Lieutenants Darling

Lieutenant’s Darling Prolog : Awal Mula

Bookmark

No account yet? Register

2.167 votes, average: 1,00 out of 1 (2.167 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

Author Playlist : Rascal Flats – What Hurts The Most

I can take the rain on the roof of this empty house, That don’t bother me
I can take a few tears now and then and just let ’em out, I’m not afraid to cry every once in a while
Even though goin’ on with you gone still upsets me. There are days every now and again I pretend I’m okay
But that’s not what gets me

What hurts the most was being so close
And havin’ so much to say
And watchin’ you walk away


 

 

Dirinya sudah dilahirkan seperti ini, sebagai cangkang kosong tanpa jiwa yang memasang topeng senyum untuk menarik hati untuk menipu calon-calon korbannya.

Seorang korban yang tidak waspada adalah yang paling mudah dibunuh, karena itulah Paris mau merepotkan diri untuk melatih senyumnya di cermin supaya terlihat wajar dan mempesona. Pada akhirnya berpura-pura tersenyum terasa begitu mudah, seolah-olah mengerjalan tugas hariannya seperti makan untuk memenuhi nutrisi dan tidur untuk menjaga kebugaran tubuh, tersenyum juga memiliki arti penting untuk Paris, tersenyum berguna untuk memudahkannya membunuh dan menangkap mangsa.

Mungkin tempaan masa kecilnya yang mengerikan yang mengubahnya menjadi seperti ini, atau mungkin juga dia memang sudah ditakdirkan untuk menjadi manusia yang tak punya hati. Seolah rongga dadanya kosong dan tidak mampu merasa, seolah jiwanya bukanlah jiwa yang diciptakan untuk memiliki rasa seperti manusia pada umumnya.

Paris adalah namanya, diberikan oleh ibunya yang memiliki kelainan mental tak terdeteksi, karena mendengar bahwa Paris adalah nama sebuah kota gemerlap di masa lampau yang saat ini hanya bisa dilihat di buku-buku sejarah, sisa gambaran kejayaan di masa sebelum perang nuklir yang pada akhirnya berakhir sama, hancur lebur dengan menyedihkan.

Nama adalah sebuah doa, bukan? Dan ibunya yang berpikiran pendek tidak pernah berpikir bahwa kota Paris yang menjadi namanya juga mencerminkan diri Paris sendiri yang hancur tak punya jiwa.

Masa kecil Paris dipenuhi dengan siksaan dan teror, dari ibunya yang menjadi wanita gila. Orang bilang gila itu diturunkan, itu berarti neneknya dan mungkin juga nenek moyangnya yang lain mengidap kegilaan yang sama seperti ibunya dan juga seperti dirinya sekarang. Entah kenapa ibunya dan keluarganya bisa lolos ke dalam UM03 yang dulunya menjadi basis perlindungan manusia-manusia kebal yang berhasil lolos dari senjata biologis dan nuklir, mungkin dikarenakan pemeriksaan dahulu hanya berfokus pada genetik kebal yang dimiliki secara fisik dan melupakan kenyataan bahwa kondisi mental ibunya tak memenuhi. Yang pasti, karena kelalaian dari petugas UM 03 yang melakukan seleksi, ibunya yang gila berhasil menjadi bagian dari After Earth, bahkan menyaru seperti manusia normal dan berketurunan dirinya yang sudah pasti membawa kegilaan yang sama di dalam genetiknya.

Ibunya bekerja di bidang pangan, bertugas melakukan seleksi bahan-bahan makanan terbaik untuk didistribusikan kepada penduduk After Earth. Ketika berada dalam kehidupan bermasyarakat, ibunya berhasil bersikap seperti manusia normal, layaknya perempuan setengah baya, janda yang suaminya meninggal karena sakit dan meninggalkan satu anak untuk dirawat olehnya.

Yang tidak diketahui oleh orang-orang adalah ibunya bertindak sebebas-bebasnya untuk menjadi orang gila ketika dia berada di rumah, sendirian bersama Paris, seorang anak kecil tak berdaya yang dikurung di dalam rumah gelap setiap malam tiba dan harus menerima siksaan pelampiasan kegilaan ibunya yang mengerikan di malam hari.

