Lieutenants Darling

Lieutenant’s Darling Part 1 : Pertemuan Pertama

Bookmark

No account yet? Register

5.589 votes, average: 1,00 out of 1 (5.589 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

Author’s Playlist – Oh Wonder – without You

And I’m digging down holes without you, can’t be on my own without you. I’m a little bit lost without you, without you

Step out into the dark, where were you when I was trying. To lift up, carry the love. Do you know?

That I’ve been closing my eyes. Love me slow, hallucinating. Swinging me all of your light. Do you know?


Hai sekarang kami menggunakan rating/vote sistem baru, cukup ketuk/klik tanda love ? di bawah judul di bawah tulisan post view, akan keluar lingkaran loading dan rating akan bertambah. Setiap vote akan mendapat satu poin, postingan cerita yang lama masih bisa di vote juga lho. 150 vote akan mendapat badge vitamins appreciator. Thank you


 

Malam itu begitu mencekam, dipenuhi hawa dingin yang mendebarkan jiwa sekaligus menumbuhkan rasa was-was.

India sama sekali tidak menyangka bahwa panti asuhannya yang damai dan tenang, yang dulunya penuh dengan tawa serta berkelimpahan akan cinta kasih keluarga dari seluruh penghuninya yang berbahagia dalam kesederhanaan, tiba-tiba saja mengalami kejadian yang begitu tidak terduga.

Anak-anak panti asuhan mungkin sudah sering melihat militer hitam, karena Cesar selalu datang berkunjung ke panti asuhan mereka hampir di setiap waktu luangnya, menghabiskan waktunya dengan bercengkerama bersama anak-anak panti, tertawa bersama, sekaligus membawakan kudapan kesukaan yang pasti disukai oleh anak-anak, berupa manisan dan permen dengan berbagai bentuk dan rasa yang menggoda selera.

Entah darimana Cesar mendapatkan makanan-makanan manis kesukaan anak-anak itu, mungkin dia menggunakan koneksinya sebagai militer hitam atau mungkin Cesar memang mendapatkan jatah khusus untuk dibagi . Yang pasti, dia tidak pernah datang tanpa membawa buah tangan, dan India, seperti juga anak-anak lainnya akan selalu berseru kegirangan sambil mengerubuti Cesar untuk meminta bagian permen mereka masing-masing jika Cesar datang dengan senyum lebarnya yang khas, memamerkan kantong kertas berisi makanan yang dipuja oleh seluruh anak-anak di After Earth.

Dengan hadirnya Cesar ke dalam keluarga besar panti asuhan mereka, lengkap dengan seragam militer hitamnya yang cukup mengerikan, semua anak-anak panti otomatis merubah paradigma mereka dari menganggap bahwa militer hitam adalah sosok misterius menakutkan yang kejam dan mampu membunuh tanpa pandang bulu, menjadi berpandangan bahwa bahkan seorang militer hitam pun ternyata adalah sosok yang manusiawi, bisa tertawa, bisa bercanda, bahkan bisa makan bersama mereka seperti manusia normal pada umumnya.

Saat ini India berbaris di antara anak-anak lainnya, matanya menatap ke sekeliling dan alisnya yang tebal, terbentuk melengkung rapi berwarna gelap serupa rambutnya dan membingkai matanya yang sewarna madu dengan indah, sekarang berkerut hingga menciptakan garis halus di pangkal hidungnya, pertanda bahwa dirinya sedang berpikir keras.

Malam itu tiba-tiba saja, kaum militer hitam berwajah bengis menggedor pintu panti asuhan mereka dan menciptakan ketakutan mencekam akibat kata-kata dingin yang dibarengi senjata besar yang mengintimidasi. Hal ini sepertinya akan menciptakan kembali paradigma bahwa militer hitam memang menakutkan, di antara anak-anak panti lainnya. Militer hitam yang mengepung mereka sekarang sangat jauh berbeda dari Cesar yang ramah dan murah senyum. Pasukan yang entah kenapa datang tiba-tiba dan memaksa seluruh anak panti berbaris di halaman depan panti asuhan yang dingin, masih dengan pakaian tidur mereka ini, tampak tidak bersahabat dan mengerikan.

Ketika India menatap wajah-wajah militer hitam itu, dirinya bahkan bisa membayangkan bahwa jika mereka tidak bersikap kooperatif, pasukan kejam ini akan dengan mudahnya melenyapkan nyawa mereka. Pemikiran itu membuat India begidik dan terkesiap ketika tubuhnya didorong supaya merapat ke anak-anak lainnya.

Dua orang anak panti lain yang masih kecil, masih berusia lima dan tujuh tahun dan berbaris di depannya, tiba-tiba meraih gaun tidurnya, mengalihkan India dari lamunan yang mengerikan. India menundukkan kepala dan mendapati wajah-wajah ketakutan anak-anak itu yang berpadu dengan mata berkaca-kaca menahan tangisan.

