Lieutenants Darling

Lieutenant’s Darling Part 4 : Sang Penyelamat

Bookmark

No account yet? Register

3.607 votes, average: 1,00 out of 1 (3.607 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

https://youtu.be/dkrnrohcm_s

Author’s Playlist – Clean Bandit – Rockabye

Ooh, love, no one’s ever gonna hurt you, love. I’m gonna give you all of my love
Nobody matters like you. Your life ain’t gon’ be nothing like my life. You’re gonna grow and have a good life. I’m gonna do what I’ve got to do”


[responsivevoice voice=”Indonesian Female” buttontext=”Dengarkan cerita ini”]

Sosok itu begitu tinggi, seorang lelaki dewasa dengan tubuh tegap yang jauh lebih kuat dari India…. tidak mengherankan karena jika dugaan India benar, lelaki ini adalah seorang anggota militer yang kebanyakan bertubuh kuat dan tegap.

India terkesiap ketika cengkeraman di pundaknya mengerat, membuatnya mengaduh dan seketika meronta ketakutan saat sosok siluet gelap itu membungkuk supaya lebih dekat kepadanya, dan entah kenapa meskipun kegelapan melingkupi mereka berdua, India bisa merasakan bahwa sosok itu menyeringai kejam ke arahnya.

“Jangan pernah mencoba menyelinap atau melarikan diri.” desis sosok itu dengan suara yang sama, suara lembut yang mengalun lambat dan menyeramkan, “Atau aku akan mengikatmu lagi dan menggunakan pisauku untuk memberimu pelajaran.” sambungnya kemudian dengan nada penuh ancaman.


Tubuh India membeku mendengar ancaman yang merambat pelan dan memenuhi udara dengan kengerian mendirikan bulu roma yang dibawanya. Sosok itu begitu dekat dalam kegelapan, membungkuk di atas tubuh India dengan napas panasnya menghembus di sana, menguarkan hawa panas menakutkan.

“Apakah kau mengerti?” Suara itu mendesis lagi seolah tidak puas dengan kediaman India. Cengkeraman di bahu India semakin kuat, dan kali ini rasa sakit itu begitu menyiksa hingga erangan kesakitan keluar dari bibirnya.

Detik itu juga begitu erangan itu keluar dari bibirnya, cengkeraman di bahu Inda yang begitu keras langsung terlepas. Sosok tinggi di depan India lalu berdiri kaku seolah mengamati. Tapi apa yang bisa diamati dalam kegelapan pekat seperti ini? India bertanya-tanya sambil memicingkan mata, mencoba memperhatikan lebih jelas tetapi tetap saja matanya tidak menemukan apa-apa.

“Apakah kau terluka?” sosok dalam kegelapan itu bertanya perlahan, suaranya lambat penuh antisipasi.

India berdiri tanpa berani bergerak, menahan dorongan ketakutan yang membuatnya ingin melangkah mundur menjauh dari sosok itu. Tetapi India tidak berani bergerak karena takut memancing kemarahan lelaki itu, dan pada akhirnya yang dia lakukan hanyalah memeluk dirinya sendiri untuk meredakan gemetar yang melandanya.

Keheningan yang memecah itu seolah memancing ketidaksabaran sosok lelaki yang saat ini menahannya, tiba-tiba tangan itu bergerak lagi menyentuh bahu India, membuat India memekik ketakutan.

“Aku tidak akan menyakitimu.” terdengar suara tegas memecah kegelapan disusul dengan suara ‘bip’ perlahan yang memunculkan setitik nyala berwarna merah di atas kepala India. India mendongakkan kepala, menatap titik merah itu dengan penuh rasa ingin tahu dan pikiran cerdasnya langsung berputar untuk mencari kesimpulan.

Posisinya pas… jika dicocokkan dengan sumber suara yang didengarnya, kemungkinan besar titik merah itu berada di bagian mata lelaki yang menyekapnya. Itu berarti lelaki itu menggunakan sesuatu di matanya, mungkin semacam kaca mata khusus untuk bisa melihat di kegelapan?

India menelan ludah, tahu bahwa kalau dugaannya benar, maka semakin sulit saja upayanya untuk melarikan diri. Lelaki itu bisa melihat di kegelapan dengan alat yang dipakainya, sementara India tidak bisa melihat apa-apa, hanya meraba di kegelapan.

Dan apa yang dikatakan lelaki itu tadi? Tidak akan menyakitinya? Bagaimana mungkin India bisa memercayai kata-kata itu meskipun diucapkan dengan nada tegas seolah tak terbantahkan? Lelaki itu sudah menculiknya, menghilangkan kesadarannya dan menyekapnya di tempat yang sudah pasti merupakan ruangan bawah tanah ini di luar kehendaknya, belum lagi lelaki itu baru saja mengancam akan mengikat dan membunuhnya.

India mungkin terdesak dan sangat ketakutan, tetapi satu hal yang dia tahu… dia tidak akan membiarkan dirinya diperdaya dan jatuh memercayai lelaki itu.

Tangan besar itu tiba-tiba bergerak menarik paksa gaun India di bagian pundak supaya diturunkan, dan karena lengan gaun India tidak bisa diturunkan dengan mudah, lelaki itu memaksakannya hingga terdengar suara robekan keras membelah keheningan. Hal itu membuat India langsung menjerit dan berusaha meronta untuk menyelamatkan diri. Pikiran buruk langsung bergolak di dalam jiwanya, ketakutan akan kemungkinan upaya pemaksaan yang sepertinya akan menimpa dirinya.

Tetapi rupanya apa yang dikhawatirkan India belum terjadi. Lelaki itu ternyata tidak menurunkan pakaiannya lebih jauh dan berhenti sampai di pertengahan lengannya. Jemari hangat yang sangat kontras dengan hawa udara dingin di ruangan tersebut bergerak perlahan, ibu jarinya mengusap memar menyakitkan di pundak India. India memang tidak bisa melihat memarnya, tetapi dia tahu dari nyeri pundaknya ketika disentuh bahwa saat itu pundaknya memar.

Keheningan kembali tercipta di dalam ruangan, sebelum kemudian pegangan di pundak India terlepas. Sosok lelaki di kegelapan tersebut bergumam dengan nada tegas seolah memerintah dirinya sendiri.

“Makanan, obat-obatan dan pakaian baru.” ucap sosok lelaki itu perlahan, lalu India mendengar derap langkah menjauh yang tiba-tiba terhenti di depan pintu.

