Lieutenants Darling

Lieutenant’s Darling Part 3 : Tersekap

Bookmark

No account yet? Register

3.877 votes, average: 1,00 out of 1 (3.877 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

Author’s Playlist – Nico&Vinz – Am I Wrong ( Gryffin Remix)

Am I wrong for thinking out the box from where I stay? Am I wrong for saying that I choose another way?

I ain’t tryna do what everybody else doing, Just ’cause everybody doing what they all do
If one thing I know, I’ll fall but I’ll grow. I’m walking down this road of mine, this road that I call home. If you tell me I’m wrong, wrong. I don’t wanna be right, right


Dan malam ini, Letnan Paris sengaja melonggarkan penjagaan di area dinding tempat India mengendap-ngendap berusaha mencari jalan keluar dari Benteng Besar Marakesh City… bisa dibilang hanya dialah yang berjaga disini.

Mata biru Letnan Paris terus mengawasi tubuh India yang bergerak perlahan demi keamanannya, dan seriangaian tidak lepas dari bibirnya.

Dirinya hanya perlu alasan untuk menghabisi perempuan di depannya ini, tetapi tidak bisa melakukan karena perempuan itu tidak berbuat salah. Kode etiknya mengatakan bahwa yang tidak bersalah tidak boleh dibunuh.

Tetapi sekarang… India telah berbuat kesalahan, mencoba menyelinap dan melarikan diri dari tahanan mereka padahal mereka telah memperlakukan perempuan itu beserta kelompoknya dengan baik. Perempuan itu harus dihukum dengan kejam… bahkan mungkin bisa untuk dibunuh.

Letnan Paris menyeringai puas menyadari bahwa kini dia punya alasan untuk membunuh India.


Entah kenapa malam itu begitu sunyi, seolah-olah semua hewan merasa murung dan enggan untuk menodai senyapnya malam. Bulan pun memilih tak bersahabat malam ini, menyembunyikan diri di balik awan hitam tebal yang dia peluk laksana kawan sejati, membuatnya melupakan manusia yang masih syahdu merindukan pantulan kebaikan yang terbiasa bulan anugerahkan dalam bentuk setitik cahaya untuk melawan hitamnya malam nan membisu.

Mata lebar India memandang ke sekeliling, entah kenapa jantungnya berdebar kencang saat ini, mungkin karena antisipasi dan rasa bersalah karena kondisinya yang sekarang membuat dia bisa dikatakan telah melakukan pembangkangan terhadap aturan dan melawan pemerintah, dan yang dia hadapi bukanlah main-main, melainkan militer hitam yang mengerikan dan kemungkinan terburuk jika dirinya tertangkap, dia bisa dituduh sebagai pembangkang, pengkhianat dan dijatuhi hukuman mati.

India menyentuhkan tangan mungilnya di dada dan berusaha untuk meredakan debar jantung yang semakin berpacu. Dia lalu melangkah perlahan, mengendap-endap menyusuri dinding gelap bangunan Asrama militer yang cukup tinggi hingga cukup membantu menaungi tubuh kecilnya dalam bayang-bayang kegelapan.

Kesunyian yang mencurigakan ini membuat kerutan di dahi India semakin dalam. Tadinya dia berpikir bahwa akan ada banyak pasukan militer berpakaian hitam yang akan lalu lalang di seluruh area asrama militer di dalam benteng Marakesh City ini, tetapi sampai dia berhasil mengitari gedung asrama militer yang tinggi ini hingga ke ujung dan sekarang hendak menyeberang dataran luar menuju pepohonan yang tersusun rapi dan rapat layaknya hutan buatan, India tidak melihat satu sosok pun di seluruh area.

Apakah memang penjagaan di asrama militer selonggar ini?

Terasa aneh karena ini malam hari dan seharusnya penjagaan di malam hari lebih ketat dibandingkan di siang hari, bukan? Padahal di siang hari ketika India tadi berlalu lalang untuk mengambil bahan makanan bagi anak-anak panti asuhan, dia melihat bahwa penjagaan begitu ketat dan rapat, hingga dirinya tidak bisa menghitung banyaknya pasukan militer yang berjaga. Yah, memang tidak semua dari militer hitam yang ditemuinya tadi sedang berjaga, beberapa berlalu-lalang menjalankan kesibukannya masing-masing di dalam benteng ini.

India telah mempelajari bahwa tempat mereka berada sekarang adalah area asrama militer hitam, tempat begitu banyak militer hitam tinggal dan menjalani pelatihan terus menerus untuk membuat diri mereka semakin ahli, dan keberadaan militer hitam yang begitu banyak sudah selayaknya terjadi.

Tetapi saat ini mereka tidak ada satupun…. Apakah mungkin ketika malam tiba mereka semua tidur hingga tidak berjaga? Bagaimana mungkin mereka tidak berjaga di malam hari?

Pemikiran itu entah kenapa malahan membawa firasat buruk di benak India, membuatnya menghentikan langkah dan merasakan bulu kuduknya meremang. Sebentar lagi dia harus menyeberangi dataran luas yang berbatasan langsung dengan asrama militer hitam ini, dataran itu berbentuk lapangan yang berumput hijau yang mungkin digunakan untuk berlatih di siang hari oleh para kaum militer. Setelah India berhasil menyeberangi lapangan itu, dia lalu harus memasuki hutan buatan yang sepertinya sengaja ditanam untuk membentingi perbatasan bagian dalam benteng dengan tembok luar yang melingkupi.

