The Girl Who Tamed The King

The Girl Who Tamed The King Part 5 : Kona Tiramisu with Grumichama

Bookmark

No account yet? Register

1.471 votes, average: 1,00 out of 1 (1.471 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

Note Penulis : Dear Pembaca, mohon maaf atas postingan yang sedikit terlambat dari jadwal yang telah ditentukan. Tim IT saat ini masih berusaha membereskan error database sistem dan backup data berkala, sehingga author harus menunggu sistem terkendali dulu sebelum bisa posting cerita. Terima kasih^^


Ketika kereta kuda itu membawa mereka semua memasuki ibukota, Freya masih sibuk mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Karena dia tidak menemukan sapu tangan untuk mengusap air matanya, dia menggunakan lengan bajunya, membuat penampilannya berantakan. Tetapi Freya tidak peduli itu semua, hatinya membara, dipenuhi kemarahan atas perilaku semena-mena Sang Raja yang kejam, bercampur aduk dengan kesedihan karena dipisahkan paksa dari keluarganya.

Siapa yang akan membuat sarapan di pagi hari untuk keluarganya nantinya? Siapa yang akan mengurus si kecil Mily dan Davora saat ibunda mereka bekerja? Siapa yang akan menyiapkan makan malam dan membersihkan rumah? 

Ataukah Sang Raja yang kejam itu akan menepati janjinya dan benar-benar akan memberikan kemakmuran bagi keluarganya supaya mereka tidak perlu bekerja lagi? Akankah Freya bergantung kepada janji King Kafi yang dia sendiri tidak tahu akan ditepati atau tidak?

Suara hiruk pikuk di kejauhan membuat Freya otomatis menengok ke jendela di sisi kanannya. Jendela itu berlapis kaca tebal dan tertutup tirai sutera rapat yang menjuntai menutup semuanya. Dengan penuh rasa ingin tahu, Freya menyibakkan tirai itu dan mengintip hati-hati.

Matanya langsung mendapati suasana ibukota yang sangat ramai, jalanan sendiri penuh dengan orang-orang yang berdiri berdesak-desakan di pinggirnya, memberi hormat dengan khidmat sambil tidak bisa menyembunyikan rasa penuh ingin tahu di wajah mereka. Rupanya penduduk ibukota ramai memberi penghormatan terhadap rombongan resmi kerajaan yang sedang lewat.

Freya menatap ke sekeliling dan sedikit takjub dengan keanekaragaman yang mengejutkan matanya. Rumah-rumah penduduk tampak penuh dan warna-warni di kiri dan kanan jalan, pun dengan beberapa tempat yang seperti pasar, berisi tenda-tenda yang penuh sesak dengan barang-barang, dari buah-buahan sampai dengan perhiasan dan kain semua ada di sana. Apalagi dengan penampilan penduduknya yang tampak berbeda di mata Freya, mereka semua memakai pakaian dengan warna-warna yang tidak pernah Freya lihat semuanya, bahan pakaian mereka tampak mahal dan bagus berbeda dengan pakaian yang dikenakan oleh penduduk di desa Freya.

Di desa Freya sendiri, karena terletak di pinggiran, semua penduduk hampir seluruhnya menjadi petani gandum. Mereka semua memakai pakaian yang sama, pakaian yang terbuat dari jalinan benang rami yang membentuk kain dengan warna serupa biji gandum yang belum dikupas kulitnya. Kehidupan mereka damai, tenang, sederhana dan tidak ada hiruk pikuk atau keramaian yang berarti. Dan karena terbiasa hidup di pedesaan, pemandangan yang penuh sesak di depannya ini tentu saja membuat Freya kagum dan tanpa sengaja menyibakkan tirai jendelanya lebih lebar.

Tetapi tiba-tiba mata para penduduk yang sedang memberi hormat itu terarah pada wajahnya yang mengintip di jendela kereta kuda, mereka berbisik-bisik dan membuat Freya terkesiap lalu dengan cepat langsung menutup jendelanya kembali. Dan dia tetap diam seperti itu, tidak berani mengintip lagi sampai kemudian didengarnya pemimpin rombongan memberitahukan kedatangan Raja di pintu gerbang istana yang berdasarkan cerita tetangganya yang pernah ke ibukota, area Istana Kerajaan dibatasi oleh benteng raksasa berukuran tinggi dan dijaga ketat pasukan di area depan dan di atasnya.

Freya sekali lagi tidak bisa menahan rasa ingin tahunya dan mengintip kembali, matanya langsung bersiborok dengan benteng dari susunan batu kuat berwarna abu-abu yang sangat tinggi, hingga Freya harus mendongak untuk melihat bagian puncak benteng itu, dan memang benar benteng itu begitu besar, kokoh dan megah, membuat Freya terkesima akan ukurannya.

Suara berat pintu gerbang raksasa yang dibuka terdengar dari arah depan, dan kemudian rombongan kerajaan memasuki halaman muka Istana Kerajaan.

Kali ini, merasa suasana sepi, Freya berani membuka tirai kereta dengan lebih lebar, membelalak takjub ketika melihat keindahan taman istana di sepanjang sisi jalan yang mereka lalui. Taman-taman itu tertata rapi, merupakan perpaduan dari bunga-bunga berwarna-warni dengan rumput hijau dan pepohonan rimbun yang menyejukkan mata. Di beberapa sudut nampak air mancur yang memancarkan air berwarna biru berpadu buih putih yang sangat indah dipandang.

Dan kemudian kereta kuda itupun berhenti, membuat Freya berdebar penuh antisipasi mengenai apa yang akan terjadi.

Tak lama kemudian pintu dibuka, dan di luar dugaan Freya, bukan King Kafi yang membukanya, melainkan anak buahnya yang katanya adalah penasehat kerajaan.