Seketika itu juga bulu kuduk India merinding, dan dia memeluk dirinya sendiri semakin erat, menyadari bahwa lelaki itu saat ini sedang berdiri di pintu untuk mengamatinya.

“Aku akan kembali.” ucap sosok lelaki itu dengan suara lembut mengalun yang terdengar menyeramkan.

***

Letnan Paris menutup pintu di depannya, menekan tombol khusus keamanan yang mengunci pintu baja tebal di ruang bawah tanah tersebut. Setelah yakin seluruh kode telah terpasang dengan benar, Letnan Paris lalu menutup pintu lapisan kedua yang terbuat dari kayu tebal kemudian membalikkan badan dan melangkah menaiki tangga kayu yang telah dilapisi karpet khusus berperedam sehingga sama sekali tidak menimbulkan suara ketika kakinya menjejak.

Ekspresinya mengeras mengutuk kebodohannya sendiri karena telah menyebabkan memar di pundak India tanpa dia rencanakan sebelumnya. Seorang calon korban hanya boleh dilukai setelah dia dipastikan memenuhi kode etik yang membuatnya layak untuk dibunuh. Ketika calon korban itu belum memenuhi syarat, dia tidak boleh disentuh, bahkan tidak boleh luka setitik pun.

India belum memenuhi syarat untuk dibunuh saat ini. Sisi impulsif yang sama sekali tidak disangka oleh Letnan Paris membuat seluruh rencana yang dirancangnya menjadi gagal berantakan. Dan kegagalan itu seolah menjadi kegagalan beruntun yang menghancurkan semuanya.

Seharusnya dia tidak menahan India di sini, sekarang Letnan Paris bahkan tidak tahu apa langkah selanjutnya yang akan dia lakukan.

Ketika sampai di ujung tangga, Letnan Paris membanting pintu penghubung ke tangga ruang bawah tanah itu dengan kasar, tetapi biarpun rasa frustasinya telah mencapai puncak, Letnan Paris tetap tidak menghilangkan kewaspadaannya dan memasang gerendel pintu tersebut dengan hati-hati.

Saat ini dirinya memang tidak seperti dirinya yang biasanya yang selalu bersikap terstruktur dan melakukan segala sesuatu dengan sistematis, sesuai aturan yang telah dia buat untuk dirinya sendiri dan sampai detik ini belum pernah dia langgar.

Kehadiran India mengubah segalanya, membuatnya kehilangan prioritas dan menciptakan  rasa frustasi nan menumpuk di dalam jiwa. Letnan Paris harus memperbaiki semua, memastikan segala hal yang dia lakukan ada di dalam garis batas peraturan yang telah dia tetapkan sebelumnya.

Memikirkan dirinya telah melanggar kode etik dengan menyekap dan melukai calon korbannya membuat Letnan Paris kehilangan keseimbangan. Apa yang selama ini dipegangnya seolah hancur berantakan dan berputar-putar tanpa kendali dan dia harus segera melakukan sesuatu untuk mengembalikan keseimbangannya tersebut.

Prioritas utama adalah mengembalikan keadaan seperti semula, dan yang pertama harus dilakukannya adalah menyembuhkan India sehingga memar mengerikan yang terciptakan di pundak mungil nan pucat itu bisa hilang.

Letnan Paris melangkah tergesa ke dalam kamarnya yang kosong, dengan sambil lalu dia membuka kacamata khusus dan meletakkannya di meja dapur yang harus dia lalui sebelum melangkah memasuki kamarnya. Kacamata yang dikenakannya merupakan salah satu alat canggih teknologi militer yang digunakan khusus untuk melihat ke dalam kegelapan. Jika teknologi militer lama menggunakan kamera infra merah untuk menembus kegelapan yang menampilkan pemandangan gelap berbalur warna monokrom yang masih tidak jelas, pemandangan yang ditampilkan oleh kacamata militer ini sangat jelas, hampir sama dengan melihat segala sesuatu di ruangan terang tetapi sedikit lebih redup. Karena itulah tadi Letnan Paris bisa melihat India dengan jelas meskipun perempuan itu sama sekali tidak bisa melihatnya karena ruangan itu sama sekali tidak menyimpan cahaya.

Letnan Paris lalu membuka laci lemari dan menemukan wadah kaca kecil berisi krim padat yang bisa digunakan untuk menyembuhkan memar dan meredakan rasa sakit dengan cepat. Sebagian besar kaum militer, terutama militer hitam pasti memiliki obat ini di laci mereka, karena sebagai seorang militer tentu saja dituntut untuk siap mengalami berbagai luka dan memar yang menanti baik ketika berlatih rutin maupun ketika menjalankan tugas kemiliteran di lapangan.

Letnan Paris meletakkan wadah kaca kecil itu ke dalam kotak berukuran tanggung yang telah disiapkannya, kemudian dia membuka laci lemarinya yang lain, tempat puluhan t-shirt berwarna hitam legam dengan lipatan yang sangat rapi tersusun lurus tanpa noda. Letnan Paris mengambil pakaian-pakaian, selimut dan perlengkapan lain yang mungkin dibutuhkan, kemudian dia melangkah ke dapur dengan membawa kotak tersebut lalu meletakkannya di atas meja dapur.

Dia harus memberi anak itu makanan, kalau tidak India bisa tumbang.

Dengan tenang Letnan Paris menyiapkan roti gandum segar yang ada di persediaannya, mengisinya dengan telur yang telah dimasaknya terlebih dahulu, sayuran, daging tipis dan juga keju. Sang Letnan menghangatkan sandwich itu dengan cekatan sebelum meletakkannya di wadah portabel, menutupnya dan memasukkannya ke kotak yang berada di atas meja, dia juga menghangatkan susu dan memasukkannya ke botol kaca untuk kemudian menutup botol itu dengan rapat sebelum memasukkannya ke kotak yang sama.

Letnan Paris menatap isi kotak itu sambil memindai apa yang kurang. Untuk air minum mungkin tidak masalah, saluran air bersih di After Earth telah menggunakan teknologi khusus untuk memroses air tersebut dengan sangat higenis hingga bisa langsung diminum tanpa membahayakan kesehatan, dan saluran air bersih tersebut terhubung ke keran khusus yang ada kamar bawah tanah tempat India ditahan.