India sendiri tidak tahu hendak kemana setelah dia berhasil menembus hutan ini, dia bahkan tidak mengerti bagaimana cara keluar dari area Benteng Marakesh City yang memiliki dinding tinggi dan sulit ditembus ini.

Dari pelajaran di sekolahnya, India tahu bahwa dinding di Benteng Marakesh City memang dibuat ketat dengan penjagaan super canggih untuk melawan gempuran dari luar. Dikatakan bahwa Benteng Marakesh City belum pernah berhasil ditembus sebelumnya, siapapun yang bisa masuk ke dalam area ini adalah karena mereka dipersilahkan masuk dan bukannya menembus pertahanan benteng secara frontal ataupun berhasil menyusup diam-diam. Melihat sejarahnya, kemungkinan  besar usaha India akan berakhir sia-sia… tetapi dia tidak akan tahu kalau tidak mencoba, bukan?

Mata India menyusuri hutan luas yang tadi siang tampak hijau dan asri tetapi entah kenapa malam ini berubah menjadi mengerikan ketika nuansanya berbalut kegelapan, pohon-pohon itu berubah menjadi sosok antagonis, seolah-olah ada monster menyeringai dengan tangan-tangan bersulur cakar yang siap menyambut India lalu menangkapnya kalau India berani mendekati.

India langsung menggeleng-gelengkan kepala untuk mengusir bayangan menyeramkan itu. Dia menggigit bibir dan berusaha membulatkan tekad. Bagaimanapun juga, satu-satunya cara adalah menyeberang lalu memasuki hutan untuk menemukan dinding pembatas Benteng Marakesh City. Setelah itu India berencana menyusurinya sampai menemukan celah ataupun ruang kecil untuk melarikan diri.

Benteng ini tidak mungkin hanya memiliki satu tempat keluar berupa pintu gerbang besar di depan, pasti ada pintu kecil meskipun itu hanya untuk membuang sampah atau celah bagi hewan-hewan yang lewat. Dia hanya bisa berdoa tidak ada aliran listrik ataupun radar yang bisa membunuh atau membuatnya ketahuan.

India menghela napas panjang untuk kemudian mulai meloncat, berlari-lari kecil menembus padang datar sebelum kemudian berhasil menyeberang tanpa ketahuan dan mencapai tepi hutan rindang yang menaungi dirinya.

Tangan kecil India bertumpu pada sebatang pohon yang cukup besar, sementara napasnya terengah karena adrenalinnya terpacu kuat. India berusaha menetralkan napas, menciptakan kabut putih yang mengudara dari mulutnya yang kemudian memudar ketika tertelan oleh kegelapan. Dia memejamkan mata untuk mengumpulkan tekad sebelum kemudian membuka mata untuk menyambut gelapnya hutan pekat yang sudah menyambutnya.

Seperti terowongan gelap yang menyeramkan, siapapun yang memasuki tidak akan tahu apa yang menanti di dalam sana…

India menatap ke arah bulan, sedikit menyesali kenapa dia memilih malam ini untuk melarikan diri. Malam ini begitu pekat tanpa cahaya bulan menemani, membuat segala sesuatunya lebih sulit baginya. Kemudian, sambil menahan debaran di dada, india akhirnya berhasil mendorong dirinya untuk melangkah dengan hati-hati memasuki hutan.

Beberapa langkah India berjalan hanya dengan menggunakan insting dan ketika langkahnya semakin masuk ke dalam hutan, dia terpaksa melawan rasa sesak yang mulai membalut paru-parunya. Hutan ini semakin lebat ketika dirinya semakin melangkah ke dalam, dan berada di bawah pepohonan rimbun pada malam hari tentu saja akan membahayakan dirinya. Di malam hari pepohonan akan merenggut oksigen dan mengeluarkan residu yang bisa membuat paru-parunya tercekik hingga jika tidak berhati-hati, dirinya bisa mati lemas kehabisan napas.

India memandang cemas ke sekeliling, tetapi yang dia temukan hanyalah kegelapan nan pekat, membuatnya terpaksa menggunakan tangan untuk meraba dan bertumpu dengan tangan itu dari satu pohon ke pohon lainnya supaya menemukan jalan. Dia harus menjaga napasnya hati-hati, menghemat oksigen sekaligus menjaga supaya dirinya tidak pingsan karena kehabisan udara.

Yang harus India lakukan adalah berusaha berjalan lurus, dan untuk mencapai itu, India harus menumpukan bagian belakang sepatunya ke ujung sepatu kakinya yang lain ketika berjalan, supaya langkahnya terjaga lurus. India yakin jika dia mengikuti cara itu, dia akan mencapai ujung hutan ini dan menemukan dinding pembatas Benteng Marakesh City.