Dengan perlahan India memberi isyarat dalam bentuk gelengan samar, mencoba membuat anak-anak itu mengerti bahwa menangis tidak akan menyelesaikan masalah, malahan akan membawa konsekuensi mengerikan karena mungkin saja jika ada satu anak yang menangis ketakutan, yang lain akan tertular menangis… dan jika tangisan anak-anak saling bersahut-sahutan memekakkan telinga, bukan tidak mungkin kesabaran para militer hitam itu terkikis dan mereka akan bertindak kasar.

Dengan perlahan, India meraih kedua anak kecil itu ke dalam rangkulannya, mengusap kepala mereka perlahan untuk menenangkan, memastikan bahwa mereka semua baik-baik saja.

Seandainya ada Asia, anak-anak ini mungkin akan lebih tenang. Asia adalah sosok yang dikagumi di seluruh panti asuhan ini, sosok kakak yang melindungi, penyayang sekaligus menjadi panutan bagi semuanya. Bahkan India selalu menjadikan Asia sebagai patokan dan cerminan perempuan ideal di masa depannya. Asia sangat cantik, baik hati dan pandai memasak makanan enak untuk mereka semua, belum lagi keahliannya mengurus anak-anak panti yang masih bayi dan membutuhkan perhatian khusus, Asia selalu berhasil menangani mereka dengan sabar.

India ingin menjadi seperti Asia, mampu menjadi wanita cerdas dengan keahlian yang cukup untuk mengasuh anak-anak panti asuhan. Meskipun begitu, pemikirannya yang dewasa tahu bahwa Asia tidak akan selamanya berada di panti asuhan. Kakak angkatnya itu suatu saat pasti akan menikah dan menjalani hidupnya sendiri, dan panti asuhan ini membutuhkan penerus untuk membantu Ibu Chaterine mengurus anak-anak jika nanti Asia pergi meninggalkan mereka untuk menempuh kebahagiaannya sendiri. Karena itulah, tanpa diminta, India sepenuh hati berusaha belajar sebaik mungkin supaya bisa menjadi penerus untuk mengurus anak-anak panti sebaik Asia, dia belajar memasak, mengurus adik-adiknya yang masih kecil, bahkan di malam hari dirinya menyempatkan diri membaca buku-buku ilmu pengetahuan yang bisa membantunya menjawab pertanyaan adik-adiknya seperti yang selama ini dilakukan oleh Asia yang sangat cerdas serta memiliki banyak ilmu pengetahuan yang tersimpan di dalam otaknya.

Memikirkan tentang Asia menyebabkan kerutan di dahi India semakin dalam. Dirinya mengedarkan pandangan ke sekeliling, memperhatikan wajah-wajah ketakutan saudara-saudaranya di kegelapan, dia bahkan berhasil menemukan sosok Ibu Chaterine yang berdiri dengan ekspresi kebingungan sambil memeluk beberapa saudara-saudaranya sekaligus untuk menenangkan mereka…. semua sepertinya lengkap… tapi bagaimanapun India berusaha mencari dan memindai dengan teliti, dia tetap tidak bisa menemukan sosok Asia di antara kerumunan itu.

Dimanakah Asia…?

Lamunan India tersentak ketika suara keras terdengar dari dalam panti asuhan mereka, membuatnya terperanjat dan anak-anak yang menempel padanya untuk mencari perlindungan mulai merengek ketakutan. Dengan perlahan India menghembuskan napas dan mencoba menenangkan hatinya. Sepertinya pasukan militer hitam itu sedang mencari sesuatu di dalam rumah panti mereka dan memutuskan untuk menggeledah semuanya, bahkan mendobrak pintu-pintu yang terkunci.

Apa yang dicari oleh pasukan militer hitam di dalam panti asuhan yang hanya dihuni oleh wanita dan anak-anak ini?

Pertanyaan itu membuat India tak habis pikir, kebingungan hingga akhirnya hanya bisa menurut ketika dirinya digiring bersama-anak-anak lain untuk memasuki bus besar yang telah disiapkan. Ada beberapa bus untuk mengangkut mereka, dan India sedikit kebingungan ketika diarahkan untuk naik ke salah satu bus.

Lalu tiba-tiba Ibu Chaterine berhasil menembus kerumunan tanpa kentara dan menjajari langkahnya dalam sambil berbisik pelan.

“Ibu akan menaiki bus yang terpisah darimu, dan ibu harap kau bisa menjaga anak-anak yang berada satu bus denganmu.” Ibu Chaterine berbisik samar dengan mata menatap lurus ke depan, berusaha supaya tidak dicurigai oleh para militer hitam yang sedang mengarahkan mereka untuk satu persatu memasuki bus.

