mentega
The Girl Who Tamed The King

The Girl Who Tamed The King Part 3 : Velvet Apple Pie

Bookmark

No account yet? Register

1.606 votes, average: 1,00 out of 1 (1.606 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

 


 

Dua sosok anak manusia itu berbaring, berpelukan di atas ranjang yang sempit. Dua suhu berbeda yang bertolak belakang tetapi saling melengkapi. Yang satu merindukan kehangatan sedang yang lain membutuhkan kesejukan. Kulit bertemu dengan kulit, dan hati masih menunggu yang satunya siap untuk bisa bertaut.

Mata keduanya terpejam terbawa ke alam mimpi dalam pelukan kekasih yang sudah ditakdirkan sejak lama untuk bersatu.

Dalam tidurnya kenangan itu mengaliri lembut alam lelap King Kafi, mimpi yang membawa kembali ingatan di masa lalu dan mengembalikan semua bagian kisah dahulu yang pernah terlupakan.

Masa itu, ketika Kafija masih berusia dua belas tahun, dan Katyana masih berusia tujuh tahun.

Setelah serangan iblis di dalam tubuhnya yang membuatnya hampir mati karena kesakitan, Kafija yang diberi ramuan oleh Bibi Corma berhasil bertahan dan pulih, meski kondisinya  masih belum sepenuhnya aman karena serangan iblis itu bisa datang kembali kapan saja. Seiring dengan bertambahnya usianya, iblis itu semakin sering mencoba bangun, dan tiap dia mencoba bangun, diri Kafija harus bertarung untuk mempertahankan tubuhnya, dan itu menimbulkan rasa sakit luar biasa diseluruh tubuhnya, seakan dirinya disobek-sobek dari dalam dan dihancurkan, membuatnya mengerang kesakitan sepanjang malam, dan baru bisa terlelap dengan tubuh kepayahan setelah iblis itu memilih mundur dan menunggu kesempatan berikutnya.

Pagi hari sudah menjelang, meskipun sinarnya masih tampak malu dan ragu, merasa pilu karena harus berseteru dengan awan hitam yang sudah lama menjadi teman sepermainannya.

Kafija duduk sendirian di atas bangku kayu yang terletak di depan pondok kayu mungil di tengah hutan yang menjadi tempat tinggal dan persembunyian mereka selama ini. Mata Kafija menerawang, menatap cahaya matahari yang mengintip di balik rimbunnya dedaunan yang berwarna hijau, lalu menghela napas dengan sedih.

Lamunannya tetap saja dipenuhi dengan kesedihan setelah semalaman harus menahan serangan iblis itu lagi dan lagi.

Tak lama kemudian,terdengar suara pintu dibuka, membuat lamunannya teralihkan. Kafija menolehkan kepala dan melihat ibundanya melangkah keluar sambil mengggandeng seorang anak perempuan kecil.

“Kafija, kau tentu sudah melihatnya sejak tadi dan bertanya-tanya kenapa anak ini ada di sini.” Sang Ibu menundukkan kepala, menatap anak kecil itu, lalu menatap lagi ke arah Kafija dengan pandangan penuh harap, “Dia adalah calon isterimu, perempuan yang akan menjadi penawarmu.” Sang ibu langsung berkata begitu menemukan keingintahuan tersembunyi yang tersirat di mata biru anak lelakinya.

Kafija kecil sendiri, meskipun dipenuhi rasa ingin tahu tetap memasang ekspresi datar tidak tertarik, usianya baru dua belas tahun, tetapi tubuhnya sudah ditempa oleh rasa sakit yang mungkin hanya akan dialami oleh manusia-manusia yang berusia setengah abad. Karena itulah dia selalu menjadi anak pendiam, hanya menyimpan emosinya di dalam benaknya dan tidak pernah menunjukkan rasa sakitnya kepada siapapun.

Ya, iblis yang ada di dalam dirinya menyakitinya. Dirinya, yang seharusnya menjadi putera mahkota pertama, penerus kerajaan Karskaralis  memang dikutuk untuk menyimpan iblis di dalam jiwanya sejak dia lahir. Kutukan itu adalah kutukan turun temurun kerajaan yang menimpa anak lelaki pertama yang dilahirkan oleh kerajaan. Entah sejak kapan kutukan itu ada, tetapi legendanya sudah berlangsung sejak ratusan tahun yang lalu, tersimpan dalam kisah-kisah keluarga kerajaan yang dibisikkan secara rahasia.

Dikisahkan ketika itu, ribuan tahun yang lalu, Raja Karskaralis pertama membunuh anak laki-laki seorang penyihir yang masih kecil tanpa sengaja. Penyihir yang marah lalu memberikan kutukan bahwa sosok iblis akan tersimpan di dalam tubuh anak laki-laki pertama Sang Raja dan ketika sudah tiba waktunya, iblis itu akan menguasai tubuh pangeran pertama dan menciptakan kehancuran bagi kerajaan.

Kisah-kisah keluarga Kerajaan Milaya selalu mengungkapkan, bahwa pangeran pertama akan menjadi jahat, gila dan menciptakan kekacauan bagi kerajaan, dan mereka selalu mati terbunuh oleh pangeran kedua. Bahkan ayahanda King Kafi sendiri adalah pangeran kedua yang juga membunuh kakaknya sendiri karena kakaknya itu menjadi gila.

Karena itulah, ketika masih kecil, Kafija dan ibundanya difitnah, diusir dan dan hampir saja dihukum mati.. Dalam usahanya menyelamatkan anak pertamanya, Sang Permaisuri melarikan diri dari Kerajaan Milaya lalu hidup dalam penyamaran sebagai rakyat biasa. Sang Raja ingin membunuh anaknya sendiri karena takut putera mahkota pertama akan menjadi gila karena dikuasai iblis yang akan menghancurkan Kerajaan Milaya.