Suasana yang begitu senyap membuat hanya langkah India yang terdengar, diiringi oleh deru napasnya sendiri, bahkan mungkin saja debar jantungnya yang berkejaran bisa terdengar menguar dari rongga dada. India terus berkonsentrasi, menyingkirkan segala pikiran lain dan memusatkan diri untuk berjalan lurus sampai ke ujung, hingga tiba-tiba telinganya mendengar suara yang samar…

Begitu samar tapi tak terluputkan. India menghentikan langkah sementara bulu kuduknya meremang. Dia menajamkan telinga tetapi tidak mendengar apa-apa. Setelah menunggu lama dengan waspada dan memastikan tidak ada gunanya memandang sekeliling karena matanya tidak bisa menemukan apapun selain kegelapan, India memutuskan untuk berjalan kembali.

Lalu suara itu terdengar lagi…

Seketika India terkesiap dan otomatis menghentikan langkah kembali, membuat dirinya diselubungi kesunyian. Dengan waspada India memutar pandangan meskipun tahu bahwa itu percuma.

Suara itu ikut berhenti ketika langkahnya berhenti dan muncul kembali ketika dia berjalan.

Dengan tegang India sengaja melangkahkan kakinya lagi, dan… suara itu terdengar lagi!

Jantung India langsung berdebar menggedor rongga dadanya hingga terasa menyakitkan. Itu adalah suara langkah kaki yang berjalan mengendap di belakangnya, mengikutinya dalam senyap tanpa suara tetapi kalah oleh keheningan hingga tertatangkap oleh telinga India.

Seseorang mengikutinya!

Seketika itu juga India langsung meloncatkan kaki dan berlari sekuat tenaga, lupa bahwa dia harus berjalan lurus, lupa bahwa dia harus menghemat oksigen sehingga tidak boleh sampai terengah-engah. Yang ada di dalam pikirannya sekarang adalah berlari sekuat mungkin, menjauh dari siapapun yang mengikutinya dengan seram dan berusaha menyelamatkan diri.

Sayangnya kaki kurus India yang mungil tidak bisa membawanya lebih kencang dari langkah yang berderap mengikuti serta mengejarnya. Napas India semakin tersengal seiring dengan usaha kerasnya untuk melarikan diri dalam keputusasaan karena langkah berderap cepat yang mengikutinya ketika dia berlari sekarang terdengar semakin lama semakin dekat.

India terus berusaha memacu langkah sampai kemudian dia tahu bahwa tidak ada harapan lagi, langkah kaki itu berada tepat di belakangnya, dan sebelum India sempat berpikir, sebuah tangan yang kuat mencengkeram pinggangnya hingga dirinya tertarik mundur dan membentur tubuh manusia yang keras.

India memekik, menjerit sekuat tenaga penuh ketakutan, lalu tiba-tiba sosok itu menyentuhkan sesuatu yang dingin di lehernya. Itu adalah logam dingin yang keras… dan meskipun India kurang pengalaman, dia tahu bahwa yang ditempelkan ke lehernya adalah sebuah pisau.

Pisau itu menempel dengan mengancam di sisi leher India, di dekat titik nadinya yang sudah pasti akan menyemburkan darah segar kalau ujung pisau tersebut menancap di sana. Sosok itu menggunakan sebelah lengan untuk mencengkeram tubuh India supaya mendekat ke arahnya dan secara refleks India berusaha meronta, hanya untuk membiarkan pisau yang tajam itu menggores kulit lehernya dan mengalirkan darah segar di sana.

“Sttt….” sosok lelaki dalam kegelapan itu tiba-tiba berbisik di sisi telinga India, membuat India terkesiap ketakutan karena nada suara yang menyeramkan seolah sengaja membuat bulu kuduknya berdiri. Dan sebelum India bisa berbuat apa-apa, sosok itu menggunakan salah satu jari untuk menyentuh sebuah titik di lehernya, menekannya dengan pengetahuan ahli dan membuat kegelapan langsung menyelimuti dirinya.

***

Tubuh mungil itu roboh dan jatuh ke tanah, tetapi Letnan Paris langsung menahannya dengan kedua tangan hingga tubuh India langsung ambruk ke dadanya.

Letnan Paris masih menggenggam pisau di tangannya, tetapi kepalanya terpaku dan menunduk ke arah India. Tanpa sadar indra penciumannya menghirup aroma rambut India yang wangi buah-buahan, khas shampoo yang biasa digunakan oleh warga After Earth, dan entah kenapa keraguan menyelimuti dirinya. Sebuah keraguan yang selama ini belum pernah dia rasakan sebelumnya.

Seharusnya saat ini dia langsung mengeksekusi India, menancapkan pisau di lehernya, membiarkan darah segar India memuncrat ke udara sebelum dirinya sendiri kemudian berpesta pora dan menikmati aroma kematian yang sangat dia sukai.

Tetapi alih-alih membunuh India, saat ini dia malah terpaku seolah bingung akan diapakan sosok remaja yang lunglai di lengannya ini.

Kenapa dia tertahan untuk membunuh India?

Letnan Paris mengerutkan  kening dan mencoba menelaah dirinya sendiri, mencari tahu apa yang menahan dirinya, dan kemudian, sambil menyangga tubuh India dia menemukan jawabannya.

Kode etiknya melarang dirinya untuk membunuh perempuan ini. Meskipun saat ini India telah melakukan pelanggaran, tetapi dosanya belum terlalu besar untuk dibunuh.

