greenteacupcakes1
The Girl Who Tamed The King

Prolog : The Girl Who Tamed The King : Kue Mangkuk

Bookmark

No account yet? Register

1.672 votes, average: 1,00 out of 1 (1.672 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

 

Prolog : The Girl Who Tamed The King : Kue Mangkuk

 

Satu, dua, tiga, empat.

Freya bersenandung dalam hati sambil  menuang bahan-bahan yang diperlukannya untuk membuat kue mangkuk. Satu, dua, tiga, empat. greenteacupcakes1Freya mengulang lagi senandungnya, tersenyum senang karena memang membuat kue mangkuk adalah kesukaannya. Selain bahan-bahannya murah, resepnya juga mudah. Dia hanya perlu mengingat urutan resep satu, dua, tiga, dan empat. Satu cangkir mentega krems, dua cangkir gula skar , tiga cangkir tepung gandum, dan empat butir telur Burung Calis, jangan sampai terbalik karena hasilnya bisa kacau balau.

Untuk mentega krems, Freya biasanya membeli ke Bibi Corma, nenek tua tetangga sebelah rumah yang sehari-hari membuat mentega dengan tangannya sendiri. Beliau memiliki dua ekor kaza di rumahnya. Kaza adalah sejenis hewan pemakan rumput berukuran kecil, berkaki empat, bertanduk dua dengan bulu tebal dan muka lucu. Sayangnya kaza cukup galak kecuali pada pemiliknya, hingga Freya hanya bisa mengagumi mahkluk lucu itu dari jauh.

Meskipun badan hewan itu kecil, Kaza bisa menghasilkan susu yang amat banyak, susunya berwarna krem dengan aroma yang sangat harum. Setiap pagi Bibi Corma akan memerah sendiri susu Kaza hingga menghasilkan dua ember penuh,  susu itulah yang kemudian diolahnya menjadi bahan mentega krems yang lezat.

Bibi Corma akan menyimpan susu tersebut di ruang bawah tanah khusus yang berhawa dingin, setelah dua hari dia akan mengambil susu tersebut dan memisahkan air susu dengan endapan yang terkumpul di dasar ember. Endapan itu adalah krim yang dibutuhkan untuk membuat mentega krems. Biasanya pada musim dingin, kaza akan menghasilkan susu dengan kandungan krim yang cukup banyak, sebaliknya pada musim panas, krim yang dihasilkan hanya sedikit.

Krim itu lalu dibiarkan di suhu ruangan selama dua belas jam sampai terfermentasi, Setelah itu dia akan mengocok krim masam tersebut selama beberapa lama dengan ahli sampai terpisah lagi bagian yang padat dengan bagian cair. Bibi Corma akan menyimpan bagian cair itu sebagai susu masam, sedang bagian padatnya dia bungkus dengan kain kasa dan merendamnya dengan air dingin, lalu terus dan terus mengganti airnya jika berubah warna. Setelah air tidak berubah warna, Bibi Corma akan mengangkat dan memeras kandungan air di dalamnya, lalu menuang mentega krems yang sudah jadi, beraroma gurih dan berwarna krem lembut dalam mangkok besar untuk persiapan dijual.

Bibi Corma menjual mentega buatannya berdasarkan hitungan sendok kayu. Setiap pembeli biasanya membawa wadah masing-masing, lalu menemui Bibi Corma yang menggelar dagangannya di teras rumah. Di atas meja rumahnya ada satu mangkuk besar mentega krems buatan sendiri yang enak, lembut dan berbau harum. Ketika ada pembeli, Bibi Corma tinggal menyendokkan sesuai takaran. Satu sendok dihargai satu keping rosy, mata uang di kerajaan Milaya. Mentega Bibi Corma biasanya laris dan langsung habis hari itu juga, itu semua karena kelembutan dan kenikmatan rasanya tiada duanya hingga cukup terkenal di desa mereka.

mtg1

Khusus untuk Freya, Bibi Corma memberikan diskon khusus. Dengan satu keping rosy, Freya bisa mendapatkan dua sampai tiga sendok mentega krems yang dia perlukan. Itu semua karena Freya suka membantu Bibi Corma di waktu senggangnya. Bibi Corma sudah tua dan dia hidup sendirian, bagi Freya sendiri, Bibi Corma sudah seperti keluarga.

