Lieutenants Darling

Lieutenant’s Darling Part 5 : Pengenalan

Bookmark

No account yet? Register

3.225 votes, average: 1,00 out of 1 (3.225 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

4224 words


https://youtu.be/jXs1TtRTw2c

AUTHOR’S PLAYLIST : Alan Walker + Christina Perri mix – Save My Life ( Hero )

I fell for every word you said
You made me feel I needed you
And forced my heart to think it’s true
But I found I’m powerless with you

Now I don’t need your wings to fly
No, I don’t need a hand to hold in mine this time
You held me down, but I broke free
I found the love inside of me
Now I don’t need a hero to survive
Cause I already saved my life


[responsivevoice voice=”Indonesian Female” buttontext=”Dengarkan cerita ini”]

Tangan mungil India masih terborgol di belakang punggungnya, tetapi secara alami dia menenggelamkan kepala ke kemeja militer hitam milik Letnan Paris untuk berlindung, membuat Letnan Paris langsung menundukkan kepala untuk menatapnya.

“Terima kasih…” India berucap dengan bibir gemetar menahan sakit, “Terima kasih karena telah menyelamatkan saya.” suara India semakin melemah di penghujung kalimatnya dan seiring dengan itu, kegelapan menelan dirinya, lalu kesadarannya terenggut hingga dia tidak ingat apa-apa lagi.


Ibu Chaterine mengucapkan selamat tidur kepada anak-anak panti yang berada di bawah asuhannya, mereka semua dengan patuh naik ke atas ranjangnya masing masing yang telah disediakan oleh kaum militer, dan menyelimuti diri serta bersiap untuk tidur.

Setelah memastikan semua lampu tidur dimatikan dan anak-anak itu sudah lengkap berada di tempatnya masing-masing tanpa terkecuali, Ibu Chaterine memutuskan untuk menuju dapur apartemen khusus yang terletak di Asrama Militer After Earth ini, dia sepertinya perlu membuat susu hangat untuk membantu supaya tubuh tuanya bisa tidur nyenyak.

Pikirannya yang terus menerus berkecamuk membuatnya tidak bisa tidur. Yah, Ibu Chaterine memikirkan Asia dan nasibnya yang sampai saat ini tidak diketahui, belum lagi memikirkan India yang tidak mungkin memberi kabar kepadanya karena jika India berhasil keluar dari Benteng Marakesh City, maka tidak mungkin dia bisa masuk kembali tanpa izin.

Mengingat bahwa tidak ada keributan yang terjadi semenjak India pergi, Ibu Chaterine berpikir bahwa kemungkinan besar India tidak ketahuan. Bahkan para militer hitam yang bertugas menjaga mereka bersikap biasa saja di luar dugaan, entah tidak peduli atau seolah-olah tidak menyadari kepergian India.

Benarkah kaum militer hitam itu tidak tahu dan tidak peduli?

Ibu Chaterine kadang bertanya-tanya apakah kaum militer hitam itu memang benar-benar tidak tahu, atau berpura-pura tidak tahu demi menjebak dirinya. Mungkin saja pada akhirnya semua kedamaian semu ini dirancang supaya dirinya bisa kembali diseret ke ruang interograsi menyeramkan seperti yang dia alami sebelumnya. Saat ini mungkin hal yang ditakutkannya belum terjadi, tetapi tidak menuntup kemungkinan akan terjadi.

Tetapi kenapa tidak ada satu militer hitam pun yang menanyakan keberadaan India atau setidaknya menyadari berkurangnya satu tahanan mereka? Bahkan anak-anak asuhannya malah lebih peka dan menanyakan keberadaan India, beruntung anak-anak tersebut bisa diberitahu untuk menjaga perkataan mereka jika menyangkut India, apalagi jika sedang berada di dekat militer hitam.

Mereka berada di area militer hitam yang sangat ketat dimana segalanya pasti dihitung dengan seksama sesuai dengan prosedur kemiliteran. Tetapi saat ini, seolah-olah India tidak pernah ada di antara mereka dan ketika India menghilangpun, tidak ada bedanya.

Ibu Chaterine  sendiri mengusahakan dirinya supaya berpikir bahwa India sudah berhasil keluar dari benteng Marakesh City dan saat ini sedang menghirup udara bebas di luar, memang terdengar mustahil, tetapi kadang-kadang di saat keputusasaan melanda, Ibu Chaterine selalu menyandarkan dirinya pada harapan baik.