Setiap malam Paris akan menerima intimidasi, tubuhnya yang kurus dan kecil akan selalu gemetar ketika mendengar langkah-langkah kaki Sang Ibu memasuki kamarnya, membawa sebuah tongkat tipis sepanjang lengan lalu menyuruh Paris kecil berlutut sambil meletakkan siku dan menangkupkan tangannya di samping ranjang, sebelum kemudian Sang Ibu langsung merapal hitungan dengan mulutnya yang setengah terkatup.

Satu… dua… tiga… empat…

Suara ibunya terdengar bernada sama, seperti robot dan mengiringi setiap pukulan dan pukulan yang dihempaskannya ke punggung Paris kecil nan kurus. Dulu Paris menangis dan mengaduh menahan sakit, tetapi kemudian dia belajar bahwa ketika dia mengangis dan mengaduh, pukulan di punggungnya malahan bertambah semakin keras seolah-olah tangisannya bukannya menyulut rasa iba di hati Sang Ibu, melainkan malahan memberikan dorongan semangat kegilaan ibunya untuk terus memukuli dirinya lebih keras dan lebih keras tanpa ampun.

Pada akhirnya Paris menggigit bibir sekuat dia bisa, bahkan sampai berdarah untuk menahan rasa sakit yang menyiksa, air matanya menetes tanpa suara sementara isakannya ditahan sekuat tenaga. Selalu seperti itu hingga Paris terbiasa dalam kesakitan senyap setiap disiksa oleh ibunya.

Ibunya selalu mempunyai hitungan khusus. Seratus pukulan setiap malam, dan masih akan bertambah seiring dengan penilaiannya akan daya tahan tubuh Paris. Setelah sang Ibu selesai, perempuan itu akan beranjak dengan pandangan dingin ke arah Paris dan meninggalkan ruangan tanpa kata, membiarkan Paris kecil terisak dengan punggung panas penuh bilur yang terlalu sakit untuk ditanggung oleh anak kecil berusia lima tahun.

Ketika pagi hari tiba, ibunya akan mengoleskan salep penyembuh luka dan penghilang rasa sakit, sebuah salep yang didapatkannya dengan melukai diri sendiri dan mendaftar di rumah sakit untuk mendapatkannya. Salep itu menciptakan rasa kebas dan mati rasa yang mampu bertahan berjam-jam lamanya, membuat Paris tidak merasa sakit di siang hari dan menghindari kecurigaan parau pengasuh tempat dirinya dan anak-anak lain di After Earth dititipkan setiap harinya.

Sistem di After Earth mengatur bahwa bayi ataupun anak-anak kecil yang ditinggalkan oleh ibunya bekerja akan dititipkan di sebuah penampungan anak raksasa yang berada di setiap distrik, pada siang hari Paris akan hidup seperti anak normal lainnya, belajar, diurus dan dirawat oleh para pengasuh baik hati yang akan memperlakukannya dengan baik seperti selayaknya seorang anak kecil diperlakukan.

Ketika sore menjelang, bus-bus akan menjemput mereka dan mengantarkan sampai ke rumah, tempat para orang tua yang bekerja di siang hari sudah berada di dalam rumah. Seluruh kegiatan mereka terjadwal dengan tertib, hanya saja ritual pemukulan dan penyiksaan di malam hari itu merupakan penyimpangan yang mungkin akan terus berlangsung seandainya insiden itu tidak terjadi, sebuah insiden yang memecahkan kediaman Paris dan membangkitkan kegilaan yang dipupuk dalam benaknya sejak lama.

Paris memiliki seorang adik perempuan, yang beruntungnya tidak terkena penyiksaan ibunya karena masih terlalu kecil. Usianya baru dua tahun, begitu lucu dan menggemaskan, bergerak kesana kemari mengekor Paris dan menempelnya dan mau tak mau membuat Paris terbiasa menyayangi anak itu.

Selama ini Paris dengan pikiran anak-anaknya yang masih lugu berpikir, bahwa jika dia terus menerus menyediakan dirinya untuk menjadi tameng pelampiasan kegilaan ibunya, maka adik perempuannya akan selamat dari Sang Ibu. Tetapi ternyata pikiran orang dewasa yang gila itu kompleks, dan tidak bisa disaingi oleh pikiran anak kecil yang sederhana.

Pada suatu malam yang dingin dan bersalju di After Earth, Paris mendengar suara tangisan adik perempuannya yang memekakkan telinga, membuatnya memberanikan diri merangkak turun dari tempat tidur, dengan tubuh luluh lantak karena habis dipukuli.