Tetapi tak lama kemudian, tersebar desar desus di kerajaan, bahwa ayahanda Kafija, Sang Baginda raja  terserang penyakit yang menyebabkannya tidak bisa memiliki anak lagi, hingga akhirnya Kafija dicari-cari lagi setelah dibuang. Meskipun begitu, Sang Permaisuri tetap membawa Kafija hidup dalam pelarian, karena Sang Permaisuri tidak ingin anaknya ditemukan. Sang Permaisuri selalu takut bahwa pangeran kedua ternyata ada dan sengaja dirahasiakan, dan bahwa pencarian Kafija oleh Sang Raja hanyalah pancingan, supaya Sang Raja bisa menangkap Kafija lalu melenyapkannya.

Kafija kecil yang kurus dan pucat karena serangan-serangan iblis di dalam tubuhnya hanya mengangkat alis ketika melihat anak perempuan kecil yang dibawa oleh ibundanya. Anak perempuan itu masih kecil, dengan rambut merah berantakan yang tidak terawat dan mata hijau lebar yang berkilauan, mata hijau yang indah itu adalah satu-satunya yang menarik dari penampilannya.

“Ibu, aku masih kecil, tidak mungkin aku menikah, apalagi dengan anak kecil sepertinya.” Kafija mengedikkan bahunya, memandang Katyana dengan tatapan mencemooh.

Ibundanya, Sang Permaisuri hanya tersenyum sedih mendengar ironi yang diucapkan oleh anaknya itu, lalu menggandeng Katyana dan membawanya mendekat pada Kafija,

“Ini semua demi kesembuhanmu anakku, Katyana akan menjadi penawar iblis yang ada di dalam dirimu, pernikahan ini bukanlah pernikahan yang sesungguhnya, hanya ritual yang diperlukan supaya darahnya bisa diterima olehmu sebagai penyembuhmu.”

Kafija mengerutkan kening seolah menahan sakit, dia langsung ingat lagi penjelasan ibunya mengenai apa yang harus dilakukannya untuk menidurkan iblis di dalam jiwanya,

“Apakah aku harus minum darahnya, ibu?” Kafija bertanya, melirik ke arah Katyana dengan ngeri.

Ibunya memang sudah mengatakan perihal penawar itu sejak lama, tetapi membayangkan meminum darah membuatnya mual, bahkan sekarang ketika mereka membahasnya perutnya mulai bergolak tak karuan.

Enam bulan lalu adalah saat pertama kali iblis itu terbangun dan memberontak dalam dirinya, iblis itu menggeliat, merobek tubuhnya dari dalam dan berusaha untuk keluar dari jiwanya serta menguasainya. Kafija bertahan sekuat tenaga, tubuhnya menolak dikuasai pun dengan jiwanya, tetapi hal itu berujung pada rasa sakit yang menyerang tubuhnya, bertubi-tubi hingga tak tertahankan oleh anak remaja sepertinya.

Ketika itulah Sang ibu dalam usahanya yang didorong oleh keputusasaan berhasil menemukan bibi Corma, seorang tabib ahli pengobatan, yang mengaku sebagai keturunan penyihir yang telah mengutuk Raja Karskaralis pertama.

Bibi Corma tentu saja sudah tidak memendam dendam di masa lalu, apalagi dengan ibunda Kafija yang memohon dan menangis di bawah kakinya. Dia bersedia membantu mencari penawar bagi iblis yang tumbuh di dalam diri Kafija.

Penawar itu adalah seorang anak perempuan, dia haruslah berambut merah dan bermata hijau, anak pertama dari keluarganya dan dilahirkan di hari kedua musim semi ketika pucuk pertama bebungaan mulai muncul di rumput yang mulai menghijau, anak perempuan itu harus memiliki tanda lahir berbentuk kupu-kupu di pundaknya. Dan setelah anak itu ditemukan, darah anak perempuan itu akan menjadi penawar yang bisa menidurkan iblis yang tinggal di dalam tubuh Kafija.

“Ya, anakku, hanya darahnya yang bisa menjadi penawar rasa sakitmu, iblis itu sedang menggeliat bangun, kita harus mencegahnya menguasai tubuhmu.” Sang Ibunda menghela napas panjang, “Pernikahan ini hanyalah ritual supaya darah Katyana bisa menjadi penawarmu.”

Sang Permaisuri mendekatkan Katyana yang tampak kebingungan ke arah Kafija, sementara Kafita menatap Katyana dengan sedih. Tahu bahwa ibundanya mungkin telah menculik anak kecil ini dari keluarganya dan Bibi Corma pasti sudah meminumkan ramuan untuk mengambil ingatan anak perempuan kecil ini

“Hai, siapa namamu?” Kafija mencoba bersikap lembut, menutupi rasa bersalah karena mungkin dirinya telah menjadi penyebab anak kecil ini dipisahkan dari keluarganya.

Anak kecil itu tampak kebingungan, dia menatap Sang Permaisuri yang kemudian membantu menjawab dengan lembut,

“Namamu Katyana.” bisik Sang Permaisuri pelan.

Katyana menganggukkan kepalanya, menjawab ke arah Kafija dengan malu-malu, “Namaku Katyana.”

Sementara jawaban itu membuat Kafija meringis ke arah ibundanya, “Dia bahkan  tidak bisa mengingat namanya sendiri ibu? Apa yang kau lakukan kepadanya?”

Sang Permaisuri menahan rasa bersalah yang merayapinya, memasang ekspresi sedih kepada anak lelaki satu-satunya,

“Ini demi dirimu anakku, Ibu bersedia melakukan apapun,asalkan iblis itu tidak menguasai dirimu.” Mata Sang Permaisuri mulai berkaca-kaca, “Bersikap baiklah kepadanya ya? Katyana ini, dia adalah penyelamatmu.”

Setelah menghela napas panjang sekali lagi, Sang Permaisuri melangkah pergi, meninggalkan Kafija yang masih duduk di bangku kayu itu dengan Katyana yang nampak kebingungan di depannya. Mereka berdua hanya terdiam dan saling bertatapan sampai lama, pada akhirnya Kafijalah yang memecah keheningan,

“Kau sudah makan?” Kafija bertanya tenang sambil mengamati Katyana, mau tak mau benaknya bertanya-tanya.