“Mari Putri.” Vigya mengulurkan tangannya dengan niat membantu Freya turun dari kereta kuda, sikapnya hormat dan sopan, tetapi tentu saja hal itu tidak membuat Freya mau memaafkannya. Dia masih ingat lelaki ini tadi tidak mau membantunya, dan lelaki inilah yang memerintahkan para penjaga berbuat kasar kepada ibundanya.

Dengan angkuh Freya menolak uluran tangan Vigya dan berusaha turun sendiri dari kereta, sementara Vigya hanya memundurkan langkahnya dan mengangkat alis melihat sikap keras kepala yang ditunjukkan Freya kepadanya.

Sepertinya Rajanya telah mengambil perempuan yang sepadan dengannya untuk menjadi permaisurinya.

Vigya yakin bahwa perempuan ini akan membuat King Kafi kerepotan karena jelas-jelas tidak mudah untuk ditundukkan dan juga tidak jatuh kepada pesona King Kafi seperti perempuan-perempuan lainnya.

Ketika Freya berhasil turun dari kereta kuda dan berdiri tegak, dia menyadari bahwa dirinya sedang diawasi, kepalanya terangkat dan dirinya langsung tertegun ketika menemukan mata biru itu menatapnya dengan pandangan menilai yang tidak disembunyikan.

King Kafi ternyata masih berdiri di sana, di samping kuda hitamnya yang gagah, matanya mengawasi Freya dan pasti melihat jelas bekas-bekas air mata dan kesedihan yang bercampur di wajah perempuan itu.

“Bawa dia ke istana selir, berikan kamar permaisuri untuknya. Bersihkan dia. Aku akan menyusul nanti.” King Kafi memberi perintah tegas kepada Vigya dan kemudian tanpa melihat lagi ke arah Freya, Sang Raja membalikkan tubuh dan melangkah memasuki gerbang Istana Utama dengan diikuti rombongan pengawalnya.

***

Kehebohan melanda Istana Selir karena King Kafi dikatakan datang kembali bersama rombongan resminya setelah  menjemput sendiri seorang perempuan dari rakyat jelata ke desanya yang terpencil untuk dibawa ke kerajaan  dan kemudian secara mengejutkan King Kafi menempatkan perempuan itu di kamar terbaik yang ada di dalam istana selir. Kamar terbaik itu selama ini kosong, dan sedianya hanya digunakan oleh permaisuri kerajaan.

Siapa perempuan itu? Kenapa bisa tiba-tiba mendapat kedudukan dan tempat istimewa dengan mudahnya? Seistimewa apakah perempuan itu hingga bisa membuat King Kafi memperlakukannya dengan begitu tingginya?

Pertanyaan itu tentunya yang berkecamuk di benak seluruh penghuni Istana Selir, mereka semua selama ini selalu berusaha menarik perhatian King Kafi, berusaha menggunakan segala cara, saling menjatuhkan, menyuap, main kasar jika perlu asalkan Sang Raja bersedia memilih dan mengunjungi mereka meskipun hanya sekali saja. Memang, kesempatan untuk melayani King Kafi walaupun untuk satu malam saja, itu sangat berarti untuk menaikkan status kedudukan mereka di dalam Istana Selir ini.

Sayangnya King Kafi jarang sekali mengunjungi selir yang sama lebih dari satu kali, dan itu membuat mereka semua frustrasi, apalagi akhir-akhir ini King Kafi seolah kehilangan minat dan sudah lama sekali tidak mengunjungi istana selir untuk memuaskan hasratnya. Beliau sepertinya lebih memilih memuaskan nafsunya dengan berperang dan menundukkan negara-negara lain yang ada di sekeliling kerajaan Milaya, memperluas kekuasaannya menjadi tak berbatas dan menasbihkan namanya sebagai penguasa yang paling ditakuti.

Saat ini, para selir baik dari kelas bawah maupun atas, baik dari kelas bangsawan maupun rakyat jelata, semuanya berkumpul penuh rasa ingin tahu, semuanya berebutan menengok, berusaha melihat perempuan baru yang datang dan merenggut impian mereka semua, impian untuk menjadi pendamping nomor satu King Kafi.

Sayangnya perempuan itu ternyata masuk ke dalam Istana Selir dengan dikawal oleh banyak pengawal di sekelilingnya, menutupi tubuhnya hingga yang terlihat hanya rambut merah dan gaun sederhananya yang berjuntai, bergerak mengikuti langkah kakinya.

Semua penghuni Istana Selir hanya bisa menelan kekecewaan ketika rombongan itu melangkah memasuki areal terlarang Istana Selir, area tertinggi di lantai atas yang dijaga ketat dan hanya bisa dimasuki oleh permaisuri raja, dan mereka kemudian hanya bisa berharap bahwa akan datang kesempatan berikutnya untuk mengincar perempuan baru itu.

Freya sendiri bukannya tidak menyadari tatapan tajam penuh kecemburuan yang dilemparkan oleh seluruh penghuni Istana Selir yang berkumpul itu kepadanya. Dia tidak bisa melakukan apa-apa karena bahkan dirinya sendiri bingung kenapa King Kafi memerintahkan supaya dirinya ditempatkan di kamar permaisuri. Freya memang tidak mengetahui seluk beluk pengaturan di dalam Istana Selir ini, tetapi dia cukup tahu bahwa yang namanya kamar permaisuri pastilah kamar terbaik yang seharusnya tidak boleh ditempati oleh sembarang orang, apalagi oleh rakyat jelata seperti dirinya.

Kenapa King Kafi bersikeras menjadikannya permaisuri? Apa sebenarnya yang ada di dalam benak Sang Raja yang kejam itu?

***

Kehebohan di dalam Istana Selir ternyata tidak cukup hanya dengan kedatangan perempuan rakyat jelata yang langsung ditempatkan ke dalam kamar permaisuri. Kehebohan itu bergolak lagi dengan kedatangan King Kafi ke area Istana Selir setelah sekian lama tidak pernah berkunjung dengan didampingi rombongan pengawal resmi yang menjaganya.