India meringis, lalu melirik sedikit ke arah Ibu Chaterine, “Apa yang mereka cari, Ibu?” tanyanya perlahan.

Ibu Chaterine membalas lirikan India, hanya sepersekian detik sebelum mengalihkan pandangan lagi.

“Mereka menanyai ibu dengan terperinci…. mereka mencari Cesar… dan Asia.” jawabnya cepat dalam desisan.

Hal itu membuat India tidak bisa menahan diri untuk membelalakkan mata, “Kenapa….?”

Ibu Chaterine menatap India dengan serius, saat itu mereka sudah mulai dipisahkan ke dalam dua kelompok dan kerumunan mereka diarahkan ke dua jalan yang berbeda.

“Ada hubungannya dengan militer hitam, katanya Cesar dituduh melakukan pemberontakan, ibu tidak tahu dimana Cesar… tapi Asia…,” suara Ibu Chaterine merendah setengah berbisik,  “Dia ada di loteng, kemungkinan Asia sedang bersembunyi. Ibu tidak memberitahu mereka bahwa Asia ada di kamar loteng…. entah apa yang akan militer hitam ini lakukan pada Asia dan Cesar jika mereka berhasil ditangkap….” Ibu Chaterine membuka mulut hendak mengatakan sesuatu, tetapi jarak mereka sudah terlalu jauh dan tidak mungkin untuk berbicara lagi kecuali mereka ingin menarik perhatian. Akhirnya yang dilakukan oleh Ibu Chaterine hanyalah mengangukkan kepala ke arah India dengan penuh isyarat, meminta India agar tidak membuka mulut menyangkut keberadaan Asia jika ditanya.

Setelah itu, India hanya bisa menatap Ibu Chaterine yang digiring masuk ke sebuah bus bersama beberapa anak lainnya. Dia tertegun dan baru sadar ketika tubuhnya didorong dari belakang. Rupanya mereka semua juga diarahkan untuk masuk ke dalam bus lain yang sudah siap menunggu.

Tanpa bisa berbuat banyak, India menurut ketika disuruh memanjat masuk ke dalam bus, dirinya menyempatkan diri membantu anak-anak panti lain yang masih kecil untuk masuk dan menggiring mereka supaya duduk dengan rapi di kursi-kursi yang telah disiapkan. Seorang supir berpakaian militer hitam sudah siap di balik kemudi, ekspresinya sedingin es dan pandangannya lurus ke depan.

India berusaha tidak memedulikan lelaki itu, dan memutuskan  untuk menghampiri anak-anak panti yang ketakutan satu persatu, menenangkan mereka sambil menjelaskan penuh kelembutan, bahwa mereka hanya perlu duduk tenang dan semua akan baik-baik saja, meskipun sebenarnya India sendiri tidak tahu apakah yang dikatakannya itu benar karena dia juga buta akan dibawa kemanakah mereka ini…

Apakah mungkin mereka dibawa untuk dibunuh karena dianggap mendukung pemberontakan yang katanya dilakukan oleh Cesar? Pasukan militer hitam terkenal kejam dan tidak mengenal belas kasihan menyangkut pemberontakan atau usaha menggulingkan kekuasaan, bukan?

India bahkan mendapatkan pelajaran di sekolah yang menceritakan tentang Jenderal Moroko, pendahulu Jenderal Akira yang memimpin sekarang, dimana dikatakan bahwa beliau pernah membumi hanguskan seluruh pemberontak Organisasi Bendera Merah yang menginginkan kebebasan, operasi sapu bersih yang membunuh para pemberontak sekaligus keluarga mereka dan itu termasuk anak-anak mereka yang masih kecil yang seharusnya tidak bersalah atas apa yang dilakukan kedua orang tuanya. Bahkan anak-anak yang tak berdosa bukan merupakan masalah bagi milliter hitam, membuat India sadar bahwa anak-anak panti yang masih kecil inipun, tidak akan menumbuhkan belas kasihan bagi mereka. Kaum militer hitam akan membunuh mereka semua bahkan tanpa berkedip sekalipun jika diperintahkan begitu.

Pemikiran itu membuat India begidik, dia menggeleng-gelengkan kepala lagi, berusaha menenangkan diri, sebab saat ini hanya dialah yang cukup dewasa di antara semua anak-anak kecil ini, dan dirinya harus bisa menjadi panutan yang baik. Dia harus mampu bersikap tenang supaya anak-anak lain juga bisa tenang.

Lalu bus itu bergerak dan India menegakkan tubuh, pandangannya tanpa sadar terpaku ke belakang, ke arah bangunan tua berwarna putih, bangunan panti asuhan di atas bukit yang menjadi tempat tinggalnya selama ini. Panti asuhan itu telah menjadi tempat berpulangnya selama ini yang menyimpan banyak kenangan indah yang sudah pasti tak akan terlupakan di masa depan.