Letnan Paris mengerutkan kening dengan marah, mencela ketidaksabarannya sendiri yang terdorong untuk meneror perempuan ini dan menghadiahkan sedikit ketakutan pada India dalam usaha pelariannya. Seharusnya dia bersabar dan mengikuti rencana semula untuk membiarkan India keluar dari Benteng Marakesh City dan melakukan kejahatan lebih besar yang membuatnya pantas untuk dibunuh.

Kejahatan yang dimaksud oleh Letnan Paris adalah pengkhianatan. Ya, Letnan Paris tahu bahwa tujuan India melarikan diri dari sini adalah untuk mencari Cesar. Dia bisa melihat dari mata India yang berbinar ketika nama Cesar disebut. Anak ini memuja Cesar dan meskipun tidak mengatakannya, India sudah jelas menganggap Cesar sebagai seorang pahlawan dan kenyataan bahwa Cesar saat ini menjadi pengkhianat di After Earth sama sekali tidak mengubah kekaguman yang disimpan India untuk Cesar.

Tadinya Letnan Paris memusatkan diri untuk membiarkan India lari, lalu mengikutinya dalam diam sampai kemudian India bisa menggiring dirinya untuk menemukan Cesar. Sekali tepuk dia mendapatkan dua korban, itulah rencana yang dia susun sebelumnya. Ketika India berhasil menemukan Cesar, ketika itulah dia menjadi pengkhianat dan kode etik Letnan Paris akan membuka kuncinya, memberikan akses lebar-lebar baginya untuk membunuh India sebagai hukuman. Seharusnya dia bersabar sampai saat itu tiba, tetapi ketika melihat dari balik alat yang dipasang di mata, yang bisa menembus kegelapan dan menampilkan India yang berjalan dengan penuh ketakutan menembus hutan, insting predatornya langsung bangun, muncul dengan kuat tanpa bisa ditahan dengan dorongan untuk menakuti calon mangsa sebelum kemudian melahapnya.

Baru kali ini Letnan Paris tidak mampu menahan diri, dan anak remaja ini penyebabnya. Entah karena baru kali ini Letnan Paris bertemu dengan calon korban yang begitu polos serta tidak berdaya, atau entah karena kebetulan yang nyata dimana wajah India sangat mirip dengan ibu kandungnya, sosok perempuan kejam yang meninggalkan luka mendalam berbalut kebencian di dalam dirinya.

Letnan Paris menunduk untuk menatap India yang lunglai. Dia tidak bisa membiarkan India tergolek di sini hanya untuk ditemukan oleh pasukan patroli esok hari, itu akan membuyarkan semua rencana yang dia susun… dia juga masih tertahan untuk membunuh India karena kode etiknya masih mengikat erat. Satu-satunya jalan adalah mengeluarkan India dari Benteng Marakesh City dan membiarkan perempuan itu menjalani skenario yang telah disusun Letnan Paris baginya.

Akhirnya, setelah mengambil keputusan, Letnan Paris berlutut sambil membawa India bersamanya. Perempuan itu terbaring lunglai di pangkuannya tanpa daya. Letnan Paris lalu mengeluarkan kain hitam panjang dari saku pakaiannya untuk kemudian mengikat di bagian mata India, dia juga mengeluarkan tali yang lain, yang selalu dia bawa, dan mengikat kedua tangan India dengan simpul mati yang tidak mudah dilepaskan.

Kemudian Letnan Paris berdiri sambil memanggul tubuh India menembus kegelapan hutan itu

***

Tubuh India dibanting dengan keras, bahunya langsung melawan lantai, terasa sakit sampai ke tulang. Rasa sakit itu menembus kesadaran India yang sempat tersesat tanpa tahu arah dan membuatnya menemukan jalan pulang, refleks India mengaduh dan mencoba menggerakkan tangan untuk menyentuh bahu, tetapi tubuhnya langsung gemetar ketakutan ketika menyadari bahwa kedua tangannya terikat. India membuka mata lebar-lebar untuk melihat dimana dirinya berada sekarang, tetapi ada kegelapan yang membalut pandangannya, mengikat erat di bagian belakang kepala, membuat India menyadari bahwa ada kain gelap yang diikatkan di mata untuk mengunci pengelihatannya.

Ada langkah kaki bersepatu boot yang bergerak mendekat, lalu berhenti tepat di depan India, membuat India langsung beringsut menjauh meskipun kesulitan dengan kedua tangan terikat erat. Dia tidak mampu berdiri karena kakinya masih terasa lemah, yang bisa dilakukan India adalah menggunakan kaki dan sikunya sebagai tumpuan sebelum kemudian menyeret dirinya mundur hingga akhinya tidak bisa bergerak lagi karena punggungnya membentur dinding.

“Siapa kau?” India berseru dengan suara parau bercampur gemetar karena ketakutan menyelimuti jiwanya, tahu bahwa dirinya berada di tangan yang salah. India menyadari bahwa dia berteriak kepada udara, karena kain yang menutup mata membuatnya tidak bisa melihat siapa yang membawanya dan sedang berada di mana sosok itu sekarang.

Sebuah gerakan lalu terasa kembali di depan India, suara langkah  begitu dekat hingga India bisa membayangkan bahwa sosok itu sedang berdiri di depannya.