India mungkin saja ketahuan pada malam dia melarikan diri jauh di ujung tembok Benteng Marakesh City yang tidak sampai ke telinganya di area asrama militer ini, India mungkin saja ditembak, atau bahkan saat ini India sudah tewas tanpa sepengetahuan Ibu Chaterine, tetapi dia memilih untuk tidak memikirkan hal-hal buruk itu dan fokus pada hal-hal yang baik-baik saja.

Ibu Chaterine melamun sambil menyeduh susu hangat untuk dirinya sendiri, lalu dia menyesap pelan-pelan susu hangat itu dengan pikiran berkelana tak tentu arah.

Setelah susu yang diminumnya tandas, Ibu Chaterine melangkah menuju kamarnya yang gelap dengan gerakan perlahan. Malam ini adalah waktunya untuk beristirahat, segala permasalahan menggantung untuk esok pagi akan dibiarkannya dipikirkan esok pagi.

Perlahan tangan tuanya membuka pintu kamar kecil yang digunakannya sebagai tempat beristirahat, kamar itu memiliki ranjang yang cukup untuk dua orang. Sebelum India pergi, biasanya Ibu Chaterine tidur bersama India di dalam kamar itu. Sekarang setelah India pergi, anak-anak lain tidak ada yang rela menukarkan tempat tidurnya dengan tidur di tempat India sebelumnya, karena kebanyakan usia anak-anak yang masih kecil tentu saja masih ingin berada di antara kawan-kawannya, bukan dipisahkan dan kehilangan interaksi.

Kamar Ibu Chaterine cukup gelap, dan ketika dirinya menggunakan tangan untuk meraba-raba saklar lampu di dinding, mata tuanya menangkap bayangan gelap berbentuk manusia yang sedang duduk di atas kursi dengan santai di dalam kamarnya. Ibu Chaterine menajamkan matanya untuk memastikan apa yang dilihatnya itu bukanlah halusinasi, dan ketika menyadari bahwa bayangan itu benar-benar manusia yang sedang duduk di sana, Ibu Chaterine memekik dan hendak membalikkan badan meninggalkan ruangan, melarikan diri untuk mencari keselamatan atau bantuan.

Lalu suara itu terdengar, begitu lembut dan perlahan seolah-olah angin sendiri yang membisikkan nada ramah sekaligus penuh ancaman tersebut ke telinganya.

“Jangan takut, Ibu Chaterine. Saya berada di sini hanya untuk melaksanakan apa yang menjadi tugas saya.”

Nada suara yang penuh ketegasan itu membuat langkah Ibu Chaterine yang hendak melarikan diri langsung terhenti. Padahal sosok itu tidak menodongkan senjata atau apapun, hanya duduk tenang dan santai di bawah bayang-bayang kegelapan, tetapi entah kenapa Ibu Chaterine merasa bahwa dia akan mati kalau sampai melawan.

Meskipun begitu, didorong oleh instingnya untuk menyelamatkan diri, tangan Ibu Chaterine bergerak perlahan, hendak menyalakan saklar lampu karena siapa tahu dengan kondisi kamar yang terang benderang, dia bisa melihat wajah laki-laki yang memasuki tempat tidurnya ini untuk kemudian memberikan penilaian apakah orang ini penjahat biasa ataukah pantas diwaspadai. Selain itu Ibu Chaterine ingin membunuh hawa menyeramkan yang dibawa oleh sosok lelaki di kegelapan tersebut yang entah mengapa menciptakan ketidaknyamanan ke seluruh penjuru kamar.

“Jangan coba-coba menyalakan lampu, ibu. Saya lebih nyaman berada di kegelapan seperti ini. Jika Anda melawan, saya tidak bisa menjamin anda akan hidup sampai esok pagi.” suara itu bergumam perlahan, kali ini ancaman mengerikan di nada suaranya semakin kental, membuat Ibu Chaterine memutuskan bahwa demi kebaikan, sebaiknya dirinya tidak melawan dan mengikuti sosok dalam kegelapan itu.

“Apa sebenarnya maumu?” Ibu Chaterine bertanya, mencoba menahankan rasa serak dan gemetar yang mulai menyelimutinya.

Sosok itu terdiam lama dengan wajah bersiuet gelap menghadap ke arah Ibu Chaterine, seolah-olah sosok itu bisa melihat menembus kegelapan saja. Lalu tak lama kemudian, lelaki itu menjawab,

“Ini mengenai India.” lelaki itu berhenti, memberikan jeda sejenak untuk menimbang reaksi Ibu Chaterine. Tetapi untunglah sejak awal Ibu Chaterine dididik untuk menyembunyikan perasaannya dengan baik, juga usia tuanya cukup membantu sehingga dirinya bisa mengambil reaksi tepat atas situasi yang berbeda-beda, hal itulah yang membuat dirinya tidak menunjukkan reaksi berlebihan atas kata-kata yang diucapkan sosok dalam kegelapan itu, meskipun saat ini benaknya diliputi ketakutan luar biasa, membayangkan berbagai kemungkinan terburuk yang menimpa India.