Jika memang dirinya ingin menahan India dalam waktu lama, dia harus menyiapkan segalanya…

Letnan Paris mengerutkan kening ketika menyadari bahwa pikirannya telah melangkahi peraturan lagi. Seharusnya, berdasarkan kode etik yang dianut serta dipegang teguh oleh dirinya sampai saat ini, dia tidak boleh menahan calon korbannya dan menjadikan tawanan dalam waktu lama… apalagi saat ini India hanyalah seorang anak kecil yang tidak berbahaya.

Kalau begitu, kenapa dia tidak membawa India kembali ke asrama militer saja dan menunggu sampai perempuan kecil ini siap untuk menjadi calon korbannya?

Letnan Paris bahkan tidak bisa menjawab pertanyaan yang bergolak di dalam hatinya itu. Mata birunya mengerjap ketika dia menyadari bahwa saat ini, dorongan di dalam hatinya begitu menginginkan supaya India tetap berada di sini, di dalam rumah ini dalam kekuasaannya, dan dorongan itulah yang menang.

Ekspresi Letnan Paris mengeras ketika tangannya bergerak mengambil kacamata khusus melihat menembus gelap yang diletakkannya di atas meja, lalu mengangkat kotak itu dan kembali melangkah menuju ruang bawah tanah.

***

Ketika langkahnya sampai di depan pintu kayu yang telah terbuka dan menampilkan pintu baja tebal dengan sistem pengamanan canggih bersandi khusus, Letnan Paris menghentikan langkah dan mengukur dengan penuh antisipasi.

Perempuan kecil itu bisa saja tidak menyerah dan melakukan hal yang sama seperti tadi ketika dirinya memasuki ruangan tersebut, menyerbu keluar dan berusaha melarikan diri.

Sebenarnya sekalipun India berhasil melarikan diri, dia tetap saja tidak akan bisa meninggalkan ruang bawah tanah ini karena setelah berhasil keluar, India masih harus menghadapi tangga tinggi untuk menuju permukaan tanah dan satu pintu lagi sebagai batas terakhir dengam dunia luar. Pintu terakhir itu juga sangat tebal dan digerendel dengan rantai berukuran besar yang tentu saja tidak mudah dipatahkan, sementara kunci gerendel itu tersimpan aman di saku Letnan Paris.

Tetapi India bahkan sudah dipastikan tidak akan bisa mencapai setengah tangga karena Letnan Paris sudah pasti akan berhasil menangkapnya sebelum India melangkah lebih jauh.

Mata Letnan Paris menyala tajam penuh nafsu membunuh nan kental ketika membayangkan dirinya menarik India turun dari tangga, memberi India pelajaran karena telah lancang melarikan diri dari dirinya dan membiarkan tubuh kecil itu terbanting di tanah dengan keras.

Sejenak Letnan Paris tergoda untuk membiarkan itu terjadi. Jika India mencoba melarikan diri darinya, dia akan mempunyai sesuatu yang bisa digunakan untuk menghukum perempuan itu, sebuah alasan yang sesuai kode etiknya untuk menghukum India dengan lebih kejam.

Letnan Paris menggertakkan gigi ketika pikiran-pikiran itu mengganggu dirinya. Pada akhirnya dia memasukkan sandi untuk membuka pintu dan bersikap penuh antisipasi ketika celah pintu tebal nan besar itu terbuka.

Hening.

Keheningan yang langsung menyambutnya membuat Letnan Paris memandang sekeliling menggunakan kacamata khususnya dengan waspada. Tidak ada lagi tubuh mungil tanpa daya yang merangsek maju menyambutnya sambil mencoba lari seperti sebelumnya, jadi dimana perempuan itu berada sekarang?

Mata Letnan Paris langsung tertuju pada sosok tubuh kecil yang sedang meringkuk di atas ranjang seolah kedinginan dan Letnan Paris langsung mendongakkan kepala sambil mengertakkan gigi menahan marah atas situasi yang berada di luar rencananya. Dia sudah menyalakan pemanas ruangan khusus untuk ruang bawah tanah itu, tetapi membutuhkan waktu khusus sebelum alat pemanas tersebut bisa bekerja sebagaimana mestinya karena alat itu baru terpasang setelah hampir tidak pernah dinyalakan sebelumnya.

Jika Letnan Paris menghabiskan waktu di bawah sini, ketika serangan nafsu membunuhnya mulai tak terkendali dan mengancam memberontak ke dalam jiwanya, maka Letnan Paris lebih suka menenangkan mentalnya dalam udara dingin nan membekukan. Otaknya yang panas kadang-kadang memang perlu dibekukan hingga terasa sakit, karena itulah dia tidak pernah menyalakan pemanas ruangan ini.

Langkah Letnan Paris terhenti dan tubuhnya berdiri kaku sambil memandang ke tubuh India yang meringkuk memeluk dirinya sendiri sambil menggigil. Dengan sistematis, dia meletakkan kotak yang dibawanya ke meja samping ranjang dan kembali mengamati India dengan sikap menimbamg-nimbang.

Perempuan itu memejamkan mata entah karena setengah tidur atau karena kepayahan menahan hawa dingin dan rasa sakit. Bahkan sepertinya India tidak menyadari bahwa Letnan Paris telah memasuki ruangan ini kembali.

Tidak mau menunggu lama, Sang Letnan langsung menyentuhkan jarinya ke pundak India, bertujuan untuk membangunkan kesadarannya.

Rupanya meskipun setengah tidur, tubuh India cukup waspada karena perempuan itu terkesiap sambil setengah memekik dan seketika menoleh waspada ke arah sumber sentuhan sambil beringsut menjauh.

Letnan Paris berdiri beberapa lama tanpa suara sebelum kemudian dengan dingin meraih kedua pergelangan tangan India, mengabaikan rontaan dan usaha memberontak India untuk melepaskan diri, lalu memasangkan borgol untuk menyatukan kedua pergelangan tangan India di depan tubuhnya dan menautkan borgol itu ke jeruji besi yang ada di kepala ranjang.

Setelah itu Sang Letnan mendesak maju, menggunakan lututnya untuk bertumpu di atas ranjang, semakin dekat dengan India. Dalam keheningan berbaur gelap itu, Sang Letnan bisa mendengar betapa napas India tersekat cepat karena ketakutan.

“Jangan…” India merintih dengan suara perih mengibakan ketika Letnan Paris beringsut semakin cepat mendekat dan kembali menyentuh bagian bahunya yang telah tersobek kain penutupnya.

“Aku tidak akan menyentuhmu lebih dari ini.” Letnan Paris menggeram ketika India terus menerus memberontak dari pegangannya, “Kau hanyalah seorang anak kecil dan aku tidak bernafsu padamu.”

