Lieutenants Darling

Lieutenant’s Darling Part 2 : Kode Etik Sang Pembunuh

Bookmark

No account yet? Register

4.443 votes, average: 1,00 out of 1 (4.443 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

Author’s Playlist – Aurora – Murder Song ( 5 4 3 2 1 )

5, 4, 3, 2, 1
He holds the gun against my head. I close my eyes and bang I am dead
I know he knows that he’s killing me for mercy

He holds my body in his arms. He didn’t mean to do no harm. And he holds me tight

Oh, he did it all to spare me from the awful things in life that come. And he cries and cries. I know he knows that he’s killing me for mercy


Perempuan ini masih remaja dan bukan merupakan ancaman bagi militer hitam seperti dirinya.

Tapi wajahnya…. wajahnya begitu mirip dengan ibunya yang gila, yang selalu menyiksa dengan pukulan kejam hingga meninggalkan jejak berupa bilur mengerikan yang tak terhapuskan baik di punggung maupun di jiwanya. Ibunya juga yang telah melampiaskan kegilaannya dengan membunuh adiknya tanpa belas kasihan…

Saat ini Paris sekuat tenaga melawan dua dorongan yang saling bertentangan di dalam benaknya, dorongan untuk berlutut dan memohon ampun ketakutan atas pukulan yang diderita akibat trauma masa lalunya, atau dorongan untuk melampiaskan kemarahan, menyerbu perempuan itu, lalu mencekiknya dengan kejam sebelum kemudian membunuh untuk melampiaskan dendamnya yang tak terlampiaskan di masa lalu.


Hai sekarang kami menggunakan rating/vote sistem baru, cukup ketuk/klik tanda love  di bawah judul di bawah tulisan post view, akan keluar lingkaran loading dan rating akan bertambah. Setiap vote akan mendapat satu poin, postingan cerita yang lama masih bisa di vote juga lho. 150 vote akan mendapat badge vitamins appreciator. Thank you


Sosok yang duduk di depan India itu setampan malaikat, dengan keindahan ragawi yang luar biasa, tetapi entah kenapa aura yang dibawa oleh lelaki itu menunjukkan hal-hal yang sebaliknya dari malaikat. Mata biru yang tampak sedingin es itu entah kenapa semakin menguarkan hawa dingin yang membuat India tidak bisa menahan diri untuk tidak menggosokkkan kedua telapak tangannya dengan gugup bercampur bingung.

Keheningan yang tercipta di tengah mereka terasa begitu menyesakkan, dan lelaki itu memilih menghabiskan waktu panjang hanya untuk menatap India begitu lama, seolah ingin menembus kedalaman jiwanya. India bukannya tidak tahu kalau ditatap seperti itu, tetapi yang bisa dilakukannya hanya menundukkan kepala dengan rasa tidak nyaman yang mengganggu.

Dan ketika lelaki itu akhirnya menggerakkan tubuh, India sampai terkesiap karena begitu terkejut.

Lelaki itu menipiskan bibir, tampak menahan senyum sinisnya yang terkendali.

” Namamu India?” suara lelaki itu mengalun tenang dan memenuhi ruangan.

Suaranya bahkan terdengar lembut dan India melebarkan mata sebelum kemudian menyadari bahwa sosok bermata biru di depannya ini sedang menunggu jawaban.

Dengan penuh semangat, didorong oleh rasa takut dan keinginan bersikap jujur, India menganggukkan kepala.

“Ya. Nama saya India,.” jelasnya dengan suara lirih.

Lelaki itu balas menganggukkan kepala, “Kau boleh memanggilku dengan Letnan Paris.” ucapnya tenang memperkenalkan diri,  “Apakah kau tahu kenapa kau dipanggil kemari?”

India menggelengkan kepala perlahan, beringsut dengan tidak nyaman di kursi karena tatapan tajam membunuh yang dilemparkan kepadanya.

“Kami menganggap di usiamu yang ke empat belas tahun, kau sudah cukup dewasa untuk memberikan keterangan.” Letnan Paris berhenti sejenak dan menatap India menyelidik sebelum bertanya, “Apakah kau tahu bahwa Cesar yang merupakan saudara kembar Asia dituduh atas pengkhianatan serta pemberontakan terhadap negara?”

Mata India melebar. Ketika mendengar hal itu diucapkan di depannya, rasanya tetap saja mengerikan. Dia tidak bisa membayangkan Cesar yang begitu baik, murah senyum dan bahkkan sama sekali tidak tampak berbahaya bisa melakukan hal mengerikan seperti memberontak.

India menyadari bahwa Letnan Paris masih menatapnya tajam, dia segera menggelengkan kepala, menatap Letnan Paris dengan gugup.

“Tidak… saya tidak tahu.”

Letnan Paris memajukan tubuh dan menatap India dengan tatapan mata menyelidik.

“Dan kurasa kau juga tidak tahu dimana Cesar sekarang berada?” ejeknya dengan nada sarkatis.

India langsung menganggukkan kepala, “Saya sungguh tidak tahu, Letnan.” ucapnya perlahan, “Saya mengenal Cesar dengan baik, tetapi beliau… yah mungkin hanya menganggap saya sebagai salah satu dari banyak anak panti asuhan lainnya… sama seperti yang lain dan saya bukanlah anak yang istimewa baginya, jadi kami tidak pernah berbicara secara pribadi.” kali ini India menjawab jujur, tidak sadar bahwa ada nada getir terucap di dalam suaranya.

Sayangnya nada getir itu tertangkap oleh telinga Letnan Paris yang tajam dan terlatih untuk mempelajari nada suara manusia dalam proses interograsi. Ada senyum tipis di sudut bibir Letnan Paris ketika bertanya.