Dan entah kenapa, ketika memandang panti asuhan ini, jantung India berdenyut oleh rasa sakit nan menyesakkan, seolah-olah hatinya memberikan isyarat, bahwa mungkin saja sekarang adalah terakhir kalinya dia bisa melihat bangunan panti asuhan itu lagi…

***

“Pengelola panti asuhan  itu sudah pasti tahu bahwa Asia berada di dalam kamarnya. Entah apa yang mendorongnya hingga memilih tidak mengatakan kepada pasukanku keberadaan Asia.”

Mereka berada di rumah sakit, sementara Jenderal Akira yang telah berganti pakaian bersih berdiri di depan pintu kamar tempat perempuan yang diketahui oleh Paris telah ditakdirkan menjadi ibu dari calon anak-anaknya dirawat.

Ketika berkesimpulan bahwa tidak ada seorang pun di dalam panti asuhan, salah satu militer hitam yang memimpin operasi memutuskan untuk membakar bangunan panti asuhan itu demi melenyapkan jejak mereka di sana. Pemimpin yang malang itu tidak tahu bahwa perempuan yang sangat penting bagi Jenderal Akira dan sangat penting bagi kelangsungan After Earth masih terjebak di dalam, berkubang dengan nyawa terancam di antara panasnya api yang berkobar.

Beruntung Jenderal Akira datang di waktu yang tepat, membuat pemimpin itu mengganti keteledorannya dengan nyawanya yang tercabut, lalu Sang Jenderal berhasil menyelamatkan perempuan itu pada waktunya. Ada luka di sana-sini  akibat kobaran api, dan perempuan bernama Asia itu masih berusaha memulihkan diri karena paru-parunya terkena imbas dari racun yang dihasilkan oleh asap pembakaran, tetapi setidaknya nyawa perempuan itu tidak terancam lagi dan mereka berhasil menjaga kelangsungan masa depan After Earth untuk sekarang ini.

Letnan Paris berdiri tegak, menatap Jenderal Akira dengan hormat sebelum berkata.

“Apakah menurut anda, Chaterine, perempuan yang bertanggung jawab mengelola panti asuhan itu memiliki hubungan dengan pemberontakan Cesar? Jika dia tahu keberadaan Asia tapi tidak mengatakannya kepada kita, ada kemungkinan juga dia tahu keberadaan Cesar tapi memilih merahasiakannya.”

Mata Jenderal Akira menyipit, tampak gelap dan mengerikan sebelum kemudian berkata,

“Interograsi dia, dan juga anak-anak panti lain yang cukup dewasa untuk memberikan pernyataan. Jika perempuan pengelola panti asuhan itu ternyata benar-benar berkhianat dan menyembunyikan Cesar, maka aku memperbolehkanmu untuk membunuhnya.”

Paris tidak bisa menahan diri untuk menyeringai mendengar kalimat terakhir Jenderal Akira itu. Sudah beberapa lama ini dia tidak mendapatkan perintah membunuh, dan itu membuat tubuh serta jiwanya nyeri, bergolak untuk melampiaskan keinginan kejamnya melenyapkan nyawa manusia tak berguna yang hanya bisa mengotori After Earth.

Paris membutuhkan pelampiasan untuk memuaskan nafsu gila membunuh yang bergolak di dalam jiwanya, dan jika itu tidak disalurkan, kepalanya akan selalu terasa sakit dan tubuhnya nyeri. Ini sudah lebih lama dari waktu biasanya dia diperbolehkan membunuh, mungkin karena Jenderal Akira melupakan jadwalnya, sebab Sang Jenderal sedang sibuk memikirkan cara untuk menangani perempuan bernama Asia, katanya Asia adalah satu-satunya perempuan di After Earth yang mampu untuk mengandung anaknya.

Bagaimanapun juga itu tidak masalah, sebab sekarang Paris sudah mendapatkan izin membunuh hingga seluruh tubuhnya bergolak oleh rasa antisipasi serta tidak sabar untuk memuaskan diri.

Jenderal Akira sendiri mengamati ekspresi Paris dengan seksama karena memang tidak ada yang bisa terlewatkan dari tatapan matanya yang tajam.

“Aku hanya mengizinkanmu membunuh jika perempuan itu terbukti bersalah, Paris. Jika tidak maka kau harus menahan keinginanmu itu dan pergi ke penjara pemerintah untuk memilih satu tahanan supaya kau bisa mengeksekusi mereka.”

Paris menganggukkan kepala, tersenyum senang karena setidaknya ketika dia tidak bisa membunuh perempuan bernama Chaterine itu, dia tetap bisa membunuh penjahat-penjahat di After Earth yang saat ini sedang berada di penjara dan menanti hukuman mati. Apapun itu, asal bisa membuatnya memuaskan nafsu membunuh, tentu saja akan membuatnya senang.

