ke dalam pelukannya.

Jemarinya menyentuh dagu Katya, mendongakkan wajah perempuan itu supaya makin jelas tertimpa sinar keperakan rembulan, sementara tetes air hujan yang menderas dari langit seakan tidak membantu, mengguyur mereka berdua dengan hempasan air yang semakin pekat.

Mata birunya menelusuri tekstur wajah perempuan itu, matanya yang sekarang terpejam, hidung dan bibirnya yang menggoda untuk dikecup, pun dengan warna kulit pucat keemasan yang masih terpatri jelas dalam benaknya.

Ini sudah jelas Katyana-nya. Isterinya. Perempuannya. Miliknya.

Kenapa Katya menolak mengakuinya? Kenapa Katya bersikap seolah-olah tidak mengenalnya? Apakah isterinya ini mengalami hal yang sama dengannya? Ditutup ingatannya?

King Kafi mengerutkan kening semakin dalam. Jika memang isterinya ini ditutup ingatannya, maka dirinya harus mencoba cara lain untuk mendapatkan isterinya kembali.

“Yang Mulia?”

Suara Vigya terdengar pelan dan ragu di belakangnya. Penasehatnya itu rupaya  memilih menyusulnya sambil berlari dan tidak membawa kudanya.

King Kafi menolehkan kepala, menyipitkan mata ke arah Vigya yang nampak terkejut melihat dirinya berlutut di tanah dengan anak perempuan itu pingsan di pangkuannya.

“Apakah anda mengenal perempuan ini? Kenapa anda mengejarnya?” Vigya bertanya hati-hati, dia tentu mendengar percakapan King Kafi dengan perempuan ini di jalan tadi, dan terperangah kaget melihat King Kafi mengendarai kudanya mengejar perempuan yang berlari ketakutan memasuki hutan.

Dia sempat memeriksa kerusakan yang terjadi akibat hentakan kaki kuda King Kafi yang dilakukan tanpa peduli di atas ladang gandum yang hampir panen ini. Disempatkannya untuk mencatat supaya jangan sampai terlupa meminta menteri keuangan kerajaan supaya segera mengirimkan utusan kepada pemilik ladang dan memberikan uang ganti rugi kerusakan ladang akibat tingkah Sang Raja.

“Perempuan ini isteriku, yang melarikan diri dariku bertahun-tahun yang lalu.”

Vigya mengerutkan kening. Jika yang dimaksud King Kafi isteri adalah kumpulan selir yang begitu banyak di istana selirnya, maka perempuan ini pasti terlewatkan dari pengetahuan Vigya. King Kafi memang tidak memiliki permaisuri, yang dia miliki adalah kumpulan selir, sebagian besar berasal dari persembahan dari kerajaan-kerajaan yang ditaklukkannya, dan semua selirnya itu diperlakukan dengan sesuka hati oleh King Kafi, dipanggil bila diinginkan dan dibuang bila sudah tak dibutuhkan.

Tidak pernah sekalipun King Kafi repot-repot mengejar selirnya.

“Hamba tidak mengenali perempuan ini. Apakah maksud Yang Mulia, dia melarikan diri dari Istana Selir? Karena hal itu sungguh mustahil terjadi.”

Istana Selir memang dijaga ketat seperti halnya bagian lain di Istana Kerajaan, tetapi masalahnya bukan itu, semua selir yang ada di istana selir sangat mensyukuri kedudukan mereka yang bisa terpilih menjadi selir raja. Mereka berlomba-lomba menarik perhatian King Kafi dan berusaha mempertahankan posisi mereka sekuat tenaga.

Tidak ada selir yang terpaksa berada di sana, atau berusaha melarikan diri dari Sang Raja.

“Dia bukan penghuni Istana Selir.” King Kafi menunduk dan matanya bersinar aneh ketika menatap perempuan di pangkuannya, “Dia isteriku.”

Vigya menelan ludah, ingin rasanya dia memijat dahinya karena rasa bingung yang amat sangat. King Kafi selalu saja seperti ini, mengucapkan kata-kata yang hanya dimengertinya sendiri dan membuat bingung orang-orang.

“Aku akan menjelaskannya nanti.” King Kafi menyahut, seolah-olah mengerti apa yang ada di benak Vigya, lalu berdiri dan mengangkat tubuh perempuan yang lunglai itu, dan dengan mudah membawanya ke atas kuda.

King Kafi lalu berbalik dan memacu kudanya meninggalkan lahan gandum dan membiarkan Vigya berlari-lari kembali mengikutinya.

Butuh beberapa lama sampai mereka mencapai kembali jalan setapak di batas ladang gandum tersebut. Tampak di sana kuda milik Vigya yang diikat di salah satu pagar kayu yang ada di sisi lain jalan. King Kafi menghentikan kudanya dan menunggu Vigya yang berlari-lari kepayahan dengan tubuh basah kuyup di belakangnya.