Dengan gerakan gesit Letnan Paris menahan tubuh mungil India dengan tubuhnya, tahu bahwa perempuan itu gemetar ketakutan di bawahnya. Tubuh India tentu tidak sebanding dengan kekuatannya sehingga mudah bagi Letnan Paris menaklukannya.

Dengan sebelah tangan masih menahan tubuh India, Letnan Paris menggunakan tangan satunya untuk mengambil krim khusus di wadah kaca kecil yang tadi dibawanya. Dia membuka wadah itu, mengambil krim lalu mengoleskannya ke pundak India tanpa permisi, membuat India menjerit terkejut karena sifat krim tersebut yang sedingin es.

“Ini akan menyembuhkan memarmu, membuatnya mati rasa dan tanpa kau sadari kau akan sembuh.” Letnan Paris mengolesi seluruh bagian memar India, memastikan semua tertutupi dan setelahnya dia melangkah mundur turun dari ranjang, membiarkan India setengah terbaring di sana, masih gemetar menahan takut.

Letnan Paris sendiri mengukur suhu ruangan dan tahu bahwa saat ini waktunya tidak tepat untuk memaksa India mandi serta membersihkan diri, udara begitu dingin dan pemanas mungkin baru bisa menaikkan suhu dengan maksimal sampai sedikit hangat sekitar dua puluh empat jam kemudian. Memandikan India akan memperparah keadaan, dan malahan bisa membuat perempuan itu jatuh sakit, dia harus menunggu jika ingin memerintahkan India mandi.

Saat ini prioritas utama Letnan Paris adalah memastikan India sembuh tanpa kekurangan suatu apapun, kondisi India harus sama persis ketika dirinya menangkap anak perempuan itu sebelumnya.

“Kenapa kau melakukan ini kepadaku?”

Suara India yang lemah, terdengar gemetar dan ketakutan terdengar menembus kegelapan, membuat Letnan Paris tertegun dan menatap tajam ke arah perempuan remaja yang sekarang terduduk di atas ranjang, dengan keras kepala berusaha melepaskan borgol itu dari tangannya.

Sebenarnya Letnan Paris ingin berdiam diri, tidak bersuara, tetapi melihat betapa India berusaha menarik-narik tangannya untuk melepaskan borgol itu, mata Sang Letnan langsung menyipit tidak suka. India akan membuat pergelangan tangannya yang tergesek dengan besi borgol itu terluka jika dia terus menerus menarik paksa seperti itu. Dan tambahan sebuah luka lagi tentu saja tidak diinginkan oleh Letnan Paris ketika dia sedang berusaha menyembuhkan yang satunya.

“Borgol itu dibuat untuk tidak bisa dilepaskan tanpa kunci dariku.” Letnan Paris menggumam, suaranya rendah, dingin dan mengerikan, berbeda dengan nada suara lembut dan ramah yang digunakan untuk kamuflase berbarengan dengan topeng senyuman manisnya selama ini.

Gerakan India langsung berhenti dan perempuan itu mendongak, menatap ke arah sumber suara yang mencapai telinganya, seolah ingin menembus kegelapan dan mengetahui siapa sebenarnya sosok yang telah menyekap dirinya.

Letnan Paris tersenyum sinis, menyadari bahwa India tidak akan menemukan apa-apa. Kamar ini gelap pekat tanpa sumber cayanya sedikitpun dan akan terus begitu. Kegelapan adalah kamuflase terbaiknya dan dia tidak akan pernah mengizinkan India melihatnya, tidak ketika dia sedang melepas topengnya seperti ini.

Dengan gerakan cepat tanpa suara, Letnan Paris mengeluarkan roti sandwich yang telah disiapkannya dari kotak, lalu setengah melemparkan ke arah India.

“Makan.” ucapnya tenang dengan nada memerintah yang tegas, lalu memilih berdiri dan mengamati.

***

India bergerak duduk dan menunduk ketika sesuatu yang keras dilemparkan ke atas pangkuannya. Dia meraba dengan hati-hati dan menemukan sesuatu berbentuk kotak di sana. Dengan ragu dia terus meraba dan menemukan kotak itu tertutup rapat.

Lelaki itu bilang bahwa ini makanan, dan begitu India mendengar tentang makanan, sadarlah dia bahwa dirinya lapar. Perutnya mulai keroncongan dan terasa perih, rasa perih yang tadi terlupakan karena perasaannya didominasi oleh rasa takut dan ngeri.

Dengan didorong dengan insting untuk memenuhi kebutuhan primitifnya, India mencoba membuka kotak tertutup itu. Sebuah usaha yang cukup sulit karena kedua pergelangan tangannya menyatu terikat oleh borgol yang terhubung dengan rantai tebal ke kepala ranjang. Beberapa kali India mencoba, tetapi tangannya menghalangi dan membuat dirinya gagal.

Tiba-tiba sebuah tangan besar yang dingin menyentuh tangan India, membuat India terkesiap dan seketika melepaskan pegangannya dari kotak itu dan menjauh. Sosok itu ternyata mendekat kembali tanpa suara, dan memegang kotak makanan India. Terdengar suara klik pelan sebelum kemudian kotak itu didorongkan ke arah India.

“Makan.”

Lelaki di dalam kegelapan itu mengulang perintahnya, dan India saat ini tidak berpikir untuk membantah perintahnya. Tangannya bergerak memegang sesuatu di dalam kotak itu, menyadari kelembutan roti di sana berpadu dengan aroma enak yang menggoda selera bahkan untuk orang yang sedang kenyang sekalipun.

Dengan gerakan tidak sabar India mengambil sandwich itu dan mengarahkan ke mulutnya, dia membuka mulutnya lebar, berniat menelan satu gigitan besar, tetapi sedetik sebelum sandiwch itu masuk ke mulutnya, gerakan India terhenti, membuat roti itu membeku di depan mulutnya.

Dia begitu lapar sehingga kehilangan kewaspadaan. Bagaimana kalau lelaki ini berniat meracuninya dengan makanan… atau memasukkan sesuatu yang aneh ke dalam makanan ini untuk membuatnya sakit dan semacamnya?

Keraguan India sepertinya terlihat oleh lelaki penyekapnya yang menggunakan kacamata khusus untuk menembus kegelapan, karena tak lama kemudian suaranya terdengar, begitu dingin dan mengancam.

“Aku tidak akan meracunimu atau membuatmu sakit dengan makanan itu. Kalau aku ingin melakukan sesuatu yang buruk denganmu, tentu sudah kulakukan sejak tadi.”