“Siapa kau?” kembali India menyembur, mencoba menemukan jawaban hanya untuk berbenturan dengan kesenyapan.

Sosok itu beringsut di depannya, dan India bisa merasakan hawa panas yang mendekati dirinya. Sosok itu sepertinya berlutut dan sekarang berada dekat sekali dengan dirinya!

Napas India langsung tercekat ketika dia merasakan telapak tangan nan hangat menyentuh pipinya, menangkup kulitnya yang hampir mati rasa karena melawan udara malam. India berusaha menggelengkan kepala supaya sentuhan itu terlepas, tetapi tangan itu mencengkeram dengan kuat, memaksa wajah India menghadap ke depan, lalu India merasakan napas yang panas mendekati dirinya, membuat napas India sendiri jadi tercekat di tenggorokan karena takut.

“Kau kedinginan.” sosok itu berbisik perlahan menembus kegelapan yang melingkupi India, suaranya begitu dekat seolah-olah bibir lelaki itu menempel di pelipisnya.

India menjerit perlahan, mencoba menjauh karena ngeri. Dia beringsut sekuat tenaga, tetapi tangan yang kuat mencengkeram pundaknya, menyakitinya dengan cengkeraman tak tertahan yang tertanam di kulit.

“Tolong… lepaskan aku… tolong… kumohon….” suara India bergetar ketika air mata langsung menetes tak tertahankan, ketakutan bercampur kengerian karena tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya di masa depan. Saat ini, berada dalam gelap karena matanya tertutup kain dengan kedua tangan terikat membuat bayangan-bayangan mengerikan langsung menghantui benak India.

Selama dirinya hidup di dalam panti asuhan, India selalu aman dan terlindungi, setiap harinya dia berangkat sekolah bersama anak-anak lain dengan bus sekolah yang mengantar jemput mereka dengan aman, memastikan mereka tiba di sekolah tepat waktu, lalu mengantarkan pulang kembali ke panti asuhan dengan selamat, setelah itu India akan menghabiskan malamnya untuk membantu Asia memasak makan malam, dan makan malam bersama dengan seluruh anak panti asuhan sebelum beranjak tidur dengan nyaman. Kehidupannya sehari-hari hingga usianya yang hampir mencapai lima belas tahun ini sangat aman dan nyaman… meskipun India pernah mendengar ada orang-orang jahat yang suka mengincar perempuan-perempuan dan membunuh mereka. Dulu India tidak pernah memikirkan hal itu karena dia tahu pasti bahwa sistem keamanan After Earth yang sangat ketat membuat penjahat-penjahat itu ditangkap dengan mudah oleh kaum militer yang sangat hebat, lalu tidak terdengar kabarnya lagi.

Sampai dengan saat ini… India tidak menyangka bahwa diirnya akan berakhir seperti ini, terikat dalam kebutaan di tangan seorang lelaki yang sudah pasti orang jahat dan akan melakukan hal-hal buruk kepada dirinya.

Tetapi saat ini dia berada di dalam Benteng Marakesh City bukan? Hanya kaum militer yang bisa berada di sini, itu berarti sosok yang menangkap India saat ini adalah salah satu dari kaum militer… dan itu semakin membuat India ngeri karena penjahat itu kemungkinan besar menjadi bagian atau menyaru sebagai salah satu kaum militer yang katanya bertugas untuk melindungi rakyat After Earth.

Ruangan itu hening, hanya berisi suara napas India yang tercekat, memohon dengan putus asa supaya tidak disakiti.

“Kumohon… lepaskan aku…” sekali lagi India berseru dalam isakan, berharap siapapun yang menahannya saat ini berubah pikiran dan melepaskannya. Dia tidak menyangka usahanya melarikan diri akan berakhir di sini. Ketika India memutuskan lari, dia memang sudah siap dengan kemungkinan terburuk, yaitu tertangkap oleh militer hitam dan menjalani hukuman. Tetapi situasi ini… situasi ini bahkan lebih buruk dari yang bisa dia bayangkan.

Lelaki yang menculik dan mengikatnya ini… dia bisa melakukan apa saja kepada dirinya dan tidak akan ada yang bisa menolong dirinya!

Sosok itu menyusurkan jemari ke rambut India, sementara wajahnya masih begitu dekat, ditandai dengan hembusan napasnya yang terasa lembut nan hangat di pelipis India, dekat dengan telinganya.

“Tapi kau kedinginan….” suara itu mengalun dengan kelembutan nan menyeramkan, seolah-olah diucapkan tanpa hati dan dengan seringai kejam tak terperi, “Aku tidak mungkin membiarkan tamuku kedinginan, aku akan menghangatkanmu.”

Pikiran buruk langsung menerpa diri India, dia menjerit, berusah meronta sekuat tenaga untuk menyelamatkan diri, ditendangnya sosok itu tetapi sia-sia karena dirinya hanya menendang udara ketika sosok itu berhasil menghindar dengan tepat.

Lalu tanpa diduga-duga, sosok itu bangkit, meninggalkan India dalam antisipasi dan ketakutan tak terperi karena tidak tahu apa yang terjadi. India mendengar langkah-langkah menjauh sebelum kemudian mendekat kembali, membuatnya terkesiap dan beringsut ke dinding tanpa daya.