“Apa yang terjadi pada India?” tanya Ibu Chaterine dengan nada lemah kemudian, tahu bahwa mereka telah ketahuan.

“Dia tertangkap dan mengalami luka tembak pada kakinya.” sosok dalam kegelapan itu berucap perlahan, “Tetapi Pemimpin kami masih memberikan kesempatan kedua. India akan kembali bersama kalian setelah pulih, tetapi saya hadir di sini untuk memberikan pesan kepada Anda, jika India kembali nanti, dia akan kehilangan orientasi dan beberapa ingatannya akan menjadi samar… Saya ingin menjaganya agar tetap begitu. Anda tidak boleh membantu India untuk memberikan penjelasan apapun. Tutup mulut Anda dan katakan bahwa India tidak pernah mencoba melarikan diri dan bahwa dia hanya tersesat di malam itu sehingga menimbulkan kesalah pamahan lalu tertembak tanpa sengaja oleh pasukan militer. Pun dengan sikap Anda, saya ingin anda bersikap normal seolah India tidak pernah bermaksud pergi sebelumnya.” sosok dalam kegelapan itu memberi jeda sejenak untuk menekankan maksudnya, “Apakah Anda mengerti apa yang saya inginkan tadi? Sebab jika Anda tidak mengerti, saya bukan orang yang senang memberikan kesempatan kedua karena lebih baik membangkitkan orang baru yang membawa harapan daripada memaksakan orang lama yang tidak punya harapan lagi.”

Itu sama saja sosok dalam bayangan itu berkata akan membunuhnya jika dia tidak berguna. Perkataan yang sarat ancaman itu mau tak mau membuat Ibu Chaterine menganggukkan kepala perlahan lalu menjawab setuju dengan nada lemah.

Rupanya hal itu tidak memuaskan sosok dalam kegelapan tersebut karena dia kembali berkata.

“Saya menempatkan banyak kamera pengawas dan juga beberapa anak buah untuk mengawasi Anda. Jika Anda berbuat macam-macam, melanggar perjanjian kita atau tidak mengindahkan peringatan saya sebelumnya, Andalah yang sudah pasti berakhir di kamar mayat.” sosok itu terdiam lagi seolah membaca situasi, “Dan bukan hanya Anda, India dan juga anak panti asuhan lainnya yang ada di bawah pengawasan Anda, mereka bisa saja menjadi korban.” tambahnya dengan nada kejam.

“Saya mengerti.” Ibu Chaterine menjawab cepat, napasnya pendek karena merasa ngeri, tetapi dia menahankan diri dalam doa, doa untuk India supaya lekas sembuh dan kembali ke tengah-tengah mereka lagi.

Ibu Chaterine memejamkan mata, memanfaatkan momen keheningan itu untuk berdoa supaya permohonannya dikabulkan dan tersampaikan kepada India, dan ketika pada akhirnya dia selesai lalu membuka mata kembali, matanya langsung melebar karena tidak menemukan sosok yang duduk di dalam kegelapan itu lagi.

Lama kemudian barulah dia menyadari bahwa dia mengenali suara itu…. itu adalah suara sosok manusia berwujud malaikat yang sangat indah, yang pernah menginterograsi dirinya dan India sebelumnya.

***

Letnan Paris melangkah meninggalkan area asrama dan bergegas menuju rumah sakit. Dirinya tahu bahwa kemungkinan besar Ibu Chaterine saat ini sudah mengenalinya. Jika memang itu yang terjadi, maka bagus. Dia memang sengaja tidak mengubah suara atau menyamarkan diri, hanya membuat dirinya dilindungi oleh kegelapan karena itu terasa nyaman, bukan dengan tujuan penyamaran.

Jika Ibu Chaterine mengenali dirinya, tentu saja ketika nanti dia hadir, Sang Ibu Pengasuh Panti Asuhan itu akan senantiasa ingat tentang ancaman yang telah ditanamkan di dalam benaknya malam ini.

Sebaiknya perempuan itu memegang janji yang telah dia ucapkan dengan baik, kalau tidak, Letnan Paris akan terpaksa melenyapkan beberapa nyawa lagi.