“Kurasa Cesar adalah cinta pertamamu, eh?” tebaknya tepat sasaran.

Pipi India langsung merah padam dan dirinya tidak mampu berkata-kata. Ya, Cesar adalah sosok laki-laki dewasa yang begitu mempesona bagi India, selisih usia mereka mungkin hanya dua tahun, tetapi ketika India hanya menjadi perempuan biasa yang bersekolah dan tidak punya keistimewaan, Cesar telah menjadi militer hitam yang kuat, bagian dari militer kelas tinggi yang ditakuti sekaligus dihormati. Apalagi Cesar bersikap sangat baik serta ramah kepada semuanya, membuat India semakin bertambah kagum.

Tentu saja India menyimpan kekagumannya itu dalam hati, dia sudah tahu pasti bahwa orang sehebat Cesar tidak akan mungkin melirik gadis biasa yang tidak istimewa sepertinya.

Letnan Paris menatap India dengan seksama, anak remaja ini seperti sebuah buku terbuka yang sangat mudah dibaca, dan senyum tipis semakin muncul kental di bibir Letnan Paris.

“Kurasa tidak ada lagi yang akan kubicarakan denganmu.” ucapnya dengan dingin, “Kau boleh pergi.”

***

Langkah Letnan Paris terlihat tenang dan wajahnya tanpa ekspresi ketika melalui lorong demi lorong yang menjadi ruang penjara berkeamanan tinggi di Marakesh City. Bangunan ini terletak di dalam area Benteng Militer Marakesh City dan memiliki lapisan-lapisan penjagaan ketat yang berasal dari setiap perwakilan tingkatan militer di After Earth. Militer hitam tentu saja menjaga area paling dalam dan kelam, bertugas mengawal kelompok penjahat kejam dan pemberontak tidak tahu diri yang mungkin tidak termaafkan di dunia luar, sosok-sosok menyimpang yang seharusnya tidak ada lagi di After Earth.

Mereka sebagian besar adalah pembunuh, pelaku penghilangan nyawa orang lain tanpa alasan. Jenderal Akira sangat tegas mengenai hukuman terhadap para pembunuh ini karena kejahatan pembunuhan adalah salah satu tindak kejahatan yang membawa konsekuensi mengerikan, menjalani hukuman seumur hidup dan tidak akan bisa keluar lagi dari penjara kelam ini, atau bahkan akan dihukum mati. Dan peraturan itu berlaku untuk seluruh warga negara After Earth, baik penduduk sipil maupun kaum militer yang melakukan pembunuhan diluar perintah yang telah diberikan oleh atasannya. Kadangkala, hukuman yang dijatuhkan terhadap militer dengan kejahatan yang sama bahkan bisa lebih berat, apalagi jika yang dibunuhnya adalah penduduk sipil yang tak berdaya, mengingat kaum militer memiliki tenaga dan kemampuan lebih hasil dari pelatihannya, tetapi malah menggunakannya untuk hal-hal yang tidak baik.

Militer hitam After Earth memang terkenal kejam dan menjadi pengeksekusi tindak kejahatan maupun pemberontakan tanpa belas kasih. Terdiri dari hasil seleksi tentara-tentara militer terbaik dan dididik langsung di bawah pengawasan Jenderal Akira, kaum militer hitam tumbuh menjadi kelompok yang paling ditakuti di Marakesh City. Tetapi di balik kekejaman mereka yang terkenal, ada peraturan yang harus dilakukan. Tidak boleh membunuh di luar perintah, tidak boleh membunuh penduduk sipil yang tidak berdosa maupun militer lain yang terbukti tidak bersalah. Membunuh harus dilakukan dengan alasan kuat, pencabutan nyawa manusia lain harus dilakukan dengan pertimbangan kebaikan. Bahkan Paris sendiri yang bukan tumbuh dan berkembang bersama militer hitam dari awal pun hanya bisa memuaskan keinginannya membunuh jika ada perintah dari Jenderal Akira. Dia memegang teguh aturan yang ditetapkan oleh Sang Jenderal kepadanya, tidak akan membunuh manusia manapun jika itu di luar perintah.

Paris tidak tumbuh dan dididik sebagai bagian dari militer hitam. Dia mendapatkan gelar letnan bukan karena mengikuti jenjang kemiliteran secara formal, melainkan sebagai gelar kehormatan karena telah menjadi tangan kanan kepercayaan Jenderal Akira dan berhasil menunjukkan kompetensinya dengan mampu melaksanakan seluruh tugas yang diberikan kepadanya dengan sangat sempurna.

Ya, Paris menerima penghormatan dari seluruh kaum militer, bukan karena dia menjadi tangan kanan Jenderal Akira, tetapi karena dirinya telah berhasil menunjukkan kemampuan fisiknya serta strategisnya yang ternyata bisa lebih dibandingkan yang lain.

Paris tidak bsia menahan diri untuk tersenyum sinis ketika memikirkan itu semua. Mungkin memang dirinya memiliki bakat untuk membunuh, baik secara fisik maupun secara mental.

Bertemu dengan India tadi, sosok yang begitu mirip dengan ibunya yang telah menanamkan luka fisik serta luka trauma mendalam di dalam dirinya, Paris hampir saja kehilangan kendali diri, salah satu yang menjadi kebanggaannya saat ini. Ya, kendali diri adalah apa yang membuat Paris bisa berada di sini, di kedudukan tinggi sebagai tangan kanan Jenderal besar Marakesh City yang dihormati. Jika tanpa kendali diri, Paris tidak akan bisa dibedakan dengan orang gila, yang akan menghabiskan seluruh kehidupannya di rumah sakit jiwa tak ubahnya seperti manusia-manusia lain yang tidak mampu mengendalikan kegilaannya.

