pile-fresh-pineberries-white-background-31540954
The Girl Who Tamed The King

The Girl Who Tamed The King Part 4 : Pineberry Cheese Cake

Bookmark

No account yet? Register

1.469 votes, average: 1,00 out of 1 (1.469 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

pile-fresh-pineberries-white-background-31540954

Begitu Bibi Corma sampai di rumah, Sang Permaisuri langsung menceritakan semua yang terjadi kepada Kafija, terutama mengenai kata-kata Kafija kecil yang dirasuki iblis tadi, yang mengatakan bahwa iblis itu rela menunggu dan tertidur asal nanti bisa bangkit sepenuhnya dan menguasai tubuh Kafija.

Bibi Corma nampak berpikir keras lalu menghela napas panjang, “Iblis itu licik. Dia tahu kalau dia terus menerus berusaha menyerang Kafija dari dalam maka tidak akan ada gunanya dan malahan akan merusak tubuh Kafija yang sedianya akan dia rebut sebagai cangkangnya. Karena itulah dia memutuskan untuk tidur dan menanti saat yang tepat,” sudut mata Bibi Corma mengerut dengan serius, “Dia akan menggunakan segala cara untuk memiliki Katyana jika saatnya tiba nanti, karena itu ketika mereka berdua sudah cukup umur, kita harus memisahkan mereka berdua supaya tidak bisa bersatu.”

Dengan sedih Sang Permaisuri melirik ke arah Kafija yang masih pingsan, Katyana sendiri sekarang ada di sebelah ranjang, duduk dan menunggu dengan kebingungan karena tidak mengerti.

Tadi Sang Permaisuri membangunkannya untuk menyantap pie velvet apple yang sangat lezat, tetapi ketika dia mencari Kafija, Sang Permaisuri bilang bahwa Kafija sakit dan sedang beristirahat.

Mata hijau Katyana menatap ke arah Kafija yang tidur dengan kening berkerut, keringat tampak mengucur deras dari dahi dan badan Kafija, tidurnya sendiri tampak tidak nyenyak karena menahan sakit dan rasa panas yang membakar dari dalam dada

Hanya Sang Permaisuri dan Bibi Corma yang tahu bahwa Kafija sedang menahankan kesakitan yang disebabkan serangan iblis. Iblis itu sedang bersenang-senang sambil mencoba mengusik tubuh Kafija yang lemah untuk menunjukkan kuasanya.

Tubuh Kafija terasa dibakar dari dalam, sementara itu kondisi suhu tubuh luarnya  malah kebalikannya, tubuh itu jika disentuh akan terasa dingin sedingin es hingga bisa membuat manusia biasa berjingkat.

Sang Permaisuri mengusap air mata yang menitik di sudut matanya, “Kafija masih terlalu kecil untuk mengalami ini, aku takut tubuhnya tidak akan tahan mengalami deraan ini terus menerus. Iblis itu sepertinya sengaja, dia menginginkan darah Katyana untuk membantunya tidur sambil menunggu bangun di saat yang tepat.”

Bibi Corma menatap ke arah yang sama, di mana Kafija kecil terbaring dengan Katyana yang menungguinya. Alisnya berkerut ketika menyadari bahwa ikatan diantara dua mahkluk itu ternyata telah menyatu begitu kuatnya, bahkan ketika mereka masih kecil. Bagaimanapun juga kekuatan takdir telah menentukan, Katyana memang ditakdirkan untuk menyelamatkan Kafija.

“Kita harus mulai meminumkan darah Katyana secara rutin kepada Kafija, itu akan membius iblis itu, membuatnya tertidur dan tidak bangun. Setidaknya Kafija akan aman sampai nanti kita memikirkan cara untuk memisahkan keduanya tetapi tetap mendapatkan pasokan darah Katyana bagi Kafija. Kalau iblis itu tertidur, kita bisa lebih fokus menemukan cara untuk melawannya dan mencari jalan keluar lain yang lebih baik.” Bibi Corma menatap Sang Permaisuri dengan serius, hatinya entah kenapa ikut merasa sedih, Sang Permaisuri yang seharusnya hidup bergelimang harta, kemewahan dan kemudahan malahan harus merana dalam kehidupan sederhana, bersembunyi dalam pelarian di tengah hutan seperti ini.

“Aku akan melaksanakan upacara pernikahan sekarang. Seharusnya kemarin kita sudah melakukannya, tetapi kau menahanku, kenapa kau ragu wahai permaisuri?” Bibi Corma menyambung, menanyakan pertanyaan yang menggelayut di pundaknya sejak malam itu ketika Sang Permaisuri datang membawa Katyana dan meminta waktu kepada Bibi Corma sebelum dirinya melaksanakan upacara pernikahan Kafija dan Katyana.

Sang Permaisuri menghela napas panjang berkali-kali, “Hati nuraniku sebagai seorang ibu yang menahanku. Anak itu…” Sang Permaisuri mengedikkan dagunya ke arah Katyana kecil yang nampak begitu lugu dan polos, “Aku mengambilnya dari keluarganya dan meminumkan obat darimu untuk mengambil ingatannya. Ketika aku berpikir untuk mengambil darahnya demi Kafija, aku selalu berusaha membunuh rasa bersalahku dengan berpikir bahwa inilah yang seharusnya kulakukan sebagai seorang ibu demi anakku, demi Kafija. Tetapi kemudian rasa bersalah itu tetap datang dan memberikan pertanyaan kepadaku, bagaimana dengan ibu Katyana? Bagaimana dengan perasaan ibu kandung Katyana? Sekarang mungkin dia sedang menderita karena anaknya kurenggut demi kepentinganku…”

“Ibu Katyana bahkan tidak menyadari bahwa Katyana sudah hilang.” Bibi Corma menyela pelan lalu melanjutkan, “Pun dengan seluruh keluarganya, aku mencampurkan obat ke dalam keju yang mereka beli dariku, mereka bahkan tidak menyadari bahwa Katyana itu ada.”

“Tetapi tetap saja…” Sang Permaisuri meremas kedua tangannya, merasa semakin ragu.

“Kalau kau ingin menyelamatkan anakmu, maka kau harus menguatkan hatimu untuk melakukannya. Aku juga… sedikit banyak aku juga merasa bertanggung jawab, karena nenek moyangkulah yang menyematkan kutukan ini kepada keluarga Karskaralis. Dendam yang tak berkesudahan terbawa oleh kutukan turun temurun, padahal seharusnya bukan cara ini yang ditempuh oleh nenek moyangku dulu.” Bibir Corma berucap menyesal, lalu menepuk pundak Sang Permaisuri dengan lembut, “Aku akan menyiapkan upacara pernikahan, dan kau… kau harus siap untuk mengambil darah Katyana. Untuk saat ini, karena Kafija masih kecil, kita hanya membutuhkan setengah cawan kecil secara rutin untuk diminumkan setiap bulan sekali, apakah kau mampu melakukannya? Mengambil darah Katyana?”

Sang Permaisuri menatap Katyana dengan sedih meniupkan pertanyaan kepada dirinya sendiri. Mampukah dia menggoreskan pisau yang tajam dan mengambil darah Katyana tetes demi tetes demi menyelamatkan Kafija?

Sungguh kutukan ini benar-benar menghempaskan suratan takdir banyak orang, mempermainkan perasaan dan menghujamkan kepedihan. Dan dua mahkluk di depannya itulah yang menanggung semuanya, mereka masih begitu kecil, tetapi sudah dipermainkan oleh suratan takdir.