***

Dokter Frederick memasuki ruang perawatan intensif untuk pemulihan pasca operasi di Rumah Sakit Militer After Earth, dia tidak melangkah lebih jauh dan memilih berdiri diam di dekat pintu yang setengah terbuka, menatap sosok India yang terbaring lemah tak sadarkan diri di atas ranjang rumah sakit setelah menjalani operasi pengangkatan peluru yang bersarang di kakinya. Tatapannya tampak menyimpan rasa prihatin, apalagi mengingat bahwa India masih begitu muda, hampir seumuran dengan cucunya yang masih remaja.

Sebuah gerakan di belakang Dokter Frederick membuat Sang Dokter menolehkan kepala dan matanya menemukan Letnan Paris sedang menutup pintu di belakangnya dengan hati-hati. Kedua mata itu bertatapan dengan pengetahuan serta penuh arti, sebelum kemudian Letnan Paris melangkah mendekat dan berhenti ketika tubuhnya sejajar dengan posisi tubuh Dokter Frederick berdiri.

“Bagaimana keadaannya?” ujar Letnan Paris dengan mata birunya yang tak lepas dari sosok India.

Dokter Frederick sendiri mengamati Letnan Paris, lalu ikut mengalihkan matanya untuk mengawasi India.

“Apa yang sedang kau tanyakan, Letnan? Mengenai kondisi fisiknya, atau kondisi mentalnya?” tanya Dokter Frederick dengan nada ironis.

Ya, Dokter Frederick sebagai seorang ilmuwan peneliti sekaligus seorang dokter yang dipercaya untuk menangani pemimpin tertinggi After Earth tentu mempunyai akses data tak terbatas mengenai anak buah Jenderal Akira, termasuk di dalamnya data mengenai Letnan Paris.

Dokter Frederick membaca seluruh berkas Letnan Paris dan dia jugalah yang memberi pertimbangan kepada Jenderal Akira agar melanjutkan apa yang sudah dilakukan oleh Jenderal Moroko untuk memanfaatkan apa yang dipandang sebagai kekurangan mental Letnan Paris menjadi sebuah kelebihan dimana kondisi psikopat Letnan Paris bisa dimanfaatkan dengan menggunakan Sang Letnan sebagai pembunuh bayaran yang efisien.

Dokter Frederick jugalah yang memberi lampu hijau ketika Jenderal Akira hendak mengeluarkan Letnan Paris dari fasilitas kesehatan yang selama ini menjadi penjara transparan baginya dan membawa Letnan Paris ke dalam dunia interaksi bebas dengan manusia-manusia di After Earth, terutama dengan para kaum militer hitam.

Ketika itu Dokter Frederick memandang bahwa kondisi kejiwaan Letnan Paris sudah cukup stabil untuk dilepaskan ke dunia bebas, terlebih karena selama masa pengawasan, Letnan Paris sama sekali tidak melakukan pelanggaran kode etik dan dengan stabil menunjukkan bahwa apa yang ditanamkan di dalam mentalnya sudah mencapai tahap kesempurnaan yang menyatu ke dalam jiwanya.

Seharusnya tidak ada pelanggaran kode etik lagi… apalagi Dokter Frederick sendiri yang bersama-sama dengan tim dokter menangani evaluasi bulanan Letnan Paris sebelumnya, dan di sana tidak ada tanda-tanda akan terjadi pelanggaran, apalagi jenis pelanggaran kode etik yang sefatal ini.

Malam kemarin, ketika Letnan Paris datang membawa India yang kakinya berlumuran darah karena tertembak kepadanya, mata Dokter Frederick langsung tertuju kepada kedua tangan India yang terikat oleh borgol khusus militer hitam di belakang tubuhnya, dan hal itu langsung menunjukkan tanpa kata akan apa yang terjadi sebenarnya. Hanya Letnan Paris yang gilalah yang akan memborgol seorang perempuan remaja tanpa daya yang bahkan kekuatannya sama sekali tidak sebanding dengannya.

Lalu apalagi? Bahkan Dokter Frederick tidak berani membayangkan kekerasan apalagi yang mungkin diterima India dari kegilaan Letnan Paris yang tak terkontrol.

Saat itu, karena situasinya genting dimana India bisa saja mati kehabisan darah karena peluru tersebut sepertinya mengenai pembuluh darahnya dan menyebabkan intensitas darah yang keluar lebih banyak dari biasanya, maka Dokter Frederick tidak memiliki kesempatan untuk mengkonfrontasi Letnan Paris akan apa yang diduganya dilakukan oleh Sang Letnan terhadap India. Dirinya kemudian sibuk dengan prioritas untuk menyiapkan operasi, kemudian langsung melaksanakan penanganan terhadap India supaya peluru tersebut tidak memiliki efek fatal ke tubuh remaja yang malang itu.