Saat ini Paris sudah hampir berada di batas kontrol dirinya, dan berjuang sekuat tenaga supaya bisa bersikap tenang ketika melewati lapisan demi lapisan perimeter penjagaan yang harus dilaluinya untuk menuju ke area tergelap bagian paling dingin dari penjara militer di Marakesh City tempat penjahat-penjahat kelas kakap yang menanti hukuman mati dikurung di masa akhir kehidupannya.

Paris sudah melihat selintas lalu daftar para pembunuh dan kejahatan yang dilakukannya. Bahkan sebenarnya bisa dibilang dia hapal dengan mereka semua dan telah menetapkan skala prioritas dan memberi nomor siapa-siapa saja yang pantas dibunuh lebih dahulu olehnya untuk memuaskan hasrat membunuhnya.

Kali ini, korbannya yang telah menanti adalah sosok lelaki berusia empat puluh tahun, seorang mantan militer kelas rendah dengan temperamental tak terkendali yang membunuh dan menghajar tiga orang anaknya serta istrinya yang mati-matian berusaha melindungi anak-anak mereka, hingga mati. Ketika para tetangga hendak meringkusnya, dia mengangkat senjata dan membunuh sekitar empat orang tak berdosa lainnya dengan senjatanya militernya. Manusia-manusia seperti itu pantas untuk dimatikan, mereka cacata secara mental, hampir sama seperti Paris, bedanya Paris mampu mengontrol kecacatannya hingga menjadi kekuatan, sementara manusia-manusia ini dikalahkan oleh kelemahannya sendiri.

Langkah Paris terhenti ketika sampai di ujung sel tempat korbannya sudah menanti. Lelaki pembunuh berusia setengah baya yang menjadi korbannya itu itu ada di sana, meringkuk di dalam selnya yang begitu dingin serta gelap. Dan begitu sang tahanan mendongakkan kepala serta menatap Paris yang berdiri di sana, dia sudah tahu bahwa waktu kematiannya telah tiba.

Sudah menjadi pengetahuan umum di area sel tahanan kelas berat ini, jika militer hitam berambut emas dan bermata biru dengan wajah seperti malaikat ini datang untuk menjemput salah satu dari mereka, maka yang dijemput itu tidak akan pernah kembali dan dilaporkan mati. Militer hitam itu sepertinya adalah eksekutor yang bertugas menghabisi mereka semua. Dia mungkin berwajah seperti malaikat, tetapi sudah pasti itu adalah malaikat pencabut nyawa.

***

Bangunan itu gelap dan bernuansa kelam, terletak di area dalam Benteng Militer Marakesh City tepat di belakang gedung asrama militer hitam yang juga didominasi dengan warna gelap. Dahulu bangunan ini diperuntukkan sebagai ruang kontrol yang dipakai oleh teknisi-teknisi untuk memantau kelayakan infrastruktur bangunan asrama, tetapi setelah gedung ruang kontrol terpusat dibangun tak jauh dari situ, gedung itu kosong dan terbengkalai, menunggu untuk dirobohlkan.

Ketika pertama kali dibawa oleh Jenderal Akira ke area dalam Benteng Marakesh City, Paris tetap beranggapan bahwa dirinya akan tetap pulang ke kamar khusus di rumah sakit jiwa bagian perawatan kesehatan mental yang selama ini menjadi tempat tinggalnya.

Tetapi di luar dugaan, Jenderal Akira menawarkannya untuk tinggal di dalam area dalam Benteng Marakesh City, membuat Paris hampir-hampir tidak percaya karena Sang Jenderal menawarkan seorang pembunuh berbahaya seperti dirinya, dengan catatan medis penuh bertuliskan cap merah dengan status “berbahaya”, “jangan didekati”, “tidak boleh berada di tengah masyarakat”, dan seluruh cap buruk lainnya, untuk tinggal di luar, jauh dari pengawasan ketat yang seharusnya diberikan bagi pembunuh seperti dirinya.

Tetapi rupanya Jenderal Akira percaya akan kemampuannya mengendalikan diri dan hal itu entah kenapa membuat Paris berusaha sekuat mungkin supaya tidak mengecewakan satu-satunya orang yang bisa mempercayainya ini. Karena itulah Paris mencoba tidak menantang batas dirinya lebih daripada yang bisa dia tanggung dengan tidak memutuskan untuk langsung membaur dengan orang banyak di asrama militer Marakesh City.

Seumur hidupnya Paris terbiasa tinggal sendiri, hampir-hampir tidak berkomunikasi kecuali dengan dokter yang bertugas menganalisa kondisi mentalnya. Dia selalu sendirian di dalam kamar itu, dan memaksakan diri untuk langsung berbaur dalam kehidupan asrama yang begitu gaduh sudah pasti bukan keputusan tepat.

Lalu Paris melihat bangunan kecil menyendiri yang gelap dan terbengkalai tersebut dan dia terpesona. Entah kenapa bangunan itu mengingatkan pada dirinya sendiri. Bobrok, rusak, terbengkalai tetapi masih berjuang untuk bertahan dan berdiri di sana. Dirinya lalu memberanikan diri untuk meminta kepada Jenderal Akira supaya diperbolehkan tinggal di sana sambil menyesuaikan diri dengan dunia luar, dan Jenderal Akira mengizinkannya.