Freya selalu menyempatkan diri membantu membersihkan rumah, memotong rumput atau memberikan bantuan kecil apapun yang bisa dilakukannya untuk Bibi Corma. Sebenarnya Bibi Corma ingin menggratiskan mentega krems buatannya untuk Freya, tetapi Freya bersikeras membayar. Biarpun miskin, Freya masih punya tenggang rasa, dia tahu bahwa Bibi Corma sama miskinnya dengan keluarganya, sebatang kara dan hanya menggantungkan hidup dari berjualan mentega.

Kembali ke bahan pembuat kue mangkuk, tepung gandum, sebagai bahan kedua dari kue mangkuk juga mudah didapatkan. Itu karena tepung gandum merupakan bahan makanan pokok bagi penduduk kerajaan Milaya. Produksi tepung gandum cukup melimpah karena sepertiga bagian dari wilayah Kerajaan Milaya memang diperuntukkan sebagai lahan gandum untuk menjadi ketersediaan pasokan bahan utama pembuat tepung gandum.

wholemeal-flour-atta

Untunglah kebijakan kerajaan memutuskan bahwa setiap keluarga berhak mendapatkan jatah tepung gandum satu karung untuk setiap anggota keluarga setiap bulannya. Keluarga Freya memang miskin. tetapi setidaknya mereka masih bisa makan makanan pokok dan tidak kelaparan.  Penduduk biasanya memasak tepung gandum menjadi bubur kental dan roti pipih panggang, yang dimakan dengan berbagai lauk pauk yang tersedia.

Ketika sedang tidak punya lauk apa-apa, Freya biasanya memasak kuah kaldu herba, kaldu yang dibuat dengan merebus dedaunan herba beraroma harum yang dibungkus kain kasa dan diikat menjadi satu. Perebusan dilakukan dengan api kecil dalam waktu lama. Ketika prosesnya selesai, kaldu itu akan berubah menjadi kuning kental dan harum. Adik-adiknya suka sekali meskipun hanya memakan bubur gandum yang dicampur kuah rebusan herba.

Artikel-Batu-Permata-Peridot-254x207

Untuk gula, karena mereka tidak mampu membeli gula sald, mereka membeli gula skar yang jauh lebih murah. Di pasar, gula skar dijual dalam bentuk bongkahan besar tak beraturan berwarna hijau keruh. Satu bongkahan hanya seharga dua rosy, berbeda dengan gula sald yang dijual seribu rosy setiap sepuluh bijinya.

Biasanya setelah di rumah, Freya akan membungkus bongkahan gula skar ini dengan kain dan memukulinya dengan batu sampai berubah menjadi butiran kasar berwarna hijau. Gula skar ini cenderung menjadi getir kalau salah takaran, apalagi warnanya sangat kuat sehingga semua makanan yang memakai gula skar akan berubah warna menjadi hijau,. Belum lagi kalau dimasak terlalu lama pun akan membuat warna makanan menjadi hitam mengerikan. Tetapi mau bagaimana lagi, hanya gula palsu seperti inilah yang bisa mereka beli.

NBdQx9tir6Bahan terahir yang dibutuhkan untuk membuat kue mangkuk adalah telur Burung Calis. Sebenarnya telur ini cukup mahal, tapi beruntung di halaman belakang ada pohon yang cukup besar, di sana bersarang banyak sekali burung calis. Freya selalu meminta Dobra dan Kenzo, dua adik lelakinya yang kembar untuk memanjat pohon setiap pagi dan mengambil beberapa butir telur Burung Calis sebagai persediaan.