Kedatangan Sang Raja di area Istana Selir di siang hari memang sangat istimewa dan tidak pernah terjadi sebelumnya. King Kafi sepanjang sejarah hanya pernah mengunjungi Istana Selir di malam hari, ketika dia memilih salah seorang selir untuk menemaninya di Kamar Raja yang tersedia di area Istana Selir, tidak pernah sekalipun beliau melakukan kunjungan di siang hari.

Sayangnya mereka semua lagi-lagi harus menelan kekecewaan berbalur kecemburuan ketika Sang Raja ternyata bukan datang untuk mengunjungi mereka, melainkan langsung masuk ke area terlarang di bagian Kamar Permaisuri yang sekarang ditempati oleh perempuan baru itu.

Perempuan baru yang sudah dipastikan telah merenggut semua kesempatan mereka untuk mendapatkan kasih sayang dan cinta dari Sang Raja.

King Kafi melangkah memasuki area lantai dua Istana Selir yang tertutup dan dijaga oleh penjaga yang berlapis-lapir banyaknya. Area ini memang dikhususkan sebagai tempat tinggal permaisuri, penjagaannya memang sangat ketat karena selain melindungi permaisuri dari orang-orang berniat jahat dari luar, mereka juga harus melindungi permaisuri dari penghuni Istana Selir yang menyimpan kecemburuan dan pastinya akan berusaha menggunakan segala cara untuk melukai dan menjatuhkan Sang Permaisuri.

Ibundanya adalah bukti nyata dari sejarah korban kecemburuan itu, beliau menjadi korban dan terluka karena kecemburuan penghuni Istana Selir yang ingin merenggut kedudukannya. King Kafi mengetatkan gerahamnya ketika mengingat penderitaan ibunya di masa lampau dan dirinya berjanji di dalam hati bahwa Katyananya akan selalu terjaga dan tidak akan pernah jatuh dan mengalami nasib sama seperti ibunya.

King Kafi melangkah melalui lorong lebar yang lantainya dilapisi karpet cokelat muda lembut berpadu dengan corak merah terang nan indah. Di bagian dinding dan kiri kanan lorong dipenuhi dengan ukiran dan hiasan emas yang menghiasi, membuat lorong besar itu nampak megah dan indah dan menunjukkan bahwa penghuninya adalah orang yang berkedudukan tinggi di kerajaan.

King Kafi berhenti melangkah ketika sampai di sebuah pintu kayu besar dan dirinya langsung membuka pintu itu. Matanya langsung bertatapan dengan mata hijau Katyana yang menantang, karena perempuan itu sedang berdiri di tengah kamar dengan tubuh kaku dan ekspresi wajah tegang.

Mata King Kafi sejenak teralihkan dan dirinya mengamati seisi kamar megah yang disediakannya untuk Katyana. Kamar ini selama ini selalu ditutup dan tidak pernah digunakan oleh siapapun sepanjang dirinya menjadi raja. itu semua disebabkan King Kafi sangat menghormati kamar ini, karena ini adalah kamar yang pernah digunakan oleh ibundanya.

Seluruh isi kamar ini begitu feminim, masih mencerminkan peninggalan dan sentuhan Ibundanya ketika menempati kamar ini, dan memang setelah ibunya pergi dalam pengusiran, ayahandanya belum sempat mengangkat permaisuri baru sehingga kamar ini tetap terjaga. Nuansa kamar ini,  baik dari karpet, dinding, tirai dan bahkan penutup tempat tidur didominasi dengan nuansa cokelat muda lembut yang bergurat merah muda dengan renda-renda yang membuat penampilannya semakin cantik.

Tetapi secantik apapun nuansa kamar ini, tidak ada yang lebih menarik perhatian King Kafi dari pemandangan indah di depannya.

Katyana sudah mandi dan dibersihkan, dan diberikan pakaian baru milik kerajaan yang terbuat dari sutera berkualitas tinggi berwarna cokelat muda lembut, warna cokelat itu begitu muda hingga hampir menyerupai warna mentega krems. Rambut panjang Katyana yang merah diurai, membingkai wajahnya dan membuat penampilannya tampak berkilau. Sementara itu potongan gaunnya yang lurus dengan bahan yang jatuh serta mengikuti lekuk tubuhnya membuat siluet tubuh Katyana membayang dengan indahnya, menggoda King Kafi untuk mengulurkan tangan dan menelusuri tubuh itu bukan hanya dengan matanya, tetapi dengan tangan dan seluruh tubuhnya.

Secara keseluruhan, Katyana nampak begitu lezat seolah memanggil dirinya untuk melahap perempuan itu. Hatinya sendiri merasa senang menemukan istrinya tumbuh menjadi sosok yang benar-benar disukainya, benar-benar sesuai dengan seleranya seolah-olah Katyana memang diciptakan untuk memuaskanya jiwa dan raga, membuatnya harus menahan diri sekuat tenaga untuk tidak langsung menyentuh perempuan itu dan memilikinya seketika itu juga.

“Sepertinya demammu sudah turun.” King Kafi memutuskan begitu menatap ke arah Katyana dan menilai penampilannya, perempuan itu sudah tidak begitu pucat, ada rona di pipinya entah rona tersipu atau mungkin juga rona kemarahan.

Freya sendiri hanya bisa menahan geraman di dalam hatinya. Tubuhnya masih terasa tidak enak tentu saja, tetapi dia melupakannya. Pikirannya lebih sibuk memikirkan keluarganya, memikirkan apa yang akan terjadi pada dirinya, dan memikirkan bagaimana caranya melepaskan diri dari cengkeraman Sang Raja yang jahat ini.