Sambil mengusap kembali air matanya, Sang Permaisuri menganggukkan kepala. Ya, tidak ada jalan lain, dia harus menghindari rasa bersalahnya dan menguatkan diri untuk mengambil darah Katyana demi menyelamatkan Kafija.

***

Katyana tidak mengerti apa yang terjadi, dia dimandikan dengan air bunga, lalu diberikan pakaian putih bersih yang bagus sekali. Setelah itu, Bibi Corma memintanya duduk di tepi ranjang, di sebelah Kafija yang masih terbaring tak sadarkan diri.

Mata bulat Katyana melirik ke arah Kafija yang masih tertidur dengan alis mengerut dan tubuh setengah menggigil. Anehnya meski menggigil, keringat terus bercucuran dari tubuh Kafija sedang dari bibirnya terus menerus keluar erangan kesakitan.

Kafija benar-benar sedang kesakitan.

Bibi Corma mengatakan bahwa mereka akan mengadakan upacara untuk menyembuhkan Kafija dan mereka membutuhkan Katyana untuk melengkapi upacara itu. Katyana menurut dengan senang hati, karena meskipun dia baru saja bertemu dengan Kafija, dia merasa yakin bahwa dia menyayanginya.

Di perjalanan pulang memetik buah velvet apple tadi, mereka bergandengan tangan dan Kafija mengajarkannya lagu pengantar tidur yang indah, membuatnya bersenandung terus dan terus sepanjang hari. Kafija, Ibunda dan Bibi Corma, semuanya orang baik dan menyayangi Katyana, jadi jika mereka membutuhkan bantuan Katyana, dengan senang hati Katyana akan memberikannya.

Bibi Corma mengikatkan tali berwarna merah di kelingking Katyana, dan kemudian menyatukan ikatan itu ke kelingking Kafija, diucapkannya doa kepada Sang Pemilik Semesta yang dipuja oleh seluruh penduduk kerajaan Milaya, merapalkan doa upacara pernikahan. Kemudian setelah beberapa doa dan beberapa ritual, ikatan itu dilepaskan dan Bibi Corma menolehkan kepala ke arah Sang Permaisuri yang sedari tadi menunggu dengan wajah pucat pasi,

“Mereka sudah menjadi suami istri,” gumam Bibi Corma tenang, “Sekarang giliranmu melakukan tugasmu.”

Sang Permaisuri menganggukkan kepala, dia lalu melangkah ke depan sementara Bibi Corma melangkah keluar, sepertinya hendak membuat beberapa ramuan obat yang diperlukan. Sang Permaisuri duduk di tepi ranjang, menatap Katyana dengan lembut.

“Katyana, anakku. Sekarang kau sudah menjadi istri Kafija. Kau hadir di sini untuk menyelamatkan jiwa Kafija, kau lihat bukan bahwa Kafija sekarang begitu menderita?” Sang Permaisuri melirik ke arah tubuh Kafija, dan Katyana mengikuti pandangan matanya, “Hanya kau yang bisa membantu menyembuhkan Kafija, apakah kau bersedia?”

Katyana menganggukkan kepala, “Ya, aku bersedia ibu.” Jawabnya lirih, berbalut kepolosan dan ketulusan anak-anak yang tiada tandingannya.

Sang Permaisuri mengerutkan kening, menghela napas panjang ketika dadanya terasa sesak, “Untuk menyelamatkan Kafija, kami membutuhkan darahmu, kalau Kafija meminum darahmu dia akan sembuh.”

Mata Katyana membelalak kebingungan, “Apakah aku akan mati kalau darahku diambil untuk diminum, ibu?”

Sang Permaisuri menggelengkan kepala, “Tidak Katyana, kami hanya akan mengambil sedikit, hanya satu kali setiap bulannya sudah cukup… tapi proses mengambilnya akan sedikit menyakitkan, aku harus melukaimu… apakah kau siap?”

Katyana mengerutkan kening lama, lalu dia menoleh ke arah Kafija, melihat betapa menderitanya Kafija dan kemudian memutuskan dengan mantap. “Aku siap ibu.”

Air mata menetes lagi dari sudut mata Sang Permaisuri melihat ketegaran dan kebaikan hati Katyana. Dengan penuh perasaan, dipeluknya tubuh Katyana yang kurus, dan diangkatnya ke pangkuannya, bibirnya tak henti-hentinya mengucapkan terimakasih,

“Terima kasih Katyana, terima kasih… dan maafkan ibu karena harus melakukan ini kepadamu.” Sang Permaisuri berbisik di antara air matanya.

Lalu pisau itu dikeluarkan, sebuah pisau kecil dan ramping yang berkilat menunjukkan betapa tajamnya mata pisaunya.

Rasa takut langsung menyeruak di benak Katyana, menyadari bahwa dia akan dilukai dan merasa sakit, tetapi dia menahan diri dan menggigit bibirnya. Tak lama kemudian, ketika ujung pisau itu menggores kulit kanak-kanaknya yang lembut, Katyana mengaduh pelan ketika merasakan rasa pedih yang menyengat di tangannya. Darah merah menetes pelan, menjatuhkan diri ke dalam cawan kecil yang telah disiapkan, sementara Katyana mengerutkan kening menahan sakit, sambil mendongakkan kepala ke langit-langit.

Dia tidak mau melihat darahnya sendiri, itu mengerikan.

Sang Permaisuri sendiri telah diajarkan Bibi Corma mengambil darah di tempat yang paling aman, dan paling cepat mengeluarkan darah, tetapi tidak sampai mengenai titik berbahaya. Jemarinya bergetar ketika mengiriskan pisau ke kulit Katyana, dan masih terus begitu sampai tetes-tetes darah itu memenuhi setengah cawan.

“Sudah cukup.” Bibi Corma yang masuk sambil membawa ramuan berupa tumbukan daun berwarna hijau pekat, berucap pelan ketika melirik ke arah cawan kecil itu. Sang Permaisuri langsung mengangkat tangan Katyana yang masih pasrah dalam diamnya, lalu mendudukkan Katyana lagi di tepi ranjang, mengecup dahi Katyana dengan pelan,

“Terimakasih anakku.” bisik Sang Permaisuri dengan penuh perasaan. Katyana hanya mengangguk pelan, mengerutkan kening karena rasa perih dan ngeri yang makin menjadi, dia menghembuskan napas berkali-kali, ketika menyadari kepalanya mulai berdentum dan kegelapan seakan hendak datang menghampirinya.

Obat-diare-herbal

“Tahan, anak pemberani.” Bibi Corma bergumam lembut, mengambil tangan Katyana, lalu menempelkan ramuan obat yang berasal dari tumbukan daun hijau piper yang memang digunakan untuk mengobati luka. Tumbukan daun itu terasa sejuk di pergelangan tangan Katyana, “Ini akan menghentikan pendarahanmu.” dengan hati-hati Bibi Corma mengikat luka yang sudah tertutup daun piper hijau itu dengan kain dan membebatnya dengan rapi.

Setelah itu Bibi Corma menatap ke arah Katyana dan mengusap rambutnya dengan sayang, “Bagaimana perasaanmu?”

Katyana menatap tangannya yang sudah dibebat kain, ramuan tumbukan daun itu membuat lukanya tidak terasa sakit karena menciptakan kesejukan yang menutup rasa nyeri ketika ditempelkan di sana, “Aku tidak apa-apa, aku akan sembuh kan?” matanya yang lebar menatap ke arah Bibi Corma dengan rasa percaya.