Lelaki itu berucap perlahan, sedikit mendesis dengan setiap kata ditekan lirih, menampilkan nada rendah yang dingin dan menyeramkan.

India tertegun, indra penciumannya menghirup aroma harum sandwich itu dan menyadari kebenaran kata-kata yang diucapkan oleh lelaki itu kepadanya, jika lelaki itu ingin melukainya sudah pasti dia bisa melakukannya sejak tadi. Pada akhirnya India memutuskan untuk mengambil resiko dan membawa sandwich itu ke mulutnya, lalu menggigit dalam satu gigitan besar, mengunyahnya untuk menikmati perpaduan rasa nan lezat sebelum kemudian menelannya.

Beberapa waktu yang singkat dihabiskan India untuk menunggu, memastikan bahwa tubuhnya atau perutnya tidak bereaksi yang aneh-aneh sehabis menelan sandwich itu, dan setelah yakin bahwa dirinya tidak apa-apa, India mulai menggigit lagi, terus dan terus sampai sandwich berukuran besar dengan isi yang lengkap itu habis tanpa sisa dalam sekejap.

“Minum.” tangan itu menyodorkan sesuatu ke depan bibir India dan India mengendus aroma gurih susu kental nan khas. Dia menelan ludah dan membiarkan botol itu didekatkan ke bibirnya, ada sedotan kecil yang dimasukkan ke depan mulutnya untuk kemudian didorong dengan sikap mendesak, perlahan India membuka mulut dan memindahkan isi botol yang masih hangat itu ke perutnya.

Setelah India selesai, botol itu ditarik lagi menjauh, pun dengan kotak sandwich kosong yang berada di pangkuannya. Setelah itu India mendengar suara-suara sesuatu disimpan ke ke kotak sebelum kemudian sosok itu mendekat lagi dan mencengkeram pergelangan tangan India untuk melepaskan kunci borgol yang mengikat tangannya. Borgol itu terlepas dan diambil lalu sepertinya dimasukkan ke dalam kotak yang sama.

“Tidur.” suara itu terdengar kemudian, sekali lagi memberikan nada memerintah yang menyeramkan.

India memandang nanar ke arah kegelapan, lalu beringsut mundur, berusaha sejauh mungkin dari sosok mengintimidasi yang menakutkan itu.

“Apa yang kau inginkan dariku? Kenapa kau menahanku di sini?” India kembali mengulang pertanyaan yang sama setelah apa yang dia tanyakan tadi tidak mendapatkan jawaban. Tetapi pertanyaan itu rupanya menebarkan aroma kebencian yang menyeruak kemudian, membuat India menelan ludah karena tidak bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya.

Lalu suara itu terdengar, begitu tiba-tiba hingga membuat India tersentak.

“Persiapan.” laki-laki itu terdengar menggeram seolah menahan diri, “Aku akan mempersiapkanmu.” bisiknya pelan.

India langsung mengerutkan kening karena suara lelaki itu mengirimkan peringatan yang membuat bulu kuduknya berdiri.

“Persiapan untuk apa?” India bertanya lagi, didorong oleh rasa ingin tahu yang mengalahkan rasa takutnya.

Sebuah selimut tebal langsung dilemparkan ke arahnya sebelum kemudian lelaki itu menjawab. Sebuah jawaban yang membuat India menyesal telah bertanya.

“Persiapan supaya kau pantas menjadi calon korbanku. Calon korban untuk kubunuh.”

***

“Jenderal.”

Letnan Paris memberi hormat ketika menghadap ke ruangan Jenderal Akira, atasan yang sangat dihormatinya karena dia percaya bahwa lelaki di depannya ini memiliki kekuatan jauh di atasnya, ditambah dengan pengertian bahwa Sang Jenderal memiliki genetik A yang sudah pasti membuat mereka yang manusia biasa ini tunduk di bawah kharismanya.

Ekspresi Jenderal Akira yang muram membuat Letnan Paris bertanya-tanya apakah ini saat yang tepat untuk melaporkan apa yang telah dia lakukan. Sesuai dengan sistem pemikiran yang ditanamkan ke dalam jiwanya, terpatri jelas hingga melekat kuat di mentalnya, jika dia melakukan pelanggaran kode etik, dia diharuskan melapor pada atasannya.

Dulu ketika awal dirinya dibentuk dan usianya masih amat muda, Letnan Paris terkadang masih sulit mengontrol diri dan kehilangan kendali sehingga melakukan pelanggaran kode etik, setiap dia melanggar, dia selalu melapor kepada Jenderal Moroko yang kemudian memberikan hukuman dan mengembalikannya ke fasilitas kesehatan untuk dibentuk kembali. Setelah usianya bertambah dan keahliannya untuk mengendalikan diri semakin besar, Letnan Paris bahkan tidak pernah melakukan pelanggaran kode etik lagi… sampai saat ini.

Semalam Letnan Paris menarik sebuah kursi dan duduk dengan kursi dibalik menghadap ke pintu ruang bawah tanah, merenenung dalam kegelapan pekat dan menimbang-nimbang apa yang harus dia lakukan selanjutnya.

Sisi gelap dirinya berbisik, membujuk supaya dirinya menyimpan India untuk dirinya sendiri dan tidak memberitahu siapapun, mengatakan bahwa menyimpan India di sini bukanlah pelanggaran kode etik dan bahwa dengan menyimpan India dirinya bisa bersabar untuk menunggu dan tidak melukai sampai saatnya tiba. Tetapi sisi dirinya yang dibentuk menjadi seorang psikopat dengan batas kode etik yang ketat menyerang balik dan mengatakan bahwa dirinya harus menjaga semua aturan yang dia anut sampai saat ini sebagai keseimbangan dan pegangan bagi mentalnya. Keseimbangan mental Letnan Paris ditentukan oleh pilar-pilar yang disusun dari kode etik yang dipegang teguh olehnya, jika dia melakukan pelanggaran kode etik dan tidak segera melakukan langkah perbaikan untuk menegakkan kembali kode etik tersebut, keseimbangan mentalnya akan runtuh, lalu pecah berhamburan tak beraturan, dan dia mungkin akan berakhir sebagai orang gila biasa, bukan orang gila yang memiliki kelas seperti dirinya selama ini.