“Saya akan segera mengunjungi tempat perempuan pengelola panti asuhan beserta anak-anak panti asuhan tersebut ditampung untuk sementara,” mata Paris mengamati Jenderal Akira dengan penuh kehati-hatian, “Bagaimana dengan anak-anak panti asuhan itu, apa yang akan kita lakukan kepada mereka?”

Meskipun suka membunuh, Paris memiliki kode etik tertentu di dalam jiwanya, dia tidak akan membunuh anak-anak dan manusia dewasa yang menurutnya tidak berdosa, sebab membunuh anak-anak membuatnya tidak nyaman, membuatnya merasa sama gila dengan ibunya yang membunuh adiknya dengan begitu keji.

“Simpan mereka. Aku sedang menyiapkan rumah panti asuhan yang baru untuk mereka tinggali.” Jenderal Akira menjawab cepat sementara matanya melirik ke arah pintu kamar yang tertutup rapat tempat Asia masih terbaring tak sadarkan diri, “Kemungkinan besar aku masih membutuhkan nyawa anak-anak itu tetap hidup sebagai jaminan… jika calon istriku bersikap membangkang.” bibir Jenderal Akira menipis membuat ekspresinya semakin gelap meskipun ada sinar kepuasan yang menyala di matanya, “Dan melihat sikap Asia ketika aku menemuinya kemarin-kemarin, dia bukanlah perempuan yang mudah menyerah.”

Paris menganggukkan kepala dan memberi hormat, “Saya akan pergi sekarang untuk melakukan tugas.” ucapnya cepat. Keinginan membunuh sudah menguasai dirinya, dia harus segera memutuskan apakah perempuan bernama Chaterine itu pantas dibunuh atau tidak, dan jika tidak dia harus segera berpacu menuju area tahanan After Earth di area benteng Marakesh City untuk melampiaskan kekejamannya.

Sebuah anggukan diberikan oleh Jenderal Akira dan Paris segera membalikkan badan melalui lorong dan hendak menuju pintu keluar.

“Paris.”

Jenderal Akira memanggil lagi, membuat Paris segera membalikkan badan dengan cepat dan berdiri dalam posisi siaga, bersiap menerima instruksi.

“Panggil Hakim After Earth.” perintah Jenderal Akira dengan suara tenang tetapi kental akan ketegasan, “Dia harus sudah siap di sini untuk menjalankan upacara pernikahan begitu Asia sadarkan diri.”

Paris memberi hormat sekali lagi dan menjawab tegas, “Saya akan melaksanakannya, Jenderal.” ujarnya sebelum kemudian melangkah pergi meninggalkan area rumah sakit tersebut.

***

Perempuan setengah baya itu gemetaran di bawah tatapan mata Paris yang mengintimidasi.

Sementara itu, mata biru Paris memindai wajah Ibu Chaterine dan mempelajari ketakutan yang terpatri di dalamnya.

Perempuan ini tampak seperti perempuan setengah baya biasa yang tak berbahaya…

Tetapi penampilan bisa menipu, bukan? Dulu ibunya yang gila selalu berpenampilan lembut dan murah senyum di tempat kerja, bersikap layaknya perempuan normal, sementara tidak ada yang menyadari kegilaan memuncak yang dilampiaskannya terhadap anak-anaknya di dalam rumah pada malam harinya.

Mungkin saja di balik penampilan halusnya yang keibuan, perempuan ini adalah pemberontak radikal gila yang memuja kebebasan sama seperti Cesar yang saat ini berada dalam pelarian.

Cesar rupanya juga berhasil menipu mereka semua, dengan berkedok sebagai lulusan militer terbaik dan berprestasi, dengan sikap ramah yang membuatnya tidak tampak berbahaya, tetapi ternyata menyembunyikan pemikiran jahat untuk memberontak di dalam benaknya.

Letnan Paris tidak bisa menyembunyikan seringaian kejam yang penuh ironi, ketika menyadari bahwa setiap manusia menggunakan topeng untuk menutupi watak aslinya. Ada yang memasang topeng senyum, ada yang memasang topeng keibuan nan baik hati, ada pula yang berpura-pura bersikap polos tanpa cela. Semakin tebal topeng mereka, semakin busuk pula keburukan yang disembunyikan jauh di dalam jiwa masing-masing.

“Apa alasanmu menyembunyikan keberadaan Asia?” Paris memajukan tubuhnya, sekarang mereka berdua berada di dalam ruang interograsi yang sengaja diberi pencahayaan remang-remang, tanpa perabotan, dan cukup suram untuk mendukung suasana penuh intimidasi yang bisa merusak mental tahanan secara psikologis.

Sepertinya teknik ini berhasil dengan sangat mulus. Chaterine, perempuan setengah baya itu tampak ketakutan dan gelisah, apalagi ketika diberitahu bahwa keberadaan Asia sudah ditemukan dan hampir terbunuh karena kebakaran.