King Kafi menyadari bahwa Katyana memilih menolak berbicara dengannya dan menantangnya. Ada senyum di bibirnya ketika dirinya sengaja bergerak dengan penuh ancaman ke arah istrinya itu dan melihat ada kilatan ketakutan yang memberkas di sana.

Katyananya yang keras kepala ternyata masih tidak bisa menyembunyikan ketakutannya kepada dirinya meskipun sekarang dia berpura-pura kuat.

“Kau milikku Katyana, meski sekarang kau berusaha menolakku sekuat tenaga.” King Kafi mengulurkan jemarinya untuk menyentuh sisi pipi Katyana, menyadari perempuan itu sedikit berjingkat dan berusaha menjauh. Dengan sigap King Kafi mengulurkan tangannya yang satunya, mencengkeram pundak Katyana dan mencegahnya supaya tidak menjauh, dirinya menunduk dan menyadari bahwa mata hijau itu berkilat ngeri.

“Kenapa kau begitu takut kepada diriku? Aku tidak akan menyakitimu.” Sebelah tangan King Kafi yang masih memegang pipi Katyana menggerakkan ibu jarinya untuk mengusap lembut kelembutan kulit pipi yang menggodanya sementara kepalanya semakin menunduk, “Asal kau menurut dan patuh padaku…” sambungnya dengan nada penuh ancaman.

Jemarinya mencengkeram semakin erat ketika dia menahan kepala dan pundak Katyana dan kemudian melumat bibir Katyana dengan kasar dan penuh nafsu.

Ciuman itu tidak berlangsung lama karena Katyana meronta, menggunakan kedua lengan kurusnya untuk memukul dan mendorong dada King Kafi menggunakan seluruh tenaga yang dimilikinya untuk menguarkan perlawanan.

Perlawanan itu bukannya membuat King Kafi marah malahan membuatnya merasa sedikit geli. Dirinya memutuskan untuk bersabar dan melayani tantangan perempuan ini untuk bermain-main dulu. Dengan tenang King Kafi melepaskan ciumannya dan mengangkat alis melihat Katyana langsung menghapus bekas ciuman mereka dengan punggung tangannya seolah-olah merasa jijik.

“Nanti malam aku akan mengunjungi kembali istriku.” ucapnya penuh ancaman yang disengaja, “Dan percayalah, nanti malam aku tidak akan bersabar dan menerima penolakan darimu. Kalau kau menolakku maka aku akan melukaimu, jadi mulai sekarang persiapkan dirimu untuk bersikap patuh.”

King Kafi mengucapkan ancamannya dengan lembut tetapi mengandung nuansa mengerikan yang membuat bulu kuduk Freya meremang. Sang Raja bahkan tidak menunggu untuk melihat tanggapan Freya sebelum kemudian membalikkan badan dan meninggalkan ruangan itu, meninggalkan Freya dalam ketakutannya.

***

“Dia tidak menyentuh makanannya?” King Kafi mengerutkan kening tidak suka mendengar Katya bersikap murung dan menolak makanan yang diantarkan oleh pelayan kepadanya.

Dirinya memang  terpaksa tidak bisa menemui Katyana setelah siang hari tadi meskipun sebenarnya dia ingin terus dan terus melihat perempuan itu. Hal ini karena protokol istana yang menyebalkan yang mengatur bahwa seorang raja seharusnya hanya bisa mengunjungi selirnya atau istrinya di waktu yang sudah diatur yaitu di malam hari.

Bahkan keputusannya untuk menempatkan Katyana di area berbahaya di kamar permaisuri area Istana Selir sebenarnya tidak disukainya. Katyana mau tidak mau harus ditempatkan di area Istana Selir miliknya karena hanya itulah kamar yang menyediakan fasilitas terbaik untuk perempuan nomor satu kerajaan.

Istana Selir, karena memiliki banyak penghuni memang lebih menyerupai kamar asrama mewah. Hanya saja tidak semua selir mendapatkan kamar sendiri. Beberapa kamar sangat luas, menampung hingga sepuluh tempat tidur dan biasanya dihuni oleh selir-selir kelas bawah seperti selir dari rakyat jelata, selir persembahan dari negara jajahan, selir persembahan dari berbagai daerah dan selir-selir yang tidak bisa menarik perhatian King Kafi sehingga tidak pernah disentuh atau dikunjungi oleh Sang Raja.

Beberapa selir lain yang berasal dari kalangan bangsawan, atau puteri-puteri kerajaan jajahan yang dijadikan selir King Kafi karena alasan politik menempati kamar sendiri yang cukup luas dan pelayanan yang berbeda pula. Ada juga selir dari rakyat jelata yang juga bisa memperoleh fasilitas yang sama seperti selir dari kalangan bangsawan, itu bisa terjadi jika selir dari rakyat jelata ini pernah dikunjungi oleh Sang Raja minimal satu kali.

Seandainya bisa, King Kafi akan memilih menempatkan Katyana di kamarnya dan memaksa perempuan itu menemaninya setiap malam. Yah, tentu saja hal itu akan dilakukannya nanti, karena terasa lebih menyenangkan memiliki perempuan itu di kamarnya, di area pribadinya daripada menempatkan perempuan itu diantara perempuan-perempuan lain yang penuh kecemburuan dan rencana jahat, serta merepotkan King Kafi karena hanya bisa mengunjunginya jika ingin melihatnya.

“Apakah kau sudah mendapatkan koki baru?” King Kafi mengerutkan kening, menatap Vigya dengan tatapan mata mengintimidasi.

Vigya menganggukkan kepala, tidak bisa menyembunyikan kelegaannya karena dia bisa mendapatkan koki kerajaan tepat pada waktunya.

“Saya mendapatkannya Yang Mulia, dia masih muda, masih keponakan laki-laki dari koki terbaik Yang Mulia yang sudah meninggal karena usia tua, saya berharap keahlian memasak yang mengagumkan itu menurun kepadanya.”