Paris mengendap-endap untuk mencari tahu, diliputi kecemasan karena tahu jika sampai ibunya tahu dia keluar kamar di malam hari, hukuman yang akan dijatuhkan kepadanya akan sangat mengerikan. Tapi tangisan adiknya begitu mengkhawatirkan hingga Paris melupakan kekhawatirannya sendiri dan berbuat nekat.

Dan sayangnya, keputusan Paris tersebut membawa konsekensi besar karena menciptakan sebuah trauma yang memicu sesuatu yang terpendam di dalam jiwanya.

Di dapur dia melihat ibunya membawa pisau, dan pisau itu berlumuran darah, menetes-netes dengan mengerikan membasahi meja dapur.

Dan Paris tidak perlu bertanya dari mana asal darah itu…. suara tangisan adiknya yang menghilang sudah menunjukkan kepadanya dan memberikan jawaban.

Seketika itu juga Paris berteriak sekencang mungkin, melarikan tubuh mungilnya untuk membuka dan melewati pintu rumah, menuju halaman bersalju nan menggigit kulit, teriakannya tak berhenti hingga tenggorokannya terasa mau pecah, memanggil semua orang disekeliling mereka untuk datang dan menolong.

Sayangnya keberanian Paris yang muncul ini sudah terlambat, adiknya sudah menjadi korban. Seharusnya dia memberanikan diri untuk berteriak meminta tolong ketika ibunya melampiaskan kegilaan kepadanya, seharusnya dia melakukannya sejak awal sehingga dia bisa menyelamatkan adiknya. Sayangnya pikiran kanak-kanaknya yang sederhana ternyata gagal memberikan jalan keluar, membuatnya dipenuhi penyesalan padahal dirinya masih anak kecil yang tidak seharusnya menanggung beban seberat itu.

Setelah itu kesadaran Paris menghilang, dan ketika dia terbangun hari sudah pagi dan dirinya berada di dalam sebuah rumah sakit, khusus di area kesehatan mental yang menangani anak-anak trauma. Sejak saat itu Paris tidak pernah melihat ibunya lagi, mungkin ibunya dihukum mati karena hukum di After Earth sangat  ketat menyangkut pembunuhan orang tidak bersalah apalagi anak-anak.

Dan Paris juga tidak ingin memikirkan ibunya lagi, dia berusaha melupakan semuanya, melupakan kegetiran yang terpatri jelas seiring dengan luka-luka permanen di punggungnya yang diakibatkan pukulan kejam yang didaratkan setiap malam ke kulit rapuhnya.

Sayangnya tidak semuanya bisa ditenggelamkan, peristiwa traumatis itu, darah yang berceceran dan kesadaran akan kematian sosok adik yang disayangi telah menumbuhkan sesuatu yang liar dan mengerikan di dalam jiwanya. Paris menyadari itu, bahkan di usianya yang masih sangat kecil.

Para peneliti yang mempelajari kejiwaannya tentu saja tidak bisa dibohongi, mereka begitu pandai melakukan observasi hingga tahu bahwa kegilaan ibu Paris sudah pasti menurun kepada anak laki-lakinya yang selamat, apalagi ditambah dengan trauma menyiksa yang berlangsung konstan dan menekan jiwa selama bertahun-tahun dalam kesenyapan.

Paris dicatat sebagai makhluk berbahaya. Anak kecil rapuh dengan bekas luka mengerikan di punggungnya ini akan menjadi sosok paling mengerikan dan bisa membahayakan orang lain kalau salah arahan ketika dewasa. Dia didiagnosa tidak punya hati, tidak punya empati dan akan menjadi monster mengerikan yang bisa membunuh tanpa jiwa.

Tapi keberadaan Paris yang cukup langka di After Earth membuat tertarik Jenderal Moroko, pemimpin besar After Earth yang begitu fokus untuk meningkatkan kekuatan militer karena yakin bahwa kekuatan militer adalah kekuatan yang mempersatukan dan menciptakan perdamaian atas nama persamaan di After Earth. Sang Jenderal memerintahkan supaya Paris dijadikan objek penelitian, dipelajari dalam kapasitasnya untuk diubah menjadi senjata hidup.

Ya, sosok manusia yang bisa membunuh tanpa hati berpotensi untuk bisa dijadikan senjata pembunuh yang sangat efektif dan Jenderal Moroko tidak akan menyia-nyiakan keberadaan Paris karenanya.