Dan disinilah dirinya bertahun-tahun kemudian, pada akhirnya menjadi penghuni tetap bangunan ini tanpa niat sedikit pun untuk pindah. Selama bertahun-tahun Paris telah memperbaiki bangunan itu sedikit demi sedikit dengan tangannya sendiri, mengumpulkan bahan-bahannya dari apa yang disediakan oleh alam dan menciptakan habitat yang membuatnya sangat nyaman, gelap, sunyi dan tertutup rapat.

Paris membuka pintu tempat tinggalnya lalu menutupnya kembali dari dalam. Pintu rumah itu, meskipun terlihat sederhana dan hanya terbuat dari kayu, ternyata memiliki pelapis baja anti peluru di dalamnya dan memiliki sistem keamanan canggih yang dirancang dari keahlian Paris sendiri. Tidak akan ada siapapun yang bisa memasuki rumah ini tanpa sepengetahuannya.

Paris lalu melepaskan mantel militer hitamnya dan melipatnya dengan rapi di tempat yang telah disediakan, sebelum kemudian melangkah ke tengah ruangan. Bangunan itu sederhana, hanya terdiri dari satu ruangan besar yang menyambung dengan dapur serta area pantry, serta satu kamar kecil yang terhubung dengan kamar mandi.

Perabotan yang ada di ruangan besar itu hanya sedikit membuat ruangan tampak lengang serta polos, sebuah meja kayu segi empat polos dengan dua kursi kayu senada yang saling berhadapan di sana. Ruangan ini hanya mempunyai satu warna, cokelat gelap yang dingin.

Paris lalu melangkah menuju pantry, mengambil peralatan makanannya yang juga hanya berjumlah masing-masing dua buah. Dia menyiapkan piring, gelas dan sendok makannya dengan rapi berjajar di atas meja dapur. Setelah itu Paris membuka lemari pendingin, mengeluarkan kaleng berisi sup daging yang telah diawetkan dan membuka tutup kalengnya. Dia lalu memasukkan kaleng yang telah dirancang khusus itu ke dalam pemanas, mengatur waktunya untuk kemudian memeriksa jam di tangannya, memastikan waktu yang tepat untuk membersihkan diri sebelum makan malam.

Paris melangkah ke dalam kamarnya yang kondisinya tidak jauh berbeda dengan ruang depan rumah, kosong dan hanya satu warna, terdiri dari sebuah ranjang dan sebuah lemari kecil berisi pakaian militer dan pakaian sehari-harinya yang hampir serupa. Tidak ada perabotan lain, dan Paris duduk di atas ranjang untuk kemudian melepaskan sepatu boot militernya dan meletakkannya di tempat yang telah tersedia di ujung ruangan. Telapak kakinya lalu melangkah perlahan melewati lantai kayu dingin untuk menuju kamar mandi. Dirinya melepas pakaian di depan pintu kamar mandi, meletakkannya di kotak kayu yang telah disediakan di sana sebelum kemudian melangkah telanjang memasuki kamar mandi.

Dirinya menyalakan keran dan membiarkan siraman air hangat menimpa tubuh telanjangnya. Paris memejamkan mata dan setelah membungkuk, membiarkan siraman air panas nan deras menghujam punggungnya, kedua tangannya terentang di dinding kamar mandi dan dia membiarkan rambut pirang emasnya yang setengah panjang basah kuyup sampai ke ujungnya. Mungkin jika ada orang yang melihat Paris saat ini dari belakang akan begitu terkejut dan bergegas lari ketakutan karena melihat bekas luka cambukan serta sayatan permanen yang melintang saling bersilangan dengan tidak teratur memenuhi seluruh area punggungnya. Parut-parut bekas luka itu menimbulkan jejak mengerikan yang berbeda warna sesuai dengan tingkat kedalaman lukanya, ada yang lebih pucat, lebih merah dan juga lebih gelap. Semua orang pasti bisa membayangkan betapa besarnya penderitaan yang harus dilalui oleh Paris di masa kecilnya untuk bertahan hidup dari hari ke hari, dan mungkin dengan begitu mereka bisa menerima kenapa Paris menjadi gila seperti ini. Tetapi tentu saja Paris tidak membiarkan siapapun melihat bekas lukanya, karena ini adalah kelemahan masa lalu yang ingin dia lupakan.

Setelah membersihkan diri, dengan hanya membalutkan handuk di panggul untuk tubuh telanjangnya, Paris melangkah keluar dan mengambil handuk lain untuk mengeringkan rambutnya. Seperti biasa, dia meletakkan kembali dengan rapi barang-barang yang telah dipakainya pada tempatnya, sebelum kemudian melangkah keluar dari kamar.

Paris melangkah ke dapur, mengambil sup dari pemanas dan menuangkan isinya ke mangkok yang telah disiapkan. Dirinya lalu mengambil segelas air, menyeduh kopi dan membawa keduanya ke atas meja kayu di tengah ruangan. Paris duduk tanpa suara, dengan tenang melahap makanannya suapan demi suapan, lalu meneguk minumannya sampai habis. Setelah itu, dia mencuci peralatan makanannya dan meletakkan di tempat seharusnya.

Paris lalu melangkah ke kamar, berdiri di samping ranjang, melipat handuknya dan berbaring di atas ranjang dengan tubuh telanjang. Entah sejak kapan dirinya terbiasa tidur tanpa memakai pakaian, dan itu membuatnya lebih nyaman. Meskipun dia selalu menyiapkan senjata di bawah ranjang dan ditempat-tempat khusus yang bisa dicapainya dengan mudah, karena ketelanjangan bagi seorang pria berarti adalah sebuah kelemahan yang membutuhkan perlindungan lain.