King Kafi mengangkat alisnya. Dirinya sendiri nanti yang akan mencoba keahlian memasak koki baru tersebut, tetapi untuk sekarang, dia akan mengutamakan kebutuhan Katyana dulu.

“Minta koki baru itu untuk menyiapkan makanan sederhana, makanan dengan banyak nutrisi dan lembut yang cocok untuk mengisi perut istriku yang belum terisi makanan seharian.”

***

Suara ribut-ribut di luar membuat Freya yang sedari tadi duduk di pinggir ranjang mengangkat kepala bingung. Dia masih sedih memikirkan rumahnya, dan sama sekali tidak terdorong untuk melakukan kegiatan apapun. Yang dia lakukan malahan mengintip ke jendela, mengintip ke pintu dan berusaha mencari-cari jalan keluar, kesempatan atau celah apapun yang mungkin bisa digunakannya untuk melarikan diri.

Tetapi jauh di dalam hatinya dia tahu bahwa itu semua mustahil. Kamar tempat dia berada di area Istana khusus untuk selir yang dijaga sangat ketat, dan kalaupun dia berhasil melarikan diri dari Istana Selir ini, dia masih harus memikirkan cara untuk melewati benteng istana yang sangat tinggi itu.

Lagipula kalau semisal dia bisa lepas dari itu semua dan pulang ke keluarganya, pasukan King Kafi sudah pasti akan mengejarnya ke rumah, menangkapnya kembali dan bahkan mungkin semua itu akan membuat keluarganya terkena imbasnya.

Tidak ada jalan keluar. Yang bisa dia lakukan hanya menerima ini semua, tetapi tidak menyerah kepada keadaan.

Terdengar penjaga di pintu depan kamarnya mengucapkan salam dengan hormat, lalu pintu kamar itu dibuka. Freya mendongakkan kepala dan matanya langsung bertatapan dengan mata biru tajam dari Sang Raja, sosok yang saat ini sangat dibencinya.

Di belakang King Kafi ada beberapa pelayan yang mengikuti, membawa sesuatu di atas nampan dan sambil menunduk meletakkan nampan itu di meja besar yang ada di dalam kamar. Pelayan itu memberi hormat baik kepada Freya maupun kepada King Kafi, lalu melangkah mundur meninggalkan kamar dan menutup pintu, hingga kini hanya ada King Kafi dan Freya berdua di dalam ruangan yang tertutup.

Freya tetap duduk, kedua tangannya mencengkeram erat sisi ranjang dengan penuh antisipasi untuk menyembunyikan ketakutannya meskipun kepalanya tetap mendongak dan matanya menatap menantang ke arah mata biru yang sekarang sedang menelusuri wajah dan tubuhnya dengan tajam.

Sang Raja belum melangkah mendekat, memilih berdiri di dekat pintu dan melemparkan pandangan menilai ke arah Freya, seolah-olah masih mengukur-ukur bagaimana reaksi Freya kepadanya.

“Kau tidak memakan makananmu tadi siang dan malam ini.” King Kafi bergumam dengan suara tenang.

Freya hanya terdiam, bersikap kaku dan tidak menanggapi.

“Kau tidak makan apapun sejak pagi hingga malam. Bukankah kau sedang sakit? Apa kau sedang berusaha menyakiti dirimu sendiri?” Suara King Kafi agak tajam, seolah lelaki itu terpaksa bersikap baik dan sekarang sedang menahan kesabarannya.

Freya sendiri memilih untuk menguji kesabaran itu sampai ke batas terkuat King Kafi. Dirinya malahan memalingkan muka, memasang wajah muak seolah tak sudi menatap Sang Raja.

Kemarahan King Kafi langsung tersulut, lelaki itu melangkah berderap menyeberangi ruangan dan ketika dirinya berdiri di depan Freya yang masih duduk di tepi ranjang, sebelah tangannya terulur dan mencengkeram dagu Freya, memaksanya mendongak dan menatap wajahnya.

“Perempuan yang sakit tidak menyenangkan untuk ditiduri.” desis King Kafi dengan suara mengancam, “Kokiku membawa makanan untukmu, kau harus makan, Katyana.”

“Tidak.” Pada akhirnya Freya berani mengeluarkan suara, sebuah suara lirih perempuan, tetapi penuh ketegasan dan penolakan absolut.

Mata King Kafi langsung melebar,

“Tidak?”

Pertanyaan King Kafi, meskipun hanya satu kata saja, mampu menguarkan nuansa mencekam di seluruh penjuru kamar, membuat Freya merinding dan sedikit menyesal kenapa tadi dia memutuskan menantang lelaki itu.

“Apakah kau sedang menentang perintahku, Katyana?” Cengkeraman jari King Kafi di dagu Freya langsung mengencang, menunjukkan emosinya.

Dua kali King Kafi memanggilnya dengan nama yang tidak diakui olehnya, Freya langsung memalingkan muka, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman kasar King Kafi di dagunya.

“Tidak. Saya tidak mau makan dan Anda tidak bisa memaksa saya. Dan nama saya adalah Freya, bukan Katyana.” Kali ini Freya berucap karena didorong oleh ketidaksukaanya akan nama panggilan itu. King Kafi mungkin saja salah mengira dirinya dengan perempuan lain, dan gara-gara itulah Freya harus menanggung kemalangan, diculik paksa, menerima perlakuan kasar dan tidak senonoh, serta dipisahkan dari keluarganya.

Mata King Kafi menyipit ketika kali ini dia menggunakan kedua tangannya untuk menangkup wajah Freya, memaksa Freya tidak bisa berpaling lagi dan mau tak mau memandang mata biru yang sekarang menyala penuh kemarahan.