Siapa Katyana ini? Ibundanya menculik Katyana dari mana? Apakah anak ini berasal dari keluarga yang bahagia sebelum diculik dan dibawa kemari? bagaimana dengan orang tuanya?

Katyana sendiri hanya menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Kafija, membuat Kafija cemberut.

“Kalau begitu kau harus membantuku, biasanya ibu akan menyuruhku untuk memetik buah velvet apple untuk isian pie sarapan kita .” Dengan lincah, Kafija meloncat dari bangku tempatnya duduk dan mengambil keranjang kecil yang diletakkan di dekat pintu masuk pondok, sambil bersiul, langkahnya riang ketika dia hendak melangkah melalui jalan setapak di depan rumah menuju hutan.

Kafija menyempatkan diri menoleh ke belakang, dan mendesah kesal ketika melihat Katyana masih terdiam di sana, seperti mahkluk kebingungan yang menunggu diberi perintah.

Dengan tidak sabaran Kafija berbalik lagi, lalu meraih tangan Katyana, dan seketika itu juga dia terpana merasakan hawa panas membakar dari kulit Katyana.

“Kulitmu panas sekali, apa kau sakit?” Kafija mengerutkan kening dan mengamati jemari mungil di tangannya dengan bingung.

Katyana tersenyum, ekspresi pertama yang dimunculkan wajahnya selain pandangan kosong dan wajah bingung,

“Bukan aku yang panas, kau yang dingin seperti es.” jawabnya, sama-sama merasa bingung dengan suhu tubuh Kafija yang dingin.

Mereka belum sempat berkata-kata lagi ketika Sang Permaisuri menengokkan kepalanya dari pintu, dan seperti dugaan Kafija, Sang Permaisuri meminta mereka memetik buah velvet apple dari pohon yang berada sedikit masuk di dalam hutan, tidak jauh dari pondok mereka.

“Ayo.” Kafija berucap pelan dan menggandeng Katyana melalui jalan setapak dan anak perempuan itu hanya diam dan menurut mengikutinya.

***

Mereka berdua pulang tak lama kemudian, membawa sekeranjang penuh buah velvet apple yang berwarna merah dengan tekstur kulit berbulu. Buah ini mimentegarip dengan apel, tetapi rasa dan aromanya tidak sama dengan buah apel. Orang sering menyebutnya buah mentega karena teksturnya daging buahnya yang beraroma tajam perpaduan keju dan mentega meskipun rasanya sebenarnya manis.

Kafija sendiri membiarkan Katyana mengekorinya seperti anak ayam yang selalu mengikuti induknya sepanjang perjalanan berangkat dan pulang mereka menyusuri hutan. Tadi dia memanjat pohon dan memetik buah lalu melemparnya ke bawah sementara Katyana dengan riang berlari-lari kecil mengambil buah-buahan yang jatuh itu lalu memasukkannya ke dalam keranjang.

Pengalaman itu membuat Kafija tersenyum, selama ini dia selalu sendirian, hidup dalam pelarian bersama ibundanya, takut kalau sampai ayahandanya mendapatkan putera kedua dari selirnya, anak itu nantinya akan dikirim untuk membunuh Kafija Karena memang selalu turun temurun terjadi di keluarga Karskaralis, pangeran pertama yang menjadi gila karena iblis di dalam tubuhnya, selalu terkalahkan dan dibunuh oleh pangeran kedua.

Dan sekarang, dengan kehadiran Katyana, meskipun baru sebentar di dalam kehidupannya, merubah warna hidupnya. Dia memiliki teman untuk bercakap-cakap selain ibunya dan Bibi Corma, dan itu menyenangkan. Sepanjang perjalanan, Kafija mengajari Katyana bernyanyi, sebuah lagu pengantar tidur yang selalu dinyanyikan ibundanya sebelum mengantarkannya ke alam mimpi.

mentega 2Sang Permaisuri tersenyum melihat keranjang yang penuh dengan buah segar, dia lalu membelah dan mengupasnya, memunculkan daging buah lembut berwarna krem serupa mentega dan beraroma harum, di sana, di depan meja dapur. Sang Permaisuri memotong-motong buah itu menjadi potongan kecil, dan meletakkan potongan-potongan kecil itu ke dalam mangkuk yang sudah disiapkannya.

Kafija membantu Katyana untuk naik ke kursi yang ada di depan meja dapur, dan kemudian dia menyusul duduk di sebelahnya. Mereka berdua duduk, mengamati dengan penuh antusias Sang Permaisuri yang mulai memasak. Sang Permaisuri mengambil cangkir kecil dan mengisinya dengan bubuk kayu manis, bubuk pala, tepung jagung dan gula skar yang berwarna hijau keruh karena mereka tidak mampu membeli gula  sald merah yang sangat mahal, Campuran semua bahan kering itu menciptakan bubuk berwarna kecokelatan.

Sang Permaisuri lalu maid150885-728px-Make-an-Apple-Pie-Step-4-Version-2enuang bubuk itu ke potongan buah velvet apple yang ada di dalam mangkuk, menambahkan air perasan lemon dan mengaduknya sampai rata. Setelah itu Sang Permaisuri menyiapkan kulit pastri yang sudah dibuatnya sebelumnya. Kulit pastri ini dibuat dengan mencampurkan tepung terigu dengan garam, gula dan telur burung lalu dicampur air dingin, setelah itu adonan tersebut dibentuk lembaran, lalu dilapis mentega krems buatan bibi corma yang lezat, ditumpuk lembaran, dilapis mentega lagi dan begitu selanjutnya sampai ada berlapis-lapis lembaran adonan yang bertumpuk dengan lapisan mentega.