***

Paris memakai seragam hitamnya kembali setelah proses pemeriksaan tubuh selesai dilakukan. Dirinya sudah terbiasa dengan hal ini, pemeriksaan demi pemeriksaan fisik dan mental yang berlangsung selama bertahun-tahun sejak usianya lima tahun hingga sekarang sudah mencapai belasan tahun.

Setelah seluruh observasi rutin hariannya selesai dijalankan, Paris dikawal oleh beberapa petugas keamanan untuk kembali ke ruang perawatan tempatnya tinggal. Usia Paris mungkin masih belasan tahun, tetapi level pejagaan yang ditetapkan kepadanya adalah level maksimal, karena secara catatan, Paris termasuk makhluk berbahaya di After Earth yang bisa menghabisi nyawa orang lain dengan mudah jika dia mau.

Di usianya yang masih relatif muda, Paris sudah melenyapkan beberapa nyawa manusia berdasarkan tugas resmi kenegaraan yang diberikan kepadanya.

Ya, dia didik untuk menjadi mesin pembunuh, dirinya dilatih secara efektif untuk menghabisi nyawa orang dengan mudah dengan ilmu-ilmu kemiliteran dan persenjataan yang mumpuni. Kemampuan Paris pun diatas rata-rata sehingga di usianya yang masih begitu muda, dirinya sudah mampu menguasai teknik membunuh yang cukup mengerikan, ditunjang dengan kondisi tubuhnya yang sangat fit dan kuat hasil dari tempaan kekuatan teratur yang diterapkan kepada dirinya.

Mereka memperlakukannya seperti robot pembunuh yang terus menerus diobservasi sekaligus dilatih untuk mengikuti perkembangan mentalnya. Paris sendiri mendapatkan seragam tentara dan memiliki gelar letnan, sebuah gelar militer yang akan abadi dimilikinya karena hanya ditempelkan sebagai penghormatan atas kemampuan militernya, bukanlah sebuah gelar yang didapatkan dengan mengikuti jenjang pendidikan resmi di kemiliteran After Earth.

Dia bahkan juga memakai seragam militer hitam yang cukup ditakuti di After Earth…

Ketika sampai di kamarnya, para penjaga itu membukakan pintu untuknya, lalu memintanya masuk yang dituruti Paris tanpa kata. Setelah itu pintu ruangan itu ditutup dan dikunci dari luar.

Dirinya memang hidup seperti seorang tawanan di fasilitas kesehatan mental ini, tapi dia tidak keberatan, bahkan setiap  dirinya selesai melaksanakan tugas membunuh rutinnya, dengan sukarela Paris selalu pulang kemari. Lagipula ada bom yang ditanamkan di batang otaknya yang akan meledak berdasarkan perintah atasan jika Paris diindikasikan membelot atau melarikan diri.

Langkah Paris terhenti di tengah ruangan, memandang sekeliling kamar yang begitu bersih dan steril seperti kamar di rumah sakit pada umumnya. Dan itu membuatnya puas, dia suka yang bersih, steril dan teratur. Paris memiliki kecenderungan untuk melakukan segala sesuatu dengan teratur dan terjadwal setiap saat, didorong oleh kemampuannya untuk menjadi manusia yang efisien.

Perlahan Paris melepaskan kemeja militer hitamnya, pakaiannya sehari-hari karena hanya jenis pakaian itu yang disediakan untuknya, lalu menghamparkannya di atas ranjang. Dia lalu melangkah ke arah wastafel dan menyalakan air hangat yang langsung mengucur deras, telapak tangannya digerakkan untuk mewadahi air itu sebelum kemudian dirinya membungkuk untuk membasuh wajahnya. Setelah itu, Paris mendongakkan kepala dan menatap dirinya sendiri di cermin.

Paris memandang dirinya di cermin dan tersenyum miris. Dia selalu menghabiskan waktunya luangnya di dalam kamar ini untuk belajar tersenyum sebagai upaya memanipulasi mangsanya. Sejak bertahun-tahun yang lalu Paris mempelajari bahwa senyum dan penampilan tak berbahaya merupakan kamuflase terbaik yang membuat musuh-musuhnya lengah. Sekarang mata biru pucatnya yang indah menatap ke tubuhnya sendiri yang kuat dan berotot karena ditempa oleh latihan bertahun-tahun secara konstan.