“Kau adalah Katyana dan kau harus menerima itu. Ini adalah perintah rajamu dan kau harus mematuhinya.” King Kafi mendesis dengan nada mengerikan, “Beranikah kau menentangku, Katyana? Karena aku biasanya tidak memberi ampun kepada siapapun yang tidak menaruh hormat kepadaku. Apakah kau tahu apa yang kulakukan kepada mereka semua yang membuatku marah?” King Kafi menghentikan kalimatnya dan menilai reaksi Freya, “Aku biasanya meminum darah mereka, Katyana. Aku akan mengiris nadi mereka di bagian yang paling banyak menguarkan darah segar…” Salah satu tangan King Kafi bergerak dan membelai sisi leher Freya, “Jika kau terus menerus menentangku, aku akan mengiris di sini, di sini nadimu berdenyut cepat dan jika diiris, darah segar akan memancar dengan deras, aku akan membiarkan darah itu menetes sampai habis, sampai tetes darah terakhirmu tumpah di pialaku dan tubuhmu kekeringan, lalu aku akan meminum darahmu dan membiarkanmu mati pelan-pelan dalam kesakitan yang amat sangat.”

Tubuh Freya langsung gemetaran ketika mendengar deskripsi yang dijabarkan dengan jelas dan menakutkan itu, dirinya mengerutkan kening ketika merasakan jantungnya yang berdebar kencang dan memukul rongga dadanya, seakan-akan ingin melarikan diri dari teror yang membayang dari kata-kata King Kafi.

“Dan aku tidak akan membiarkanmu lepas begitu saja, semuanya akan mati jika kau berbuat bodoh dan memaksaku membunuhmu.” King Kafi bisa mengendus ketakutan dan keputusasaan dari aura Katyana hingga dia memutuskan terus dan terus mendesak perempuan itu supaya menyerah dalam rasa takut.

Dan King Kafi berhasil menyentuh titik lemah Freya : keluarganya. Pada akhirnya Freya menyerah ketika nama keluarganya terancam.

“Anda ingin saya melakukan apa?” Freya berucap lemah, menahankan air matanya yang tertumpah karena terpaksa menelan harga dirinya.

Tatapan mata biru itu sedikit melunak melihat sikap Freya, cengkeramannya di kedua sisi wajah Freya dilepaskan dan matanya melirik ke arah meja, tempat nampan tertutup yang dibawa oleh pelayan tadi diletakkan.

“Aku membawakanmu makanan. Habiskan.”

King Kafi melangkah ke arah meja besar, tempat nampan itu diletakkan dan mengambil kursi yang ada di depan meja, Sang Raja duduk di sana dan memberi isyarat kepada Freya untuk mendekatinya.

Freya meragu, tetapi pada akhirnya melakukan apa yang diperintahkan oleh Sang Raja, dia melangkah mendekat dan King Kafi memberi isyarat supaya Freya memakai kursi yang satunya.

Dengan patuh, meski tidak bisa menyembunyikan keengganan di wajahnya, Freya menarik kursi yang ada di seberang King Kafi dan kemudian duduk.

“Buka tutup nampan itu dan habiskan makanan yang ada di sana.” King Kafi memerintah dengan suara dingin.

Mau tak mau Freya menurut, membuka tutup nampan itu dan matanya melebar melihat hidangan yang tersaji di depannya.

Ini adalah tiramisu, yang tersaji di dalam gelas kristal dengan mulut gelas melebar nan indah, menampilkan pemandangan dua warna yang tersusun berlapis-lapis dan tampak begitu menarik. Warna gelap ada di dasar, kemudian berlapis warna putih, ditumpuk warna gelap dan kemudian berlapis warna putih, berulang terus sampai ke bagian atas yang dihiasi buah grumichama yang berwarna hitam berkilauan dan menggiurkan di atasnya.

Freya tentu saja pernah membuat tiramisu dengan tangannya sendiri, ini adalah jenis makanan pencuci mulut yang sangat mudah dibuat, tetapi memberikan citarasa lezat yang tak terlupakan. Adik-adiknya sangat menyukainya hingga Freya selalu menyempatkan diri membuatnya setiap minggu.

Proses pembuatannya sederhana, pertama-tama Freya hanya perlu membuat cake cokelat sederhana, lalu memotongnya dengan cetakan lingkaran dari gelas biasa, cake cokelat yang telah dibentuk bulat-bulat kemudian direndam di cairan yang terbuat dari bubuk kona hitam yang sudah dikentalkan dengan air hangat. Rendamannya sedikit saja, hanya supaya ada rasa kona hitam yang melekat di cake cokelat tetapi tidak sampai membuat cake cokelatnya basah dan hancur.

Bubuk kona hitam adalah bahan yang diperoleh dari tumbukan biji kona, biji-bijian yang mudah didapatkannya dipasar dalam keadaan sudah kering dan diawetkan dengan cara disangrai, biji kona hitam memiliki aroma keharuman yang khas, tercium manis seperti perpaduan kayu bakar dan aroma gurih jagung yang telah masak.

Freya biasanya menggunakan tumbukan dari batu pualam putih nan kuat untuk menghancurkan biji kona hitam itu, lalu menyimpan hasil tumbukannya yang sudah berupa bubuk ke dalam toples kaca yang tertutup rapat. Tutup toples itu harus benar-benar rapat untuk mencegah aromanya menguar keluar dan hilang. Selain sebagai bahan kue, adik-adik lelakinya biasanya suka menyeduh bubuk kona hitam dengan air panas dan meminumnya di saat tubuh mereka butuh tenaga, kata mereka, air seduhan bubuk kona hitam membuat mereka segar kembali dan bersemangat untuk bekerja.