Mengambil telur Burung Calis bukanlah kejahatan, Burung Calis memang sering sekali bertelur, dan mereka hanya mau mengerami satu telur setiap periode. Padahal kadang kala setiap satu periode, burung calis bisa bertelur sampai tiga atau empat butir. Sudah watak alami mereka, jika ada kelebihan telur maka si induk akan mendorong telur yang tidak dierami keluar sarang hingga jatuh dan pecah berkeping. Karena itulah setiap pagi Dobra dan Kenzo selalu memanjat pohon, menengok sarang Burung Calis dan mengambil telur-terlus berlebih itu sebelum didorong jatuh, serta menyisakan satu butir saja untuk dierami.

Telur Burung Calis berwarna hijau toska terang, bagian kuning telurnya berwarna kuning keemasan dan sangat gurih jika dibuat bahan masakan atau campuran kue. Meskipun mereka mendapatkan tiga sampai empat butir telur Burung Calis secara rutin setiap harinya, tidak pernah terlintas sedikitpun di benak Freya untuk menjualnya. Dia tidak mau memanfaatkan keberadaan burung-burung baik di belakang rumahnya, sudah cukup bagi mereka mendapatkan jatah telur setiap harinya untuk dimakan sendiri,

Freya mengaduk semua bahan di dalam mangkuk tanah liat dengan sendok kayu, dia melirik ke arah matahari di langit sana. Dobra  dan Kenzo sebentar lagi akan pulang dari tempat kerjanya untuk makan siang sebelum kemudian kembali lagi ke tempat kerja. kedua adik lelakinya itu baru berumur empat belas tahun tetapi mereka sudah bekerja untuk menambah pemasukan keluarga. Dobra dan Kenzo bekerja di ladang gandum sebagai penggiling gandum, upah yang didapatkan lumayan karena mereka bisa menerima lima puluh rosy setiap harinya. Sebenarnya ibunya dan Freya sendiri tidak menyetujui ketika pertama kali Dobra dan Kenzo bilang akan bekerja, tetapi pada akhirnya kebutuhan akan uang untuk membiayai hidup membuat ibundanya merelakan mereka bekerja.

Adik ketiganya Davoli adalah anak perempuan cantik berusia sepuluh tahun. Ketika Freya sibuk memasak dan membersihkan rumah, Davoli dengan pandai akan menjaga adik terkecil mereka, Mily yang masih berusia lima tahun. Ibu mereka, Maci bekerja sebagai petani gandum, beliau baru akan pulang setelah malam menjelang dengan tubuh lelah.

Mereka tidak punya ayah, ayah mereka meninggal dunia ketika bekerja. Ayah mereka dulunya adalah kusir kuda pengantar bahan makanan ke kota sebelah. Suatu hari kereta kuda yang dikendarainya melalui jalur ke luar kota yang dibatasi tebing tinggi di sebelah kanan, dan jurang dalam di sebelah kiri. Malangnya kereta kuda ayahnya tergelincir karena hujan deras dan jatuh ke jurang. Jenazah ayahnya tidak pernah ditemukan, tetapi mereka semua percaya  bahwa sang ayah sudah beristirahat dalam damai.

Sejak kematian Sang Ayah, ibunda mereka memutuskan bekerja untuk mencari uang. Freya yang saat ini sudah berusia sembilan belas tahun adalah anak yang paling tua, karena itu dia bertanggung jawab mengurus adik-adiknya, mengurus rumah dan memasak selama ibunya bekerja.

Freya melirik ke arah meja makan, dia sudah menyiapkan roti gandum kering yang disajikan dengan dengan kuah kaldu herba untuk makan siang adik-adiknya. Sebagai tambahan dia membuat kue mangkuk karena tahu adik-adiknya sangat suka makanan manis.

“Sudah jadi?” Tiba-tiba Davoli melangkah memasuki pintu dapur dengan mata berbinar, rupanya dia tahu kakaknya sedang membuat kue mangkuk kesukaannya.

Freya menoleh dan tersenyum pada adiknya, Davoli sangat lucu dan cantik, matanya berwarna hijau terang dan rambutnya ikal berwarna merah gelap, sama seperti warna mata dan rambut seluruh keluarganya. Kata ibunya semua itu diturunkan dari kakek dan nenek mereka.

“Di mana Mily? apakah dia tidur?”