Setelah itu adonan pun dipipihkan sampai tipis berbentuk lembaran.Lembaran itulah yang disebut kulit pastry, yang kemudian disusun di atas nampan bulat sebagai cetakannya, Potongan velvet apple yang sudah mengeluarkan jus buahnya karena pengaruh perasan lemon pun dituang di atas adonan tersebut, Sang Permaisuri menutup adonan tersebut dengan kulit pastri yang lain, menjalinnya spai apel duaupaya menyatu, mengiris bagian atasnya supaya ada udara yan keluar ketika dipanggang,  lalu memasukkannya ke dalam oven tembikar yang menyatu dengan tungku perapian. Dia lalu menepuk-nepuk tepung yang mengotori tangannya dan menoleh ke arah Kafija sambil tersenyum.

“Kita harus menunggu lima belas menit sampai matang.” gumamnya lembut, tahu bahwa anak lelakinya itu sangat menyukai makanan manis dan tidak sabar menanti sarapannya.

Tetapi ketika matanya menangkap ke arah anaknya, dia tertegun. Di sana, Katyana rupanya tertidur karena menungguinya memasak, kepalanya tertelungkup di atas meja dapur dengan lengan mungilnya sebagai bantalan, tampak pulas dan bahagia. Sementara Kafija, anak lelakinya itu mengamati Katyana dengan pandangan yang sulit diartikan. Seperti pandangan sayang dan rindu yang begitu dalam.

3cf7cb34-8f77-4885-bfec-697f96dd5d61Dan seketika itulah Sang Permaisuri menyadari, bahwa bukan Kafija yang saat ini menatap Katyana, ini adalah Sang Iblis yang sedang menatap pengantinnya, iblis yang sekarang bersemayam di dalam jiwa Kafija dan sedang mencoba memberontak keluar.

Kafija menatap ke arah ibunya, dengan mata birunya yang memucat, lalu tersenyum, dan kemudian berbicara dengan nada yang sulit dikenali. Sudah pasti itu bukan suara anaknya, melainkan suara iblis yang ada di dalam dirinya.

“Kau membawa pengantinku untukku ibu, aku rela tertidur dengan meminum darahnya, sampai waktunya nanti aku mengambilnya menjadi pengantinku seutuhnya,  lalu aku bisa bangun sepenuhnya.” Kafija menyeringai.

Dan sedetik setelah mengucapkan kata-kata mengerikan itu, tubuh Kafija lunglai, kehilangan kesadarannya, membuat Sang Permaisuri menjerit dan langsung menangkap tubuh Kafija supaya tidak jatuh ke lantai.

Tubuh Kafija begitu dingin, membuat Sang Permaisuri menangis sambil memeluk anaknya erat-erat. Iblis itu bangun, karena penawarnya, karena pengantinnya datang kepadanya, Dan kalimat ancamannya sungguh mengerikan, Iblis itu sudah pasti akan mempengaruhi Kafija untuk menyentuh Katyana ketika waktunya tiba nanti, lalu kutukan itu terjadilah, Iblis itu akan bangun dan menguasai tubuh Kafija, membuatnya menjadi gila dan menghancurkan kerajaan Milaya.

Sang Permaisuri menatap ke arah Katyana yang masih tertidur, lalu ke arah Kafija yang lunglai di dalam pelukannya. Tatapannya berubah penuh tekad.

Dia harus memisahkan Kafija dan Katyana jika waktunya tiba nanti.

***

“Yang Mulia.”

Kalimat panggilan yang diucapkan dengan penuh hati-hati itu membuat mata King Kafi seketika terbuka. Lelaki itu langsung terbangun dengan waspada, hendak berdiri, tetapi tubuhnya tertahan.

Dia menundukkan kepala mencari apa yang menahannnya, dan menemukan bahwa Katyana tengah memeluknya erat, dengan posisi meringkuk di dadanya dan lengan yang melingkari pinggangnya dengan rapat.

Sejenak dunia King Kafi teralihkan, dia hanya terpana di sana, memandang rambut merah yang terurai di dadanya dan kulit lembut nan panas yang menempel dan menembus pakaiannya. Jemarinya tanpa sadar bergerak pelan, ingin menyentuh pipi Katyana yang tampak ranum dan lembut seolah meminta untuk diusap. Dorongan di dalam dirinya membuatnya ingin menunduk, lalu mendaratkan kecupan lembut penuh kerinduan di wajah istrinya ini.

“Yang Mulia.”

Panggilan itu terulang kembali, membuat King Kafi menolehkan kepala dengan sedikit terganggu. Dia mengangkat alis ketika melihat Vigya penasehat kerajaannya, sudah berdiri di sana dengan pakaian resmi kerajaan.

Vigya rupanya sudah menemukannya.

Dengan lembut King Kafi menyentuh lengan Katyana yang melingkari pinggangnya lalu melepaskannya perlahan supaya Katyana tidak terbangun, perempuan itu mengerang pelan, mungkin merasa terganggu dalam tidurnya karena kehilangan hawa dingin yang menyenangkan sementara tubuhnya masih demam Tetapi bairpun begitu, mata Katyana tidak terbuka, dia masih terlelap.

King Kafi bangkit dari ranjang, dan melangkah turun, dia mengusap rambutnya yang berantakan dan sedikit aneh karena dia ketiduran di ranjang sempit itu. Dia bermimpi, mimpi yang membawa kembali kilasan tentang pertemuan mereka, sebuah kenangan yang dulunya ditutup yang sekarang sudah terbuka.

Perempuan ini sudah jelas adalah Katyana-nya, meski dengan nama berbeda dan dengan keluarga baru yang seolah tidak tahu apa-apa. Bibi Corma, dia kabur bersama Katyana ketika itu, dan Bibi Corma memiliki keahlian membuat ramuan untuk memanipulasi ingatan seseorang. Katyana dan keluarga barunya ini, mereka pasti masih terpengaruh oleh ramuan itu.

Dia harus menemukan perempuan itu, penyihir tua, keturunan penyihir yang mengutuk keluarganya dan memintanya membuka kembali ingatan Katyana.

Tetapi di mana?

King Kafi mengerutkan kening, dan menghampiri Vigya. Penasehat kerajaannya itu dengan sigap langsung mengulurkan jubah kerajaan yang sudah disiapkannya. Tanpa suara, King Kafi mengenakan jubah itu, membungkus dan menutupi pakaiannya, dia lalu berjalan ke luar kamar diikuti oleh Vigya di belakangnya.