“Kau kembalilah ke kerajaan, uruslah penggantian kerusakan ladang gandum itu.” King Kafi mengedikkan bahunya ke arah ladang gandum yang hancur terinjak-injak oleh kudanya, “Lalu siapkan penjemputan resmi kerajaan, untuk membawa isteriku ke istana.”

Tanpa menunggu jawaban dari Vigya, King Kafi memacu kudanya hendak meninggalkan Vigya sendirian.

“Anda hendak kemana Yang Mulia?” Vigya langsung berseru panik ketika menyadari bahwa kuda King Kafi sudah mulai menjauh.

King Kafi hanya menoleh sedikit sebelum menjawab,

“Aku akan membawa kembali perempuan ini ke keluarganya. Kau akan mudah menemukannya, desa ini cukup kecil.”

Dan kemudian kuda King Kafi berpacu kencang menelusuri jalan setapak itu, meninggalkan Vigya yang masih terperangah sendirian di tengah derasnya hujan.

***

Mata biru King Kafi menyipit ketika dia menemukan dua sosok manusia yang mengenakan mantel hujan sedang berjalan menyusuri jalan setapak di depannya. Mereka berlawanan arah dan mau tak mau saling bertemu jalan.

King Kafi langsung menghentikan kudanya ketika menyadari bahwa aura dua manusia ini begitu lekat dengan aura Katya isterinya.

“Apakah kalian bisa membantuku?” King Kafi bertanya dengan tipu muslihat di hatinya, dia masih memeluk Katya di dadanya, lalu menunjukkan wajah Katya kepada dua anak manusia di depannya, “Aku menemukan anak perempuan ini pingsan di pinggir jalan dan terpaksa membawanya. Aku hendak membantu mencari keluarganya, dia pasti penduduk desa ini dan kalian pasti juga. Apakah kalian mengenalnya?”

Salah satu anak manusia itu menyipitkan mata, mencoba mempertajam pandangannya menembus hujan, dan ketika matanya mengirimkan pengenalan tentang apa yang dilihatnya, maka terperanjatlah dia.

“Freya!” Anak lelaki itu berseru kaget.

Nama itu lagi, King Kafi langsung membatin, ini adalah nama yang sama yang diakui oleh Katya sebagai namanya sekarang. King Kafi segera memasang wajah datar dan pura-pura bertanya, “Kau mengenalinya?”

“Dia kakak kami.” Anak lelaki itu mengalihkan pandangannya dan menatap King Kafi dengan curiga, tubuhnya bergerak maju seolah ingin mengambil tubuh kakak mereka yang masih lunglai di pelukan King Kafi, “Siapa kau?”

“Aku hanya orang tidak sengaja lewat yang mencoba menolong.” King Kafi tersenyum, “Kalian akan lebih mudah menolong kakakmu ini dengan bantuanku, bisakah kalian tunjukkan di mana rumah kalian dan aku akan mengikuti kalian.”

Dua orang lelaki di depannya berpandangan, seolah ragu. Tetapi sepertinya mereka kemudian menarik kesimpulan bahwa lelaki berkuda di depannya ini bukan orang jahat. Lelaki ini bisa saja membawa Freya kabur atau melukai kakaknya, tetapi dia tidak melakukannya dan malah berusaha membantu mereka.

Salah satu dari dua anak lelaki itu lalu mengangguk dan melangkah setengah berlari di depan kuda King Kafi,

“Mari ikuti kami, kami akan memandu jalan ke rumah.”

***

wooden-cottage-forest-lit-lanterns-night-62173845Rumah itu jelek, kecil dan bobrok.

King Kafi langsung mengambil kesimpulan  ketika dia turun dari kuda dengan masih membawa Katya dalam gendongannya.

Sebagian besar rumah itu dibuat dari kayu yang berpadu dengan batu besar yang disusun untuk menopang temboknya, atapnya dari bahan rumbia yang reyot dan keseluruhan kondisi rumah itu seperti bagian-bagian kecil tak beraturan yang disusun satu persatu oleh tangan yang tak ahli dan kemudian disatukan dengan asal-asalan.

Dua anak laki-laki itu mendahului langkahnya, mengetuk pintu rumah kayu itu dengan tergesa.

Tak lama kemudian, pintu rumah itu terbuka dan muncul sosok perempuan setengah baya yang tampaknya memang sudah menunggu kedatangan mereka. Perempuan itu mendengarkan penjelasan dari si anak laki-laki, lalu matanya menoleh ke belakang dan langsung menatap mata King Kafi.

Wajah perempuan itu langsung pucat pasi begitu melihat tubuh Katya yang lunglai dalam gendongan seorang lelaki dewasa berjubah hitam dan bermata biru yang tak dikenalinya.

Tetapi kemudian, setelah mendengar penjelasan kembali dari si anak laki-laki, ekspresi perempuan setengah baya itu sedikit melunak, dia menganggukkan kepala dan kemudian membuka pintunya lebih lebar.