Davoli menganggukkan kepala, melangkah ke sebelah Freya dan menatap tertarik ke arah adonan warna hijau yang sedang diaduk oleh kakaknya.

“Bolehkah aku membantu?”

Freya tersenyum, “Tentu saja boleh Davy, kamu  bantu letakkan kertas di dalam mangkuk cetakan kue di atas meja ya, kakak akan memanggangnya selama lima belas menit lalu kita bisa memakannya selagi hangat.”

Tanpa disuruh dua kali, Davoli langsung menghambur ke arah meja makan kayu sederhana yang terletak satu ruangan dalam dapur sempit ini. Ruangan kecil di belakang rumah ini memang difungsikan sebagai dapur sekaligus meja makan mungil. Kadang kalau satu keluarga berkumpul di sini, mereka semua akan berdesak-desakan dan saling menyenggol. Tetapi semua itu terasa hangat, dan sekecil apapun rumah kita, yang terpenting adalah kehangatan hubungan antar anggota keluarga bukan?

Rumah mereka hanya berupa pondok kayu kecil yang dulunya dibangun sendiri oleh ayah mereka. Penghuni rumah yang banyak dan tidak seimbang sengan sempitnya rumah membuat mereka harus bertindak efisien. Setiap malam, Dobra dan Kenzo akan menggelar selimut tebal dan tidur di lantai ruang tengah,. Davoli dan Mili akan tidur bersama ibu mereka di atas ranjang besar yang ada di kamar utama, sedang Freya tidur di atas sofa tua empuk yang ada di kamar kecil di samping dapur.

Dengan cekatan Davoli memasang kertas putih di dalam cetakan mangkuk tanah liat yang sudah di susun Freya di meja. Setelah adonannya siap, Freya menuangnya ke dalam mangkuk yang sudah dialas kertas  kemudian memasukkannya ke dalam oven yang sudah dipanaskannya sebelumnya. Oven itu berbentuk  kotak dan cukup  tua karena merupakan warisan dari nenek mereka.

“Kita tidak akan menghias kue mangkuk itu?” Davoli melirik ke arah kue mangkuk yang mulai mengembang di dalam panggangan, matanya yang penuh harap membuat Freya tersenyum sedih.  Rupanya Davoli masih mengingat hari ulang tahunnya kemarin. Ketika itu Freya menggunakan uang tabungannya guna membeli satu mangkuk selai permen untuk digunakan  sebagai hiasan kue mangkuk hadiah ulang tahun adiknya. Tetapi tentu saja sekarang mereka tidak punya uang lagi untuk membeli permen.

Diusapnya rambut adik perempuannya itu dengan rasa sayang, mencoba memberikan pengertian.

“Kakak tidak punya uang untuk membeli selai permen sebagai hiasannya. Tunggu ya sampai tahun depan? Ketika nanti kau berulang tahun lagi, kakak janji akan membelikan permen untuk hiasan kue ulang tahunmu.”

Davoli menganggukkan kepala, untungnya anak itu sangat pengertian, perhatiannya tampaknya mulai teralihkan karena aroma harum mulai memenuhi ruangan, menandakan bahwa kue mangkuk lezat buatan Freya sudah mulai matang.

***

blue-eye

Suasana bagian utama Istana Kerajaan Milaya kini mencekam. King Kafi baru saja membunuh empat menteri yang diketahuinya hendak berencana melakukan pengkhianatan. Keempat menteri itu tewas mengenaskan, dibunuh dengan cara mengerikan oleh King Kafi, lalu darahnya diperas dan diambil untuk diminum. King Kafi memang suka meminum darah musuh-musuhnya, baginya itu adalah hukuman terkejam yang bisa dia berikan. Selain itu, darah musuh-musuhnya itu pulalah yang membuat Sang Raja tetap hidup dan memiliki kekuatan melebihi manusia lainnya.