Ketika sampai di luar, matanya langsung menangkap pemandangan ibu dan adik-adik Katyana yang berlutut memberi hormat, sementara beberapa pasukan pengawal kerajaan nampak berjaga di dalam dan di area sekitar rumah.

Kedatangan pasukan kerajaan di rumah kecil di desa yang sedikit penduduknya ini tentu saja menarik perhatian masyarakat, banyak penduduk desa yang berkerumun dan mengintip dari kejauhan, ingin tahu apa yang terjadi kenapa tiba-tiba pasukan berkuda dan juga membawa kereta kuda megah milik kerajaan tiba-tiba datang kemari.

Mata biru King Kafi menatap dingin ke arah keluarga Katyana  yang masih berlutut.

“Bangun.Berdiri” perintahnya dengan suara tak kalah dingin, memberi gerakan isyarat tangan untuk menegaskan maksudnya.

Seluruh keluarga Katyana saling berpandangan, lalu sang ibu berdiri diikuti anak-anaknya.

“Kalian tentu sudah tahu siapa aku.” King Kafi berucap pelan, menyipitkan matanya dan mengamati semuanya satu-persatu membatin dalam hati bahwa mereka semua memiliki kemiripan dengan Katyana, rambut merah dan mata hijau yang sama.

Apakah mereka benar-benar keluarga kandung Katyana?

Sang Ibu sedikit membungkukkan kepalanya dengan hormat, menggendong anaknya yang paling kecil dan membiarkan anak-anaknya yang lain berdiri di belakangnya,

“Mohon maaf hamba tidak menyadarinya.” gumamnya sungguh-sungguh. Ya, bagaimana dia tahu? Desa mereka jauh dari ibukota kerajaan, dan mereka tidak pernah melihat Sang Raja meski mereka mendengar desas-desus bahwa King Kafi, raja mereka adalah sosok yang sangat kejam dan memiliki ketampanan yang luar biasa dengan rambut hitam dan mata biru.

Tentu saja tidak pernah terlintas di hati mereka bahwa raja mereka itu akan datang ke desa mereka dan masuk ke dalam pondok kecil mereka bukan?

“Tidak penting.” King Kafi bergumam tenang, lalu melirik sedikit ke arah kamar tempat Katyana-nya masih tidur, “Aku ingin mengambil dia.”

Seluruh anggota keluarga itu terbelalak, pun dengan dua anak lelaki berwajah sama persis yang tampak begitu terkejut.

“Mengambil Freya? Apa maksud anda?” Bibir Sang Ibu bergetar seiring dengan pertanyaan yang meluncur dari bibirnya.

King Kafi menyipitkan matanya. Sepertinya seluruh keluarga ini juga tidak tahu menahu mengenai sejarahnya bersama Katyana, mungkin ingatan mereka juga ditutup dengan ramuan milik Bibi Corma.

Mengenai hal itu, dirinya akan mencari tahu nanti. Untuk sekarang tidak ada gunanya menjelaskan semuanya kepada keluarga ini, toh mereka semua tidak akan mengerti.

“Mengambil dia… Freya.” Dahi King Kafi berkerut ketika mengucapkan nama itu, dia tidak suka, dia lebih suka menyebut Katyana dengan nama Katyana, karena dirinya dinikahkan dengan Katyana, karena Katyanalah yang menjadi isterinya, miliknya. “Aku akan membawanya ke kerajaanku, sebagai isteriku.”

Suara terkesiap terdengar dari seluruh keluarga itu. Sang ibu memeluk anaknya yang paling kecil erat-erat, dua bersaudara kembar itu tampak ingin berbicara tetapi menahan diri, sementara anak perempuan kecil yang tadi berbicara di dapur tampak kebingungan sambil mengamati ekspresi kaget orang-orang disekitarnya dengan bingung.

“Aku akan menganugerahkan kemakmuran untuk kalian semua, sebagai keluarga dari isteriku.” King Kafi mengamati pelan-pelan, melihat bahwa mereka sebenarnya ingin membantah tetapi tidak berani, “Kalian tidak akan melawan perintah raja, bukan?” Dia lalu memutuskan untuk mengucapkan kalimat dengan selipan nada penuh ancaman, mengatakan secara tersirat bahwa jika keluarga itu tidak menyetujui, dirinya akan menggunakan cara paksaan.

Sang Ibu langsung membungkuk sekali lagi, memberi hormat instingnya mengatakan bahwa dia harus patuh demi melindungi anak-anaknya, “Ampun Yang Mulia, tentu saja kami tidak bisa melawan perintah raja.”

***

“Bangun sayang.”

Pipi Freya yang panas merasa ditepuk lembut oleh sentuhan tangan yang dikenalinya, menariknya dari tidur lelap yang menyenangkan. Freya membuka matanya lamat-lamat, mengerjapkan matanya beberapa kali untuk membuatnya terbiasa. Dia langsung bertatapan mata dengan ibunya dan mengerutkan keningnya bingung ketika menyadari dimana dirinya berada.

Kenapa dia berada di dalam kamar ibunya?

Ingatannya langsung kembali lagi ke tadi pagi, dan langsung menuju ke sosok mengerikan berambut hitam dan bermata biru  yang terus mendesak dan memaksanya dengan penuh ancaman.

Freya terkesiap, langsung mencoba bangun dan duduk mendadak hingga kepalanya langsung terasa pening. Dia mengaduh dan memegang kepalanya, membuat ibunya langsung memegang bahunya cemas,

“Pelan-pelan Freya.” Sang Ibu bergumam lembut, lalu mengambil bantal kecil untuk diletakkan di belakang punggung Freya dan membantunya duduk bersandar. “Ibu membawakan ramuan obat untukmu, untuk menurunkan demammu.”