Letnan Paris tentu tidak ingin dirinya berakhir seperti itu, karena itulah pada akhirnya dirinya yang memegang teguh kode etiklah yang menang, membawanya kemari, berdiri di hadapan Jenderal Akira untuk melaporkan pelanggarannya meskipun dia tahu bahwa keputusan Jenderal Akira pastilah sama, bahwa dia harus melepaskan India dan bahwa dia harus kehilangan mangsa yang sangat disukainya hingga membuatnya rela bersabar dan menunggu.

“Apa yang ingin kau katakan?” Jenderal Akira beranjak berdiri di depan Letnan Paris, menatap dengan mata tajam menyipit yang biasa, tentu Sang Jenderal tahu bahwa sikap Letnan Paris yang tidak biasa, tanpa menebarkan senyum dan menciptakan keheningan cukup lama dalam lamunan, pastilah membawa sesuatu yang tidak beres di dalam pikirannya.

Letnan Paris menatap mata gelap Jenderal Akira yang begitu tajam, lalu mulai melapor.

“Saya hendak melaporkan pelanggaran kode etik.” ucapnya tenang.

Ekspresi Jenderal Akira langsung berubah gelap,

“Apa yang kau lakukan, Paris?” ujarnya lambat-lambat dengan suara mengancam, “Bukankah selalu tersedia penjahat-penjahat kelas kakap untuk kau bunuh di penjara After Earth? Apakah kau telah membunuh orang tidak bersalah hanya untuk memuaskan nafsumu?”

Letnan Paris menggelengkan kepala, “Tidak Jenderal, saya tidak membunuh siapapun…” sejenak suara Letnan Paris berhenti, memikirkan untuk merangkai kata-kata dalam melaporkan pelanggaran yang dia lakukan, “Saya menculik seorang anak perempuan dan menyekapnya di ruang bawah tanah.”

Ekspresi Jenderal Akira tetap dingin meskipun kilatan marah mulai muncul di matanya, “Dan darimana kau dapatkan anak perempuan itu?” tanyanya kemudian.

“Anak itu adalah penghuni panti asuhan tempat Nona Asia berada… dia berusaha melarikan diri dari asrama militer di Benteng Marakesh City dan saya menahannya.”

“Kenapa kau tidak membawanya ke penjara?” Jenderal Akira menyela tenang dengan pertanyaan berikutnya.

“Saya… saya mendapatkan dorongan yang bahkan tidak saya mengerti… bisikan yang mengatakan bahwa dia adalah calon korban yang tepat…”

Letnan Paris tidak bisa melanjutkan perkataannya karena Jenderal Akira tiba-tiba bergerak, mengayunkan tangannya dengan keras dan memukul Letnan Paris tepat di muka, membuat tubuh Letnan Paris terhuyung mundur nyaris jatuh.

Darah menetes dari sudut bibir Letnan Paris yang pecah ketika pada akhirnya dia berhasil mengembalikan keseimbangan tubuhnya. Mata birunya menatap ke arah Jenderal Akira yang berdiri tegak dengan ekspresi murka, dan tahu bahwa pelanggaran yang dia lakukan ini pantas mendapatkan hukuman. Seharusnya dia bahkan menerima lebih dari sebuah pukulan, tetapi Jenderal Akira tidak memberikannya.

“Kalau kau terus menahan anak perempuan itu, pada akhirnya kau akan lepas kendali dan membunuhnya. Kembalikan anak perempuan itu ke tempatnya. Lalu kau harus kembali ke fasilitas kesehatan untuk menetralkan kembali mentalmu. Ini adalah pelanggaran kode etik pertamamu setelah bertahun-tahun dan aku akan memberikan kelonggaran kepadamu karenanya. Setelah ini aku akan mengevaluasimu dan jika kau tidak menunjukkan perbaikan, aku sendiri yang akan membunuhmu dengan tanganku.”

Jenderal Akira melemparkan ultimatum menyeramkan dengan pandangan dingin penuh dengan ancaman mengerikan dan Letnan Paris tidak memiliki pilihan lain selain apa yang telah diperintahkan oleh Jenderal Akira kepadanya.

***

Ruangan ini perlahan menghangat seiring dengan berjalannya waktu. Ada titik dimana ruangan ini begitu dingin dan India hanya bisa meringkuk di balik selimut sambil menggigil untuk meredakan rasa dingin yang menerpanya. Tetapi perlahan-lahan suhu ruangan seolah meningkat menjadi cukup hangat bagi India untuk membuka selimutnya.

Dia tadi sempat tertidur karena kelelahan, berusaha mencari jalan untuk melarikan diri tetapi yang ditemukannya hanyalah tembok polos dan sebuah pintu yang tertutup rapat. Tadi dia menemukan pintu yang lain, yang terhubung ke ruangan berisi air pancuran dan sebuah toilet untuk buang air, dan India memanfaatkannya untuk membersihkan diri tanpa melepaskan pakaiannya yang compang-camping di bagian pundak karena dirobek oleh lelaki penculiknya.

Setelah itu, karena tidak menemukan jalan keluar sama sekali di ruangan gelap ini, India menuju ranjang dan meringkuk di bawah selimut untuk menahankan hawa dingin yang menyerangnya. Suhu udara yang menghangat membuat India terbangun dan melepaskan selimut dari tubuhnya dan duduk merenung, dipenuhi oleh rasa putus asa memikirkan kemungkinan terburuk apa yang akan terjadi pada dirinya nanti.

Dia tidak mungkin berdiam diri di sini dan pasrah akan nasib yang akan menerpanya, bukan? Lelaki itu mengatakan akan menyiapkan India supaya siap untuk dibunuh…. bagaimana mungkin India bisa bertahan di dalam ruangan gelap ini dengan pengetahuan bahwa pada akhirnya dia akan mati mengenaskan?

Ketika India masih berkutat dengan pikirannya, dirinya tersentak mendengar suara khas yang menandakan bahwa kunci pintu itu dibuka dari luar. Tubuh India menegang, memikirkan cara untuk bersembunyi ataupun lari, tetapi menyadari bahwa jika dia melakukan itu, semua akan berakhir sia-sia karena lelaki yang menahannya itu memakai kacamata khusus untuk melihat dalam gelap dan sudah pasti bisa menangkapnya.

Lalu sosok itu masuk, dengan langkah pelan mendekat seolah mengincar mangsa dan India menahan diri untuk tetap duduk di tepi ranjang dengan seluruh tubuh menegang ketakutan.

“Apakah… apakah kau akan membunuhku sekarang?” pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibir India, dirinya bisa menilai, meskipun suasana hening dan gelap, ada aura membunuh nan kental yang dilontarkan sosok pria itu ke arahnya, berbeda dengan sebelumnya.