Salah seorang anak lelaki itu kemudian memberi isyarat supaya King Kafi melangkah masuk. Dia masih memasang wajah masam dan menurutinya. Dahinya sedikit mengerut ketika menyadari bahwa atap rumah itu begitu rendah hingga dia harus sedikit membungkukkan tubuhnya dengan tidak nyaman.

“Ke sini.”

Anak lelaki itu mengarahkannya melalui ruang tengah sempit menuju kamar belakang yang bahkan lebih sempit lagi. King Kafi tercenung ketika dirinya diarahkan ke kamar kecil dengan sofa reyot di sudut ruangan.

“Baringkan di sini.” Gumam Anak lelaki itu sambil menatap tubuh kakaknya dengan cemas, sementara King Kafi membelalakkan mata tak percaya,

IMG_0012“Kau menyuruhku membaringkannya di sofa itu?” King Kafi mendesis tajam, “Tidak adakah tempat tidur di sini hingga dia bisa berbaring dengan nyaman?”

Anak lelaki itu menunduk, dipenuhi rasa bersalah dan malu,

“Maafkan kami Tuan, inilah tempat tidur Freya selama ini… kami… eh kami terlalu miskin untuk memiliki tempat tidur yang nyaman.”

Sejenak King Kafi masih tertegun, tetapi akhirnya dia menurut dan membaringkan tubuh Katya di sofa reyot yang tidak nyaman itu. Ekspresinya mengerut, menunjukkan ketidaksukaannya,

“Dia basah kuyup.” Gumamnya lagi.

“Saya akan menggantikan pakaiannya dengan pakaian bersih dan kering.” Suara perempuan setengah baya yang tadi membukakan pintu terdengar tiba-tiba di belakang King Kafi, perempuan itu masuk sambil membawa baskom berisi air hangat dan setumpuk pakaian yang disampirkan di pundaknya, “Anda juga basah kuyup Tuan, mari anak saya akan mengantar anda untuk berganti pakaian kering di luar.”

Pengusiran secara halus. Sepertinya King Kafi tidak diperbolehkan berada di ruangan ini selagi pakaian Katya digantikan.

Ada senyum sinis di bibir King Kafi ketika dia mengangguk samar dan melangkah keluar dari kamar sempit itu.

***

rustic-barn-wood-kitchen-cabinets-17Malam sepertinya sudah hampir beranjak berganti pagi ketika King Kafi memilih duduk di salah satu kursi di depan meja dapur yang berada di ruangan dapur yang sempit itu. Dia menolak pinjaman baju dari salah seorang anak lelaki tadi, karena dia membawa pakaiannya sendiri yang dia simpan di kantong kulit yang tersampir di pelana kudanya berikut dengan pedangnya.

Setelah berganti pakaian, King Kafi duduk dan menunggu. Benaknya masih penuh berbagai pemikiran dan dugaan.

Katya tidak mengenalinya. Seharusnya Katya mengenalinya meski sudah sepuluh tahun berlalu sejak mereka berdua dipisahkan, sejak Katya melarikan diri darinya.

“Terima kasih sudah menolong anak saya.” Perempuan setengah baya itu muncul di dapur, dengan tenang dia meletakkan pakaian basah Katya yang sudah diganti dan membuang air panas di baskom yang sudah kotor.

King Kafi tersenyum samar, memilih tidak menjawab ucapan terima kasih itu.

Perempuan setengah baya itu lalu melangkah ke dapur, mengambil panci tembikar besar dan meracik sesuatu di sana,

“Anda kehujanan di perjalanan, apakah anda pengembara yang tidak sengaja melewati desa kami?” Mata perempuan setengah baya itu menelusuri King Kafi dengan penuh rasa ingin tahu, “Saya akan membuatkan minuman hangat untuk anda, cokelat panas dari bubuk buah black sapote yang dikeringkan.”

“Apa?” King Kafi langsung bertanya mendengar nama minuman aneh itu, dia mengerutkan kening ketika melihat perempuan setengah baya itu mencampurkan bubuk hijau dengan bubuk cokelat dan air ke dalam sebuah panci tanah liat lalu memasaknya di atas api, “Anda menggunakan gula skar untuk minuman saya?” serunya tanpa bisa menyembunyikan rasa jijik di suaranya.

Gula skar adalah jenis gula murahan, berwarna hijau keruh dengan rasa yang tidak enak. Berani-beraninya perempuan itu menyuguhkan minuman murahan seperti itu kepadanya?

Pipi Ibu Freya nampak memerah karena malu. Dia sadar bahwa lelaki yang menolong Freya ini bukan lelaki biasa, dari caranya berpakaian, dari caranya berbicara, bahkan dari kuda yang dibawanya, sudah jelas-jelas bahwa lelaki ini entah berasal dari kalangan orang kaya atau kalangan bangsawan kelas tinggi.