“Bagaimana keadaan Asia?” Chaterine tiba-tiba memberanikan diri untuk bertanya, membiarkan pertanyaan beresiko itu lolos dari bibirnya.

Hal itu membuat Paris mengerutkan kening dan menajamkan mata untuk mempelajari sosok di depannya. Tadinya dirinya mengira bahwa Chaterine bersikap gelisah karena menyembunyikan rasa bersalah dan ketakutan untuk dihukum, tetapi sekarang matanya yang awas dan teliti mendapati bahwa perempuan itu terlihat gelisah karena dipenuhi oleh kecemasan akan keadaan Asia.

Hal itu membuat kesempatan Paris untuk membunuh Chaterine menipis, karena sekarang dia kehilangan motif pemberontakan. Kemungkinan besar, Chaterine melindungi Asia dan Cesar karena naluri keibuan untuk melindungi anak-anaknya. Dan Paris menjadi jengkel karenanya, sebab dia harus bersabar untuk berpacu menuju ke penjara After Earth dan mencari korban setelah proses interograsi ini selesai.

Bibir Paris menipis dan tatapannya ke arah Chaterine menajam.

“Jangan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.” ucapnya dingin, “Aku tadi bertanya kepadamu kenapa kau tidak mengatakan keberadaan Asia, padahal kau tahu dia berada di dalam kamar loteng itu.”

Tatapan mata biru yang sedingin es itu membuat Chaterine menelan ludah dan menahan ketakutan. Seumur hidup dia menangani banyak anak dan bertemu dengan banyak manusia, tidak pernah dia bertatapan dengan mata yang begitu dingin seolah-olah tidak ada jiwa di sana.

Chaterine lalu menundukkan kepala, tidak kuat menantang mata biru nan menghujam seolah menelusup ke dalam jiwanya.

“Aku berpikir bahwa kalian hendak menangkap Asia dan membunuhnya… mereka menanyaiku tentang Cesar serta membicarakan pengkhianatan…. aku hanya mencoba melindungi Asia, dia sudah seperti anakku sendiri…”

“Dan apakah kau melakukan hal yang sama pada Cesar? Mengetahui keberadaannya tetapi memilih menyembunyikannya dari kami?” Paris menyambar dengan tajam, menyelipkan nada penuh ancaman di dalam suaranya.

Seketika wajah Chaterine memucat dan perempuan itu menggelengkan kepalanya kuat-kuat, “Tidak! Cesar… terakhir kali Cesar datang ke panti asuhan adalah beberapa hari yang lalu, dia bersikap seperti biasanya, menghabiskan waktu bersama anak-anak lalu pergi… aku baru mengetahui tentang Cesar dari perkataan militer hitam ketika mengepung panti asuhan malam itu… aku sungguh tidak tahu di mana Cesar berada.”

Paris menatap Chaterine dalam-dalam, memperlajari ekspresinya dengan keahlian khusus yang dia miliki. Sebagai seseorang yang tidak memiliki empati, Paris mengembangkan keahlian khusus mempelajari ekspresi wajah manusia untuk melatih reaksinya sendiri terhadap berbagai emosi yang diberikan oleh manusia terhadapnya.  Dia tentu tahu bahwa ada ekspresi tertentu yang menunjukkan bahwa manusia berbohong, dan ekspresi wajah Chaterine sekarang jelas-jelas menunjukkan bahwa perempuan itu telah berkata jujur.

Dia tidak akan mendapatkan mangsa untuk memuaskan nafsu membunuhnya sekarang karena sesuai instruksi Jenderal Akira, jika Chaterine tidak terbukti bersalah, maka perempuan ini tidak boleh dibunuh.

Paris menggertakkan gigi untuk menahan gejolak gila di dalam dirinya yang berbisik jahat supaya dia meraih leher Chaterine dan mencekiknya saat itu juga. Beruntung pelatihan bertahun-tahun untuk melawan kegilaannya berhasil membuatnya lebih mampu menahan diri.

Dengan penuh perhitungan, Paris memundurkan punggungnya supaya bersandar di kursi, tangannya terlipat, tampak begitu santai meskipun apa yang sekarang bergejolak di dalam jiwanya akan sangat mengerikan jika diteriakkan. Paris lalu memberi isyarat tangan kepada salah satu anak buahnya yang berjaga di pintu dan meminta mereka membawa Chaterine dibawa pergi lalu dikembalikan ke rumah penampungan tempatnya saat ini ditahan bersama anak-anak panti sampai ada instruksi lebih lanjut untuk pemindahan.