Pertanyaan India tidak memperoleh jawaban karena tangannya tiba-tiba diraih dan ditarik ke belakang, lalu sebuah borgol dipasangkan di sana, tak lama kemudian sebuah kain yang sama seperti yang dikenakannya ketika pertama kali memasuki ruangan ini dipasangkan lagi di matanya, membuat India bingung karena untuk apa penutup matanya dipasang sementara mereka berada di ruangan yang begitu gelap?

Lalu keheningan tercipta, begitu hening hingga India bahkan seolah bisa mendengarkan degup jantungnya sendiri.

India menunggu lama akan apa yang mungkin dilakukan oleh lelaki itu kepadanya, tetapi tetap saja sekelilingnya begitu hening.

“Halo?” India bertanya, mencoba memecah kesunyian itu dan yang terdengar hanyalah suaranya sendiri.

Dibalik penutup mata, India mengerutkan alis, bingung karena perubahan mendadak itu.

Kemana lelaki itu tadi? India bahkan tidak mendengar suara khas ketika pintu berpengamanan khusus itu ditutup, bukan? Apakah lelaki itu masih ada di sini dan mengamatinya dalam kegelapan? Ataukah lelaki itu sudah pergi?

Pertanyaan yang berkecamuk di dalam benaknya membuat India berdiri dan berjalan perlahan, dengan menebak-nebak dan penuh rasa ingin tahu. Dirinya tahu untuk berjalan lurus hingga kemudian mencapai dinding, lalu melangkah dengan sebelah bahu menempel dinding, tahu bahwa jika dia mengikuti dinding maka pada akhirnya dia akan menemukan tempat pintu keluar dari ruangan ini berada.

Jika dia tidak mendengar suara khas ketika pintu itu ditutup dan dikunci dengan keamanan khusus, besar kemungkinan bahwa pintu itu tidak ditutup kembali. India juga berpikir bahwa jika lelaki penculik itu masih ada di sini, dia pasti akan langsung menyergap India begitu menemukan pintu.

Semua itu akan diketahuinya segera…

Langkah India terhenti ketika dirinya terhalang oleh pintu besi dingin di depannya. India langsung menelan ludah, menyadari jika pintu itu melintang untuk menghalangi langkahnya, berarti pintu itu terbuka lebar.

Jantung India berdebar semakin kencang ketika dia mengitari pintu itu lalu melangkah melewati sesuatu yang diketahuinya merupakan ambang pintu. Dengan hati-hati India melangkah maju dan tidak menemukan sesuatu pun yang menghalangi.

Dia melangkah maju sekali lagi dan kegembiraan melonjak di dalam jiwanya menyadari bahwa dirinya telah melangkah menuju kebebasan.

Dengan tergesa, meskipun tangannya terborgol di belakang dan matanya tertutup, India melangkah maju sekali lagi sebelum kemudian ujung kakinya menyentuh penghalang. Dengan cemas India menggerakkan kakinya dan menapak sisi alas berkarpet yang lebih tinggi dan seketika itulah dia menyadari bahwa dirinya berhadapan dengan sebuah tangga.

India menelan ludah, tanpa sadar menoleh ke belakang dan menajamkan telinga untuk memeriksa dimanakah gerangan lelaki penculik itu berada.

Lelaki itu tidak sedang berada di belakangnya dan mengamati sebelum kemudian memutuskan untuk menyergapnya, bukan?

Bulu kuduk India langsung berdiri ketika dia memikirkan itu semua dan dirinya langsung menggelengkan kepala, berusaha mengusir pikiran mengerikan tersebut dari benaknya.

India menghela napas panjang, dan akhirnya memutuskan untuk melangkah menaiki anak tangga tersebut. Langkahnya perlahan, berhati-hati ketika menapaki anak tangga tersebut semakin meninggi sambil susah payah menjaga keseimbangannya karena tangannya yang terikat cukup mengganggu keseimbangannya.

Sampai akhirnya dia berhasil mencapai lantai luas, tidak ada anak tangga lagi dan ketika India memeriksa perlahan sambil menempelkan bahunya di dinding, dia menyadari bahwa dirinya telah melewati ambang pintu lagi.

India melangkah perlahan ke depan sambil mengikuti aturan yang dibuatnya, melangkah lurus sampai menemukan dinding, lalu menempel ke dinding hingga menemukan jalan keluar.

Usaha India tidak mudah karena kali ini ruangan tersebut cukup besar. Tapi India tidak menyerah dan terus melangkah hingga menemukan dinding dan menggunakan pundak serta sisi tubuhnya untuk terus menempel ke dinding dan mengikutinya. Beberapa kali langkahnya terhalang sesuatu seperti lemari dan meja sebelum kemudian bisa meneruskan lagi.

Pada akhirnya India menemukan sebuah pintu lagi. Sebuah pintu yang terbuka dan sepertinya menawarkan area luar kepadanya. India tahu karena angin berhembus kencang dari sana, membaurkan aroma rerumputan yang basah setelah terkena hujan.

Ini adalah sebuah rumah dan dia menemukan pintu keluarnya!

India benar-benar tidak bisa menahan diri lagi sehingga dia melangkah tergesa, lupa akan matanya yang tertutup dan tangannya yang terikat, tidak sabar untuk menyongsong kebebasan.

***

Letnan Paris berdiri dalam kediamannya yang terlatih dan mengawasi India yang melangkah keluar dari rumahnya dengan tenang, berusaha mengendalikan sisi gelapnya yang bergolak dan memprotes karena tidak ingin calon mangsanya dilepaskan.

Dengan gerakan terlatih dan tanpa suara, Letnan Paris bergerak mengikuti langkah India dan terus mengawasi. Dia memang sengaja memasang borgol dan penutup mata supaya India tidak bisa mengetahui dimana dirinya disekap saat ini. Tetapi Letnan Paris sudah memastikan bahwa India tidak akan disulitkan oleh borgol dan penutup mata itu karena jalan setapak lurus yang saat ini dilewati oleh India akan menghubungkannya ke area dimana banyak prajurit berjaga. Setelahnya, sesuai dengan rencana, India akan ditolong.

Hanya dari pengamatan sekilas, Letnan Paris bisa mengetahui bahwa India menggunakan metode khusus untuk berjalan lurus, dengan menempatkan tumitnya ke bagian depan kakinya yang lain ketika melangkah, terus seperti itu sehingga Letnan Paris bisa menebak kemana arah India berjalan.