Tetapi mereka miskin, dan hanya suguhan seperti ini yang bisa mereka sajikan.

“Gula skar memang tidak enak kalau salah takaran. Tetapi Freya, anak perempuan saya, dia memiliki keahlian menakar berbagai makanan, termasuk gula skar. Bubuk cokelat ini dia juga yang membuatnya dengan menjemur dan mengeringkan buah black sapote lalu menumbuknya hingga menjadi bubuk minuman dan saya diajarkan untuk mencampur takaran gula sesuai resep yang diberikan oleh Freya.” Ibu Freya menjawab pelan memberi penjelasan.

Ibu Freya lalu mengambil panci berisi cairan cokelat kental yang sudah mendidih itu dari atas api, dan menuangnya ke gelas yang sudah disiapkannya. Lalu dengan menggunakan kain, dia meletakkan gelas berisi cairan cokelat beraroma harum yang mengepul itu ke meja di depan King Kafi, berikut semangkuk kecil mentega krems untuk campurannya, “Biasanya Freya akan mencampurkan satu sendok besar mentega krems di minuman cokelat yang masih panas supaya meleleh dan bercampur, rasa mentega yang gurih akan berpadu dengan cokelat yang harum dan manis. Kami biasanya meminumnya untuk menghangatkan badan, cobalah.”

King Kafi menatap minuman panas di depannya. Dia meragu. Tetapi akhirnya dia mengambil sendok yang disediakan di sebelah mangkok mentega, dan mencampurkan sesendok besar mentega krems itu ke gelas cokelat panasnya.

nourishing-hot-chocolate-diary-free Mentega berwarna kuning cerah itu langsung meleleh, bercampur dengan cairan cokelat pekat yang masih panas, menciptakan lapisan berminyak berwarna kuning menggiurkan di bagian atas gelas. King Kafi tergoda oleh perpaduan aroma gurih dan manis khas cokelat yang menggiurkan itu dan dia mengangkat gelas itu ke mulutnya, mengambil seteguk untuk mencicipi.

Dia terpana.

Untuk ukuran minuman yang dicampur dengan gula murahan, minuman ini enak sekali.

Perpaduan rasanya sangat tepat, percampuran rasa gurih, aroma harum cokelat dan kemanisan yang pas membuat lidahnya langsung bergembira karena terpuaskan.

Dan rasa mentega ini… sepertinya dia mengenalinya.

“Anda bisa tidur dan beristirahat di lantai dapur ini.” Ibu Freya menunjuk ke sisi lain lantai dapur yang sudah dialasi selimut bertumpuk oleh salah satu anak laki-lakinya, “Mohon maaf karena kami tidak mempunyai kamar dan ranjang yang layak untuk anda beristirahat dengan nyaman.”

King Kafi hanya menganggukkan kepalanya samar, ada senyum tipis di bibirnya. Entah kenapa rasa minuman ini membuat perasaannya membaik.

“Tidak apa-apa. Silahkan beristirahat.” Jawabnya sopan sambil mengangguk ketika Ibu Freya meninggalkannya sendirian di dapur ini.

King Kafi duduk di sana, dalam kegelapan, meneguk cokelat panas beraroma harum mentega itu sekali lagi, lalu memejamkan mata, membiarkan kenangan membawanya kembali ke masa lalu.

***

Freya membuka mata dan dia langsung terkesiap kaget. Tubuhnya tersentak ke atas hingga kepalanya membentur sisi atas lengan sofa tempatnya berbaring, menimbulkan bunyi keras dan membuatnya mengaduh.

Matanya menatap ke sekeliling dan menjadi bingung ketika dia menemukan dirinya berada di dalam kamarnya, di atas sofa tempatnya biasanya tidur malam.

Dia menunduk menatap pakaiannya dan semakin bingung ketika menemukan bahwa dirinya mengenakan pakaian kering yang berbeda dengan yang dipakainya semalam.

Apakah semalam cuma mimpi?

Masih diingatnya teror yang menderanya, ketika berbaring tak berdaya di atas hamparan ladang gandum dengan tubuh lelaki bermata biru itu yang menindihnya dan memaksakan kehendak terhadapnya.

Freya terkesiap dan langsung terduduk, dengan cepat dia memeriksa lengannya, dan menemukan bekas-bekas goresan yang telah mengering meski masih terasa pedih. Jemarinya menyentuh bibir dan merasakan bekas memar akibat ciuman paksa yang membekas di sana.

Wajahnya langsung pucat pasi ketika menyadari bahwa apa yang ada di dalam ingatannya bukanlah mimpi.

Lalu kenapa dia bisa ada di sini, di kamarnya sendiri?

Freya mengerutkan keningnya bingung. Dia lalu berusaha berdiri dari sofa tempatnya berbaring, dan kepalanya langsung terasa pening.