Semua orang yang belum pernah melihat King Kafi pasti akan membayangkan dia seorang monster mengerikan peminum darah. Tetapi mereka semua salah. King Kafi sendiri sebenarnya sangat tampan, dia berkulit pucat dengan mata biru yang sama pucatnya, kontras dengan rambut hitamnya yang gelap pekat, dibiarkan memanjang. Tubuhnya ramping, tinggi dan beliau juga merupakan seorang ahli berpedang yang sangat hebat. Sayangnya ketampanan dan pesonanya itu tertutup oleh aura mengerikan yang selalu memancar kemana-mana kalau hati beliau sedang tidak senang.

Sebagai seorang raja, King Kafi memiliki masa lalu kelam. Beliau adalah putera tunggal dari permaisuri terdahulu yang dikhianati dan dibuang dari kerajaannya sendiri. Sebuah kejadian penculikan membuat King Kafi dan ibundanya sempat hilang lalu hidup terlunta selama hampir sepuluh tahun lamanya. Pada akhirnya, orang yang disuruh oleh Baginda Raja untuk mencari tanpa menyerah akhirnya bisa melacak dan menemukan kembali keberadaan King Kafi ketika usia Sang Putera Mahkota sudah mencapai empat belas tahun.

Ketika ditemukan King Kafi hanya bersama pengasuhnya, sedangkan ibundanya, sang permaisuri ternyata sudah meninggal dunia. Ketika pertama kali memasuki istana, tiba-tiba saja King Kafi menderita sakit parah yang membuatnya tidak bisa bangun.  Seluruh tabib istana didatangkan, tetapi tidak ada yang bisa menduga penyakit apa gerangan yang menyerang Sang Putera Mahkota.

Ketika kondisi King Kafi mulai kritis dan Baginda Raja cemas akan kehilangan penerus yang baru ditemukannya, pengasuh misterius itulah yang memberitahu kepada pihak kerajaan bahwa King Kafi sakit karena butuh minum darah. Sang Putera Mahkota ternyata harus rutin meminum darah sejak kecil jika tidak dia akan jatuh sakit. Diduga King Kafi menderita penyakit aneh, hasil mantra  kutukan dari  musuh, yang membuatnya harus meminum darah manusia secara berkala untuk menunjang kehidupannya. Dan benar saja, ketika darah diminumkan, kondisi King Kafi langsung membaik bahkan lebih kuat daripada sebelumnya.

Tidak ada yang tahu bagaimana ceritanya King Kafi bisa menjadi peminum darah manusia. Pengasuh  misterius yang ada bersamanya ketika ditemukan, tiba-tiba saja menghilang tanpa jejak sebelum bisa menjelaskan dengan lebih terperinci. Mulut King Kafi sendiri terkunci rapat-rapat jika membicarakan tentang masa lalunya. Yang pasti setelah ayahanda King Kafi, Baginda Raja terdahulu berhasil menemukan puteranya, dia menyerahkan tahtanya kepada Sang Putera Mahkota dan meninggal dengan tenang tak lama kemudian.

Kerajaan kemudian dipimpin oleh King Kafi, yang memerintah dengan sukses sampai sekarang, lebih dari sepuluh tahun kemudian. Di usianya yang ke dua puluh lima, King Kafi telah berhasil memperluas area kerajaan hampir tiga kali lipat. Beliau suka berperang dan suka menjajah daerah lain. Negara manapun yang sedang sial menjadi incarannya akan diserang dan dikuasai. King Kafi tidak pernah gagal, kekuasaannya semakin besar, pasukannya makin kuat dan semua orang takluk di bawahnya.  Pun dengan kebesaran namanya yang semakin memancar, membuat dirinya ditakuti di mana-mana.

Sekarang Sang Raja duduk dengan angkuh di atas kursi singgasananya yang besar. Sementara itu Vigya sang penasehat kerajaan yang baru memasuki istana bersama beberapa prajurit nampak tertegun dengan pemandangan mengerikan yang tersaji di depannya.

“Buang sampah itu.”

King Kafi duduk sambil menyilangkan kaki dengan serampangan dan menyangga kepalanya dengan sebelah tangan, mata birunya tampak dingin menatap ke arah empat mayat yang tergeletak naas kehabisan darah di area karpet merah yang tergelar di depan kursi singgasana.