Cake cokelat manis yang sudah dipotong ukuran kecil seukuran gelas kristal dan direndam dengan cairan kona hitam itu lalu diangkat dan kemudian diletakkan di dasar gelas saji. Setelah itu Freya memasukkan mentega krems, keju segar yang harum dan krim susu ke dalam satu wadah, menambahkan sedikit gula skar untuk memantapkan rasa gurihnya dan mengocok dengan pengocok kayu sampai kental dan menjadi adonan krim yang tebal.

Setelah seluruh bahan siap, Freya tinggal menuangkan krim kental nan gurih itu ke atas cake cokelat manis yang beraroma kona hitam, menciptakan lapisan hitam putih pertama. Dia kemudian mengulangi lagi tahap awal, meletakkan cake kembali di atas lapisan krim dan menutupnya lagi dengan lapisan krim kedua, begitu terus sampai kemudian di bagian teratas gelas berisi krim kental berwarna putih dan menggoda selera. Untuk menambah keindahan, Freya menaburkan bubuk kona kembali, lalu meletakkan buah grumichama yang sudah dibuat manisan di atasnya.

Buah grumichama berbentuk bulat-bulat seukuran bola kecil, berwarna hitam mengkilap dan memiliki citarasa manis asam. Freya biasanya merendamnya dengan cairan gula skar kental dan membiarkannya terkaramelisasi dan memiliki rasa manis pekat yang meresap hingga ke daging buahnya. Buah grumichama memang sering digunakan sebagai hiasan dan pemanis kue-kue atau cake dan memiliki citarasa yang berpadu sempurna dengan kue manis apapun.

“Kenapa hanya diam?” tangan King Kafi menyeberangi meja, menyorongkan sendok perak kecil ke arah Freya. “Makan dan habiskan.” perintahnya tegas.

Mau tak mau Freya menerima sendok itu, jemarinya bergerak pelan dan mengangkat sendok itu, menggunakannya untuk mengambil sesuap tiramisu. Dia memasukkannya ke dalam mulut dan sedikit terkesiap ketika makanan itu langsung lumer di dalam mulutnya, perpaduan krim yang gurih manis dengan kue cokelat beraroma khas bubuk kona nan lezat dan membasuh lidahnya dalam kenikmatan luar biasa… dan rasa manis ini…

Freya terengah ketika menyadari rasa manis yang sangat lezat yang belum pernah dirasakannya sebelumnya. Matanya membelalak dan langsung bertatapan dengan mata biru yang sedang mengawasi reaksinya.

“Itu gula sald.” King Kafi menjawab pertanyaan yang tersirat di mata Freya dengan tenang, “Karena itulah bubuk kona yang ada di atas makanan penutup itu berwarna kemerahan.”

Freya masih terpana akan rasa nikmat yang membaluri lidahnya. Jadi beginilah rasanya gula yang dikatakan memiliki citarasa paling enak dan berharga sangat mahal itu, kemanisannya benar-benar berbeda dengan gula skar yang menyimpan rasa getir di lidah setelahnya, ini benar-benar lezat…

“Ambil makananmu lagi dan habiskan.” Sekali lagi KingKafi megeluarkan suara perintah penuh desakan yang arogan, membuat Freya terdorong untuk melawan tetapi tidak berani melakukannya karena mengingat keluarganya.

Dengan patuh Freya menyuap tiramisu itu ke dalam mulutnya, menelan kelembutan yang memuja lidahnya, sendok demi sendok sampai kemudian habis. Setelah habis dirinya meletakkan sendoknya dan menatap ke arah mata biru itu dengan rasa ingin tahu yang bercampur kengerian.

Sekarang apalagi? Apakah Sang Raja akan melaksanakan ancamannya tadi siang?

“Apakah kau menyukai makanan itu?” King Kafi memandang dengan penuh penilaian. Jawaban Katyana, apapun itu akan menentukan nasib sang koki baru di istana.

Freya yang sama sekali tidak menyadari bahwa jawabannya akan menentukan bertahan atau tidaknya nyawa seseorang menganggukkan kepala dengan bingung atas pertanyaan itu.

“Ya.” jawabnya jujur, “Ini adalah makanan yang sangat lezat, terima kasih.” Kandungan gula saldnya saja sudah membuat makanan ini lezat luar biasa, apalagi ditambah dengan perpaduan bahan-bahan berkualitas lain yang dipadukan dengan takaran yang sangat pas dan menciptakan citarasa nan nikmat. Siapapun koki yang membuatnya,  Freya yakin bahwa dia adalah seorang koki yang sangat ahli.

King Kafi menganggukkan kepala samar, memutuskan bahwa nyawa koki baru itu selamat. Dia lalu mengalihkan pembicaraan ke hal yang lebih serius, memberitahu apa yang ada di dalam jiwanya kepada Freya,

“Kau yang sekarang mungkin lupa bahwa aku menyimpan iblis di dalam diriku.”

Freya mengerutkan kening. Sebagai rakyat jelata tentu saja dia mendengar desas-desus yang beredar tentang raja mereka. Dikatakan bahwa Raja mereka kerasukan iblis jahat, sebuah penyakit yang selalu diderita oleh pangeran pertama keluarga Bangsawan Karskaralis. Freya sendiri selama ini selalu menganggap hal itu sebagai mitos belaka, sebuah kisah yang dilebih-lebihkan yang muncul karena semua orang melihat bagaimana kejamnya King Kafi ketika berperang dan mengeksekusi musuhnya dengan kekejaman layaknya iblis itu sendiri. Cerita itu mungkin juga muncul berdasarkan kenyataan mengerikan bahwa raja mereka suka meminum darah, hanya iblis yang melakukan hal mengerikan semacam meminum darah manusia bukan?

Dan sekarang, mendengar dari King Kafi  sendiri bahwa ada iblis di dalam dirinya membuat Freya merinding ngeri.

Apakah ternyata benar karena iblis itulah maka King Kafi suka meminum darah?