Dirinya akan membiarkan India berjalan menuju ke tempat seharusnya dan menunggu di sana. Jika India tidak mengenalinya, dia akan melepaskan anak perempuan itu, tetapi jika India mengenalinya, maka dia akan menemukan cara untuk membungkam anak itu.

Letnan Paris bergegas menuju ke tempat banyak penjaga lain berjaga dan menggunakan mereka semua sebagai kamuflase kehadirannya. Sebelum meninggalkan India, dirinya sempat menatap ke arah India yang masih berjalan lurus perlahan dengan hati-hati.

Seharusnya India bisa sampai ke tempat yang dia rencanakan dengan selamat karena sebelumnya Letnan Paris telah menyingkirkan seluruh penghalang yang ada. India akan melewati padang rumput yang luas sehingga perjalanannya akan aman.

Sang Letnan lalu mengalihkan pandangan dan meninggalkan India, melalui jalan lain untuk menuju ke tempat India akan sampai di ujungnya, melalui jalur yang lebih cepat. Ketika India sampai nanti, dia akan menolong perempuan itu bersama dengan para prajurit lain yang berjaga. Setelah itu jika India tidak mengenalinya, dia akan dikembalikan ke asrama sementara kasus penculikannya akan berada di bawah kuasa Letnan Paris sendiri dengan persetujuan Jenderal Akira sehingga bisa dikubur dan dilupakan.

Setelah urusan menyangkut India beres, dirinya harus segera menemui tenaga medis yang berada di fasilitas kesehatan mental di kota Marakesh City untuk mengembalikan keseimbangan kesehatan mentalnya.

Lalu, ketika Letnan Paris melangkah hendak melalui jalan khusus yang membelah hutan, tiba-tiba suara tembakan terdengar di belakangnya, membuat mata birunya melebar dan dirinya menoleh dengan sigap ke arah suara tembakan peringatan yang terdengar di belakangnya.

Letnan Paris menoleh ketika melihat ada pasukan patroli keamanan malam yang sedang membidik India, menyerukan teriakan peringatan agar India menghentikan langkah.

Kehadiran pasukan patroli malam di area ini benar-benar di luar rencana, mungkin mereka menemukan gerakan mencurigakan dari langkah India dan menghampiri, lalu memutuskan bahwa India mungkin saja berbahaya. Penampilan India yang masih anak-anak bukan berarti menghapuskan kemungkinan bahwa dia tidak berbahaya, para pasukan militer tentu sudah pernah menghadapi kaum pemberontak yang menggunakan anak-anak untuk memnacing rasa tidak tega dan belas kasihan mereka sebelum kemudian ternyata anak-anak itu membawa bom untuk diledakkan lebih dekat serta menghancurkan mereka semua.

Dengan gusar Letnan Paris membalikkan badan, hendak memberi perintah supaya pasukan patroli itu menurunkan senjatanya, tetapi terlambat, India yang dilanda kepanikan karena mendengar suara tembakan malahan berlari mendekat ke arah pasukan membuat salah satu penembak di pasukan patroli itu langsung membidik ke arah India.

“Jangan tembak!” Letnan Paris berteriak untuk mencegah, sayangnya dia terlambat karena di detik yang sama, penembak militer itu telah menarik pelatuknya, membidik kaki India supaya tumbang dan tidak bisa melangkah lagi.

Tubuh India langsung jatuh ke tanah, bertepatan dengan Letnan Paris yang berlari mendekat. Dengan gusar Letnan Paris memberi isyarat tangan bercampur teriakan perintah supaya semuanya mundur, lalu dia berlutut, mengangkat India yang lunglai ke pangkuannya. Kaki India mengucurkan darah yang mengerikan hingga menciptakan noda merah gelap di tanah, membuat Letnan Paris marah luar biasa.

Calon korbannya terluka, bahkan sebelum siap untuk dibunuh.

“Panggilkan paramedis!” teriak Letnan Paris dengan nada mendesak yang langsung dituruti oleh salah satu anggota pasukan itu.

Tangan Letnan Paris bergerak dan membuka penutup mata India untuk melihat apakah India masih sadar ataukah telah pingsan. Seketika mata birunya bertemu dengan mata India yang lembut dan perempuan itu menatapnya sambil meringis menahan sakit, sementara matanya berkabut ketika mencoba memfokuskan diri ke wajah Letnan Paris.

“Letnan Paris?” suara India menunjukkan pengenalan, rupanya perempuan itu berhasil mengenali Letnan Paris berdasarkan rambut pirang dan mata birunya yang khas.

Letnan Paris mengerjapkan mata, menatap tajam ke arah India dan kemudian menyimpulkan bahwa India sama sekali tidak sadar bahwa dirinya dan penculik India adalah orang yang sama.

“Paramedis akan segera datang, kau akan baik-baik saja.” ucap Letnan Paris sambil melirik ke arah kaki India yang terluka. Pada saat yang sama, mobil paramedis datang menyongsong mereka, membuat Letnan Paris langsung berdiri sambil membawa India ke dalam gendongannya.

India sendiri mengerang karena rasa sakit akibat gerakan tiba-tiba yang mengguncang kakinya dan seketika pandangan matanya berubah berkunang-kunang, terterpa rasa nyeri nan luar biasa.

Tangan mungil India masih terborgol di belakang punggungnya, tetapi secara alami dia menenggelamkan kepala ke kemeja militer hitam milik Letnan Paris untuk berlindung, membuat Letnan Paris langsung menundukkan kepala untuk menatapnya.

“Terima kasih…” India berucap dengan bibir gemetar menahan sakit, “Terima kasih karena telah menyelamatkan saya.” suara India semakin melemah di penghujung kalimatnya dan seiring dengan itu, kegelapan menelan dirinya, lalu kesadarannya terenggut hingga dia tidak ingat apa-apa lagi.

[/responsivevoice]

Bersambung ke Part berikutnya

522 Komentar

  1. Thanks!

  2. Sani Agatha menulis:

    Suka keren

  3. Mamita Fatih menulis:

    :sebarcinta

  4. letnan paris creepy as f–… lebih serem daripada jenderal akira :wowakuterkejoet

  5. angelicarrenn menulis:

    :kebosananhaqique

  6. Puguh Setiawan menulis:

    :habisakal

  7. Serem nya Letnan Paris

  8. tasya Pratiwi menulis:

    Kok jadinya serem

Tinggalkan Balasan