Paris meletakkan kedua tangan sebagai bantal kepala sementara matanya menatap ke langit-langit kamarnya. Dia terbiasa menghitung sampai seratus sampai tubuhnya secara sistematis akan menarik kesadaran dan membawanya tertidur lelap. Karena tidur baginya hanyalah sebuah kegiatan wajib untuk mengisi cadangan energi tubuhnya supaya kembali penuh.

Sayangnya, sebelum alam mimpi meraih kesadarannya, sebuah nama menelusup ke sana, pun dengan wajah yang begitu familiar dan menggayuti perasaan Paris, sebuah perasaan yang seharusnya tidak mungkin merasuk masuk ke dalam jiwanya yang kosong dan dingin.

India…

**

Ketika menyeberangi jalan menuju area utama Benteng Marakesh City, Paris tidak bisa menahan diri untuk tidak menghentikan langkah dan menolehkan kepala ke tempat area asrama militer yang berdiri dengan megah menantang langit di depannya.

Mata Paris menelusuri sisi tingkatan jendela bangunan itu, menghitung dalam hati dengan seksama. Satu.. dua… tiga… empat. India dan seluruh saudara panti asuhannya masih tinggal di sana, di tampung di sayap khusus yang memang diperuntukkan sebagai tempat tinggal asrama besar untuk satu divisi.

Mereka semua tidak bisa seterusnya tinggal di sana tentu saja, karena asrama militer ini sudah pasti tidak diperuntukkan untuk kaum sipil. Selain bisa membahayakan mereka karena banyak manusia-manusia bersenjata bertebaran di sini, keberadaan kaum sipil di lingkungan yang ditempati oleh kaum militer juga cukup membahayakan berdasarkan pertimbangan keamanan.

Tiba-tiba sosok yang dipikirkannya muncul serta langsung menarik perhatiannya. Yah bagaimanapun juga, penampilan India meskipun masih remaja, sudah menunjukkan kemiripan yang begitu kuat dengan ibu kandungnya. Sungguh ironi dari seluruh manusia yang hidup di After Earth ini, dirinya harus bertemu dengan wanita yang begitu mirip dengan ibunya, sosok yang ingin dilupakannya.

Letnan Paris mengawasi dengan mata birunya, memerhatikan dengan tajam kemana India melangkah. Militer hitam tentu tidak melepaskan pengawasannya dari mereka karena anak-anak panti asuhan ini berserta ibu asrama mereka adalah aset yang menjadi pegangan kuat bagi Jenderal Akira untuk menahan perempuan bernama Asia itu supaya tetap di sisinya. Sepertinya India sedang diantarkan untuk mengambil persediaan bahan makanan bagi saudara-saudaranya, dilihat dari keranjang besar yang saat ini berada didalam pegangan tangannya yang mungil.

Iblis pembunuh di dalam diri Paris langsung membujuk, menggoda untuk menguji ketahanan Paris supaya memberanikan diri mendekati perempuan kecil yang mengganggu pikirannya sejak pertemuan pertama tersebut untuk mengukur ketahanan mentalnya. Dorongan untuk menyerang India, memberikan siksaan keji sebelum membuatnya terbunuh dalam siksaan mengental di dalam jiwa Paris, tetapi dia menahan diri. Kode etik yang dia pegang selama ini masih berhasil menahan iblis keji di dalam jiwanya yang mulai meronta untuk dilepaskan. Kode etik itu selalu dipegang oleh Paris sampai saat ini dan tidak pernah dilanggarnya. Dia tidak akan membunuh orang yang tidak bersalah kepadanya.

Kalau begitu kenapa dia tidak memancing supaya India berbuat kesalahan sehingga dia punya alasan untuk mengeksekusi perempuan itu?

Iblis di dalam dirinya berbisik kembali, penuh antisipasi dan ketidaksabaran untuk memuaskan diri. Trauma masa kecilnya menghantui, mengingatkannya bahwa meskipun dia tidak bisa membalaskan dendam atas kejahatan ibunya karena ibunya telah dihukum mati oleh negara, mungkin dia bisa mencoba membalaskannya kepada sosok perempuan yang sama persis seperti ibunya… mungkin itu akan terasa melegakan, mungkin hawa sesak yang selama ini terpelihara dan tersembunyi di dalam jiwanya akan melepaskan bebannya dan membuatnya ringan…

Paris menggertakkan gigi, pada akhirnya tidak bisa menahan diri untuk mendekati India, langkah kakinya bergerak perlahan, seperti pembunuh yang sedang mengincar mangsa. Tetapi seperti biasa, Paris berhasil memasang topeng indah yang menutupi betapa berbahaya dirinya, sebentuk topeng berwajah rupawan dengan senyum manis yang tak pernah tertinggal.

Dengan isyarat matanya Paris memberikan perintah supaya para pengawal militer yang menjaga India pergi, mereka menurutinya dengan cepat karena posisi Paris sebagai orang kepercayaan Jenderal Akira memberinya kuasa lebih untuk memerintah mereka.

India sepertinya masih belum menyadari keberadaan Paris di dekatnya, perempuan itu masih berjalan lurus dengan keranjang di tangannya dan Paris, tanpa suara melangkah di depan India, lalu membungkuk perlahan sebelum kemudian dengan gesit mengambil keranjang yang ada di tangan India.

“Kurasa kau membutuhkan bantuan membawa keranjang seberat ini.” Paris tersenyum lembut, wajahnya tampak begitu rupawan apalagi di bawah cahaya matahari yang bersinar dan membuat rambut emasnya berkilauan.

India terkesiap, tidak bisa berbuat apa-apa ketika keranjang itu diambil dari tangannya, dia mendongakkan kepala dan keterkejutan muncul di mata indah itu ketika melihat siapa yang berjalan di sebelahnya.