Dengan cemas Freya menyentuh dahi dan lehernya, menyadari bahwa suhu tubuhnya sangat tinggi. Kepalanya yang pening terasa semakin berat ketika dia bergerak, tetapi Freya memaksakan diri.

Hujan semalam rupanya membuatnya demam. Biarpun begitu, pagi sepertinya sudah menjelang mengingat cahaya redup matahari yang sudah mulai menembus kaca jendela kamarnya, dan dia harus melakukan tugasnya untuk menyiapkan sarapan bagi ibu dan saudara-saudarinya.

Freya membuka pintu kamar, mengintip pelan dan menyadari suasana masih begitu hening. Sepertinya hari memang masih pagi karena mereka semua masih tertidur.

Bagus kalau begitu, dia tidak terlambat bangun. Dia harus segera membuat sarapan. Memanggang roti gandum supaya bisa dimakan hangat-hangat dan merebus sup jagung kental untuk teman bersantap roti gandum.

Dengan terhuyung, berpengangan pada sisi dinding, Freya melangkah menuju dapur, untuk kemudian terkesiap tanpa suara ketika menemukan pemandangan yang mengejutkan matanya.

Di sana, duduk di lantai dapur dengan bersandar di dinding dan beralaskan selimut seadanya, adalah sosok menakutkan yang menyakitinya secara mengerikan semalam. Sosok itu tidak bergerak, satu kakinya ditekuk dan sebelah tangannya ditumpangkan di atas lutut yang ditekuk itu, sementara kaki satunya berselonjor lurus ke depan, kepalanya sendiri bersandar kaku di dinding dan matanya terpejam, tertidur dengan tenang.

Freya langsung memeluk dirinya sendiri karena ketakutan, tubuhnya gemetaran dipenuhi kebingungan yang amat sangat.

Kenapa lelaki ini bisa berada di dalam rumahnya? Kenapa dia tidur di dapur dengan beralaskan selimut?

Freya hendak beranjak ke ruang tengah, ingin membangunkan adik-adiknya dan memberitahukan bahwa lelaki ini adalah penjahat, ketika tiba-tiba mata lelaki itu terbuka, dan memakunya.

Tubuh Freya seolah tidak bisa bergerak, terpaku oleh mata biru mengerikan yang bersinar penuh ancaman itu.

“Kalau kau mengatakan apapun pada keluargamu mengenai kejadian semalam, aku akan membunuh mereka semua sekaligus.” Lelaki itu berucap pelan penuh ancaman, ekspresinya datar tetapi malahan membuat kalimat ancamannya terdengar makin mengerikan.

Freya memegang dadanya, menahankan debaran ketakutannya yang menggila,

“Kau tidak akan berani melakukannya.” Bisiknya pelan, mencoba membantah meskipun dia takut.

“Apakah kau yakin? Aku sudah menghabisi banyak manusia dengan tanganku ini.” Lelaki bermata biru itu menyeringai, “Dan aku tidak akan keberatan menambah beberapa lagi.”

Freya melirik cemas ke arah kamar tempat ibundanya dan adik-adiknya berada, pun ke arah ruang tamu ke arah Kenzo dan Dobra masih tidur. Lelaki ini sepertinya tidak main-main, aura jahat menguar dari tubuhnya, dan Freya harus melindungi keluarganya dari ancaman lelaki jahat ini.

“Apa yang kau inginkan?” tanya Freya dengan suara pelan, takut terdengar keluarganya.

Senyum lelaki itu tampak kejam,

“Kau. Kau kembali kepadaku.” Jawabnya tenang, “Untuk sekarang ini, kau hanya perlu berpura-pura aku adalah orang asing yang menolongmu. Dan untuk selanjutnya kau hanya perlu mengiyakan semua perintahku, dengan begitu keluargamu akan selamat.”

Kembali kepadanya? Lelaki ini berucap seolah-olah Freya pernah bersamanya lalu meninggalkannya sehingga harus kembali kepadanya.

Ingatan Freya kembali ke semalam, dan sadar bahwa lelaki itu semalam memanggilnya dengan nama Katya. Apakah lelaki ini masih salah mengiranya sebagai Katya?

“Aku bukan Katya. Aku Freya.” Freya bergumam menjelaskan, berusaha menyadarkan lelaki itu bahwa dia salah orang.

Kalimatnya rupanya sama sekali tidak mengena bagi lelaki bermata biru itu. Ekspresi lelaki itu tetap datar seolah tidak terpengaruh.

“Kau bisa menjadi apapun yang kau mau, Freya. Nanti setelah kunci ingatanmu di buka, kau tentu akan mengingatku, suamimu.”

“Aku belum pernah menikah!” Freya menyela dan berseru sedikit keras, dia lalu menutup mulutnya ketika menyadari bahwa dia mungkin membangunkan keluarganya dengan suaranya.