“Tentu saja.” Bibi Corma mengangkat Katyana dengan lembut ke atas gendongannya, “Dan Kafija juga akan sembuh karenamu. Ayo, sekarang kau harus minum jus herbal penambah darah buatanku, rasanya manis kau pasti akan menyukainya. Setelah itu kau harus beristirahat Katyana, semakin banyak kau beristirahat, akan semakin cepat pulih lukamu.”

Lalu setelah mengangguk kepada Sang Permaisuri yang masih sibuk mengusap air matanya, Bibi Corma membawa Katyana keluar ruangan.

***

Rasanya panas, panas yang membakar dari dalam dirinya, sementara pertahanan tubuhnya berusaha melawan rasa panas itu dengan menurunkan suhu tubuhnya, membuat kulit dan seluruh bagian dirinya menjadi dingin, dingin sedingin es.

Pertarungan antara rasa panas dan dingin itu membuatnya merasa sakit. Kafija mengerang pelan dan tidak tahan lagi, dia sudah hampir kehabisan napas sementara iblis di dalam dirinya malahan berpesta pora dan bermain api, semakin membesarkan kobaran panas menyengat dari dalam dadanya untuk melawan hawa dingin yang diciptakan oleh tubuh Kafija sebagai perlindungan alaminya.

Dalam ketidaksadarannya itu, dia merasakan bahunya diguncang dengan lembut, lalu terdengar suara ibundanya berbisik lembut menyusul guncangan itu.

“Apakah kau mendengarku Kafija? Bukalah matamu…”

Kafija mendengar suara ibundanya, tetapi untuk membuka mata terasa amat sulit. Dirinya serasa ditenggelamkan ke  dalam lautan hitam yang gelap. Ada titik cahaya di ujung sana, dan setiap Kafija berusaha menyelam ke atas untuk mencapai titik cahaya itu, Iblis jahat yang ada di dalam dirinya mendekat lalu menarik kakinya supaya tetap tenggelam di bawah.

“Buka matamu anakku, lawan iblis itu.” Suara ibundanya terdengar lagi, memberinya kekuatan dan dorongan. Kafija meronta sekuat tenaga, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman iblis jahat itu dan akhirnya di suatu titik dia berhasil menendang, lalu mengangkat tubuhnya sekuat tenaga untuk menyelam ke atas, menuju titik cahaya yang telah menantinya.

Dia membuka mata, dan mendapati ibunya sedang duduk di samping ranjang, menatapnya sedih.

“Ibunda…” Kafija bergumam lemah, merasa bersalah karena telah menciptakan kesedihan itu di mata ibundanya.

Sang Ibunda tersenyum, lalu menyodorkan cawan kecil untuknya, “Minumlah, ini obatmu.” bisiknya pelan.

Kafija berusaha mengangkat tubuhnya supaya setengah terduduk, kesakitan dan panas membakar masih menyerang di dalam dirinya, membuatnya mengerang ketika bergerak. Mata birunya yang tajam menatap ke arah cawan itu dan mengerutkan keningnya ketika menyadari bahwa cairan merah yang memenuhi setengah cawan itu adalah darah. Darah yang masih segar.

“Ini darah…” bisiknya pelan, lalu menatap ibunya dengan tatapan ngeri, “Apakah ini darah Katyana?” serunya terkejut.

Sang Ibu mengangguk, penuh dengan rasa bersalah, “Kami tidak punya cara lain, Kafija. Hanya darah Katyanalah yang bisa membuat iblis di dalam dirimu tertidur.”

Kafija melirik ke arah pintu seolah dengan begitu dia bisa melihat keluar dan menemukan Katyana, kecemasan langsung menjalari dirinya.

Apakah ibunya melukai Katyana? Bagaimana kondisi Katyana sekarang? Apa yang terjadi pada Katyana? Apakah Katyana kesakitan ketika darahnya diambil?

“Katyana tidak apa-apa, dia sedang beristirahat ditemani Bibi Corma. Ibu berusaha selembut mungkin dan segera setelahnya Bibi Corma langsung menutup lukanya dengan ramuan obat kemudian membalutnya rapat. Katyana sendiri… dia senang karena bisa menyelamatkanmu dengan darahnya ini.”

Kafija mengusap keringat yang bercucuran di dahinya, benaknya berpendar penuh rasa bersalah dan kesedihan mendalam, menyadari bahwa semua yang terjadi ini karena dirinya. Karena dirinyalah Katyana harus terluka, dan juga karena dirinyalah Ibundanya harus menempuh segala cara untuk menyelamatkannya.

“Minumlah, iblis itu akan tertidur dengan segera.” Sang Permaisuri menyodorkan kembali cawan berisi darah Katyana dengan hati-hati.

Dan kali ini, meski dipenuhi rasa jijik dan tidak suka karena harus meminum darah, Kafija tidak membantah.

Ibundanya dan Katyana telah berkorban untuknya. Kafija tidak akan menyia-nyiakan pengorbanan mereka.

***

Pineberry-plant

Ketika pagi hari menjelang, Kafija terbangun dengan tubuh yang luar biasa segar. Dia mengerjapkan mata, sedikit bingung dengan rasa yang tidak pernah dirasakannya sebelumnya.

Biasanya, meskipun iblis itu sedang tidak menyerangnya, Kafija tetap merasakan rasa panas membakar di dada, yang membuat tubuhnya otomatis bersuhu dingin untuk mengisolasi rasa panas itu supaya tidak menyebar.

Tetapi sekarang rasa panas di dada itu hilang, dadanya terasa begitu lega… dan nyaman. 

Lamunan Kafija terhenti ketika pintu kamarnya terbuka, dan Katyana berlari-lari kecil memasuki kamar dengan keranjang rotan kosong di tangannya,

“Ibu bilang aku boleh membangunkanmu. Ayo, kita harus memetik buah pineberry, ibu akan membuat kue keju pineberry untuk sarapan kita.”

Katyana berseru dengan bersemangat, anak itu sepertinya habis mandi dan pakaiannya bersih. Rambut merahnya meriap-riap di sekeliling wajahnya, sementara pipinya memerah karena bersemangat.

Kafija mengamati Katyana dan mengerutkan kening ketika melihat perban yang membalut tangan Katyana. Dia langsung duduk di ranjang, mengambil tangan Katyana yang duduk di tepi ranjang,

“Apakah ini sakit?” Tanyanya hati-hati penuh rasa bersalah.

Tetapi Katyana malah tersenyum lebar, “Sudah tidak sakit lagi. Bibi Corma hebat!” Serunya sambil tertawa, lalu meloncat turun dari ranjang,”Ayo kita ke hutan, kata ibu di hutan sedang banyak buah pineberry matang yang siap dipetik!” ajaknya ceria, membuat Kafija tersenyum masam dan mau tak mau turun dari ranjang mengikuti Katyana.

***

Mereka membawa pulang sekeranjang penuh buah pineberry, buah itu tumbuh di semak-semak hutan dan berbuah sangat banyak di musim sekarang ini.

Buah pineberry berbentuk kecil, bisa digenggam dengan telapak tangan mungil Katyana, berwarna pucat hampir putih dengan biji buah merah yang bertebaran bagaikan bintik-bintik di kulit buahnya.

Mereka menembus hutan dan langsung menemukan semak-semak pineberry yang berbuah ranum, lalu memilih buah yang benar-benar matang dan berbau harum karena yang masih muda biasanya rasanya sangat masam. Kafija meminta Katyana mencicipi tadi, dan Katyana sangat menyukai rasanya, buah itu manis asam, memiliki keharuman khas dan berair banyak. Rasa buah pineberry memang  sangat nikmat dan membasuh lidah siapapun yang mengunyahnya.