Paris enggan melirik ke arah punggungnya, tempat bekas luka masa lalunya menetap di sana dalam bentuk bilur-bilur mengerikan yang tak pernah bisa hilang, seolah menjadi tanda pengingat bahwa dia berasal dari makhluk gila dan akan menjadi sama gilanya jika tidak ditahan.

Jika tidak sedang menjalani observasi serta pelatihan rutin, maka Paris akan berada di luar untuk melakukan tugas kenegaraan. Pihak fasilitas kesehatan ini selalu menyampaikan perintah dari kaum militer, sebuah perintah yang disebutnya sebagai “order militer”, diberikan secara kontinyu setiap periode waktu tertentu. Order militer itu adalah sebuah perintah untuk membunuh yang tidak boleh diketahui oleh publik.

Ya. Paris akan menerima berkas militer rahasia berisikan data manusa-manusia yang dipastikan menjadi korban untuk dibunuhnya berikutnya. Biasanya mereka adalah kepala-kepala pemberontak atau pengkhianat terselubung yang berdasarkan keputusan pemerintah tertinggi dipandang lebih baik langsung dihabisi daripada harus melalui sistem peradilan yang berbelit-belit.

Paris adalah pembunuh rahasia yang keberadaannya dikurung serta disembunyikan di fasilitas kesehatan ini, dan Paris sendiri tidak keberatan, selain karena dia tidak memiliki tempat tujuan lain, fasilitas ini memberikan mangsa kepadanya yang bisa dibunuh secara legal dengan persetujuan pemerintah sekaligus bisa memuaskan keinginan membunuh buas di dalam dirinya yang seakan tidak pernah pupus.

Mereka semua berpikir dengan membiarkan Paris menyalurkan nafsu membunuhnya secara konstan maka akan membuat mereka bisa mengendalikan Paris, tetapi hal itu tidak sepenuhnya benar. Paris memang tidak pernah berniat melarikan diri ataupun memberontak dari fasilitas kesehatan ini, tetapi hal itu bukan karena dirinya bisa dikendalikan tetapi lebih karena dirinya memang sengaja membiarkan dirinya bisa dikendalikan.

Ini adalah hubungan simbiosis mutualisme yang menguntungkan, dan Paris tidak berniat mengakhirinya dalam waktu dekat. Dirinya sudah menjalani kehidupan seperti ini selama bertahun-tahun dan tidak tahu cara kehidupan lainnya.

Bunyi “bib” kecil terdengar beberapa kali memenuhi ruangan, menandakan ada orang di depan kamar perawatan tempat Paris selama ini tinggal. Disebut kamar perawatan karena di atas kertas resmi yang mencatatkan riwayat kesehatannya di After Earth, Paris tercatat sebagai pasien mental yang akan terus dikurung di kamar ini seumur hidupnya karena penyakit mental yang tidak akan pernah tersembuhkan.

Dengan waspada Paris meraih seragam militer hitamnya yang terhampar di atas ranjang, lalu mengenakannya secara efektif sambil berjalan menuju pintu.

Dia baru saja mendapatkan perintah militer untuk membunuh dua hari yang lalu, biasanya perintah militer baru akan datang seminggu kemudian.

Apakah ada perintah istimewa?

Dengan penuh rasa ingin tahu Paris membuka pintu dan dirinya langsung bertatapan dengan mata cokelat gelap yang balas menatapnya dengan tajam.

Seorang pembunuh akan tahu ketika dirinya berhadapan dengan musuh nan kuat. Dan itulah yang dirasakan oleh Paris saat ini. Lelaki di depannya ini, yang kebetulan mengenakan pakaian militer hitam yang sama dengan dirinya, bahkan tidak merasa perlu repot-repot membawa pengawal untuk menjaganya seperti yang dilakukan oleh orang-orang lain ketika menemui dirinya.

Mata biru Paris yang awas langsung menyadari bahwa laki-laki di depannya ini memancarkan aura menakutkan yang kental dari seluruh tubuhnya. Bahkan hanya dengan berdiri di sana dan menatap Paris saja sudah menguarkan ancaman kuat tak terbantahkan yang membuat Paris ingin memundurkan langkahnya menjauh.

Dia tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya dengan siapapun. Tidak ada satu manusiapun yang pernah berhasil mengintimidasinya hingga terasa menyesakkan seperti saat ini, saat dia berhadapan dengan lelaki tinggi bermata cokelat gelap yang menyisipkan rasa takut yang sudah lama tidak pernah dirasakannya.