Sebuah nampan diletakkan di atas pangkuan Freya, bersama semangkuk kecil ramuan obat kental yang berwarna hijau. Freya mengerutkan kening melihatnya, dia tahu bawa ramuan untuk menurunkan demam ini sedikit getir, karena itu Davoli selalu menangis dan menolak minum obat ini meski dipaksa ketika dia sedang demam,

Ramuan ini dibuat dari rebusan daun Centella, daun berwarna hijau tua berbentuk hampir seperti kipas melingkar yang biasanya mudah ditemukan dimanapun, di semak-semak, di pagar rumah dan di sekitar hutan. Daun itu sering juga disebut daun kaki kuda, karena bentuknya yang menyerupai tapal kuda, atau jejak kaki kuda. Daun ini meski tampak kecil dan mudah ditemukan, memiliki banyak sekali khasiat.  Sangat baik untuk menurunkan demam,  bersifat menyejukkan, menambah tenaga dan dapat menambah nafsu makan. Cara membuatnya raman inipun cukup sederhana, tinggal mencuci bersih satu  genggam daun centella segar, lalu rebus dengan dua gelas air hingga mendidih, dan biarkan cairan hingga tinggal tersisa sekitar satu mangkuk kecil.

Sang Ibu tersenyum melihat Freya mengerutkan kening, lalu membantu mengangkat mangkuk ramuan obat itu,

“Ayo minumlah, demammu masih tinggi sekali.”

Mau tak mau Freya menerima mangkuk itu, menangkupnya dengan dua telapak  tangan dan meneguknya meski harus menikmati rasa getir yang langsung membalur seluruh lidahnya.

Sang Ibu langsung menyodorkan air putih, membiarkanFreya meneguknya dengan cepat. Setelah menerima gelas Freya yang telah tandas dan meletakkan semuanya di meja samping ranjang, Sang Ibu duduk pelan-pelan di pinggiran ranjang, lalu bertanya dengan hati-hati,

“Freya… laki-laki yang menolongmu kemarin, apakah kamu tahu siapa dia?”

Freya mengerutkan keningnya, sedikit begidik ketika dia diingatkan akan laki-laki itu. Kenangan buruk di ladang gandum, ketika sosok laki-laki itu berdiri di balik bayangan gelap malam bersaput hujan membuatnya langsung merasakan dorongan memeluk diri sendiri sebagai pertahanan untuk melindungi diri, belum lagi serangannya, cekalan paksanya yang kasar dan ciumannya yang mengerikan.

Sang Ibu mengerutkan kening melihat ekspresi ketakutan yang tiba-tiba menyapu wajah Freya, dan dia bertanya lagi,

“Apakah Beliau melakukan sesuatu padamu?”

Bukan pertanyaan itu yang membuat Freya mengerutkan kening, tetapi bagaimana sang ibu memanggil lelaki mengerikan itu.

Beliau? Kenapa ibunya menyebut dengan begitu hormat, seolah-olah derajat lelaki itu jauh lebih tinggi dari mereka? Memang dia tahu dari cara berpakaian dan penampilannya, lelaki bermata biru itu mungkin orang kaya dan bangsawan, tetapi cara ibunya memanggil ini…

Suara gerakan di pintu membuat perhatian Freya dan ibunya teralihkan, mereka berdua menoleh bersamaan, dan langsung bertatapan dengan mata biru yang ada di benak mereka masing-masing.

Mata lelaki itu menatap mereka berdua berganti-ganti, lalu beralih ke arah Ibu Freya dengan tatapan tegas,

“Tinggalkan kami berdua.” perintahnya dingin, yang langsung membuat ibunya bangkit lalu membungkuk hormat seperti seorang hamba kepada tuannya, membuat Freya membelalakkan mata kaget.

Dia belum sempat bertanya apa-apa karena Sang Ibu langsung pergi meninggalkan ruangan, sementara pintu kemudian ditutup dan dia ditinggalkan berdua saja dengan lelaki itu.

Gerakan lelaki itu pelan, tetapi mengintimidasi ketika melangkah mendekati ranjang, mata birunya melirik ke arah mangkuk ramuan obat yang sudah kosong berikut gelas air yang juga tandas, dia lalu menatap lagi ke arah Freya,

“Dokter Istana akan datang sebentar lagi untuk memeriksamu, Katya.”

Dokter Istana? Apa maksudnya? Freya mengerutkan kening, memberanikan diri untuk berbicara,

“Apa maksudmu dengan dokter istana? Dan sekali lagi kukatakan, namaku Freya, bukan Katya, kau salah orang.”

Kalimat bantahannya membuat mata lelaki itu bersinar tajam, gerahamnya sedikit mengedut, sepertinya bantahan Freya membuatnya tidak suka.

“Begitukah caramu berbicara kepada rajamu? Apakah kau tidak pernah diajarkan tata krama oleh keluargamu?”

Freya ternganga, menatap lelaki di depannya dengan bingung, mencari seberkas canda di sana tetapi tidak menemukannya. Seketika itu juga pikirannya beralih kepada ibundanya yang tadi membungkuk hormat, pun dengan  sikap lelaki ini yang begitu angkuh dan menunjukkan status kebangsawanannya.

Raja Mereka? King Kafi? Dia tentu pernah mendengar bagaimana sepak terjang raja mereka yang suka berperang dan suka membunuh. Entah berapa nyawa habis ditangannya, dan yang paling mengerikan, desas desus yang tersebar adalah bahwa Sang Raja sangat suka meminum darah musuh-musuhnya.

Benarkah yang ada di depannya ini adalah King Kafi yang itu? Kalau melihat ciri-cirinya, berambut hitam dan bermata biru…

Wajah Freya yang sudah pucat karena demam  menjadi makin pucat ketika menyadari bahwa laki-laki yang berada di depannya ini tidak berbohong. Karena itulah ibunya menghormat, karena lelaki ini adalah King Kafi, raja mereka yang mengerikan di takuti. Freya langsung bangun dan turun dari ranjang, hendak berlutut sesuai aturan bagaimana rakyat jelata menghadapi rajanya, tetapi King Kafi melangkah maju dan menahan bahunya, membuatnya tidak bisa bergerak,

“Tidak.” gumam King Kafi tegas, “Tetap berbaring seperti itu sampai dokter kerajaanku datang dan memeriksamu.”