Kafija dan Katyana berjalan bergandengan tangan lagi dalam perjalanan pulang, menyusuri jalan setapak kecil hutan menuju rumah kayu mereka. Kali ini celoteh Katyana yang ceria, mengomentari segala sesuatu tentang hutan, tentang matahari bahkan tentang udara pagi mampu membuat Kafija tersenyum dan menceriakan harinya.

Seperti kemarin, ketika memasuki rumah mereka langsung menuju dapur dan meletakkan sekeranjang penuh buah yang berhasil mereka petik di meja dapur. Kafija kemudian mengangkat Katyana supaya duduk di kursi dapur yang tinggi dan dirinya sendiri pun duduk di sebelahnya.

Sang Permaisuri mengamati Kafija yang tampak begitu segar dan tidak pucat lagi, lalu menoleh ke arah Katyana yang nampak begitu ceria  seolah-olah luka yang kemarin bukan menjadi masalah besar untuknya. Senyum lega langsung muncul di bibir Sang Permaisuri dan dia mengulurkan kedua tangannya, mengacak rambut Kafija dan Katyana bersamaan.

“Kalian duduk manis di situ, Ibu akan membuat kue krim keju yang sangat lezat untuk sarapan kalian.”

Pada saat bersamaan, Bibi Corma datang, membawa semangkuk keju krim Kaze yang segar dan kental buatannya, susu kental yang baru diperah pagi itu, berserta mentega krems yang baru jadi. Setelah meletakkan semua bahan yang diperlukan di atas meja, Bibi Corma bergumam sambil lalu akan pergi untuk memetik sayuran di belakang rumah.

Sang Permaisuri tersenyum menerima bahan-bahan yang diperlukannya itu lalu segera bersiap untuk memasak, karena menyadari bahwa dua anak kecil yang duduk di belakangnya sepertinya telah kelaparan dan menunggu sarapan dengan tidak sabar.

Sang Permaisuri mencampurkan krim keju kental dengan susu segar dan mentega krems di dalam panci dan meletakkannya di atas api kecil, diaduknya pelan dan hati-hati, menunggu semua bahan tercampur rata dan mendidih. Segera setelah buih pertanda mendidih muncul, Sang Permaisuri mengangkat panci tanah liatnya dan meletakkannya di atas meja untuk mendinginkannya.

Sang Permaisuri lalu mengambil tepung gandum, sedikit tepung jagung dan mengaduknya sampai rata, dia memecahkan telur burung calis dan mengambil kuning telurnya saja sebelum kemudian dikocoknya sampai merata. Hasil kocokan kuning telur itu dicampurkan ke adonan tepung itu berserta beberapa tetes perasan lemon. Adonan tepung itu kemudian dicampurkannya ke panci berisi adonan pertama yang telah dingin, diaduknya dengan rata dan hati-hati hingga tidak ada gumpalan berarti.

Setelah itu Sang Permaisuri mengocok sisa putih telur dan menambahkan sedikit gula hijau skar, hanya sedikit karena dia takut warna hijau gula skar yang pekat akan mengubah warna kuenya dan membuat penampilannya tidak bagus.

Dikocoknya campuran putih telur dan gula sampai mengembang dan berbusa, lalu dicampurkannya ke dalam panci. Sang Permaisuri mengaduk kembali seluruh bahan yang kini sudah tercampur rata di panci, hingga membentuk adonan kental mulus berwarna kuning yang harum dan menggiurkan.

Sang Permaisuri lalu menuang adonan itu ke loyang yang telah disiapkannya, meletakkan loyang itu ke dalam loyang lain yang lebih besar, lalu mengisikan air di sekeliling loyang yang sudah berisi adonan, dan memasukkannya ke oven tembikar yang sudah dipanaskannya.

“Akan membutuhkan waktu satu jam lebih sampai kue keju ini matang, bagaimana kalau kalian membantu Bibi Corma memetik sayuran di belakang?” Sang Permaisuri melepaskan celemeknya dan melipatnya, “Ibu akan membuatkan sup sayuran segar untuk makan siang kalian nanti.”

Kafija menganggukkan kepala patuh, dia lalu turun dari kursi tingginya dan membantu Katyana dengan hati-hati turun dari kursinya. Setelah itu mereka berdua bergandengan menuju pintu belakang, yang mengarah langsung kebun sayuran kecil yang diolah oleh Bibi Corma.

***

Satu setengah jam berlalu ketika Kafija, Katyana dan Bibi Corma memasuki rumah sambil membawa sekeranjang penuh sayur-sayuran berbagai warna yang siap untuk diolah.

Sementara itu, aroma harum kue keju yang telah matang menguar di seluruh ruangan. Sang Permaisuri telah mengeluarkannya dari oven dan membiarkan suhu udaranya mendingin, dan sekarang sedang sibuk mengocok krim keju, susu dan mentega krems sampai memutih untuk hiasan krim di atas kue keju tersebut.

Setelah hiasan krimnya jadi, Sang Permaisuri mengoleskannya di atas kue keju dan meletakkan buah pineberry segar di atas kue itu, membuat penampilan kue keju pineberry itu menjadi cantik menggiurkan.

Sang Permaisuri menengadahkan kepala dan tersenyum lebar, “Ayo cuci tangan kalian dan sarapan.” ajaknya riang.

pineberry

Kafija dan Katyana langsung berlari tidak sabar untuk mencuci tangannya, dan mereka kembali dengan wajah penuh harap sambil menunggu di depan meja dapur. Sementara Bibi Corma yang meletakkan sayuran yang dipanennya di dekat tungku memasak hanya melempar senyum ke arah Sang Permaisuri melihat tingkah dua anak kecil itu.

Mereka lalu duduk bersama, mengelilingi meja dapur yang sempit dan melahap kue keju lezat yang sangat membahagiakan lidah. Mereka benar-benar seperti satu keluarga bahagia saat ini, berbagi kehangatan dalam kenikmatan sepotong kue keju nan lezat dan menghangatkan hati.

Kafija menelan suapan besar dan meminta tambah lagi ketika potongan kue kejunya habis. Tubuhnya yang terasa enak berimbas kepada nafsu makannya.

Rasa manis inilah yang dulu menjadi satu-satunya pengalih perhatian terhadap rasa sakit di tubuhnya. Kini rasa manis itu menjadi lebih nikmat lagi dengan hilangnya rasa panas yang mengganggu di dadanya.

Sang Permaisuri sendiri tersenyum simpul melihat nafsu makan Kafija dan mensyukurinya. Ketika iblis itu sedang bergolak, anaknya itu hanya mau makan-makanan manis, sementara makanan yang lain hanya disentuhnya sedikit, karena itulah Kafija termasuk anak yang kurus untuk ukuran anak seumurannya. Tetapi kalau nafsu makan Kafija bisa membaik seperti ini, mudah-mudahan Kafija bisa mengejar ketertinggalannya dan mencapai berat badan seperti anak normal.

Mata Sang Permaisuri beralih ke arah Katyana yang juga memakan kuenya dengan lahap, seolah tidak mau kalah dengan kecepatan maka Kafija. Katyana memakan dalam suapan besar, membuat mulut dan pipinya belepotan krim berwarna putih. Ketika Katyana berhasil menghabiskan potongan kuenya, dengan penuh tekad anak itu menyodorkan piring kosongnya ke arah Sang Permaisuri dan menatap penuh harap,

“Tambah lagi.” Pintanya dengan mulut yang masih penuh.