“Aku ingin tahu kedua-duanya, baik kondisi mental maupun fisik India.” Letnan Paris menjawab perlahan pertanyaan Dokter Frederick setelah jeda panjang karena matanya mengawasi India yang berbaring lemah tak sadarkan diri, “Tetapi terlebih dulu, aku ingin bertanya, menurut perkiraan Anda, bagaimana kondisi mentalnya kalau dia bangun nanti, Dokter?”

Pertanyaan itu diajukan dengan nada ringan seolah-olah menjadi bagian dari percakapan santai dua sahabat yang sudah lama akrab, tetapi siapapun yang jeli, termasuk Dokter Frederick, tentu saja menyadari sinar kelam yang muncul tersirat di mata biru Letnan Paris.

Ini bukan jenis pertanyaan santai yang bisa dijawab dengan asal-asalan, dan Dokter Frederick tahu bahwa dia harus berhati-hati menjawabnya.

“Sesuai dengan permintaanmu, aku memberikan obat khusus untuk mengaburkan ingatan India.” Dokter Frederick berdehem ketika rasa bersalah menyerangnya karena saat ini dengan alasan keamanan dirinya terpaksa memanipulasi pikiran seorang gadis remaja yang tidak tahu apa-apa, “Yah… obat ini cukup berbahaya jika diberikan kepada perempuan hamil… tetapi kita tahu bukan bahwa India tidak sedang atau tidak akan hamil?” sambung Dokter Frederick, mengajukan pertanyaannya dengan hati-hati.

Tatapan yang dilemparkan oleh Letnan Paris ke arah Sang Dokter berikutnya ketika menanggapi pertanyaan itu tampak begitu tajam hingga Dokter Frederick memalingkan muka, tak mampu ditatap setajam itu. Lalu ketika Letnan Paris berbicara, suaranya terdengar mendesis penuh ancaman.

“Apakah menurut Dokter aku memiliki moral serendah itu dengan menyentuh anak remaja yang bahkan belum cukup umur?” ada nada jijik di dalam suara Letnan Paris ketika berkata, “Aku mungkin seorang pembunuh, tetapi aku bukan pemerkosa apalagi pemerkosa anak-anak. Itu bukan yang sebenarnya ingin anda tanyakan? Apakah aku menculik anak remaja itu untuk memuaskan nafsuku yang tak tertahankan? Jawabannya sudah pasti tidak, Dokter. Aku menculik gadis itu karena dorongan yang bahkan tidak kukenali di dalam jiwaku. Pikiran gelapku berpikir bahwa aku harus memiliki gadis itu dan menjaganya sampai siap menjadi mangsaku… untuk kubunuh.”

Dokter Frederick menelan ludah, menyadari bahwa pertanyaannya tadi telah membuat Letnan Paris tersinggung sehingga sekarang dia harus semakin berhati-hati menjaga lidahnya. Tetapi pikiran alaminya sebagai seorang peneliti tentu saja tidak bisa ditahankan begitu saja, rasa ingin tahunya menyeruak, mengalahkan rasa takutnya.

“Apakah perempuan ini berhubungan dengan trauma atau dendam masa lalu? Kau tidak mungkin melihatnya begitu saja lalu merasakan dorongan misterius tiba-tiba untuk membunuhnya. Aku mengenalmu Letnan Paris, aku membaca serta meneliti seluruh catatan kesehatan mentalmu. Kau tidak akan terkalahkan begitu saja hanya karena dorongan alami untuk membunuh karena aku tahu pasti kalau hal itu kau rasakan ratusan kali setiap hari dan ratusan kali pula kau berhasil memadamkan hasrat membunuh itu dengan bersenjatakan kode etik yang telah tertanam di dalam dirimu. Gadis ini membuatmu meloncati tembok kode etik yang telah tertanam begitu lama tanpa terlanggar di dalam jiwamu, dan aku yakin bahwa pemicunya pasti sesuatu yang cukup kuat.”

Letnan Paris menganggukkan kepala, tidak menyembunyikan kekagumannya atas kecerdasan analisa dari Dokter Frederick,

“Anda benar sekali, Dokter. Salah satu alasan kenapa dorongan untuk membunuh India begitu kuat, adalah karena dia begitu mirip dengan ibu kandungku.”

Keheningan mencekam langsung terurai memenuhi udara begitu Letnan Paris menyelesaikan kalimatnya. Dokter Frederick sendiri tertegun dan ingatan tuanya yang masih berfungsi sempurna langsung melayang ke berkas-berkas awal tentang Letnan Paris yang membahas tentang apa penyebab sosok Sang Letnan berubah menjadi monster keji seperti ini.