Freya meringis, melirik ke arah cengkeraman di bahunya. Di tubuhnya yang panas, dan bertolak belakang dengan cengkeramannya yang kasar, tangan lelaki ini terasa sedingin es, begitu menyejukkan dan terasa nyaman.

Mata King Kafi sendiri mengikuti arah pandangan Freya dan ada senyum tertahan di bibirnya, Sang Raja meraih dagu Freya, mendongakkan perempuan itu supaya menghadap ke arahnya,

“Kau tidak berubah Katyana.”

Freya mengerutkan kening, “Saya bukan Katya…”

Diam!” King Kafi menyela tegas, nampaknya sudah muak dengan bantahan Freya menyangkut namanya, cengkeramannya di dagu Freya makin keras, dan Sang Raja mendekatkan wajahnya hingga mata birunya nampak begitu dekat, pun dengan bibirnya yang panas, “Mulai sekarang namamu adalah Katyana. Tidak boleh ada yang memanggilmu dengan nama Freya lagi, pun dengan dirimu sendiri atau seluruh keluargamu, jika mereka memanggilmu dengan nama Freya aku akan menghukum mereka.”

Mata Freya membelalak mendengar perintah yang arogan itu, seketika dia memalingkan kepala, membuat tangan King Kafi yang mencengkeram dagunya terlepas dengan kasar, “Tidak mau!”

Freya berseru, membantah sekuat tenaga, dia memang selalu begitu, selalu terdorong membantah jika menemukan ketidakadilan di depan matanya. Baginya sikap King Kafi ini menunjukkan ketidak adilan, dan dia harus melawannya.

Sayangnya bantahannya itu membuat marah King Kafi yang tidak terbiasa dibantah, Sang Raja mencengkeram dagu Freya lagi, menariknya ke arahnya dengan paksa dan kasar hingga membuat Freya meringis kesakitan.

“Katyana!” Teriaknya, “Namamu adalah Katyana!”

Sedetik setelah berucap, bibirnya dengan impulsif menyambar bibir Freya, langsung melumatnya tanpa ampun, sama seperti malam kemarin di ladang gandum, lumatannya tanpa permisi dan tanpa tahu diri, merangsek masuk dan mencecap seluruh bibir Freya dan menikmati rasa panasnya yang menggoda.

Tubuh King Kafi naik ke atas ranjang, dan mendorong Freya supaya telentang di ranjang, dan lelaki itu bergerak mengikuti di atasnya, terus melanjutkan ciumannya tanpa mempedulikan ranjang sempit yang membuat tubuh mereka berdesakan dan ranjang itu berderit.

Freya mencoba meronta sekuat tenaga kedua tangannya berusaha mendorong pundak nan kokoh itu, pun dengan kakinya yang berusaha menendang, sayangnya tubuhnya lemah, ditambah lagi demamnya membuat pandangan matanya berkunang-kunang. Sementara itu, tubuh King Kafi yang dingin dan bibirnya yang sejuk malahan terasa menyenangkan dan menggoda Freya untuk menyerah.

Lelaki itu menciumnya dengan kasar pada awalnya, lalu berubah lembut diujungnya, seolah mencurahkan rasa rindu penuh kepedihan yang ditahannya selama ini.

“Kenapa kau meninggalkanku?” Kalimat pertama itu dibisikkan dengan nada pedih menusuk hati, segera setelah pertautan bibir mereka terlepas, Freya terkesiap, mencoba menatap mata itu, tetapi King Kafi menenggelamkan wajah di lehernya, berbisik dan mengecup di sana.

“Yang Mulia.”

Untuk kedua kalinya, kalimat mengganggu yang sudah sangat dikenal oleh King Kafi itu membuat tubuh King Kafi membeku, mata birunya langsung menyorot tajam ketika dia memalingkan kepala dan menatap ke arah Vigya yang nampak malu dan serba salah di depan pintu yang masih terbuka.

Freya sendiri langsung memekik karena malu, dia langsung mendorong tubuh King Kafi yang ada di atasnya, sebuah perjuangan tanpa hasil karena yang didorong memiliki tubuh kuat sekeras batu. King Kafi hanya menatap ke bawah, ke arah wajah Freya yang merah padam karena malu, lalu beralih lagi ke arah Vigya yang menunggu, tidak mau repot-repot mengubah posisi tubuhnya yang masih menindih Freya demi kesopanan.

“Sebaiknya apapun yang keluar dari mulutmu itu adalah hal penting Vigya, kalau tidak aku akan membunuhmu karena mengganggu kesibukanku yang sedang berusaha menyenangkan istriku.”

Kalimat vulgar itu diucapkan tanpa malu, tidak peduli bagaimana merahnya wajah Freya dan Vigya ketika sama-sama mendengarnya.

“Hamba hanya ingin memberitahukan bahwa kereta kuda sudah siap berangkat, Yang Mulia mengatakan bahwa saya harus segera memberitahukannya kepada anda…”

“Tahan.” King Kafi menyela, tidak berminat untuk mendengarkan kata-kata Vigya berikutnya, “Tutup pintu itu.” perintahnya, masih melemparkan tatapan mata tajam penuh ancaman.

Vigya terpaku, menatap ke arah Freya yang masih tak berdaya di bawah tindihan King Kafi, dan menyadari bahwa mata itu menatapnya dengan penuh permintaan tolong. Vigya menelan ludah, dia hanya seorang hamba, dan dia tidak mungkin menolong perempuan itu dari cengkeraman rajanya, rajanya tidak pernah begitu terobsesi dengan perempuan sebelumnya, dan mengganggu obsesi Sang Raja sama saja dengan bunuh diri.

Dengan tersenyum kecut tak berdaya  dan membungkuk memberi hormat, Vigya melangkah mundur dan menutup pintu.

***

Ditinggalkan sendirian, tahu bahwa tidak ada yang bisa menolongnya membuat Freya panik, dia menatap lelaki di atasnya yang sekarang nampaknya kembali tertarik kepadanya. King Kafi menunduk ke arahnya, menatapnya dengan senyum yang mengerikan, penuh dengan maksud yang dalam.