Setelah Chaterine dibawa pergi, Paris membaca data digital yang tampil di depannya, menyadari bahwa ada satu perempuan lagi yang harus dia interograsi. Jenderal Akira memerintahkan supaya penghuni panti asuhan yang sudah cukup umur untuk ditanyai di interograsi olehnya untuk mencari informasi. Dari data yang dipegangnya, diketahui bahwa panti asuhan itu hanya memiliki tiga perempuan yang cukup umur yang tinggal di sana, Chaterine sebagai penanggung jawab panti asuhan, Asia yang tampaknya bertugas mengasuh anak-anak, dan seorang anak kecil lain bernama India, usianya masih belasan tahun, masih anak-anak dan sebenarnya belum cukup umur untuk disebut sebagai perempuan, tetapi jarak usianya berbeda jauh dengan anak-anak lain di panti asuhan yang kebanyakan berusia satu sampai dengan sepuluh tahun. Lagipula, India sudah memasuki fase remaja berdasakan umurnya sehingga sudah cukup bisa memberikan keterangan apapun yang diminta dengan jelas.

Terus terang Paris lebih senang berhadapan dengan manusia-manusia muda ataupun anak-anak, sebab topeng yang mereka pasang belumlah cukup sempurna, membuat mereka lebih mudah dibaca.

Sekali lagi Paris memberi perintah, menyuruh anak buahnya membawa India masuk ke ruang interograsi.

***

India dan Ibu Chaterine tiba-tiba dijemput oleh militer hitam dan dibawa ke area gelap di ujung lorong yang cukup mengerikan. Dirinya didudukkan di kursi kayu panjang dengan penjagaan ketat sementara Ibu Chaterine di bawa masuk ke balik pintu hitam yang seolah menebarkan aura buruk nan menguar di udara.

Entah kenapa sejak Ibu Chaterine masuk ke dalam, waktu seolah berputar sangat lambat. India hanya duduk, menghitung detak jantungnya yang berpacu semakin lama semakin kencang dan berbanding terbalik dengan waktu yang melambat, dipenuhi rasa tersiksa yang luar biasa.

Apa yang mereka lakukan pada Ibu Chaterine di dalam sana? Apakah Ibu Chaterine ketahuan menyembunyikan Asia hingga dia dipanggil untuk menerima hukuman? Pemikiran itu membuat India gemetaran hingga dia meremas-remas kedua tangannya yang berkeringat di pangkuan.

Bus yang membawa mereka malam itu berbelok ke sebuah bangunan serupa asrama militer yang penuh dengan berbagai militer dalam tingkatan level yang berbeda-beda. Mereka ditempatkan di sebuah sayap khusus di sisi timur bangunan dengan kamar-kamar seperti kamar asrama, lengkap dengan ranjang bertingkat, kamar mandi bahkan area dapur yang cukup luas. Setelah itu mereka semua mencoba menjalani hari dengan penuh kehati-hatian, menunggu dalam kecemasan akan apa yang mungkin terjadi, sambil menyadari keberadaan militer hitam yang bergantian menjaga mereka di seluruh sisi bangunan.

India memejamkan mata ketika debaran jantungnya semakin keras, menyiksanya karena dipaksa menunggu tanpa ketidak pastian seperti ini.

Beruntung kemudian pintu itu terbuka, membuat India langsung membuka mata dengan waspada dan menemukan bahwa Ibu Chaterine dibawa keluar dengan keadaan tidak kurang suatu apapun, hanya saja sedikit pucat seperti terpukul.

Apa yang mereka lakukan pada Ibu Chaterine?

Kembali India menanyakan pertanyaan itu di dalam jiwanya, sementara Ibu Chaterine langsung menatapnya begitu keluar dari ruangan, mata Ibu Chaterine menyuarakan isyarat berupa kepanikan dan kecemasan, tetapi tidak ada kesempatan bagi mereka untuk berkomunikasi karena para penjaga segera membawa Ibu Chaterine pergi dari sana.

Mata India masih terpaku ke ujung lorong tempat Ibu Chaterine dibawa pergi dengan penjaga yang mengapitnya ketika kemudian penjaga-penjaga yang ada di sampingnya meraih lengannya di kiri dan kanan, memaksanya berdiri dan membawanya dengan cara setengah menyeret untuk memasuki ruangan berpintu gelap tersebut.

India merasakan jantungnya berdebar, memukul-mukul di sana hingga membuat rongga dadanya terasa nyeri. Dua penjaga itu membawanya ke ambang pintu, lalu setengah mendorongnya supaya masuk, membawanya ke sebuah kursi dan mendudukkannya dengan paksa di sana, dan sebelum India sempat mengatakan apapun, dua penjaga itu melangkah pergi, menutup pintu ruangan tersebut dan menyisakan hanya sedikit cahaya untuk menerangi ruangan sempit nan suram tersebut.