Sang Permaisuri tertawa, disusul Kafija sementara Bibi Corma hanya tersenyum simpul melihat kelucuan Katyana. Dengan senang Sang Permasuri mengisikan kembali ke piring Katyana potongan kue keju yang lembut dan lumer di mulut, berhias krim kental harum dan berpadu dengan manis asam buah pineberry yang lezat.

Katyana menerima kuenya dengan senang hati dan menyantapnya dengan lahap. Sementara itu Kafija yang sudah menyelesaikan potongan kue keduanya, tersenyum lembut sambil menatap ke arah Katyana.

Hal itu tidak luput dari pandangan Sang Permaisuri, dia tersenyum dan menarik perhatian Kafija,

“Katyana sudah menyelamatkanmu, anakku. Maka perlakukanlah dia dengan baik…” nasehatnya pelan dan penuh kasih.

***

Katyana sudah menyelamatkanmu, anakku. Maka perlakukanlah dia dengan baik.

Kata-kata itu terngiang tiba-tiba, begitu keras seolah dibisikkan langsung ke telinganya. Membuat mata biru Kafija mengerjap dan dirinya tertegun.

Sang Raja menunduk, menatap ke arah Katyana yang sedang menangis di bawah paksaannya, dan merasakan jantungnya seperti ditohok dengan kencang hingga terasa sakit.

Maka perlakukanlah dia dengan baik

Rasa bersalah yang pekat langsung memenuhi benak King Kafi. Pesan ibundanya supaya dirinya memperlakukan Katyana dengan baik telah dilanggarnya, jelas-jelas sekarang Katyana menangis karena perlakuan kasarnya.

Gairah akibat dorongan dari iblis yang setengah bangun dari dalam jiwanya hampir saja menguasainya, entah apa yang diinginkan oleh iblis itu karena sepertinya setiap dirinya berdekatan dengan Katyana, sang iblis membuat jiwanya bergolak oleh dorongan penuh hasrat untuk memiliki perempuan ini entah dengan sukarela, entah dengan cara memaksa.

Dorongan untuk memiliki Katyana begitu kuat hingga membuatnya lupa diri dan hampir menyerah ke dalam pengaruh Iblis jahat di dalam jiwanya.

Tetapi Kafija tahu bahwa perempuan tidak bisa dimiliki dengan cara paksaan. Mereka adalah mahkluk lembut yang harus dibujuk supaya menyerahkan dirinya dengan sukarela, mahkluk lembut yang jika dipaksa maka akan hancur berantakan.

Sambil menghela napas panjang Kafija berusaha meredakan hasratnya, mendinginkan gairahnya. Dia menghembuskan napasnya pelan setelah berhasil menguasai dirinya.

Dengan lembut, jemarinya bergerak, menyentuh air mata yang mengalir di pipi Katyana, membuat perempuan itu terkesiap ketakutan, lalu mengusap air mata yang berderai itu dengan hati-hati.

“Maafkan aku.” King Kafi bangkit dari posisinya menindih Katyana dan dirinya bergerak duduk di atas ranjang, jemarinya menyentuh lembut dan menaikkan kembali gaun Katyana yang diturunkan sampai ke lengan. Kemudian, dengan gerakan cepat dan kuat, dia mengambil tubuh Katyana yang gemetar ketakutan lalu meletakkan tubuh itu ke pangkuannya. Dipeluknya tubuh perempuan itu erat-erat dan dikecupnya dahinya dengan sayang.

“Maafkan aku istriku. Aku berjanji akan memperlakukanmu dengan baik setelah ini.” bisiknya lembut, sementara jemarinya menyelip di antara jemari Katyana yang terlipat rapuh.

Kafija membawa jemari mereka yang bertautan ke bibirnya, lalu mengecup sisi jari Katyana, memaksa mata hijau Katyana mendongak ke arahnya dan membuat mereka berdua bertatapan,

***

Freya mengerutkan kening, merasakan kelegaan membanjiri seluruh dirinya ketika menyadari bahwa King Kafi sudah berubah pikiran dari hasratnya semula untuk memiliki Katyana dengan paksa. Dia merasakan bibir dingin itu mengecup jemarinya yang panas, dan dengan takut-takut mendongakkan kepala.

Dahinya mengerut ketika menyadari mata biru itu menatapnya lembut dan penuh kasih, berbeda dengan tatapan penuh nafsu yang dilemparkan Sang Raja tadi kepadanya.

“Ketika ingatanmu nanti sudah kembali, kau akan menyadari bahwa aku tidak semenakutkan yang kau kira.” King Kafi berucap pelan, dengan bibir yang masih menempel ke jari Freya, membisikkan sebuah janji yang akan berusaha ditepatinya dengan penuh tekad.

Freya berusaha menarik jarinya, tetapi King Kafi menahan tangannya. Pun ketika Freya berusaha turun dari pangkuan King Kafi, merasa tak nyaman dengan posisi mereka yang begitu dekat dan intim, Sang Raja juga menahan tubuhnya dengan sebelah lengannya yang kuat.

“Jangan meronta.” King Kafi bergumam lembut meski sarat dengan peringatan, “Kita harus berbicara.”

Berbicara. Freya mengerutkan kening semakin dalam.

Ya, itulah yang harus mereka lakukan sekarang, banyak hal yang tidak dimengertinya dan banyak hal yang ingin Freya tanyakan. Tetapi tentu saja tidak dalam posisi intim seperti ini bukan? Mereka bisa berbicara sambil duduk berhadapan di atas kursi dengan meja yang membentang di antara mereka misalnya…

Freya meronta lagi, tetapi kali ini cengkeraman King Kafi makin menguat, membuat Freya meringis.

“Jangan paksa aku menyakitimu, Katyana.” King Kafi mendesis, menyebutkan nama asing yang dipaksakannya itu dengan kasar, “Aku ingin kau mendengarkan kisahku supaya kau mengerti posisimu.”

Freya menatap King Kafi dengan tatapan mata penuh tanya, air matanya hampir kering, menyisakan isakan pelan yang hanya bisa diredakan dengan hembusan napasnya,

“Kenapa Yang Mulia melakukan ini semua kepada saya?”

Sebutan “Yang Mulia” mau tak mau membuat bibir King Kafi mengulaskan senyum tipis. Freya sepertinya menyimpan tata krama santun di dalam benaknya, hingga dalam posisi seperti inipun dia tetap tak lupa bersikap hormat kepada rajanya.

“Karena kau adalah istriku yang direnggut dariku dan kehilangan ingatan akan kebersamaan kita.”

Sekali lagi Freya mengerutkan kening mendengarkan penjelasan yang tak masuk akal, penjelasan yang memang sudah beberapa kali dipaksakan oleh Sang Raja.

Logikanya menolak untuk percaya, karena dia memiliki ingatan kuat yang terjalin rapi mengenai kebersamaannya dengan keluarganya, dan dia yakin sekali bahwa tidak ada satupun ingatan mengenai Sang Raja, apalagi sampai menikah dan menjadi istri King Kafi.

“Mungkinkah Anda salah mengira saya dengan orang lain?” Pelan dan hati-hati, Freya mengajukan pertanyaan yang sama, takut kalau pertanyaan itu akan membuat King Kafi meledak dan menyerangnya lagi seperti sebelumnya.

King Kafi tersenyum masam, sementara jemarinya bergerak, menurunkan sisi gaun Freya kembali, membuat Freya gemetaran karena takut.