Lalu sebuah selimut yang tebal dijatuhkan ke atasnya dan sosok itu membungkuk untuk kemudian membentangkan selimut itu lalu membungkus tubuh India erat-erat hingga India merasa seperti kepompong yang dibungkus dalam kehangatan. India tidak bisa melawan ketika tubuhnya di angkat dan diletakkan ke atas sesuatu yang empuk yang mungkin sebuah ranjang. Kemudian tangannya yang terikat di angkat dan sebuah tali lain yang cukup longgar disambungkan ke ikatan tangannya dan disambungkan ke jeruji besi yang ada di kepala ranjang, membuat India masih bisa menggerakkan tangan dengan leluasa meskipun dia tidak akan bisa lepas dari ranjang ini.

“Kau pikir aku akan menghangatkanmu dengan cara apa?” ada senyum yang tersirat ketika sosok itu kembali berbicara, seolah-olah menertawakan India dengan berbagai pikiran negatifnya yang sudah kemana-mana.

India merasakan pipinya memerah, dia lalu berusaha mengangkat wajah untuk menguatkan diri.

Tetapi kemudian pinggiran ranjang itu melesak, pertanda sosok lelaki penculik tersebut menaiki ranjang, membuat India langsung menolehkan kepala dengan waspada. Sebuah tangan yang kuat menyentuh lehernya, menyisakan nyeri tak terperi, dan ketika itulah India tersadar bahwa lehernya terluka, dan dari aliran basah yang terasa di sana, diusap oleh jemari lelaki itu, India tahu bahwa lukanya masih mengalirkan darah.

Sesuatu yang dingin dan basah ditempelkan di sana, serupa dengan kain lembut dan terasa sedingin es. India setengah memekik, tetapi tubuhnya tertahan oleh ikatan tangan, dia mengerutkan kening sambil menggigit bibir menahan sakit ketika dengan tenang sosok lelaki itu mengusap darah di lehernya, memberikan obat dengan aroma menyengat yang terasa perih di kulit sebelum kemudian menutup luka itu dengan plester tebal yang menempel kuat.

Lalu wajah India didongakkan dan sebutir pil dengan rasa tawar serta sedingin es dimasukkan ke dalam mulutnya. India langsung menggelengkan kepala dengan panik karena dia tidak tahu obat apa yang dimasukkan ke dalam dirinya, dia berusaha mengeluarkan obat itu dengan cepat karena jenis pil dengan teknologi After Earth jika tidak segera dikeluarkan, akan langsung menyatu dengan memasuki pembuluh darah tanpa rasa di bagian dalam mulutnya, tidak  bisa dimuntahkan lagi. Sayangnya, tangan yang kuat itu mencengkeram mulut India, membuatnya tidak bisa membuang obat itu. India menggelengkan kepala sekuat tenaga untuk memberontak, tetapi entah kenapa dia merasa tubuhnya lunglai, seolah daya upayanya hilang dan kesadaran dirinya mulai terenggut kembali.

“Itu hanya obat untuk membuatmu tidur lelap dan beristirahat, sama sekali tidak berbahaya dan akan mengembalikan kondisi tubuhmu esok pagi hingga lebih segar.” sosok itu berbicara dengan nada datar, tahu bahwa India panik karena tidak tahu jenis obat apa yang dia telan.

India merasa sosok itu bergerak mundur, menjauhi ranjang tapi tidak meninggalkkannya. Dalam bayangannya, dia tahu bahwa sosok itu masih berdiri di tepi ranjang, menatap dirinya dengan tajam.

“Kenapa? Kenapa kau melakukan ini kepadaku?” tanya India dalam kebingungan yang berpadu dengan rasa ngeri.

Keheningan langsung tercipta di ruangan itu, jenis keheningan mengerikan yang akan melukai jika tidak segera dipecahkan.

Lalu ketika sosok itu berbicara, suaranya terdengar begitu kejam hingga mau tak mau India begidik ngeri.

“Karena aku akan membunuhmu.” ujar sosok itu dalam desisan dingin, “Bukan sekarang, tapi nanti. Aku akan membunuhmu nanti, sebab ketika melihatmu pertama kali aku sudah memutuskan bahwa kau akan mati di tanganku.”

***

Pagi telah menjelang di After Earth dengan cahaya mataharinya yang muncul untuk membagikan terang kepada seluruh penduduk yang sudah siap beraktifitas menjalani hari sampai gelap kembali menyapa dan memaksa mereka untuk beristirahat.

Tetapi sinar matahari itu tidak sampai ke tempat Letnan Paris berada saat ini. Lelaki itu duduk dengan tenang di atas sebuah kursi, begitu kaku dengan mata memandang lurus ke depan, ke arah India yang saat ini tertidur lelap dengan mata tertutup kain hitam dan tangan terbelenggu menjadi satu, terikat di kepala ranjang.