Vigya  mengalihkan tatapan matanya dari mayat yang memualkan dan memperhatikan dengan seksama bahwa kulit King Kafi sudah sedikit memiliki rona, tidak pucat seperti biasanya, itu berarti sang raja sudah kenyang oleh darah.

Dengan isyarat dia memerintahkan para prajurit untuk segera mengangkut mayat-mayat itu dan membersihkan bekasnya.

Setelah semua bersih, Vigya memberanikan diri mendekat, memastikan dulu bahwa aura membunuh sudah tidak memancar lagi dari diri Sang Raja,

“Apakah anda ingin koki kerajaan menyiapkan hidangan?” Vigya tahu King Kafi sangat menyukai makanan manis, dan biasanya suasana hati Sang Raja akan membaik setelah menyantap hidangan manis.

King Kafi mengangkat alis, memandang sinis ke arah penasehat kerajaannya.

“Bukankah koki kerajaan sudah kupenggal kemarin? Apakah kau sudah mendapatkan yang baru lagi?”

Vigya menelan ludah lalu menjawab dengan cepat, “Kami sudah mendapatkan yang baru.”

King Kafi tentu saja tidak akan peduli mengenai betapa susahnya mendapatkan seorang koki berkualitas yang dengan sukarela bersedia menjadi koki kerajaan. Seorang koki kerajaan biasanya kaya raya, dia dibayar dengan kepingan emas, bukan dengan mata uang rosy biasa. Tetapi jaminan kekayaan itu tidak sebanding dengan kengerian yang akan dirasakan kemudian.

Seorang koki kerajaan harus siap mati kapanpun juga, karena jika dia gagal memenuhi selera King Kafi, nyawa mereka adalah taruhannya. Karena itulah seorang koki kerajaan yang hendak berangkat memasuki istana bagaikan hendak pergi berperang, mereka biasanya akan berpamitan pada keluarganya sambil bertangis-tangisan seolah-olah tidak akan pulang lagi. Dan biasanya memang begitu. Setelah koki terakhir yang dipertahankan oleh King Kafi sampai meninggal di usia tua,  belum ada  lagi koki kerajaan yang beruntung untuk bertahan cukup lama di sini.

“Aku mau kue mangkuk,” Tiba-tiba King Kafi bersuara, memecahkan lamunan Vigya,  “Dia koki baru bukan? Kalau dia tidak bisa membuat kue mangkuk sederhana yang enak, berarti dia tidak akan bisa membuat makanan lainnya.”

Vigya yang tersentak dari lamunan langsung mengerjap terkejut. Dia langsung membungkukkan badan dengan patuh,

“Hamba akan meminta koki kerajaan menyiapkannya.” jawabnya sebelum kemudian berpamitan dan melangkah pergi.

Lelaki itu melangkah ke lorong hendak menuju area dapur kerajaan sambil bergumam dalam hati, mudah-mudahan koki yang ini cukup beruntung untuk menyenangkan hati King Kafi.

***

good1 (3)

“Tidak enak.”

King Kafi mendorong piring saji yang penuh dengan kue mangkuk harum berwarna merah pekat dengan wajah muak. Hal itu membuat Vigya langsung menghela napas panjang, memikirkan nasib si koki baru yang malang dan juga membayangkan betapa sulitnya nanti mencari koki pengganti dalam waktu dekat.

Ini gawat.

Kalau King Kafi tidak bisa menemukan koki yang bisa membuat makanan sesuai seleranya, suasana hatinya akan terus memburuk.  Dan jika suasana hatinya sedang buruk, King Kafi akan menjadi mahkluk haus darah. Dulu jika sedang begitu, Sang Raja akan menyerang negara lain, berperang kemana-mana dan menghabiskan waktunya untuk membunuh orang-orang. Sayangnya sekarang ini, bahkan kerajaan yang paling jauh sekalipun sudah habis diserang dan dikuasai oleh King Kafi, hingga dia kesulitan menemukan sasaran untuk memuaskan haus darahnya.