Penyiksaan konstan yang dilakukan oleh ibu kandung Letnan Paris di masa kecil itu sangatlah merusak baik fisik maupun mental, hingga Dokter Frederick sendiri begidik ngeri membayangkan anak sekecil itu harus menanggung siksaan sekeji itu seorang diri tanpa seorang pun bisa menolongnya sampai kemudian sudah terlambat. Ketika Letnan Paris kecil diselamatkan, tubuhnya memang selamat, tetapi jiwanya sudah rusak parah tak terselamatkan lagi.

Jika memang India sangat mirip dengan ibu kandung Letnan Paris, berarti sekarang semuanya jelas, dan Dokter Frederick bisa menghubungkan semua benang merah sehingga alasan Letnan Paris meloncati kode etiknya terasa begitu logis sekarang. Letnan Paris menyimpan trauma sekaligus dendam kepada ibu kandungnya, trauma karena penyiksaan kejam yang bahkan meninggalkan bekas luka permanen di tubuhnya, dan juga dendam tertahan karena dulu Letnan Paris kecil sebagai sosok tak berdaya dijadikan bulan-bulanan untuk pelampiasan kegilaan ibunya.

Ketika masih kecil, Letnan Paris tidak mampu memberontak karena dirinya lemah tanpa daya. Sampai akhirnya ibu Letnan Paris ditangkap untuk mempertanggung jawabkan seluruh tindakan kejinya, dan peristiwa itu membuat mereka terpisahkan. Hingga waktu berlalu… dan ketika Letnan Paris sudah cukup kuat untuk membalaskan dendamnya kepada Sang Ibu, ternyata ibu kandungnya sudah wafat, membuat dendam itu terkubur dalam, tetapi masih menggantung seumpama duri yang menusuk dalam daging, menyakiti tetapi tidak bisa dikeluarkan.

Ketika Letnan Paris menemukan India, dendam itu sudah pasti menyeruak lagi, dan menjadi semakin kuat seiring dengan berjalannya waktu. Apalagi dendam itu terbentuk sebelum kode etik ditanamkan ke dalam jiwa Letnan Paris, sehingga dengan mudahnya menemukan celah untuk menemukan lalu menguasai jiwanya.

“Kalau begitu, sesuai dengan dosis obat pengabur ingatan yang kuberikan, setidaknya dia akan melupakan masa-masa traumatis dalam penyekapanmu.” Dokter Frederick berucap perlahan, “Demi kesehatan mentalnya, aku berharap India benar-benar lupa semua hal itu.” sambungnya penuh doa.

Letnan Paris menoleh ke arah Dokter Frederick dan menyeringai, “Aku juga berharap begitu, Dokter.” ujarnya lambat-lambat dengan nada berbahaya, “Kemarin malam India mungkin sangat kesakitan sehingga pikirannya berkabut dan dia tidak bisa mengenali suaraku. Tetapi nanti, jika pikiran India sudah jernih, aku harus memastikan bahwa dia tidak mengenaliku. Sebab kalau sampai India mendapatkan ingatan jelas tentang penyekapannya, apalagi ketika dia mengenaliku dari suaraku, maka aku tidak punya cara selain membunuhnya.”

Bulu kuduk Dokter Frederick langsung meremang mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Letnan Paris tersebut, bukan karena perkataan tentang bunuh-membunuh karena hal itu sudah bisa di dengarnya, tetapi lebih kepada nada suara Letnan Paris. Nada suara Sang Letnan menunjukkan bahwa lelaki itu tidak bisa menahan kegirangan yang menyeruak di dalam jiwanya ketika membayangkan bahwa dia pada akhirnya mempunyai alasan untuk membunuh India.

Tetapi Dokter Frederick tentu saja tidak akan membiarkan India mati, anak perempuan itu tidak berdosa dan sebisa mungkin dia akan menyelamatkannya.

“Dia tidak akan ingat peristiwa penyekapan itu, ingatannya hanya kelebatan samar-samar, jadi aku jamin dia juga tidak akan mengenali suaramu.” ujar Sang Dokter kemudian.

Sebagai tanggapan, Letnan Paris hanya menganggukkan kepala tipis, matanya kembali tertuju ke arah tubuh India sementara aura gelap mengerikan mulai melingkupinya.

“Kita tunggu saja setelah dia siuman, Dokter. Aku seorang penyabar dan aku akan menunggu sampai bisa memastikan apakah dia akan mengenaliku atau tidak.” ujar Letnan Paris, dan lagi-lagi tidak bisa menyembunyikan nada girang yang terselip di dalam suaranya, hingga Dokter Frederick berpikir bahwa sebenarnya Letnan Paris sedang berharap bahwa India benar-benar mengenalinya sehingga Sang Letnan bisa menghabisinya tanpa ampun.