Letnan Paris tampak jauh berbeda ketika mereka sedang berada di ruang interograsi sebelumnya, sekarang, di bawah cahaya matahari yang begitu terang, lelaki ini tampak begitu bercahaya, apalagi dengan wajahnya yang dihiasi senyuman indah nan rupawan.

Dengan gugup India menganggukkan kepala, bingung harus menjawab apa, “Bahan makanan ini untuk anak-anak panti asuhan… mereka menyediakan bahan mentah untuk kami olah.”

Letnan Paris membuka penutup keranjang di tangannya, dan melihat ada bongkahan roti gandum utuh, buah-buahan serta sayur-sayuran hijau di sana, lalu kembali menatap ke arah India dengan ramah.

“Sepertinya kalian akan memasak hidangan yang lezat dengan bahan-bahan ini.” ujarnya dalam senyum

“Kami akan memasak sup sayuran dan roti…”India berucap perlahan, “Sebagian bahan sudah diambil oleh Ibu Chaterine dibantu oleh anak-anak lain, aku hanya mengambil bahan yang tertinggal.” mata India tanpa sadar menelusuri pakaian militer hitam yang dikenakan oleh Letnan Paris dan tahu bahwa meskipun lelaki ini bersikap ramah, tetap saja dia adalah bagian dari militer hitam yang berbahaya dan harus diwaspadai.

Apalagi…. mereka saat ini mengejar Asia dan Cesar… India mengerutkan kening, tiba-tiba mencemaskan kondisi Asia. Ibu Chaterine berkata bahwa dirinya telah menempatkan Asia dalam kondisi yang berbahaya, katanya Letnan Paris memberitahu  bahwa rumah panti asuhan mereka terbakar dengan Asia yang berada di dalamnya masih terjebak. Mau tidak mau rasa bersalah yang sama juga menggayuti hati India, dia juga tahu bahwa kakak angkatnya berada di dalam loteng rumah itu, tetapi dia tidak mengatakan apa-apa kepada kaum militer yang waktu itu mengepung mereka karena berpikiran sama dengan ibu Chaterine, untuk melindungi Asia. Ternyata apa yang mereka maksud sebagai perlindungan itu malahan membuat Asia celaka.

India beringsut dalam rasa bersalah yang pekat sebelum memberanikan diri untuk menatap Letnan Paris dengan hati-hati.

“Apakah… apakah Anda tahu bagaimana kondisi Asia? Ibu Chaterine berkata….”

Mata biru Letnan Paris menggelap, menatap India dengan tajam hingga India merasakan dorongan untuk lari serta bersembunyi.

“Kalau jadi kau aku tidak akan bertanya.” Letnan Paris berucap perlahan dengan nada lambat mengerikan, “Informasi bisa membunuh seseorang, kadang kau lebih baik tidak tahu apa-apa tapi mempertahankan hidupmu daripada mengorek serta mengetahui segalanya lalu mati sebagai timbal baliknya. Ada pepatah di masa lampau yang sebaiknya kau pegang hingga sekarang, rasa ingin tahu bisa membunuhmu, India.”

Letnan Paris mendesis pelan dengan lembut, tapi India bukan perempuan bodoh. Dia tahu bahwa meskipun diucapkan dengan nada tersamar, lelaki ini sedang mengancamnya. Nama Asia tidak boleh dibawa dalam pembicaraan mereka kalau India dan semuanya masih ingin hidup. Itu adalah arti dari kalimat Letnan Paris yang sebenarnya.

Pada akhirnya ancaman itu menciptakan jurang dalam di antara mereka, senyum Letnan Paris sudah tidak ada gunanya lagi karena sekarang India menunduk ketakutan, tahu bahwa dibalik senyum manis Letnan Paris, tetap saja ada jiwa militer hitam yang kejam di sana.

India menundukkan kepala, berjalan tanpa suara sementara Letnan Paris yang berjalan di sebelahnya menatap pucuk kepala perempuan itu lalu memarahi dirinya sendiri. Dirinya telah salah strategi dengan melemparkan ancaman spontan tanpa dipikir. Sekarang India akan selalu waspada kepada dirinya karena menyadari bahwa apa yang ditampilkan Paris di depan tidak sama dengan apa yang ada di dalam hatinya.

Sebelum sempat salah satu dari mereka bersuara, seorang militer hitam datang, memberi hormat lalu menyampaikan sesuatu kepada Letnan Paris dengan nada rendah supaya tidak sampai ke telinga India yang berada di sebelahnya. Letnan Paris menerima informasi itu dan menganggukkan kepala, dia lalu menyerahkan keranjang yang dibawanya kepada militer hitam tersebut dan memerintahkan supaya membawakan keranjang itu sampai dengan area tempat India dan anak-anak panti asuhan lainnya berada, sebelum kemudian menganggukkan kepala dengan senyum meminta maaf ke arah India.

“Sayang sekali aku harus pergi, ada tugas yang telah menanti. Mungkin lain kali kita bisa bersua lagi.” ujarnya dalam senyum sebelum kemudian membalikkan badan dan melangkah pergi tanpa menunggu reaksi dari India.

India menatap kepergian Letnan Paris sampai langkah lelaki itu menghilang di ujung jalan yang membawanya ke area utama Benteng Marakesh City lalu dia melanjutkan langkah dengan militer hitam mendampinginya.

Mereka tadi berbicara dengan suara rendah, tetapi bagaimanapun juga telinga India yang tajam berhasil mendengarnya. Militer hitam itu mengatakan bahwa Letnan Paris harus membawa hakim ke rumah sakit karena Asia telah sadarkan diri, proses perkawinan harus dimulai.