“Aku telah membuang banyak waktu, sepuluh tahun lamanya dengan melupakanmu. Sekarang setelah aku mendapatkanmu kembali Katyana, aku tidak akan melepaskanmu. Segera setelah kita sampai di kerajaanku, aku akan memilikimu.”

Freya menelengkan kepalanya dengan terpaksa ketika King Kafi menundukkan kepala lalu memberikan ciuman panas di lehernya. Tubuh lelaki itu begitu kuat di atasnya, menyelubungi dirinya dan membuatnya tak berdaya. Bibir lelaki itu berpadu dengan napasnya yang sejuk menghembus di leher Freya, memberikan kecupan-kecupan pelan penuh nafsu di sana yang membuat Freya mengerang, berusaha menggunakan jemarinya untuk mencengkeram pundak King Kafi dan mendorong bahunya yang kokoh.

“Jangan… jangan… saya mohon.” Freya mulai menangis, sebentuk tangisan yang sama sekali tidak dipedulikan oleh lelaki arogan yang sekarang berada di atasnya dan mencumbunya tanpa belas kasihan, menahan tangan dan tubuh Freya sehingga tidak bisa memberontak.

Ciuman demi ciuman didaratkan di seluruh permukaan kulit leher Freya, meninggalkan jejak kepemilikan di sana. Kepala King Kafi beranjak turun, lalu salah satu jemarinya bergerak dan menarik paksa gaun Freya hingga menuruni pundaknya, memperlihatkan pundak pucat rapuh yang telanjang.

King Kafi tersenyum puas ketika menemukan apa yang dicarinya. Sebuah tanda berbentuk kupu-kupu di pundak sebelah kanan Freya, sebuah tanda pasti yang menunjukkan bahwa Freya adalah benar-benar Katyana, isterinya, pengantinnya.

Dengan lembut King Kafi mendaratkan kecupan di tanda kupu-kupu itu, dan kemudian dia mengangkat kepalanya, bertumpu pada kedua lengan dan menatap Freya dengan tatapan mata birunya yang tajam. Salah satu jemarinya mengangkat kembali dagu Freya, tidak mempedulikan mata perempuan itu yang penuh dengan air mata,

“Istriku.” Ucapnya tegas, memperjelas tanda kepemilikannya, “Sepertinya aku berubah pikiran, aku tidak akan menunggu kita sampai di istana untuk memilikimu. Aku akan memilikimu sekarang, di sini, saat ini juga.”  King Kafi bergumam serak, lalu menundukkan kepala lagi dan mencium bibir Freya dengan penuh tekad.

Tekad yang tidak bisa dihentikan, didorong oleh kehendak iblis di dalam jiwanya, yang sudah tidak sabar untuk menunggu saatnya dibangkitkan.

Bersambung ke Part berikutnya


Bisbul adalah nama sejenis buah sekaligus tumbuhan penghasilnya. Tumbuhan ini berkerabat dengan kesemek dan kayu hitam.Nama ilmiahnya adalah Diospyros blancoi A. DC., namun sering disebut dengan nama yang tidak sah: D. discolor Willd. Nama-nama lainnya adalah buah mentega, buah lemak (bahasa Melayu, merujuk pada daging buahnya ketika masak),sembolo (Bahasa Jawa), kamagong, tabang atau mabolo (Tagalog, merujuk pada kulit buahnya yang berbulu halus), marit(Bahasa Thai), dan velvet apple (Inggris).

Pegagan (Centella asiatica) adalah tanaman liar yang banyak tumbuh di perkebunan, ladang, tepi jalan, serta pematang sawah. Tanaman ini berasal dari daerah Asia tropik, tersebar di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, India, Republik Rakyat Tiongkok, Jepang dan Australia, kemudian menyebar ke berbagai negara-negara lain. Nama yang biasa dikenal untuk tanaman ini selain pegagan adalah daun kaki kuda dan antanan.

 

1.707 Komentar

  1. Tuuh kan gak sabaran :mimisankarnamu
    Lagian kenapa gak bisa nunggu sampai d istana siiihh :bantingkursi

  2. Memperluas wawasan deh cerita2 di psa..love love

  3. jungsoopark01 menulis:

    :mimisankarnamu

    1. jungsoopark01 menulis:

      Freya mau di icip2 😊

  4. HikMaIyMmaExoL menulis:

    :yukbobocantik hmm

  5. Asiah Silita menulis:

    :mimisankarnamu

  6. HikMaIyMmaExoL menulis:

    Woow wooow woooww slow men 🤣🤣

  7. Sisca_samosir menulis:

    :mimisankarnamu

  8. gabygabriella999 menulis:

    Pegagan :NGAKAKGILAA

  9. Liat kuenya jadi pengen ngemil

  10. rika kurnia menulis:

    Ngeriiii tp menarik

  11. rizkyenggal menulis:

    :kisskiss

  12. Audry F. Dewi menulis:

    :luculuculucuih

  13. oviana safitri menulis:

    :mimisankarnamu

  14. Yuni Widaningsih menulis:

    Suka dengan nama Freya,dulu pernah punya cita cita kalo punya anak cewe mo di kasih mama Freya tapi pas udah lahiran malah lupa dikasih nama lain :DUKDUKDUK

  15. puuutttputri menulis:

    Aaye aye :kumenangismelepasmu

  16. Bangunnn donggg

  17. Baca ulang demi bisa ikutin lagi ceritanya. Hihi

    Btw, nemu sedikit typo.
    paragrap 16 “desar-desus=>desas-desus”
    Paragrap 22 ”
    Apakah aku harus minum darahnya, ibu?”=>Apakah aku harus minum darahnya, Ibu?”
    Paragrap 29 “Kafita=Kafija”
    anda=>Anda
    isteri=>istri
    bawa ramuan=>bahwa ramuan
    raman=>ramuan
    menghembus=>mengembus

Tinggalkan Balasan