“Mengenai kondisi fisiknya…” Dokter Frederick berusaha menyingkirkan pikiran mengerikan di benaknya dengan cara mengalihkan pembicaraan, “Peluru itu telah berhasil keluar dan operasi berjalan dengan sempurna. Sayangnya, kaki India tidak akan pernah sama lagi.”

Seketika itu juga kepala Letnan Paris langsung menoleh, matanya menatap Dokter Frederick dengan tatapan menyelidik yang tajam, membuat hati Dokter Frederick gentar.

“Apa maksud Anda, dokter?” tanya Letnan Paris dengan nada gusarnya yang tak biasa, “Bukankah Anda sendiri yang bilang bahwa operasinya begitu sukses dan India berhasil diselamatkan?”

“Operasi pengangkatan pelurunya memang sukses.” Dokter Frederick menganggukkan kepala, “Tetapi peluru itu meninggalkan jejak fatal yang tertinggal… terlambat untuk diselamatkan.” sambung Dokter Frederick dengan suara sedih.

Letnan Paris menatap Dokter Frederick dengan mata menyipit, “Apakah maksud Anda, India akan lumpuh?”

Segera Dokter Frederick menggelengkan kepala mendengar pertanyaan itu,

“Bukan… tidak separah sampai India lumpuh dan tidak bisa berjalan. Tetapi peluru itu mengenai bagian sendi kakinya sehingga memberikan imbas yang cukup fatal, tidak akan pulih seperti semula. India mungkin bisa berjalan dengan pelatihan intensif selama beberapa waktu, tetapi kakinya tidak akan sama lagi, untuk berlari rasanya sudah tidak mungkin.”

Perkataan Dokter Frederick membuat Letnan Paris tertegun, ketika Sang Letnan berhasil mencerna kata-kata Sang Dokter, matanya melebar dan dia menolehkan kepala untuk menatap Dokter Frederick dengan kebingungan pekat.

“Jadi maksud Anda, luka yang diderita oleh India tidak akan pernah sembuh? Dia tidak akan pernah menjadi seperti semula lagi?”

Dokter Frederick menganggukkan kepala, “India tidak akan sama lagi seperti sebelumnya.” ujarnya menegaskan.

Seketika itu keheningan kembali membentang di antara mereka, sementara pikiran Letnan Paris berkecamuk oleh teriakan-teriakan protes jiwa gelapnya. Dia seharusnya bisa memastikan India sembuh dan kembali dalam kondisi sempurnanya seperti sebelum Letnan Paris meyekap gadis itu.

Kondisi India yang pulih berguna untuk memperbaiki keadaan yang telah rusak atas kegagalan rencana dan memberi Letnan Paris waktu sebelum kemudian dia bisa membangun strategi lagi untuk mengawasi India dari kejauhan sampai dengan perempuan itu siap menjadi mangsanya.

Tetapi sekarang Dokter Frederick mengatakan bahwa India tidak akan bisa kembali seperti semula?

Kalau begitu, akanlah dirinya siap menerima kenyataan bahwa India tidak bisa dibunuh olehnya?

“Ada lebam-lebam di tubuh India, pun dengan memar di pergelangan tangan karena borgol yang mengikat kuat di sana sebelumnya.” Dokter Frederick melemparkan pandangan ingin tahu ke arah Letnan Paris, “Aku berasumsi luka-luka tersebut muncul karena keterdesakan, mungkin India mencoba melawan atau yang lainnya. Tetapi luka itu akan sembuh… hanya luka di kakinya yang meninggalkan bekas.” sambungnya lagi.

Letnan Paris menggertakkan gigi, hampir tidak mendengar perkataan Dokter Frederick karena saat ini dirinya dihadapkan pada kenyataan bahwa dia bisa saja kehilangan mangsanya.

***

Ketika India membuka mata, dirinya langsung bertatapan dengan mata biru yang menatapnya tajam dalam keheningan, India terkesiap, lalu meringis karena gerakannya menimbulkan nyeri yang luar biasa di kakinya.

Sosok itu mengamati India dalam-dalam, mengunci pandangan India ke arahnya, lalu membuka mulutnya dan berbicara dengan santai.

“Akhirnya kau sadar juga. Bagaimana keadaanmu? Apakah kau teringat apa yang terjadi pada dirimu?” tanyanya langsung tanpa jeda.

India mencoba berpikir, tetapi pikirannya begitu berkabut dan tidak jelas, malahan membuat kepalanya nyeri sehingga dia harus memijit perlahan kedua sisi pelipisnya untuk meredakan nyeri itu.