Dalam sekejap mata India memindai ke sekeliling ruangan dan merasakan bulu kuduknya meremang. Ruangan  ini membuat suasana tidak nyaman, mendorong kegelisahannya sampai ke ujung dan debaran jantungnya mungkin terdengar begitu kerasnya hingga seolah bisa terdengar sampai ke seberang ruangan.

India menatap lurus ke depan dan terkesiap kaget, hampir melompat dari kursinya ketika menyadari ada sosok yang duduk tak bergerak, tanpa suara hingga kehadirannya tidak disadari, ternaungi kegelapan dan menyatu di sana seolah-olah kegelapan itu memang menjadi bagian dari dirinya.

Mata India mempelajari sosok yang bersedekap sambil duduk bersandar santai di sebuah kursi di seberangnya dan hanya dipisahkan oleh meja polos tanpa sesuatupun di atasnya, dan pupil matanya langsung melebar.

Sosok yang duduk di depannya itu seolah-olah tidak cocok berada di ruang yang gelap nan suram ini, penampilannya mencerminkan segala yang menjadi kebalikan dari apa yang disebut kesuraman. Rambutnya berwarna pirang keemasan  sementara mata biru yang cemerlang itu tetap saja tampak indah di dalam pencahayaan minim, menatap India dengan sangat tajam seolah ingin menusuknya.

Sosok itu begitu indah, luar biasa indah, bagaikan muncul dari kisah-kisah dongeng dari buku-buku tentang putri dan pangeran yang dibacakannya sebagai pengantar tidur untuk anak-anak panti asuhan.

***

Paris menggertakkan gigi sementara seluruh tubuhnya menegang. Dirinya menahan dorongan untuk menghambur dan meringkus tubuh perempuan remaja yang sekarang duduk dengan polos tanpa dosa di depan dirinya, tidak menyadari pengaruh apa yang ditimbulkannya di dalam diri Paris, membuat Paris harus menahan diri untuk mengekang kegilaan yang berkobar di dalam jiwa, berteriak keras ingin dibebaskan.

Ketika perempuan remaja itu masuk, hidung Paris membaui aroma yang sangat unik, aroma sabun wangi buatan After Earth yang khas. Sepertinya anak remaja itu baru mandi sebelum dibawa kemari dan aromanya menyenangkan, seperti aroma anak-anak tanpa dosa yang masih belum mengenakan topeng.

Paris sudah menyiapkan diri untuk bersikap lembut, memasang topeng penuh senyumnya yang tidak menakutkan, berharap dengan topeng kepalsuannya yang bersahabat, dirinya bisa mengorek lebih banyak informasi dari anak kecil yang terpedaya dan memilih percaya kepada penampilan palsunya.

Tetapi begitu perempuan itu didudukkan di depannnya, seluruh topeng yang dipasang Paris lenyaplah sudah tanpa jejak hanya dalam waktu sepersekian detik. Senyum Paris langsung berubah menjadi seringaian kejam, senyuman predator yang tak sabar ingin membunuh mangsa yang bergegas disembunyikan dalam ekspresi dingin serta tatapan tajam penuh penilaian.

Perempuan ini masih remaja dan bukan merupakan ancaman bagi militer hitam seperti dirinya.

Tapi wajahnya…. wajahnya begitu mirip dengan ibunya yang gila, yang selalu menyiksa dengan pukulan kejam hingga meninggalkan jejak berupa bilur mengerikan yang tak terhapuskan baik di punggung maupun di jiwanya. Ibunya juga yang telah melampiaskan kegilaannya dengan membunuh adiknya tanpa belas kasihan…

Saat ini Paris sekuat tenaga melawan dua dorongan yang saling bertentangan di dalam benaknya, dorongan untuk berlutut dan memohon ampun ketakutan atas pukulan yang diderita akibat trauma masa lalunya, atau dorongan untuk melampiaskan kemarahan, menyerbu perempuan itu, lalu mencekiknya dengan kejam sebelum kemudian membunuh untuk melampiaskan dendamnya yang tak terlampiaskan di masa lalu.

Bersambung ke Part berikutnya

897 Komentar

  1. anjay, india mirip sama ibunya paris yang gila?? wadidaw

  2. gitaoktaviani menulis:

    :backstab :backstab :backstab

  3. selinokt18 menulis:

    :panikshow :kumenangismelepasmu

  4. Anastasya Wahyu menulis:

    :DUKDUKDUK

  5. Elda Virginia K menulis:

    Letnan Paris mode on… :sebarcinta

  6. debbyfebiyola menulis:

    Seruuuu

  7. Pooja Kharisma menulis:

    :kumenangismelepasmu

  8. Regindapikoli menulis:

    :habisakal :habisakal

  9. Nisaul Badriyah menulis:

    :happy :happy :happy

  10. Pray for india

  11. Makin menarik nih ceritanya

  12. tasya Pratiwi menulis:

    :habisakal

Tinggalkan Balasan