Proses perkawinan siapa?

India mengerutkan kening, merasa bingung sekaligus cemas memikirkan nasib Asia. Dalam hatinya dia berpikir mencari cara untuk bisa bertemu dengan Asia dan mengetahui keadaannya.

***

Proses perkawinan itu berlangsung lancar seperti yang direncanakan, dan hakim itu pun pulang setelah melaksanakan tugasnya. Letnan Paris masih berdiri di lorong rumah sakit ketika Jenderal Akira melangkah keluar dari ruangan. Atas kehendaknya Sang Jenderal dan perempuan bernama Asia itu telah menjadi suami istri. Sekarang tinggal melakukan tugas lainnya, melahirkan keturunan untuk penerus After Earth selanjutnya.

“Apakah kau mendapatkan informasi mengenai Cesar setelah interograsimu kemarin?” Jenderal Akira bertanya datar.

Letnan Paris langsung menggelengkan kepala, “Tidak Jenderal, tidak ada apapun tentang Cesar. Mereka sungguh tidak tahu dan saya rasa Cesar cukup cerdik untuk tidak melibatkan siapapun yang berada di lingkup terdekat Asia dalam upaya pelariannya.”

“Cesar memang cukup cerdik dalam segala hal.” Jenderal Akira menganggukkan kepala setuju, “Aku mempunyai firasat bahwa pencarian kita terhadapnya akan sangat lama, dia akan sangat sulit ditemukan.”

“Tetapi kita memiliki Asia.” Paris berucap hati-hati, menyadari bahwa tatapan Jenderal Akira menajam, “Maksud saya, Cesar dan Asia adalah saudara kembar, dia pasti akan berusaha mencari Asia, dan pada saat itu kita akan menangkapnya.”

Jenderal Akira tidak berkata-kata, tetapi ekspresinya menunjukkan persetujuan. Dia lalu membuka pintu rumah sakit tempat Asia dirawat, seolah-olah sekarang setelah perempuan itu berada dalam kuasanya, Sang Jenderal tidak tahan untuk tidak terus berada di tempatnya.

Ketika hendak membuka pintu Jenderal Akira melirik ke arah Letnan Paris dengan tatapan dingin membunuh.

“Jangan pernah menodongkan pistol lagi di kepala Asia.” desisnya penuh ancaman, mata gelap itu semakin tajam seiring dengan perkataannya selanjutnya, “Jangan pernah menodongkan senjata lagi ke arah istriku.”

Mata biru Letnan Paris menyadari bahwa Jenderal Akira seolah-olah sedang menahan gemetar di tangannya dengan mengalihkan gerakan untuk mencengkeram gagang pintu kuat-kuat.

Tetapi seorang Jenderal Akira tidak mungkin gemetaran, bukan? Apalagi hanya karena sebuah senjata yang ditodongkan di kepala Asia.

Paris mengerjapkan mata untuk mengusir pikirannya itu dan dengan tegas langsung memberi hormat kepada Sang Jenderal.

“Baik. Jenderal, saya tidak akan melakukannya lagi.” ucapnya tegas.

Jenderal Akira menganggukkan kepala dan kembali masuk ke kamar rumah sakit itu.

***

“Kau yakin akan melakukannya?” Ibu Chaterine berbisik cemas, menatap India dengan sinar mata campur aduk antara ketakutan bercampur ragu.

Saat ini India memakai pakaian hitam hitam, siap untuk menyelinap melalui jendela kamar asrama yang gelap. Dia menemukan jalur pipa yang berdekatan dengan tangga darurat besi yang menggantung di luar gedung, mengerikan untuk dibayangkan memang jika dirinya harus memanjat, merangkak sebelum melangkah dengan hati-hati menuruni tangga besi melingkar di sisi gedung untuk menuruninya hingga kakinya bisa menapak tanah.

Semua ini beresiko, apalagi di daerah yang penuh dengan militer hitam seperti ini. Salah langkah dia bisa dibunuh.

Tetapi perkataan mereka tadi siang tentang Asia mengganggunya. India mendengar bahwa Asia sudah sadar di rumah sakit. Seharusnya itu kabar gembira… tetapi kenapa para militer hitam itu memisahkan Asia dari mereka dan menahannya tersendiri? Apakah karena Asia bersaudara dengan Cesar yang dituduh sebagai pengkhianat?

Pikiran buruk India langsung menyebar kemana-mana. Dia ketakutan kalau-kalau Asia akan dijadikan jaminan untuk mengancam Cesar supaya muncul dan menyerahkan diri. Apakah kalau Cesar pada akhirnya tidak muncul, Asia akan benar-benar dibunuh sebagai hukuman untuk Cesar?

Membayangkan kakak angkatnya yang baik hati dan merawat mereka semua tanpa kenal lelah, dengan kelembutan tanpa pamrih membuat hati India terasa sakit. Dia tidak ingin Asia berada dalam bahaya, dirinya harus mencari cara, entah bagaimana untuk menyelamatkan Asia.

Dia sudah pasti tidak mungkin pergi ke rumah sakit tempat Asia ditahan, di sana pengawalan militer hitam sudah pasti sangat banyak, lebih banyak dari asrama ini yang lebih santai karena merupakan  tempat tinggal sekaligus asrama mereka semua. Apalagi rumah sakit militer di dalam benteng marakesh City katanya memiliki lorong-lorong membingungkan yang tidak bisa dilewati oleh orang awam tanpa peta.

Yang bisa India lakukan adalah melarikan diri dari tempat ini… dan berusaha untuk menemui Cesar. Dia harus meminta Cesar untuk menyerahkan diri untuk menyelamatkan nyawa Asia.