Pada akhirnya India menggelengkan kepala, menatap sosok laki-laki tampan bagaikan malaikat yang berdiri di samping ranjangnya itu dengan tatapan bingung bercampur sedih.

“Saya… saya tidak bisa mengingat apa-apa…” bisik India perlahan, memijit pelipisnya kembali seolah-olah hal itu bisa membantu mengembalikan ingatannya, “Maksud saya, saya ingat semuanya… siapa diri saya dan seluruh peristiwa hidup saya, tapi saya tidak ingat kenapa saya bisa berakhir di sini.” bisiknya sambil menahan tangis, “Apakah Anda tahu sesuatu? Kenapa Saya bisa berakhir di sini?” sambungnya perlahan, bertanya dengan penuh harap seolah-olah nyawanya tersambung kepada jawaban yang diberikan oleh sosok serupa malaikat di depannya itu.

Sosok di depannya itu menundukkan kepala, mata birunya yang tajam mengamati India dengan begitu awas seolah-olah hendak menusuk ke dalam jiwanya, sebelum kemudian menjawab.

“Kau ditemukan tergolek di samping hutan dalam kondisi tak sadarkan diri karena tertembak oleh pasukan pengamanan kami, kami berpikir bahwa kau sedang tersesat hingga tak bisa menemukan pertolongan, dan karena langkahmu yang sempoyongan mendekat tanpa peduli dengan teriakan peringatan yang mereka lempar kepadamu, membuat mereka melakukan tindakan pencegahan sesuai protokol dengan menembakmu.”

“Saya tertembak?” India melebarkan mata, refleks memandang seluruh tubuhnya dengan bingung. Dia tidak menemukan luka di tubuhnya, hanya perban di lengan yang menutup infusnya. Tetapi ada rasa nyeri yang pekat, dan itu bersumber di… kakinya?

Dengan panik India bergerak untuk menyibak selimutnya, dan matanya menangkap perban di sana, membalut tebal dan ternyata menjadi sumber rasa sakitnya.

India memejamkan mata ketika rasa nyeri menyerangnya dengan begitu kuat, sementara pikirannya bekerja kuat untuk menggali memori guna menjawab pertanyaan kenapa dirinya bisa berakhir di sini, di rumah sakit ini dengan luka tembakan di kaki.

Lalu India mulai ingat, dia berjalan dalam kegelapan… Kenapa semua gelap? Apakah karena dia berada di tengah hutan seperti yang dikatakan oleh Letnan Paris? Dan tangannya… tangannya terasa begitu pegal di belakang tubuhnya, seolah-olah dia diikat… Tapi dia tidak mungkin diikat bukan?

India meringis ketika rasa nyeri di kepala karena memaksakan ingatannya terasa menyerang dengan begitu kuat. Wajahnya nampak pucat seolah darah menguap dari kulitnya, membawa rona wajah menjauh hingga menyisakan warna pualam terang yang mengkhawatirkan.

“Ingat sesuatu?” suara itu berranya kembali, membuat India terkesiap dan refleks membuka mata dan langsung berhadapan dengan mata biru yang masih menatap tajam ke arahnya.

“Tidak… Tidak banyak, hanya kilasan ingatan yamg saya sendiri bahkan meragukannya… ” India menatap ke arah Letnan Paris sedikit ragu, mata lebarnya yang bening mempelajari wajah Letnan Paris, membuat Sang Letnan beringsut tidak nyaman.

“Merasa mengenali saya?” Letnan Paris menghadiahi India dengan senyum manisnya nan rupawan, membuat mata India mengerjap.

India masih merasa kehilangan orientasi dan sedang berjuang mengumpulkan kesadarannya, tetapi seragam militer hitam yang dikenakan oleh lelaki di depannya itu menciutkan hati dan menjadi pemicu beberapa ingatannya.

Dengan napas tersendat karena menahan takut, India menarik selimut ke dada dan mencengkeramnya di sana, satu-satunya pertahanan rapuh yang dia miliki sebelum kemudian memberanikan diri untuk menatap mata Letnan Paris yang tajam,

“Ya. Saya mengenali anda.” jawabnya kemudian.

[/responsivevoice]

Bersambung ke Part Berikutnya

 

416 Komentar

  1. Sani Agatha menulis:

    Masih merasa seram

  2. Irtianida Faruni menulis:

    :DUKDUKDUK

  3. Puguh Setiawan menulis:

    :haisalamkenal

  4. tasya Pratiwi menulis:

    :haisalamkenal

  5. kasian india. :lovely

Tinggalkan Balasan