Ujung jari King Kafi menelusuri tanda lahir kupu-kupu di pundak Freya dan mengetuknya lembut,

“Aku tidak mungkin salah dengan perempuan lain. Hanya Katyana yang memiliki tanda lahir ini di pundaknya.”

Freya menoleh ke samping, ke arah tanda lahirnya dan mengerutkan kening. Dia memang tahu bahwa diirnya memiliki tanda lahir berbentuk mirip kupu-kupu itu, tetapi dirinya sama sekali tidak menganggap tanda lahir itu istimewa.

“Tanda ini berarti bahwa kau adalah pengantinku, dan juga pengantin sesuatu yang ada di dalam diriku. Dia, yang ada di dalam diriku, menyukai kupu-kupu karena itu melambangkan dirinya. Kupu-kupu dan kepompong, itu berarti sesuatu yang buruk akan bangkit setelah bersembunyi di dalam kepompong… diriku ini hanyalah kepompong baginya, pembungkusnya ketika menunggu dirinya bangkit.” King Kafi berucap pelan, menjelaskan dengan kalimat kiasan yang membuat Freya mengerutkan kening.

“Saya tidak mengerti maksud Anda.” ucap Freya hati-hati meminta penjelasan.

“Ada iblis yang tinggal di dalam diriku, kutukan turun temurun kerajaan yang harus kutanggung sebagai putera mahkota pewaris darah Karskaralis.” King Kafi menjelaskan dengan gamblang, tidak berbasa-basi.

“Iblis?” Freya terkesiap, melemparkan pandangan tidak percaya yang hanya ditanggapi King Kafi dengan seulas senyum getir.

Ya, iblis. Aku harus meminum darah untuk menidurkannya, tetapi dia hanya setengah tertidur karena darah yang kuminum bukanlah penawar yang sesungguhnya. Dia menjadi setengah diriku, mempengaruhi sifatku dan memangsa kebaikan hatiku.”

Ingatan tentang Sang Raja yang suka meminum darah itu membuat Freya begidik ngeri. Tidak bisa dibayangkannya seorang manusia yang bisa meminum darah manusia lainnya. Yang bisa melakukan itu pasti manusia yang sangat kejam, dan mungkin perkataan King Kafi benar adanya, hanya manusia yang dirasuki iblislah yang mampu meminum darah sesamanya tanpa belas kasihan.

“Kenapa Anda tidak mencari penawar yang sesungguhnya?” Sekali lagi Freya memberanikan diri bertanya, entah kenapa dengan tatapan lembut di mata birunya, King Kafi tidak terasa menakutkan seperti tadi.

Mata biru itu menyipit, menatap Freya dalam senyum tipis yang entah kenapa membuat bulu kuduk Freya berdiri, lelaki itu kembali mengecup jemari Freya dengan bibirnya yang dingin sementara matanya melemparkan tatapan intens penuh arti.

“Karena kau.” King Kafi mengecup jemari Freya lagi, “Adalah penawarku. Hanya darahmulah yang bisa membuat iblis ini tertidur sepenuhnya dan tidak bisa menggangguku.”

Seketika itu juga Freya terkesiap dalam ketakutan yang amat sangat, dia meronta sekuat tenaga, mencoba melepaskan diri karena didorong insting kuat untuk menyelamatkan nyawanya.

Jadi ini sebabnya kenapa dirinya diperlakukan seperti ini. Ini rupanya tujuan King Kafi, King Kafi akan meminum darahnya! Lelaki itu akan menyedot darahnya sampai habis dan tubuhnya kekeringan, sama seperti desas desus mengerikan yang menyebar ke seluruh penduduk kerajaan, bahwa raja mereka yang kejam suka membunuh musuh-musuhnya dengan keji dan meminum darahnya sampai kering!

“Hei.” King Kafi berucap, menahan tubuh Freya dengan mudah karena kekuatan kedua lengannya yang kuat, “Berhenti meronta. Aku bukannya akan membunuhmu.”

“Lepaskan saya!” Freya menjerit, ketakutan melandanya hingga membuat napasnya terengah ketika berusaha melepaskan diri, “Jangan minum darah saya!” serunya memohon disertai sinar ngeri yang menguar dari kedua mata hijaunya.

King Kafi menipiskan bibir, lalu memeluk Freya erat-erat, menahankan semua rontaan Freya tanpa bersuara, menunggu sampai sikap histeris Freya melemah dan berakhir dengan tubuh lemas gemetaran dan napas tersengal kelelahan.

“Aku belum berencana meminum darahmu dalam waktu dekat, iblis itu tidak begitu berbahaya kalau hanya terbangun dengan setengah kekuatannya, lagipula aku memerlukan sifat kejam yang dibawanya untuk memimpin negeri ini dan mengalahkan musuh-musuhku.” King Kafi menahan tangannya dan memeluk tubuh Freya semakin erat, “Tapi aku akan membawamu, Freya. Kau adalah istriku, tempatmu ada di sampingku.”

“Saya bukan istri Anda, Yang Mulia… kenapa Anda selalu memaksakan kehendak Anda?” Air mata frustrasi mengalir kembali dari mata Freya, membasahi dada King Kafi.

“Pelan-pelan nanti kau akan menerima semuanya.” King Kafi bergumam tenang, lalu jemarinya memundurkan pundak Freya, membawa gadis itu agak menjauh darinya supaya mereka bisa bertatapan kembali. Kali ini sinar mata lembut yang menguar dari mata biru itu sudah tidak ada, berganti dengan tatapan mata angkuh yang penuh ancaman, “Kau harus kembali ke istana sebagai permaisuriku.”

“Tidak!” Freya membantah keras dengan bibir bergetar dan penuh air mata, “Jangan pisahkan saya dengan keluarga saya…” mohonnya putus asa.

King Kafi mengerutkan kening, “Keluargamu akan menerima kemakmuran yang aku anugerahkan, mereka akan hidup bahagia dengan harta berlimpah dan berkecukupan. Bukankah aku sudah cukup baik hati?” desisnya dengan mata menggelap penuh ancaman, “Tapi kebaikan hatiku tidak akan kuberikan kalau kau berani-beraninya menolak untuk menjadi permaisuriku, Katyana. Aku akan memisahkanmu dengan keluargamu dalam arti yang sesungguhnya. Mereka semua akan kubunuh sehingga kau bukan hanya terpisah jarak dengan mereka, tetapi akan terpisah dunia, selamanya.”

Ancaman itu menguar di seluruh penjuru ruangan kamar sempit itu. Begitu mengerikannya makna yang tersirat di dalamnya hingga membuat Freya tertegun dan melupakan tangisnya.

Sementara itu, King Kafi yang tahu bahwa dirinya sudah berhasil mendapatkan apa yang dimauinya tersenyum tipis dengan tatapan tajam penuh tantangan,

“Jadi, mana yang akan kau pilih Katyana? Apakah kau akan menerima kebaikan hatiku? Ataukah tidak?”

***

“Kakak!”

Ketika Freya melangkah keluar dari kamar itu diikuti dengan King Kafi di belakangnya, kedua adik kembarnya langsung meloncat menghampirinya dengan cemas. Dobra dan Kenzo langsung setengah memeluk pundak Freya dengan posisi tubuh melindungi ketika mata mereka menemukan King Kafi yang hendak mendekati mereka.

Mereka tahu bahwa yang ada di hadapan mereka ini adalah Baginda Raja, King Kafi yang termasyur, pemimpin tertinggi Kerajaan Milaya dimana mereka semua seharusnya menunduk dan menyembah.