Entah bagaimana caranya, India tidak tahu, tetapi setidaknya dengan kekuatan yang masih dia miliki, dia ingin menyelamatkan kakak angkatnya itu.

Mata India menatap ke bawah, ke arah tanah yang tampak begitu jauh. Merangkak dan meyusuri tangga besi tua itu pasti terasa menakutkan, belum dengan kematian yang mungkin sudah menantinya kalau India nanti ketahuan. Tetapi India sudah bertekad, dan dia akan melakukannya.

Dengan tubuhnya yang kecil, India memeluk tubuh Ibu Chaterine erat-erat, lalu mengusap air mata di sudut matanya.

“Kalau aku berhasil melarikan diri dari sini dan mereka menanyaimu, bilang bahwa kau tidak tahu apa-apa, Ibu Chaterine, lindungi dirimu dan anak-anak lainnya.” bisiknya haru dan menerima usapan sayang ibu Chaterine di kepalanya.

India lalu melepaskan pelukannya, menghela napas dalam-dalam dan meloncat dari jendela itu menuju balkon kecil, sebelum kemudian merangkak melalui pipa besar di samping balkon untuk menuju tangga besi lingkar di dinding yang mengghubungkan seluruh lantai dari yang paling atas sampai yang paling bawah.

Tubuhnya yang mungil dan ringan tentu memudahkan India untuk menjaga keseimbangan di tempat tinggi ini, belum lagi dengan kebiasaannya dulu di masa kecil yang sangat suka memanjat pohon ketika bermain dengan anak-anak lelaki sebayanya di panti asuhan, hal itu ternyata membantunya sekarang untuk bertahan di tempat tinggi.

***

Punggung Paris menegak ketika melihat sosok kecil kurus yang merayap dengan lincah melalui pipa saluran  di luar gedung sebelum kemudian berhasil melompat dan menjejakkan kaki dengan selamat di tangga lingkar yang ada di dinding. Sosok kecil itu kemudian bergerak dengan hati-hati, menuruni tangga demi tangga dan berusaha tidak menimbulkan suara.

Penjagaan di tempat ini agak longgar dibandingkan malam-malam sebelumnya dan itu adalah andil dari Letnan  Paris.

Sekarang Letnan Paris berdiri sambil menyeringai, tubuhnya berada di balik rimbunnya batang pohon yang berada tepat di depan area asrama, mengamati India yang pada akhirnya berhasil menjejakkan kakinya di tanah, sementara ekspresinya dipenuhi dengan kepuasan.

Manusa memang mudah ditebak, apalagi remaja seperti India yang masih belum berpengalaman. Semuanya sudah diatur, Letnan Paris memang sengaja membuat militer hitam mendatanginya dan memberitahu keadaan Asia ketika dirinya sedang berjalan dengan India tadi siang, dia juga tahu keberadaan tangga lingkar yang sempat menarik perhatian India ketika mereka sedang berjalan bersama tadi.

Dan malam ini, Letnan Paris sengaja melonggarkan penjagaan di area dinding tempat India mengendap-ngendap berusaha mencari jalan keluar dari Benteng Besar Marakesh City… bisa dibilang hanya dialah yang berjaga disini.

Mata biru Letnan Paris terus mengawasi tubuh India yang bergerak perlahan demi keamanannya, dan seriangaian tidak lepas dari bibirnya.

Dirinya hanya perlu alasan untuk menghabisi perempuan di depannya ini, tetapi tidak bisa melakukan karena perempuan itu tidak berbuat salah. Kode etiknya mengatakan bahwa yang tidak bersalah tidak boleh dibunuh.

Tetapi sekarang… India telah berbuat kesalahan, mencoba menyelinap dan melarikan diri dari tahanan mereka padahal mereka telah memperlakukan perempuan itu beserta kelompoknya dengan baik. Perempuan itu harus dihukum dengan kejam… bahkan mungkin bisa untuk dibunuh.

Letnan Paris menyeringai puas menyadari bahwa kini dia punya alasan untuk membunuh India.

Bersambung ke Part berikutnya

712 Komentar

  1. SERAFINA MOON LIGT🌙❤💡 menulis:

    Paris sma india kaya main kucing2 gitu ya :wkwkwkwk :yosemangat :Jambakantagonis

    1. Safliza Murdani menulis:

      :luculuculucuih

  2. Letnan paris :gakmauahgakmau

  3. lemonpinkskyyy menulis:

    :lovely

  4. Trauma yg dalam kuat Paris

  5. Diah Wardani menulis:

    :lovely

  6. Wah ternyata jeñdral akira ketakutan saat paris menodong senjata ke asia. Duh so sweet banget. Semoga TGW sesion 2 ceritanya tentang jendral akira jg

    1. Liza Murdani menulis:

      👍👍👍👍

  7. Baca ulang

  8. Lucu juga si letnan ini😂

  9. Sani Agatha menulis:

    Mantepa

  10. rizkyenggal menulis:

    :DUKDUKDUK

  11. Mamita Fatih menulis:

    :sebarcinta

  12. Annisa Nurul menulis:

    :kumenangismelepasmu

  13. debbyfebiyola menulis:

    :kumenangismelepasmu

  14. angelicarrenn menulis:

    :wowakusedih

  15. Menunggu India besar :happy

  16. Regindapikoli menulis:

    :habisakal :habisakal

  17. Puguh Setiawan menulis:

    :haisalamkenal

  18. Jangan dibunuh dong India nya :habisakal

  19. Waaahh bahaya ni…

  20. ini org yg psycho pola pikirnya beda ma orang biasa

Tinggalkan Balasan