Saat ini mereka berada di ruang bawah tanah di area bawah tempat tinggal Letnan Paris. Ketika pertama kali tinggal di sini dan menyiapkan bangunan ini sebagai tempat tinggalnya, Letnan Paris menemukan ruang bawah tanah ini secara tidak sengaja, sebuah ruangan kecil nan lembab tanpa akses cahaya sedikitpun yang digunakan untuk menyimpan barang-barang tak terpakai yang sudah hancur termakan kelembapan. Sepertinya ruangan bawah ini dahulu dimaksudkan sebagai bunker perlindungan terhadap serangan bom yang sekarang tidak terpakai menyusul kedamaian yang tercipta di After Earth.  Bahkan ada kamar mandi kecil di sudut ruang bawah tanah ini, dengan aliran airnya yang bocor yang menjadi sumber kelembapan yang meliputi.

Letnan Paris lalu mengeluarkan barang-barang itu, membersihkan ruang bawah tanah ini dengan tangannya sendiri, memperbaiki saluran air dan memasang saluran udara untuk menjaga supaya kelembapan tidak kembali menyerang. Setelah yakin bahwa ruangan ini cukup nyaman, Letnan Paris meletakkan sebuah ranjang besi dengan sebuah kursi dan sebuah meja kayu polos untuk mengisinya.

Ruangan ini menjadi tempat pelariannya ketika dorongan untuk membunuh tidak tertahankan lagi, membuatnya ingin menyerang membabi buta, menarik senjata dan mencabut nyawa-nyata tidak bersalah. Dulu ketika berada di fasilitas kesehatan mental, Letnan Paris memiliki sebuah ruang khusus tanpa jendela yang tersambung dengan kamar tempat dirinya dirawat, psikiater yang memantau perkembangan jiwanya meminta dirinya untuk mengurung diri di dalam ruangan tanpa jendela itu untuk menciptakan kedisiplinan terhadap kode etik yang ditanamkan ke jiwa Letnan Paris untuk mengendalikan dirinya. Dan Letnan Paris mematuhinya, ketika dorongan untuk membunuh itu menyembur dengan begitu kuat, dirinya langsung mengurung diri di ruangan itu, mencoba menetralkan mentalnya sebelum mampu keluar dengan tenang kembali.

Di dalam rumah ini, dia juga mengubah ruang bawah tanah tersebut menjadi tempatnya mengurung diri dalam rangka memperkuat pengendalian diri dan kedisiplinan terhadap kode etik yang ditanamkan di mentalnya.

Dan sekarang, secara impulsif, dirinya menggunakan ruang bawah tanah ini untuk mengurung India.

Ini salah… seharusnya ketika merenggut kesadaran India di hutan tadi, dia masih bisa kembali pada rencana awal dan membawa India keluar dari Benteng Marakesh City di suatu tempat ketika India tersadar dan bingung akan apa yang terjadi pada dirinya. Letnan Paris yakin jika dia melakukan itu, India tidak akan repot-repot mencari tahu bagaimana bisa dia keluar dari Benteng Marakesh City… perempuan itu pasti tidak akan membuang-buang waktu dan akan langsung bergerak mencari Cesar dan dirinya tinggal mengikuti sebelum kemudian bebas untuk membunuh baik India maupun Cesar.

Seharusnya Letnan Paris melakukan itu…. tetapi dia tidak melakukannya. Dia tidak bisa.

Ada dorongan yang sangat kuat di dalam jiwanya, untuk menahan India supaya tidak lepas darinya, supaya India tidak bertemu dengan Cesar.

Perempuan ini tidak boleh bertemu dengan Cesar, karena India adalah miliknya.

***

Ketika India membuka mata, kegelapan masih meliputi dirinya, tetapi tangannya sudah tidak terikat lagi dan kain yang menutup matanya juga sudah tidak ada. Memang tetap saja dia tidak bisa melihat jelas di ruangan yang begitu gelap ini, tetapi setidaknya sekarang dia bisa bangun, bergerak dan mencoba berdiri.

India tidak membuang-buang waktu lagi, dia menggulingkan tubuh dan turun dari ranjang, hanya untuk merasakan kepalanya pusing, berkunang-kunang dan langkahnya terhuyung.

India berpegangan pada kepala ranjang yang terbuat dari besi, lalu memejamkan mata untuk mengendalikan keseimbangan tubuhnya. Obat yang diminumnya mungkin masih meninggalkan  jejak hingga membuat tubuhnya belum berfungsi seperti seharusnya, tetapi apa yang dikatakan oleh sosok misterius itu benar, saat dia terbangun sekarang, tubuhnya terasa lebih segar dari sebelumnya.

Setelah merasa mampu mengendalikan keseimbangan tubuhnya, India menegakkan tubuh dan melepaskan pegangan dari kepala ranjang. Tangannya refleks bergerak ke leher dan menyentuh perban tebal di sana. Dia mengerutkan kening ketika mengingat kembali rasa nyeri karena pisau yang menggores cukup dalam di sana. Setelah itu India memandang ke sekeliling dan sedikit takut karena hanya kegelapan yang dia hadapi.

Dirinya sepertinya berada di dalam sebuah kamar, kamar yang gelap dan dindingnya tidak memiliki jendela satupun sebagai ventilasi….

India mencoba melangkah sambil menjulurkan tangan ke depan, untuk menjaga tubuhnya supaya tidak menabrak apapun. Dia terus melangkah, berjalan lurus sampai menemukan dinding. Setelah itu India menempelkan kedua telapak tangannya ke dinding, mengikuti alurnya untuk menemukan pintu karena sebuah pintu pasti ada di salah satu dinding itu.