Lelaki itu sendiri tersenyum penuh arti mendengar jawaban Freya, dan kalimat berikutnya yang terucap darinya sungguh mengerikan,

“Aku memang belum menyentuhmu ketika itu Katyana, karena memang belum waktunya. Jadi bisa dikatakan pernikahan kita memang belum menjadi pernikahan yang sesungguhnya. Kau sudah melarikan diri sebelum waktunya tiba, jadi sekarang, setelah aku menemukanmu, aku tidak akan membuang-buang waktu lagi untuk memiliki isteriku.”

Kalimat itu diucapkan dengan nada tidak main-main, penuh dengan janji dan ancaman mengerikan, seolah-olah memang hal itu akan terjadi dalam waktu dekat.

Dan kalimat itu membuat Freya gemetar entah kenapa.

“Freya.”

Suara mengantuk Davoli yang mengintip keluar dari kamar membuat Freya dan King Kafi menoleh.

Davoli menatap ke arah Freya dan King Kafi berganti-ganti, dia lalu melangkah ke arah Freya dan melirik ke arah King Kafi dengan bingung.

“Siapa dia?” tanpa malu Davoli menunjuk ke arah King Kafi, sementara Freya menatap Davoli dengan cemas. Sebentar lagi seluruh keluarganya akan terbangun. Apa yang akan dilakukan penjahat bermata biru ini? Apakah dia akan menyakiti keluarganya seperti ancamannya tadi kalau Freya tidak mau bekerjasama?

Mata biru itu melemparkan tatapan penuh peringatan ke arah Freya, lalu ketika beralih ke arah Davoli, tatapan matanya melembut.

“Aku hanya seorang tamu yang menginap di sini, anak kecil.” jawabnya lembut lalu bangkit berdiri, “Namaku Kafija dan aku adalah teman kakakmu.” Lelaki itu melemparkan tatapan meminta persetujuan ke arah Freya hingga Freya memalingkan muka, dia tidak rela tetapi dia harus setuju. Lelaki bermata biru itu ternyata mempunyai nama. Namanya “Kafija”, nama itu terdengar misterius, sama seperti penampilannya.

“Teman Freya?” Davoli tersenyum, anak itu memang selalu ramah ke siapa saja, bahkan ke orang asing sekalipun, penampilan King Kafi yang gelap dan misterius seolah-olah tidak mengganggunya, “Kalau begitu kau akan sarapan bersama kami? Masakan Freya sangat lezat, kau pasti suka.”

King Kafi menganggukkan kepalanya, “Aku tidak sabar mencicipinya.”

Freya menghela napas panjang. Lelaki itu sepertinya bersedia bersikap baik asalkan Freya mengikuti perkataannya, jadi Freya akan melakukannya, dia akan berpura-pura dan mengikuti kemauan lelaki itu asalkan dia bisa melindungi keluarganya.

“Davoli, cucilah mukamu dulu, lalu kau boleh membantu kakak di dapur.” Perintahnya lembut, berusaha menjauhkan Davoli sementara dari lelaki mengerikan bernama Kafija ini.

Davoli menganggukkan kepala dengan senang, lalu berlari-lari kecil menuju kamar mandi di dekat ruang cuci kecil di ujung ruangan.

Mata King Kafi mengamati arah kepergian Davoli lalu menatap kembali ke arah Freya.

“Kau mendapatkan keluarga baru yang menyenangkan sepertinya, karena itulah kau lupa pulang kepadaku?”

Freya mengerutkan kening, “Mereka adalah keluargaku sejak semula, dan sekali lagi kukatakan bahwa kau sepertinya salah mengira aku dengan orang lain.”

Dengan kesal Freya melangkah hendak menuju area dapur, dia harus segera menyiapkan sarapan dan berusaha mengabaikan kehadiran lelaki ini untuk sementara di dapurnya.

Tetapi gerakan tiba-tibanya itu membuat kepalanya pening dan langkahnya terhuyung hingga hampir terjatuh. Secepat kilat tanpa diduga, lelaki itu sudah berada di sebelahnya dan menahan tangannya.

Alis gelap lelaki itu mengerut ketika menyadari bahwa tangan Freya begitu panas. Dengan paksa King Kafi meraih bahu Freya, menghadapkan perempuan itu ke arahnya, lalu menyentuh dahi dan leher Freya yang panas.

“Kau demam.” King Kafi bergumam tidak suka, “Seharusnya kau berbaring.”

“Aku harus menyiapkan sarapan untuk keluargaku.” Freya meronta, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman lelaki itu di bahunya, tetapi pegangan King Kafi begitu kuat sehingga dia tidak bisa melepaskan diri.

Lelaki itu menunduk, menatap Freya dengan mata birunya yang menyala marah.

“Apakah kau berada di keluargamu ini untuk menjadi budak? Jika kau ada di sini hanya untuk diperalat sebagai tukang masak dan pembantu, maka aku akan membunuh mereka semua karena memperlakukan isteriku seperti itu.”