Tetapi teriakan ketakutan Freya yang terdengar dari dalam kamar sampai menguar keluar tadi membuat mereka cemas luar biasa. Dua saudara laki-laki ini ingin bangun dan menolong Freya, tetapi pasukan yang dibawa oleh Vigya Sang Penasehat kerajaan menahan mereka semua dengan pedangnya dan Vigya sendiri berucap mengancam supaya mereka diam kalau masih ingin kepala mereka terpasang di lehernya.

Lama kemudian mereka menunggu dalam ketidakpastian akan apa yang terjadi di dalam, mereka tidak mendapatkan petunjuk apapun karena hanya ada suara gumaman-gumaman dari dalam kamar, Sang Ibunda sendiri memilih duduk di sudut, memeluk Mily dan Davoli sambil menahankan air matanya, berusaha tetap tegar di hadapan anak-anaknya.

Karena itulah ketika pintu kamar itu terbuka dan Freya keluar, Kenzo dan Dobra tidak bisa menahan diri untuk menghampiri dan memeluk kakak perempuan satu-satunya itu. Alis mereka mengerut dan dada mereka dipenuhi dengan perasaan marah ketika melihat rambut dan baju Freya yang acak-acakan.

Pikiran buruk langsung memenuhi benak mereka, bahwa King Kafi telah memaksakan kehendaknya dengan keji kepada Freya.

“Apa yang kau lakukan kepada kakakku?” Kenzo yang memang memiliki jiwa muda yang masih panas berseru keras ke arah King Kafi sambil menyembunyikan Freya di belakangnya, dia melupakan kewajibannya untuk menghormat kepada Sang Raja. Lagipula, lelaki mana yang bisa menghormat kepada seseorang yang telah melecehkan kakak perempuan yang sangat disayanginya?

Freya sendiri menyentuh pundak Kenzo, berusaha menahan kemarahan adiknya. Ini tidak baik, King Kafi terkenal dengan kekejaman dan keangkuhannya. Dia dikenal langsung membunuh orang-orang yang tidak menaruh hormat kepadanya. Freya harus meredam kemarahan adik-adiknya demi menjaga nyawa mereka semua tetap terlindungi.

Sementara itu King Kafi hanya menatap dingin kepada dua saudara laki-laki Katyana yang menatapnya seolah-olah akan menyerangnya. Dia bersedekap, menatap seluruh keluarga itu dengan pandangan meremehkan.

“Aku akan membawa kakakmu ke istana untuk menjadi istriku.” gumamnya lagi, “Dan tidak ada satupun dari kalian yang diperkenankan membantahnya, kecuali kalau kalian ingin mati di bawah tebasan pedangku.”

Kenzo terkesiap mengalihkan pandangannya ke arah Dobra, mereka memang sudah mendengar hal itu tadi, tetapi  mendengar hal itu ditegaskan kembali membuat benak mereka berdua berdenyut tidak suka.

King Kafi terkenal memiliki istana khusus yang dipenuhi dengan selirnya yang menumpuk dan katanya kebanyakan dari selir itu tidak mendapat giliran disentuh saking banyaknya.

Dan dengan selir yang sudah sebanyak itu, Sang Raja masih juga ingin mengambil kakak mereka satu-satunya?

Kenzo hendak menyerukan bantahan ketika Freya menyentuh kembali pundaknya, membuat Kenzo menoleh dan menerima tatapan mata sedih dari sang kakak.

Tidak ada yang bisa mereka perbuat. Itu adalah ucapan yang tersirat dari tatapan mata sedih itu. Jika Sang Raja sudah berkehendak, maka yang bisa mereka lakukan hanya patuh.

Air mata langsung menetes dari mata Freya ketika Kenzo, yang pada akhirnya menyadari posisi mereka, memilih menyerah untuk kemudian memeluk tubuh Freya erat-erat, begitupun  dengan Dobra yang bergerak memeluk kakaknya dengan sedih.

Dobra memang lebih tenang dibandingkan Kenzo, dia bisa menahan emosinya hingga tidak meluap-luap, tetapi dia cepat memahami situasi, dan dia tahu bahwa mereka semua tidak bisa berbuat apa-apa ketika Freya dibawa dan dipisahkan dari mereka.

Sementara itu King Kafi menatap ketiga saudara yang saling berpelukan itu dengan alis berkerut. Matanya menyipit ketika seberkas pikiran menyeruak di benaknya, pikiran bahwa dirinya belum menyelidiki dan belum memastikan bahwa keluarga tempat Katyana tinggal ini adalah keluarga kandung dan keluarga sesungguhnya Katyana.

Dan jika ternyata mereka adalah keluarga palsu yang dibentuk dan dimanipulasi oleh obat ingatan milik Bibi Corma, itu berarti dua laki-laki remaja yang sedang memeluk istrinya ini bukanlah saudara kandung Katyana.

King Kafi memberi isyarat kepada Vigya yang langsung membungkuk hormat, lalu mengambilkan apa yang diinginkannya. Sebuah pedang besar yang selalu digunakan untuk menebas dan mengeringkan darah musuh-musuhnya.

King Kafi menggenggam pedang itu dan mendekat, lalu mengarahkannya ke leher Kenzo dan Dobra dengan tatapan mata mengancam,

“Lepaskan tanganmu dari istriku.” Desisnya disertai mata biru menggelap yang dilumuri kecemburuan.

Tiga bersaudara itu terkesiap, pun dengan ibundanya di belakang. Freya yang tersadar lebih dulu, dia langsung melepaskan diri dari pelukan dua saudaranya dan mendorong dua saudaranya ke belakang sementara dirinya yang maju ke depan, menghadapi pedang yang terhunus itu, membuat semuanya terkesiap.

“Yang Mulia boleh membawa saya, tetapi Yang Mulia sudah berjanji tidak akan melukai keluarga saya.” Freya berseru marah sambil mendongakkan dagunya, “Jika Yang Mulia berani menggoreskan luka di kulit keluarga saya, maka saya akan membuat Yang Mulia menyesal!”

Hening.

Kalimat ancaman Freya itu membuat semuanya dicekam oleh ketakutan yang amat sangat. Vigya sendiri hanya bisa menatap dan membatin dalam hati. Tidak pernah ada satu orangpun yang berani mendongakkan dagunya dan mengucapkan kata menantang kepada King Kafi, dulu mungkin ada satu atau dua, tetapi mereka semua berakhir tanpa kepala dan menjadi mayat kering tanpa darah. Sejak itu semua orang menunduk, patuh pada perintah Sang Raja yang kejam.

Kali ini, meskipun King Kafi tampak begitu menginginkan perempuan ini sebagai isternya, akankah jiwa kejamnya melunak dan memilih untuk tidak memberikan hukuman atas sifat membangkang yang terang-terangan ditunjukkan oleh perempuan itu?

Keheningan itu dipecah oleh senyum King Kafi, Sang Raja menggerakkan pedangnya yang terhunus, meletakkannya di bawah dagu Freya dan membuat wajah Freya semakin mendongak.

King Kafi bisa membaca ketakutan yang berpendar di mata hijau itu, meskipun berbalut oleh sikap berani yang muncul demi melindungi keluarganya. Perempuan itu rapuh, tetapi menyediakan dirinya sebagai tameng untuk melindungi mereka yang dia sangka sebagai keluarganya.

Katyananya ternyata memiliki kepribadian yang sangat menarik, dan sekali lagi hal itu memancing gairahnya. Dia menjadi tidak sabar untuk segera membawa perempuan ini ke istana, membuat upacara resmi supaya Katyana sah menjadi permaisurinya dan setelah itu memiliki Katyana seutuhnya.