Sebuah pintu teraba oleh tangannya, membuat India langsung menempelkan dirinya di sana untuk mencari tahu. Pintu itu terbuat dari logam dingin yang sepertinya sangat tebal, mungkin berupa pintu baja yang terdapat di dalam bunker untuk melindungi diri. Dan tidak ada gagang pintunya, hanya sebuah kotak kecil yang mengeluarkan bunyi ‘bib’ lemah ketika tombol-tombol yang ada di sana disentuh. Hal ini semakin menguatkan India bahwa pintu ini dikunci dengan sistem keamanan canggih dan memang merupakan sebuah bunker bawah tanah.

Jika memang begitu, maka di balik pintu yang terkunci rapat itu, sudah pasti ada tangga yang mengarah ke atas, ke permukaan yang bisa membawa India kembali ke dunia luar.

India menempelkan tubuhnya dengan putus asa di pintu, merasakan dadanya sesak hingga ingin menangis. Saat ini dia kemungkinan besar tersekap di sebuah bunker bawah tanah yang dimiliki oleh sosok jahat yang menculik dirinya entah dengan tujuan apa. Tidak akan ada orang yang bisa mendengar permintaan tolongnya di sini, dan nyawa India tergantung pada belas kasihan penculiknya….entah akan diapakan dirinya nanti.

Air mati bergulir di pipi India ketika tubuhnya roboh di lantai, bersandar di pintu dan menangis terisak karena kebingungan akan apa yang harus dia lakukan dan bagaimana caranya melarikan diri dari sini.

Lalu tiba-tiba saja, suara bip pelan terdengar dan pintu yang berada di belakang tubuhnya bergeser membuka.

Seketika, dorongan impulsif untuk menyelamatkan diri membuat India langsung bangkit, membalikkan badan dan melompat ke celah pintu itu, mengusahakan tubuhnya yang kecil supaya bisa menyelinap keluar dari celah pintu yang kini terbuka.

Sayangnya celah pintu itu terhalangi oleh sosok tubuh yang bergerak masuk ke arah berlawanan. Tubuh kerasnya tidak bisa ditembus, malahan pundak India dicengkeram lagi sebelum dirinya dodorong mundur menjauh dari pintu yang kini sudah tertutup rapat.

India meringis merasa nyeri di puncaknya, sepertinya cengkeraman sosok lelaki itu semalam telah meninggalkan memar di sana yang membuat permukaan kulitnya terasa sakit. India berusaha mengabaikan rasa sakit itu, dia mendongakkan kepala dengan panik, berusaha mencari tahu wajah penculiknya supaya lebih tahu apa yang akan dia hadapi. Sayangnya kamar ini terlalu gelap dan meskipun matanya sudah terbiasa dengan kegelapan, kondisi yang tanpa cahaya setitikpun ternyata tidak memungkinkannya untuk melihat wajah penculiknya.

Sosok itu begitu tinggi, seorang lelaki dewasa dengan tubuh tegap yang jauh lebih kuat dari India…. tidak mengherankan karena jika dugaan India benar, lelaki ini adalah seorang anggota militer yang kebanyakan bertubuh kuat dan tegap.

India terkesiap ketika cengkeraman di pundaknya mengerat, membuatnya mengaduh dan seketika meronta ketakutan saat sosok siluet gelap itu membungkuk supaya lebih dekat kepadanya, dan entah kenapa meskipun kegelapan melingkupi mereka berdua, India bisa merasakan bahwa sosok itu menyeringai kejam ke arahnya.

“Jangan pernah mencoba menyelinap atau melarikan diri.” desis sosok itu dengan suara yang sama, suara lembut yang mengalun lambat dan menyeramkan, “Atau aku akan mengikatmu lagi dan menggunakan pisauku untuk memberimu pelajaran.” sambungnya kemudian dengan nada penuh ancaman.

Bersambung ke Part berikutnya

 

702 Komentar

    1. Tahan nafaaasssaa

  1. :NGAKAKGILAA ini

  2. Wah, dibalik Jendral Akira yang sedang berbulan madu, ada Paris yang juga menyekap perempuannya :bantingkursi

    1. Mereka sama2 mendekati wanitanya

  3. Ayu Tri Handayani menulis:

    :bantingkursi

  4. Diah Wardani menulis:

    :lovely

  5. Sani Agatha menulis:

    Seram

  6. Vinda Firdaus menulis:

    Kerennn

  7. Annisa Nurul menulis:

    :DUKDUKDUK

  8. Qory tartila menulis:

    Serem sih

    1. Iya

  9. angelicarrenn menulis:

    :ohyeaaaaaaaaah!

  10. Liza Murdani menulis:

    Baca ulang

  11. Paris memang sesuatu

  12. Regindapikoli menulis:

    :NGAKAKGILAA :NGAKAKGILAA

  13. Ngeri nya Letnan Paris

  14. Anastasya Wahyu menulis:

    :awaskubalasnanti :habisakal :happy

  15. Arfridayusa Dianni menulis:

    Sadistik :habisakal :habisakal

Tinggalkan Balasan