“Aku bukan isterimu!” Freya mendesis marah, berusaha meronta lagi, ketika itu tidak berhasil, dia melemparkan tatapan memohon putus asa ke arah King Kafi, “Aku mohon, aku senang memasak untuk keluargaku, mereka merawatku dengan baik dan aku juga merawat mereka, aku mohon…”

Tanpa diduganya, sikap lunaknya ternyata malahan berhasil. Lelaki itu tampak terkejut dan dengan cepat melepaskan pegangannya dari pundak Freya, dan hanya berdiam diri ketika Freya segera melangkah menjauh, berpegangan pada dinding dan terhuyung menuju area dapur.

“Kau seharusnya tidur dan beristirahat.”

King Kafi berucap lagi dan diabaikan oleh Freya. Dia melangkah menuju dapur, dan kali ini rasa pening di kepalanya semakin menghantam dan terasa semakin berat, dia berpengangan pada sisi meja dapur, berusaha untuk tidak pingsan karena pandangan matanya semakin berkunang-kunang.

Bersamaan dengan itu pintu kamar terbuka dan ibu Freya muncul di sana, nampak terkejut melihat Freya yang terhuyung dalam pegangan tangan tamunya.

“Freya!” perempuan itu memekik, tepat ketika King Kafi langsung mengangkat dan membawa Freya ke dalam gendongannya.

“Dia sakit. Dia demam dan harus tidur.” King Kafi bergumam cemas, dan ibu Freya menatap kecemasan yang terpampang nyata di wajah lelaki dengan bingung. Lelaki asing ini jelas-jelas mencemaskan kondisi Freya, kenapa? bukankah dia tidak mengenal Freya sebelumnya? ataukah dia salah?

“Mily adik Freya sudah bangun, tolong… tolong baringkan Freya di kamar ini, di sini ada ranjang.” Dibukanya pintu kamar lebar-lebar sementara ibu Freya masuk dan mengambil Mily yang sudah terbangun dan masih duduk di atas ranjang.

“Aku tidak apa-apa….” Freya berusaha membantah, merasa semakin pening menyadari dirinya ada di dalam pelukan lelaki bermata biru itu, dengan wajah yang sangat dekat ke dadanya.

“Diam dan jangan membantah.” King Kafi bergumam tegas, mengikuti ibu Freya ke dalam kamar, lalu meletakkan tubuh Freya ke atas ranjang dengan lembut, “Kau berbaring di sini dan beristirahat.” Jemari besar lelaki itu menyentuh dahinya, lalu berdecak dengan cemas, “Demammu tinggi sekali.”

Cottage-Interior-Designs-1-588x396

“Saya akan menyiapkan ramuan obat untuk mengobati demam Freya.” Ibu Freya yang berdiri di sisi ranjang sambil menggendong Mily langsung bergerak cepat keluar kamar untuk menyiapkan obat Freya.

Ditinggalkan sendirian berdua dengan lelaki asing itu membuat Freya menghela napas tertekan, diliriknya lelaki itu dan mengerutkan kening bingung,

“Kenapa kau melakukan ini? Kenapa kau tiba-tiba datang dan mengganggu ketentraman keluarga kami?”

King Kafi terdiam, lalu menjawab dingin, ” Sudah kubilang aku hanya mengambil apa yang menjadi hakku.” Jemari lelaki itu menyentuh dagu Freya tanpa Freya bisa menghindar, “Kau adalah milikku yang harus dikembalikan kepadaku. Untuk saat ini kau tidak akan mengerti, tapi nanti, nanti setelah aku menemukan cara untuk membuka ingatanmu, kau akan teringat kepadaku lagi, Katya.”

Freya memejamkan mata dengan lelah, “Aku tidak tahu siapa dirimu. Kumohon jangan memaksakan kehendakmu, aku Freya, bukan Katya, kau salah orang.”

“Kau adalah Katya, isteriku. Diriku tidak mungkin salah mengenalimu, seluruh dirimu.” Jemari itu menelusuri seluruh permukaan wajah Freya dengan lembut, lalu tanpa diduga dia mengambil tangan Freya yang panas, menyentuhkannya di pipinya yang dingin.

Ada rasa nyaman yang melingkupi jemari Freya ketika merasakan hawa dingin yang merayapi jemarinya. Rasa dingin itu terasa nyaman di tubuhnya yang panas membara. Tanpa sadar dia menyuarakan perasaannya,

“Kau terasa sejuk… nyaman.” gumamnya, sedikit kehilangan kesadaran karena demam dan sakit kepalanya membuatnya melayang-layang.

King Kafi mengecup jemari Freya, lalu tanpa diduga, lelaki itu naik ke atas ranjang kecil yang sempit itu dan berbaring miring sambil membawa Freya rapat ke pelukannya, diberikannya kesejukan kulitnya untuk mendinginkan tubuh Freya yang panas karena demam,

“Kau masih sama seperti dulu, Katyana.” King Kafi bergumam, memeluk tubuh Freya semakin erat, lalu lelaki itu menunduk dan menyatukan bibirnya yang dingin dengan bibir Freya yang panas,  “Aku menyejukkanmu, dan kau menghangatkanku.”