“Semua pendahuluku, pangeran pertama, mereka semua mati dibunuh karena dianggap gila dan tubuhnya dikuasai oleh iblis yang jahat. Mereka dibunuh oleh saudara mereka sendiri, oleh raja-raja pendahulu.” mata biru King Kafi tampak bersinar seolah menyimpan sakit hati, “Kebetulan sekali aku tidak punya saudara sama sekali, jadi aku bisa memimpin negara ini dengan kegilaanku. Tapi setidaknya aku belum gila sepenuhnya, darah manusia membuat Iblis yang tinggal di dalam diriku itu tenang, setidaknya setengah kekuatannya tertidur.” King Kafi seolah membaca kembali pertanyaan yang ada di benak Freya, bagaimana tidak? Wajah Freya yang ekspresif membuat dirinya seolah seperti buku yang terbuka, menampilkan apa yang berkecamuk di pikirannya. “Aku bisa saja menidurkan iblis ini sepenuhnya… dengan minum darahmu.” Suara King Kafi merendah, menatap Freya dengan lapar.

Tubuh Freya langsung menegang dan tangannya bergerak memeluk dirinya sendiri,

“Apa maksud Yang Mulia?”

“Darahmu adalah penawarku, Katyana. Dengan minum darahmu maka iblis itu akan sepenuhnya tertidur.” King Kafi terkekeh melihat Freya yang pucat pasi dan melihat bahwa perempuan itu mulai melirik ke arah pintu untuk mengira-ngira bagaimana caranya melarikan diri, “Tapi tidak, aku tidak berniat meminum darahmu. Bagaimanapun juga aku tetap memerlukan kekuatan iblis biarpun hanya setengahnya ini untuk memimpin Kerajaan ini.”

Sungguh mengerikan lelaki ini. Memanfaatkan iblis jahat dengan sengaja untuk memberinya kekuatan. Itulah hal pertama yang muncul di benak Freya ketika mendengar kata-kata King Kafi

Freya langsung menatap ke arah King Kafi, dan terkesiap ketika menyadari bahwa mata biru itu semakin lama semakin berubah warna menjadi pucat.

“Iblis yang ada di dalam diriku, dia sangat menyukaimu… dia bergolak di sini karena ingin bangkit dan menyapamu.” King Kafi menyentuh dadanya dan mengernyit, “Sudah lama dia tidak bergolak di sini dan membuat dadaku terasa panas…”

Tiba-tiba saja kalimat King Kafi terhenti, Sang Raja mengerjap, dan ketika mata itu terbuka, warna biru di sana telah menjadi pucat sepenuhnya menampilkan pupil gelapnya yang sekarang nampak begitu kontras dan menakutkan.

Bibir King Kafi mengurai sebuah senyum, dan matanya menatap mata hijau hitam dengan tajam.

“Katyana…” suara King Kafi berubah menjadi lebih berat dan serak, dengan nada rendah diseret yang entah kenapa malah membuat Freya semakin ngeri karena menyadari siapa yang sekarang ada di hadapannya.

“Kumohon kembalilah tidur…” Freya bergumam ketakutan, dia tahu bahwa iblis itulah yang sekarang muncul dan menyapanya.

Iblis itu telah mengambil alih tubuh King Kafi!

King Kafi melemparkan senyumnya ke arah Freya sementara mata pucat itu menelusuri tubuh Freya dengan malas, “Bagaimana mungkin aku melakukannya, Katyana? Sementara di depanku ada pengantinku yang menggiurkan menunggu untuk kunikmati.” King Kafi tiba-tiba berdiri dari duduknya, dan menaungi Katyana dengan aura mengancamnya, “Aku mungkin hanya sebentar menguasai tubuh ini, tetapi aku tidak akan membuang-buang waktu untuk memilikimu Katyana, malam ini kau akan merasakan bagaimana rasanya menjadi pengantinku, bagaimana menjadi perempuan yang sesungguhnya.”

bersambung ke part berikutnya


Kona coffee adalah nama pasaran untuk coffee (Coffea arabica) yang ditanam dan dipanen di Hualalai and Mauna Loa di area selatan dan utara Kona Districts di kepulauan Hawaii. Kopi Kona adalah salah satu dari kopi termahal di dunia. Hanya kopi yang berasal dari Kona Districts yang bisa disebut sebagai kopi “Kona” ( Wikipedia )

Grumichama cherry, Eugenia brasiliensis,  dikenal dengan nama Brazil cherry[2] dan grumichama,[2]  Merupakan tanaman pohon dengan ukuran medium ( maksimum 20m ) dan tumbuh di Brasil dengan buah berupa bulatan kecil berwarna ungu tua dan cenderung kehitaman. Rasanya sangat manis dan hampir sama seperti rasa buah cherry. Tanaman membutuhkan waktu lama untuk tumbuh dan menyebabkan jumlah pohonnya sangat jarang dan masuk ke dalam spesies tanaman langka yang hampir punah ( Wikipedia )

 

903 Komentar

  1. Jangaaaaann dengan iblis ituu..sama king kafi ajaa :bantingkursi :bantingkursi

  2. :ayojadian b

  3. HikMaIyMmaExoL menulis:

    :bantingkursi

  4. Mengerikan

  5. Kiki Miski menulis:

    Serem nya :panikshow :panikshow

  6. Audry F. Dewi menulis:

    :kumenangismelepasmu :kumenangismelepasmu

  7. Haduh nanti iblisnya bangkit ding :panikshow :panikshow :panikshow

  8. oviana safitri menulis:

    :panikshow

  9. Sri wahyuni menulis:

    Jd ada 2 jiwa dlm tubuh king kafi :awaskaunanti :awaskaunanti

  10. puuutttputri menulis:

    Aye aye :DUKDUKDUK

  11. 🙂🙂🙂

  12. Seremmmmm

Tinggalkan Balasan