“Bunuh Koki itu, dia tidak becus menjadi koki.” King Kafi berkata lagi, sebuah perintah mengerikan yang sudah diduga oleh Vigya sebelumnya.

Sang Penasehat Kerajaan menghela napas panjang, menyesalkan nasib koki baru yang tidak berumur panjang, baru saja koki itu menyajikan hidangan pertamanya, dia sudah harus kehilangan nyawanya.

“Hamba akan melaksanakannya Yang Mulia.” Vigya memberi hormat, lalu menyambung kalimatnya, “Apakah malam ini anda akan mengunjungi istana selir? Siapa yang akan anda pilih malam ini? Hamba akan meminta pengurus istana selir untuk menyiapkan selir yang anda pilih.”

King Kafi mengerutkan kening, ekspresinya makin muram, “Aku tidak akan mengunjungi istana selir malam ini.”

Vigya jadi semakin cemas. King Kafi tidak menyukai makanannya, beliau juga tidak mau mengunjungi istana selir untuk bersantai, sudah sebulan lamanya King Kafi sepertinya kehilangan selera untuk bersenang-senang dengan selir-selir yang jumlahnya begitu banyak dan memenuhi istana selir.

Kalau sudah begini mereka hanya bisa pasrah. King Kafi pasti akan mencari-cari alasan untuk membunuh dan membunuh. Semua orang yang ada di dalam istana harus sangat berhati-hati, sedikit saja mereka salah langkah, mereka bisa menjadi sasaran.

“Kalau begitu hamba mohon diri Yang Mulia.” Vigya membungkuk lagi, mundur untuk berpamitan. Sang Penasehat kerajaan lalu meninggalkan ruangan setelah King Kafi memberi izin dengan anggukan singkat.

Ditinggalkan sendirian membuat King Kafi merenung, matanya melirik kembali ke arah kue mangkuk merah di piring yang hanya dicicipnya sedikit itu.

Tidak enak. Sama sekali tidak enak. Bukan rasa ini yang diinginkannya.

Kenapa mereka semua tidak becus? Membuat kue sederhana seperti itu saja tidak mampu, padahal istana sudah menyediakan bahan-bahan berkualitas tinggi untuk diolah. Apa sebenarnya yang kurang ?

Dengan muram King Kafi berdiri hendak meninggalkan ruang makan sementara benaknya berkelana, kembali ke masa lalu. Dulu pengasuhnya selalu berhasil membuat mentega krems yang lezat dengan tangannya sendiri, lalu ibundanya mengolahnya menjadi berbagai macam kue manis. Rasa kue buatan ibundanya adalah rasa terlezat yang tidak akan pernah dilupakannya.

Koki terakhirnya yang bertahan cukup lama sebelum  meninggal karena usia tua, mampu membuat hidangan penutup manis yang hampir mirip dengan buatan ibundanya, karena itulah dia mempertahankan koki itu cukup lama dan memberikan kemakmuran berlimpah bagi keluarganya. Sayangnya semenjak kokinya meninggal, dia sering berganti koki yang tidak becus, membunuh satu demi satu tetapi tetap saja tidak bisa mendapatkan apa yang diinginkannya.

Ekspresi King Kafi berubah serius dan penuh tekad.

Sepuluh tahun sudah berlalu sejak pengasuhnya menghilang tanpa jejak. Jika memang pengasuhnya itu masih hidup, usianya pasti sudah sangat tua.

Seandainya saja dia bisa menemukan pengasuhnya, mungkin dia bisa sedikit mengurangi beban.

Dia akan bisa memperoleh mentega krems buatan tangan yang lezat sebagai bahan baku, kemudian tinggal mencari koki terbaik yang bisa mengolah mentega itu menjadi pelengkap makanan manis kesukaannya.

 

Bersambung ke part 1 : Cake Cokelat 

2.147 Komentar

  1. Jangan jangan ibu nya freya

  2. Hewan penghasil susu untuk bahan keju itu namanya KAZA atau KAZE yq, Kak? Di part ini Kaza tapi di part selanjutnya Kaze.

Tinggalkan Balasan