“Letnan Paris,” bahkan suara lelaki itu terdengar sama mengintimidasi dengan auranya, menyebut gelar dan nama Paris dengan tenang seolah sudah mengenal lama,  “Aku adalah Akira, putra dari Jenderal Moroko, dan aku sudah membaca seluruh berkas tentangmu.”

Perkenalan langsung itu membuat mata Letnan Paris membelalak, matanya langsung menyapu sosok di depannya kembali kali ini dengan pengetahuan baru, dan seketika itu menemukan jawaban kenapa dirinya begitu terintimidasi. Lelaki ini adalah calon pemimpin After Earth, putra dari Jenderal Moroko yang kuat. Letnan Paris sudah pernah bertemu dengan Jenderal Moroko ketika dia menerima tugas pertamanya dan ketika itu dia merasakan rasa teritimidasi yang sama meski tidak sampai menyesakkan dan mengganggu seperti yang dialaminya ketika dirinya berhadapan dengan sosok Akira di depannya ini.

“Aku ingin kau menjadi pengikutku, kau akan mengabdi kepadaku. Sebagai gantinya, kau akan hidup bebas dan keluar dari penjara berkedok ruang perawatan ini. Aku menjaminkan diriku untuk kesetiaanmu.” Sosok calon penerus kedudukan Jenderal Besar After Earth itu berucap lagi, nada suaranya bukanlah menunjukkan penawaran melainkan menyuarakan sebuah ketetapan yang harus ditaati.

Dia tidak bisa dilawan. Kemampuan lelaki ini jauh di atas dirinya.

Detik itu Letnan Paris langsung menyimpulkan ketika menyadari kenyataan yang melingkupi benaknya.

Jika dirinya nekad melawan sudah dipastikan dia akan kalah.  Satu-satunya jalan adalah mengabdi, dan mengabdi kepada orang yang lebih kuat dan pantas untuk diikuti adalah keputusan bijak baginya. Lagipula, selama dia masih bisa membunuh, itu tetap akan menjadi simbiosis mutualisme yang menguntungkan baginya.

Paris  pada akhirnya menganggukkan kepalanya, bersiap untuk menerima kesepakatan apapun yang ditawarkan oleh putra Sang Jenderal Besar kepadanya.

End of Prolog

819 Komentar

  1. Letnan :lovely

  2. Bintang Timur menulis:

    Akira.. akira… :mimisankarnamu

    1. Sani Agatha menulis:

      Heheheh mantep

  3. 🥰🥰🥰

      1. Pongpong menulis:

        :lovely

  4. Baca ulang

  5. Sedih lihat masa lalu letnan paris

  6. Diah Wardani menulis:

    :lovely 3

  7. Diah Wardani menulis:

    :lovely

  8. baca ulang

  9. Isma nurul menulis:

    Coba baca ulang lg hehe

  10. DeeraSlythNeel menulis:

    :banjirairmatahuhuhu

  11. Sani Agatha menulis:

    Mantep

  12. Arfridayusa Dianni menulis:

    :firasatburuk

  13. Audry F. Dewi menulis:

    :sebarcinta

  14. Mamita Fatih menulis:

    :sebarcinta

  15. Kiki Aptisa menulis:

    Banjir air mata pas baca ini…😭

  16. sedih dan ngeri baca ini… mental health emang penting

  17. gitaoktaviani menulis:

    Baca ulang baru bab awal udah deg2an

  18. Putri Andini menulis:

    :murkamembara :lovely :evilmode :bantingkursi :wowtakkusangka

  19. Jenderal Akira auranya keren banget ya :DUKDUKDUK

  20. Lasti Yunita Silvia Simatupang menulis:

    :sebarcinta

  21. akar dari segalanya

  22. fitrahtamsil menulis:

    :REBAHANDULU

  23. Baca ulang sebelum tidur

  24. freebewulan menulis:

    Kenapa selalu jatuh cinta dengan jendral akira :sebarcinta

  25. Baca ulang sembari menanti lanjutan mingdep…

  26. baca ulangg lgii

  27. Regindapikoli menulis:

    :bantingkursi

  28. Puguh Setiawan menulis:

    :haisalamkenal

  29. Karisma abang Akira tetep Juara!

  30. Kasian Letnan Paris :habisakal

  31. ga bosen baca2 ulang. emg paris yaa😭

Tinggalkan Balasan