“Nanti.” King Kafi berucap dalam senyum yang penuh janji, janji mengerikan yang terbaca dari sinar mata birunya, “Aku akan menaklukkan sikap membangkangmu itu, Katyana.”

Setelah ucapannya yang mengerikan itu, King Kafi menurunkan pedangnya, lalu menatap ke arah Dobra dan Kenzo dengan tatapan mata mengancam,

“Jangan pernah sentuh Katyana dengan tangan kalian yang kotor.” ucapnya dingin, membuat bulu kuduk semua orang berdiri

King Kafi kemudian menoleh ke arah Penasehat Kerajaannya dan memberi perintah, “Bawa istriku ke dalam kereta kuda.”

Sang Raja lalu melangkah keluar lebih dahulu, berlalu meninggalkan rumah mungil itu dengan tidak peduli dan menuju ke arah kuda hitamnya yang sudah disiapkan dengan gagah di pekarangan rumah. Sementara Vigya membungkuk patuh, lalu memberi isyarat kepada para prajuritnya untuk membawa Freya.

Dobra dan Kenzo hendak melawan, tetapi tubuh mereka ditahan beberapa prajurit yang lebih kuat, sementara itu Freya yang berlari hendak memeluk ibunda dan adik-adiknya tidak bisa melakukan maksudnya karena ditarik paksa keluar dari rumah itu.

Freya menjerit, pun dengan ibundanya yang berlari menghampiri bersama Mily di dalam gendongannya dan Davoli yang memeluk kaki Freya. Mereka berhasil berpelukan meski hanya sekejap, dan kemudian dipisahkan dengan kasar oleh para prajurit lainnya.

Freya menangis melihat ibundanya didorong dengan kasar, melihat Davoli yang cekalannya di kaki Freya dilepas paksa hingga membuat anak kecil itu terduduk di lantai penuh air mata, melihat betapa Kenzo dan Dobra meronta dari tahanan prajurit yang mencekal mereka dengan kasar.

Air mata masih tetap memenuhi matanya ketika tubuh Freya diseret setengah diangkat, lalu didorong memasuki kereta kuda mewah yang pintunya langsung ditutup dan dikunci dari luar.

Freya bergerak, mencoba melihat ke jendela kecil yang ada di samping kereta kuda itu, mencoba menatap keluarganya sebelum mereka dipisahkan.

Dan pemandangan terakhirnya adalah pemandangan menyedihkan dari ibundanya yang berlari mengejarnya bersama Mily di dalam gendongannya dan Davoli yang menyusul di belakangnya, Dobra dan Kenzo dilepaskan, tetapi mereka hanya bisa  mengejar sampai ke halaman depan karena para prajurit berbaris membentuk pembatas yang tidak bisa mereka tembus.

Air mata Freya mengalir deras bersamaan dengan air mata kesedihan keluarganya yang menangis tanpa daya ketika menatap kereta kuda yang membawa Freya itu melaju pergi, semakin lama semakin jauh dan hilang dari pandangan.

bersambung ke part berikutnya


Piper P.bettle/ daun sirih  merupakan varietas daun obat yang mengandung minyak terbang (betIephenol), seskuiterpen, pati, diatase, gula dan zat samak dan kavikol yang memiliki daya mematikan kuman, antioksidasi dan fungisida,  juga bersifat menahan perdarahan serta berguna untuk menyembuhkan luka pada kulit. (wikipedia)

Pineberry adalah varietas buah berry yang memiliki rasa seperti nanas. Buahnya sendiri tampak seperti stroberi tetapi berukuran lebih kecil. Sementara warnanya putih pucat dengan biji berwarna merah. Buah ini bukan hasil persilangan. Pineberry sebenarnya justru varietas stroberi paling tua yang pernah ada. Namun seiring waktu, popularitasnya tergeser oleh stroberi dan buah-buahan berry lainnya. (wikipedia)

1.221 Komentar

  1. King kafi :berharapindah :berharapindah

  2. Nawang wulan menulis:

    Aduhhh jadi laperrr akuu :berharapindah

  3. Sinta Setiawati menulis:

    Kenapa ya.judulnya nama-nama kue? Bikin ngiler pastinya..

  4. Opi ucing miow menulis:

    Jd fokus pada ilustrasi gambarnya …

  5. King kafi :kisskiss :berharapindah

  6. Airaqyoung1215 menulis:

    Seruuu

  7. Dionisia Quintin menulis:

    Sedih aku tuh king kafi ya ngga ada lunak-lunaknya ih, asli ataupun palsu kan mereka udah tumbuh bersama 10 tahun lamanya, lagian juga ibunya Freya kan udah ngebesarin Freya dengan baik juga,

  8. Dhian Sarahwati menulis:

    Ngilu pas darah Karyana d ambil secawan..judulnya bikin laper tapi

  9. Lely Damayanti menulis:

    Sungguh gak tega

  10. mickey-mousexz menulis:

    okaylah kafi kalo kamu misahin freya dengan keluarganya begitu, liat aja nanti kafi😡😡 :lalayeye

  11. wahyuning dewi mindyanty menulis:

    Jahat banget :bantingkursi

  12. :iloveyou :aw..aw :kisskiss :kisskiss :kisskiss Tpi hiks hiks :nangiskeras :nangiskeras :gakterima :gakterima :gakterima :gakterima :bantingkursi :bantingkursi :bantingkursi

  13. Yaa ampun King Kafi kamu ini berdosa banget!!!😫😭🤧

  14. Lusy Fitriyani menulis:

    Kue keju,kesedihan dipisahkan dari keluarga :bantingkursi :bantingkursi :bantingkursi

  15. @ErniHasanatulIsma256 menulis:

    Kejam banget sih King Kafi

  16. :bantingkursi :bantingkursi :bantingkursi
    ikutan mewek bareng freya dan sekeluarga ..
    king kafi benar benar kejam… tak sumpahin jadi bucin ama freya
    bcin se bucin bucinnya :NGAKAKGILAA :NGAKAKGILAA

  17. Makanan :lovely

  18. debora sinaga menulis:

    Jahat king kafi

  19. Alfa centauri menulis:

    ahhh sedih bgt :lovely

  20. :NGAKAKGILAA 6

  21. Sediih iiih :lovely
    Kejam banget nih King Kafi :Jambakantagonis

  22. Keren…kerenn

  23. HikMaIyMmaExoL menulis:

    Sedih aku tuh :aw..aw

  24. Nangis :kumenangismelepasmu :kumenangismelepasmu

  25. Sedih sama keluarga freya :lovely

  26. Kuenya bikin gagal fokus

  27. Linda Siswanti menulis:

    Terlepas dr keluarga asli atw palsu hasil dr manipulasi bibi corma tp tetap amat sangat menyedihkan kalau d pisahkan dengan paksa dan tiba2, nyesek aq thorrr….

  28. Audry F. Dewi menulis:

    :kumenangismelepasmu :kumenangismelepasmu :kumenangismelepasmu

  29. oviana safitri menulis:

    :panikshow tega banget king kafi

  30. Yuni Widaningsih menulis:

    Cerita yg menarik apalagi di setiap part di kasih nama nama makanan yg menggiurkan :begadangan

  31. Jahatnyaaa

  32. Bibir Corma=>Bibi Corma
    hembusan=>embusan
    putera mahkota=>putra mahkota
    isternya=>istrinya

Tinggalkan Balasan