***

Sebuah malam di masa lampau menguat kembali dalam ingatan, menebarkan aroma kenangan nan semerbak memenuhi hati.

Malam itu begitu pekat oleh kegelapan, seolah-olah gelap ingin berkuasa dan merasa berhak mengusir sinar bulan yang ingin bertahta dengan menghembuskan awan hitam untuk menutupi cahayanya.

Di sana, di dalam sebuah pondok kecil yang tersembunyi di tengah hutan, ada suara napas tersengal dari seorang anak kecil yang penuh dengan kesakitan dan penyiksaan.

“Apakah kau mendapatkan anak perempuan yang kita cari?”

Seorang perempuan tua duduk dengan cemas di samping ranjang, matanya menatap ke arah tubuh anak lelaki kecil yang terbaring lemah dengan napas tersengal-sengal menahan sakit di atas ranjang. Anak lelaki itu begitu pucat dan nampak amat sangat kesakitan.

Ibunda King Kafi, Sang Permaisuri menganggukkan kepala, membawa seorang anak perempuan kecil berambut merah dan bermata hijau dalam gendongannya.

“Anak ini… dia sama persis seperti persyaratan yang anda minta. Namanya Katyana.”

Perempuan tua itu mengarahkan pandangannya ke arah anak perempuan kecil itu lalu menganggukkan kepalanya,

“Dia akan menjadi pengantin Kafija, aku akan mengadakan upacara untuk menikahkan mereka berdua. Setelah upacara itu, Katyana akan  resmi menjadi penyedia darahnya untuk penawar Kafija. Dengan darah anak perempuan itu, iblis yang ada di dalam tubuh anakmu akan tertidur dan tidak akan terbangun lagi…”

“Apakah kita bisa memusnahkan iblis itu dari dalam diri Kafija?” Sang Permaisuri bertanya, menatap ke arah anaknya dengan pandangan cemas bercampur kesedihan.

Perempuan tua itu menggelengkan kepala dengan muram mendengar pertanyaan itu, “Tidak. Iblis itu akan selalu ada, hidup di dalam diri Kafija. Kita hanya bisa menjinakkannya dengan darah pengantinnya. Asal dia meminum darah pengantinnya secara berkala, iblis itu akan tenang.” Perempuan tua itu menundukkan kepala, “Hanya ada satu pantangan… kau harus menjaga supaya pantangan itu tidak dilanggar.”

“Pantangan apa?” Sang Permaisuri bertanya dengan cemas.

“Mereka berdua, anakmu dan pengantinnya… setelah mereka cukup umur nanti, mereka tidak boleh bercinta. Ketika usia mereka sudah cukup nanti, mereka berdua harus segera dipisahkan. Anak perempuan ini harus dikurung jauh dari jangkauan anakmu dan hanya diambil darahnya sebagai penawar untuk anakmu. Kafija harus selalu mendapatkan darah pengantinnya meskipun dia dipisahkan dari Katyana. Jika tidak, iblis di dalam dirinya akan menggeliat bangun.” 

Perempuan tua itu nampak berpikir keras,  “Jika terpaksa, kau bisa saja meminumkan darah orang lain, dan iblis itu juga akan bangun, tetapi tidak sepenuhnya kuat, hanya mempengaruhi setengah kepribadian anakmu saja.” Mata perempuan tua itu lalu menyipit penuh peringatan,  “Tetapi satu hal yang pasti, anakmu tidak boleh sampai bercinta dengan pengantinnya. Sebab… kalau sampai mereka bercinta… Iblis yang ada di dalam diri Kafija akan terbangun sepenuhnya, dan kita tidak tahu akan sejahat apa dirinya… aku bahkan tidak yakin akan ada yang mampu menjinakkannya kalau sampai hal itu terjadi.”

Bersambung ke Part berikutnya.

1.487 Komentar

  1. King kafija :kisskiss

  2. Hemmm.. Ngeri

  3. Kiki Miski menulis:

    Semakin penasaran :backstab :panikshow

  4. Penasaraaaaan

  5. Audry F. Dewi menulis:

    :sebarcinta :backstab

  6. Serammm

  7. oviana safitri menulis:

    waaahhh keren nihhh :sebarcinta

  8. i like it :kumenangismelepasmu

  9. Yuni Widaningsih menulis:

    Asli seru bikin penasaran, jadi gimana.. gimana “?!

  10. puuutttputri menulis:

    Aduhhh g tahan lahh :DUKDUKDUK

  11. RefaArdhania menulis:

    Lah jadi bikin penasaran

  12. Uuuuuuuuhhh

  13. Baca ulang lagi

Tinggalkan Balasan